All language subtitles for Trab Fah Mee Tawan E06

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Subtitle from WeTV by Hwang_24]

♪Ada apa sebenarnya?♪

♪Entah ada apa dengan hatiku♪

♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪

♪Kenapa aku bisa luluh♪

♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh dengan semangat♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Tetap di sisiku dan merepotkanku♪

♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu♪

♪Mungkin terpikat oleh sikap spontanmu♪

♪Juga tidak pernah bertemu dengan wanita sepertimu♪

♪Membuatku luluh karenamu♪

♪Membuatku sedih karena kepergianmu♪

♪Gila, aku tidak merindukanmu♪

♪Karena kau membuatku marah dan menyebalkan♪

♪Tapi mengapa♪

♪Hatiku selalu terusik olehmu♪

♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪

♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪

♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪

♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪

♪Kembalilah dan usik hatiku♪

♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪

♪Meski sekali lagi menipuku♪

♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪

= Cuplikan episode sebelumnya = Tidak ada ruginya bagiku.

Ayah sudah meninggal, ibu juga sudah meninggal.

Aku tidak perlu mempedulikan siapapun lagi.

Kak Arthit ingin melecehkan aku.

Ngawur!

Tuan muda Arthit kecelakaan.

Pergi dan tinggal lah di sana sementara,

hingga semuanya membaik,

baru kembali lagi.

Selamat atas hidup barumu, nona Paeng.

Arthit. Sekarang Thanon sangatlah hebat.

Sekarang dia sangat digandrungi cewek-cewek.

Thanon, aku paman.

Ini aku, Ling.

Aku telah mendengar setiap patah katamu.

Kau ingin meninggalkan aku?

Tahukah kau? Kau tidak pandai berbohong.

- Paeng. - Paeng.

Tunggu sebentar, paman.

Tunggu sebentar, paman.

Sangat enak, nak.

Paman semakin gemuk saja.

Karna setiap kali paman mengunjungimu,

Paeng selalu menjejaliku makanan seperti ini.

Hadiah untuk sarjana baru.

Paman.

Sungguh terima kasih pada paman,

atas perhatiannya padaku selama ini.

Karena kau bukan orang luar, Paeng.

Kau seperti putri kandung paman sendiri.

Bagaimana mungkin paman menelantarkanmu?

Kau sudah lulus.

Apa rencana karirmu?

Mari kucoba.

Kau memberi paman banyak kejutan.

Dimulai sejak kau memilih untuk bersekolah agrikultur.

Apa yang sedang kau pikirkan?

Karna paman adalah idolaku.

Sungguh.

Aku bisa melihat bibit bunga yang tumbuh perlahan-lahan,

lalu berbunga dan berbuah.

Seperti memberiku kehidupan baru.

Seperti yang pernah kuberitahu paman,

aku akan berusaha semampuku.

Yaitu menanam bunga.

Bunga juga cocok untuk wanita, 'kan?

Aku ingin menggunakan kelopak bunga,

untuk membuat parfum,

membuat makanan, lalu teh bunga.

Karna aku dari jurusan ilmiah.

Akhirnya lega juga.

Paman masih mengkhawatirkanmu.

Kau hanyalah gadis kecil,

harus bercocok tanam segala...

Bagaimana bisa?

Itu juga aku bisa.

Ah?

Ta-dah.

Ini adalah tanah yang aku rencana beli.

Indah, 'kan?

Sangat indah.

Hebat sekali.

Aku berencana menggali sumur di sana.

Menanam kebun mawar di sana.

Lalu,

membangun sebuah pabrik kecil di sana.

Lumayan, 'kan?

Bagus juga.

Tapi, kau ingin tingggal di mana?

Kau butuh rumah, Paeng.

Oh. Lupa.

Aku hanya memikirkan tentang bunga mawar.

Menurutku, gunakan tempat untuk sumur,

untuk dijadikan gedung kecil saja,

yang lucu seperti yang di Beauty & the Beast.

Hebat, teman.

Benar.

Paman.

Paman suka?

Kau hanya seorang gadis kecil,

Bagaimana bisa membukan lahan dan berkebun?

Aku bisa, paman.

Paeng.

Tidak semudah yang kau bayangkan.

Kau sebagai anak perempuan,

tinggal sendirian di kebun,

tidaklah aman.

Lain kali,

paman tidak bisa membiarkanmu...

...melakukan apapun sendirian lagi.

Begitu pesimis?

Paman membuatku berjanji padanya.

Untuk pulang dan membuat kebun eksperimen.

Kalau dalam dua tahun aku bisa berhasil,

paman baru akan mengijinkanku melakukannya sendirian.

Begini juga baik.

Tidak perlu berbenturan sendiri.

Apanya yang baik?

Karna orang-orang di perkebunan paman...

Mereka tidak menyukai Paeng.

Bukan hanya tidak suka,

tepatnya benci.

Masalahnya besar.

Lalu, apa kau akan kembali?

Kembali... sama saja cari mati.

Tidak akan keluar hidup-hidup.

Lalu apa rencanamu?

Tidak tahu.

Sakit kepala untukmu.

Kenapa tuan tiba-tiba memesan...

...untuk membereskan kamar?

Aku punya firasat buruk.

Rasanya Paeng seperti akan kembali.

Ah. Kau.

Mulut gagakmu ini.

Karna tidak bisa dihindari.

Selama ini, tuan juga tidak pernah berpesan...

...agar kami membuka kamar ini.

Kenapa hari ini menelepon...

...dan menyuruh kami segera bereskan?

Seolah ada yang akan tinggal di sini saja.

Atau Thongkam tidak berpikir begitu?

Ya Tuhan...

Semoga Paeng setelah pergi,

jangan kembali lagi.

Paeng.

Paman lapar.

Paman.

Biar aku saja.

Aku sanggup.

Tapi paman tidak sanggup.

Paeng.

Kalau begini, saat paman meninggal nanti,

paman tidak akan berani menghadapi ayahmu.

Paman hanya mohon dua tahun saja,

bukannya seumur hidup.

Biar paman bisa memegang janji.

Biar paman bisa menjagamu.

Demi membalas budi ayahmu.

Aku benar-benar tidak bisa kembali.

Paman juga tahu alasannya.

Kenapa Paeng harus berpikir sebanyak itu?

Mereka tidak akan terus mengingatnya.

Tapi aku masih merasa bersalah.

Kalau kau masih merasa bersalah,

maka kembalilah untuk menebusnya.

Pulang dan biar mereka melihat,

kau sudah bukan kau yang dulu.

Benar, 'kan?

Kalau kau terus melarikan diri,

Kau akan terus lari...

...dan merasa bersalah seumur hidup, depresi...

Lalu orang yang merasa bersalah akan menjadi paman.

Apakah Paeng berharap seperti itu?

Paman.

Paman sudah memesan agar kamarmu dipersiapkan.

Kalau kau ingin kembali besok juga boleh.

Bagaimana?

Kalau begitu...

