Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERSEMBAHAN NETFLIX
[musik ceria]
[Kevin] Saat kita jatuh hati,
apa pun bisa kita lakukan pada orang yang membuat kita jatuh hati.
[musik antusias]
Katrol!
- [Tiara] Vin… - [Kevin] Sial.
[rem sepeda berderit]
Hari ini kita jadi ngerjain proposal bareng, 'kan?
Kayaknya nanti malem aku kirimin ke surelmu aja, ya.
Nanti kamu tinggal revisi.
Sori ya, aku buru-buru.
[berdengus]
Vin, jangan lupa, ya.
[musik antusias]
[Kevin] Nara!
Nara!
[musik tegang]
Nara, awas!
[tali berderit]
[Juned] Woi!
- [sepeda menabrak] - [mengerang]
[Kevin] Kamu enggak apa-apa?
Kamu yang enggak apa-apa?
- Aku enggak apa-apa. - [Juned] Eh!
Lu tahu kan ini tempat apa?
Ngapain lu naik sepeda di sini?
Lu enggak punya mata?
- [denting besi] - Lu punya mata? Kok enggak dipakai?
- Hei… - [Farid] Ned, udah, Ned.
Santai aja dong sama cewek.
Untung lu cewek. Tapi kalau cowok lu
mau lanjutin jadi lebih panjang, ya udah boleh aja.
Emang kenapa kalau gue cewek?
- Nara… - Dia bukan cowok gue!
- [obrolan samar] - Udah…
- [Nara] Jangan kabur lu! - [Kevin] Udahlah.
- [Nara berdengus] - [Kevin] Udahlah, enggak apa-apa.
[menghela napas]
[Nara] Aduh… Ini es krim aku?
[Kevin] Ya.
Aduh, sori banget ya, Vin.
- Enggak apa-apa. Nanti kita beli lagi. - Sayang banget.
- [Kevin] Dia Nara. - Ayo.
[Kevin] Cewek pertama yang membuatku mengenal apa itu jatuh cinta.
Nanti aku bantuin.
[bersorak]
Ayo, Niko!
- Semangat, Niko! - Van, oper, Van!
[para siswi bersorak, bertepuk tangan]
- [Nara] Vin, bingung deh aku, Vin. - [Kevin] Hem?
[Nara] Si Niko itu kan juara satu di kelas.
Kok bisa sih dia enggak tahu kalau aku suka sama dia?
- [Nara] Hai, Niko. - Hai, Nara.
[Niko] Hai.
Ya… Gimana ya, Ra? Yang di pikiran Niko kan cuma basket.
Segitiga siku-siku.
Sama jajar genjang.
Dia enggak bisa memikirkan keindahan yang lain.
Hah?
Maksudnya?
Maksudnya, perasaan Niko itu kurang dua sendok, Nara.
[Nara] Tapi kita itu udah pernah ngobrol seru banget, Vin.
Dia tahu tentang tari lagi. Keren banget enggak sih?
[Kevin] Terus?
[menghela napas]
[menghela napas]
Terus…
Habis itu dia enggak pernah ngajak aku ngobrol lagi.
Setiap kali aku pengin deketin dia,
dianya malah berbelok ke arah lain.
Gue tahu rasanya gimana.
Mencintai seseorang, tapi orang itu enggak pernah nyadar.
Hah?
Hah?
- Apa itu tadi, lu omong apa? - Enggak.
Itu kutipan dialog dari film.
Tapi aku lupa film apa.
[bunyi mengejek]
Tumben banget, kutipan dari film.
[tertawa gugup]
Biasanya kutipan dari Darwin, atau Einstein gitu.
Ya.
[tertawa bersama]
[menghela napas]
Apa artinya hidup aku tanpa kamu, Vin?
Hah?
Siapa lagi yang mau menampung kegalauanku ini?
Oh, ya…
Sahabat selamanya?
Sahabat selamanya.
[musik akustik ringan]
- [deru sepeda motor] - [Niko] Hati-hati.
[Kevin] Nara!
Nara!
Tunggu sebentar, ya.
Vin, kamu pulang duluan aja, ya. Aku mau diantar sama Niko.
Oke.
- Dah. - Dadah.
- Hati-hati, Lu. - Dah, Vin!
[Kevin] Mungkin Tuhan memang mengutusku hanya cukup untuk menjadi sahabatnya.
[Kevin] Ada apa lagi?
Aku putus sama Arman.
Lebih tepatnya,
dia yang mutusin aku.
Kenapa?
Enggak jelas.
Sebenarnya aku kurang apa sih, Vin?
Aku jarang nelfon, dibilang kurang perhatian.
Aku sering nelfon,
dibilang terlalu ngatur.
Aku baik sama orang,
dibilang tebar pesona.
[berdecak lidah]
[menghela napas]
KEBAHAGIAAN DIMULAI DARI SINI
Udah…
lupain aja cowok itu.
Cowok kayak gitu, enggak layak dapat cinta kamu, Nara.
Jangan sedih-sedih lagi, ya.
[menghela napas]
KEBAHAGIAAN
Tenang aja,
aku enggak akan biarkan si Arman itu ngancurin kebahagiaan aku.
Kasih aja aku waktu seminggu dan segalon es krim,
maka semuanya akan baik-baik saja.
"Segalon es krim"?
- Siap, Bro. - Oke, Bro.
Aku percaya satu hari nanti,
aku pasti akan ketemu orang yang tepat,
yang enggak akan ninggalin aku, dan enggak akan nyakitin aku.
[musik lembut]
[cekikik]
[Kevin] Setiap kali dia patah hati, aku selalu menjadi pelerai sedihnya.
