Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by Netflix Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
"Drama ini adalah fiksi berdasarkan peristiwa sejarah"
"Yang menampilkan organisasi dan karakter fiktif"
"Episode 23"
"Sedang Berduka"
Lukisan?
Lukisan bunga, burung, atau lanskap.
Aku mau sesuatu yang polos.
Sin Yun-bok dan Kim Hong-do...
Kenapa karya mereka ada di sini?
Jangan salah paham.
Aku menirunya. Semua ini karyaku.
Untuk kamar mana?
Yang sangat gelap.
Entah apa dia akan datang melihatnya.
Satu hal lagi.
Bisa carikan aku bahan peledak?
Astaga.
Kau menakutiku.
Bahan peledak?
Itu bisa membahayakan kalian juga.
Apakah bisa?
Begini...
Mau dipakai untuk apa?
Aku berniat meledakkan hotelku.
Pasukan Garnisun Joseon
menggunakan lantai dua sebagai markas.
Aku akan carikan.
Il-sik!
Terima kasih.
Berengsek!
Hei, kau!
Sedang apa kau?
Jun-yeong...
Tidak.
Jun-yeong!
Jun-yeong...
Dia berlatih tadi pagi,
tapi aku dengar suara tembakan dan ini terjadi.
Pulanglah dan tetap di rumah.
Aku akan cari dia.
Tidak, aku akan cari dia juga.
Kalau kau di sini...
Bagaimana dengan Do-yeong di rumah?
Do-yeong...
Bawa ini dan pulanglah.
Cepat.
Tuanku! Kasihani keluargaku!
Lepaskan!
Apakah jam bodoh Anda
masih berfungsi dengan baik setelah bertahun-tahun?
Aku dengar gelang ini
akan mewujudkan keinginanmu.
Walau bagiku tak berguna.
Mungkin karena dosaku terlalu banyak.
Gelang ini mungkin mendengar keinginanmu.
Sebutkan keinginanmu.
Bukankah ini berharga...
Kau lebih berharga bagiku.
Jadi, tetaplah hidup.
Sekarang,
larilah sejauh mungkin.
Nyonya...
Selain itu, aku mau minta tolong.
Sepertinya kau selalu...
ditugasi mengantar dokumen penting.
Aku bisa melakukannya.
Aku tahu.
Kau salah hari merampok tempat ini.
Tempat ini akan segera diledakkan.
Kau tahu aku seorang pelukis, 'kan?
Aku kenal wajah itu dari poster buronan.
Kau dari Pasukan Kebenaran?
Siapa dalangnya?
Kau seorang wanita?
Orang Joseon.
Aku menusuk kepala salah satu dari mereka
seperti ini.
Saat pisaunya menancap,
darahnya menyembur seperti ini.
Kau hanya bunuh satu orang?
Sebanyak inilah orang Joseon yang kubunuh.
Aku salut, Kolonel.
Apa niatmu?
Sama seperti yang ingin Nona lakukan malam ini.
Kau sungguh mau meledakkan hotelmu?
Nona harus pergi dari sini.
Kau berniat tetap di sini.
Kecurigaan akan timbul kalau jasadku tak ada.
Kini aku tahu kau memihak siapa.
Tujuan kita berbeda, tapi keinginan kita sama.
Kita lakukan bersama.
Aku bertemu orang-orang yang membantumu.
Aku akan lakukan tugas mereka.
Walau kita akan mati di sini,
kau tak ingin mereka hidup?
Setidaknya,
tak satu pun yang tertawa di bawah
bisa keluar hidup-hidup malam ini.
Nona memang harus menjadi sekutuku, ya?
Semua sudah pergi?
Ya, hanya tersisa kami.
Terima kasih atas semuanya.
Pergilah sejauh mungkin.
Jangan lihat ke belakang apa pun yang kalian dengar
dan jangan kembali.
Nyonya...
Pergilah sebelum fajar tiba.
Ayo.
Kita hanya perlu menyalakannya.
Sudah waktunya. Nyalakan.
Baik.
Il-sik!
Aku dengar.
Cepat!
Sial!
Cepat!
Siapa kalian, Berengsek?
Kalian harus pergi.
Orang-orang di bawah pasti mendengarnya.
Aku belum menyalakannya.
Serahkan kepadaku.
Baik.
Di atas!
Mau ke mana?
Suara tembakan apa tadi?
Aku sudah menyalakan sumbunya.
Kita harus bergegas.
"Hotel Glory"
Apa itu?
