Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
- Jangan mahal-mahal. - Ya.
- Kau punya piama-kurta? - Ya. Kau mau yang bagaimana?
Jangan terlalu resmi, atau terlalu biasa.
Coba lihat yang sederhana.
Yang ini berapa?
750 rupee.
Coba lihat yang putih.
Yang paling atas.
Bagaimana yang ini?
Bagus.
Coba periksa apa piamanya cocok.
Kau perlu duduk nyaman di panggung.
Terima kasih diingatkan, Nek. Aku belum pernah beli baju.
Boleh kucoba dan duduk?
Tidak bisa, Tuan. Nanti kotor.
Kucoba syalnya juga?
Syal? Kenapa hanya syal?
Sekalian pamerkan cincin berlian dan kalung emas di panggung.
Pikirmu para juri akan memberimu poin untuk bajumu?
Ayah selalu berkata, "Begitu di panggung,
semuanya bagian dari pertunjukan."
Peserta berikutnya adalah Sharad Nerulkar.
Kupersembahkan Raag Bageshree,
gubahan tradisional bertempo cepat.
Kau sibuk?
Apa-apaan, Nek? Tidak lihat?
Ibumu menelepon. Bicara dengannya.
Nanti kutelepon.
Sudah berhari-hari kau bilang "nanti".
Jangan ganggu aku. Kubilang akan kutelepon.
Dia bilang kau belum menjawab tiga hari.
Ponselku rusak.
Viju sudah sakit berhari-hari.
Aku bisa apa dari sini? Dia harus menghadapinya.
Jenguklah dia.
Nek, kompetisiku dua hari lagi.
Biarkan aku berlatih. Bilang akan kutelepon.
Bilang sendiri. Jangan libatkan aku.
Aku terus terjebak di antara kalian.
Merepotkan saja.
Itu alasan untuk menangis?
Orang suci dan pertapa mendapat musik ini
setelah pengejaran spiritual ribuan tahun.
Tidak semudah itu dipelajari.
Sepuluh kehidupan pun tak cukup.
Teks suci ini tak hanya mencatatkan,
"Raag ini memakai Pancham,"
atau, "Raag itu melewatkan Dhaivat."
Melalui musik ini,
kita ditunjukkan jalan menuju Ilahi.
Ada alasan kenapa musik klasik India
dianggap Pencarian Abadi.
Untuk memulai pencarian itu,
kau harus menyerah dan berkorban.
Jika mau mencari uang,
berkeluarga,
lalu tampilkan lagu cinta atau lagu film.
Jangan tempuh jalan ini.
Jika mau menempuh jalan ini,
belajarlah untuk kesepian dan kelaparan.
Ini.
Kau butuh yang lain?
Tidak.
Kudengar Sumit Khade dari Nagpur juga ikut serta.
Pelatihannya bagus.
Kenapa kau katakan di depannya?
Aku bertemu Rishi dan Kruti di luar.
Mereka licik sekali.
Mereka kutanya akan menampilkan Raag apa.
Mereka tak menjawab. Malah menghindari topik itu.
- Hentikan. - Sharad Nerulkar?
Sharad?
- Semoga berhasil. - Ya.
Aku menampilkan Raag Bageshree.
Gubahan tradisional bertempo cepat.
Terima kasih.
Hebat! Penampilan bagus.
Peserta berikutnya Nitin Avasthe.
Tadi bagus.
- Jujur? - Ya, bagus.
Kumandangnya berlebihan? Aku tak tahu dari panggung.
Tidak, bagus.
Beri sambutan.
Momen yang sangat ditunggu
akhirnya tiba.
Para juri telah memutuskan.
Untuk menyerahkan Penghargaan Gupte Builders
bagi Penampil Muda 2006,
aku mengundang Tn. Dattatreya Kirloskar ke panggung.
Tepuk tangan.
Beliau putra Maestro Balkrishna Kirloskar.
Beliau agak terlambat, tetapi datang jauh-jauh dari Mulund untuk bersama kita.
Kuminta Tn. Dattatreya menyerahkan piala kepada pemenang.
Hadiah ketiga jatuh kepada Namita Satam.
Hadiah kedua jatuh kepada Sumit Khade.
Piala terpenting hari ini,
Pemenang Penampil Muda 2006 adalah…
Chinmayee Wadhawkar!
Selamat kepada para pemenang Gupte Builders.
Beri tepuk tangan.
Saat menarik napas, buat pikiran positif.
Saat membuang napas,
lepaskan pikiran negatif.
Kini kita bermeditasi.
Jangan hentikan pikiran apa pun.
Kini kita mulai latihan pernapasannya.
Pikiran yang gelisah
tak akan bisa menyanyikan musik Khayal
dengan mendalam dan autentik.
Untuk memuja setiap nada,
setiap microtone,
pikiranmu harus murni dan tanpa noda.
Apa itu Khayal?
Itu kondisi pikiran si penyanyi
pada saat tertentu itu.
Dia menampilkan kondisi itu melalui media Raag.
Saat menyanyi, kau sendiri tak tahu
aspek baru apa
dari Raag yang akan kau temukan.
Jika ingin Kebenaran Raag spontan muncul,
kau harus mengosongkan pikiran dari kepalsuan,
keserakahan, dan pikiran kotor.
Tidak semua orang punya disiplin tetap
dan keyakinan untuk ini…
Masih saja?
Sudah cukup soal saga Maai ini.
Saga apa? Ini juga kerja, bukan?
Ini rekaman satu jam. Jelas makan waktu.
Lakukan nanti saja.
Kau sudah selesaikan Konferensi Sadarang?
Ya, kaset 1972 dan 1974 selesai.
Kaset 1973 tak kutemukan.
Kenapa bisa?
Ada di sini. Aku pernah lihat.
Aku belum lihat.
Yang itu berisi Basant-Bahar dari Rambhau Arolkar.