Aku... Aku butuh waktu untuk bersiap-siap.

Lalu membuat persiapan hati.

Boleh.

Paman, kalau begitu...

Apakah paman telah memberitahu yang lain?

Sudah.

Apa katanya?

Tidak mengatakan apa-apa.

Benarkah?

Ya.

Kalau begitu...

Yang lain?

Apa kata mereka?

Yang lain...

juga tidak mengatakan apa-apa.

Benarkah tidak ada yang mengatakan apa-apa?

Paeng.

Paman pernah mengatakan,

masalah sudah berlalu enam tahun,

tidak akan ada yang terus mengingat-ngingatnya, Paeng.

Bagaimana?

Kau ingin kembali besok?

Perlu paman jemput?

Tidak apa-apa, paman.

Aku sendiri saja.

Aku tunggu hingga tanggal 15 saja.

Baik.

Aduh, Wan Fahmai.

Apa?

Peta harta karun?

Bukan.

Ini adalah peta Sunshine Farm.

Kalau tidak bisa menghubungiku lebih dari tiga hari,

carilah mayatku...

Di sini.

Aku mungkin akan dikubur di sini.

Karena ini di belakang kebun.

Jarang dilalui orang.

Hei.

Apakah begitu menakutkannya?

Kau ini pergi memulai hidup baru,

atau mencari mati?

Seharusnya yang kedua.

Paeng.

Mantan tunanganmu...

Berhenti.

Tidak bisa membiarkan kalian tahu rahasia.

Ah, kak Arthit.

Apakah dia begitu menakutkan?

Bukan dia.

Tapi aku.

Aku yang melukai dia.

Paeng.

Kalau kau tahu,

apa yang akan kau hadapi,

kenapa masih saja kembali?

Tidak peduli bagaimanapun juga, aku harus kembali,

untuk membayar kesalahanku.

Dosa apa ini?

Haruskah pergi hari ini?

Benar, tuan.

Tapi hari ini keponakanku kembali.

Biar paman Phong yang gantikan aku saja.

Aku benar-benar tidak bisa pergi.

Tidak bisa.

Pihak mereka hanya akan berdiskusi dengan tuan seorang.

Kalau tuan tidak menemuinya hari ini,

dia akan membatalkan semua orderan tahun ini.

Kalau begitu, repot.

Pergi saja.

Ayo.

Kalian berdua.

Bolehkah aku peluk?

Ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu.

Baiklah.

Gila.

Jangan mengatakan kata-kata sial.

Aku hampir menangis.

Ingin makan apa?

Aku akan membuatkan sesajen untukmu.

Jahat.

Ah, aku lihat kau meninggalkan pesan warisan.

Dia juga sedang menangis.

Pergi, ya.

Ya.

Paeng.

Ingat telepon kami setelah tiba.

Ya.

Kau harus menelepon kami setiap hari.

Ya.

Hei.

Kau. Cukup.

Dengan begini, tidak perlu pergi lagi.

Paeng bukan pergi mati juga.

Cepat naik ke mobil.

Bye-bye.

Bye-bye.

Habis sudah.

Paeng kembali hari ini.

Kenapa kau baru beritahu aku sekarang?

Beritahu sekarang...

kau baru tidak ada waktu untuk menolak.

Mengatakan sekarang aku juga tetap menolak.

Paeng sudah dalam perjalanan.

Biar dia tinggal di kamar sebelumnya.

Aku pergi dua, tiga hari.

Aku segera kembali.

Aduh.

Aku tidak mendengar apa pun.

Terserah.

Jangan cari masalah.

Beritahu pada anak itu.

Aku ini,

pasti tidak akan mencari masalah duluan.

Baguslah kalau benar begitu.

Apa katamu?

Tidak apa-apa.

Aku duluan.

Tunggu, suamiku.

Kau sudah beritahu anak?

Kalau anak itu kembali hari ini?

Belum.

Kalau begitu merepotkanmu untuk mengabari anak.

Aku sudah harus berangkat.

Nanti keburu telat.

Suamiku. Aku bukan kotak pos.

Sebentar-sebentar membuatku menyampaikan pesan.

Berita besar!

Berita besar!

Berita besar apa maksudmu, Sab?

Biarkan aku bernafas dulu.

Kalau kurang besar,

hati-hati kena pukul.

Tentu saja besar. Pasti besar.

Lebih besar dari mukaku.

Dengarkan baik-baik, semuanya.

Aku hanya katakan sekali. Tidak akan diulangi.

Karna yang kedua kali tidak akan sama.

Cepat katakan. Bertele-tele saja.

Nona Paeng sudah kembali.

= Daftar pekerja = Nona Paeng sudah kembali.

Nona Paeng sudah kembali.

Ah? Terbengong.

Semuanya terbengong.

Bagaimana? Berita ini cukup besar, 'kan?

Berita darimana ini?

Aku mendengar nyonya mengatakannya.

Ya Tuhan.

Kali ini Tuhan juga tak bisa membantu, Thongkam.

Firasatku tepat.

Kenapa tuan bergegas...

...ingin membereskan kamar anak itu.

Sudah pergi, kenapa kembali lagi?

Untuk apa dia kembali?

Lalu bagaimana kak Arthit?

Apakah dia tahu?

Tahu atau tidak...

...juga tidak penting, paman Phong.

Karna ini adalah perintah tuan,

agar nona Paeng kembali ke sini.

Siapa yang berani menghalangi?

Berani kah?

Memangnya Paeng berani kembali lagi?

Itu aku juga tidak tahu.

Tapi aku tahu...

Tahu apa, paman Phong?

Tahu kalau...

...mulai hari ini, perkebunan kami tidak akan damai lagi.

Paman Phong.

Perkebunan kami...

...sudah sunyi beberapa tahun.

Kembalinya nona Paeng,

mungkin bisa membangkitkan ombak hiburan.

Lalala...

Sangat menghibur, ya?

Penuh kekacauan baru benar.

Harus bagaimana, Thongkam?

Kenapa harus kembali?

Tunggu dulu,

Maksdunya paman tidak ada di perkebunan?

Benar, nak.

Kebetulan paman ada pekerjaan mendadak.

Harus segera ditangani.

Tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama.

Beberapa jam saja?

Kira-kira dua, tiga hari.

Ini maksudnya tidak terlalu lama, paman?

Kalau begitu, aku...

Aku kembali dulu saja.

Tiga hari lagi baru aku kembali.

Paeng, tunggu dulu.

Paeng.

Paman sudah mengaturnya.

Mereka seharusnya sedang menunggumu.

Kembali ke perkebunan dan tunggulah paman.

Kita bertemu tiga hari lagi, nak.

= Sunshine Farm =

Tiga hari ya?

Masih bisa bertahan hidup kah?

Begitu tergesa-gesanya.

Sengaja menyulitkanku ya?

Gila, apa?

Tanpa didikan orang tua.

= Sunshine Farm =

Dasar tak berpendidikan!

= Sunshine Farm =

Siapa yang datang?