- Apa? - Ikut aku!
"Hotel Glory"
Denyutnya masih ada.
Ayo, bawa dia
ke tempat yang aman.
Temukan wanita yang satu lagi.
Baik.
"Penjahit Taera"
Ayo, ke sini.
Kami tutup sejak keributan kemarin.
Tuhan, Bapa dari Joseph.
Aku akan mencurahkan hidupku pada tujuan ini.
Di setiap langkahku...
aku bergantung pada harapan kosong.
Biarkan aku hidup.
Selama aku hidup...
aku akan seperti angin.
- Masuk. - Kenapa menolong kami?
Kalau begitu, kubantu mereka saja?
Pendarahannya parah.
Rumah sakit berbahaya.
Pergilah ke toko obat.
Tak ada ahli obat di sana.
Tempat itu sudah kosong.
Hei, kau. Hentikan becakmu.
Jangan bergerak.
Kami harus periksa penumpangmu.
Minggir.
Minggir!
Ini dari luar negeri. Senapan Amerika.
Bisa berfungsi dengan baik.
Aku mengenalimu.
Dia terluka dan butuh tempat istirahat.
Pindahkan dia ke bengkel pandai besi.
Kau harus singkirkan mayat-mayat itu.
Jika tentara melihat, mereka akan memeriksa sekeliling.
Jangan khawatir.
Tolong hentikan pendarahannya. Aku akan kembali.
"Hotel Glory"
Siapa kau? Kenapa di sini?
Aku menginap
di hotel ini.
Pemiliknya...
Apakah dia selamat?
Si berengsek ini pasti punya hubungan dengan pemilik hotel.
Bawa dia ke kantor!
Ya, Pak.
Bom meledak saat aku buang air kecil.
Andai aku di dalam hotel itu, aku pasti ikut tewas!
Pemilik hotel itu pasti dalangnya. Kau menemukan si jalang itu?
Kami mencarinya ke mana-mana, Pak.
Di bawah tumpukan puing,
kami menemukan sepatu wanita.
Hanya ada satu,
jadi, dia pasti tidak jauh...
Siapa pria ini?
Banyak sekali minuman kerasnya.
Jangan berada di hotel besok.
Bawa barang-barang berhargamu saat pergi juga.
Kau membawa masuk miras, tapi melarangku tinggal?
Berbeda denganmu,
aku memutuskan punya niat buruk.
Terima kasih atas semuanya.
Kau adalah tamu VIP di Hotel Glory.
Kedengarannya...
kau mau pergi jauh.
Sayangnya begitu.
Aku bahkan beli sepatu baru untuk urusan itu.
Sumbunya pasti dinyalakan lebih awal.
Setelah itu, dia diselamatkan seseorang.
Aku akan melacaknya.
Tuan muda yang di sana
telah dicurigai karena dia tamu hotel.
Dia tak mungkin terlibat.
Dia berasal dari salah satu keluarga terkaya di Joseon.
Dia pasti pro-Jepang.
Keluarganya tak akan melawan.
Kenapa bahumu?
Kau harus tahu. Anak buahmu menembakku.
Ini jas mahal.
Harga kainnya saja lebih dari tiga kali lipat gajimu.
Dengan siapa aku harus bicara
untuk meminta ganti rugi?
Kau?
Aku tak punya waktu untuk omong kosong ini!
Biarkan dia pergi.
Kau baik-baik saja?
Dong-mae, kau kembali.
Orang yang kerja di sini sedang menjemput ahli akupunktur.
Bertahanlah.
Kau sudah tahu
sisa waktuku tak banyak.
Tubuhku hancur.
Kau tetap cantik.
Bawa aku...
kepada ibuku.
Berikan aku opium kalau kau punya.
Aku sangat kesakitan.
Baik.
Aku punya pasien.
Aku hanya perlu sedikit.
Obat pereda nyeri, antibiotik, dan penghenti pendarahan.
Aku akan ambilkan perban dan disinfektan.
Perawat. Di mana kau?
Tetaplah di sini.
Para perwira Kekaisaran Agung Jepang
dibawa ke sini karena ledakan.
Siapkan ruang perawatan untuk mereka
dan suruh dokter siaga.
Dokter dan perawat Jepang ada di lantai dua.
Seperti Anda lihat, semua kasur di sini sudah dipakai.
Bawa saja mereka...
Kasur sudah tersedia.
Kalau kau menerima pasien Joseon,
kau akan mati juga.
Siapa kau?
Aku tanya siapa kau.
