All language subtitles for Adit.Sopo.Jarwo.The.Movie.2021.DSNP.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Liburan kemarin, papi aku mengajak kita ke Amerika.

Aku diajak ke Hollywood, lihat lokasi syuting film Marvel.

Liburan besok, aku pasti diajak ke tempat yang lebih seru.

Yang pasti ke luar negeri.

Kalau aku, ke Thailand. Pantainya indah deh.

Canada, Jepang, Australia, Brunei.

Malaysia.

Oh, kalau Bali luar negeri, bukan, Bu?

- Hei, Adit. - Ya.

Tadi kamu nggak maju ke depan kelas?

- Kau belum pernah ke luar negeri, ya? - Nanti juga aku liburan ke Jepang.

O ya? Paling kamu ke Jogya, Dit. Ya, 'kan?

Kamu, 'kan, berteman sama anak kampung. Mana bisa pergi keluar negeri? Ya, 'kan?

Iya, pergi ke luar negeri itu seru, tahu, Dit? Seru banget.

Iya, kamu paling pulang kampung.

Mungkin kalau ke luar kampung, bisa.

Waduh.

Surat Pemutusan Hubungan Kerja

- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumssalam. Lho Ayah pulang cepat?

Tidak usah, Bun. Tidak usah. Sudah.

Tahu, tidak, Yah? Hari ini Bunda ditelepon sama kantor.

- Kantor? - Kantor Bunda.

Katanya surat pengunduran diri Bunda sudah disetujui.

Ya, iya. Bagus.

'Kan, memang itu yang Bunda pengin.

Iya.

- Bikin kue pesanan. - Bikin kue pesanan.

Ayah! Sudah pulang, Yah? Kita berangkat ke Jepang kapan, Yah?

Adit, 'kan, juga mau siap-siap.

Begini ya, Dit.

Bagaimana kalau kita liburannya ke Jogja saja?

Jogja? Kok ke Jogja?

Eyang sudah kangen lho sama kamu.

Dan Bunda sudah mau kok ke Jogja. Iya 'kan, Bun?

Lagian juga di Jogja itu banyak yang keren-keren lho, Dit. Ada andong, becak.

Kamu nanti bisa naik andong, becak sepuas kamu. Muter-muter alun-alun. Iya?

Pergi ke Candi Prambanan, Borobudur.

Terus ini, ada yang naik ini. Candi Boko!

Bisa melihat pemandangan Jogjakarta dari atas. Keren lho, Dit.

Terus ini, kamu bisa ke keraton Jogjakarta.

Tempat tinggalnya Sinuwun Ngarso Dalem Hamengkubuwono X...

...yang dikenal dengan Pak Sultan.

Keraton Jogjakarta itu rumahnya Pak Sultan. Kamu bisa ke sana.

Nggak ada temen-temen kamu yang bisa ketemu Sultan. Iya 'kan?

Ayo, Dit, kita ke kamar kamu saja.

Bunda ada cerita dongeng yang baru ini.

Dit, Jogja juga keren lho. Nggak kalah sama Jepang.

Benar kata Ayah. Bunda senang juga kok ke Jogja.

- Ketemu sama Eyang. - Bun, Adit penginnya ke Jepang.

- Jangan menangis. - Ayah sudah janji.

Adit sudah besar. Malu dong sama adiknya.

Pokoknya Adit maunya ke Jepang.

Adit sudah membayangkan Adit ingin main di sana, Bun.

Di Jepang.

Sudah, sudah. Sudah ya. Jangan menangis.

Bagaimana ini?

Baik, Pak. Insya Allah sampai Jogja sebelum magrib.

Baik, naik kereta Taksaka. Bukan, itu kereta, Pak. Bukan pesawat.

Iya, iya. Iya, Pak, Baik. Terima kasih. Sudah ya. Assalamu'alaikum.

Lho, Bang Udin. Sudah dari tadi ya?

Tidak, baru saja.

Ayo, Dit.

Iya, Bun, iya.

Pak Udin.

- Adit naik taksi dulu, Pak Udin. - Sini lho, Mbak Mira.

Aku usap-usap dulu bayinya, biar tidak rewel.

- Berapa bulan to, sekarang? - Tujuh bulan, Mbak.

Doakan juga biar aku cepat menyusul, ya, Mbak Mira.

Iya. Amin.

Sudah, sana masuk dulu ke taksi. Nanti masuk angin.

- Iya, terima kasih ya, Mbak. Jalan dulu, ya. - Iya. Hati-hati.

Bang Udin, tidak enak ini, merepotkan.

Kata tukangnya ya, itu tidak sampai seminggu.

- Ya to, Bang? - Paling tinggal semingguan lagi dah.

Iya, tidak masalah.

Besok juga ada ipar dari Jawa. Bisa bergantian sama saya.

Sekalian dia nanti yang menjaga rumah. Waktu saya dan istri pergi haji.

Alhamdulillah.

- Saya berangkat dulu ya. - Iya, iya, iya.

Bang Haji Udin.

- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.

Jalan, Pak.

Ayo, Bang, kita pulang. Aku belum masak nih.

Nanti dulu. Sebentar juga dia balik lagi.

Tiketnya tertinggal.

Benar, kan?

Ayah, banyak banget sih bawa barangnya? Kayak mau lama aja.

Ya jaga-jagalah, Bun. Siapa tahu bakal melahirkan di Jogja.

Ayah, baru tujuh bulan. Masa mau lahir?

- Bercanda. - Bun?

Iya, Nak?

Kalo adik Adit lahir, namanya pengin Adelia ya, Bun?

- Bagus, 'kan? - Iya, bagus banget.

- Emang kenapa sih? - Lucu aja, Bun.

Adit, Adelia.

Adit, Adel.

Iya sih. Lucu, Dit.

Ya, Pak. Ya, ya.

Alhamdulillah, sudah di kereta.

Iya, ini ada Amira, Adit sama Asih!

Ayah!

Itu loh, adiknya Adit.

Baik, wa'alaikumsalam.

- Ada apa ya? - Ayah, masa tidak mengerti juga?

Dit, eyang, 'kan, sudah punya nama buat adik kamu.

- Namanya Asih. Bagus toh? - Ayah!

Kenapa sih, Bun? Adit juga suka kok nama Asih.

Adit itu maunya Adelia, bukan Asih.

Asih itu lebih bagus loh. Iya to, Adit?

Persiapan, persiapan.

Perutku mules banget, ya. Nggak biasanya ini, Yah.

Belum waktunya to, Bun. Lho katanya masih 7 bulan.

- Bagaimana to ini? - Mules banget ini, Yah. Aduh, bagaimana dong?

Haduh. Mungkin pengaruh perjalanan kali ya, Bun.

Sabar ya, Adik Asih.

- Ayah! - Apa to?

Ayah membawa biskuit Bunda, 'kan?

- Biskuit? Aduh. Sebentar. Di mana ya? - Tadi Ayah simpan di mana sih biskuitnya?

- Ayah lupa lagi. - Ayah lupa ya?

Ayah pasti lupa nih.

- Sabar, sabar. - Harusnya biskuit ditaruh...

