Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Suaramu adalah perwujudan sebuah lagu.
Kau mungkin telah meninggalkan dunia ini,
tapi suaramu akan terus hidup.
Aku menyayangimu dan berterima kasih atas segalanya, Pak.
Cinta yang begitu hebat
hanya ada di buku sejarah dan kuburan.
Setelah jadi pernikahan dan keluarga,
cinta sama sekali tidak hebat.
Itulah sebabnya,
cinta hanya ada dalam sejarah.
Tidak ada masa depan dalam masyarakat.
Paham?
MASA KINI 2002
KOTAGIRI SESHARAYANAM KETUA DEWAN WILAYAH
SELAMAT ULANG TAHUN KOTAGIRI SESHARAYANAM
- Govindu? - Ya?
Sudah pukul 07.00. Antarkan Bebamma ke kampus.
Hei! Siapkan pakaian Bebamma.
- Bebamma akan pergi kuliah. - Begitukah?
Itu Bebamma.
Hei, Ninety Prakasha.
Ayo kita intip Bebamma.
Jika Rayanam tahu, kita akan mati.
Kita pastikan agar jangan sampai ketahuan. Ayolah.
Ayo! Lebih cepat!
Mendekatlah sedikit. Itu dia.
Jangan ganggu. Biarkan aku mengemudi.
- Kita harus melihatnya hari ini. - Tentu, bersabarlah.
Mobilnya menjauh. Susul! Ayo!
Beraninya kalian mengikuti mobil Bebamma?
Beraninya mengikuti Bebamma.
Kumohon. Tidak akan kami ulangi.
Tampaknya para berandal itu mengejar Bebamma.
Habislah mereka.
Tolong izinkan aku ikut jam pertama untuk Sesi B.
Tidak. Kau mengambil semua jam pertama pekan lalu.
Kumohon, Bu. Aku merasa agak lemah.
Tidak, itu mustahil.
Tolonglah.
Baiklah. Silakan.
Terima kasih.
Para murid, hari ini, topik kita adalah benzena.
Ini tentang klasifikasi ekologi tanaman.
Bebamma orang yang sangat baik.
Dia memberi baju baru untuk anakku dan seribu rupe untukku.
Majikanku sangat kikir.
Petugas pajak penghasilan datang.
Pak Rayanam?
Pak Rayanam?
Pak, ada apa datang kemari?
Pak Rayanam ada di atas. Silakan duduk, Pak.
Tidak ada waktu untuk itu.
Ini dokumen properti yang berusia 150 tahun.
Aku dapat semuanya.
Kini Pak Rayanam bisa melanjutkan konstruksi pemancingannya dengan mudah.
Panggilkan dia.
Baik, Pak.
Sudah 40 menit. Minta dia bergegas.
Dia akan segera datang. Sabar.
Hei, kau mau turunkan barang berapa lama?
Pak Rayanam?
Pak Rayanam?
Bebamma…
Cukup belajarnya hari ini, Sayang.
Ini sudah cukup larut.
Minum susu ini dan tidurlah.
Cukup, Sayang.
Singkirkan buku-buku itu.
Dengarkan Ayah. Minum susu dan tidurlah.
Kau anak baik, bukan?
Ayah bicara kepadamu.
Dengarkan Ayah.
Minumlah.
Cukup belajarnya hari ini.
Sudah pukul 07.00. Siapkan Bebamma.
Jadi, murid-murid…
Dia memberiku seribu rupe.
Pak…
- Kau tidak boleh ke sini. Ayo. - Tidak ada orang di sana.
- Dia bicara dengan kursi kosong. - Ada.
- Kalian semua gila? - Pergilah.
- Siapa pun bisa tahu yang sebenarnya. - Tolong pergi…
Pak Rayanam…
Pak Rayanam. Pak…
Aku bersalah.
Maafkan aku, Pak…
Pak Rayanam.
Pak…
Aku percaya putriku ada di sini.
Orang-orang di rumahku memercayainya.
Seluruh desa memercayainya.
Sekarang kau ingin pergi
dan bilang bahwa putriku tak ada,
merusak keyakinan kami?
Jika harus memilih membunuh keyakinan kami atau membunuhmu,
aku akan membunuhmu.
Pak Rayanam…
Bagaimana?
Aku juga bisa melihat Bebamma.
Pak Rayanam…
Aku asisten terpercayamu.
Kita berdua dari kasta yang sama.
Usir dia, Kawan-kawan.
Ayo, Pak. Kenapa tidak pergi dari tadi?
Dasar bodoh!
Kenapa kau menghajar petugas kantor pajak itu?
Dia mengatakan yang sebenarnya.
Sudah hampir lima bulan sejak putrimu meninggalkan rumah.
Kau membuat seluruh desa percaya bahwa dia masih di rumah.
Kau tidak perlu mengkhawatirkan kehormatanmu.
Itu karena kau punya seorang putra dan putri.
Putrimu pergi di siang hari,
dan putramu membawanya pulang di malam hari.
Tapi, Ayah, aku hanya punya seorang putri.
Saat aku tidak tahu di mana dia,
sulit sekali bagiku untuk keluar dengan bangga!
Kau tahu itu?
Jika pria itu kutemukan, dia akan tamat, sebaliknya aku akan mati.
Paham?
BEBERAPA BULAN LALU
Tarik!
Abbulu, kau demam. Kenapa datang ke sini?
Dokter berengsek! Kau menusuk bokongku.
Kau demam. Sudah kubilang jangan bekerja.
Siapa yang akan memberiku makan? Kau?
Jika kau tidak pulang, aku akan menusukmu lagi.
- Aku akan berikan resep kepada istrimu. - Enyahlah!
Aku penasaran apa hasil tangkapan kita cukup banyak.
Kalian dapat sesuatu?
Sial! Lagi-lagi, kita tak menangkap satu ikan pun.
Sial! Ini laut yang sama dan tipe kapal yang sama.
Mereka beruntung dan kita sial.
Kita harus pulang tanpa hasil juga hari ini?
Kenapa harus begitu?
Ayo kita potong jaring mereka. Maka semua pulang dengan tangan kosong.
Apa ini? Kenapa jaringnya ringan sekali?
Hei!
Orang-orang Mayapatnam itu merobek jaring kita lagi!
Hei, Aasi!
Aasi, mereka kabur. Lebih cepat!
Aasi. Hentikan.
Jangan berkelahi. Berhenti.
Beraninya datang ke sini dan merobek jaring kami? Kau…
Sial!
Beraninya kalian berdua melakukannya.
Kami berempat. Kenapa kau bilang dua?
- Karena itu kata "empat." - Lalu?
Dia gagap saat mengucapkan kata itu. Itulah sebabnya
dia membagi kalian menjadi dua sebelum memperingatkan kalian.
Bayar kompensasi untuk jaring dan ikan yang hilang.
Bayar!
Untuk apa? Kau melihat kami merobek jaringmu?
- Omong kosong! Bayar. - Tidak. Kenapa?
- Pukul mereka. - Kami tak akan bayar.
Kami tidak akan membayar.
Hanya karena punya pisau, bukan berarti kami merobek jaringmu.
Kau melihat kami melakukannya?
Hei, Thalimpu.
Bus akan datang ke desa.
Ayo, kita ke kampus.
Aku akan mandi dan kembali.
- Bersiaplah. - Baik.
- Aku melihat gaun bagus di pasar. - Apa kata ibumu?
- Aku diminta merebut kendimu. - Airku!
Pergilah. Berhenti!
Nookalamma, apa yang terjadi?
Dia mencuri airku. Sialan!
Pergilah.
Kenapa kau selalu mengejar dia? Apa kau tak punya kesibukan?
Di mana kemejaku? Tidak ketemu.
Kudengar kau berkelahi dengan orang-orang dari Mayapatnam.
Berhentilah bertanya pagi-pagi sekali, Ayah.
Aku mencari kemejaku.
Kemeja yang mana?
Aasi, cepat.
Di mana?
Kemeja yang mana?
Yang ini!
Tunggu!
- Ayah sedang memakainya. - Ini kusetrika semalam.
- Dengarkan aku. Ayah harus pergi. - Lepaskan, Ayah.
Kau tidak punya kemeja lain?
- Tidak. - Ada apa denganmu?
Lihat ini. Bajuku jadi lecek.
Aasi…
Sebelum kau pergi, tolong bacakan satu bait dari Alkitab.
Itu penuh kata-kata yang tidak bisa kubaca.
Lewati kata-kata sulit dan baca sisanya.
Pekerjaanku banyak.
- Berapa lama lagi? - Lihat ke depan.
