All language subtitles for 3265222222

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

JAKARTA 2015

Kembali terjadi bom bunuh diri di sebuah club (tempat hiburan malam) di Jakarta.

Sementara korban diperkirakan hampir mencapai 150 orang.

Situasi kembali memanas antar kedua kubu sorban merah dan sorban hitam.

Bentrokan kembali terjadi dan kini memakan korban jiwa lebih banyak.

Khususnya dari kalangan warga sipil yang tidak terlibat.

Ribuan mahasiswa dan rakyat sipil turun kejalan.

Dan mengecam kekerasan yang terus terjadi.

Aksi tersebut justru memperkeruh keadaan dan menambah terjadinya kekerasan.

Sebuah rekaman video amatir bocor dan tersebar di dunia maya dengan cepat.

Rekaman video tersebut berisi dokumentasi aparat negara.

Menembak mati ratusan anggota dari berbagai kelompok agama garis keras.

Segala bentuk kekerasan harus dihancurkan.

Kalau saya nanti terpilih.

Saya akan buat banyak peraturan baru.

Para peserta aksi damai memberikan bunga kepada siapapun yang mau menerimanya.

Mereka mengecam penggunaan senjata api.

Oleh para kriminal maupun dari aparat negara yang semakin melewati batas.

Kami sangat mengecam penggunaan senjata pembunuh dalam bentuk apapun.

Sebuah peraturan baru pelarangan.

Penggunaan peluru tajam yang mematikan.

Dalam aktifitas penanganan kriminal.

Diterapkan di setiap level personil aparat negara.

Aparat hanya diperkenankan hanya menggunakan peluru karet.

Yang hanya dapat melumpuhkan target mereka.

Sudah waktunya Indonesia berubah.

''Hidup kebebasan''

Tahun 2026 revolusi berakhir

Indonesia menjadi negara liberal yang terlihat damai

Dan anti kekerasan.

Agama mempunyai citra buruk Di mata negara dan masyarakat

Karena dianggap sebagai pemicu

Perang dan kekerasan.

Hak asasi menjadi prioritas.

Aparat negara tidak diperbolehkan menggunakan peluru tajam

Kemampuan bela diri menjadi kebutuhan yang Sangat penting untuk para penegak hukum, Maupun pelanggar hukum.

Beberapa orang memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata.

A L I F

JAKARTA - 2036

DISTRIK - 2

Apa yang anda lakukan Kapten?

Hei bocah...

Ini sangat-sangat gak masuk di akal gue.

Siapa tahu mereka pakai senjata beneran dan peluru tajam.

Sementara kita pakai peluru karet?

Peluru tajam itu ilegal Kapten.

Gue itu cuma gak mau mati konyol di dalam sana kena peluru tajam.

Hei bocah...

Hei...

Silahkan tangkap dan lumpuhkan siapapun yang berhasil keluar.

Siap!

Bosan hidup nih anak.

Letnan Alif.

Sang idealis yang ambisius.

Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu?

Untuk saya, anda bisa pakai itu.

Saya ganti pertanyaannya!

Berapa...

Berapa yang harus saya berikan untuk kamu untuk pasukan kamu, hah?

Gak semuanya bisa dibeli dengan uang!

Semua orang bisa dibeli!

Segala hal bisa dibeli!

Termasuk nyawa kita.

Nyawa orang-orang kamu hajar yang kamu bunuh.

Itu yang kamu beli.

Untuk apa?

Pangkat, jabatan atau untuk kepuasan.

Kamu yakin...

Kamu tidak mau bekerja untuk saya?

Tenang.

Sebelum kamu menangkap saya.

Dengar dulu.

Saya punya sebuah rahasia.

Rahasia yang tidak seorang pun tahu.

Saya persis seperti kamu!

Kita berdua sama sekali tidak punya persamaan.

Dengar dulu...

Saya dulu seorang idealis.

Saya tidak peduli dengan apapun.

Saya hanya bekerja untuk bangsat...

Malam, Pak.

Bapak di tunggu Kolonel di ruangannya.

Terima kasih, Pak.

Kamu punya bakat dan kemampuan luar biasa dalam bertempur.

Tidak ada dua dan saya akui itu.

Tapi kamu tidak bisa terus-menerus seperti ini.

Kita ini bekerja dalam satu tim.

Tim yang punya susunan organisasi.

Ada garis komando.

Ada garis perintah.

Atasan saya, Pak!

Dia yang terlebih dahulu melanggar peraturan bukan saya.

Apa kamu punya bukti?

Kenapa coba kamu yang melihat dia menggunakan peluru tajam.

Sedangkan anggota lain tidak melihat.

Badan pengawas akan mendakwa kamu atas pembunuhan terhadap tuan Sunyoto.

Bukan saya yang bunuh dia, Pak!

Itu saya tahu!

Tapi kan kamu juga tidak melihat, siapa yang membunuh dia?

Kalau dia mati dalam perkelahian.

Karena benturan, patah-patah tulang itu masih bisa ditolerir.

Tapi kepalanya tertembus peluru tajam.

Ini fatal.

Pelanggaran hak asasi berat.

Mereka mau mendakwa pakai apa, Pak?

Dia tertembak dari luar, senapannya aja tidak ada disitu?

Senapannya sudah ditemukan.

Ada di ruangan yang kamu hancurkan itu.

Kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri.

Saya tahu kamu luar dan dalam.

Cobalah kompromi sedikit.

Kali ini ancaman hukuman buat kamu.

Bukan saja pangkat kamu akan di turunkan.

Tapi kamu juga bisa di penjarakan.

Bapak tahu pangkat gak penting buat saya.

Lalu apa yang penting buat kamu?

Menumpas kejahatan Pak, itu yang paling penting buat saya.

Seberapa besar pun kejahatan yang kamu tumpas dan seberapa banyak pun.

Penjahat yang kamu bunuh atau kamu tangkap.

Itu tidak akan pernah menghidupkan lagi orang tua kamu.

Paham!

Kita sudah selesai di sini, Pak.

Dengan terpaksa...

Kamu saya bebas tugaskan 2 minggu.

Alif.

Mim.

Alif rumahmu kebakaran, Lif!

- Rumahmu kebakaran! - Permisi.

Abiii...

- Abiii... - Alif, tenang!

- Umiii... - Alif, istighfar...

- Istighfar... - Abiii...

Astagfirullahaladzim.

Istighfar...

- Istighfar... - Abiii...

Tolongin ane.

Mami, mami...

Lu tahu kan...

Gue berhak tembak orang yang masuk ke rumah tanpa ijin.

Peluru karet aja sok nembak-nembak lu.

Lu ceroboh sistem keamanan lu gampang banget di jebol.

Mungkin lu yang kurang latihan Lam, baru beberapa jurus udah bisa gue jatuhin.

Lupa ya...

Jaman sekarang kalau mau berantem pakai internet perang lewat media.

Yang jaringannya kuat yang menang.

Otot sama peluru gak nyambung banget.

- Inih... - Iya.

Berapa orang yang lu bunuh hari ini?

Itu tidak lucu, Lam! Nyawa orang jangan jadiin candaan.

Bukannya kalian yang selalu jadiin nyawa orang becandaan.

Kalian?

Aparat negara!

Yang punya kewenangan untuk membunuh, asal jangan pakai senjata api.

Sinis dan skeptis pada ke aparat negara udah balik lagi jadi tren.

Gue pikir itu tren 10, 20 tahun yang lalu.

Setiap ada penggerebrekan, penumpasan kejahatan.

Selalu ada korban yang meninggal karena peluru tajam.

Setahu gue, peluru tajam udah di larang.

Katanya peluru tajam itu punyanya para kriminal.

Kenapa bisa nyasar ke kepala mereka ya!

Setahu gue, lu itu jurnalis Lam bukan detektif.

Tulis berita yang ada aja, gak usah asumsi yang macem-macem.

Ntar bikin rame bikin kacau.

Atau itu yang mau lu cari buat bahan jualan kantor lu.

Dunia kriminal tak sesederhana di film-film & koran-koran, Lam.

Yang selama ini kita lakukan, yang gue lakuin itu demi keamanan bangsa.

Siapapun yang jadi ancaman bagi rakyat dan negara harus dihancurkan.

- Apa pun pengorbanannya? - Apa pun pengorbanannya!

Walaupun ngorbanin nurani lu sendiri?

Ini Lam...

Ini yang bikin gue tetep waras sampai sekarang.

Ini yang ngejaga gue biar tetep punya ini.

Ngasih duit ke istri dan korban misil-misil, sampai kapan?