Dia nyanyikan dengan baik.
Dia ahlinya memadukan Raag.
Cari kaset itu.
Ada pesanan membuat set kotak CD, 1972-1975.
Berapa banyak?
Buat yang utamanya. Lalu kita buat 30-40 set.
PIDATO-PIDATO MAAI
Kau punya CD Shankar Bhatt?
Tidak, Tuan.
Kalau Sultan Saheb?
Tidak, habis.
Lalu apa saranmu?
Sebenarnya kami khusus menjual album langka dan kurang dikenal.
Semua CD ini sudah diubah dari kaset lama dan LP.
Aku tak pernah dengar nama-nama ini.
Ya, Tuan, tetapi sebagus yang terkenal.
Misalnya, ini Ustad Nissar Aslam Shaikh
dari tradisi Agra.
Gurunya sama dengan Sultan Saheb.
Namun, dia kurang diakui.
- Berapa harganya? - 150 rupee.
Tidak, terima kasih.
Kami sedang ada penawaran,
set 12 CD berisi rekaman All India Radio.
Harga biasanya 1.500 rupee. Kami diskon menjadi 1.000 rupee.
Tidak, terima kasih.
Kau punya musik devosi?
Tidak ada, ya?
Tidak, hanya musik klasik.
Aku akan kembali saat interval.
Semua mencari musik devosi.
Mau masuk dan mendengarkan?
Kau gila?
Telingamu bisa berdarah.
Ini omong kosong!
Bisa serendah apa untuk penonton sombong ini?
Dia memainkan apa tadi?
Para penonton bertepuk tangan.
Semua jenis "keanggotaan tahunan" ini…
Mereka bertepuk tangan untuk apa pun.
Bahkan para senimannya tak punya sudut pandang musik.
Bagai prasmanan beragam…
Raag serius 20 menit, ringan 15 menit, lagu cinta, lagu devosi.
Beres.
Namun, para sponsor suka.
Masa bodoh para sponsor.
Mereka ajukan 4-5 nama terkenal sama.
Semua pertunjukan bagi mereka, semua terdengar sama.
Apa pun Raag-nya, struktur dan trik yang sama.
Semua bisa ditebak.
Minta nasi.
Namun, aku tak paham.
Shakir Bhai dahulu bermain indah.
Kudengar rekamannya dari tahun 1980-an.
Begitu anggun dan nadanya jernih.
Kenapa bisa sangat berubah?
Demi uang, apa lagi?
Makanya Guruji, Maai,
tak pernah ikut keributan konser ini.
Apa?
Ada apa?
Aku tidak tahu.
Apa maksudmu?
Aku tak bisa mendapat frase baru.
Berulang-ulang, ya?
Kenapa begitu?
Aku tidak tahu.
Kau berlatih, bukan?
Ya.
Lalu kenapa macet?
Coba lagi.
Aku hanya mengulang-ulang.
Kau menyanyi.
Bagus.
Bagus sekali.
Dengar.
Biarkan dia pergi.
Teman-temannya memanggil.
Kau mau pergi?
Tentu saja.
Sudah jelas. Bahkan di hari Minggu kau memaksanya belajar musik.
Apa lagi?
Apa salahnya?
Ustad Saheb bahkan menghajar anaknya sampai benar.
- Sudah kami dengar seratus kali. - Itu benar.
Dia ikat rambut mereka ke paku di dinding.
Kita sedang bergembira, bukan?
Akan kuajari gubahan tradisional dalam Raag sama. Tahan notnya.
Bagus.
Shaardya.
Ayo. Semua menunggu.
Hei, masuklah.
Tidak usah.
Ayolah. Duduk.
Aku mengajarinya yang disebut bandish.
Paman, aku tak paham ini.
Boleh Shaardya ikut?
Bandish gubahan yang sangat berharga.
Saat dua pemusik menikah,
gubahan ini dijadikan mahar.
Dahulu sama berharga dengan nyawa.
Kenapa menyiksa anak-anak ini?
Biarkan mereka bermain.
Terbanglah ke rumahmu
Terbanglah ke rumahmu…
Lima, empat, tiga, dua, satu.
Kembali di pertunjukan kami Gharana.
Sebelum jeda,
Tn. Mukund menceritakan sejarah sekolah musik Alwar.
Tn. Mukund bukan hanya penyanyi yang terlatih dalam gaya Alwar,
beliau juga menulis buku tentang sejarah musiknya,
berjudul Api Abadi.
Tn. Mukund, kita beralih ke topik lain.
Di bukumu, kau menulis tentang musik yang berubah seiring waktu
dan betapa telah kehilangan esensinya.
Benar.
Banyak orang tak suka aku menulis ini.
Aku dikritik karenanya.
Namun, jika orang mau mendengarkan musik ini, di mana bisa mendapatnya?
Tidak akan bisa.
Hampir mustahil mendapat musik jenis itu sekarang,
kemurnian ilahi itu.
Guruku, Maestro Vinayak Pradhan, selalu berkata
jika mau mengalami musik Ustad,
hanya satu orang, Maestra Sindhubai Jadhav.
Sebutan sayangnya "Maai".
Guru kami berkata musiknya
bahkan tak mendekati kegeniusannya.
Kenapa dia begitu istimewa?
Sering kutanyakan kepada Guruji.
Katanya mustahil menggambarkan musiknya dalam kata-kata.
- Apa tidak ada rekaman? - Tidak.
Maai tak mengizinkan siapa pun merekam musiknya.
Sangat sedikit fotonya, apalagi wawancara.
Dia berbeda. Dia pertapa.
Kau manis semasa kecil.
Sangat manis.
Kalau sekarang?
Kenapa baru tunjukkan sekarang?
Aku sering mendengar soal ayahmu, tetapi baru kali ini kulihat.
Sebelumnya dalam VHS.
Baru kupindahkan kemarin.