- Pas. - [Nara] Pas.
Setiap kali dia ditinggalkan,
aku selalu menjadi rumah pulangnya.
Nara.
[berdeham]
[orang-orang mengolok]
[Kevin] Sampai kemudian…
dia akan jatuh cinta lagi kepada cowok lain.
[menghela napas jengkel]
Entah untuk berapa lama.
Nara.
[bel sepeda berdering]
- [Ibu Nara] Nara, ketinggalan, 'kan? - [Nara] Ya.
- Terima kasih, Ma. -Ya udah, hati-hati ya, Sayang.
Ya.
Kevin, pulangnya jangan malam-malam, ya.
- [Kevin] Siap, Tante. Tenang… - [Nara] Ya, Mama.
- [Ibu Nara] Dah. - [Kevin] Dadah!
Dah!
[musik riang]
Kamu sarapan apa sih? Berat banget, tahu?
Ih, enak aja! Resek!
- Lihat aja! Tunggu! - Hei!
[Satpam] Hati-hati, nanti Nara-nya jatuh.
[Kevin] Siap, Jenderal!
Saya juga dihati-hatiin dong! Enggak asyik.
Itu dengerin.
Hei, Nara! Dari sana, sumpah, terlalu cepat, Nara!
Eh!
[debuk]
[Kevin] Kamu enggak apa-apa?
- Maaf, ya. - Ya.
- Ada yang luka, enggak? - Enggak apa-apa. Aku kan jagoan.
[Kevin] Hei, Jagoan.
Enggak apa-apa, 'kan?
[tertawa kecil]
Jangan kebanyakan bengong, nanti nambah lo berat badannya.
[berdengus] Garing.
Aku enggak jadian sama Bimo.
Oh, ya?
Dia enggak serius ternyata.
Main-main doang.
Udah kuduga.
Segitu doang, gitu?
Sahabatnya lagi patah hati, dihibur kek… apa kek…
Apa? Pake rumus fisika?
E=mc2.
[Kevin] E, energi kamu terbuang percuma.
M, makan hati. Dikali C, cinta kuadrat, cinta yang berlebihan.
[tertawa tertahan]
Enggak lucu.
[berdeham]
Seharusnya tuh kamu enggak segampang itu ngasih hati kamu ke cowok.
Ya, kalau kamu enggak mau disakitin terus.
Itu kenapa alasan kamu sendiri terus?
Karena takut tersakiti.
[berdengus]
Kata siapa aku sendiri?
Aku berdua, kok.
Sama kamu.
[musik antusias]
Vin, kok aku enggak pernah dengar kamu cerita tentang seseorang ke aku, sih?
Eh…
Aku…
Eh…
Aku…
selama ini…
Apa?
[menghela napas]
Kamu bener.
Enggak akan segampang itu lagi ngasih hati aku ke cowok.
- [Nara] Harus fokus sama diri sendiri. - Nara…
Apa sih? Ayo, nanti telat.
[tepuk tangan lantang] Dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh...
- [pria] Lima, enam, tujuh, delapan. - Lompat!
[pria] Satu, dua, tiga, empat.
- Lima, enam, tujuh, delapan. - Semangat.
- [tepuk tangan] - [bersorak]
Semoga sukses!
Semoga sukses ya, Semuanya.
Hari ini adalah hari terakhir kita latihan.
Semoga besok semuanya lancar.
- Amin! - Amin!
Ya. Jadi, yang paling dekat,
kita sosialisasikan Gaya Hidup Hijau ke mahasiswa yang ada di sini.
Habis itu, kita kembangin ke masyarakat lebih luas.
Oke.
Berarti masalah proposal biar gue yang revisi, ya.
- Oke, kalau begitu. - Oke, sip.
Oke, rapat selesai.
Satu pohon…
[bersama-sama] Sejuta manfaat!
- Vin, kamu habis ini ke mana? - Ya?
Aku ada rencana mau ngajak kamu…
Hei!
Aku ada janji.
Oke?
- Janji sama? - Janji sama…
Sama Nara.
Ke toko buku.
Ya, ke toko buku.
Ya. Duluan, ya.
- Siapa yang mau ke toko buku, sih? - Udah, jalan aja. Buruan!
Kok enggak dimakan?
Nah, makan ya.
Kenapa sih?
Tiara kayaknya suka ya sama kamu?
Apaan sih? Kok tiba-tiba ngomongin ginian?
Soalnya, kelihatannya kayak gitu.
Oh, ya?
Hem…
Kamu makan sayurnya sedikit aja, ya?
Jangan ganti pembicaraan deh.
Kamu.…
suka juga sama Tiara?
Kayaknya kita enggak usah bahas ini deh, ya?
Emangnya kamu mau selamanya sendiri?
Kan aku udah bilang aku udah ada kamu.
[musik lembut]
Eh…
Maksud kam…
Maksud aku.…
Kan udah ada kamu nih, sahabat aku.
Jadi, aku enggak bakal merasa sendirian, gitu…
Ya, 'kan?
Ya.
Sahabat selamanya.
Sahabat.
Ini, kamu traktir aja ya hari ini.
Besok aku bakalan beli es krim. Oke?
Oke.
- Kamu ke mana? - Pulang.
Kirain kamu suka sama aku.
Kamu marah?
Enggak.
Pengin jalan sendiri aja.
[musik antusias]
[musik antusias berlanjut]
[Juned berteriak]
Udahlah, Ned.
Kadang, emang kita harus ngaku kalah sama alam.
Bukan alam yang pengin gue kalahin.
Tapi diri gue sendiri.