Kapan lu harus nglakuin sesuatu yang sebenernya lu gak suka.

Bahkan gak setuju.

Sampai kapan otak lu terus berantem sama hati lu?

Kapan sih Lam, hati dan otak pernah berhenti berantem?

Bukannya itu ya pertempuran sebenarnya dalam hidup ini!

DISTRIK 5

Bantu gue sekali lagi dong.

Gue perlu tahu siapa dia?

Siapa keluarganya?

Keahlian gue nyari informasi, keahlian lu bunuh orang gitu ya?

Lam, ini di luar kepentingan kantor.

Gue gak bisa manfaatin fasilitas kantor untuk yang ini.

Walaupun kantor lu yang bikin lu kayak gini?

DISTRIK 5

Gue ada pertanyaan dari dulu.

Biasanya di depan sofa itu TV, kenapa jendela ya?

Katanya TV adalah jendala untuk melihat dunia.

Gue udah trauma di bohongi terus sama TV.

Ya gue lihat jendala aja langsung, apa masalahnya!

Sinis dan skeptis terhadap media junalistik udah jadi tren lagi ya.

Gue pikir itu tren 10, 20 tahun yang lalu.

Jangan kaget ya liat datanya, semoga berguna.

Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Hei, Nona cantik!

Lepas...

Lepas...

Hei, kabur hei!

Hei, mau kemana?

Jangan kaget ya lihat datanya, semoga berguna.

12 tahun 4 bulan 21 hari.

Sudah berapa lama kamu di Jakarta?

4 tahun.

4 tahun!

Kok gak pernah hubungi aku?

Aku...

Aku malu, Lif.

Malu?

Aku gak kayak dulu lagi.

Aku sudah kehilangan segalanya.

Kau tahu, sekarang aku harus melakukan apa saja demi bertahan hidup.

Suami kamu?

Apa?

Udah mati.

Aku senang karena dia sudah mati.

Apakah seburuk itu?

Dulu, sikapnya manis sekali tapi setelah itu...

Tapi siapa yang tahu ternyata dia seorang kriminal.

Dan untung aku udah gak sama dia sebelum...

Sebelum dia mati sama aparat negara.

Baiklah, heemm...

Sudah cukup cerita tentang diriku.

Sekarang kamu.

Memangnya kenapa denganku?

Iya gimana kabarnya?

Sudah jadi aparat negara.

Pasukan khusus kan?

Muda.

Ganteng.

Gagah.

Jago bela diri lagi.

Pasti pacar kamu banyak ya?

Udah gak ada rasanya.

Rasa itu udah hilang.

Di bawa pergi 12 tahun yang lalu.

Maafkan aku, Lif.

Kau tahu...

Seandainya aku bisa memutar waktu.

Kembali di jaman...

Di jaman semuanya masih sederhana.

Saat aku masih bahagia.

Seandainya saja waktu itu aku tidak pergi.

Seandainya saja ayahku....

Laras, gak ada gunanya kita nyesel sekarang.

Kita semua memang gak bisa merubah masa lalu.

Tapi masih ada masa depan.

Kita selalu bisa merubah masa depan.

Udah gak ada masa depan buat aku, Lif.

Laras, kamu ngomong apa sih!

Lihat saja diriku lihat diriku, Lif.

Aku seorang janda melarat berumur 32 tahun.

Yang punya masalah demi masalah.

Kau tahu...

Hidupku sudah berakhir.

Semuanya sudah terlambat, Lif.

Gak pernah ada kata terlambat, Laras.

Teruslah berjuang dan jangan pernah putus asa.

Itu yang dulu kamu selalu bilang ke aku kan.

Itu yang bikin aku berjuang sampai sekarang.

Bergabung dengan pasukan khusus ini.

Sekarang aku balikin kata-kata itu ke kamu.

Seandainya saja hidupku sesederhana itu.

Kau tidak mengenalku, Lif.

- Kau tak tahu, seperti apa kehidupanku. - Aku mengenalmu.

Semua permasalahanku....

- Aku mengenalmu, Laras. - Tidak.

Aku benar-benar tahu, aku benar-benar tahu.

Kamu dulu yang bakar api itu disini.

Sampai sekarang gak ada yang bisa pademin api itu.

Apa pun masalah kamu Laras kita akan selesein bareng.

Hanya itu yang penting.

Selebihnya udah gak penting, Laras.

Aku janji padamu, Laras.

Segalanya akan baik-baik saja.

Aku tidak mau lagi kehilangan dirimu, Laras.

Aku tidak mau lagi kehilangan dirimu.

Lif...

Kau terlalu...

Kau terlalu baik untukku.

Hei, Lif.

Bukannya lu lagi di bebas tugaskan ya?

Iya.

Cuma mau ngambil barang doang!

Bisa ketemu di Candi Cafe besok? - Laras -

Senyum-senyum sendiri aja, Lif?

Kawan, Lihat.

Alif senyum, Kawan.

Apaan sih!

Lif, siapapun yang bisa membuat seorang Alif itu senyum.

Pasti spesial banget, Lif.

Dia pahlawan buat kita.

Gue seruis, Lif.

Lu udah nglakuin hal yang luar biasa kemarin.

Keberanian lu, daya tempur lu, bikin kita semua yang ada di sini tambah semangat.

Dan yang paling penting.

Kita semua yang ada di sini bisa pulang ke keluarga masing-masing dengan selamat.

Semua karna lu.

- Pasukan siap? - Siap! Siap! Siap!

Mau kemana?

Distrik 9, ada yang harus ditumpas di sana.

Biasalah, teroris-teroris berjubah agama potong satu tumbuh sepuluh.

Memang harus dihabisi sampai keakar-akarnya, Lif.

Keluarganya sekalian, kalau perlu sampai ke anak-anaknya.

Biar abis tuh teroris agama di negara kita.

Agama cuma bikin kacau, Lif.

Hati-hati, Bim.

- Siap Kapten. - Letnan satu, sama kayak lu.

Lu masih kapten kan!

- Ini kok padepokan di segel gini? - Revolusi Mim!

Padepokan inilah yang membahayakan keamanan.

Gunakan kemampuan kalian untuk membela bangsa dan negara.

Guru mau bergabung ke penerimaan tentara sipil.

Kalian yang masih sangat memungkinkan untuk bergabung.

Umur saya sudah tidak mendukung, tapi saya akan membantu semampu saya.

Selamat tinggal.

Gue gak bisa disini terus, gue harus nyari para pembunuh keluarga gue!

Trus lu mau ikut ke penerimaan itu?

Iya.

Gue bakal ngabdi sama negara.

Gue bakal jadi penegak hukum.

Gue sih masih mau terusin tulisan gue aja, gue mau nulis tentang kebenaran.

Biar orang bisa dan pembaca tahu dan ngerti, apa itu arti dari kebenaran.

Kalau aku sih sederhana aja, aku cuma pengen mati Husnul Khotimah.

Tinggal di sini dan aku mau ngabdi, nyebarin kebaikan lewat agama.

DISTRIK - 9

Masya Allah...

Jangan bergerak!

Rupanya anda sudah tahu kami akan datang.

Tangkap!

Terbukti anarkis, mental preman.

Pulang!

Bawa pergi pasukan kamu.

Sebelum luka dalam dan patah tulang bertambah parah.

Orang-orang fanatik macam kalian cuma jadi penyakit bagi negara ini.

Kalian cuma mengerti bahasa kekerasan.

Lu jual agama lu, warga sini bayar berapa untuk tarif preman lu?

Dasar munarik, salam dari gue untuk Nabi lu.

Pulang-pulang, kembali ke anak istrimu.

L A M

DISTRIK - 7

Lam, ditunggu Pak Candra di ruangannya.

Baiklah.

Iya, selamat ya.

Apa nih, Pak?

Semalem saya dapat email dari Libernesia London.

Mereka ajak saya diskusikan.

Tentang tulisan kamu mengenai pribumi Atambua bulan lalu.

Katanya mereka mau masukin kamu ke nominasi penghargaan lagi tahun ini.

- Kenapa? - Gak pa-pa, Pak.

- Cuma... - Tapi mereka itu ada permintaan!

Nah! itu dia, Pak.

Mereka mau kamu menulis.

Tentang perkembangan peradaban modern yang cukup berkembang drastis di negara ini.

Spesifik, tentang pernikahan sesama jenis yang sudah disahkan.

Dan dalam 10 tahun ini yang sudah marak terjadi.

Dengan gaya tulisan kamu tentang Atambua itu.

