All language subtitles for Trab Fah Mee Tawan E19 FIN

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Subtitle from WeTV by Hwang_24]

♪Ada apa sebenarnya?♪

♪Entah ada apa dengan hatiku♪

♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪

♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh dengan semangat♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Tetap di sisiku dan merepotkanku♪

♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu♪

♪Mungkin terpikat oleh sikap spontanmu♪

♪Juga tidak pernah bertemu dengan wanita sepertimu♪

♪Membuatku luluh karenamu♪

♪Membuatku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Karena kau membuatku marah dan menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪

♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

Cuplikan episode sebelumnya Saya punya bukti.

Saya memohon untuk menyiarkan rekaman.

Yang berupa benda bukti kasus ini juga.

Anda lah yang membuat janji temu dengan terdakwa.

Kemudian juga menggunakan pisau ini untuk melukainya.

Benar, atau tidak?

Benar.

Saya menolak mengakuinya.

Kau tak bisa melarikan diri lagi, Mark.

Kau juga sama jahatnya dengan ibumu.

Jika aku telah menyelesaikan pekerjaanku,

aku ingin meninggalkan tempat ini.

Boleh kah jangan pergi, Paeng?

Tidak peduli demi alasan apa pun,

Aku sudah memutuskannya.

Peluk yang erat.

Kak Arthit jangan mengusiliku.

Aku juga tidak tahu...

Apa yang harus kulakukan,

agar bisa membuatmu tinggal.

Jawablah aku, Paeng.

Apa yang harus kulakukan?

Tuan muda Arthit,

Sedang sibuk?

Bibi Thongkam.

Ada apa?

Aku...

Ada sesuatu yang ingin kuberitahu tuan muda Arthit.

Berjanjilah pada tante,

di antara kau dan Arthit...

...tidak akan ada hubungan melewati kakak beradik.

Kalau kau berjanji,

kau pasti mentaatinya.

Kalau dengan begitu bisa membuat tante tenang,

aku akan berjanji.

Ah, Arthit.

Pulang makan siang.

Kenapa tidak menelepon dan mengabari dulu?

Ibu.

Kenapa ibu ingin mengusir Paeng?

Ibu.

Bukankah kita sudah membicarakannya?

Ibu tidak mengusirnya.

Paeng sendiri yang memilih untuk pergi.

Ibu hanya memohon satu hal,

agar Paeng tinggal di sini dengan identitas yang lain...

...selain menantu.

Kenapa, ibu?

Kenapa ibu tidak bisa menerima Paeng?

Apa yang kurang dari Paeng?

Paeng mungkin saja orang yang baik, aku tidak menyangkalnya.

Akan tetapi, pernikahan...

...bukan hanya tentang percintaan saja.

Masih ada hal yang lain.

Hal apa, ibu?

Kalian berdua,

tidak ada hal yang cocok di antara kalian.

Kalau bersama,

hanya akan terus membawa masalah.

Gara-gara Paeng, kau sudah hampir mati berkali-kali.

Yang paling kukhawatirkan adalah...

Paeng berasal dari keluarga yang tidak sempurna.

Bagaimana kami bisa memastikan,

Paeng tidak akan berubah menjadi seperti itu suatu hari nanti?

Aku tidak bisa menerima hal seperti ini terus terjadi.

Ibu tidak memberi Paeng kesempatan,

tidak memberi kami kesempatan.

Aku berbuat begitu karena mencintaimu.

Ibu

Aku yakin,

aku dan Paeng bisa mendirikan keluarga yang sejahtera.

Selama ini,

aku dan Paeng...

...tidak peduli apa pun yang terjadi,

kami tidak pernah meninggalkan satu sama lain.

Itu sudah bisa membuktikan,

dia adalah orang yang ingin kulewati hidupku bersama.

Kalau tidak bisa diteruskan lagi?

Pasti bisa, ibu.

Lihat.

Kau hanya melihat yang di depan mata,

tidak memikirkan masa depan.

Ibu tidak ingin melihat...

...keluargamu hancur, nak.

Ibu, dengarkan lah aku.

Kau lah, yang harus dengarkan aku.

Ibu sangat mencintaimu.

Kau adalah anak ibu satu-satunya.

Ibu ingin melihat kau mempunyai kehidupan yang baik.

Tidak perlu menghadapi masalah.

Ibu.

Aku yakin,

tidak peduli apapun yang terjadi,

Paeng akan terus menggenggam tanganku.

Kami akan bisa menghadapinya bersama.

Aku yakin, ibu,

Baik.

Kalau kau memilih Paeng,

maka lupakan saja...

...kalau kau masih punya ibumu ini.

Tuan muda.

