All language subtitles for Raman Raghav 2.0 (2016) bhaskar dora BluRay

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Diterjemahkan Oleh : ~o0o~ Ackiel Khan ~o0o~ http://subscene.com/u/612819

IDFLโ„ข Subs Crew http://IDFL.me

Movie, West-Series, K-Drama, Anime, Music, Software, Subtitle and Many More --- http://IDFL.ME ---

Raman Raghav alias Psikopat Raman merupakan seorang pembunuh berantai yang pernah meneror jalanan Mumbai di pertengahan era 60-an.

Ia mengaku telah membunuh sebanyak 41 orang.

Ia ditahan pada Mei 1969 dan dijatuhi hukuman mati yang kemudian diremisi menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Ia mati dengan wajar di penjara pada tahun 1995.

Film ini BUKAN tentang dia.

Diterjemahkan Oleh : ~o0o~ Ackiel Khan ~o0o~ http://subscene.com/u/612819

IDFLโ„ข Subs Crew http://IDFL.me

PROLOG Januari 2013

Mereka berdua pasti sedang mencarimu, 'kan?

Biarkan saja.

Dimana kau menemukan mereka?

Dimana-mana. Dimana saja.

Jangan lakukan itu.

Kumohon dengarkan aku. Jangan lakukan!

Tunggu kedatangan polisi itu.

Akan ku kembalikan uangmu.

Aku baru saja mendapat telepon. Sebentar lagi dia akan datang.

Sia-sia kau membunuhku.

Apa sekarang aku bukan 'paman' kesayanganmu?

Apa kerjaanmu?

Aku?

Ya?

Belanja.

Maksudku selain belanja.

Berpesta!

Dan siapa yang membiayainya?

Selalu saja ada yang mau membiayainya.

Kenapa dia tak mengangkat telepon?

Siapa yang tak mengangkat telepon?

Paman.

Pengedarmu?

Aku akan segera kembali.

Kau pegang senjata?

Kau tak tahu apa-apa.

Apa kerjaanmu?

Belanja!

Paman!

Buka pintunya, Paman!

Paman, aku tahu kau di dalam.

Paman!

Paman...

Senter itu membuatku silau!

Paman sedang keluar. Dia akan segera balik.

Kau siapa? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?

Redupkan senternya!

Pak... Anda cukur jenggot?

Tersangka memukul kepala mereka dengan sebuah batu besar.

Yang satu Pengedar, yang satunya tetangganya.

Dengan batu?

Ya, Tersangka memukul keduanya dengan batu yang sama.

Pak!

Pak!

Pak!

Ada kiriman untuk Anda.

Halo!

Kau ingin bicara dengan siapa?

Pak.

Seseorang menelepon...

..Dan dia hanya mau bicara dengan Anda soal pembunuhan ganda kemarin.

Halo!

Tn. Raghavan?

Ya, aku. Siapa ini?

Halo?

Halo!

Siapa dia, Pak?

Dia menutup teleponnya.

Siapa yang menyerahkan ini?

Seseorang.

Halo!

Pak...

Seorang pria bernama Sindhi Dalwai ingin menemui Anda, Pak.

Dia duduk di luar Kantor Polisi. Sebelumnya, aku pernah melihatnya.

Dia mengaku sebagai tersangka 9 pembunuhan dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak itu, dia tak mengatakan apapun.

Katanya, dia hanya mau bicara dengan Anda.

Bawa dia ke 'tempat rahasia' kita. Aku akan kesana bersama Komisaris.

Bagian I P R I A Y A N G D I S E K A P

Aku sedang tidur nyenyak...

...Saat polisi tukang pukul mengusirku dari trotoar.

Aku tak punya uang untuk menyuap.

Jadi, aku pergi ke Stasiun Kereta.

Mungkin aku bisa naik kereta terakhir.

Dan menghabiskan malam di emperan gerbong kereta.

Aku sudah sering melakukannya.

Tapi tiba-tiba turun hujan.

Aku berlindung di bawah atap seng.

Saat hujan sudah reda, keretanya sudah berangkat.

Andai saja ada rokok, maka...

Apa nama aslimu Sindhi Dalwai?

Ya, benar. Itu nama asliku.

Aku sendiri yang memilihnya.

Masih ingat dengan Pembunuh Berantai terkenal 'Raman Raghav'?

Namanya aslinya juga Sindhi Dalwai. Karena itu, aku memilih nama ini.

Kau tak tahu soal dia?

Paman yang dari kota itu, Ia sangat mengenalnya.

Lalu apa saja yang kau ketahui?

Dia punya radio nirkabel.

Dia menyebutnya 'Dunia'-nya.

Dia memakai radio itu untuk komunikasi dengan Dewa.

Dan Dewa akan tunjukkan siapa korban selanjutnya.

Dia utusan kesayangan Dewa Kematian.

Aku pernah melihatmu.

Akupun melihatmu setiap hari, Pak.

Kadang di TV, kadang di Koran.

Aku sering duduk di luar Kantor Polisi, 'kan?

Jadi aku juga sering melihatmu keluar-masuk Kantor Polisi.

Aku selalu mengawasimu.

Kau juga memiliki itu.

Apa?

Surat ijin.

Untuk Membunuh... Sesuka hati.

Karena kau punya seragam.

Sudah jadi tugas polisi untuk memberantas 'Penyimpangan Dewa'.

Aku melakukan hal yang sama.

Jadi secara tidak langsung, Kita berdua utusan Dewa Kematian.

Bedanya, Pemerintah memberimu makan dan tempat tinggal.

Tapi, aku melihatmu...

Aku percaya, aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri.

Kau pernah menelepon ke Kantor Polisi kami?

Siapa? Aku?

Ya? / Tidak.

2 tahun lalu?

Aku tak pernah menelepon.

Bukankah kau mencari polisi bernama Raghavan?

Jika aku pernah menelepon...

..Untuk apa aku duduk di luar menunggumu?

Biarkan paketnya di sini.

Lalu, setelah hujan reda... Aku mulai berjalan kembali.

Kau tahu... Aku terlahir sebagai 'Penjaga Malam'.

Ayahku biasa memanggilku rubah. Rupanya, mataku bersinar di kegelapan.

Pak, sangat tidak aman jalan kaki di jalan raya malam-malam.

Banyak pengendara mabuk.

Jadi aku hanya jalan di trotoar. Terkadang di pembatas jalan.

Bagaimana penataan papan catur? Seperti ini.

Ubin hitam-putih papan catur itu seolah berada di jalan.

Aku hanya melewati ubin hitam.

Menginjak ubin putih sama saja permainan berakhir.

Dan aku hitung ubinnya sambil menghabiskan waktu.

Lalu, aku mulai lewati yang hitam...

..Dan aku sampai di ujung, dimana tak ada ubin hitam tersisa.

Sedangakan aku tak suka kalah dalam permainan, bukan?

Dewa menganugerahiku bakat ini.

Jika aku berusaha membayangkannya, Aku bisa menyulap apapun.