Bus itu akan datang?
Ya, sebentar lagi. Cepat!
- Aku sudah tampan? - Ayo.
BUS KAMPUS ADITYA
Bus akan pergi. Sudah lewat.
Nyalakan motornya.
- Ayo. - Naiklah.
Jalan! Cepat.
Dia di sisi ini?
Tidak, kurasa di sisi lain. Ayo!
Baiklah.
Sopirnya mungkin melihat kita. Hati-hati.
Teruskan.
Hei. Apa yang terjadi?
Ada apa dengan motor ini?
Motor ini mogok. Sial!
Awas! Hati-hati!
Tidak apa-apa.
PINTU DARURAT
Aku tahu Tuhan bisa mengabulkan permohonan.
Alasan kelahiranku sudah jelas.
Saat masih kecil, aku sadar aku ditakdirkan bersama siapa.
FESTIVAL BASHEER BIBI BANGARU PAPA THEERTHAM
Tiba-tiba, aku merasa ingin cepat dewasa.
Entah untuk mendapatkan cintanya,
atau mati jika gagal memenangkan hatinya.
Ibu.
Ibu tampak sangat cantik!
- Kanakam. - Ya, Pak.
Di mana kacamataku? Di mana kalian?
Kakekmu sungguh menyusahkan. Dia meneriakiku sepanjang hari.
- Hei, Kanakam! - Aku datang.
Jangan kesal, Kanakam. Kau akan segera tua,
seperti kakekku.
- Kanakam! - Kakek…
Jangan marah, Kakek. Kemarahan akan membuatmu lebih cepat tua.
- Baiklah. - Duduklah di sini.
Aku sudah tua karena sudah tua. Aku bukan menua karena marah.
Tidak, Kakek tampak lebih tua dari usia Kakek.
Benarkah?
Guru kelas tujuh memberitahuku
saat marah, tubuh kita mengeluarkan hormon
yang menyebabkan kerutan di kulit kita.
Kakek selalu marah. Karena itu,
Kakek tampak sangat tua.
Hei, berhenti.
Akhirnya, kau berhasil.
Kau membujuk ayahmu dan masuk universitas di kota.
Untuk kali pertama, ada bus yang datang ke desa ini.
Itu khusus untukmu.
Kau sangat cantik.
Perawakanmu bagus. Kenapa kau harus membawa beban ini?
Berikan tasnya. Ayo, berikan.
- Berikan kepadaku. - Tolonglah.
Tinggalkan aku sendiri, Jana.
Hei, Bebamma.
- Nookalamma? - Ya, Ayah?
Apa kata Tuhan pekan lalu?
Aku lupa, Pak Pendeta.
Sepertinya Pendeta kesal kepadanya.
Diam, Thalimpu.
Semuanya, keluarkan Alkitab kalian.
Menghindari ayah gadis yang kau cintai itu wajar,
tapi kau menghindari gadis yang kau cintai selama sepuluh tahun.
Kau tergila-gila kepadanya.
Jika aku bertemu dan melamarnya, dia akan menerima atau menolak.
Jika ditolak, aku tidak boleh melihatnya lagi.
Itu sebabnya aku mencintainya dari jauh.
Itu logikamu,
tapi kau melibatkanku. Aku mulai bosan dengan sandiwara ini.
Hei, Thalimpu! Diamlah.
Astaga! Pendeta marah.
Kejadian, bab tiga.
Pada awalnya, Tuhan menciptakan Adam.
Kemudian, saat Adam berkeliaran sepanjang waktu,
Tuhan khawatir dia akan jadi orang bodoh.
Jadi, Tuhan memanggil Adam dan berkata, "Mungkin sakit, tapi bertahanlah."
Tuhan mematahkan salah satu iga Adam dan menciptakan Hawa.
Menurut Alkitab, begitulah seorang wanita diciptakan.
Jadi, jika mau anak perempuan, patahkan iga kita.
Itu katanya?
Tapi kenapa para pembohong bisa punya anak gadis?
Benarkah?
Jika pembohong dapat anak perempuan, aku jadi penasaran
bagaimana cara agar dapat anak secantik dia?
Mungkin ayahnya melakukan kejahatan, seperti pembunuhan.
Pak.
Ini terlalu manis, Govindu.
- Pak. - Terlalu banyak gula.
Maaf. Kuambilkan segelas lagi.
Tidak perlu.
Ambilkan segenggam gula.
Jika mulutku manis,
rasa teh ini tidak akan terlalu manis.
Jika ingin mengurus sesuatu, tidak perlu menyabotase semuanya.
Hanya perlu menyingkirkan hal-hal yang tidak kita sukai.
Bagaimana menurutmu?
Dokter.
Kau biasanya menulis resep untuk orang-orang di desa.
Kini, kau dan temanmu mengadukanku kepada kolektor pajak.
Benarkah itu?
Itu benar.
Aku yang memintanya.
Kau mencoba merampas rumah kami.
Kami harus ke mana?
Kami mungkin menggunakan perahumu,
tapi laut bukan milik pribadimu.
Kami menentang pemancingan itu.
Pemancingan Rayanam dibangun bukan demi kebutuhanku.
Itu harga diriku.
Pak, mereka sangat miskin.
Jika kau mengusir mereka dalam semalam,
keluarga mereka akan terlantar di jalanan.
Siapa yang bilang mereka orang miskin, Dokter?
Jika semiskin itu,
mereka akan mengambil ikan-ikan yang terdampar di pantai.
Mereka tidak akan pergi ke laut untuk menangkap ikan.
Tidak akan pernah kubiarkan.
Hanya karena kau punya suara,
jangan berpikir kau bisa membantahku.
Bukan hanya menggorokmu,
aku juga akan memotong organ yang membuatmu bicara.
Sepertinya kau masih bisa ketakutan.
Keberanian di dalam dirimu pasti sudah mati.
Hiduplah.
Astaga!
Bibi, ibuku selalu bilang
bahwa kau jatuh sakit tanpa sempat punya anak lelaki.
Itu sebabnya pamanku marah kepadamu.
Meski kau jadi lumpuh saat melahirkan,
kau melahirkan putri yang cantik demi aku.
Putrimu tumbuh menjadi wanita cantik yang seksi.
Sekali saja…
Hei, kau!
Ibu! Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi?
Ada apa?
Apa yang terjadi, Bibi?
Apa yang terjadi, Bebamma?
Jangan sentuh aku.
Aku akan terus menyentuhmu meski kau melarangku.
Lepaskan tanganmu.
Ayah!
Ayah.
Meski aku melarang Jana untuk menyentuhku,
dia masih melakukannya.
Tolong pukul dia sekali sebagai peringatan?
- Apa yang terjadi? - Bukan apa-apa, Paman.
Itu tidak sengaja, tapi dia ribut.
Pergilah kuliah.
- Ayo pergi. - Baiklah.
Salahkah aku karena terlahir sebagai perempuan?
Aku meminta Ayah memperingatkan dia, tapi Ayah diam saja.
Ayah hanya memedulikan reputasinya.
Ayah bahkan tidak memperhatikan Ibu.
Mana mungkin memperhatikanku?
Kenapa Ibu sedih?
Jangan khawatir meski suamimu tidak menolong.
Setelah aku menikah, suamiku akan menghajar pria itu.
Korpus spongiosum.
Ini korpus spongiosum.
Ini hanya gambaran anatomi seorang pria.
Bukan definisi pria.
Ramya, kenapa kau tertawa?
Berdiri.
Katakan, apa ini?
Kejantanan, Bu.
Kejantanan?
Duduklah.
Jika kalian tak keberatan dosen zoologi berfilosofi,
kuberi tahu sesuatu.
Dalam hidup setiap wanita, ada seorang pria.
Jika wanita bisa merasakan cinta pria itu dalam setiap momen hidupnya,
itulah kejantanan sejati.
Jika seorang gadis merasa semua terpenuhi saat bersama pria itu
hingga tidak butuh hal lain dalam hidup, itulah kejantanan.
Kejantanan bukan sekadar organ dalam tubuh pria.
Itu ada di setiap sel tubuhnya.
Seharusnya kalian bisa melihat.
Ereksi tidak bisa bertahan seumur hidup,
tapi emosi bisa bertahan seumur hidup.
Thalimpu, busnya lewat atau tidak?
Tentu saja, pasti lewat.
Bus tidak bisa terbang seperti pesawat.
Kudengar kalian menyerang para pemuda dari desaku.
Mereka tidak bilang hanya satu pria yang memukul semuanya?
Bagus sekali.
Kau pikir kami akan diam saja jika jaring ikan kami dipotong?
