All language subtitles for Surga.Yang.Tak.Dirindukan.3.2021.DSNP.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Selamat ulang tahun, Mei Rose

Selamat ulang tahun, Mei Rose

Selamat ulang tahun

Kurang ajar!

Maafkan Mama. Mama bukan mama yang baik buat kamu.

Kamu yang kuat, ya.

Cari laki-laki yang tulus mencintai kamu.

Jangan seperti papa kamu.

Ibu? Bu?

Sudah jam 9.

Nanti Mas Akbar mengambek.

Astagfirullah. Ponsel saya mana, Mbok?

Ini.

Mbok, tolong bereskan.

- Tas saya di mana, Mbok? - Di atas.

- Assalamualaikum, Mei. - Wa'alaikumsalam, Mas.

- Nanti datang, 'kan? - Iya.

Jangan lupa Nadia diajak untuk dukung adiknya.

Iya. Ketemu di sana, Mas?

Oh, ya, Mei. Tolong perhatikan bajunya Nadia.

- Jangan sampai... - Aman.

Rapi dan sopan.

Kenapa kacanya belum dinaikkan?

Kacanya tertahan di Semarang, Pras.

Apa? Sampai kapan?

Hartono!

- Hei, Hartono! - Apa?

Sini!

- Apa sih teriak-teriak? - Kaca gimana? Kaca?

Ini gue baru telepon mereka. Katanya kepala bea cukai diganti.

Jadi harus nunggu. Biasa itu.

Sekarang masih tertahan di pelabuhan di Semarang.

- Lusa baru keluar. - Bisa molor proyek ini.

Berhenti!

Nad, gerakan lo salah terus.

Besok kita sudah mulai syuting untuk kanal kita.

Sudah dipromosikan di Instagram. Gimana sih?

Iya, iya.

Aduh.

Bunda?

Nadia, dengarkan, dong!

Maaf, gue harus nonton adik gue tanding hari ini.

Kata untukmu adalah "happiness" (kebahagiaan).

Happiness. H-A-P-P...

...I-N-E-S-S.

Jawabanmu benar.

Telat sekali! Akbar sudah mencari Bu Mei.

- Mima pesan dua kursi untuk Ibu dan Pak Pras. - Ya, terima kasih.

Terus juga ada titipan...

Ini. Nomor tiga dan enam, tidak bagus.

- Yang lainnya, oke. - Siap laksanakan!

Terima kasih.

- Ya sudah, Mima kembali ke butik dulu. - Ya. Terima kasih, ya, Mima.

Selanjutnya.

Alberto.

Kata untukmu adalah "heavenly" (surgawi).

H-E-A-V-E-N-L-Y.

Jawabanmu benar.

Kamu pantau terus, Har. Aku akan coba telepon temenku di pelabuhan.

Kalau kacanya gak segera naik, bisa kacau semuanya.

Aku pergi dulu, ya. Akbar tanding hari ini.

Hei, Pras! Kasih tahu Akbar cetak gol yang banyak. Itu ane yang mengajarinya menggocek.

Bukan tanding bola, Ran. Lomba mengeja (spelling bee).

Apa? Lomba menangkap tawon?

- Mengeja! - Orang dia bilang itu...

Pakai bahasa Inggris!

Sudah, ya!

- Apa? - Lo gak pintar-pintar, ya.

- Mengeja? - Sudah berapa lama gue gaul sama lo?

Ane sarjana!

Nadia.

- Kenapa sendirian? - Desi ada di dalam.

- Mau jemput dia, 'kan? - Nggak.

Aku ke sini mau ngantar kamu pulang.

Aku bisa pesan taksi. Nggak perlu.

Mobilnya ada. Sopirnya ada. Teman mengobrol juga ada.

Kenapa malah disia-siakan? Ayo.

Kata untukmu adalah "collaboration" (kolaborasi).

C-O-L-L-A-B-O-R-A-T-I-O-N.

Jawabanmu benar.

Kata untukmu adalah "loyalty" (kesetiaan).

L-O-Y...

...H-A-L-T-Y.

Maaf, jawabanmu salah.

Baiklah, Akbar.

Kata terakhir untukmu...

...adalah "perfection" (kesempurnaan).

Perfection.

Sepertinya Akbar mulai nggak konsen, Bu. Coba telepon papanya.

Ini perwakilan dari sekolah satu-satunya, Bu.

- Cepat. - Sudah, Bu.

Ya.

P-E-R-F-E-C-T-I-O-N.

Jawabanmu benar.

- Semua digabung jadi satu, Yah. - Hebat kamu.

Akbar.

- Selamat, ya, Akbar. - Terima kasih.

- Selamat, Bapak. Selamat, Ibu. - Terima kasih.

Pak Pras, Bu Mei Rose.

Perkenalkan ini Bu Angela, kepala sekolah Mutiara Persada.

- Pras. - Angela.

Maaf, Pak Pras dan Bu Mei, kalau saya mengganggu.

Saya sebenarnya ingin mengajak Akbar beserta peserta lomba dan sekolah kita untuk jalan-jalan ke Jakarta.

Bertemu dengan pemilik yayasan baru sekolah kita.

- Yayasan baru? - Iya. Betul.

Pemilik yayasan baru, Bapak Wardoyo, ingin sekali ajak anak-anak murid yang berprestasi dari sekolah kita...

...untuk bertemu dengan beliau. Dan saya berharap Akbar bisa ikut serta.

Maaf, Bu. Harus ke Jakarta, ya, Bu?

Iya. Bapak Wardoyo sendiri yang mengundang anak-anak kita ke Jakarta.

Pengin, dong, Bunda, Ayah. Kumohon. Pengin banget ikut ke Jakarta sama teman-teman.

Pasti seru banget. Ya?

- Nadia, mau temani adiknya? - Mau, dong.

Nadia ada banyak PR, Yah.

Mas, kamu yakin? Anak-anak nggak pernah ke luar kota tanpa kita.

Kenapa nggak? Ini kesempatan berharga buat Akbar.

- Kapan lagi? - Iya.

Tapi tolong jaga Akbar dari segala macam cokelat.

- Dia alergi. - Tentu saja.

Termasuk cokelat putih, Bu.

Sama, Akbar nggak tahan kena angin, apalagi angin malam.

Mei. Tenang. Kamu mau Akbar jadi anak mandiri, 'kan?

Lagian Bu Welas dan Bu Angela pasti akan menjaga anak-anak.

- Ya, 'kan, Bu? - Iya, Pak.

Saya wali kelasnya. Masa saya menelantarkan anak-anak?

Bapak.

Baik, kalau begitu, terima kasih banyak sudah mengizinkan Akbar untuk ikut.

Pak Wardoyo pasti akan sangat senang bisa bertemu dengan Akbar.

Kenapa rasanya beda, Mbok?

Tolong, Mbok, buku resepnya Mbak Arini.

Mbok pasti lupa masukkan mentega.

- Ya ampun. Saya lupa. - Beda makanya.

- Bu. - Ya?

- Ini tasnya Mas Akbar. - Taruh di kamarnya saja, Mbok.

Baik.

- Mbok. - Ya, Bu?

Mbok, tolong.

Terima kasih.

Mas Akbar. Makan dulu.

Jangan main gim terus.

Bun, kalau peringkat Akbar bagus, boleh nggak beli GameBox?

Memang gim yang sekarang kenapa?

Ada yang lebih baru lagi, Bun.

Nadia.

Kemarin waktu acara lomba mengeja...

...Ayah lihat kamu diantar sama anak laki-laki.

Siapa dia?

Dia Keenan, Yah. Anak kelas 10.

Kamu berdua saja di mobil sama dia?

Nggak. 'Kan ada sopirnya.

Dia di depan, aku di belakang.

Nadia, 'kan, sudah besar. Hati-hati kalau bergaul.

Apalagi sama yang bukan mahram.

Akbar.

- Akbar. - Ya, Bun?

Makan di sini aja, yuk.

- Ya, Bun. - Ayo.

Ayo sini, Akbar.

- Ini enak banget. - Benar, Mas?

Hati-hati, ya!

Akbar, hati-hati! Kamu nanti masuk angin. Hati-hati, ya!

Anak-anak, lihat! Pemandangannya bagus!

Dihirup udaranya!

Itu lihat.

Sudah mau sampai.

Bu?

Bu Welas, tidak apa-apa?

Oke, Bu. Oke banget.

Bapak keren banget nyupirnya, Pak.

- Seru banget! - Halo. Hai.

- Hai! - Hati-hati.

Hati-hati.

Oke. Sini, Sayang.

Bu, tidak apa-apa?

- Tidak apa-apa? - Sini, Sayang.

Anak-anak semua, Ibu perkenalkan ini Bapak Ray Sastrowardoyo.

Kepala Yayasan Bina Sejahtera yang menaungi sekolah kita, Mutiara Persada.

