All language subtitles for Stealing.Raden.Saleh.2022.1080p.WEBRip.x264.AAC5.1

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian Download
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese Download
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Downloaded from YTS.MX

Official YIFY movies site: YTS.MX

[alunan piano lembut]

[goresan kuas di kanvas]

[goresan kuas di kanvas]

[goresan di kanvas]

[detak jarum jam]

[alunan piano lembut]

[goresan di kanvas]

[alunan musik dramatis]

[pelelang] Lot selanjutnya, Bapak Ibu sekalian.

Lukisan indah karya pelukis besar, Widajat,

berjudul, Hutan Rimba.

Dengan dimensi 110 x 125 sentimeter.

[dalam bahasa Inggris] Cat minyak di atas kanvas.

Saya buka dengan 700 juta rupiah.

700 juta. Terima kasih, Ibu nomor 24.

750 juta rupiah.

Terima kasih, Bapak nomor 31.

800 juta.

Pak Oliver, terima kasih, Pak. Dengan 800 juta, milik Anda.

- [Permadi di telepon] Kar, angkat. - [pelelang] 850 juta rupiah?

[pelelang] Terima kasih, Bapak nomor 19.

850 juta rupiah milik Anda.

Tahan dulu. Tahan dulu uangnya.

[pelelang] Lukisan dengan banyak misteri di dalamnya.

Apakah saya dengar 900 juta?

Pak Robert! Terima kasih, Pak.

[Permadi] Kar, sebentar lagi naikkan tawarannya.

[dalam bahasa Inggris] Berhenti menawar.

Bagaimana dengan 950 juta rupiah?

Ada misteri di dalamnya. Indah, untuk dipajang di rumah…

Palsu?

[pelelang] …Anda yang indah. 950 juta, Bapak Ibu sekalian.

[detak jam]

[gumaman]

Baik. 900 juta pertama.

Kamu kenal pemalsu ahlinya?

[pelelang] 900 juta kedua.

900 juta ketiga.

Terjual kepada Bapak Robert! Terima kasih.

[tepuk tangan]

[pintu dibuka]

[Ucup di telepon] Pik, bayaran dari Dini 50 juta sudah ditransfer ke Kripto-ku.

Kau mau menunggu dulu mumpung pasar Kripto sedang naik,

- atau kau mau… - Cup.

Maaf, sepertinya aku tidak bisa menunggu.

Aku harus bayar uang kuliahku bulan ini.

[Ucup di telepon] Baik, setelah kututup, akan langsung kutransfer uangnya.

Baiklah. Aku masuk ke ruangan jenguk dulu.

- [Ucup di telepon] Oke. - Baik.

[bip pintu penjara]

[pembeli] Cup, entah bagaimana kau bisa mendapatkan ini.

Keren sekali, sumpah.

Tinggal harmonika Bob Dylan milikku.

Transfer dulu yang itu.

Harmonika itu mudah.

Baiklah, akan kutransfer untukmu.

Lihat, Cup. Sudah.

[dalam bahasa Inggris] Oke. Terima kasih.

- Sama-sama. - [Lan] Kopimu, Cup.

Terima kasih, Lan.

[notifikasi ponsel]

Aku pergi dulu, ya, Fal.

Kenapa buru-buru?

- Katamu kau mau Bob Dylan. - Sudah dapat?

- Ya. - Keren.

Lan, masukkan saja ke bonku.

- [pembeli] Terima kasih, ya. - Santai.

[sahutan di kejauhan]

[pedagang di kejauhan] Sayur!

- [bip komputer] - Berhenti!

- [Ucup menggerutu] - [pintu ditutup]

- [Piko] Yuhu! - Pik!

- Apa? - Matikan listriknya, cepat!

[bip komputer]

[dentuman listrik dimatikan]

[Piko mengesah] Aman, tidak?

[Ucup mengesah]

Seharusnya aman.

- Tumben. - [Ucup mengesah] Entahlah.

[Ucup] Hei.

Kenapa tak bilang kalau ada Sarah?

Aku jadi tidak enak.

[Piko] Kau tahu sendiri.

Dia tidak pernah suka kalau dia tak tahu apa yang kulakukan.

Lagi pula, apa salahnya kalau kau berteman dengannya?

[Sarah] Kamu ada uang makan di sini?

Aku sedang tidak bisa patungan.

[Piko] Tenang. Kamu duduk saja dan makan yang enak, Sar.

Aku dan Ucup baru saja dapat untung.

Kalau kamu terus sibuk bergaul dengan Ucup,

kapan tugas akhirmu bisa kelar?

Katamu kau sudah tidak mau bayar uang kuliah lagi semester depan.

Katamu kau ingin buru-buru membuat pameran pertama di galeri.

- Sarah. - Tawaran itu sudah di depan mata, 'kan?

Yang di depan mata kita ini makanan enak dan mahal,

kamu yakin tidak mau dihabiskan dulu?

Kita bukan anak orang kaya

yang cukup duduk-duduk santai,

yang tiap bulannya mendapat kiriman uang dari orang tua.

[Sarah] Aku harus masuk PON, tahun ini.

Supaya beasiswaku lanjut, terus bisa mulai skripsi.

Kamu?

Yang selama ini susah payah bayar kuliah?

Masa kau mau gagal di ujung seperti ini?

Yang sedang aku rintis bersama Ucup pasti bisa membuatku mapan.

Ucup lagi.

Kenapa selalu ada Ucup di hal-hal yang tidak kamu beri tahu kepadaku?

[Piko mengunyah]

Makan malam yang sempurna.

[derap langkah mendekat]

Maaf aku telat.

Untung kau sudah pesan makan. Aku lapar sekali.

Beri aku sedikit.

- [alat makan berdenting] - [Ucup bergumam]

Atlet kita lagi diet, ya?

Kau tidak makan?

[Sarah] Ini. Habiskan saja.

Terima kasih, Sar.

[Ucup dalam bahasa Inggris] Kau yang terbaik.

Oh, ya.

PON empat bulan lagi, 'kan? Kau pasti sedang latihan keras.

Bagaimana dengan penjualan barang-barang palsumu? Lancar?

[Ucup] Ucapanmu pedas.

Aku tidak menjual barang-barang palsu, Sar.

Semua barang-barangku asli.

Asli, tapi terjangkau.

Supaya bukan cuma orang kaya yang bisa memakai dan beli barang begitu.

Kau mau pesan barang dariku? Aku punya semuanya. Tenang.

Tinggal sebut saja, akan kuberikan. Kau bisa cek sendiri.

[Ucup bergumam]

[Piko mendecit]

[batuk]

[Ucup mengesah]

Bagaimana keadaan ayahmu di Bandung?

[percakapan di kejauhan]

[Budiman menggumam]

[Budiman] Setelah ini kamu langsung kembali ke Jakarta?

Apa uangmu tidak habis?

Duit bisa dicari, Pa. Nanti bisa datang lagi.

Saya kangen sama Papa.

[Budiman mendesah]

Papa cuma tidak mau menambah bebanmu, Pik.

Kamu makin besar. Kebutuhan kamu makin banyak.

Kalau kamu bolak-balik terus setiap minggu,

seperti ini 18 tahun ke depan, apa tidak masuk akal?

Papa sendiri yang bilang kalau Papa dijebak, 'kan?

Mana sekarang teman-teman Papa?

Sudah hidup enak

kalau itu Papa artis setiap hari di Malta dengan duit ratusan miliar.

Kalau sampai suatu hari aku bertemu teman-teman Papa itu,

Om Retno, Om Budi, sampai aku bertemu mereka,

sudah pasti…

Mau apa lagi setelah itu, Pik?

Tidak akan ada habisnya.

Sudah begitu saja?

Sudah tidak ada usaha lagi?

Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk banding, Pa?

Ada pengacara, teman Papa.

Katanya dia bisa bantu prosesnya.

Tapi mereka minta dua miliar…

untuk membuka lagi kasusnya.

[detak jam]

Dua miliar?

[mengesah] Ya.

[Piko] Tahukah kau? Makin kupikirkan, makin tak ada jawaban di kepalaku.

Pusing.

[kursi berdecit]

Apa itu?

Kau tahu berapa Dini membayar kita, 'kan?

50 juta kemarin.

Ini. Lukisan Widajat-mu kemarin, laku 900 juta di lelang.

Dini mengambil untung sangat banyak dari pekerjaanmu, Pik.

Enam maestro sudah berhasil kau palsukan lukisannya

dan sampai kini tak ada satu pun pembeli yang tahu lukisanmu palsu.

Bagaimana kalau kita bernegosiasi ulang di pekerjaan berikutnya?

Minta harga yang lebih adil ke Dini.

Cukup tiga lukisan.

Kita bisa bantu ayahmu.

- Tiga? - Ya, tiga.

[musik seru]

Catat.

- Bagus. - Oh, ya.

- [kursi berdecit] - [Piko bergumam]

Lee Man Fong.

- Sebentar. - [bergumam] Jeihan.

Sunaryo, Suharmanto.

Tak satu pun nama itu kukenal, Pik.

- Ayolah. - Yang lebih terkenal.

- Siapa saja yang aku tahu. - Baiklah, Raden Saleh sekalian.

- Raden Saleh? - Ayo.

Aku tahu itu.

[Ucup] Oke. Akan kucari data-datanya sekarang.

[derap langkah]

[ketukan pintu]

[Arman] Ya?

[Sita] Lapor, Bang.

Laporan kedua soal dugaan pemalsuan lukisan masuk lagi tadi sore.

[dering telepon di kejauhan]

Yang pertama, waktu itu punya siapa?

Affandi. Yang kedua, Widajat.

Ini sudah ditanggapi dari GalNas?

Belum.

Galeri Nasional perlu mengundang peneliti langsung dari Belgia

untuk memastikan lukisannya itu asli atau palsu.

Terus?

Mereka tidak ada anggarannya.

[Arman berdecak]

Kalau begitu, ini tak bisa dijadikan kasus, Sita.

Bukan kapasitas kita untuk menyelidiki lukisan palsu.

[dering telepon di kejauhan]

[Sita mengesah]

[mobil dipukul]

[deru mesin motor]

Ada apa?

[berbisik] Ayahku sedang tidur.

[Tuktuk] Kau ikut balapan malam ini?

Aku mengantuk.

Payah.

[Piko] Tolong ingatkan ayahmu.

Uang sewa minggu depan jangan telat lagi.

Ya sudah, ya.

[Piko] Bagaimana caraku masuk?

[berbisik] Maju saja. Pelan-pelan.

