Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik melankolis]
[gumaman mantra]
[nenek Ranti bicara perlahan] Pada zaman dahulu kala...
hiduplah sepasang kekasih...
Joko Angin-Angin dan Dewi Bulan.
Mereka saling mencintai.
Tapi,
sayangnya orang tua Dewi Bulan tidak menyetujui hubungan cinta mereka.
Karena, Joko Angin-Angin hanyalah pemuda penggembala kambing.
Untuk memisahkan hubungan cinta mereka,
orang tua Dewi Bulan mengajukan sebuah syarat yang sangat berat.
Meminta Joko Angin-Angin
menerangi lembah bukit
dengan seribu kunang-kunang.
Demi memenuhi permintaan orang tua Dewi Bulan...
[burung berkicau]
Joko Angin-Angin bertapa seribu malam
tanpa bintang.
[jangkrik mengerik]
Harapannya cuma satu...
dia ingin membuktikan cintanya kepada Dewi Bulan.
Joko Angin-Angin memenuhi permintaan orang tua Dewi Bulan.
Menerangi lembah bukit dengan sejuta kunang-kunang.
Joko Angin-Angin menagih janji.
Namun, mereka ingkar.
Mereka malang menikahkan Dewi Bulan dengan laki-laki lain.
Dewi Bulan hanya bisa menangis.
Dan dari setiap tetesan air matanya...
[musik menegangkan]
tumbuh bunga kesedihan.
Joko Angin-Angin murka!
Dia menjejakkan kakinya ke tanah dan mengutuk,
"Biarlah air membelah desa menjadi dua!"
Dan dia bersumpah...
tidak akan pernah terjalin hubungan cinta
di antara
anak keturunan mereka.
Bekas kaki Joko Angin-Angin memancarkan air.
Air memancar terus-menerus hingga terbentuk sungai.
- [tanah retak] - [orang-orang menjerit]
Sungai membelah desa menjadi dua.
[air mengalir deras]
Sejak saat itu,
tak ada satu orang pun yang berani melanggar kutukan Joko Angin-angin.
Tak ada seorang pun yang berani menjalin hubungan cinta
di antara dua desa yang berseberangan sungai itu.
Karena takut tertimpa bencana.
Keyakinan itulah yang dipercayai turun-temurun.
Hingga sekarang.
Nenek kenapa menangis?
Dulu ada yang melanggar keyakinan itu.
Dan ibumu yang menjadi korban.
[musik dramatis]
[musik petualangan]
Ayo, Galih, cepat. Sudah siang. Nanti kita terlambat.
Ya.
- Satu, dua, tiga. - Satu, dua, tiga.
[keduanya berteriak keras] Tet!
[keduanya tertawa]
Selamat pagi, Bu.
Selamat pagi. Masuklah, Ranti.
[anak-anak berbicara di kelas lain]
Badil, apa itu?
Pesawat, Bu.
Pesawat? Memang kamu ingin menjadi apa?
Aku ingin menjadi pilot, aku ingin terbang di awan.
Bagus sekali, Badil.
Dengan pesawat terbang, kamu bisa membawa orang ke tempat yang sangat jauh.
Bisa untuk bekerja, rekreasi,
atau mengunjungi orang-orang yang kita sayangi.
Joko, apa itu?
Ini kapal laut, Bu.
Memang cita-cita kamu mau menjadi apa?
Aku mau menjadi pelaut agar bisa mengarungi samudra yang luas.
Itu juga cita-cita yang hebat, Joko.
Negara kita adalah negara kepulauan.
Kamu bisa membawa orang dari satu pulau ke pulau lain.
Menyatukan ribuan pulau yang terpisah oleh lautan.
[anak-anak berteriak]
Ranti, mana hasil karyamu?
Apa itu?
Ini seorang guru, Bu.
Apa cita-citamu?
Ingin menjadi guru.
Kenapa kamu hanya ingin menjadi seorang guru?
Aku ingin menjadi guru di desaku, Bu.
Karena, di desaku tak ada sekolah.
Banyak teman-teman yang tak bersekolah karena jauh.
Kalau saya menjadi guru, pasti teman-teman mau sekolah.
Saya ingin mengajar supaya teman-teman bisa pintar.
Bisa menjadi pilot, pelaut, atau insinyur, Bu.
Itu adalah cita-cita yang sangat mulia, Ranti.
[musik melankolis]
Kamu cantik sekali.
Ranti, aku ingin seperti Joko Angin-Angin.
Yang kebesaran cintanya
selalu menggetarkan seluruh jiwa yang mendengarkan kisah cintanya.
Besok aku pergi.
Ya. Aku turut bangga.
Akhirnya kamu bisa pergi untuk berkuliah.
Pasti kamu senang, ya?
Kudengar, Bandung kotanya indah sekali.
Pasti kamu banyak melihat banyak hal baru di sana.
Mungkin.
Tapi apa artinya semua itu tanpa kamu?
Jangan memikirkan yang lain-lain dulu.
