Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
-=SULTAN KHILAF=-
– Halo. – Halo.
Kalian berdua, kemarilah.
Kemarilah.
Kau memotong rok itu menjadi setengah.
Berapa banyak yang kau potong?
Aku tak memendekkannya.
Roknya makin pendek karena aku makin tinggi.
Apa kau pohon bambu atau semacamnya?
Apa kau tumbuh 10 cm per hari?
Kau baru mengoleskan wajahmu dengan tepung, ya?
Tolong biarkan aku lolos kali ini saja.
Siapa yang tak memakai riasan seperti ini di zaman begini?
Siapa yang tidak? Lihatlah tepat di belakangmu.
Lihat mereka.
Lihat.
– Joo–ri! – Hei.
– Jadi, semalam... – Bagaimanapun,...
...kalian mendapatkan poin, paham?
Aku dapat poin lagi.
Ya, Kepala Sekolah. Ya.
– Aku serius. – Dia terlihat sangat bodoh.
Kita mendapat masalah karena anak–anak seperti dia.
Aku akan segera ke sana. Ya.
– Hei, Do–min. – Ya?
Tuliskan nama mereka. Kau yang berjaga, ya?
Aku harus ke suatu tempat. Aku akan pergi sekarang.
Hei, Celana Ketat.
Kemarilah.
Kau menyebut ini seragam? Ini celana ketat.
Berdiri di sana.
Hei!
Ya, kau.
Benar–benar anak baru yang arogan. Aku menyitaearphone milikmu.
Kita tak boleh memakainya di sekolah?
Tentu saja tidak.
Begini, ini...
Baiklah kalau begitu.
Hei!
Berhenti di sana! Hei!
– Kau berani sekali. – Apa?
Kukira kau belum tahu karena baru pindah ke sini.
Ketua OSIS kami tak seperti ketua lainnya.
Dia petarung terbaik di sekolah kita.
Tapi dia ada di OSIS?
Dia tak menimbulkan masalah karena dimasukkan ke OSIS.
Para siswa juga takut kepadanya.
Ini sempurna untuk para guru.
Tapi dia memiliki temperamen yang sangat tinggi.
Jangan macam–macam dengannya. Kau hanya akan mempersulit dirimu.
Hei, aku berbicara denganmu!
Jadi...
Dia benar–benar membuat jengkel Ketua OSIS pagi ini.
Dia melampiaskannya padaku.
– Apa yang dia pikirkan? – Sungguh.
Dia pasti petarung terbaik di sekolahnya dulu.
Mustahil.
Ketua OSIS sedang menunggu waktu untuk menghajarnya.
– Tamatlah riwayatnya. – Benar.
Jika itu aku, aku pasti sudah menghantamnya.
Kau ingin aku mengurusnya? Hei. Jangan hentikan aku.
– Kau tak bisa berbuat apa–apa. – Hei, hentikan.
Jangan hentikan aku.
Shin–ae, bisakah aku meminjam catatan sainsmu?
Aku tertidur selama kelas terakhir.
Astaga, apa kau datang ke sekolah untuk tidur?
Ini sedikit berantakan, tapi silakan.
Terima kasih.
Ratu Mencatat, Baek Joo–ri.
Bisakah aku melihat catatanmu sekali saja? Kumohon?
– Salinlah dengan cepat, ya? – Baik.
Catatanmu luar biasa.
Sungguh mengagumkan.
– Apa kau mengunggah ini lagi? – Tentu saja.
Tagar belajar, aku benci ujian, pencatat terhebat di sekolah,...
...raja catatan, studygram,...
...ikuti untuk mengikuti, tulisan tangan indah.
Terima kasih.
Harap tenang, semuanya.
Ingat kaus yang kita pesan untuk kompetisi sekolah?
Harganya 20.000 won per orang. Berikan kepada Joo–ri hari ini.
– Itu terlalu mahal. – Mustahil.
Harganya 20.000 won per orang?
Desainnya payah. Bisakah kita mengubahnya?
Sakit.
Ini sekolah atau tempat persembunyian pencuri?
Pak Choi, buka rekaman kamera pengawasnya.
Kita sebenarnya tak memperbaikinya saat kameranya rusak saat itu...
...karena kau bilang itu hanya membuang–buang uang.
Apa yang kau bicarakan?
Cepat perbaiki!
Setelah menangkap pelakunya, aku bersumpah...
Apa kau yakin itu bukan ulah salah satu siswa?
Pak Choi, jika ada siswa yang bersikap mencurigakan,...
...pastikan untuk mengawasi mereka dengan saksama.
Baik. Akan kupastikan untuk mengawasi dengan saksama.
Dia bahkan lebih agresif sekarang.
Apa yang sedang terjadi?
Kau tahu trofi yang disayangi oleh Kepsek seperti bayinya?
Yang dia dapat karena mencetak hole–in–one di kompetisi golf.
Astaga. Seseorang mencurinya.
Apa? Siapa yang mau mencuri itu?
Benar, 'kan?
Aku takkan mengambil sampah itu bahkan jika seseorang membayarku.
Kenapa dia berpikir para murid pelakunya?
Apa yang bisa mereka lakukan dengan itu?
Kurasa seseorang mengambilnya hanya untuk membuatnya kesal.
Suasana di sini akan tegang untuk sementara waktu.
Aku tak bisa berkonsentrasi.
– Kita berhasil. – Orangnya banyak sekali.
Sa–na, cepatlah!
Astaga.
Teman–teman, ayo pergi ke tempat lain.
