Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
-=SULTAN KHILAF=-
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
"Episode 6"
AOA adalah yang terbaik! Bingle bangle
Hei, sedang apa kau?
Siapa yang bilang kau bisa menempelkan ini?
Aku sudah mendapatkan izin.
Enyahlah. Ini tempatnya Samuel.
Lihat ini. Menggelikan.
Acara pembacaan lirik?
"Analisis komparatif karya sastra."
– Kau benar–benar aneh. – Merusak pemandangan.
Siapa yang akan menghadiri ini? Kirimkan saja hadiah ke idolamu.
Kami menyuruhmu pergi. Gendut, kau tuli?
Kembalikan poster itu kepadanya.
Kau pikir, siapa dirimu?
– Apa? – Aku ingin mendaftar itu.
Berikan kepadaku.
Kubiarkan kalian lolos kali ini saja.
Aku takkan segan–segan kepada kalian lain kali.
Astaga. Badan besarmu tak ada gunanya.
Rok–hee, kau yang terbaik.
Tapi maafkan aku. Kau tak bisa bergabung.
Bergabung dengan apa?
"Hanya siswa laki–laki yang boleh bergabung."
Tapi kurasa kau bisa dianggap sebagai seorang laki–laki...
Diam.
Aku akan mengizinkanmu bergabung.
Takkan ada yang tahu kau seorang perempuan.
Para senior mundur ketika Rok–hee menyuruh mereka mengembalikannya.
Rok–hee sangat karismatik.
Ya, 'kan? Ketika pertama melihat Rok–hee,...
...aku menyapanya dengan sopan.
Kupikir, dia seniorku.
Bahkan ada gosip tentang dia itu perundung.
Astaga. Perundung apanya.
Astaga.
Astaga, buka mulutmu.
Kau seharusnya makan dengan hati–hati.
Rok–hee.
– Rok–hee. – Hei, Ha–ni.
Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau pergi ke AS.
Kau terkejut, 'kan? Aku sudah kembali ke Korea.
Sungguh? Kau bahkan belum lama pergi.
Aku memohon mati–matian kepada orang tuaku...
...dan akhirnya, mereka mengirimku kembali.
Siapa dia?
Aku Ji–na. Oh Ji–na.
Aku Ban Ha–ni, teman baik Rok–hee.
Dia menggemaskan sekali. Apakah dia manusia?
Bukankah dia seorang peri?
Ya, 'kan?
Sepertinya, dia adalah teman Rok–hee.
Serius? Bagaimana bisa peri itu berteman dengan Rok–hee?
Dia mencoba untuk bersikap secantik mungkin.
Siapa yang lebih cantik? Aku atau dia?
Tentu saja dirimu.
Standar orang sangat rendah.
Ro–bin berbeda dari yang lain.
Rok–hee, ayo kita makan.
Hei,...
...kau tak bisa melihat Rok–hee sedang bersama kami?
Kenapa kau membawanya pergi seperti itu?
Kita bisa makan bersama. Ha–ni, ayo kita pergi.
Ya, ayo makan bersama.
Kenapa kau baik sekali?
"Tidak ada sisa makanan hari ini. Tolong habiskan semuanya."
Kau bilang dirimu dari AS. Kenapa kau kembali ke Korea?
Di AS pasti jauh lebih enak...
...karena kau tak perlu belajar banyak.
Aku lebih menyukai Korea.
Apakah kau merindukan kampung halaman?
Bagaimana bisa mereka berpikir semangka ini cukup?
Aku menyukai semangka.
Ini tidak cukup.
– Untuk apa ini? – Sayang jika dibuang.
Apakah aku pengolah limbah makanan?
Aku hanya memakannya karena itu semangka.
Astaga, dia seharusnya memberikannya kepadaku.
Aku menyukai semangka.
Bisakah kau memberiku beberapa daunperilla?
Baik. Ambil nasinya juga.
– Sedikit saja. – Dia mengambil semuanya.
Ini enak sekali.
Panas sekali.
– Menyingkir. – Benar–benar panas.
Kalian memakai banyak energi karena bukan kalian yang membayar.
Apakah kalian tahu seberapa tinggi tagihan listrik kita bulan lalu?
Kalian tidak punya hati nurani.
Cuacanya tidak terlalu panas.
– Astaga. – Astaga.
Nyaman sekali.
Di ruang guru seperti sauna.
Aku berharap, kita bisa menyalakan AC.
AC di kantor kepsek mungkin menyala pada level tertinggi.
– Aku tak tahan lagi. – Bu Jung...
Masa bodoh.
Biarkan angin bertiup
Kau tak mendengar kepsek bilang kita harus menghemat energi tadi?
Bolehkah kami menyalakannya sebentar saja?
Tidak, kita tak boleh menyalakannya.
Aku akan membawa pengendali jarak jauh ini.
Dasar berengsek.
Apa?
Aku bilang, cuacanya panas sekali.
Baik.
Itu mencurigakan.
"Terjemahan, Dasar Berengsek"
Aku berengsek?
Kudengar kedaitteokbokki baru di dekat sekolah benar–benar enak.
Kau mau ke sana hari ini?
– Tentu. – Shin–ae, ikutlah dengan kami.
Aku tidak bisa. Aku harus pergi ke tempat les.
– Aku akan ikut lain kali. – Baik.
Rok–hee, bagaimana denganmu?