[pintu mobil ditutup]

[Tuktuk berbisik] Cepat.

Sabar dulu.

- [Tuktuk] Cepat. Lama sekali. - [Gofar] Ya.

[pintu dibuka]

Kamu tidak masuk angin? Tiap hari dibonceng motor terus.

- Kalau Oma jadi kamu, tidak mau… - Sudah, Oma.

Masa mau setiap hari dibahas?

Kamu mau jadi apa, kalau hidup dengan pelukis?

[pintu dibuka]

[mengesah]

[pintu ditutup]

[mengesah]

Oma minta maaf

karena bikin kamu harus…

mengurus semua ini.

Oma cuma mau bilang,

mungkin kita hanya boleh tinggal satu tahun lagi di rumah dinas ini.

[mengesah]

Ya, Oma. Biar nanti Sarah yang pikirkan caranya.

[musik melankolis]

[mengesah]

- [musik hiphop] - [sahutan]

[mobil menderu]

[ban berdecit]

[ban berdecit]

[sahut-menyahut]

[mobil menderu]

Aman?

Hei! Tambah lagi, tidak?

Tuktuk sudah mau menang.

Tambah lagi taruhannya.

[sahutan di kejauhan]

Takut? Tambah lagi taruhannya.

[sahutan di kejauhan]

Sudah, semuanya saja.

Jangan tanggung-tanggung. Dia pasti menang.

Berapa jumlahnya?

- Tiga juta. - Yakin?

Dasar cerewet.

[Fella] Gofar tambah lagi tiga juta.

[mobil menderu]

- Far. Ini kenapa, Far? - [Gofar] Ada apa, Tuk?

- Ada apa? - [Tuktuk] Koplingku jebol, Far.

Tai! Kau serius?

[mobil menderu]

Anjing!

Ada apa?

[mobil menderu]

[ban berdecit]

[mobil menderu]

[menggerutu]

[Gofar] Ada apa?

[kap mobil dibuka]

[mobil menderu di kejauhan]

Tadi koplingku jeblos, Far.

Mungkin pistonnya?

- Sepertinya begitu. - Padahal sudah aku cek.

[Tuktuk mengesah]

Kita cari gantinya di Mangga Besar.

- [Gofar] Itu dia masalahnya. - [Tuktuk] Kenapa?

Duit terakhir yang tiga juta kugunakan untuk tambah sama…

[alunan musik jenaka]

[menggerutu]

Mampus kita dibunuh Bapak, Far.

[keduanya mengesah]

Kalau misalkan duit kita terus diambil seperti ini,

kapan kita mau punya bengkel sendiri?

[mengesah]

[kap mobil ditutup]

[derap langkah]

Sebelum Mbak Dini bilang apa pekerjaannya,

saya cuma mau bilang…

kami tidak cuma butuh uangnya.

Kami mau bagi hasil yang adil.

[terkekeh]

Ikut saya.

[derap langkah]

[Dini berdeham]

[Piko] Hendra Gunawan, Mbak?

[Dini bergumam] Hm?

- Hendra Gunawan? - [terkekeh] Bukan.

Oh.

Sudjojono lagi?

Raden Saleh.

Seri yang mana, Mbak?

Potret Sultan dan Pejabat VOC atau Penunggang Kuda?

Bukan. Bukan dua-duanya.

Tapi dua seri itu yang lebih gampang untuk dibikin bentuk palsunya, Mbak.

Soalnya dua seri itu sulit ditelusuri dan dokumentasinya semerawut.

Penangkapan Pangeran Diponegoro.

[berbisik] Bagaimana?

[terkekeh]

- Serius? - [menggumam]

Gila. Ayo kita pergi.

- Bayarannya besar, Pik. - Ya. Terus masuk penjara?

Ini namanya bukan bikin pemalsuan, Mbak. Ini namanya bikin replika.

Ya. Sedetail dan semirip mungkin.

[terkekeh] Ucup.

- [Ucup] Berapa? - Ucup!

Satu miliar, satu bulan.

[dalam bahasa Inggris] Cukup adil.

Dua miliar.

[dalam bahasa Inggris] Ambil atau lepaskan.

[musik menegangkan]

[Piko] Ini bukan sekadar pemalsuan, Ucup.

Kita diminta membuat… Apa tadi kata Dini?

- Sedetail dan semirip mungkin. - Itu dia.

Tapi, Pik, kalau berhasil,

duitnya bisa langsung menyelesaikan masalah.

[mengesah]

Penangkapan Diponegoro itu, Cup, bukan cuma sekadar lukisan.

[musik menegangkan]

[Piko] Terlepas dari kompleksitas warnanya…

yang sulit dan tekniknya yang tinggi, ya.

Tapi lukisan ini punya banyak sekali emosi dan simbol-simbol.

Yang pertama.

Peristiwanya itu digambarkan dalam situasi yang…

[Piko menjentikkan jari] …nisbi.

Antara pagi atau sore.

Protesnya Raden Saleh terhadap penangkapan yang curang ini,

terlihat dari penggambaran orang-orang Belanda yang dia bikin jadi kerdil.

Sementara, untuk Diponegoro, perhatikan.

Dibuatnya dengan sangat gagah.

Lalu, gesturnya…

seperti hendak menantang orang-orang yang mau menangkapnya.

[rana kamera]

[percakapan dalam bahasa asing]

[Piko] Lukisan ini penting sekali untuk Indonesia, Cup.

[rana kamera]

Bukan cuma karena Raden Saleh dianggap awal dari seni modern kita, ya.

[Ucup bergumam]

[Piko] Tapi lukisan ini, simbol perlawanan.

[rana kamera]

[detak jam]

Tapi…

Tapi untuk apa Dini menyuruh kita membuat ini?

[mengesah] Sudahlah.

Tidak usah terlalu dipikirkan.

Besok, akan kubawakan data-data restorasi terakhir di Jerman tahun 2012, ya?

Sekalian kita cari kanvasnya.

Oke?

- Oke. - [Ucup mengesah]

[dalam bahasa Inggris] Sampai jumpa, Bung.

- Ya. Hati-hati. - [Ucup] Baik.

[mengerang]

[mengerang] Aduh!

[tertawa] Ini data-datanya.

[Ucup mengesah]

[pukulan]

- [gedebuk] - [pelatih] Ti!

Makin keren saja, pacarmu.

- Kau takut? - Takut.

Tentu.

Kau bisa dapat ini, Cup?

Bagaimana, ya?

Server GalNas mudah sekali dibobol.

Kuambil semuanya.

Bagaimana, cukup?

Seharusnya cukup.

Banyak sekali.

Kau hebat sekali.

[pelatih] Ti!

[Ucup] Ya sudah, aku pamit dulu.

[Piko] Oke.

[Piko] Jadi, sepertinya

seminggu sampai dua minggu ke depan, aku akan jarang bertemu kamu dulu, Sar.

Loh?

Bukannya kamu sudah mulai menghilang dari minggu lalu?

[bergumam] Aku mau mengerjakan tugas akhir.

Kamu yang minta itu, 'kan?

Lagi pula, si Dosen juga sudah terus meminta perkembangannya, Sar. Berisik.

Kalau sekadar cari makan di luar, atau…

aku antarkan makan ke rumah kamu, tidak bisa juga?

[Piko bergumam]

Aku cuma berusaha fokus,

dan berusaha menghilangkan distraksi. Itu saja.

- Distraksi? - [alunan musik nuansa jenaka]

- Maksudnya aku distraksi? - Bukan.

Yang waktu itu kamu bilang aku inspirasi kamu itu gombal?

- [tergagap] Ya. Tidak. - Ya atau tidak?

- Maksudnya apa? - Ya. Tidak.

[tergagap] Tidak.

[tergagap] Ya. Tidak. Ya… Sarah.

Aku tidak paham.

[derap langkah]

Sar! Sarah! Sar!

- Ya. Ya. Aku paham. - Sar.

[Sarah] Yuk.

Aku butuh mengerjakan tugasnya mulai dari hari ini.

Ya sudah.

Aku tidak pernah minta diantar jemput, kok.

Aku bisa pulang sendiri naik taksi.

Sar.

[mengesah]

Selesaikan tugas akhirmu.

Aku paham, kok.

[derap langkah menjauh]

[alunan musik nuansa ceria]

[kuas digoreskan ke kanvas]

[pintu mobil ditutup]

- Ini mau ditaruh di mana, Pik? - Di sini saja.

Oke.

[goresan kuas di kanvas]

[benda diletakkan]

[Ucup mengesah]

[mendesah]

[kuas diletakkan]

[goresan kuas di kanvas]

Aku keluar dulu, ya.

Mau ke mana?

[Ucup] Cari angin. Kepalaku pusing tidak kelar-kelar.

[derap langkah di kejauhan]

[Ucup mengesah]

[Piko] Ucup.

Mana alat pemanasnya, Bung?

- Susah. - Ayo, dong. Mau selesai jam berapa?

Ya. Habis ini aku lanjutkan lagi.

[keduanya mengesah]

[Ucup] Sebentar, sebentar.

- Far? - [Gofar mendesis]

[berbisik] Maaf. Maaf.

[Ucup] Ah.

Aku mau minta tolong.

Minta tolong apa? Apa?

[notifikasi ponsel]

Sudah sampai. Cepat sekali.

Ambil.

- [Tuktuk] Far! - [Gofar] Ya?

Paketmu sudah sampai.

[Gofar] Mantap.

Banyak sekali.

Tenang saja.

[Gofar] Aman.

- [Tuktuk] Colok? - [Gofar] Ya.

- Pasti bisa. Sudah. - Sudah?

- [Gofar] Astaga, sudah jadi. - [bersorak senang]

Bisa.

[kunci mur diputar]

[tembakan dari permainan ponsel]

[bersiul] Taksi!

[Sarah] Pak!

[bip pengatur waktu]

- Ucup! Ucup! - Apa?

- Matikan, Cup. Sudah selesai. - [tergagap] Sudah?

[dengung alat pemanas]

[Ucup berdecak kagum]

Kau memang genius, Pik!

[keduanya bersorak]

- [Ucup] Keren sekali! - Kalian sedang apa?

Jadi, aku selama ini cuma teman makan bakso saja?

Buatmu, pacaran itu cuma urusan antar-jemput saja, ya?

Kamu pacar atau tukang ojol?

Terus yang pacar kamu siapa? Aku apa Ucup?

Tunggu sebentar! Aku sedang bicara dengan Piko!

Kau mau berkelahi denganku?

[Piko] Dua miliar, Sar.

