Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
-=SULTAN KHILAF=-
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Orang tuanya tak ada di sini.
Dia akan sangat tersentuh jika aku merawatnya saat terluka.
Apa dia tinggal di apartemen 401?
– Soo–ji. – Ro–bin, kudengar kau terluka.
Aku baik–baik saja. Aku tak terluka parah.
Kau seharusnya memberitahuku lebih awal.
Ayahku berteman baik dengan pemilik rumah sakit itu.
Tapi apa yang kau lakukan di sini?
Ayo kita bicara di dalam.
Maaf, aku baru saja akan keluar.
Sungguh?
Kau seharusnya tetap di rumah saat sedang tak enak badan.
Kalau begitu, tolong terima ini.
Aku membelikanmu daging sapi Korea yang paling mahal...
...dan sedikit ginseng merah. Pastikan kau memakannya.
– Aku sungguh baik–baik saja. – Ambil saja.
Tapi kau mau ke mana?
Batalkanlah rencanamu dan makanlah bersamaku.
Ada kedai belut panggang yang sering kukunjungi. Ayo pergi.
Ro–bin, Ji–na memintamu bergegas. Dia memesan sup tulang sapi.
Jadi, kau hendak makan sup tulang sapi dengan Ji–na?
Teman–teman, ayo cepat makan.
Siapa kau?
Sampai jumpa, Soo–ji.
– Terima kasih atas makanannya. – Aku akan membawanya masuk.
Terima kasih.
Jadi, ini Geum Soo–ji.
Aku mendengar banyak tentangmu.
Kau persis seperti yang kudengar.
Aku Oh Sa–na, adik perempuan Ji–na.
Ada yang harus kulakukan, jadi, aku permisi.
Ro–bin, ayo kita pergi.
Ibu dan Ji–na mungkin sedang menunggu.
– Hei, tunggu aku. – Ro–bin!
Aku membelikanmu daging sapi Korea!
Astaga!
Adik Ji–na adalah bocah nakal, sama seperti dia.
Dasar Ji–na!
Kudengar kau terluka, Ro–bin.
Jadi, aku memesan sup tulang sapi porsi ekstra besar khusus untukmu.
– Makanlah dan cepat sembuh. – Terima kasih.
Aku memesan sup porsi ganda untukmu, Jae–yi. Makanlah.
Tentu. Terima kasih atas pengertianmu.
Jangan sungkan.
Aku juga akan membelikanmu daging sapi lain kali.
Kukira salah satu darimu akan menjadi menantuku kelak...
...dan membalas budiku.
– Aku bersikap konyol? – Ya.
Saat aku masih kecil,...
...nenekku membuat sup tulang sapi untukku saat aku sakit.
Aku selalu merasa lebih sehat setelah makan semangkuk sup.
Makanlah dan habiskan supnya.
Enak.
Bagus. Minumlah supnya.
Ayo makan, semuanya.
Selamat makan!
Enak.
– Ibu. – Ya?
Aku punya pertanyaan. Kenapa disebut sup tulang sapi?
Apakah supnya terbuat dari tulang?
Apakahsandwich terbuat dari pasir?
Tulang membantu menciptakan rasa yang dalam.
Itulah sebabnya ini disebut sup tulang sapi.
Siapa yang kau tiru sampai menjadi sebodoh ini?
Jangan khawatir.
Aku dulu berpikir bahwa hot dog terbuat dari anjing.
Sungguh? Ternyata kau pernah bodoh.
– Enak. – Makan lagi daging sapinya.
Kau terlalu kurus. Berat badanmu harus naik.
Baik. Terima kasih.
Ro–bin, aku akan memberimukimchi.
– Buka mulutmu. – Aku akan memakannya sendiri.
Tidak.
Silakan, Jae–yi.
Makanlah dan cerialah.
Baik. Terima kasih.
Satu porsi ekstra besar untuk dibawa pulang? Ini dia.
Ya.
Ibu, kau membelikannya untuk siapa?
Ini untuk bibimu.
Dia sedang tidak sehat hari ini.
– Enak sekali. – Dia tak suka sup tulang sapi.
Aku mengerti alasan mereka berkata "lawan api dengan api".
Supnya lebih enak karena hari ini panas, 'kan?
Rasanya sangat enak. Tenggaklah! Isap itu!
Ini, minum obatmu. Kau harus memakannya tepat waktu.
Aku bahkan tidak terluka. Apakah aku perlu minum obat?
Jika tidak, mereka bilang kau bisa terkena infeksi internal.
Minumlah.
Astaga.
Kau bersikap sok keren di luar, tapi minum obat saja tak bisa?
Astaga.
Ini, buka yang lebar.
Berikan saja kepadaku.
Aku baru ingat.
Bagaimana Soo–ji dari kelasmu bisa menemukan rumah kita?
Apakah dia menyukaimu?
Aku juga tidak tahu.
Kalian pasti ada hubungan jika dia sampai datang ke rumah.
Ini kali pertama kau membawa seorang gadis ke rumah.
Bukan aku yang membawanya.
Selain itu, ada gadis lain yang pernah ke rumah kita.
Ji–na.
Ibuku ingin aku membawakan semangka untuk kalian.
Nenekku mengirim semangka besar.
Kalian tidak mirip orang tuamu.
Sungguh? Semua orang bilang begitu.
Aku perlu menunjukkan ini kepada semua orang.
