Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.
Kenapa tiba-tiba memasak untukku?
"EPISODE TERAKHIR"
Aku sering masak selagi kau tidur,
tapi tak pernah makan bersama.
Dulu memang begitu.
Karena siang bagimu saat ada matahari dan siang bagiku saat ada bulan.
Sekarang, siang dan malam kita sudah sama.
Terima kasih.
Untuk apa? Karena keberadaanku?
Aku berterima kasih untuk itu,
juga kakakku.
Terima kasih sudah mendengarkan kakakku dan menghiburnya.
Aku tak bisa melakukan hal seperti itu.
Rupanya begitu.
Akan kucicipi.
Ini enak.
Kenapa bisa seenak ini? Rasanya sekelas makanan di Riviera.
Apa itu nama restoran terkenal?
Bukan. Tiap selesai menerjemahkan, aku merasa harus pergi berwisata.
Aku lupa kapan.
Latar film yang pernah kuterjemahkan dulu adalah tempat wisata di Italia.
Filmnya berbahasa Inggris.
Selama menerjemahkannya,
aku merasa seperti orang asing yang tinggal di sana.
Kotanya sangat indah.
Akhirnya aku ke sana dengan tabunganku
untuk merasakan suasana tinggal di sana.
Sendirian?
Ya. Aku suka bepergian sendiri.
Aku bahkan tak melihat peta di ponsel dan hanya mengikuti papan petunjuk arah.
Karena suka menikmati hal-hal spontan sendirian.
Ceritakan lebih banyak. Aku ingin mendengarkannya.
Saat di perjalanan pulang ke Korea, aku menonton film Jerman.
Terjemahannya cukup bagus.
Lalu?
Saat aku ke restoran atau kafe, hanya ada orang asing.
Aku bisa paham jika mereka berbahasa Inggris,
tapi tak semua orang di sana berbahasa Inggris.
Karena itu kau merasa frustasi?
Tidak.
Aku malah senang karena tak bisa mengerti
bahasa mereka.
Aku jadi tak perlu berbasa-basi dan bicara seperlunya.
Contohnya?
Contohnya seperti, "Halo. Ini berapa? Terima kasih."
Omong-omong, aku jadi ingin bepergian lagi.
Kapan rencanamu pergi sendirian lagi?
Entahlah.
Lain kali, pergilah bersamaku.
Aku juga ingin ke sana
bersamamu.
Kuizinkan kau ikut.
Ayo pergi bersama.
Berkemaslah.
Sekarang?
Aku harus berangkat bekerja besok.
Sayang sekali. Aku tak bisa ikut.
Aku hanya bergurau.
Kenapa ditanggapi begitu serius?
Sayang sekali.
Dan-ah.
Rupanya Dan-ah datang juga.
Aku baru datang karena Ayah pintar menyembunyikannya.
Ayah mau menjadikanku anak durhaka?
Tak ada anak durhaka secantik dirimu.
Ayah senang bisa melihat…
anak-anak ayah berkumpul.
Ayah menyayangimu.
Apa mau Ayah?
Itu saja.
Tidurlah.
Ayah.
- Hei, Myeong-min. - Nanti. Aku sibuk.
Lima menit belum berlalu sejak Ayah tiada.
Setidaknya berdukalah.
Aku yang selalu baik memperlakukan Ayah, bukan kau.
Baik. Aku mengerti.
Jagalah kehormatanmu untuk Ayah.
Kau terlihat santai sekali.
Baiklah. Jagalah semua milikmu.
Karena akulah yang akan menggantikan Ayah.
Mobil sudah siap, bukan?
Ya.
SEO DAN-AH
EKSEKUTIF SEO DAN-AH BERDUKA SAAT KE LUAR RUMAH
EKSEKUTIF SEO DAN-AH BERDUKA SAAT KE LUAR RUMAH
Aku lupa bahwa dia hidup di kastel.
ANGGOTA MAJELIS KI JEONG-DO
Anggota Majelis Ki. Ini mendesak.
Aku baru saja tertidur.
Hal ini masih dirahasiakan, Pimpinan Seo sudah wafat.
Apa? Apa katamu?
Bagaimana pernikahannya?