Pak.
Ada baku hantam lagi di sini.
Mereka saling menembak
dan semuanya tewas.
Kau bisa jalan?
Ya.
Anda kembali ke Joseon?
Aku belum sampai.
Ayo. Kita harus cepat.
Apakah kau
mengenaliku?
Aku tahu kau akan melompat ke dalam api,
tapi aku tak menyangka kau akan berdiri
di luar hotel yang meledak.
Mimpi ini lagi.
Kau pasti pusing dan mual.
Efek obat pereda nyeri.
Pemilik hotel...
Tadi aku bersama dia.
Gu Dong-mae pasti membawanya ke tempat aman.
Dia kembali dengan selamat.
Syukurlah.
Bagaimana denganku?
Aku memimpikan ini berulang kali.
Aku tak mau memercayainya lagi.
Kau...
tak ada di Joseon.
Ini bukan mimpi.
Aku di sini.
Guruku...
Dia sudah mati.
Jadi, jangan kembali.
Joseon seperti neraka.
Jangan datangi aku, bahkan dalam mimpiku.
Terlalu menyakitkan.
Aku ingin berhenti memikirkanmu satu hari saja.
Rekan seperjuangan kami akan tiba.
Jangan khawatirkan dia dan pergilah.
- Aku akan ikut denganmu. - Tidak bisa.
Orang luar tak boleh tahu markas kami.
Kalau begitu, bawa pria yang terluka tadi.
Aku yang melatih dia
dan dia bawahan Penembak Jang.
Bertahanlah sebentar lagi.
Kita harus bergegas.
- Ya. - Ya.
Hotel meledak.
Kalian yang sediakan bomnya?
Bom apa?
Entah apa yang kau bicarakan.
Polisi Jepang akan melakukan penyelidikan.
Kalian harus sembunyi.
Apa kubilang?
Mereka pasti tahu.
Kenapa kalian membantu?
Padahal hidup kalian aman.
Kalian pasti tahu akan terancam.
Karena aku tak bisa makan.
Aku harus makan setidaknya sekali.
Aku terus menentangnya.
Tanpa kami...
kau akan kesulitan.
Jangan cemaskan aku.
Mereka tak akan bisa menangkapku.
Karena...
aku Kim Hui-seong.
Aku percaya kepadamu.
Tolong jaga toko.
Aku meminjam ini.
Semoga kalian selamat.
Kau mau apa?
Kau mau membawa orang luar
dan mereka makan makanan kita?
Ayah sudah bilang bawa calon istri,
tapi kau justru bawa wanita dengan anak?
Dia tak sekejam kedengarannya.
Kau santai saja.
Anggap tempat ini rumahmu.
Ayah, Ibu.
Anak lelaki itu adalah adiknya
dan dia akan jadi istriku.
Apa?
Astaga, Sayang.
Katakan sesuatu.
Hui-seong benar.
Dia berkata begitu, tapi maksudnya baik.
Jangan khawatir.
Kalian boleh masuk.
Bawa masuk anak lelaki itu.
Terima kasih.
Sayang...
Ini bukan hal baru,
tapi Ayah menikahi
wanita yang hebat.
Apa? Apa katamu?
Kau mau menghindari masalah ini, ya?
Tolong jaga mereka.
Anak lelaki dan wanita itu.
Aku mohon, Ayah.
Beri tahu aku kalau ada yang ingin kau katakan
kepada pria Amerika yang mirip kita.
Dia kembali.
Aku melihatnya juga.
Jabat tangannya untukku dan katakan, "Selamat datang."
Dia berutang jabat tangan denganku.
Baik.
Pria itu...
tak ada di hatiku lagi.
Aku sudah lama merelakannya.
Aku tidak tahu.
Kau pasti tidak tahu.
Aku menunggu orang lain.
Di halaman belakang hotel,
di jalan,
di trem,
dan di kamarnya.
Berdoa agar dia kembali.
Bahwa dia harus kembali secara utuh.
Tapi hanya Go Ae-sin yang dia cintai
dan tergila-gila akan cinta itu.
Cinta itu membuatnya gila.
Aku tetap menunggu pria itu.
Tempat ini...
akan sangat indah saat bersalju.
Bukan begitu?
Saat bersalju,
kau harus mengunjungiku.
Aku akan menunggumu.
Salju tak akan turun
untuk waktu yang lama.
Ya, jadi, kau harus tetap hidup selama itu.
Jangan terburu-buru menemuiku.
