Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
-- Diterjemahkan oleh Lady Helen -- Resync/Edited By (Coffee_Prison)
[ FILM NETFLIX ORIGINAL ]
Kurasa ini tempatnya.
Kau bawa uangnya?
Di sakuku.
Jangan keluarkan di sini, Kawan. Mau dirampok?
Tempatnya di lantai 3.
Ketuk pintu bergambar vagina.
Ya, tetapi entahlah. Mungkin kita tak perlu membeli kokaina?
Kita bisa bertahan malam ini tanpa itu, bukan?
Tidak, aku sama sekali tak mau.
Itu membantuku mendekati wanita. Aku tak bisa merayu tanpa itu.
Ya, tetapi aku mau ketenangan malam ini.
Aku harus belajar untuk ujian besok.
Baik. Berikan uangnya.
Biar kuurus sendiri lagi. Hei, santai saja!
- Payah! Lihat. - Kuhajar kau! Bajingan!
Aku akan ikut kau.
Tidak. Kau di sini, nanti kita tak dihormati.
Kita lihat dirimu setelah kubawa ke Brussel sebulan.
- Ya. - Paham?
Selamat malam.
Kumohon, tolong aku!
- Tolong! Hentikan! - Tidak, terima kasih.
Maaf, permisi. Maaf.
Diam!
Apa kau Cokeman?
Dengar aku baik-baik!
Demi kuburan ibuku, aku tak tahu kau buta. Ya?
Kulecehkan anjingmu, dan aku menikmatinya.
Dia yang mendekatiku.
- Apa? - Jadi, ayo selesaikan kalau mau!
Paham, Jafar? Paham?
Namaku Grégoire dan aku tak punya anjing, Brengsek!
Sial!
Maaf, Kawan. Jujur saja, dengan wajahmu ini,
seharusnya aku tahu kau bukan dia.
Kau butuh apa?
Tadinya mau beli kokaina, tetapi lupakan.
Apa maksudmu?
Kau menggangguku saat seks, lalu bilang "lupakan"?
Maaf, tak tahu.
Saat ini, aku punya kokaina terbaik di Paris.
Sungguh?
- Bisa kulihat kau suka itu! - Ya.
- Ayo kemari, Kepala Tapir. - Ya.
Duduklah di sofa sana.
- Mau seks oral? - Tak usah.
Sayang sekali. Padahal nikmat.
- Aku mau tanya. - Apa?
Itu gigi aslimu, atau palsu?
Gigi asli.
Keren! Pasti seru jika gigiku begitu!
- Tahu aku akan apa? - Tidak.
Kusumpal kacang kecil di lubangnya.
Boleh kulakukan itu nanti?
Boleh saja, tetapi kau butuh kacang.
Tenang saja. Pasti tak sulit ditemukan.
Ini dia, Kawan! Dari Kolombia!
- Ya! - Tapi asal kau tahu,
hidungmu akan terasa nyeri!
Boleh kucoba sebelum pergi?
Tentu. Sudah kubilang anggap saja rumah sendiri.
Kau keren, membuatku kesal saja!
- Tampan! - Benar.
Kristal ini luar biasa!
Kualitas tinggi, ya?
Aku mengerti.
Kau ahli kokaina!
Itu baru bagus!
Kau mau sedikit?
Aku mau banyak! Berikan ukuran yang jantan!
- Ayo. - Ukuran besar!
Sudah.
Apa maksudmu? Kubilang ukuran besar.
Bagus! Itu baru banyak!
Kau gila!
Dengan rahang gemuk itu.
Kau bahkan membawa kartu.
Peralatanmu memang lengkap. Ini dia.
Kubuat sedotan kecil untukmu.
Ini, Nak. Selamat menikmati!
Bagaimana?
Luar biasa enak!
Cokeman? Apa wajar jika aku mimisan?
Tentu saja!
Kau baru terbentur dinding!
Padahal kau mengaku ahli! "Kurasa ini kualitas tinggi."
Yang berkualitas adalah produkku, membuat mimisan!
Dasar pecundang! Ayo seka hidungmu.
Astaga, aku suka sekali!
Sedang apa? Jangan berpikir! Nikmati saja telermu!
Jika terus begitu, tak enak.
Kurasa memang sudah tak enak.
Augustin?
- Diam! - Apa itu Jafar?
Kurasa itu Jafar.
Jangan khawatir, ada aku.
[ AWAS WANITA KEJAM! ]
Siapa?
Tim narkoba, Brengsek. Buka pintunya!
Baik…
Kenapa wajahmu bengkak?
Minggir!
Tampak seperti wasir!
Hari ini sia-sia lagi.
Padahal awalnya lumayan.
Aku bawa wanita elegan ini malam sebelumnya.
Kami bersetubuh semalaman.
Pokoknya, tak perlu detail.
Lalu tak sengaja kuinjak kotoran anjing.
Kulihat bentuknya gepeng karena kuinjak, dan pikirku,
"Jika dibungkus kertas kaca, akan mirip ganja."
Jadi, kupungut beberapa kotoran, lalu pergi ke Jalan 16.
Ternyata kotorannya laris.
Semua anak orang kaya di sana tertipu. Luar biasa.
Lalu aku bertemu jagoan setempat.
Kumpulan gadis kaya.
Ayo cepat, ada polisi!
Tak peduli. Bisa kusentuh?
Sulit sekali menipu mereka.
Tunggu. Apa ini kotoran?
Bukan.
Dia menjual kotoran kepadaku?
Pikirmu aku siapa?
Lalu aku berbalik…
Ada selusin pria kekar. Mereka menyerangku.
Kau menjual kotoran anjing?
Minggir sebelum kuhajar kalian!
Awas, saudaraku bisa judo.
Itu akan membuatmu jera karena menipu anak kaya.
Lihat saja saat bertemu lagi!
Anak-anak kaya!
Yang benar saja. Kau membuat sedotan dengan ini?
- Kenapa? - Tak bisa baca?
Tidak! Aku tak pernah bersekolah.
Semuanya tidak jelas. Apa tulisannya?
Ini undangan pernikahan adikku.
Akan dihadiri banyak pelacur. Semua yang datang pasti kaya.
Aku bahkan tak mampu beli jas.
Pelacur dan orang kaya? Kita pasti datang.
Kau tak bosan bergaul dengan bajingan begini?
Astaga. Tampaknya si Penguin overdosis.
Penguin di Batman, tahu?
Dia membuatku takut. Aku bisa mimpi buruk.
Tunggu… Biar kubelikan jas untukmu.
Kau memang baik, sumpah.
Simpan kembaliannya.
Ayo kita pergi.
Kita apakan pencandu ini?
Kau tak lihat dia sedang teler?
Biar dia nikmati. Dia sedang lihat babi menari.
Kau selalu kedatangan pencandu aneh.
Dia cuma pecundang tua.
Kau menipunya?
Dia adikmu?
Ya, adik tiri. Kami satu ibu.
Ayahmu pasti jelek sekali.
Sial, tadinya aku tak tahu siapa tunangan Zlatana.
Siapa pria itu?
Kau tak tahu Arsène van Gluten?
- Tidak. - Biar kuberi tahu.
Dia dari keluarga industrialis besar
di bidang usaha roti.
Juga punya usaha sampingan ilegal.
Majid sempat berbisnis dengannya.
- Majid mencoba menipunya. - Astaga!
Arsène marah besar.
Majid dibawa ke tokonya.
Dia dibanting dan digiling di lantai.
Dimasukkan ke oven.
Kabarnya, saat keluar, Majid sudah mirip roti sabit.
Ya.
Aku bersedia.
Ya, aku bersedia.
Kalian sah menjadi suami dan istri.
Panjang umur pengantin wanita!
Aku berhasil menggaetnya!
Habislah dia!
Selamat, Tn. No Gluten.
Pangeran Al-Walou ingin berkenalan.
Pangeran Al-Walou, ini kehormatan!
Kau akan duduk di mejaku malam ini agar kita bisa bahas bisnis.
Kau tampak cantik, tadi luar biasa.
Kau tak memotret?
Aku terhipnotis oleh kecantikanmu.
Untuk apa kau di sini?
Mohon perhatiannya.
Harap berkumpul untuk foto keluarga.
Kawan, kenapa malu-malu? Ayo!
Kau keluarga, bukan?
- Ada yang belum kuberi tahu. - Apa?
Ibuku hanya beranak demi dapat uang.
Saat lihat wajahku, dia sadar aku tak akan dapat jodoh cantik.
Masuk akal.
Istriku cantik, bukan?
Kau kenal dua orang aneh itu?
Aku tak pernah lihat mereka.
Usir mereka.
Ibumu yang mendekati kedua pria Arab itu?
Ayahku mengaku sebagai tokoh besar di industri gas.
Saat ibuku sadar dia hanya ahli buang angin,
ibuku meninggalkannya.
Ahli buang angin?
Ayah dan anak sama-sama penipu.
Tentu.
Sudah siap? Bagus sekali.
Adikmu cantik sekali.
Permisi.
Ayo pergi!
Lepaskan aku!
- Kawan, kau sedang apa? - Fotonya…
Aku bicara kepadamu!
Ny. Van Gluten, Arsène menyuruhku usir mereka.
Kau serius? Arsène, kemari!
Tunggu, Zoozoo. Kita sedang berfoto.
Diam! Teganya kau perlakukan kakakku seperti itu.
Tidak, aku…
Jangan gagap! Kau mau kupukul?
Apa katanya?
Kau baik-baik saja? Kau senang di sini?
Enyah, jangan mendekat.
Semua, tetap di tempat.
Ayo ikut berfoto.
- Katanya lepas. Hedi! - Kau bukan keluarga.
Bagus! Mendekat. Senyum lebar.