Nyonya Tubtim.

Nyonya.

Nyonya.

Kalau dibilang ditiup angin kemari,

takutnya tidak bisa juga.

Untuk apa tersenyum padanya?

Begitu lama tidak bertemu.

Tentu saja harus menyapa.

Begitu lama tidak bertemu.

Sifatmu masih saja belum berubah.

Tangannya masih saja begitu keras.

Apa kabar, tante.

Apa yang sedang dia lakukan?

Makanya.

Kak Arthit?

Dimana Kak Arthit?

Lihat, nyonya.

Baru saja pulang, langsung menanyakan tuan muda Arhit.

Dia bukannya belum berhenti...

...ingin memerangkap tuan muda Arthit untuk menikahinya, 'kan?

Beraninya kau?

Baru datang, langsung menanyakan anakku?

Tante jangan salah paham.

Aku tidak berpikir agar kak Arthit berbuat sesuatu.

Kelihatannya anjing akan bertelur.

Siapa yang akan percaya padamu?

Prateep mengijinkanmu kembali lagi,

itu sudah welas asih terbesar.

Jadi jangan meminta apapun lagi.

Aku kembali bukan untuk meminta apapun.

Aku kembali ke sini...

...karena paman memintaku pulang.

Kau ingin mengatakan...

Prateep lah yang mencari masalah,

dia yang memintamu kembali?

Aku tidak menjelekkan paman.

Nyonya.

Dia sedang melawan nyonya.

Kau mengatakan sepatah kata, dia melawan sepatah.

Tabiatnya masih begitu jelek, tidak berubah sedikit pun.

Dia masih tidak menyesali kesalahannya.

Masih punya muka untuk kembali.

Kulit mukamu lebih tebal dari dinding.

Nyonya, hati-hati.

Dia mengepalkan tinjunya.

Hati-hati dia bisa melukai kita semua.

Kalau begitu, aku masuk kamar dulu.

Tunggu sebentar.

Kau. Kemana?

Pergi.

Pergilah. Pergi.

Apakah akan memukulku?

Kamarmu, di asrama pekerja sana.

Bukankah paman bilang tidak akan ada yang mengingatnya lagi?

Seharusnya tidak ada yang melupakannya.

Baiklah, Paeng.

Hadapilah dosa dengan berani.

Aku pernah melakukan banyak kesalahan.

Sial, Paeng.

Tiga buah telur.

Ada berapa ekor ayam?

Tiga puluh ekor.

Dari tiga puluh ekor... hanya ada tiga buah telur?

Keaw! paman Nai!

Keaw!

Dimana tuan muda Arthit?

Kenapa menanyakannya?

Tidak perlu menanyakan balik.

Beritahu aku dimana tuan muda Arthit.

Hebat sekali, Wan Fahmai.

Lapar.

Enam tahun.

Perubahan yang besar.

Paman bisa melakukannya hingga tahap ini...

Hebat sekali.

Lapar.

Makan kemana?

Terkejutkah, Wan Fahmai?

Kak Arthit.

Paman tidak memberitahuku...

Kalau...

Aku cacat.

Aku bersalah pada kak Arthit.

Aku bukan sengaja, kak Arthit.

Aku minta maaf.

Apakah aku bisa menggunakan sepatah kata maaf...

...untuk mematahkan kakimu?

Kalau kau tahu aku kehilangan apa saja,

kau tidak akan melontarkan kata maaf yang bodoh ini.

Kalau begitu...

Apa yang kak Arhit harapkan dariku?

Katakanlah.

Kau mencelakai aku menjadi seperti ini...

Bagaimana kau bisa membayarnya?

Aku bersedia melakukan apapun.

Asalkan bisa membuat kak Arthit merasa baikan.

Apapun?

Benar.

Kau sendiri yang mengatakannya, Wan Fahmai.

Jangan salahkan aku tega.

Aku bersalah pada kak Arthit.

Aku bukan sengaja, kak Arthit.

Aku minta maaf.

Kalau kau tahu aku kehilangan apa saja,

kau tidak akan melontarkan kata maaf yang bodoh ini.

Ikuti aku.

Kemana?

Masih gelap.

Ah? Sudah terang.

Ikuti aku.

Apa yang ingin kak Arthit lakukan?

Bukan aku, tapi kau.

Bersihkan semuanya.

Wajib selesai sebelum makan siang.

Karena sore nanti...

Masih ada tugas lain untukmu

Tapi aku tidak...

Bukankah katanya ingin menebus?

Kalau kau bersedia melakukan apapun?

Lapar.

Daging bakar.

Maaf ya.

Aku punya pikiran jahat terhadap kalian.

Makanan datang.

Makanan datang.

= Dilarang memberi makan sapi = Makanan datang.

Makanan datang?

Paman. Makanannya datang?

= Dilarang memberi makan sapi = Paman. Makanannya datang?

= Dilarang memberi makan sapi = Terima kasih.

Terima kasih.

Kenapa harus berterima kasih?

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Kau seperti malaikat,

= Dilarang memberi makan sapi = membawakan makanan untukku.

membawakan makanan untukku.

Ini... untuk sapi.

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Untuk sapi ya.

= Dilarang memberi makan sapi =

Tidak perlu bersedih.

= Dilarang memberi makan sapi = Tidak perlu bersedih.

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Tuan muda Arthit menyuruhku memanggilmu,

Tuan muda Arthit menyuruhku memanggilmu,

untuk menemuinya di kantin.

= Dilarang memberi makan sapi = untuk menemuinya di kantin.

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Kantin?

Kantin?

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Tapi kantin jauh sekali.

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Apakah di sini ada sepeda, paman?

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Tidak ada.

Tidak ada.

Jalan kaki ke sana hanya butuh dua puluh menit.

= Dilarang memberi makan sapi =

= Dilarang memberi makan sapi = Jalan ke sana dua puluh menit?

= Dilarang memberi makan sapi =

Makanlah yang banyak.

Baru ada tenaga untuk bekerja.

Makanan hari ini sangat enak.

Biar semuanya memuji.

Memuji sendiri juga boleh.

Apa yang ingin kau lakukan?

Makan.

Tuan muda Arthit menugaskanmu untuk cuci piring.

Bukan untuk makan.

Tapi aku lapar.

Itu urusanmu.

Tak ada hubungannya denganku.

Bau kotoran sapi.

Wek.

Menjauhlah.

Supaya yang lain tidak kehilangan nafsu makan.

Apa yang ingin kau lakukan terhadapku?

Kalau kau berani mengapa-ngapai aku...

Tuan muda Arthit pasti akan menghabisimu.

Aku hanya ingin mengatakan...

Aku tidak tahan lagi.

Eh... pergi saja.

Pergi dan jangan kembali lagi.

Begini saja tidak tahan.

Benar.

Orang sepertimu,

tidak seharusnya kembali,

sejak kau mencelakai kak Arthit kecelakaan mobil.

Masih mengira kau hebat?

Hei. Dwing.