Tuan muda.

Ayo lihat hujan bintang?

Ayo ajak nona Paeng ikut nonton.

Bisa mengenang masa lampau.

Ayo, tuan muda.

Aku akan menyiapkan tempat strategis untukmu.

Bagaimana?

Aduh.

Tuan muda tidak perlu sungkan.

Aku rela melakukannya untuk tuan muda.

Terima kasih, Sab.

Akan tetapi aku tidak ingin melihatnya.

Kenapa?

Tuan muda.

Kembalilah ke dirimu yang sebelumnya.

Maki aku, usir aku...

...atau tendang aku, potong gajiku.

Begini bukan kau lagi, tuan muda.

Tuan muda berterima kasih padaku,

itu sudah bukan tuan muda lagi.

Sab. Ingin ditendang, ya?

Kalau masih terus menangis,

aku akan memotong gajimu.

Ya begini.

Terima kasih tuan muda.

Memang seharusnya begini.

Paeng.

Kak Arthit.

Kak Arthit.

Mau membawaku kemana?

Ikut saja denganku.

Nanti juga tahu.

Untuk apa kak Arthit membawaku kemari?

Aku ingin agar kita mempunyai kenangan indah bersama.

Saat Paeng pergi nanti,

Paeng akan bisa merindukanku.

Saat Paeng tak di sisiku lagi,

aku juga bisa mengenang...

...kenangan indah kita bersama.

Indah?

Sangat indah.

Langit...

...dan juga matahari.

Seperti kau dan aku.

Wan Fahmai...

...dan Arthit.

Aku sudah tahu...

...alasan kau ingin meninggalkan tempat ini.

Karena ibuku tidak bersedia menerimamu.

Kau tak memberitahuku.

Itu... aku...

Kau tak perlu menjelaskannya.

Aku mengerti semuanya.

Akan tetapi sekarang,

aku hanya ingin mendengar sepatah kata.

Kata yang tak penah kudengar kau ucapkan padaku.

Di luar dari keterkaitan ibuku,

kalau hanya tersisa kita...

Bolehkah beritahu aku...

...bagaimana perasaanmu terhadapku?

Kalau mengetahuinya, bisa membuat kita terluka,

sebaiknya tidak dikatakan saja.

Aku rela terluka.

Beritahu aku, Wan Fahmai.

Aku...

Aku mencintai kak Arthit.

Terima kasih, Paeng.

Terima kasih telah memberitahuku.

Terima kasih mencintaiku.

♪ Di antara langit nun jauh ♪

♪ Tak kusangka kita bertemu di hari ini ♪

♪ Di antara berjuta tahun ♪

♪ Cinta menghubungkan kita ♪

Kau melihat kemana, Paeng? ♪ Cinta menghubungkan kita ♪

♪ Cinta menghubungkan kita ♪

♪ Biarpun langit dan bumi perbedaan kita ♪

♪ namun kita saling mengasihi ♪

Aku berharap kak Arthit hidup bahagia.

Aku berharap kak Arthit hidup bahagia. ♪ Biarpun takdir menentukan asal kita ♪

♪ Biarpun takdir menentukan asal kita ♪

dan punya kehidupan yang bahagia. ♪ Biarpun takdir menentukan asal kita ♪

♪ Biarpun takdir menentukan asal kita ♪

♪ biarkan kita bertemu dalam pencarian hidup ♪

Aku berharap waktu terhenti. ♪ biarkan kita bertemu dalam pencarian hidup ♪

♪ biarkan kita bertemu dalam pencarian hidup ♪

Berhenti di saat ini. ♪ biarkan kita bertemu dalam pencarian hidup ♪

♪ biarkan kita bertemu dalam pencarian hidup ♪

♪ Ingin menghentikan waktu ♪

♪ Untuk setiap jam dan setiap menit ♪

♪ Hatiku ♪

♪ dan semua hal ♪

♪ senang maupun sedih kudekap semua ♪

♪ hingga selamanya ♪

♪ Biarpun aliran waktu ♪

♪ mungkin bisa menjauhkan kita ♪

♪ Ingin menghentikannya ♪

Aku tak ingin melihatmu menangis lagi.

Bolehkah lalui malam ini bersamaku, Paeng?

Kalau ini malam terakhir kita berdua...

Kalau kau yakin...

...kau ingin bersamaku,

aku akan meyakinkan ibuku.

Aku akan mengatakan, kita akan menikah.

Aku tidak ingin tante semakin galau.

Kita bersama,

jelaskan pada ibu.

Ya, Paeng?

Cari ibuku.

Kak Arthit.

Aku tidak ingin tante...

...berkompromi karna terpaksa.

