All language subtitles for Geez.&.Ann.2021.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

- Kostumnya taruh di belakang, ya? - Baik.

- Marsha. - Ya?

Talinya cepat dibereskan, ya? Satu jam lagi, kita mulai.

Ya, siap.

Ini mau ditaruh sebelah mana, Din?

Ann! Ini ditaruh di mana?

Di situ saja tak apa-apa.

- Di sini saja? - Ya.

Baik.

- Eh! Aduh, hati-hati. - Aduh.

- Kalau tumpah, kalian tak ada yang makan! - Maaf, Gizka.

Hai, sudah ditetapkan, ya.

Kita buka dengan "Indonesia Raya" dahulu, setelah itu kita mulai dengan sambutan.

- Ya? Terima kasih. - Ya.

- Bu? - Ya?

Maaf, Bu, saya belum menerima transkrip data Kepsek.

- Ya sudah. Nanti saya kirim, ya? - Ya, terima kasih, Bu.

Ann! Sini, Ann!

- Kenapa? - Ann! Yang benar saja, Ann!

Kata Ayla, aku akan menjadi penampil pembuka?

Sudahlah, aku masih panik sekali Ann!

- Natha Sayang. - Tak bisa!

Justru aku membutuhkanmu untuk menjadi pencair suasana!

Kau bisa! Kau percaya diri! Bisa!

- Natha bisa! - Bisa!

Bisa mulas, Ann! Aduh, mau ke toilet!

Kak, waktu pengecekan suaranya tinggal 30 menit lagi, ya.

Baik.

Aduh, Thalia.

Lihat yang pakai kacamata. Aduh, kakaknya manis sekali.

April tidak kuat. Thalia mau yang mana?

- Yang gondrong saja. - Yang mana?

Lucu, mirip rambutnya. Gemas!

Astaga, Tha, sudah mencari yang baru saja.

- Kau baru saja putus tadi pagi. - Itu dia, Ann.

Aku sudah jomlo setengah hari. Bahaya.

Ann tidak akan mengerti hal begitu.

Tak ada waktu untuk laki-laki, Kawan.

Tak ada waktu untuk laki-laki?

Biar saja. Nanti kalau menyukai seseorang, akan paling terbawa perasaan.

Amin!

Satu, dua, tiga, empat!

ASBAT, kita buat malam ini menjadi malam yang paling tak dilupakan pengunjung, ya?

- Dan untuk kita! - Ya!

Asta Batari!

Ambil posisi!

Hai, Kawan-Kawan!

Hai!

Itu dia penampilan dari kontes band. Minta tepuk tangannya!

Semuanya masih semangat, 'kan?

- Ya! - Oh, ya. Aku mau memberi tahu.

Di sekolah kita ini, ada satu komika yang sangat lucu.

Ann, takut.

Sebentar, ya.

April, Thalia, Gizka, Hana,

semua Asta Batari, kumpul di belakang panggung.

Natha tak berani naik kalau belum melihat kita semua.

Tak usah lama-lama seperti menunggu jodoh, langsung kita panggil.

Ini dia Natha!

- Selamat sore, Semuanya. - Sore.

Baiklah.

Perkenalkan, namaku Natha.

Hari ini, aku akan bercerita kepada kalian tentang persahabatan.

Sahabatku ada di belakang semuanya.

Kita sapa, namanya Asta Batari!

Seperti topikku pada hari ini, aku akan membicarakan tentang persahabatan.

Geng yang ada di sekolah pada masa SMA.

Aku benar-benar kenal anak-anak,

aku tahu sekali muka anak-anak geng seperti apa.

Kau, yang pakai jaket. Jelas sekali. Anak geng motor. Ya, tidak?

Benar, 'kan? Kedinginan saat berjalan.

Kalau kau, yang berbaju hijau? Nah.

Mukamu spesifik sekali.

Anak geng. Tahu geng apa?

Geng-bel.

Sekarang, aku mau menceritakan tentang persahabatan.

Kalau persahabatan, kita berbagi sukacita, dukacita bersama-sama.

Tapi temanku…

Mati listrik!

- Ann. - Eh, Ann!

Biar teknisinya saja yang urus!

- Ya, Ann! - Aduh, bahaya!

Teknisinya tidak ada. Pertunjukan harus tetap lanjut.

Memang Ann belajar listrik di mana?

Butuh bantuan?

Yang tidak berkepentingan, dilarang ada di area.

- Eh, Ann! - Aduh, hati-hati.

Kalau mau sok jadi tukang listrik,

pastikan kau benar kalau tak mau terlihat konyol.

Pertama, aku bukan sok.

Kedua, aku panitia.

Siapa kau dan ada urusan apa di belakang panggung?

Kawan-Kawan, tuasnya turun.

- Hati-hati, Ann. - Pelan-pelan, Ann.

- Bahaya. - Apa?

Ann!

- Sudah. Urus panggung. - Baiklah.

- Turunkan aku. - Bukankah kau sudah terbiasa?

Kita lanjut lagi, ya? Baiklah.

Nath! Natha!

Tiga!

Dah! Terima kasih, Semuanya! Terima kasih!

- Kau kru band mana? - Aku bersama band Indie Brothers.

Nah, Teman-teman.

- Itu dia penampilan dari komika kita. - Dina, Semuanya, kembali ke posisi.

Mana tepuk tangannya?

Ini dia yang kita tunggu-tunggu.

Kita sambut ke panggung, Indie Brothers!

Dengan sang vokalis, Geez!

Aku pergi dahulu.

- Selamat malam, Semuanya! - Malam!

Terima kasih sudah mengundang kami.

Ayo kita buat malam ini menjadi malam paling berisik!

Ini suara kami

Suara hati kami

Jika kau tak mengerti

Kami tak peduli

Memang kami berbeda

Dan kami tak mengapa

Jika kami bersama

Kau tahu kau mau

Kita harus mencobanya

Karena kita akan menang Tak peduli apa yang terjadi

Tak ada cara lain Kita tak akan pernah menyerah

Karena kita pasti akan menang

Karena kita takkan menyerah

Penampil selanjutnya harap bersiap.

Terima kasih, Semuanya.

Man, ini tolong dibereskan. Nanti langsung berikan ke vendor saja.

- Ya, Ann. - Terima kasih.

Maaf soal yang tadi.

Aku tak tahu kalau kau ternyata anak Indie Brothers.

Tak apa-apa.

Aku suka komentar yang jujur.

Gazza Cahyadi.

Nama panggilannya Geez.

Nama yang unik.

Artinya "dewa", ya?

Kok tahu?

Karena aku suka membaca.

Keana Amanda.

- Ann. - Kok tahu?

Karena aku bisa membaca?

Jujur, penampilan band-ku

bagaimana?

Ya, begitu saja.

Tadi saat aku mendengar bagian refrain, suaranya tak begitu terdengar.