Kalian bersenang-senang?

- Ya! - Oke. Sekarang kita makan dulu.

Pasti semua sudah lapar, ya.

- Ayo. - Oke.

- Ayo. - Ayo.

- Ibu. - Ya, Bapak?

- Bisa jalan, nggak? - Saya kuat, Bapak.

- Kuat? - Kuat.

Oke.

Gak kuat?

Nanti jangan lupa, sebelum memberikan hadiahnya, bilang apa dulu?

"Selamat pagi, Oma Nungki." Dia ibu saya. Ya?

Oke.

Hai.

- Selamat pagi. - Hai.

Selamat pagi, Oma Nungki.

Selamat pagi, Anak-anak.

Ternyata ini tamu-tamu rahasia yang diundang anakku untuk hari spesialku?

Mereka anak-anak Mutiara Persada. Sekolah kita yang baru.

Terima kasih, Sayang. Nama kamu siapa?

- Nabil. - Terima kasih, ya.

- Si cantik. Kamu siapa namanya? - Aurel.

- Terima kasih, Cantik. - Iya.

Oma.

Hei.

Kamu siapa namanya?

- Akbar. - Akbar.

- Terima kasih, Sayang. - Sama-sama.

Adik-adik, Kakak Mima bawa kue paling mantap untuk kita semua!

- Siapa mau? - Aku!

Kamu mau?

Nadia mana?

Adik-adik, makannya nanti dulu, ya. Kita foto-foto dulu, yuk.

Oke.

Hei.

Nanti makannya, ya. Kita foto dulu.

Bu Mei Rose.

Nadia di mana? Itu anak-anak di depan sudah menunggu!

Sampai makanan juga ikut menunggu. Kasihan, 'kan.

Senyum!

- Teleponnya mati lagi. - Aduh, mateng gue.

Bisa bubar rencana kita kalau begini ceritanya, Mima.

Kita butuh banget konten ini buat menaikkan penonton kanal kita, Rose.

- Terus gimana? - Aduh.

- Ada apa ini? - Parman.

Kenapa Parman?

Orang keuangan kita yang itu cuti seminggu, umroh.

Ternyata nggak balik.

Dapat kabar. Gaji karyawan sama pekerja menunggak.

Astagfirullah.

Sekarang pada mogok kerja.

Redakan mereka, yuk.

Oke. Tenang dulu. Sabar semuanya. Iya, iya.

Bapak-bapak semua, tenang. Tenang!

Saya tahu kesulitan Bapak-bapak. Saya minta maaf. Ini di luar kendali saya.

Bagimana ini?

Tapi saya janji. Saya akan bayar semua gaji Bapak-bapak, paling lambat sore ini.

Gitu, dong!

Undangan sudah disebar, tempat sudah dipesan. Katering juga sudah diurus.

Tapi kamu nggak akan bahagia, Ray.

Kamu masih bisa batalkan, kok.

- Ya, Nak? - Ma. Ray sayang sama dia, Ma.

Mama tahu, Sayang. Mama tahu.

Tapi utang bapaknya banyak, di mana-mana.

Kamu pasti akan sengsara seumur hidup kamu.

Dia yang akan jauh lebih sengsara kalau dia nggak nikah sama Ray.

- Dengerin Mama, ya? - Ray nggak mau debat soal ini.

- Sekali! - Nggak.

- Sekali ini, Ray. Dengarkan Mama. - Mama nggak akan mengerti.

Ray.

Maaf mengganggu, Pak. Anak-anak dan para guru sudah menunggu untuk makan bersama.

Itu namanya nggak bertanggung jawab, Nadia.

Semua orang sudah menunggumu tadi.

Nadia sudah kirim pesan ke Bunda.

Kamu kirim pesan ke Bunda...

...sejam sebelumnya.

- Nggak bisa begitu, Nadia. - Assalamualaikum.

- Wa'alaikumsalam. - Wa'alaikumsalam.

- Ayah. - Hai.

Mas, tumben sudah pulang.

Aku mandi dulu, ya? Capai habis dari kantor.

Aku siapkan.

Handuknya sudah. Aku buatkan teh, ya?

Oke.

Hai, Akbar!

Hai, Ayah!

Lagi ngapain? Gimana berlayarnya?

Sekarang lagi bikin barbeku, Yah.

- Oh, ya? Keren banget. - Itu.

Ambil sendiri. Makan, Sayang.

Oh, ya, Ayah.

Akbar mau kenalin Ayah sama Pak Ray.

Apa, Nak? Sinyalnya jelek.

Pak!

Oh, ya, Ayah. Pak Ray Sastrowardoyo itu baik banget orangnya!

- Terima kasih, Bu. - Pak!

Akbar.

Maaf, Pak. Ayahnya Akbar mau kenalan.

Oh, ya? Siapa namanya?

Pak Prasetya.

- Halo, Pak Prasetya. - Maaf, Pak. Sinyalnya kurang bagus.

Ya, Pak. Saya ada di depan dek dengan Akbar. Sinyalnya mungkin kurang baik.

Siapa, Mas?

Ini Pak Wardoyo, kepala yayasan sekolah Nadia dan Akbar yang baru.

Pak, saya kenalkan ke istri saya, ya.

Halo, Pak Prasetya?

Halo?

Mas?

Nggak ada sinyal, Pak.

Terputus!

Mas.

Itu tadi mereka di air. Mereka ke mana? Ke sungai?

Nggak. Di tengah Samudra Hindia.

Mas, nggak lucu.

Sudah nggak usah khawatir, Mei. Nanti Akbar jadi anak manja.

Mas. Mereka di mana?

Untuk apa semua ini, Ray?

Buat Mama.

Buat Mama?

Atau, buat menutupi rasa bersalah kamu?

Aku nggak bisa bohongi diri aku sendiri, Ma.

Kalau kamu begini terus, Ray...

...Mama dihantui rasa bersalah terus.

Mama nggak salah.

Terus mau sampai kapan kamu begini?

Memangnya enak? Terpenjara dengan masa lalu kamu terus, Ray?

Amin.

Aku lagi ada masalah besar, Mei.

Aku ditipu manajer keuanganku sendiri.

Mas Parman?

Berapa kerugiannya?

Seharga rumah ini kalau dijual.

Astagfirullah.

Nilai Nadia merosot, Bu.

Di kelas juga kurang konsentrasi.

Sejak kapan dia begini, Bu?

Dua semester ini, Bu. Tapi Nadia tidak ada masalah, 'kan, Bu?

Nggak ada, Bu.

- Nanti saya bicarakan sama ayahnya, Bu. - Baik.

Oh, ya. Satu lagi, Bu. Nadia sudah tidak lagi mendongeng.

Di pertunjukan bulan lalu, dia juga menolak untuk mendongeng.

Nadia sudah nggak mau mendongeng lagi, Ra.

Ayahnya sudah tahu?

Kalau sudah tahu, gue nggak akan sepanik ini.

Ibu.

Harus gimana?

Harus gimana apanya, ya?

Ini. Seharusnya dikasih karet di bagian pinggang biar kecil sedikit.

Karena kalau terlalu longgar, seperti konsep baju ibu mengandung ini.

- Gantikah? - Mukamu yang diganti.

Lagi telepon. Berisik.

Ayahnya pasti sedih kalau dia nggak mau mendongeng lagi seperti ibunya.

Rose. Nadia sudah gede.

Dia berhak menentukan pilihannya sendiri.

Iya, makanya! Ini pilihan saya. Berhak, 'kan?

Tidak semudah itu buat Mas Pras.

Pras itu nggak kolot.

Kenapa lo tidak bicara jujur saja?

Ra, gue telepon lagi, ya.

Iya.

Nah? Dimatiin, 'kan?

Gara-gara muka lo datang.

Nadia.

Bunda.

Bunda ngapain ke sini?

Bunda mau jemput Akbar. Kamu bukannya pramuka?

Nadia mau syuting, Bun.

- Syuting apa? - Nadia.

Ayo cepat. Nanti keburu sore.

- Ayo. - Bunda.

Syuting apa? Nadia.

Nadia, syuting apa?

Mei Mei.

Bu Welas. Anak-anak sudah tiba, Bu?

Sudah, Bu. Pak Wardoyo sendiri yang antar.

- Oh, ya? - Beliau itu orangnya baik sekali.

Lelaki idaman, ahli surga dan janda.

Ibu!

Bercanda. Ayo, Bu.

- Ayo. - Akbar?

- Belum dijemput? - Belum.

Ya sudah. Bapak temani di depan, ya?

Pak Wardoyo wangi, ya, Bu.

Wangi sekali.

Saya juga beli, tapi satu saja. Nggak banyak.

Siapa tahu Ibu mau kasih saya.

Lain kali bilang dulu kalau Ibu mau ke butik.

Benar, ya, Bu? Ya!

Itu, Bu.