– Aku akan mencari tempat lain. – Aku sudah mencari tahu.
Mereka tak ada di tempat lain kecuali di sini.
Kurasa mereka juga akan terjual habis di sini.
Semoga masih ada sisa.
Kumohon. Ayolah.
Kenapa adanya harus di sini?
Masa bodoh. Aku masih pelanggan, bukan?
Silakan.
Baiklah. Terima kasih.
Harga dompet bertali itu 10.000 won,...
...tapi hanya 5.000 jika kau juga membeli ini.
Ini pembelian yang bagus! Dompetnya juga bagus.
Temanku bilang dia keluar sejak pukul 06.00...
...untuk membelinya.
– Sungguh? – Kau pikir stoknya akan cukup...
...untuk kita beli?
Dompet bertalinya sudah terjual habis.
– Terima kasih. – Dah.
– Pak, kapan mereka datang lagi? – Aku tak yakin.
Aku tak tahu kapan akan dapat lebih banyak stok.
Kita seharusnya datang lebih awal. Kita hanya membuang–buang waktu.
Aku bisa terlambat ke akademi. Aku akan pergi sekarang.
Aku akan pergi bersamamu. Sampai bertemu besok, Sa–na.
– Dah. – Dah.
Hei, Sa–na. Kemarilah.
Kejutan.
– Ambil ini. – Aku tak menginginkannya.
Kau menyukainya, bukan? Ambil saja.
Selamat datang.
Aku tak memintanya untuk menyimpan satu untukku.
Menyebalkan sekali.
Tapi dompetnya tak melakukan kesalahan.
Astaga, aku seharusnya tidur saja.
Dia pria tampan yang jauh dari levelmu.
Kau sebaiknya membuatku bangga dan mendapatkannya.
Astaga. Baiklah, penyihir kecil.
Awas saja jika dia tak tampan.
Apa aku terlambat?
Sama sekali tidak.
Kau jauh lebih cantik daripada fotomu.
Aku sering dibilang begitu.
Apa yang mau kau pesan?
Kurasa itu karena kau seorang pengusaha.
Kau punya pandangan baru dalam banyak hal.
– Aku permisi sebentar. – Tentu.
Astaga. Sulit kupercaya.
Aku gugup sekali.
"Vitamin"
Apa ini? Vitamin?
Jantungku...
Haruskah kita makan malam bersama?
Astaga.
Ini hanya vitamin.
Selesai.
Lagi–lagi?
Ini sulit sekali.
Apanya?
Hei, Jae–yi.
Guru fisika kami bilang dia akan memberi kami nilai...
...berdasarkan seberapa jauh pesawatnya terbang.
Tapi pesawatku terus jatuh. Itu membuat frustrasi.
Sungguh?
Kau bisa memakai prinsip Bernoulli untuk pesawat kertas ini juga.
Ber... Siapa?
Dia mengatakan saat kecepatan zalir meningkat,...
...penurunan tekanan juga terjadi.
Itu yang membuat pesawat terbang di udara.
Meski ukuran dan bentuknya berbeda,...
...prinsip yang sama bisa diterapkan pada pesawat kertas.
Itu sulit, ya?
Sederhananya, jika sayapnya lebih lebar,...
...itu akan terbang lebih jauh.
Jika sayapnya lebih ramping,...
...terbangnya akan lebih dekat, tapi lebih cepat.
Berikan aku selembar kertas.
Sudah selesai.
Coba terbangkan.
Itu Ro–bin.
Sepertinya dia dalam perjalanan ke tempat kerja.
Dia berencana pergi ke mana dengan semua uang hasil kerjanya?
Apa?
Dia mengaku menabung untuk pergi ke suatu tempat.
Kau tak tahu?
Begitukah?
Dia tak banyak bicara denganku belakangan ini.
Dia tak seperti itu saat masih lebih muda.
Kerja bagus pekan ini.
Ini upahmu.
Aku juga memberikan sedikit bonus.
Terima kasih.
Im Ba–reun, Lee Myung–tae, dan Ahn Mi–nam.
Kalian belum membayar. Ba–reun, cepat bayar.
Hei.
Apa yang sedang kau lakukan? Keluarlah.
– Cepat keluar! – Baik. Aku pergi!
Joo–ri, apa yang kau lakukan? Ganti pakaianmu.
Ayo ke kamar mandi juga.
Tentu.
Keluar! Kenapa lama sekali?
Minggir.
Minggir!
– Hei. – Cepat!
– Ayo pergi. – Kita harus berlari!
Cepatlah. Kita terlambat. Guru olahraga bisa mengamuk lagi.
Satu, dua, tiga, empat.
Berlarilah. Cepat.
Seo Ro–bin, kau terlambat.
Lakukan 50push–up sebagai hukuman karena terlambat.
Jika tak melakukannya dengan baik, kau harus mulai dari awal lagi.
Paham? Lakukan.
– Lihat Ro–bin. – Itu mengagumkan.
– Dia keren sekali. – Astaga.
– Dia kuat sekali. – Mengagumkan.
Kau bisa melakukan itu?
– Dia keren sekali. – Aku tahu.
– Dia bisa melakukan 50push–up? – Dia hebat dalam hal ini.
Baiklah.
– Kalian sudah berlatih, 'kan? – Ya.
Pada kompetisi permainan bola sekolah,...
...tim yang menang akan mendapatkan nilai tambahan...
...untuk nilai pelajaran olahraga mereka.
Lakukan yang terbaik.