Di mana istriku?
Jadwalnya sudah disamakan?
Sebentar lagi ada dua hari libur, tapi dia pergi ke Amerika.
Dia berapat mengenai masalah film Hollywood.
Serta, bagaimana kau akan mengatasi skandal Eun-bi?
Dia mungkin tak akan menikah.
Kita harus terus menurunkan reputasi No Geun-seong.
Biarkan saja.
Apa? Kenapa begitu?
Kau sudah berjanji pada Eun-bi akan mengatasinya.
Dasar berandal.
Aku membesarkannya karena dia anak lelaki,
tapi tak berguna sama sekali.
- Anggota Majelis Ki… - Hei.
Kapan kau sadar?
Jika ingin terus bekerja bersamaku,
jangan mencampuri masalah pribadiku!
- Sudah lama tak bertemu. - Tak mau.
Apa?
- Apa pun itu. - Kau tak akan bertanya apa yang terjadi?
Jika aku bertanya, kau akan menjawabnya?
Ya.
Pimpinan meninggal. Pemakamannya masih belum dilakukan.
Kau tak apa-apa?
Aku tak sempat berduka
karena terlalu sibuk menyiapkan proses selanjutnya.
Entahlah.
Itu bukan sesuatu yang harus dipikirkan.
Terkadang,
aku terlihat seperti anak durhaka yang menunggu…
kematiannya.
Namun, Pimpinan…
maksudku, ayahku, sama saja.
Aku lebih sering menyebutnya sebagai pimpinan,
dan ayahku pun tak pernah protes.
Melihat Pimpinan tiada seperti itu,
membuatku berpikir…
bahwa aku pun bisa menjadi seperti itu suatu saat nanti.
Kuharap kau menggunakan waktumu sebaik mungkin, dan kurasa aku
tak akan menjadi bagian dari masa depanmu.
Lalu?
Lagi pula, kita tahu
hubungan ini akan berakhir bagaimana.
Bagaimana bisa aku tahu
- jika belum berakhir? - Aku tak bisa membuatmu bahagia.
Aku tak punya waktu sekarang
karena harus meraih posisi puncak.
Aku mau pulang.
Jangan ikuti aku.
Jika kau mengikutiku,
aku pasti akan bunuh diri.
Kau mengancamku dengan nyawamu?
Karena aku tahu itu akan berhasil.
Benar.
Maaf. Seharusnya aku yang masuk ke duniamu,
tapi malah menyeretmu ke duniaku.
Kau sedang menuju garis finis,
dan aku menuju titik balik.
Maaf.
Kenapa kau tak tidur?
Aku tak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini.
Jika kau
sudah memutuskan mengakhiri ini,
akan kulakukan sebisaku untuk menundanya.
Akan kulakukan itu.
Kau tinggal di sini sekarang?
Ya. Lebih nyaman daripada di hotel.
Bagaimana kabarmu?
Bicaralah santai seperti saat kau kecil dulu.
Aku mengundurkan diri.
Kau mengundurkan diri?
Bukankah ayahku sedang sibuk mempersiapkan pemilu?
Mungkin karena sudah lama hidup menjadi pesuruh,
aku mulai bertanya beginikah aku sejak awal,
atau jadi terlalu berambisi.
Terutama belakangan ini.
Skandal Eun-bi
disebarkan ayahmu.
Dia ingin menurunkan reputasi Anggota Majelis No Geun-seong
dan menjaga citra dengan berlagak lapang dada.
Karena dia enggan mengatasi skandal itu,
jadi, kucari tahu alasannya.
Kenapa kau memberitahuku?
Aku…
menyukaimu dan Eun-bi.
Aku sering menasihati kalian.
Maaf jika kau pernah tersinggung.
Aku terlalu meneladani Anggota Majelis Ki.
Aku teringat saat kali pertamaku melihatmu.
Apa waktu itu
aku terlihat lebih tampan dan muda daripada sekarang?
Kau terlihat sangat keren
saat bilang ingin jadi politikus jujur.
Terima kasih sudah memberitahuku.
Aku akan terus mendukungmu.
Kau tahu…
ayah dan ibumu membahas perceraian?