Aku tak akan berbisnis dengan pria yang dihina istrinya.
- Terkutuklah dia. - Senyum!
Sudah beres! Terima kasih, Semua!
Bagus!
Apa kabar?
Kau tahu, aku bekerja serabutan.
- Jadi, masih kesulitan? - Ya, lumayan kacau.
Tenang, akan kusuruh Arsène membantu.
Dia di bawah kendaliku. Si bodoh itu tak meneken surat pranikah.
- Sungguh? - Dia tak siap!
Itu baru adikku! Astaga…
Kau akan memperkenalkanku?
Enyahlah! Aku sedang bicara dengan adikku!
- Ternyata begitu. - Sayang?
Ada cara menebus kesalahanmu.
Van Gluten, van Brengsek!
Kau mau apa?
- Cokeman! - Persetan kau.
- Kita dapat bisnis, Kawan! - Aku bukan kawanmu!
Kau sudah naik level.
Ada apa, Kawan?
Kau serius? Aku ingin diperkenalkan kepada adikmu.
Dia menyukaiku.
Sikapku manis. Aku hanya mau dipeluk.
Lalu kau mengusirku?
Persetan kau!
Dengarkan aku!
Arsène menawarkan peluang untuk menjual ganjanya.
Kita rapat setelah mereka berbulan madu.
- Ganja kualitas tinggi. - Terserah, aku tak pakai ganja.
Dengar, kita dapat bisnis. Mau kerja sama atau tidak?
Jangan buat aku pusing.
Kau satu-satunya temanku. Aku tak akan pernah mengecewakanmu.
Aku memperingatkanmu.
Hal terakhir yang akan kau lihat sebelum mati adalah wajah Arabku.
Kau juga akan lihat wajahku!
Kau sudah dekat ajal. 6 bulan lagi, kau bertemu Beelzebub.
Dasar bajingan!
Aku menginjak kotoran anjing. Bau sekali.
Si pecundang tua masih di sini!
Greggy Cilik! Kau menikmatinya?
Sama sekali tidak. Rasanya buruk sekali.
Kupikir aku akan mati.
Aku melihat cahaya di ujung terowongan.
Pengalaman terburuk dalam hidupku.
- Kau menyiksanya! - Dia bahkan tak menungguku! Nakal!
Jangan isap itu!
Kau tak paham rasanya.
- Itu bahkan tak mengandung kokaina. - Ada sedikit.
Benarkah?
Sisakan untukku.
Arsène! Bagaimana perjalananmu?
Bulan maduku? Menakjubkan.
Zlatana membuatku takjub.
Begitu kami tiba, dia mengenakan lingerie seksi.
Aku tak perlu tahu detailnya.
Bokongnya tampak indah.
Tak usah kugambarkan. Kau tahu adikmu.
Ya, aku paham.
Dia mendorongku ke tembok, lalu mulai menyetubuhiku.
Hei!
Katanya, tak perlu detail! Apa kau tuli?
Kenapa ikut campur? Ini urusan keluarga! Bukan urusanmu!
Maaf. Jadi, katamu, adikku menyetubuhimu…
Kau memang penjilat! Ini gila!
Sudah cukup. Aku muak denganmu.
Kau tak akan masuk jaringanku, paham?
Apa peduliku? Jaringanmu hanya gelandangan.
Aku akan melaporkanmu.
- Apa? - Aku akan melaporkanmu!
Dia juga! Kulaporkan kalian semua!
Apa katamu?
Siapa yang mau kau laporkan? Bisakah kau berhenti merusak hidupku?
- Dasar pangolin! - Kuajak kerja sama, kau malah buat malu!
Tak peduli! Adikmu seharusnya bersamaku. *
Baik…
Pong, lupakan ganjanya.
Tak akan kuberi apa pun. Dua orang bodoh itu pasti mengacau.
Baguslah, aku sempat lihat keuanganmu.
Biaya pernikahan, bulan madu, kerja sama Arab Saudi yang gagal…
Jangan khawatir, Pong, aku punya rencana.
Kita akan pikirkan ulang strategi komunikasi.
Kau ingat dahulu foto ibuku dipajang di kemasan kukis?
Kini, aku mau foto istriku yang dipajang.
Aku mau Zlatana menjadi inspirasi baru untuk kukis cokelat kita!
Kau mau taruh wajahnya di kemasan Nutc'h?
Kenapa? Pikirmu, dia tak layak?
Kau sedang apa?
Kau beri ganjanya kepada kakakku?
Mungkin kau tak lihat, Sayang, aku sedang bersama Pong.
Kami sedang menyiapkan semua. Namun, kita harus ikuti prosedur, Sayang.
Cepatlah!
Baik.
- Beri mereka 10 kg. - Tidak!
Jika terus main-main, kita akan celaka.
Bisa kuprediksi.
Tadi kau cium itu sebelum aku masuk?
Tidak.
Berikan 10 kg, dasar bodoh.
Jadi, kuberi mereka Mojo Mango?
Tentu tidak, Zeub Zebi saja.
Juga, cuci tanganmu!
Astaga!
Ganja ini luar biasa, Arsène!
Kau tak akan menyesal.
Tak masalah, kita keluarga.
Terima kasih. Ayo ambil karungnya.
Aku sungguh akan berpose dengan kue itu? Bisa bayangkan?
Aku sungguh bisa bayangkan. Pasti keren.
Arsène mau bayar mahal demi ini.
Ya. Pasti luar biasa.
Aku sudah punya sloganmu.
"Nutc'h. Bukan kukis biasa!"
- Bagus, bukan? - Ya.
Aku baru lihat kamar untukmu.
Akan kubuat studio foto di situ, pasti keren.
Hanya kau dan aku, bersantai. Asyik, bukan?
- Kau selalu memikirkan dirimu saja. - Kenapa bilang begitu?
Tak usah menyangkal. Aku sudah tahu niatmu.
Namun, kau tahu?
Aku akan tampil di iklan sampahmu. Lagi pula, aku menganggur.
Iklanku bukan sampah. Aku tak akan mempermalukanmu.
Dik, coba lihat. Kau sungguh menolong kami.
Bukan main. Dasar pelit!
Ini Cokeman, rekanku.
Sadarlah. Tak lihat dia memberimu jerami?
Kau ingin bangun jaringan sendiri, tetapi mudah ditipu.
Arsène, ambil Zeub Zebi ini, berikan Mojo Mango! Cepat!
Pergilah.
Si mata duitan itu akan merusak semua!
- Apa katamu? - Kataku, aku akan segera mengambilnya!
Pergilah!
Bagaimana kau akan bawa ganjanya ke Paris?
Kereta, tetapi sungguh, Cokeman bisa adukan kita.
Tunggu, Sayangku,
bukankah katamu, ada SUV yang tidak terpakai di garasi?
Tak lama lagi, impian kita akan terwujud.
Kau mau operasi plastik?
- Kau tahu permainan kabur? - Tidak. Apa itu?
- Digemari orang kulit putih. - Ya?
Kita dikurung di ruangan, lalu dapat petunjuk untuk keluar.
Kupakai konsep itu, tetapi kuberi sentuhan pribadi.
Bayangkan ini.
Jam 06,00, kau tidur nyenyak.
8 pria kekar berpakaian polisi mendobrak pintumu dengan alat.
Kau dipenjara, bersama tahanan yang ingin membunuhmu.
Targetmu adalah kabur tanpa tertangkap.
Kuberi nama…
Permainan Kabur dari Penjara.
Kau tak suka?
Orang membayarmu untuk dipenjara?
Ya.
Impianmu gila!
Setidaknya aku punya impian. Diam.
- Aku juga punya impian. - Ceritakan.
Meniduri adikmu!
Aku ingin mencium bokongnya dan menghirup aromanya.
Kini kau sombong.
Namun, saat di depan Zlatana, kau tak bernyali.
- Apa itu? - Sial, petugas bea cukai.
Serahkan kepadaku.
- Gawat. - Polisi itu tampak galak.
- Malam. - Tuan-tuan.
Selamat malam.
- Selamat malam. - Polisi bea cukai.
Tunjukkan SIM dan STNK.
Harap cepat, Pak. Terima kasih.
- Kau Myriam Belkacem? - Tentu.
- Apa tak terlihat? - Kau bercanda?
- Kenapa ada asap? - Radiatornya bermasalah.
Masalah apa? Masalah narkoba?
- Sial. Itu lelucon bagus! - Lucu sekali!
Keluar. Kami akan lakukan pemeriksaan.
Kau suka itu, Gargamel?
- Keluar. Cepat. - Pertama lebih lucu.
Ayo.
Sepatu Louboutin-ku!
Jangan bergerak.
Kuperingatkan saja.
Ada ganja di bagasi.
Jangan khawatir.
Dari cokelat.
Ini dia!
Bokongnya bagus.
Ini bukan cokelat.
Itu bukan cokelat.
Pukulannya pun bukan cokelat.
Pukulan apa?
Yang ini, Bajingan!
- Lihat bagaimana aku melibasnya? - Kubuat dia pingsan!
Mobilnya harus dibakar. Mereka pasti tahu pelatnya!
Bagaimana semalam?
Kau lihat aku dengan Yasmina kecil?
- Dia sangat seksi. - Aku menidurinya!
Walau rupamu tua?
Apa maksudmu?
Kalian ingat posisi masing-masing?
Kucegat konsumen. Kau layani di tempat sepi.
Aku harus di dalam, sementara kau asyik di luar?
Tidak. Kita atur minggu A, minggu B.
Jangan ubah rencanaku.
- Kenapa kau jadi perencana? - Karena kau bodoh.
- Aku bodoh? - Ya, turuti perintahku!
- Ini pun perintahmu? - Apa?
Aku bodoh?
Atur minggu A dan B, atau tidak?