Rok–hee, ayo kita pulang.
– Hari ini... – Kami mau pergi makantteokbokki.
Begitukah?
Ha–ni, apakah kau ingin ikut dengan kami?
Tidak perlu. Aku akan pergi dengan Ha–ni.
Ayo makantteokbokki lain kali.
Ha–ni, ayo kita pergi.
Baik.
Dia lancang sekali.
Ji–na, kenapa kau meminta dia untuk bergabung?
Jangan melakukan itu lain kali.
Bagaimana tidak? Dia temannya Rok–hee.
Astaga, kau terlalu peduli terhadap orang lain.
Tunggu aku.
"Tteokbokki Terpedas di Dunia Gratis jika bisa makan tanpa air."
– Selamat makan. – Terima kasih.
Baik, ayo kita makan.
Pedas sekali.
Omong–omong, bukankah Ha–ni agak aneh?
– Aneh bagaimana? – Apakah Rok–hee barang miliknya?
Dia selalu menempel kepadanya. Ini mencurigakan.
Mereka bersahabat. Jangan berlebihan.
Aku tak tahan. Aku butuh air.
Tidak. Jika kau minum, kita harus membayar.
– Aku butuh sekali. – Tidak.
– Tidak, satu teguk saja. – Tidak boleh.
– Tidak. – Aku hanya akan minum satu teguk.
Jae–yi, kau menyelamatkanku.
Kupikir aku sedang sekarat.
Kenapa kau minum? Kau tak bisa menahannya?
Kau seharusnya menahannya.
– Kini kita harus membayar. – Maaf. Ji–na sangat kepedasan.
Karena ini salahku, aku akan membayarnya.
– Tidak apa–apa. – Tidak perlu.
Tidak apa–apa. Akan kubayar.
Terima kasih. Nikmati makananmu.
– Sampai jumpa. – Dah.
Bukan hanya karena dia membelikan kitatteokbokki,...
...tapi dia pria yang baik.
– Apa ini? –Tteokbokki.
– Kenapatteokbokki? – Ingin saja.
Katanya, rasanya pedas sekali. Makanlah pelan–pelan.
Memangnya aku anak kecil?
Sudah kubilang ini pedas.
Kenapa kau tersenyum?
Tidak, satu teguk saja.
Menggemaskan sekali.
Kau gila?
Apakah kau seorang bocah? Kau bahkan tak kuat memakannya?
Berikan kepadaku.
Tahanlah seperti seorang pria.
Apakah kau bercanda?
– Ambil. – Berikan kepadaku.
Ada di sini.
Ya, Bu?
Tentu saja kami baik–baik saja.
Ro–bin baik–baik saja.
Kami makantteokbokki bersama.
Baik.
Tunggu, Bu.
Aku akan memberi teleponnya kepada Ro–bin. Ya.
Ini aku, Ro–bin.
Ya, jangan khawatir.
Aku juga menyayangi Ibu.
Kau sudah selesai makan?
Kita berjalan pulang bersama untuk kali pertama...
...setelah sekian lama.
Rok–hee, kau mau makantteokbokki? Aku yang mentraktir.
Tidak, aku harus membeli sepatu kets.
Kau bilang mau kepada Ji–na.
Kau tak ingin pergi denganku?
– Apa? – Kau tampak dekat dengan Ji–na.
Apakah kau lebih dekat dengannya daripada aku?
Apa yang kau bicarakan? Kami semua berteman.
Awas!
Berjalanlah di sisi ini.
Kau benar–benar tidak berubah sedikit pun.
– Apa? – Lupakan. Ayo kita pergi.
Itu bagus. Tampak cocok padamu.
Hei,...
...apakah hanya ini yang kau punya?
Ya, hanya itu.
Apa–apaan ini?
Kau tak sekaya penampilanmu.
Sial.
Sepatumu bagus.
– Lepaskan. – Apa?
Lepaskan sepatumu.
Aku tidak bisa.
Ibuku membelikan ini untukku sebagai hadiah ulang tahun.
– Kumohon. – Hei,...
...katakan saja kepadanya untuk membelikanmu sepasang lagi.
Cepat lepaskan.
– Haruskah kita menjual ini? – Bisa kau pakai saja.
– Haruskah? – Mereka terlihat cocok padamu.
Kalian sangat menyedihkan.
Hei, serahkan sepatu kets itu.
Rok–hee,...
...apa yang sedang kau lakukan? Kau berencana memakainya?
Apakah kalian harus mengambil barang–barang seperti ini?
Aku terlalu malu untuk bergaul dengan kalian sekarang.
Hei, siapa yang mengizinkan?
Aku sendiri.
Kenapa? Kalian ingin mencoba untuk menghentikanku?
Tunggu.
Ini.
Jangan sampai sepatumu diambil lagi.
Kenapa kau menatapku seperti itu? Tatapan itu menusuk.
Kau yang mengembalikan sepatuku saat itu.
Kau tampak sangat berbeda saat itu.
Itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak ingat.
Kau tidak ingat? Mau kuperlihatkan fotonya?
Kapan kau mengambil ini?
Hapuslah.
Kau sudah banyak berubah.
Omong–omong, apakah teman–temanmu tahu?
Bahwa aku dulu berandalan?
– Mereka mungkin tidak tahu. – Berarti,...
...masa lalumu adalah rahasia antara kau dan aku, 'kan?