[gemuruh guntur]
[deru mesin dihentikan]
Capek sekali kamu kelihatannya, Nak.
Aku baik-baik aja kok, Bu.
Rin, bikinin abangmu kopi.
Ya, Bu. Sebentar, ya. Segim dulu.
Kalau gitu aku ke kamar, ya?
Mau istirahat.
Ya.
Rin.
[ketukan pintu]
[bunyi cangkir ditaruh]
Terima kasih ya, Rin.
Bang, Abang pergi berhari-hari ninggalin rumah.
Ibu itu khawatir. Tahu, Bang?
- Jangan gitu teruslah, Bang. Kasihan ibu. - [menyesap]
Kamu kasih tahu Ibu-lah. Dia enggak perlu khawatirin aku.
Aku bisa jaga diri.
Oh ya, Bang… Kampus Abang mau ada Hari Kampus, 'kan?
[Rina] Abang temenin Rina ke sana, ya?
Rina mau liat jurusan tari.
Ya udah, boleh. Tapi kamu pulang sendiri, ya?
Gampang itu mah.
- Aku mau mandi dulu, ya. - Ya.
[Bu Caniago] Melarikan diri dari rasa sakit hati itu
enggak akan membuat kita lebih baik.
Kadang, sakit hati itu harus kita nikmati.
Rasa itu jangan dibunuh. Karena rasa itu akan hilang kok.
Saat kita bisa berusaha memberikan kebahagiaan untuk diri kita,
kamu akan mendapatkan yang lebih baik, Nak.
[deru sepeda motor]
[mesin dimatikan]
[musik penyemangat]
- [Juned] Hei, Bro. - Hei.
- Rina udah balik? - [Juned] Udah.
[Farid] Tuh, Ned, cewek yang waktu itu ngamuk-ngamuk sama lu.
Enggak penting.
[musik lembut]
[mengembus napas]
[bunyi ponsel]
Halo?
Lagi ngapain?
[Kevin] Lagi tidur.
[berdengus] Bohong.
Tuh kan bohong.
[Nara] Lampu kamar kamu masih terang benderang gitu.
[tertawa kecil] Ada apa?
Aku gugup. Besok pertunjukan.
[Kevin] Santai aja kali.
Ini kan bukan pertama kalinya.
Lagi pula, kamu selalu bagus kok.
Doain, ya. Semoga besok, semuanya lancar.
[Nara] Aku udah mati-matian latihannya.
Ya.
Aku doain yang terbaik buat kamu.
Makasih, Vin.
[Kevin] Ya udah, sekarang istirahat, ya.
Selamat tidur, Nara.
Selamat tidur, Jelek.
[tertawa kecil bersama]
[musik tari dimainkan]
[musik tari berlanjut]
[tepuk tangan]
Lihat, 'kan? Enggak nyesel kan nemenin aku, Bang?
[kerumunan bertepuk tangan, bersorak]
- [Rina] Entar, Bang. Mau ambil pamflet. - [Juned] Rin.
[pelatih tari] Selamat, ya.
- Sukses. - [Nara] Terima kasih.
Nara!
[musik lembut]
Enggak nyangka ternyata kamu suka nonton tari juga?
Kak, tadi tariannya keren banget.
- [Nara] Terima kasih. - [Rina] Oh, ya. Aku Rina.
Rencananya tahun depan habis lulus mau daftar ke sini juga.
- Oh… - Ini abang aku. Bang.
Nara.
Nara Senja.
Bang.
Juned.
Aduh…
- Permisi. Maaf ya, Kak. - Ya.
- Satu pohon… - Sejuta manfaat!
Mari bekerja.
- Vin. - Ya.
Aku udah dapetin sponsor yang tertarik sama proyek kita, buat hari Minggu nanti.
Bagus dong.
Jadi, om-ku itu direktur PT Semesta Karya.
- Dan dia udah setuju sama program kita. - Oke.
Dia ngajakin kita ketemu.
Oke. Tapi proposal udah siap?
Nah, itu dia. Kita harus siapin sama-sama. Biar secepatnya bisa ketemu sama om-ku.
Oke, nanti kita kerjain, ya.
Vin, swafoto dulu, yuk.
[rintik hujan]
[musik ringan]
[musik ringan berlanjut]
[Nara] Hai.
Mau ikut tari?
Kita kebetulan lagi kekurangan penari cowok.
Enggak, cuma lagi nunggu.
Nunggu?
Ya, nunggu hujan.
Eh, udah berhenti.
Sori, gue duluan, ya.
Harus buru-buru.
[Rina] Kayaknya bakal lebih gampang ngejual kalau ibu buka toko daring.
[Bu Caniago] Oke.
[berbatuk]
Juned.
Kalau kamu selalu berpikir bahwa semua orang akan menyakiti kamu…
Kamu salah, Nak.
Juned,
janganlah kamu menutup diri kamu seperti ini.
Buka hati kamu.
Kenapa tiba-tiba Ibu ngomong seperti itu?
Ya, aku ngomong sama Ibu, Bang.
Abang tuh jutek banget sama kak Nara, tahu enggak?
[Rina] Padahal kak Nara baik, ramah.
Bang, enggak semua cewek sama kayak kak Elya.
[musik menenangkan]
[derit kasur pegas]
[ketukan]
Hai.
Baru pulang?
Kirain buat aku.
Sejak kapan aku doyan beling.
- [tertawa kecil] - Hah?
Lihat dulu dong.
Itu masih ada beberapa tetes airnya, tahu.
Sebagai pencinta lingkungan, setetes air itu sangat berharga.