Aku butuh dua miliar

kalau aku mau bantu kasusnya Papa ke Mahkamah Agung.

Yang membantu aku?

Ucup.

Ucup yang memberiku pekerjaan untuk memalsukan lukisan Raden Saleh, Sar.

Cuma lukisan ini yang bisa memberiku uang cepat

dan mampu aku kerjakan.

Puas kamu?

Kok kamu tidak pernah cerita sama Sarah?

Buat apa?

Buat apa, Sar?

Kamu lagi ada PON, 'kan?

Kamu harus lolos ke PON, Sar.

Kalau tidak, beasiswa kamu ditarik.

Ujung-ujungnya itu menambah masalah di kepala kamu. Buat apa?

Aku tidak ingin menambah masalah buat kamu.

Maafkan Sarah, ya, Pik.

Aku juga minta maaf.

[Ucup menjentikkan jari]

Maaf, bukan mau ganggu.

Transaksi sama Dini sejam lagi. Jadi, kita harus berangkat.

Aku ikut.

Pokoknya aku ikut.

- [Sarah] Yuk. - [Piko berdeham]

Si Dini kenapa bawa rombongan?

Hei.

Kenapa jadi seram begini?

[Ucup berdecak]

[Piko mengesah]

[dalam bahasa Inggris] Bersiap untuk yang terburuk, Pik.

[musik menegangkan]

[Dini] Piko. Ucup.

Hai.

[pintu mobil tertutup]

Siapa dia?

Tenang, Mbak. Dia artisan saya.

Sebenarnya sudah ikut dari proyek pertama.

Kamu masih muda.

Gaya sekali punya artisan segala.

Ini barangnya?

[Piko] Saya berusaha mengerjakan ini

sedetail dan semirip mungkin, Mbak.

Bahkan sampai ke pemilihan kanvasnya. Mbak Dini bisa lihat sendiri.

[memegang kanvas]

Tapi apa yang ada di depan kanvas ini,

semuanya berdasarkan data-data restorasi di tahun 2012.

Selebihnya atau kondisinya seperti apa hari ini,

memang tidak ada datanya, Mbak.

[dalam bahasa Inggris] Bagus.

[dalam bahasa Inggris] Kerja bagus, Pik.

[jendela mobil terbuka]

[pintu mobil terbuka]

[musik menegangkan]

[derap langkah]

[pintu mobil tertutup]

Pak Permadi?

Luar biasa.

Saya seperti melihat persis

dengan apa yang terpajang

di ruang kerja saya dulu.

Hebat kamu.

Kamu yang namanya,

Piko Subiakto?

Ya. Saya, Pak.

Ini 45…

ETH.

Dua miliar, ya?

- Ya. - Ya?

Tunggu dulu.

Saya punya tawaran yang lebih menarik.

[berdecak lidah]

Saya tambahkan 315 ETH…

Itu berarti jumlahnya 17 miliar.

Apabila kalian bisa menukar lukisan ini

dengan yang asli yang ada di ruang kerja saya.

[tergagap] Maksudnya,

yang di Istana Negara, Pak?

Dua miliar itu tidak ada apa-apanya dibandingkan 17 miliar.

[Sarah] Tapi, Pak…

kami bukan pencuri.

Kalau saya punya rencana itu, pasti adalah sebuah rencana

yang matang.

Kalian tinggal mengerjakannya.

Lalu, boleh pergi dengan uang itu.

Apa ada yang bisa menolak?

[Piko] Betul.

Betul kami bukan pencuri, Pak.

Kami…

Kami mahasiswa yang sedang cari penghasilan sampingan.

Saya cukup dengan dua miliar yang sudah dijanjikan, Pak. Cukup.

Bapak dan Mbak Dini terserah mau apakan lukisan ini,

saya tidak peduli.

Saya mau dua miliar saya.

Don. Donny.

Kenal ini siapa?

[Permadi] Huh?

Budiman Subiakto.

Bapakmu, 'kan? Ya?

[tamparan]

Saya bisa membuat bapakmu lebih tersiksa.

Lebih lama di sana.

Atau saya bikin dia berkelahi dan mati di sana.

[bergumam]

Kamu tidak punya pilihan, Piko.

[Permadi mengesah]

Tiga minggu dari sekarang,

akan ada pameran tahunan

koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional.

Kalian punya peluang untuk menukar itu pada saat lukisan itu dipindahkan.

Itu uang 500 juta.

Pegang.

Bisa kalian gunakan sebagai awal untuk bekerja

dan mencari kru.

Ayo, Dini.

[Ucup berdeham]

[pintu mobil ditutup]

[berdeham]

[pintu mobil ditutup]

[mobil menderu]

[pintu mobil ditutup]

[mobil menderu]

[Sarah] Ucup.

Dini itu kenalanmu, 'kan?

Terus kenapa tiba-tiba bisa ada mantan presiden di situ?

Kau menyalahkanku?

Kau marah-marah terus.

- Tentu saja aku marah! - [Piko berteriak] Sudah!

Kita sudah kadung kacau,

sekarang kita dijebak!

Piko. Piko.

Kamu tidak mempertimbangkan

akan melakukan permintaan mereka, 'kan?

- [barang terjatuh] - Terus harus apa, Sar?

Mantan presiden di sini adalah Permadi.

Dia yang punya kuasa.

Kita?

Kita apa?

[berteriak] Sipil, anjing!

Kita tidak punya apa-apa!

[tangisan Piko]

Kenapa?

Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Papa?

Kalau sampai apa yang Permadi bilang terjadi…

bagaimana, Sar?

[mengesah]

[Piko mengesah]

[tangisan]

Entah kenapa Permadi mau lukisan itu.

Tapi kira-kira, kalau aku mau menjabarkan situasi kita,

ada dua hal yang harus dilihat.

PRO DAN KONTRA

Pro dan kontra dari ini semua.

Pronya, satu,

masalah Om Budiman bisa kelar dalam waktu singkat.

Dua miliar dalam satu bulan,

dan dia aman dari ancamannya Permadi.

[goresan kapur di papan tulis]

Yang kedua…

cara mencuri lukisannya.

Itu modalnya.

Sudah di depan mata.

Yang ketiga…

kalau sampai kita berhasil,

kita punya sisa duit 15 miliar.

Lima belas miliar.

Tapi kontranya…

Ya… Kita bukan pencuri.

[tergagap] Ya, bukannya tidak bisa. Cuma kita tidak punya pengalaman.

Lalu, kedua…

kalau sampai kita tertangkap,

kita akan berakhir seperti ayahmu.

[dalam bahasa Inggris] Jangan tersinggung.

[Piko] Pro yang keempat.

Kalau kita nekat melakukan semua ini,

keselamatan, nyawa ayahku, dan nyawa kita bertiga,

juga akan selamat dari ancaman kepalanya mantan presiden

yang ternyata sakit.

Tapi…

Tapi kita tidak punya pilihan.

Kalau kita bisa melakukan ini dengan sempurna…

mungkin kita bisa lolos.

[Ucup] Memangnya kau tidak takut, Sar?

Ucup.

Ini bukan cuma soal ayahnya Piko.

Tapi juga keselamatan kita bertiga.

Piko, kau, dan aku juga ada di sana.

[musik lembut]

Lalu, uangnya…

Uangnya bisa untuk Oma-ku.

Serta untuk kita, Pik.

[musik penyemangat]

Sekarang, kita jabarkan rencana yang sudah diberikan Dini dan Permadi.

RENCANA PENCURIAN

[Ucup] Lihat.

Permadi cuma memberi kita profil perusahaan logistiknya saja.

Sedangkan kita butuh informasi

tentang perusahaan logistik yang digunakan Istana selama ini.

[ketikan di tuts kibor]

[Ucup] Perusahaan logistik ini memakai rute yang sama selama 12 tahun terakhir.

Beri aku waktu untuk menelusuri semua rencananya Permadi.

[ketikan di tuts kibor]

[musik menegangkan]

Kita perlu tahu

kondisi lalu lintas pada jam pengiriman…

dan cari titik teraman

untuk penukaran.

TITIK PENUKARAN

Tetapi…

kita butuh sopir untuk kabur

dan mekanik yang bisa bantu segala kebutuhan…

Pik, mau ke mana?

[ketukan di jendela]

Aku tahu.

[Bapak] Kalian pikir bawa kabur mobil pelanggan untuk balapan

adalah ide yang cemerlang?

Dasar kalian bodoh!

[Bapak] Kalian lahir dari ibu yang berbeda,

tapi kelakuan kalian sama bodohnya.

Dari satu ayah yang sama.

Kurang ajar.

Pak. Ini BMW 30, Pak.

- Kami duit dari mana, Pak? - Ya, benar. Mahal sekali.

[berteriak] Aku tidak peduli!

- [Piko] Om! - Yang jelas…

[Bapak] Piko.

Kalau kau mau menagih sewa bulanan, aku minta maaf.

Sepertinya bulan ini aku telat.

Gara-gara dua anak bodoh ini.

Uang sewanya kita obrolkan di belakang saja nanti, Om.

Sekarang saya butuh mengobrol dengan mereka, ya.

[tertawa pelan] Oh.

[Bapak] Kalian berdua jangan senang dulu.

Cari duit untuk ganti mesin itu.

[Bapak tertawa kecil]

Payah.

Hei.

Butuh duit?

Ikut aku.

- [botol berdenting] - [Piko] Jadi…

Masing-masing dari kita semua akan mendapat…

tiga miliar.

Astaga. Kita bisa punya bengkel.

Tapi untuk menyempurnakan rencana kita ini,

kita butuh untuk masuk ke sistem logistik pengiriman lukisan.

Masalahnya adalah…

ini perusahaan kuno.

Basis data mereka tidak ada dalam jaringan.

[tergagap]

Kalau mereka masih kuno…

[ponsel diletakkan]

kita gunakan cara kuno juga.

[musik investigasi]

Kau serius, Cup?

[Ucup tertawa pelan]

[mobil menderu]

Dua puluh menit dari sekarang, jemput kami di zona aman.

Aman.

[pintu mobil terbuka dan tertutup]

[alunan musik menegangkan]

[Sarah] Kau yakin kita memakai ini?

Ya. Cuma air soft gel saja.

Ini akan menjadi alibi kita kalau sampai kita tertangkap.

Kita cuma akan terlihat seperti anak-anak iseng.

- [tembakan] - [berteriak]

[Gofar berteriak]

[Gofar menggerutu]

- Gofar, maaf. - Kau gila!