Aku bayangkan karpet hitam-putih dan berjalan di atasnya.

Dan tiba-tiba ia muncul.

Aku menyuruhnya menjauh dari ubinku.

Dia tetap tidak pindah. Dia terlalu mabuk.

Aku mencoba cari alasan, tapi dia tak mau mengerti.

Awalnya, aku sangat sopan padanya.

Lalu, suara di kepalaku membangunkan sifat 'kebinatangan'-ku.

Dia tetap berdiri di sana menatapku.

Dia berdiri di ubin hitamku.

Sedangkan dia bukan yang menata, 'kan?

Aku yang menatanya dengan imajinasiku.

Dia benar-benar tak tahu siapa aku.

Jadi aku memberitahunya, 'Dengar, Aku Sindhi Dalwai'.

Dia tak mengerti.

Jadi, aku harus mendorongnya dan dia terjatuh di ubin hitamku.

Menghalangi jalanku. Tentu saja dia harus pindah, bukan?

Sedangkan dia terlalu mabuk dan tak mau mendengarkanku.

Aku bingung... dan marah!

Aku menemukan batu di hadapannya.

Aku mengambilnya dan menghancurkan kepalanya.

Dia tewas seketika di ubin hitamku.

Jadi, aku harus melapor...

..Yang karena alasan itulah, Aku ke Kantor Polisi.

Saat aku tiba di Kantor Polisi..

..Aku kira polisi sedang mencariku.

Jadi, aku menyerahkan diri..

..Untuk selesaikan kesalahpahaman ini.

Aku sudah membunuh... sekitar 9 orang sejauh ini.

Rinciannya ada di koran.

Dari situlah aku tahu nama-namanya.

Masalahnya adalah, Dewa Kematian sering ngobrol denganku, 'kan?

Dia bilang "Ramana...

"...Kau tak bisa terus membunuh hanya karena tak ada tempat untuk tidur."

Dia menyuruhku untuk menemuimu.

Dia bilang "Di penjara, kau akan dapat makanan dan tempat berlindung..."

"...Dan kau tak perlu membunuh untuk itu."

Tanyakan para pedagang koran di stasiun kereta. Mereka mengenalnya.

Dia mengarang cerita itu dari koran harian dan mengaku sebagai tersangka.

Kalau begitu, katakan saja padanya...

..Kalau di penjara memang bisa mendapat makanan dan selimut gratis.

Tapi Pak, kita harus periksa kembali cerita karangannya.

Lupakan!

Dia bilang, dia membunuh mereka semua di jalanan.

Berapa jasad yang ditemukan di jalan? / Dua.

Dan 7 sisanya? / Di perkampungan kumuh.

Kita bisa kehilangan jejak pembunuh itu karena si bodoh ini.

Sekap dia dan pecahkan pelirnya.

Biarkan dia kelaparan. Tetap buat dia sadar hingga mengakui omong kosongnya.

Si bodoh itu pikir penjara itu hotel.

Ada Pak Komisaris.

Dimana kau temukan pecundang ini?

Pak...

Dia sendiri yang datang.

Mungkin dia baca koran dan akhirnya duduk di luar Kantor Polisi.

Kau lapar?

Mau makan?

Ikutlah.

Kalau aku tahu komplek perumahan ini tak berpenghuni...

..Aku akan tidur di sini saja.

Tempat yang bagus.

Jadi, berapa banyak yang sudah kau bunuh sejauh ini?

Sembilan.

Kau sudah bunuh 9 orang, ya? / Aku bunuh 9 orang.

Bukan 1 atau 2, melainkan 9?

Ya, itu benar. / Baik, ikutlah.

Berapa pembunuhan?

Sembilan.

Berapa?

Sembilan.

Jangan bodohi kami.

Pegang kakinya.

Tidak! Lepaskan!

Aku sedang melakukan sesuatu...

..Saat 3 pria datang hari itu.

Menanyaiku apa aku butuh makanan.

Aku memang lapar...

..Jadi, aku ikut bersama mereka.

Mereka menghajarku habis-habisan!

Menghajarku sampai babak belur!

Mereka bahkan mencekikku!

Menghajarku selama 3 hari!

Tanpa makan ataupun minum.

Tenggorokanku sudah sekering duri.

Aku hanya punya sebatang rokok.

Tapi sialnya aku tak punya korek!

Tim kita lengkap. Mereka harus kalah.

Bagus. Aku sangat menginginkannya.

Kau bermain melawan siapa?

Apa ada orang di sana?

Aku dengar suara seseorang.

Sudahlah.

Apa ada orang di sana?

Lagi?

Tolong keluarkan aku dari sini!

Kurasa, suaranya berasal dari sana.

Apa ada orang di sana?

Ya Tuhan! Bantulah pria yang sedang disekap ini.

Apa ada orang di sana?

Apa semuanya bisu dan tuli?

Keluarkan aku dari sini! Apa ada orang di sana?

Sebelah sini. Aku di sini.

Mereka menyekapku.

Aku sedang melakukan sesuatu.

3 orang pria tiba-tiba datang.

Menanyakanku apa aku butuh makanan. Mereka membawaku kemari.

Mereka menghajarku habis-habisan!

Membuatku membusuk di sini tanpa makanan dan minuman.

Tenggorokanku sudah sangat sekering.

Aku hanya punya sebatang rokok.

Tapi tak punya rokek untuk menyalakannya!

Hati-hati... itu panas!

Kau mau apa?

Pipa ini.

Aku butuh satu saja.

Semuanya tergelatak begitu saja?

Punya uang?

Tidak. Tapi, semuanya tergelatak begitu saja.

Kau menginginkannya secara gratis?

Mau ku hajar kepalamu?

Bagaimana?

Benar-benar gratis?

Akan ku bawakan mehendi besok. Janji!

Seharusnya kau tak berkelahi.

Bagian II S A U D A R I K A N D U N G

Jika kau sopan, dan tak meninggikan suaramu...

..Takkan ada yang mengganggumu.

Mengapa kau kemari?

Apa itu anakmu?

Dia benar-benar sudah besar.

Takut padaku?

Takut pada pamanmu sendiri?

Kau tak beritahu kalau aku ini pamannya?

Kemarilah, Nak.

Ibu akan menyusul 2 menit lagi.

Kau masuklah duluan. Jangan takut.

Kau tak boleh masuk.

Lihatlah wajahku.

Lihat, bagaimana mereka menghajarku.

Belum makan apapun selama 4 hari. Jauh-jauh aku datang kemari.

Kau tunggu di luar. Akan ku bawakan makanan.

Jangan coba-coba masuk. Duduklah!

Aku bukan pengemis!

Aku menemuimu karena kau adikku.

Dan kau memperlakukanku seperti anjing kotor?

Aku tinggal di sini. Aku tak mau kegilaanmu buat kekacauan di sini.

Jangan keras-keras!

Aku tahu kau tinggal di sini.

Jangan mulai bertingkah.

Pernahkah aku menemuimu?

Selama 7 tahun ini?

Kali ini aku punya alasan.

Alasan apa?