Aku mau mendengar ayahmu menyanyi.
Kisahnya lebih menarik.
Nyanyiannya lumayan.
- Boleh kutanya sesuatu? - Tentu.
Tejas bilang ayahmu punya kaset lama Maai.
Kaset apa?
Ceramahnya kepada para murid senior di Belgaum.
Bagaimana bisa ada kaset?
Tampaknya Karim Saheb diam-diam merekamnya.
Ya, Ayah pernah bilang.
Namun, kaset itu tak pernah kulihat.
Tak penting. Pernah ceritakan kepada ibumu?
Ceritakanlah. Dia akan senang.
Kau tahu dia sentimental soal Ayah?
Ini akan memperburuknya.
Aku pulang. Sudah malam.
MAAF
PESAN TERKIRIM
Jangan hentikan aliran pikiranmu.
Amati saja.
Biarlah emosimu yang terpendam
naik ke permukaan.
Baik, buruk, semuanya.
Semuanya ada. Amati saja.
Seperti pikiranmu, badanmu mencoba berbicara denganmu.
Cobalah dengarkan.
Ada yang mau kukatakan.
Namun, aku tak ingat.
Kalau tagihan listrik, akan kubayar hari ini.
Bukan tagihan.
Hal lain.
Apa soal obatmu?
Bukan obat juga.
Sudahlah. Aku tak ingat.
Kau bicara dengan ibumu?
Aku bicara dengannya kemarin.
Apa katanya?
Bahwa semua baik-baik saja.
Aku tak paham dia.
Dia bilang satu hal kepadamu, hal lain kepadaku,
dan punya pemikiran berbeda.
Apa yang terjadi sekarang?
Dia menangis di telepon kemarin.
Katanya aku harus bicara denganmu.
Soal apa?
Soal mencari kerja.
Namun, aku bekerja dengan Kishore.
Kubilang juga begitu.
Katanya, "Itu bukan pekerjaan sungguhan."
"Kishore membayar murah," dan seterusnya.
Dia atau Nenek yang bilang ini?
Untuk apa kubilang?
Dari mana dia tahu berapa yang kudapat?
Aku belum beri tahu dia.
Namun, dia tahu kita selalu kekurangan uang.
Sewa rumah itu, biaya Viju…
Berapa banyak bisa dia urus sendiri?
Jangan sembunyi di balik Ibu.
Jika tak mampu membiayaiku, bilang saja.
Aku akan segera pergi.
Kenapa bicaramu begini?
Kami hanya memikirkan masa depanmu.
Nek, aku bisa mengejar musikku, atau mencari kerja.
Tidak bisa keduanya.
Kenapa tidak?
Semua temanmu punya pekerjaan.
Tejas bekerja, Sneha bekerja.
Namun, aku tak mau.
Aku akan pergi kalau Nenek mau.
Tak boleh bersikap begitu.
Kau keras kepala seperti ayahmu.
Lalu dia menderita.
Jangan bandingkan aku dengan Ayah.
Jika gagal, aku tak akan menyalahkan dunia.
Entah harus bilang apa pada anak ini.
Guruji, kita mulai?
Baik, kita siap memulai.
Aku tahu banyak dari kalian kemari karena artikelku minggu lalu.
Aku tak melebihkan saat bilang pria ini genius tanpa tanda jasa.
Permata tersembunyi Mumbai.
Guruji, terima kasih mewakili kami semua malam ini
sudah setuju tampil bagi kami.
Aku akan berhenti bicara dan biar Guruji membuat keajaibannya.
Apa pun kata Reena dalam bahasa Inggris…
aku tak paham hampir semuanya.
Namun, akan kucoba menyanyikan sesuatu yang layak bagi kalian.
Tidak, kau tak mendengarkan.
Menyanyi dengan leher terbuka.
Bangun.
Tensinya rendah, itu saja.
Serendah apa?
60. Sebelumnya 80.
Ada keluhan lain?
Punggungku sakit, di bagian bawah.
Pipis, tinjanya? Semua normal?
Ya, semua bagus. Hanya sakit punggung.
Kalau batuknya?
Benar.
Terkadang malam hari aku batuk-batuk.
Begitu mulai, tak berhenti.
Kau kedinginan? Atau merasa demam?
Tidak, hanya batuk.
Baik.
Minum obat ini
dan datang lagi bulan depan.
Ya.
Aku meresepkan antinyeri untuk punggungmu.
Hanya diminum jika sakit sekali, atau tidak usah.
Banyak minum air.
- Kau berolahraga? - Tidak.
Ajak dia jalan-jalan, minimal dua, tiga kali seminggu.
Ya, Dokter.
Berapa biayanya?
Termasuk yang lalu, 450 rupee.
Boleh kubayar minggu depan?
- Boleh. - Tidak, aku punya.
- Boleh nanti saja. - Tak masalah.
Ada apa?
Tidak.
Kau kesal?
Tidak. Jaga saja kesehatanmu.
Bukan itu maksudku.
Maksudku soal malam itu.
Memangnya kenapa?
Apa kau kesal?
Tidak, aku marah kepada diriku saja.
Marah kenapa?
Suaramu sedang tak bagus, lalu apa?
- Ada yang lakukan sesuatu kepadamu? - Tidak.
Kenapa begitu gelisah?
Kau mau buru-buru ke mana?
Ini usia untuk berlatih dan kau seharusnya begitu.
Aku hanya berlatih,
tetapi ini terus terjadi.
Lalu aku marah sendiri.
Benarkah? Kau sudah marah?
Berapa usiamu?
24 tahun.
Hingga usia 40 tahun, hanya pikirkan soal berlatih.
Kami tak boleh bicara di depan Maai.
Kami terus menunduk dan menyanyi.
Kau mau semuanya buru-buru?
Tidak.
Apa Kishore ceritakan soal konser Hari Guru?
Ya, Tejas dan Sneha tampil, bukan?