...di tempat yang gampang diambil.

Mengapa Ayah menyimpannya di dalam tas?

Tadi sepertinya kumasukkan di sini. Waduh, lupa lagi aku!

Adit, biskuitnya di mana ya, Dit, ya?

Ayah, itu, 'kan, bukan tugas Adit.

- Iya, Bu, sebentar. Di mana ya? Lupa. - Ayah, Bunda kenapa?

Ada apa, Bu?

- Aku punya minyak oles. bukan balsem. - Tidak perlu, tidak perlu.

- Tenang, manjur. - Iya, tidak perlu.

- Coba ini di jidat, leher sama pundak. - Cukup, cukup. Terima kasih.

- Dihirup aja. - Apaan ini? Tidak, terima kasih.

- Sudah, sudah. - Ealah, Bapak ini. Bagaimana?

Mau dibantu, koq tidak mau.

- Mau minum? Minum? - Ya sudahlah.

Diperhatikan. Mohon diperhatikan. Jalur 3 akan segera masuk KA Taksaka.

Tujuan Jogjakarta.

- Diperhatikan di Jalur 3. - Adit saja, Yah, yang membeli biskuit Bunda.

- Minum, minum. - Ayah, tolong dipijit lagi.

Kepada para penumpang KA Taksaka, selamat datang di Stasiun Besar Cirebon.

Tetap perhatikan barang bawaan Anda.

Jangan sampai ada yang tertinggal.

Terima kasih telah menggunakan KA Indonesia.

Permisi, Om. Permisi, Tante.

Di Jalur 3 KA Taksaka tujuan Jogjakarta.

- Beli biskuit yang ini, Bu. - Penumpang harap segera naik.

- Sesaat lagi kereta segera berangkat. - Ini, Dik.

- Iya, Bu. - Mohon periksa kembali barang...

- Ini uangnya. - Hadah! Tidak ada kembaliannya.

- Nanti ya. Aku tukarkan dulu. - Iya, Mbak.

Yah, Adit mana? Kok belum kembali?

Oh. Itu ke toilet itu lho.

Coba, Yah, dicek dulu ke toilet.

Ealah, Bun, kok ya tidak percaya begitu ya.

Dit?

- Adit? - Iya.

Di Jalur 3 tersedia KA Taksaka tujuan Jogjakarta.

- Para penumpang diharapkan segera naik. - Itu, Bun. Anaknya ada. Sebentar lagi selesai.

- Sudah, ya? - Oh. Iya, Yah.

Dari Jalur 3 KA Taksaka tujuan Jogjakarta...

- KA Taksaka tujuan Jogjakarta. - Ini, Dik, kembaliannya.

- Makasih ya, Mbak. - Sama-sama.

Permisi, Om. Pak, permisi.

Permisi, Pak.

Permisi, permisi.

Permisi, Om.

Eh!

Maaf, Nek.

- Ini, Nek. - Terima kasih ya, Cu.

Awas, Dik!

Om.

Minta tolong, Om. Adit mau ke Jogja, Om.

Dik?

Tertinggal kereta ya, Dik?

Iya, Om. Adit mau ke Jogja, Om. Ayah dan bunda di Jogja, Om.

Minta tolong dong, Om. Adit mau ke Jogja.

- Jogja? - Diperhatikan, diperhatikan.

Iya, Om. Ke Jogja, Om. Bantu ya, Om.

- Jogja? - Iya, Om.

Di sini, Dik. Ikut ke sini. Ayo.

Iya, Om.

Kamu itu orang yang ke-112 yang punya alasan begitu kalau di kereta.

Selalu bilang tertinggal-lah, hilang-lah, lupa-lah.

Sekarang mau alasan apa lagi? Hai, nama kamu siapa?

Perkenalkan, namaku Si Jarwo

Pemuda tampan, gagah dan perkasa

Meskipun aku memang belum mapan

Tapi Insya Allah punya masa depan.

Wahai, Pemuda seluruh Indonesia

Yang nasibnya mirip-mirip dengan saya

Belum bekerja, bengang-bengong saja

Jangan galau, terus berusaha

Pemuda, Pemuda, negeri kita amat kaya

Harus kreatif, berpikir positif

Pemuda, Pemuda, kitalah harapan bangsa

Ayo berlaga, jaya Indonesia

Ayo, Temen-temen. Semuanya, belajar yang bener, meraih cita-cita bersama.

Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo itu udah luar biasa lho. Mosok kita kayak gini.

Jangan bikin malu. Ayo kita belajar.

Pemuda, Pemuda, negeri kita sungguh kaya.

Ayo kreatif, berpikir positif.

Pemuda, Pemuda, kita ini harapan bangsa.

Ayo berlaga, jaya Indonesia!

Pemuda, Pemuda, negeri kita sungguh kaya

Ayo kreatif, berpikir positif

Pemuda, Pemuda, kita ini harapan bangsa

Ayo berlaga, jaya Indonesia!

Ayo berlaga, jaya Indonesia!

Jaya Indonesia!

- Nah, ini, Dik. Gudeg Jogja. Iya, 'kan? - Aduh.

Bukan di sini, Om.

Ayah bersama Bunda Adit ke Jogja. Bukan Gudeg Jogja!

- Haduh, bagaimana ini, Om? - Sopo salah ya. Maaf ya, Dik.

Kalau begitu Adit mau menyusul bunda bersama ayah ke Jogja saja, sendiri.

Dik, tunggu, Dik.

Pelan-pelan.

Walah, masalah ini. Malah diturunkan di Cirebon. Ketahuan lagi tidak ada tiket.

Wah ini, ada mangsa ini.

Wih, jam tangannya. Wih, sepatunya. Waduh ini lumayan ini.

- Dik, Dik, kamu mau ke mana, Dik? - Ke Jogja, Om.

- Om bisa? - Bisa.

Sini, sini, sini. Jadi kamu itu mau ke Jogja ya?

Mau aku antar sekarang ya? Bagaimana?

Kamu kenapa, Dik, mau ke Jogja?

Tadi ayah bersama Bunda Adit naik kereta ke Jogja, Om.

Trus Adit tertinggal.

Jadi ibu bersama bapak kamu itu naik kereta ke Jogja ya?

- Ayah bersama bunda. - Iya, iya, terserah.

Yang penting, kamu itu tertinggal kereta ya?

Pas ini. Anak hilang ini.

Iya, iya, aku antar ya, sampai Jogjakarta.

Jogjakarta?

Sopo ikut. Sopo mau ketemu Pak Sultan.

Diam, kamu diam. Tidak usah ikut campur kenapa sih?

Iya, Om. Di Jogja ada Pak Sultan. Rumahnya di keraton.

Nanti ayah Adit bisa mengantarkan Om ke rumahnya Pak Sultan, Om.

- Ketemu Pak Sultan. - Sudah lah.

Kamu itu tidak usah ikut. Kamu di sini saja.

Lebih baik kamu cari duit lagi saja, sana. Di stasiun. Merepotkan orang saja.

Ayo, Dik. Kita langsung berangkat saja ke Jogja. Nanti terlanjur sore.