Berarti aku adalah teman terdekatmu, 'kan?
Kau membuatku jijik.
Permisi. Aku mau membeli ini.
Baik, tolong tunggu sebentar.
Dulu dan sekarang, kau masih satu–satunya untukku.
Rok–hee, aku punya sesuatu untukmu.
Ambil ini.
Apa itu?
Aku punya yang sama. Jangan sampai hilang.
– Silakan. – Terima kasih.
Kenapa lauknya banyak sekali?
Nenekmu mengirimkannya untuk kita. Pastikan untuk meneleponnya nanti.
– Baik. – Di mana Bibi Seon–hee?
– Dia bilang ada rencana. – Hei,...
...ini darurat. Bagaimana tampilan ini?
Jelek.
– Bagaimana dengan ini? – Itu membuatmu terlihat tua.
Tampak sangat buruk.
Apa yang harus kulakukan? Aku tak punya pakaian.
Seharusnya, aku berbelanja.
Apakah pria itu kembali dari perjalanan bisnisnya?
Kupikir begitu. Harus berjalan baik hari ini.
Ya, 'kan?
Aku akan pergi.
Bibi Seon–hee,...
...semoga berhasil.
Bahkan jika kau gagal bertemu,...
...jangan minum–minum.
Astaga, kau menjengkelkan sekali.
Eun–hee, aku mungkin tak pulang hari ini.
– Jangan tunggu aku. – Silakan saja.
"Pukul 18.05"
"Pukul 19.30"
Aku duduk di dekat jendela.
Lalu lintasnya buruk, ya?
Santai saja. Apa terjadi sesuatu?
Aku minta maaf, Sayangku. Aku di bandara.
Aku tiba–tiba dipindahkan ke luar negeri.
Aku tidak bisa memintamu untuk menungguku.
Kurasa, ini adalah akhir dari hubungan kita.
–Sampai jumpa. – Tidak...
Ini tak mungkin terjadi.
Gi–jun, aku bisa menunggumu.
Kupikir, aku akan bisa menikah.
Bisakah kau membawa semangka ini ke tempat Jae–yi?
Kalian bisa makan ini nanti.
– Baik. – Aku juga ingin pergi.
Kau biasanya sangat malas. Apa yang sedang terjadi?
Ada apa, Ji–na?
Hai, Sa–na.
Ibuku menyuruhku membawakanmu semangka.
Nenekku mengirim semangka besar.
Sungguh? Terima kasih.
Apa kalian ingin masuk sebentar? Aku akan mengembalikan wadahnya.
– Tentu. – Biar kuambil.
Kalian tidak mirip orang tuamu.
Sungguh? Semua orang mengatakan itu.
Terima kasih atas semangkanya.
Katakan kepada ibumu, aku juga mengucapkan terima kasih.
Baik.
Akan sulit menghabiskannya sendiri.
Ro–bin bilang dia tidak suka semangka.
– Apa? – Omong–omong,...
...apakah Ro–bin tak ada di rumah?
Ro–bin ada di kamar mandi.
Apa? Ji–na, apa yang kau lakukan di rumah kami?
Hei, celemek dan sarung tangan karetmu...
Kau berpura–pura keren di sekolah.
Aku perlu menunjukkan ini kepada semua orang.
Jangan memotretku.
Sudah kubilang jangan memotret.
– Tidak, hasilnya bagus. – Berikan ponselmu kepadaku.
– Ayo pergi, Sa–na. – Kemarikan ponselmu.
– Dah, teman–teman. – Ayo pergi.
Lebih baik, aku makan semangka.
– Selamat tinggal. – Kita sudah sampai, Bu.
Sulit kupercaya.
– Aku bilang, kita sudah sampai. – Inilah akhirnya...
Kita sudah sampai!
Diamlah!
Aku perlu sendirian sekarang.
Astaga.
Wanita itu lagi.
Apa aku perlu melakukan eksorsisme untuk menyingkirkannya? Astaga.
Rok–hee.
Dia manis sekali.
Rok–hee, aku membeli sepatu kets juga.
Modelnya sama seperti milikmu.
Lakukan hal–hal seperti ini dengan pacarmu.
Kau mau ke kamar mandi? Aku juga.
– Apa yang kau lakukan? – Aku tak ingin pergi sendiri.
– Ayo pergi bersama. – Astaga.
Rok–hee, ada apa dengan bibirmu?
– Apa? – Kering sekali.
Diam.
Lupakan. Aku akan pergi.
Aku akan pergi dan mengedit beberapa video musik.
– Kedengarannya bagus. – Ayo kita pergi.
Aku tak sempat membuat plakat. Aku harus mengedit.
Rok–hee, kau ingin mengerjakan PR kelompok hari ini?
– Mari? – Ya.
Rok–hee, ayo kita pulang.
Kau harus pergi sendiri hari ini.
Aku harus melakukan sesuatu dengan Ji–na.
Aku tak ingin pergi sendiri.
Tak bisakah kalian melakukannya di sekolah besok?
Ha–ni, jangan berlebihan.
Kapan kau akan berhenti mengikutiku?
Rok–hee,...
...apakah bersamaku terasa menyebalkan?
– Bukan itu... – Aku mengerti. Kau kesal.
Aku mengganggumu.
Aku bahkan tidak sadar.
– Ha–ni, bukan itu. – Aku minta maaf.
Aku akan pergi.
Ha–ni.