Kau tidak?
Kishore tak ceritakan.
- Tentu kau juga akan menyanyi. - Baik.
- Mulailah bersiap-siap. - Ya.
Gila, dingin sekali.
Kita akan menggigil besok pagi.
Ini cuaca tepat
untuk perkedel kentang panas dan teh di Ramdas.
Sebenarnya dia jauh-jauh hanya untuk perkedel Ramdas itu.
Dia bukan tertarik kepada konsernya.
Tentu saja.
Aku sering mendengar sang Maestro.
Perkedel itu kegembiraannya.
Jipang di sana juga enak, dengan kacang goreng.
Jadi, aku yang bodoh.
Kukira kita bepergian malam-malam
untuk mendengarkan Maestro,
tetapi kalian malah mau makan.
Dengan Maestro, jadinya 50-50.
Jika dia bagus, dia sangat bagus.
Jika dia buruk, tak tertahankan.
Jadinya 50-50 karena dia genius.
Setiap penampilannya, dia coba hal baru, selalu bereksperimen.
Jika berhasil, kau mujur.
Ya, makanya kau harus dengarkan sepuluh kali.
Hanya empat kali yang sepadan.
Kurasa dia akan bermain bagus hari ini.
Di sana indah, di tengah alam.
Alam tak ada kaitannya.
Dia butuh rum.
Jika itu diatur, dia akan bermain bagus.
Ayolah. Rum saat fajar?
Tak penting siang atau malam,
jika sudah minum dua gelas,
tangannya mulai bermain.
Ayah, dia akan bermain Raag apa?
Kau belum tidur?
Tidurlah lagi.
Kau bisa tertidur saat konser.
Katakan, mana yang Raag pagi?
- Todi… - Dan?
- Bhairav… - Dan?
Jika bisa sebut dua Raag lagi,
besok pagi kau kuberi cokelat.
Lalit?
Bagus! Satu lagi.
- Marwa? - Marwa itu Raag pagi?
Bukan.
Aku tak tahu lagi.
Kau sebut Bhairav. Yang mirip?
Ahir Bhairav.
Benar.
Jangan lupa dapatkan cokelatnya.
Kini tidurlah.
Kau membangunkanku.
Ya. Tidurlah.
Ada cerita lain tentang Maestro dan Lalit.
Shubho dari Kolkata yang ceritakan.
Suatu saat dia mendapat tempat pukul 05.00 di Dover Lane.
Dia umumkan akan memainkan Lalit.
Ada penonton berkata,
"Kau mainkan minggu lalu di Delhi.
Mainkan yang lain."
Jawabnya,
"Bukan hanya minggu lalu, aku memainkan Lalit dua bulan terakhir.
Raag itu kesal denganku.
Aku berusaha keras merayunya kembali."
Konon dia memainkan Lalit yang luar biasa hari itu,
hingga seluruh penontonnya takjub.
Wah.
Dia sinting.
Ada apa? Kau baik-baik saja?
Ya.
Minumlah air hangat.
- Tunggu di luar, akan kususul. - Ya.
Minum obat batuknya.
Aku tak mau.
Kau tak pakai kurta?
Akan kupakai di sana.
- Nanti kusut. - Ayo.
Minta restumu.
Kenapa di sini? Masih ada waktu.
Aku naik motor. Nenek datang nanti.
Aku siap berangkat.
Aku butuh ketenangan di jalan.
Aku tak akan bicara.
Datanglah sendiri.
Kurta ini?
Maaf.
- Mau kubawakan? - Tidak.
Tunggu, kuambilkan yoghurt manis.
Yoghurt sebelum menyanyi? Serius?
Gula saja untuk kemujuran.
Sampai bertemu di sana.
Jika kau mau belajar musikku,
maka lupakan penonton dan pikiran lainnya.
Aku tak menyanyi bagi penonton atau pelanggan.
Aku tak ingin memamerkan
berapa Raag kompleks yang kukuasai
atau banyaknya pelatihanku.
Aku menyanyi hanya bagi Guru
dan Tuhan.
Ada orang pernah bertanya,
"Maai, apa harusnya tak memilih Raag
tergantung kepada penontonnya?"
Kujawab, "Ada 200 orang di sini.
Dua ratus orang punya 200 pikiran.
Kau mau coba senangkan berapa orang?
Apa kau monyet sirkus?"
Ada banyak peniru
yang menampilkan beragam akrobat suara dalam nama musik klasik.
Untungnya, itu bukan pelatihan yang kudapat dari Guruji.
Dia akan selalu berkata,
"Begitu kau menutup mata dan menyuarakan nada pertama,
hanya Raag yang boleh masuk pikiranmu.
Lalu tidaklah penting, walau kau gagal hari itu…
karena setidaknya kau mencoba dengan tulus."
Salam.
Aku menyambut kalian semua dalam perayaan Hari Guru ini.
Ini hari yang baik
untuk merayakan tradisi kuno guru dan murid.
Maestro Vinayak Pradhan dari keturunan Alwar
telah melatih beberapa murid musik selama 40 tahun terakhir.
Hari ini, lima murid mudanya
akan menampilkan musik mereka.
Program dimulai dengan Sharad Nerulkar.
Dia ditemani tabla yang dimainkan Amar Moghe.
Harmonium dimainkan Tushar Modak.
Dengan izin Guruji, kita mulai.
Dia yang percaya pada Saraswati, Dewi Musik,
pasti akan diberkatinya.
Kau tak hanya berlatih musik,
tetapi juga ketahanan dan kegigihan.
Karena perjalanan ini panjang dan berat.
Aku melihat yang terbaik
menyerah di tengah jalan.
Akan ada seribu peristiwa untuk menyerah dan mengaku kalah.
Namun, jangan sampai.
Dia yang mengendalikan pikiran…
tak akan goyah dari jalannya, apa pun keadaannya.