Aku tak ingin keluarga kita...

...berdiri di atas retaknya keluargamu.

Aku ingin melihat setiap orang berbahagia.

Biarpun... kita sendiri tidak bahagia?

Kita berdua, sudah sangat berbahagia karna saling mencintai.

BIarpun kak Arthit tidak bisa menikah denganku,

namun kita berdua saling mencintai.

Hanya begitu saja, aku sudah sangat berbahagia.

Akan tetapi kebahagiaanku...

...karena adanya keberadaanmu.

Ataukah...

kalau kau tidak senang,

kau bisa memberitahuku.

Apa yang harus kulakukan?

Kak Arthit.

Paeng.

Kumohon padamu.

Lalui bersama denganku.

Jika ini malam terakhir.

Jangan takut.

Aku tidak akan melampaui batas.

Aku hanya ingin agar kita berdua...

...memiliki kenangan indah.

Bersamalah denganku.

Ya?

Aku ingin mandi dulu.

Jangan menoleh, Paeng.

Aku tidak ingin kau melihatku yang lemah.

Aku hanya ingin kau...

...mengingat senyumku saja.

Aku hanya ingin bersamamu seperti ini.

Arthit.

Paeng.

Kau mengingkari janjimu terhadapku.

Kau ingkar janji.

Janji apa, ibu?

Apa yang ibu buat Paeng janjikan?

Tante.

Paeng.

Apa yang kau janjikan terhadap ibuku?

Karena janji ini kah...

...makanya kau ingin pergi?

Kak Arthit...

Tante salah paham terhadap kami.

Di antara kami tidak terjadi apapun.

Ibuku tidak salah paham.

Kita berdua memang saling mencintai.

Aku tidak setuju ibuku...

...memaksamu dengan cara seperti ini.

Aku akan membicarakannya dengan ibuku.

Kak Arthit. Kak Arthit.

Jangan berbuat seperti itu.

Aku mau berbuat seperti ini.

Kak Arthit.

Aku kira kita telah saling mengerti.

Aku baru bersedia bersamamu.

Tidak akan muncul hal seperti ini.

Kalau kau berbuat sesuatu,

semuanya akan menjadi kacau.

Pasti akan membaik, Paeng.

Paeng, percayalah padaku.

Tidak.

Paeng, dengarkan aku.

Kak Arthit, kau lah yang dengarkan aku.

Jangan buat masalah menjadi lebih kacau lagi.

Jangan menghalangiku lagi.

Kau terus bersikukuh ingin pergi.

Aku sama sekali tidak bisa menghentikanmu.

Karena kau tidak pernah berpikir ingin mengusahakannya bersamaku.

Kak Arthit juga tidak pernah menerima keputusanku.

Baik.

Aku terima juga boleh.

Turuti keinginanmu.

Kenapa harus mendesah begitu?

Arthit sungguh kasihan.

Paeng memilih untuk pergi.

Dia sudah mengerahkan jurusnya.

Masih tidak membantu juga.

Mungkin juga dosa yang pernah Arthit lakukan padanya.

Kak Arthit akan tahu,

bagaimana rasa bertepuk sebelah tangan.

Berhati hitam.

Kak Cancer.

Arthit tidak bertepuk sebelah tangan.

Mereka berdua saling mencintai.

Aku juga yakin mereka saling mencintai.

Cukup.

Aku tidak ingin mendengarnya.

Yang seperti itu tidak ingin dengar lagi.

Ibu.

Aku masih ibumu?

Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.

Tidak perlu pedulikan perasaan ibumu.

Pergilah.

Ingin menikah juga terserah kau saja.

Bahkan belum menikah sudah begitu.

Apa yang bisa ibu lakukan?

Hmph.

Ibu.

Aku dan Paeng...

...tidak ada apapun di antara kami.

Aku datang untuk memberitahu ibu,

aku akan melepas tangan membiarkan Paeng pergi.

Kalau ini bisa membuat ibu lega,

membuat Paeng lega,

aku hanya bisa menerimanya.

Arthit.

Ibu berbuat begini,

karena cintaku padamu.

Arthit.

Kau mengerti ibu, 'kan?

Ibu sangat gembira.

Arthit bisa menuruti ibu.

Jadi ibu juga sangat gembira melihatku menderita?

Aku bersedia menuruti semua arahan ibu,

karena aku berharap suatu hari nanti,

ibu juga bisa melihat...

...apa yang aku dan Paeng inginkan.

Aku bisa menunggu.

Menunggu ibu melihat cinta kami.

Tuan muda, mari kubantu.

Tidak apa-apa, aku sendiri saja.

Jam Kerja: setiap hari 10:00 – 21:30

Ibu buatkan kesukaanmu.