Para gadis akan bermaindodgeball, jadi, bersiaplah.
Haruskah kita membentuk tim untuk anak laki–laki?
Pak Choi, Yi–deun sedang sakit,...
...jadi, dia tak bisa bermain bola basket.
Sungguh? Alih–alih Yi–deun,...
– ...mari masukkan Soo–ro. – Baik.
Semangat!
Luar biasa!
Dia hebat bermain basket.
– Bukan begitu? – Dia pacarku. Dia keren sekali.
Hei, sejak kapan Ro–bin menjadi pacarmu?
Jangan khawatir. Dia akan segera mencintaiku.
Aku harus memotret ini.
Kelas Satu, kalian sebenarnya lebih baik daripada dugaanku.
Lee Myung–tae, Seo Ro–bin, dan Kang Ha–Joon.
Kalian bertiga adalah anggota tim utama.
Sisanya adalah anggota cadangan, paham?
Kalian harus berkumpul dan berlatih.
– Ya. – Ya.
Kelas hari ini selesai.
– Silakan bubar. – Terima kasih!
Udaranya panas.
Ro–bin, ini saputangan Channel milikku.
Kau bisa meminjamnya. Silakan.
Tak perlu.
Kau takut membuatnya basah karena mahal, bukan?
– Terima kasih untuk handuknya. – Hei!
Hilang!
Apanya? Apa yang hilang?
Dompetku.
Ada semua uang yang kukumpulkan untuk kaus kelas di dalamnya.
Sungguh?
Jadi, bahkan uangku juga hilang?
Carilah lebih saksama. Kau yakin menaruhnya di sana?
Aku berniat membawanya kepada Pak Guru,...
...tapi kutinggalkan di bukuku karena kau bilang kita terlambat.
– Kau melihatku, 'kan? – Ya.
Uang 400.000 won yang kukumpulkan untuk kaus itu ada di sana.
Sungguh? Teman–teman, dompet Joo–ri hilang.
Mungkin dia menaruhnya di tempat lain.
Mustahil.
Ba–reun, tutup pintunya agar tak ada yang bisa keluar.
Joo–ri, kau sudah mencari di mana–mana?
– Sudah. – Hei, kenapa kau menaruh di sana?
Kau seharusnya memberikannya kepada Pak Guru.
Ini bukan salah Joo–ri.
Lelaki yang mencurinya yang harus disalahkan.
Kenapa harus lelaki? Bagaimana kalau itu perempuan?
Apa yang kalian pikir kalian lakukan selama waktu kelas?
Kenapa dia?
Ketua Kelas, apa yang terjadi?
Setelah selesai kelas olahraga, dompet Joo–ri hilang.
Di dompetnya ada 400.000 won untuk kaus kelas.
Apa?
Joo–ri, apakah kau sudah mencari ke mana–mana?
Bahkan A–ra melihatku meletakkannya di mejaku.
Aku sudah mencari di loker, tapi tak ada juga di sana.
Begitukah? Ini buruk.
Aku tak mau menuduh siapa pun,...
...tapi ini berarti seseorang mengambilnya.
Selama kelas olahraga, kami semua meninggalkan kelas.
Jadi, itu pasti seseorang dari kelas lain.
Tak semuanya. Salah satu dari kita datang terlambat, ingat?
– Apa? – Ada yang terlambat ke gimnasium.
Ro–bin keluar terakhir dibanding kita semua.
– Apa? – Mustahil.
Mungkinkah dia?
Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah di depan seluruh kelas.
Apa kalian serius? Kini kalian mencurigai Ro–bin?
Ro–bin adalah tersangka? Mustahil.
Hanya dia seorang.
Hanya dia yang tak punya alibi.
Akan aneh jika membiarkannya pergi begitu saja.
Ro–bin hanya harus mengatakan pelakunya dia,...
...demi kebaikannya sendiri.
Ro–bin.
Apa benar kau orang terakhir yang keluar dari kelas?
Ya.
Aku akan mengatakan ini sekarang.
Kami tak mencurigaimu.
Kami hanya ingin memastikan pelakunya bukan kau.
Bisakah aku melihat isi tasmu?
Ya.
– Apa itu? – Serius?
– Apa? – Itu benar–benar dia.
Itu Ro–bin.
Diam.
Ro–bin, apa ini?
Ini upahmu.
Ini upahku dari pekerjaan paruh waktuku.
Aku lupa tentang itu.
Banyak sekali uangnya.
Apa kau yakin?
Di mana kau bekerja?
Masalahnya...
Aku akan menyimpan ini untuk sementara, ya?
Mari kita tunda ini dan memulai kelasnya.
Baiklah. Persiapkan diri kalian dengan baik untuk pekan depan.
Ro–bin,...
...ikut denganku.
Sudah kuduga pelakunya Ro–bin.
Ba–reun, jangan berkata sesukamu saat kau sendiri tak yakin.
Apa kau tak melihat amplopnya? Hanya itu yang kau butuhkan, 'kan?
Jangan menangis.
Tak apa–apa.
Baiklah.
Jujurlah kepadaku.
– Kau mencurinya, bukan? – Bukan aku pelakunya.
Jumlahnya tepat 400.000 won di sini.
Ini jumlah yang sama untuk kausnya.
Apa kau percaya jika seseorang mengatakan ini adalah kebetulan?
Baik.
Mari kita berasumsi kau berkata jujur.
Di mana kau bekerja?
Aku akan memeriksanya.
Kau tak mau menjawab?