Ha–ni! Bangun, Ha–ni.
Ha–ni, bangun.
– Ha–ni. – Apa yang harus kita lakukan?
Ha–ni.
Ha–ni, apa kau baik–baik saja?
Bagaimana perasaanmu?
Aku baik–baik saja.
Kupikir, itu karena anemiaku.
Aku terkejut sekali.
– Apakah kau mengkhawatirkanku? – Tentu saja.
Apakah kau bisa berjalan? Aku akan mengantarmu pulang.
Aku minta maaf karena mengganggumu.
Aku bisa pulang sendiri. Kau bisa pergi jika sedang sibuk.
Tidak apa–apa. Tasmu ada di sini.
Ayo pergi.
Masuklah.
Rok–hee, apa kau mau makan di rumahku?
Mau memesan piza?
Rok–hee, mampirlah sebentar.
Ya, aku membeli ayam.
Bagaimana aku bisa membeli alkohol?
Aku tidak mau. Kau saja, Bibi Seon–hee.
Akan kututup.
Astaga, toko jelek macam apa ini?
– Aku tahu. – Aku kesal sekali.
Ayo kita pergi.
Permisi.
Kau berbicara dengan kami? Apa?
Kau seharusnya tidak melakukan itu.
– Melakukan apa? – Kenapa kau menendang...
...tempat sampah di depan toko itu?
– Semuanya tumpah keluar. – Astaga.
Tadi aku kesal terhadap pemilik tokonya,...
...tapi kau membuatku marah.
Jadi, apa yang kau inginkan?
Kau ingin aku memungut sampahnya?
Kau akan dihajar jika berbicara seperti itu.
Apa yang kalian lakukan?
Mari kita bicarakan.
Aku terlambat.
Ayahku akan memarahiku.
Ji–na, sedang apa kau di sini? Ayo pergi.
Rok–hee?
Astaga. Itu benar–benar Rok–hee.
Senang sekali melihatmu.
Apakah dia temanmu?
Sepertinya, kau benar–benar berteman sekarang.
Jangan ganggu dia.
Bagaimana jika kami mengganggunya?
Apa yang akan kau lakukan jika kami mengganggunya?
Ketika aku memberimu isyarat, larilah secepat yang kau bisa.
Kita bertemu untuk kali pertama sejak lama.
Akan menyedihkan bagimu jika pergi begitu saja.
Dua... Lari!
Hyo–joo, apa kau baik–baik saja?
Sial.
Bagaimana dengan mereka?
Mereka tidak bisa mengikuti kita.
– Kupikir, aku akan mati. – Kau berani sekali.
Bagaimana bisa gadis kecil sepertimu melawan begitu?
Aku tahu.
Jika bukan berkatmu...
Omong–omong, apa kau mengenal gadis–gadis itu?
Ya.
Masalahnya adalah...
Maaf. Kau tak perlu memberitahuku jika tidak mau.
Tidak, itu bukan masalah besar.
Sebenarnya...
Jadi, apa itu sebabnya kau sengaja datang ke sekolah ini?
Ya. Karena aku tidak ingin bertemu dengan mereka.
Aku tidak menduga akan bertemu mereka di sini.
Apakah kau baik–baik saja?
Apa?
Apakah kau tidak takut kepadaku?
Aku tahu anak–anak lain takut kepadaku.
Aku tidak pandai berbicara dan memberikan kesan yang baik.
Kenapa aku harus takut?
Rok–hee, kau terlihat sangat keren ketika menyelamatkanku.
Omong–omong,...
...tendanganmu luar biasa.
Kau tahu cara melakukan hal–hal itu?
Kenapa kau tidak memberitahuku?
Aku tidak sengaja merahasiakannya.
– Ikuti aku. – Kerjakan dengan cepat.
Itu benar. Seperti burung.
Menyengat seperti lebah! Ya! Itu bagus.
– Rok–hee, kau terlambat! – Aku datang dengan temanku.
Sapa dia. Ini ayahku.
Halo, aku Oh Ji–na.
Ji–na.
Sudah lama sejak Rok–hee membawa seorang teman.
Rok–hee,...
...santai saja pada latihan hari ini dan tunjukkan temanmu.
Ayo mulai lagi! Bergerak dengan cepat.
Gerakkan kakimu.
Lakukan seperti Rookie. Hei!
– Meninju. Menghindar. – Latihan? Apakah untuk tinju?
– Ya. – Astaga.
Lalu apakah kau seorang petinju?
Aku bukan seorang petinju.
– Aku hanya latihan dengan ayahku. – Aku melihat.
Jadi, itu sebabnya kau sangat lincah.
Siapa itu?
Apakah dia seorang petinju terkenal?
Kau tidak perlu tahu.
Maksudku...
Aku mengerti bahwa kau masih muda,...
...tapi tidak tahu Rookie?
Ini dia.
Kau tidak tahu ini?
Aku adalah juara.
Itu terkenal. Kau tidak tahu ini?
Kau bisa berhenti sekarang.
Hei!
Dia bilang, dia tidak tahu.
Teman Rok–hee tidak mengenal Rookie!
Aku tahu.
Astaga.
Aku kecewa sekali.
Ayahmu pasti sangat menyukai film itu.
Rok–hee, berarti namamu...
...juga dari filmnya?
Itu benar. Ini dari filmRookie.
Jika anak laki–laki, namanya adalah Rok–gi.