Tapi tak apa-apa. Sungguh tak apa-apa.

Menurutku, zaman sekarang banyak band yang tak bisa menjaga harmoni di panggung.

Jadi, cuma berisik, berteriak-teriak. Saat selesai, sudah tak bersatu lagi.

Sekali lagi, terima kasih sudah jujur.

Itu baru basa-basinya.

Tunggu.

Lagu baruku. Aku buat di studio.

Seharusnya harmoninya lebih terjaga dibanding lagu yang aku buat di panggung.

Aku tunggu pendapatmu.

Tunggu!

Bagaimana caraku memberi tahu?

Nanti pasti kita akan bertemu lagi.

Astaga, itu apa?

Kalian kenapa?

Tak apa-apa.

Gemas saja melihat Ann bisa mengobrol dengan malaikat pelindungnya.

Kalian menguping, ya?

Bukan menguping. Kalau Ann tersenyum saat mengobrol dengan laki-laki ganteng,

pasti kami pasang telinga.

Bukan sekadar laki-laki ganteng.

Kau mengobrol dengan Geez, Ann!

Kau tahu, 'kan? Alumni paling top satu sekolah, Ann!

Hana, bukannya habis ini Ann mau berkencan dengan dia?

- Berkencan? - Cie!

Astaga, pikiran kalian sudah terlalu jauh.

Diberi lagu!

Beri tahu yang lain! Thalia!

Kamulah alasan, buat harapan Aku akan jadi orang itu

Kamulah alasan Pemicu detakan jantungku

Kamulah alasan Majunya langkah kakiku

Cukup dengan katakan Kamu menginginkanku

Karena sudah kunyatakan Kamu memang untukku

Kamulah alasan setiap…

- Baru pulang, Mas? - Eh!

- Mbok Ijah. Mama belum pulang, 'kan? - Belum.

- Nanti kubelikan piza. - Mantap.

- Tapi seperti biasa. - Ya.

Terima kasih.

Kamu dari mana? Kenapa baru pulang?

Biasa, Ma.

Les bahasa Jerman dan ke sasana olahraga.

Ma, berapa kali aku bilang? Jangan masuk ke kamarku tanpa izin.

Kenapa memangnya?

Kamu menyembunyikan narkoba, ya?

Mama bercanda.

Mama tahu kamu tak akan menyia-nyiakan masa depan kamu.

Ya.

Aku investasi Mama.

- Kamu akan senang di Berlin. - Sejak kapan Mama peduli kesenanganku?

Kamar kamu berantakan sekali.

Di Berlin nanti, tak ada Mbok Ijah.

- Kamu bisa membereskan baju sendiri? - Tentu bisa, Ma.

Apa lagi ini?

Pasti terjatuh waktu aku siapkan untuk disumbangkan kemarin, Ma.

Ma.

Ingat, Geez. Tak ada musik lagi.

Pasar Minggu! Awas!

Merapat belakang! Tarik!

Pasar Minggu!

Geser.

Bagaimana?

Kau tak seperti psikopat yang menungguku pulang sekolah, 'kan?

Kau lebih memilih aku masuk ke kelas?

Ulasannya. Sudah didengar CD-nya, 'kan?

Sudah.

- Tapi… - Kenapa?

- Terlalu klise? Bridge standar? Atau… - Aku belum jawab.

Tapi hasil karyaku genius, 'kan?

- Siapa yang bilang begitu. - Jadi, apa?

Lagi pula, kenapa pendapatku sebegitu pentingnya?

Kalau untukku tak penting, kenapa aku memberi satu-satunya kopi CD padamu?

Jadi, CD seret yang kemarin kau berikan padaku satu-satunya kopianmu?

Maaf sekali, Geez. Saat aku putar,

suaranya seret dan tersendat begitu.

Seret? Tersendat? Apa?

Ya, lagunya bagus.

Tapi…

Tapi?

Kurang menempel.

Musik rok bukan berarti isinya sembarangan berisik, Geez.

Mungkin ada yang salah dengan telingamu.

Apakah kalian sadar?

Ini sudah seminggu semenjak Ann diajak berkenalan dengan Geez.

Bagaimana? Sudah ada kabar lagi atau belum dari dia?

Kalian menghitung?

Bagaimana bisa tak menghitung?

Kami mau merayakan pelepasan status jomlomu!

Aku saja sudah melupakan dia.

Astaga, untuk apa diingat?

Aku tahu! Aku mau melihat Geez di Instagram.

Dia punya pacar atau tidak. Ya, 'kan?

- Aku tak peduli. - Yah!

Ann, maaf sekali, Ann.

Dibuat privat, Ann. Aku tak bisa melihatnya.

- Mohon maaf, ya! - Busku datang.

Pergi dahulu, ya? Dah.

- Dia ganteng, Ann! - Diikuti saja, Ann!

Kalau tidak, aku saja yang ikuti!

Tarik! Ayo, tutup, Bang!

- Geez? - Aku ingin menunjukkan rekamanku.

Sekarang juga?

Ann.

- Dengarkan. - Apa?

Sebelahnya.

Kamu

Mentari pagiku

Kamu

Sinar di hariku

Kamu sinar matahariku Kamu segalanya bagiku

Kamu sinar matahariku Kamu segalanya bagiku

Senyummu

Buat kuberdebar

Tarik!

Bagaimana? Memorable?

"Memorable"?

Maksudmu sudah menempel?

Ya, itu maksudku.

Sembilan dari sepuluh.

Eh, kau tahu?

Tiga puluh dua kali rekaman. Kalau kamu sampai tak suka juga,

berarti aku harus ganti band.

- Tiga puluh dua? - Maunya tiga puluh tiga.

Tapi pemain basku harus kembali ke rumah sakit.

- Dia sedang kena tifus. - Tunggu.

Jadi, kau menarik pemain basmu dari rumah sakit

cuma untuk merekam lagu ini?

Ya. Selesai rekaman, bergantian.

Pemain drumku yang kena tifus.

Bercanda.

Humormu aneh.

Terima kasih, ya, Geez. Mau masuk?

Kalau aku jadi betah, bagaimana?

Pegang saja. Untukmu.

iPod. Dahulu, aku juga punya, tapi sudah dijual.

Terima kasih, ya, Geez. Aku tunggu karya-karyamu yang lainnya.

Ya sudah, aku masuk, ya? Mau mengerjakan tugas.

Yakin?

Yakin lebih mau memperhatikan tugas

daripada memperhatikan aku?

Yakin.

Aku suka.

Aku suka perempuan yang lebih mementingkan nilai.

Biar aku yang mementingkan dia.

Dah.

- Asalamualaikum. - Wa alaikum salam.

Kenapa Ibu ada di sini?

Siapa tadi, Ann? Apa yang dia berikan kepadamu?

Oh, alumni, Bu. Namanya Geez.

Ini. Tiba-tiba memberikan iPod?