Beri aku makan.

Ijinkan aku mandi. Beri aku pakaian bersih.

Aku sedang di perjalanan. Aku sudah punya pekerjaan.

Bagaimana kau tahu alamatku?

Tuhan sedang menghukumku..

..Atas semua dosa-dosaku!

Selama 2 tahun terakhir...

..Kakakmu hidup dengan memakan tikus.

Tetap pakai celanamu. Punya suamiku takkan pas.

Kau pakai sikat gigi anakku?

Kau bisa tanya dulu.

Sebentar.

Dengarkan aku.

Akhirnya, aku menemukan pria yang tepat.

Dia sudah di depan pintu.

Kumohon jangan ucapkan hal bodoh apapun di hadapannya.

Aku mohon! / Laxmi!

Ya.

Aku mohon! Akhirnya, aku bisa hidup dengan layak.

Kumohon jangan menghancurkannya!

Takkan kau hancurkan, 'kan?

Tidak.

Laxmi! / Aku datang.

Kakakmu, bukan?

Ya.

Dan ini seluruh keluargamu?

Ya.

Saudaraku tinggal di luar negeri. Di Sri Lanka.

Dan saudariku tinggal di Dubai.

Manis sekali!

Tak peduli kemanapun kau pergi...

..Ikatan darah akan tetap selamanya.

Tapi istrimu tak sadar kalau...

..Tak ada satupun foto diriku di sini.

Kami punya fotomu.

Dia pernah menunjukkannya.

Ada di dalam.

Nasi atau roti?

Apa saja yang ada di dapur.

Tak masalah meski makanan dingin sekalipun.

Caramu menyayangi adikmu...

Dia tak menyayangiku.

Fotoku ada di dalam.

Cinta macam apa itu?!

Kau sudah berbuat apa hingga pantas mendapat cintanya, Pak?

Apa maksudmu?

Dia bercerita banyak soal dirimu.

Bukan apa-apa. Silahkan makan saja.

Tolong layani dia. / Layani dia.

Tidak. Aku harus tahu apa yang sudah dia ceritakan.

Atau aku takkan makan.

Tuhan memberkatimu, Nak.

Bagaimana jika dia meracuniku?

Aku terbiasa menyuapimu dengan penuh cinta.

Aku sudah tak nafsu makan.

Aku akan pergi.

Akhirnya dia pergi juga.

Dia sudah pergi.

Dia takkan kembali lagi, 'kan?

Tak akan.

Jangan khawatir!

Kau sudah gila? Tolong hentikan dia!

Diam atau akan ku habisi dia.

Tunggu!

Jangan mendekat.

Tinggalkan kami sendiri!

Dia cerita apa soal diriku?

Aku tak mengatakan apapun padanya. Tak ada, aku bersumpah. / Tak ada?

Lalu kenapa kau bilang dia cerita banyak soal diriku?

Katakan atau ku hancurkan kepalamu!

Jangan, kumohon!

Dia bilang kau sering memukulinya..

..Saat kalian masih anak-anak.

Aku sering memukulinya?

Ya!

Cuma itu yang dia ceritakan? / Ya.

Kalau begitu, dia tak bilang apa-apa.

Kau lebih tua dariku.

Tak ada efeknya bagiku.

Dan masih kau memanggilku 'Pak'?

Sopan santun semacam itu terlalu manis bagiku.

Anakmu ini masih kayak bayi saja.

Dimanja sekali, heh?

Ibumu mengantar dan menjemputmu pulang sekolah.

Dulu, ibumu harus ke sekolah sendiri.

Dia sering membuntutiku sepanjang hari. Kau tahu, aku ini pamanmu?

Kau yakin dia anakmu?

Jangan terlalu percaya pada adikku.

Dia pernah ditiduri banyak orang saat usia 15 tahun.

Sedang menghitung?

Santai! Aku hanya bercanda. Dia anakmu kok.

Diamlah.

Cepat masuk!

Kenapa kau tak memberitahuku...

..Kalau kau jadi pembantu di rumah ini..

..Saat istri pertamanya masih hidup?

Dia beneran sakit atau kau meracuninya?

Jawablah. / Kenapa kau ikat anakku?

Dia banyak bacot.

Lepaskan dia.

Bagaimana jika aku memukulnya?

Bagaimana jika dia mati?

Hidup siapa yang ingin kau selamatkan?

Dia atau dirimu?

Jawab aku!

Jika aku melepasnya...

..Dan dia teriak...

..Aku harus pecahkan kepalanya dengan dongkrak mobil.

Jadi, katakan...

Istrinya beneran sakit atau kau yang membunuhnya?

Tak usah malu.

Apa kalian sudah berhubungan sejak dia masih hidup?

Katakan...

Dengar, apa katanya.

Kalian sudah tidur bersama sebelum istrimu mati.

Mari kita perjelas.

Dimana kalian nge-sex?

Kau selalu saja bekerja...

..Dan dia di sini bersama istrimu yang sakit.

Lalu, bagaimana kalian melakukannya?

Aku tahu hal-hal yang bisa adikku lakukan.

Tidak!

Kau tak tahu apa-apa tentang adikmu.

Punya uang berapa kau di rumah ini?

Jawab aku! / Kau butuh berapa?

Kau punya berapa? / Tergantung kebutuhanmu, 'kan?

Aku ingin Sejuta. Kau punya?

Jangan sok pintar. Kau punya uang berapa?

Sebenarnya tidak banyak.

Sekitar 1000 atau 1200 mungkin.

Ambil sana.

Kau mau apa sebenarnya?

Rasa hormat..

..Yang tak pernah istrimu berikan dan matamu tunjukkan.

Lihat, betapa cepatnya kau mengubah 'Pak' menjadi 'Hey Kau!'.

Pamanmu sudah gila. / Maaf, aku salah paham padamu.

Jangan teriak kalau dia melepasmu.

Seolah sekarang kau menghormatiku hanya karena kau mengenalku.

Aku sudah berbuat banyak pada adikku...

..Sebelum dia bertemu denganmu.

Berterimakasihlah padaku karena tak meninggalkan anak di perutnya.

Lihatlah wajah jelekmu.

Kau mempercayai semua yang ku katakan.

Cuma ini yang ku punya.

Sudah ku bersihkan ayamnya, Nyalakan kompornya.

Tepat 1200, ya? Soal uang selalu yakin.

Kau punya uang berapa?

Uangmu banyak juga!

Biar aku saja!

Mau beli telur atau roti?

Tidak.

Apa Didi di dalam? (Didi : Sebutan semacam Mbak)

Dia sudah mati!

Didi sudah mati?

Kau mau mati juga?

Kau mau mati?

Tidak, Pak. Aku kembali nanti saja.

Hey, di mana cabenya?

Sebelah sana.

Ambilkan!

Serahkan padaku. / Kenapa?

Untuk apa ini?

Aku akan memakainya. Lakukan saja perintahku.

Berikan.

Kau punya emas berapa?

Tak ada lagi yang tersisa.

Dan kalung pernikahan?