Jangan langsung menatap ke lensa.
Kita buat yang kasual?
Seolah kau menikmatinya?
Atau hanya mau mimik serius?
Tidak, ayo lakukan.
Ya, pilihanmu akan lebih banyak.
Tentu. Aku harus apa?
Hadap kemari sedikit.
Jangan banyak-banyak. Kurangi. Ya.
Sempurna.
Lihat kemari dan tersenyum.
Tidak hanya tersenyum, sambil menyanyi.
Seolah kau menikmati menyanyi.
SHARAD NERULKAR - BIOGRAFI
Bagus! Bagus sekali. Siapa yang membuat?
Temanku.
Minta nomornya.
Kami juga mau membuat situs web.
Sebenarnya sudah punya,
tetapi belum diperbarui dua tahun.
Tentu, akan kuberi detailnya.
Saat lewat, kupikir perlu mampir.
Untung kau mampir. Datanglah sekali-sekali.
Aku mau mengundangmu langsung.
Sungguh? Untuk apa?
- Pertunjukanku di Kalyan hari Minggu. - Bagus!
Kupikir harus mengundangmu.
Aku akan datang. Kirimkan detailnya.
Kubawakan undangannya.
Senang jika kau datang.
Kami juga akan buat pertunjukan denganmu.
Terima kasih.
Sekarang orang datang mendengarkan pemusik baru.
Ya.
- Kami baru membuat "Kekuatan Wanita". - Begitu.
Banyak yang datang.
Begitu. Aku tak bisa hadir saat itu.
Shahana dan Gayatri tampil.
- Begitu. - Berlangsung lancar.
Kini kami mau membuat acara "Fajar Diwali".
- Kami ingin kau menyanyi. - Itu kehormatan bagiku.
Kau, Aditya, Shivani…
pertunjukan dengan dua atau tiga penampil muda.
Tentu.
Sulit mencari sponsor sekarang.
- Untuk nama tak dikenal. - Benar.
- Akan kukabari. - Baik.
Datanglah untuk programku.
Pasti.
Ada apa? Aku di kelas.
Apa yang terjadi?
Apakah buruk?
Ada apa?
Sendinya sangat sakit.
Begitu.
Guruji?
Kau merasa demam?
Tidak demam.
Baik.
Kau memberinya obat?
Ya, antinyeri.
Bagaimana itu bisa membantu?
- Kau pijat kakinya? - Tidak.
Lalu apa kerjamu selama ini?
Duduk saja?
Maaf, dada.
Pergilah, Kalian.
Tidak, kami bisa tunggu.
Kalau kau butuh diambilkan sesuatu.
Tidak usah. Pergilah.
- Guruji, mau berbaring? - Ya.
Apa sakit sekali?
Ayo ke dokter.
Dokter payah itu…
terus meresepkan obat dan mengenakan tarif mahal.
Itu tidak benar.
Dia selalu mengenakan kurang.
Bulan lalu dia meresepkan obat sampai 1.000 rupee.
Aku harus pinjam uang dari Mukund.
Akan kuganti.
Tolong jangan pinjam darinya.
Minta padaku saja.
Dia licik sekali.
Bilamana meminjamimu uang, dia meneleponku
dan bertanya apa Guruji bisa tampil.
Lalu apa katamu?
Aku bisa bilang apa?
Kubilang kau tak bisa dan jangan terima pertunjukan.
Aku mau lakukan.
Tidak perlu.
Kau menderita sesudahnya.
Ada kejadian lain kemarin di Jharkhand.
Dua orang tewas diduga karena mereka pencuri ternak.
Kau melihat ada pola
pada cara kematian atau pembunuhan ini mereka lakukan?
Atau semuanya berbeda-beda?
Fame India tiba di Kota Sukacita: Kolkata!
AUDISI
Ribuan orang muncul dengan harapan dan mimpi
demi mengejar Tiket Emas. Kita lihat siapa yang membuat juri terkesan.
Saat para juri mulai putus asa…
Tidak.
…masuklah gadis gugup dan pemalu.
- Hai. - Halo.
Siapa namamu?
Aku Shaswati Bose dari Jhargram.
Baik. Kau akan menyanyikan apa?
Aku ingin mencoba lagu Ustad Abdul Rashid Khan,
"Aaye Aaye Sajana Mere".
Semoga beruntung! Silakan mulai.
Baik, sudah cukup.
Shaswati, yang kau nyanyikan…
Apa itu?
Kenapa, Tuan? Tidak bagus?
Tidak bagus.
Itu sangat bagus! Luar biasa!
Setuju, suaramu fenomenal!
Sampai bertemu di Mumbai! Selamat!
Kemarilah!
- Terima kasih. - Sampai jumpa di Mumbai.
AUDISI - KOLKATA
Aku senang sekali.
Mimpi kita melihatnya menyanyi di acara ini
terwujud hari ini. Aku senang sekali.
Keraskan suaranya.
Tambah tanpura di layar.
TERIMA KASIH ATAS KESEMPATAN INI.
MERASA BERTERIMA KASIH DAN TERSANJUNG.
TERIMA KASIH MANOJ RANE HADIRI ACARA.
TANDAI TEMAN
PAGI DIWALI DENGAN CALON BINTANG.
KONSER AS PERTAMA
TERIMA KASIH REKAMANNYA.
BINTANG BARU!
AKU DARI DUBAI SUARAMU FENOMENAL
BAGIKAN LEBIH BANYAK
Aku mau tulisan dan komentarku
hanya sebatas musik saat ini.
Kurasa ini ketakmampuan kita
untuk rasional melihat sejarah
dan memilahnya dari kegiatan kita.
Kita selalu mencari penjelasan
akan siapa diri kita dan bagaimana kita cocok dalam konteks budaya.
UPAYA BAGUS
MEMBOSANKAN
SETUJU. APA GUNANYA MEMAKAI BANDISH YANG DIABADIKAN KHAN SAHEB
DAN MEMAINKANNYA DENGAN CARA PALING HAMBAR?