- Sebentar. Kamu dan dia tidak… - Ih!

Tidak, Ibu! Tidak dekat. Cuma teman.

Aman. Dia alumni.

Tak dekat dan cuma teman, sudah memberikan iPod?

Anggap saja rezekinya anak teladan yang rajin belajar.

dan akan lulus dengan nilai sempurna seperti doa ibunya tercinta.

Hati-hati, Ann. Benar, ya?

Ya, Ibu. Aku sayang Ibu.

- Ibu! - Ya?

Ini bunga dari siapa?

Tadi ada yang mengirimkannya untukmu.

Ann, kalau kamu terima bunga ini,

berarti aku tak sempat masuk.

Semoga bisa untuk menemani saat mendengar laguku.

Dari laki-laki tadi, Ann?

Benar cuma teman?

Aku belajar dahulu, ya, Ibu!

Ma, semua baik-baik saja?

Selamat, Sayang.

Kamu diterima.

Du wirst akzeptiert.

UNIVERSITAS NIEDERSACHSEN

Jangan mempermalukan Mama sebagai alumni.

Mama sudah menelepon teman Mama di Berlin untuk mengatur kepindahan kamu.

Ma, bagaimana kalau aku ambil saja hasil ujian SNMPTN?

- Berkuliah di sini? - Apa?

Kamu bilang ujian itu hanya untuk iseng.

Dari awal, kita sudah setuju kamu masuk kampus Mama.

Kamu tahu? Sudah bertahun-tahun Mama mengorbankan waktu, biaya…

Ma, sudah. Mama tenang saja, ya?

Aku pasti akan berangkat ke Berlin, Ma. Ya?

Geez.

Kamu itu beruntung. Semua mimpi Mama untuk kamu terwujud.

Seandainya dahulu ada yang membimbing Mama seperti Mama membimbing kamu sekarang,

pasti Mama tak harus melewati kekecewaan yang begitu banyak seperti sekarang ini.

Kita atur makan malam untuk merayakan ini, ya?

Terima kasih, Ma.

Geez.

Sudah dapat bunganya?

Sudah. Diterima kakakku.

Tapi dia mempretelinya.

Sepertinya untuk tugas kampus.

Dia mempretelinya?

Bercanda. Terima kasih, ya, Geez.

Kamu aneh juga. Zaman ini, masih saja membaca Lima Sekawan.

Teman-teman aku juga. Semua bilang aku kuno karena membaca Lima Sekawan.

Kalau teman-temanmu menganggapmu aneh, kamu yakin mereka cocok jadi temanmu?

Kebetulan teman-temanku menganggapku kuno, bukan aneh.

Kuno itu seperti vintage.

Maaf, ya.

Eh, mau diapakan?

Sebagai permintaan maaf, aku belikan.

Tak perlu. Aku bisa beli sendiri.

FASIH BERBAHASA JERMAN

Kamu mau ke Jerman, ya?

Mamaku lulusan sana. Jadi, dia bisa bahasa Jerman.

Bagaimana kalau kita minum kopi?

Aku tak minum kopi. Lagi pula, aku sudah ada janji.

Dengan laki-laki?

Aku antar, ya?

Kak Ann datang!

Halo!

Sudah hafal lagu yang kemarin Kak Ann ajari?

Sudah!

Oh, ya. Hari ini, Kak Ann membawa teman. Namanya Kakak Geez.

Hai, Kak Geez!

Jadi, nanti Geez akan bernyanyi bersama kita ramai-ramai, ya? Kita mulai.

Satu, dua, tiga.

When the Saints go marching in

When the Saints go marching in

Oh, I want to be in the number

When the Saints go marching in

- Sudah! - Sabar, Mas!

- Ke bawah! - Eh!

ES KRIM

Semuanya jawab pakai bahasa Inggris juga, ya? Jangan takut salah.

So, what is your favorite animal?

- Saya! - Saya!

Neng Ann! Kata Geez, boleh ambil es krim sebanyak-banyaknya.

Pelan-pelan. Satu-satu, ya?

Jangan berebut. Satu-satu saja.

- Satu-satu! - Tiga!

Harus beli satu gerobak?

Mau dua? Tapi nanti anak-anak batuk.

- Kamu berlebihan. - Satu.

Terima kasih, Om.

Kesukaanmu. Matcha.

Terima kasih.

Setiap Minggu, kamu mengajar di sini?

Jadi, anak di sini agak kurang mampu untuk membayar les bahasa Inggris.

Jadi, siapa tahu dengan aku membantu mereka dengan cara seperti ini,

nanti mereka tak salah bersaing dengan teman-temannya saat SMA.

Kenapa?

- Hah? - Maaf, Mas. Tadi uangnya kurang.

- Saya salah hitung. - Ah, Mas! Bagaimana?

Terima kasih, ya, Geez. Mau masuk?

- Mau minum atau yang lain? - Tidak.

- Lantas, maunya apa? - Maunya kamu jangan masuk dahulu.

Ini berapa lama?

Sudah malam.

Aku mau mengerjakan tugas.

Ann.

Sampai bertemu lagi, Peri Kecil.

Ann.

- Asalamualaikum! - Halo, Ann!

- Astaga! - Sudah!

- Ayo, duduk! - Duduk!

Eh, sedang apa? Kenapa tiba-tiba ke sini?

Astaga, waktunya bercerita! Jadi, ceritanya,

satu jam yang lalu, kami sedang kongkow di…

- Gizka. - Aku.

Lalu tiba-tiba ada suara bel. Ya sudah, saat kami buka pintunya,

kami dapat kiriman bubble tea sebanyak ini, Ann!

Dari siapa, Kawan-Kawan?

Geez!

Astaga, Geez!

Dia memang sungguh mengerti, saat mendekati perempuan,

harus mendekati teman-temannya dahulu.

Dari usahanya itu, kami semua sudah cukup yakin

untuk memberikan restu kepada kalian berdua.

Jadi, harga kalian semua cuma segelas bubble tea.

- Lumayan, gratis. - Bukan begitu juga, Ann.

Ya, tidak. Ini baru pembukaan.

Dia berjanji akan menyuplai bubble tea selama satu minggu

untuk kami semua. Coba bayangkan, selama satu minggu.

Tapi dengan syarat kami membantumu bersiap-siap untuk pergi.

Memang kita mau ke mana?

Kami tak ke mana-mana. Yang pergi hanya kau!

Kalau begini, Ayah tak ada apa-apanya.

Kalau Ayah jago, sudah jadi musikus.

Bukan fotografernya.

Kalau yang ini, suka?

Kamu bisa memainkan blues juga?

Mas.

Geez, bisa pulang sebelum pukul 21.00, 'kan?

Sekarang saja belum berangkat.

- Belum macetnya. - Mas.

Maaf, Bung. Om sudah coba bantu kamu.