Jika itu anak perempuan, namanya adalah Rok–hee.
Itu keren sekali.
Aku akan memberi tahu semua orang.
Kau memiliki nama yang sama dengan pria itu.
Rok–hee lebih baik.
Lalu apakah kau menonton semua film?
Kami menontonnya lebih dari 100 kali.
Aku tidak tahu kenapa dia tidak bosan.
– Kau memperhatikan semuanya? – Ya.
"Ha–ni"
Itu adalah film lama.
Ayahmu luar biasa.
Dia aneh.
Rok–hee, kenapa kau bersama Ji–na?
Kau menghabiskan semua waktumu untuk manikur alih–alih belajar, ya?
Aku selalu pandai dalam hal–hal seperti ini.
Kau menganggap dirimu sempurna, bukan?
Ji–na pergi membeli ayam, tapi dia belum pulang juga.
Dia memelihara ayam atau apa? Aku lapar sekali.
Aku kembali.
Ke mana saja kau?
– Mana ayamnya? – Entahlah.
Aku hampir mati saat membeli ayam.
Aku akan mandi.
Ji–na, paling tidak seharusnya kau menelepon.
– Kita bisa pesan antar. – Hei,...
...kau tak makan sendiri ayamnya, 'kan?
Jika kau memakannya sendiri,...
...ayam itu akan menjadi lemak di pipimu.
Astaga, aku sangat lapar.
Dia dingin, tapi tampan.
Dia akan terlihat sangat manis jika tersenyum,...
...tapi dia tak tersenyum.
Ro–bin, apa yang bisa membuatmu tersenyum?
Ro–bin, sedang apa?
Aku tak melakukan apa pun.
Ro–bin,...
...gadis seperti apa yang kau sukai?
Kenapa kau bertanya?
Aku hanya bertanya.
Apa kau suka gadis dengan wajah mirip kucing atau anjing?
Bagaimana kau mendefinisikan wajah seperti kucing dan anjing?
Sa–na memiliki wajah seperti anjing...
...dan aku memiliki wajah seperti kucing.
Terserah. Aku suka wajah manusia.
Astaga, kau sangat dingin.
Kau suka lagu apa? Makanan apa yang kau sukai?
Makanan apa yang tak kau sukai? Apa musim dan warna favoritmu?
Kenapa kau mengajukan banyak pertanyaan? Berhenti.
Tunggu, aku punya satu pertanyaan lagi.
Apa pendapatmu tentang Sa–na?
Apa maksudmu?
Tidakkah Sa–na sangat cantik?
Aku tak mengatakan ini karena dia saudariku,...
...tapi dia baik, cantik, dan manis.
Siapa pun yang berpacaran dengannya...
...adalah orang paling beruntung di dunia, benar?
Ya. Sa–na manis.
Tapi kenapa kau tiba–tiba membicarakannya?
Dia bilang aku manis.
Aku hanya memberitahumu agar memperlakukannya baik.
Kakakku...
Maksudku, dia seratus kali lebih baik daripada Ji–na.
Kau Ji–na.
Kenapa kau berbicara seperti bukan dirimu?
Kau benar. Aku Ji–na.
Ibuku memanggilku. Sampai jumpa, Ro–bin.
Siapa yang kau kirimi pesan sepanjang itu?
Seseorang. Kau tak perlu tahu.
Ro–bin, senyummu menghiburku.
Jika vitamin adalah manusia, itu adalah kau.
Kau adalah vitamin manusia.
Jadi, banyaklah tersenyum mulai sekarang.
Apa yang terjadi kepadanya?
Aku vitamin manusia?
Astaga, aku hampir ketahuan.
Apa?
Sa–na, apa yang kau lakukan dengan ponselku?
Tak ada. Jangan menuduhku.
Jangan pernah lagi memakai ponselku.
Kau sangat picik. Tidak lagi–lagi, paham?
"Survei Pencegahan Kekerasan di Sekolah"
"Bae Shin–ae"
– Aku mendukung ini. – Aku juga.
Kita butuh pulpen.
Rok–hee, bisa aku meminjam pulpen?
Terima kasih.
Apa ini?
Astaga, dia seharusnya datang.
– Kenapa dia tak datang? – Ya. Entahlah.
– Rok–hee. – Dia di sini.
Ini. Makanlah.
Ini.
– Dia akan memberi kita juga. – Aku juga.
Astaga, dia manis juga baik.
– Takkan kumakan. Kusimpan saja. – Jangan ambil milikku. Tak boleh.
– Bagaimana dengan Ji–na? – Aku mau milikmu.
– Berikan kepadaku, ya? – Maaf.
Sudah habis semua.
Tak apa–apa. Aku bisa gemuk jika memakannya.
Tak apa–apa jika kau menjadi gemuk.
Lemak pipimu sangat menawan, jika makin dilihat.
Astaga, kau sangat manis. Aku iri.
Itu sakit.
Maaf. Tapi kau manis sekali.
Aku tak punya lemak pipi, jadi, aku iri pada hal–hal itu.
Dia mencoba menghinamu, bukan?
Apa kau melakukan sesuatu kepadanya?
Aku tak tahu.
Itu menyakitkan.
Pulpen itu...
Aku punya yang sama. Jangan sampai hilang.
Aduh.
Apakah masih sakit?
Minum ini dan cerialah.
Terima kasih.
Kembalikan!