- Sakit! - [Piko] Sudah, jangan kau gunakan lagi.

[Ucup berbisik] Hei, Gofar mana?

Gofar?

Gofar mana?

[Ucup berbisik] Hei.

[sepatu berdecit]

[derap langkah]

[musik menegangkan]

Kau sedang apa? Tak ada orang di sini.

[Ucup bergumam]

- Ucup. - [Ucup bergumam]

Kita mencari apa?

Pokoknya daftar piket atau karyawan.

[Piko] Ya.

[Sarah berbisik] Kenapa lama sekali?

[Gofar berbisik] Entahlah.

[Piko] Cup, ini bukan, Cup?

[bip protofon]

[pegawai] Siapa di sana?

Maling!

- [pegawai] Ada maling! - [Gofar] Kita ketahuan!

- [pegawai] Maling! - [Piko] Cup, lari, Cup. Ucup.

Oh, ya!

- [pegawai] Maling! Maling! - [Gofar] Tunggu, Sar!

- Maling! - Sar!

[pegawai] Berhenti kalian!

Hei! Maling!

[pegawai] Hei, jangan lari! Berhenti!

- [pegawai] Hei! - [Gofar] Sarah!

- [Gofar] Siapa namamu? - Faisal.

[Gofar] Berani melawanku?

Jangan sampai aku tembakkan senjata ini.

Anjing, terpencet!

[pegawai 2] Itu mainan.

[pegawai 1] Kena, kau.

[Sarah] Hei!

[Sarah] Ayo!

[Gofar tertawa]

- [Ucup] Gofar! - [Piko] Jangan lihat ke belakang!

[Sarah] Gofar!

[pintu mobil tertutup]

[pegawai] Hei! Jangan kabur!

Kita butuh satu orang lagi, Cup.

Kita butuh orang yang punya hak istimewa,

punya pengaruh,

dan punya sumber yang bisa memberikan perubahan. Perbedaan.

- [Piko] Ya, 'kan? - Yang lebih masuk akal, Cup.

[Gofar] Yang lebih manusiawi.

Yang lebih cerdas.

Anak orang kaya yang punya jiwa kriminal.

Serta tidak butuh uang.

Ya…

Mungkin dia butuh mencari rasa tertantang.

Yang seperti Batman.

Kalong?

Tidak.

Kaya raya.

Oke.

Aku punya kandidat yang cocok.

[musik investigasi]

Tambah kartunya.

[menggerutu]

Aduh.

Kau menambahkan kartu, Fella.

Tidak mungkin 12 kali menang berturut-turut.

Kalau kau bisa buktikan aku curang,

ambil semua duitku di tas.

[dalam bahasa Inggris] Sudah selesai?

Tidak ada yang mau lanjut?

[Ucup] Kalau ini, bagaimana?

Kurang banyak tidak?

Orang baru, ya?

Hari ini aku malas meladeni orang baru.

Oke.

Kalau segini?

Tiga puluh juta.

- [pejudi 1] Silakan duduk, Bung. - Oke.

Tambah kartu.

- [dalam bahasa Inggris] Serius? - Ya.

Kau takut?

Kau terlalu berani.

Apa kubilang. Kau ditipu, Bung.

Aku suka keberanianmu.

[Ucup] Aku tahu gaya bermainmu.

Kau biasanya membiarkan orang menang dulu,

agar lawanmu menaikkan taruhan.

Lalu, kau hajar habis-habisan saat taruhanmu sudah maksimum.

Kau gila.

Kau mau bakar uang?

Kalau ya, kenapa?

Semua.

Jeep Cherokee 1994, edisi terbatas.

Aku tidak paham apa motivasimu.

Tapi kalau kau ingin mengajakku kencan dengan bakar uang seperti ini…

[dalam bahasa Inggris] Maaf, jangan main-main denganku.

[Ucup] Oke.

Kalau aku kasih dirimu pertualangan dengan taruhan 2,5 miliar?

Masih mau bilang itu bukan gayamu bermain juga?

Hm?

Tambah kartunya.

[alunan musik ceria]

Bagaimana?

Tertarik?

Oke. Akan kuambil.

Oke.

Far. Far. Far.

- Lihat itu, Far. - Ya, apa?

Serius?

[Ucup] Hei!

Ah!

Ada kalian berdua juga. Hai.

Kenapa?

Ayo.

Masuk, masuk.

- [Ucup] Teman-teman, ini Fella. - Sebentar, sebentar.

Kau mengajak dia juga?

- Ya. - Masuk ke tim kita?

Ya. Kenapa?

Kau gila. Tidak. Kami lebih baik keluar.

Untuk apa aku satu tim dengan bandar judi? Kau gila.

Maaf, Pik. Aku keluar.

[bergumam] Apa?

Orang ini sudah menipuku dan Gofar berkali-kali.

Kau tidak mau berurusan dengan bandar,

atau kau takut kalah terus melawan bandar?

Kau pasti sudah kubunuh kalau kau bukan wanita.

Tenang.

Memangnya kenapa kalau wanita?

[Sarah] Aku wanita.

Aku bisa mengikat kalian berdua di sini kalau aku mau.

Sudah, hentikan.

Kita semua di sini karena satu urusan, ya?

Duit.

Kalian ikut atau tidak?

Sudahlah, urusan pribadi kalian tinggalkan saja di jalur balapan.

Fella.

[dalam bahasa Inggris] Selamat datang di tim.

Oke.

[Arman] Sita.

Ada tugas pengawalan aset negara.

Tidak ada yang mau mengambil tugas ini, jadi saya harus tugaskan kamu,

dan kamu ikut dengan tim saya. Oke?

Penangkapan Diponegoro-nya Raden Saleh?

[Piko, dalam bahasa Inggris] Dan jadi…

RENCANA PENCURIAN, KENDARAAN, EKSTRAKSI, TEROWONGAN

Kesempatan kita untuk menukar lukisannya cuma saat waktu pengiriman.

Rencana kalian ini sebenarnya oke.

Tapi masih banyak detail yang belum diisi.

Bolong sana-sini.

Bagaimana caranya kalian dapat data penjadwalan pengiriman,

kalau mereka masih mencatat semuanya di buku?

Jangan bilang kalian pernah masuk diam-diam seperti maling, ambil data?

[berdeham]

[Piko] Gofar! Tuktuk mana?

[Gofar] Tidak tahu!

[pegawai] Jangan kabur! Hei!

Hei! Berhenti!

[Gofar] Ya, ada yang terinspirasi dari sebuah gim.

Ya…

Terus?

Kau punya ide?

Kita butuh dua orang untuk menyusup ke perusahaan ini sebagai karyawan.

Bukan menyogok sopir.

Kalian tidak ingin meninggalkan jejak, 'kan?

Karena itu…

kami butuh kau.

Buatkan ijazah untuk Gofar dan Tuktuk agar mereka bisa melamar kerja di sana.

- Kenapa kami? - [Sarah] Ya, tentu saja.

Siapa lagi?

Oke.

[Gofar] Aku dan Tuktuk langsung melamar sendirian?

Tentu tidak, Bodoh.

Kepala Staf ibuku yang akan membantu kalian.

[Piko] Masuk, Tuk!

Kanan.

Kanan. Berhenti!

[pintu truk dibuka]

[pintu truk ditutup]

- [Tuktuk] Taruh di sini. - [Ucup] Bagaimana?

- Mana, ya? - Ini barangnya?

- Ya. - Mirip, kok.

Gampang.

[Sarah] Piko.

Ini.

[Fella] Bisa, tidak?

Tentu saja bisa.

Coba ke situ, cek.

Ada tombol merah. Tekan itu.

[mendesis]

[menjentikkan jari]

Aku keren, 'kan?

Kap mobil bukan masalah.

Aku mau istirahat dulu.

Mengumpulkan mood.

Ya.

[desis semprotan]

[menggerutu]

Hangus jatah cutiku tahun lalu.

Tahun ini tidak terpakai lagi.

Anak-anak sudah buat janji untuk jalan-jalan.

[berdecak]

Lah, lah, lah!

Terbalik kita, Bang!

Aku baru dapat undian liburan untuk enam orang ke Bali.

Aku pegawai baru.

Mana bisa langsung cuti?

Memangnya tanggal berapa undiannya, Boy?

Tanggal 22 Januari.

Kau mau, Bang?

Akan aku urus.

[karyawan] Biar aku yang teruskan.

Ucup.

Pesankan tiket ke Bali untuk enam orang.

Atas nama Yudi Sugandi.

Ya.

[mesin menderu]

[ban berdecit]

[Fella] Bagaimana?

[Tuktuk] Mau tahu siapa yang akan mengantar lukisannya?

Ini surat tugasnya.

Aku dan Gofar.

Kenapa baru mengabarkan sekarang? Kenapa tidak kirim pesan saja?

- [Sarah] Ya. - Ya, biar kalian tegang.

Seperti film-film pencurian itu.

Gofar, Tuktuk, ikut aku. Aku ingin tunjukkan sesuatu.

- [Gofar] Apa? - [Piko] Sini, sini. Sini.

[terkagum]

Mirip.

- Kau hebat, Piko. - Hebat.

[Tuktuk] Gila.

[Gofar] Mantap.

Nomor angka mesinnya bagaimana?

[Tuktuk] Kau bisa tidak?

Sabar. Jangan diburu-buru, monyet.

- [Tuktuk] Bisa, tidak? - [Gofar] Sabar.

- [Gofar] Tarik. - [Tuktuk] Oke.

Tidakkah menurutmu…

sampai meminta Gofar mengukir dan menyamakan nomor angka mesin

terlalu berlebihan?

[dalam bahasa Inggris] Pencegahan.

Aku cuma menutupi rencanamu yang banyak bolongnya itu.

Oh, ya?

Awalnya kukira kau cuma pencari tantangan,

yang diam-diam punya sifat narsis

dan ingin selalu jadi pusat perhatian.

[terkekeh]

Ternyata kau punya banyak akal bulus juga, ya?

Wow.

Seru, ya?

Menelusuri jejak digitalku.

Media sosialku. Mulai dari Steller,

Blogspot,

terus apa lagi?

- [Fella] Sampai… - Sampai akun Instagram rahasia?

Tempat curhat memakai foto-foto subjek?

Oh?

Jadi, selama ini…

Itu namanya strategi, Fella.

Kalau terowongan ini?

Perhitungan strateginya sematang strategimu ingin mendekatiku, tidak?

Rumahmu sepi sekali, Fel.

[dalam bahasa Inggris] Sampai jumpa besok, ya, Cup.