Saya usahakan pulang sebelum pukul 21.00, Tante.

Ini baru anak band yang sopan.

Kau enak. Rambutmu bagus, kau punya alis. Aku?

- Aku ada apa? - Aduh, Ann!

Ann, kau punya banyak sekali kelebihan.

Jadi, kau juga pantas berkencan. Ya 'kan?

- Bagaimana? - Jadi?

- Ya, Ann. - Bisa, 'kan?

- Ayo, Ann. - Mau, ya?

- Ya sudah. - Bagus, Ann!

- Ya! - Mau?

- Tapi! - Apa?

Kalau kalian mau mendandaniku, jangan aneh-aneh, ya?

- Aku ingin tetap jadi diri sendiri. - Beres. Siap.

- Tenang saja! - Ayo!

Geez, kalau ini, pasti kau tak tahu lagunya.

Astaga, Mas.

Tak usah sok.

Ann, Mas belum memainkan apa-apa.

Tapi Ann tahu Mas cuma bisa satu lagu.

Baru mau pamer.

Hai.

Geez, kamu sudah tahu mau kuliah di mana?

Coba ujian masuk negeri juga?

Geez, Tante Manda ini,

kalau urusan akademis, itu jatahnya dia.

- Saya diterima di FEUI, Tante. - Ya, prinsipnya,

kita sungguh berharap konsentrasi Ann tidak terganggu.

Supaya nilainya bagus, bisa masuk universitas negeri, ya?

Ya, Tante.

Ya sudah, Bu. Mas, Ayah.

Kami berangkat dahulu, ya?

- Tante, Om. - Ya.

Mas.

- Jangan lupa, ya? Pukul 21.00. - Ya, Tante.

Hebat, Ann! Hebat!

- Nikmati perjalanannya! - Ann, jaga diri, ya?

- Misi selesai! - Hore!

Aku belum pernah ke sini.

Karena itu, aku pilih tempat ini,

Kenapa kamu tahu aku belum pernah ke sini?

Kalau sudah, fotonya pasti sudah ada di Instagram.

Kamu mengintaiku?

Akunmu tidak dibuat privat. Supaya bisa dilihat siapa saja, 'kan?

Yuk.

Terima kasih.

- Geez. - Ya?

Tapi janji, ya, ini kejutan terakhir?

Karena aku bukan tipe orang yang suka diberi kejutan.

Lagi pula, kalau aku tahu hari ini kau mau mengajakku pergi,

- aku bisa mengerjakan tugas dahulu. - Sut.

Kamu sebawel ini, ya, kalau sedang gugup?

Siapa yang gugup?

Pertama kali berkencan dengan laki-laki?

Kata siapa?

Di sini, restorannya bagus.

Tapi kenapa menunya banyak yang dicoret?

Makanannya ada,

tapi tadi aku sudah minta yang mengandung boga bahari atau kacang dicoret.

Alergi, 'kan?

Jangan bilang sebentar lagi kamu akan tahu golongan darahku apa.

- O. - Ih!

Sepertinya aku harus takut padamu.

Permisi.

Silakan, Mbak.

- Sudah selesai? - Sudah, Mbak.

Biar saya ambil, ya?

- Terima kasih, Mbak. - Ya.

- Terima kasih, Mbak. - Ya.

Ulasannya?

Sembilan dari sepuluh.

Tapi bisa jadi sepuluh.

Kalau kamu mau ikut denganku.

Ke mana?

Kejutan, Dewa Kejutan.

Awas hujan.

- Pak Amir. - Ya?

- Pak Amir! - Siapa, ya?

Eh, Neng Ann!

Sebentar, pintunya saya buka dahulu.

Mau menunjukkan ke teman saya sebentar.

Oh, ya. Ayo masuk. Silakan.

- Hujan. Ayo, cepat. - Ya.

- Saya hidupkan lampunya dahulu. - Ya, Pak.

Yuk.

Wah, ini tanahnya punya siapa?

Punya keluarga besar, tapi ayahku yang mengurusnya.

Nah, yuk.

Sekarang, aku tahu kenapa kau tak takut naik steger.

- Lama. - Ya, sebentar.

Awas, hati-hati.

Wah.

Keren sekali tempat ini,

Ya. Eh!

Aman pula.

Ada ukulele. Boleh juga.

- Sini. - Baiklah.

Ulasannya?

Sebelas.

- Dari? - Sepuluh.

Aku cuma bisa memainkan lagu ini kalau dengan ukulele.

Kenapa kau pergi?

Kenapa kau tinggal aku sendiri?

Di saat aku butuh

Butuh kamu di sini

Apakah ini salahku?

Ataukah memang keinginan kamu?

Tak mau lihat kau lagi

Tapi juga ingin kau kembali

Tak tahu semua yang kurasa

Luka yang akan terus ada di hatiku

Kamu di mana?

Kamu di mana?

Tak peduli

Kamu di mana?

Kamu di mana?

Aku sendiri

Maaf, ya. Lagunya tak asyik.

Memang lagunya soal apa?

Waktu ibu dan ayahku masih bersama-sama

dan waktu mereka berpisah.

Lebih tepatnya, saat Ayah meninggalkanku dan ibuku.

Dan bagaimana ibuku tak bisa melupakan rasa bencinya.

Malam ini…

mungkin malam terdekatku untuk merasakan yang namanya keluarga.

- Geez. - Ya?

Jadi, ayahku kena serangan jantung ringan dua tahun lalu.

Ibuku dosen.

Sekarang, Ibu jadi tulang punggung keluarga.

Maka itu, aku harus bisa lolos masuk ke fakultas kedokteran negeri.

Karena aku tak tega.

Masa minta tolong membiayaiku masuk fakultas kedokteran swasta?

Kenapa tertawa?

Tidak. Aku memikirkan kamu memberi tahu kondisi pasien kamu

dengan gaya sadis kamu memberi ulasan.

Halo, Ma?

Ya, lagi di toko buku.

Tapi sudah bersiap pulang.

Ya.

Kenapa kamu bohong?

Ann, rumit menjelaskannya.

Sudah mau pukul 21.00.

Kamu berjanji mau memulangkanku sebelum itu, 'kan?

Atau mau bohong juga kepada orang tuaku?

Ann. Bukan begitu maksudku, Ann.

Ann.

Kenapa?

Kalau bisa membohongi orang tua sendiri, bagaimana yang lain?

Ann. Baiklah, aku berbohong.

Itu karena mamaku ingin aku fokus dan siap untuk kuliah bisnis di Berlin.

Kamu mau ke Berlin?

Ann.

Kamu mau aku jujur?

Aku sudah diterima.

Bulan depan, aku berangkat ke Berlin.

Ann.

Ann.

Entah mana yang lebih sakit.

Tidak tahu atau mencari tahu.

Entah mana yang lebih menyedihkan.

Mendengar kebenaran

atau hidup dalam kebohongan yang menyenangkan.