A, B, C, D. Terserah kau, Kawan.
- Baiklah. Bagus. - Baik, tenang.
Tak perlu marah.
Makanya, jangan bilang aku bodoh.
Baik, naiklah.
Ini sudah minggu A?
Ini hari pertama. Tentu saja ini minggu A.
Kapan minggu B?
Akan kuberi tahu seminggu sebelumnya.
- Baiklah. - Ya?
- Baik. Seminggu sebelumnya. - Rekanku!
Dasar brengsek!
Ibra dan Lass, kalian pilih persimpangan
lalu cari calon konsumen.
Kau lucu.
Kau baru saja diatur temanmu.
Kini sok memerintah kami? Lucu sekali. Enyahlah.
Yang benar saja. Dia sungguh gila.
Pergi ke sana. Kau mau dapat bayaranmu malam ini?
Kau juga. Pergi ke persimpangan lain. Cepat.
Tampaknya kau sudah punya.
- Hai. - Hai.
Kau cari sesuatu?
Ya. Sesuatu.
Temanku, Cokeman. Belokan kanan pertama, lalu naik.
Tak mau menemaniku sebentar? Ayo, aku akan melayanimu.
Kau serius?
- Temani aku sebentar. - Lepaskan! Kau aneh.
Cepat pergi sebelum kuhajar. Pikirmu, aku tak punya teman?
Aku mau cari pekerjaan, Nek!
Edwige!
Cokeman, apa kabar?
Kau mau ke mana rapi sekali?
Wawancara kerja.
Karena tak bergaul denganku, kau akan sukses?
Ya.
Di mana?
Ralph Lauren, di Montaigne Avenue. Ada lowongan manajer baru.
Lucu sekali.
Dengar. Aku akan menyelamatkanmu dari rasa malu seumur hidup.
Baju Ralph Lauren-mu palsu, buatan Zimbabwe,
celana jinmu murah dan kuno, wajahmu juga lusuh,
sebelum kau sempat masuk ke tokonya,
penyelia di sana pasti menghajarmu di pintu.
Kau akan mirip logo kuda di bajumu.
Kau ini bicara apa?
Aku dan Hedi punya ganja berkualitas.
Sungguh?
Ya, jenis Tojo Bongo!
Tojo Bongo? Astaga, aku suka sekali. Luar biasa.
Kau mau pekerjaan? Biar kuberikan.
- Terima kasih. Kau hebat. - Memang.
Kami tak ada diskriminasi wajah.
Sial. Mata bulat besar seperti anjing dan pipi tembam ini
selalu membuatku luluh.
Baiklah. Aku akan membelikanmu kebab.
- Terima kasih. - Kuberi tahu.
Kentangnya untuk kudamu.
Dia perlu kumpulkan tenaga.
Huguette! Masih hidup tak jujur?
Tentu saja!
Titip salam untuk Krilin.
Tentu, Kawan.
Akan kubawakan soda!
Aku punya Mojo Mango, membuat teler terasa nikmat.
Silakan.
Lantai 3, temui Cokeman, yang berwajah gahar.
Kalian juga kekar. Pasti bisa akur.
Ayo! Mau coba narkoba?
Ingat gedungnya dan kodenya.
Ini tak enak.
Ada Mojo Mango di sana. Di kanan.
Ayo, bekerja! Lihat!
Bagus. Kau sembunyikan di bokongmu.
Pergilah. Apa kataku tadi?
Temui Cokeman. Tanyakan hasil penjualan kita hari ini.
Kau saja.
Pikirmu, kau siapa?
Hei. Hedi menanyakan hasil penjualan hari ini.
Hasil penjualan hari ini.
Dia menginginkannya sekarang?
Ayo cepat.
Kenapa? Mau kuhajar?
Berapa isinya?
Entahlah, pokoknya banyak, tolong hati-hati.
Berikan.
Tunggu!
Aku tak paham. Di mana Hedi?
Di bawah. Biar kubawa kepadanya.
Ya, tetapi aku tak mengenalmu. Tak pernah melihatmu.
Sama, tetapi bisa kulihat kau orang baik.
Lihat saja. Kita akan bertemu besok.
Main bola jam 19,00 di stadion.
Aku jelas mau. Namun, biar kujelaskan dahulu.
Aku menggantikan Cokeman selagi dia pergi membeli kebab.
Jika terjadi sesuatu, dia bisa membunuhku.
- Kau mau kupanggilkan Hedi? - Ya.
Itu lebih baik? Biar kupanggil.
Minggir, awas!
Bukan aku, tadi orang lain.
- Aku tak kenal. - Kau kenal Cokeman?
Lantai 3, sebelah kiri.
Aku buta! Di mana lantai 3, sebelah kiri?
Mari kuantar.
Kalian mau berikan nomor telepon?
Kami bisa pesan antar.
Baik, silakan catat.
Aku akan mampir, bawa minuman, agar kita bisa bersantai.
Kita bertransaksi di pintu saja. Lebih nyaman bagiku.
Di pintu. Tak apa.
Kau tak apa?
Aku bisa minta 50?
Dasar bodoh!
Astaga, ada bazoka!
Ya, kaburlah, dasar brengsek!
Aku juga.
Sial!
Mau ke mana? Kembalilah!
Kembali, dasar…
Sial!
Kau butuh sesuatu?
Kau Cokeman?
Itu bazoka sungguhan?
Entahlah, Cokeman. Menurutmu apa?
Aku bukan dia…
Ini akibat kau melecehkan Jewel.
Ritme kakiku Kalau dia bergoyang di tubuhku
Jangan salahkan perbuatanku
Di lantai dansa
Kubawa dia ke atap…
Jafar datang lagi?
Apa? Kau kenal pelakunya?
Tidak. Kami tak pernah bertemu. Ini berlebihan.
Bagaimana dengan Arsène?
Kau dari mana?
Beli kebab untuk Edwige.
Astaga.
Bajingan itu membunuh Edwige.
Kawan kecilku yang polos. Kemarilah.
"Aku ingin jadi manajer di Ralph Lauren. Mereka menolakku karena wajahku polos.
Karena kini aku tak punya wajah,
tak akan ada diskriminasi lagi.
Mungkin aku diterima."
Aku sangat suka bocah ini. Kau tahu itu.
Ganja kita dicuri. Rumahmu terbakar.
Kau malah bercanda dengan Edwige!
Ini rumahku. Terserah Edwige mau diapakan.
"Dia benar, tiduri ibumu."
Diam. Kau akan kesulitan memakan kebab.
Sial. Polisi.
Sial, ada polisi!
- Pergi ke atap! - Sial!
Ayo, Burger Kecilku, kita lari!
Kau sedang apa?
Apa-apaan ini?
Bos!
Kutemukan cara merintis ulang bisnis kita.
Kita akan buat…
lumpia Vietnam yang berisi…
ekstasi.
Kunamai…
Apa?
Eks-pia!
Toko roti tetap dibuka pada Sabtu malam.
Jadi, orang bisa makan di toko sebelum cari hiburan.
Mereka akan teler karena lumpia.
Buang ini, dan menjauhlah dari perapian!
Cepat!
Maaf, Bos.
Itu hanya ide.
Simpan saja idemu di bokongmu.
Hedi! Kejutan menyenangkan!
- Apa kabar, Arsène? - Ini.
Kau cepat kembali. Bagus!
Apa Zlatana sudah cerita soal SUV-nya?
Cerita apa?
Ayo makan. Silakan.
Aku dapat pembeli. Perlu SUV itu.
Aku dapat masalah dengan mobilnya.
Kami dikejar bea cukai. Berhasil kabur.
Jangan khawatir, mobilnya kubakar di hutan.
Mereka tak akan tahu kau pemiliknya.
Apa ini resepmu?
Ya, bagus.
Goyang bokongmu. Agar memantul.
Bagus. Kau mirip emoji.
Keluar dari rumahku, Bodoh!
- Arsène, kau merusak semua! - Diam!
- Baik. - Zlatana, biar kuperjelas.
Aku tak mau mereka di rumah ini lagi.
Jangan marah. Kau tak punya kredibilitas.
Aku kehilangan SUV dan 10 kg karena mereka.
Tentu saja aku berhak marah! Wajar, bukan?
Tunggu. Satu SUV dan 10 kg. Apa artinya bagimu?
"Tn. Arsène van Gluten, penguasa narkoba, raja pastri."
Kau panik karena mobil dan 10 kg.
- Tidak. - Kau bangkrut?
Itu maksudmu?
- Kau bangkrut? - Tidak.
Wajahmu merah lagi. Aku akan lupakan semua.
Wajahmu, pernikahan kita, Nutc'h sampah ini! Enyahlah!
Tidak… Tunggu, Sayang!
Lepaskan!
Baik… Kau benar.
Kehilangan mobil dan ganja tak berarti kiamat.
Akan kuminta Pong mengambil 10 kg untuk mereka. Ya?
Sayang, bukankah 20 kg lebih baik?
Jika tidak, bagaimana dia bangkit?
Dia harus dapat gaji.
- Tentu. - Tentu.
- Hedi. - Ya?
- Mari kita ambil barangnya. - Ya, mari.
Bagus, terakhir kali terlalu ringan karena 10 kg.
Aku tak bohong.
Arsène, kau punya mobil apa lagi?
Karena SUV yang terakhir sungguh tak bagus.
Bahkan tak ada AC…
Dengar. Kuabaikan semua kebodohanmu
karena aku tergila-gila dengan adikmu. Dia ratuku!
Aku tahu.
"Ya, aku tahu."
Dengar, jika kau mengacau sekali lagi,
akan kupotong buah zakarmu.
Kujadikan kue sus dengan karamel.
- Paham? - Ya!
Kini jemput temanmu.
Akan kuberikan ganjanya, lalu enyah dari sini!