Pikirkan dulu kuliahmu.
Aku akan menyelesaikan kuliahku secepatnya, lalu bekerja,
mencari uang, dan aku akan kembali lagi ke sini.
Kamu kembali lagi ke sini untuk apa?
Kamu...
tak mengerti juga?
Soal apa?
Hubungan kita?
Ranti.
- Selama ini, aku... - Galih.
Kita tinggal di dua desa yang berseberangan sungai.
Sampai kapan pun kita takkan mungkin menghindari legenda itu.
Kutukan dari Joko Angin-Angin dan Dewi Bulan.
Sekali pun aku punya rasa yang sama.
Lebih baik rasa itu aku simpan.
Kujadikan kenangan yang indah dan abadi.
["Renungan Cinta", Melly Goeslaw] ♪ Bayangkan bila saja ♪
♪ Aku tak di sampingmu lagi ♪
♪ Apakah kau akan cari ♪
♪ Yang lain ♪
♪ Penggantiku ♪
♪ Bayangkan bila saja ♪
♪ Kamu hidup tanpa diriku ♪
♪ Apakah kamu sanggup ♪
♪ Dan bahagia ♪
♪ Tanpa aku ♪
Aku tak mengerti, kenapa semua ini terjadi?
Kenapa kita lahir di desa yang berseberangan sungai,
saling mengenal, dan menjadi dekat di tengan mitos yang penuh kutukan.
Itu sudah takdir, Galih.
Kita ditakdirkan untuk hidup masing-masing.
Mungkin kita bisa akan selalu bersama-sama.
Tapi kita takkan pernah bisa saling bersatu.
[sapi melenguh]
- Galih, Ranti, ayo. - Ayo, Ranti.
- Satu, Jar. - Baiklah, Sar.
Satu lagi, Jar.
- Baiklah, siap? - Siap.
Baiklah.
Ranti, kami pamit ya?
- Salam untuk orang tuamu. - Ya, Bu.
- Kami pamit dulu. - Hati-hati di jalan, ya, Pak?
Hati-hati, ya?
Aku minta maaf.
Untuk beberapa lama, aku tak bisa memotong rambutmu.
Tak apa-apa.
Masih banyak gadis lain yang bisa kamu potong rambutnya di sana, 'kan?
Tidak. Aku takkan memotong rambut gadis lain,
selain kamu.
Kenapa begitu?
[musik melankolis]
[mesin bus menyala]
- [deru mesin bus] - Aku cinta kamu.
Kenapa?
Galih. Kenapa?
[berteriak] Aku cinta kamu, Ranti. Aku akan pulang.
Kalau aku pulang, aku akan menyuruh supir membunyikan klakson tiga kali.
["Love Story", Melly Goeslaw & Irwansyah]
♪ Bila cinta ♪
♪ Mendatangi semua harapan ♪
♪ Jalan terjal dan mematikan ♪
♪ Pasti kutempuh juga ♪
...dikhianati. Akhirnya dia murka.
Mengeluarkan air dari dalam tanah, deras sekali.
- ...jadinya berapa? - Sembilan domba.
Sembilan domba.
Wage!
Wage! Wage!
♪ ...tertimbun bukit ♪
♪ Tanganku menggapaimu ♪
- [suara klakson] - ♪ Love story, mari buat sejarah ♪
♪ Sejarah kisah cinta kita ♪
Bu, bukunya. Mana bukunya?
- Berapa? - [pedagang] Bu.
♪ ...mengalahkan semua ♪
- Terima kasih, ya. - Terima kasih, ya, Bu.
Ran.
- Apa ini? - Dua ribu saja.
Nah.
♪ ...make it history ♪
Dibaca, ya.
Awas kalau tak dibaca.
♪ ...seribu bencana ♪
♪ Meremukkan tubuh kita ♪
♪ Namun cinta kita ♪
♪ Tetap akan utuh ♪
- ♪ Love story ♪ - [suara klakson]
[Ranti] Apa, ayo?
[anak-anak berbicara bersamaan]
[tanpa suara] Kenapa?
[suara klakson]
- ♪ Bila cinta ♪ - ♪ Bila cinta ♪
♪ Seribu tahun akan kutunggu ♪
Ayo.
♪ Walau tubuh tertimbun bukit ♪
♪ Tanganku menggapaimu ♪
♪ Berjalan-jalan selalu riang gembira ♪
[anak-anak bernyanyi "Ular Naga"] ♪ Umpan yang lezat itulah yang dicari ♪
- ♪ Ini dianya yang terbelakang ♪ - [klakson berbunyi]
- ♪ Kosong, kosong, kosong Isi, isi, isi ♪ - [klakson berbunyi lagi]
- ♪ Kosong, kosong, kosong Isi, isi, isi ♪ - [klakson berbunyi sekali lagi]
- Galih? - ♪ Kosong ♪
[anak-anak berteriak] Kak Ranti? Kak Ranti?
- Kak Ranti mau ke mana? - Kak Ranti mau ke mana?