Biarpun kau diam, juga tidak ada yang menganggapmu bisu.

Makanlah, paman Phong.

Begitukah?

Untuk apa aku banyak mulut?

Karna mencampuri urusan orang lain.

Dicabut rambutnya oleh generasi muda?

Benar.

Kau ke dapur dan bawakan kemari piring pancinya,

biar dia cuci semua.

Bermuka tebal berkeras ingin tinggal,

jadi perintahkan saja dia dengan kejam.

Pantas untuk dia yang mencelakakan tuan muda Arthit.

Baik, Thongkam.

Serahkan padaku.

Awasi dia.

Aku cari nyonya.

Lapar.

Piring siapa ini?

Selesai makan tidak dibereskan,

juga tidak dicuci.

Lihat. Masih tersisa sepiring penuh.

Kuletakkan di sini.

Cepat makan. Makan dengan suap besar.

Jangan sampai terlihat.

Apa yang masih nyonya butuhkan?

Begini sudah cukup.

Tidak habis.

Thongkam, bagaimana dia?

Tuan muda Arthit memerintahkannya dengan kejam.

Pagi membersihkan kandang sapi,

siang mencuci piring pekerja,

sekarang seharusnya mencabut rumput.

Rasakan.

Ya.

Bersabarlah selama masih bisa.

Nyonya.

Dengar-dengar tuan ingin membiarkannya...

...terus tinggal di sini.

idak.

Prateep memberitahuku,

dia hanya tinggal selama dua tahun, lalu dia akan pergi.

Tuhan memberkati.

Semoga benar-benar hanya dua tahun.

Kalau dia tinggal seumur hidup,

dia pasti akan pendek umurnya.

Hanya melihatnya saja membautku marah.

Menurutku dia tidak akan bertahan sampai dua tahun.

Tahu begitu,

aku bawa sunblock.

Panasnya tidak tanggung-tanggung,

Kak Arthit.

Apa yang begitu bau?

Kotoran sapi.

Belum mandi juga.

Gigi juga tidak digosok.

Bau kotoran sapi lalu kenapa?

Nona Paeng.

Nona Paeng.

Nona Paeng. Nona Paeng.

Nona Paeng.

Nanti tidak keburu.

Nona Paeng.

Tuan muda memanggilmu menemuinya.

Tidak pergi dulu, boleh tidak?

Rumput di sini belum selesai dicabut.

Jangan menugaskan hal lain dulu, boleh?

Seharusnya bukan untuk menugaskanmu.

Karena memanggilmu menemuinya di rumah.

Rumah?

Benar.

Di bagian mana rumah?

Tuan muda ingin kau menemuinya di kamar.

Tapi... aku tidak ingat,

kamar yang mana.

Tadi naik sepeda. Hampir lupa.

Untuk apa kau masuk?

Aku...

Apa yang ingin kau lakukan terhadap anakku?

Aku tidak melakukan apapun terhadap kak Arthit.

Tante.

Katanya tidak menginginkan apapun,

tapi perilakunya sama sekali berbeda.

Memang benar,

Sifat manusia...

...tidak bisa diubah dengan mudah.

Dulu hanya busuk di dalam,

sekarang bahkan luarnya juga ikut busuk.

Itu... kak Arthit yang memanggilku kesini mencarinya.

Tante.

Aku tidak percaya.

Anakku tidak mungkin...

...memanggilmu ke rumah.

Aku yang memanggilnya kemari, ibu.

Astaga. Untuk apa kau memanggilnya kemari, nak?

Kau tidak takut padanya?

Ibu.

Jangan khawatir.

Bagaimana bisa tidak khawatir?

Hanya melihat mukanya saja aku tidak tahan.

Kacau.

Aku masih ada urusan harus keluar.

Ah,

begini saja.

Biar Dwing yang awasi.

Aku tidak tenang.

Aku memberimu kesempatan.

Hanya sehari ini saja.

Pulanglah.

Kalau kau terus tinggal,

akan ada lebih banyak masalah lagi dari hari ini.

Di saat itu,

kau tidak akan punya kesempatan ini lagi.

Wan Fahmai.

Ya, ayah.

Arthit.

Dimana Paeng?

Bersamaku di sini, ayah.

Aku tidak bisa menghubungi Paeng.

Sangat mengkhawatirkan dia.

Tidak ada yang mencari masalah dengan Paeng, 'kan?

Keponakan ayah sangat aman.

Ayah tidak suka bercanda,

Arthit.

Biarkan ayah berbicara dengan Paeng.

Arthit.

Ayah ingin berbicara dengan Paeng.

Paman.

Paeng. Bagaimana keadaanmu, nak?

Tidak ada yang mencari masalah denganmu, 'kan?

Tidak.

Paman menelepon menyuruh Arthit...

...untuk menjagamu, dan mengajarimu bekerja.

Dia tidak mengingkari permintaan paman, 'kan?

Kak Arthit...

...menjagaku dengan baik.

Kalau ada sesuatu, belajarlah untuk bersabar, nak.

Berjanjilah pada paman,

saat paman kembali,

masih bisa bertemu denganmu.

Ya, aku berjanji pada paman.

Sampai jumpa, paman.

Apa yang kau janjikan dengan ayah?

Aku berjanji pada paman...

...akan menunggunya kembali dan bertemu dengannya.

Wan Fahmai.

Aku hanya tinggal untuk bertemu dengan paman.

Baik.

Lalu aku anggap,

kau menolak kesempatan terakhir yang kuberikan padamu.

Kau pasti akan mati di tanganmu.

Aku akan memberitahu paman.

Wan Fahmai.

Aku ingat namaku sendiri.

Seperti berbicara dengan kerbau.

Kak Arthit boleh melakukan apapun padaku.

Aku telah memberitahu diriku,

Aku akan tinggal,

untuk menebus dosa terhadap kak Arthit.

Hingga kau memaafkan aku.

Baiklah.

Aku telah memaafkanmu.

Pergilah.

Kalau suatu hari kau benar memaafkan aku,

aku akan pergi.

Aku akan meneruskan pekerjaanku.

Kenapa?

Kenapa harus rusak di saat ini?

Apa yang ingin kau lakukan, Wan Fahmai?

Hentikan.

Singkirkan tangan kotormu itu!

Segera hentikan.

Jangan, jangan.

Aku bisa jalan sendiri. Lepaskan.

Tuan muda Arthit datang.

Kursi roda kak Arthit rusak.

Jadi aku bantu mendorongnya masuk.

Kak Arthit, makan malam.

Aku pergi ke kantin.

Jangan pergi dulu.

Bawa aku duduk.

Kelihatannya enak, Thongkam.

Yang kubuat semua kesukaan tuan muda.

Aku membuatnya dengan sepenuh hati.

Tuan muda sudah sibuk seharian.

Menurutku, cepat makan saja.

Wan Fahmai.

Ayo makan bersama.

Kerasukan?

Mari duduk di sini.

Tuan muda Arthit kenapa?

Mana aku tahu?

