Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Aku ingat saat kali pertama kemari.
Mereka bilang Forte dei Marmi adalah kota pantai mewah.
Memang…
Seperti masuk ke kartu pos.
Saat semuanya tampak diatur dengan sempurna.
Gorden putih dan biru di kelab pantai.
Pasir yang tersapu.
Suara tawa yang terbawa angin.
Aku terkejut dengan suasana abadi ini.
Sepeda berlalu tanpa suara di jalan saat matahari terbenam.
Tempat yang bagus untuk liburan musim panas.
Tapi di Forte dei Marmi juga,
siang lebih pendek dan malam lebih panjang.
Di puncak Alpen Apuan,
marmer putih yang hancur
memberikan jalan bagi lapisan es salju.
Gelap melahap terang.
Lalu rasa takut menguasai kita.
Bahkan di Forte dei Marmi,
kita belajar menjaga diri agar tetap aman.
Kota cerah yang tenang itu
kini tampak kosong.
Seolah dievakuasi.
Kisah ini
adalah kisah musim dingin.
KAMERA PAC-15
KEAMANAN RAFFAELLI
Tolong…
Tolong!
Tolong…
Ada apa? Kenapa kemari selarut ini?
Keluarga Clementi. Mereka hanya mau bicara kepadamu. Dari Barbados.
Mereka kurang kerjaan.
Mereka khawatir karena sesuatu yang mereka lihat di kamera gerbang.
Aku berniat tidur beberapa jam malam ini.
Katamu aku bisa meneleponmu untuk klien kelas atas.
Kau sudah benar.
- Selamat malam, Emma. - Tidurlah.
Akan kucoba.
Tuan Clementi.
- Kau sudah di rumahku? - Ya, aku di sini.
Lantas? Semuanya baik-baik saja?
Kamera perimeternya baik-baik saja.
- Ya, tapi… - Tak ada tanda pembobolan.
Tidak, sudah kubilang, gadis itu kelihatan panik.
Entah apa yang dia lihat. Mungkin ada pencuri.
Mereka menyerbu negara ini. Tak ada lagi tempat yang aman.
Aku mengerti. Kita tak tahu apakah ini imigran.
- Tapi, tolong, periksa lagi. - Baik, akan kuperiksa.
Terima kasih, Santini.
Baiklah, selamat malam.
Sebenarnya, di sini tengah malam.
Tapi, terima kasih.
- Sampai jumpa, Santini. - Dah.
Apa yang dia lakukan?
Apa yang kau lakukan?
KESUKAAN
CARABINIERI
- Selamat malam, Santini. - Malam.
Ada yang menyetir sambil mabuk antara jalan Volta dan Carrara.
Pelat nomornya Peter, Ida, 55388.
Akan kusuruh seseorang ke sana.
Terima kasih.
Dengar, tak perlu suruh orang.
Apa kau yakin?
Ya, akan kuurus. Dah.
- Apa masalahmu, Berengsek? - Dario.
Apa aku mengenalmu?
Aku kenal ibumu.
Masuklah. Kau tak boleh menyetir. Kuantar kau pulang.
Tenang.
Sial…
Apa yang dia lakukan?
Kita selesaikan nanti. Masuk.
Selesaikan apa?
Dia menyetir sambil mabuk.
Untungnya, aku melihatnya.
Sayangnya lebih alkohol.
Kenapa masih di luar selarut ini?
Pasti ada miliarder kehilangan kucing.
Mobilnya di Volta.
Terima kasih, Roberto.
- Selamat malam. - Ya.
Senang melihatmu.
Dario?
Dario, buka.
Dario!
Dario, buka.
Dario…
Selamat pagi.
Kau pasti bercanda, ya?
Angela saja tahu kau tak di sini semalam. Dia pulang pukul 03.00.
Pada hari Senin.
Di rumah ini sudah tak ada aturan.
- Boleh aku bertanya? - Tentu.
Klienmu, para antropolog,
apa mereka tahu saat kau tak bisa tidur di sini, kau tak tidur di rumah mereka?
Mereka di Afrika Selatan, untuk sementara.
Di mana Angela?
UNTUK WALI KOTA
Jika kau tertarik, tanya saja atau lacak ponselnya.
Kita sudah membahasnya. Aku tak mau pasang pelacak di ponselnya.
- Biarkan dia jalani hidupnya. Dengar… - Tentu.
Kau di halaman pertama dengan Pilati.
PILATI DUKUNG CLAUDIA RAFFAELLI
Bagus! Aku benar-benar lupa.
Lihat betapa bahagianya dia. Selamat pagi.
Selamat pagi, Nona.
Kami sehat. Kau?
- Jawab. - Angela!
Kau melanggar jam malammu.
Berapa kali kubilang jangan sampai larut di hari sekolah?
Aku sudah bilang ke Ibu.
Aku mengerjakan tugas di rumah Ginevra dan kami ketiduran.
Dari mana kau?
Sudah telat, aku pergi.
- Jangan main ponsel di sepeda. - Katakan sepuluh kali sehari.
Kau lihat Ibu di halaman pertama?
Angela! Kau lihat Ibu di halaman pertama?
Dia tak dengar, dia buru-buru.
Sekalipun dengar, apa dia peduli?
Ini dia orang yang peduli.
Matteo!
- Sayang sekali. - Pindahkan ini.
Bukan citra terbaik kita, 'kan? Ayo, cepat.
Kumohon, minumlah obat tidur. Kau seperti vampir.
Obat itu membuatku gila.
Dan kau normal jika seperti ini?
Selamat pagi!
Matteo.
Selamat untuk halaman pertama.
- Terima kasih. Lihat betapa bagusnya. - Tentu saja.
Ini versi barunya.
- Bagus. - Kali ini kau akan menyukainya.
Kami bahkan mengubah musiknya.
- Ini dia. - Laut. Indah.
Sempurna.
Bidikan panorama.
- Dengan Forte. - Ini bagian buruknya.
Aku tegang.
Itu tak benar.
Di dunia yang terancam, memilih saya adalah masa depan yang lebih aman.
- Kau hebat. - Aku terlalu banyak tertawa.
Di acara penggalangan dana Pilati…
- Tebak, siapa yang memihak kita. - Siapa?
Marcello.
Ferrario.
- Sang miliarder? - Ya.
- Hebat. Luar biasa. - Bagus.
Tim keamanannya sudah meneleponku. Ambil ini juga.
Pak Santini akan mengurusnya?
Tidak. Aku.
- Bagus. Ayo pergi. - Ayo.
UNTUK KOTA YANG LEBIH AMAN
- Selamat pagi. - Hei, selamat pagi.
Kenapa kau di sini? Bukankah kau kerja malam?
Aku ingin menunjukkan sesuatu.
Apa?
Ini yang direkam kamera Clementi semalam.
Sial.
Klien mana yang tinggal di jalan itu?
Kenapa, rekamannya tersalin?
Ya, semua kamera perimeter menyalin rekamannya.
Entah mereka bayar atau tidak.
Aku kurang tidur semalam.
Kenapa pakai mantel? Kau kedinginan?
Aku benci musim dingin.
- Lihat betapa mahirnya kita. - Yang terbaik.
Lihatlah.
Ini dia.
Siapa yang mereka tangkap?
Aku tak tahu.
Astaga!
Ada apa?
Walter.
Itu putrinya, Maria.
Spezi.
Dahulu dia teknisiku.
Yang terbaik di pasaran.
Siapa pria yang merekam?
Walter…
PERPUSTAKAAN MATA KULIAH MENULIS KREATIF
Jadi, sebelum memuaskanmu dengan kata-kata bijakku,
aku harus memberi kabar buruk.