Kak Ranti mau ke mana?
[musik romantis]
Galih.
Kak Ranti mau ke mana?
Galih.
Rambutmu panjang sekali.
Ya.
Aku sengaja memanjangkannya, karena aku tahu...
Takkan ada rambut gadis lain yang kamu potong selain rambutku, 'kan?
Ranti.
Aku tak bisa melupakanmu.
Sekarang, aku sudah lulus.
Aku sudah bekerja.
Aku juga sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk menikahimu.
Itu tak mungkin, Galih.
Walau aku tak bisa membohongi perasaanku, tapi itu tak mungkin.
Kita tak mungkin lari dari mitos itu.
Ranti.
Kalau pun mitos itu benar...
maka cintaku...
akan lebih besar dari mitos itu.
Kalau pun cinta kita tak bisa bersatu,
karena rasa takutmu,
dan aku akan membuktikan,
bahwa cintaku akan menghapus seluruh rasa takutmu.
Tapi biar bagaimana pun kita tak mungkin terhindar dari mitos turun-temurun itu.
Hanya satu yang aku yakini...
cinta itu tak mematikan.
Justru menghidupkan.
Cinta tidak membuat kegelapan.
Justru cinta itu menerangi.
Cinta tidak akan membuatku menyerah.
Justru aku akan memperjuangkannya.
Dan aku takkan menyerah.
Aku takkan menyerah untuk cinta kita, Ranti.
[kambing mengembik]
[musik melankolis]
Lima tahun aku meninggalkan tempat ini.
Tak ada yang berubah sedikit pun.
Begitu juga perasaan rinduku kepadamu.
Tak berubah sedikit pun.
Ayo kita masuk.
Ayo.
Dulu...
ayahku bermaksud menjual rumah ini.
Tapi aku berhasil membujuk untuk menundanya.
Aku berhasil meyakinkan bahwa...
aku yang akan membeli rumah ini.
Kalau uangku sudah terkumpul.
Aku tak ingin rumah ini terjual.
Dengan begitu...
aku bisa pulang
dan bisa menemuimu.
Aku buatkan minum dulu, ya?
Gelasnya sangat berdebu. Biar aku cuci dulu, ya?
Aku akan memasak air untukmu.
Mudah-mudahan masih ada kayu bakar di dalam.
[angin berderik]
Seharusnya mereka sadar...
kalau sungai itu bukan untuk ditakuti.
Sungai...
tanah...
air...
itu semua...
anugerah dari Tuhan...
dan untuk kita manfaatkan.
Ranti.
Pejamkan matamu.
- Buat apa? - Pejamkan matamu...
[musik romantis]
Emm.
Balikkan badanmu, ya?
Sebentar, ya?
Berbaliklah lagi.
[tertawa geli] Ada apa sih?
Sekarang...
bukalah matamu.
[tertawa geli]
Ya, ampun.
Kamu dapat dari mana?
Aku memintanya dari gurumu.
Kamu memintanya dari guruku?
Ya.
Ini benar-benar luar biasa.
[keduanya tertawa]
Ranti.
Aku akan mewujudkan impianmu.
Aku akan membangun sekolah di sini.
Agar kamu bisa mengajar murid-muridmu menghadap sungai ini.
- Impian yang sangat indah. - Dan itu harus diwujudkan.
Kamu bisa mengajar murid-muridmu agar saat besar nanti...
mereka bisa memanfaatkan sungai.
untuk mengairi sawah.
Kebun-kebun...
untuk membuat sumber penerangan...
agar menerangi rumah-rumah.
Dan nantinya, sungai ini tak lagi menjadi pemisah kedua desa.
Justru menyatukannya.
Kamu malah membuatku takut.
Kamu tak perlu takut.
Percayalah kepadaku.
Ini semua sudah kurencanakan.
Sebaik-baiknya.
[musik emosional]
Kupotong rambutmu, ya?
Ini sungainya.
Kita akan membangun sekolah itu di sini.
Dan aku juga merencanakan...
sekolah dilengkapi dengan kincir air.
Ha?
Ya, kincir air itu...
digunakan untuk pembangkit listrik.
Untuk menerangi sekolah...
dan rumah-rumah di sekitarnya.
Galih, apa yang kamu rencanakan ini jauh melebihi apa yang pernah kuimpikan.
[jangkrik mengerik]
[Pengkor menangis]
- Terima kasih ya. - Sama-sama.
- Terima kasih ya, Pak. - Sama-sama.
Ranti.
Kalau pun kita tak bisa bersatu...
setidaknya, aku ingin mewujudkan impianmu.
Dengan membangun sekolah itu.
Aku yakin semua impian kita pasti terwujud.
Aku akan mengajar, anak-anak semua akan bersekolah, dan desa kita akan maju.
[anak-anak berteriak di kejauhan]
Kini kamu mulai berhasil meyakinkanku, Galih.
Ayo.
Ayo.
[kambing mengembik]
[ayam hutan berkokok]
[Ranti tertawa geli]
[burung berkicau]
Waktu di Bandung...
suatu ketika aku melihat purnama.