Jangan sampai tidak cukup istirahat.

Oke.

Kau juga, ya.

- Papa dan Mama sudah pulang, Pak? - Belum, Mbak.

[musik dramatis]

Jalurnya nanti akan seperti ini.

Dan saya minta kalian tetap waspada.

Apa kira-kira potensi ancamannya yang cukup gila mau mencuri lukisan?

Perpindahan ini memang nyaris tanpa ancaman.

Tapi saya minta…

pengawalannya tetap seperti dua tahun terakhir.

Seperti protokol yang digagas oleh Mantan Presiden Permadi.

[musik menegangkan]

Pak.

[dalam bahasa Inggris] Selamat pagi, Cup.

Selamat pagi, Teman-teman.

[dalam bahasa Inggris] Selamat pagi, Teman-teman.

[dalam bahasa Inggris] Aku sudah masuk.

[musik menegangkan]

[dalam bahasa Inggris] Jalan.

[sirene polisi]

Teman-teman. Aku sudah di posisi tunggu.

Tenang. Jangan tegang.

[Ucup di radio] Semua aman terkendali.

Tiga kilometer menuju terowongan.

[mesin menderu]

[radio polisi] 10-8 Galeri Nasional, 10-8 Galeri Nasional.

Lapor 819. Lapor 819

[Gofar di radio] Kami sudah melewati tugu.

Fella, Piko.

- [Ucup di radio] Kalian bersiaplah. - Masuk.

Siap, ya, Sarah?

[dalam bahasa Inggris] Waktunya pertunjukan.

[desis asap]

[klakson mobil bersahutan]

[sopir] Mobilmu menghalangi jalan, Mbak.

Mas, maaf. Mobil saya mogok tiba-tiba. Saya tidak tahu penyebabnya.

- Yang benar saja, Mbak? - [Fella] Maaf, ya.

Entahlah, Mas. Tiba-tiba mobil saya berasap.

[sahutan] Mbak, jangan di tengah jalan, Mbak.

[Fella] Ya, ya. Maaf, Semuanya. Ini…

[Ucup di radio, dalam bahasa Inggris] Fella. Sudah di rencana.

[mesin menderu]

[sirene polisi]

Pertahankan kecepatan, Teman-teman.

[Ucup di radio] Terowongan masih 200 meter lagi.

[Sita] Bang.

Mobil boksnya kenapa ada dua, ya?

Macet sampai belakang. Lihat, Mbak.

Ya, tapi masalahnya ini mobilnya elektrik.

Saya juga tidak paham caranya.

Cup, di sini mulai kacau. Mulai banyak yang membantu.

Improvisasi, Fella.

Mogok, Mas. Mas, mogok. Mogok!

[sirene polisi]

[radio polisi] Izin 9-1 arah tenggara.

Masuk terowongan pusat.

Ada sendatan di ujung, Dan.

Piko. Tuktuk.

[Ucup di radio] Berapa lama lagi?

Aku hampir di posisi, Cup.

Gofar, Piko ada di belakang?

[Gofar] Sudah?

Aku tidak bisa melihatnya.

- Aman, tidak, ya? - Aman.

Tuktuk. Aku mau masuk sekarang.

Aku mau masuk sekarang. Posisi. Oke?

[Ucup] Piko.

Maaf, ya, Mas. Ini saya tidak paham caranya.

Sebentar, Mas. Sebentar, ya.

Ucup, polisi mulai datang, Cup. Bagaimana ini?

Tuktuk, aku masuk, ya? Aku salip ke mobil depan.

[polisi] Mbak.

Ya, Pak?

[polisi] Kenapa bisa begini mobilnya, Mbak?

Ini mobil saya tiba-tiba mogok, Pak.

- [dentuman] - Astaga!

[pecahan kaca]

[Piko tercekat]

[Piko] Polisi.

Aku ditabrak polisi.

- Aku ditabrak polisi! - [Sarah] Pik, kabur!

Mundur, mundur, mundur!

[dentuman]

[Ucup] Hei! Semuanya batal!

Batal, batal!

Fella, fel, pergi dari sana sekarang.

Fella! Kau dengar aku?

Fella!

[pintu mobil ditutup]

[pejalan kaki] Apa lagi?

Tabrak!

- [dentuman] - [pengemudi] Hei!

[Gofar] Gas terus! Gas!

[klakson]

- [benturan] - Hei!

[Fella] Dia membantu saya. Soalnya, maaf ya, Pak. Sebenarnya…

- Ini mobil aku rusak. - Sayang! Kenapa? Kenapa, Sayang?

- Sebentar aku cek. - [Fella] Ya, ya. Sebentar ya, Pak.

- [polisi] Ya. - Sebentar, Pak.

- [benturan] - Sial!

- [benturan] - [Tuktuk] Hei! Minggir!

[ban berdecit]

Minggir!

[sirene polisi]

- [Gofar] Ayo, Tuk! - [polisi] Ini ada apa, tiga-tigaan?

- [klakson] - [Tuktuk] Hei! Minggir!

- [sirene polisi] - Kode 363! 363! Ada 363!

Bagaimana keadaan yang lain, Cup?

Bagaimana mobilmu?

Yang penting sekarang kita cari tempat aman dulu,

baru kita cari yang lainnya.

- Awas! - Lurus! Lurus!

[Tuktuk] Awas, Semuanya!

[dentuman]

[mengerang]

[Piko] Sar, kabur, Sar. Sar!

- Sar, kabur, Sar. - Pik.

Kabur, Sar. Lari, Sar!

- Sar, lari, sar! - Berhenti!

Piko!

[mengerang]

[Arman] Berhenti!

Berhenti!

Hei!

[sirene polisi]

- Polisi. Kabur. Polisi, kabur! - Paham tidak?

Sabar!

[polisi] Mau ke mana kamu? Diam!

- [derapan langkah] - [mengerang]

- [klakson mobil] - [Piko tercekat]

[ban berdecit]

[terengah-engah]

Awas! Awas!

[mengerang]

Ke atas.

Hei! Berhenti!

[Sita] Hei!

[mengerang]

[debuk]

[debuk]

[mengerang]

[mengerang]

[mendengking]

[debuk]

[terengah-engah]

[pintu terbuka]

[Piko mengerang]

[mengerang]

[letusan pistol]

[letusan pistol]

[Piko mengerang]

Berhenti!

[lift berdenting]

Minggir!

Tempat ini aman, Fella.

Ini.

Mas Gito tidak akan cerita apa pun ke orang tuamu.

- Tenang saja, ya? - Oke.

Sekarang Mas akan cari informasi di luar.

- Ya. - Ya.

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

Cup, kita aman di sini.

Dia tidak tahu apa-apa, 'kan?

- Aku cerita sedikit. - [mendengus]

Kau gila, Fel?

- Kau mau kita ditangkap sekarang? - Sudah kubilang, kita aman, Cup.

Dia satu-satunya cara supaya tahu situasi di luar sana.

Dia punya banyak koneksi.

Gito bekerja untuk ibuku.

Tapi aku lebih percaya dia daripada ibuku.

Paham?

- Terus sekarang bagaimana? - Apanya?

- Selanjutnya apa? - Tidak ada langkah selanjutnya, Fel.

Semua kacau.

Aku tidak tahu harus bagaimana.

[Ucup mengesah]

Kenapa di rencana Permadi tidak ada info soal pengawal memakai mobil sipil?

[musik menegangkan]

[pintu dibuka]

[derap langkah kaki perlahan]

[debuk]

Keterlaluan!

- Harusnya aku tak memercayaimu! - Aku juga tidak tahu ada polisi.

- Kenapa kau… - [sirene polisi]

- Anjing! - [sirene mobil polisi]

- [sirene mobil polisi] - [Ucup] Bagaimana keadaan yang lain, ya?

Aku tidak rela kalau sampai Piko tertangkap.

[Fella] Kenapa Piko?

Ibunya meninggal sejak dia kecil.

Ayahnya…

beberapa tahun lalu masuk penjara karena kasus pembobolan bank.

Tadinya kupikir hidupku yang paling hancur.

[mengesah] Muncul Piko dengan semua masalahnya.

- Semua gara-gara aku, Fel. - Tidak, Cup.

Bukan semuanya salahmu.

Kalau saja tadi polisi tidak ada…

[bel pintu]

Siapa, Fel?

[pintu berdecit]

[pintu ditutup]

Sar.

[Piko mengerang]

Jangan pernah tinggalkan aku seperti tadi lagi.

- Aku tak pernah meninggalkanmu! - Aku tak pernah meninggalkanmu, Sar!

Aku menyuruhmu lari. Siapa yang siap disergap polisi?

[musik sedih]

Hei.

- Tuktuk ditangkap, Sar. - [Sarah terisak]

Hei.

[Sarah terisak]

[Sarah terisak] Terus bagaimana kita sekarang?

[Sarah menangis]

Kita sudah jadi buronan.

[Sarah terisak]

Bagaimana nasib Oma-ku?

[Sarah terisak] Oma.

[Sarah terisak]

Aku cemas dengan keselamatan Papa.

[Sita] Kalau kamu cuma diam,

tidak bisa bersikap kooperatif…

saya tidak tahu,

bisa membantu meringankan hukumanmu atau tidak.

Dua orang yang kabur dari truk itu siapa?

[pintu diketuk]

[pintu diketuk]

Ada sopir yang namanya Tuktuk baru saja ditangkap.

Mobil teman kamu jadi bukti kejahatan.

[pintu berdecit]

[derap langkah kaki]

[musik menegangkan]

Kenal Yusuf Hamdan?

Teman kamu, 'kan?

[Gito] Kemungkinan besar identitasnya bocor.

Kamu hati-hati, ya.

- Oke. - Telepon Mas Gito, kalau ada apa-apa.

Terima kasih, Mas.

Ponselnya aman, 'kan?

- Piko aman. - [Ucup bernapas lega]

Tapi Tuktuk ditangkap.

Gito juga bilang kemungkinan polisi sudah tahu identitasmu.

Ya.

[mengesah]

Izin, Bang.

Galeri Nasional bertanya soal lukisan.

Mabes juga ingin ini dipercepat agar pembukaan pameran tidak tertunda.

Arahan langsung dari Istana.

[Arman mengesah]

[kaca diketuk]

[derap langkah kaki]

[musik menegangkan]

[polisi 1] Yang saya bingung,

lukisan ini berasal dari dua truk yang sama.

Bukan cuma lukisannya, Bu.

Kedua truk itu pun identik sampai ke nomor mesinnya.