Aku berjanji tak akan mengecewakanmu kali ini.
Terima kasih!
Hutan sialan!
Kau ini kenapa?
Kami bergembira dengan adikmu sebelum kau tiba.
Pokoknya seru!
Begitu, ya?
Mari kita bertiga pergi makan malam minggu ini, bagaimana?
Sungguh? Aku mau sekali!
Kau mau?
Brengsek!
Sementara kau asyik bersama adikku,
si van Gluten brengsek ingin menjadikan buah zakarku karamel.
Jangan membuatku kesal!
Tutup mulutmu dan bawa saja karungnya!
Pokoknya seru.
Ayolah. Aku lelah. Bisa cari tumpangan saja?
Ini jam 03,00, kau pikir
ada yang mau menepi demi wajah melas kita dan 20 kg ganja?
Pikirmu, ini film?
Hai, Sayang. Kalian tersesat?
Mau kuantar?
Ayo cepat, Rekan.
- Kau duduk di depan! - Baik.
Baik, intinya kalian selalu sial.
Ya, kurasa aku dikutuk.
Lucu.
Kau mengingatkanku kepada salah satu mantanku.
Abdel-Krim. Pria berkulit karamel, tampan, asal Ouarzazate,
dengan mata yang menggoda seperti matamu.
Jika kalian tak punya tempat tujuan, tak masalah.
Silakan menginap di rumahku.
Jujur saja, Yvonne…
itu sangat membantu.
Dengan senang hati. Aku tinggal sendirian, Sayang.
Jadi, lebih baik jika ada teman.
Apa Mojo Mango enak?
Apa enak?
Aku teler berat.
Tak lihat apa pun.
Manjo Jango ini luar biasa!
Kembalikan Mojo Mango itu. Sumpah, sikapmu aneh.
Sama sekali tak baik.
Zlatana?
Apa kau, Zlatana?
Kau menjauhkanku, tetapi aku tahu maumu. Kemarilah.
Hentikan!
Yvonne?
Yvonne?
Yvonne…
Yvonne?
Vonnie!
Kau menakutiku.
Kupikir ada perompak yang mau menculikku.
Mau isap ganja?
Isap?
- Tidak… - Mau isap.
- Maksudku ganja. - Mau sekali!
Jangan, Vonnie!
Ada apa?
Kau tampak cemas.
Kau tak suka?
Tentu saja suka, Vonnie. Luar biasa.
Aku berpikir jangan sampai salah lagi dengan ganja ini.
Ya. Kali ini, kau harus bekerja dengan orang yang menghormatimu.
Tentu, aku sudah muak dengan monster.
Kenapa tak pilih orang yang tampak polos?
Supaya tak dicurigai polisi.
Orang jujur tak akan pernah merampok.
- Paham? - Tidak. Kau tahu?
Akan kupilih pecundang yang diabaikan oleh polisi.
Yang bisa kumanfaatkan.
Paham?
Itu ide bagus.
- Sungguh? - Ya.
Vonnie…
Bisa ganti posisi? Aku tak bisa berpikir jika begini.
Hentikan!
- Itu tak benar. - Benar.
Tak benar.
Kau tahu? Persetan dengan bisnis.
Kita bahas besok pagi saja.
Sayang!
Pelumas tadi sudah habis.
Mojo Mango membuatku kering.
Apa juga membuatmu loyo?
Kuperkenalkan diriku. Namaku Hedi, bos baru kalian.
Ini Cokeman, asistenku.
Sejak kapan aku asistenmu?
Maksudnya, kau tangan kananku.
Tangan kananmu akan menghajarmu jika sikapmu sombong.
Kau mirip orang Albania.
Tadi apa kataku?
Yvonne, aku harus bilang apa?
Dia agak bodoh, ya?
Katakan karena mereka masing-masing dari sebuah cabang…
Baik. Diam, aku ingat.
Kalian masing-masing dari sebuah cabang.
Oleh karena itu, kalian semua membentuk semacam pohon.
Tak bisa dibakar.
Pohon ini tahan api.
Permisi, maaf.
Aku mau potong leluconmu yang lucu.
Tidak, tak boleh.
Boleh, karena kami tak paham perkataanmu.
"Pohon, tahan api." Kau membangun hutan? Aku tak paham.
Tak ada yang paham?
Ya…
Itu kiasan.
- Siapa? - Siapa itu?
Astaga.
Yvonne, tolong jelaskan ideku.
- Baik. - Siapa kiasan?
Ini sangat sederhana.
Kalian dipilih karena masing-masing memenuhi target tertentu.
Itu sudah lebih masuk akal.
Grégoire dan Augustin, karena masih kuliah,
kalian akan pegang cabang yang berisi…
- Pelajar. - Ya.
Itu cabang yang tadi ingin kubahas.
Ya, kerja bagus.
Lalu, Gildas.
Karena kau pengangguran, kau bisa pakai
janji temumu di kantor ketenagakerjaan
untuk bangun jaringan pengangguran.
Baik.
Kami juga siapkan paket kecil untukmu, mulai dari dua euro.
- Ide bagus. - Aku tahu.
Perhatikan gaya busanamu.
Kau mirip seorang pedofil.
Harus kuakui, bukan…
Aku suka. Celana pendek kargo, kaus kaki, sandal.
Alice yang cantik.
Karena kau pelukis…
aku tak perlu gambarkan untukmu.
Aku tak hanya pelukis.
- Seniman panggung. - Jangan tertawa.
Bahkan aku punya galeri, menjadi penari,
kadang pemain juggle… Siapa pun yang mau datang. Ini…
Hei! Tak ada yang peduli soal hidupnya.
Tak ada yang peduli.
Masing-masing akan kuberikan ponsel.
Hedi dan aku akan kirim panggilan. Isi ulang dilakukan di sini.
- Baik. - Ya?
Jangan cemas, semuanya akan kucatat.
Semua akan dicatat, jadi, jangan berusaha menipuku!
Kenapa teriak?
Ayo, enyah dari tempatku!
Jangan berlagak seperti bos!
- Santai. - Singkirkan tanganmu!
Kau sok pintar di depan mereka.
- Aku terlena. - Singkirkan tanganmu!
NIKMAT - MOJO MANGO PUAS 200% - BELILAH
KEJAR IMPIANMU
SEDANG CARI LOWONGAN AKU FLEKSIBEL
NUTC'H - ISI COKELAT
MOJO MANGO, 50 EURO, 5 GRAM
4 GRAM
3 GRAM
2 GRAM
1 GRAM
JALAN CHRISTOPHE JALLET
Dua pecundang kecil favoritku!
Dipukul siapa?
Kami mau beri tahu Yvonne kami mundur.
Terlalu rumit karena harga baru Hedi.
Serius? Bagaimana cinta segitiga kita?
Kita tak punya cinta segitiga.
Benar. Situasinya belum seru, dan kalian mau mundur?
Kupikir kalian menganggapku seperti ayah.
Kalian mirip bocah kaya.
Kemarilah, Sayang-sayangku.
Ayah akan ajarkan teknik pemberian tekanan. Seru!
- Kau kekar, Augustin! - Terima kasih.
Apa maksudmu? Aku bercanda. Tak lihat lenganmu tipis seperti keripik?
Biar kuberi kreatina.
Namun, kau akan membotak.
Seperti Zizou!
Kenapa tertawa, Babi Kecil? Ayo lari!
- Kenapa kau mematuhiku? - Ya, aku…
- Apa katamu? - Tak ada.
- Katamu, aku Arab brengsek. - Tidak!
Seharusnya kau berkata begitu!
Lari, dasar penakut. Akan kusetubuhi kalian.
Bisa tambah sedikit, karena…
Itu harga barunya, paham?
Baik, aku mau beli.
Tentu saja. Enyahlah!
Ayo, hus-hus!
Jangan bilang "hus-hus"…
- "Pulanglah!" - Tidak!
"Berengsek", "enyah", "pergi". Kasar!
Mojo Mango!
Ya! Brengsek!
Kami punya Mojo Mango!
Ya, harga baru!
Ya!
Aku datang.
- Ganja? - Ya, luar biasa, percayalah.
- Ganja bagus? - Percayalah.
- Mojo Mango, bukan? - Ya.
Beri senilai 20 euro, cepat.
Tak ada 20. Harus 50.
Pinjam saja dariku.
- Punya berapa? - 20
Aku punya 30.
Beri 50 untuk dua pecundang ini.
Sembunyikan dengan baik.
- Tunggu… - Kau sedang apa?
Apa ini? Kau bercanda?
Lihat aku.
Lihat aku. Apa tampaknya aku bercanda?
Apa tampaknya aku bercanda?
Kau tampak aneh. Lihat penampilanmu.
Aku tak peduli. Kau tak mengenalku.
Baik. Aku tak mengenalmu.
Ambil ganjamu, kembalikan uangku, beres. Tak masalah.
Si hitam ini serius?
- Apa katanya? - Apa katamu?
Kubilang, "si hitam ini"!
Sial, aku berdarah!
Baik, kau menang. Akan kuhajar kau!
Menjauhlah.
- Sudah dapat pelajaran? - Enyah dari sini.
- Jangan menyerah, seperti Cokeman! - Baik!
Jangan bangun lagi!
Lepaskan, atau kuhabisi kau!
Polisi datang!
Ada apa ini?
Serahkan dia kepadaku! Dia milikku!
Diam!
- Aku tak bersalah! - Yang benar saja, diam!
Kau tak apa? Ada yang patah? Lihat aku.
Jangan sentuh aku, Jorok!
Singkirkan tanganmu, kuhabisi kau!
Tutup mulutmu! Kau meludahiku!
Dasar homo. Ayo ringkus semuanya. Ikut aku!
Bagaimana?