Gaya penulisan dengan sudut pandang yang dramatis.

- Bapak gak usah bohong! - Maksud kamu?

Tulisan saya tentang penduduk asli Atambua itu sudut pandang pribadi saya, Pak.

Sesuai sama hati saya.

Mungkin karena itu jadinya lebih dramatis.

Menyentuh.

Penduduk asli sana gak ada yang peduli Pak, sama betapa sempurnanya peradaban barat.

- Mereka malah... - Lam, Lam!

Hati-hati ketika kamu menyebut kata "Barat"!

Kamu sudah masuk area rasis.

Bahkan ekstremis.

Iya maaf, saya ralat Pak peradaban modern.

Intinya, saya gak bisa nulis sesuatu yang bertabrakan sama hati saya.

Lam...

Kita ini bekerja harus objektif, Lam.

Gak bisa kamu bekerja dengan menggunakan perasaan dan hati kamu.

Apalagi dari sudut pandang keagamaan kamu itu.

Kita ini kantor berita.

Bukan Departemen Agama.

Sudut pandang kamu itu harus kamu rubah, Lam.

Maaf Pak, mungkin Yoga atau Sekar lebih cocok.

Saya kan sudah sering bilang sama kamu.

Kamu itu salah satu jurnalis terbaik di kantor ini.

Tapi, kalau kamu terus bekerja dengan cara yang kolot.

- Halo... - Suatu saat kamu harus memilih.

Kenapa, kapan?

- Lam? - Sekarang.

- Lam? - Kepala sekolah.

- Lam? - Iya.

Gimana, Pak?

- Sudah, Pak? - Sudah.

Begini Pak, Ibu.

Kasus Gilang ini berbeda dari kasus murid-murid yang lain.

Musuh Gilang bukan murid lain tapi guru-guru.

Hari ini saja ada 5 guru yang sukses ditertawakan para murid-murid satu sekolahan.

Memangnya sudah terbukti kalau Gilang yang salah?

Kami rasa tidak perlu dibuktikan, Pak.

Gilang sendiri tidak menyangkal ketika kami tanyakan dia melakukan atau tidak?

Pertanyaannya kan sudah terbukti atau belum, Pak!

Bukan saya ngaku atau gak.

Gilang...

Sebentar ya.

Bapak dan ibu pasti sering mendapatkan pujian karena kepandaian Gilang.

Itu betul.

Saya akui itu.

Jangan-jangan, Gilang sudah nemu jawaban dari soal-soal ujiannya dari server sekolah.

Atau jangan-jangan, dia sendiri yang merubah nilainya jadi bagus.

Makanya nilainya bagus terus.

Saya paham arah pembicaraannya, Pak.

Gini aja deh, heemm...

Saya minta maaf atas kelancangan anak saya.

Biar saya yang bicara sama anak saya.

Bisa dimatiin gak, Pak?

Gak bisa dimatiin Bu, itu dari server sekolah.

- Mana? - Apa.

PC nya?

Gak pakai PC, orang cuma pakai HP.

Ya udah sini HP nya?

Kamu itu dikasih ilmu, kalau buat kebaikan itu amanah.

Tapi kalau seperti ini jadinya sombong ilegal.

Mereka sudah keseringan banget sindir-sindir ayah di depan kelas!

Ayah?

Kok jadi ayah?

Mereka jadi sering begitu sejak Pak Toni mergokin kamu sholat di ruangan bawah gedung sekolah.

Gilang...

Kamu malu kalau kita sholat?

- Gak pa-pa, kalau malu... - Gak ayah, Gilang gak malu.

- Besok Gilang bilang di depan kelas deh. - Hei, gak gitu juga kali.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Pakai HP?

Aku seumur dia baru bisa browsing (menjelajah di internet) pakai ini.

Inih kamu seneng atau kawatir sih, Gilang meretas server sekolah?

Bingung, aku gak pernah ngajarin.

Laras!

Alif.

Kamu ngapain disini?

Kan kamu yang minta aku ke sini.

Aku?

Kamu kirim pesan kan?

Laras, kamu baik-baik saja kan?

Tidak, ya, tidak... Maksudku...

Lif, aku sedang kerja.

Ya, kamu kerja aja seperti biasa.

Aku tunggu disini ya.

Gak, waktu pergantian kerja aku lama banget hari ini kamu pulang ya?

Aku sudah 12 tahun gak lihat kamu.

Aku lihat kamu kerja seperti biasa dari jauh aja udah seneng kok.

- Aku tunggu disini ya? - Laras.

Iya.

- Aku harus pergi. - Tak apa, pergilah.

Aku tunggu disini.

Duduk disini aja kita.

Mbak!

- Kita mau pesen... - Permisi, maaf nih bapak-bapak.

Di papan itu kan sudah ada tulisan.

Tidak boleh ada obrolan dan kostum berbau religi disini.

Itu sudah ketetapan dari manajemen.

Mbak, kami disini cuma mau makan-makanan yang halal.

Kami lapar dan kami akan membayar penuh semua makanan yang kami pesan.

Ya maaf mas, ganti baju dulu aja sana baru balik lagi sini.

Hah peraturan konyol.

- Hei... - Pake baju aja diatur-atur.

- Mbak kita kan... - Mas.

- Jangan ditarik. - Kita mau makan, Mbak!

Mas jangan ditarik dong.

Permisi, Permisi.

Maaf sekali ya, saya tahu kalian tidak bermaksud jahat.

Tetapi sebaiknya kita menaati peraturan yang ada.

Untuk menjaga situasi agar tetap kondusif.

Sebaiknya teman-teman kalian, mencari makanan ditempat lain.

- Maksudnya? - Maaf.

- Kita... - Maaf.

- Ayo. - Mari.

Kita langsung pulang aja.

Sekali lagi mohon maaf ya, Mas.

Saya gak ada maksud apa-apa!

Cuma mau yang terbaik untuk semua dan saling menghormati peraturan yang ada.

Aneh ya Mas, katanya negara kita ini negara liberal.

Negara yang memberikan kebebasan dan kemerdekaan pada rakyat.

Tapi bicara agama, bahkan berbaju gamis kayak gini aja dilarang.

Mungkin kebebasan itu tidak berlaku untuk orang yang masih beragama.

Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Mas!

Mas!

Mas! Mas!

Laras?

Alif.

Kamu tahu gak arti nama aku apa?

Gak.

Emang artinya apa?

Kalau kata ibu dulu.

Laras itu artinya lurus.

Selurus namaku dong!

Alif.

Alif kan lurus.

Kok bisa sama sih, Alif, lurus!

Vertikal, iya ya!

- Jangan-jangan kita jodoh! - Kok jangan-jangan.

- Ya udah pastilah. - Apa sih kamu percaya diri banget.

Minta ijin dulu sana sama temen kamu.

- Siapa? Herlam. - Kok Herlam, Mimbo lah.

Kamu kok bisa kenal, Mim?

Siapa yang gak kenal dia.

Tuh...

Mim!

Ngapain dia kesini?

Laras!

- Lif, Apa yang terjadi padaku? - Laras, kamu kenapa Laras?

Alif!

Peledakan bom yang terjadi di Candi Cafe pada pukul 15:42 kemarin, sampai dengan pukul 7 malam...

Alif gimana kabarnya?

Alif baik-baik aja, Laras yang di dalem cafe.

Laras siapa?

Mantannya Alif, kamu gak kenal.

Kelompok mana lagi yang dijadiin kambingnya?

Udah ah, en'nek mau makan denger berita kayak gitu.

Kalau sepupu kamu yang dijadiin tersangka gimana?

Mim bukan teroris, kamu tahu itu.

Berita bohong ya, Yah?

Kita gak bisa bilang sebuah berita bohong kalau kita gak punya buktinya.

Itu TV nya begitu.

Gampang banget menuduh orang.

- Terindikasi. - Terindikasi itu apa ya?

Terindikasi, tuduhan yang udah disebar kemana-mana padahal masih tuduhan doang.

- Belum terbukti. - Ohh...

Harusnya beritanya seperti apa?

- Beritain aja biasa! - Mulai lagi kan.

Gak usah kayaknya, kayak guru-guru Gilang aja.

Ini kenapa Ibu selalu terjebak dalam obrolan kakek-kakek ya.

Nenek-neneknya protes.

- Astagfirullahaladzim. - Ibu!

Kamu makan jangan ketawa terus, makan!

Makan!

KEJANGGALAN PELEDAKAN BOM DI CANDI CAFE OLEH: HERLAM

Pak!

- Itu... - Gimana peledakan Candi Cafe?