Maria Spezi, teman sekelasmu, ada di rumah sakit.
Astaga, apa yang terjadi?
Pasti tersandung botol minum ayahnya.
Teman-teman, tolonglah.
Maria baik-baik saja. Bukan luka serius. Sekarang, ayo kita mulai.
Jadi, Angela. Kita berhenti di apel perselisihan.
- Kau siap? - Tidak. Belum.
Aku harus membawa ibu dan ayahku
ke ruangan yang sama lebih dari sepuluh detik.
Profesor…
Sayang…
Aku tak tahu cara lain memberitahumu.
Aku bukan profesormu.
Sejarah, Matematika, Geografi, pelajari di luar sana, dengan yang lain.
Aku di sini mengajarimu cara mencari kebenaran.
Tanpa sensor.
Bukan kebenaran yang mereka tunjukkan di televisi atau media sosial.
Teman-teman, aku di sini
untuk mengajarimu cara membuat hidup menarik di atas kertas.
Dengan asumsi, kau selamat dari agen, publisis, editor, dan lainnya.
Ponsel.
Abu menjadi abu.
Debu menjadi debu.
Kami antarkan ponsel ini ke tempat istirahat sementara mereka.
Ingat.
Rahasiakan pembicaraan di tempat suci ini,
jadi, tolong,
tak ada penghakiman,
kejujuran sampai akhir.
Ginevra. Silakan.
Aku mendengarkan.
Judul sementara,
Dia Tertangkap!
"Kali pertama bertemu rekan ayahku,
Volmaro,
usiaku enam tahun."
"Sepuluh tahun kemudian, aku menjadi lolita-nya."
"Dia adalah balas dendamku terhadap orang tuaku."
"Dia tak pernah puas."
Ibu!
"Tak pernah puas."
"Itu bukan soal bercinta, tapi mempermainkan pikiran orang."
Maaf, Angela, kau ingin ribut lagi?
Maaf, tapi apa hanya aku yang berpikir
sudut pandang narator kurang empati?
Profesor, ini traumaku.
Aku tak mau berdiri dan tersinggung seperti ini.
Kau benar.
Tak perlu tersinggung.
Silakan lanjutkan.
"Kami tak selalu bisa lolos."
- Enzino. - Hei.
- Penjaga. - Bagaimana semuanya?
- Baik. Kau? - Baik. Dengar…
Siapa pria yang merekam? Domenichetti?
Kenapa? Kasus sudah ditutup.
Dia bersalah, dia mengaku. Lihat berkasnya.
Tetangga Spezi, Rizieri.
Dia mengeluhkan Spezi karena mabuk dan tak terkendali.
Dia takut pada putrinya.
Dia bilang mereka bertengkar hebat beberapa jam sebelumnya.
Kembali normal adalah pendakian curam.
"Pendakian?"
Tak semua orang mampu.
Maria.
Dalam skala satu sampai sepuluh, seberapa sakitnya?
Sebelas.
Kita pelan-pelan dulu. Jadi…
Bisa gerakkan jarimu seperti ini?
Bagus. Sebaliknya.
Biar kuperiksa mobilitasmu.
Pelan-pelan saja. Lepaskan tanganmu, biar aku saja.
Aduh!
Ayo coba lagi. Lepaskan.
Aduh!
Jadi, Maria.
Pundakmu terkilir.
Jika terus begini, lenganmu akan bergeser karena tak bisa bergerak.
Makin banyak bergerak kini, makin sedikit nanti.
TOKO ROTI MAKANAN MANIS, PASTRI, KUE
Hei!
Hei…
Ayo. Makan buah terlarang ini.
- Sudah. - Makan lagi.
Sayang, untuk itu, kau butuh orang seusiamu.
Kau tak pernah puas.
"Tak pernah puas"? Apa?
Jangan membandingkanku dengan Ginevra!
Hubungan kita ini nyata.
Ya, tapi aku harus kerja.
Ada apa?
Minggu malam kau pulang larut.
Kau tak membiarkanku tidur di sini. Dari mana kau?
Kau bicara seperti mantan istriku, karena itu dia mantan.
Aku tahu, maaf.
Aku tak mau mengekangmu.
Tapi aku merasa ada yang salah. Aku hanya ingin membantumu.
Dengar…
Tekanan pada buku ini membuatku gila.
Aku tak tahu apa bisa selesai. Jika kau di sini, tak bisa.
Jadi, tolong, beri aku seminggu lalu aku milikmu,
tapi pergilah dulu.
Kumohon.
Kau belum jawab, dari mana kau Minggu malam?
- Keluar, berkeliling. - Untuk apa?
- Mencari sesuatu? - Apa?
Entahlah. Sesuatu. Inspirasiku.
Omong-omong, Ginevra mengunggah fotomu.
Apa aku terlihat keren?
Sangat keren. Di halaman sekolah.
Semua orang akan mati jika tahu.
Tapi mereka tak boleh tahu, Angela.
Tak pernah.
Kau menyakitiku.
Kau menyakitiku.
Kau menyakitiku!
Ada apa?
Aku menyelaraskan audio dari ponsel Domenichetti.
Ini salahku!
Ini salahku!
Tragis sekali, masalah Spezi.
Itu bisa saja terjadi padamu.
Itu tak adil.
Kau cantik malam ini.
- Sungguh? - Ya.
Aku ingin tahu apakah untuk acara atau untuk Pilati.
Kau tahu, jika aku belum menikah, aku akan tertarik padanya.
Tidak benar. Kau sudah menikah, tapi tetap tertarik padanya.
Aku paham.
Dia kebalikan dariku. Semua yang tak akan pernah kulakukan.
Pria kaya dan elegan.
Kaya.
Mungkin di alam semesta lain.
Sudah sampai.
Jadi, jangan terlalu bersenang-senang.
Dan, tolong, ingatlah, jangan jabat tangan Pilati.
Kenapa "tak boleh menyentuh"?
Aku mengerti saat kau kaya, kau bisa punya fobia, tapi…
Hubungan tanpa sentuhan bukanlah hubungan nyata.
Tidak juga.
Selamat malam.
Selamat malam.
Alangkah bergaya, Carlo.
Selamat malam.
- Curzio… - Claudia.
Lihat hasilnya?
Orang-orang penting ada di sini.
- Hebat. - Berkat kau.
Berkat kau.
Roberto, lihat istrimu malam ini. Dalam cahaya ini, dia seperti
Venus de' Medici.
Halus di luar, keras seperti marmer di dalam.
Kau beruntung, Roberto.
Aku pun selalu berpikir begitu.
- Pidato lima menit lagi. - Tentu.
Miliarder Ferrario di sini.
Matteo, ayolah. "Ferrario" sudah cukup.
- Pesan satu wiski. - Roberto.
Boleh kuperkenalkan pada klien Amerika baruku, Camilla?
Dia baru membeli rumah di Via Gorizia.
Kebetulan, jika rumor itu benar.
Rumor apa?
Jika Marcello Ferrario akan berinvestasi,
kami perkirakan nilai rumah akan naik setidaknya 20 persen.
Kau tahu seharusnya Ferrario tak ada di sini malam ini?
Malahan, tak boleh ada foto. Bahkan dengan ponsel.
Jangan sampai orang progresif seperti dia terlihat bersama kandidat dari Kanan.
Apa kami membuatmu bosan?
Ya.
Tidak, aku bercanda.
Aku menderita insomnia. Aku belum tidur beberapa malam.
Kasihan.