Aku berdua sama Pak Ray.

Fotoin, ya?

Aduh. Memang ibu-ibu.

- Aduh. - Bu. Saya harus ke mobil duluan.

Saya titip tolong bilang Akbar saya tunggu di mobil.

Iya, Bu.

Ayo foto.

Fotoin, ya.

Bu, kirim, ya. Iya.

- Bu Welas, Akbar belum dijemput. Sudah cek? - Oh, ya. Tadi bunda bilang suruh ke mobil.

Bunda sudah datang. Dia di mobil.

- Sudah? - Iya, dia sudah datang.

- Ya sudah. - Dah, Pak Ray.

- Dah, Akbar. - Dah, Akbar.

Kita nikah sekarang.

Aku cinta sama kamu.

Yang nikah sama kamu itu aku. Bukan orang tuaku.

- Sayang. Gimana? Senang? - Bunda!

Kangen Bunda.

- Astagfirullah! - Hati-hati, Mbak!

Seinnya dipakai, Mbak!

Astagfirullah. Bunda nggak lihat motor.

Akbar. Bu?

Bu?

Akbar nggak apa-apa?

- Nggak apa-apa, Pak. - Bu.

Bunda tadi kaget hampir menabrak.

- Nggak apa-apa, Bu? - Nggak apa-apa, Pak.

Bu, perkenalkan saya Ray Sastrowardoyo. Saya...

- Ya, Pak. Saya tahu. Maaf saya buru-buru. - Ya. Silakan, Bu.

- Hati-hati, Bu. - Maaf, Pak.

Pak Ray. Foto lagi, Pak. Yang tadi jelek fotonya.

Utang perusahaan setelah dicicil tinggal 2,5 miliar.

Kalau proyek kita yang sedang berjalan ini selesai tepat waktu, utang lunas.

Terus gimana, Pras?

Jual aset saja.

Aset apa, Pras?

- Rumahku. - Hei. Nggak, nggak.

Ane nggak setuju. Itu rumah ente sama Arini.

Kalau Arini masih ada...

...dia akan mengerti.

- Nggak. Ane tetap nggak setuju, Pras. - Terus mau gimana?

Pinjam di bank? Ribet.

Sudah, jual rumah lo saja.

Itu solusi, memang.

Tapi ane masih mengontrak, gorden warteg.

Bodoh kadang-kadang.

- Kita harus jual rumah ini, Mei. - Mas...

Di rumah ini banyak kenangan Mbak Arini, Mas.

Nggak sayang?

Mas.

Kamu imamku.

Apa pun keputusan kamu...

...aku ikut.

Tapi kamu harus pikirkan perasaan Nadia.

Ayah.

Boleh nggak antar Akbar sama teman-teman ke peternakan besok?

Bunda saja yang antar, ya?

Ayah lagi sibuk.

Kenapa mata Ayah berkaca-kaca? Ayah habis nangis, ya?

Nggak.

Ayah cuma kurang tidur.

Makan dulu.

Mbok. Tolong panggilkan Nadia, Mbok.

Baik, Bu.

Bu, tadi Non Nadia bilang...

...katanya nggak mau makan bareng.

Kenapa?

Kurang tahu, Pak.

Biar aku yang panggil, ya.

Kenapa, ya? Gue agak kurang sreg. Terlalu feminin, nggak?

Terus kenapa kamu mau?

Ya, mau gimana lagi?

Jangan melakukan sesuatu yang kamu nggak mau, Nad. Jangan.

Kenapa kamu nggak bikin kanal YouTube-mu sendiri aja?

Nggak, ah.

- Aneh. - Nadia.

Keenan, nanti lagi, ya. Dah.

Bunda kenapa nggak ketok-ketok?

Nadia.

Kita makan bareng.

Sekarang.

Iya, Yah.

Nadia. Besok kamu temani Bunda antar Akbar ke peternakan, ya.

- Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri. - Nadia, temani Bunda.

Kasihan Bunda sendirian di mobil.

Bunda.

Keenan kalau misalnya menyusul ke peternakan boleh nggak?

Bunda?

Apa?

Iya, iya.

Serius, Bun?

Kamu tadi bilang apa, Sayang?

Sebenarnya Nadia sudah janji sama Keenan.

Pengin bikin video untuk YouTube Nadia.

Video dongeng?

Bukan, sih.

Tari.

Video tari?

Tapi jangan bilang ayah, ya, Bun. Kumohon.

Oke.

Tapi kamu harus bisa jaga diri.

Ayah pasti nggak suka.

Ayah inginnya aku mendongeng. Seperti almarhum Bunda Arini.

Karena ayah tahunya itu.

Coba kamu ngomong sama ayah.

Memang Keenan suka menari?

Dia yang mendorong Nadia buat bikin video.

- Tapi ingat... - Iya, Bunda.

Terima kasih, ya.

Kita sudah sampai, Bun?

Besar sekali rumahnya.

Hati-hati, Sayang. Hati-hati.

Akhirnya yang dinanti muncul juga.

Dari tadi, Pak Ray nanyain Akbar terus.

- Ray Sastrowardoyo? - Iya. Ini peternakan beliau, Bu Mei.

Ini punya Pak Ray?

Iya. Keluarga Wardoyo sebenarnya kaya raya, cuma sempat bangkrut.

Untung ada Pak Ray yang akhirnya membantu memajukan bisnis keluarganya sampai ke Singapura.

Setelah sukses, akhirnya Pak Ray melakukan kegiatan sosial. Termasuk membantu sekolah kita.

Ibu tahu banyak, ya.

Saya penggemar setianya, Bu.

Lagian, zaman sekarang sudah jarang, kaya tapi jomblo.

- Mari, Bu. - Ya.

Anak-anak, ayo.

Ayo mari, bu. Hati-hati licin.

Ini. Rumah yang aku ceritakan kemarin.

- Bagus, ya? - Bagus, lah.

- Mau Adik, Bang. - Iya.

Ya sudah. Mau, ya.

Bang.

Lihat itu.

Satu-satu, lah.

Aku bercanda, Bang.

Pras. Rumah ini yang buat acara ulang tahun Nadia yang ke-3, 'kan?

Betul, Mas. Di sini juga ada detail ruangan, denah bangunan, dan sertifikat.

Kira-kira Mas bisa lihat kapan?

Nggak usah, Pras. Saya sudah hafal setiap sudut rumah kamu.

Oh, ya. Tempat favorit saya di rumah kamu, tahu nggak?

- Ruang tengah. - Kenapa bisa, Mas?

Ruang tengah adalah ruang di mana ada foto kamu bareng Arini and Mei Rose.

Abang, kapan kita bisa foto bareng sama Kakak Mbak Yu?

Biar sama seperti Bang Pras dan Kakak Arini, sama Mei Rose.

Seperti gimana, ya? Mesra sekali mereka.

- Iya, nanti. - Jam berapa?

- Jam berapa? Nanti! - Bercanda.

- Mbak Yu. - Istrimu yang...

Iya. Rohaya.

- Tahu, 'kan? - Iya.

Kalau yang ini baru, Pras. Baru enam bulan.

Lagi njepit-jepit-nya.

Harganya masih bisa dipelintir lagi, 'kan?

Sebenarnya...

...rumah itu sangat berharga buat saya, Mas.

- Kalau lagi nggak ada masalah, nggak saya jual. - Bagaimana kamu ini, Pras.

Aku sering kasih kamu proyek-proyek gede. Bisa, lah. Sedikit juga nggak apa-apa.

Ya? Bisa, ya?

Jadi, di rekening total 800 juta?

Ya, termasuk penjualan bulan ini. Memang kenapa? Ada yang salah?

- Nanti gue telepon lagi, ya? - Halo? Mei...

- Akbar. - Ya.

- Cece? - Ya.

- Ini kita ke taman buah dulu, ya. - Oke.

- Ada burung, Ce. - Oh, iya.

Bunda!

Mei Rose.

- Bunda. - Akbar. Bunda nggak apa-apa.

Bunda.

Pak, nggak patah, 'kan?

Nggak. Mungkin hanya terkilir sedikit.

- Bunda benar nggak apa-apa, 'kan? - Nggak apa-apa, Akbar.

- Gimana dia? - Ma.

- Ya? - Aku menemukan Mei Rose.

Mei Rose?

Akbar anak Mei Rose, Ma!

Akbar?

- Cucu Mama? - Ya.

Akbar. Oma punya banyak sekali kelinci. Kita lihat ke bawah, yuk?

Ayo.

Bunda nggak apa-apa. Ya? Ayo.

Ya.

- Bikin malu agama! - Mas, cukup!

- Amran! - Neraka!

Hei! Kita di sini bukan buat memukuli dia!

Sudah. Tenang, ya. Tenang.

Kamu kenapa tega melakukan ini, Mas?

Bukan kami saja yang jadi korban.