Jaring saja kau cemaskan,
bagaimana jika kami hancurkan desamu?
Satu kata lagi dari kalian, akan kutendang…
Akan kupecahkan kacamatamu.
Kacamata? Kenapa dia bilang kacamata?
Dia tidak bisa mengucapkan kata itu. Jadi kalian tidak paham umpatannya.
Si berengsek sombong itu.
Dia tidak bisa bicara lancar, tapi dia angkuh.
A…
Sial. Kami akan menghajarmu.
- Busnya datang. Ayo. - Hei!
Kau takut, Berengsek?
Hajar bajingan itu!
Ayo, Bodoh!
PERGURUAN TINGGI WANITA ADITYA
Lihat di sana. Ada perkelahian.
Lihat betapa marahnya dia. Dia akan cepat tua.
Kelihatannya seperti bus kampus Bebamma.
Bebamma, keluarlah.
Bebamma.
- Macet. Aku akan mengantarmu pulang. - Tidak.
- Siapa kau, Bung? - Diam!
Kau tidak mendengarku?
- Ayo pergi. - Tolong lepaskan aku.
- Kubilang, ayo pergi. - Aku tidak mau.
Ayo!
- Lepaskan aku, Jana. - Ayo.
Ayo!
Ayolah, Berengsek!
Beraninya kau menghina ayahku!
Kawan, Bebamma menatapmu.
Bebamma melihatmu.
Ayo!
Lawan aku!
Ayo masuk.
Lihat ke arah bus.
Pria ini tidak boleh menua.
Bung, Bebamma menatapmu.
Ya, benar.
- Aku sudah bilang begitu. - Dia menatapku.
Hei!
Korpus spongiosum!
- Dia memanggilmu dalam bahasa Inggris. - Ya.
Itulah yang kukatakan kepadamu.
Dia menatapku.
Dia mengenaliku.
Hei! Biasanya, kau akan kesal jika tersentuh olehku saat tidur.
Tapi hari ini, kau menempeliku.
Bukan apa-apa, Ayah. Tidurlah.
- Apa yang terjadi? - Bukan apa-apa.
Kenapa berkelahi dengan mereka?
Jika dia menghinaku, akan kuabaikan, tapi dia menghina Ayah.
Andai ibumu ada di sini, dia pasti menasihatimu
agar tidak berkelahi, Nak.
Kapan Ayah bertemu Ibu pertama kali?
Begini, ayah disuruh menikah, lalu dibawa ke suatu tempat
dan disuruh duduk di gubuk.
Mereka membawa seorang gadis.
Kakekmu tidak ingin putrinya menikah denganku
karena aku tidak memiliki jaring ikan sendiri.
Saat ibuku dan aku pulang, gadis itu menguntit dan menemui kami.
Lalu dia memberiku tatapan yang menggoda.
Itu saja.
Aku meminjam uang, membeli jala, dan menikahi ibumu.
Jadi, jika seorang gadis memberimu tatapan menggoda, kau harus menikahinya?
Aku harus memancing besok pagi. Jadi, tidurlah.
Ayah! Ibu benar-benar memberimu tatapan yang menggoda?
Ya, dia memberiku tatapan menggoda.
Tidurlah sekarang.
- Ayah! - Kumohon.
- Ibu benar-benar menatapmu seperti itu? - Astaga! Tolong hentikan!
Ya, dia memberiku tatapan itu. Kumohon…
- Benarkah dia menatapmu seperti itu? - Tidurlah.
Astaga.
Kothapalli Padma.
Pegang tasmu.
Jika aku tidak ambil ransum hari ini, istriku akan memarahiku.
- Shankaram? - Ya, Govindu.
- Tambahkan dua kilogram untuk semua. - Baiklah.
Pak?
Aku bicara denganmu.
- Ada apa? - Kami semua mengantre.
- Berbarislah. - Beraninya kau meninggikan suaramu?
TOKO HARGA ADIL
Kenapa bertengkar dengan Govindu?
Aku hanya memintanya berbaris.
Aku harus mengantre?
- Apa? - Berandal!
- Apa… - Aasi!
Govindu.
Berbaris dan mengantrelah.
Kemarin, Bebamma menyuruh pelayannya mengantre di toko.
Dia menatapku dengan cara khusus.
Kau beruntung.
Kenapa busnya berhenti?
- Sopirnya turun. - Menurutmu dia sadar dibuntuti?
Ya. Untuk apa lagi dia berhenti?
Astaga! Aku takut sekarang.
- Aku akan buang air kecil. - Tenanglah. Biar aku urus.
Hei, kau! Dari mana asalmu?
Aku hanya mau buang air kecil, Pak.
Kami dari Uppada.
Kalian dari Uppada!
Bukan apa-apa.
Bus itu rusak.
- Bebamma harus mengikuti ujian. - Bebamma?
Aku tidak melihat becak. Bisa antarkan dia ke kampusnya?
Kami tak bisa melakukan itu.
- Tolong dengarkan aku. - Nagaraju!
- Ya, Bebamma. - Kau menemukan becak?
Aku meminta bantuan seseorang.
Jika kau tidak keberatan…
Untuk apa aku naik skuter orang asing?
Silakan.
- Kau pikir ini skuter? - Bukan.
Nyalakan.
- Bu. - Ya?
- Toilet. - Baik, pergilah.
Ayo.
Kenapa kau membuatku mengalami ini? Kau sudah melakukannya berhari-hari.
Jangan begitu.
Kau sudah cukup lama mengikutinya. Hari ini, kumpulkan keberanian
dan bicaralah dengannya.
Bebamma?
- Panggil dia dengan keras. - Bebamma!
Dia datang ke sini. Dia datang.
Bicaralah dengannya.
Bebamma? Kenapa memanggilku Bebamma?
Namaku bukan Bebamma.
Namanya bukan Bebamma?
Apa? Bukankah namamu Bebamma?
- Benar? - Bukan.
Tanya namanya.
Hei, Bebamma. Siapa namamu?
Dia tidak menanggapi.
Jika kau tidak beri tahu, aku akan marah.
Kau senang jika aku cepat tua? Kau mau aku jadi tua?
Kawan, dia menulis sesuatu.
Ya.
"San…
Gee…
Tha…"
Sangeetha.
SANGEETHA
San…
G…
G…
Tha…
Santha!
Santha?
Ini akan menjadi rintangan terbesar.
Santha!
Santha!
Ucapkan "Sangeetha!"
- Pengucapanku benar? - Tentu saja tidak! Coba lagi.
Ayo. Katakan "Sangeetha!"
Aku berhasil.
Di mana?
- Di bawah air. - Di bawah air?
Aku yang mengatakannya.
Sang… tha!
Sudah cukup. Ayo.
Kasihan. Bebamma tidak bisa mendengarmu menyebut namanya dengan mesra.
- Enyahlah! - Astaga!
Santha!
Sial!
Aduh!
Ayah!
Kari ikan yang sama lagi hari ini? Menyebalkan.
Apa yang terjadi, Nak?
Mungkin aku gagap karena terlalu banyak makan ikan.
Gagapku semakin parah.
Jangan marah, Nak.
Aku tak boleh marah. Tidak boleh.
Jika marah, aku akan cepat tua.
Ayah.
Apa?
Jangan diambil hati, atau Ayah akan cepat tua.
Ya?
Santha!
Kau tidak bisa mengungkapkan perasaan kepada kekasihmu.
Kau hanya bisa bicara dengan gagapmu.
- Itu sebabnya kulakukan ini. - Apa?
- Buku tentang cinta dan kertas kosong. - Kau mau apa?
Menempelkan isi buku ke kertas ini.
Astaga! Baiklah. Ayo, tempelkan.
"Cinta harus seperti kisah cinta Laila dan Majnun,
Devdas dan Parvati,
Romeo dan Juliet.
Cinta sangat istimewa dan unik."
Aku tahu soal Devdas,
dan aku tahu soal Majnun.
Tapi siapa karakter pria di Romeo dan Juliet?
- Entahlah. - Bahkan kau pun tidak tahu!
Romeo.
Juliet.
Bunyi "et" sangat tegas. Jadi, Juliet pasti pria.
- Kau yakin? - Aku yakin.
Setelah kertas ini penuh kata cinta, kalian juga akan jadi legenda, Aasi.
Tentu saja.
Selama Rayanam tidak mengetahui hal ini, semua baik-baik saja.
Tapi jika dia tahu, ceritanya akan lain.
Kita bisa membuat suratnya, tapi siapa yang memberikannya?
Astaga!
Jangan libatkan aku dalam hal ini.