Belum Pak masih proses, kebetulan saya ke TKP.

TKP: Tempat Kejadian Perkara

- Jadi saya dapat petunjuk baru. - Tak apa, santai aja.

- Kita udah rilis! - Udah rilis?

Ya, Yoga yang bikin berita terhangatnya.

Barusan kita rilis online.

AGAMA KEMBALI MENYEBAR TEROR

AGAMA KEMBALI MENYEBAR TEROR

Gak sesederhana ini kronologisnya Pak, masih membingungkan banget.

Sumber saya aparat Pak, yang kebetulan saksi di lokasi kejadian.

Itu sumbernya dari aparat.

Mereka sendiri yang antar kesini, satu jam lebih mereka disini.

Sampai kita buat rilisnya.

Seorang Kolonel anter bahan berita kesini.

Saju jam nongkrongin Yoga bikin berita terhangat.

Pak, saya dapet petunjuk baru sejengkal aja saya dapat motifnya.

Media lain belum tahu soal ini, saya cuma kejar fakta, Pak.

Jadi fakta kamu itu lebih bener dari faktanya aparat?

- Gitu? - Gak gitu, Pak.

Lusa kamu berangkat Bromo, jangan membantah.

Kenapa setiap saya usut kasus teroris, saya dibuang ngeliput.

Bontang, Kabanjahe, Atambua sekarang Bromo.

Kamu masih sholat?

Apa urusannya tulisan saya sama sholat.

Kamu tahu media-media lain itu bisa merendahkan kita kapan saja.

Ketika entah gimana caranya mereka bisa dapatkan foto kamu sedang sholat.

Kamu tahu gimana nasibnya media yang dicap fanatik.

Fanatik, saya fanatik?

Satu orang saja SDM punya ideologi kolot.

SDM: Sumber Daya Manusia

Bisa tarik mundur seluruh investasi saham diperusahaan sebesar apapun.

Libernesia ini dibangun dengan mengusung ide kemerdekaan.

Merdeka dari dokma dokrin radikal merdeka dari dokrin agama.

Akan ancur seancur-ancurnya ketika media lain menyerang kita dengan senjata kita sendiri.

Selama kamu masih sholat.

Kamu gak akan objektif dalam mengusut kasus kriminal.

Yang di buat oleh sesama kalian.

Kita disini gak bisa menyimpan kriminal.

Kalau segitu kriminalnya saya, kenapa Libernesia masih tahan saya disini?

Siapa bilang, saya sudah sering bilang sama kamu kalau kamu masih kolot dalam kerja!

Silahkan kamu pilih, mengundurkan diri atau saya pecat!

Hei...

Laras!

Ini apa, buat apa lu kasih ke gue?

Tolong, Lam.

Bukan gini caranya minta tolong!

Gue kasih ini ke lu karena gue tahu lu bisa nolong!

- Tolong lakukan hal yang benar. - Hei ada apa ini?

Percobaan kedua untuk membuka file enkripsi!

Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.

Silahkan tekan tombol...

Tidur!

Kamu capek-capek bikin artikel tentang kasus teroris apa gak ditolak lagi sama kantor?

- Udah ditolak. - Kok masih diotak-atik?

Kayaknya, kasus pengeboman kemarin ada hubungannya sama pondoknya Mim!

Maksud kamu?

Aku liatin forensik temukan parfum botol Alatar di TKP.

TKP: Tempat Kejadian Perkara

Dis, dari kecil kita bertiga gak pernah setuju dengan tradisi pengeboman seperti itu.

Dari model Hiroshima, Nagasaki sampai peledakan Candi Cafe.

Kiai juga gak pernah ngajarin kita seperti itu.

Tapi kita harus adil sama fakta.

Biarpun Mim sahabatku, sepupu kamu kita gak bisa main asal bela.

Kita harus lihat kebenarannya.

Kamu yakin bukan aparat yang taruh botol itu?

Aparat aja bingung itu botol apaan asalnya dari mana, mungkin Alif juga gak tahu?

Kita yang tahu itu produk komunitas cuma ada di pondoknya, Mim.

Gak mungkin orang sini yang ambil kesana, harus orang pondok yang bawa kesini!

Terlalu banyak kejanggalan.

Belum lagi pra rilis aparat terlalu dini.

Cepat atau lambat mereka pasti tahu parfum Alatar itu asalnya dari pondok.

Mereka pasti kesana, Alif dan Mim gak boleh diposisi berlawanan.

Mereka gak pernah kompromi dengan kebenaran yang mereka pegang.

Kamu bener-bener gak pernah nyerah ya, jaga hubungan Alif sama Mim?

Kalau di suruh pilih aku atau Gilang, kamu pilih siapa?

Maksud kamu?

Pak Candra ngasih kita tiket ke Bromo, aku di suruh ngliput ke sana.

Tapi kalau kita ke Bromo, aku berhenti usut kasus ini!

Seperti biasa di buang ke daerah untuk bungkam.

Dari kejanggalan, Libernesia gak mau pernyataannya beda sama aparat.

Yang mereka mau, terorisnya Ulama.

Dan mereka gak mau kecipratan fakta yang aku kejar.

Trus apa hubungannya kamu dan Gilang?

Kali ini mereka nyuruh milih, Bromo atau mengundurkan diri.

Aku gak siap kalah dalam ujian ini.

- Gilang! - Nak, udah malem kok belum tidur?

Iya Yah, Gilang haus.

Lam, kamu inget gak dulu kamu bilang apa sama Papa waktu kamu nglamar aku?

Aku gak pernah lupa tuh.

Dulu kamu minta ijin ke Papa, buat ajak aku nemenin kamu berjuang bareng di sisa umur kita.

Bukan buat jamin aku hidup bahagia loh ya, tapi buat berjuang bareng.

Dan ternyata itu justru membuat Papa memilih kamu.

Semalem aku kaget sih denger ada kata mengundurkan diri.

Tapi ya, mana bisa kamu menentukan sikap sambil takut kehilangan pekerjaan.

Kalau kamu takut gak ada uang karena mikirin aku dan Gilang.

Itu sama aja kamu gak ngasih kesempatan ke aku dan Gilang buat nemenin kamu berjuang.

Justru ini kesempatan kamu buat jadi suri tauladan ke Gilang.

Supaya dia bisa melihat sendiri, bagaimana ayahnya menentukan sikap.

Bahwa dia punya ayah yang tajam mata hatinya.

Yang selalu berusaha adil menilai mana yang benar dan mana yang kelihatannya benar.

Aku takut jadi istri yang membuat suaminya tuli.

Gak bisa denger kata hatinya sendiri.

Cuma kamu yang bisa ajarin aku supaya gak bergantung sama uang.

Gak takut sama dunia.

SPAM: Tulisan bohong/sampah yang dikirim secara berulang-ulang.

1 PESAN MASUK SPAM TERDETEKSI.

SPAM: Tulisan bohong/sampah yang dikirim secara berulang-ulang.

1 PESAN MASUK SPAM TERDETEKSI.

Pain sih loh, Lam.

AKSES KAMU TELAH KADALUWARSA UNTUK MENGGUNAKAN APLIKASI ONLINE INI.

APLIKASI ONLINE HANYA BISA DIGUNAKAN OLEH KARYAWAN & TAMU LIBERNESIA SILAHKAN GUNAKAN SERVER UMUM.

Hebat Herlam, minta mengundurkan diri langsung dikasih.

Karyawan lain satu dua bulan dilihat baru bisa keluar.

Pras, pinjem akses lu dong akses gue diblok.

Udahlah Lam, Jaman sekarang jauh lebih baik dari revolusi dulu.

Udah gak jaman lu spam tulisan idealis.

Spam apaan?

Dulu sebelum revolusi kita dibilangnya apa!

Provokatif, begitu dibutuhkan berubah jadi revolusioner.

Kalau lu masih terus-terusan idealis kayak gini lama-lama lu jadi ekstremis.

Udah bukan masanya kita lagi nikmatin aja yang lu punya.

Gue gak ngerti lu ngomong apa?

Orang-orang mau lu berhenti usut pemboman ini.

Karena gak mau lu berhadapan dengan aparat.

Lu gak berasa aneh?

Minta mengundurkan diri langsung boleh keluar.

Gak usah orang-orang deh.

Gue yang mau lu berhenti usut pemboman ini karena gue masih peduli sama nasib lu.

- Lu malah nyebar spam di hari terakhir lu! - Spam apaan sih?

Gue lacak, Lam.

Lu makin gak mau ngaku kayak gini, gue makin bertepuk sebelah tangan peduli sama lu.