Kau minum obat?
Jika tidak, kau berisiko mengalami halusinasi.
Aku tahu.
Pertama-tama,
tak ada alkohol.
Hadirin, boleh minta perhatian kalian?
Aku kenal kalian semua, dan aku tahu, bagi kalian, Forte dei Marmi
adalah rumah kedua. Bahkan ketiga, keempat.
Tapi Forte adalah tempat
yang kita sayangi.
Tak ada yang bisa bilang kita tak pantas,
atau kita akan marah.
Tuan-tuan.
Wali kota kita berikutnya, atau lebih baik lagi,
wali kota wanita pertama
dan juga wali kota terbaik kita, aku jamin.
Claudia Raffaelli, untuk Forte dei Marmi yang lebih aman.
Terima kasih.
Aku lahir di Forte dei Marmi.
Aku besar di sini.
Putriku lahir dan dibesarkan di sini.
Di sinilah aku ingin menua.
Saat aku kecil, aku akan berkeliling dengan bebas.
Jalanan aman.
Kita tak perlu takut.
Pintu dibiarkan tak terkunci.
Pikirkan itu.
Ada alasan mereka disebut "penjajah".
Atau "tak diinginkan".
Dan jangan lupakan
utang kita kepada Kolonel Mori…
jika gelombang pencurian dan perampokan baru-baru ini akhirnya terkendali.
Kau tahu,
peristiwa dramatis
seperti yang menyerang kita
di Minggu pagi,
yang melibatkan gadis muda itu
adalah contoh sempurna.
Dia diserang
oleh orang yang dia percaya.
Apa kau mau masuk?
Kau mau ada vampir berkeliaran di dalam rumah pukul 03.00?
Semua orang menyukaimu malam ini.
Claudia?
Sudah larut, ada apa?
Roberto, anak itu mengubah omongannya.
Dia bilang kejadiannya di rumah Pilati.
- Apa? - Tapi itu tak benar.
Jangan khawatir, Pilati tak ada di sana. Dia di Milan. Rumahnya kosong.
Masalahnya bukan itu, tapi publisitas buruk.
Kau harus perbaiki ini.
Secepatnya. Paham?
Baiklah.
Apakah terlalu ketat?
Biar kulonggarkan sedikit.
Tunggu.
Perlihatkan tanganmu. Yang satunya.
Roberto, tolong beri tahu istrimu jangan khawatir.
Jelas, gadis itu melindungi ayahnya.
Setelah efek biusnya hilang,
dia melihat ayahnya ditahan, dia panik.
Kini dia bilang kejadiannya di rumah Pilati,
dia minum banyak, ada anak lelaki di sana.
- Anak apa? - Dia tak tahu.
Dia lupa namanya. Ini omong kosong.
Dia mengarang semuanya.
Dengar, Spezi sudah di sini.
Dia mabuk, linglung, bahkan melawan,
tapi dia mengaku ada di tempat kejadian, jangan lupa.
Apa ada pemakaian narkoba?
Hasil tesnya bersih.
Kecuali obat yang diberikan rumah sakit untuk nyerinya.
- Di mana Walter sekarang? - Dibebaskan.
Jika putrinya tak mau menuntut…
Tenang. Kami akan memulangkannya dengan orang dinas sosial.
- Permisi. Alessandro? - Maaf.
Ya, aku bisa.
Aku kalah taruhan dengan diriku.
Taruhan apa?
Kupikir aku tak akan melihatmu setahun lagi.
Dengar. Apa kau sudah ambil mobil Dario?
Ya.
Ya.
Aku ingin kau bicara kepadanya. Kau tahu dia di mana?
- Jika dia berulah, kau mau memberitahuku? - Tentu.
Dia bekerja di restoran Gilda.
Baik, mungkin aku akan menemuimu lagi nanti.
- Dah. - Baiklah.
Dario belum kemari dalam lima, enam minggu.
Dia bilang alasannya?
Kami baik-baik saja tanpa dia.
Terima kasih.
Jika kau temukan bajingan itu, suruh dia hubungi Letizia.
Agar aku bisa mengacuhkannya.
Maria, kau tidur di mana?
Di atas.
Dan kau tidur di mana, Pak?
Di dalam sana.
Apa kau punya pekerjaan untuk menafkahi putrimu?
Ya.
Baiklah. Apa kau yakin?
Ya, kenapa semua orang terus bertanya begitu?
Aku aman di sini.
Baiklah.
Aku akan pergi. Ini.
Ini untuk nyeri.
Penting bagi Maria meminumnya sesuai resep dari rumah sakit.
Dah, Maria.
Maria, maaf. Jika kau mau, kita bisa bahas kejadiannya.
Jangan sekarang.
Jangan cemas, aku bilang kau tak terlibat.
Dengar, Maria.
Aku akan membersihkan namaku, lihat saja.
Mereka tak bisa memperlakukan kita begitu!
Mereka tak bisa begitu!
Kau tertidur.
Tapi aku bisa membantumu.
Santini, kau sehat?
Dia tertidur.
Santini, lampunya hijau. Pergilah ke tujuanmu.
Roberto. Insomnia…
Malam, gelap, itu perspektif baru.
- Kau harus menerimanya. - Enyahlah, Wanita Tua.
Gigi busuk di senyum indah Forte dei Marmi.
Kau tak tahu sudah berapa lama aku menunggu momen ini.
Indah sekali.
Luar biasa.
- Kita masuk? - Ya.
Untuk bagian luar, aku memikirkan kamera termal perimeter.
Tak ada pencemaran cahaya dan sensor gerak.
Sistem pengenal wajahnya sangat akurat.
Ini dapat mengenali siapa saja, teman, musuh, yang tak diinginkan.
Apa pun pertanyaan kalian, jawabannya "ya".
Kini kita bisa melakukan apa pun dengan teknologi.
Tak ada yang diperkosa, tak ada yang mati,
tak ada tulang patah, selaput daranya utuh.
Itu hanya pertengkaran keluarga.
Kau di bidang yang benar, Pak Santini.
Ya, Marcello.
Orang seperti kita adalah target. Tak bisa disangkal, dunia sudah berubah.
Dan kita, sebagai target,
tak bisa lagi mengasihani mereka yang tertinggal.
Marcello!
Aku tak mau benteng.
- Rumahnya indah karena lokasinya. - Di pusat.
Dia hanya ingin dekat Prada dan Gucci.
Mari.
Boleh kubaca bukumu?
Belum siap.
Kali ini, aku ingin kita klimaks di saat yang sama.
Aku tak mau klimaks sampai kau klimaks.
Apa-apaan, Angela…
Rasanya kau tak menginginkanku seperti dahulu.
Kupikir mungkin dengan ini…
Apa maksudmu?
Usiaku 40 tahun, bukan 70.
Kau pikir ini masalahnya?
Hanya butuh pil biru?
Astaga, Angela. Kau kekanak-kanakan.
- Maksudku, sayang sekali, 'kan? - Apa?
Kau butuh bajingan itu demi menjadi wali kota.
- Itu bagian dari permainan. - "Permainan"?
Ya.
"Selaput daranya utuh." Bagus.
- Aku penasaran bagaimana mungkin. - Apa?
Kau tak peduli kejadian yang menimpa Maria?
Itu lelucon, Roberto.
- "Lelucon"? - Ya, lelucon.
Gadis itu ketakutan setengah mati dan kita membuat lelucon?
Aku tak bisa berhenti berpikir itu bisa menimpa Angela.
Tapi tidak.
Aku memastikan itu tak akan terjadi, kepadanya atau siapa pun.