Jangan memotretku.
– Aku bilang, jangan memotret. – Tidak, hasilnya bagus.
– Berikan ponselmu. – Ayo pergi, Sa–na.
Berikan ponselmu.
Ji–man benar–benar luar biasa.
Aku sendiri tidak percaya.
Aku juga.
Hei. Siapa dirimu sehingga membeli sup tulang sapi untuk Ro–bin?
Adikmu adalah bocah kurang ajar.
Jangan membicarakan keluarga orang lain.
Kenapa kau terus menghalangiku?
Hei. Bagaimana jika kau berhenti menghalangiku dan pergi?
Lihat dia. Dia sudah lebih sehat. Bagaimana keadaanmu?
Kau sudah baik–baik saja, Ro–bin?
Ya, aku baik–baik saja.
Aku tak bisa tidur karena khawatir.
Mari pergi ke kedai belut bakar yang kusebutkan kemarin.
– Lebih enak dari sup tulang sapi. – Hei, Soo–ji.
Ya? Ada apa?
Bolehkah aku mendengarkan musik?
"Kontes Menulis Hanjong 2018"
Benar juga. Batas waktu lomba tulis sebentar lagi, 'kan?
Kalian sudah selesai menulis?
Aku lupa.
Pemenangnya akan dicatat di riwayat sekolahnya, 'kan?
Kau akan rugi jika tidak melakukannya.
Kurasa aku harus mengeluarkan keterampilan puisiku.
Maju selangkah lebih dekat padaku
Maju dua langkah Lebih dekat padaku
Apa itu?
Itu adalah lirik dari lagu AOA.
Astaga.
Apa yang akan kutulis untuk esaiku?
Aku tak bisa menulis apa pun tanpa tagar.
Tagar, kontes esai.
Tagar, bisakah kita menggunakan tagar?
Tagar, aku akan memenangkan ini.
Tagar, aku tak bisa menulis esai panjang.
Tagar, aku tak bisa menulis lebih dari beberapa kata.
Tagar, aku sudah lelah.
Rok–hee, apa yang akan kau tulis?
Aku tidak yakin. Mungkin sebuah puisi?
Ini adalah suara angin Yang terbelah oleh tinjuku
– Apa itu tadi? – Benar juga. Ji–na.
Tulisan di buku catatanmu lumayan menarik.
Kau harus menyerahkan itu.
Ji–na, kau penulis?
Saat SMP, Ji–na bahkan mendapat penghargaan kontes esai.
Luar biasa.
Tapi buku catatan itu hilang, jadi, aku lupa isinya.
Mungkin aku akan mencoba mengingat dan menulis ulang.
Apa yang akan kau tulis, Ro–bin?
Aku tidak yakin. Mungkin puisi akrostik?
Ro–bin, kau sudah minum obat pagi ini?
Belum, 'kan? Cepat minum.
Berhenti mengomel. Jangan mengkhawatirkanku.
Aku akan meminumnya nanti.
"Tiga kali sehari, 30 Menit Setelah Makan, Mencegah Infeksi"
– Apa ini? – Ini pengingat andai kau lupa.
Taruh di atas mejamu.
Minumlah sekarang.
Aku sudah meminumnya.
Kau tak bisa minum obat dengan baik, ya?
Dia bertingkah keren, tapi ini semua hanya pura–pura.
Aku muak terhadap Ji–na.
Ini takkan membuat mereka berpacaran, bukan?
Aku harus bergerak.
"Tiga kali sehari, 30 Menit Setelah Makan, Mencegah Infeksi"
"Aku menyukai Seo Jae–yi."
"Tiga kali sehari, 30 Menit Setelah Makan, Mencegah Infeksi"
Tulisan tangannya benar–benar berbeda.
Kurasa bukan Ji–na yang menulis surat itu kepada Jae–yi.
Sup ini enak sekali. Astaga.
Tapi rasanya sedikit berbeda dari buatan dia untukku.
Bagaimanapun, hanya Eun–hee yang memedulikanku.
Eun–hee.
Astaga.
Terima kasih atas makanannya.
Astaga.
Hanya kau yang peduli kepadaku.
Aku membuatnya karena merasa tak enak...
...kau makan makanan instan itu setiap hari.
Jadi, tinggalkan saja piringnya dan pergi.
Coba buka tutupnya.
Kurasa ada sesuatu di sana.
– Sulit kupercaya. – Astaga.
Ini sup tulang sapi pertamaku setelah sekian lama.
Itu membuatku merasa sangat kuat hari ini!
Kenapa ini bengkok?
– Astaga. – Berhenti bersikap berlebihan.
Biarkan saja.
Kalian tak bisa terpisahkan.
Astaga. Bukan begitu.
Seon–hee,...
...aku menanyai semua temanku yang bekerja di perusahaan besar.
Apa mereka memiliki rekan kerja yang masih lajang?
Hal baik akan segera datang.
Tak masalah. Sama bagiku,...
...seperti wanita modern di masyarakat saat ini,...
...aku takkan mengejar pernikahan dan hidup seperti wanita kuat.
Itu bukan ide yang buruk.
Kau hanya berakhir dengan kehidupan keras...
...setelah menikah.
Aku pribadi setuju jika kau hidup sendiri dan merasa nyaman.
Aku memutuskan untuk tak mengejar pernikahan.