Tapi karyawan, buruh, tukang kayu.

Mereka orang-orang kecil.

Saya terbuai dengan istri saya, Pak.

Hei.

Sudah!

Dia memaksa saya untuk masuk di bisnis perjalanan umroh.

Tapi ternyata semuanya bodong. Banyak jemaah yang jadi korban.

Jadi ente umroh kemarin sekalian bisnis?

- Munafik juga lo! - Amran, sudah!

- Saya minta maaf, Pak. - Sudah cukup.

Sudah, sudah.

- Pak Pras saya minta maaf. - Sudah, bawa keluar!

Mei. Pelan-pelan.

Aduh.

Pinggang kamu terkilir. Pelan-pelan.

Minum dulu obatnya.

- Mei. - Aku harus pergi.

Tunggu. Mei, istirahat dulu.

Istirahat dulu.

Akbar sama Nadia ke mana?

Akbar di halaman belakang dengan neneknya.

Juga, Nadia dan Keenan.

Akhirnya aku menemukan kamu, Mei.

Ngaco.

- Kamu meninggalkan aku. - Aku nggak pernah meninggalkan kamu, Mei.

Mei, begini, dengar aku baik-baik. Sebelum pernikahan kita, aku dicegat orang.

Orang-orang ini semuanya orang-orang yang berurusan sama bapak kamu.

Aku ribut sama mereka. Situasinya nggak terkontrol. Satu orang mati.

Kena tembak. Aku juga tidak mengerti.

Dan aku dipenjara.

Tolong Ibu jaga dia.

Jangan sampai Mei Rose tahu, Bu.

Ray minta tolong sama Ibu.

Lima tahun aku di penjara.

Cerita aku sama kamu? Nggak.

Aku mau melindungi kamu. Nggak mau menambah beban kamu.

Penderitaan kamu.

Bukan karena aku mau meninggalkan kamu. Jadi, tolong banget...

jangan pernah bilang aku meninggalkan kamu.

Nggak pernah, Mei.

Keluar dari penjara, aku dengar kamu ada di Budapest.

Aku susul ke Budapest. Aku cari kamu sampai sana.

Nggak dapat, nggak ketemu.

Kenapa kamu nggak ngomong?

Kenapa waktu itu nggak kasih tahu? Kasih tahu saja.

Aku nggak mengerti.

Aku nggak mengerti bagaimana cara ngomongnya. Aku benar-benar merasa...

...nggak mengerti mesti ngapain.

Mei.

Ray.

Tapi semua sudah lewat, Ray.

- Aku sudah punya kehidupan sendiri. - Aku tahu kamu sudah punya kehidupan sendiri.

Kamu, aku. Kita bisa berubah.

Tapi Akbar?

Dia anak aku juga.

Dan itu nggak bisa berubah.

Aku nggak bisa membohongi perasaan aku. Aku melihatmu, aku kaget.

Tapi sekaligus aku juga senang banget bisa ketemu kamu.

Berapa lama aku menunggu buat ketemu kamu?

Tolong mengerti situasi aku juga.

Halo?

- Keterlaluan kamu. - Mei. Maaf.

- Jangan sentuh aku. - Mei, maaf.

Dengarkan aku dulu.

Jangan sentuh aku.

Oke.

Aku mau ngomong baik-baik, Mei. Maafkan aku.

Lucu banget.

Oma, ini lucu banget!

Kamu mau kasih dia nama siapa?

- Siapa, ya... - Nadia. Akbar.

Ayo pulang.

Bunda?

Mei.

Akbar.

Akbar. Ayo pulang.

Nadia, ayo.

- Dah, Oma. - Dah, Oma.

Bunda nggak apa-apa, Bun?

Aduh.

Kamu kenapa, Mei?

- Aduh. - Kamu kenapa?

- Pak, maaf. Saya ambil minum untuk ibu dulu. - Iya, tolong.

Bunda kenapa?

- Bunda jatuh di peternakannya Pak Ray, Yah. - Jatuh?

Kamu tersandung? Terpeleset?

- Aku nggak apa-apa. - Ya sudah. Kita ke dokter, ya?

- Nggak usah. - Biar diperiksa, Mei.

- Aku nggak apa-apa, Mas. - Kamu kesakitan.

Kamu yakin?

Aku tahu kamu sudah punya kehidupan sendiri.

Kamu, aku. Kita bisa berubah.

Tapi Akbar?

Dia anak aku juga.

Mei. Ikatannya salah.

Astagfirullah. Iya. Maaf, Mas.

- Aku bisa sendiri. Nggak apa-apa. - Nggak, nggak. Aku saja. Kumohon.

Aku saja.

Sepertinya kamu lagi ada masalah, ya?

- Ada apa? - Nggak, Mas.

- Jangan bohong. Ada apa? - Nggak.

Ayah sama Bunda pengin jual rumah ini, ya?

Kamu dengar dari mana, Sayang?

- Nadia, ayo masuk. - Kenapa nggak bilang sama Nadia dulu?

Nadia, ayo masuk. Ayah jelaskan. Ayah lagi ada masalah.

- Ayah memang pengin ngomong... - Nadia nggak mau rumah ini dijual, Yah.

Ini rumah Bunda Arini.

Ayah jahat, tahu nggak?

Ayah kalau misalnya jual rumah ini...

- Artinya sudah nggak sayang lagi sama Bunda Arini. - Nadia.

Mas, Mas. Aduh.

- Kamu istirahat saja. Biar aku ngomong sama Nadia. - Nggak apa-apa, Mas. Nanti aku yang ngomong.

- Benar kamu bisa ngomong sama Nadia? - Iya, tenang saja, Mas. Nanti aku ngomong sama Nadia.

Oke. Terima kasih, ya.

Iya, Mas?

Maaf, ya. Bunda lancang, telepon teman kamu.

Bunda mau bicara sama kamu, Nadia.

Ayah sedang dalam masalah.

Dia ditipu sama karyawannya, Sayang.

Ayah sudah coba cari jalan keluar, tapi nggak ada jalan lain.

Kenapa harus rumah Bunda Arini?

Nadia nggak mau, Bunda.

Kalau Bunda punya uang sebesar itu, Sayang...

...pasti Bunda kasih ayah.

Ayah sedang dalam cobaan.

Dia butuh kamu.

Butuh kita.

Ya?

- Bu Welas. - Duluan.

Maaf, Bu. Lihat Akbar, Bu?

Aduh, Bu Mei Mei terlambat. Tadi Akbar sudah diantar sama Pak Ray.

Terima kasih, Pak Ray.

Sama-sama.

- Akbar. - Ya?

Sebentar, ada sesuatu. Sebentar, ya.

Ada apa, Pak?

Kenapa, Pak?

Ada yang ketinggalan tadi.

Ini.

- Ini buat Akbar, Pak? - Iya.

Tapi, Pak Ray...

Bukannya Akbar nggak mau. Akbar mau banget.

Kata Bunda, Akbar nggak boleh terima barang dari orang asing.

Bapak bukan orang asing buat Akbar. Ya?

- Tapi nggak boleh ditinggalkan belajarnya, ya? - Mas Akbar.

Mbok. Terima kasih, Pak.

Ya!

Bapak siapa, ya?

Saya pemilik yayasan dari tempat sekolahnya Akbar.

Cuma mengantar saja.

- Mari, Mbok. - Ya.

Iya.

Kamu mau apa sebenarnya?

Aku cuma mengantar Akbar pulang.

Kamu cuma cari-cari alasan saja supaya bisa dekat sama Akbar.

Masa aku salah mau dekat sama anak kandungku sendiri?

Aku rasa Akbar sudah harus tahu siapa bapak kandungnya.

- Nggak bisa seperti ini terus. - Aku yang tentukan kapan dia harus tahu.

Bukan kamu.

Har, sudah sejam ini. Ente kenal di mana?

- Internet. - Internet lagi.

- Zaman sekarang banyak yang hoaks. - Tenang saja.

Masalahnya ini belum kerja bareng sudah tidak amanah soal waktu, Hartono.

Daripada tukang pengajian tapi nipu. Mendingan mana?

Ente jangan salahkan pengajiannya, ya.

Banyak orang yang pengajian yang benar juga.

Betul.

Apa kabar?

Sebenarnya, saya sudah satu jam yang lalu berada di sini.

Cuma, menurut survei, orang genius itu sering datang terlambat.

Makanya, saya sengaja melambatkan diri saya.

Perkenalkan, saya Teram.

- Apa? Teram? - Panji Rindutenteram.

Adik kandung dari Panji Rindualam.

Sebentar, sebentar.

Panji yang di Budapest itu?

Benar.

Sayang, kenapa bau kamu beda, ya?

Iya, Bang. Habis kerokan.

Astagfirullahaladzim!

Pantas bau mayat!

Hei. Kopi ane.

Saya tamu. Tamu adalah raja.