Demi Tuhan, aku tidak bisa.
Kenapa kau melibatkan Tuhan?
Dewi!
- Hei, kau mau apa? - Aasi menyuruhku memberikan ini.
- Thalimpu, aku sangat gugup. - Kenapa?
- Menurutmu dia membacanya? - Mungkin.
- Dia akan datang ke sini? - Dia pasti datang ke festival ini.
Festival tidak akan dimulai sampai Rayanam datang memberi persembahan.
Bebamma datang, Bung.
Pak, kami perlu bicara tentang tanah Dewan Wakaf.
Kau tidak perlu membuat surat itu.
Kau tampak gugup. Jika mendekatinya sekarang,
dia akan tahu bahwa kau jatuh cinta kepadanya.
Kawan, dia menatapmu.
- Dia memanggilmu. Pergilah. - Tidak mau.
- Kawan, pergilah. - Tidak.
- Dia memanggilmu. Pergilah. - Aku takut. Kau tidak ikut?
Dia hanya memanggilmu. Kau tidak bisa mengajakku sekarang.
Pergilah sekarang.
Semuanya, bersiaplah.
Sebentar lagi, kami akan membagikan salep cendana suci.
Ada apa?
Kau menanyakan namaku dan pergi diam-diam.
Masalahnya…
Ini surat darimu. Bacakanlah.
- Thalimpu. - Ya.
Untuk memastikan gagapku tidak merusak cintaku,
tempelkan kata-kata cintaku di sini.
G…
Aku tak bisa mengucapkan suku kata itu, tapi suratku bisa.
Baiklah, dengar.
"Setelah kau datang ke hidupku, hatiku bersuka ria."
Senang sekali mendengarmu mengatakan suku kata itu.
- Lanjutkan. - Baiklah.
- Sudah kutempelkan sesuai permintaanmu. - Bagus?
Tenanglah. Surat ini akan meluluhkan gadis itu.
Tidak ada gadis yang akan termakan surat cinta payah ini.
Kau akan ditertawakan.
Aku membuat surat ini untuk membuatmu tertawa, bukan merayumu.
Kata-kata di surat itu mungkin hanya pinjaman,
tapi sejak kecil, aku sangat menyukaimu.
Kukatakan itu kepada diriku sendiri selama ini.
Sangat menyukaiku? Apa maksudmu?
Sudah dimulai, ayo.
Artinya…
Dokter, dia gemetar sejak semalam. Mungkin ketakutan?
Kudengar kau demam. Ayahmu sangat khawatir.
Saat aku bilang kepada Bebamma bahwa aku menyukainya,
dia diam saja,
malah menciumku dan pergi.
Menciummu?
Itu juga ciuman istimewa.
Kau menyatakan cinta kepadanya.
Dia juga menyatakan cintanya lewat sebuah ciuman.
- Ada bekas luka? - Ada apa?
Semalam, kau muncul di mimpiku dan aku mencubitmu.
Tidak ada bekas.
CINTAI KAU AKU
"Cinta kau aku?"
Hei!
Kau salah menulisnya.
Seharusnya "Aku cinta kau."
Aku tidak mau "cinta" memisahkan kita, maka aku memindahkannya.
"Cinta kau aku."
"Kau" dan "Aku" akan selalu bersama.
Sikat gigi?
Ya, ini yang kupakai untuk menggosok gigi.
Mulai besok, pakai yang ini.
San… gee… tha…
Katakanlah.
San… g…
CINTA KAU AKU
Bebamma!
Aasi, lihat!
Lihat bagaimana aku berkeringat saat duduk di sebelahmu.
Aasi, aku tidak akan bisa menemuimu selama tiga hari.
Aku tidak tahan jauh darimu.
Biarkan aku menciummu.
Lalu kau akan demam, pulang, dan beristirahat.
Mengerti?
Sudah tiga hari sejak aku melihat Bebamma. Kemeja ini bagus?
Salam.
Dasu, ikut kami.
- Ayah, izinkan aku ikut. - Kenapa?
- Ayolah. - Untuk apa?
- Kumohon, biarkan aku ikut. - Baiklah. Ayo.
Ini akan menjadi pertemuan terakhir untuk membahas rumah kalian. Ayo.
Dia terlalu arogan.
Salam.
Aku Aasi.
Entah Bebamma memberi tahu tentangku atau tidak,
tapi dia cerita soal Bibi.
Bebamma sangat menyayangimu.
Jika tidak keberatan, aku akan menemui Bebamma sekali.
Rayanam mungkin akan untung besar dari pembangunan tempat memancing,
tapi sebenarnya, kalian akan lebih untung daripada dia.
Masa depan anak-anak kalian akan cerah.
Kalian bisa tinggal jauh dari laut dan melaut jika perlu.
Rayanam akan bicara dengan pemerintah
untuk memastikan kalian menerima rumah baru.
Cobalah mengerti.
Pak, ini tidak adil.
Mata pencaharian kami bergantung pada laut.
Kau menyuruh kami tinggal jauh dari desa dan laut.
Bagaimana mungkin?
Sama sekali tidak ada bedanya, bukan?
Kenapa kau bilang begitu?
Rumah kami berada di garis pantai dan kami sudah terbiasa.
Sepanjang tahun ini, laut selalu menyambut kami dengan bahagia,
tak pernah menghancurkan rumah kami.
Kehidupan kami seperti ikan. Jika kau menjauhkan kami dari air,
kami tidak akan bisa hidup.
Kami tidak bisa selamat tanpa udara laut yang asin.
Tolong kasihani kami.
Kalian ingin pergi ke laut naik kapal,
atau mencari nafkah untuk diri sendiri,
itu tergantung pada belas kasihanku.
- Pak… - Tidak boleh!
Kami menolak pembangunan pemancingan!
Apa katamu?
Aasi, bagaimana kau bisa kemari? Bagaimana jika ada yang melihatmu?
Kalian pikir ini lelucon dan bisa bolak-balik seperti ombak laut?
Ini dari pemerintah.
Setelah diputuskan, tidak ada jalan kembali.
Kehendaknya akan dilakukan. Ada yang lain?
Kenapa kau datang?
Kau selalu datang menemuiku setiap hari.
Jadi, kali ini, aku ingin mengunjungimu.
Kau tidak takut?
Tadinya tidak, tapi sekarang, ya.
Kau mau demam?
Tidak?
Pak Rayanam, tolong jangan hilang kendali. Silakan duduk.
Kami perlu foto grup untuk koran.
Mari berfoto bersama Pak Rayanam.
Pak, satu foto saja.
Ayo, semuanya. Rapat sudah selesai.
Ayahmu kenapa? Kami harus ke mana jika diusir?
Tidak sepertimu, rumah kami hanya satu.
Aasi, kau muncul di mimpiku lagi semalam.
Mungkin ada bekas luka…
Apa yang kau bicarakan?
Kemarilah. Ayo.
- Kubuat kau demam. - Lepaskan.
Maaf.
Kau tahu betapa marahnya aku sekarang?
Tapi jika aku marah dan menua, siapa yang akan mengurusmu?
Mendekatlah.
Mendekatlah, Aasi.
Jika kau tidak punya rumah, tinggal saja di laut.
Aku bisa tinggal denganmu di mana pun.
Bus sudah datang.
Aku tidak dengar apa pun.
Aku tidak akan pulang.
- Kau baru tiba? - Ya, aku hanya mampir.
Keponakanku,
kenapa kau mengeluh soal putraku kepada ayahmu?
Cepat atau lambat, kau akan menikah dengannya. Ingat itu.
Astaga! Kendalikan suamimu sebelum menasihati orang lain.
Ayah mungkin membenciku karena mengatakan ini,
tapi tubuh dan hati seorang gadis akan berubah seiring waktu.
Lebih baik bergegas.
Di mana kakakku?
Kanakam.
- Kanakam! - Ya?
Kau tidak menyajikan teh atau kopi untuk para tamu?
Akan kuambilkan, Pak.
Aku tidak peduli jika kau terus mengulur waktu.
Aku berhak melamar keponakanku, bukan?
Kau akan selalu berhak melakukan itu,
tapi keluargamu tidak layak menerimanya.
Suamimu mencampakkanmu, hidup dengan gadis kasta rendah,
dan mencuci linen kotornya di tempat umum.
Itu memutuskan hubungan antara dia dan keluarga ini.
Jika bisa, katakan di mana suamimu sekarang.
Aku tidak akan mempermalukan diriku.
Kau mengerti?
Aku tidak akan beraliansi dengan keluarga tanpa harga diri.