- Ya. - Ya?
Sulit dipercaya.
Mari bahas dirimu.
Katakanlah. Apa kau menemui Elena lagi?
Tidak.
- Tidak? - Tidak.
Tidak. Bagaimana dengan ini…
- Pil biru siapa ini? - Bukan punyaku.
- Bukan punyamu? - Bukan.
Ya, itu milikku. "Musculus 5".
Claudia, usiaku 40 tahun, bukan 70. Aku tak butuh itu.
Tentu saja, kau terlalu mahir.
- Di mana kau menemukannya? - Di rumah. Di mana lagi?
Pasti ada struk, faktur, bon. Periksa!
- Biar kuperiksa dompetku. - Mungkin pesan daring.
Ini. Aku menemukannya.
Aku yakin kau berharap aku tak menemukannya, tapi…
Ini milik Angela.
Untuk apa dia membelinya?
Bukankah ini ilegal? Dia di bawah umur. Siapa yang memberikannya?
Astaga. Dia tidur dengan siapa?
Apa dia tidur dengan pria tua?
Astaga, keluarga ini hancur.
Kita sudah tak saling bicara.
Kita seperti teman sekamar yang tinggal seatap
dan begitu saja.
Kau gila.
Kenapa dia tak dipenjara?
Puncak kemewahan hanya ada di Forte dei Marmi!
Astaga, teman-teman…
Dia gila.
Apa dia kemari?
Semoga tidak.
Astaga.
- Apa yang kau lakukan? - Dia gila!
Nak Chiara, kau masih sama.
Teman-teman…
Apa kabar?
Dan kau?
Ingat saat kau suka datang
ke pesta ulang tahun Maria dan istriku membuat kue malaikat?
Kau makan terlalu banyak.
Teman-teman, apa yang terjadi pada semua orang?
Entahlah. Siapa tahu?
Omong-omong…
Tidak…
Ini dari bulan September. Itu setelah penangkapan April.
Pada bulan September, mereka menembakku dengan pistol listrik
saat aku bersantai di taman.
Kini polisi dan Carabinieri harus menangkap semua orang.
"Masa depan yang lebih aman"?
Tidak bagiku, aku statistik. Semua orang tahu itu.
255 SUKA - PUNCAK KEMEWAHAN HANYA ADA DI FORTE DEI MARMI
- Kau lihat ini? - Apa?
Pesan dari Angela. "Rapat keluarga besok pukul 15.00."
"Tak ada alasan." Apa rencananya?
Kita akan tahu besok.
Tak ada alasan…
Kabar baiknya, dari lima pemilik Vila Casamora,
empat orang sudah menerima.
Hanya satu saudara yang masih agak enggan.
Kenapa?
Dia ingin lebih dari seperlima.
Bagus untuknya. Tapi dia menggertak.
- Jujur, kurasa begitu. - Teruskan. Jangan pedulikan aku.
Sekarang, mari beralih ke subjek kontrak.
- Ini aku. - Hai.
Urusan kita belum selesai.
Ya…
Ya.
Jika kau carikan tempat, aku bisa cari waktu.
- Kapan? - Malam ini?
Aku hampir yakin bisa menemukan pengasuh.
Dengar, jangan harap aku mengasuh Federico.
Tentu tidak. Alangkah tak manusiawi meminta hal seperti itu darimu.
Pergi ke rumah Ugo.
Kenapa tak bilang kau berhenti kerja?
Aku benci hidupku. Malam ini?
Tentu. Kukabari nanti.
- Baik. - Dah.
Siapa itu?
Emma.
Dia ingin beralih ke sif siang.
- Kubawakan kopi. - Terima kasih.
Sial.
"Syarat penjualan".
"Penjualan dibuat sesuai syarat dan ketentuan berikut".
Akan kujelaskan nanti…
"Properti yang dipertanyakan,
adalah dan akan berupa, sampai tanggal kontrak penjualan akhir…"
Aku harus memberitahumu.
"akta, tanpa penyitaan…"
- Tidak! - Jangan sentuh dia.
Jangan sentuh dia.
Dia tak bisa disentuh, jelas?
- Aku tak bermaksud. - Maaf.
Bagiku, sentuhan
seperti mengurus daging mati.
Curzio, maafkan aku. Aku malu.
Sulit dipercaya.
- Aku selesai. Aku pergi. - Ya…
Selamat tinggal.
Kau bodoh sekali, Dario.
Dan itu Maria.
Ya, bersulang.
Bagus, Pilati.
DIHAPUS DIATUR ULANG
DIHAPUS DIATUR ULANG
Emma, kenapa kamera internal Pilati ada yang diatur ulang?
Pasti ulah staf Ferrario.
Staf Ferrario? Siapa yang memberi izin?
Istrimu.
Kenapa salinan kamera perimeter hilang dari iCloud?
Dia memberikan akses penuh.
Mereka harus menghapus semua bukti kehadiran Ferrario.
Akses penuh?
Untuk penggalangan dana!
Rekaman ruang kerja juga hilang. Kenapa?
Karena Ferrario masuk ke sana. Karena kita semua masuk.
Makanya hilang.
Maaf, Roberto. Claudia bilang jangan mengusikmu dengan hal itu.
Tak apa-apa. Maaf.
Claudia melakukan hal yang benar.
Dia benar.
- Aku benci Ugo. - Hentikan.
- Itu tak benar. - Benar.
Halo. Bagaimana kabarmu?
- Terima kasih. Aku berutang padamu. - Tak masalah.
Baik-baik, Sayang. Ibu menyayangimu!
Apa?
Nokturnal. Seperti kau.
- Hati nuraniku. - Tidak malam ini.
Ada kamera tersembunyi, Santini?
Ada yang memata-matai kita?
Bisakah kamera termal mendeteksi kegembiraan?
- Tentu. Ya. - Ya.
Ya, Federico.
Jangan khawatir. Aku datang, aku di dalam mobil.
Sudah, ya.
Elena!
Elena…
Elena!
- Mau ke mana? Ada apa? - Federico menelepon, dia putus asa.
Dia tak mau ke rumah Ugo, dan aku memaksanya.
Ibu macam apa aku ini?
Lihat kenapa aku tak bisa begini? Aku salah, akalku hilang.
Maaf, tapi ini salah, aku tak punya waktu untuk membuat kesalahan ini.
Kesalahan? Inikah kita yang sekarang? "Kesalahan?"
Urusan kita belum selesai.
Dan kau benar.
Kau tahu, saat…
Saat kita putus, aku berjanji pada diriku
jika aku tak bisa memilikimu, aku tak mau apa-apa lagi.
Dan itulah yang kudapat.
Tak ada.
Aku tak membiarkan orang lain membuatku merasa saat bersamamu, hidup.
Kini aku menjadi pria tanpa wajah, tanpa karakter.
Tatap aku.
Satu anak membenciku dan yang satunya tak bisa jauh dariku.
- Biar kubicara pada Dario. - Sudah kubilang. Aku bisa.
Dia di rumah Pilati di malam sesuatu menimpa Maria.
Kenapa baru bilang?
Kau bicara setelah kita tidur bersama?
Astaga!
Kita bilang tak akan terulang lagi.
Kukatakan sekarang karena aku merasa dia pelakunya.
Aku harus bicara kepadanya sebelum orang lain.
Tak ada alasan untuk membiarkan ini.
Dia di atas. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku ingin di sini.
Minggu malam, saat aku menemukanmu,
apa kau mabuk?
Dari mana kau?
Minggu?
Aku minum dengan teman di bar di Sarzana.