- Tapi kopi ane. - Iya.

- Santai. - Sudahlah!

Pesan lagi saja.

Saya sudah mengenal Anda.

Anda pasti Bung Hartono. Benar?

Dan, Anda pasti Bung Pras.

Nama panjangnya "Prasmanan".

- Santai. Silakan minum. - Hei, hei.

- Tempat ane. - Anda siapa?

- Anda boleh duduk sana. Kita mau ngobrol. - Minggir.

- Duduk sana saja. - Sudah, cepat. Biar cepat.

Saya dan Panji punya usaha di Budapest. Namanya PT. Sana Sini.

Dan, saya berinisiatif untuk membuka usaha serupa di Jogja.

Jauh banget, Jogja-Budapest.

Namanya juga PT. Sana Sini.

Kadang di sana, kadang di sini.

- Santai, santai. - Sebentar.

Katanya mau bikin usaha yang sama seperti di Budapest.

- Usaha apa? - "Palugada".

"Apa yang lo butuh, gue ada".

Kakak sama adik, sama-sama sakit.

Oke, Mas Trump.

Panggil saja saya Teram. Bukan Trump.

- Anda serius bisa bantu kami? - Ya.

Saya yakin. Serius.

Maaf. Kita bisa tukar tempat?

Mohon maaf. Ente maunya apa, ya?

- Fengsui saya di sana, sepertinya. - Ya, bodo amat.

Nggak ada itu fengsui.

- Assalamualaikum. - Wa'alaikumsalam.

Mei, Nadia, Ayah punya kabar baik.

Ayah ketemu sama orang yang baik banget. Dia mau bantu lunasi utang Ayah tanpa bunga.

MasyaAllah. Siapa, Mas?

- Tunggu saja nanti. - Rumah Bunda Arini nggak jadi dijual, 'kan?

InsyaAllah, nggak.

- Alhamdulillah. - Ayah ganti baju dulu, ya.

Iya.

Oh, ya. Nadia. Nanti kamu mendongeng, ya? Buat tamu Ayah.

Kenapa harus mendongeng?

Ayah sudah lama nggak dengar kamu mendongeng.

Dan, tamu Ayah pasti senang dengar dongeng kamu.

Mau, ya, Sayang?

Nadia sudah lama nggak mendongeng.

Kamu sudah lama nggak mendongeng?

Tamu kita sudah datang. Aku siap-siap dulu.

Akbar, kamu juga siap-siap. Jangan main terus.

Iya.

Hei.

Gimana?

Sama saja. Sudah, ayo cepat. Sudah ditunggu.

Ini pasti Bu Mei Rose yang pernah tinggal di kota Szentendre.

Punya butik?

- Bukan mahram. - Ini kakaknya Panji Rindualam.

Pemandu wisata kita waktu di Budapest dulu.

Panji Rindutenteram.

- Jadi, Mas Panji? - Panggil saja saya Teram.

- Trump? - Bukan Trump, tapi Teram.

- Jangan bikin susah orang. - Jadi, Mas Teram yang sudah bantu Mas Pras?

Seperti nama saya, membawa kebahagiaan untuk semesta.

Karena "tenteram" itu ada singkatannya. "Tentunya ramah dan menyenangkan".

Pras! Suami yang baik.

Suami yang baik, tampan, istri yang baik.

Ini keluarga idaman, ya? Ya, bagus kalau semua seimbang.

Sebenarnya, orang yang kuceritakan tadi ada di mobil itu.

Aku sengaja nggak cerita ke kamu siapa malaikat penyelamat kita.

Ternyata dunia sempit sekali, Mei.

Selamat malam.

- Ray. Selamat malam, Mas Pras. - Malam, Pak Wardoyo.

Mbak Mei Rose.

Maaf.

Bu Mei sudah kenal dengan Pak Wardoyo?

Kebetulan, Pak Wardoyo ketua yayasan sekolahnya Akbar.

Wow. Luar biasa sekali. Wow.

Sungguh kebetulan yang sangat luar biasa, ya?

Tambah lagi, Pak Wardoyo. Masih banyak.

Pak Teram, tambah lagi.

Enak sekali, ya? Ya.

Enak sekali ini, Mas Pras.

Pras.

Ini sop buntut seperti Arini yang masak. Bisa enak begini, Pras.

Ilmunya sudah turun ke Mei.

Bagaimana caranya Mas Pras, menurunkan ilmu memasak dari almarhum Mbak Arini ke Mbak Mei Rose?

Arini selalu mencatat setiap menu kesukaan saya di sebuah buku.

Sebelum meninggal, buku itu diberikan ke Mei Rose.

Nggak bisa dipercaya.

Pak Wardoyo. Bukan cuma itu, Pak.

Coba lihat penampilannya Mbak Mei Rose.

Sudah mirip dengan almarhumah Mbak Arini.

Tapi memang sepertinya Mbak Mei Rose sudah mewarisi sikap untuk jadi istri yang salehah.

Istri yang baik untuk Pras, dan ibu yang baik untuk Nadia.

Bagus.

Mas Pras, Anda beruntung sekali punya perempuan-perempuan hebat dalam hidup Anda.

Anak-anaknya juga, Pak.

Akbar juara lomba mengeja, Pak.

Nadia lomba menari. Juara, Pak.

Ada YouTube-nya lagi, Pak. Ini.

Ada YouTube-nya. 5.000 pelanggan.

Lihat saja.

Kenapa?

Makan.

Nadia.

Ayah mau bicara.

Kenapa, Yah?

Soal kanal YouTube kamu.

Memang kenapa, Yah?

Semua teman Nadia juga punya.

Kamu yakin itu pilihan kamu?

Nadia suka, Yah.

Ingat, Nadia...

...nggak semua yang kita suka baik buat kita.

Nanti kamu juga mengerti.

Ayah sayang Nadia.

Pak Wardoyo mengundang kita semua untuk mengunjungi perternakannya lagi.

- Mas. - Ya?

Sebaiknya Mas batalkan kerja sama sama dia, Mas.

Kenapa?

Rasanya niatnya nggak baik, Mas.

Nggak tulus mau membantu Mas.

Jangan suudzon, Mei.

- Bukannya suudzon, Mas... - Bunda.

Boleh minta tolong antar Nadia ke sekolah?

Nadia lupa mengerjakan PR.

Ya.

Ya sudah, ya, Ayah.

- Assalamualaikum. - Mbok.

- Ayo, Bunda. - Mbok, tolong panggil Akbar.

Suruh dia cepat, Mbok.

- Yah, Akbar duluan, ya. - Oke.

- Assalamualaikum. - Wa'alaikumsalam.

- Berangkat, ya, Mas. - Ya.

- Assalamualaikum. - Wa'alaikumsalam.

- Hati-hati, ya. - Iya.

Sayang, Bunda nggak antar masuk, ya? Bunda masih mau bicara sama ayah.

- Akbar. - Pagi.

Hai.

Katanya mau langsung balik, Bun?

Bunda mau bicara sama Pak Wardoyo sebentar.

- Nanti. - Nanti saja? Selamat pagi.

Nanti diantar sama Bu Welas. Nadia sudah sarapan? Mau roti lapis?

Mau? Nanti diantar Bu Welas, ya.

Selamat pagi.

Pagi.

- Bisa bicara sebentar? - Bisa. Di ruangan saja. Ayo.

- Permisi, Pak. - Ya?

Saya ada janji bertemu dengan Pak Sastrowardoyo.

Aku minta kamu batalkan niat kamu untuk membantu Mas Pras.

Salah aku di mana?

Masa aku salah mencoba untuk membantu suamimu?

Orang dia lagi kesulitan.

Niat kamu untuk membantu Mas Pras punya motif lain, Ray.

Aku ingin bisa memiliki kamu kembali, Mei.

Ingin bisa memberikan semua yang aku punya.

Buat kamu. Akbar.

Aku sudah punya kehidupan lain.

- Kamu nggak mengerti. - Aku orang yang paling mengerti kamu.

Lebih dari siapa pun, termasuk Mas Pras.

Kamu mulai ngaco.

Jauhi aku dan Akbar.

Kamu selama ini cuma jadi Arini untuk Mas Pras, 'kan?

- Apa maksudnya? - Kamu tinggal di rumah Arini.

Memasak dengan buku masak Arini. Menjadi ibu untuk Nadia dengan gaya seperti Arini.

- Yang benar saja, Mei. - Kamu nggak mengerti.

Kalau aku nggak mengerti, coba sekarang kamu lihat aku.

Ayo, lihat aku dulu.

Coba kamu lihat aku dan bilang. Ayo, lihat aku dulu.

Bilang sama aku kalau Mas Pras betul-betul mencintai kamu.

Mei, buat Pras, yang ada di hatinya cuma Arini. Sampai kapan pun, kamu akan selalu jadi nomor dua.

Mengerti, nggak?