Tapi, kita jual dulu jam tanganmu ya. Buat ongkos, ya?

Jangan, Om. Ini hadiah dari bunda.

Lha terus kita naik apa?

Lha tidak ada ongkos kok.

Memangnya kamu punya uang?

Kalo Om mengantarkan Adit ke Jogja, nanti ayah Adit bisa memberikan uang buat Om.

Ayah Adit uangnya banyak kok.

Wah, ini, ini. Ini baru pas ini. Akur, mantap, ya sudah. Kita jalan.

Kamu tidak usah ikut lho ya. Diam di sini aja. Tenang, ya.

Tidak usah merepotkan.

- Ayo, Om, kita ke Jogja! - Halah.

- Jogja? Iya, iya! Aku ikut. - Ini lagi. Kamu tidak usah mengajak orang.

Mengurangi jatah saja.

- Ayo, ayo. - Kamu diam aja. Tidak usah ikut.

Nasi Jamblang! Nasi Jamblang! Ayo, Mas, Dik. Enak ini, masih hangat.

Mas, jangan cepat-cepat, Mas.

Tari Topeng lagi?

Mas, kita lapor dulu saja. Kasihan adiknya ini.

Mas, Mas, Mas, Permisi, Mas, Kang. Ini mobilnya mau sampai Jogja nantinya ya?

Ya kan? Dengar ya. Bisa ke Jogja langsung.

Begini Mas, ini saya mau menumpang bersama teman-teman saya. Boleh ya?

Benar kan? Gampang bukan? Tidak perlu lapor.

Ya sudah. Berangkat. Naik, naik. Terima kasih, terima kasih, Mas.

Ayo, ayo, Dik, naik, Dik.

Ayo, ayo. Bisa, bisa. Anu, anu terus dari tadi.

Itu siapa?

Numpang, mau ke Brebes.

Yang baju hijau, saya ingat seperti orang Brebes.

Lain kali kalau mau mengajak teman, bilang dulu, ya?

Oalah, maaf.

- Angin sepoi-sepoi, enak. - Iya.

Awas. Jangan menghalangi. Aku memanggil dia.

- Hei, Dik. - Iya, Mas.

- Nama kamu siapa tadi? - Adit, Mas.

Jangan Mas, Mas terus. Tidak enak mendengarnya.

Mulai sekarang kamu panggil aku Bang Jarwo.

Jadi, 'kan, lebih akrab, ya? Tidak usah sungkan-sungkan. Oke?

- Iya, Bang Jarwo. - Lho bener 'kan?

Jadi lebih akrab, lebih dekat gitu. Enak ya?

Anu, namamu siapa (sopo)?

Iya.

- Nama kamu itu lho, siapa? - Iya, nama saya Sopo.

Tidak bercanda 'kan? Namanya Sopo. O ya, ya, ya. Oke, oke.

Sopo dari Brebes.

Dari Brebes? Oh, iya, iya.

Iya, Ibunya Sopo juga masih ada di Brebes.

Sudah, sudah, sudah cukup perkenalannya.

Lha cuma ditanya nama kok. Ceritanya panjang banget.

Begini lho, Sopo.

Kita ini, 'kan, kerja sama, ya?

Saling menguntungkan. Semua yang mengatur itu, 'kan, saya.

Ya saya jadi bosnya begitu lho. Oke?

- Iya, Bos. - Bagus.

Nanti kita dapat duit hasil mengantarkan anak hilang ini, ya?

Kita bisa bagi dua. Kamu pasti punya cita-cita. Punya keinginan. Ya 'kan?

Sopo ingin memberangkatkan haji, Ibu.

Mantap itu, Sopo.

Bagus. Itu adalah cita-cita yang mulia. Sebentar lagi itu, Insya Allah, tercapai.

Pokoknya yang penting sepanjang perjalanan kamu harus menurut, oke? Paham?

- Iya, Bos. - Dik, Dik, bersandar saja, bersandar.

Sini, Dik.

- Sopo, ingat ya. - Iya, Bos.

Kamu bisa tidak sih tidak pakai "au-au" begitu?

- Iya, Bos. - Itu masih lagi pakai.

Sudah, tidur lagi, tidur.

Tidak apa-apa. Namanya hidup ya harus ada variasinya.

Ada apa ini? Ada apa?

Sopo, pegang tangannya!

Sopo! Pegang aku!

Ada apa lagi ini?

- Ayo, Dik, Bang Sopo bantu. - Iya, Bang Sopo. Terima kasih.

- Ada-ada saja. - Walah, ban-nya kempes.

Waduh, Mas. Sepertinya kita tidak bisa menersukan perjalanan.

Waduh? Bagaimana ya? Tadi perjanjiannya saya ini menumpang sampai Jogja. Bagaimana ini?

Jogja? Kita mau ke Tegal, Mas.

Kata adik saya, Mas mau ke Brebes, 'kan?

Ini kita sudah di daerah Brebes, Mas.

Tapi, bukan, bukan, anu... Tadi Mas-nya yang ini lho...

...wong tadi bilangnya dia mau ke Jogja kok. Makanya kita menumpang. Begitu lho.

Saya lupa bawa ban serep.

Oalah? Teman tuli ya? Kenapa tidak ngomong.

Saya juga teman dengar.

Ya sudah, kalo begitu, kita akan melanjutkan perjalanan.

- Maaf ya, Mas. - Terima kasih ya, Mbak. Mas, terima kasih ya.

- Terima kasih. - Assalamu'alaikum.

Iya, Mas, hati-hati ya.

Sopo, sebentar to. Berhenti.

Ini, 'kan, di Brebes bukan?

Lha ini berarti tempat kamu? Ya bukan?

Iya, Bos.

Bagus itu. Kita mampir dulu saja ke tempatnya Ibumu ya? Ya, Sopo, ya?

Sopo tidak mau pulang dulu. Sopo belum mau ketemu Ibu.

Lho bagaimana ini?

Kenapa to, Sopo? Ketemu Ibu aja kok susah banget sih?

Sudah, sudah, Sopo, Sopo. Apa-apa itu kok selalu dibikin susah saja?

Ayo yuk, buruan. Ya?

Sopo tidak mau ketemu Ibu.

Bang Sopo, Adit saja sekarang pengin banget ketemu bunda.

Pasti sekarang bundanya Bang Sopo kangen banget sama Bang Sopo.

- Mau ke mana ini? - Tidak tahu, Bang.

Katanya mau ke tempat Ibuku? Ayo, lewat sini.

Nah begitu, Sopo. Bukan dari tadi. Sekarang ini sudah tambah lapar lho.

- Ayo, ayo, Dit. - Ayo, Bang.

Ini pasti enak, pasti seru.

- Bang Jarwo, ini tempat apa? - Ini itu namanya ladang garam.

- Pengeringan air laut, lalu jadi garam itu. - Oh, ladang garam.

Ini, Bun, biskuitnya.

Iya, Dit. Bunda kayaknya lapar, bukan mules.

Sini, Dit. Peluk Bunda bersama Adelia?

Wah, jadi namanya Adelia, ya, Bun?