Aku membayangkanmu melihat bulan yang sama.
[mengesah] Lalu...
tenggelam dalam kerinduan dan cinta.
[musik menegangkan]
[kuda meringkik]
Aku datang untuk melamar Ranti.
Kami saling mencintai.
Aku berjanji, aku akan membahagiakan Ranti.
Izinkan aku menikahi Ranti.
[Pengkor mengomel di kejauhan]
[Pengkor berteriak]
- Musibah! - Musibah!
- Musibah! - Musibah!
- Musibah! - Musibah!
- Musibah! - Musibah!
- Musibah! - Musibah!
[mencacah]
[mencacah di kejauhan]
Kamu tahu?
Betapa rumitnya perasaan Ayah?
Ini bukan hanya persoalan di antara kita.
Tapi ini menyangkut orang banyak.
[musik menegangkan, pisau diletakkan]
Ada tradisi turun-temurun...
yang melarang hubungan cinta antara desa yang berseberangan sungai.
Dan sampai saat ini...
[musik melankolis]
tidak ada yang berani melanggarnya.
Karena takut akan tertimpa musibah.
Galih.
[musik emosional mengeras]
Galih, lihatlah ini.
Apa yang kubawa?
Aku mengumpulkan ini sejak lama.
Aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit.
Bahasa Indonesia, Matematika, Sains.
[tertawa geli]
Lengkap sekali. Kamu mendapatkannya dari mana?
Aku...
[musik memudar]
[menangis pelan]
Ranti.
Kenapa kamu menangis?
Aku tak tahu, aku hanya...
Aku rasa, aku baru mengerti apa artinya cinta.
[musik melankolis]
[musik mengeras]
Aku takut.
[musik memudar]
Kopinya satu, Bu.
[menumbuk]
[musik menegangkan]
Wage!
- Wage! - Wage!
- Ada yang melihat Wage, Pak? - Dia hilang.
Dari siang belum pulang, Pak.
[Pengkor berteriak]
[suara kentongan]
Wage!
Wage!
[berteriak]
[Pengkor berteriak]
[kentongan di kejauhan]
[musik menegangkan]
Ada musibah.
Wage anaknya Pak Kliwon hilang.
Wage!
- Wage! - Wage!
- Wage! - Wage!
- Wage! - Wage!
- Wage! - Wage!
- Wage! - Wage!
- Wage! - Wage!
Ketemu!
Ketemu!
- Ketemu! - Ketemu!
[Pengkor menangis]
[musik melankolis]
Ini kecelakaan.
- [mendengus] - [mengerang]
[mengerang]
[mengerang]
[terengah-engah]
Yang terjadi pada Wage hanyalah kecelakaan.
Sama sekali tak ada hubungannya dengan kutukan.
[musik melankolis mengeras]
[kayu terbakar]
Galih.
Apa yang kamu lakukan?
Ini semua tak bisa diteruskan.
Aku tak mau...
kamu mendapat masalah.
Yang terjadi pada Wage hanyalah kecelakaan.
Kecelakaan yang menunjukkan betapa sulitnya dia bersekolah.
Dia rela menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Dan aku tahu yang dirasakan oleh Wage.
Dia sengaja mencari jalan pintas walaupun itu berbahaya.
Kalau kita berhasil mendirikan sekolah di sini...
maka tak ada lagi orang yang bernasib seperti Wage, kamu tahu?
[terengah-engah]
[mengerang]
Kalau kamu menyerah...
aku yang akan meneruskan membangun sekolah ini.
[mengerang]
[jangkrik mengerik]
[mengerang]
[mengerang]
[terengah-engah]
Ranti.
Ranti.
Kamu pasti mendapat kesulitan.
Ada persoalan lebih besar...
dari pada risiko yang harus kita hadapi berdua.
[mengerang]
[keduanya mengerang]
[terengah-engah]
[mengerang]
[keduanya terengah-engah]
[musik lembut]
[musik menegangkan]
[air mengalir]
Kembalikan Wage.
[menangis] Hidupkan lagi Wage, anakku.
Dia tidak bersalah.
Dia hanya ingin bersekolah.
Ingin bersekolah karena dia ingin menjadi dokter.
Apa itu salah?
Apa salah Wage?
Kenapa Wage yang harus meninggal?
Dia masih anak-anak?
Dia tidak salah apa-apa.
Dia juga tidak melanggar kutukan itu.
Tapi kenapa, kenapa dia yang harus menjadi korban?
Kenapa?
Kenapa dia yang...
Kembalikan Wage!
Kembalikan Wage!
Hidupkan lagi Wage.
Hidupkan lagi anakku.
Kembalikan anakku.
Kembalikan anakku.
Kembalikan Wage.
Kembalikan Wage.
[berteriak putus asa] Kembalikan anakku!
[menangis]
[burung berkicau]
[musik melankolis]
[menangis]
[tersedu]
[musik memudar]
[berteriak] Hentikan semua ini!