– Tidak mungkin. – Ayolah.
– Maaf. – Hei, Seon–soo!
Rok–hee, aku mencarimu. Dari mana kau?
Aku tadi di kamar mandi.
Bersama Ji–na?
"Ha Rok–hee"
Pakaian olahraga itu...
Itu milik Rok–hee?
Ya. Rok–hee meminjamkanku pakaiannya...
...karena milikku basah.
Sudah waktunya masuk kelas. Ayo.
Ha–ni, kami pergi dulu.
– Apa? – Lupakan.
Bukan apa–apa.
– Kenapa mesinnya? – Ji–na.
Ji–na, apa kau mau ikut kencan buta?
– Kencan buta? – Dia tampan dan tinggi.
Dia sangat manis.
Kenapa pria seperti dia pergi kencan buta denganku?
Kenapa tidak?
Kutunjukkan fotomu kepadanya, dia bilang kau manis.
Cobalah temui dia.
Ji–na, apa kau akan pergi ke kencan buta?
Tidak, aku tak bilang akan melakukannya.
Kau akan pergi kencan buta?
Sebaiknya jangan.
– Kenapa? – Aku merasa kasihan padanya.
Dia hanya melakukan pekerjaan amal.
Apa? Pekerjaan amal? Berandal.
Ha–ni, aku ikut. Dia bilang aku manis, 'kan?
Kau mau ikut? Aku akan menetapkan tanggalnya.
Baiklah.
Kenapa kau seperti itu kepada Ji–na?
Bukankah Ji–na manis?
Apa maksudmu manis?
Kenapa minumannya tak keluar?
Bagus!
Siapa itu?
Pria kenalanku.
Aku menjodohkannya dengan Ji–na besok.
Ji–na?
Ji–na bilang mau melakukannya?
Ya, pria ini di luar jangkauannya.
Rok–hee, apa yang harus kita lakukan besok?
Aku ingin pergi ke Menara Namsan. Apa kau ingin pergi bersama?
Aku benci tempat ramai.
Sekali ini saja.
Baiklah.
– Sungguh? – Ya.
– Kau lihat pengisi dayaku? – Sudah kubilang ketuk dulu.
Aku bertanya apa kau melihat pengisi dayaku?
Kurasa itu ada di meja dapur.
Benarkah?
Apa yang kau tonton?
Kenapa kau begitu terkejut?
– Kau merasa bersalah? – Apa maksudmu bersalah?
Ini tak seperti yang kau pikirkan.
Apa yang kupikirkan?
Bahkan aku belum menontonnya.
Kurasa kau memang lebih tua.
Astaga, itu sungguh tak seperti yang kau pikirkan.
Astaga.
Sedang apa kau? Ada masalah dengan sepedamu?
Apa? Apa aku terlihat aneh? Apa ini tak cocok untukku?
Tidak. Kau terlihat aneh. Itu tak cocok untukmu.
Urus masalahmu sendiri. Aku menyesal sudah bertanya.
Ji–na,...
...mau ke mana kau berpakaian cantik begitu?
Kau akan berkencan atau apa?
Entahlah.
Dia memang akan berkencan, ya?
Bagaimanapun,...
...Ji–na tampak sangat cantik dengan pakaian seperti itu, ya?
Benar?
Entahlah.
Apa kalian tak tahu apa–apa?
Berandal.
Teganya dia begitu saja mengatakan aku tampak aneh.
Menyebalkan.
Aku ingin tahu kencan buta Ji–na berjalan dengan baik atau tidak.
Jangan khawatir. Pria itu orang baik.
Omong–omong, bagaimana kau bisa dekat dengan Ji–na?
Kau selalu sendirian.
Jika bukan karena Ji–na, aku akan tetap sendirian.
– Sulit isa kupercaya. – Tunggu, aku salah bilang.
Aku serius.
Kubilang aku benar.
Kau baik–baik saja?
Kau baik–baik saja? Apa kau terluka?
Ya, aku baik–baik saja.
Ada apa dengannya? Dia menabrakku.
Bukankah itu Rok–hee?
– Kurasa dia menyandungnya. – Bukankah Rok–hee mendorongnya?
– Kurasa ya. Mengerikan sekali. – Dia sangat jahat.
Hei, bukan itu yang terjadi.
Kalian yang menabraknya. Kenapa menyalahkan Rok–hee?
Ini salah kalian karena tak melihat jalan.
Meminta maaflah kepada Rok–hee.
Maafkan aku.
Ada apa dengan mereka? Dia yang menabraknya?
– Astaga. Ayo pergi. – Ayo.
Ada apa dengannya?
Dia sangat ingin tahu.
Begitu rupanya.
Aku harus ke kamar kecil.
Bagaimana hasilnya?
Dia belum ada di sana?
Dia akan datang. Tunggu saja.
Mencelakainya seharusnya tak sulit untuk orang sepertimu.
Celakai saja dia...
...dan pastikan dia tahu posisinya.
Aku hanya tak menyukainya.
Sampai nanti.
Apa maksudmu mencelakainya?
– Apa itu tentang Ji–na? – Tidak...
Bukan begitu.
– Ini tentang orang lain. – Kau berbohong.
Katakan yang sebenarnya. Kau berbuat apa kepada Ji–na?
Itu...
Aku hanya mencoba bercanda...
...karena kau hanya dekat dengan Ji–na.