Mari.

Duduk.

Siapa yang mengijinkanmu duduk?

Dwing.

Siap.

Ambilkan piring si hitam.

Siap.

Tempatmu di sini.

Makanlah.

Ayo.

Kalau kak Arthit tidak nyaman aku makan bersama,

aku kembali saja.

Kau kira berbuat begitu,

bisa membohongiku?

Apa yang kubohongi kak Arthit?

Kau bukan orang seperti ini.

Sifat orang tidak mungkin berubah begitu saja.

Kata-kata ini terlalu gentleman, tuan muda Arthit.

Seharusnya, anjing tetap saja makan kotoran.

Benar.

Kepribadian masih bisa dirubah,

tapi tabiat manusia,

tidak bisa dirubah.

Terserah kak Arthit ingin berpikir seperti apa.

Kalau kak Arthit masih ingin menugaskan aku,

utus saja orang untuk mengabariku.

Kau berani!

Menurutku benar-benar asyik.

Saat tuan muda Arthit melemparkan piring ke lantai.

Muka Paeng juga bengong.

Aku juga merasa asyik.

Lain kali aku harus memfoto ekspresi mukanya.

Masih ada lain kali?

Kalau dia masih tebal muka untuk tetap tinggal.

Pasti ada.

Kalau begitu,

Tuan muda Arthit harus lebih tega.

Tidak disangka tuan muda Arthit bisa sekejam ini.

Aku terlalu puas.

Terlalu asyikk.

Ohya.

Menurutmu apakah Paeng akan terus berkompromi seperti ini?

Apa yang akan dia lakukan kalau tidak berkompromi?

Dia tidak akan bisa menang dari tuan muda Arthit.

Kau tidak ingat?

Betapa sanggupnya dia dulu.

Belum tentu.

Dia tenang di permukaan,

mungkin diam-diam punya rencana.

Mungkin juga masih belum keburu menanggapi.

Datang saja kalau dia berani.

Di sini ada tuan muda Arthit,

dan juga nyonya.

Masih ada kami dari perkebunanan.

Kalau dia berani, kemarilah.

Ya. Benar juga.

Terlalu asyik.

Apa yang akan kuhadapi?

Aduh.

Hai.

Hai. Oh my God... (Ya Tuhan)

Apa yang telah kau lakukan?

Kenapa kelihatan lusuh begitu?

Seolah baru mendaki tiga gunung saja.

Lebih lelah dari itu.

Tidak dapat makan juga,

tidak cukup tidur juga,

tidak dapat mandi juga...

Hei...

Detilnya tak kuceritakan lagi.

Anggaplah menebus dosa.

Aku cuci muka dulu

Aduh. Air juga tidak ada.

Kemana pamanmu?

Kenapa tidak membantumu?

Benar.

Kebetulan aku datang di saat paman tidak ada.

Makanya diberi pelajaran.

Aku sendiri yang sial.

Apa yang pernah kau lakukan padanya?

Tidak sederhana, 'kan?

Jangan buat aku ungkit lagi.

Aku benar-benar mulai khawatir padamu.

Akankah terjadi yang lebih gawat lagi?

Benar.

Akankah ada yang lebih gawat lagi?

Paeng.

Paeng.

Putus listrik.

Paeng.

Hei.

Aduh. Lapar.

Tunggu.

Jangan dibereskan dulu.

Ah, sudah bersih mengkilap?

Sudah.

- Deng. - Ya.

Bagaimana bisa membiarkannya memakan makananku?

Dia sendiri yang mengambilnya.

Lain kali,

pasti tidak boleh membiarkannya makan makananku.

Orang sekarang sungguh tak tahu malu.

Sudah dimakan juga.

Cepat.

Iya.

Duduk alim, tuan muda?

Ingin mati?

Tidak.

Tuan muda.

Tidak boleh makan,

bekerja begitu keras sepanjang hari,

tanpa air dan listrik,

nona Paeng bisa tidak tahan.

Siapa yang memaksa dia bertahan?

Nona Paeng hanyalah seorang gadis kecil,

tinggal di bilik kecil yang gelap...

Setidaknya sambungkan listrik untuknya?

Cukup disiksa di pagi hari saja.

Kalau kau sambungkan listriknya,

kau temani saja dia.

Masih menyisakan lilin untukku.

Haruskah aku berterima kasih?

Tanpa listrik...

Tidak boleh ada yang kasihan dan membantunya.

Kalau ada yang berani melawan perintahku,

bersiap cari pekerjaan baru saja.

Tapi, kalau ada yang...

...bisa mengusir wanita ini dari perkebunan,

akan kuberi bonus.

Eh... mengatakan ini di depanku.

Kalau dia masih saja bermuka tebal,

lalu aku tidak tahan lagi dan membunuhnya,

kalian semua berpura-pura tidak melihat apapun saja.

Mengerti?

Saatnya bekerja.

Maksudku kau.

Saatnya bekerja.

Aku belum makan.

Bagaimana ada tenaga untuk bekerja?

Rumput yang kau cabuti,

makan saja.

Kak Arthit.

Kau begitu keras memerintahku bekerja,

aku tidak keberatan.

Tapi orang harus makan,

harus tidur.

Kalau aku dapat makan,

aku akan bisa bekerja dengan keras.

Bekerja keras untukmu.

Bukankah lebih baik begitu?

Karena aku tidak ingin kau bekerja di sini.

Aku tidak ingin kau kembali ke sini.

Hutang terhadap keluarga kalian,

keluarga kami telah melunasinya.

Untuk apa kau masih tinggal di sini?

Anggap saja aku tinggal untuk menebus kak Arthit.

Aku tidak butuh.

Kau sangat ingin aku pergi, benar, 'kan?

Kak Arhit...

Apakah kau tidak akan memaafkanku selamanya?

Lihatlah aku.

Lalu jawablah aku,

yang pernah kau lakukan,

pantaskah kumaafkan?

Paeng, berjanjilah pada paman,

saat paman kembali,

paman masih bisa bertemu denganmu.

Aku tidak ingin kau kembali ke sini.

Hutang terhadap keluarga kalian,

keluarga kami telah melunasinya.

Untuk apa kau masih tinggal di sini?

Paman hanya memohon waktu dua tahun,

bukan selamanya.

Lihatlah aku,

lalu jawablah aku.

Yang pernah kau lakukan,

pantaskah kumaafkan?

Kau harus kembali dan membiarkan mereka melihat...

...kalau kau sudah berubah.

Kalau kau terus melarikan diri,

Kau akan terus lari...

...dan merasa bersalah seumur hidup, lalu depresi...

= Sunshine Farm =

= Sunshine Farm = Cuacanya bagus.

= Sunshine Farm = Hari ini, melakukan apapun boleh.

Hari ini, melakukan apapun boleh.

Pertunjukan untuk wanita...

Yo, yo, aku single, aku butuh asmara.

Siapa pun boleh, jadilah kekasihku.

Bukankah ini mobil nona Paeng?