Kakak, kumohon…
Kita bersaudara.
Aku tak bisa menyangkal,
tapi aku tidak bisa beraliansi dengan keluargamu.
Minum dan pergilah.
Aku akan minum teh di rumahku.
Damera Phanindra. Ayah kenal, bukan?
Anggota dewan legislatif. Ini foto putranya.
Dia dari kasta kita.
Mereka akan datang untuk menemui putriku.
Dengar, Nak…
Peringatan bagi semua nelayan Uppada.
Menurut tradisi tahunan kita,
jika ada yang membawa kapal mereka ke laut dan memancing
antara tanggal 15 April dan 3 Juni,
mereka akan didenda.
Kita menabung sepersepuluh penghasilan di kotak ini.
Ini saatnya ikan berkembang biak.
Jadi, dilarang memancing selama 45 hari,
ini akan menjadi sumber mata pencaharian kita.
Kita bagikan tabungan secara merata untuk 150 keluarga di sini.
Gunakan dengan bijak.
- Ini. - Ambillah, Devudu.
Nenek boleh ambil uangku juga.
Tuhan memberkatimu.
Ibu, aku diberi tahu, ada pelamar yang datang dua hari lagi.
Aku tidak mau menikahinya.
Hei! Cepatlah, Kawan-kawan.
Bawakan.
- Semuanya sudah kembali? - Ya, Ayah.
Letakkan semua perahu di pantai. Pak Rayanam ingin semuanya dihitung.
Aasi?
"Datanglah ke kampus pukul 14.00 hari ini."
Tidak ada yang melihat ini. Ayo.
- Ayo, masuk. - Jalan.
Semua orang sudah meletakkan kapal mereka di pantai?
Siapa pun mereka, jangan beri ampun.
Bahkan jika mereka sedang makan, seret keluar dari rumah.
Besok pagi, aku harus melihat
papan nama Pemancingan Rayanam di sana.
Baik, Pak.
Kawan, teruskan.
Ada apa, Bebamma? Katakan.
Aku tidak enak badan.
Bisakah kita pergi ke laut saja?
Sekarang? Ke laut?
Tidak ada kapal yang berlayar ke laut.
Silakan bermesraan sesuka kalian.
Ini saatnya ikan-ikan menjadi intim.
Tidak boleh diganggu.
Keintiman berarti berkumpul dan bercinta.
Kalian akan melakukan hal yang sama.
Mereka tidak akan terganggu.
Aasi, kembali sebelum senja.
Baiklah.
Semoga tidak ada yang lihat.
Apa yang terjadi?
Kita kehabisan bensin.
Lalu bagaimana?
Aku sedang kerja. Nanti kita bicara lagi.
Pak.
Bus kampus seharusnya sudah datang. Bebamma belum pulang.
Apa?
Halo?
Ini Rayanam.
Ya, Pak Rayanam.
Kenapa busnya belum kembali?
Pak Rayanam?
Bebamma belum pulang.
Dia memberi tahu dosen
bahwa dia tidak sehat dan pergi di sore hari.
Aku hanya memeriksa kewaspadaanmu.
Dia pasti pergi ke bioskop bersama teman-temannya.
Dia akan segera pulang.
- Benar? - Ya, Pak.
Pak, jangan. Kumohon…
Tidak, kumohon…
Astaga!
Kami bekerja keras siang dan malam untuk membangun rumah itu.
Sekarang kau merobohkannya. Ini tidak adil!
Kenapa Aasi belum kembali?
Kenapa kau menghancurkan rumah kami demi tempat pemancinganmu? Sial kau!
Kita sudah bahas ini dengan Pak Rayanam.
Lihat perbuatannya.
CINTA KAU AKU
Ada apa dengan Bebamma?
Dia selalu berkeliaran di pantai
dan pulang dengan sandal penuh pasir.
Kenapa bajumu basah, Sayang?
Aku pergi ke pantai bersama teman-temanku, Ayah.
Pak Rayanam,
tidak ada yang pergi melaut sekarang.
Seorang pria dari desamu baru saja naik perahu ke laut.
Bersama seorang gadis.
Aku sibuk. Nanti kita bicara lagi.
Astaga! Semuanya hancur!
Pak, Pak Rayanam datang.
Pak…
Kenapa kau menghancurkan rumah kami demi tempat pemancinganmu?
Rayanam, ini tidak adil.
Kita sudah membahasnya, bukan?
Jika kau hancurkan rumah kami seperti ini, ke mana kami harus pergi?
Anak-anak kami akan terkena dampak buruknya.
- Jalayya. - Ya?
Aku perlu bicara denganmu.
Pak, tolong hentikan ini. Minta mereka berhenti merobohkan rumah kami.
Kami akan hancur, Pak. Tolong hentikan ini.
Ada yang mencurigakan.
Tolong minta mereka berhenti. Tolong kasihani kami.
- Jalayya. - Ya?
Seharusnya tidak ada yang melaut selama 45 hari, bukan?
Ya, Pak. Itu kesepakatan kami.
Tapi ada kapal yang melaut hari ini.
Kapal? Tidak ada.
Tentu saja ada.
Mari kita asumsikan seseorang sangat ingin mencari nafkah.
Dia seharusnya kembali saat sore, bukan? Kenapa dia belum datang?
Pak, kami mencemaskan kehidupan, kenapa kau membahas kapal?
Jika hanya soal kapal, aku tidak akan datang sejauh ini.
Putriku juga ada di kapal itu.
Pak…
Seseorang dari kalian membawanya ke laut?
Atau ada yang membantu pria yang membawanya pergi?
Apa pun kasusnya,
berita bahwa putriku tidak pulang telah tersebar.
Jika putriku tidak pulang sebelum subuh,
seluruh desa akan mengetahuinya.
- Jalayya. - Ya?
Jika putriku pulang sebelum subuh,
rumah kalian boleh berdiri selamanya.
Hati-hati.
Bagiku, kehormatan dan kehidupan tidak terpisahkan.
Keduanya sama.
Baik, Pak. Ya.
Katanya, saat orang kaya mati, dia tidak mati sendirian.
Dalam kasus ini, putriku yang berusia 18 tahun.
Dia juga tidak akan pergi sendirian.
Dengar,
ini akan menyebabkan kematian dan penderitaan
bagi semua orang di 150 rumah itu.
Ajak orang terpercaya dan bawa putriku kembali. Paham?
Aasi! Di mana kau?
Paman?
Di mana Aasi?
Bebamma.
Apa yang kau lihat?
Katamu para ikan berkumpul untuk bercinta.
Aku hanya mencoba melihat mereka.
Kau tidak takut?
Tidak akan ada yang datang hingga bulan depan.
Kita bahkan tidak bisa ke mana-mana.
Jadi, nikmatilah momen ini
dan jadikan kenangan untuk 80 tahun ke depan.
- Govindu. - Ya?
Kau pikir langit dan laut bisa bertemu?
Setinggi apa pun ombak naik, tidak akan bisa mencapai langit.
Tapi bagaimana jika langit menunduk?
Hari ini tanggal berapa?
Tanggal 18 April 2002.
Ingatlah hari ini.
Aku, Kotagiri Sesharayanam,
bisa mati pada tahun 2012,
atau pada tahun 2022.
Siapa pun yang menyeret kehormatan dan statusku ke laut,
dia harus mati di tanganku.
Kehadiran putriku di kampus hari ini harus dikonfirmasi oleh dosennya.
Jika salah satu dari kedua hal ini tidak terjadi,
ukir tanggal hari ini sebagai hari kematian di batu nisanku.
Jika kau mati sebelum itu,
suruh putramu melakukannya untukku.
Ini harus terjadi.
Paham?
Kehadiran putriku di kampus hari ini harus dikonfirmasi oleh dosennya.
Nomor satu, Swathi.
Hadir, Bu.
Nomor dua, Sravani.
Hadir, Bu.
Nomor tiga, Ramya.
Hadir, Bu.
Nomor empat, Priyanka.
Hadir, Bu.
Nomor lima, Sangeetha.
Nomor lima, Kotagiri Sangeetha.
Nomor lima, Kotagiri Sangeetha.
Kotagiri Sangeetha!
Hadir, Bu.
Kita membuat kesalahan besar, Bebamma.
Kalau begitu, menikahlah denganku, Aasi.
Kita perbaiki kesalahan ini.
Aasi!
Kegilaan ini sudah cukup! Naik!
Pak, ini Bebamma.
Pak Rayanam, tidak ada orang selain Bebamma.
Kau menyuruhku membawa rekan kepercayaanku saja.
Ada adikku, putraku, dan saudara iparku.