Gue butuh akses server kantor untuk mendekripsikan file.

Asal tahu aja ya, beberapa temen media itu terima spam lu langsung dihapus.

Gak di lihat sama pemimpin redaksi mereka.

Yang peduli sama lu kayak mereka, cuma tinggal beberapa, Lam.

Jadi tolong, ini demi kebaikanmu sendiri.

Hentikan!

M I M

Kita harus merawat mereka baik-baik.

Semoga sakit yang mereka alami bisa jadi penyejuk dari dosa-dosa mereka.

Baik Kiai.

Tapi Kiai keadaan yang paling parah ada pada pimpinan pasukan itu, Kiai.

Astagfirullah...

- Assalamualaikum, Ustadz. - Waalaikumsalam.

Kami semua bingung Ustadz, mempertanyakan aja?

Orang-orang di sana yang tergeletak di ruang medis.

Mereka semua membunuh kita, Ustadz!

Mereka tembaki Ustadz.

Tapi kenapa kita malah merawatnya, Tadz.

Bukan menghukum mereka atas apa yang mereka lakukan.

Apa hak kita untuk menghukum mereka?

Ini wilayah kita, Tadz.

Kita berhak menegakan hukum syariat islam di wilayah kita sendiri.

Ini wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negara Thoghut: Negara yang tidak mengatur negaranya dengan hukum Allah.

Ini negara Thoghut, negara Syaiton yang tidak bertuhan!

Istighfar, Wan! Istighfar.

Jangan jadikan nafsu.

Sebagai dasar kamu untuk melakukan sesuatu hal yang benar.

Kerena itu nantinya hanya akan menjadi sebuah pembenaran.

Ustadz jangan lupa!

Ayah saya, Kakak saya, mati dieksekusi oleh pasukan pembunuh yang mereka kirim.

Tanpa pembelaan, tanpa pengadilan, dan tanpa ada satu pun yang bertanggung jawab!

Sabar, Taat, Ikhlas.

Dimana Dokter Ali?

Sedang ke toko farmasi Kiai, membeli obat-obatan dan peralatan.

Kita harus segera mengambil tindakan dengan yang satu ini.

Operasi Kiai?

Ada masalah serius dengan luka dalamnya kita harus segera perbaiki.

Ambilkan ramuan yang sudah saya siapkan di ruangan saya.

Siap Kiai.

Maafkan saya!

Kiai, Kiai, Kiai.

Ada banyak pasukan Kiai, di depan gerbang.

Perhatian!

Tempat ini sudah terkepung, silahkan menyerah.

Serahkan pemimpin kalian sekarang juga.

Tahan dulu mereka, jangan biarkan masuk dan melihat semua ini.

Maaf Kiai, tapi bukankah mereka lebih baik melihat dan tahu apa yang kita lakukan.

Mereka belum siap, Mim.

Para pasukan yang kita rawat ini statusnya sudah terkompromi.

Kalau mereka kembali, mereka akan di interogasi dan mungkin juga akan disiksa.

Mereka sudah tidak dapat kepercayaan lagi.

Mengerti, Kiai.

Cepat!!

Mereka sedang membangun pasukan, teman kamu itu adalah Panglima perangnya.

Sementara tokoh muslim Kiai Haji Muklis adalah imam besarnya.

Bom itu, sama yang digunakan oleh mereka untuk mengebom Candi Cafe.

- Masih ada bukti lain... - Kapan foto ini di ambil?

Minggu lalu.

Kenapa gak ditumpas langsung, Pak?

Kenapa nunggu harus ada korban dulu disini.

Letnan Bima beserta pasukannya sudah melakukan misi penumpasan.

Tapi misi mereka gagal total, ternyata mereka lebih siap.

Pasukan kita yang berhasil kabur.

Terluka parah, ada yang gagar otak, patah tulang.

Sedangkan Letnan Bima sampai saat ini belum kembali.

Ada kemungkinan dia tidak selamat.

- Kenapa saya tidak di ikut sertakan Pak? - Kamu sedang dibebas tugaskan.

Dan hubungan pertemanan kamu dengan orang ini.

Dikawatirkan akan menimbulkan konflik dalam diri kamu.

- Bukti-buktinya akurat? - Sangat akurat.

Parfum yang digunakan oleh komunitas mereka dan tas yang sengaja ditinggal disana.

Pak.

Siapapun orangnya kalau dia kriminal, teroris ancaman bagi rakyat dan negara.

Akan saya hancurkan Pak, siapapun orangnya.

Satu jam yang lalu.

Kapten Rama beserta pasukannya sudah mengepung pondok pesantren.

Tapi mereka tidak bisa masuk.

Satu-satunya pintu masuk dijaga oleh orang itu.

Kemampuan bela dirinya luar biasa.

Tidak ada anggota pasukan kita yang bisa mengalahkannya.

Dan ternyata dia kebal peluru karet.

Tembak!!!

Ini keadaan gawat, nama baik pasukan kita yang menjadi taruhan.

Kalian lihat sendiri.

Ini akibatnya kalau kita tidak di ijinkan menggunakan peluru tajam.

Kalian lihat!!

Bisa saja mereka kita tembaki dengan peluru tajam.

Kita roket, tapi di sana sudah ada media banyak wartawan.

Mereka semua menunggu kita membuat kesalahan lagi.

Tuh lihat, sekarang!

Melakukan pelanggaran HAM yang selanjutnya.

HAM: Hak Asasi Manusia

Akan saya selesaikan Pak misi ini!

Kalau kamu berhasil menangkap Kiai Haji Muklis.

Dakwaan terhadap kamu atas pembunuhan tuan Sunyoto.

Akan dihentikan oleh Dewan Pengawas.

Woi bocah!!!

Ada 37 orang meninggal, 15 orang luka-luka itu yang kalian maksud dengan Jihad?

Lu tahu Laras di dalam Cafe itu, atau lu emang sengaja bunuh dia?

Jadi begini cara aparat negara bekerja?

Serang dulu baru bertanya!

Mungkin kamu bisa melakukan hal ini ditempat lain Lif, tapi tidak disini.

Gue kasih lu dua pilihan Mim.

Kalian menyerahkan pimpinan kalian atau kalian semuanya mau mati di sini?

Ini rumah saya, Lif.

Saya akan mempertahankannya walau harus mengorbankan nyawa saya.

Jadi ini yang lu maksud dengan mati Husnul Khotimah.

Berkorban demi menjaga rumah sendiri seakan kami penjahat yang jajah kalian!

- Lakukan apa yang sudah kamu... - Oh pastii Mim, pasti.

Demi Laras, demi Bima, demi semua orang yang udah lu bunuh!

Dan gue pastiin lu mati lebih tragis dari pada mereka.

Hidup dan matiku hanya milik Allah semata.

- Berhenti!!! - Kamu tidak tahu apa-apa, Lif.

Jangan mau dipermainkan mereka.

- Mereka? - Ini Kiai, Lif!

Dia yang menolong kamu waktu rumahmu terbakar.

Alif!

- Apa kabarmu, Nak? - Baik, Kiai.

Apa yang kalian lakukan disini.

Harkatnya kalian berdua ini kan bersaudara.

Kita sudah berhenti bersaudara.

Sejak kalian melakukan pengeboman dimana-mana!

- Lif! - Mim.

Ada surat perintah penangkapan?

Silahkan, kamu boleh menangkap saya!

Kiai?

Mim, ini surat perintah resmi dari negara kita harus mematuhi.

Rapatkan shaf kalian, Mim.

Shaf: Barisan kaum muslimin dalam sholat berjamaah.

Assalamualaikum.

Gak sampek 20 tahun, 232 tempat ibadah di rubah jadi gudang.

Pembela minoritas jual slogan kebebasan.

Begitu jadi mayoritas malah makin nginjek yang minoritas.

Siapapun yang ganggu kebebasan di stempel jadi penjahat.

Bukan berarti yang jahat hanya pemerintah.

Trus siapa penjahatnya?

Kiai.

Lam, gue juga gak pengen Kiai di penjara!

Kiai itu pasang badan.

Kalau dia gak gitu mungkin salah satu dari gue atau Mim sudah mati sekarang.

Berapa banyak yang lu ciduk, satu pondok gak sekalian lu bubarin itu pondok?

Lumayan mesjidnya bisa jadi gudang.

Lu ngapain segitu hinanya nilai aparat.

Lu tahu info apa yang paling kuat buat menyetujui penyergapan ke sana, hah?

- Apa? - Nih!!