Sini kamu. Sini!
- Nek. - Sini.
Kamu membuat orang kehilangan kesabaran.
Gara-gara kamu berhubungan cinta dengan pria dari desa seberang,
desa kita terkena musibah.
Dan kamu masih saja nekat. Masuk kamu!
- Masuk! - Kumohon...
Ayah!
Cinta telah membutakan hati dan pikiran kamu.
[mengesah]
[musik melankolis]
[terengah-engah]
[api membakar]
[ayam berkokok]
[mengesah]
[air dituangkan]
[air mengalir]
[terengah-engah]
Nek.
Aku mau ke kamar mandi.
[musik melankolis]
Semalaman saya menahan buang air kecil.
[musik petualangan]
Galih.
Ada apa ini?
[terengah-engah]
Apa yang terjadi?
[Galih terengah-engah]
[mengerang]
[mengerang]
Pasti mereka yang menghancurkan sekolah ini.
Mereka sengaja menghancurkannya
supaya kita tak bisa membangun sekolah ini.
Mereka takkan pernah bisa menghancurkan niat kita.
Mereka takkan pernah bisa menghalangi hubungan kita.
[terisak]
[menangis]
[Galih mengerang]
Galih.
[terengah-engah]
Ayo.
[mengerang dan terengah-engah]
Galih.
Galih, kamu kenapa?
Galih!
Kamu tidak apa-apa?
Badanmu panas sekali.
[terengah-engah]
Kamu sakit?
Tak apa-apa. Aku cuma kedinginan.
[keduanya terengah-engah]
Galih. Jangan.
Galih, hentikan!
Kamu sakit, kamu jangan terlalu memaksakan.
Kita ke dokter, ya?
Sekolah ini...
harus cepat berdiri.
Galih.
Galih! Galih!
Jangan, Galih. Sudah. Kuantar ke dokter sekarang, ya?
[terengah-engah]
Kuantar kamu.
[Pengkor berteriak]
- [Pengkor berteriak] - [kuda menderap]
[Pengkor berteriak]
[kuda meringkik]
[terengah-engah]
[kuda meringkik]
[musik menegangkan]
[Pengkor berteriak]
[Pengkor berteriak lebih keras]
[mengerang]
Bencana! Bencana!
- Bencana! Bencana! - Galih, kembalilah ke kereta.
- Galih, kembali ke kereta! - Bencana.
- Bencana! - Galih, aku bisa atasi semua sendiri.
Kamu sedang sakit.
- Bencana! - Kamu tarik kudanya.
Aku dorong bannya.
Jangan.
Kamu harus kembali ke kereta.
Tarik kudanya.
[terengah-engah]
[mengerang]
[mengerang]
[mendengus dan mengerang]
Galih.
- [mengerang] - [terengah-engah]
Ayo!
[kuda meringkik]
[keduanya terengah-engah]
[musik emosional]
[mengendalikan kuda]
[Pengkor berteriak keras]
[musik melankolis]
Tadi aku melihat Ranti membawa Galih yang sedang sekarat.
Kutukan itu...
semakin terbukti.
[musik menegangkan]
Satu per satu...
kita akan menanggung akibatnya.
[Pengkor berteriak]
[pria] Diihat dari gejalanya...
bisa disimpulkan saudara Galih terkena tifus.
Tapi tidak harus dirawat.
Bisa sambil berobat jalan, dan yang penting...
harus istirahat total.
Nah, nanti ini obatnya
diminum secara teratur.
[musik melankolis]
[kuda meringkik]
Ranti, pulang!
Ayah, Galih sedang sakit, terkena tifus dan baru saja dari dokter.
Pulang!
- Pulang. - Tolong, dia terkena tifus.
- Ayah! - Pulang!
Ayah, tolong. Galih sedang sakit.
Ayah, tolong.
Dia tak punya teman di sini. Dia satu-satunya yang di sini.
- Jangan paksa aku, tolong. - Pulang!
[Ranti] Ayah, Galih sedang sakit.
- Ayah! - [Ayah Ranti] Pulang!
Ayah!
[musik dramatis]
[Pengkor berteriak]
[terengah-engah]
[musik melankolis]
[terengah-engah]
[terengah-engah dan menghirup ingus]
[jangkrik mengerik]
[menghirup ingus]
Ayah.
Ayah!
Ayah, buka pintunya.
Ayah. Buka pintunya, Ayah!
Ayah, Galih kasihan. Dia tak punya siapa-siapa di sini.
Pak, buka.
Dia sakit. Dia lemah. Badannya panas, Ayah.
Kasihan dia.
[mendengus]
- [burung berkicau] - [ayam berkotek]
[musik menegangkan]
[terisak]
[menangis]
[menangis dan berteriak keras]
[Ranti] Aku mau buang air kecil, Ayah.
Semalaman saya menahan buang air kecil, sekarang saya sudah tak kuat lagi.