[mengesah]

Pencurian ini bukan dilakukan sembarangan orang.

Mereka cukup mumpuni. Bukan hanya untuk mencuri, tetapi menukar lukisan ini.

Ya, dan lagi-lagi,

kita tak bisa membedakan mana lukisan yang asli dan yang palsu.

Pihak Galeri Nasional menyarankan untuk melibatkan kurator Istana, Bang.

Kirim surat.

Biar besok mereka cek sendiri.

Siap, Bang.

Sit, ayo.

[musik menegangkan]

Saya minta ruangan ini dijaga ketat.

Lukisan ini ratusan miliar harganya.

Siap, Bu.

[derap langkah kaki]

- [petugas] Ada yang bisa… - Saya mau bertemu dengan Pak Arman.

Silakan.

[Arman] Saya Arman.

Saya Dini.

- Anda kurator dari Istana? - Ya.

Di mana lukisannya?

Ada di ruang bukti.

[Dini] Saya terima kasih sekali Kepolisian tidak mengungkap ini ke publik.

- [pintu dibuka] - Silakan.

Mari.

[pintu ditutup]

[musik menegangkan]

[ritsleting tas dibuka]

Saya sudah bisa mulai ya, Pak Arman.

[alunan musik makin menegangkan]

[pintu ditutup]

Pak Arman. Bu Sita.

Untuk lukisan penangkapan Diponegoro yang asli, sudah saya berikan label merah.

Kalian bisa langsung bawa ke Galeri Nasional.

Untuk lukisan yang palsu, saya harus bawa langsung.

Karena kami punya prosedur khusus untuk melenyapkan lukisan palsu.

Apalagi ini kategorinya harta nasional.

[alunan musik menegangkan]

[pintu ditutup]

[bel berbunyi]

[Budiman] Ada apa, Pik?

Kamu bisa cerita sama Papa.

Hei, lihat Papa.

Kenapa?

Sarah hamil?

Terus apa?

Kamu anak Papa yang kuat.

Dari semua orang yang Bapak kenal di dunia ini, cuma satu, kamu.

Orang yang paling tegar,

yang pernah Bapak kenal.

Apa pun itu kalau kamu tak bisa cerita, Papa cuma berpesan satu hal.

Hadapi.

Hadapi seperti yang biasa Piko lakukan.

[derap langkah kaki]

[petugas] Waktu sudah habis.

Pak, waktu sudah habis.

[kursi digeser]

Jangan percaya sama orang lain.

Percaya sama diri kamu sendiri.

Pa.

Hati-hati, ya.

Silakan, Pak.

["Sebuah Kisah Klasik" oleh Rendy Pandugo]

♪ Jabat tanganku Mungkin untuk yang terakhir kali ♪

♪ Kita berbincang tentang memori Di masa itu ♪

♪ Peluk tubuhku usapkan juga air mataku ♪

♪ Kita terharu seakan tiada bertemu lagi ♪

♪ Bersenang-senanglah Karena hari ini akan kita rindukan ♪

♪ Di hari nanti Sebuah kisah klasik untuk masa depan ♪

♪ Bersenang-senanglah Karena hari ini akan kita banggakan ♪

♪ Di hari tua ♪

♪ Sampai jumpa kawanku ♪

♪ Semoga kita selalu ♪

♪ Menjadi sebuah kisah klasik Untuk masa depan ♪

♪ Sampai jumpa kawanku ♪

[telepon tidak tersambung]

[tombol ponsel ditekan]

Hari ini pameran tahunan koleksi Istana kembali digelar,

setelah ditiadakan karena pandemi. Pengunjung antusias

bahkan sebelum dibuka.

Karena pameran ini menampilkan lukisan Penangkapan Diponegoro

karya Raden Saleh yang fenomenal.

[rana kamera]

[musik menegangkan]

[rana kamera]

[petugas] Minggir!

Mas, berhenti!

[pintu dibuka]

[Permadi] Canggih.

[Permadi tertawa] Hati-hati.

Anda sekarang sudah memiliki lukisan paling penting dan bersejarah.

Ini bukan soal lukisannya, Din.

Negara sudah merenggut karier politik saya

dan Rama, anak saya.

Ini adalah hari pembalasan.

Uangmu bisa diambil di kotak deposit, seperti biasanya.

Terima kasih, Pak Presiden.

Ayah, diletakkan di sini aman?

Kita nikmati saja dulu.

Nanti…

kalau sudah ulang tahun Ayah, baru kita pindahkan.

[alunan musik menegangkan]

Aku tahu kau pasti nekat ke sini.

Hei.

[pintu dibuka]

[Fella] Pik.

Fella.

Kau tidak apa-apa, 'kan?

Aku tidak apa-apa. Kau tidak apa-apa, 'kan?

Ucup.

Lukisan yang ada di Galeri Nasional bukan lukisan Raden Saleh yang asli.

Itu punyaku!

Ternyata selama ini kita cuma jadi umpan.

Umpan rencana Permadi.

- Mobil polisi itu joker yang tak pernah… - Hei.

Terus kalau kita umpan kenapa?

Yang di penjara juga Tuktuk.

- KTP-nya Ucup dipegang polisi. - Terus?

- Dia jadi DPO. - Terus kenapa?

Dia jadi DPO, tapi faktanya Tuktuk yang di penjara.

Kau sadar itu, tidak?

Tuktuk di penjara terus kita diam saja! [menggebrak meja]

[Gofar] Hal seperti ini

yang paling kutakutkan dari awal.

Kalau ada salah satu dari kita yang ditangkap, lantas bagaimana?

Ternyata diam saja.

[Gofar memukul meja dan tertawa]

Diam, anjing.

Kau yang paling tahu rencananya. Paling paham soal semuanya.

Menulis sana sini.

Giliran seperti ini, kau diam. Bangsat!

Dari aku kecil, aku selalu bersama dia.

Sekarang dia sendiri, aku tidak tahu dia sedang apa.

Aku tidak tahu dia diapakan, aku takut terjadi sesuatu padanya.

Tapi Tuktuk tidak akan buka mulut, 'kan?

- [kursi digeser] - Apa katamu?

Aku dan adikku memang tidak sekolah, tapi bukan berarti kami cepu.

Mentang-mentang orang kaya bicaramu seenaknya, anjing!

[kursi digeser]

Apa susahnya langsung menyerang kantor polisi. Ya, tidak?

- Langsung saja masuk. Kita beli… - Far.

Bersikap gegabah menyerang bukan ide yang bagus.

Tapi kau tahu adikku di penjara.

Kalian tahu, 'kan?

Aku ada ide.

[bel berbunyi dan pintu terbuka]

[pintu berdecit]

Kamu punya rencana itu betul-betul sempurna.

Bayaran kamu yang dua miliar sudah saya transfer ke Poltak.

Kamu tinggal minta sama Poltak, untuk buka lagi kasusmu itu.

Soal hakim MA yang Anda janjikan kepada saya bagaimana?

Sulit.

Sulit.

- Sulit? - Ya.

Saya sudah memberi Anda rencana sempurna untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Sekarang waktunya ada kiriman kepada saya.

Poltak tidak mungkin menang tanpa intervensi hakim seperti yang dijanjikan.

Bud. Saya ini bukan lagi presiden.

Kamu tahu itu.

Poltak akan cari jalannya. Dia itu pengacara yang licin.

Tanggung jawab saya atas perjanjian kita tuntas sampai di sini.

Saya bisa buka mulut soal lukisan kalau saya mau.

[tertawa] Saya sudah duga.

[Permadi tertawa]

Tapi kamu perlu tahu, Bud.

[berdecak] Anak kamu yang satu-satunya itu,

sengaja saya libatkan dalam pencurian ini

sebagai liabilitas untukmu.

Jadi, kalau kamu buka mulut,

sedikit saja,

anak kamu bisa tinggal bersamamu di penjara.

Untuk waktu yang lama.

Anak kamu itu…

dia pemalsu lukisan yang hebat.

Tapi…

anak muda yang bodoh dan gampang diperalat.

- [pukulan] - [pengawal] Hei!

Hei, diam!

[mengerang]

[mengerang]

[pengawal] Diam!

Kenapa Anda melibatkan anak saya?

Kamu tahu hukum penjara, 'kan?

[Permadi bergumam]

[debuk]

Ayo!

[musik dramatis]

Tanggal 10 Desember 1968 di Jepang,

ada perampokan super genius dan tak bisa dipecahkan.

Hei, sebentar. Ini…

kenapa bahas perampokan lagi?

- Bukannya kita ingin bebaskan Tuktuk? - Far, dengarkan dulu.

[Ucup] Aku lanjutkan dulu.

Saat itu

mobil pengangkut uang sebesar 300 juta Yen

diangkut buat bonus karyawan para pegawai pabrik.

Mobil boks dengan keamanan tinggi itu mendadak dicegat oleh polisi berseragam

hanya sekitar 200 meter dari lokasi tujuan.

Polisi itu bawa berita peringatan

kalau salah satu manajer pabrik baru saja kena serangan bom.

Rumahnya meledak.

Polisi juga bilang

bahwa dia mendapat laporan

mobil pengangkut uang 300 juta Yen itu

juga sudah dipasangkan peledak.

Saat polisi mengecek kolong mobil…

ternyata benar.

Tiba-tiba ada percikan api dan asap muncul.

Polisi langsung teriak bahwa mobil akan meledak.

Situasinya jadi kacau.

Tapi saat pengawal uang itu sadar,

polisi palsu itu sudah masuk ke dalam mobil

dan membawa kabur uang 300 juta Yen itu.

Lalu, hilang dari pandangan orang.

Tunggu.

Maksudmu kita akan…

Kita bisa menyamar jadi polisi.

Menggunakan siasat yang sama dan menganggap

mobil pengangkut uang 300 juta Yen ini

adalah mobil tahanan yang bawa Tuktuk ke markas pusat.

Berarti bisa bebaskan Tuktuk dari penjara.

Tidak.

Kalau kita memakai ancaman bom walaupun palsu,

sampai kita ditangkap, kita tak cuma dituduh pencuri, tapi teroris.

[Gofar] Ya, benar.

- Tidak bisa, Cup. - [Fella] Bagaimana?

[pintu dibuka]

Tuk.

Hai, Nyet.

[musik riang]

[polisi] Tuktuk, kamu bebas.

[pintu dibuka]

[polisi] Silakan.

Bang, kenapa tersangka sopirnya harus dibebaskan?

- Itu masih dalam penyelidikan. - Saksi bukan tersangka.