Parfum Alatar.

- Tulisan gue. - Iya itu tulisan lu.

Yang lu spam kemana-mana.

Gue gak pernah nyangka, Lam!

Lu bakal provokasi sampah sama pondok depan semua media.

Lu terus-terusan belain Mim depan gue.

Sambil ngarahin moncong senjata gue ke kepala dia.

Yang kena siapa, Lam?

Kiai.

Udah 2 orang yang nuduh gue ngespam.

Tulisan gue masih konsep belum selesai, gak mungkin gue lepas lu dapet dari mana?

Dari kantor, Lam.

Udahlah, udah gak penting sekarang.

Gue udah gak tahu mana yang benar mana yang salah!

Gue udah buta sekarang.

Fakta gak sesederhana dunia kriminal!

Tampilan dunia ini bergerak 3 dimensi.

Lu harus lihat satu titik dari berbagai sudut pandang.

Udah waktunya lu lepas kacamata kuda lu.

Gue ketemu Laras kemaren.

- Omongan lu makin ngaco ya, Lam. - Gue nelpon lu untuk ngasih tahu ini.

Masih hidup, masih hidup banget.

Dia ngasih ini ke gue, gue gak tahu isinya apaan?

Gue cuma bisa buka dari kantor.

Data Sunyoto yang lu minta.

Satu saran buat lu.

Jauhi Laras, lu gue gak ada yang tahu siapa dia!

Kopral Bambang Budiono terbunuh di sebuah penggerebekan 30 tahun yang lalu.

Namun tuan Sunyoto baru muncul 10 tahun berikutnya sebagai pemasok senjata api.

Agen PSK kelas Menteri, pemasok budak belia dan bandar narkoba.

PSK: Pekerja Seks Komersial

Sama.

Gila rapi banget, ini mah kerjaan Hacker.

Enkripsi!

12 menit lalu.

- Ya. - Lif, video Lif!

- Lam, gue lagi nyetir nih. - Video Lif, lu harus lihat ini.

- File yang di kasih Laras ternyata... - Kata lu filenya yang enkripsi?

Tadinya yang enkripsi.

Udah ada yang mendekripsikan 12 menit sebelum aku buka file ini.

Apa?

Nih Hacker gak sopan banget keluar masuk server gue.

Nih pasti orang yang sama ngespam tulisan gue.

Riwayat penggunaan bilang gue orang pertama yang buka file ini, tapi di enkripsi.

Lam, gue gak ngerti maksud lu apa?

File yang dikasih Laras isinya, CCTV Candi Cafe pada saat peledakan.

- CCTV, bukannya server cafe ikut meledak? - Gue pikir juga begitu, lu lihat ini.

Yang ini luarnya, 1 menit sebelum peledakan di belakang Candi Cafe!

Laras.

Ngapain dia mengungkapkan dirinya sendiri, ngasih file ini ke gue!

Lam, lu dimana ini sekarang Lam?

Di kantor, gue terhubung sama server pribadi gue dirumah.

Lam, lu harus balik dari kantor sekarang.

Lu gak usah terhubung kemanapun pulang ke rumah perasaan gue makin gak ini.

Sebentar gue hampir ngekunci posisi si Hacker, gue harus nemuin dia...

Lam!!!

Allahu Akbar, Gilang!

Dis, Gendis?

Cuma kamu yang bisa ajarin aku supaya gak takut sama dunia.

Aku minta maaf, Aku minta maaf.

Ayah minta maaf, Ayah cuma mau kamu pinter, Nak.

Ayah gak ingin begini jadinya, cuma mau kamu pinter.

Ayah minta maaf, Ayah salah.

Ayah salah, Ayah minta maaf.

Ayah minta maaf.

Ya Allah, aku mau ikut.

Aku mau ikut, tolong...

Ambil nyawaku! Aku mau ikut.

Lam!

Ayah.

Alif, tolong Lif.

Tolong ke mobil sekarang.

Lam mau kemana kita, Lam?

- Pondok. - Gak ke UGD aja 24 jam.

UGD: Unit Gawat Darurat

Pondok!!

Masya Allah, kenapa Lam?

Ke ruang perawatan, Lam.

- Dok. - Ada apa ini?

- Siapa ini? - Saya ayahnya.

Sabar Lam.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Ini minumnya, ini sedotannya.

Assalamualaikum, ini minumnya, ini sedotannya.

Makasih.

Assalamualaikum om, ini minumnya, ini sedotannya.

Bim.

Lu gak pa-pa?

Harusnya gue dah mati, Lif.

Gue gak tahu lagi mana yang salah.

Mana yang bener, Lif.

ALIF LAM MIM

Insya Allah, adik sepupu saya meninggal sebagai Syahida.

Syahida: Wanita yang mati Syahid

Gimana Gilang?

Alhamdulillah, pelurunya sudah dikeluarkan.

Dokter Ali sudah memberikan ramuan buatan, Kiai.

Insya Allah, besok pulih.

Ini...

Ini semua yang diinginkan Gendis selagi kecil.

Harmoni, aliran dan mazhab yang berbeda berada dalam satu rumah.

Mazhab: Mengikuti sesuatu yang dipercayai.

Tapi tidak ada yang bertengkar, tidak ada yang merasa paling benar sendiri.

Mereka berkumpul disini karena gak ada ruang lagi diluar, gak punya pilihan.

Satu persatu tempat ibadah dihancurkan.

Pesantren ini selanjutnya, dari daftar panjang yang sudah ada.

Iya kan, Lif?

Apakah semua ini tidak cukup untuk membuat kita bersyukur?

Yang bertanggung jawab ngebangun semua ini siapa?

Kiai.

Sekarang dia di penjara karena tuduhan ngaco.

Kita harus diam dan bersyukur?

Yang nglakuin ini, masih diluar sana!

Dan mungkin akan melakukan hal ini juga terhadap orang lain.

Kita harus diam dan bersyukur?

Rama!

Kapten Rama yang nglakuin semua ini!

Ini selongsong peluru tajam punya dia.

Ke Gilang mungkin, Gendis organ tubuhnya hancur kena pukulan raga inti.

Lu yakin Rama bisa nglakuin hal itu?

Ya harus kita coba, Lam.

- Tahu dimana dia tinggal? - Trus kalian mau apa?

- Mau main hakim sendiri? - Iya!

- Mau diem aja disini! - Lam.

- Dendam hanya akan menghancurkan... - Ini bukan soal dendam.

Insya Allah, gue ikhlas kalau ini akhir dari perjuangan Gendis.

- Tapi bukan akhir dari perjuangan gue. - Tangkap dan serahkan pada yang berwajib.

Mim, Kapten Rama itu yang berwajib, gue disini juga yang berwajib.

Setelah semua ini masih percaya sama yang berwajib.

Islam bukan agama makar.

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk jadi pemberontak.

Dulu, seorang Dokter dan Botanis dipenjarakan sama mereka, lu masih mau diem Mim?

Botanis: Seorang ahli ilmu tumbuh-tumbuhan.

Kita sudah menyiapkan pengacara yang terbaik biar pengadilan yang memutuskan.

Dia gak mungkin sampai pengadilan, Mim!

Dibunuh pasti, polanya sama antara di penjara atau dalam perjalanan ke penjara.

Seperti Ulama-Ulama lainnya.

Kolonel Mason.

Dia mau ketemu sama gue besok.

Kalian keluar, tinggalkan kami berdua.

Kapten Nayla.

Sepenting itu ya jabatan Kapten di mata Papa.

Bisa panggil Nay aja gak!

Biar kayak ayah sama anak normal lainnya.

Kita ini memang tidak normal, kita ini orang-orang istimewa.

Ayah masih percaya hal itu, kau yakin?

Kapten.

Apa yang sudah kamu lakukan?

Apa kamu tidak tahu.

Kamu sudah membunuh satu keluarga.

Kenapa...

Kenapa kamu lakukan?

Aku ingin keluar, Yah.

Aku ingin keluar.

Tidak bisa, tidak ada yang bisa keluar.

Ini semua karena Alif kan?

Sebegitu parah rupanya virus yang merusak otak kamu?

Cinta, cinta itu virus yang mematikan.

- Kameranya masuk? - Masuk.

- Audio? - Aman langsung disimpen di server.

Kamu dapat alat-alat seperti ini dari mana?

Mainan jaman dulu.

Waktu wartawan masih punya kebebasan untuk memberitakan yang bener.

Sekarang hukumannya lebih berat dari pada pembunuhan.

- Assalamualaikum, Ustadz. - Waalaikumsallam.