Kalau begitu, akui saja dan mari selesaikan ini.
Dengar, Berandal Kecil. Jika ini sampai ke dewan disiplin,...
...bahkan aku tak bisa membantu.
Kau yang akan berada dalam masalah.
Kau kurang ajar. Apa kau akan tetap diam begitu?
Pak Lee, izinkan aku menangani ini.
Bu Maeng, anak ini sangat keras kepala.
Kau akan kesulitan menangani ini. Serahkan kepadaku.
Tak apa–apa. Dia muridku, jadi, aku akan bicara dengannya.
Ro–bin, ikut aku.
Ro–bin, kau bisa mengatakan yang sebenarnya.
Apakah kau ada hubungannya dengan dompet Joo–ri?
Tidak, aku benar–benar tak mengambilnya.
Lalu bagaimana dengan uangnya? Dari mana kau mendapatkannya?
Itu benar–benar upahku.
Tapi...
...aku tak bisa memberitahumu tempatku bekerja.
Maafkan aku.
Baik.
Aku memercayaimu.
Lalu siapa yang bisa mengambil uang itu?
Ambil satu saja, ya?
Kau selalu mengambil milikku.
– Hentikan. – Ayolah.
Ro–bin!
Dia mungkin tampan di luar...
Joo–ri, apa kau baik–baik saja?
Bukankah dia orang yang mencuri uang untuk kaus kelas?
Kau takkan menduga dari wajah itu.
Dia tak punya hati nurani.
– Kurasa dia tak peduli. – Benar?
Kita juga harus membayar lagi.
Dia yang mencurinya. Kenapa kita yang harus menderita?
Terserah. Ini membuatku jengkel.
Aku akan pergi.
Baik.
– Apa itu tadi? – Astaga.
Dia bertingkah seperti jagoan.
Ro–bin.
Kenapa kau tak mengatakan apa–apa?
Semua orang berbicara karena kau diam saja.
Apakah penting bagimu jika aku bicara atau tidak?
Tidakkah tuduhan mereka membuatmu marah?
Apa yang kalian bicarakan?
Pencuri? Siapa yang pencuri?
Ini bukan apa–apa. Aku akan menanganinya.
Ji–na, apa yang sedang terjadi?
Masalahnya...
Dia hanya perlu memberi tahu kami tempat pekerjaan paruh waktunya.
Kenapa dia tak memberi tahu kami?
Dia bilang itu adalah kedai hamburger,...
...tapi kurasa itu tak benar.
Apa yang Ro–bin kerjakan?
Haruskah kita mengikutinya dan mencari tahu?
Tidak.
– Aku akan pergi sendiri. – Aku akan membantumu.
Kejadiannya di kelas kami.
Aku tak ingin terlambat untuk kelas olahraga,...
...jadi, aku bergegas meletakkannya di mejaku.
Tapi aku memasukkannya ke buku catatanku,...
...jadi, tak ada yang tahu ada dompet di dalamnya.
Memang benar hanya Ro–bin yang tersisa di kelas,...
...tapi Ro–bin takkan pernah melakukan hal seperti ini.
Aku hanya bisa mengatakan ada yang aneh dengan wajah Ro–bin.
Gosip tentangnya juga buruk. Bukankah dia dipaksa pindah?
Tapi jika dia benar–benar mencurinya,...
...kurasa dia takkan memasukkannya ke tasnya.
Itu tak seberapa dibandingkan dengan uang sakuku.
Bu Maeng, bisakah aku membayarnya...
...dan berpura–pura tak terjadi apa–apa?
Bu Maeng, memang benar dia bekerja paruh waktu.
Meski aku tak yakin alasannya tak memberi tahu kami lokasinya.
Benar–benar merepotkan, bukan? Kasus pencurian ini yang terburuk.
Entah kau tahu atau tidak siapa pelakunya,...
– ...itu masih menjadi masalah. – Tapi...
Pencurian? Tak ada siswaku yang seperti pencuri.
Kau masih hidup dalam dongeng.
Anak–anak zaman sekarang sangat menakutkan.
Kau pasti mengalami masa yang sulit, Bu Maeng.
Kau khususnya memiliki banyak masalah di kelasmu.
Aku merasa seperti melihat kelasku dari tahun lalu.
Hei, berhenti!
Kau mau bergegas ke mana?
Kau tak makan siang, 'kan?
Apa kau mau makan? Aku yang traktir.
Untuk apa?
Biarkan aku menaiki sepedamu di lain waktu.
Tak perlu. Aku tak lapar.
Ikutlah denganku.
Kenapa kau makan sup tulang sapi padahal sedang panas terik begini?
Lawanlah panas dengan panas. Tempat ini sangat bagus.
Para gadis menyukai makanan semacam ini juga?
Aku dulu tinggal dengan nenekku, jadi, suka makanan semacam ini.
Terima kasih.
Lihatlah dirimu. Kurasa kau tak tahu...
...cara memakan sup tulang sapi.
Cicipilah.
Enak, 'kan? Sudah kubilang.
Kau tahu cara makan sup tulang sapi, ya?
Terima kasih.
Apa kau tak lelah mengkhawatirkan orang lain begini?
Pasti sudah dari sananya. Aku tak lelah sedikit pun.
Mau makan malam bersama?
Aku sudah makan.
Ke mana kau pergi akhir–akhir ini?
Kenapa kau tak bisa memberi tahu tempat kau bekerja ke siapa pun?
Tak perlu khawatir tentang itu. Aku akan mengurus diriku sendiri.