Buat aku, kamu satu-satunya yang aku cintai.

Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu, dan Akbar, tentunya.

Bu Mei.

Tidak bareng dengan bapak tadi, Bu?

Bapak siapa, ya?

Pak Pras. Katanya beliau ada janji dengan Pak Sastrowardoyo.

Mas!

Mas!

- Mbok, bapak di mana? - Di atas.

Mas!

Mas.

Ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan Ray?

Ray adalah laki-laki yang dulu meninggalkan aku.

Dia laki-laki yang dulu meninggalkan kamu?

Jadi, dia ayah kandungnya Akbar?

Dan, kamu nggak cerita sama aku?

Mas.

Aku sudah berusaha untuk terus terang, tapi waktunya nggak pernah pas.

Kita satu rumah, Mei!

Sebentar. Jadi, semalam dia makan di rumah kita...

...di depan aku...

...dan sikapmu menunjukkan seolah-olah sama sekali nggak kenal dia.

Bukannya kamu sudah pernah bertemu dia di peternakan?

Sandiwara apa yang sedang kalian mainkan?

Mas.

Tadi pagi aku sudah bilang sama kamu kalau aku khawatir sama niatnya dia.

Tapi kenapa semalam kamu tetap pura-pura nggak kenal dia?

Demi Allah, Mas. Demi Allah, aku berusaha terus terang, Mas.

Mas. Mas mau ke mana?

Mas.

Mas.

Maafkan aku, Mas.

I-G-E-R.

Itu gampang. Kalau "saber-toothed tiger" (kucing bergigi pedang)?

Bergigi pedang? Apa itu?

T-I-G-E-R.

Bilang apa tadi?

Kucing bergigi pedang itu hewan purbakala.

Dia punya dua taring besar di depan mulutnya.

Sudah tiga hari gue didiamkan Mas Pras.

Lebih baik didiamkan tiga hari...

...daripada diberikan alamat pengadilan agama terdekat.

- Bisa nggak menyahut? - Saya lagi serius, Bu Dara.

Rumah tangga yang benar itu saling terbuka.

Kalau tertutup, namanya rumah hantu.

Seram seperti Bu Dara.

Bosan gajian ini anak, lama-lama gue perhatikan.

Mima benar.

Seharusnya gue terus terang sama Mas Pras. Keadaannya pasti beda.

Belum tentu. Laki-laki itu adalah makhluk yang paling sulit untuk jadi apa adanya.

Mereka selalu menuntut apa yang mereka pikirkan. Itu laki-laki. Biar lo tahu.

Itu mirip sekali dengan saya punya pacar. Maunya didengar, tapi tidak pernah mau mendengar.

Giliran salah, malah balik menyalahkan.

Menyebalkan sekali, 'kan? Makanya saya tidak pernah mau jadi laki-laki.

Memang ada laki-laki yang mau sama lo?

Rose, gue paham banget kalau lo nggak bermaksud untuk berbohong.

Tapi lo harus tetap ngomong masalah ini ke Pras. Tentang Ray.

Rose.

Apa pun risikonya, sabar.

Iya, Bu Mei Rose. Sabarlah seperti bangau.

Walau sudah terbang tinggi, ujung-ujungnya tetap jadi kecap.

- Kita lagi serius, kenapa ngomong begitu? - Jangan pukul-pukul!

Itu ada CCTV. Saya viralkan Ibu di Instagram.

- Baru dibekuk polisi. - Gue nggak takut. Orang lagi serius.

Pras, ente udah ngediamin istri tiga hari.

- Hati-hati zalim, Pras. - Bawel lo, ya. Pras juga tahu soal itu.

Orang muslim haram ngediamin mahram-nya lebih dari tiga hari.

- Ya, 'kan, Pras - Tapi ane bingung, Pras.

Mei Rose mendatangi ayahnya Akbar. Apa tujuannya?

Mau nikah lagi? Apa poliandri?

Hei. Abu Lahab.

Pras curiga kalau Mei masih suka sama Ray. Secara, Mei nggak kasih tahu...

...dan menyembunyikan pertemuan dia sama Ray.

Hartono. Bodoh kadang-kadang, ya. Masa ente lupa?

Dulu waktu Pras nikah sama Mei, nggak izin sama Arini.

Tahu-tahu, Mei sudah jadi istri kedua.

- Hubungannya apa? - Bisa saja Mei nggak bilang sama Pras...

...tahu-tahu nikah lagi sama Ray. Jadi dia jadi suami kedua.

Atau, jangan-jangan kebalikannya. Justru Ray sama Mei belum pernah cerai.

Rusak otak lo.

Kita nggak tahu, 'kan?

- Pras, mau ke mana? - Pras.

- Mau ke mana? - Lo! Ngomong sembarangan.

Bukannya membantu, malah bikin rusuh.

- Memang ente membantunya? - Bodo amat!

Hei, jangan cabut! Ini belum dibayar!

Hei!

Pras!

Bayar, Pras!

Coba eja ini.

Horse (kuda).

H-O-R-S-E.

Benar.

Kamu masih mencintai dia?

Jujur saja, Mei.

Tidak sama sekali, Mas.

Jadi apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian di peternakan?

Ray menceritakan kejadian 9 tahun yang lalu.

Bahwa sebenarnya dia tidak pernah meninggalkan aku.

Justru, dia melindungi aku dari orang-orang yang diutangi papa.

Karena bisa membahayakan aku.

Lima tahun dia di penjara...

...karena berkelahi dengan mereka.

Sampai salah satu dari mereka terbunuh.

Dia...

...meminta aku dan Akbar untuk kembali.

Tapi aku nggak mau, Mas.

Dia...

Dia kenapa?

Dia kenapa, Mei?

Mei.

Dia...

...mau menciumku, Mas.

- Tapi itu bukan yang aku inginkan. - Nadia dan Akbar di mana?

Di luar, Mas.

Memangnya kalian di mana?

Di kamar Ray.

- Mas, demi Allah, nggak seperti yang kamu... - Jangan bawa-bawa nama Allah, Mei!

Kamu punya pilihan untuk tidak berada di kamar itu sementara Nadia dan Akbar di luar!

Tapi aku jatuh, Mas. Aku pingsan...

Apa yang terjadi antara kamu dan Ray, hanya Tuhan yang tahu.

Mas, tapi aku nggak pernah...

Mei, kenyataannya kamu sudah bersandiwara di hadapanku...

...dengan laki-laki yang Ayahnya Akbar. Dan, kamu tidak terus terang sama aku!

Aku kecewa sama kamu, Mei.

Bukan ini surga yang kurindukan.

Ya Allah...

Ente talak, Pras? Astagfirullah.

Talak apa? Sok tahu banget lo.

Terus, apa namanya? Pisah, 'kan?

Baru pisah rumah.

Itu namanya talak, sapi kurban!

Aku belum melakukan apa-apa ke Mei.

Aku akui aku marah, kecewa.

Sikapku mungkin salah. Egois, atau apa namanya.

Intinya, aku perlu waktu sendiri dulu.

Maaf banget.

Ini ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak begini?

Ini tidak profesional. Hargai saya.

Saya sudah begadang, bikin "surat janji" ini.

Surat perjanjian.

Maaf, Teram. Setelah kita melakukan rapat secara internal, kita memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama ini.

Kasih saya alasan yang masuk akal.

- Oke. - Masa begini saja?

Kami ada masalah yang tidak bisa kami ceritakan...

Klise. Basi. Jangan kasih alasan seperti itu ke saya.

Itu alasan perempuan yang mau memutuskan pasangannya.

Yang "kita sebenarnya dalam satu buku, tapi di halaman yang berbeda".

"Aku di daftar pustaka, tapi kamu di..."

- Basi. - Pak Ray.

Pak Ray adalah ayah kandung dari Akbar.

- Bagus, dong. - Bagus bagimana?

Pak Ray, ayah kandung Akbar.

Bu Mei Rose, ibu kandung Akbar.

Pak Pras, suami Mei Rose.

Pak Pras dan Pak Ray, saudara.

Cocok, 'kan?

Bodoh ini orang.

Hei, bos ente masih simpan perasaan sama istri bos ane.

- Mengerti, nggak? - CLBK?

CLBK? CLGM!

Apa itu?

"Cinta Lama gagal melanjutkan hidup." Pokoknya, BBRT.

- Apa lagi itu? - "Bahaya bagi rumah tangga."

Bisa BRB, dong?

- BRB apa? - Berabe.

Berarti ini lebih dari BRB. Ini ABCDEFGHIJ!

- Apa itu? - Abjad.

Bisa A.N.J.A.Y, dong?

Hei! Bisa serius nggak kalian berdua?

Dia yang mulai!

- Nggak, saya mengikuti dia. - Sudah, sudah. Bawa keluar.

Sudah. Sudah sana, cepat.