Itu benar. Jadi, Rok–hee...
Ro–bin, Ji–na tak mengangkat teleponnya.
Carilah Ji–na.
Kenapa? Apa yang terjadi?
Kita harus menghentikan kencan buta Ji–na.
Aku tak bisa pergi sekarang, jadi, kau harus menemukannya.
Ji–na, apa kau baik–baik saja?
Apa yang terjadi dengan pakaianmu?
Ini... Bukan apa–apa. Aku baru jatuh.
Apa yang kau lakukan di sini?
Kau pergi kencan buta, 'kan?
– Apa dia melakukan itu kepadamu? – Apa yang kau bicarakan?
Bukan itu.
Aku bahkan tak bisa pergi ke kencan buta itu.
Aku akan mengambilnya nanti. Ya.
– Serahkan saja kepadaku. – Menyebalkan.
Terima kasih banyak. Dah.
Astaga.
Bu Jung, sepatumu!
Sepatumu tertinggal, Bu Jung!
Sepatumu!
Bu Jung!
Aduh.
Apa ada kecelakaan?
Bu Jung.
Apa kau Ji–na dari Kelas Satu?
Bu Jung, ini sepatumu.
Omo. Aku pasti sudah gila.
Omo. Ini sangat memalukan.
Ji–na, terima kasih. Terima kasih banyak.
Tapi mari kita jaga rahasia ini dari anak–anak lain.
Ini rahasia.
Astaga. Kencan butanya.
Apa yang kulakukan?
Jadi, kau bahkan tak bisa bertemu dengannya?
Tidak.
Dia sangat marah.
Itu salahku karena terlambat.
Tapi lagi pula, pria tampan bukan jangkauanku.
Aku akan mengantarmu pulang. Naiklah.
Aku sungguh baik–baik saja. Tak perlu memberiku tumpangan.
Kubilang akan memberimu tumpangan, ingat?
Naiklah.
– Aku berat, 'kan? – Ya. Setidaknya kau tahu.
Hei, jujur saja,...
...aku hanya terlihat gemuk karena lemak pipiku.
– Tanpa lemak pipiku ini... – Hanya lemak pipimu?
Kau ini...
Baik. Itu melegakan.
Sampai aku sendiri yang memberi tahu Ji–na,...
...tolong rahasiakan ini. Ya. Terima kasih.
Kenapa kau melakukan itu?
Kenapa kau melakukan itu kepada Ji–na?
Aku hanya bercanda.
Kau ingin pria itu menakutinya dan mengacau dengannya.
– Kau sebut itu bercanda? – Tak ada yang terjadi.
Bukankah itu baik–baik saja kalau begitu?
Kau bercanda?
Ha–ni,...
...apa kau selalu seperti ini?
Bagaimana kau bisa mengatakan itu kepadaku?
Apakah Ji–na berharga bagimu? Bahkan lebih dari aku?
Apa yang kau bicarakan? Kau yang bersalah.
Segera meminta maaf ke Ji–na.
Aku tak mau. Tidak akan. Aku tak bisa.
Kau tak mau?
Maka aku takkan menemuimu lagi.
Baiklah. Akan kulakukan. Aku akan meminta maaf.
Aku akan meminta maaf. Jangan membuatku takut begitu.
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Ada apa? Kenapa kau ingin bicara di sini?
Ji–na, aku sangat menyesal.
– Ini semua salahku. – Kenapa? Apa yang terjadi?
Ada orang lain yang harus meminta maaf kepadamu.
Aku akan memberitahumu semuanya begitu dia tiba di sini.
Kurasa ada sesuatu di mataku.
Biar kulihat.
Aku tak melihat apa–apa.
Benarkah? Rasanya seperti ada sesuatu di sana.
Diam.
Sulit kupercaya aku harus meminta maaf kepada Ji–na.
Aku benci Rok–hee.
Tapi aku sudah berjanji kepada Rok–hee.
– Apa kau baik–baik saja? – Tidak.
Sudah kuduga.
Ji–na, apa kau mencoba mencuri Rok–hee dariku?
Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi.
Apa yang terjadi? Katakan kepadaku.
Sejujurnya...
Kenapa Ha–ni melakukan itu kepadaku?
Dia cemburu padamu.
Tapi dia setuju merenungkannya dan meminta maaf kepadamu.
Kurasa ada sesuatu.
Aku akan berbicara lagi dengannya setelah kelas.
Aku akan pergi ke kantin. Bagaimana dengan kalian?
Aku ingin pergi juga.
Belikan aku es krim.
Apa kau melihat Ha–ni?
Aku tak bisa menghubunginya.
Dia takkan menyebabkan masalah, 'kan?
Jangan khawatir. Tak ada yang akan terjadi.
Kau seorang petinju.
– Pindahkan bahumu ke depan. – Seperti ini?
Rasanya tidak benar.
Bukan seperti itu caranya.
– Bahumu. – Bahuku?
Itu terasa sangat canggung.
Ji–na, ini semua salahmu.
Ji–na!
Rok–hee!
Rok–hee, apa kau baik–baik saja?
Rok–hee.
Aku...
Aku mengenai Rok–hee...
– Rok–hee! – Rok–hee!
– Apa yang harus kita lakukan? – Rok–hee.
– Apa yang terjadi? – Apa kau baik–baik saja?
– Pot bunganya jatuh. – Astaga.