- Apa pedulimu? - Aku peduli karena itu tak benar.
Kau di rumah Curzio Pilati.
Benar?
Benar.
Minggu, ya.
Aku bekerja untuknya. Lalu?
Ada pekerjaan kecil, kebanyakan di malam hari.
Aku mengawasi…
Seperti penjaga.
Dario, Sayangku,
orang waras mana yang menyewamu sebagai penjaga?
Ini alasannya aku tak pernah cerita apa-apa ke ibuku.
Di mana kau bertemu Pilati?
- Apa ini interogasi? - Ya!
Di Bagno Gilda. Dia selalu datang untuk makan siang.
Dengar, Roberto…
Dia membayarku tiga kali lipat dan itu mengalahkan membersihkan pasir.
Lalu kameranya?
- Kamera? - Yang kau copot dari dinding.
Aku mengerti…
Kalian tidur bersama
dan ini memberimu hak untuk berlagak jadi Ayah, tapi tak bisa begitu.
Dario!
Aku merusak kameranya karena dia memecatku tanpa alasan.
Dia orang aneh.
Lalu Maria Spezi? Kenapa dia di sana?
Jadi?
Baiklah.
Pilati dan pria lain menemukan Maria yang berkeliaran.
- Pria mana? - Entahlah. Seseorang.
Dia mencoba masuk ke gereja di Via Trento. Dia menangis.
- Mereka memaksanya masuk ke mobil? - Mobil siapa?
- Mobil Pilati. - Maria masuk begitu saja?
Tidak. Jelas, tidak.
Dia kenal pria ini dan pria ini mengenalnya.
Dengar, dia sangat terguncang.
Entah kenapa.
Kami minum, kami mabuk, terutama dia.
Lalu kami buatkan kopi.
- Kopi? - Ya, kopi.
- Soal kopi itu benar. - Lihat?
Aku mencoba menenangkan gadis ini dan langsung pulang.
Sumpah.
Aku juga menyesal dia sampai terluka.
Apa pun yang terjadi, aku tak tahu apa-apa.
Gereja di Via Trento.
Satu per satu.
Pelan-pelan.
DI MANA KAU? KITA ADA RAPAT KELUARGA!
- Sial! - Kalian mau ke mana?
Aku lupa sesuatu.
Kau terlambat. Aku mengirim pesan, kau lihat ponselmu?
Jalanan macet.
Jadi,
esaiku berjudul "Apel Perselisihan".
Bu, aku tahu kau tak akan suka.
Saatnya mengatakan yang sebenarnya di keluarga ini.
Lebih baiknya, kejadian di keluarga ini saat aku berusia tujuh tahun.
Baiklah.
Kenapa hal ini seperti "apel perselisihan"?
Kenapa tak bisa membicarakannya?
Angela, karena…
Karena itu buruk.
Hari terburuk dalam hidupku.
Kau hilang selama sepuluh menit di taman.
Sepuluh menit kesengsaraan.
Sepuluh menit penderitaan.
Lalu kami menemukanmu di belakang korsel.
Ada Walter Spezi gila yang melecehkanmu.
Dia mengeluarkan penisnya dan celananya dikotori sperma…
Claudia…
Untungnya, ayahmu tiba dan menghentikannya.
- Itu saja. Kau senang? - Kenapa aku tak ingat?
Karena kau trauma, Sayang.
Pikiranmu melindungimu dan melupakan.
Aku hanya ingat dokter aneh yang menunjukkanku boneka…
Psikiater yang membantumu sembuh.
- Kenapa Spezi tak dituntut? - Pertanyaan bagus.
Pertanyaan bagus.
Aku bisa tuntut sekarang. Akan kuurus.
Kali ini, dia akan dapat hukuman.
Ibu! Dia pergi.
Kau tahu mustahil membahas itu padanya.
Sempurna!
Kau juga tak bisa bantu?
Aku hanya bisa bilang itu kencing, bukan sperma.
Omong-omong soal kebenaran…
Kau akan cerita tentang pil biru. Jangan bergerak.
Claudia!
Claudia!
Aku harus memecat Spezi karenamu, tapi itu tak cukup?
Tidak! Bukan.
Aku tak paham kenapa kau menyelidiki semua orang, tapi kau menolak
menyelidiki putri kita dan yang dia sembunyikan dari kita.
- Mungkin karena aku tak mau tahu. - Ya, jelas.
Angela!
Berapa kali aku berjanji tak akan melakukannya?
Sering, aku berjanji.
Mari coba tanggal lahir.
Tanggal lahir terbalik.
Kira-kira apa? Alamat?
Jangan bilang kau sangat…
Angela. Aku belum mengajarimu apa pun…
Lima, delapan, tiga,
nol, dua, empat.
PONSEL ANGELA
Dari mana saja kau?
Senin,
rumah dan sekolah.
Selasa…
Tempat apa ini?
"Toko roti" apa ini?
Ke mana kau pergi?
CAPRIGLIA - PERUMAHAN
Tenang…
"Sayangku!"
Siapa pria ini, Angela?
Siapa? Siapa dia?
KENANGAN
"Liburan. Teman."
MILAN!
Tidak…
Bagaimana tulisanmu?
Aku berusaha mencari kebenaran
dalam kabut kenangan yang bertentangan.
Bagaimana kau menemukanku?
Bisa-bisanya. Kau memata-mataiku!
- Katamu kau tak akan begitu! - Siapa bajingan ini?
- Kenapa pergi ke Milan dengannya? - Dia bukan bajingan.
- Dia profesorku. - Profesormu?
Kami di Milan
untuk rapat penting dengan agen sastranya.
Dia ada rapat penting?
Bagaimana kalian bisa tidur bersama?
Baiklah. Kau mau aku jujur? Baik.
Aku tak mau kuliah. Aku akan pindah ke Milan bersama Stefano.
- Kau tak boleh pergi, Angela. - Kau tak mengerti.
Dia menulis novel yang mungkin akan sukses besar.
- Kau percaya omong kosong ini? - Omong kosong apa? Cari saja di Google!
Stefano Tommasi. Dia penulis.
Dia menulis buku yang dibeli dan dibaca orang sungguhan.
Lakukan sesukamu.
Tapi aku juga harus melakukan sesuatu.
Aku harus pergi ke Carabinieri
dan melaporkan profesormu di rumah Pilati bersama Maria Spezi malam itu.
Aku tak mengada-ada, aku punya bukti. Maaf.
Aku membencimu!
Kau bahkan tak tahu artinya jatuh cinta.
Kau tak tahu apa-apa tentang cinta!
Jadi, Maria…
Katamu orang yang bersamamu di rumah itu malam itu, yaitu Pilati
dan anak yang tak kau ingat namanya.
Ya.
Apa kau ingat sekarang?
Tidak.
Tak ada orang lain?
Tidak.
Jadi, kau tak ke sana bersama Pilati dan profesormu, Stefano Tommasi?
Tidak, itu…
Profesor Tommasi
pergi sebelum semuanya kacau.
Itu mudah.
Maaf. Apa tak ada orang yang ingin kau lindungi?
Maaf, aku tak enak badan. Aku mau cari angin.
Ada yang ingin kau sampaikan?
Aku tak menyakiti putriku.
Atau siapa pun.
Aku punya pertanyaan.
Walter.
Kau pikir kau pantas memiliki putri seperti dia?
Tidak.
Aku pergi sebelum kekacauan itu terjadi.
Aku pulang. Sumpah.
- Pulang? - Ya.
Ada yang bisa memastikan?
Tuan Pilati, kami siap saat kau siap.