Tidak punya. Sudah ku gadaikan.

Kenapa? Bukankah penghasilannya cukup banyak?

Apa urusanmu?

Makan makanannya dan pergi dari sini.

Penghasilannya bukan urusanmu.

Jangan menceramahiku.

Memasak ayam itu butuh waktu.

Kau mau apa? / Kau bisa beri aku apa?

Tak bisa berbuat apa-apa di sini.

Kau ingin berbuat apa denganku?

Bahkan tak ada yang pantas dilihat dari wajahnya...

Kau mau melakukan itu? / ..Ataupun anak manjamu itu?

Ayo lakukan! Pasti sudah lama kau menginginkannya.

Anakmu tak mirip seperti suamimu..

Kau ingin melakukannya? /..Ataupun dirimu.

Cepat lakukan dan enyahlah.

Di sini.. Ayo lakukan.

Lepaskan aku!

Ayo, buka bajumu.

Lepaskan.

Tak usah melihatnya. Ayo, sentuh dadaku!

Lepaskan aku atau ku bunuh kau!

Ek Dhakka Aur De, Saare Dhaage Tod De Dorong sekali lagi, Putus semua tali

Peene Ke Paani Mein Zeher Ki Naali Chhod De Saat meminum air, tambahkan setetes racun

Itna Bhi Jo Kar Na Sake Toh Phir Kaaheka Goodha Tak bisakah kau lakukan tugas semudah ini?

Teri Khaal Mein Renge Keedein Ulat akan menggerogoti kulitmu

Tu Saccha Behooda Karena kau begitu kotor!

Tu Saccha Behooda Karena kau begitu kotor!

Jis Ki Kismat Mein Hain Haari Shartein Yang ditakdirkan jadi pecundang

Tu Pakka Behooda Kau benar-benar kotor!

Jis Ki Niyat Lagi Phaphoond Ki Partein Yang nasibnya tertutupi oleh berbagai hal

Tu Aisa Behooda Kau memang kotor!

Tera Khoon Hai Sau Mein Nabbe Kaala Darahmu sembilan puluh persen hitam

Tu Aisa Behooda Kau memang kotor!

Tune Naakhoonon Se Phoda Chhaala Kau tusuk lukamu hingga bernanah

Behooda Kotor!

Tu Saccha Behooda Kau begitu kotor!

Behooda Kotor!

Ek Dhakka Aur De Dorong sekali lagi

Saare Dhaage Tod De Potong semua tali

Peene Ke Paani Mein Saat meminum air

Zeher Ki Naali Chhod De Tambahkan setetes racun

Apne Hi Ask Ke Bayangan hanyalah ilusi

Aakar Dam Tu Ghoont De Hancurkanlah cermin itu

Ja Din Ke Chehre Pe Pergi dan jadikanlah

Kaali Raatein Pot De Kegelapan malam di sepanjang hari

(Door 2x) Tak Koi Na Rishta, Tu Hai Itna Sookha Tak ada teman, kau kering kerontang

Teri Khaal Mein Renge Keede, Tu Saccha Behooda Ulat akan menggerogotimu karena kau kotor!

Tu Saccha Behooda Kau begitu kotor!

Jis Ki Kismat Mein Hain Haari Shartein Yang ditakdirkan jadi pecundang

Tu Pakka Behooda Kau sangat kotor!

Jis Ki Niyat Lagi Phaphoond Ki Partein Yang nasibnya tertutup berbagai hal

Tu Aisa Behooda Kau memang kotor!

Khoon Hai Sau Mein Nabbe Kaala Darahmu benar-benar hitam

Tu Aisa Behooda Kau memang kotor!

Tune Naakhoonon Se Phoda Chhaala Kau tusuk lukamu hingga bernanah

Behooda! Kotor!

Tu Saccha Behooda Kau sungguh kotor!

Sejauh ini, Sudah ku berikan 11 orang pada Dewa-Kematian...

..Termasuk kedua orang tuamu.

Lihat, aku mencatatnya.

Ibumu, Adikku, habis.

Ayahmu, yang ku ragukan apa dia benar ayahmu, juga habis.

Kau... Siapa namamu?

Kantong!

Karena kau kecil.

Jika ada yang penasaran kenapa aku membunuhmu...

...Aku akan bilang, 'Dia sasaran empuk'.

Polisi kita benar-benar bodoh.

Kau tahu apa yang ku perbuat?

Aku bunuh seseorang, Lalu menunggu...

..Polisi untuk menemukan jasadnya.

Saat pembunuhnya baca koran...

..Aku pergi dan duduk di luar Kantor Polisi.

Saat polisi datang dan menanyaiku, 'Apa kau pelakunya?' Aku jawab 'Ya'.

Mereka menyuruhku ikut, aku mau.

Lalu mereka mengira aku sinting dan tak menangkapku.

Sekarang apapun yang ku lakukan...

..Mereka takkan lagi mencurigaiku.

Benar, 'kan?

5 HARI KEMUDIAN

Bagian III P O L I S I

Ada 3 korban.

Seorang pria, istri kedua dan putranya.

Korban memiliki Toko ATK (Alat Tulis Kantor).

Sudah 5 hari mereka meninggal.

Pintunya terkunci.

Dan tak ada satupun tetangga melihat ada yang keluar-masuk.

Tolong sterilkan ruangannya. Kalian semua.

Senter!

Kau tambahkan berapa? / Semuanya.

Ya, Pak!

Tidak, kami menyekapnya di bangunan kosong.

Lalu ada yang menghancurkan gemboknya.

Kami tak tahu dimana keberadannya.

Biasanya lokasi pembunuhan terjadi di perkampungan kumuh atau jalanan.

Tapi pembunuhan ini terjadi di rusun keluarga sederhana.

Fotonya ada dalam foto keluarga korban.

Seorang penjual telur adalah salah satu saksi kunci kami.

Katanya, Tersangka memiliki bekas luka di wajah.

Ya, Pak. Bekas luka yang sama.

Kau takkan menemukan apapun dalam wanita ini.

Berapa kalipun kau meng*ntotnya.

Akulah kamera CCTV Dewa.

Bagaimana jika aku hamil lagi?

Tak ada yang hamil setelah 3 kali aborsi.

Kata siapa?

Aku tahu itu.

Tapi seandainya aku hamil?

Maka, itu memang maumu.

Bayi itu kau rawat atau kau bunuh, Aku tak peduli!

Jadi kau masih tak mau pakai pelindung?

Maukah kau menikahiku?

Apa masalahnya?

Aku nyaris menangkapnya.

Siapa?

Dia.

Pria yang membunuh adik, ipar dan ponakannya.

Anak usia 6 tahun!

Kaupun sudah membunuh 3 anakku.

Kau tak takut padaku?

Kenapa?

Karena aku tak pernah tidur.

Barang sialan itu selalu kumasukkan lewat hidung dan nadiku.

Pistolku selalu berisi.

Kalau kau macam-macam...

..Aku bisa lakukan apapun.

Saat pertama kita bertemu, Apa kesepakatan kita?