[keramik pecah]
[menggergaji]
- [air mengalir] - [terengah-engah]
[musik melankolis]
[terengah-engah]
[musik melankolis]
[menangis]
[berteriak keras]
[terengah-engah]
[musik menegangkan]
[terengah-engah]
[mengerang]
[mengaduh]
[mengerang]
[musik melankolis]
Masuk!
Masuk!
Masuk! Masuk!
Masuk!
[api menyala]
[pintu terbuka]
Aku mohon izin ke kamar mandi sebentar, Ayah.
Aku kali ini benar-benar tak kuat, mau buang air kecil.
[musik melankolis]
[air mengalir]
[air memercik]
- [burung berkicau] - [ayam berkotek]
[musik menegangkan]
[air mengalir]
[musik penuh harapan]
Galih.
Galih.
Galih, kamu di mana?
Galih.
Galih.
Galih.
[terengah-engah]
Galih, di mana kamu?
Galih.
[api menyala]
Galih.
Ya ampun, Galih, kamu sakit.
Ya ampun badan kamu panas sekali.
[menggigil] Sekolahnya hampir selesai. Aku akan segera menyelesaikannya.
Galih, jangan.
Galih, kamu jangan terlalu memaksakan semuanya.
Aku tahu kamu sungguh-sungguh mencintaiku.
Kamu berusaha mewujudkan semua impianku, Galih.
Aku mengetahuinya.
[jangkrik mengerik]
Kau masih kuat? Kita berjalan kaki ke dokter.
[musik melankolis]
[terengah-engah]
Mungkin badanku lemah...
tapi cintaku kepadamu...
telah menguatkan seluruh jiwa ragaku.
Ayo.
Kubantu.
Ranti.
Demi cintaku kepadamu...
aku akan menerangi bukit...
dengan ribuan cahaya.
Dan demi cintaku kepadamu,
akan kutumbuhkan lautan bunga dengan tetes air mataku.
Galih.
Aku mau minta maaf.
Kamu salah apa?
Aku sudah membohongi kamu.
Soal?
Soal perasaanku.
Sesungguhnya aku tak bisa mengatasi rasa takutku.
Kamu takut dengan kutukan itu.
Bukan.
Bukan dengan kutukan itu.
Lalu apa yang kamu takutkan?
Aku takut kehilangan kamu, Galih.
Aku takut kamu sangat mencintaiku.
Dan aku tak pernah bisa bohong dengan perasaanku.
Aku takut...
kita takkan pernah bisa bersatu. Aku takut kita takkan pernah menikah.
Ranti.
Kalau pun kita tak bisa bersatu...
menikah, dan punya anak...
itu hanya masalah fisik.
Kamu tak perlu takut...
dalam persoalan ragawi.
Apalah arti raga...
tanpa jiwa?
Dan apalah arti jiwa...
jika di dalamnya...
tidak ada cinta?
Jadi, kamu tak pernah merasa takut?
Satu-satunya yang kutakutkan.
Aku takut kehilangan cintamu.
Kebakaran. [menggigil]
Dari arah sekolah.
[api membakar]
[Pengkor berteriak]
[api membakar]
[Ranti] Galih!
Galih! Galih, jangan!
Galih, jangan!
- Ranti! - Galih, jangan!
Pulang!
Aku tak mau pulang!
Galih!
Galih!
Pulang!
- Tak mau pulang! - Pulang!
Ini bukan musibah karena pelanggaran adat!
[terengah-engah]
- Aku tak mau pulang. Jangan paksa aku. - Pulang!
Jangan paksa aku! Galih!
Kalau Ayah tetap main paksa, lebih baik aku mati!
Lebih baik aku mati terjun ke dalam api.
Ayah, aku tak main-main.
Mulai sekarang, aku sudah kalap.
Aku benar-benar terjun ke dalam api agar mati terbakar api!
Aku tak main-main.
Jangan teruskan!
[Pengkor berteriak]
[terus berteriak]
Jangan lakukan! Galih!
Galih! Galih, jangan lakukan! Sudah, Galih!
Sudah, Galih.
Sudah!
Seharusnya kamu tahu ini akan berakhir begini.
Semua ini akan sia-sia!
Jangan lakukan, Galih.
Jangan lakukan.
[api terus membakar]
[musik melankolis meluruh]
Tak ada cara lain menyembuhkannya kecuali harus beristirahat total.
Akan sangat berbahaya kalau sampai tidak dirawat.
Baik, Dok.
[mengesah] Galih.
Galih?
[berteriak] Galih!
[terengah-engah]
Galih, hentikan semua ini!
Hentikan semua kebodohan ini.
Ini sekolah harus tetap berdiri.
Hanya dengan cara ini, penduduk bisa percaya dengan kita.
Kamu bisa mengajar murid-muridmu,
agar mereka tidak melihat sungai sebagai sesuatu yang menakutkan.
Tapi sungai...
bisa dimanfaatkan untuk kehidupan.
[terengah-engah]
Galih.
Kamu terlalu emosional
sehingga tujuan baikmu menghancurkan dirimu sendiri.