Saat kau dituduh mencuri?
Bukankah seharusnya kita berusaha lebih baik...
...karena orang tua kita tak ada di sini?
Bukankah kau baik–baik saja?
Itu yang terpenting, 'kan?
Bagaimana kau bisa bicara seperti itu?
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Ji–na, kurasa kau harus tetap di sini.
Kita bisa kehilangan jejaknya. Ayo pergi.
Sulit kupercaya mulutku berbusa di tengah kencan buta.
Pak, pinjamkan ponselmu.
– Silakan. – Terima kasih.
Ini dia.
Terima kasih. Ini dia.
Siapa ini? Aku tak mengenal nomor ini.
Halo?
Siapa ini?
Itu aku.
Siapa?
Pengemudi di kursi depan.
Baiklah.
Siapa ini? Aku tak mengenal nomor ini.
– Siapa ini? – Sudah kubilang itu aku.
Maaf.
Siapa ini?
Aku tak mengenal nomor ini.
Siapa ini?
Sopir yang berada tepat di depanmu!
Kurasa dia pergi ke arah sana.
Mari kita cari sebentar lagi.
Itu Ro–bin, bukan?
Ro–bin!
Jadi, kau bekerja di sini?
Itu sebabnya kau tak bisa mengatakan apa–apa.
Haruskah aku memberi tahu semua orang?
Diamlah.
Jika kau memberi tahu orang lain, aku akan mencarimu.
Itu Ro–bin, bukan?
Ro–bin!
Ini yang kau sebut kedai hamburger?
Aku sudah bilang kepadamu untuk tak mencampuri urusanku.
Ini sebabnya kau tak bisa memberi tahu siapa pun?
Lepaskan.
Tak bisakah kau jujur saja dan memberi tahu semua orang?
Jika tidak beruntung, aku bahkan bisa dikeluarkan.
Hentikan pekerjaan ini sekarang juga.
Jangan mengkhawatirkanku.
Pulanglah.
Kau Seo Jae–yi dari Kelas Dua, 'kan?
Bukankah kau kakaknya Ro–bin?
Tapi kau tak tahu Ro–bin bekerja di sini?
Hei, apakah kau mendengarkanku?
Jadi, dia tak bisa memberi tahu siapa pun.
Jika ingin membersihkan namanya,...
...kita harus menemukan pelaku sebenarnya.
Kita bisa melakukannya. Jangan terlalu khawatir.
Ayo kita pergi.
Hei!
Hei! Apa kalian mengabaikanku?
Hei, Ji–na!
Siapa yang bisa mengambil dompet Joo–ri?
Kuharap Revenge Note bisa memberitahuku siapa pelakunya.
Revenge Note, beri tahu aku siapa pelakunya.
Tentu saja kerjanya tidak seperti itu.
Dia tak tahu malu.
Hai.
Hei.
Kau tidak peduli meski dia adalah seorang pencuri?
Kau masih menyukainya?
Pencurinya bukan dia. Dia difitnah.
Dia benar–benar dibutakan oleh cinta.
Dia menyebut pencuri tak bersalah.
Apakah kalian ingin mati?
Satu–satunya yang Ro–bin curi...
...adalah hatiku.
Dia benar–benar gila.
Tidak ada obat untuk ini.
Kau baik–baik saja, 'kan?
Teman–teman, mereka sudah membuat kausnya.
Jadi, kita tak bisa membatalkan pemesanan...
...dan harus mengirim uang itu malam ini.
Mari kita kumpulkan uang lagi.
Bahkan jika kalian tak punya uang, cobalah untuk meminjam.
– Kau ingin kami membayar lagi? – Kenapa kita harus membayar?
Ketua Kelas, buat si pencuri membayarnya.
Kami akan mendapatkan uangnya lagi setelah pencurinya tertangkap.
– Mari kita kumpulkan lagi. – Tapi kita sudah menangkapnya.
Kami jelas tahu siapa pelakunya.
Sungguh menggelikan seluruh kelas harus menderita.
– Ro–bin tidak melakukannya. – Ro–bin tidak melakukannya.
– Tidak ada bukti. – Tidak ada bukti.
– Kau tak bisa melakukan itu. – Kau tak bisa melakukan itu.
Kudengar ada persis 400.000 won di dalam amplop Ro–bin.
Bagaimana menurutmu sekarang?
Semuanya, hentikan.
Jangan perlakukan Ro–bin seperti itu.
Pelakunya mungkin bukan seseorang dari kelas kita.
Salahku karena menghilangkan dan tak menjaganya lebih baik.
Kenapa itu menjadi salahmu? Kau adalah korbannya.
Kami semua tak ingin mengumpulkannya...
...dan kau mengajukan diri untuk melakukannya.
Dia benar. Tidak masalah siapa yang mengumpulkannya.
Orang itu pasti tetap mencurinya.
Jangan khawatir tentang itu.
Astaga, ini menyebalkan sekali.
Jangan khawatir tentang itu.
Dia menakutkan sekali.
– Oper bolanya! – Berikan bolanya kepada dia.
– Oper. – Oper bolanya.
– Kemari. – Oper.
Ayolah!
Kenapa mereka bermain sendiri–sendiri?
– Mereka seharusnya mengopernya. – Ya.
Keluar.
Apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan mereka?
Tangkap!
Kau harus mengopernya ke Ro–bin.
Kau takkan mencetak skor jika bermain seperti itu.
Astaga.