- Dia datang! - Curzio…
Kau bohong. Kau bilang kau di Milan saat kejadian itu.
Tidak. Aku tak bilang begitu.
Kubilang aku meninggalkannya di dapur. Aku tak di sana.
Claudia…
Kau paham risikonya, 'kan?
Bukan hanya untukku. Untukmu dan pemilu.
- Banyak orang ingin membaca… - Foto, silakan.
- Ya. - Ya , tentu saja.
"Rekan Pilati ditangkap karena pelecehan seksual."
Pengacaraku sangat khawatir.
Tapi jika itu memang terjadi di rumahku, Claudia, dan semoga tidak,
kau harus membantuku.
Sementara, kulakukan yang kuperlukan. Aku memecat Dario, penjagaku. Binatang.
- Dario? - Ya, Dario Nobile namanya.
Dia bahkan memohon diterima kembali. Bayangkan.
- Sial. - Tuan Pilati, gunting untuk pitanya.
Ya, benar. Ide bagus.
- Bagus, Claudia. - Terima kasih.
- Wali kota kita. - Permisi…
Apa kau menghindariku?
Kau bahkan tak berpura-pura tidur di sofa lagi.
Kenapa kau memberatkan Pilati?
Kini dia harus meminta pengacaranya datang dari Milan.
Tidak, aku sudah paham.
Kau berusaha melindungi si bodoh Dario.
- Calon anak tirimu. - Apa?
Aku hanya ingin menyatukan petunjuk agar…
- Boleh? - Ya, tentu saja.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Jangan begitu. - Apa?
Berwajah begitu saat menilaiku.
Roberto.
Ini kesempatan besarku.
Kesempatan satu-satunya.
Ini hidupku dan aku tak akan membiarkanmu menghalangiku.
Entah kau
atau pernikahan kita.
Ya, aku ambisius.
Tapi, kau tahu?
Ada yang menganggap itu menarik.
Claudia, tunggu.
Apa? Ada yang harus kau jelaskan?
Matteo, bukankah kau ada kegiatan?
Pergilah.
Aku tak selalu seperti ini.
Ini…
- Tertutup? - Tidak.
Apa adanya.
Saat wanita itu menyentuhku di dapur, kau langsung membelaku,
tanpa memikirkannya, caramu.
Gahar, tapi dengan hati.
Kau membuatku tak terlalu kesepian.
Seolah kau memahamiku tanpa mengharapkan apa pun.
Kau bisa bayangkan perasaanku saat itu.
Ini…
Penyakit yang aku punya, penyakit ini,
menghancurkanku, percayalah.
Ini mendadak muncul.
Aku mencoba segalanya, bahkan hanya untuk mengerti,
tapi tak ada yang bisa menghubungkannya dengan apa pun. Mencari penyebabnya.
Membuatku tak mungkin
berhubungan intim apa pun. Aku membeku.
Aku mulai gugup lalu jatuh.
Tak bisa mengatasinya.
Wanita merasa ditolak, apa pun yang kukatakan.
Bukan salah mereka.
Jadi, akhirnya, aku memilih kesendirian. Itu yang termudah.
Aku selalu tertutup.
Aku kaya. Aku bisa mendapatkan semua yang kuinginkan.
Kecuali hal yang paling kuinginkan.
Sedikit keintiman.
Cinta yang juga layak kau dapatkan, Claudia.
Claudia…
Aku sangat ingin memecahkan masalah ini dengan bantuan terbaik.
Bantuanmu.
Ya, Claudia. Andai aku bisa bersamamu sekarang.
Di alam semesta ini.
Kau pria yang hebat, Curzio.
Aku akan membantumu.
Permisi.
- Resepsi. - Ya…
PEMERKOSA
Permisi.
Hari ini, Profesor Tommasi tak ada kelas. Kalian semua bebas.
Tidak, teman-teman, ini gila. Tommasi dan Maria…
DIA BUKAN PEMERKOSA
Kenapa kau kemari?
- Kenapa tak sekolah? - Kenapa Pilati kemari?
Apa kau terlibat?
- Dengar. - Lihat dirimu!
Dia mengubahmu menjadi kau yang menyedihkan dan membosankan.
Angela, duduk! Dengarkan aku.
Aku tak pernah menulis novelku.
Apa?
Aku penulis bayangan untuk buku Pilati.
- Kenapa tak memberitahuku? - Karena…
Karena bukan itu masa depan yang kubayangkan untuk diriku.
Tapi, kau tahu?
Pria itu memiliki kehidupan yang sangat menarik.
Dia menghasilkan jutaan dolar.
Dia tak punya keluarga dan ingin buku ini menjadi warisannya.
Angela, ada potensi di sini.
Dengan caranya, dia genius pemberontak.
"Genius pemberontak?" Dia bajingan!
Bajingan itu membayarku!
Uang sungguhan, Angela. Untuk membayar mantan istriku.
Aku tanya sekali lagi.
Jika kau tak jujur,
akan kuberi tahu kepala sekolah
kita bercinta 200 kali sejak Juni dan kubeberkan.
Apa yang kau lakukan Minggu malam?
Aku juga bilang ke Carabinieri, Angela.
Baiklah.
Kau tahu apa yang akan kita lakukan?
Kita pergi…
Kita akan pergi ke suatu tempat, tinggal di tempat yang kita suka.
Aku akan urus kita.
Aku bisa belajar dan bekerja. Kau menulis saja.
Ingatlah kau menulis buku laris!
Sepuluh tahun lalu!
Sepuluh tahun lalu.
Lantas kenapa? Ini kesempatan memulai lagi.
Usiaku 40 tahun, Angela.
Kau luar biasa.
Kau luar biasa.
Tapi rencana jangka panjang denganku mungkin bukanlah ide bagus.
Ini gila. Selama ini kita tahu ini tak akan bertahan.
Sekarang seseorang harus menjadi dewasa.
Dilihat dari identitas kita, pasti aku.
Kelak kau akan mengerti, Angela.
Kelak kau akan mengerti.
- Sesuatu terjadi. - Kita istirahat sebentar.
- Hai, Ayah. - Sayang,
Ada apa?
Jangan beri tahu Ibu, jangan beri tahu sekolah.
Jangan beri tahu siapa pun.
Dia meninggalkanku.
Sakit sekali.
Ceritakan semuanya. Ayo.
Duduklah.
Apa yang terjadi?
Katakan.
Dia bilang hubungan kami tak bisa jangka panjang.
Jangka panjang.
Lalu dia bilang salah satu dari kami harus dewasa.
Salah satu dari kita harus dewasa.
Lalu dia menyuruhku pergi.
Pergi!
Ayah…
- Kau baik-baik saja? Kau tak apa? - Ya.
Aku mau ambil air.
Ini dia.
Zeus turun dari Gunung Olimpus untuk menyelamatkan putrinya, Athena.
Hari Minggu, kau pergi sebelum atau setelah anak itu?
Hebat!
Hebat!
Aku akan menghancurkanmu, sumpah.
Kau tidur dengan putriku, muridmu.
Dan salahmu Maria masuk ke mobil itu.
Aku punya video sebagai bukti.
Kau kaki tangan. Alasan yang bagus untuk berbohong.
Aku tanya sekali lagi.
Hari Minggu, kau pergi sebelum atau setelah anak itu?
Maksudku,
soal gadis-gadis dalam kesulitan
ada alasannya, jika bicara soal erotisme.
Tapi aku selalu merasa pesta bercinta menyedihkan
dan saat kulihat terlalu banyak orang,
aku menawarkan Maria pulang.
Tapi dia tak mau pulang ke ayahnya.