Hei, hei...

Lu ya yang ngebom Candi Cafe waktu itu kan, ngaku lu sekarang?

- Astagfirullahaladzim. - Alif.

Sumpah demi Allah bukan saya.

Lepaskan.

Mim, mereka yang ada ditempat kejadian waktu itu.

Tas mereka sengaja ditinggal disana...

Bukan begitu ceritanya, kasih mereka kesempatan untuk menjelaskan.

Seperti yang sudah saya ceritakan sama Ustadz Mim waktu itu.

Calon pembeli hasil perkebunan yang meminta kita untuk datang ke Cafe itu.

Kita sendiri gak mau ke tempat itu tapi dia yang minta.

Astagfirullahaladzim.

Tadinya sekalian saya mau tawarin parfum Altar buatan pak Uta.

Tapi karena bapak ini meminta dengan baik kita pergi, ya sudah kita pergi.

- Betulkan Pak? - Betul Ustadz.

Tas saya sampai ketinggalan disana, isinya cuma kertas-kertas data hasil berkebun.

Dan contoh parfum buatan kite.

Kamu sudah denger sendiri kan, Lif.

Trus apa yang di maksudnya, cuma kebetukan mereka disana?

Gue sih gak pernah percaya sama yang namanya kebetulan.

Harusnya aparat negara juga gitu, mereka dijebak untuk kesana termasuk lu.

Lu pergi kesana sekarang, kita buktiin bareng-bareng.

Saya harus ke konferensi pers hari ini.

Kiai harus ada yang mengawal.

Seperti yang kalian bilang, Kiai harus tetap hidup sampai pengadilan.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Surga menanti kita semua, ayahmu, kakakmu, Insya Allah sudah menanti disana.

Mau kemana kita?

Kolonel menyuruh saya untuk menjemput dan mengantarkan anda.

Ke tempat favorit beliau makan siang.

Tidak jauh dari kantor.

Kenapa gak di kantor?

Kantor sedang di pakai untuk konferensi pers katanya.

Jadi Kolonel gak ikut konferensi pers?

Tidak Pak, yang pangkatnya Jenderal saja yang disuruh mendampingi.

Yang Kolonel katanya boleh istirahat, Pak.

Marwan?

- Ustadz, Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Kamu ngapain kesini?

Saya disuruh kesini sama Ustadz Samir, Ustadz.

Di suruh memantau keadaan disini dan sekalian nemenin Ustadz Mimbo katanya.

Ustadz Samir tidak bicara apa-apa sama saya.

Tadi bilangnya dadakan, Tadz.

Beliau cemas.

Permisi Ustadz, saya ke toilet dulu.

Mim.

Mundur! Mundur!

Lif.

Duduk.

Ayo, kita minum.

Ini teh putih sangat langka sangat banyak kasiatnya, ayo minum.

Kamu pasti sudah kenal dengan, Laras!

Dia adalah satu agen terbaik yang dimiliki bangsa ini.

- Nitip bentar. - Tapi di apain mas? mas, mas.

Saya beri waktu 30 menit untuk bertanya.

Pak Kiai, apa motif anda melakukan pemboman di Candi Cafe, Pak?

Saya tidak punya motif apa-apa, karena bukan saya yang melakukannya.

Atau menyuruh siapapun untuk melakukan pemboman itu.

Saya ini masih tersangka loh, belum terdakwa!

Kamu seperti sudah dicuci otak.

Sepertinya kamu sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang benar mana yang salah.

Anda yang ngebom Candi Cafe?

Ini baru Alif yang saya kenal, ke intinya langsung.

Bukan Lif, bukan saya yang melakukannya itu dilakukan oleh profesional.

Tapi memang saya yang memerintahkan pengeboman itu.

Kenapa?

Kenapa tidak.

Jadi itu alasan anda membunuh puluhan orang gak bersalah disana.

Tidak bersalah?

Ada 12 orang tikus politik yang sedang menyusun strategi kudeta.

Ada 15 orang mahasiswa penganut paham komunis.

Dan ada 10 orang anak koruptor pemilik bisnis ilegal.

Mestinya disana juga ada 3 orang teroris yang mati.

Kalau mereka tidak kamu usir.

Mereka itu santri yang cuma mau jual hasil perkebunan dan parfum buatan mereka.

Mereka itu meresahkan masyarakat.

Mereka orang islam kan?

Pakai jubah, gamis, sorban, ya itu teroris!

Pak Kiai, tapi semenjak anda ditangkap.

Banyak kaum agamawan yang melakukan aksi gerak buka jubah.

Seperti yang anda lakukan sekarang, tidak memakai jubah atau gamis.

Apakah ini instruksi dari anda untuk membuat mereka tak ketahuan.

Sehingga membuat aparat lebih sulit untuk mendeteksi gerak-gerik para santri?

Saya tidak pernah memberikan instruksi apapun agar mereka memakai pakaian apapun.

Saya dari dulu pakaian saya memang seperti ini.

Tapi Pak, kenapa banyak dari murid-murid bapak justru memakai jubah atau gamis?

Itu adalah hak dan kemerdekaan mereka untuk memilih.

Jadi selama ini kita penjahatnya, dibawah pimpinan seorang Kolonel Mason?

Anda yang merancang semua ini?

Saya cuma menjalankan perintah, ada yang memerintah saya.

Siapapun yang menyuruh anda, segitu bencinya mereka sama agama.

Untuk pertanyaanmu yang satu ini.

Barang kali saya bisa di bantu untuk langsung saja menjawabnya.

Maksudnya?

Alif.

Naif sekali anak didik kamu yang satu ini!

Jadi anda atasannya dia?

Atasan bawahan itu, semua tergantung bagaimana sudut pandangmu, Lif.

Yang pasti kita semua bersaudara.

Persaudaraan.

Saya suka dengan, oh maaf.

Kami suka dengan kinerja kamu, kepribadian kamu luar biasa.

Tapi sayang ada satu cacat kamu yang susah untuk dihilangkan.

Oh ya?

Kamu masih percaya tuhan Lif, itu yang meruntuhkan segalanya.

Kalian belum jawab pertanyaan saya?

Saya tidak benci dengan agama Lif, kalau ingin musnahkan kami bisa hancurkan sejak dulu.

Justru kami mendukung kebangkitan semua agama beserta semua militannya.

Bikin sekte disini militan disana, kami dukung mereka agar berkembang lebih besar.

Itu sejak ratusan tahun yang lalu, ini mainan kami.

Kita butuh musuh, Lif.

Kita butuh perang, kita butuh kekacauan, kita butuh semua fanatik ini untuk apa?

Keseimbangan.

Untuk menjaga kestabilan di dunia ini, untuk menciptakan perdamaian.

Agar semua orang menjunjung tinggi nilai kedamaian.

Agar mereka mensyukuri apa yang mereka miliki.

Ini tugas kami yang seharusnya juga jadi tugas kamu.

Seperti yang kalian tugaskan ke Kopral Bambang, hah!

Atau haruskah kusebut dengan nama tuan Sunyoto?

Tepat sekali.

Dia agen yang sudah lepas kendali, sudah tidak bisa di kendalikan lagi.

Jadi harus di binasakan.

Pesanan Lif, kita semua ini hanya pesanan.

Dan Kiai Muklis adalah contoh pesanan itu.

Ajaran-ajarannya sudah keluar dari garis yang kami buat.

Karna agama seharusnya tidak menerima perbedaan.

Agama seharusnya mengajarkan kebencian.

Dan mereka tidak melakukan itu.

Mereka tak menciptakan kekacauan justru menciptakan perdamaian, mereka tidak seharusnya melakukan hal itu.

Kita yang seharusnya memberikan kedamaian bukan mereka.

Itu terlalu berbahaya, Lif.

Dia bisa merusak keseimbangan yang sudah kita bangun selama ini.

Dan saya akan melakukan apapun demi terjaganya keseimbangan.

Demi terciptanya pemerintahan tertinggi di muka bumi ini.

Demi kesempurnaan peradaban manusia demi kebahagiaan seluruh rakyat.

Demi terciptanya surga mereka di muka bumi ini.

Bukan surga palsu yang ada di awang-awang imajinasi kalian itu.

Itu surga palsu yang di dongengkan ke anak kecil.

Pasti yang ada di otak kamu sekarang.

Kami adalah komplotan iblis yang membuat perang dan kekacauan.

Membunuh orang semau kami.

Tapi, coba tebak...

Iblis adalah makhluk yang paling dekat dengan tuhan.

Yang paling taat atas fungsi dan perintah tuhan.