Pak.
Kami akan selalu melindungi kehormatan dan reputasi keluargamu.
Aku berjanji.
Sekarang, Pak Rayanam,
sesuai janjimu, tolong kembalikan rumah kami.
Entah bagaimana, kami akan mencari nafkah.
Ayo pergi.
- Govindu. - Ya?
Nyalakan mobil.
Siapa dia?
Rayanam, bukankah sudah kubilang,
jangan biarkan gadis seusianya keluar rumah?
Saat kau mengirimnya kuliah,
aku tahu dia tidak hanya akan belajar.
Siapa orang itu?
Dia tidak akan bilang.
Kita harus mencari tahu siapa anjing itu.
Jangan sentuh dia.
Dia berlari ke pelukan anjing liar
karena mengira dia dicintai.
Dia harus tahu betapa keluarga ini menyayanginya.
- Kanakam. - Ya, Pak.
Bawa Bebamma ke kamar dan sajikan makanannya, ayo.
- Govindu. - Ya?
Mulai besok, kau harus mengantar Bebamma ke kampus.
- Baik. - Kenapa masih disuruh kuliah? Bunuh dia!
Bukan dia yang harus dibunuh, melainkan pria yang bersamanya.
Mereka akan membunuhmu.
Kenapa tidak memberitahuku?
Sebagai ayahmu, untuk apa aku menentangmu jika kau mau menjadi menantu Rayanam?
Tapi…
Untuk apa Rayanam menerimamu sebagai menantunya, Aasi?
Aasi?
Ada apa denganmu?
Andai Rayanam pergi ke laut,
kau akan tertangkap dan dibunuh.
Dengarkan Ayah dan lupakan gadis itu.
Jika kita mengembalikan gadis itu,
Rayanam berjanji akan mengembalikan rumah kita.
Jika cintamu lebih penting daripada nyawa 150 keluarga,
terserah kau saja.
Dengarkan ayahmu dan kembalikan Bebamma.
Rayanam melampiaskan kemarahan kepada kami karena putrinya pergi dengan pria.
Jika dia tahu itu kau…
Aasi.
Ayo makan.
Aasi, ada apa denganmu?
Kau di sini semalaman? Itu akan membunuhmu.
Aasi…
SANGEETHA
- Govindu. - Ya?
Awasi semua pemuda di desa ini.
Baik, Pak.
Pastikan tak ada yang tahu apa yang kita cari
dan kenapa kita mencarinya.
Kau anak siapa?
Aku putra Gandham Subba Rao.
Kenapa ada banyak pria di dekat kampus wanita?
Kenapa? Ada masalah?
Tidak. Pergilah.
KOTAGIRI SANGEETA PUTRI KOTAGIRI SESHARAYANAM
VISAKHAPATNAM
- Ayah… - Kau tidak aman berada di sini.
Pergilah ke Visakhapatnam dan temani bibimu di sana.
Ayo.
Kenapa kau kemari, Govindu?
Pak Rayanam menyuruh kami untuk mengecat semua perahu.
- Semua pemuda desa ada di sini? - Ya, benar. Ada di mana lagi?
Di mana putramu?
Putraku?
Dia…
Dia pergi memancing.
Memancing dilarang sampai hari bulan baru.
Maaf, aku salah bicara. Dia pasti melewati jalan itu.
Itu dia.
Baiklah, Jalayya. Aku harus pergi sekarang.
Suruh putramu untuk meengecat kapal.
Baiklah.
Sampai jumpa.
Astaga!
Apa yang dia lakukan di dekat kampus wanita? Habisi dia.
Pak, kenapa kau memukulku?
Pak Rayanam, kumohon…
Tolong hentikan ini.
Kenapa kau terus melakukan ini? Tolong hentikan.
Kotagiri Sesharayanam adalah kakek buyutku.
Aku dinamai sesuai namanya.
Setiap kali pejabat Inggris datang ke rumah kami untuk menemuinya,
sepatu bot mereka dilepaskan di luar pintu.
Itulah reputasi yang dimilikinya.
Dia mewariskan hal yang sama kepada kakekku.
Warisan reputasi terhormat yang berawal dari leluhurku
telah hidup selama 125 tahun dan diwariskan kepadaku.
Reputasi itu kini hancur oleh putriku yang berusia 18 tahun.
Aku tidak mampu menjaga warisanku.
- Govindu. - Ya?
Dari semua foto di dinding ini,
foto ini membuatku sangat senang.
Hari itu, saat Jalayya
menyerahkan putriku kepadaku,
kenapa putranya menatap putriku dengan cara yang berbeda?
Kini aku mengerti alasannya.
Ini hari bulan baru, bukan?
Benar, Pak.
- Govindu. - Ya?
Apa mereka masih bertengkar dengan desa tetangga?
- Ya, benar. - Yakin?
- Ya, Pak. - Kau yakin?
Ya, itu benar.
Sambutan hangat bagi semua orang
yang menghadiri festival tahunan di Uppada
yang diadakan untuk menghormati dewa desa kami, Gangalamma.
- Bagaimana kesehatanmu, Sayang? - Aku baik-baik saja, Paman.
Festivalnya sangat meriah.
Beraninya kau menyentuhku!
Apa-apaan ini?
Paman, lihat. Dia menggangguku.
Apa yang kau lakukan?
Kau melihatku menyentuhnya?
Gadis itu mengeluh kepada kami. Orang-orang dari desamu menyedihkan.
Jangan berani-berani menghina desaku.
- Ayah! - Paman!
Pukul dia!
Beraninya kau memukul pria dari desaku?
Hentikan!
Tolong hentikan!
Aasi…
Hei…
Tidak, berhenti. Tolong hentikan.
Aasi!
Aasi…
Aasi!
Lepaskan dia!
- Ayah! - Aasi!
Mereka membunuh ayah Aasi, Bebamma.
Ada perkelahian antara kami dan orang-orang dari desa lain.
Aasi terluka parah.
Aasi ada di mana?
RUMAH SAKIT MEDIS KRISTEN
Kau mau ke mana? Naiklah.
- Kakak? - Ya.
Apa yang terjadi? Kenapa kau meneleponku selarut ini?
Kau pergi dari rumahku sambil menangis tempo hari karena aku.
Ayah sangat tertekan karena itu.
Omong-omong…
Bagaimana bisa aku menyalahkanmu dan putramu atas kebodohan suamimu?
Kau bilang…
Seperti katamu, cari tanggal pernikahan yang baik dan kabari aku.
Putriku akan menjadi menantumu.
Ini janjiku.
Tentu, Kakak.
Putriku kehilangan kehormatannya.
Satu-satunya cara merahasiakan ini adalah menikahkannya dalam keluarga.
- Hati-hati. - Aasi.
Aasi…
Sebelum kau pergi, tolong bacakan satu bait dari Alkitab.
Hei!
Pak?
Kemari.
Ya?
Bebamma hilang. Cari dia!
Bebamma…
- Hei! - Ya?
- Tidak ada yang boleh tahu. - Baik, Pak.
- Pakai sepeda saja. - Keluarkan sepeda.
Keluarkan sepeda.
Bebamma?
Ayo, Aasi. Kita pergi.
Ke mana?
Tempat yang jauh dari sini. Ayolah.
Tidak.
Mereka membunuh ayahku di depan mataku.
Itu masih sangat segar dalam ingatanku.
Aku tahu ini bukan waktu yang tepat,
tapi jika peluang ini lewat,
aku akan menemui nasib yang sama dengan ayahmu.
- Ayolah. - Lepaskan aku.
- Bebamma! - Ikut denganku atau aku bunuh diri.
Tolong dengarkan aku.
Ada yang ingin kusampaikan.
Tangkap dia!
Aasi!
Aasi!
- Bebamma, ayo pulang. - Lepaskan aku.
Aasi!
Aasi!
Ayolah.
Ayo, Kawan-kawan.
Aasi!
Naiklah, Bebamma.
Naiklah.
Aasi…
Ayo, Nak.
Kenapa Kakak duduk di pintu masuk?
Katanya, putraku harus masuk ke rumahmu sebelum fajar.
Jika terlambat, akan sial. Itu sebabnya kami datang.
Saudara lain akan segera menyusul.
- Apa yang terjadi? - Pak, begini…
Katakan saja.
Bebamma kabur naik kereta kargo menuju Odisha.
Beraninya kau bilang begitu soal gadis yang akan segera bertunangan.
- Govindu. - Ya?
- Periksalah kamarnya. - Baik, Pak.
Pak, Bebamma tidur di kamarnya.
Aku menyalakan kipas anginnya.