Ayah bagaimana?

Ya sudahlah, Adelia. Ayah menyerah.

Bukan Asih ya? Adelia.

- Senang ya kamu, Dit? - Iya, Yah, senang sekali. Terima kasih, ya, Yah.

Bun, adiknya menendang-nendang, Bun.

Adelia.

Kamu yang pinter ya nanti ya.

Lucu banget ya Adelianya.

Yah. Ya Allah. Yah! Ayah! Adit, Yah?

Yah, ayo bangun, Yah. Ayah! Adit?

- Apa? Adit? - Ayah?

- Adit di mana? - Adit?

- Dit! - Buruan cari.

- Kamu di mana, Dit? - Ayah, buruan!

- Iya, sebentar. - Di mana Adit?

- Ayah cari. Sebentar ya, Bun. - Ayah cari ya.

Adit?

Ya Allah, Dit, kamu di mana, Nak?

- Ada apa? - Anaknya hilang.

- Dit? - Adit! Di mana kamu, Nak?

Adit?

Adit? Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah.

Adit?

Adit!

Hei, Sopo, ini kalau sudah jalan jauh seperti ini, berarti nanti sampai tempat Ibumu...

...kita makan yang enak ya? Beneran lho.

Jangan "aum-aum". Pokoknya jalan saja. Ayo buruan. Capek sekali ini. Ya Allah.

Ini kapan sampainya? Haduh. Ya Allah, ya Allah.

Sebentar lagi, Bos. Sabar.

- Ada bebek. - Sini, Bek. Sini, Bek.

Bebeknya banyak. Antri lagi. Mau ke mana itu, Bang Sopo?

Banyak sekali ini.

- Mau cari makan, Dit. - Ya Allah.

- Bebek, bebek. - Bebeknya lucu sekali.

- Ayo, Dit. - Iya, Bang Sopo.

Sudah jalan saja sana.

- Bos Jarwo mencuri bebek ya? - Enak saja. Jangan asal menuduh begitu ya.

Lha ini bebeknya yang mau ikut.

Masa saya tolak? Nanti kalau dia sedih bagaimana?

- Bebeknya lucu banget. - Bos, kembalikan bebeknya. Dosa.

- Masa satu aja tidak boleh? - Dosa, Bos.

- Hanya satu saja juga kok. - Dosa, Bos!

- Bos! - Waduh, dia marah. Iya, iya.

Tenang, tenang. Tidak, tidak, tidak. Aku lepas ya.

Tenang, ya, Sopo. Sudah itu. Sudah pergi bebeknya.

Kamu ini. Suka emosi. Bercanda.

Hadeh. Baru mau makan bebek saja kok repot?

- Ada apa ya, Dit? - Tidak, Bang Jarwo.

- Tidak, tidak? - Sini, Dit.

- Ini sudah sampai, Bang Sopo? - Sudah, Dit.

Ini tempat bundanya Bang Sopo?

Waduh. Ini jangan-jangan... Wah, gawat ini.

- Sopo? - Astaghfirullah hal adzim! Masya Allah.

- Ibu! - Sopo!

Kamu ke mana saja Nak? Sopo. Ibu kangen, Po.

Ibu!

Bu, Sopo minta maaf, Bu.

Sudah lama kamu tidak pulang, Le.

Sopo!

Sopo belum bisa berangkatkan haji untuk Ibu.

- Sopo malu Bu, malu pulang. - Ya Allah.

Tidak apa-apa, Nak. Sopo.

Ibumu ini sudah cukup senang ketemu kamu, Nak.

Kamu sehat, kamu selamat.

- Bang. - Masya Allah.

- Ini rejeki. - Makan, Bang.

- Sepertinya kok enak sekali. - Enak. Ini semuanya enak-enak.

- Ayo dimakan, ayo! Ayo. - Ayo, Bang.

Po, anak siapa ini?

Sopo mau ke Jogja, Bu.

Mau mengantar Adit, sekalian bertemu sama Pak Sultan.

Pak Sultan?

Ya Allah! Alhamdulillah.

Iya, Bu. Doakan Sopo sampai di Jogjakarta ya.

Ayahnya Sopo orang Jogja. Dia abdi dalem di keraton.

O begitu ya?

Tapi sakit-sakitan. Makanya dia pulang ke Brebes.

Tanahnya habis dijual buat berobat.

Tapi Allah sudah berkehendak ya, Sopo?

Dia meninggal di depan keluarga yang dia cintai.

Adit.

Kamu di mana, Nak?

Sudah, sabar.

Ya Allah, lindungi anakku, ya Allah.

- Semoga Adit kuat. - Amin.

Bagaimana, Sur?

Sampai jam satu tadi Adit belum diketemukan, Pak.

Saya tunggu sampai kereta malam...

...tapi tidak ada laporan anak hilang dari stasiun Cirebon, Pak.

Kamu itu, Sur, Sur.

Anak satu saja kamu tidak bisa menjaga.

- Apalagi nanti kalau dua? - Maaf, Pak.

Aku mau Adit kembali. Segera.

Ya, Pak. Saya pamit...

...mau kembali ke Cirebon mengecek Adit lagi.

Lalu istrimu bagaimana?

Biar bagaimana pun, dia butuh kamu.

Bapak sudah telepon teman Bapak di Polda.

Iya, Pak.

Sur, Sur.

Yang penting kamu jangan lupa mendoakan Adit...

...supaya jadi anak yang kuat.

Iya, Pak, iya.

Udaranya masih enak sekali, ya. Kita ke Jogja.

Kok mobilnya tidak ada yang lewat, Bang?

Bagaimana ini? Masa sepi sekali seperti ini?

Iya, Bos. Kalau jam seperti ini memang masih sepi.

Haduh. Masih lama ini menunggu bus lewat. Bagaimana ini?

Hei, Dit, Sopo, ayo, ayo. Kita buruan. Kita menyeberang itu, Sopo. Ayo, buruan.

- Ayo! - Ke mana, Bos?

Itu! Kita bisa menumpang naik kereta itu. Biar sampai ke Jogja-nya cepat.

Ayo!

- Ayo, buruan, buruan. - Bang.

- Kasihan ya, Dit. - Iya, Bang, kasihan. Kita bantu ya, Bang.

- Iya, Dit, ayo kita bantu. - Ayo, Bang.

Adit! Sopo! Sudahlah? Lho, lho, malah ke sana itu lho?

Dit! Sopo!

Sini, Sopo bantu angkat ya, Mas.

Iya, Mas.

Satu, dua, tiga.

Iya, Dit.

Hei! Lho, aduh.

Berangkat lagi keretanya. Adit! Sopo! Ini keretanya mau berangkat ini!

- Terima kasih ya, Mas Bro! Terima kasih. - Keretanya keburu mau berangkat.

Tapi maaf, saya buru-buru. Tertinggal rombongan.

Terima kasih ya, Mas Bro.

- Iya, sama-sama. Hati-hati ya. - Iya, Om. Hati-hati ya, Om.

Dah!

Ini gara-garanya.

Sopo, Sopo. Ini gara-gara kamu.