AKU RAGU KAU PAHAM MUSIK INI
DAN BAGAIMANA BANDISH…
Jangan terbelit soal teknis.
Kau bisa berlatih terus bertahun-tahun
dan menguasai teknik,
tetapi tak menuntunmu kepada Kebenaran.
Teknik hanyalah media untuk mengungkapkan batiniahmu.
Teknik bisa diajarkan.
Kebenaran tidak bisa.
Untuk itu, harus ada kekuatan
untuk melihat ke dalam dengan kejujuran tegas.
Ini sangat sulit.
Pencarian seumur hidup.
Makanya disebut Pertapa.
Pada akhirnya saat bertemu Kebenaran,
butuh keberanian besar menghadapinya.
Karena Kebenaran seringnya tidak bagus.
Kecuali kesadaran ini meresapi musikmu…
Frase-frase ini bisa dinyanyikan lebih bagus.
Begitu suatu ide diungkapkan, jangan dipaksakan.
Atau akan terdengar kau hanya mengisi waktu.
Para panitia itu juga membuatku kesal sebelum tampil.
Bukan mereka, Sharad.
Kau tak punya sudut pandang.
Di beberapa tempat, kau terlalu memolesnya.
Di tempat lain, terlalu hambar.
Semuanya berserakan.
Kau mulai dengan satu ide musik,
lalu kau pindah ke ide lain,
lalu muncul ide ketiga.
Semuanya campur aduk.
Musiknya tak berjiwa.
Masalahnya juga sama sebelumnya.
Coba lebih berusaha.
Pada akhirnya akan berhasil.
Berapa tahun akan kau sia-siakan?
Berapa lama lagi?
Kau mau jadi seperti ayahmu?
Ayahmu muridku yang paling setia
tetapi paling tak kompeten.
Tak ada yang bilang
bahwa hanya dengan bersama pemusik berbakat,
dan dengan menerbitkan buku soal mereka,
kau sendiri tak jadi berbakat.
Hingga akhir,
dia punya banyak khayalan.
Namun kau berbeda, bukan?
Kau lebih memahami.
Guruji tak bisa bilang kepadamu.
Dia menyayangimu.
Dia tergantung kepadamu.
Namun, kau…
Boleh aku duduk?
Ya, silakan.
Ya?
Nyonya, aku mau sumbangkan kaset-kaset ini.
Apa masih berfungsi?
Ya, masih.
- Siapa isinya? - Maai.
- Maai? - Maaf, Maestra Sindhubai Jadhav.
Bagaimana mengeja Sindhubai?
S-I-N-D-H-U-B-A-I.
Dia menyanyikan apa?
Musik klasik.
Apa dia menang penghargaan?
Ya, Akademi Sangeet Natak, 1973.
Namanya tak ada di daftar, jadi, harganya akan berbeda.
Aku tak mau uang, hanya kusumbangkan.
Ada berapa kaset?
Delapan kaset.
Namun, tak ada nyanyiannya.
Lalu apa?
Ini kuliahnya soal musik, di tahun 1972.
Tinggalkan contoh di sini.
Aku harus bertanya apa bisa diterima.
Nyonya, ini materi tak ternilai.
Belum ada yang punya aksesnya.
Begitu.
Kau kolektor?
Tidak, ayahku diberi kaset-kaset ini.
Baik.
Silakan mengisi formulir.
Kau harus datang lagi untuk memberi label.
Sudah kuberi label dengan rapi.
Baiklah.
Nyonya, apa akan masuk ke perpustakaan?
Ya. Jika disetujui,
akan dimasukkan dalam arsip perpustakaan dan digital.
Kau punya berapa salinannya?
Hanya ini.
Laxmitai, tolong bawa ini.
Kembali lagi di Fame India Musim 2!
Finalis berikutnya dari 12 besar adalah Shaswati Bose dari Jhargram.
Dia membuat juri terkesan dan mendapat tiket ke Mumbai.
Kita lihat perjalanannya sejauh ini.
Musik adalah segalanya bagiku.
Aku menyanyi jika sedih dan gembira.
Aku mau punya karier dalam musik, dan ingin berkembang.
Sejak kecil, aku ingin dia belajar menyanyi.
Aku selalu mendukungnya, dan akan terus begitu.
Fame adalah platform besar bagiku.
Aku mendapat perhatian besar. Aku merasa diberkati.
Aku tahu platform ini akan membantu mewujudkan impian orang tuaku.
Tak pernah terbayangkan semua ini akan terjadi.
Kita istirahat sebentar.
Silakan, Nyonya.
Karan, ambil kursi.
- Apa kabar, Pak? - Baik, kau?
Baik.
Maaf kau harus menunggu.
Tak apa.
- Mau teh atau kopi? - Tidak usah.
Katakan…
Karan bilang sesuatu?
Dia bilang kau akan datang menemuiku.
Pak, dia ditawari untuk ikut band.
Namun, dia hanya terima jika kau bilang boleh.
Dia ingin izin Bapak.
Band apa?
Band apa?
Band kampus, Pak.
Para senior membentuk band campuran.
Aku diminta untuk vokal klasik.
Baik. Apa untuk album?
Tidak, Pak. Untuk festival kampus
seperti Malhar atau Mood Indigo.
Nantinya ada Festival Muda Universitas.
Begitu.
Kubilang dia harus lakukan.
Akan memberinya pengalaman panggung dan dilihat publik.
Namun, dia bilang hanya mau jika kau izinkan.
Jadi, hanya musik Barat, atau klasik juga?
Campuran, Pak.
Ada penyanyi berbahasa Inggris, dan aku bagian klasiknya.
Begitu.
Biarkan saja, tak masalah.
Namun, dia tak perlu kembali kemari.
Kenapa, Pak?