Ya…
[mengembus napas]
Buruan deh cerita. Ada apa?
Tadi aku ketemu sama Juned.
Terus?
Ya… enggak cuma ketemu.
Kita juga sempat ngobrol-ngobrol walaupun sebentar banget.
Tapi yang paling penting…
aku… mergokin dia ngelihatin aku.
Kamu suka sama dia?
Nara.
[Kevin] Gimana sih?
Kan kamu udah bilang.
Katanya, enggak bakal gampang lagi ngasih hati kamu ke cowok.
Perasaan kan enggak bisa diatur-atur kayak gitu.
Aku mau mandi dulu.
[berseru]
Tunggu dulu.
Tadi aku lihat foto kamu sama Tiara lo di IG.
Serasi banget, sih.
Apaan sih, Ra?
Kenapa sih kamu enggak jadian aja sama dia?
Perasaan kan enggak bisa diatur-atur gitu.
[menghela napas]
Ya, tapi kan apa salahnya? Kamu coba buka hati kamu dulu buat dia.
Dicoba dulu, tahu!
Malas!
Vin,
aku pengin kamu punya pacar.
Kalau kamu punya pacar, kan kita bisa jalan berempat.
"Berempat"?
[Kevin] Berempat sama siapa?
Kamu kan jomblo, Ra. Aku juga jomblo.
Kenapa kita enggak jalan berdua?
[musik lembut]
Vin.
Apa?
Kamu harus coba sama Tiara.
Lo? Vin, belum selesai!
[Kevin] Aku udah!
- [Nara] Dasar jelek! - [Kevin] Biarin.
[detak jam]
[menghela napas]
[Kevin] Andai saja dia paham,
bagaimana rasanya…
mencintai seseorang yang terus memintamu mencintai orang lain.
[bunyi kaleng terbuka]
[bunyi geretan memantik]
[api meretih]
[Kevin] Sut!
Kantin, yuk.
Ayo.
[Kevin] Udah cobain baksonya Pak Min, belum?
[tertawa kikih] [Nara] Katanya enak banget, ya.
[Tiara] Vin.
[berdeham]
Ada calon ibu dari anak kamu tuh.
Ini proposal sponsor yang aku buat.
Kamu periksa dulu, ya.
Nanti aja deh. Bisa, 'kan?
Yah… sekarang aja, deh.
- Enggak apa-apa, 'kan, Ra? - Enggak apa-apa dong.
Kalian cocok banget, tahu enggak sih? Tuh, serasi banget, 'kan.
Kenapa sih kalian enggak jadian aja?
Kasihan lo dia jomblo melulu.
Ya udah. Sekarang aja, yuk, di kantin.
Pas banget, Kevin juga lagi mau ke kantin. Ya, 'kan?
Yuk. Sana gih.
- [Tiara] Duluan ya, Ra. - [Nara] Dadah.
[Kevin bergumam] Enggak lucu, Ra!
[Nara cekikikan]
[Juned] Hei, boleh ngomong sebentar?
Boleh.
Aku mau minta maaf kalau sikap aku selama ini ke kamu itu…
Eh…
Angkuh.
Sok. Sombong. Congkak.
Enggak… Bukan itu maksudku, tapi…
Bercanda.
[musik lembut]
[ban sepeda berderit]
[deru sepeda motor]
[deru sepeda motor meraung]
- Kopi hitam, seperti biasa. - [barista] Oke.
Nara?
Teh lemon satu, Mas.
[barista] Oke, siap.
- Terima kasih, Mas. - [barista] Ya, sama-sama.
Bisa senyum juga?
Baru tahu?
Emang ada apaan sih dengan semua sikap dingin dan angkuh kamu itu?
[Juned] Aku sebenarnya pernah cinta banget sama seseorang.
Aku serahin seluruh perasaanku ke dia.
Membangun rencana-rencana ke depan.
Menaruh harapan setinggi mungkin.
Tapi semua itu hancur. Orang itu khianatin aku.
Dari situ, aku enggak pernah lagi berani menaruh harapan pada siapa pun.
Karena harapan… hanya membuat hatiku terluka.
Aku juga sering tersakiti.
[Nara] Sering ditinggal.
Tapi…
aku percaya suatu hari nanti…
pasti akan ada cinta yang datang.
Tanpa pernah menyakiti, tanpa pernah pergi.
[musik santai]
[menyeruput]
Gimana teh kamu?
Enak.
Aku biasa langganan di sini.
Jadi, sering ke sini?
Sering banget.
Jadi, lebih milih
kopi, atau manjat tembing?
[menghela napas]
Ya, panjat tebinglah.
- Jadi, kamu mau panjat tebing… - Panjat tebing.
- Panjat tebing. - Tanpa minum kopi, enggak apa-apa?
- Wah! - [tertawa kecil]
Kok susah-susah banget sih pertanyaan kamu?
[Nara] Untuk kamu…
[Kevin] Terima kasih.
[Nara] Untuk aku.
Aku udah boleh cerita?
[tertawa kecil ringan]
Aku boleh nari?
Oke, aku nari.
[mengembus napas]
Hei!
Yah… jatuh es krimnya.
Jatuh lagi.
Yah… baru beli.
Nara…
Hem?
Kamu mau aku pacaran sama Tiara?
Aku akan turutin semua permintaan kamu.
- Ya? - Tapi aku minta satu hal.
Sebutin. Apa?
Aku titip hati aku sama kamu.
[musik lembut]
[cekikikan]
Maksudnya apaan sih? Emang aku tempat penitipan hati, apa?
Terserah kamu, mau kamu apain hati aku itu.