Kita itu harusnya sampai ke Jogja, kok malah menolong orang tidak jelas.

Kalau seperti ini, kita tidak akan sampai ke Jogja. Mengerti kamu?

Kamu juga, Dit. Sudah aku usahakan dengan susah payah.

Sopo harus membantu dia, Bos.

Halah. Membantu apa. Dengar ya, yang harusnya dibantu itu aku.

Bagaimana caranya kita bisa sampai ke Jogja. Begitu.

Apa kamu?

"Au" saja melulu.

Itu. Sopo. Itu ada truk. Lihat ya.

Awas ya. Kalau kamu sampai tidak mau lagi...

...ya sudah, lebih baik kita tidak usah jalan sekalian. Paham?

Bang Jarwo, bahaya, Bang!

- Bos, Bos, mau apa, Bos? - Tenang aja. Ini demi kita semua.

Awas kalau kamu sia-siakan.

Bismilah. Kita buktikan siapa lebih kuat.

- Truk atau saya. - Jangan, Bang. Bahaya, Bang.

- Bahaya, Bang. Jangan seperti itu, Bang. - Iya, Bos. Bahaya, Bos.

Panas juga, padahal masih pagi ini.

Ini demi ke Jogja.

- Hei, minggir! Minggir! - Bang Sopo! Selamatkan Bang Jarwo!

- Jangan nekad. - Bang Jarwo!

Ayo, Bang Sopo. Bantulah Bang Jarwo.

Minggir! Awas!

- Bos! - Bang Jarwo!

Haduh.

Haduh.

Im, terlindas tidak itu, Im?

Haduh, mana saya tahu, Bang?

Mengerem juga ya?

- Alhamdulillah. - Alhamdulillah.

- Bang Jarwo. Bang Jarwo. - Mas, Mas, antarkan kita ke Jogja, ya?

- Jogja? Lho, maaf. Kita itu jurusannya... - Iya, Bos, tapi kita itu...

Tidak peduli! Pokoknya antarkan kita ke Jogjakarta sekarang juga!

Atau kamu berdua, aku...

- Iya, tapi masalahnya kita ini lagi mau... - Tidak pakai alasan.

Pokoknya sekarang berangkat, ya? Paham kamu?

Ayo, Sopo, Adit! Buruan. Kita berangkat ke Jogja.

Naik ke belakang sana. Sopo, bantu Adit naik.

Mas, ini itu ada apa? Ini kita itu jurusannya itu mau ke...

Sekali lagi nanya, kamu mau.... Paham?

- Paham. - Gitu.

- Tapi, Mas... - Apa kamu? Mau aku...

Buruan. Kita berangkat, Mas. Apa kamu?

- Bang Sopo, gawat ni! - Ada sapi, Dit.

- Ada sapi. Bagaimana ini? - Sudah terlambat.

- Truknya sudah jalan. - Bang Sopo!

Aduh, bagaimana, Bang? Kita turun saja, Bang.

Tenang, Dit. Tenang, tenang, tenang.

- Sapi! - Bahaya!

Tenang, Dit, Tenang.

Mohon maaf sebelumnya, Mas, tapi saya itu mau bertanya.

Tidak usah bertanya. Bisa ya? Yang penting menyetir saja.

Iya, tapi ini harus dijelaskan...

Bang Sopo, kita harus menghindari sapinya, Bang Sopo.

- Iya, Dit. - Kita harus bersama ya, Bang Sopo.

Kalo sapinya ke kiri, Bang Sopo sama Adit ke kanan.

Kalo sapinya ke kanan, Bang Sopo sama Adit ke kiri.

Oke, Bang Sopo?

Iya, Dit.

- Aduh, ya Allah. - Awas, Bang, awas, Bang.

- Iya, Dit. Ke kiri? Iya. - Ke kiri, ke kiri.

- Awas! Awas! Ke kiri. - Ke kiri. Iya, iya.

- Kanan! - Ke kanan, Dit! Iya.

Ayo, Bang.

Kiri, kiri, kiri. Ayo, Bang!

- Ayo, Bang Sopo! - Iya, iya, iya!

Aduh, Bang!

Dit, awas, Dit!

Bang!

Tumben, ada razia segala. Aduh.

Permisi. Permisi.

- Mas, mau ke mana ini? Mau ke mana, Mas? - Mau ke mana, Mas?

Katanya mau ke Jogja?

- Tidak jadi. - Waduh.

Dit! Adit! Sopo! Ayuk, buruan, turun! Turun, buruan.

Pak polisi, tangkap itu orangnya, Pak.

Ini yang mau membajak truk saya dan dibawa ke Jogja, Pak!

Tangkap, Pak!

- Buruan! Kita kabur, ayo, ayo, Dit. - Tunggu, Bang.

Bang Jarwo, Bang Sopo! Tunggu, Bang!

Berhenti!

Tunggu! Berhenti!

Hei, Sopo!

- Mau ke mana lagi sih, Bos? - Nanyanya nanti aja. Tidak usah banyak tanya.

Ayo, ayo. Sopo, Sopo, belok kanan!

- Iya, Bos. Ayo, Dit. - Belok kanan, Dit.

Tunggu, Bang. Tunggu, Bang!

Haduh. Mana habis piket, diajak lari lagi?

Kedodoran kita.

Buruan, buruan. Jangan berhenti dulu. Ayo, ayo, Sopo! Ini gawat.

Ayo, Dit. Buruan, Dit.

Bang Jarwo, istirahat dulu dong, Bang. Adit capek, Bang.

Iya, Bos. Sopo juga, Bos.

- Capek. - Sopo, sudah sini saja dulu..

Aku istirahat dulu.

Sambil sembunyi, sambil sembunyi.

Iya, Bos.

Hadeh. Bagaimana ini?

Waduh, Sopo, gawat ini, Sopo. Polisinya sudah dekat sekali ini, Sopo.

Hadeh, Bagaimana ini?

Hadeh, bagaimana ini?

Sopo, Sopo, itu lho, kamu buruan tolong Adit itu lho.

Bagaimana ini? Aduh.

Ayo, Dit. Buruan, Dit. Pelan-pelan.

Ayo, ayo. Ayo, Dit, kita kabur.

Ayo. Halah, Sopo. Kamu mengapa ke sini?

Kita kabur ke sana. Ayo, buruan, buruan.

- Sabar, Bos. Iya, iya, Bos. Iya. - Ayo buruan.

- Hei! Hei! - Tunggu, Bang.

Sopo, itu lihat, ada sepeda.

Eh, Dit, ayo, Dit. Kita naik sepeda saja. Biar lebih cepet, Dit. Ayo, Dit.

- Jangan, Bos. Itu punya orang. Dosa. - Capek, Bang.

- Hei, jangan lari! - Gawat ini. Buruan, buruan.

Ayo, Dit, kita naik sepeda saja.

Ayo, buruan, Sopo. Dorong, buruan.

Iya, Bos.

Berhenti! Jangan lari!

Tapi jangan buru-buru.

- Pelan-pelan saja lho. - Berhenti!

- Bawa anak orang. Ini aset kita. - Pelan-pelan, Bang.