Kalau saja fondasinya bisa saling jujur dan percaya,

kita tahu kata kecewa tidak akan datang untuk menyapa.

MENGETIK

- Halo, Geez. - Ya, Ma.

Besok, Mama pulang. Kamu tolong jemput Mama, ya.

Ini kabar baik.

Mama senang sekali.

Proyek terbaru ini, Mama yakin pasti akan berhasil.

Ma.

Aku sudah punya pacar.

Dan aku mau serius.

Dia tahu kamu mau ke Berlin?

Tahu.

Mama sudah beri tahu perusahaan apa saja yang akan investasi di proyek ini?

Nanti Mama ceritakan di mobil, ya?

- Hore! Lulus! - Mantap!

Aku tak menyangka akan lulus!

- Yang penting lulus! - Ya, lulus!

Kalau kau mau mengusir dia, aku maju sekarang.

Enak saja mengajak orang kencan, lalu pergi begitu saja.

Tenang.

Hai.

Selamat, ya.

Aku sudah bicara kepada ibuku soal kita.

Dia setuju. Aku tak akan berbohong lagi, Ann.

Kita tidak sembunyi-sembunyi?

Waktu aku di sini tak lama lagi, Ann.

Tapi aku berjanji,

aku akan selalu ada di momen terpenting dalam hidup kamu.

Terutama ulang tahun dan wisuda kamu nanti.

Empat tahun di Berlin.

Itu juga kalau kamu kuliah dengan benar.

Tiap liburan, aku pulang ke Jakarta.

Kamu tak akan pernah merayakan apa pun sendiri, Ann.

Geez, kamu jangan berikan janji yang tak bisa kamu tepati.

Lagi pula,

memang kamu sudah cek

jadwal libur nasional versi pemerintah tahun 2016?

Jadi, Peri Kecil,

maukah kamu terima bunga lambang kesucian ini?

Selamat, ya.

Terima kasih.

- Kamu tak usah masuk ke halaman kampus. - Kenapa?

Tak enak jika ketahuan senior aku diantar oleh…

Pacar?

Setop!

Itu.

Dah, Ann.

Dah.

Ayo! Lari!

- Ayo lari! - Cepat! Ini sudah pukul berapa?

Ayo cepat! Ini masih pagi.

Ini adalah contoh yang kurang ajar.

Diberikan tugas, tidak dikerjakan.

Ada lagi yang kurang ajar? Hei, kamu!

Tanda pengenal kamu mana?

Ayo, sini!

Berdiri!

Ini lebih kurang ajar!

Suka Lima Sekawan juga, ya?

Ya.

Bagus.

- Ann. - Tari.

Sebentar, ya, Ann.

Ma. Kenapa Mama ada di sini?

Yang membuat acara ini, semua teman-teman Mama.

Para lulusan Jerman.

Ann!

Ma, perkenalkan, ini Ann.

Selamat siang, Tante.

Guten morgen.

Apa kabar?

Geez, ini ibu kamu?

- Ya, Om. - Cantik sekali.

Pasti Geez belajar musik dari Ibu juga, 'kan?

Pantas, Geez. Selera musikmu bagus sekali.

Sekarang, kita tahu asalnya dari mana. Halo, Tante.

Maaf, ya, suami dan anak saya memang suka bercanda.

Halo, saya Manda, ibunya Ann.

Geez, Mama harus pergi.

Kamu yang antar, ya? Mama tunggu di bawah. Sekarang.

Permisi, Semuanya. Senang bertemu kalian sekeluarga.

Guten tag.

Ayah, yang benar itu, "Guten tag."

- Guten tag? - Ya.

- Om, Tante. - Ya?

Maaf, ya. Saya izin pamit dahulu.

Gelasnya aku pegang saja. Sana.

Ma!

Kenapa Mama tidak sopan terhadap keluarga Ann?

Keluarga konyol itu?

Ma, aku sudah bilang ke Mama.

Aku punya pacar.

Itu dia. Ann dan keluarganya, Ma.

Mentang-mentang sudah dekat, kamu pikir bisa membuang waktumu bersama mereka?

Ya, apa salahnya, Ma?

Karena mereka pecundang.

Ma! Mama belum kenal!

Dari pakaiannya saja, Mama sudah bisa lihat kualitas mereka.

Coba, apa pekerjaan bapaknya?

Tadinya fotografer.

Tadinya fotografer, sekarang?

Kenapa Mama…

Asal Mama tahu, Om Sentot sempat kena serangan jantung, Ma.

Sejak itu, dia tak bisa mengambil banyak waktu memotret.

Dengan kata lain, pengangguran, 'kan?

Geez, apakah kamu sadar?

Kalau kamu mau sok jadi seniman, sok idealis,

apa ujung-ujungnya? Jadi miskin!

Menyusahkan keluarga, menyusahkan semua orang.

Mama tak mau kamu berada di lingkungan orang-orang seperti itu.

Mama ingin kamu sukses dan berhasil, punya karier internasional.

Ya? Jadi, Mama ingin kamu berada di lingkungan orang-orang sukses.

Tak cuma luntang-lantung, tak tahu terima kasih.

Minggu depan, kamu ke Berlin.

Sayang.

Kamu punya darah papa kamu.

Kalau kita lengah sedikit saja,

kamu bisa menjadi seperti dia.

Kita tak mau itu terjadi.

Mama tak mau itu terjadi.

Semuanya sudah Mama atur. Kamu tinggal muncul saja.

Nanti, teman Mama yang namanya Astrid akan menjemput kamu

dan akan antar kamu ke asrama, ya?

Ya sudah, aku masuk dahulu, Ma.

Dah, Ma.

- Selamat ulang tahun! - Selamat ulang tahun!

- Selamat ulang tahun! - Selamat ulang tahun!

- Selamat ulang tahun! - Selamat ulang tahun!

- Selamat ulang tahun, Ann Sayang - Selamat ulang tahun, Ann Sayang

Buat permohonan!

-Hore! -Hore!

Potong kuenya!

Kutanya, "Apa kau serius?"

- Cuci tangan dahulu sebelum makan. - Semprotkan ini.

Kawan-Kawan, aku agak tidak enak badan.

Aku ke toilet sebentar, ya?

- Kau kenapa? - Mau ditemani?

- Kau tak apa-apa, Ann? - Tak apa-apa.

Geez.

Yang terbaik biasanya muncul belakangan, 'kan?

Selamat ulang tahun, ya?

Astaga, makin susah aku mau punya pacar

kalau standar laki-laki yang benar itu seperti Geez!

Nanti aku berikan!

Sudah, ikut saja.

Terus berjalan.

- Pelan-pelan. - Ya.

- Pegangan. - Ke mana ini?

- Ayo. - Ke mana?

Balik badan. Duduk.

Sekarang, buka.

Kejutan!

Aku pikir…

aku membawa tempat favorit kamu ke sini.