Buru-buru kemana?

Jangan-jangan...

Dwing.

Kau bantu aku awasi.

Arthit hanya peduli mengusir dia,

Aku khawatir dia akan tidak berhati-hati...

...dan kalah di tangannya lagi.

Nyonya tidak perlu cemas.

Aku akan menjadi mata untuk nyonya.

Juga telinga, mulut, dan tangan kaki.

Bagus.

Tuan muda Arthit.

Tuan muda Arthit.

Tuan muda Arthit.

Nyonya.

Aduh, lelah sekali.

Dimana Tuan muda Arthit?

Ada apa? Katakanlah.

Ya, ya...

Kenapa?

Cepat katakan.

Ya...

Lagi?

Dwing.

Sekarang kau masih belum perlu menjadi mulutku.

Kenapa, Sab?

Nona Paeng meninggalkan perkebunan.

Ha?

Aduh, lelah sekali.

Kenapa kalian membawaku jalan kaki kemari?

Kenapa tidak naik mobil saja?

Sab.

Nyonya.

Nyonya yang buru-buru kemari duluan.

Dwing.

Siap.

Kau masuk dan periksa, apakah dia benar-benar sudah pergi?

Baik.

Tunggu.

Aku sendiri saja.

Kenapa, nyonya?

Hei.

Barangnya masih di kamar.

Benar.

Sab.

Ada apa ini sebenarnya?

Dia sudah pergi atau belum?

Aku benar-benar melihatnya pergi.

Nyonya.

Atau mungkin dia terlalu tergesa-gesa,

lalu pergi tanpa membawa apapun?

Sab. Kau yakin melihatnya pergi?

Benar, nyonya.

Aku melihatnya dengan mataku sendiri.

Dia menyetir pergi.

Kalau begitu,

pindahkan keluar barangnya semua.

Biar Prateep kirimkan kembali.

Nyonya. Bakar saja semua.

Keterlaluan, Dwing.

Siap...

Cepat pindahkan.

- Lakukan. - Siap.

Tidak sesulit bayangan, 'kan?

Nyonya.

Benar.

Siapa yang memesan barang, nyonya?

Apa ini?

Kenapa dikirim kemari?

Mohon tanda tangannya.

Tidak tanda tangan, tidak terima.

Bukan pesananku.

Klien memintaku mengirimnya kemari.

Di sini Sunshine Farm. Benar, 'kan?

Benar.

Akan tetapi aku tidak memesan barang ini.

Kompor, piring, panci,

blender,

lalu berbagai bahan makanan kering, nyonya.

Hanya butuh tanda tangan.

Semua telah dibayar lunas.

Kirim balik saja.

Jangan sembarangan.

Sekarang banyak penipuan orang tak dikenal.

Pembeli bernama Wan Fahmai.

Ah?

Itu barangku.

Kurirnya cepat juga.

Tiba lebih cepat dariku.

Servisnya bagus.

Bolehkah mohon antarkan ke lokasi yang lain?

Aku akan menyetir membawa jalan di depan.

Baik.

Silakan.

Baik.

Kirim balik semua.

Aku tak setuju.

Letakkan di sini saja.

Baik.

Dwing.

Dia sudah masuk ke dalam.

Segera keluarkan. Keluarkan.

Hei. Mau dikemanakan?

Nyonya tidak setuju.

Kemarikan.

Ini aku beli sendiri.

Kenapa tidak bisa dibawa masuk?

Tidak bisa.

Nyonya.

Sakit.

Beraninya kau menyakiti orangku?

Kalau tante adil,

Tante akan bisa melihat kalau aku tidak melakukan apapun.

Paeng.

Bagaimana aku harus menghadapimu?

Apa yang kau lakukan terhadap ibuku?

Kukira kau sudah pergi.

Kenapa masih tebal muka dan tinggal di sini?

Aku tidak mengatakan kalau aku akan pergi.

Aku hanya keluar belanja.

Keluarkan barang-barang ini.

Kau tak berhak semena-mena.

Kalau begitu apa yang kak Arthit inginkan dariku?

Aku tidak bisa makan di rumah,

tidak bisa makan di dapur,

menggunakan dapur Thongkam juga tak bisa,

Aku bukan hidup dengan fotosintesis.

Kau melawanku?

Aku tidak melawanmu.

Aku hanya menjelaskan kenyataan.

Mulutmu hebat.

Sengaja membuatku sebal, ya?

Aku datang benar-benar hanya demi bekerja.

Karna aku masih butuh makan,

tapi semuanya tidak ingin aku menyentuh yang ada di perkebunan,

aku tentu butuh...

...mempersiapkan perlengkapan.

Semakin bisa berdalih saja.

Aku tidak berdalih.

Aku hanya menyatakan yang sebenarnya.

Kalau masih ada yang kak Arthit tidak puas,

beritahukan saja padaku.

Atau kalau masih merasa...

...aku memanfaatkan perkebunan,

aku bisa membayar iuran sewa kamar,

dan biaya air listrik. Katakan saja.

Aku bersedia membayar.

Selama bisa membuat semuanya merasa enakan.

Kalau kau enyah dari sini,

aku akan merasa jauh enakan.

Kau jelas tahu kami tidak ingin kau tinggal di sini,

kau masih saja bertebal muka dan tinggal.

Aku wajib tinggal di sini.

Lihat, nyonya.

Orang sepertimu...

...benar-benar mati rasa hingga tak berpersepsi.

Tentu ada.

Kenapa aku bisa tak ada persepsi?

Aku lah yang mencelakai kak Arthit.

Aku harus menebusnya.

Aku tahu.

Hal yang pernah kulakukan...

membuatmu sulit untuk percaya,

tapi aku benar-benar merasa bersalah.

Tapi aku juga harus melakukannya.

Aku akan membuat kak Arthit melihat,

aku tulus meminta maaf padamu.

Aku tidak menerima permintaan maafmu.

Aku percaya,

kalau aku tulus melakukannya,

kak Arthit pasti akan bisa melihatnya.

Boleh.

Karna kau bilang akan tinggal di sini,

dan tidak akan menggangguku,

aku akan menyita kamar ini.

Kau tinggal di tenda saja.

Kak Arthit sedang menyindirku.

Aku tidak sedang menyindirmu.

Aku hanya melakukan sesuai kebutuhanmu.

Lalu bagaimana aku harus tinggal malam ini?

Kau pikirkan sendiri saja.

Kau sangat bisa menyelesaikan masalah, 'kan?

Kak Arthit.

Rasional lah sedikit.

Karena aku membencimu.

Ini adalah alasannya.

Tapi kau tak berhak menyakitiku.

Kau juga tak berhak menghancurkan hidupku.

Karna kau ingin melakukannya,

kubiarkan kau melakukannya.

Berani?

Boleh.

Kak Arthit ingin aku membakar arang?

Aku tidak membuatmu membakar arang.

Tapi membuat cuka kayu.

Jangan bilang kau tak tahu.

Lulusan sekolah agrikultur, 'kan?