Tapi bagaimana Soo–ji tahu di mana bisa menemukan Ro–bin?
Oper kemari. Oper...
– Siapa yang melakukan itu? – Maaf.
Tanganku licin.
Ini sangat membuat frustrasi.
Coba gunakan otak kalian.
Jika seorang pencuri ada di tim, bagaimana pendapat orang lain?
Bagaimana menurut kalian?
Jadi, apa yang kau ingin kami lakukan?
Maksudku adalah...
...mari kita keluarkan dia dari tim.
Aku menentang itu. Bisakah kita menang tanpa Ro–bin?
Dia pemain andalan tim.
Apa yang kau bicarakan? Ada aku. Kau tak percaya kepadaku?
Itu benar, Mi–nam.
Kita benar–benar bisa menang tanpa Ro–bin di tim.
Mari kita memungut suara.
Angkat tangan kalian jika menentang pendepakan Ro–bin.
Ini sudah berakhir.
Kau lihat ini, bukan?
Kau keluar dari permainan.
Baiklah kalau begitu. Seon–soo, kau masuk.
Sungguh? Bagus!
Kau akan baik–baik saja, bukan?
Siapa pun yang belum membayar kaus, bayarlah.
Ayolah.
Ketua Kelas, aku akan membayar lain kali.
– Ini. – Itu untukku.
– Ini milik Ha–Joon. – Baik.
Aku baru ingat.
Aku memakai uangku di kantin.
Hei, Joo–ri.
Maaf, tapi bisakah kau meminjamiku 10.000 won?
Aku akan membayarmu kembali besok.
Terima kasih.
Apa ini?
Di mana uangku?
Apakah ini...
Ji–na, setelah ini mau ke mana?
– Ikut denganku. – Aku?
Jadi, ini uang yang kau bayarkan?
Kurasa begitu.
Lihat ini. Saat aku membayar ini, bekas ini ada di uangnya.
Kenapa uangnya ada pada Joo–ri?
Apa kau pikir si munafik Joo–ri yang mencurinya?
Semuanya, hentikan.
Jangan perlakukan Ro–bin seperti itu.
Catatanmu luar biasa.
Mengagumkan sekali.
Aku tidak terlalu yakin.
Uang yang kubayarkan pasti dicuri.
Tapi kenapa Joo–ri memilikinya?
Jadi, Joo–ri mencuri uang itu,...
...dan membuatnya terlihat seperti seseorang mencurinya.
Maka ini bisa menjadi bukti...
...yang akan membersihkan nama Ro–bin, bukan?
– Tidak. – Kenapa tidak?
Kau hanya mengatakan bekas itu milikmu.
Bagaimana jika mereka bilang kau berbohong...
...karena berteman dengan Ro–bin?
Kita membutuhkan bukti yang lebih kuat.
Bo–ra.
Kau menyimpan video yang kau rekam saat kelas olahraga, 'kan?
Ya. Kenapa?
Pak Guru ingin kau mengeditnya lalu unggah ke situs web sekolah.
Baik. Kapan dia menginginkannya?
Sekarang juga. Editlah dan kirimkan.
Mari kita pergi ke ruang komputer.
Ini adalah kesempatan terakhirmu.
Katakan kepadaku di mana kau bekerja...
...untuk mendapatkan uang ini.
Dasar anak nakal. Apa kau akan terus begini?
Aku tidak mencurinya.
Seo Ro–bin...
Itulah sebabnya...
...aku memintamu memberitahuku di mana kau bekerja...
– ...untuk mendapatkan uang ini. – Pak Lee.
Dia benar–benar menghasilkan uang itu.
Aku tak bisa memberi tahu rinciannya dengan segera,...
...tapi pelakunya bukan Ro–bin.
Tapi semua buktinya ada.
Jika mengakui kesalahanmu sekarang dan merenungkan kesalahanmu,...
...kita bisa mengakhiri ini hanya dengan membersihkan sekolah.
Jika kau tidak jujur, ini bisa dibawa ke dewan kedisiplinan.
Apa kau menginginkan itu?
Pergilah. Mari kita bicara lain waktu.
Pak Lee.
– Kubilang diam saja. – Beri tahu mereka soal klub itu.
Itu lebih baik daripada dituduh pencuri.
Sudah kubilang tak bisa.
Aku tak ingin klub menderita karena aku.
Aku lebih baik putus sekolah.
Hei!
Jadi, maksudmu...
...ini semua adalah cerita palsu yang dibuat Joo–ri?
Kurasa begitu.
Dia pasti menyimpan dompetnya sampai kelas olahraga hari itu.
Tapi aku tak tahu kapan dia mencurinya.
Bo–ra, ini video yang kau rekam saat kelas olahraga, 'kan?
Benar.
Tapi aku bukan hanya merekam teman sekelas kita.
Tapi video ini bisa membantu kita.
Aku akan memeriksanya.
Seperti dugaan kita.
Kita tak bisa tahu hanya dengan video ini.
Aku tidak terus merekam bangku penonton.
– Tunggu sebentar. – Ada apa?
Pada awalnya, tak ada botol minum di dekat Joo–ri.
Tapi di sini, ada botol minum di dekatnya.
Jadi, selama kelas olahraga, Joo–ri kembali ke ruang kelas...
...untuk mengambil botol minum?
Jika dia bolak–balik,...
...berarti dia sempat menyembunyikan dompet itu.
Tapi kenapa Joo–ri melakukan itu?
Dia adalah murid teladan.