Dia mau apa di sini?
Hanya buang waktunya.
Dia menyanyi cukup bagus untuk masuk band.
Nadanya sudah benar, ada pelatihan. Itu cukup.
Bapak kesal?
Tidak, aku hanya jujur. Dia bisa campuran, tetapi jangan kembali ke klasik.
Dia akan merusak nama sekolah dan namaku juga.
Kenapa kau bilang begini?
Dia masih jauh dari menyanyikan Khayal.
Jika ikut semua itu, dia tak akan pernah bisa.
Jadi, kenapa buang waktu dan uang? Itu maksudku.
Bapak salah paham.
Kau juga harus paham,
jika ingin dia berlari sebelum berjalan, silakan.
Jangan tanya aku.
Karan, aku membuatmu kesal?
Maaf jika aku kelewatan, Nyonya.
Kenapa kau gelisah?
Apa ayahnya memberi kita makan? Kita membayarnya.
Dia tak mengajarimu gratis.
Apa haknya menolak?
Ayo kita keluhkan kepada kepala sekolah.
Akan kuurus.
Kau akan ikut band dan belajar musik juga.
Tak perlu gelisah. Paham?
Jangan cengeng.
Halo? Ibu bisa dengar aku?
Aku dengar.
Apa kabarmu?
Baik.
Maaf, aku lupa sama sekali.
Ya, beri tahu Viju aku akan mengurusnya.
Akan kukirim bulan depan, tenanglah.
Ya.
Apa aku perlu tinggal di sana beberapa hari?
Ya.
Akan kucoba datang bulan depan.
Tentu.
Tidak. Jika kau mau mengungkitnya, aku tak akan datang.
Empat tahun lagi saja.
Begitu usiaku 40 tahun,
kita bisa mulai mencarikanku istri.
Janda cerai, janda mati, apa saja.
Serius.
Apa?
Suaranya putus-putus.
Halo?
Baik, sudah dahulu.
Boleh bermain satu bola?
Raja.
Beri dia satu bola.
Bola yang bagus!
Hari ini peringatan kematian Maai ke-35.
Jika tak menyanyi bagus,
aku takut dia akan mendadak muncul…
dan memarahiku
di depan kalian semua.
Akan kunyanyikan sebaik mungkin.
Beri aku waktu…
untuk pemanasan leherku.
Lalu semoga suaraku bekerja sama.
Ya, Pak. Kami duduk di dalam.
Maaf aku terlambat.
Sudah lama menunggu?
Tidak masalah.
- Halo, aku Rajan Joshi. - Sharad.
Duduklah.
Apa ini? Mana gelasnya?
Aku tidak minum.
Ayo, minumlah. Aku hanya tampak tua.
Jangan malu-malu.
Dia penyanyi, itu sebabnya.
- Bagus! Klasik? - Ya.
Satu wiski dan sedikit air.
Kalau kau?
- Ulangi? - Ulangi.
- Kalau kau? - Aku tak usah.
Minumlah sesuatu, mungkin soda?
Baik, jeruk nipis dengan air putih. Jangan dingin.
- Kau orang Mumbai? - Ya.
Dia penggemar karyamu.
Dia baca semua ulasanmu di Sancharika.
Makanya semua pemusik di Mumbai membenciku.
Karena mereka kukritik keras.
Aku suka tulisanmu.
Terima kasih.
Bahkan dari Amerika, kau banyak meriset soal sejarah musik kami.
Sangat inspiratif.
- Bagus. - Terima kasih.
Senang mendengar bahwa generasi muda
masih tertarik pada hal ini.
Kini mudah karena ada situs web dan internet.
Langsung mencapai semua orang.
Jujur saja, materiku banyak
dan aku mudah terus menulis sepuluh tahun ke depan.
- Wah. - Ini hanya soal Park City.
Koleksi Mumbaiku lain cerita.
Tanya Kishore aku dahulu dipanggil apa.
- Dia disebut "maling musik". - Apa?
Dia akan mendapat rekaman dan buku terlangka entah dari mana.
Faiyaz Khan, Imrat Hussain, Kesarbai. Sebut saja, dia pasti dapat.
Wah.
Makanya aku tak mengundangmu ke rumah.
Banyak orang mencuri dari rumahku, sudah tak terhitung.
Artinya?
Jika aku ke dapur mengambil sesuatu, orang akan mencuri sesuatu.
Maksudku para seniman besar dan tenar.
Mereka semua iri hati.
Kini lihat Kishore. Dia bertahun-tahun mengejarku.
Namun, dengan cara jujur.
Dia ingin gratis.
Orang menawariku jutaan rupee.
Kubilang, "Walau kau belikan tiga rumah di Colaba,
ada materi yang tak akan kulepas."
Katakan apa keinginanmu.
Seperti kataku di telepon, aku ingin rekaman…
Shantidevi?
Ya, Pak. Sedikit orang yang mendengarnya.
Aku mau membuat CD.
Baik, lihat aku punya apa.
Terima kasih, Tuan.
Belum lama ini Sharma didatangi
dari All India Radio untuk kaset Shantidevi.
Dan?
Katanya, "Kami tak simpan musik pelacur."
Apa?
Dia memang pelacur. Semua tahu itu.
- Apa maksudmu? - Ya.
Bahkan ada fotonya berbikini.
Maksudku di tahun 1940-an, sebelum dia terkenal.
Dia berpose untuk majalah.
Kau bercanda?
Tidak.
Kemudian dia jadi simpanan pengusaha Gujarati.
Dia diberi uang untuk belajar musik.
Makanya dia menambah "Devi" pada namanya.
Agar terkesan murni.
- Kau masih mau rekamannya? - Tentu, Tuan.
- Kau punya rekaman Maai? - Maai?
Sindhubai.
Mungkin ada beberapa.
Benarkah?
Namun, tak ada rekamannya.