Mau kamu simpan, mau kamu buang.
Terserah.
Ini kamu comel nih.
Vin… Udah deh, Vin.
Enggak usah drama sampai puitis gitu deh, ya?
Gini, Vin.
Gini, ya…
Aku…
mau kamu jadian sama Tiara
karena menurut aku…
udah saatnya kamu untuk membuka hati kamu.
Beri kesempatan buat orang mencintai kamu.…
dan dicintai.
Ya, layaknya manusia normal yang ada di muka bumi ini, Vin.
Ya?
Aku pengin, Vin.
Aku pengin kamu tahu rasanya gimana jatuh cinta.
Kaya yang aku rasain… waktu aku jatuh cinta sama Juned.
Vin…
[Nara] Lo? Vin, aduh… Kok…
Kok gitu sih? Kamu makannya sampai ke pipi-pipi gitu?
Aku ambilin tisu dulu deh. Ya? Tunggu.
[rintik hujan]
Aku pergi dulu ya, Bu.
- Entar dulu, minum kopinya dulu dong. - Kopi.
Mau ke mana sih, Bang? Buru-buru banget?
Hari libur juga.
Hem.
- Ini buat aku ya, Rin? - Ih, bikin sendirilah.
Asalamualaikum, Bu.
Waalaikum salam.
- Dah. - Hati-hati, ya.
[pintu ditutup]
- Senang si abang itu. - Ya, Bu.
[musik bersemangat]
Udaranya seger banget!
Kamu enggak kedinginan, Nara?
Enggak kok.
Ada monyet.
Itu, lihat enggak?
Ada banyak emang di sini.
Mereka temenku semua.
[musik tenang]
[bunyi bel sepeda]
[bunyi aliran air]
- Ayo. - [berdengus]
- Ke sana, ya? - Aku duluan, ya.
Oke.
Soalnya batunya licin.
Sampai sini…
- Kamu istirahat dulu, ya. - Enggak ah.
Aku udah enggak sabar, tahu? Mau lihat tempat kamu.
Kita harus nikmatin suasananya dulu sebelum kita sampai ke tempat favoritku.
Oke.
Duduk sini.
[Nara] Awas…
Ini tuh tempat pelarianku
kalau misalnya aku lagi pengin sendiri.
Jadi, kamu di sini sendiri terus?
Kamu orang pertama yang aku pernah bawa ke sini.
Masa sih?
Serius, aku enggak bohong.
- Aku? - Kamu.
[musik romantis]
Ngomong-ngomong…
Tempat kita nanti bakal seru banget lo.
Lebih seru daripada ini?
Lebih seru daripada ini.
Ya udah… Ke sana aja sekarang. Yuk!
[tertawa]
[musik lembut]
[pramusaji 1] Pesanannya, silakan.
Mbaknya tumben enggak ikut, Mas?
Oh… Eh…
Dia ada urusan lain.
[pramusaji 1] Silakan, Mas.
- Terima kasih, Mbak. - Terima kasih.
"Mbaknya"?
Nara.
Aku sama dia sering ke sini.
Ini kafe es krim favorit dia.
Foto dong.
- [bunyi tombol kamera ponsel] - [cekikikan]
KEBAHAGIAAN
Mikirin apa?
[Tiara] Hem?
Enggak ada.
Kamu tahu enggak sih, kenapa aku mau bergabung sama Komunitas Taring?
Karena aku pengin seperti pohon.
[tertawa bingung]
Gimana?
Kamu tahu,
pohon akan selalu bertahan di tempat ia tumbuh,
ia akan menikmati panasnya matahari.
Walau matahari begitu jauh dari dirinya.
Tapi pohon akan selalu percaya
cinta matahari akan membuatnya hidup lebih lama lagi.
[musik tenang]
[Juned] Nara!
[musik antusias]
Hah?
[cebur lantang]
Ke sini.
Sini!
[musik bersemangat]
Kamu mau minum lagi, Nara?
Enggak.
Kenapa sih?
Aku tahu, aku belum bisa buktiin apa-apa ke kamu
untuk bisa bikin kamu percaya sama aku.
Tapi aku enggak bisa bohong sama perasaanku ini.
Aku jatuh cinta sama kamu, Nara Senja.
[musik romantis]
Tas kamu, aku yang megang aja, ya?
- Tas aku? - Hem.
- Serius? - Ya.
Enggak apa-apa.
[mesin dinyalakan]
Yuk.
[musik tenang]
[detak jam]
[deru sepeda motor]
[mesin dimatikan]
[Juned] Sini, aku bantu.
- Tunggu. - Oke.
[musik dramatis]
Terima kasih.
[Juned] Terima kasih juga buat hari ini.
[desir tirai]
[debuk]
[Tiara] Terima kasih banyak ya, Om.
[Om Rizal] Ya, enggak apa.
Semua baik-baik di keluarga?
- Baik dong, Om. - Ya?
Om kapan main ke rumah?
Nanti, ya. Begitu ada waktu, ya?
- Kevin. - Ya.
Perusahaan kami mendukung kegiatan kalian untuk preservasi alam, ya.
Terima kasih, Om.
Kita mendukung program apa itu? Satu pohon…
- Sejuta manfaat. - Sejuta manfaat.
- Siap, Om. - Ada tamu Om.
- Kalian santai-santai dulu, ya. - Terima kasih, Om.
- Hai. - Halo. Selamat siang, Pak Rizal.
Aduh, terima kasih lo udah dukung Supermodels Project.
Ya, itu gagasan yang bagus. Ayo, kita bahas.
- Dah, Om. - Ya.
[Om Rizal] Ya.