Itu bukan milik kami.
Yang benar saja. Lantas milik siapa, Berengsek?
Kami brengsek, tetapi bukan pengadu, ya?
Baik, kurung mereka di sel sampai mau buka mulut.
Jaringan kami dikelola Hedi dan Cokeman.
Begitu saja? Tunggu… Secepat itu?
Ya, kami dipilih karena tampak seperti pecundang.
Kau bisa lihat?
Ya, bisa kulihat. Memang benar.
Ya.
Dasar pecundang payah.
- Terima kasih. Nikmati harimu. - Dah.
Aku mengadukan mereka. Tanpa ragu-ragu.
Aku pengadu rendahan!
Kita bilang apa saat Hedi dan Yvonne hitung uangnya?
Bilang saja dirampok orang kulit hitam.
Mereka akan percaya?
Tentu tidak. Ingatlah, kita akan mati.
Mungkin Cokeman akan percaya.
Ya. Lagi pula, pria itu bodoh.
Ayo, mari kita coba.
Ayo, David. Ini halal.
Nejib, ada couscous di kulkas.
Astaga, kalian! Senang bertemu!
- Tahu dari mana ulang tahunku? - Ini ulang tahunmu?
- Mau masuk? - Tentu!
Ayo, tetapi di dalam berisik.
Edwige, pelankan musiknya. Tak lihat ada tamu?
Tak bisa dengar apa pun.
Silakan duduk.
- Mau berpakaian sepertiku? - Kurasa pakaian kami cukup.
Mau kokaina?
- Ya! - Tidak. Terima kasih.
Tak usah.
"Tidak, terima kasih, tak usah." Kau aneh.
- Cokeman, ini rumahmu? - Ya…
Awalnya punya ibuku, kini kuambil alih. Keren, bukan?
Bagus.
Seperti rumah bordil dengan gaya modern.
Hei! Apa katamu?
Maksudmu, ibuku pelacur? Begitu?
Kurasa ada kesalahpahaman.
Sama sekali tidak. Justru sebaliknya. Ini cukup keren.
Diam.
Kau jarang bicara, tetapi saat bicara, aku ingin menghajarmu.
Dasar bajingan. Kalian mulai sok akrab denganku.
Kalian pikir kita berteman?
Buka pakaian kalian. Akan kuberikan kostum.
- Kubilang buka. - Baik!
Jangan bilang "baik"!
- Jangan. - Diam!
- Baik. - Kutunjukkan apa itu "baik".
Sudah. Lebih baik, bukan?
April cilikku.
Kalian tahu kenapa aku marah tadi?
Karena kau benar, Splinter.
Ibuku pelacur. Namun, bukan sembarang pelacur.
Kemaluannya yang paling kencang di Paris.
Bibirnya seperti otot biseps.
Aku merindukannya.
Ibuku paling hebat.
Beristirahatlah, Ibu!
Makanya, kuberi tahu kalian, kita adalah keluarga, ya?
Tak ada rahasia.
Omong-omong, kami harus beri tahu sesuatu.
Apa? Kau mengadu kepada polisi?
Tunggu…
- Kalian lakukan itu kepadaku? - Bukan.
Kulihat kalian keluar dari kantor polisi.
- Bukan… - Kukira kita saudara.
Benar. Biar kami jelaskan.
- Kami perlu jelaskan… - Cerita lengkapnya…
Tenang. Kalian tak lihat aku tak peduli?
Biarkan polisi datang. Supaya lebih seru.
Kalian tak lihat aku bosan?
Namun, Hedi…
Persetan dengan dia.
Sejak memulai jaringan, dia mengabaikanku.
Kuundang, dia tak datang.
- Ganjanya disita. Hedi akan… - Jangan cemas, Tikus!
Tak lihat aku kaya? Kubayar ganja kalian.
Akan kubayar.
- Terima kasih. - Belum saatnya.
Sekarang…
Langsung ke intinya saja.
Siapa yang pertama melayaniku?
Benar.
Ini ulang tahunku. Aku benci pengadu. Ayo, kumasukkan.
April cilik, buka mulutmu.
Kau akan melayaniku. Kau jelek, tetapi aku terangsang.
Lebih lebar.
Lebih lebar. Aku bercanda.
Pikirmu, gigimu layak menyentuh kemaluanku?
April ini jelek.
Aku tak bercanda, Brengsek. Kau membuatku gila.
Sudah kulihat angkanya sebelum kita isi ulang besok.
Grégoire, Augustin…
Kerja kalian bagus bulan ini.
Sejujurnya, tak kusangka kalian sanggup.
Namun, singkirkan mantel bulu kalian.
Seharusnya jangan mencolok.
Kenakan lagi pakaian jelek kalian.
- Menurutku, mantelnya bagus. - Diam.
Gildas!
Kau jelas terjebak dalam kemerosotan.
Apa pengangguran tak suka pakai narkoba?
Maaf, Bos, masalahnya, orang harus terbiasa dengan harga baru.
- Aku akan menebusnya. - Sebaiknya begitu!
Jual ganja bukan pekerjaan tetap.
Kau bisa dipecat kapan saja.
Serta ada yang mempermainkanku. Tak mau kusebut nama. Alice.
Kau baru sebut namaku.
Aku tahu. Itu kiasan.
Itu bukan kiasan. Justru disengaja, tetapi tak apa.
Begitu?
Baik, Nn. Sok Pintar, bisa jelaskan kenapa kau kekurangan 8,000 euro?
Padahal kuberi 50 paket, masing-masing 200 euro?
Kau beri 200 paket, masing-masing 50 euro, itu tak sama.
Aku tahu kau kesulitan berhitung. Kupakai harga awal saja.
Tak masuk akal aku kehilangan pelanggan hanya karena kau rakus.
Maaf? Kurasa aku salah dengar.
Apa? Bahwa kau rakus? Tidak. Kau tak salah dengar.
Semua sepemikiran. Hanya aku yang berani bilang.
Bisnis kita tadinya lancar, tetapi kau merusak semua.
Jadi, kau mau mengajariku cara melakukan pekerjaanku?
Baik. Jadi, kau pikir ini pekerjaan.
Dengan dasar itu,
kau harus lakukan beberapa penyesuaian.
Gildas, apa aku salah mengurangi kuantitas?
Tidak… Alice,
aku pun merasa paketnya terlalu penuh.
- Kau bercanda? - Tidak. Kadang aku pun mengisapnya.
- Aku tetap menjualnya. - Apa?
Aku… Tidak. Namun…
Intinya, aku setuju denganmu.
Aku di pihakmu, Bos.
Teruslah di pihakku.
Pada akhirnya, kita akan cari solusi.
Lupakan saja gajimu untuk bulan depan.
Dasar pencandu.
Jaga sikapmu! Sudah 2 jam kau berteriak!
Berteriak terus! Pikirmu, kami anjing?
Kau tak muak mendengar suaramu sendiri? Tak bosan?
Kuberi tahu saja, tutup mulutmu! Jelas?
Kami semua muak denganmu. Mereka dan aku!
- Kau muak? - Ya, aku muak.
Biar kubantu. Kau dipecat, Jalang!
- Didoo! - Diam! Aku bukan Didoo-mu.
Jika kataku dia dipecat, dia dipecat.
Bangun dari sofa itu sebelum kutembak kau.
Begitu? Dengan apa?
- Dengan ini? Aku tak dengar. - Ya… Tidak…
Sampai jumpa.
- Didoo! - Ya.
- Ke mana? Kita bersenang-senang. - Jangan ganggu.
- Dasar pecundang. - Benar.
Diam. Singkirkan tanganmu.
Jangan pikir aku tak melihatmu membanting pintu, Berengsek!
Diam, atau kuhajar kau!
Rambut ponimu jelek, dasar gelandang!
- Zlatana. - Ada yang mau kuberi tahu.
Pergi, bicaralah dengan temanmu.
Aku bertemu anak diktator.
Demi Tuhan! Diktator?
Enyah, bicaralah dengan temanmu.
Kuakui dia sangat jelek, tetapi mudah dimanfaatkan.
Besok aku menemuinya di Dubai. Aku bosan dengan suamiku yang payah.
Dengarkan aku.
Kau harus tetap bersama dia. Jangan merugikanku.
Pikirmu, kau bicara dengan siapa?
Jika kau tinggalkan dia, bagaimana bisa aku dapat Mojo Mango?
Kau belum menabung?
Kau tak lihat? Masalahku sudah berlalu.
Aku tak mau masalahku kembali.
Permainan kabur dari penjaramu?
Itu impian pecundang! Tak penting.
Dengan calon berikut ini, kita bisa hidup nyaman.
- Tidak. - Percaya kepadaku.
- Kumohon! - Kau sedang apa?
Biar aku memanfaatkan dia sekali lagi!
Aku pergi besok, paham? Aku muak dengan van Gluten.
Bangunlah, kau tampak konyol.
Baik, ini keputusanmu.
Jangan sampai dia tahu, ya? Aku memercayaimu.
- Pikirmu, aku pengadu? - Tentu saja.
Sial!
Arsène, apa kabar?
Aku punya tawaran untukmu. Kau pasti senang.
Mari duduk, ceritakanlah.
Jadi…
Seorang miliuner Rusia, Tn. Poliakoff.
Ya, namanya aneh.
Dia mencoba Mojo Mango dan sangat menyukainya.
Dia bawa itu ke permainan poker. Tebak siapa teman mainnya.
Putin!
Putin mencoba juga, dan dia sangat suka.
Kini Poliakoff mau jual ganjamu di Rusia.
Hebat, bukan?
Hebat.
- Kedengarannya rencana bagus. - Kau mau?
Baguslah. Namun, tampaknya dia tergesa-gesa.
Dia siap membeli…
100 kilogram.