Makanlah sedikit, nak.

Terima kasih, ibu.

Paeng...

Bisakah kita tetap berkomunikasi?

Apakah kau akan menghubungiku?

Aku...

Aku tak ingin membuatmu menungguku.

Tidak peduli berapa lama pun, aku akan menunggumu.

Jangan begitu.

Aku ingin agar kau kembali seperti dulu.

Seperti saat sebelum aku kembali.

Aku tak sanggup.

Apakah kau sanggup?

Aku sanggup.

Aku akan mempunyai kehidupan baru.

Kak Arthit jangan lupa,

Aku sudah pernah melalui begitu banyak hal.

Hal sekecil ini...

Aku akan segera melupakannya.

Kau mengatakan hal yang membuatku sakit hati.

Aku mengatakan yang sebenarnya.

Aku ingin agar kau patah hati terhadapku.

Aku tak sanggup.

Aku akan menunggu kepulanganmu.

Kak Arthit harus sanggup.

Aku tidak sehebatmu.

Jangan meneleponku.

Karena aku akan sangat sibuk.

Bunga Valentin.

Terima kasih.

Kenapa?

Ada sesuatu di mukaku?

Terima kasih.

Kak Cancer menghiburku...

...di hari aku bersedih.

Hari yang mana?

Ooh.

Hari kau di tolak Arthit?

Ya.

Aku mau membalas budi kak Cancer.

Makanan kali ini gratis untuk kak Cancer.

Ah.

Ooh.

Terima kasih, adik Nang.

Aduh, terlalu terharu.

♪Ada apa sebenarnya?♪

Makan yang banyak ya. ♪Ada apa sebenarnya?♪

Makan yang banyak ya. ♪Entah ada apa dengan hatiku♪

Terima kasih banyak. ♪Entah ada apa dengan hatiku♪

♪Entah ada apa dengan hatiku♪

♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪

Eh... yang ini. ♪akan merasakan perasaan ini♪

Eh... yang ini. ♪Kenapa aku bisa luluh♪

Maaf. ♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

Ini bukan ikan yang biasanya. ♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

Ini adalah ikan asmara. Jadilah pacarku. ♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

Ini adalah ikan asmara. Jadilah pacarku.

Nona Paeng buatkan untuk tuan Arthit.

Ah. Tuan Arthit sudah kembali.

Apa yang sedang tuan Arthit cari?

Aku antarkan makanan yang kubuat untuk tuan Arthit.

Sama seperti yang dulu nona Paeng buatkan.

Nona Paeng yang mengajari aku.

Kurasa kalau tuan Arthit makan,

mungkin bisa merasa lebih senang.

Menurutmu bisa?

Eh... tidakkah?

Eh... kalau begitu, aku ambil kembali.

Aku makan sendiri juga boleh.

Kau juga kangen Paeng?

Tentu saja kangen.

Aku sudah menjaganya sejak dia kecil.

Hampir tidak pernah berpisah.

Bagaimana bisa tidak kangen?

Ya, 'kan?

Tapi, rasanya, biarpun tanpa nona Paeng, kau juga tidak terlihat sedih.

Aku merasa suatu hari kelak nona Paeng akan kembali.

Nona Paeng tidak memiliki siapa pun lagi.

Bagaimana mungkin tidak pulang, benar, 'kan?

Oh. Masih ada satu hal lagi.

Nona Paeng menitipkan padaku...

...untuk menjaga tuan Arthit dengan baik.

Pantas. Selalu datang menggangguku.

Apakah aku mengganggu tuan Arthit?

Sedikit.

Oh, maaf, tuan Arthit.

Tidak apa-apa.

Kalau begitu, aku makan sendiri saja.

Menurutku enak juga.

Untuk apa kemari?

Aku datang untuk memaafkanmu.

Semua yang kau lakukan...

...sudah kumaafkan.

Hal yang telah berlalu,

biarlah berlalu.

Kita tidak bisa mengubahnya lagi.

Yang bisa kita lakukan sekarang...

...adalah terus melangkah maju.

Kalau masa hukumanmu berakhir,

jangan ulangi lagi kesalahan yang dulu.

Kau mengasihaniku?

Benar.

Aku mengasihanimu.

Sebenarnya kau dan aku sama saja.

Kau adalah yatim piatu,

aku sendiri juga sama.

Anak-anak seperti kita,

biarpun tidak ada yang mengarahkan,

kita tetap bisa memilih untuk menjadi orang yang baik.

Karena orang yang paling bisa mendidik kita...

...adalah diri kita sendiri.

Aku sangat beruntung,

bisa mengerti baik dan buruk, benar dan salah.