[pramusaji 2] Mau pesan apa?
Eh…
Café latte.
Americano, es
[denting bel]
Selamat ya.
Untuk apa?
Untuk proyek kamu.
Kan akhirnya dapat sponsor.
Proyek kita.
Ini semua juga berkat kerja keras kamu, Tiara.
Ya, kalau bukan karena keuletan kamu, enggak akan semudah ini dapat sponsor.
Maafin aku, ya.
Hem?
Selama ini kelihatannya aku kurang ngehargain kerja keras kamu.
Padahal kontribusi kamu gede banget di Taring.
Terima kasih, Mbak.
Terima kasih.
Setelah lulus nanti, rencana kamu ke mana?
Aku…
Mau tahu banget?
[tertawa kecil]
- Serius. - [tertawa bersama]
[musik riang]
Mbak.
Ini, jangan pakai sedotan dong.
Terima kasih.
[ketukan]
Vin.
[ketukan]
[klik tombol lampu]
[Nara] Halo.
[Kevin] Ada apa? Aku ngantuk.
Juned mau ulang tahun nih.
Aku tuh pengin gitu kasih kado ke dia.
Tapi aku penginnya kado yang spesial gitu. Apa, ya?
[menghela napas berat]
Jadi, kamu bangunin aku tengah malam babi buta begini…
buat ngomong itu doang?
Ya, bantuin dong, Vin.
Besok temenin aku ya, cari kado buat Juned.
Dia tuh udah baik banget sama aku, Vin.
Aku tuh pengin ngerayain ulang tahunnya dia.
Ya? Tolong.
Vin…
Kamu kenapa sih?
Akhir-akhir ini, kok sikap kamu kayaknya berubah gitu?
[musik lembut]
Ya udah.
Besok aku temenin, ya.
Terima kasih.
Ya udah, tidur lagi aja.
- Dadah. - Dah.
[musik antusias]
Tuh, 'kan…
untung aja aku minta tolong sama kamu.
Aku itu udah menetapkan kamu sebagai dewa penolongku, tahu enggak?
[Nara] Pasti banyak nih yang Juned suka.
Nih, lucu nih.
- Coba ya. - Cobalah.
Keren, enggak?
- Keren. - Kamu pakai juga dong.
- Yang mana? - Ini nih.
Nih… Coba.
Kamu coba ini.
[Nara] Gimana? Keren, enggak?
[Kevin] Keren, Bro.
Vin.
Aduh, dingin banget. [meniup]
[meniru retih api]
[Nara] Hebat.
Panas juga.
[berseru]
Lucu nih. Lucu, enggak? Suka, enggak?
Coba pakai dong.
Mau beliin ini?
Ya, coba-coba dulu aja.
[Nara] Gimana? Suka enggak?
Suka.
Ada lagi kali di sana, ya?
[Tiara] Vin!
Jadi, aku tuh daftar magang jadi guru Biologi di SMA Pertiwi.
Kamu mau aku daftarin, enggak? Biar kita nanti bisa ngajar bareng?
- Mau ya? - [Kevin] Eh…
Aku belum ada bayangan sih.
Aku juga harus tanya…
Minta persetujuan dari orang tua.
Ya ampun, Vin.
Sekarang tuh udah saatnya kamu mikirin masa depan kamu.
Jangan tergantung terus sama orang lain.
[Nara] Hai!
Vin…
Hai.
Aduh.
Maaf banget, ya. Sori banget, Tiara. Aku udah ganggu waktu pacaran kamu.
Hem…
Jadi, gini.
Aku mau ngadain kejutan ulang tahunnya Juned,
dan aku mau ajak kalian berdua.
Gimana?
- Mau, ya? Tolong… Ya? - [mengerang]
Apa hubungannya sama kita?
Kita kan enggak kenal-kenal banget sama dia.
Kenapa enggak rayain berdua aja?
Kita berempat jarang lo jalan bareng.
Kan sekalian pacaran, gitu.
Ya udah.
Boleh juga kok.
Lagian kan biar kita bisa lebih kenal sama Juned. Ya, 'kan? Vin?
Ya udah.
Terima kasih ya, Vin.
Terima kasih banyak, Tiara.
Ya.
Aku kasih tahu nanti infonya, waktu, tempat.
Tunggu aja, ya. Dadah.
[musik pop dimainkan]
Tunggu deh…
Kamu cantik banget hari ini.
Emang biasanya gembel, ya?
Mau gimana pun, kamu akan tetap selalu cantik, Nara.
- Hai. - Hai.
Beneran datang. Terima kasih, ya.
- Kamu ajak Kevin? - Ya.
- Kejutan! - Kejutan!
♪ Selamat ulang tahun, Juned ♪
- Ini ide kamu, ya? - ♪ Selamat ulang tahun, Juned ♪
Terima kasih ya, Sayang.
- Tiup lilinnya. - [Farid] Selamat ulang tahun, Ned.
- [Juned] Terima kasih, Bro. - [Boni] Tiup lilinnya.
- [Juned meniup] - [Boni] Widih…
- [Nara] Selamat ulang tahun, Sayang. - [Juned] Terima kasih.
[Juned] Omong-omong, Bro. Terima kasih udah hadir.
[Boni] Pasti, Bro.
Oh ya, bentar.
Aku punya sesuatu buat kamu.
Dia emang penuh kejutan gitu ya, anaknya?
Banget. Lu harus mulai biasain diri.
Berapa lama lu saling kenal?
Dari kecil. Dari SD.
Udah kayak saudara dong.
Nih buat kamu.
Wow.
Terima kasih, Sayang.