- Govindu. - Ya?
Mulai besok, kau harus mengantar Bebamma ke kampus.
Baiklah.
Alat tulisnya harus tetap dibeli
dari toko Ninety Prakasha.
Pakaiannya harus tetap disetrika rapi.
Baiklah, Pak.
Lalu daftar absen di kampusnya
harus selalu mencatat kehadirannya.
- Mengerti? - Ya, Pak.
Mengenai pertunangan,
umumkan bahwa planet-planet tidak sejajar
atau kitab tidak memperkenankannya,
atau gadis itu tidak bisa bertunangan sekarang.
Gunakan alasan apa pun.
Tapi di waktu yang ditentukan oleh pendeta,
putriku akan menjadi menantumu.
Paham?
PURI FESTIVAL KERETA JAGANNATH
Aasi!
Apa yang terjadi?
Ada anak buah ayahku.
KOLKATA
PANTI ASUHAN IBU TERESA
Hentikan.
Aku harus bekerja.
- Akan kutarik handukmu. - Hei! Jangan konyol!
Maaf, Bebamma. Aku marah dan membentakmu.
Lepaskan.
Tolong dengarkan aku.
Bebamma.
Aku sangat menyukaimu, Bebamma.
Tolong lepaskan dia! Kumohon!
Aasi!
Aasi!
Aasi?
Ayah…
Ayah!
Pak…
Bebamma juga tidak ada di Kolkata.
GANGTOK
Duduklah, Bebamma. Akan kuambilkan makanan.
Baiklah.
Bebamma?
Bebamma?
Bebamma!
Bebamma!
Aasi!
Beraninya kau menyentuh Bebamma!
Beraninya kau menyentuh Bebamma!
Dia Bebamma milikku. Beraninya kau menyentuh Bebamma!
Akan kubunuh kalian semua!
Berandal!
Aasi!
Mau ke mana?
Kau tak aman berada di luar. Kau lihat apa yang terjadi semalam.
Ayo kita cari indekos untuk wanita.
- Indekos? - Tarifnya 3.000 rupe per bulan.
Seratus rupe? Mustahil.
- Untuk satu hari. - Tidak mungkin.
- Hanya satu hari. - Bayar penuh atau pergi.
Kumohon.
Aasi, tolong jangan.
Tolonglah, Bu. Kumohon.
Baiklah.
Kau harus membayar dalam dua hari.
Aasi. Di mana kau akan tinggal?
Kita harus membayar 3.000 rupe.
Aku akan kembali.
Kakak, sudah tiga bulan.
Aku datang untuk mengingatkanmu.
Masih ada tiga bulan lagi.
Pulanglah.
Kau harus membayar 3.000 rupe per bulan.
Bung…
Terima kasih.
Ambillah.
Uangmu.
Aasi!
Aku juga membayar untuk besok.
Bagaimana caranya?
Aku punya pekerjaan. Mereka menempatkanku di kamar.
Kau punya tempat?
Maka aku bisa ikut denganmu. Ayo.
Jangan, Bebamma.
Aku sekamar dengan pria lain.
Halo.
Baiklah, aku pergi sekarang.
Jika bekerja siang dan malam begini, kau akan mati.
Apa maumu?
Aku mau 3.000 rupe.
Uang.
- Bagus sekali. - Makanlah.
Aku membayar untuk satu bulan.
Kau tidak akan mendapat masalah.
Aasi, saat kau membayar indekosku secara harian,
aku berharap kau akan segera membawaku pergi dari sini.
Kini aku harus tinggal di sini sebulan penuh.
Ada apa, Bebamma?
Sejak tiba di sini, kita tinggal terpisah.
Tolong pahami situasinya.
Aku harus membiayaimu.
Bagaimana bisa bersamamu terus?
Sebelumnya bahkan saat kau tidak ada,
aku masih merasa kau ada di dekatku.
Sekarang, aku merasa kita menjauh.
Cinta yang telah membawa kita sejauh ini
tidak kurasakan lagi darimu.
Jadi, aku harus bagaimana?
Kau mendatangiku karena keluargamu tidak menyayangimu.
Jika tak menemukan cinta dariku, kenapa tak pulang saja?
Kita tak bisa bertemu seperti sebelumnya. Aku tidak bisa duduk mengobrol seharian.
Kita tidak bisa menikah begitu saja.
Hidup denganku akan seperti ini. Silakan tinggal atau pergi.
Ambil uang ini.
Kau boleh pergi jika mau.
Aasi…
Hei, Bung…
Dia tidak merasakan cintaku.
JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI
Kau menangisi Aasi?
Kenapa tidak makan? Makanlah sedikit.
INDEKOS WANITA
Halo.
Aasi!
Kau ke mana saja belakangan ini?
Kenapa kau meninggalkanku hanya karena aku berkomentar?
Tidak, Bebamma.
Aku harus keluar kota untuk mencari uang tambahan.
Aku ingin tetap bersamamu ke mana pun kau pergi.
Ayo kita pergi.
Tolong pahami aku.
Aku tidak akan mendengarkanmu lagi soal ini.
Tolong dengarkan aku.
Tidak mau!
Bung.
- Salam, Nona. - Salam.
Dia akan tinggal bersama kita.
Selamat datang di istana kami.
Silakan duduk. Duduklah.
Kau membeli ini untuk siapa? Untuknya?
Bisa beri kami privasi malam ini, Ruben?
Tentu. Baiklah.
Kenapa kau membawa bunga hari ini?
Mendekatlah.
Lepaskan aku.
Ruben mungkin akan segera kembali.
Dia tak akan datang.
Aku melarangnya datang.
Aasi.
Kita tak bisa melakukannya selama tiga hari ke depan.
Ada apa?
Kau kesal karena itu?
Jangan khawatir.
Kau masih bisa memelukku.
Kau masih bisa menciumku.
Kau bisa mencintaiku sepuasnya.
Bolehkah?
- Bebamma. Air panas. - Baik.
Aku akan segera menyiapkan makananmu.
Kenapa kau memotong kukumu?
Saat kau muncul di mimpiku, kukuku bisa melukaimu.
Bebamma!
Aasi!
Hanya cedera ringan. Jangan khawatir.
Aasi.
- Sakitkah? - Tidak, Bebamma. Ini luka kecil.
- Boleh aku menggendong bayimu sekali? - Tentu.
- Dia manis, ya? - Manis sekali.
Kenapa kau tidak menikahiku?
Ayahmu akan bereinkarnasi sebagai bayi kita.
Kita akan menamainya dengan nama ayahmu.
Kita akan menikah dalam dua hari.
Kita menikah di kuil Puri, sesuai keinginanmu.
- Benarkah? Katakan lagi. - Mari kita menikah.
- Katakan lagi. - Kita menikah dua hari lagi.
Halo?
Ibu, apa kabar?
Ada hal mendesak yang harus kusampaikan.
Aasi dan aku akan menikah.
Aku sangat bahagia.
Pernikahan kami besok.
Jaga diri Ibu.
Bebamma, aku akan membeli tiketnya.
Baiklah.
Bebamma…
Aasi!
Bebamma!
Bebamma!
SIVOK
Bebamma!
Tekanan udara di Teluk Bengal
akan menyebabkan hujan deras dan angin kencang selama tiga hari.
Pemerintah memperingatkan para nelayan
agar tidak pergi ke laut untuk memancing.
Makan.
Makanlah.
Bebamma, makanlah.
Makan.
Kau akan menikah dalam dua hari.
Kau harus tampil cantik bagi para tamu.
Makan.
Lihat. Matamu cekung.
Makanlah.
Aku meninggalkan rumah saat Ayah menyuruhku bertunangan.
Ayah pikir aku akan tinggal sekarang?
Aku akan kabur meski Ayah menikahkanku.
Aku mau Aasi, Ayah.
Mana mungkin Ayah membiarkanmu pergi?
Ayah sangat rewel soal reputasi.
Ayah bahkan tidak suka kau pergi dengan penduduk lain.
Itu sebabnya kusiapkan bus khusus untuk mengantarmu ke kampus
yang jaraknya hanya 15 kilometer.
Meskipun kau kawin lari,
Ayah membuat seluruh desa percaya bahwa kau masih di sini.
Apa yang membuatmu berpikir Ayah akan diam saja jika kau kabur
dan menjatuhkan nama baikku?
Kau akan menikah dengan pria pilihanku,
menghabiskan hidupmu bersamanya,
dan mengandung anak-anaknya.
Jelas?
Entah seorang putri boleh mengatakan ini kepada ayahnya atau tidak,
tapi aku akan memberi tahu Ayah.