Pikirkan lagi.

- Cepat. - Intinya, perjanjian kita batalkan...

...demi kelangsungan rumah tangga sahabat kami.

Tapi kalau perjanjian dibatalkan, Pak Pras terancam kehilangan rumahnya.

Bukan urusan kita.

Hari ini insyaAllah beres, Mas.

Ya, besok Mas Harin dan keluarga sudah bisa masuk rumah ini.

Besok sekalian saya kirim kopi kontraknya.

Nanti kalau sudah saya kirim, saya kabari.

Nggak masalah, Mas.

Itu gampang.

Ya, terima kasih.

Nadia. Ayo.

Ayo, Nadia.

Aduh. Masih banyak lagi.

Ayo. Kenapa berhenti?

Pusing, masih banyak.

Biarkan saja.

Maaf, ya, Ra.

- Gue jadi merepotkan lo. - Nggak apa-apa, Sayang.

Seperti sama siapa saja lo.

- Sini, sini. - Boleh, tolong...? Berat. Hati-hati, ya.

Bu Mei Rose sampai bawa banyak barang.

Seperti mau pindahan.

Komentar terus. Mirip Facebook, si Mima ini.

Yang sabar.

Allahuakbar.

Assalamualaikum warrahmatullah.

Assalamualaikum warrahmatullah.

- Mbok, tolong ambilkan saus. - Ya.

Makan, Nadia. Kamu mau ini?

- Ini, Pak. - Terima kasih, Mbok.

Selamat pagi.

Mau sekolah, si ganteng?

Yang pintar, ya, Nak.

Ayah!

Ayah!

Bunda.

Ayo masuk. Nanti telat.

Dah, Bunda.

- Assalamualaikum. - Wa'alaikumsalam.

- Assalamualaikum, Ayah. - Dah, Bunda.

Astagfirullah!

Maaf, Pras. Ane kepo.

Soalnya ane bingung, kenapa Mei Rose mau balikan sama Ray.

Padahal dia sudah menikah.

Mei juga manusia.

Tapi, Pras...

Apa segitunya Mei Rose mau balikan sama Ray?

Siapa yang tahu? Dia yang punya hati.

- Ini nanti... - Tunggu sebentar, Mas.

Aneh juga.

Kenapa?

"Kenapa"? Ini.

Permisi.

Masuk, yuk.

Saya mau jemput Akbar, Bu.

Sudah lama Ibu pengin punya kesempatan untuk bisa bicara dengan kamu.

Sebentar saja.

Ayo.

Maaf, Bu. Tapi Ibu nggak bisa mengambil Akbar begitu saja seperti tadi.

Sejak Ray membeli sekolah yayasan itu...

...Ibu belum pernah sempat ke sana.

Kebetulan tadi Ibu mampir.

Ketemu dengan Akbar.

Dan...

...ada perasaan yang mendorong Ibu untuk bawa Akbar ke sini.

Ya, tapi Akbar masih ada saya, Bu. Ibunya.

Iya.

Ibu tahu.

Tapi Ibu juga pengin kamu tahu...

...sejak Ray keluar dari penjara, hidupnya hanya seperti membuang waktu.

- Sudah nggak ada lagi cinta... - Ibu.

Sudah, Bu. Saya nggak mau berada dalam situasi ini lagi.

- Saya sudah punya kehidupan lain. - Mei.

Ibu minta tolong. Ini kesempatan Ray...

...untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang dia cintai.

Terus, kebahagiaan saya? Suami saya? Keluarga saya?

Apa kamu bisa menjamin bisa kembali bahagia dengan Pras?

Akbar. Ini.

- Kamu suka es krim vanila, ya? - Iya.

Sama.

Akbar.

Bapak boleh tanya sesuatu?

Boleh.

Bunda...

...pernah cerita soal siapa ayah Akbar sebenarnya?

Kata bunda...

...ayah Akbar sudah pergi jauh, dan nggak akan balik lagi.

Kalau Akbar sendiri, mau ketemu sama ayah kandung Akbar?

Nggak usah dijawab.

Halo?

Pras, ente nggak boleh diam saja. Status dia masih bini ente.

Sudahlah, nggak usah dibahas.

Ya sudah. Terserah ente, bagaimana baiknya.

Terima kasih, ya. Sudah perhatian sama kondisi gue.

Iya.

Bagus. Kalau begitu, kamu lebih cocok sama dia, bukan sama aku.

- Kamu sama dia sana. - Arini! Dengar dulu!

Sudah cukup!

Semakin kamu menjelaskan ke aku, hati aku semakin sakit, Mas!

Surga kita bangun bersama-sama sudah kamu hancurkan...

...dan aku sudah nggak merindukan surga itu lagi!

Aku mau kamu jangan menceraikan Mei.

Nggak.

Apa pun akan kulakukan, kecuali itu.

Demi aku. Demi Nadia, Mas.

Kamu tidak akan pernah tergantikan, Rin.

Aku lebih memilih hidup berdua saja dengan Nadia.

Nggak, Mas. Kamu nggak boleh sendirian.

Aku nggak mau. Nadia butuh ibu.

Nadia butuh ibu.

Ayah?

Iya?

Nadia boleh tidur di sini, nggak, Ayah?

Nadia takut.

- Mbok mana? - Mbok sudah tidur di kamarnya.

- Nggak apa-apa, 'kan? - Ya, nggak apa-apa.

Loh?

Kamu mau ke mana?

Tidur di sini, 'kan?

Oh, ya. Oke.

Ayah.

Ya?

Nadia kangen sama bunda.

Besok kita ziarah ke makam, ya.

Maksud Nadia Bunda Mei.

Buat testimoni.

- Sekarang? - Sekarang.

Bilang, "Hari ini bazar lagi ramai. Jangan sampai kehabisan..."

Nadia.

- Nadia kangen. - Bunda juga kangen banget.

Kalian dari mana? Bukannya seharusnya les?

Nadia nggak bisa fokus, Bun.

Makanya, minta antar Keenan ke sini.

Nad, aku pamit dulu, ya.

- Mau edit video tari kamu. - Iya.

- Siang, Tante. - Siang.

- Nadia boleh tanya, nggak? - Apa?

Bunda nggak mau kembali ke kontrakan ayah, ya?

Ayah lagi butuh waktu sendiri.

Bunda harus menghargai.

Bunda pasti belum lihat kanal YouTube, 'kan? Yang aku buat sama Keenan.

- Sudah dibuat, ya? - Pelanggannya sudah 10.000.

- Banyak banget! - Nadia jadi semangat buat bikin kontennya.

Lihat, Bun.

Mei.

- Mei Rose. - Ya?

Ayo. Bisa sekarang?

Bikin testimoni-nya juga sama Nadia, ya?

Boleh.

Ayo.

Bunda nggak mampir dulu?

Bunda mau jemput Akbar. Dia baru selesai pramuka.

Baru sejam lagi.

Ayo.

Bunda nggak kangen sama ayah?

Ayah kangen, nggak, sama Bunda?

Ayah sayang sama Bunda.

Bunda sayang sama ayah, 'kan?

Ayo, Bun.

Bu Mei! Aku kangen! Bu Mei jangan pergi lagi!

Bu Mei!

Aku juga kangen, Mbok.

- Mbok. - Ya?

- Resepnya Mbak Arini di mana? - Itu di atas.

Itu.

Apa, sih?

Bunda kenapa kalau mau masak harus pakai resepnya Bunda Arini?

Karena...

...masakannya Bunda Arini enak banget.

- Bunda bohong, ya? - Kenapa bohong?

- Jujur, ayo. - Bunda jujur.

Pras.

Kenapa bengong liat bekalnya Amran?

Mei pernah bikinkan fu yung hai.

Tapi...

Gue jarang mencobanya.

Kenapa? Nggak enak?

Atau, bukan dari buku masak Arini, ya?

Memang beda. Masakan istri salehah, sama istri yang nusyuz.

"Nusyuz"? Sudah seperti yang paling benar saja.

Memang benar! Tanya saja Pras. Ya, Pras?

Aku nggak tahu dia selingkuh atau nggak.

Yang pasti, dia nggak terus terang.

Dulu lo juga nggak terus terang sama Arini.

Waktu menikahi Mei Rose.

Lo juga nusyuz, dong?

Assalamualaikum.

Wa'alaikumsalam, Pak.

- Siapa yang bereskan kardus, Mbok? - Saya.

- Kenapa nggak menunggu saya? - Bapak pulang malam.

Nadia mana?

Nadia tidur, Pak.

Pak, sudah makan malam?

Besok saja, Mbok. Saya mau langsung tidur.

Fu yung hai, Pak.

Coba dulu.

Enak, Pak? Saya ambilkan piring, Pak.

Ini. Pakai nasi, Pak.

Mbok bisa juga masak begini.

Bukan saya sebenarnya yang masak.