Aku tak perlu merahasiakannya lagi.
Namun, mereka tak akan bisa bercerai.
Ayahmu pasti menyiapkan sesuatu mengenai ibumu.
Aku pamit.
Apa kau sibuk?
Rupanya kau di rumah.
Aku lapar.
Aku berusaha sebisaku, tapi tak yakin enak.
- Terima kasih atas makanannya. - Ya.
Bagaimana rasanya?
Aku sudah mengikuti resep, tapi rasanya tak sesuai harapan.
Apa resepnya yang salah,
atau aku melakukan kesalahan?
Tidak. Ini sangat enak.
Astaga.
Senang mendengarnya.
- Makan lauk lain juga. - Baik.
Apa kau sedang menenangkanku?
Kenapa aku harus menenangkanmu?
Karena aku merasa tenang sekarang.
Kenapa? Ada masalah apa?
Mengenai kakakku.
Kakakku…
jauh lebih diperhatikan oleh ayahku,
tapi sering dilecehkan secara mental lebih daripadaku.
Ayahku menganggap itu sebagai cinta seorang ayah pada anak.
Kami sering kali bingung apa yang kami dapat dari orang tua kami.
Hari ini,
aku mendengar
fakta mengejutkan mengenai Eun-bi.
Kurasa Eun-bi akan merasa bodoh jika tak mengetahuinya.
Jadi, aku tak bisa diam saja.
Namun, dia akan terluka jika diberi tahu.
Aku tak bisa melihat dia terluka seperti itu.
Kau selalu langsung
melakukan apa yang kau pikirkan
dan tak pernah menyesalinya, bukan?
Kenapa kau ragu kali ini?
Kenapa kau di sini?
Karena kau juga terluka
oleh fakta mengejutkan itu.
Rupanya kau tak tahu.
Masih banyak hal yang kau tak tahu.
Jangan memprediksikan bagaimana respons kakakmu.
Katakan saja.
Ungkapkan isi hatimu.
Jika dia terluka, peluklah seperti ini.
Bukankah begitukah keluarga?
Rupanya keluarga seperti itu.
Syukurlah kini kau sudah tahu.
Terima kasih.
Bohong.
Katakan itu bohong.
Katakanlah kau menggila karena membenci Ayah.
Silakan jika itu yang ingin kau percaya.
Apa yang berubah…
jika aku mengetahui ini?
Kau mau semua orang tahu? Haruskah kuungkap semuanya?
Silakan jika kau mau.
Jika diungkap ke publik, bagaimana dengan hidup Ayah?
Dia yang memanfaatkan putrinya demi kesuksesannya.
Bagaimana hidupmu dan namamu yang tercoreng?
Ryan memercayai perkataanku.
Itu cukup bagiku.
Skandal…
akan menghilang seiringnya waktu.
- Kenapa berkorban deminya? - Kita adalah keluarga.
Barusan, kau bilang kita keluarga.
Memang kenapa?
Karena kita keluarga, tak ada pilihan lain.
Aku tak berniat melakukan ini, tapi…
Lakukan apa?
Mengadu pada Ibu.
Itu di luar dugaan. Idemu cemerlang.
Tidakkah terlalu kekanak-kanakan?
Aku tak begitu dulu, jadi, kulakukan sekarang.
Katanya wajar mengadu pada ibu saat ayah melakukan kesalahan.
Kau punya banyak teman sekarang?
Halo, Ibu. Apa Ibu sibuk?
Pilihlah salah satu baju untuk dipakai ke bandara.
Tak sia-sia belajar bahasa Inggris.
- Hollywood… - Aku tak bisa pergi ke Amerika.
Apa? Kau berangkat hari ini.
Apa aku tak memberitahumu?
Audisi video yang kau lakukan
- adalah tahap akhir… - Aku tahu.
- Aku tak bisa pergi hari ini. - Tunggu.
Jangan bercanda. Ini tak lucu.
Aku tak melucu.
Ini kesempatan yang sangat langka.
Aku bisa dihabisi Pak Han.
Sebelum dia menghabisimu, aku akan mengurusnya.
Kau percaya padaku, bukan?