Aku akan tetap tenang...
...dan melihat ke mana angin membawaku.
Siapa ini?
Halo?
Hei, ini sudah lama sekali.
Apa kabar?
Apa?
Pernikahanmu diadakan akhir pekan ini?
Kau sudah gila?
Aku bahkan tak ingat kapan terakhir melihatmu.
Kenapa aku harus pergi ke pernikahanmu?
Aku takkan pergi! Dah!
Astaga. Sulit kupercaya.
Beraninya dia mengundangku ke pernikahannya?
Aku kesal. Sulit kupercaya.
Aku kira dia belum begitu tenang.
Ya.
– Kang–dong! – Ya?
Apakah kau menghubungi orang dari perusahaan besar itu?
Hubungi dia sekarang. Cepatlah!
Baik, akan kulakukan.
Halo?
Ini aku.
Kau mencari bujangan?
Tidak ada satu pun? Harus ketemu! Hidupku taruhannya!
Bertanyalah kepada semua orang yang kau kenal!
– Ya! – Kacau sekali.
Di mana sepeda Ro–bin?
Ini dia.
Apa yang kau lakukan di depan sepedaku?
Hai. Begini...
Ayo makan makanan sehat bersama.
Aku yang traktir. Ayo pergi bersama.
Aku baik–baik saja. Kau tidak perlu melakukan itu.
Aku akan membelikanmu hadiah...
...untuk merayakan kau keluar dari RS.
Aku bahkan tak menginap di rumah sakit.
Ayolah. Tak ada yang kau inginkan?
Aku hanya ingin mentraktirmu makanan enak.
Kenapa?
Hubungan kita memungkinkan untuk saling bersikap baik, bukan?
Hubungan macam apa yang kita miliki?
Tak perlu. Jangan repot–repot.
Ro–bin!
Kau pikir aku tak punya martabat?
Kau pikir siapa dirimu bisa memperlakukanku seperti ini?
Aku menyukaimu.
Aku sungguh menyukaimu.
Aku akan jujur.
Aku menyukai orang lain.
Mungkinkah...
Apakah Ji–na?
Aku akan pergi.
Ro–bin, aku belum selesai bicara.
Jangan pergi.
Astaga.
Hei, Nak! Jangan melompat ke depan mobil seperti itu.
Aku tak benar–benar tertabrak, jadi, pergilah.
Cepat. Pergi.
Kau bisa terluka.
Kau baik–baik saja?
Kau baik–baik saja, 'kan?
Mobil itu datang sangat cepat dan tampaknya kau tak mendengar.
Aku hanya mengejarmu tanpa berpikir.
Jika terlambat sepersekian detik saja,...
...kau bisa mengalami kecelakaan besar.
Maaf.
Apakah sakit?
Kita harus bagaimana?
Aku baik–baik saja.
Selama kau tidak terluka, semua baik–baik saja.
Nyaris saja.
Itu hanya goresan kecil.
Cukup oleskan salep.
Bungkus saja dengan gips.
Apa?
Lukanya tak separah itu. Hanya goresan kecil.
Bisakah kau membungkusnya dengan gips?
Ini sakit sekali.
Lihat itu. Bungkus saja dengan gips.
– Apakah kau terluka parah? – Ya.
Kemarin aku belum tahu, tapi ternyata agak retak.
Maaf, ini terjadi karena aku.
Kalau begitu, bisakah kau membantuku...
...sampai kakiku membaik?
Caranya?
Apa–apaan? Apa yang dilakukan Ro–bin?
Mungkin dia makan makanan basi.
Soo–ji, bagaimana ini bisa terjadi?
– Itu terjadi begitu saja. – Pasti sakit sekali.
Seharusnya kau beristirahat di rumah selama beberapa hari.
Ro–bin, kurasa aku harus masuk dan duduk.
Situasi macam apa ini?
Dia terluka. Itu masuk akal.
Tapi bagaimana dia bisa terluka?
Astaga. Ada pengumuman...
...bahwa guru penuh waktu akan diumumkan minggu depan.
– Astaga. – Pak Choi.
Selamat sebelumnya.
Kami takkan benar–benar tahu sampai pengumuman.
Lantas, apa kau akan mentraktir makan malam pekan depan, Pak Choi?
Jika mendapatkannya, kalian akan kutraktir sepuluh makan malam!
Astaga.
Selamat!
Kenapa berisik sekali?
Carilah cara untuk meningkatkan nilai murid daripada mengobrol.
Pak Choi.
Bawalah sekotak kertas A4 ke kantorku.
Apa?
Baik.
Bagaimana seseorang bisa memakai kertas sebanyak itu?
Kau tidak curiga dia membawanya pulang?
Apa? Tidak mungkin.
Dia melakukannya.
– Di mana aku harus menaruhnya? – Taruh di bagasi mobilku.
– Baik. – Aku baru ingat, Pak Choi.
Ini hari kentang datang untuk kafetaria.
Saat ini, kentang sangat mahal.
Istriku takkan berhenti mengeluh tentang hal itu.
Ambilkan sekotak untukku, ya?
Kentang juga?
Apa? Ada masalah?
Tidak juga. Tidak masalah.
Aku akan segera memasukkan satu kotak ke mobilmu.
Aku akan kembali.
Tahan sampai minggu depan.
Kentang tumis yang diberikan sedikit sekali.