Sama-sama.
Apaan nih?
- Aku buka, ya? - Rahasia dong.
Ya, buka aja dulu.
Yang pasti sih bakal berguna buat lu, Man.
[musik mulai intens]
Dia yang bantuin aku nyari kado buat kamu.
Dan dia tuh udah aku tetapin sebagai dewa penolongku.
Enggak tahu lagi deh kalau enggak ada dia, aku gimana.
Ya.
Setiap dia buat masalah, selalu gue yang beresin.
Setiap dia galau, gue selalu jadi senderan buat dia.
Terima kasih ya, Vin.
Lihat deh.
Enggak ulang tahun aja dapat kado.
Enggak dapat kado juga gue enggak peduli.
Yang penting aku punya kamu, Nara.
Kado buat gue mana?
[Boni] Emang lu masih perlu kado lagi?
[Farid] Kan kita udah hadir, udah cukup.
[musik ringan]
Juned.
[decit anak burung]
Tadi aku ketemu ini nih di sana.
Mamanya mana ya?
Kasihan.
Kasihan.
Kita ke sana yuk.
Yuk.
Halo.
Kamu kenapa sih, Ned?
Aku enggak apa-apa, Nara.
Tapi dari tadi sikap kamu aneh banget lo.
Benar enggak apa-apa?
Nara, kamu beneran sayang sama aku enggak sih?
Ya.
[Nara] Kenapa?
Kamu kok kayak enggak yakin gitu sih sama aku?
Minggu ini, aku pergi panjat tebing, ya.
Hah?
[Nara] Kok mendadak banget sih, Ned?
Ned…
Kamu pergi karena kamu masih marah sama aku, 'kan, Ned?
- Ya, enggaklah. - [Nara] Maafin aku, Ned.
Kita akan selamanya kayak gini, 'kan?
Ya, Nara.
Janji?
Aku janji.
Kamu ngapain sih ajak aku ke sini kalau cuma diem-dieman doang?
Vin.
Kita udah keterima kerja magang di SMA Pertiwi.
Tapi untuk seterusnya kamu harus urus sendiri karena aku udah…
Tiara.
Aku terima kasih banget atas perhatian,
kebaikan hati kamu terhadap aku selama ini.
Tapi sayangnya aku bukan Nara, 'kan?
Karena selama ini kamu berharapnya
perhatian itu datangnya dari Nara, bukan dari aku, 'kan, Vin?
[musik sedih]
Nara milik orang lain.
Dan sekarang,
aku mau memulai sesuatu yang baru sama kamu.
Halo.
- [Juned] Halo, Sayang. - Hai!
Lagi di mana?
[Juned] Aku udah sampai, ya.
- Lagi istirahat. - [Nara] Ya udah.
Jangan lama-lama ya perginya.
Entar aku kangen lagi.
Ya, Sayang.
Kan besok aku pulang.
Dah.
Lu kenapa ngajak kita mendadak ke sini?
Lu enggak ada masalah kan sama Nara?
[musik penuh ketegangan]
[musik tenang]
[Farid] Ayo, Ned. Hati-hati, Ned.
[Boni] Sabar, Ned!
Hati-hati.
[musik menegang]
[musik kian menegang]
Awas!
[debuk keras]
[musik dramatis]
[ponsel berdering]
Hati-hati, Rid.
Ned!
Bangun, Ned!
[Boni] Awas, Rid! Sebelah kiri!
Bangun, Ned!
Juned!
[musik dramatis]
[ponsel berdering]
Angkat dong, Ned.
Kenapa enggak diangkat sih?
[Nara] Kok enggak dijawab-jawab sih?
Mungkin dia lagi di motor jalan pulang, Ra.
[bunyi klik]
[bunyi ponsel]
Halo.
Ned.
Kamu ke mana aja sih? Dari tadi aku cariin juga.
Lo?
Terus… Gimana keadaannya?
Baik-baik aja, 'kan?
Hah?
[musik dramatis]
[Nara] Rina.
- [Rina] Kak… - [Nara] Kenapa?
Kenapa Juned? Kenapa?
[Bu Caniago] Nak…
Enggak!
Enggak!
Juned!
[Nara menjerit]
Enggak! [gumaman teredam]
Enggak! Kamu udah janji sama aku kamu enggak bakal tinggalin aku!
[Nara] Enggak!
Juned! Kamu udah janji!
[musik sedih]
[Bu Caniago] Tolong doain, ya.
- Nara, papa dan mama duluan, ya? - [Nara] Ya.
- [Bapak Nara] Ibu, kami pamit duluan. - [Bu Caniago] Oke.
[Kevin] Tiara.
Kamu pulang sendiri dulu, ya?
Aku harus nemenin Nara.
Hati-hati, ya.
[Bapak Nara] Kevin.
- Om, titip Nara, ya. - [Kevin] Ya, Om.
Dia benar-benar terpukul soalnya.
- Terima kasih, ya. - Sama-sama, Tante.
Ayo, Pa…
[musik dramatis]
Nara…
Ibu berterima kasih sama kamu.
Sejak kamu bertemu Juned, Juned jadi anak Ibu yang bahagia.
[tersedu]
[musik dramatis]
Jadi, sekarang kita udah memiliki 50 buah bibit
yang bisa kita tanamkan di tiga titik berbeda.
Di Indramayu, Karawang, dan Padalarang.
Jadi, yang mana dulu, Vin?
[musik ringan]
[obrolan samar]
[Kevin] Mama kamu bilang kamu enggak mau makan.
Jangan gitu dong, Ra.
Nanti kamu sakit.
Makan ya sedikit?