- Iya, Bos. - Hati-hati. Dorong, ya dorong.

- Pelan-pelan, Bang. - Haduh. Sopo, Sopo.

Sopo!

- Bang Jarwo! - Lho, lho, lho, ee...

Lho, lho, lho, Belok.

Tolong!

Sopo.

Bang Jarwo!

Kita terbang ini! Ya, Allah! Aduh!

Ya, Allah!

Aduh!

Waduh, ya Allah.

Sopo! Dit!

Bos! Bos!

Bos! Bos!

Sopo!

Adit di mana, Sopo?

Kamu melihat dia, tidak? Dit!

- Dit! - Adit!

Hadeh. Gawat ini kalau seperti ini.

- Adit! - Dit!

Kemana, Nang?

Dit? Kamu tidak apa-apa, Dit?

Iya, Bang Sopo. Adit tidak apa-apa, Bang Sopo!

Bos, Adit tidak apa-apa, Bos! Selamat.

Bagus kalau begitu! Bagus. Adit pokoknya jangan sampai kenapa-kenapa ya.

- Dit, kamu berpegangan terus sama Bang Sopo. - Iya, Bang Jarwo.

- Berpegang yang erat, Dit. - Iya, Bang.

- Pegangan, Dit. Ati-ati. - Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Jangan sampai kenapa-kenapa itu anak. Kalau tidak, bisa...

Bagaimana ini, Sopo? Masa begini terus?

- Capek ini, Bos. - Waduh, ini...

- Bagaimana, Bos? - Bagaimana, Bang Jarwo?

- Bang Sopo, tahan, Bang Sopo! - Ini tinggi. Pegangan terus!

Seperti ini saja ya? Haduh, haduh.

Dit, pendek juga, Dit.

Iya, Bang Sopo.

Pendek, Bang Jarwo.

Deg-degan. Hadeh, hadeh.

Ya Allah. Hadeh.

Sopo, Dit, tenang dulu ya, tenang dulu sebentar, ya. Tarik napas, tarik napas.

- Iya, Bos. Capek, ya. - Bang Jarwo, Adit mau cuci muka.

Iya, Dit, iya. Semua juga mau cuci muka, tapi ya nanti dulu. Hadeh.

- Istirahat dulu. Berdebar ini, sudah tua. - Iya, Bang, iya.

Adit juga deg-degan ini.

Itu kereta ke arah Jogja, Dit.

Seandainya saja kita bisa naik kereta itu, pasti lebih gampang ini.

Iya, Bang Jarwo. Adit sudah kangen banget sama bunda.

Iya, Dit, iya. Kita berdua ini jadi korban kereta, Dit.

Kamu tertinggal kereta.

Kalo aku? Disuruh turun, gara-gara tidak membeli tiket.

- Bos Jarwo tidak membeli tiket? - Tidak usah membahas itu, Sopo.

Yang penting kamu berdua itu menurut saja sama aku, ya?

Biar kita bisa segera sampai Jogja. Paham?

Bos Jarwo tidak beli tiket? Mengapa?

Mau tahu aja. Diam sajalah. Diam begitu. Ayo, Dit.

Iya, Bang Jarwo.

- Ayo, Dit. Jangan jauh-jauh, Dit. - Iya, Bang Jarwo.

Bang Jarwo, Bang! Ada bus yang ke Jogja itu, Bang!

O iya, Dit, iya, iya. Ayo, cepatan, cepatan. Kita ikut bus itu yuk.

- Ayo, Sopo. Ayo buruan. - Iya, Bos. Tunggu Sopo, Bos.

Ayo. Busnya keburu jalan lagi. Ayo!

- Iya, Bang Jarwo. - Aku akan mengejar busnya ya. Buruan.

- Ayo, Dit. - Ayo, Bang Sopo.

Mas, Mas, Pak. Permisi. Saya boleh menumpang, tidak? Ikut.

Kita ini kehilangan arah. Saya, teman saya, Sopo, sama ini, ponakan, Adit.

- Boleh ya, Mas? - Boleh, boleh.

Terima kasih. Terima kasih.

- Ayo, Sopo. - Ayo, Bang Sopo.

- Ayo, buruan. - Iya, Bos.

- Bantu, Bang Sopo. - Ayo, Dit. Ayo cepetan.

Mulai hari ini bersama sinar indah sang mentari

Berlari dan terus berlari Kejar semua mimpi-mimpi

Maka letakkanlah semua bebanmu Itu hanya membuatmu terhenti

Raihlah cita-citamu dulu dengan cinta hari ini

Terbang bebas menikmati udara pagi

Jangan berhenti

Esok hari masihlah sebuah misteri

Syukuri hari ini

Jika hidup adalah pilihan, maka pilih yang terbaik, Teman

Kegagalan hanyalah pelajaran Tataplah jauh ke depan

Tapi lupakanlah semua bebanmu Itu hanya membuatmu terhenti

Raihlah cita-citamu dulu dengan cinta hari ini

Terbang bebas menikmati udara pagi

Jangan berhenti

Gapai mimpi bukanlah sebuah misteri

Yakinkan diri ini

Gapai mimpi bukanlah sebuah misteri

Sampai, sampai!

Waduh.

Dit, Sopo, bangun. Kita sudah sampai ini.

- Dit, Sopo. - Iya, Bos.

- Sudah sampai, Bos? - Iya, ini kita sudah sampai Jogja ini.

- Ayo buruan turun. - Iya, iya.

- Iya, Bang. Alhamdulillah. - Kita ketemu Pak Sultan.

- Ayo, Dit. Pelan-pelan, Dit. - Waduh. Dinginnya.

- Kok jadi dingin to ya? Ya Allah. - Kamu kedinginan, Dit?

- Gawat ini! Dit, Sopo. Haduh! - Ya, Bos.

Gawat ini. Gawat. Ternyata kita ini di Dieng. Astagfirullah.

Obyek Wisata Kawah Sikidang, Banjarnegara

Ya Allah. Bagaimana ini? Haduh.

Dingin lagi. Tidak membawa jaket. Bagaimana ini?

Dit, kamu tidak apa-apa, 'kan?

Astagfirullah. Ya Allah.

Ya ampun.

Aku membutuhkan sekali pertolongan-Mu, ya Allah.

Mau ke Jogja saja kok ya tidak sampai dari kemaren?

Aku harus bagaimana, ya Tuhan? Ya Allah, ya Allah.

Aku pasrah. Aku harus pasrah, ya Allah.

Adit sudah seperti ini. Ini sudah...

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, ya Allah.

Tolong kami, ya Allah. Tuhan. Ya Allah.

Ini semua gara-gara Bos Jarwo.

Apa kamu bilang, Sopo?

Ini semua gara-gara Bos Jarwo.

Kita tidak dikasih berkah.

Kita dibikin kesasar terus.

Ini semua karena Bos Jarwo banyak dosa.

Eh, Sopo, apa yang kamu tahu soal dosa?

Mau sok suci kamu?

Kamu juga mau 'kan? Uang dari hasil mengantarkan anak hilang ini.

Mengaku saja kamu, Sopo.