Ini tidak benar.
Ya, 'kan? Padahal aku suka kentang tumis.
Apa–apaan ini?
Apa yang sedang terjadi?
Ro–bin bahkan membawakan makan siang untuk Soo–ji.
Apa yang terjadi dengan mereka?
Sulit kupercaya.
Apakah dia sudah gila?
Apakah Ro–bin sudah gila?
Kurasa tidak benar.
Kukira dia jatuh cinta kepada Soo–ji.
Aku takkan ragu jika pria lain jatuh cinta kepadanya,...
...tapi bukan Ro–bin.
Bisakah aku makan dengan kalian?
Tentu.
Duduklah di sini.
Sudah lama kita tak makan bersama.
Benar. Bagaimana kabarmu?
Baik.
Kau suka ini, 'kan? Makanlah.
Terima kasih.
Ada apa ini? Asmara terjadi juga di meja ini?
Kau cemburu?
Ini, aku akan memberimu juga.
Jijik. Kotor sekali!
Apakah mereka berdua berpacaran?
Tapi sekali lagi, Ji–na selalu tertarik...
...pada orang berpenampilan ramah.
Kudengar adikmu sangat populer.
Tapi dia bukan tipeku.
Tipe aku adalah...
Kau tahu siapa, 'kan?
Makan saja.
Apa yang sedang terjadi?
Ada apa dengannya?
Dia benar–benar ingin kita mendengarnya.
Terserah.
Tali sepatuku tak terikat.
Aku tak bisa mengikatnya sendiri.
– Astaga. – Mereka pasti berpacaran.
– Apa yang dia lakukan? – Sulit kupercaya.
– Apa yang dia lakukan? – Dia mengikatkan tali sepatunya?
Mungkin mereka berpacaran.
Kuharap seseorang mau mengikatkan tali sepatuku.
Terima kasih, Ro–bin.
Perutku sakit. Aku akan pergi dulu.
Kau baik–baik saja?
Bantu aku bangun.
Ji–na, kau baik–baik saja?
Aku baik–baik saja. Bagaimana ini?
Aku akan membersihkannya.
Terima kasih.
Sekarang mereka datang ke sekolah bersama?
– Sulit kupercaya. – Astaga.
Benar–benar pria sejati.
– Ini aneh. – Ada apa dengan kakinya?
– Apakah mereka berpacaran? – Aku tidak tahu.
Masa bodoh.
Terima kasih sudah menjagaku, Ro–bin.
Sang putri telah tiba.
Aku muak melihatnya.
Kenapa Ro–bin bersikap aneh dan melakukan ini?
Ji–na, ayo kita bicara.
Tidak mau.
Baik.
Aku takkan pulang sampai selesai. Mari kita lakukan.
Di mana Ji–na?
Dia bergegas ke ruang komputer agar bisa mendapat tempat duduk.
Dia bilang harus menyelesaikan tulisan untuk lomba.
Astaga, dia benar–benar bekerja keras.
Lihat saja dia kalah.
Mau makantteokbokki bersama–sama?
– Ide bagus. – Ide bagus.
– Aku juga. – Biar kupikirkan. Ayo pergi.
"Judul, Surat Cinta"
Surat Cinta di Joseon.
Baiklah. Mari berkonsentrasi...
...dan ingat memorimu itu.
Pagi itu, Ayah pergi,...
...Ibu menerima surat.
Itu di selembar kertas Korea yang pudar.
Ibu bilang itu adalah surat cinta yang diberikan kekasihnya...
...500 tahun lalu.
Dia meninggalkanku dengan kebohongan ini...
...dan menghilang tanpa jejak.
Pada 500 tahun lalu, dia adalah seorang putri raja...
...dan pria itu adalah prajurit pelindungnya.
Mereka berdua...
...tak bisa bersama, bahkan jika harus mati untuk itu.
Bunganya indah sekali.
Yang Mulia, kau tidak boleh menyentuh mereka sembarangan.
Tak apa–apa.
Yang Mulia, jangan.
Itu kisah cinta yang seharusnya tak pernah dimulai.
Lari!
Yang Mulia, kau baik–baik saja?
Kau terluka? Aku juga terluka.
Periksa area ini secara menyeluruh.
Yang Mulia, kau menderita karena aku.
Tidak. Yang kubutuhkan hanya kau, Kang–dong.
Yang Mulia!
Kau tidak perlu menyebutku sebagai "Yang Mulia" lagi.
Putri...
Kang–dong...
Kang–dong.
Ini belum terlambat.
– Kembalilah. – Tidak mau.
Duniaku takkan berarti tanpamu, Kang–dong.
Ini surat cintaku.
Bahkan di kehidupan lain,...
...aku berjanji untuk hanya mencintaimu!
Kang–dong!
Jangan tinggalkan aku.
Ibu kembali.
Anehnya, dia kembali bersama Ayah.
Ibu memberitahuku...
...dia melakukan perjalanan waktu ke 500 tahun lalu.
Apa yang bisa terjadi kepadanya?
Selesai!
Aduh, perutku.
Aku tak bisa menahannya.
"Anda ingin menyimpannya?"
"Anda ingin menghapusnya?"
Di mana itu?
"Tidak dapat menemukan dokumen. Silakan coba lagi."
"Tidak dapat menemukan dokumen. Silakan coba lagi."
Hilang.
Hilang.