Jadi, saat aku pergi nanti,

aku akan selalu membayangkan

angin pantai…

debur ombak…

dan sinar matahari di wajahmu, Ann.

Gazza Cahyadi!

Jangan ke mana-mana.

Geez!

Ma…

Sini kamu.

Setelah semua yang Mama berikan untukmu, ternyata ini balasannya.

Kamu memang anak papamu!

Bilang mau ke Berlin, ternyata ke sini?

Untuk apa?

Kalau teman Mama tahu kamu tak sampai di sana,

mereka akan panik dan lapor polisi, disangka kamu terkena musibah.

Ternyata, kamu malah ke sini? Melakukan apa?

Berpacaran?

Dengar, ya.

Jangan bawa anak saya ke level kamu yang cuma senang dirayu laki-laki!

Ma!

Ini semua salahku, Ma. Ann tak ada kaitannya.

Gara-gara perempuan itu, kamu mengkhianati mama kamu?

Yang jatuh dan bangun sendirian membesarkanmu, jadi orang tua tunggal?

Gara-gara dia saja?

Mama pikir kamu satu-satunya orang yang tak akan mengkhianati Mama.

Ternyata apa? Memalukan!

Hei, selamat, ya. Kamu telah menghancurkan keluarga saya!

Ma!

Ini semua salahku! Ann tak ada kaitannya! Ann tak tahu apa-apa, Ma!

Ma, aku mohon pada Mama. Kumohon.

Tunggu di mobil, Ma. Tak enak, kita diperhatikan.

- Kamu ikut Mama sekarang! - Ma, aku pasti akan ke Berlin!

Mama silakan kawal aku sampai ke sana,

tapi aku minta tolong ke Mama.

Beri aku waktu, Ma. Lima menit saja.

Kumohon, Ma.

Ann, aku bisa jelaskan semuanya.

Jadi, ini kado dari kamu, Geez?

Saat kamu sudah janji padaku kamu tak akan berbohong lagi?

Ann, aku juga sudah janji padamu untuk ada di ulang tahun kamu.

Ya, 'kan?

Jangan bilang kamu melakukan ini semua demi aku!

Ann, kumohon.

Mama kamu sudah menunggu.

Silakan marah padaku, Ann. Puaskan saja.

Luapkan semua kekesalan kamu.

Tapi kalau besok aku berangkat,

kumohon jangan benci aku, Ann.

Kita memang akan berpisah,

tapi tak seperti ini, Ann.

Aku tak akan sanggup.

Ann.

Sepertinya mau hujan, Ann.

- Haltenya masih jauh pula. - Ann!

Ann!

Ya.

Aku Rifky.

Aku periskop Geez selama dia di Berlin.

Kau butuh antar dan jemput? Ayo.

Tepat sekali, Ann. Aku ikut, ya?

Rif, aku sepertinya masih bisa naik kendaraan umum.

- Terima kasih, ya. - Ann, sungguh…

Kamu mengerjakan semua sendiri

Kamu tak bisa dinasihati

Bilang laguku jelek Tapi kamu tetap

Peri Kecilku

Kamu lucu saat kuganggu

Aku naik rumah pohon Nilai sepuluh dari sepuluh

Tapi Mama menyuruh pukul 20.00 pulang

Tapi kamu tetap

Peri Kecilku

Peri Kecilku

Kamu Peri Kecilku

Ann, ada paket.

Dari Geez lagi, ya?

Kalau lagi berkumpul, "Tang, kau tak malu dengan adikmu?"

"Berenang agar tinggi."

Astaga.

"Berenang agar tinggi?" Apa?

Ubur-ubur berenang setiap hari.

Mana? Tidak tinggi, tapi lembek.

Berisik.

Sekarang, kita bahas… Jangan yang mengesalkan, aku kesal.

Kita bahas hal-hal yang sensitif untuk beberapa orang lain.

LDR.

- LDR ada singkatannya. 'kan? - Apa itu?

Lu Dia Retak.

Ya, karena tak akan bisa terwujud.

Tendangan jarak jauh jarang ada yang berhasil.

Apalagi hubungan jarak jauh?

Karena… Bahkan data penelitian dari BKMG,

85 persen orang yang LDR gagal.

- Lima belas persennya tak berhasil. - Sama saja!

Ya, karena sulit sekali.

Maksudnya, percuma kalian setiap hari mengirim pesan,

"Jangan lupa makan, Sayang."

Tapi kalau di sana dia disuapi pasangan lain?

Aku dahulu punya pacar di Kalimantan.

Sekarang sudah menjadi mantan.

Aku pernah memergoki dia selingkuh. Langsung aku tanya di situ.

"Sayang, kamu katanya sayangnya cuma padaku?"

"Ya, tapi…"

Coba halaman 156, Tar.

Oh, itu yang tadi, ya?

SEMOGA BERHASIL

- Untuk siapa? - Untukmu. Dari Geez.

Ini lucu.

Sepertinya lama-lama orang akan berpikir pacar kamu itu

kalau misalnya bukan si Rifky yang kemarin atau dia, bukan Geez.

Geez saja masih tak jelas pacarku atau bukan.

Terima kasih banyak.

Tapi aku minta tolong bilang kepada Geez,

tak usah mengirim kalian lagi.

Kalau butuh jasa mengantar makanan, bunga, atau apa pun, sudah ada aplikasinya.

Aku cuma mau bilang,

Geez sedang sulit dihubungi.

Susah dihubungi, ya?

Tapi bisa komunikasi dengan kalian?

Berpacaran saja bertiga.

Ann? Kenapa?

Tar…

Kenapa? Ann!

Ini sudah serangan kedua dalam setahun terakhir ini.

Penyumbatannya cukup mengkhawatirkan

dan perlu tindakan segera sebelum komplikasi lain.

Kita akan observasi lagi dalam setahun pertama.

Apa pun untuk menyembuhkan suami saya, Dok.

Baiklah.

Ini semua perhiasan yang Ibu kumpulkan selama ini.

Tanah yang dekat Bogor bagaimana, Bu? Yang ada rumah pohonnya.

Itu punya keluarga, Gi.

Ibu harus minta izin keluarga besar.

Ibu tak tahu saat ini nilainya berapa,

tapi kalau untuk biaya operasi, rasanya pasti cukup.

Ann.

Nanti habis dari swalayan, mampir ke rumah, ya.

Tolong ambilkan baju ganti Ibu.

- Ya, Bu. Asalamualaikum. - Wa alaikum salam.

Hati-hati.

Halo!

- Halo! - Aku juga.

Begini, Ann. Jadi, ceritanya

baru saja kami dihubungi oleh Mas Barista Ganteng.

Katanya, kau ada masalah! Kau baik-baik saja?

Bukan barista, tapi pemilik.

Ya, intinya itu. Tapi aku senang

kami tetap menjadi kontak daruratmu setelah sekian tahun!