Aku baru bisa memilih jalan yang benar.

Akan tetapi, kau...

...telah memilih jalan yang salah.

Kau masih bisa bertobat.

Maka aku memberitahumu,

saat kau bebas...

janganlah kau ulangi lagi...

...kesalahan seperti sebelumnya.

Jangan munafik lagi.

Bagaimana kehidupanku,

juga tidak ada hubungannya denganmu.

Sebenarnya kau dan aku sama saja.

Kau adalah yatim piatu,

aku sendiri juga sama.

Anak-anak seperti kita,

biarpun tidak ada yang mengarahkan,

kita tetap bisa memilih untuk menjadi orang yang baik.

Karena orang yang paling bisa mendidik kita...

...adalah diri kita sendiri.

Aku sangat beruntung,

bisa mengerti baik dan buruk, benar dan salah.

Aku baru bisa memilih jalan yang benar.

Akan tetapi, kau...

...telah memilih jalan yang salah.

Kau masih bisa bertobat.

Maka aku memberitahumu,

saat kau bebas...

janganlah kau ulangi lagi kesalahan seperti sebelumnya.

Paeng.

Paeng.

Ibu telah mengkhianati ayah.

Kau berselingkuh.

Ibu tidak mencintai ayah lagi,

tidak mencintai aku lagi.

Baik-baik saling mencintai malah tidak kau sukai.

Terima kasih.

Sudah baikan?

Jauh baikan.

Lain kali kalau lecet sepatu lagi...

...beritahu aku.

Kaki indahmu takkan terluka lagi.

Ya. Terima kasih begitu memperhatikanku.

Bahkan kakiku juga kau perhatikan.

Dengan senang hati.

Kak Cancer juga berdandan cakep.

Sudah siap berangkat?

Sudah.

Ayo.

Arthit.

- Arthit. - Cancer.

Cancer berdandan begitu ganteng.

Mau kemana?

Ah.

Aku mau pergi menerima penghargaan top sales tahunan.

Tidak ikut menyelamati temanmu ini?

Selamat.

Terima kasih.

Eh... Nang.

Dimana Thanon?

Kak Thanon sedang rapat.

Kalau begitu aku titipkan ini padamu, tolong serahkan padanya nanti.

Selamat.

Terima kasih.

Sudah diumumkan?

Kak Arthit sungguh kasihan.

Ah, adik Nang,

masa kau masih menyukai Arthit?

Kau gila?

Mengagetkan aku saja.

Paeng.

Adik Nang.

Kak Nang, kenapa kau di sini?

Di sini Bangkok.

Bukan hutan Amazon.

Naik mobil sebentar saja sudah sampai.

Sebenarnya aku sambilan main ke sini.

Lalu sambilan mencarimu untuk mengobrol.

Kau benar-benar tidak kembali kepada kak Arthit lagi?

Sebenarnya kak Nang orang yang baik.

Kau sendiri tidak merasa?

Jangan berlagak lagi.

Aku sungguhan.

Setiap kali aku melihatmu,

seperti melihat diriku sendiri.

Ya. Begitu kah?

Aku juga berpikiran sama.

Makanya kami bisa menyukai pria yang sama.

Bagaimana?

Cepat jawab.

Kau benar-benar tidak kembali pada kak Arthit lagi?

Jangan salahkan aku memberimu pelajaran.

Kita bisa menemukan orang yang tepat...

...dan bisa saling mencintai,

bukanlah hal yang mudah.

Kau masih berbuat begitu banyak kesalahan terhadapnya.

Dia tetap saja bisa memaafkanmu.

Kau benar-benar tidak kembali padanya?

Siapa bilang aku akan meninggalkan kak Arthit?

Paeng.

Apakah Arthit mencarimu?

Kak Arthit tidak mencariku.

Tante tidak perlu khawatir.

Tante...

Tante, kenapa?

Eh...

Paeng.

Pulang dan temuilah Arthit, ya, nak?

Tante?

Ada apa dengan kak Arthit? Apakah terjadi sesuatu?

Paeng.

Tante minta maaf.

Tante telah bersalah.

Tante membuat anak sendiri tidak bahagia.

Tante membuat semuanya lebih kacau.

Tante melihat anak sendiri...

...hidup seperti tak punya hati.

Hanya bisa bekerja...

...seperti mesin.

Tante.

Tante harus berikan sedikit waktu pada kak Arthit.

Tante tidak bisa menerima...

...untuk melihatnya terus begitu.

Tante selalu merasa bersalah setiap kali melihatnya.

Lagipula, hari ini...

Tante juga merasa bersalah padamu.

Tante lah yang membuatmu pergi.

Hari ini.