Bagaimana ini?
Yang benar saja.
Baik.
Jaga kakimu.
Sampai jumpa besok.
Dah.
Itu Soo–ji dari kelasmu?
Ya.
Kenapa kau tiba–tiba begitu dekat dengannya?
Apakah kau menyukainya?
– Tidak! – Lalu kenapa kau merawatnya?
Aneh sekali.
Dia terluka karena aku.
Jika bukan karena dia, aku bisa terluka.
Jadi, aku hanya membantunya.
Permisi?
Kau terlambat.
Maaf?
Duduk.
Duduk!
Kau sok kuat di luar, tapi lemah dan kesepian, bukan?
Ya, benar.
Kau pandai berdandan, tapi kau jorok di rumah.
Astaga. Bagaimana kau tahu?
Mari kita lihat.
Aku melihat semuanya.
– Kau punya dua keponakan. – Astaga.
Ya, benar.
Mari kita lihat di sini.
Mari kita lihat di sini. Aku melihat semuanya.
Kau mengelola sebuah kafe, bukan?
Luar biasa! Bagaimana kau tahu itu?
Aku melihat semuanya!
Mari kita lihat di sini.
Aku melihat semuanya.
Niecestagram, keponakan pertama, keponakan kedua.
Jangan lupakan bibimu.
Andai aku bisa memutar waktu, kumerasa bisa melakukan apa saja.
Cinta sudah mati.
Kau dicampakkan baru–baru ini.
Kau berpikir andai bisa memutar waktu,...
...kau bisa melakukan apa saja.
Ya, benar.
Selera priamu payah.
Jika menikah lebih awal, kau akan bercerai sekarang.
Menurutmu,...
...aku bisa menikah?
Kenapa tidak? Kau sudah bertemu dengannya.
Apa?
Aku sudah bertemu dengan suamiku?
Siapa dia? Berapa usianya?
Di mana dia tinggal?
Aku melihat semuanya. Dia berkeliaran di sekitarmu.
Dia terus berkeliaran.
Berkeliaran?
Apakah dia orang yang sering bepergian?
Aku melihat semuanya.
Kulihat dia memiliki sertifikasi dari pemerintah.
Pemerintah?
Sertifikasi?
Mungkinkah dia seorang dokter? Atau pengacara?
– Lalu... – Ya?
Jika bertemu pria ini, kau tidak boleh...
...memberi dia sayap ayam.
Jika kau melakukannya, dia akan berselingkuh.
Pergilah.
– Pergilah. – Hanya itu saja?
Selanjutnya, tolong.
Aku harus mengembalikan ini kepadanya.
Maaf membuatmu menunggu.
Tidak sama sekali.
Begini,...
...aku ingin mengatakan sesuatu hari ini.
Aku lapar.
Haruskah kita makan dulu?
Baik.
Ro–bin, apa yang harus kita makan?
Apa yang kau suka? Bagaimana dengan ini?
– Bagaimana dengan ini? – Apa saja boleh.
Haruskah kita pergi ke tempat lain?
Tidak.
Makanan di tempat ini enak.
Ayo duduk di sana.
Apa ini? Kalian juga berkencan?
Aku rasa kalian benar–benar pasangan.
Hei, Jae–yi.
Apakah kau tahu...
...ada sesuatu yang terjadi antara Ro–bin dan Soo–ji?
Dahulu mereka tak sedekat ini, tapi kini mereka selalu bersama.
Aku hanya bertanya–tanya apakah sesuatu terjadi.
Dia terluka karena aku.
Jika bukan karena dia, aku bisa terluka.
Aku pun tidak yakin.
Aku belum mendengar apa–apa.
Begitu rupanya.
Maaf, Ro–bin.
Aku akan melanggar peraturan kali ini.
Ini kelihatan enak.
Ro–bin, cicipi ini. Buka mulutmu.
Aku akan memakannya sendiri.
Nikmatilah.
Terima kasih.
Ji–na, tunggu.
Sudah.
Ada sesuatu di wajahmu.
Terima kasih.
Aku harus pergi ke kamar mandi.
Baik.
Aku bilang aku akan mengantarmu. Ayolah. Ayo pergi.
Tidak perlu. Pulanglah duluan.
Soo–ji terluka karena aku.
Jadi, aku hanya membantunya. Jangan salah paham.
Kau tak perlu menjelaskan seluruh situasi kepadaku begitu.
Meski begitu, kalian terlihat terlalu dekat.
Kau mengambilkan air dan mengikatkan tali sepatunya.
Kenapa kau tak memberinya makan piza sekalian?
Bagaimana denganmu?
Kau terlihat sangat dekat dengan Jae–yi tadi.
Aku harus begadang untuk menulis ulang tulisanku.
Jika kau sudah selesai berbicara, aku akan pergi sekarang.
Jae–yi, ayo pergi.
Dia mengajukan puisi akrostik untuk kontes menulis.
Ini adalah puisi akrostik tentang Go Jin–sang.
Bukankah itu nama kepala sekolah kita?
Aku akan memberimu huruf.
– G. – "Go Jin–sang adalah..."
– H. – "Hanya seorang tiran."
– S. – "Seperti seorang tiran besar."
Ro–bin, dasar...
Dia jenaka sekali.
Kenapa kupingku gatal sekali?
Ada satu di sini tentang kau juga, Bu Jung.