Jadi kami melakukan kejahatan yang memang diperlukan.

Tempat mana lagi yang mau kalian ledakan?

Hei, Lam!

Keluarga mana lagi yang mau kalian bantai?

Assalamualaikum, Lam.

Apa kabar saudaraku?

Kami cuma ingin membuka matamu agar melihat kebenaran.

Kebenaran apa?

Bahwa negara ini sudah makin kacau.

Bahwa negara ini harus di hancurkan, Lam.

Demi Allah, demi syariat islam kita harus berjuang Lam.

Lu siapa, orang yang menyusup ke aparat atau agen ganda konyol sekali.

Lam, hei Lam dengar-dengar.

Kami tidak seperti yang kau duga Lam, kau lihat sendiri kan.

Bagaimana negara ini menghancurkan keluargamu, Lam?

Ayolah Lam, ikutlah kami.

Bantulah kami, bantulah agamamu Lam.

Satu-satunya cara gue bantu agama gue, dengan matahin leher lu!

Kamu suami yang baik telah mengajari istrimu bela diri.

Jadi lu yang bunuh Gendis?

Kami mengendalikan segalanya.

Tidak, kalian kira kalian mengendalikan segalanya.

Tapi, kalian tidak bisa mengendalikanku!

Ya aku bisa, Lif.

Aku mengendalikan kehidupanmu.

Kenapa pusing?

Susah nafas?

Racunnya ada di cangkir itu, bukan di air tehnya.

Apa kau suka kembang api?

Karena dalam waktu 2 menit lagi, akan ada ledakan yang...

Bagaimana istilahnya, ya?

Luar biasa!!

Siapa pemimpin lu?

Apa rencana kalian selanjutnya?

- Kluarin! - Kamu sudah terlambat, Lam!

- Kluarin! - Kamu sudah kalah.

Kluarin!

Mim!

Jadi bapak tidak menutup kemungkinan.

Kalau pelaku bom tersebut bisa jadi adalah murid-murid bapak.

- Yang melakukan... - Allahu Akbar.

Siapa yang kirim kamu ke sini?

Dari mana kamu dapat...

Mim.

Hei, kawatir dengan keadaan kamu aja dulu!

Tinggal 12 menit tuh, tim pembersih sudah bersiap.

Kamu periksa keadaan di kantor bersihkan sisa-sisanya termasuk 7 orang Jenderal itu.

Laksanakan.

Jenderal?

Sudah waktunya saya naik pangkat!

Biarlah Jenderal sombong yang tidak mau bergabung dengan kita itu.

Mati dengan segudang tanda jasa, revolusi butuh pahlawan.

- Kejam ya. - Tunggu!

Apakah saya termasuk target didalam Candi Cafe?

Kamu sudah tidak terkendali.

Kematian kamu bisa membersihkan virus dari kepala agen ini.

Nama aslinya adalah Nayla.

Dan dia adalah anak saya.

Seharusnya dia yang melakukan pengeboman di Candi Cafe itu.

Seharusnya, tapi cinta membutakan segalanya.

Karena itulah dia harus mati!

Hei, apa maksudmu?

Sudah tiga kali dia melakukan kesalahan, Kolonel.

Kesalahan pertama.

Mengacuhkan misi pengeboman di Candi Cafe.

Kesalahan Kedua.

Membocorkan data-data rahasia.

Ini apa?

Tolong lakukan hal yang benar.

Lalu, kesalahan ketiga.

Dia sudah mengetahui, kalau kita akan meracuni Alif.

Dan dia sudah siap dengan penawar racun ini.

Maafkan aku, Kolonel.

Aku tahu dia putrimu tapi dia harus dihabisi.

Hei, apa yang kalian lakukan?

Tidak, Laras.

Apa kau keberatan, Yah?

- Tidak. - Bagus.

Laras.

Baiklah.

Karena akar permasalahannya adalah cinta...

Maka biarkanlah cinta yang jadi jawabannya.

Kalian yang menentukan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati!

Baiklah mari kita pergi, Kolonel.

Oh ya, Assalamualaikum.

Ayo pergi, Kolonel.

Mas Herlam kemana sih?

Pemisi om, Permisi!

Hancurkan semua koneksi yang berasal dari pondok itu!

Bunuh siapapun yang menghalangi, paham kamu.

Kiai.

Kiai.

Kita harus segera pergi dari sini Kiai, di sini sudah tidak aman.

Kamu ngomong apa, Mim!

Walaupun saya tidak bersalah.

Saya tidak akan pernah mau dibebaskan dari sini dengan cara-cara diluar hukum.

Karena kotoran tidak bisa disucikan dengan kotoran.

Siapa yang meledakan bom ini?

Marwan, Kiai.

Salah satu pengungsi.

Masya Allah.

Kita lengah Mim, shaf kurang dirapatkan.

Astagfirullahaladzim.

Hei.

Apa yang kamu lakukan?

Guru!

Mim, kenapa akhirnya kamu milih jadi teroris?

Saya bukan teroris.

Kenapa guru bunuh mereka semua?

Ini tugas saya selama ini Mim, menjaga perdamaian dunia.

Anda teroris sebenarnya!

Maafkan saya Mim, saya tidak punya banyak waktu.

Kenapa dari 12 tahun yang lalu, kenapa dengan nama Laras?

Kolonel minta aku untuk jaga kamu.

Bagi dia, kamu aset yang sangat berharga.

Terus yang dibilang tadi benar?

Apa kamu benar-benar mencintaiku?

Itu sebuah kesalahan, Lif.

Seharusnya aku tidak sampai jatuh cinta padamu.

Ini seharusnya gak pernah terjadi.

Atau justru ini yang seharusnya terjadi.

Lif, Alif.

Cepat ambil obat penawar ini, Lif!

Aku gak mungkin mau lihat kamu mati lagi, Laras.

Gak mungkin.

Berjuang.

Buatlah perubahan untuk masa depan yang lebih baik.

Jangan pernah putus asa.

Mim!

Sekarang saya tahu kenapa saya harus belajar bela diri.

Nah ini baru peluru bener nih.

- Bang, bang... - Berisik lu.

Wow masih hidup nih bocah!

Gue matiin lu.

Terusin.

Laras.

Bentar gue cari penawarnya ya!

Tidak!

Kenapa kau lakukan itu?

Lif.

- Berjuanglah. - Tidak Laras.

Jangan pernah putus asa.

Tidak.

Maafkan aku.

Berhentilah meminta maaf, Laras. Tolong hentikan, Laras.

Tolong, tolong.

Lif.

Maukah kau memaafkanku...

Untuk...

Untuk semua yang pernah aku lakukan?

Kiai!

Mim, cukup kita bukan pembunuh.

MERETAS TAMPILAN KOTA

SASARAN TERKUNCI

MERETAS WILAYAH LENGKAP... DISTRIK - 7

Ya.

Anda yang ngebom Candi Cafe?

Ini baru Alif yang saya kenal, ke intinya langsung.

Bukan saya yang melakukannya, tapi oleh profesional.

Tapi ya, memang saya yang memerintahkan pengeboman itu.

Kita butuh perang, kita butuh kekacauan, kita butuh semua fanatik ini untuk apa?

Keseimbangan.

Walaupun saya tidak bersalah.

Saya tidak akan pernah mau dibebaskan dari sini dengan cara-cara diluar hukum.

Tapi ya, memang saya yang memerintahkan pengeboman itu.

Hei, apa-apaan ini?

Sepertinya tugasmu sudah selesai, Kolonel.

Kau tahu apa yang harus kau lakukan.

Sebuah kehormatan bisa mati dengan pistol itu, kau tahu itu.

Jadi lakukanlah demi tujuan yang lebih mulia.

Lakukanlah demi persaudaraan.

Selamat tinggal.

Hei, tunggu!

Bagus, Nak.

Kolonel Mason sudah mati, Pak.

Kedok kita di Distrik 9 sudah terbongkar.

Baiklah.

Mari bermain, Prajurit.

Kalau kamu adalah kejahatan yang dibutuhkan...

Maka aku adalah algojo yang dibutuhkan.

Islam muncul dalam keadaan asing, dan dia akan kembali dalam keadaan asing.

Maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.

Letnan Alif, kamu pikir kamu sudah menang!

Mungkin kamu menang kali ini.

Tapi...

Perang baru saja dimulai.

Akan kucari kamu.

Lalu, akan kubuat kau membayar semua perbuatanmu.

Mari kita bermain.

3

Terjemahan oleh: ~ Ojax Arek Nganjuk ~

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.