Bos Jarwo tidak membeli tiket, terus mencuri bebek, mengambil sepeda orang.

Sekarang malah mengajak Sopo untuk menculik anak orang.

Sopo takut masuk neraka. Sopo bukan penjahat.

Oke, Sopo. Kalo kamu anggap aku penjahat, memang aku penjahat!

Mau apa kamu?

- Anu... - Sekarang kamu mau menuduh aku apa lagi?

Menuduh aku mau meminta uang sama orangtuanya Adit?

Kamu juga mau, 'kan? Mau, 'kan?

- Itu juga kejahatan! - Bang Jarwo.

- Bang Sopo. - Sekarang kamu mau apa? Mau pergi?

Silakan, aku tidak peduli, Sopo.

Kamu mau balik stasiun, angkut-angkut barang lagi, terserah!

Tidak usah anu-anu lagi. Kamu juga mau semuanya 'kan? Mengaku Sopo!

- Mengapa kamu berbicara soal dosa, neraka? - Bunda!

- Kamu pikir kita sampai di sini buat apa? - Ayah!

- Kamu tidak tahu... - Bunda!

- ...apa yang aku pernah lakukan? - ...Adit-nya, Bos?

- Kamu ngomong itu seenaknya saja, Sopo! - Adit-nya? Adit, Bos?

Lho, Dit, Adit?

Ini pasti gara-gara kamu, Sopo. Gara-gara kamu. Duh, berantakan semuanya.

- Di mana kamu, Dit? - Dit! Adit!

Dit!

Bunda!

Ayah!

Maafkan Adit, Ayah.

Bunda, maafkan Adit, Bunda.

Bunda!

Ada-ada saja.

- Adit! - Adit, Dit! Hadeh.

Dit!

Bang Sopo!

Bang Jarwo! Tolong!

Tolong Adit!

Biskuit Bunda.

Biskuit Bunda.

Bunda.

Tolonglah Adit.

Bunda!

- Dit! - Dit!

- Adit! - Bos, Si Adit ke mana, Bos?

Lho, jangan bertanya padaku. Ini gara-gara kamu.

Kalau dari tadi tahu ya, mengapa mencari?

Kamu itu lho.

Bos, biskuitnya Adit, Bos.

Iya, berarti tidak jauh dari sini, Sopo, Adit-nya.

Buruan-buruan! Kita mencari Adit, Sopo. kasihan itu anak.

- Dit! - Adit!

Adit kangen bunda.

- Dit! - Dit!

- Pegang yang kuat Dit. Yah? - Iya, Bang Jarwo.

Ayo cepat, Bos.

- Sopo, ayo tolong pegang yang kuat. - Iya, Bos. Ini juga pegangan.

Adit takut nih, Bang Jarwo.

- Tenang, Dit. Tenang. - Cepatan, Bos.

Ayo, Bos. Cepat, kasihan dia, Bos.

Iya, kamu tuh jangan bilang saja. Malah bikin begah.

- Ayo, pegang terus, Dit. Jangan sampai lepas. - Iya, Bang.

Ayo, Bos, cepat, Bos.

Angkat, Bos.

- Ayo, Bos, tarik. - Ini juga lagi...

- Hati-hati, Bos. - Bang Jarwo!

- Dit. Pegang terus Dit. - Tarik, Bos.

- Iya, Bang. - Kamu loh malah bikin bingung saja, Sopo.

Sudah, kamu pegang saja yang bener. Tidak usah pakai ngomong, ya.

- Doakan saja. - Maaf, Bos.

- Ayo, Dit, lagi, Dit. - Iya, Bang.

Ayo bareng-bareng, ayo.

Satu, dua, tiga!

Ayo, Bang!

Tenang, Dit. Tenang.

Alhamdulillah.

Dit, kamu gak apa-apa?

Bang Sopo!

Tenang, Dit. Kamu sudah selamat.

Tenang.

- Adit, Sopo. - Iya, Bos?

Sebenarnya sudah wajar kalau kamu berdua curiga sama aku.

Aku ya seperti ini.

- Sebenarnya ya, aku beritahu, ya, kamu. - Iya, Bos.

Aku tidak doyan bebek.

Aku sengaja. Siapa tahu bisa dimakan kamu sama Adit.

Karena kukira kamu lapar.

- Kok tidak bilang? - Satu lagi, Dit.

Di kotaku, Randusari, Semarang, aku punya dua sepeda antik.

Ribuan bintang di langit

Hanya satu yang berpijar

Terang menyinari malam

Dan di sepanjang jalan waktuku

Hanya kaulah yang mampu

Beriku cinta itu

Beriku cinta itu

Cinta ayah, kasih bunda

Mengangkat aku lebih tinggi

Cinta ayah, kasih bunda

Hangatkan aku di sini

Hei, Adit, jangan kau menangis

Usap air matamu

Ku selalu bersamamu

Tenanglah. Jangan kau gundah

Jangan kau resah Aku di sampingmu

Kamu harus kuat

Kamu anak hebat

Ayo bersemangat Yakin kau bisa

Kamu harus kuat

Kamu anak hebat

Ayo bersemangat

Pasti kau bisa

Adit!

Kamu harus kuat

Kamu anak hebat

Ayo bersemangat Yakin kau bisa

Kamu harus kuat

Kamu anak hebat

Ayo bersemangat

Yakin kau bisa

Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Bunda.

Adit di mana?

Iya, Bun, sudah ya, Bun. Sudah, tenang.

- Ya Allah. - Ayah pasti berusaha. Ya, Bun, ya?

- Adit. - Tenang ya. Tenang.

Bagaimana Bunda bisa tenang, Yah? Adit-nya, belum pulang.

Aduh, bagaimana ini, Ayah?

- Ya Tuhan. Ya Tuhan. Adit. - Ya Allah.

Adit.

Aduh!

- Aduh, Yah! Aduh. - Kenapa, Bun?

- Mulesnya beda ini, Yah! - Hah?

- Kayaknya Bunda mau melahirkan, Yah. - Melahirkan bagaimana?

- Ini 'kan, masih 7 bulan? - Ayah, bagaimana?

- Bapak! Ibu! Tolong, tolong! - Sepertinya Bunda mau melahirkan ini, Yah.

Bang Sopo.

- Adit? - Adit pusing, Bang.

Bos. Bos Jarwo. Adit, Bos.

Ini kenapa lagi, Sopo? Kenapa lagi? Ya Allah!

Ini bagaimana? Kenapa Adit-nya? Kenapa, Sopo? Ya Allah!

Ini bagaimana?

Tidak tahu, Bos.

- Tiba-tiba lemas. Badannya menggigil. - Bang Sopo.

Sepertinya kedinginan, Bos.

Dit? Adit? Aduh, Dit. Aduh.

Dit? Ya Allah. Kamu tidak apa-apa, Dit?

Dit? Adit? Ya Allah!

Ini coba kamu tutup mata kamu, Dit.

Kamu tarik napas yang dalam, Dit, ya?

Terus kamu membayangkan kalau kamu itu kuat, Dit. Kalau kamu itu hebat, Dit.