Aku tak akan...
menunggumu di sana.
Yang-hwa.
Yang-hwa?
Apakah kau tertidur?
Apakah kau...
tertidur?
Tidurlah lebih lama.
Kita hampir sampai.
Hotel tempat tentara kita menginap telah meledak.
Aku yakin itu aksi pembalasan.
Maafkan aku, Pak.
Aku tak menyangka pembubaran tentara menimbulkan situasi sekacau ini.
Musik dan minuman
pasti memperburuk sentimen publik di Joseon.
Kau sebut itu alasan?
Dia tak mau dengar alasan apa pun.
Aku tulus minta maaf.
Aku pasti akan menangkap dalangnya!
Tentara yang dibubarkan
dan pemberontak pasti terlibat.
Pemberontak itu membahayakan hubungan antara Jepang dan Korea.
Kita harus melacak dan menyingkirkan
mereka semua.
Yang membahayakan hubungan antara...
Kapan kau akan
mempelajari bahasa kami?
Dia bertanya kapan kau akan pelajari bahasa Jepang.
Ya, Pak! Aku akan belajar secepatnya!
Pak, kumohon! Jangan...
Pak, kumohon...
Ibu!
Putraku ditembak di jalan.
Tolong selamatkan dia.
Anak itu ditembak di jalan...
Hei, kenapa kau hanya berdiri di situ?
Tentara kami kesakitan.
Lakukan sesuatu.
Ya, Pak.
Aku harus melakukan sesuatu.
Darah apa di lantai ini?
Kau Pasukan Kebenaran juga?
Berengsek!
Aku akan bergabung.
Dia bilang apa? Dasar berengsek.
Jalanan bau darah.
Untuk apa mereka melawan jika memang tak bisa menang?
Jalanan sangat kacau.
Lebih cepat!
Baik, aku akan membawa Anda lebih cepat!
Tuan, aku...
tidak akan mati seperti ayahku.
Ternyata kalian!
Kenapa kalian kemari?
Apa kau terluka?
Aku membalut lukanya saat kemari.
Aku bisa membantu.
Aku bawa makanan.
Aku akan ikut berjuang.
Aku tak bawa apa-apa,
tapi mau lakukan apa pun.
Terima kasih sudah datang.
Pertama,
aku ingin meminta Yang Mulia
menjaga gadis yang mengantarkan surat ini.
Jepang membubarkan tentara kita
dan mereka akan berpesta di hotel untuk merayakannya.
Aku akan menyiapkan pesta meriah di luar imajinasi mereka.
Setelah pesta itu,
mereka akan melacak pelakunya.
Tolong pastikan mereka tak menuduh orang tak bersalah atas kejadian itu
dengan mengumumkan bahwa itu adalah perbuatan
seorang wanita Jepang, Hina Kudo.
Atas alasan itu,
aku melampirkan pernyataan tertulisku dalam bahasa Jepang.
Ini cara Anda membayar semua tagihan kopi Anda.
Yang kau pegang sekarang
adalah pernyataan si Pemilik Hotel.
Pernyataan wanita Jepang itu
mengungkap seluruh cerita insiden itu.
Karena itu, aku melarangmu memanggil rakyat jelata negara ini
dan menggeledah mereka tanpa izin.
Kau harus segera hentikan.
Baik.
Dia setuju, Yang Mulia.
Baiklah.
Menangislah sepuasmu hari ini
supaya bisa memulai dengan impian baru besok.
Lupakan kehidupan Lee Yang-hwa
dan berhenti hidup sebagai Hina Kudo.
Bawa alat rias di tasmu daripada senjata.
Di kamarmu, gantung lukisan indah
daripada pedang anggarmu.
Temui pria yang baik.
Jangan menangis
dan jangan menggigit.
Bermimpilah menjalani hidup normal.
Dia bilang kau berutang sesuatu.
Aku di sini mewakilinya.
Wanita satu lagi selamat.
Dia bersama rekan seperjuangannya.
Dia senang kau kembali selamat.
Itu yang dia katakan.
Aku harus pergi sekarang.
Aku punya urusan penting.
Tanggal 15 bulan ini segera tiba.
Kau memakai opium?
Kau selalu tahu tentang aku.
Demi menjaga rahasia, sebaiknya kita tak bertemu.
Aku suka bertemu denganmu.
Katakan kalau kau butuh bantuan.
Aku akan menginap di Hwawollu.
Setelah urusanmu selesai,
kau mau merebut kembali Hwawollu?