Kau ingat?

Sudah kubilang, aku tak mau apapun!

Sudah kubilang, aku tak ingin menikah. Bukankah pernah ku katakan?

Lalu apa katamu?

Sayang, kenapa begitu serius?

Aku datang hanya untuk nge-seks, Sayang. Bukan menikah.

Bukankah kau bilang begitu?

Kau ingin anak itu, Maka urus sendiri.

Aku tak menginginkannya, mengerti! Kenapa hal itu sampai terjadi?

Kau tak mau aborsi?

Maka, begini caraku mempertahankannya.

Akan kuisi pistolku, menodongkannya ke sini dan..

Sebentar..

Halo!

Bu! Ya... Katakan.

Bisa aku bicara dengan Ayah?

Ayah!

Apa maksudmu "Kenapa"?

Kau tak mau mengubah sikap keras kepalamu.

Kau ingin menjadikanku anak yatim.

Ayah, bir itu racun.

Sekali teguk saja, Aku takkan bisa melihatmu lagi.

Kau tak mau mendengarkanku juga.

Maka, bisakah kau berjanji?

Jangan hanya bilang 'Aku menyangimu', Yah. Seriuslah!

Baiklah... Daah.

Tadi, kau mau bilang apa?

Yang ada hubungannya dengan pistol.. Apa itu?

Terkadang aku merasa kalau kau membayangkan kematian mengerikan.

Itu mungkin bukan keinginan.

Aku bisa saja marah dan sangat ingin membunuhmu.

Kenapa kau begitu seksi?

Karena kau brengsek.

Jangan pegang-pegang atau ku tabrakkan mobil ini.

Halo...

Ya?

Tahan dia.

Pak, aku tak sanggup memakannya lagi.

Makanlah.

Bukankah tadi kau yang memintanya...

..Jadi, sekarang kau harusnya merasa beruntung kami beri makan.

Aku sudah kenyang.

Makanlah!

Tuan datang.

Bicaralah.

Pak, namanya Ramana.

Dia selalu memanggil dirinya Raman, Ram dan terkadang Raavan.

Katanya, dia mencari seorang 'Rekan'.

Aku bingung.

Dia bilang, "Bagaimana nasib Raman tanpa Raghav."

Apa Ramana nama aslinya?

Di laporan keuanganku, namanya tertulis Ramana.

Aku punya restoran kecil di sekitar sini.

Bisnis pegadaian hanya sampingan.

Aku tawarkan pinjaman bagi mereka yang sudah ditolak bank.

Sungguh, Aku hanya tawarkan pinjaman. Bukan bisnis kotor, Pak!

Anak buahmu menyiksaku dengan menyuruh memakan kue ini dari tadi.

Aku mau muntah.

Kapan terakhir kali kau melihatnya?

Dia menemuiku 2 minggu yang lalu.

Dan setelah itu, tak ada komunikasi lagi.

Pertama kalinya dia menggadaikan banyak perhiasan sebagai jaminan.

Aku meminjamkannya uang dan menyimpan perhiasannya.

Dia tak pandai berhitung dan itu sangat menguntungkanku.

Kalau akau tahu dia itu 'Buronan', Aku pasti langsung menghubungi Anda.

Apa yang dia tahu?

Katakan...

Anak buah Anda memberitahuku kalau dia telah membunuh seseorang.

Apa tersangkanya sudah mati?

Apa dia pernah memberitahumu bagaimana caranya dia mencari 'Raghav'?

Terakhir kali ku bicara dengannya, dia bilang dia sudah menemukannya.

Tapi katanya, "Raghav itu tak tahu kalau dia adalah 'Raghav-ku'"

Aku orang baik-baik, Pak.

Aku tak pernah terjerat kasus kriminal.

Pak kumohon.. / Diamlah!

Pak, dia berhasil mengenali tersangka itu lewat foto.

Aku tak menyuruhnya. Dia sendiri yang menceritakan kisah 'Raman Raghav'.

Kurasa aku perlu memberitahu Anda.

Bubar!

Raman membutuhkan Raghav dan Raghav membutuhkan Raman.

Pak Wakil Komisaris!

Halo!

Bagian IV S A N G P E M B U R U Oktober 2015

- 3 Anggota Keluarga Korban Pembantaian -

Pesan teh satu.

Kau homo?

Kenapa memakai anting-anting itu?

Bukankah ini cocok untukku?

Lalu, kau nge-seks demi uang atau hanya demi kesenangan?

Lebih suka yang mana?

Mau kumasukkan semua ke bokongmu atau cukup satu pukulan saja?

Buang senyumanmu itu...

..Atau ku patahkan gigimu.

Kau tak baca koran?

"3 Anggota Keluarga Korban Pembantaian."

Dia itu adikku. Sama kasarnya denganmu.

Aku harus melakukannya.

Anting ini sebagai penebusan dosanya.

Kalau kau masih tak mengerti juga, Aku bisa jelaskan di kamar.

Uang atau kesenangan, seperti yang kau inginkan.

Nyonya...

Makanannya kusimpan di kulkas.

Boleh aku pulang?

Aku datang lagi besok pukul 7 pagi.

Baiklah!

Oia, Obat tuan di kamar mandi jatuh...

..Sudah kusimpan di kotak itu.

Baiklah, kau boleh pulang.

Aku bawa pulang kuncinya.

Bu, Aku mengerti kalau...

..Kalau kau baru pulang dari pasar...

..Dan berdiri di depan pintu, bukan? / Ya.

Dan kau melihat seorang pria sedang duduk dengan cucumu?

Dia memberinya susu dan menidurkannya? / Ya.

Jadi, kau pasti melihat wajahnya, bukan? / Ya.

Apa ini orangnya?

Bukan!

Bukan dia? / Bukan.

Lihatlah baik-baik. Bukan dia orangnya?

Sudah kulihat. Aku jamin, bukan dia orangnya.

Jika pria di foto ini punya bekas luka di wajahnya...

Bukan. Dia bukan pembunuh itu.

Ya?

Baiklah. Tahan dia. Kita segera menuju kesana.

Ini memang orang yang sama.

Seperti yang sudah kubilang, bukan dia orangnya.

Pak, kami menemukannya.

Bagian V P E R B U R U A N

Ramana, sudah kuperiksa laporanku...

..Kau harus bayar bunganya.

Kau sudah mendapat uang dari transaksimu yang sebelumnya.

Sudah ku catat di diari-ku saat tanggal 19.

Kau memberiku 500.

Dan pada tanggal 24 Juni, kau memberiku 1500.

Jadi 5 + 15 = 25.

Ambil 600 sebagai bunganya dan berikan 2000 sisanya padaku.

Kau dari planet mana sih?

15 + 5 = 20 (ratus), artinya 2-ribu, bukan 20-ribu.

Memang 2-ribu yang kuinginkan.

Baiklah, tapi ada bunganya.

Kok bisa?

Dengar, Aku meminjam 15...

..Dan juga 5 sebelumnya.

Baiklah, jadi aku sudah meminjam 5 dan kemudian 15.