Terus bayangkan, Dit, kalau kamu itu... Kamu itu Gatotkaca, Dit.

Kamu hebat, Dit. Kamu bisa, Dit. Ayo, Dit.

Dit, perjalanan kita itu tinggal sedikit lagi. Insya Allah sebentar lagi sampai ke Jogja.

Ayo, Dit, kamu harus kuat, Dit.

- Bang Jarwo. - Iya, Dit?

Bang Sopo.

Antarkan Adit bertemu Bunda ya.

Iya. Iya.

- Bang Jarwo sama Bang Sopo jangan khawatir. - Kamu pasti kuat, Dit.

Adit tidak kuat terkena dingin.

Bos, kita bawa ke rumah sakit yang dekat dari sini saja.

Tidak Sopo, tidak. Adit ini anak yang kuat.

Kita harus membawa ke rumah sakit yang ada di Jogja saja. Biar orangtuanya tenang.

Tidak usah menunggu lama lagi buat bertemu sama anaknya.

Aku yakin Sopo, Adit pasti kuat. Ya Dit ya, kamu kuat ya Dit?

Iya, Bang.

Ini ada apa?

Ya Allah. Astagfirullah. Ini ada apalagi ini?

Tolong kami, ya Allah.

Ampuni dosa kami, ya Allah.

Masih belum sampai Jogja juga, Mas Bro?

Yang waktu itu ya?

- Kita antarkan sampai Jogja, Mas Bro. - Jogja?

Sungguh?

Ya Allah.

Alhamdulilah! Ya Allah.

Ayo, Bro!

Kita ke Jogja, Sopo. Ya Allah.

Kita ke Jogja, Alhamdulilah. Kita ke Jogja, Dit.

Ayo Dit. Kuat Dit.

Ya Allah. Semoga tidak apa-apa.

- Mas, Adit nya itu Mas... - Dit..

Tahan, Dit.

- Aduh bagaimana ini? - Tenang ya, Dit.

Kebut!

Putar balik.

Waduh ada apa ini?

Biar Adit diobati dulu. Kita menunggu di depan saja yuk?

Iya, Bos.

Insy Allah Aditnya tidak apa-apa. Sehat-sehat.

Ayo, Sur.

Sudah saatnya kamu bergabung di perusahaanku.

Kamu kan tahu, Tidak banyak teman yang aku percaya.

Iya, nantilah Jeff.

Aku belum bisa memutuskan apa-apa, sebelum Adit diketemukan.

Tenang, Sur.

Saya kenal kamu, dari jaman kuliah saya sudah tahu kamu.

Pasti saja, kalau tidak lupa inilah. Tertinggal, tidak tahu apa. Ada saja kamu itu.

Tapi kamu itu beruntung orangnya.

Saya yakin Adit pasti diketemukan. Percaya deh.

Semoga. Terima kasih ya.

Baik, saya jalan dulu ya. jaga diri, Sur. Ya?

- Ibu Amira? - Iya Ibu Amira.

- Sebentar ya pak. - Iya.

Permisi mas. Mas yang mengantar pasien anak Adit ya?

Iya, saya suster..

Bagaimana? Bagaimana Aditnya sekarang?

Pasien Adit nya sudah sehat, sudah segar.

- Terima kasih. Adit cepat sehat ya. - Adit?

- Adit? - Ayo, Sopo.

Jogja?

Ayah, Bunda.

Mas!

Eh mas-mas!

Mas!

Iya pak? Kenapa?

Tadi Mas yang bawa anak yang namanya Adit? Yang tertinggal di Cirebon itu? Iya?

Kok bisa tahu pak?

Adit, yang tertinggal di stasiun Cirebon 'kan?

- Lah kok tahu juga? - Lah saya bapaknya. Ayahnya.

Yang bener mas? Ini serius loh pak. Jangan bercanda loh ini.

Mas, saya ayahnya. Sekarang Adit dimana?

Tunggu. Ini ayahnya yah? Yakin ya? Tidak bohong?

Saya ayahnya!

Oke. Adit nya ada di... Anu pak... Ada di ruang UGD tadi.

Kenapa dengan dia!?

- UGD - Ini pak. Ini adanya di UGD.

Pelan-pelan, Bos.

- Dit? Adit? - Bos, Adit tidak ada.

- Mas, Anda tidak bohong mas? - Tidak Pak, sungguh.

Tadi Adit nya ada disini.

Eh Sopo, kamu malah diam saja itu? Cari itu Adit nya.

Anda jangan main-main sama saya ya mas?

Tidak Pak, saya tidak bohong. Sungguh, tadi saya membawa Adit.

Sopo, bantulah?

Kemana, kemana lagi ini. Sudah sampai Jogja kok masih saja hilang.

Bentar ya pak. Sungguh. Tenang-tenang. Percayalah.

Adelia?

Adelia!

Adit?

Bunda?

- Ya Allah! - Bunda.

- Ya Allah! Adit! - Bunda!

Ya Allah!

Kamu kembali nak.

Ya Allah! Adit.

- Adit kangen. - Bunda juga kangen sama kamu.

Maafkan ya Bunda.

Kamu tidak apa 'kan? Kamu tidak luka?

- Maafkan Bunda ya. - Adit kangen.

Adit.

Ini Bun...

Biskuitnya.

Ya Allah!

Alhamdulilah. Ya Allah!

Adit.

Adit?

Ayah?

- Ayah! - Adit.

- Adit. - Maafkan Adit, Ayah.

Maafkan Adit.

- Maafkan ayah juga, Dit. - Ya Allah!

Adit.

Bunda.

Ayah minta maaf.

Sekarang ayah baru bisa bicara.

Sebenarnya, Ayah baru saja di PHK.

Makanya ayah bingung.

Itu Bunda.

- Bunda sudah tahu kok Yah. - Hah?

Bunda tahu, karena ayah selalu lupa. Selalu tertinggal.

Tiketnya tertinggal.

Senang juga ya melihat sudah berkumpul semua lagi, ya Sopo.

Iya, Bos. Sopo terharu.

Yah berarti tinggal buat kita saja ini.

Anak cantiknya ayah ini.

- A... - Adelia, Yah.

Adel.

Surya.

Akhirnya, baru kamu mau bergabung di perusahanku. Terimakasih ya, Sur.

Aku yang semestinya berterima kasih, Jeff.

- Maafkan aku ya. - Sama-sama, Sur.

Satu lagi Sur.

Tugas kamu yang pertama, kamu dan keluarga akan ke Jepang.

Ke Jepang?

Yee, ke Jepang!

Jadi teman-teman, aku akhirnya jadi ke Jepang.

Yang lebih serunya lagi, kemarin aku bisa ke Jogja...

...bersama Bang Sopo dan Bang Jarwo.

Setelah itu, Adit bersama Bang Sopo dan Bang Jarwo, langsung naik truk...

Tiba-tiba ada sapi!

Sampai ke kota Pemalang, dari situ aku naik bus ke arah Dieng.

Seru deh!

Ada yang lebih seru. Sekarang aku punya adik.

Namanya Adelia. Seru 'kan?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.