Kau sungguh tahu semua tentang aku.
Aku akan kembali secepatnya.
Bajingan bodoh!
Bajingan-bajingan itu.
Aku rindu masa lalu.
Sho Ishida.
Kau...
masih hidup?
Aku senang dengan sambutan hangatnya.
Kurasa sudah waktunya
aku mengambil kembali milikku.
Bunuh dia!
Kalau surga menolongku...
dan telegram datang terlambat karena sinyal yang buruk,
dan cuaca yang buruk menunda kapal...
Walau semua itu akan terjadi,
waktu yang dibutuhkan anggota Musin untuk mendatangiku...
dari Jepang
hanya sepuluh hari.
Sepuluh hari.
Aku akan hidup seolah-olah itu setahun.
Seperti itulah aku akan mati.
"Hwawollu"
Karena peristiwa Hotel Glory,
dia butuh kamar.
Dia tak butuh teman, hanya makanan dan kamar...
Kau tampak tak asing.
Aku Lee Deok-mun. Anda ingin bertemu aku?
- Kau si... - Aku mau bertemu pemilik Hwawollu.
Aku pemiliknya.
Tidak mungkin.
Tadi aku bersama Gu Dong-mae.
Omong kosong apa itu?
Bajingan itu sudah lama mati.
Antarkan pria Amerika sombong ini.
Pastikan beri tahu dia siapa pemilik tempat ini.
Ikut aku.
Tuan!
Ada kegaduhan mengerikan di Jingogae.
Dia kembali.
Gu Dong-mae.
Apa?
Kau yakin dia?
Kau bilang dia sudah mati.
Aku melihatnya sendiri.
Memang dia.
Aku melihatnya di luar toko roti.
Dia menyebabkan pertumpahan darah di dojo.
Berarti dia akan kemari selanjutnya.
Jangan diam saja!
Datangi polisi dan minta perlindungan!
Ya, Tuan.
Katakan aku akan mati.
Ya, Tuan.
Yang Mulia.
Juru bahasa Amerika di sini.
Koran hari ini adalah New York Times yang dicetak
tanggal 5 Agustus.
Bacakan untukku.
Akan ada balap mobil dari New York di Amerika
hingga ke Paris di Prancis.
Balapan itu cukup panjang sampai mengelilingi dunia,
jadi, ini acara besar
dan seluruh dunia menyaksikan...
Itu artikel terbesar di halaman pertama?
Ya, Yang Mulia.
Tak ada berita tentang negara kita?
Tak ada...
satu kalimat pun?
Aku sangat menyesalinya, Yang Mulia.
Orang asing itu.
Kau sudah dengar apa dia kembali?
Dia dihukum tiga tahun.
Seharusnya dia sudah bebas sekarang.
Maaf,
tapi orang Amerika itu
bukan lagi seorang tentara.
Aku yakin dia akan sulit kembali.
Aku tak berharap dia kembali.
Aku hanya...
ingin dia tetap hidup.
Rekan dekatnya yang dahulu bersamanya di Joseon
kini berdinas di Jepang.
Aku akan menghubunginya, Yang Mulia.
Kepada Kyle Moore.
Sudah lama aku tak mengobrol dengan Anda.
Apa kabar?
Do-mi tumbuh besar sangat cepat
dan aku sehat,
terbiasa dengan kehidupan istana.
Omong-omong,
aku menulis surat ini untuk Anda
untuk menanyakan kabar Eugene Choi.
Cuaca sangat bagus.
Entah apa dia masih hidup.
Tuan.
Apa Anda mendengar suaraku?
Pasti kau mengira aku sudah mati.
Apakah aku di atas sana?
Tuan.
Ini benar-benar Anda?
Kau kurang satu kata sifat.
Seharusnya tambahkan "tampan".
Benar-benar Anda.
Benar-benar Anda.
Tuan.
Kukira Anda sudah pergi selamanya.
Anda selalu bilang akan pergi ke suatu tempat.
Kukira Anda sudah di atas sana.
Kau masih suka berpikir berlebihan.
Tuan.
Cukup.
Kukira kau tak akan datang.
Kau belum lihat?
Wajahku ditempel di seluruh dinding.
Aku jadi terkenal sejak kau pergi.
Sulit bagiku keluar ke tempat umum.
Aku buru-buru karena tahu kau pasti menunggu.
Astaga.
Itu untuk Penembak Jang.
Milikmu di sini.
Kau tahu aku mau datang, ya?
Aku bisa minum juga.