Tunai. Besok.
Apa kau bisa?
Besok, 100 kg. Baiklah.
Kita akan bertemu di pabrikku.
Satu hal lagi.
Poliakoff agak paranoid.
Saat transaksi, dia hanya mau ada kita bertiga.
Kau keberatan?
Aku suka Poliakoff. Profesional sejati.
Dia miliuner. Tak suka membuang waktu.
Aku punya teka-teki.
Bunyiku seperti platipus, jalanku seperti raptor,
wajahku seperti piramida. Apakah aku?
Itu Hedi!
- Aku mencintaimu, dasar nakal! - Kau sedang apa? Kemari.
- Aku tahu kau bukan homo. - Aku homo. Apa maksudmu?
Sejak kecil, aku suka pria.
- Suka pria? - Ya.
Raba ini.
Pria homo tak sanggup menolak ini.
Ayo raba, atau kuhajar kau!
Baik.
Kau jijik. Dasar heteroseksual, lihat aku.
Akan kuberi tahu Zlatana.
- Aku sudah muak. - Tidak, kumohon.
Kumohon jangan cerita. Kau menang, aku ketahuan.
Aku bukan homo, itu memang benar.
Aku mencintainya sejak kecil.
Mencintai wanita ini, paham?
Hanya ini caraku untuk tetap dekat dengannya.
Pikirmu, aku suka begini? Lebih baik kulakukan hal lain.
Saat dia bugil, kemaluanku menegang. Tak berdaya.
Coba bayangkan. Usiaku 30, aku sudah dewasa.
Kau pintar, ya?
Terima kasih.
Lihat janggutmu yang mirip pegulat Tunisia,
jika tak pura-pura homo selama ini, kau sudah lama dipenjara.
- Dasar mesum. - Aku beruntung.
"Aku beruntung." Kau dan janggutmu membuatku jengkel.
Mirip tiang gawang. Aku ingin tendang bola ke mulutmu.
Aku suka main bola.
Aku menghinamu, kau balas begitu?
Kau yakin bukan homo? Karena kau jelas penjilat ulung.
Ayo, Wolverine.
"Adik! Aku kembali! Aku dapat uang untuk permainan kabur."
Hei, bajingan itu meniruku.
Tak apa, Arsène, aku tak beri tahu dia dalam tawaran ini.
Bahkan ini terakhir kali kau melihat dia.
Dia hanya beban. Jika kupertahankan, aku akan tenggelam.
Ya, tentu.
Foto.
Lagi.
Ayo, foto profil.
Sudah dapat?
Van Gluten tak akan bertahan lama, asal kau tahu.
Apa?
- Kau main-main? - Apa maksudmu?
Itu suara aslimu?
Ya. Pertanyaan bodoh macam apa itu?
Suaramu tak cocok dengan wajahmu. Aneh.
Apa? Tak ada yang bilang begitu.
Ada tanda pengenal? Berikan.
Tak kubawa. Ada di kantor, Bos.
- Kita sedang mengintai. - Aku paham!
Kita periksa. Boris!
- Apa? - Kita ke kantor polisi.
- Kita tak mengurus kasus van Gluten? - Tidak.
Ini repatriasi. Sekarang kau akan bersantai.
- Tanpa dokumen? Aneh. - Ini bohong.
- Kau lakukan itu kepadaku? - Bos!
- Bisa bicara? - Bajingan!
Kau akan bilang aku berkhayal lagi,
tetapi ada mobil aneh di sekitar rumah.
Jika berusaha menipuku, maka istriku akan kabur.
Menurutmu begitu?
- Di mana dia? - Mobilnya?
Zlatana!
Di kamarnya.
Dia di kamarnya? Kamar…
Kau sedang apa?
Kau akan membunuhnya? Tolong katakan "ya".
Kita akan membunuhnya!
Kita habisi si mata duitan itu!
- Ini perlu kubawa? - Bisa coba ini?
- Yang benar saja. - Kau mau ke mana?
Aku mau tahu.
Karim dan aku akan berakhir pekan di Dubai,
untuk bersantai, paham?
- Begitu? - Ya.
Kami akan berpesta.
Itu bagus.
Kau perlu bawa semua perhiasanmu?
Dasar pembohong!
- Jangan bicara begitu kepadaku. - Mau kuubah?
Kau mulai gila.
- Keluar kau, Ratu Tua. - Jangan bicara begitu ke Karim.
- Aku akan bicara sesukaku. - Tak apa.
Berikan ponselmu!
Semua kartumu juga. Paham?
Akan kuurus kakakmu yang bodoh.
Saat aku kembali, kita akan mengobrol.
Ya.
Kuingatkan saja, kau inspirasiku.
Kita bersama untuk selamanya. Ingat?
Kau ingat itu?
Aku mencintaimu!
- Bagaimana mobilnya? - Bagaimana… Isi saja.
Masukkan 100 kg beras, jerami, tanah, lumpia, terserah.
Akan kubunuh bajingan itu!
Tunggu, kurasa kau tak paham.
Ada perkataanku yang tak jelas? Dasar anjing!
Lihat saja apa yang akan dilakukan anjing ini kepadamu.
Hedi? Aku sangat menyukai Zlatana.
Bukan hanya bernafsu. Perasaanku kepadanya sungguh tulus.
Saat bersamanya, aku merasa percaya diri.
Rasanya seperti bersama teman, tetapi teman berbuah…
Kau tak lihat dia hanya mengejekmu? Bodoh!
Dia bercerita bahwa dia mau kabur dengan putra diktator Afrika.
Kau kesal karena tahu aku hampir berhasil menidurinya.
Kau sungguh percaya bisa mengencani adikku kelak?
- Ya. - Kau tak paham dia hanya suka pria kaya?
Dia bahkan muak dengan Arsène.
Pikirmu, dia mau kabur bersama pria bodoh sepertimu?
Sadarlah! Seumur hidupmu, kau akan tetap menjadi pecundang.
Namun, saking bodohnya, kau bahkan tak bisa mengerti itu.
Lagi pula, urusan kita selesai. Setelah transaksi ini…
Berhenti, aku mau turun.
- Kubilang setelah transaksi ini, kita… - Tidak, Berengsek!
Dahulu kita berteman, bersama-sama menikmati hidup.
Kini aku lebih senang bersama dua anak buahku.
Kau berlagak kaya. Kau bahkan tak punya rumah!
Kau beli mobil tua dan pacarmu mirip Popeye.
- Berhenti sebelum kuhajar kau. - Tidak!
- Kubilang berhenti! - Tidak.
- Kubilang berhenti! - Kubilang tidak!
- Berhenti! - Tidak!
Cokeman!
Aku memang brengsek!
Cookie…
Sial! Aku brengsek!
Menjijikkan, Vonnie.
Gildas, sudah latih peranmu sebagai orang Rusia?
Ya. Jadi…
Luar biasa!
Ini akan berhasil.
- Bahasa Rusia-mu fasih, Kawan! - Kulatih semalaman.
Baik… Kalian berdua…
Kalian memutari gedungnya. Diam-diam.
Saat kuberi sinyal…
bunuh bajingan itu!
Namun… Cokeman tak ada?
Dia paling ahli membunuh bajingan.
Tidak.
Aku sudah mengumpulkan orang-orang terbaik dalam timku.
Baik, jujur saja, Cokeman dan aku bertengkar.
Dia lompat dari mobil. Aku belum dengar kabarnya.
Didoo.
Dia mungkin mati.
Apa aku bicara kepadamu?
Ayo.
Wanita bodoh ini bisa mengutuknya.
COKEMAN PANGGILAN VIDEO…
Dia mungkin sudah mati.
Kawanku!
Kau baik saja? Tak kesal lagi?
Kesal soal apa?
Kita bertengkar. Kau lompat dari mobil dan menghantam pembatas jalan.
Aku tak ingat itu.
Pantas ada lubang di belakang kepalaku.
- Bisa lihat? - Ini rencananya.
- Kau ingat Arsène si tukang roti? - Tak mungkin lupa bajingan itu.
Selagi kami alihkan, kau datang dari belakang dan…
- Kubunuh dia. - Benar! Tepat!
Kita bertemu di depan pabriknya di Pontault-Combault.
Aku mau ke penatu.
Cokeman, hidup itu berharga.
- Kita jarang mengungkapkan rasa sayang. - Jangan membuatku terharu.
- Baik. - Dasar tukang bercanda.
Solange, kiriman permennya salah lagi.
Kupesan anus stroberi, ini penis keju karamel.
Kembalikan semua ke pemasok.
Denis, aku dapat pesan. Bisa baca katanya?
"Isinya", bukan "katanya".
Usiaku 30, aku tak bisa tulis namaku,
dan kau justru menceramahiku soal tata bahasa. Ayo baca.
"Apa kabar, Cokeman? Ini Zlatana.
Arsène pergi. Kemarilah dengan bokong seksimu.
Kau akan meniduriku malam ini."
Ejaan "malam" salah.
Demi Tuhan, itu isinya, Denis?
Demi Tuhan.
Kau membuatku kesal jika bilang "Demi Tuhan".
Baik, beri aku tiga pil biru sebelum kuhajar kau.
Kau tampak tegang.
Aku banyak memakai narkoba,
penisku menjadi loyo.
Namun, kita akan bangunkan anakonda. Kita bangunkan monster.
Kau tak datang malam ini? Sayang sekali, aku punya rencana gila.
Hentikan, Denis. Kau selalu berlebihan.
Ingat kumis jelek yang kau berikan?
Kuingatkan saja, itu idemu.
- Harus kuakui, itu lucu. - Ya.
Jawablah. "Aku segera tiba, Zlattie-ku."
Tambahkan tiga tanda seru, emotikon zukini, dan aprikot kecil.