Aku tak bisa percaya padamu sekarang.
Kenapa kau tiba-tiba begini?
Debut di Hollywood?
Akan ada kesempatan lain.
Namun, membiarkan anakku menderita?
Semua pencapaianku ini karena telah mengabaikan mereka.
Aku akan kembali jadi aktor besok.
Ji-woo!
Kim Hyun-jin sialan. Teleponku tak dijawab.
Pikirnya bisa mengundurkan diri begitu saja?
Bukankah kau hari ini…
Hei, Ki Jeong-do! Kau benar-benar sudah keterlaluan.
Bagaimana kau bisa mengorbankan anakmu untuk menaikkan reputasimu?
Apa ayahmu tahu?
Kupikir…
kau menikahiku karena kau mencintaiku.
Namun, kau malah khawatir akan kehilangan dana dari keluargaku?
Aku akan mengasuh anak-anak. Silakan ajukan gugatan jika tak suka.
Kubuat kau kehilangan banyak uang.
Yook Ji-woo.
Kau pikir bisa bercerai sesukamu?
Kenapa aku selalu berpikir tak bisa bercerai sesukaku?
Padahal ini hidupku.
Ada apa denganmu, Ji-woo?
Maafkan aku.
Jeong-do, persiapkanlah pemilu dengan baik
seorang diri.
Jika kau terus mendekatiku, aku akan mengadu pada ayahku.
Mengerti?
Semuanya bertingkah sesuka hati mereka!
Astaga. Terlihat enak sekali.
Tunggu sebentar lagi, lalu buat kimchi-jjigae.
Padahal aku sudah bilang pada ibuku untuk berhenti membuat kimchi,
tapi dia selalu membuat dan mengirimkannya.
Keluargamu sungguh harmonis.
Ya. Keluargaku harmonis, tapi komunikasi kami kurang baik.
Lihatlah namaku.
Benar juga. Ibumu memberimu nama Mae-hui, tapi ayahmu mendaftarkannya sebagai May.
Sampai sebelum masuk sekolah, aku bingung dengan namaku sendiri.
Ibuku memanggilku Mae-hui, ayahku memanggilku May.
Aku bahkan tak tahu aku Mae-hui atau May.
Benar-benar gila.
"Apalah artinya nama? Meski bunga mawar diberikan nama lain, tetap akan harum."
Ujaran Romeo and Juliet.
Kau pikir kau William Shakespeare?
Aku mencintaimu.
Keluarga memang bertengkar saat bersama dan saling menyayangi saat berjauhan.
Keluargamu memang harmonis dan penuh kasih sayang.
Kupikir aku hanya sendirian di dunia ini,
tapi kurasa tak begitu.
Meski kau bukan keluargaku.
Apa keluarga harus terdaftar di kartu keluarga?
Apa keluarga harus sedarah?
Ibuku selalu menganggapmu sebagai anak bungsu. Dasar anak durhaka.
Benar juga.
Aku benar-benar durhaka pada orang yang melahirkanmu.
Kapan kita mengunjungi ibumu?
Benar juga. Aku sudah lama tak pulang ke rumah.
Bagaimana jika mengumpulkan orang-orang
dan buat kimchi tahun depan?
Kita kirim ke ibumu.
Kau saja.
Aku lebih suka membeli.
Ayolah.
- Nona Seo. - Ya?
Bukankah rapat masih lama?
Lee Yeong-hwa datang mencarimu.
- Suruh dia masuk. - Baik.
Kau mengancam akan bunuh diri,
tapi kau kemari.
Aku tak ingin menyita waktumu.
Waktu penting bagimu,
dan kau yang terpenting bagiku.
Hal yang bisa kulakukan untukmu
adalah mengakhiri perasaanku padamu.
Kau tak menginginkannya?
Lukisanmu?
Akhirnya, kuterima.
Katamu lukisan ini milikmu sebelum diberikan kepadaku?
Kau mencurahkan hatimu melukisnya.
Kau sudah…
mengambil hatiku.
Lalu?
Mau kukembalikan?
Simpanlah.
Sampai menghilang dengan sendirinya.
Simpan…
dan buanglah jika sudah tak diperlukan.