Sepertinya Nona Ae-sin
tak tahu kau akan kembali.
Pereda nyeri itu sepertinya sangat kuat.
Begitu pula kesedihannya.
Dia terus mengira sedang bermimpi.
Tidak heran.
Kenapa kau kembali? Kenapa tak tetap di sana dan menikmati hidup?
Tapi kau senang, 'kan?
Astaga.
Orang Amerika sepertimu tak mau bergabung dengan Pasukan Kebenaran.
Untuk apa aku senang kau kembali?
Kau benar.
Aku tetap tak peduli siapa yang berkuasa di Joseon.
Aku hanya ingin...
dia dan orang-orang yang menolongku tetap hidup.
Jadi, aku terus mengupayakannya,
tapi aku kerap bertemu Pasukan Kebenaran.
Ambillah jalan berbeda
kalau tak ingin tertembak.
Seharusnya begitu.
Aku tahu kita akan bertemu lagi,
tapi aku mempertaruhkan nyawa untuk datang ke sini.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Aku mabuk laut juga.
Jadi, sambut saja kepulanganku.
Selamat datang kembali.
Jangan sampai terbunuh.
Hanya itu yang akan kulakukan.
Aku sudah di sini.
Baik.
Minuman ini.
Sulit sekali mendapatkannya.
Joseon memburuk lebih cepat
dari dugaanku.
Saat jumlah kami bertambah satu,
mereka bertambah sepuluh.
Kalau kau mau makan racun,
makan piringnya juga.
Kalau 100 orang ingin menyelamatkan negara kami,
seribu orang ingin menyerahkannya.
Tapi sepuluh orang yang mereka tambahkan
akan hancur dengan mudah.
Karena seorang pengkhianat
tak bertaruh nyawa.
Tapi kami berjuang melindungi negara dengan nyawa kami.
Ayah!
"Daftar Anggota Pasukan Kebenaran"
"Go Sa-hong, Hwang Eun-san, Jang Seung-gu."
Dapat dari mana?
Saat Kolonel Mori masih hidup,
aku menyalinnya untuk berjaga-jaga.
Astaga.
Waktu itu, aku tak tahu apa itu berharga,
tapi aku tahu begitu melihat poster buronan.
Ini Hwang Eun-san si Perajin.
Ini Park Mu-geol si Pembunyi Lonceng.
Aku tak bisa mengenali dua orang lainnya.
Aku tahu orang ini.
"Go Ae-Sin"
Siapa? Nona Ae-sin?
Vas Hwang Eun-san ada di tempat Go Sa-hong.
Daging babi hutan Go Sa-hong
disediakan oleh Jang Seung-gu.
Aku lihat Go Ae-sin di pondoknya.
Ini jelas dia.
Bukankah bisa orang lain?
Ada sesuatu yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Itu coretan dan tak bisa kusalin.
Aku tak peduli. Pasti nama misionaris.
Yang ini penting.
Dia akan mendatangkan keuntungan.
Selamat.
Sekarang kita berteman.
Enyahlah.
Kapten Hasegawa sibuk.
Aku punya urusan genting.
Aku punya informasi penting.
Aku harus bertemu dia.
Dasar orang Joseon sombong.
Dasar tentara sombong!
Kau tahu informasi yang kubawa?
Kau ingin kubunuh sekarang juga?
Dasar...
Ada apa?
"Yoshimichi Hasegawa Kapten Pasukan Garnisun Joseon"
Beraninya kau taruh benda kotor ini di mejaku?
Aku menemukan markas mafia itu, Yang Mulia.
Penembak Jang Seung-gu
yang menjadi perwira bekas kaisar.
Pondoknya menjadi markas mereka.
Bukan itu saja.
Aku juga punya daftar para anggota.
Termasuk para pemimpin setempat
seperti Hanseong dan juga wilayah lain.
Seharusnya bawakan yang itu kepadaku.
Di mana daftarnya?
Impianku besar, Pak.
Kalau Anda membantuku mewujudkan impian itu,
aku akan berikan sekarang juga.
Bagaimana aku bisa memercayaimu?
Wanita ini adalah sepupu istriku.
Kakek istriku adalah guru bekas kaisar,
Go Sa-hong.
Yang Mulia tidak rugi.
Biar aku periksa dan pastikan lagi.
Cucu perempuan dari guru bekas kaisar
bergabung di Pasukan Kebenaran?
Ini alasan bagus.
Telusuri sepenuhnya dan pastikan semua.
Bawakan sesuatu, apa pun itu.