Itu karena dia tak mau tampil terbuka.
- Bukan begitu… - Lupakan, biarlah.
Aku tak akan bicara lagi, mungkin kau pengagumnya.
- Dia Alwar… - Terus bicara.
Sudahlah.
Tidak, teruskan.
Aku tak pernah percaya cerita ini bahwa dia tak tertarik untuk tampil.
Bahwa dia terhanyut dalam latihan seperti tak sadar.
Apa ada seniman yang tak tertarik tampil?
- Dia berbeda. - Ya, terlalu "berbeda".
Dia gila.
- Kita bahas… - Tunggu. Apa maksudmu?
Sudahlah.
Tolong, aku mau dengar ini.
Aku pernah mendengarnya menyanyi, duduk di rumahnya.
Kau mendengar Maai?
Sekitar 30 tahun lalu, saat seusiamu.
Bagaimana bisa?
Jangan tanya.
Aku mencapai banyak hal dalam hidup.
Dia penyanyi luar biasa,
tetapi sebagai manusia, dia suka menyinggung.
Ucapan buruknya…
"Kaum Mughal ini datang dan mencemari musik kita.
Aku tak mau menyanyikan gubahan orang Muslim," dan lainnya.
Dia bahkan membunuh karier musik putrinya.
Namun, dia melatih banyak pemusik ternama.
Sebutkan satu.
Satish Raichand?
Dia terkenal sebelum bersama Maai.
Dia dilatih Khan Saheb.
Devendra Bhise?
Aku tak suka dia. Dianggap tinggi.
- Sharad, sudahlah. - Tidak, ini mulai menarik.
Maestro Vinayak Pradhan?
Dia juga murid Maai.
- Pria dari Dadar itu? - Ya.
Dia cerita karangan juga.
"Dia tak tertarik pada konser, dia guru,
dia hanya berkomitmen meneruskan warisan Alwar," dan lainnya.
Sebenarnya dia tak bisa menghadapi tekanan di panggung.
Tn. Joshi, tolong. Dia gurunya.
Maaf.
Aku tidak tahu.
- Kita akhiri saja. - Ya.
Kau tahu, Kishore?
Anak-anak baru ini harus tahu cara membedakan fakta dan fiksi.
Era sudah berlalu saat orang bisa membuat orang jadi separuh dewa.
Makanya banyak orang dieksploitasi di bidang ini.
Teruskan. Kenapa menahan diri?
Dengar.
Penggemar suka cerita bagus.
Murid Maai menggambarkannya sebagai makhluk mitos.
"Maai menyanyi bahkan dengan tensi nol."
Apa itu tensi nol?
"Maai tahu 23 Raag rahasia Khan Saheb."
Siapa yang menghitung ada 22 atau 23?
Aku baru dengar seseorang diam-diam merekam ceramahnya.
Aku belum dengar,
tetapi aku yakin…
itu ocehan paling elit, sok benar dan pura-pura.
Duduklah.
- Kau mau teh? - Ya.
Guruji, jangan terima konser di tempat jauh lagi.
Perjalanan kemarin melelahkan bagimu.
Aku bisa apa?
Aku harus terima tawaran yang ada.
Apa aku mendapat uang pensiun bulanan?
Atau kau punya jutaan rupee untukku?
Kau kekurangan apa pun?
Kenapa melakukan ini di usiamu?
Selain itu,
para panitia ini tak bayar tepat waktu.
Ingat upacara ucapan selamat di Satara?
Aku belum terima honornya.
Aku diberi cek palsu.
Tak pernah dikirim yang asli.
Aku akan tanyakan.
Lalu Gokhale membuat konser rumah.
Mereka bahkan tak menyebut uang.
Hanya memberiku secangkir teh dan camilan kering.
Minimal suruh mereka mengganti ongkos perjalanan kita.
Kau tak diberi ongkos taksi?
Guruji?
Coba tangkap yang itu.
Coba yang ini?
Coba gedung-gedung tingginya.
WARISAN ALWAR
Kita mulai?
Ya, sebentar.
Tuan, ceritakan soal Anhad Sounds.
Anhad Sounds adalah perusahaan baru kami.
Misi perusahaan yaitu mengangkat musik klasik India Utara.
Memastikan mencapai pemirsa luas.
Warisan Alwar persembahan pertama kami kepada pencinta musik.
Koleksi ini menampilkan 300 gubahan langka
milik tradisi Alwar.
Kami cemas 200 tahun warisan Alwar
akan lenyap seiring waktu.
Aku merasa penting mendokumentasikan ini.
Proyek ini puncak dari riset selama hampir empat tahun.
Maestro Vilas Bhat, Manoharbhau Mane, Archana Bhave
dan banyak veteran lain menyumbang untuk proyek ini.
Tuan, berapa pendengar bisa mengakses koleksi ini?
Seluruh koleksi tersedia di diska lepas.
Bisa dibeli di situs web Anhad Sounds.
Ada rencana lain dari perusahaanmu?
Kami akan merilis koleksi lainnya
yang saat ini sedang kami kerjakan.
Kami juga berniat menerbitkan buku terkait musik, ada kelas musik daring…
Banyak ide lainnya. Kita lihat kelanjutannya.
Baik.
- Selesai? - Ya. Terima kasih, Tuan.
Ada teh, kopi, dan camilan,
silakan dinikmati.
Baik, terima kasih.
Oh pencari!
Di bibir sumur, oh pencari
Aku menabur benih asam
Di bibir sumur, oh pencari
Aku menabur benih asam
Pohonnya membesarkan ikan
Memberi keteduhan nyaman
Di bibir sumur
Oh pencari
Di bibir sumur, oh pencari
Seekor rusa kawin
Di bibir sumur, oh pencari
Seekor rusa kawin
Dia melahirkan lima anak rusa
Di bibir sumur, oh pencari
Terjemahan subtitle oleh Ellen Tjandra
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.