Hentikan semua ini.
Galih!
Jangan lakukan ini. Hentikan semua.
Baiklah.
Kalau kamu melakukan semua ini karena kegilaan cintamu,
lebih baik aku membunuh cinta itu.
Cinta tak lagi membuatmu rasional.
Cinta tak lagi membangun, tapi malah menghancurkan semua.
Cinta telah menghancurkan semuanya.
[mengerang dan terengah-engah]
Hubungan kita harus selesai sampai di sini.
Mulai sekarang...
lupakan sekolah ini.
Lupakan niatmu untuk membangun sekolah ini.
Lupakan aku, Galih.
Ini sudah tak bisa diteruskan lagi.
Hubungan kita selesai sampai di sini.
[musik melankolis]
[terengah-engah]
[jangkrik mengerik]
["Renungan Cinta", Melly Goeslaw] ♪ Bayangkan bila saja ♪
♪ Aku tak di sampingmu lagi ♪
♪ Apakah kau akan cari ♪
♪ Yang lain ♪
♪ Penggantiku ♪
Kenapa kamu pulang?
Kamu sudah membuat malu Ayah di depan orang banyak.
Sini!
[mengerang]
[mengaduh]
Adat itu sudah turun-temurun diwariskan.
Kamu membuat malu.
Membuat malu keluarga!
[mengerang]
[mengaduh]
[burung berkicau]
[Nenek] Ranti.
Aku di mana?
Kamu sudah tiga hari tak sadarkan diri.
- Galih mana? - Ranti.
- Galih mana, Nek? - Sst.
Ranti. Ranti.
Ranti.
Kamu harus bisa menahan diri.
Kamu harus menyadari bahwa cinta tak selamanya bisa bersatu.
Tadi siang sama-sama kita yakini...
mulut kita tak bisa begitu saja mengikuti suara hati kita.
Wage meninggal.
Galih sakit.
Dan kamu harus menderita dengan cara yang seperti ini.
Semua itu karena kemarahan leluhur kita.
[tersedu] Bukan itu persoalannya.
Galih sedang sakit.
Aku harus menolongnya.
Kumohon.
Kamu tidak boleh banyak bergerak.
Banyak-banyak istirahat.
Kumohon, izinkan aku melihatnya.
Tidak.
Sedikit saja kamu mengikuti semua keinginanmu seperti itu...
kamu takkan pernah berhenti mencintainya.
Kamu harus kubur kuat-kuat semua kenangan dan ingatan tentang Galih.
Karena hanya dengan cara itu kamu bisa berhenti mencintainya.
Ranti.
Nenek sangat mencintaimu.
Izinkan aku pergi, Nek.
- Ranti. - Kumohon, Nek.
Ranti.
- Lepaskan aku. - Ranti.
- Ranti. - Lepaskan aku, Nek.
- Lepaskan aku. - Ranti.
[musik petualangan]
[musik melankolis]
[tanpa suara] Galih.
[massa datang]
- Bakar! - Bakar!
- Bakar! - Bakar!
- Bakar! - Bakar!
- Bakar! - Bakar!
Galih.
Galih, kamu di mana?
Galih. Di mana kamu, Galih?
Galih?
- Bakar! - Bakar!
[berteriak] Galih? Kamu di mana, Galih?
- Bakar! - Bakar!
Galih!
Galih, di mana kamu?
Galih!
Bakar!
Galih!
Galih!
Galih!
Galih!
Galih, kamu kenapa? Galih? Galih!
- Bakar! - Galih!
Galih, kamu sakit. Aku akan membawamu ke dokter, ya?
Tak ada waktu lagi, Ranti.
Aku ingin mewujudkan impianmu.
Sambungkan kabel ini.
Bakar! Bakar!
Tapi, Galih...
Ranti.
Aku ingin melihat hasil kerjaku,
- sebelum mereka merusak semuanya. - Baiklah.
Aku akan sambungkan kabel ini.
Tapi, berjanjilah.
Kalau aku sambungkan kabel ini, kamu harus ke dokter
dan lupakan semua ini.
Kamu tahu semua akan berakhir sia-sia.
Ranti.
Cinta tak mengenal kata sia-sia.
Sambungkan kabelnya.
[keduanya terengah]
Bakar! Bakar!
Bakar! Bakar!
Bakar! Bakar!
[berteriak] Tunggu!
Jangan bakar. Tolong, jangan.
Jangan bakar. Jangan bakar. Tolong!
Tolong.
- Jangan bakar! - Ranti!
- Jangan bakar! - Tarik tuasnya!
Tarik tuasnya!
Bakar!
Bakar! Bakar!
- Bakar! Bakar! - Bakar!
[arus listrik mengalir]
[Galih terengah]
Galih. Galih!
Galih.
Galih.
Galih.
Galih.
Kamu ke dokter sekarang, ya?
Galih.
Ranti.
Sekarang kamu bisa mengajar.
Ajari murid-muridmu...
bahwa Tuhan menciptakan semua...
bukan sia-sia.