Namun, kalau sekali lagi
aku dipermalukan di depan bekas kaisar...
Kapten Hasegawa.
Kau juga tak akan diampuni.
Ya, Pak!
Tentara yang dibubarkan berkumpul di pondok.
Setidaknya akan ada lusinan tentara.
Mereka akan kekurangan makanan dan persediaan
dan pasti mendatangi desa-desa terdekat.
Kita bisa menangkap mereka semua dalam tiga hari.
Dor!
Aku menembak satu orang!
Diam.
Katanya minum sebelum senja bisa membuatmu mabuk berat.
Dari mana kau dapat uang untuk minum di sini?
Aku merasa lebih baik kalau bisa mabuk.
Selembar kertas bernilai sebanyak ini.
Kertas apa yang semahal ini?
Katakan sejujurnya, Berengsek.
Kau temui Lee Deok-mun lagi, 'kan?
Apa yang kau jual kali ini?
Daftar Pasukan Kebenaran
milik Kolonel Mori.
Apa?
Kau jual apa?
Dasar gila!
Teganya kau jual?
Kau menjual negaramu sendiri.
Bukan hanya selembar kertas!
Kau menjual negara kita.
Aku sungguh tidak tahu
akan menjadi sekacau ini!
Dasar bodoh.
Aku tidak tahu
nama Nona Ae-sin ada di dalamnya.
Siapa yang akan menyangka?
Siapa...
Siapa?
Ada apa?
Tuan.
Apa yang harus kita lakukan?
Tampaknya Lee Deok-mun punya daftar anggota kita.
Aku, Nona Ae-sin,
dan persembunyian kita dalam bahaya.
Jika kau yakin seseorang harus mati, tembaklah.
Ini tak mungkin mimpi.
Aku yang menghubungi Hwang Eun-san si Perajin.
Kondisimu sudah membaik?
Aku juga mengobati lukamu...
Ini berarti
aku mengobatimu dengan baik.
Kukira cuma mimpi.
Tapi terasa sangat nyata.
Aku tak berhenti memikirkannya selama berhari-hari.
Lalu kenapa kau melarangku kembali?
Aku mau lihat wajahmu.
Aku hanya sempat melihatmu saat kesakitan.
Kau lebih kesakitan sekarang?
Kenapa kau muncul seperti ini?
Aku harus apa kalau kau berdiri di depanku seperti ini?
Saat kita berpisah,
kubilang akan menemuimu lagi.
Joseon sangat berbahaya sekarang.
Aku tak punya pilihan
selain kembali.
Tapi...
Kau pulang ke negeri yang jauh itu.
Bagiku hanya sejauh satu setengah jengkal.
Aku sangat merindukanmu.
Jangan khawatir.
Kau harus...
melindungi negaramu, Joseon.
Aku akan melindungimu.
Ini sejarahku dan aku memutuskan untuk melakukannya.
Dasar bodoh.
Targetmu adalah Lee Deok-mun.
Kau bisa?
Kalau tak bisa, biar aku saja.
Kabarnya si Pemilik Hotel mati.
Aku akan...
berjuang atas namanya juga
agar setiap kematian patriotik berarti.
Selain itu, bidikanku lebih baik darimu.
Kita hanya masak sekali sehari di pagi hari.
Dikarenakan asap masakan.
Ada sungai kecil di sana.
Tempatnya agak jauh, jadi, pastikan ada yang menemani.
Ada pohon murbei di dekat sungai.
Murbei itu akan segera matang,
jadi, jangan dipetik dahulu. Masih sangat pahit dan asam.
Karena ada anak muda di sini,
kami merasa jauh lebih aman.
Kalian menceriakan seluruh tempat.
Nak, kau juga. Perjalanan ini pasti tidak mudah.
Dor!
Tidak boleh menembak rekan seperjuangan.
Tembak bajingan Jepang.
Tadi aku sudah tembak mereka
dan mereka kabur.
Astaga. Bagus sekali.
- Dia akan tumbuh jadi anak pemberani. - Benar.
Tadi? Kapan?
- Di rumah? - Bukan.
Di perjalanan kemari, aku tembak mereka seperti ini.
Ada dua tentara.
Sepertinya markas kita terbongkar.
Kita harus bersiap pergi sebelum matahari terbenam.
Yang tahu cara memakai senjata api, berkumpul ke sana.
Pisahkan gandum dari yang lain.
Para wanita harus menjaga anak-anak
dan pastikan tak menangis.