Terima kasih, Ann!

Kau memang selalu diselamatkan laki-laki ganteng.

- Resepnya apa? - Berbagilah.

Sudah sadar?

Ini, diminum dahulu selagi masih panas.

- Pelan-pelan. - Ya.

Terima kasih, Mas. Ini gratis, Mas?

Ya, gratis.

Untuk kami, gratis juga, 'kan?

Untukmu bukan gratis, tapi hibah!

Ann! Katanya, kau sedang mencari pekerjaan sampingan lagi, 'kan?

Ini, di sini ada. Mumpung sudah kenal dengan yang punya.

Ya, kami memang butuh karyawan lebih, tapi yakin bisa langsung bekerja?

Berjalan saja tadi hampir tertabrak.

Bagaimana kalau menghadapi pelanggan yang rewel?

Saya bisa, Mas.

Saya janji akan bekerja dengan baik.

Kalau soal bekerja, Ann ini benar-benar pekerja keras.

- Kami semua saksinya. Ya, 'kan? - Benar.

Pokoknya, kalau Ann bekerja dengan kacau,

- kami siap pasang badan. - Ya.

Benar. Kami garansinya, Mas.

Anggap saja lowongannya sudah terisi.

- Baiklah. - Terima kasih, Mas!

Terima kasih, ya, Mas!

Aduh!

Tenang.

- Halo? - Hai.

Aku lagi sibuk magang belakangan ini.

Jadi, aku tak sempat menghubungi kamu.

Aku benar-benar minta maaf.

Dari tadi, omongan kamu isinya cuma tentang

kamu dan kamu saja.

Aku sendiri bagaimana?

Ya, baru saja aku mau tanya, Ann.

Kamu bagaimana? Om Sentot bagaimana?

Baik. Ayah juga baik.

Geez, aku tak punya waktu lama.

Ulang tahun aku sebentar lagi. Kamu yakin mau datang?

Aku pasti datang untuk Peri Kecilku.

Itu sebuah janji atau apa?

Ann, aku tak akan memberi janji yang tak bisa aku tepati.

Aku akan membuktikan ke kamu.

Ya sudah, aku telepon lagi nanti, ya?

Ann, kenapa belum pulang?

Kenapa ekspresimu seperti banyak masalah begitu?

- Tak apa-apa, Mas. - Semangat, ya?

- Selamat malam. - Malam, Mas.

Terima kasih. Ini pesanannya dan ini untuk Mas.

- Saya tidak pesan ini, Mbak. - Tak apa-apa, Mas. Minum saja.

Terima kasih.

Ma?

Ann, aku tadi baru mau berangkat,

tapi mamaku datang.

Dia mendadak ada di sini sampai minggu depan.

Maaf, Ann. Aku tidak bisa datang di hari ulang tahunmu.

Tapi aku janji aku akan memperbaiki ini semua.

Ann?

Ini pasti bukan tentang bapak kamu, 'kan?

Kalau ya, pasti kamu sudah minta izin pulang padaku.

Ini soal Geez, Mas.

Geez?

Dua tahun aku kenal dengannya.

Dia orang pertama yang membuatku merasakan bahagia, sebahagianya aku.

Tapi dia juga yang membuatku merasa sedih sekali.

Padahal, aku sudah bilang padanya

tak usah beri aku janji kalau tak bisa ditepati.

Apa pun yang berat,

pasti akan berlalu.

Apa pun yang menyenangkan,

pasti akan sirna.

Yang paling penting,

kita harus selalu belajar dari apa pun yang kita terima hari ini.

Karena semesta punya rencananya sendiri.

Jadi, apa pun yang kamu rasakan dari Geez hari ini,

kalau buruk,

nanti juga lupa.

Kalau baik, jangan dibuang.

Ikuti kata hatimu, Ann.

Geez.

Tolong jangan posisikan kamu harus memilih antara ibu kamu dan aku.

Aku sudah letih.

Jarak antara kita lebih banyak membawa hal negatif.

Aku menyerah dengan ketidakpastian ini, Geez.

Aku tak bisa bertahan dengan cinta yang hanya sepihak.

Kalau kamu peduli padaku,

kamu akan terima keputusanku ini.

Jadi, aku mohon hentikan periskop kamu.

Jangan kontak aku lagi, mau secara langsung atau tidak langsung.

Bantu aku untuk melupakanmu, Geez.

Karena kamu jauh, bukan hanya fisik, tapi juga hati.

Dan selama ini, aku terbuai olehmu.

Mulai hari ini,

sayap Peri Kecilmu sudah patah.

- Sok tahu! - Ini, ada yang spesial dariku. Dahsyat!

Kukis dengan resep orisinalku!

- Lihat, ada tulisan "Best Friend." - Ini Asta Batari, 'kan?

Yah, mulai besok,

aku sudah tak bisa memperlakukanmu sebagai karyawanku?

Terima kasih, ya, Ann.

Karena kamu sudah membantu aku membangun kafe ini.

Aku tak tahu kenang-kenangan apa yang cocok untukmu.

Ini kopi yellow cattura.

Semoga kamu suka.

Mas Bayu.

Diberi biji kopi saja? Bukan biji lain? Biji emas.

Emas siapa? Mas Bayu maksudmu?

Kau bercanda?

Mas, suvenir ini istimewa sekali.

- Terima kasih banyak. - Sama-sama.

Oh, ya. Besok aku wisuda, Mas.

Selamat, ya.

- Kawan-Kawan, pergi dahulu, ya? - Ya?

- Dah, Mas. - Hati-hati, Mas.

- Aduh! - Duduk!

- Jujur, enak sekali, Ann. - Terima kasih.

Ann, kau serius tak menangkap kodenya Mas Bayu?

Masa tak terlihat?

Tadi cara menatapnya saja sudah sangat berbeda.

Sudah tak ada hubungan kerja. Jadi, bolehlah.

Sudah, lebih baik sekarang kita bersulang dahulu.

- Baiklah. - Aduh!

Untuk masa depan kita!

- Untuk masa depan kita! - Masa depan!

Sedang apa kau di sini?

Di mana gitarku?

Kamu jawab dahulu pertanyaan Mama. Sedang apa kamu di Jakarta?

Seperti yang Mama minta. Aku sudah berkuliah.

Sampai semester ini, nilai-nilaiku selalu sempurna.

Liburan aku pakai untuk seminar. Ambil program magang.

- Tapi kamu belum lulus. - Aku sudah mengajukan tesisku, Ma.

Sisanya adalah formalitas. Mama tahu itu.

Ma, aku sudah menjalankan tugasku.

Sekarang, sekali lagi aku tanya. Di mana gitarku?

Lalu kamu mau jadi apa? Mau jadi musikus?

- Mau jadi artis seperti… - Papa?

Aku suka musik seperti Papa. Mukaku seperti Papa.