Ya, tapi kita tangkap tangan dia saat kejadian.

Kalau mau bukti, tinggal tunggu waktu.

Mau ditanya berapa kali pun, jawabannya akan tetap sama.

Dia kabur bawa mobil karena takut sama komplotan pencurian. Itu saja.

Masuk akal, tidak?

Kamu sendiri yang cek, dia terdaftar sebagai sopir.

Sudah, Sit.

Yang penting sekarang lukisan aman, pameran sukses. Apa lagi?

- [Sita] Tidak bisa begitu. - Sit, kasih saya alasan

kenapa dia masih ditahan di sini selama tiga hari?

Ya sudah, akhirnya aku ke sini.

Tenang, tak ada satu nama pun yang kusebut di kantor polisi.

Apa kubilang.

- Tapi… - Apa?

Mereka sudah tahu soal Ucup.

[dalam bahasa Inggris] Astaga, ternyata benar.

Kalau bukan karena Ucup ketahuan,

aku pasti tak bisa keluar dari kantor polisi.

[Fella mengesah]

Berengsek Permadi!

[dalam bahasa Inggris] Kita balas.

Permadi melakukan semua ini

karena dia pikir kita bocah ingusan yang bisa diperdaya.

Tapi dia harus tahu…

kalau kita juga bisa melawan.

Buat Ucup.

[musik menegangkan]

- Pak. - Di depan.

[roda bergerak]

[musik menegangkan]

- [benturan roda] - Silakan.

[pintu ditutup]

[mobil menderu]

Aman.

Pak Poltak mau bicara.

[Poltak di telepon] Mobil ini akan membawamu ke rumah aman.

Kau cuma punya waktu 2 kali 24 jam

untuk benar-benar menghilang.

Tapi ingat, kau jangan sampai gegabah.

Dengan dua miliar, kau tidak bisa mendapatkan lebih.

Kalau kau tertangkap,

aku tak punya urusan denganmu.

Ini titik lemahnya.

Rama.

Putra mahkota Permadi.

Tahun lalu Permadi mundur sebagai presiden,

karena kasus suap Rama terekspos oleh media.

Demi beritanya tidak tersebar,

Permadi terpaksa mengorbankan jabatannya.

Rama ini pintu masuk kita.

Buat informasi,

dia playboy kelas kakap.

Jadi, peluang terbesar kita cuma bisa melalui dirimu.

- Aku? Kenapa aku? - Ya.

- [menepuk] - Rencana yang mana?

- Rencana yang mana? - Aku yang buat sendiri.

Permadi pernah melihatku sekali.

Ya, tapi waktu itu kau memakai tudung, 'kan?

Ya, 'kan?

[Piko mengesah]

[musik riang]

[Ucup] Oke.

Fella bisa bantu mengubah Sarah.

[mengerang]

[Ucup] Dua minggu lagi Permadi ulang tahun.

Dia selalu mengadakan pesta besar di rumahnya.

Kita bisa ambil ide dari filmnya Sandra Bullock.

Cari celah dan bikin kacau.

[orang mengobrol]

[Ucup] Sarah.

Cari perhatiannya Rama.

Sebisa mungkin dekati dia.

Sampai bisa diundang ke ulang tahun Permadi.

[orang mengobrol]

Mangsa terpancing.

Astaga, Far.

Hei, sikat.

[Sarah mengembuskan napas]

Aku jalan.

Hei.

Lihat-lihat kalau jalan.

Halo.

Kau sendirian?

Ya, aku lagi sendirian.

Tidak pesan minum?

- Bagaimana kalau kamu yang pesankan? - Mau apa?

Terserah kamu saja.

[Rama] Satu, ya.

[Gofar] Santai saja. Jangan maksa senyum begitu.

Mereka terlihat dekat, ya?

Kau lebih tampan.

Kau mirip seperti anggota boyband.

- Santai. Sebentar lagi dia datang. - [Pintu dibuka]

- Itu. - Sar.

Bagaimana?

[Sarah mengesah] Najis aku, Cup.

Dia genit sekali.

Terus bicaranya selangit, tapi seleranya payah.

- Dia mengantarmu sampai rumah, 'kan? - Ya.

- Bagus. - Ke rumah Oma?

Tidak. Aku tidak bodoh. Aku asal pilih rumah di Pondok Indah.

- [Sarah mengaduh] - [Fella tertawa]

- Teleponmu, bukan? - Ya.

[dering telepon]

Si Genit.

Angkat saja, bilang mau tidur. Tak apa, angkat.

[dering telepon]

Mangsa utama masuk perangkap.

Pacarmu keren sekali.

- Mangsa utama masuk perangkap. - Aku melihatnya.

[Gofar tertawa]

[Ucup mengesah]

[benda ringan jatuh]

ORANG DALAM

[dalam bahasa Inggris] Oke, selanjutnya.

Karena curian,

asumsiku lukisannya tidak mungkin dipajang di ruang terbuka.

Jadi, harus ada orang yang kita tanam

di dalam rumah Permadi sebelum hari H.

Untuk bisa masuk ke sistem keamanannya,

dan cari di mana lukisan itu disimpan.

Sampai momen ekstraksi…

EKSTRAKSI

…untuk bawa keluar.

- Seperti di filmnya Clive Owen, 'kan? - Ya.

Sebentar.

- Ini adalah ekstraksi dari dalam keluar… - Ya.

tapi kita tidak tahu bagaimana dalamnya.

Ya, jadi kita butuh,

akses ke EO acara atau vendor dekorasi.

Berarti aku dan Tuktuk lagi ini.

[Piko] Tidak, Far.

- Kali ini giliranku. - Oke. Bersama denganku.

[Tuktuk] Tunggu. Bagaimana kau bisa diterima?

Kau sedang dicari polisi sekarang.

Mana dokumennya?

[langkah kaki]

Pokoknya ingat yang Mas Gito ajarkan.

Ada apa, Fel?

Sampai harus bicara di sini.

Apa tidak bisa menunggu di rumah saja?

Mana ada waktu kita mengobrol di rumah?

- Ini dokumen akuisisinya, Bu. - Terima kasih.

Gito.

Tolong kamu cek semuanya, sebelum kita beli perusahaan ini.

[Fella berdeham]

Jadi begini, Mam.

Fella itu…

berpikir ingin punya usaha.

Yang bisa Fella kelola sambil kuliah.

Begitu dong.

Memangnya kamu mau usaha apa?

[kertas dibolak-balik]

[alunan musik menegangkan]

Jadi…

[Fella] Ini.

Semua berkas yang kita butuhkan.

Mulai dari rancangan acara,

dekorasi, katering, lini masa, sampai denah rumah ada.

[Piko] Gila.

Kau menghilang tiga hari,

kini kembali seperti agensi.

Mulai besok, kau dan Ucup sudah bisa kerja di situ.

- Tidak perlu CV. - Bagus.

- Bagaimana caranya? - [Ucup] Gila.

Perusahaannya sudah dibeli Fella.

- Astaga. - Sahabatku keren.

Mulai hari ini aku yang pegang kendali operasionalnya.

- Mas Gito CEO-nya. - [telepon berdering]

Memangnya bagaimana cara membeli sebuah perusahaan?

Kau takkan bisa bayangkan.

- Bisa? - Aku tak bisa bayangkan.

[Sarah] Teman-teman.

Rama mengajakku makan malam.

- [semua bersorak] - Mantap.

[Gofar meniru suara ciuman]

Jangan sedih.

[Rama] Hei.

Anya.

Ayo duduk.

[Fella] Minum.

[Rama] Kamu…

cantik sekali malam ini.

Baju kita sama.

Ini.

- Jodoh berarti. - [Sarah bergumam]

[Ucup] Sekarang cara untuk bisa masuk ke rumah Permadi sudah ada semua.

Tuk, mobilmu takkan bisa sampai sini,

tapi entah bagaimana caranya, bawa kami ke situ.

Ruang server, Far.

[tertawa] Gofar dibutuhkan, ya.

Berhenti.

- Ini apa? - Ada apa, Pak?

- Ini apa, Bu? - Ini boks sistem suara.

- Oke, silakan. - Ya, lanjut.

[dengung bor]

[musik penuh semangat]

[Gofar berbisik] Kiri atau kanan?

Aku lupa.

Sebentar. Hei, Cup.

[Tuktuk berbisik] Kiri apa kanan?

Mana aku tahu, Bodoh.

- Aku tidak bisa lihat. - Apa?

Kau bertanya ke Ucup?

Hei, Kalian! Sedang apa di situ?

Ruang server di mana ya, Pak?

[satpam] Itu lurus terus belok kiri.

- Lurus, kiri? Oke. Terima kasih, Pak. - Ya.

Ayo.

Hei, kau sinting atau bagaimana? Kita ketahuan dong.

Ya, jangan begitu, yang bodoh bukan cuma kau.

Fel, kami sudah mau sampai.

Maaf, ini sepertinya saya salah ruangan.

Ini bukan tempat penyimpanan, ya?

Bukan, ini ruang CCTV.

Baik. Tempat penyimpanan sebelah mana?

- Ke sana. - Di sana?

Setelah 50 meter, nanti belok kiri.

- Oke, baik. Makasih, Pak. - Ya.

[tuts kibor]

[Ucup] Setelah kita menguasai CCTV…

berarti fase satu komplit.

Tapi kira-kira apa

bom waktu yang bisa kita gunakan untuk bisa keluar dari sana.

Kita butuh rencana ekstraksi.

- Bom waktu? - Ya.

Celah untuk membuat kekacauan, seperti yang kubilang kemarin.

Sayang.

Satu-satunya peluang,

cuma ada di posisi aku.

[musik pesta]

[pintu dibuka]

[dalam bahasa Inggris] Selamat datang di rumahku.

[musik pesta]

Teman-teman.

Paket sudah sampai.

- Tapi apa boleh buat, 'kan? - Ayah.

[Piko] Aku tidak setuju.

Terlalu berisiko untuk Sarah.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?

[dalam bahasa Inggris] Benar.

[derik kursi]

Aku punya opsi.

Terserah mau atau tidak.

[dengung besi dilas]

[Gofar] Aku akan memodifikasi alat yang aku pasang di mobil waktu itu.

Nanti bisa aku modifikasi untuk dikontrol dari jarak jauh.

Nanti bisa kita letakkan di dekat alat pendeteksi asap. Ya 'kan?

Sikat, Bos Ucup.

Oke.

- Silakan. - Aku coba, ya.

[Gofar] Sikat.

[remote ditekan]

Bom waktu kita.