Aku? Sungguh?
– H. – "Hanya ingin tahu, tapi..."
Apa itu? H.
"Hanya ingin tahu, tapi..."
– A. – "Apa kau wanita muda atau tua?"
Siapa yang menulis itu?
Itu Mi–nam.
Nilainya nol.
Oh Ji–na dari Kelas Satu menulis karya yang sangat bagus.
Aku berniat mencoretnya karena dia telat menyerahkannya.
Tapi alur ceritanya cerdik dan ditulis dengan baik.
Pasti tulisannya bagus jika guru Korea berkata begitu.
Apa?
Tunggu.
Lihatlah ini.
Bagaimana ini bisa begitu mirip?
"Itu adalah kisah cinta yang seharusnya tak dimulai."
Mereka...
Ini terlalu jelas.
"Judul, Surat Cinta di Joseon"
"Surat Cinta di Joseon.
Pagi itu, Ayah pergi, Ibu menerima surat.
Tertulis di selembar kertas Korea yang pudar.
Ibu bilang itu adalah surat cinta yang diberikan pacarnya...
...500 tahun lalu. "
Astaga, ini ditulis dengan baik.
Ini adalah karya seni sastra. Luar biasa.
Terima kasih.
Tapi masalahnya...
...ada dua tulisan yang sama di sini.
Geum Soo–ji, Oh Ji–na,...
...bagaimana bisa kiriman tulisan kalian serupa?
– Apa? – Apa? Itu tidak mungkin.
Yang mana yang hasil menjiplak?
Bahkan jika kau pergi ke kantor polisi,...
...mengaku sendiri akan membuatnya lebih mudah.
Kau harus jujur kepadaku.
Belum terlambat.
Apa? Aku benar–benar orang yang menulisnya.
Aku tidak mencontek pekerjaan orang lain.
Lalu bagaimana bisa kau dan Soo–ji menulis...
...cerita yang sama persis?
Jika kau tidak menyalin miliknya, bagaimana ini bisa terjadi?
Pak Kepsek,...
...kau tak boleh memihak. Berbicaralah adil dengan mereka.
Bu Maeng, kau tak lihat?
Soo–ji menyerahkan miliknya pada pukul 19.00.
Ji–na menyerahkan miliknya pada pukul 03.00.
Ayolah. Itu sudah jelas.
Orang yang mengirimnya belakangan adalah penjiplak. Bukan begitu?
Ji–na, kau benar–benar luar biasa. Aku tak bisa berkata apa–apa.
Pak Kepsek, aku benar–benar tak tahu apa yang Soo–ji tulis.
Tahun lalu, aku menulisnya di buku harianku,...
...berharap orang tuaku akan kembali bersama.
Aku menulis ulang buku harian itu untuk dikirim ke kontes.
Sungguh? Lalu di mana buku harian itu sekarang?
Masalahnya, aku kehilangan buku harian itu.
Sulit kupercaya. Ada apa dengannya?
Ji–na.
Ceritamu sendiri agak mencurigakan, bukan?
Ini juga bentuk lain dari mencuri.
Adapun menjiplak, itu adalah bentuk pencurian...
...kekayaan intelektual orang lain.
Aku benar–benar tak menjiplak. Aku benar–benar menulis ini.
Soo–ji, kembali ke kelasmu.
Ji–na, kita perlu membicarakan ini lebih banyak.
Ya, Pak Kepsek. Aku akan pergi duluan.
Kudengar tulisan Ji–na dan Soo–ji sama persis.
Mereka sedang menyelidikinya.
Dia sulit kupercaya.
Apakah dia bodoh? Dia bahkan menyalin judulku sama persis.
Astaga. Ji–na menyalin tulisanmu bahkan sampai ke judul?
Itu berlebihan.
Ji–na benar–benar bodoh.
Tapi jika kupikirkan, apa kau sungguh penulis yang baik?
Makan saja rotimu.
Hei, Soo–ji. Ji–na bukan gadis seperti itu.
Kau yakin dirimu tak menyalin karya Ji–na?
Jika kau tidak tahu apa–apa, diam saja.
Aku menyerahkan milikku pukul 19.00...
...dan Ji–na menyerahkan miliknya keesokan harinya di pagi hari.
Bukankah sudah jelas siapa yang menyalin?
Kau bisa saja melihat tulisan Ji–na sebelum itu.
Jangan berpihak kepadanya hanya karena kalian berteman.
Akan segera ketahuan siapa penjiplaknya.
"Tempat Pertama, Geum Soo–ji, Kelas Satu"
"Tindakan Disiplin Terhadap Oh Ji–na"
"Layanan Sekolah untuk Mencontek"
Hasilnya sudah keluar.
Soo–ji mendapat tempat pertama...
...dan Ji–na mendapat tindakan disipliner.
Jadi, Ji–na benar–benar menjiplak?
Sulit kupercaya.
Mungkin dia tergoda oleh poin rekor sekolah.
Aku kecewa dengan Ji–na.
Ji–na si penjiplak.
Kau suka nama panggilan barumu?
Soo–ji.
Aku bersumpah belum pernah melihat tulisanmu.
Tapi aku dituduh menjiplak dan bahkan mendapat masalah.
Lalu?
Berarti salah satu dari kita berbohong...
...dan itu bukan aku. Jadi, pasti kau.
Jujurlah dan katakan yang sebenarnya!