Jangan pasang muka begitu.
Aku janji akan datang. Kita akan bermain-main.
- Boleh taruh buah zakarku di dahimu? - Tidak!
Aku sayang kepadamu. Dah, Denis. Kau hebat.
- Ponselmu! - Aku tak peduli.
Sumpal saja ke bokongmu.
- Dia liar seperti ibunya. - Enyahlah, Candeloro.
Dasar gila. Dia terlalu jelek untuk motor ini.
Dia gila.
Pong, si idiot bermantel menuju kemari.
Kurung dia di atas. Akan kuurus dia saat kembali.
- Kau sudah isi mobilnya? - Sudah, Bos!
- Doukouré! - Ya, Bos?
Di situ kau. Dengar. Kumpulkan tim keamananmu,
masuk ke belakang truk, pilih dua yang paling tangguh,
dan tempatkan di depan brankas.
Paham? Ayo pergi!
Stop! Jelek. Kita simpan saja.
Stop! Segmen baru. Semuanya harap diam.
Kalau mau peran, beri tahu aku. Aku orang penting.
Lagi pula, aku temanmu.
Byron, bisa suruh timmu bersiap-siap?
- Ya, aku mau ambil kukis. - Baik.
Suruh mereka berhenti merokok di ruang figuran.
Desainer kostum mengeluh karena bau. Terima kasih.
Ayo, segmen baru, set baru.
Kita ke stasiun Pontault Combault.
[ RUANG FIGURAN ]
Kalian sedang apa? Apa-apaan ini?
Kalian bercanda?
Kumasukkan dalam film, lalu kalian mengacau!
Tenang. Boleh bersenang-senang, bukan?
- Aku tak peduli! - Ada apa?
Ambil kostum. Kita mulai segmen baru.
Biarkan aku ikut denganmu.
Maksudmu? Kau dapat adegan di Paris.
Perlu tambahan kerja. Aku tak punya ranjang. Tidur di kakakku.
- Baik, ayo. - Terima kasih, Byron, kau baik.
Tenanglah. Tetap santai di belakang.
Mounir dan Bader di sini, ada adegan dengan orang Tiongkok bau.
- Kami di sini? - Pikirmu, aku mau dengannya?
Tak peduli. Itu tugasnya. Jangan merepotkanku.
Semuanya! Segmen baru!
Segmen baru!
- Dasar berengsek! - Diam!
- Kau pemarah! - Tentu saja.
Rasanya aku ingin pukul wajahmu.
Mau lumpia?
Pikirmu, aku mau makan masakanmu?
Bawa piringmu dan enyahlah sebelum kuhajar.
Ayo pergi.
Kenapa kau menindasnya begitu?
Pong!
Bawa itu kemari. Kami akan mencobanya.
Tampak lezat.
Ini 100% halal.
Hei, kau dengar itu?
Gila! Ini lezat.
- Kau bercanda. - Lepaskan!
- Lepaskan, kau rakus! - Kulepaskan.
Apa isinya?
Hanya cinta.
Tinggalkan piringnya sebelum kuhajar kau.
Enyah. Pikirmu, kau akan makan bersama kami?
Selamat makan, dan nikmati perjalanannya!
Ayolah, Kawan, satu saja.
Segmen baru!
Ayo minum! Aku akan membunuhnya sekali tembak!
- Aku mabuk! - Itu Cokeman!
Doukouré, ini yang kita lakukan,
aku tunggu mereka sendirian dengan karung beras, saat kuberi sinyal…
Segmen baru…
Hei! Bisa hentikan musik kulit hitam itu?
Apa maksudnya?
Tunjukkan rasa hormat!
Apa itu tak diajarkan di perkampungan kalian?
Doukouré, ini yang kita lakukan…
Sial, apa tadi rencananya?
Lihat! Aku lupa karena mereka. Brengsek!
Kenapa aku menyetujui film bodoh ini
dengan dialog bodoh yang tak kupahami?
Apa? Ini lucu!
Semua ini lucu! Lucu! Persetan!
Aku sangat malu!
Katanya, "Kau akan masuk film untuk kaum muda.
Filmnya keren. Bagus untuk kariermu.
Fred-ku sayang…"
Agen bodoh! Nyatanya bagaimana hasilnya?
Aku di sini bersama para pecundang!
Fred, sikapmu berlebihan.
Kami sudah di sini dua bulan, diperlakukan seperti sampah,
lalu kau hina dengan lagu kulit hitam?
Tunggu, maksudku bukan kau.
Diam! Arsène jahat… Terserah, itu hanya di film.
Bicaralah yang baik.
Jika kau sembarangan lagi, kulit hitam ini akan menghajarmu.
Fred Testot atau bukan, aku tak peduli!
Dia bilang "kulit hitam"?
Dilarang merokok di dalam truk.
Tutup mulutmu, Kodok!
Kau terus merepotkanku!
Karena aku satu-satunya kulit putih,
aku menjadi korban rasisme kalian sejak awal syuting.
Kuterima saja, saat…
Ya. Benar. Itu mudah.
Mounir, saat aku bicara kasar kepada orang…
itu bentuk pembelaan diri!
Jangan khawatir, aku tahu!
- Aku orang baik, Mounir. - Aku siap mati untukmu.
Tidak, aku yang siap mati untukmu!
- Aku menyayangimu! - Sama!
Aku menyayangimu, tetapi aku gerah. Anehkah jika aku buka baju?
Kau menjadi nyaman! Persetan dengan mereka!
Ya, persetan!
- Aku bebas! - Bebas!
Hei, kau sedang apa?
- Tidak… - Biar kubantu.
- Kau tak mau kubantu? - Ambil tas.
Biar kubantu.
Persetan kau, Van Gluten!
- Isi tasnya! - Ya.
Bader! Mau pergi berpesta?
Ayo, aku ingin cari wanita.
Ayo!
- Wajahmu tampan! - Begitu?
Kau pasti populer di kalangan wanita!
Kau tak akan dapat apa pun dengan wajah jelek itu…
Kalian teler karena ekstasi.
Berikan, aku mau ikut teler.
Berikan. Jangan sentuh aku!
- Akan kuhajar kalian! - Cokeman!
Cokeman! Ayo cepat!
Aku harus pergi.
Orang Gua, bajingan itu akan mencemarkanmu.
Jangan dengar, Mounir. Kau bisa mencemarkanku jika mau.
Ayo cepat.
Merangkak, luruskan punggung,
- supaya bisa kusetubuhi. - Apa katamu?
Kau kirim pesan kepadaku. Kuberi tahu saja, kemaluanku tegang!
Apa itu, jamur?
Diam, Brengsek! Kubunuh kalian semua!
- Serius? - Diam, Mata Duitan!
Kau tak lihat semua ini salahmu?
Aku menyayangi Arsène seperti ayahku. Kau lihat aku terpaksa berbuat apa?
- Kau merusak semua! - Pong…
Tak ada Pong! Namaku Florian, paham?
Florian sayang, dengan semua uang ini,
kita berdua bisa hidup nyaman.
Kau tak mau aku mati, bukan?
Tentu tidak! Mulai kini, kau dan aku adalah Bonnie dan Clyde.
Florian dan Clyde!
- Kubawa tasnya? - Ya.
Kau sangat seksi!
- Kau bawa koperku? - Ya, kita tim kompak.
Semoga berhasil!
- Persetan kau! - Kepalamu mirip bokong.
Dia takut melihat senapan mesinku.
Jackhammer!
Akan kumasukkan ke PlayStation 4. Itu baru namanya sakit.
Hai, ini kotak suara Cokeman. Tinggalkan pesan suara.
Jangan pesan tulisan, karena aku tak bisa baca!
Dasar bajingan! Sudah kuduga dia tak bisa diandalkan!
Baik. Karena sudah di sini, kita tak bisa mundur lagi.
Kau yang bunuh Arsène.
Bukan kau. Grégoire, bisa menembak?
Aku bisa main Laser Quest.
Sama saja, ya?
Saat kubilang "tak ada harapan",
kau tembak dia dari belakang, ya?
Jangan khawatir, akan kuambil 100 kg itu,
kita masukkan ke Cadillac, lalu hidup kita akan terjamin!
Ayo, Augustin, kita pemberani.
Ya, kau benar.
Kau harus berhenti minum vodka.
Vodka tak baik untukmu.
Kenapa masih mengikutiku? Kalian tak paham rencananya?
Kalian masuk lewat belakang.
Cepat! Brengsek.
Mereka bodoh.
Kita masuk lewat sini.
Ya?
Cepat, dasar brengsek.
Hai, Arsène, apa kabar?
Ini Tn. Poliakoff yang kumaksud.
Dia hanya berbahasa Rusia. Tenang, akan kuterjemahkan.
Itu artinya dia sangat tertarik.
Kurasa begitu.
Kau serius?
Topi bulumu jelek.
Tn. Poliakoff, dia bertanya kepadamu.
Jawab dia.
Ya…
Dia berbahasa Rusia asli. Aku…
Aku hanya bisa bicara sembarangan.
Kau juga bisa berbahasa Prancis, Tn. Poliakoff?
Kalau begitu, lebih mudah bicaranya.
Jangan buang tenagamu. Kalian berdua sudah mati, bukan?
Kau benar…
Tak ada harapan!
Kurasa sudah tak ada harapan.
Bagus. Kali ini kau mengerti.
Benar?
Apa-apaan itu?
- Tolong! - Pikirmu, kau bisa menipu?
- Ini geng van Gluten. - Kubilang lihat ke bawah.
- Berlutut. - Tak apa, tenang.
Pikirmu kau Tony Montana?
Tepatnya Montana Kerdil.
Leluconmu lucu.
Diam.
Kubunuh kau.
Jangan bunuh mereka, ya?