Jadi,
aku pergi
sebelum anak itu.
Lagi pula, ada gadis baik yang menungguku di ranjangku.
Dasar bajingan!
Dasar…
Maaf. Kau konyol.
Kau tak bisa menahannya?
Roberto, kemarilah.
Lihat.
"Ayahku berubah total."
"Hal-hal yang dulu baginya tak terbayangkan
tiba-tiba menjadi kenyataan."
"Dia
seperti bom waktu"
Gadis malang.
Apa?
Video Maria Spezi yang diambil diam-diam saat pelajaran.
Mereka mengunggahnya dan sudah ditonton lebih dari 800 kali.
Bagaimana mungkin tak ada yang menyadari
semua tanda bahaya ini?
"Jika menunjukkan rasa takut,
kau mengusiknya."
"Jadi, aku menyembunyikannya, dan masih kusembunyikan."
- Kau kenapa? - Tak apa-apa.
Jadi, kau masih berpikir dia tak bersalah?
"…pingsan, malam demi malam."
"Aku akan tertidur di kursi di samping ranjang dadakannya."
"Aku akan bangun dan melihat dia menatapku
dengan tatapan kosong."
"Kemarahan abadinya terhadap kota,
atas penangkapan tak adil bertahun-tahun sebelumnya,
berubah menjadi kemarahan terhadap seluruh semesta."
"Semesta yang mungkin tak akan lebih baik baginya
- dari komunitasnya sendiri." - Orang-orang ini…
"Komunitas yang kini dia lihat kejam dan rusak."
"Setelah ibuku meninggal, terjadi kebalikan yang aneh. Aku…
Aku menjadi orang tua dan dia anaknya."
"Kukira itu hanya sementara karena kebiasaan minumnya."
Tolong matikan.
- Matikan! - Ada apa?
- Matikan. - Ginevra merekamnya.
"…minggu-minggu berlalu, aku mulai sadar situasinya tak akan berubah."
"Dan aku tak akan pernah bebas."
"Aku tak akan pernah bebas."
3.700 TAYANGAN
"Tamat."
Hei.
Apa yang kau lakukan?
Pagi ini, enam klien terbaik kita membatalkan kontrak mereka.
Aku menelepon berjam-jam.
Mereka bilang kau…
tak stabil
dan kasar.
WALTER SPEZI INSTALASI LISTRIK
Maria…
Tidak, tunggu.
Emma!
Emma!
Klien mana yang membatalkan kontrak?
Emma! Klien yang membatalkan kontrak.
Pantas saja.
Mereka semua teman Pilati.
Sekarang kita periksa salinannya.
Aku sudah hapus semuanya.
Karena perintah pengadilan.
Berapa kali kubilang jangan hapus apa pun? Klien satu.
- Mobil Dario. - Klien kedua.
- Klien tiga. - Apa yang mereka sembunyikan?
Dario, apa lagi yang kau lakukan malam itu?
Klien lima.
Lihat ini. Lihatlah.
Tidak…
Maria sudah terluka.
Dario, kau pembohong.
Spezi tak melakukannya.
Mereka menangkapnya pukul 02.56.
Tak stabil dan kasar.
Maria?
Datanglah ke kelas hari ini, kumohon.
Stefano juga kembali.
Aku ikut denganmu.
Ini untuk Tuan dan Nyonya Grassi. Kau bisa?
- Bisa bantu aku? Terima kasih. - Tentu.
- Apa yang terjadi? - Lupakan.
Dario membohongimu. Dia membohongi kita berdua.
Ini hanya akan memperburuk keadaan.
Dia harus jujur. Dia harus pergi ke Carabinieri.
Jika kau mau, aku akan membawanya.
Dahulu aku kepala ahli listrikmu.
Kini aku beruntung jika ada yang memintaku memperbaiki pemanggang.
Bayangkan jika istriku melihat kita.
Katanya kita dua orang tak diinginkan.
Dua orang buangan.
Kenapa kau bilang itu salahmu saat mereka menemukanmu bersama Maria?
Karena memang benar.
Kami bertengkar sore itu karena aku minum.
Dia kabur dan aku terlalu mabuk.
Untuk…
Untuk mengejarnya. Itu intinya.
Seharusnya aku menghentikannya.
Semua yang terjadi adalah salahku, karena aku tak berguna.
Andai dia menulis tentang masa-masa indah dalam esainya.
- Karena ada. - Aku ingat.
Roberto…
Setelah kecelakaan itu
dengan Angela.
Kau harus memecatku. Aku mengerti.
- Tapi kau tahu… - Walter.
Aku berutang maaf padamu.
Aku berutang permintaan maaf.
"Aku hanya ingin satu putaran di korsel."
"Satu putaran yang riang dan menyenangkan di surga."
"Tapi saat aku tiba, korselnya rusak."
"Ibuku tak pernah membiarkan pintu tak terkunci
atau sabuk pengaman terbuka."
"Jika melihat anjing di jalan, dia hubungi penampungan."
- "Makanya…" - Angela!
"Kehilangan putri…"
Angela!
"mengguncang dunianya sampai ke intinya."
Angela!
Bagaimana kalian bertemu?
Di Bagno Gilda.
Dia
suka saat para gadis senang denganku.
Dia terus bilang
aku membuatnya merasa lebih muda.
Lalu suatu hari, dia bilang jika aku mau,
aku bisa pakai rumahnya untuk bercinta.
Dan aku terima.
Tanpa berpikir dua kali.
Satu-satunya aturan adalah
aku harus melakukannya di ruang kerjanya.
Tak pernah di kamarnya. Dan aku ingat…
Awalnya, kupikir itu karena kuman, kebersihan.
Tapi kemudian…
Aku tahu alasan sebenarnya.
Bukan hal yang bagus.
Aku tak bangga akan ini.
Aku mengacau.
Tapi kupikir bagiku itu semua tentang meniduri gadis-gadis ini.
Dan mereka semua setuju. Ini bisa kau pastikan, jika kau mau.
Pilati membayarmu?
Ya.
Tunai.
Terkadang dia memberiku bonus.
Ceritakan tentang Maria.
"Aku bisa dengar mereka meneriakkan namaku,
tapi aku hanya ingin seseorang memutar korsel lagi."
Di mana mesinnya?
"Dia ada di sana…
Pria yang memperbaiki semuanya."
Pak, kau bisa memperbaiki korsel?
"Aku yakin
dengan sihirnya, dia bisa menyalakannya lagi."
"Bagaimana dia tahu kebetulan itu akan menjadi tragis?"
"Momen yang tak berbahaya."
"Hasil yang sangat buruk."
Dengan Maria berbeda.
Semuanya kacau.
Kau bisa lihat dia jauh lebih muda dari biasanya.
Tapi…
jika Pilati tak peduli,
aku terus mengisi gelas,
seperti yang kulakukan dengan gadis lain.
Ini, minumlah. Anggur!
Pria yang mengenalnya…
Aku akan pergi.
Dia mulai gelisah dan pergi.
Tidak! Jangan pergi.
- Kumohon. - Aku harus pergi.
Pilati tak bisa berhenti menatapnya.
Sepertinya dia menyentuh Maria dengan matanya.
Lalu aku sadar kalau dia…
ereksi.
"Aku tak pernah takut."
"Sebenarnya…
aku hampir terpesona."
"Seperti melihat kuda
kencing di jalan."
Lalu aku menciumnya.
Tapi hanya sekali karena dia…
Dia terlalu mabuk dan aku tak bisa melakukannya.
Aku merasa payah.