Lalu, berapa 15 + 5?

15 + 5 = 20.

Apa-apaan! Sebentar!

Dengarkan aku.

Berapa ini? / 5.

6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15.

15 ditambah 5... 20... 20 (ratus)...

2-ribu.

Kok bisa? Lihat... 5, 6, 7, 8, 9, 10,...

...11,12,13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20...

Ini 20. Bukan 2?

20-ratus itu artinya 2 ribu!

Itulah maksudku. 2000!

20,19,18,17,16,15,14,...

..13, 12, 11, 10, 9, 8, 7, 6,..

...5, 4, 3, 2, 1... 20-ratus.

2-ribu! / Baiklah, aku ingin 2000.

Baiklah, ambil saja 2000 itu, dan berikan kaca mata itu padaku.

Ini? / Ya.

Ambil saja 2000 itu.

Jadi, kau sudah bertemu Raghav-mu?

Ya, dia menjagaku.

Ada apa?

Akhir-akhir ini aku tak melihatmu di luar Kantor Polisi.

Ada pembunuhan lagi?

Tidak. Kami hanya ingin ngobrol denganmu.

Ayo minum teh.

Jalan!

Tangkap dia!

Ya?

Aku kesana.

Aku akan cari di sekitar sini.

Kau periksa sebelah sana.

Ada apa?

Kenapa ada polisi di sini?

Turunlah. Polisi sudah pergi.

Pak, kau lihat seorang pria dengan bekas luka di wajahnya?

Ayah ke Bombay setiap bulan.

Aku tak bisa tinggalkan pekerjaan dan melakukan kunjungan wajib tiap bulan!

Bu... setidaknya dengarkan aku!

Aku bukan anak kecil lagi.

Keluarga dan Pernikahan bukan untukku.

Lebih baik aku masuk penjara saja...

..Pasti ayah yang malu, bukan aku.

Bu, untuk yang terakhir kali, jangan memaksaku untuk berjanji.

Berhentilah membentak. Aku janji, Aku akan menemuinya. Oke?

Bu, dengar...

..Ada gadis kenalanku, pembunuhnya tewas dibunuh...

..Aku sibuk mengurusi kasusnya. Akan kutemui ayah kalau ada waktu, oke?

Baiklah.

Jagalah dirimu.

Pak...

Kami tak bisa menemukannya, Pak.

Kami tak bisa menemukannya di jalanan sempit seperti ini.

Pembantuku memegang kunci rumahku.

Panggil tim forensik untuk mencari kunci itu. / Kuncinya cuma satu.

Jadi aku hanya kenalanmu?

Maksudnya?

Tadi di telepon kau bilang...

.."Gadis kenalanku".

Aku harus bilang apa?

Yang sebenarnya, mungkin.

Kalau kau gadis yang kutiduri?

Oh, aku kira kau tak pernah tidur.

Aku tak pernah melihatmu tidur.

Hentikan omong kosongmu!

Sekarang putuskan.

Kau akan berduka atas kematian pembantumu...

..Atau justru menyindirku?

Apa kau pacar tetapku?

Bukan.

Tapi, wanita di telepon tadi itu jelas ibuku satu-satunya!

Dan aku anak semata wayangnya.

Dan baginya, kau hanya kenalanku. Itu saja!

Ada masalah?

Kurasa kau yang bermasalah.

Aku akan...

Antarkan Nyonya ke mobil.

Silahkan.

Halo, Nyonya!

Pak, Di kemeja Ramanna... ada buku diari ini.

Di dalamnya, ia tulis rincian para korbannya.

Kenapa... Kapan... Segala hal tentang aksi pembunuhannya.

Katakan pada rohnya kalau 15 + 5 = 20, bukan 2.

Astaga!

Hey, Kawan! Bagaimana kabarmu?

Ambilkan segelas air.

Ada apa?

Oh, dia Violet.

Putri temanku. Kau tak mengingatnya?

Ingat temanku di bioskop tempat biasa ku bekerja? Tak masalah.

Kemana saja kau?

Ada apa denganmu?

Aku kerja di sini saat siang. Malamnya aku jadi satpam di mall.

Semua anak-anak ingin kerja di mall.

Mempertontonkan film "Shopping mall sweatshop" karya Vasanthbalan..

..Untuk menakuti mereka agar tidak bekerja di mall.

Aku pernah bilang kalau suatu saat...

..Orang yang membanting kepala itu akan datang.

Kau ingat bagaimana saat kau membanting kepala anjing itu?

Apa katamu, "Raman, singkirkan Raghav-mu!"

Dengar... Aku menemuimu untuk alasan lain.

Aku butuh sebatang besi.

Aku membeli gubuk kecil. / Oh, begitu.

Aku membutuhkannya untuk perbaiki temboknya.

Aku ingin mencetak besi.

Ya.

Aku perlu membengkokkannya. Perlu dipanaskan.

Berapa biayanya?

40 rupee.

Ini, 40.

Tapi, aku mau sekarang.

Tak bisa sekarang. Sudah waktunya kami makan siang.

Tidak bisa. Aku buru-buru.

Sejam lagi harus beres. Kalau tidak, Bosku akan memecatku.

Sudah waktunya makan siang. Kami sudah letakkan peralatannya.

Baik, makan sianglah. Akan ku tunggu di sini.

Ya, tunggu saja kami. / Baiklah.

Tunggu! Sedang apa kau?

Sudah ku bilang, Kami masih mau makan siang.

Aku butuh sekarang! / Nanti peralatan kami rusak!

Biar aku saja! Aku tak punya waktu luang.

Tunggu sebentar. / Aku butuh sekarang.

Kalau aku punya waktu luang, Aku akan jadi tukang pandai besi.

Bagian VI S A N G A N A K

Berhenti di situ!

Kalian duluan saja. Nanti aku naik taksi.

Baik, Pak!

Aku ingat, Kau bilang Senin pertama dan Senin terakhir.

Di bulan itu, ada 5 hari Senin. Biasanya hanya ada 4, bukan?

Ya, 4.

Karena bingung antara yang ke-1 dan ke-4, aku melewatkan hari baik.

Masuklah.

Sentuh kakinya.

Sangat bangga padamu!

Kau masih ingat dia?

Kepala Pelatihan ujian 'Bagian Pelayanan Publik'?

Minta berkah pada Guru juga.

Tuhan memberkatimu, Nak!

Duduk di situ.

Ayo, duduklah.

Untuk apa kaca mata hitam itu?

Mau tampil sok keren? Lepaskan!

Lepaskan, sekarang juga!

Halo?

Ada apa dengan matamu?

Bukan apa-apa.

Apa?

Bukan apa-apa. Aku hanya kurang tidur.

Kurang tidur?

Pak, Apa ada yang bisa tidur nyenyak di kota gila seperti Bombay ini?

Terutama Pejabat Kepolisian. / Pasang kembali.

Kenapa kau kurang tidur?

Kemarilah.

Kemari.

Lebih dekat.

Jangan bergerak.

Bagaimana kau bisa tidur?