Ovenku sudah dipanaskan. Kita mulai dengan si badut bertopi bulu.
Ayo jadikan dia roti kismis.
Jangan! Aku alergi kismis!
Ya! Dengan kismis. Bos yang putuskan. Kau diam saja.
Sial… Kembali.
Arsène! Tunggu.
Maaf, aku berbuat salah.
Ya, aku berusaha menipumu.
Bahkan pantas dipanggang di oven. Namun…
sebelum kau buat buah zakarku menjadi kue sus,
aku mau minta satu hal terakhir, kumohon.
Ampuni Gildas. Sumpah, dia tak ada hubungannya.
Hanya aku yang bertanggung jawab.
Bersiaplah, Beelzebub. Aku datang.
Neraka ada di bawahmu, Bodoh.
- Benar. - Ya.
Kau dikepung, Van Gluten. Jangan bertindak bodoh.
Menyerahlah tanpa melawan.
Tutup mulutmu.
Apa alasan kalian menahanku?
Lihat. Karena ini?
Apa ini?
Mungkin ini?
Atau ini?
Kokaina, ekstasi, perdagangan anak…
Ya. Inilah alasan kau ditahan, Van Gluten.
- Sial, Pong menipuku. - Ayo bawa dia.
- Cokeman mengadukanku, ya? - Semuanya dibawa?
Beri tahu saja. Pasti bajingan itu.
- Dia memang pelacur. - Hedi!
Cokeman!
Aku di sini, Kawan, jangan…
Astaga!
Ayo.
Sial, lepaskan.
Tunggu. Dia memukul dengan kemaluannya?
Orang itu gila.
- Aku tak bisa bernapas. - Makan bokongku.
Ayo. Tangkap dia! Ambil senjata!
Bidik matanya!
- Bidik matanya! - Anak-anakku?
Kalian menungguku?
Jagoanku!
Dasar jalang!
Kawan! Awas!
Maaf, kini kau tertular AIDS.
Untuk Theo!
Menjijikkan.
Kemari.
- Matamu indah, Berengsek. - Terima kasih.
Kau akan tetap kena siku.
Begitu?
Itu baru seru.
Sedikit kokaina…
Kini siap beraksi lagi.
Mendekatlah. Ayo!
Cokeman, di belakangmu!
Cokeman, bebaskan aku!
Hedi!
Serang dia!
Itu… Aku tak mau lihat.
Itu termasuk dalam naskah?
Byron!
Apa ini hanya ilusi pada Batu?
Pikirmu, aku mau mati demi 30 euro?
Ayo, kita pergi.
Bagus, Kawan.
Cokeman, tolong!
Kau harus belajar cara membela dirimu.
Dasar pecundang.
Aku yang pecundang? Lihat perutmu, Bodoh.
Apa itu?
- Kau tak apa? - Tenang, aku bisa.
- Awas, di belakangmu! - Kemari!
- Aku tak menyimpannya… - Tidak, Cokeman!
Kini apa yang akan terjadi?
Kita memulai perjalanan besar
- Tidak! - Aku datang, Ibu.
Jangan ganggu dia!
Lepaskan aku, Poliakoff! Enyahlah.
Gildas, kau sedang apa?
Menyelamatkan kalian.
- Lepaskan. Rasakan itu. - Bagus, Gildas.
Titip salam untuk ibuku!
- Gildas! - Si pelacur tua!
Jangan masuk oven!
Persetan kau!
Terima kasih juga atas petualangannya!
Gildas…
dia hebat!
Saking hebatnya sampai terbakar.
Kau sedang apa?
Menaruh kokaina di lukaku.
Mari pergi, Kawan. Para polisi mulai siuman.
- Bajingan itu menikamku. - Aku benar kau akan mati dahulu.
Aku masuk neraka, kau juga.
- Kau tak boleh pergi. - Kita buat Beelzebub panas.
- Aku menyayangimu. - Aku juga.
- Singkirkan tanganmu. - Lihat kaki jelek ini!
- Singkirkan tanganmu. - Memang kau bisa apa?
- Awas tanganmu. - Katakan kau menyayangiku.
Aku menyayangimu. Awas tanganmu.
- Baik. - Pegang setangnya.
Kau akan membuatku mati!
Aku kedinginan.
Sayang.
Aku harus bayar di dalam. Kau ikut?
- Terlalu malas. Kutunggu di sini. - Sungguh?
- Kau yakin? - Ya, pergilah.
- Begitu? - Cepat.
- Jadi, aku pergi? - Ya.
Florian sayang?
Bisa belikan sebotol air?
Tentu, Sayang.
Terima kasih.
Aku tak sempat menyentuh payudaranya.
Yvonne! Vonnie!
- Kau akan buka? - Vonnie!
Buka pintunya, Vonnie! Sial.
Bagaimana dengan Arsène?
- Minggir, Popeye? - Apa kabar, Popeye?
Cokeman, buka ikatanku.
- Dengan apa? - Tang di bawah laci.
Apa yang terjadi? Didoo?
Ada di mana, Kawan?
Kenapa Cokeman? Dia berlumuran darah.
Kenapa dia di sini? Kau sedang apa?
Hai.
- Kenapa gelandangan ini di sini? - Tidak…
Karena dia…
- Datang tak diundang. - Dia bertamu.
- Untuk minum teh. - Hati-hati!
Kami mau minum teh. Ada apa?
- Ambil tasnya, Rekan. - Kakiku mati rasa.
Sedang apa?
- Maaf. Tak apa? - Sedang apa?
- Ya… - Ya…
- Didoo! - Aku tak bisa kehilanganmu.
Tolong jawab aku. Ada apa?
Ini masih rumahku.
Pertemuannya gagal total.
Aku mau kabur bersama Cokeman. Kita tak akan bertemu lagi.
Tenang, Vonnie.
- Aku akan datang sesekali. - Diam!
Terus isi tasnya, Brengsek.
Kau sungguh berpikir aku bodoh, ya?
Kau tak sadar bahwa selama ini aku yang menipumu?
Ayo cepat! Masukkan semuanya ke tas.
Yang satu lagi sedang apa?
Kita akan mati?
- Kalian sedang apa? - Jangan, ini untuk naik bus!
- Masukkan lagi ke tas. - Baik.
Ayo isi terus!
Ikuti iramanya. Cepat.
Ya! Bagus.
Di sebelah kanan! Ya! Di sana!
Taruh tasnya di meja. Cepat!
Kubilang cepat.
Jijik.
Ada apa?
Apa masalah kalian?
Untung kau mahir di ranjang. Jika tidak, aku tak akan tahan.
Kau berkata jujur?
Bahwa kau di bawah kendaliku? Didoo…
Tentu saja aku jujur, Didoo sayang.
Ayo, Sayang. Ambil perekat, ikat mereka di kamar.
Apa maksudmu "sayang"?
Aku kekasihmu.
- "Aku kekasihmu." Benar! - Kau kekasihnya?
Benar, Kawan. Dia kekasihku.
Aku lesbian.
Ayo.
Kau juga komplotan?
Dasar penggoda.
- Apa ini? - Kunci motorku.
Ya? Diparkir di mana?
Depan pintu. Pasti terlihat.
Sayang? Mau naik motor?
Aku tak suka motor.
- Aku juga. - Tak apa.
Mudah dikendarai. Aku pun tak punya SIM.
- Baik, ayo pergi. - Ya!
- Kau telepon polisi? - Ya, menuju kemari.
- Ambil tasnya. - Ya, segera.
Baik…
- Dah, Pecundang. - Dah, Nona-nona.
- Ayo keluar. - Ya, maaf.
- Pegang ini. - Ya, maaf.
Tak perlu kasar.
Padahal aku sungguh menyukai Yvonne.
Sejak awal, dia berpura-pura.
Dia sungguh menipuku.
Sungguh pro…
Jangan menangis.
Kau akan menjalani impianmu.
Karena kini, kita akan masuk dalam permainan kabur dari penjara!
Waktu jalan-jalan habis.
- Biar kuhabiskan. - Sudah.
Sial… Jangan terlalu kasar!
Santai.
Cokeman! Tolong aku, situasinya berat.
Bagaimana kau dapat semua ini? Kau mengadukan orang?
Tentu, tetapi bukan itu saja!
- Lihat bak air ini! - Bagaimana bisa?
Aku ditiduri seluruh pengawal penjara!
Bokongku menjadi asetku!
Kau sungguh hina!
Micka datang. Biar dia masuk.
SS cilikku yang depresi!
Selalu siap bercinta, bukan?
Pasti muat. Pakai borgolnya. Tunggu di ranjang.
Jangan menatap begitu! Kemaluanku adalah obatmu.
Astaga, kau jelek saat tersenyum.
- Francis? - Ya.
- Hari Kamis tetap jadi? - Tentu. Kali ini, butuh apa?
Bawa saja wajah tampanmu agar bisa kucemari.
Ayo!
- Bawa bom bau ini. - Siapa maksudmu?
- Mandilah. - Ayo.
- Kau bau, Kawan! - Ayo.
Kau belum bugil. Nanti harus kau bayar.
Kau berolahraga?
Tak sempat, banyak kerusuhan.
- Apa maksudmu? - Tak ada waktu!
Buat suara burung.
Astaga! Burung apa itu?
Dasar brengsek!
Baik, Francis, kau suka apa?
Seks oral atau gaya anjing?
Dengan bokong rata itu? Aku tak tertarik. Masuklah.
Biar aku memuaskanmu! Aku hanya minta PlayStation 2!
Kubilang masuk!
Tidak!
Hentikan, Francis!
Francis, kumohon!
Aku pun mau melayanimu demi Game Boy!
Cokeman!
-- Diterjemahkan oleh Lady Helen -- Resync/Edited By (Coffee_Prison)
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.