Lalu kupikir mungkin sebaiknya kami membuatkan dia kopi.
- Siapa yang buatkan kopi? - Pilati.
Tapi…
Itu tak membantu sama sekali, karena dia langsung tertidur.
Lalu…
dia di sana bersamaku.
Dia membuka kancing kemejanya,
tapi perlahan,
karena dia ingin berhati-hati agar tak menyentuh kulitnya.
Lalu dia menatapku dengan ekspresi, seolah berkata,
"Ayo tukar, sekarang giliranmu." Aku menolak.
Aku tak bisa melakukannya, aku tak mau.
Lalu dia…
Dia sangat marah dan mengusirku.
Aku mabuk berat.
Aku tak ingat apa-apa selain…
Aku merusak kamera ini, Roberto.
Lalu aku mendengar Maria berteriak.
- Apa-apaan ini? - Angela!
"Semua bahannya ada di sana, seorang pria memegang kemaluannya,
gadis kecil yang penasaran,
seorang ibu yang termakan dan dibutakan kepanikan."
"Aku menangis, ya."
"Tapi hanya karena aku menggigit bibirku saat jatuh."
"Aku mencoba memberi tahu Ibu."
"Aku mencoba bilang itu kencing, bukan sperma, di celana Spezi."
Pilati menjadi gila.
Dia memukuli Maria.
Dia menendang kepala belakang Maria.
Keras sekali.
Dan dia ingin mengembalikannya ke kursi,
jadi, dia memegang lengannya, tapi…
Dia menarik terlalu keras.
Sungguh ajaib lengan itu tak lepas.
Lalu dia mulai berteriak padaku seolah itu salahku.
Dia bilang,
"Aku harus coba."
Aku harus coba. Kau paham?
Aku harus! Aku tak mengira akan merasakannya.
Merasakan apa?
Kematian! Aku tak mengira akan merasakannya,
kematian di badannya…
Keluarkan dia.
Pergilah.
Maria…
"Di rumah kami tak diizinkan versi kebenaran yang lain."
"Harus versi ibuku. Lahir dari rasa takut,
itu akan membebaskannya dari lengah mengawasiku."
"Hal yang paling dia sukai."
"Aku tak pernah mengerti semua ini."
"Karena aku tak pernah memahami ibuku."
"Kini aku paham."
"Alangkah lebih baik jika aku trauma."
"Jauh lebih menarik."
"Mungkin."
"Tapi bukan begitu kisahku."
Asal tahu saja.
Kunci panjang untuk pintu depan.
Dia milikmu.
Dia…
Dia sangat
takut padaku.
Dia…
Dia melompat keluar mobil.
Aku mencarinya saat Roberto menghentikanku
karena aku ingin melakukan sesuatu.
Aku ingin membantunya.
Sial.
Pria itu… Dia akan membunuhku.
Jangan khawatir.
Apa yang ada di hasil tes selain alkohol?
Sudah kubilang, hanya pereda nyeri.
Oksikodon.
Berapa kali kau tidur dengannya?
Sekali.
Ayolah, Roberto.
Setidaknya, jujurlah.
Itu kebenarannya.
- Benar. - Ya.
Tapi bukan itu alasannya.
Pernikahan kita sudah tamat, Claudia.
Kita juga tahu itu.
Ditambah, Angela sudah hampir minggat.
Katakan sesuatu, Roberto.
Kau mau melepaskan semuanya?
Semua yang kita bangun?
Bisnis, keluarga, kariermu?
Demi apa?
Demi wanita berantakan dengan anak nakal?
Atau karena kau ingin merasa muda lagi?
Kau yakin itu cinta?
Mungkin itu semacam tidur berjalan?
Sejujurnya?
Entahlah.
Tapi kurasa itu sepadan dengan risikonya.
Tapi ada yang harus kutanyakan.
Apa kau tahu staf Ferrario
tak hanya menghapus rekaman dari penggalangan dana?
Sudah kuduga.
Claudia, Pilati orang jahat.
Pria itu sakit.
Dia punya uang untuk lepas dari apa pun.
Mungkin.
Tapi ada yang aneh.
Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya bagaimana mungkin
dia membuatkan Maria kopi agar sadar, tapi Maria tertidur.
Aneh, 'kan?
Claudia, Maria bisa saja mati.
Pria itu
membuatku merasa hidup lagi.
Siapa pun dia,
apa pun perbuatan Pilati,
dia membuatku merasakan hal yang tak pernah kurasakan.
Yang sudah kulupakan…
Tapi ini masalahku, bukan masalahmu.
Namun, aku bisa memberitahumu, Roberto.
Aku tak mau dikecewakan pria lagi.
Tidak lagi.
Siapa kau?
Aku ayah Maria, Walter Spezi.
Apa maumu?
Aku ingin tahu kejadian Minggu malam.
Pak Spezi, maaf, tapi sayangnya, di sini
semuanya sudah beres. Pesta, obat-obatan…
Aku marah dengan si babi Dario,
yang memanfaatkan hak istimewa menjadi penjaga untuk waktu yang lama.
Karena Maria bukan satu-satunya yang dia bawa untuk kepentingannya.
Tidak, lihat. Kuberi tahu, jika kau punya masalah,
bicaralah kepada anak itu.
Dario Nobile, dia tinggal di sini.
Di Via Donati, kurasa.
- Tapi, Roberto… - Biar kuberi tahu tentang Santini.
Dia meniduri ibu Dario. Seisi kota tahu itu.
Jelas, dia melindungi anak itu.
Maaf, Pak Spezi, sungguh. Permisi, tapi aku harus pergi.
Kita akan menonton televisi.
- Baiklah. - Baiklah, ayo.
Dah!
Aku bicara kepada Claudia.
Kuceritakan semuanya.
Apa katanya?
Ibu, ada pria menakutkan!
- Kubunuh kau! - Panggil Carabinieri!
- Walter! - Kau pembohong!
- Apa-apaan? - Kubunuh kau!
- Walter! - Lepaskan!
Ada seorang pria! Dia mau bunuh putraku!
- Walter! - Lepaskan aku!
- Lihat aku. - Lepaskan!
Ini aku, Walter! Lihat aku!
- Lepaskan! - Dario tak melakukannya!
Tapi Pilati.
Aku bersumpah, akan kutemukan buktinya.
Percayalah padaku.
Sudah selesai, Walter.
Sudah selesai.
Ya.
Ya, sudah selesai.
Lagi pula, aku sudah hancur.
Mereka menginginkanku.
Selalu seperti itu.
Keluarlah sambil angkat tangan! Keluar!
Jalan ke depan.
Jalan ke depan, Spezi. Ayo.
Terus.
Terus.
Borgol dia, Ricciardi.
Berhenti, jatuhkan senjatamu!
Jatuhkan senjata itu, Walter!
Jatuhkan senjatamu!
OKSIKODON
Oksikodon.
Anggur!
Cukup, semuanya. Tenanglah.
Aku mau anggur!
Cukup!
Ini enak, cobalah. Enak.
AKTIFKAN ALARM?
AKTIFKAN
KIRIM KE KLIEN TERPILIH? KIRIM
Menyedihkan saat suatu komunitas
bersatu hanya setelah sebuah tragedi.
Menyedihkan saat manusia
keluar dari benteng mereka
hanya untuk berbagi derita mereka,
untuk mengakui ketakutan mereka.
Menyedihkan.
REFERENSI TEMPAT, ORANG HIDUP ATAU MATI, ATAU KEJADIAN NYATA HANYALAH KEBETULAN.
Terjemahan subtitle oleh Tiara A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.