Tahu.

Cuka kayu terjadi saat pembakaran arang,

yang membeku saat pendinginan dari suhu 300 hingga 400 derajat pembakaran.

Sangat berguna bagi bidang pertanian maupun peternakan.

Bisa membunuh berbagai protobakteri,

menghambat penyakit tanaman,

masih bisa mengusir bebagai hama.

Teorinya sangat berbobot.

Semoga prakteknya juga.

Aku bisa.

Kalau kau tak sanggup,

kau mesti tinggalkan tempat ini.

Tidak masalah.

Bagus.

Kalau begitu, anggaplah kau telah berjanji padaku.

Embernya di sini.

Kau carikan tanah sendiri.

Aku bantu.

Tidak perlu.

Biar dia lakukan sendiri.

Aku akan kembali untuk melihat hasilmu.

Pindahkan semua kayu bakar ini...

...ke tempat lain.

Jangan tersisa satu pun.

Ya.

Kau kemari tepat waktunya, Paeng.

Semuanya sudah dipindahkan.

Ranting.

Ranting di hutan.

Benar. Ranting di hutan.

Syukurlah pernah kupelajari.

Oh. Kemana rantingnya?

Sebal.

Benar. Aku juga merasa sebal.

Kukira dia akan pergi begitu saja.

Karna kulit mukanya tebal, Thongkam.

Biarpun tahu semua orang membencinya,

masih berani tetap tinggal.

Ingin mempunyai dapur sendiri,

tidak ingin memanfaatkan Sunshine Farm.

Memang orang kaya.

Ingin melakukan apa saja bisa.

Orang yang suka menyelesaikan masalah dengan uang.

Sebal.

Kenapa tidak sekalian beli kulkas,

dan mesin cuci saja?

Thongkam.

Bisa jadi dia telah membelinya.

Hanya belum dikirimkan saja.

Maksudnya dia ingin terus tinggal di sini?

Aduh. Jangan.

Aku tidak bisa menerimanya.

Aku juga tidak mau.

Apa yang bisa kita lakukan?

Tentu saja bisa.

Kutuk saja dia.

Kutuk dia ketimpaan sesuatu.

Asalkan bisa membuatnya hilang.

Kalau sudah hilang, jangan kembali lagi.

Semoga Tuhan memberkati.

Baik-baiklah di sini.

Jangan menghilang lagi.

Aku sangat lelah.

Kalau kutangkap, akan kuhajar.

Kau kira kau bermain dengan siapa?

Nak?

Lepaskan.

Oh anak kecil.

Siapa yang kau panggil anak kecil, adik?

Kakak, namaku Madieu.

Bertanggung jawab akan daerah ini.

Silakan memanggil namaku dengan benar.

Ya, kak Madieu.

Kenapa kau mencuri kayuku?

Aku tidak mencuri.

Kau mengambil kayu tanpa ijin,

tentu saja aku harus menegaskan wibawaku.

Kak Madieu.

Kalau begitu, aku memohon ijin untuk mengambil kayu bakarnya.

Baiklah.

Semoga beruntung.

Aku suka orang cantik.

Biaya royaltinya, 20 Baht.

20 Baht?

Kecil-kecil begitu,

dengan tampang berandal,

hanya bisa memindahkan sesedikit ini...

kapan baru akan selesai?

Karena tidak ada yang membantuku.

Ataukah kak Madieu ingin membantuku?

Sebatang 5 Baht.

Harus bayar?

Kalau begitu tidak perlu.

Aku sendiri saja.

Kalau begitu semua 5 Baht saja.

Diskon spesial untukmu.

Baik. Deal.

Adik, kenapa kau bisa membuatnya?

Sama sekali tidak sesuai dengan wajah cantikmu ini.

Kak Madieu...

Mari bantu pegang ini.

Pegang ini.

Begini?

Iya, begini.

Tunggu hingga tungkunya dingin,

lalu cairannya habis mengalir,

kita kutip lagi arangnya besok.

Hebat sekali.

Sama sekali tidak sesuai dengan wajahmu.

Jangan remehkan aku.

Kuberikan 10 Baht.

Terima kasih atas bantuanmu.

Yei, dapat uang.

Sampai jumpa lagi, dik.

Biar dia tahu.

Ingin mengusiliku? Coba saja.

Harus bersabar.

Aku lah yang mencelakai kak Arthit menjadi cacat.

Dia baru begitu marah.

Aku telah menghancurkan hidupnya.

Aku harus mengakuinya.

Harus bersabar. Bersabar.

Tuan muda Arthit memanggilmu untuk bekerja.

Sudah pagi?

Rasanya seperti belum tidur.

Tuan muda, tuan muda.

Sudah melihat hasil nona Paeng?

Warnanya sangat bagus.

Berarti dia mampu menguasai suhunya.

Sangat mudah.

Tidak juga.

Aku berlatih begitu lama,

baru bisa membuat seperti ini.

Lagian juga menyembunyikan kayunya.

Kalau begitu kupecat kau.

Lalu biar dia yang menggantikanmu saja.

Eh... Jangan, tuan muda.

Kau ingin ke mana, pergi saja.

Baik.

Tunggu sebentar.

Aku ingat.

Aku punya tugas untukmu.

Kembalikan.

Kembalikan.

Nona.

Tuan muda Arthit menyuruhku memanggilmu untuk membereskan barang.

Kamar ini.

Tuan muda Arthit memesanmu untuk membereskannya.

Yang mana? Tidak kelihatan.

Di dalam.

Apa yang kau lakukan?

Kenapa mengunciku?

Gila.

Aduh, tuan muda.

Hari ini mood-nya bagus sekali.

Kemarin masih cemberut.

Apa alasan tuan muda begitu senang?

Ingin tahu?

Benar. Ingin tahu.

Berikan 500 Baht,

lalu kuberitahu.

500 Baht?

Tidak punya, tuan muda.

Aku hanya punya 50 Baht, boleh?

Aku sudah menguncinya.

Rencananya mengurungnya dua hari di dalam.

Tanpa makan dan minum.

Biar dia kelaparan dulu.

Tuan muda.

Bagaimana jika dia benar-benar mati, tuan muda?

Maka kau jadi komplotan tersangkanya.

Karna kau juga tahu.

Tuan muda.

Aku bukan sengaja, tuan muda.

Aku tidak ingin menjadi komplotan apapun.

Sudah telat.

Tuan muda, kembalikanlah uangku.

Tuan muda.

Jangan menyeretku, tuan muda.

Tuan muda, oh, Tuan muda.

Jangan menyeretku.

Aku minta maaf, tuan muda.

Aku tidak berani lagi.

Aku berikan 100 Baht lagi.

Dengan diam-diam.

Tuan muda, simpanlah.

Kau sudah tahu semuanya.

Tuan muda.

Kunci mobil.

Sikat gigi.

Seharusnya bawa ponsel.

Paeng.

Benar-benar kesialan beruntun.

Tinggi sekali.