Tante kemari untuk memohonmu kembali.

Kembali dan temuilah Arthit, nak.

Tante benar-benar bersalah.

Ya?

Tante jangan menyalahkan diri lagi.

Ini berarti...

Aku sedang bersiap untuk kembali dan menemui kak Arthit.

Oh.

Begini kan bagus.

Keranjang apa?

Hadiah untuk Ling.

Apa itu?

Mengusili Ling, ya?

Aku tidak mengusili Ling.

Keranjangnya bergerak.

Apa itu?

Ling coba buka dan lihat.

Anak anjing.

Ya.

Bagaimana? Lucu?

Lucu sekali. Siapa namanya?

Menunggu nama darimu.

Terlalu lucu.

Kasih nama apa ya bagusnya?

Beri nama...

Eh...

Bagaimana kalau "Rumput kecil"?

Ya. Boleh juga. Lucu juga.

Rumput kecil.

Halo.

Oei.

Ah. Kalau bekerja, lebih tangkas sedikit.

Jangan bertele-tele begitu.

Oh. Tuan muda.

Kami sudah mulai bekerja sejak dini hari pukul lima.

Tidak bisa kah kami beristirahat sebentar?

Sakit sekujur tubuh.

Ingin istirahat?

Baik.

Benarkah, tuan muda?

Biar kuaturkan libur panjang.

Libur panjang.

Kenapa kedengarannya aneh, kak Sab?

Libur panjang...

Maksudnya tidak perlu bekerja lagi, tuan muda?

Ya. Tidak perlu bekerja lagi.

Gajinya juga tidak perlu lagi.

Tempat untuk tidur juga tidak ada lagi.

Ah.

Masih tunggu apa lagi? Cepat bekerja.

Cepat. Cepat.

Cepat.

Cepat.

Di sini masih ada satu lagi.

Hei. Bantuin.

Nona Paeng, oh, Nona Paeng...

Kenapa harus pergi?

Membuat kami ikut sial saja.

Makanya itu.

Sejak nona Paeng tidak ada di sini lagi,

tidak tahu apakah tuan muda keterlaluan rajinnya.

Sudah mulai bekerja sebelum matahari terbit.

Hingga matahari terbenam baru selesai.

Kalau terus-terusan begitu...

Yang mati duluan bukan tuan muda,

tapi kami.

Sab kangen nona Paeng.

Ung juga kangen nona Paeng.

Oat juga kangen nona Paeng.

Siapa yang kangen aku?

Nona Paeng!

Nona Paeng benar-benar kembali?

Kenapa merasa aku tidak akan kembali lagi?

Proyek Tomat Yellow Sweet

Kak Arthit.

Siapa yang membiarkan orang luar masuk ke perkebunan?

Aku akan memotong gaji semua orang.

Kak Arthit masih marah padaku?

Barusan suara apa, Sab?

Seperti ada suara yang ingin menarik perhatian.

Menyebalkan.

Cieh. Mulutnya masih berbisa, kak Arthit.

Tuan muda, ini nona Paeng.

Proyek Tomat Yellow Sweet

Dia pasti masih marah pada nona Paeng.

Aku tahu, kak Sab.

Aku harus bagaimana?

Ya harus menghibur dia.

Benar.

Semuanya harus mendukungku, ya.

Bagaimana caranya?

Datang. Nona Paeng, nona Paeng.

Ada apa, semuanya?

Tuan muda segera muncul.

Masih tunggu apa lagi?

Ah... Apa yang sedang nona Paeng cari?

Benar, nona Paeng.

Ah. Bisakah tunggu sebentar?

Aku mulai bingung.

Kenapa menghadang?

Ingin ditabrak?

Bagaimana ini?

Apa yang sedang kalian lakukan?

Maaf

Berbaikan ya?

Boleh nebeng?

Nona Paeng.

Nona Paeng.

Adikmu?

Dia segera kembali.

Apa yang ayah katakan?

Ibumu yang mengundangnya sendiri.

Benarkah, ayah?

Tidak ada wabah hama, 'kan?

Tidak.

Baguslah kalau begitu.

Kapan baru bisa dipanen?

Tunggu genap 60 hari akan bisa dipanen.

Baik.

Yang itu berapa umurnya?

Tunggu genap 80 hari cabut semua.

Terlau tua.

Benar.

Kak Arthit.

Apakah kak Arthit sudah bersedia berbaikan denganku?

Bagaimana bisa membiarkan lalat masuk?

Terus menggaung di telinga. Menyebalkan.

Aku sudah mau kembali.

Baik.

Sudah dengar?

Aku sudah mau kembali.

Sudah dengar.

Biar kau hibur sampai tahu salah.