– Apa yang harus kita lakukan? – Apa kau baik–baik saja?
Apa kau baik–baik saja?
Rok–hee, maafkan aku.
Karena aku...
Kenapa aku bisa seperti ini?
Aku hanya ingin menjadi temanmu,...
...tapi aku menyakitimu seperti ini.
Apa yang harus kulakukan tentang diriku?
Kuharap kau bisa melupakanku.
Ha–ni, apa yang kau lakukan di sini?
Aku khawatir Rok–hee mungkin terluka parah.
Kau khawatir? Kaulah yang melakukan ini.
Kau tak tahu malu.
Berisik sekali.
Aku tak bisa tidur karena suara kalian.
Rok–hee, kau sudah bangun.
Apa yang sedang kau lakukan? Jangan peluk aku.
Rok–hee, maafkan aku.
Aku sangat menyesal.
Siapa...
Siapa kau? Kenapa kau meminta maaf kepadaku?
Rok–hee, kenapa kau seperti ini?
Maafkan aku. Kumohon maafkan aku.
Memaafkan?
Memaafkanmu untuk apa?
Rok–hee, apa kau bercanda?
Untuk apa aku bercanda dengan orang yang baru kutemui?
Aku Ha–ni.
Aku selalu mengikutimu. Apa kau sungguh tak mengingatku?
Kau berbohong. Mustahil kau bisa melupakanku.
Ingat aku. Ingatlah namaku!
Hentikan. Apa yang kau lakukan kepada seorang pasien?
Keluar.
Itu benar.
Rok–hee berakhir seperti ini karena kau, Ha–ni.
"Apa kau akan menjadi Dewi Pembalas Dendam?"
"Masukkan nama target."
Ingat aku.
"Ban Ha–ni"
"Target memenuhi semua kondisi."
"Kami akan melanjutkan dengan balas dendamnya."
Karena bukan benturan langsung, lukanya tak parah.
Tapi kita perlu mengawasi pemulihannya,...
...jadi, dia harus di rumah sakit selama beberapa hari.
Terima kasih.
Kita pernah bertemu, bukan?
Kita sering bertemu.
Ya.
"Kau telah dipilih sebagai target untuk membalas dendam."
Balas dendam? Apa ini?
Ada apa ini?
Kenapa ponselku melakukan ini?
Tidak!
Tidak!
Apa kau diizinkan keluar seperti ini?
Aku baik–baik saja. Cederaku tak parah.
Apa ingatanmu masih sama?
Kurasa begitu.
Dokter mengatakan itu sementara...
...dan ingatanku akan segera kembali,...
...tapi aku tak peduli meski tak kembali.
Apa Ha–ni masih satu–satunya yang tak kau ingat?
Ya. Bahkan kupikir itu sangat aneh.
Kenapa dia satu–satunya yang tak bisa kuingat?
Omong–omong, bukankah namanya lucu?
Kedengarannya sepertibunny.
Sangat lucu saat aku kali pertama mendengarnya.
Apa dia baik–baik saja?
Ro–bin, senyummu menghiburku.
Jika vitamin adalah manusia, itu adalah kau.
Aku bisa melakukan itu.
Aku bisa melakukan itu.
Kudengar kau mengunjungi rumah sakit tempat Rok–hee.
Ya, Rok–hee sudah jauh lebih baik.
Bagaimana denganmu? Apa kau baik–baik saja?
Aku baik–baik saja.
Tapi aku merasa itu terjadi karena aku.
Aku merasa tak enak.
Apa ini?
Aku menangis.
–Ro–bin, apa ini? –Aku ingin menghiburmu.
Kau bilang fotoku menghiburmu.
Sa–na, berandal itu...
Itu bukan aku.
Kupikir itu Sa–na yang bercanda.
Hapus segera.
Tapi itu menghiburku. Terima kasih.
Itu adalah tawa terbesar selama 17 tahun aku hidup.
Jangan beri tahu anak–anak lain.
Astaga, kenapa aku mengirim itu?
Seharusnya aku tak mengirimnya. Kenapa aku melakukan itu?
Ini membuatku gila.
Rok–hee, apa kau baik–baik saja sekarang?
Ya, aku sangat sehat.
Astaga, Brother.
Saat kau tak ada, aku bahkan tak melihat Ha–ni. Membosankan.
– Apa Ha–ni juga akan kembali? – Kalian tak tahu apa–apa, bukan?
Ha–ni berhenti sekolah kemarin. Kalian bahkan tak tahu?
Mustahil. Kenapa?
– Apa benar? – Kenapa kau bertanya kepadaku?
Kurasa dia kembali ke AS.
Entahlah.
– Ha–ni. – Ha–ni, tidak.
– Aku rindu Ha–ni. – Kembalilah.
Aku juga.
Haruskah kita pergi ke AS?
– Berapa ongkosnya? – Entahlah. Itu sangat mahal.
Kita tak bisa pergi. Apa yang kita lakukan?
"Balas dendammu selesai."
Kenapa kau bertanya kepadaku?
Kurasa dia kembali ke AS.
Kupikir dia tak bisa mengingatnya.
Itu sangat lucu.
Apa itu?
Dia tak pernah melupakan Ha–ni?
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
"Epilog"
Kau suka sekali semangka.
Tapi kenapa memberi tahu Ji–na kau tidak suka semangka?
Ingin saja.
-=SULTAN KHILAF=-
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.