Kebenaran apa yang harus diceritakan?
Lepaskan. Kubilang, lepaskan.
Kau yang membuat dirimu terkena masalah.
Kenapa kau menyalahkanku?
Sakit.
Hei, apa yang kau lakukan kepada seseorang yang terluka?
Dia sudah tak berperasaan.
Soo–ji, kau baik–baik saja?
Ji–na, kau sudah gila.
Dia tidak tahu malu.
Ada apa dengannya?
Apakah kau benar–benar berpikir Ji–na akan melakukan itu?
Ayo pergi. Sulit kupercaya Ji–na begitu kepada orang terluka.
– Ayolah. – Aku tahu Ji–na seperti itu.
– Ada apa dengannya? – Ayo pergi saja.
Aku masih tidak percaya itu.
"Apakah kau ingin menjadi Dewi Balas Dendam?"
Ini tidak adil.
Ini tidak benar.
"Masukkan nama target."
Bagaimana bisa kiriman tulisan kalian serupa?
Aku benar–benar tidak menjiplak.
– Aku benar–benar menulis ini. – Astaga.
Aku menyerahkan milikku pukul 19.00...
...dan Ji–na menyerahkan miliknya keesokan harinya di pagi hari.
"Masukkan Nama Target Geum Soo–ji"
Ji–na si penjiplak.
Kau yang membuat dirimu terkena masalah.
Kenapa menyalahkanku?
"Target memenuhi semua kondisi. Kami lanjutkan balas dendam."
Soo–ji, kau pasti sangat kesakitan.
Ada apa dengan Ji–na?
Benar, 'kan?
– Ayo kita pergi. – Baik.
Ji–na bahkan tidak makan siang. Ke mana dia?
Ji–na takkan melakukan itu.
Bagaimana cara Soo–ji mencuri tulisan Ji–na?
Pertanyaan bagus. Aku benar–benar curiga.
Tapi tak ada bukti.
Bagaimana jika ini semua berlalu begitu saja...
...tanpa kebenaran terungkap?
"Kau telah dipilih sebagai target balas dendam."
"Balas dendam"?
"Kau telah dipilih sebagai target balas dendam."
Apa ini? Menyebalkan sekali.
Ayo pergi dan bersenang–senang.
– Ayo pergi! – Mari bersenang–senang.
Gawat! Maafkan aku.
– Kau baik–baik saja? –Kenapa kau merusak kecuranganku?
Kenapa ini tidak bisa dimatikan?
–Kenapa kau merusak kecuranganku? – Ini mengejutkan.
Kenapa kau mematikannya? Ini lumayan menghibur.
Aku mengalami nasib buruk kali terakhir mendapatkan ini.
Itu datang lagi?
"Kau telah dipilih sebagai target balas dendam."
Mungkinkah Ji–na ada hubungannya dengan ini?
Itu benar. Bahkan kali terakhir,...
...aku mendapat pesan ini setelah bermasalah dengan Ji–na.
Kenapa dia mencari buku harian itu sampai seperti ini?
Kenapa aku disuruh ke kantor Ibu untuk mencarinya? Astaga.
Ji–na, dasar kau...
Hai, Sa–na.
Ada apa? Apa terjadi sesuatu?
Jae–yi, ada apa dengan Ji–na?
Apakah terjadi sesuatu di sekolah?
Dia marah kepadaku saat pulang ke rumah.
Dia bertingkah sangat aneh.
Banyak hal buruk di sekolah hari ini.
Dia dituduh menjiplak tulisan kontes.
Dia bukan orang yang begitu, jadi, itu akan segera terpecahkan.
Begitu rupanya.
Ji–na selalu menulis banyak hal dalam buku hariannya.
Dia menulis tulisannya di buku harian itu sebelumnya.
Dia adalah tipe orang yang menuliskan semuanya.
Andai buku harian itu ketemu, semuanya akan terpecahkan.
Aku harus mencari di kantor ibuku dan toko swalayan.
Aku akan menemuimu nanti.
"Aku menemukannya. Tolong bantu agar tak ada yang salah dituduh."
– Halo. – Halo.
Halo.
– Selamat pagi. – Selamat pagi.
"Aku menemukannya. Tolong bantu agar tak ada yang salah dituduh."
"Surat Cinta di Joseon"
Dia menulis ini setahun yang lalu.
Isinya pada dasarnya sama.
Tapi akan sulit dibuktikan hanya dengan ini sebagai bukti.
Tunggu sebentar.
Ini muncul di forum sekolah. Lihatlah.
Apa itu?
Astaga. Geum Soo–ji...
Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia melakukan itu?
Soo–ji, dasar kau...
Dia bahkan menipu gurunya.
Di mana Geum Soo–ji?
Terima kasih telah menangani masalah Soo–ji...
...dengan begitu cepat.
Tidak masalah. Aku hanya melakukan tugas dengan adil.
Astaga. Bagaimana bisa gadis itu begitu tidak tahu malu?
Astaga. Tolong pastikan dia dihukum.
Jangan khawatir.
Untuk Soo–ji,...
...dia tak hanya cantik,...
...tapi juga penulis yang hebat.
– Hei. – Apa yang kau lihat?
Cepat.
Aku tidak suka ini.
Aku malas.
– Ayo kita mulai. – Aku akan pergi dulu.
Apa artinya ini?
Apa itu?