Aih.

♪Mungkin terpikat oleh sikap spontanmu♪

Panas.

Panas. ♪Juga tidak pernah bertemu♪

♪Juga tidak pernah bertemu dengan wanita sepertimu♪

♪Membuatku luluh karenamu♪

♪Membuatku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

Sudah sejuk? ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

Sudah sejuk?

♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

Haus. ♪Tapi mengapa♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

Air. ♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

Airnya datang. ♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

Sudah saatnya pulang. ♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪

Kak Arthit. ♪Ingin kau tetap di sisiku♪

Kak Arthit. ♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

Kapan... ♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

...baru kak Arthit akan luluh, ♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

dan tidak mengusiliku lagi? ♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

dan tidak mengusiliku lagi?

Aku tidak mengusilimu.

Aku benar-benar marah.

Jangan marah padaku lagi.

Ini adalah hukuman.

Kalau begitu...

Kapan kak Arthit...

...tidak akan marah lagi padaku?

Belum tahu.

Oh.

Apa yang harus kulakukan?

Paeng.

Aku sudah memberitahu semuanya di perkebunan.

Aku mencintaimu.

Aku akan menikah denganmu.

Akan tetapi, kau malah mencampakkanku dan pergi.

Sekarang kau kembali lagi.

Ingin membuatku luluh.

Kau ingin mereka bagaimana menganggapku?

Kak Arthit takut kehilangan muka.

Katakan saja.

Apa yang kau ingin aku lakukan?

Kau harus memberitahu semua orang di perkebunan,

kalau kau mencintaiku

Kalau kau akan menikah denganku.

Untuk mengembalikan reputasiku.

Lalu aku...

...akan memaafkanmu.

Tidak dibatasi caranya?

Benar.

Akan tetapi...

Kau harus memberitahu setiap orang.

Setiap orang?

Tidak berani, 'kan?

Aku tahu.

Biar aku lihat...

...apakah kau bisa melaksanakan yang kau katakan.

Ehehehe.

Jangan bilang...

Paeng sudah memberitahu kalian.

Cepat juga.

Ah, Masih ada ratusan orang di perkebunan.

Apakah dia sudah mengumumkan pada semuanya?

Kak Arthit Suriyakkul.

Apakah bisa mendengarku?

Hei.

Kenapa? Kenapa?

- Mau kemana? - Cancer.

- Lepaskan aku. - Kemana?

Tidak bisa. Tidak boleh pergi.

Pergi menghentikan Paeng.

Tidak boleh.

Aku sudah melakukan sesuai keinginanmu.

Aku bersalah.

Saat itu memilih meninggalkan kak Arthit.

Aduh.

Kak Arthit. Maafkanlah aku.

Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan.

Kecuali...

Menjalankannya seperti pemeran utama wanita.

Aku mencintai kak Arthit.

Ooh.

Hei. Hehehe.

Sejak pertama kali bertemu.

Kalau dibilang aku sejak umur 15...

...sudah menggilai kak Arthit juga benar.

Kak Arthit...

...membuatku mengerti...

...aku harus tetap hidup,

dan tumbuh dewasa dengan cantik.

Aku bisa menjadi aku yang hari ini,

juga karena kau lah yang mengajariku.

Kau adalah teman,

juga guru,

juga orang yang aku cintai.

Kak Arthit adalah mentari pagi yang cerah dan gemilang,

juga sinar matahari senja yang hangat.

Biarpun terkadang terlalu terik,

Kak Arthit tetap saja matahariku.

Aah.

Aku sudah tak bisa mencintai orang lain lagi.

Hanya bisa mencintai kak Arthit seorang.

Menikahlah denganku.

Menikah. Menikah.

Arthit.

Biasanya pihak lelaki yang melamar.

Siapa yang membuatmu melamar?

Paeng.

Menikahlah dneganku.

Semuanya, aku mau menikah dengan kak Arthit.

Yei yei yei.

Waktu berlalu dengan cepat.

Kenapa aku merasa putra kita...

...masih anak-anak?

Apakah karena kau terlau mencemaskannya?

Ya.

Ah.

Terhadap aku yang menghalangi percintaan Arthit.

Tidakkah kau marah padaku?

Bagaimana aku bisa marah padamu?

Selama ini,

kau selalu mencintai aku dan anak lebih dari mencintai dirimu sendiri.

Aku yang harus berterima kasih padamu.

Kau mengajari kedua anak itu,

membuat mereka mengerti...

...betapa berharganya cinta.

Mereka baru bisa senantiasa menjaganya.

Seperti kita berdua.

Terima kasih telah mengerti aku.

Aku ingin agar anak hanya menikah sekali saja.