Mati, ya mati.

Aku memohon pahala sedekah pagi ini...

...untuk dipersembahkan pada majikan semua kejahatan, hantu kelaparan,

hantu gentayangan tanpa keluarga.

Semoga kalian bisa mendapatkan pahalaku.

Sadhu.

Dimana kak Arthit?

Astaga.

Datang begitu cepat,

kelihatannya reinkarnasi hantu kelaparan.

Kau kelihatannya baru dari liang.

Hantu gentayangan.

Atau hantu tanpa keluarga?

Mungkin dua-duanya.

Ada hal penting yang ingin aku diskusikan dengan kak Arthit.

Nyonya.

Kami baru saja melakukan sedekah.

Lapangkan hati.

Bagaimana anakku bisa ada di sini?

Dia tentunya berada di kantornya.

Terima kasih.

Kenapa nyonya memberitahunya?

Ah. Sial.

Nyonya tidak seharusnya melakukan kebodohan.

Kau memakiku bodoh, Dwing?

Bukan.

Maksudku aku ingin makan telur puyuh.

Kau...

Lihat, belum selesai menyiram airnya.

Untuk apa kemari, Sab?

Cepat lepaskan nona Paeng.

Sangat mengkhawatirkannya, ya?

Benar.

Sab.

Tuan muda, penanya patah.

Jangan marah dulu, tuan muda.

Tuan muda, pikirkanlah.

Kau mengunci nona Paeng seperti itu,

Bagaimana kalau dia sampai mati?

Apa boleh buat kalau dia berumur pendek.

Tuan muda.

Nona Paeng adalah gadis kecil yang rapuh.

Tuan muda mainnya begitu kejam.

Kalau nona Paeng sakit dan mati,

tuan muda berdosa.

Sab.

Sekarang kau lebih memihak orang luar...

...dibandingkan aku, ya?

Bukan, bukan.

Aku hanya mengkhawatirkan tuan muda.

Kalau nona Paeng benar-benar mati,

tuan muda bisa ditangkap polisi.

Terlalu berlebihan.

Ohho. Tuan muda...

Tuan muda,

sedikit pun tidak berlebihan.

Untuk pelanggaran kebebasan jasmani,

aku bisa lapor polisi.

Nona Paeng.

Nona Paeng meloloskan diri.

Aku benar-benar terlalu gembira.

Nona Paeng hebat sekali.

Nona Paeng telah kabur dengan selamat.

Tuan muda. Kalau ada masalah, katakan dengan jelas.

Tenanglah dulu.

Jangan membelalakkan mata.

Aku ini, ingin melihat kalian berbaikan, tuan muda.

Kau sudah boleh keluar, Sab.

Tuan muda, aku akan keluar.

Tidak perlu mengusirku.

Karena aku tidak ingin terlibat lagi.

Thongkam.

Aku seharusnya pergi mencari anakku,

atau tinggal dan tunggu berita?

Tunggu berita di sini saja.

Paeng tidak akan berani berbuat apa-apa terhadap tuan muda.

Kalau terjadi sesuatu,

juga karena tuan muda Arthit...

...mencekik putus lehernya.

Aku tidak perlu mengkhawatirkan anakku, 'kan?

- Tidak perlu khawatir. - Tidak perlu khawatir.

Kak Arhit, kau lah...

...yang kekanak-kanakan.

Kekanak-kanakan?

Kau kira aku sedang bermain denganmu?

Benar.

Perilakumu itu seperti anak-anak.

Anak bocah yang suka menyimpan dendam.

Apa katamu?

Kau yang seperti ini,

hati-hati mati depresi.

Siapakah yang...

...mencelakaiku menjadi seperti ini?

kak Arthit.

Aku tahu, aku bersalah.

Aku bersedia menebus semuanya.

Tapi kau harus memberiku kesempatan.

Biar aku membuktikan padamu,

kalau aku telah berubah.

Kau bisa sesukamu memerintahkanku bekerja,

tapi bukan berbuat seperti ini.

Aku justru ingin melakukannya,

hingga kau pergi.

Kalau begitu aku akan melapor pada paman.

Lakukanlah.

Sedikit-sedikit melapor pada ayahku.

Bagaimanapun ayahku percaya padamu.

Ingin merebut ayahku?

Aku sudah mengalah padamu.

Kak Arthit sedang marah padaku karna paman sayang padaku.

Sebenarnya,

paman sangat mencintai kak Arthit.

Alasan paman sayang padaku,

karena bersimpati pada apa yang kualami.

Banyak hal yang tidak kau ketahui.

Kak Arthit tidak perlu khawatir,

kalau paman akan lebih menyayangiku darimu.

Karena itu tidak mungkin.

Paman ingin aku tinggal di sini,

hanya demi internship.

Kalau dia merasa aku sanggup mandiri,

paman akan melepas tangan dan membiarkan aku melakukannya sendiri.

Hanya dua tahun saja, kak Arthit.

Bersabar lagi sebentar saja.

Aku telah kau perintah bekerja selama tiga hari.

Sangat melelahkan.

Aku bisa menerimanya.

Dua tahun dan tiga hari...

...tidak bisa dibandingkan.

Lihatlah aku.

Kalau itu kau, bisakah kau bersabar?

Kalau kau menjadi seperti aku.

Aku terpaksa melepas impianku,

masa depanku,

semuanya.

Segalanya hancur karenamu.

Aku menerima rehabilitasi setahun penuh.

Tidak bisa makan ataupun tidur.

Terus berpikir bahwa diri sendiri telah menjadi cacat.

Kalau itu kau, bisakah kau menerimanya?

Bisakau kau menyabarinya?

Hampir menjadi cacat!

Hampir menjadi cacat?

Benar.

Tapi sangat disayangkan.

Aku tidak menjadi cacat.

= Cuplikan episode berikutnya =

Kak Cancer.

Apa kau senang bertemu denganku, Paeng?

Senang sekali!

Kak Cancer.

Tapi melihatnya berbahagia bersama dengan orang yang dicintainya...

Sakit hati.

Tidak bisa menggodaku, jadi menggoda temanku ya?

Kau sungguh tak bisa hidup tanpa lelaki?

Ada hal yang jika dibiarkan terlalu lama,

mungkin akan terlewatkan.

Aku tidak bisa makan.

Lihat betapa kerasnya kalian.

Dia bersekongkol. Aku melihatnya sendiri.

Dimana Paeng?

♪Saat penghubung di antara kita sirna ♪olehkah jangan bersikap dingin padaku?♪

♪Kau tahu jelas betapa aku mencintaimu♪

♪Aku tahu diriku tidak cukup baik untuk membuat kita saling mencintai♪

♪Perkataan maafku Ditinggalkan di sini begitu saja♪

♪Kesalahan yang hanya sekali♪

♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪

♪Bolehkah kutanya, selalu mengganjal di hati Bolehkah beri tahu aku♪

♪Kesalahan yang hanya sekali Apa kau tak mau lagi memaafkanku?♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.