Nak, kami bisa tahu berkat kau.
Pak Tua ini harus ikut serta juga, 'kan?
Apa ini? Tak ada siapa-siapa.
Anda tak lihat sisa api unggun dan jejak kaki ini?
Mereka pasti sempat di sini.
Itu tak penting!
Mereka sudah pergi!
Sekarang bagaimana?
Mereka pasti belum jauh.
Kita harus masuk hutan.
Wanita dan anak-anak tak bisa cepat.
Kapten!
Aku menemukannya bersembunyi di hutan.
Bawa dia kemari.
Kau...
Sebutkan namamu.
Kau salah satu pemberontak?
Ya, Pak. Kurasa begitu,
tapi pria itu bisu dan tuli.
Sial!
- Bunuh dia. - Ya, Pak.
Tolong jangan tembak. Ampuni aku.
Aku akan beri tahu.
Kau bilang dia bisu dan tuli.
Kau tak tahu apa-apa, ya?
Tidak, maksudku...
Dia mau memberi tahu semuanya.
Dia bilang tahu semuanya.
Hei, beri tahu kami.
Di mana Go Ae-sin? Ke mana Hwang Eun-san pergi?
Mereka pergi ke kota.
Mereka punya rencana besar hari ini.
Nona Ae-sin, Pak Haengrang, Bu Haman, dan beberapa orang lagi
pergi bersama-sama.
Mereka ingin membunuh kapten pasukan Jepang.
Wanita itu pergi ke kota.
Mereka berencana membunuh Anda.
Apa?
Mereka ingin membunuhku?
Jangan khawatir, Pak.
Aku tahu wajah wanita itu dan semua anggota keluarganya.
Dengar, hentikan pencarian! Kita pergi!
Cepat!
- Ya, Pak! - Ya, Pak!
Kau takut?
Tidak sama sekali.
Aku tak sempat bertemu Nona Ae-sin.
Hanya itu yang kucemaskan.
Aku agak sedih.
Aku bahkan belum memegang tanganmu, tapi aku harus pergi.
Astaga.
Astaga. Kau konyol.
Kenapa ingin memegang tanganku yang kasar?
Astaga.
Pegang saja tangannya.
Pegang sekarang juga.
Ya, waktu kita tak banyak.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Kalian membuatku malu.
Kenapa kalian mengikuti kami?
Kami ketakutan sekarang. Jangan ganti topik pembicaraan
dan hiburlah kami agar kami tenang.
Biar aku yang pandu, Pak.
Dia pasti ada di tandu.
Anda harus memujiku atas semua ini, Pak.
Peleton Satu, ke sana! Peleton Dua, ke sini!
Cari tandu.
Siapa pun bisa menemukan tandu.
Berhenti bicara omong kosong.
Bawakan saja daftarnya.
Mereka kabur dari persembunyian.
Kini yang tersisa
adalah daftar yang katanya kau miliki.
Kalau ternyata itu tak penting,
aku akan memenggal kepalamu
dan membawanya kepada Tuan Ito.
Aku akan bilang kau salah satu pemberontak.
Paham?
Ya, Pak!
Cari tandunya!
- Ya, Pak! - Ya, Pak!
Aku melihat tandu. Sebelah sini!
Aku mendengar langkah kaki.
Mereka pasti mengikuti kita sekarang.
Aku kagum dengan pria itu.
Dia bisu dan tuli,
tapi upayanya pasti hebat.
Astaga, apa maksudmu?
Pria itu pembicara yang fasih dan nyanyiannya bagus.
- Kau serius? - Sungguh?
Apa hanya aku yang tahu?
Aku tak pernah melihatnya bicara.
Dia pasti bicara dengan jelas di saat-saat terakhirnya.
Sebenarnya, bagaimana kalau kita
menyempatkan mengatakan hal yang tak pernah kita katakan juga?
- Ide bagus. - Lagi pula, kita segera mati.
Ya, ayo.
Ada sesuatu yang selalu ingin kukatakan.
Apa? Katakanlah.
- Keluar dan sambutlah! - Astaga.
Keluar dan sambutlah!
Astaga, kau benar.
Kalau hari ini memang hari terakhir dalam hidupku,
aku tak perlu menahan diri.
Dengar.
Terima kasih selalu ada di sisiku.
Kemarilah.
Mari berpegangan tangan.
Ayo, pegang tangannya!
Kau yakin?
Astaga.
Sub by Netflix Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Terjemahan subtitel oleh Cindy Fatricia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.