Saat aku kawin lari dengan Aasi,
aku tidur dengannya.
Ayah tahu itu?
Tentu tahu.
Ayah mencarimu selama ini dan tidak bisa menemukanmu.
Apa kau tahu bagaimana Ayah menemukanmu dua hari sebelum pernikahan?
Tidak mungkin bisa kutemukan sendiri.
Itu karena dia meninggalkanmu.
Pria tidak berguna!
Dia menelepon dan memberi tahu kami
tentang keberadaanmu, termasuk nomor peron di stasiun.
Bebamma
akan berada di peron nomor satu,
di Stasiun Kereta Api Sivok, Sikkim.
Kau bisa membawanya pulang besok pagi.
Ayah berbohong, bukan?
Ayah sedang membohongiku.
Kau sungguh tidur dengannya?
Jika kau jujur kepadaku
bahwa kalian tidak tidur bersama dalam enam bulan terakhir,
akan kubiarkan kau pergi.
Cobalah mengingatnya.
Mana mungkin aku membiarkannya setelah dia menghancurkan kehormatanku?
Kau tahu apa yang kulakukan?
Aasi!
Lepaskan dia!
- Aasi! - Ayah!
Lepaskan dia! Dia akan mati!
Pak Rayanam…
Mereka akan membunuhnya.
Tolong selamatkan dia.
Mereka akan membunuhnya.
Ayah!
Jalayya, kau dan putramu membodohiku.
Pak…
Putramu yang membawa putriku ke laut.
Kau mengarang cerita dan bilang pria itu orang lain.
Maafkan aku, Pak.
Aku bersalah. Itu kulakukan demi melindungi putraku.
Maafkan kami. Kami akan pergi selamanya.
Putraku dipukuli hingga berdarah.
Biarkan saja.
Begitu melihat darah tumpah, kau dan putramu akan mengerti.
Saat darah manusia ditransfusikan,
kecuali golongan darahnya sama, penerimanya akan mati.
Sama halnya, putramu bukan dari kastaku, mana bisa jatuh cinta kepada putriku
dan dibiarkan hidup begitu saja?
Kasta rendah kurang ajar!
Tolong hentikan mereka, Pak!
Apa istrimu hanya tidur denganmu dan melahirkannya?
Rayanam!
Jaga ucapanmu!
Putrimu bermalam dengan putraku yang berkasta lebih rendah.
Apa kasta putrimu? Apa kastamu?
Beraninya!
Jalayya, kau benar.
Kasta bukan penghalang bagi cinta.
Rayanam!
Rayanam, lepaskan dia.
Kumohon.
Hei.
Satu-satunya alasan putriku mencintaimu adalah karena kau pria.
Aku tidak akan membunuhmu.
Tidak!
Kumohon, jangan!
Aku akan memotong kejantanan yang disukai putriku.
Aasi!
Tolong lepaskan dia, Pak! Kumohon!
Tidak!
Aasi!
Hei.
Kau mencintai putriku, tapi aku membiarkanmu hidup.
Karena tidak bisa bercinta lagi, kau akan hidup menderita.
Cinta yang begitu hebat
hanya ada di buku sejarah dan kuburan.
Setelah jadi pernikahan dan keluarga,
cinta sama sekali tidak hebat.
Itulah sebabnya, cinta hanya ada dalam sejarah.
Tidak ada masa depan dalam masyarakat.
Paham?
Ikut denganku atau aku bunuh diri.
Bebamma, ada yang ingin kusampaikan.
- Akan kutarik handukmu. - Hei!
Aku membawamu bukan untuk tinggal bersama, Bebamma.
Melainkan agar kau belajar bertahan hidup tanpa aku.
Aku menjaga jarak, tapi aku selalu menjagamu.
Aku tidak tahu cara memberitahumu.
Aku ingin kau tahu yang sebenarnya.
Itu sebabnya kulakukan ini, Bebamma.
Kenapa kau tidak menikahiku?
Ayahmu akan bereinkarnasi sebagai bayi kita.
Aku menginginkanmu, tapi tidak tahu bagaimana bisa hidup bersamamu.
Jika aku menahanmu bersamaku,
kau akan menyebutnya cinta atau pengkhianatan?
Entahlah.
Tapi saat kau bilang ingin punya anak, aku merasa telah mengkhianati cintamu.
Maka aku mengirimmu pulang, Bebamma.
Kanakam!
Ambilkan aku air!
- Govindu. - Ya?
Bisakah kau membantuku?
- Pak… - Silakan.
Ada apa?
Bisakah kau mengantarku kepada Aasi di mana pun dia berada sekarang?
Lepaskan tanganku, Ayah.
Lepaskan tanganku.
- Dia tidak bisa memberimu apa pun. - Lepaskan tanganku.
Lepaskan tanganku, Ayah!
Aku mulai marah, Ayah.
Aku akan segera menua.
Sudah seharusnya aku marah kepada Ayah.
Meskipun Ayah membuatnya menderita,
Aasi tak pernah mengatakannya dan tersiksa diam-diam,
maka aku juga marah kepadanya!
Aku akan menemuinya dan menua bersamanya.
Aku putri Ayah.
Bagaimana Ayah bisa berpikir aku pergi bersama Aasi hanya untuk tidur dengannya?
Jika hanya mau tidur dengannya,
aku bisa melakukannya setiap hari dan pulang ke sini.
Dia mencintaiku, Ayah.
Ada apa?
Dia membawaku ke laut karena aku memintanya.
Karena tidak bisa memberikan permintaanku,
dia membiarkan Ayah membawaku pulang.
Hanya itu saja.
Tidak ada alasan lain.
Bagaimana cara Ayah dan Aasi
menilai kejantanan seorang pria?
Akulah yang harus menilainya.
Ayah bertanya kami tidur bersama atau tidak selama enam bulan terakhir.
Ya, benar, Ayah.
Dan selama itu,
aku tidak pernah merasa kekurangan sesuatu dalam hidupku.
Adakah gadis lain yang bisa menemukan pria yang lebih baik dari Aasi, Ayah?
Dosenku mengajari kami sesuatu.
Dia bilang kejantanan bukan sesuatu yang ada di antara paha.
Melainkan ada di setiap saraf dan otot di tubuh pria.
Karena itulah saat Aasi memegang tanganku, aku mulai berkeringat.
Ayah, cinta berarti mempertahankan orang yang disayangi,
dan tidak melepaskannya.
Mana mungkin Ayah tahu soal cinta?
Sejak ibuku terbaring sakit,
andai Ayah memegang tangannya dengan mesra sekali saja,
Ayah akan merasakan kesulitan untuk melepaskannya.
Bagaimana aku bisa membuat Ayah mengerti?
Aasi tidak perlu berbaring di atasku.
Jika dia berbaring di sampingku, itu sudah cukup.
Jika Ayah sungguh berpikir aku hanya ingin tidur dengannya…
Aku pernah bermalam dengannya.
Pengalaman itu sudah cukup untuk seumur hidupku.
Aku akan hidup bersama Aasi.
Restuilah aku, Ayah.
Pak…
Bebamma…
Pak! Bebamma…
Pak, dia pergi.
Hentikan dia.
Govindu!
Saat putrinya membantah,
dia sama sekali tak bisa membalas!
Kenapa kau mau menghentikannya?
Biarkan dia.
Jangan khawatir.
Kau masih bisa memelukku.
Kau masih bisa menciumku.
Kau bisa mencintaiku sepuasnya.
Kau melepaskanku karena aku ingin punya anak?
Jika punya anak, aku ingin kau jadi ayah mereka, Aasi.
Bukan orang lain.
Tidak, Bebamma.
Ya, Dewa.
Mohon lindungi kami.
Kakek.
Dewa kehilangan satu tangan.
Apa Dia masih bisa memberkati kita?
Patungnya mungkin rusak,
tapi tak ada yang bisa merusak dewa.
Dewa bersemayam di dalamnya.
Kerusakan luar pada patung tidak penting.
Cinta dan keilahian tidak pernah mengalami kekurangan fisik.
Lihat.
Aku berkeringat saat kau di sisiku.
Meskipun Rayanam memotong kemaluan Aasi,
dia tak bisa merenggut kejantanan Aasi.
Hati manusia ibarat lautan,
dan cinta yang lahir di sana ibarat air pasang.
Laut mungkin memiliki batasan, tapi air pasang tak bisa ditahan.
Itu sebabnya Bebamma melewati batas dan pergi bersama Aasi.
Bukankah satu belaian penuh kasih cukup untuk seumur hidup?
RIP subtitle oleh Putra
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.