Seperti kita berdua.

Sangat beruntung Paeng bisa mengerti.

Aku benar-benar tidak salah pilih pasangan hidup.

Aku juga sangat bahagia telah memilihmu.

Menurutku, kau sebaiknya pakai masker.

Karena besok...

...kau harus muncul sebagai ibu pengantin.

- Benar juga. - Baru bisa mengkilau.

Sudah segera besok ya.

Persiapan pernikahannya sudah beres?

Ah, apakah aku melupakan sesuatu?

Tidak.

Kulihat kau sudah mempersiapkan semuanya.

Hei. Kau yakin?

Sudah. Jangan khawatirkan lagi, ya?

Baik.

Hei. Jangan panik.

Tentu saja.

Kalau begitu jangan menikah saja.

Dengan begitu tidak akan panik lagi.

Mulutmu ini.

Aku bercanda.

Arthit.

Mulai saat ini,

Paeng milikmu.

Arthit, kau harus menyayanginya,

dan menjaganya, nak.

Pasti, ayah.

Aku akan menyayanginya,

dan menjaganya,

dengan segenap kemampuanku.

Wan Fahmai & Arthit

Bagaimana keadaannya?

Sab.

Aku menyuruhmu menyalakan petasan.

Untuk apa kau menyiram air?

Kukira buka keran air.

Ah. Kacau, kacau. Sab.

Cepat tutup.

Cepat, cepat.

Saat ini juga. Cepat tutup.

Aduh.

Kak Arthit.

Menurutku hujannya semakin deras.

Ayo berteduh.

Tidak keburu lagi, Paeng.

Apakah ini lucu?

Kak Arthit.

Apakah akan terus kacau sampai tuntas?

Menurutku cukup seru juga.

Membuat pernikahan kita unik.

Akan tetapi...

Kalau harus sekacau ini...

Menurutku...

Kita langkahi saja prosedur pernikahannya.

Bagaimana?

Langsung masuk kamar pengantin saja.

Kak Arthit.

Ini tidak sesuai aturan.

Tidak ada yang berkata juga,

kalau harus menuruti prosedur.

Seharusnya bisa...

...diatur sesuai kondisi.

Tidak ada yang bisa tahu,

apa yang akan kita hadapi dalam hidup.

Kita mungkin melakukan hal yang benar,

dan melakukan banyak hal yang salah.

Akan tetapi jika kita telah bersiap,

untuk saling menjaga dan mendukung, dan terus menjalaninya hingga akhir.

Kita akan menemukan kalau kebahagiaan tidaklah jauh.

Asalkan kita bisa membuka hati,

menerima apa yang kurang maupun lebih dalam hidup.

kita akan bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup bersama.

Seperti matahari yang selalu terbit setiap pagi.

Agar kita bisa selalu mulai kembali.

Hujannya berhenti, Paeng.

Kak Arthit.

Kapan kau jatuh cinta padaku?

Harus dikatakan di sini?

Ya...

Aku ingin tahu.

Ya.

Tidak tahu sejak kapan.

Saat aku menyadarinya,

aku sudah jatuh cinta.

Aku mau mencium kak Arthit duluan.

Kalau begini?

Versi original.

Oke.

Aku mencintaimu.

Aku juga mencintai kak Arthit.

Ah. Maaf.

Barusan tidak keburu difoto.

Sekali lagi.

Siapa yang ingin mereka berciuman sekali lagi?

Mari tepuk tangannya.

Sekali lagi.

Sekali lagi.

♪Ada apa sebenarnya?♪

♪Entah ada apa dengan hatiku♪

♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪

♪Kenapa aku bisa luluh♪

Sudah? ♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

Apakah sudah siap? ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

Bersiaplah. ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪

Sebelah sini. ♪dan begitu menyebalkan♪

♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

Adik Nang. ♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

Adik Nang.

Adik Nang. ♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

Bawa pulang dengan ini. ♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

Bawa pulang dengan ini. ♪Ingin mengikuti kata hati♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

Tunggu kami. ♪namun hatiku penuh semangat♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

Segera tiba. ♪namun hatiku penuh semangat♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

♪Saat penghubung di antara kita sirna Bolehkah jangan bersikap dingin padaku?♪

♪Kau tahu jelas betapa aku mencintaimu♪

♪Aku tahu diriku tidak cukup baik untuk membuat kita saling mencintai♪

♪Perkataan maafku Ditinggalkan di sini begitu saja♪

♪Kesalahan yang hanya sekali♪

♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪

♪Bolehkah aku bertanya Karena selalu mengganjal di hati♪

♪Kesalahan yang hanya sekali Apakah kau tidak akan memaafkanku lagi?♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.