Itu...
Jika kau menggunakannya seperti ini...
Suara apa itu?
Apakah ada kebakaran?
Tunggu sebentar. Kebakaran?
– Ada kebakaran! – Ayo lari!
Astaga!
Bagaimana dengan sloga "wanita lebih dulu"?
– Aku seorang wanita! – Usiaku akan menginjak 60 tahun!
– Orang tua lebih dulu! – Dasar kakek tua!
– Menyingkir! – Astaga!
Kau gila!
– Apa yang sedang terjadi? – Apa itu?
– Apa itu? – Kebakaran!
– Ayo keluar! – Ayo pergi!
Ji–na, kau baik–baik saja?
Aku baik–baik saja.
Ayo keluar.
Alarm kebakaran barusan adalah alarm palsu.
Siswa diharap tetap tenang dan kembali ke kelas kalian.
Alarm kebakaran barusan adalah alarm palsu.
Siswa diharap tetap tenang dan kembali kelas kalian.
Astaga! Pak Kepsek...
Untuk pria berusia 60 tahun, kau tak mungkin mendorong begitu.
Astaga. Tas baruku!
Sulit kupercaya.
Sampai jumpa! Aku tidak percaya pria itu.
– Astaga! – Kau pikir kau sempurna?
Astaga. Bagaimana wanita itu begitu kuat?
Kau bisa menjatuhkan lembu jantan dengan kekuatan itu!
Astaga.
– Apa itu tadi? – Konyol sekali.
– Aku lega. – Aku sangat takut.
Kupikir aku akan mati.
– Aku sangat terkejut. – Kita keluar sia–sia.
Konyol sekali.
Aku takut dan ternyata bukan apa–apa.
Soo–ji, ada apa denganmu?
Kau berbohong tentang cedera kakimu?
Benar. Dia berlari keluar kelas dengan sangat cepat.
Sungguh? Semua itu hanya pura–pura?
Tidak, bukan itu.
Kupikir kau terluka karena aku, dan aku membantumu.
Tapi kau bahkan tidak terluka?
Jadi, itulah sebabnya...
...Ro–bin sangat dekat dengan Soo–ji belakangan ini.
Sifatmu benar–benar yang terburuk.
Tidak. Sebelumnya, aku...
Aku berlari karena dorongan adrenalin.
– Sakit... – Soo–ji, kaki satunya.
Sakit...
Sakit sekali...
Sakit sekali...
Itu alarm palsu.
Kalian bisa berhenti berpegangan tangan sekarang.
Ji–na, kau baik–baik saja?
Apa yang salah denganku?
Rasanya seperti hatiku akan berdebar keluar dari dadaku.
Ada apa dengan kalian berdua? Sesuatu terlihat mencurigakan.
Mencurigakan? Apa yang kau bicarakan?
Wajahmu merona.
Di mana Mi–nam?
Soo–ji.
Ini adalah buku harian Ji–na dari tahun lalu.
Baca dengan keras.
"Surat Cinta di Joseon.
Di pagi hari, ketika Ayah pergi, Ibu menerima surat.
Itu di bagian yang pudar..."
Ji–na bergegas membuat ini untuk membela dirinya sendiri.
Ji–na sangat licik.
Lalu bagaimana kau menjelaskan rekaman ini?
Itu bukan aku. Ini rekaman yang dimanipulasi.
Soo–ji, akui saja kesalahanmu.
Aku tidak melakukannya. Bukan aku!
Kau pikir dirimu akan ke mana?
Astaga. Hei.
Apa?
Apa yang sedang terjadi?
Kupikir kau perlu melihat ini.
"Pemberitahuan Tindak Disipliner"
"Kepsek Go Jin–sang bersikap...
...bias dan tidak adil selama insiden plagiarisme...
...yang terjadi di lingkungan sekolah.
Atas dasar menyerang karakter siswa,...
...Dewan Tindakan Disiplin mengirimkan pemberitahuan ini."
Apakah mereka gila?
Tunggu sebentar.
Aku tak boleh terkena tindakan disiplin.
Aku tak bisa mendapatkan posisi inspektur pendidikan.
Astaga!
Aku akan mencari tahu siapa yang mengkhianatiku!
"Balas Dendammu Selesai"
Revenge Note membantuku juga kali ini.
Bagaimana jika akhirnya aku mengandalkannya...
...untuk semua masalahku?
Tapi siapa yang bisa membawakan buku harianku?
Bu Maeng, bagaimana kau menemukannya?
Itu tiba–tiba ada di mejaku.
Ada catatan dari seseorang yang bilang...
...dia menemukannya secara tak sengaja.
"Aku menemukannya. Tolong bantu agar tak ada yang salah dituduh."
Hei, Jae–yi.
Ambil ini.
Aku menyukaimu,...
...tapi hanya sebagai teman.
Aku ingin kita terus menjadi teman saja.
Aku agak sedih kau mengembalikan ini kepadaku.
Maaf. Terima kasih.
– Ji–na! – Ji–na!
Cepat! Ayo pergi ke toko!
Baik.
Aku akan pergi.
Tapi...
Aku tak berpikir untuk menyerah seperti ini.
Ji–na...
"Epilog"
Di mana itu?
Ada yang jatuh.
Ini dia.
"Surat Cinta di Joseon"
Syukurlah.
-=SULTAN KHILAF=-
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.