Siapa?

Nadia?

- Bukan. - Siapa, Mbok?

- Anu... - Kenapa lama banget jawabnya?

Bunda Mei, Yah.

Kenapa Bunda Mei bisa ke sini?

Pak, saya ke belakang dulu, ya.

Tadi Bunda Mei mengantar Nadia pulang.

Terus, Nadia paksa Bunda Mei mampir.

Nadia boleh kasih liat sesuatu, nggak, Yah?

Tapi Ayah habiskan dulu.

Nggak, nggak apa-apa. Sini Ayah lihat.

Video blog kamu yang baru?

Video tari?

Bunda kenapa kalau mau masak harus pakai resepnya Bunda Arini?

Soalnya...

...masakannya Bunda Arini enak banget.

Makanya, Bunda mau masak pakai resepnya Bunda Arini.

- Bunda bohong, ya? - Kenapa bohong?

Jujur, ayo.

- Nadia boleh minta sesuatu, nggak, Bun? - Apa?

Boleh nggak, buat hari ini saja, Bunda masak pakai resep Bunda sendiri?

- Ya, nggak, Mbok? - Iya, Bu.

Pakai resepnya Bu Mei Rose.

Pernah, sih. Tapi Bunda buang.

Kenapa begitu? Takut ayah nggak suka, ya?

Bukan takut.

Bunda cuma mau jaga perasaan orang yang Bunda sayang.

Kalau kita sayang sama orang...

...kita pengin orang itu senang, 'kan?

Bunda nggak pengin...

...dengan masakan Bunda, malah bikin orang yang Bunda sayang nggak bahagia.

Perempuan nusyuz itu seperti apa Ustaz?

Hati-hati menggunakan kata "nusyuz".

Apalagi terhadap istri kita sendiri.

Bisa jadi fitnah.

Dan, dosanya lebih besar.

Kalau menutupi kenyataan?

Tidak terbuka dengan suami?

Bisa dibilang "nusyuz"?

"Nusyuz" berasal dari kata "nasyazan wa nusyuzan"...

...yang artinya sesuatu yang tinggi, menonjol.

Jadi, sikap nusyuz adalah sikap tinggi hati.

Merasa paling "tinggi" di antara pasangan...

...sehingga tidak hormat, dan disebut sebagai durhaka.

"Nusyuz" tidak hanya berlaku untuk perempuan.

Tapi laki-laki juga bisa.

Penanganannya juga berbeda, dan ada tingkatannya.

Mulai dari berbohong, hingga melakukan hubungan badan...

...dengan laki-laki atau perempuan yang bukan mahram.

Seorang suami yang menemui istrinya...

...berbuat nusyuz, boleh menghukumnya.

Mulai dari menasihatinya baik-baik, pisah ranjang...

...hingga memukulnya.

Tapi ingat, tidak boleh memukul di tempat yang bisa menimbulkan luka yang serius.

Dan, niatnya tidak boleh menyakiti.

Apalagi menyiksanya.

Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil...

...di antara istri-istrimu.

Walaupun kamu ingin sekali melakukannya.

Janganlah terlalu berat pada satu hal, dan mengabaikan hal lain.

Jika kamu memperbaiki diri dan memelihara diri, maka Allah akan menyayangimu.

Akbar kangen ayah, Bun.

Kangen salat subuh bareng.

Ayah.

Aku boleh ikut salat subuh, nggak, Yah?

Boleh.

- Ayo. - Ayo.

Loh?

Ada Bunda sama Akbar.

Ayah!

Allahuakbar.

Allahuakbar.

Assalamualaikum warrahmatullah.

Yang itu lucu banget.

Keren, Kak.

Yang benar?

Kenapa, Kak...

...ayah sama bunda sampai harus pisah rumah seperti ini?

Akbar kalau lagi main bola, ada istirahatnya, nggak?

Ada, lah. Masa main terus? Capek, dong.

Ayah sama bunda lagi begitu.

Mereka lagi istirahat.

Memang ayah sama bunda lagi main bola?

Aku akan tetap jadi ayah Akbar.

Sekalipun kamu kembali sama Ray.

Kenapa Mas punya pikiran aku akan kembali sama dia?

Ray ayah kandung Akbar. Dia sangat mencintai kalian.

Dan...

...secara materi juga jauh lebih mapan dari aku.

Mas.

Kalau ada yang tidak bisa dibeli dengan uang...

...salah satunya adalah hati.

Ray sudah berkorban untuk kamu.

Mas juga sudah berkorban untuk aku.

Rumah tangga Mas Pras dan Mbak Arini taruhannya.

Tapi, kalau Mas sudah tidak menghendaki aku lagi...

...aku terima dengan ikhlas, Mas.

Kamu imamku.

Tapi, jangan pernah minta aku untuk kembali sama dia, Mas.

Maaf, Mas. Aku harus mengantar Akbar sekolah.

Akbar.

Ayo berangkat.

- Dah, Kak. - Dah.

Iya.

Tunggu sebentar, ya.

Rose.

Mau sampai kapan lo begini?

Sampai hari ini, Ra.

Gue mau cari rumah kontrakan.

Biar gue nggak usah merepotkan lo.

Mas Pras juga sudah nggak mau gue kembali.

Bagaimana? Gue nggak mengerti. Maksudnya, kalian berdua sudah mengobrol?

Kapan?

Tadi pagi.

Mima.

Ya, Bu Mei Rose?

Kamu carikan saya kontrakan, ya.

Nggak usah yang besar-besar. Yang penting bersih, murah.

Ya?

Bu Mei Mei, anu...

- Itu... - Kenapa?

Akbar dibawa lagi sama Pak Ray?

Iya, betul. Tapi...

"Terima kasih untuk informasinya. Bu Welas memang baik banget."

Hati-hati.

Akbar.

Ayo pulang.

Benar, ya, Bunda?

Oma Nungki neneknya Akbar?

Kurasa sudah saatnya Akbar tahu siapa bapak kandungnya, Mei.

Benar, ya, Bun?

Oma Nungki nenek Akbar.

Dan Pak Ray...

...ayah Akbar.

Akbar.

Mulai sekarang, Akbar jangan panggil "Pak Ray".

Akbar panggil "Bapak". Ya?

Dengarkan dulu.

Akbar, sebentar saja.

Akbar, dengar dulu.

Kalau memang Bapak ayahnya Akbar...

...Bapak kenapa meninggalkan Akbar?

Bapak nggak pernah punya maksud mau meninggalkan Akbar.

Akbar, dengar dulu.

Bapak Ray tidak pernah meninggalkan bunda dan Akbar.

Ayah!

Bapak Ray tidak pernah jahat sama bunda dan Akbar.

Beliau justru melindungi bunda.

Sangat pemberani.

Seperti Akbar.

Akbar maunya pulang sama Ayah, Kak Nadia, dan Bunda.

Maafkan aku, Mei.

Seharusnya, aku tidak perlu menunda untuk memintamu kembali.

Sayangnya, aku laki-laki rapuh.

Egois.

Saya pernah berkorban untuk orang yang saya pilih.

Saya rasa kita berdua pernah sama-sama berkorban untuk orang yang kita pilih, Mas Pras.

Tapi untuk Mei...

...saya tidak sekadar mengorbankan diri saya.

Ada orang lain yang juga jadi korban demi kebahagiaan Mei dan Akbar.

Orang itu adalah Arini dan Nadia.

Mereka yang menyadarkan saya bahwa hidup tak sekadar bicara tentang apa mau saya.

Tapi apa yang terbaik buat semua.

Saya harap...

...Anda mengikhlaskan Mei dan Akbar untuk melanjutkan hidup bersama saya.

Tapi Akbar anak kandung saya, Mas Pras.

Saya tidak bisa mengubah itu.

Silakan bertemu Akbar.

Kalau perlu, ajaklah tinggal di sini.

Tapi, atas izin Akbar dan ibunya.

Ray...

Untuk selamanya, kamu ayah Akbar.

- Untuk selamanya. - Terima kasih...

...sudah mengingatkan saya untuk membiarkan Mei Rose menjadi dirinya sendiri.

- Pras, selamat. - Terima kasih.

- Pras. - Ya?

Alhamdulillah, akhirnya rumah kontrakan jadi rumah sendiri.

Ran.

Pras sudah menikah dua kali.

Sudah punya rumah dua kali juga.

Lo sekali saja belum!

Ente jangan mengajak ribut.

Jangan mulai.

- Gue balik ini. - Jangan, dong.

Lebih bagus yang ini.

- Kamu mau minum, nggak? - Boleh. Ambilkan, ya, Kak.

Sebelum kekenyangan, kita foto bareng dulu, yuk.

- Ayo. - Ayo. Nadia.

Mbok, foto dulu.

- Ayo, Ran. - Ayo yang mau ikut foto.

Mima harus kelihatan.

Senyum, ya.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.