Caraku tidur seperti Papa.

Apa karena itu Mama melampiaskan semua kebencian Mama ke Papa lewat aku?

Ma, di darahku, mengalir darah Mama.

Kalau aku gugup, mataku banyak berkedip seperti Mama.

Aku berkuliah di tempat Mama. Aku menjalankan semua rencana Mama.

Aku tahu apa pun yang aku lakukan

tak bisa mengubah kenyataan bahwa aku anak Papa.

Tapi yang tak aku sangka,

ternyata semua yang sudah aku lakukan selama ini

tak bisa juga membuat Mama menerima kenyataan bahwa aku juga anak Mama!

Aku banyak salah pada Mama,

tapi jangan benci aku karena kesalahan orang lain, Ma.

Mama tanya ke aku kenapa aku pulang.

Besok, Ann wisuda, Ma.

Tapi hari ini…

Hari ini, Mama berulang tahun.

Ini kado untuk Mama.

Aku minta sesuatu dari Mama.

Ma, lihat aku.

Ma, lihat aku.

Aku sebagai Geez, Gazza Cahyadi.

Bukan sebagai bayang-bayang Papa.

Aku tepati janjiku kepada Mama. Aku tak lari dari tanggung jawab.

Aku Geez!

Ma.

Kenapa gitar itu penting untukku?

Aku ingat.

Dahulu, waktu aku bermain gitar,

walaupun kacau sekali,

itu adalah terakhir kalinya aku melihat Mama tersenyum.

Mama tak bermaksud membuat kamu merasa seperti itu, Geez.

Mungkin Papa kabur juga karena kerasnya hati Mama.

Ma, Papa pergi karena dia pecundang dan laki-laki tak bertanggung jawab.

Bukan salah Mama.

Mama sendiri yang bilang padaku.

Aku harus berada di dekat orang sukses.

Geez tak perlu pergi jauh, Ma.

Anak Mama.

Mari kita sambut wisudawan terbaik kita, Keana Amanda.

Ada beberapa hal yang semakin didekati, semakin menjauh.

Yang dipertahankan, semakin berantakan.

Yang dibangun,semakin runtuh.

Karena rencana dirancang bukan cuma untuk diwujudkan,

tapi juga untuk didewasakan.

Menjadi seorang dokter adalah impian saya dari kecil.

Seiring berjalannya waktu, impian berubah menjadi cita-cita.

Cita-cita berubah menjadi target.

Tapi target berubah menjadi kekhawatiran.

Kadang…

kita lebih memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan

dan menelantarkan hari ini yang benar terjadi.

Sampai akhirnya, semesta bilang,

"Sudah diberi kesempatan, tapi kok tidak tahu diuntung?"

Tapi saya tidak ingin menjadi orang seperti itu.

Makanya, hari ini,

saya ingin berterima kasih…

kepada keluarga saya…

sahabat-sahabat saya…

dan orang spesial bagi saya.

Orang yang selalu mengajarkan saya untuk berada di jalan yang lurus.

Orang yang selalu menyemangati untuk percaya diri.

Tapi saya belum pernah mengatakan ini sebelumnya.

Terima kasih, Bayu.

Karena kamu sudah membuatku menjadi versi terbaik diriku sendiri.

Wa salamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

- Nah, itu dia. - Baiklah.

- Lebih jauh lagi. - Sudah jauh. Satu, dua…

- Ulangi. Yang kurus. - Ann.

Bisa aku bicara berdua denganmu?

- Lebih jauh. - Ya, agar masuk semua.

- Ann! - Ann?

- Mas Bayu? - Eh!

Mungkin sekarang mau diberi biji kacang hijau!

- Kemarin sudah diberi biji kopi! - Sembarangan.

Ada apa, Mas?

Aku mau bilang…

Terima kasih tadi sudah menyebut namaku waktu wisuda.

Mas Bayu lama!

Ann, Mas Bayu mau menembakmu! Cepat!

Diterima atau tidak? Ya, 'kan?

Kalau ditolak, selalu ada pemain cadangan, Mas.

- Ih! - Thalia!

Apa? Bayu tak mau melakukan apa-apa.

Mau menangis.

Ann, aku menunggu waktu yang tepat untuk memberikan ini kepadamu.

Dan aku rasa…

ini momen yang tepat untukku memberikan ini kepadamu.

Ann, aku mau jadi pendampingmu

dan penuntunmu.

Kalau kamu belum siap,

aku akan tunggu kamu.

Wa alaikum salam.

Peri Kecil.

Empat tahun aku merasa menjadi orang yang paling berdosa.

Tak bisa menepati janjiku.

Aku terima konsekuensinya, mengikuti kemauanmu.

Berhenti menghubungimu sama sekali.

Walau aku sudah mengecewakanmu,

paling tidak aku punya tekad menjalankan keinginanmu walaupun menyakitkan.

Dan hari ini, aku lihat saat wisuda.

Kamu telah menjadi wanita yang dewasa.

Ann,

aku memang tak menghubungimu,

tapi tak sehari pun aku berhenti memikirkanmu.

Beri aku kesempatan menjelaskan kepadamu secara langsung, Ann.

Di depan rumah kamu, sudah aku siapkan mobil untuk membawamu.

LIMA SEKAWAN

Geez.

Dua puluh satu buku Lima Sekawan versi asli.

Butuh dua tahun untuk aku mencari semua itu di Eropa, Ann.

Geez, ternyata kamu ingat semuanya.

Kamu tak pernah benar-benar pergi.

Jangan menangis, Ann.

Kalau sampai kamu berani menangis,

aku akan tutup semua toko es krim di dunia.

Geez.

Aku ada di depan kamu.

Tapi kenapa baru sekarang?

Kenapa baru sekarang kamu pulang?

Karena aku menjaga, Ann.

Dan aku menjaga satu janjiku, Ann.

Kalau aku tak bisa pulang saat hari ulang tahun kamu,

paling tidak aku tetap bisa pulang saat kamu wisuda.

Tapi kenapa harus hari ini?

Di saat aku sudah memberikan hati dan janji aku untuk Bayu.

Seandainya kamu datang lebih awal, Geez.

Aku tak mungkin mematahkan janjiku begitu saja!

Seperti kamu. Kamu sudah menepati janji kamu.

- Apalagi kalau kita tak menepati janji? - Ann.

Peri Kecilku.

Tatap mataku dan bilang kalau kamu tidak mencintaiku.

Bilang, Ann.

Ann!

Kita memang tak pernah tahu cara kerja semesta.

Apa, bagaimana, kenapa.

Semua kalimat tanya yang sekarang jadi kenyataan memilukan.

Sesal dan kesal jadi satu.

Menjadi penyelesaian yang tak akan pernah selesai

sampai dia memberiku penjelasan dalam sebuah kepulangan.

Terjemahan subtitle oleh Adi Nugroho

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.