Saatnya menjadi pencuri sungguhan.

[dalam bahasa Inggris] Ayo!

Canggih sekali kakakku.

[Tertawa]

Satu, dua, tiga.

[Gofar] Mari, Pak.

[musik lembut]

Pik.

Berapa lama lagi editannya?

Kelar, sudah. Hati-hati.

- Terima kasih. Yuk. - Yuk.

[Ucup] Fel, sudah siap.

- Permisi. Pak. - Ya?

- Saya bawakan ini untuk sambil berjaga. - Tak perlu repot-repot. Untuk saya?

[Fella] Ya. Tidak repot sama sekali. Memang sudah disediakan.

[satpam] Ya.

Baiklah, kalau begitu saya permisi, Pak.

Selamat menikmati.

[satpam] Lumayan untuk jatah malam.

Sudah aman ya, Cup.

Aman.

Lukisannya ada di paviliun timur.

Oke.

- Tolong antarkan. - Siap.

Mau minum apa?

Akan kupesankan. Coba satu.

[musik menegangkan]

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

[musik menegangkan]

Kenapa?

Ayo.

[pintu dibuka]

[musik menegangkan]

- Pik. - Ya.

[Piko] Akhirnya aku bisa melihat lukisan asli Raden Saleh.

Aku dan Piko di posisi.

[berdecak] Fel, keluar.

[Gofar] Fel.

Digunakan kios kambing guling lagi.

Ya sudah, oke. Improvisasi, ya.

[Fella] Improvisasi.

[Ucup] Improvisasi.

Hei!

Bantu aku. Hei.

[Ucup] Hei!

Lukisannya Agus Suwage, Cup.

Bom sudah di tempat.

Sepuluh menit sebelum kekacauan.

Tunggu!

[wanita menyanyikan lagu jaz]

[Fella] Minuman aman?

- Aman, Bu. - Oke.

[Fella] Ada keluhan sejauh ini?

Sejauh ini tidak ada.

Oke. Terima kasih.

Anggota, coba cek CCTV.

Siapa pelayan yang membawa nampan di paviliun timur?

Cek sekarang!

[pintu dibuka]

[musik menegangkan]

[pintu ditutup]

[petugas di radio] Komandan.

Ya, masuk.

Akan kami periksa. Segera Komandan.

Oke.

[pintu dibuka dan ditutup]

[Piko] Fel, Gofar, di mana kalian?

Kita hampir ketahuan.

Ya, tunggu.

Semuanya dengarkan. Atur waktu lima menit.

[pegangan pintu didorong]

Far, pintunya dikunci dari luar.

Ya, aku akan urus. Aman.

Shinta.

Coba kamu cek band selesai jam berapa,

karena setelah itu kuenya Pak Permadi harus keluar.

Terima kasih.

- Sudah siap? - Sekarang.

Oke.

Lima, empat,

tiga,

dua.

- [alat kontrol ditekan] - [dalam bahasa Inggris] Ayo.

- Kenapa tidak menyala? - [Fella] Apa?

- Maksudnya? - [Gofar] Alatnya tidak bisa.

- [Fella] Tidak bisa apanya? - [Gofar] Ini tidak bisa.

Tuk, Far, ada apa? Lapor sekarang.

- Sebentar, Gofar mau menyalakan manual. - Tidak bisa.

- Kalau dinyalakan manual, pasti ketahuan. - Lantas bagaimana?

Ya sudah. Jangan ribut. Kita cari solusi.

Ya, tapi aku dan Piko terjebak di sini.

Maaf, permisi.

Sar, remote Gofar rusak. Rencananya hancur.

Sekarang kita butuh kontingensi.

Bagaimana Piko?

Masih terjebak di dalam.

Oke.

Beri tahu yang lain. Biar aku yang menjadi bom waktu.

- Seperti rencana awal. - Kau yakin?

Bagaimana ini, Cup?

Teman-teman, Sarah ambil alih. Bom waktunya dengan aksinya Sarah.

[dalam bahasa Inggris] Sial.

Dia tidak akan bisa.

Satu-satunya jalan keluar adalah dengan alatku.

Mas.

- Kenapa? - Rasanya membosankan.

Kamu mau cari tempat buat berdua saja?

Kurang ajar. Kelewatan!

Hei, habisi dia!

[musik menegangkan]

[mengerang]

[berteriak]

Selamat ulang tahun, Pak Presiden.

Terima kasih.

Itu apa ribut-ribut?

[orang berkelahi]

Kau siapa?

Boleh kita berkenalan?

Keramaiannya makin banyak.

[Fella] Sarah dikeroyok.

[mengerang]

Ayo serang. Cup, bagaimana ini?

Kau tetap di sini.

Hei.

[mengerang]

Setan!

- [tertawa] Kekacauan dimulai. - [alarm berbunyi]

[alarm berbunyi]

[mengerang]

[Gofar] Sebentar.

Berisik sekali.

Kau sedang apa?

- Siap. - Kenapa kamu diam saja?

Ada apa? Di sini aman-aman saja.

- Penyusup! - Penyusup?

[alarm berbunyi]

Kebakaran!

[alarm berbunyi]

[orang berteriak panik]

- [alarm berbunyi] - [orang berteriak panik]

Minggir!

[letusan pistol]

- Ayo. - Ya.

[Fella] Pelan-pelan.

- Ayo, Cup. - Hati-hati.

Kalian duluan, nanti sisanya keluar denganku.

- [pintu ditutup] - Terima kasih. Hati-hati.

[Fella] Ya.

[pintu ditutup]

- Sudah? - Ya.

[mobil menderu]

Oke.

Kita bertemu di kawasan kosong 15 menit lagi.

Terima kasih, Fel.

Mereka lolos.

Semua aman.

Sudah? Kita lolos?

Lolos!

[berteriak senang]

[Ucup] Pik!

Gas, Pik!

- Keluar! - Pik!

[berteriak]

- [benturan] - Serahkan kuncinya!

- Serahkan kuncinya! - Kami katering, Pak.

[mengerang]

- Serahkan kuncinya. - [Ucup mengerang]

[pria 1] Serahkan!

[mengerang]

[Ucup mengerang]

[Ucup mengerang]

Piko!

[orang berteriak panik]

Minggir!

[Piko] Apa-apaan ini, Pa?

[Piko mengerang]

Seharusnya tidak berakhir seperti ini.

[mengerang]

Kenapa, Pa? Kenapa?

Saya seharusnya bisa bebaskan Papa!

- Tak ada yang bisa bebaskan Papa! - Tapi, Pa!

[Piko berteriak]

Permadi tak cuma menjebak kamu, tetapi menjebak Papa juga.

Jangan percaya sama orang lain.

Ini maksudnya, Pa?

Cuma ini satu-satunya cara yang bisa menyelamatkan Papa.

Seandainya ada cara lain.

Maafkan Papa, Pik.

[Budiman] Ayo, cepat.

[gemuruh guntur]

[musik melankolis]

[mobil menderu]

[Piko terbatuk-batuk]

[Piko terisak dan menangis]

[Piko] Habis.

Habis.

Habis.

Semua habis.

Aku tak punya siapa-siapa lagi.

Pik.

Masih ada aku.

Masih ada Sarah.

Lalu, teman-teman yang lain.

Kami semua…

keluargamu, Pik.

[mobil menderu]

Kenapa? Pik?

- Pik. - Ayo masuk.

Pik.

- [Fella] Pintu sudah dibuka, 'kan? - [Ucup] Sudah dibuka, belum?

Ayo.

- [rintik hujan] - [mobil menderu]

[mobil menderu]

[Piko] Lukisan Agus Suwage, Cup.

[Ucup] Ya, terus? Kenapa?

- Mau kau ambil juga? - Bukan.

- Apa? - Kontinjensi.

Bagaimana kalau kita punya dua rencana? Rencana A dan B.

Daripada kita harus memilih, kenapa tak menjalankan keduanya saja?

[Gofar] Bom sudah di tempat.

Tunggu!

Oke.

[kain dikibas]

[Piko] Jadi, Cup.

Soal lukisan Raden Saleh ini

bukan cuma soal perlawanan seperti yang pernah kubilang.

Tapi di balik peristiwa penangkapan itu,

ada juga cerita tentang pengkhianatan.

Kau sudah memberi kejutan di ruang server.

[pegawai] Ada laptop di sini, Komandan.

- [komandan] Kasih mati. - Tapi, Dan…

Kasih mati!

[Piko] Improvisasi.

Pelajaran yang bisa kita ambil

dari kisah penangkapan Pangeran Diponegoro

bahwa dia tidak pernah punya rencana kontinjensi.

Jadi, saat mati lampu, Tuktuk dan Gofar akan ambil lukisan Raden Saleh.

Nanti mereka yang letakkan dalam boks pemadu suara.

[Gofar] Ayo, Tuk.

Pelan-pelan.

- Pegang yang ini. - Ayo.

Kurang.

[pintu ditutup]

[mobil menderu]

[Piko] Jadi, mulai dari sini,

kita tidak boleh beraksi tanpa rencana kontinjensi.

[Gofar] Sudah selesai?

- [Sarah] Sudah. - [Gofar] Sudah?

- [mobil menderu] - [Fella] Aman.

[petugas] Apa?

[musik sedih]

[mendesah]

[terkekeh]

[mendesah]

Rama.

Rama, Rama, Rama.

Kalian cari siapa pelakunya.

Ya, Pak.

Cari!

[ponsel bergetar]

Angkat.

[Dini di telepon] Halo? Ucup?

[Ucup] Halo.

Hebat kalian.

Saya tadi melihat kamu dan Piko.

Keluar membawa lukisan itu.

[orang berteriak panik]

[Dini] Saya punya penawaran yang lebih menarik.

Saya ada calon pembeli.

Berani bayar 10 juta dolar.

[Ucup] Sebentar.

Sebentar, Mbak.

Si Dini mau beli lukisan ini?

Sepuluh juta dolar itu berapa?

Seratus lima puluh miliar.

Seratus lima puluh miliar? Itu uang?

Seratus lima puluh miliar.

- [Tuktuk mengerang] - [roda berdecit]

Tuktuk! Seratus lima puluh miliar?

- Seratus lima puluh miliar? - [Ucup] Seratus lima puluh miliar?

Seratus lima puluh miliar!

[berteriak kegirangan]

- Gila! - Gila!

[berteriak kegirangan]

[Ucup] Gila!

[berteriak kegirangan]

[benturan]

[musik menegangkan]

ISTANA - MULAI - TITIK PENUKARAN

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.