Tunggu di luar. Urusanku denganmu belum selesai.

Aku tak tahu bagaimana harus mendisiplinkannya.

Berusaha keras menyekolahkannya.

Jadi anggota polisi, Dia malah memakai narkoba!

Jika dia ketahuan, ini akan jadi skandal besar.

Dia akan dipecat. Dijebloskan ke penjara.

Dan kami akan menanggung malunya! Itu akan jadi hari baik awak media.

Saat dia masih anak-anak, Aku pernah memergokinya merokok.

Aku memukulinya habis-habisan.

Aku punya sabuk kulit tebal.

Aku mencambuknya sampai seluruh badannya memar.

Setelah itu, dia tak merokok lagi.

Menjijikkan sekali melihat ada bubuk putih di hidungnya.

Kau menikmatinya?

Haruskah aku membuatmu dipindahkan ke dekat rumah?

Ayah dan anak bisa mabuk-mabukan bersama.

Mau bilang apa lagi?

Dimana orang Nigeria itu?

Di lantai atas.

Hey!!

Tahan!

Turunkan senjatanya.

Dia tak paham bahasa Inggris?

Tidak.

Suruh dia turunkan senjatanya..

...Atau anak buahku akan menghajarnya sampai dia bisa bicara 480 bahasa India.

Beritahu dia!

Kau punya paspor, 'kan?

Ya.

Ambil paspormu, kemasi barangmu dan pergilah.

Ini tidak benar.

Apa salahnya?

Haruskah aku beritahu apa yang benar?

Kau sebar kotoran di negaraku..

..Dan mengajarkanku moralitas!

Dasar Pecandu!

Kami selalu menurutimu.

Masih, kau membunuhnya!

Apa aku menghalangimu?

Ini troli belanjaan... untukmu.

Terima kasih.

Aku bisa sendiri.

Jangan khawatir, Bu. Aku bekerja di sini...untuk melayanimu.

Aku bisa sendiri. / Aku bilang, jangan khawatir.

Apa kau tahu...

Hari ini ada perayaan Dussehra (Hindu) dan Muharram (Muslim).

Walaupun umat Islam berduka, Umat Hindu justru bersuka cita.

Tahun ini, Festival Ganesha dan Idul Adha juga berbarengan!

Orang-orang banyak berbuat dosa...

...Hingga mereka butuh agama untuk bersembunyi.

Ada banyak Karnaval Keagamaan di luar sana..

...Hingga Tuhan pun berjejer di jalan.

Setiap agama memamerkan kekuatan mayoritasnya.

Tapi kami, anak-anak Tuhan yang sesungguhnya, menentangnya.

Kau menentang Tuhan?

Kau juga? Kalau aku, jelas.

Bagi kami yang terberkati, Ini adalah tahun penyatuan suci.

Baiklah.

- Dengan Cinta -

Bagian VII T E R J E R U M U S

Aasman... Kitna Saara Tha Aasman Langit... Langit penuh warna

Jispe Humne Tha Sab Dhara Kita bergantung padanya

Per Badal Pe Tha Aaya Tapi awan gelap datang menghalanginya

Raasta... Hum The Paani Ka Raasta Jalan.. Kita adalah jalan bagi air mengalir

Na Kisi Se Bhi Vaasta Tak butuh siapapun

Dhoop The Hum Hi The Saaya Kita adalah panas dan juga bayangan

Dhuaan Aisha Utha Sebuah kabut asap muncul

Taaroon Se Toot Ke Gira Dari ledakan bintang

Kuaan Aisa Bana Ia penuhi sumur

Rassi Se Chhoot Ke Gira Dan menyisakan janji-janji kosong

Raasta... Paani Ka Tha Jo Raasta Jalan... Jalan air mengalir

Ud Gaya Banke Baap Sa Lenyap bagai uap

Mera Dhoondla Hua Saaya Yang juga menutup bayangku

Aasman... Itna Saara Tha Aasmaan Langit.. Langit yang luas

Mit Gaya Kachche Khwaab Sa Hancur bagai mimpi-mimpi

Raat Ne Mera Dil Khaayan Dan malam menghantui hati

Dhuaan Aisa Utha Sebuah kabut asap muncul

Taaron Se Toot Ke Gira Dari ledakan bintang

Kuaan Aisa Bana Ia mengisi sumur

Rassi Se Chhoot Ke Gira Dan menyisakan janji-janji kosong

Jal Jal Ke Mudna Aur Masih mencari jalan saat membakar

Dar Dar Ke Udna Hua Dan terbang bersama hati yang gentar

Kyun Hua? Kenapa ini?

Bach Bach Ke Chalna Kehna, Koi Sacchna Hua Berjalan dengan gentar, berkata tidak benar

Kyun Hua? Kenapa ini?

Hai.

Siapa dia?

Sedang apa kau?

Jangan menoleh ke belakang.

Diamlah!

Brengsek!

Hai Piya!

Kau baik-baik saja, Ankita?

Matikan!

Matikan atau ku banting sampai hancur!

Mengapa kau membawanya kemari?

Tak bolehkah aku membawa orang lain kemari?

Ada cowok lain juga yang datang kemari.

Tak ada yang datang kemari.

Tak ada yang datang kemari!

Perlu ku beri daftar rincinya?

Siapa saja yang menemuimu dan kemana saja kau pergi.

Mobil siapa yang menjemputmu.

Dan mereka menyuruhmu tampil di acara Dubai Sheikhs.

Ini rumahku! Enyahlah dari sini!

Wanita brengsek!

Jangan pernah bicara seperti ayahku kepadaku!

Di mana MDMA-ku?

Mana MD-nya?

Kau melenyapkannya?

Simmy, kau melenyapkannya?

Dengar, aku bukan pria baik-baik seperti yang kau pikirkan.

Akan ku bunuh kau!

Enyahlah dari sini bersama pacarmu!

Dan bawalah barang rongsokanmu!

Apa yang ku tanyakan? Apa yang ku tanyakan?

Mana MD-nya?

Kau semestinya tahu dimana tempatnya!

Aku tak peduli dengan barangmu.

Sudah pernah ku bilang terakhir kali. Kau sudah menghabiskannya.

Hanya orang tolol yang memakai kaca mata hitam saat malam!

Wanita brengsek!!

Jangan pernah bicara denganku dengan nada seperti itu!

Simmy!

Ankita!

Ankita, buka pintunya. Buka pintunya!

Ankita.

Aku bisa berbuat apapun padamu dan takkan ada yang tahu.

Jadi tenanglah dan serahkan ponselmu padaku tanpa mematikannya.

Semua baik-baik saja, Ankita. Serahkan ponselmu lewat bawah pintu.

Ankita, serahkan ponselmu sekarang!

Tolong!

Diam. Tenanglah!

Aku takkan menyakitimu, Ankita. Tenang dan beristirahatlah.

Pak...

Jika saat itu aku berhasil menangkapnya...

...Nyonya pasti masih hidup.

Semua ini salahku.

Teh.

Berapa banyak gulanya?