Ya, 'kan? Ini sangat mengejutkan.
Itu mungkin bukan dirinya yang sebenarnya.
Mari kita cari tahu...
...alasan dia melakukannya.
"Sedang Mencari"
"Baek Joo–ri"
Aku baru tahu Joo–ri menyukai merek desainer.
Kau tak bisa membeli dompet merek desainer...
...hanya dengan 400.000 won.
Bagaimana dengan yang bekas?
"Jual tas mewah!"
"Sedang Mencari"
"Aku akan mengirimkan uangnya kepadamu sekarang."
Dia menulis ingin membeli tas merek desainer...
...beberapa hari yang lalu.
Dia bahkan menulis dia membelinya pada hari dompet itu menghilang.
Dia melakukan semua ini hanya untuk tas?
Tidak mungkin.
Tunggu sebentar.
Apakah ini berarti...
...pelakunya sudah pasti Joo–ri?
Bukankah dia pencuri uang kaus kelas?
Kau takkan menduga dari wajah itu.
Buat si pencuri membayarnya.
Dia tidak punya hati nurani.
Kurasa dia tidak peduli.
Itu benar. Aku tak bisa membiarkan Ro–bin terus dituduh mencuri.
"Apa kau ingin menjadi Dewi Balas Dendam?"
"Masukkan Nama Target"
"Baek Joo–ri"
"Target memenuhi semua syarat. Balas Dendam akan kami lakukan."
Tapi kita tak bisa membersihkan nama Ro–bin hanya dengan ini saja.
Kita membutuhkan bukti kuat bahwa Joo–ri adalah pelakunya.
Itu benar. Apa yang harus kita lakukan?
Bagaimana dengan ini?
Teman–teman.
Apakah kalian sudah mendengarnya?
Bu Maeng berkata jika uangnya tak terkumpul besok,...
...dia akan menelepon polisi.
– Sungguh? – Jika polisi datang,...
...mereka akan memeriksa rekaman kamera pengawas.
Kemudian mereka akan segera menemukan pelakunya.
Syukurlah. Aku berharap orang itu segera ketemu.
Ayahku mengenal banyak orang di kepolisian.
Haruskah aku memberi tahu ayahku?
Siapa pun pelakunya pasti sedang gugup sekarang.
Jika menangkap pelakunya, semua uang kita akan kembali.
Bagaimana jika pelakunya sudah menghabiskan semuanya?
Joo–ri, bukankah itu melegakan? Sekarang kau tak perlu khawatir.
Ya. Melegakan sekali.
Kuharap mereka segera menangkap pelakunya.
– Melegakan sekali. – Ya.
"Kau telah dipilih sebagai target Balas Dendam."
"Target untuk balas dendam"?
Apa ini? Siapa yang mengirim ini?
"Kau telah dipilih sebagai target Balas Dendam."
– Aku lapar sekali. – Ya.
– Saatnya makantteokbokki. – Kedengarannya enak.
Mereka sudah menelepon polisi?
Ayo kita pergi.
– Ayo kita makantteokbokki. – Aku mau pulang.
Apa ini? Menyebalkan sekali.
Sial.
Akhirnya datang.
Kau datang dari tempat yang sangat jauh.
Tasku... Di mana tasku?
Apakah aku baru saja ditipu?
Nomor yang Anda hubungi tidak dapat...
Tasku!
"Seo Ro–bin"
Kenapa kau tidak memasukkannya?
Aku benar–benar bisa menjadi pelakunya...
...jika kau menaruhnya di lokerku.
Kenapa kau tidak memasukkannya?
Bukankah itu alasannya kau berada di sini?
Aku minta maaf.
Aku tidak berniat melakukan ini pada awalnya.
Aku gugup saat itu.
Aku tidak berpikir kau akan dituduh.
Kau pikir itu alasan yang bagus?
Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf.
Ro–bin, aku memohon kepadamu.
Tolong jaga rahasia ini dari teman sekelas kita.
Aku takkan membiarkan itu terjadi.
Kau ingin tetap diam?
Bagaimana dengan Ro–bin?
Kau ingin dia terus dituduh sebagai pencuri?
Aku tahu permintaanku mustahil,...
...tapi jika siswa lain tahu...
Tolong lakukan ini untukku. Aku akan melakukan apa pun.
Tolong jaga rahasia ini.
Baik.
Aku akan merahasiakan ini dari siswa lain.
Sungguh?
Apa yang kau bicarakan? Kau takkan mengatakan apa–apa?
Kau akan terus dituduh pencuri?
Jangan lakukan itu.
Dia yang berbuat salah.
Ro–bin, kenapa justru kau yang menerima hukumannya?
Aku tak keberatan dituduh pencuri.
Tapi dia tidak.
Lebih baik kubilang saja aku yang melakukannya.
Ro–bin, terima kasih banyak.
Aku juga minta maaf.
Aku takkan melakukan ini lagi.
Ro–bin, tapi tetap saja...
Ro–bin memiliki hati yang besar. Dia keren sekali.
Ro–bin,...
...sikapmu keren sekali.
Bu Maeng.
Bu Maeng, kenapa kau kemari?
Aku sedang piket malam hari ini.
Aku sedang berkeliling dan melihat kalian datang kemari.
Maaf, aku mendengar semuanya.
Ro–bin, sikapmu keren sekali.
Tapi aku tak suka kau berbicara soal dirimu sudah dicap pencuri.
Joo–ri, perbuatanmu sangat salah. Kau tahu itu?