Kusuapin, ya?
Kasih tahu aku.
Apa yang bisa aku bantu biar bikin hati kamu lebih tenang.
Juned janji…
Dia janji enggak bakal ninggalin aku dan enggak bakal nyakitin aku.
[Nara] Tapi dia sekarang di mana?
Dia enggak ada di sini.
Aku sendiri.
Apa salah aku sih, Vin?
Kenapa semua orang ninggalin aku?
Hei…
Ayo… Hei.
Ikhlas. Juned udah pergi.
Enggak semua orang ninggalin kamu, Ra.
Masih ada aku di sini.
Kamu juga nanti pergi.
Aku enggak akan pergi, Ra.
Aku enggak akan pergi.
Dan itu bukan salah kamu semuanya.
Bukan salah kamu.
Sekarang makan, ya.
Makan supnya aja.
Biar perut kamu enggak kosong, ya?
Ya?
Ya?
[terisak]
Nara.
[bunyi bel sepeda]
[bunyi bel sepeda]
[obrolan samar]
- Sukses! - Sukses!
KEBAHAGIAAN
Coba yang lebar.
Yang lebar.
Yang lebar. Berlepotan, 'kan.
Jadi…
Kapan kamu masuk kuliah?
Kamu pulang, ya.
- Aku mau istirahat. - [Kevin] Ya.
Susunan acara Hari Bumi harus cepet-cepet dibuat sih, Vin.
Ya.
Nanti aku kirim kamu contohnya, ya.
Oke.
Dan jangan lupa sosialisasi di media sosial kita. Ya?
Ya, buat ningkatin kesadaran aja.
Bagus.
Kenapa sih, Vin?
Hari ini, Nara udah kuliah lagi.
Terus?
Bentar ya, Ti.
[Kevin] Nara!
- Hai. - Gimana hari ini?
- Baik. - Baik?
Dapat dari mana payungnya?
- Dosen aku kasih. - Ya?
- Katanya, "Selamat datang kembali." - Selamat datang kembali.
- Belum mau pulang, 'kan? - Belum.
- [Kevin] Mau ke mana? - [Nara] Kantin.
- [Kevin] Yuk. - [Nara] Yuk.
[Tiara] Vin.
Ada apa, Ti?
[Tiara] Kamu tahu enggak sih rasanya…
saat kamu bersama seseorang, tapi kamu tahu hati orang itu enggak bersama kamu?
Vin, kenapa sih kamu harus pura-pura cinta sama aku?
Kalau emang selama ini kamu cintanya sama Nara,
kenapa kamu enggak bilang sama dia?
[musik ringan]
- [bunyi payung terjatuh] - Nara!
Gih. Kamu kejar Nara kamu.
Aku enggak mau jadi penghalang cinta kamu sama Nara.
[Kevin] Nara!
Aku pengin sendiri, Vin!
Kamu marah sama aku, Nara?
Nara.
Udah lama aku enggak lihat kamu nari.
Aku pengin kamu keluarin semua perasaan kamu, Nara.
Kamu marah, kamu sedih, kamu kecewa.
Keluarin semuanya, Nara.
Hei.
Aku janji…
enggak akan biarin setetes pun air hujan membasahi kamu.
[musik antusias]
[berdengus]
Sahabat selamanya?
Sahabat selamanya.
[musik antusias]
[Kevin] Udah…
lupain aja cowok itu.
Cowok kayak gitu, enggak layak dapat cinta kamu, Nara.
[berseru]
Kamu kan jomblo. Aku juga jomblo.
Kenapa kita enggak jalan berdua?
Aku akan turutin semua permintaan kamu.
Tapi aku minta satu hal.
Sebutin. Apa?
Aku titip hati aku sama kamu.
[musik romantis]
Selama ini, aku selalu takut untuk nyatain perasaan aku sama kamu.
Aku enggak pernah berani nyatainnya.
Karena aku takut, kamu pergi dan meninggalkan aku.
Tapi sekarang, aku enggak peduli lagi.
Bahkan jika kamu membenciku sekalipun.
Aku belajar dari hujan.
Hujan enggak pernah takut untuk jatuh ke bumi.
Dan hari ini,
aku adalah hujan.
Dan aku ingin kamu tahu,
kalau aku adalah lelaki yang jatuh hati kepada sahabatnya sendiri.
[Nara] Aku juga bosen sahabatan sama kamu.
Payungin dong.
[tertawa bersama]
Maaf ya, Kevin.
[tertawa bersama]
BERDASARKAN NOVEL TERLARIS KARYA BOY CANDRA
["Hidup Kan Baik-baik Saja" oleh Fiersa Besari dimainkan]
♪ Cerita kita tak semanis dongeng ♪
♪ Atau bagai drama sinetron cengeng ♪
♪ Kau bukan artis, aku bukan pujangga ♪
♪ Namun, kisah ini sangat berharga ♪
♪ Hingga rambutmu memutih ♪
♪ Hingga perutku membuncit ♪
♪ Hati ini takkan pernah tua ♪
♪ Kita memang bukan ♪
♪ Pasangan sempurna ♪
♪ Bukankah Tuhan mengirimmu ♪
♪ Untuk melengkapiku? ♪
♪ Aku tidak perlu ♪
♪ Punya segalanya ♪
♪ Selama kau ada di sini ♪
♪ Hidup kan baik-baik saja ♪
♪ Menikmati hujan sambil berdendang ♪
♪ Berpegang tangan saat senja datang ♪
♪ Senyumanmu membuat nyali ciut ♪
♪ Jangan bersedih, kau jelek ♪
♪ Jika cemberut ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.