Tapi ini semua adalah anugerah.
[batuk]
Galih.
- Aku bisa mengangkatmu sekarang. Ayolah. - Ranti.
Percayalah.
Tuhan menemukan cinta...
tidak untuk merusak...
tapi untuk kebaikan.
Cinta...
tumbuh dalam hati manusia untuk membuat orang lain bahagia.
Itulah cintaku kepadamu.
Cintaku kepadamu...
akan menunjukkan ke semua...
bahwa cinta adalah anugerah Tuhan...
yang membawa kebaikan.
Bukan untuk ditakuti.
Cinta bukan untuk dipisahkan.
Justru disatukan.
[terengah-engah]
[menangis] Galih.
Aku akan membawamu sekarang ke dokter.
- Ya? - Ranti.
Katakan sesuatu.
Aku ingin mendengar kata hatimu.
Aku mencintaimu.
Aku sangat mencintaimu, Galih.
Aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun.
Ya.
[terengah-engah]
Terima kasih, Ranti.
Maaf.
Maaf.
Aku tak bisa memotong rambutmu lagi.
Tapi cintaku...
akan abadi selamanya.
[terengah-engah]
Mengalir bersama air.
Tumbuh bersama tanaman.
Menerangi hati dan pikiran.
Itulah nyanyian cintaku kepadamu.
[musik melankolis]
Galih.
Galih.
Galih, bangun.
Galih, bangun.
Galih.
Ayo. Kita harus segera pergi dari sini, Galih. Ayo.
[menangis]
Galih, bangun.
Galih.
[berteriak] Galih!
[menangis]
To... Tolong!
Tolong!
Tolong!
[menjerit] Tolong!
Tolong!
[musik melankolis mengeras]
[Ranti menangis]
[Pengkor berteriak]
Sekarang kita lanjutkan berhitung perkalian kedua. Ayo, semua, mulai.
Satu kali dua, dua.
Satu kali dua, dua.
- Dua kali dua, empat. - Dua kali dua, empat.
- Tiga kali dua, enam. - Tiga kali dua, enam.
- Empat kali dua, delapan. - Empat kali dua, delapan.
- Lima kali dua, sepuluh. - Lima kali dua, sepuluh.
- Enam kali dua, 12. - Enam kali dua, 12.
- Tujuh kali dua, 14. - Tujuh kali dua, 14.
- Delapan kali dua, 16. - Delapan kali dua, 16.
- Sembilan kali dua... - Sembilan kali dua, 18.
Sepuluh kali dua, 20. Satu kali tiga, tiga.
Dua kali tiga, enam.
Tiga kali tiga, sembilan.
- Empat kali tiga, 12. - [Pengkor berteriak]
- Lima kali tiga, 15. - [nenek Ranti, narasi] Waktu berlalu.
- Enam kali tiga, 18. - Hari terus berganti.
Tujuh kali tiga, 21.
Penduduk akhirnya menyadari kekeliruannya.
Galih telah tiada.
Tapi Galih berhasil mewujudkan impian Ranti
dalam kebesaran cintanya.
Cinta...
yang membuat anak-anak tidak perlu bersekolah jauh lagi.
Cinta...
yang menyatukan dua desa yang berseberangan sungai.
Dan mempertemukan cinta-cinta yang selama ini dipisahkan oleh kutukan.
Cinta...
yang membuat kincir air berputar menerangi rumah-rumah penduduk.
Cinta...
yang menghasilkan aliran air yang mengairi kebun-kebun...
sawah-sawah, dan ladang.
Cinta...
yang membuka mata, hati, dan pikiran.
Kisah cinta Galih dan Ranti terus dibicarakan...
diceritakan turun-menurun...
dikenang sepanjang zaman.
Menjadi legenda yang tidak mengutuk...
tapi membawa damai dan kebaikan.
["Love Story", Melly Goeslaw & Irwansyah] ♪ Bila cinta ♪
♪ Mendatangi semua harapan ♪
♪ Jalan terjal dan mematikan ♪
♪ Pasti kutempuh juga ♪
♪ Bila cinta ♪
♪ Seribu tahun akan kutunggu ♪
♪ Walau tubuh tertimbun bukit ♪
♪ Tanganku menggapaimu ♪
♪ Love story, mari buat sejarah ♪
♪ Sejarah kisah cinta kita ♪
♪ Menguasai bumi, mengalahkan semua ♪
♪ Yang paling terindah ♪
♪ Love story, mari buat sejarah ♪
♪ Biar pun seribu bencana ♪
♪ Meremukkan tubuh kita ♪
♪ Namun cinta kita ♪
♪ Tetap akan utuh ♪
♪ Love story ♪
♪ Bila cinta ♪
♪ Bila cinta ♪
♪ Seribu tahun akan kutunggu ♪
♪ Walau tubuh tertimbun bukit ♪
♪ Tanganku menggapaimu ♪
♪ Menggapaimu ♪
♪ Love story, mari buat sejarah ♪
♪ Cinta ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.