– Ya. – Kau tahu dirimu pantas dihukum.
Benar?
Baik.
Kau pantas dihukum,...
...tapi memberi tahu yang lain bukan satu–satunya cara.
Renungkan tindakanmu dan pastikan untuk mengembalikan semuanya.
Aku merasa bersalah terhadap yang lain.
Aku akan mengembalikan uang itu kepada mereka...
...dan menerima hukumanku.
Baik, yang penting kau tahu perbuatanmu itu salah.
Aku akan mengurus ini dan memastikan...
...kalian berdua baik–baik saja.
Bagaimana kau akan melakukan itu?
Serahkan saja kepadaku.
Ini sudah larut, jadi, kalian semua harus pulang.
Aku baru ingat.
Ini rahasia di antara kita, paham?
Bu Maeng terlihat...
...sangat keren tadi.
Apa?
Kau mengagetkanku. Jangan menyelinap seperti itu.
Kenapa tadi kau ada di ruang kelas?
Aku hanya ingin pergi.
Kau membuat pelakunya akan datang, bukan?
Kami berhasil.
Meskipun tanpa bantuan.
Hei.
Terima...
Terima...
Apa? Kau berterima kasih kepadaku?
Apa itu tadi? Aku tak bisa mendengarmu.
Kau benar–benar berterima kasih?
Jangan khawatir. Aku tahu.
Itu terlihat di wajahmu.
Baik, terima kasih. Terima kasih, ya?
Wajahmu makin merah.
Apa yang kau bicarakan?
Dia memiliki sisi menggemaskan.
Apa ini?
Aku juga mendapatkan satu.
Apa ini? Apakah ini kejutan dari Bu Maeng?
Hei, apakah orang–orang Kementerian Pendidikan datang?
– Kamar mandinya bersih sekali. – Kamar mandi laki–laki juga?
Kamar mandi perempuan benar–benar bersih.
Lalu siapa yang melakukannya?
Tugas pembersihan minggu ini? Kau?
Perhatian, semuanya. Aku punya kabar baik.
Sudah ada beberapa hal yang hilang di sekolah.
Jadi, polisi datang ke sini, dan setelah menyelidiki,...
...mereka menemukan dompet Joo–ri di antara barang yang dicuri.
Joo–ri, lihat dan periksa apakah ini benar–benar milikmu.
Ya, ini milikku.
Berarti Ro–bin bukan pelakunya?
Itu benar. Pencuri dompet itu bukan seseorang dari kelas kita.
Jika ada yang mencurigainya,...
...renungkan tindakan kalian, dan pastikan untuk meminta maaf.
Aku sudah membayar kaus kelas,...
...jadi, kalian bisa mengambil uang kalian kembali.
Sudah kuduga.
Sudah kubilang pelakunya tidak mungkin Ro–bin.
Lalu uang apa yang dia punya?
Dia mendapatkan uang itu dari bekerja.
Percayalah kepada teman sekelasmu.
Maaf.
Hari ini adalah kompetisi permainan bola sekolah.
– Kalian bisa melakukannya, 'kan? – Ya!
Jika kalian menang, aku akan mentraktir kalian.
– Hore! – Baiklah!
– Lakukan yang terbaik. – Ya.
– Maaf karena meragukanmu. – Maaf.
– Maaf. – Aku minta maaf.
– Maaf. – Maaf atas kesalahpahamannya.
Aku akan memakan ini, tapi kau bisa memilikinya.
Jangan coba–coba berbohong. Kau memang tak suka apel.
Aku juga minta maaf.
Aku juga.
Maaf.
Ambillah.
Kelas Satu, mari bersorak!
– Siap bersorak? – Siap!
– Buatlah... – Ketiakmu berkeringat banyak...
...Kelas Satu!
– Kelas Satu! – Kelas Satu!
"Balas Dendammu Selesai"
– Kelas Satu! – Kelas Satu!
Tapi apakah Bu Maeng benar–benar di sekolah...
...karena sedang piket malam?
Bu Maeng, kenapa kau kemari?
Aku sedang piket malam hari ini.
Aku sedang berkeliling dan melihat kalian datang kemari.
Mungkinkah Bu Maeng sang Master?
– Kelas Satu! – Kelas Satu!
Tidak mungkin. Itu tidak mungkin.
Seakan kita akan makan siang!
Semangat! Lakukan yang terbaik!
– Ha Rok–hee! – Ha Rok–hee!
– Baek Song–yi! – Baek Song–yi!
– Kelas Satu! – Baek Song–yi!
– Baek Song–yi! – Baek Song–yi!
– Semangat! – Semangat!
Bagus!
Menanglah, Kelas Dua!
Menanglah, Kelas Satu!
– Kelas Dua! – Kelas Dua!
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Bukankah Jae–yi jago sekali dalam olahraga ini?
Ro–bin lebih jago.
Tidak mungkin. Jae–yi lebih jago.
– Kurasa tidak. Ro–bin lebih jago. – Jae–yi.
– Ro–bin. – Jae–yi.
– Untuk siapa aku bersorak? – Ji–na, bersoraklah untuk kelas.
Begitukah?
– Lakukan yang terbaik, Ro–bin! – Ayo, Ro–bin!
– Seo Ro–bin! – Seo Ro–bin!
– Seo Ro–bin! – Seo Ro–bin!
Ini kali pertama aku melihat Ro–bin tersenyum lebar.
-=SULTAN KHILAF=-
"Epilog"
Kelihatannya mudah. Kenapa sulit sekali?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.