2 sendok.

Kapulaga?

Sudah.

Kayu manis?

Sudah juga.

Aku hanya ngecek.

Boleh aku pergi? / Ya.

Pria macam apa dia?!

Ayo, Pak!

Jadi, kenapa dulu lari tapi sekarang menyerahkan diri?

Pak?

Apa dia sangat dibutuhkan?

Baiklah, kau ingin tahu apa?

Katakan saja.

Sudah kuakui sebelumnya dan masih tetap sama.

Sudah ku lihat berbagai hal dalam hidup...

..Kecuali perangkap...

..Yang dibuat seseorang untuk dirinya sendiri.

Kematian semacam itu membuatku kagum.

Kematian... Yang ditawarkan ayah pada putranya.

Yang ditawarkan ibu pada putrinya.

Kematian yang ditawarkan pada dirinya.

Karena tak ada yang berani menerima sisi buruk dirinya.

Aku selalu menawarkan mereka pembebasan dari rasa takut itu.

Kenapa kau membunuh Smrutika?

Simmy?

Aku suka melihatnya.

Masalahnya adalah...

Aku sedang sakau.

Aku butuh wanita. Semua orang butuh wanita, bukan?

Peperangan Ramayana dan Mahabharata juga disebabkan oleh para wanita.

Rahwana, Brahmana suci, berubah menjadi iblis.

Demi menculik wanita, sebenarnya dia sudah memikirkan pesawat terbang!

Jika bukan karena para wanita, Kita takkan punya pesawat.

Setiap kali ku lihat pesawat...

..Aku berbisik di dalam hati...

"Hey Ramana...!"

"Masih saja Rahwana lainnya membawa terbang Sita yang lain."

"Saatnya membawanya kembali ke bumi!"

Aku terus menghitung...

..Pesawat yang terbang di udara setiap hari.

Tepat di atas kita. Susah memperhatikannya.

Semakin banyak pesawat...

..Semakin banyak pula para Rahwana, Sita dan Rama.

Kau datang kemari hanya ingin bercerita Ramayana?

Pak, bisakah kau menyuruhnya pergi?

Tak suka dengan pembicaraannya.

Sangat membosankan!

Apa yang terjadi tadi malam?

Kau membutuhkan wanita, lalu kau membunuh Smrutika.

Dan aku masih punya lagi.

Gadis yang sangat semok!

Siapa namanya... ah, Ankita.

Tapi aku tak punya tempat untuk ngesex dengannya.

Jadi, aku membawanya ke rumah Simmy. Aku pegang kuncinya.

Simmy membuka pintu...

Aku mendorongnya dan segera membawa Ankita ke kamar.

Aku kunci kamar itu..

..Dan menampar Ankita sangat keras!

Aku putus asa...

...Kont*lku tidak mau ng*ceng.

...Dan Ankita tak bisa berhenti ngeledek.

Jadi ku dorong mukanya ke tembok! Sangat keras!

Keluarlah.

Keluarlah.

Pak?

Tinggalkan kami sendiri.

Apa yang kau inginkan?

Tak ada.

Aku hanya ingin menyerahkan diri.

Mengapa?

Sudah kudapatkan sensasiku.

Apa yang memberimu sensasi?

Narkoba?

Aku punya sebongkah kokas di tasku.

Yang ada di laci Simmy.

Apa yang kau inginkan?

Kenapa kau melakukan ini?

Apa tujuanmu? Menagapa kau kemari?

Untuk merasuk kedalam matamu!

Tak ada narkoba yang bisa menandingi sensasi bertatapan mata denganmu.

Saat masih anak-anak, aku pernah dengar kisah "Raman Raghav".

Aksi pembunuhannya sendiri adalah petualangan yang tak tertandingi.

Ada masa dimana setiap orang serasa ingin membunuh...

...Dan mendapat kesempatan itu. Seperti di peperangan sipil, kerusuhan.

Mereka selalu bersembunyi dalam kerumunan.

Seperti di Syria.

Orang-orang menyeberang perbatasan untuk melepas sifat kebinatangannya.

Tapi aku membunuh... sendirian.

Tak ada keragu-raguan.

Tak ada penyesalan sama sekali!

Aku membunuh pria, wanita dan anak-anak memang disengaja.

Aku bisa jamin itu.

Bukan membunuh dalam kedok seragam...

...Maupun agama atau jubah kemanusiaan.

Aku membunuh...

...Karena aku ingin membunuh.

Aku membunuh... seperti sedang makan, BAB, berdoa, dan mencintai...

...Secara alami.

Jadi... Kau yang membunuh Smrutika?

Mengapa... Kau yang membunuhnya?

Pegang ucapanku: Kematian Simmy ada di tanganku.

Tapi masih ada penghalang yang bisa merusak semua ini.

Ankita.

Dia melihat kejadian tadi malam.

Dan Ankita tidak mesti mati karena ketidaksengajaan.

Dia harus dibunuh...

...Dengan disengaja.

Apa yang membuatmu begini?

Kepuasan.

Perjalananku berakhir di sini.

Raman sudah menemukan Raghav-nya.

Mengapa aku?

Apa?

Mengapa aku?

Ini...

Inilah takdir kita.

Setiap orang di dunia ini memiliki seseorang... di suatu tempat...

..Yang melengkapinya.

Kesalahan yang kita buat adalah anggapan...

..Bahwa belahan jiwa itu haruslah wanita.

Mungkin...

Ini memang nasib baikku atau kemalanganmu..

..Hingga kau datang sebagai pertanda baik di pembunuhan pertamaku.

Paman!

'Paman', begitu kita memanggil,...

...Sering menyiksaku saat kecil.

Memperlakukanku seperti anjing.

Suatu hari, Dia kabur membawa seluruh uangnya.

Setelah bertahun-tahun, Aku menemukannya..

..Dan membunuhnya.

Sebelum aku bisa memikirkan jalan keluar...

Paman!

Kau masuk... berusaha mencari tahu.

Paman sedang keluar. Dia akan segera pulang.

Siapa kau? Kita pernah bertemu sebelumnya?

Saat kau menghapus sidik jarimu, Kau hapus sidik jariku juga.

Lalu kau juga buang ponsel paman.

Dan keesokan harinya, kau kembali ke TKP sebagai Polisi Penyidik.

Pak, Anda cukur jenggot?

Itulah cinta pada pandangan pertama.

Lalu aku tahu... Kaulah yang membebaskanku.

Tapi kau mencari kebebasanmu dalam diri wanita.

Sudah ku nantikan sejak lama.

Tak ada keselamatan tanpa penebusan dosa.

Kehebatan kesabaranlah yang membawa belahan jiwamu padamu.

Sisanya hanya angin lalu.

Sudah ku laksanakan tugasku...

...Sekarang giliranmu.

Rokok?

Korek.

Siapa itu?

Siapa?

Siapa?

Diterjemahkan Oleh : ~o0o~ Ackiel Khan ~o0o~ http://subscene.com/u/612819

IDFLโ„ข Subs Crew http://IDFL.me

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.