Bukankah itu yang terpenting?
Kau sungguh…
Aku…
masih sama seperti dulu.
Apa pun yang kau lakukan,
aku tak bisa membencimu dan terus menyukaimu.
Aku…
berhak menyukaimu sesukaku.
Kau akan melarangku lagi?
Tidak.
Lakukanlah.
Lakukanlah sesukamu.
Jaga kesehatanmu.
Jangan sampai sakit.
Cinta pertamaku.
Kau tak akan menjawab?
Aku akan jaga kesehatan.
Aku tak akan sakit.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Kau sudah pulang.
Seon-gyeom.
Seon-gyeom…
Yeong-hwa.
Aku sudah mewujudkan tujuanmu.
Apa mimpimu?
Tak berpisah denganmu selamanya.
Aku ingin mewujudkan mimpi itu.
Seon-gyeom…
Mimpiku sungguh tak bisa diwujudkan.
Mimpiku tak bisa terwujud.
Biar kuganti. Es batunya sudah mencair.
Kau terus menghela napas sejak tadi.
Ada masalah apa?
Aku selalu sibuk.
Karena terlalu sibuk,
aku merelakannya pergi.
Anak muda yang mencuri perhatianmu itu?
Sepertinya aku sudah tertarik dengannya sejak awal.
Aku tak akan memperhatikannya lagi.
Semua orang memiliki kotak perhiasan yang ingin disimpan.
Tak harus permata yang ada di dalamnya.
Bisa jadi kaca laut yang dipungut di pantai,
cangkang kerang,
atau kancing seragam sekolah seseorang.
Kenangan apa pun itu.
Tempat untuk menyimpan kenangan
yang hanya bisa dibuka oleh kita sendiri.
Itulah cara
untuk menyimpan momen berharga yang tak akan pernah kau alami lagi.
Begitulah.
Dia terlalu besar untuk disimpan dalam kotak perhiasan.
Kau bisa…
memperbesar kotak perhiasannya.
Benar juga.
Apa yang kau taruh di sana?
Kotak perhiasanku kecil.
Kunci rumah pertamaku.
Rumah itu sudah hilang karena pembangunan daerah.
- Selamat datang. - Halo.
Kenapa kau membuatku datang menghampirimu?
Kenapa kau ke sini?
Pak Jeong meminta tolong padaku.
Mungkin dia pikir kita dekat.
Ada masalah apa?
Jangan beri tahu. Aku tak ingin tahu.
Aku datang untuk minum miras.
Satu gelas vodka martini.
Jangan diaduk, tapi dikocok.
Siapa namamu?
"Bond, James Bond."
Norak sekali.
MAu kuangkat gelas kosongnya?
Tak perlu. Saat minum soju pun, aku tak suka botol kosongnya diangkat.
Rupanya begitu. Baiklah.
Aku…
sudah tahu sejak awal.
Namun, aku masih menemuinya,
dan berharap dia tetap di sisiku.
Meski aku menjaga jarak,
aku berharap dia terus mengejarku.
Supaya aku bisa terus melihatnya.
Kau pikir Yeong-hwa itu peramal?
Aku tahu akhir dari hubungan ini.
Semua yang kusuka berakhir menjadi penyesalan.
Kau pasti pernah berusaha untuk tak menyukainya.
Aku berusaha melakukannya.
Namun, hatiku…
tak bisa dikendalikan sesukaku.
Kau yang mentraktir miras ini, bukan?
Kulihat semua menu di sini mahal.
Mana mungkin meminta orang desa mentraktirku?
Aku tak keberatan dipanggil begitu hari ini.
Aku juga ingin jadi orang desa.
Mau bertukar tempat?
Tidak.
UNIVERSITAS HONGGUK LEE YEONG-HWA
Satu tiket untuk mahasiswa.
Apa kau bawa kartu mahasiswa?
Ya. Tunggu sebentar.
Aku lupa kartuku hilang.
Aku pulang.
Kau sedang apa?
Apa ini?
Hadiah.
Hadiah?
Mendadak begini?
Astaga.
- Seon-gyeom… - Aku beli gas isi ulang juga.
Aku simpan di bawah.
Tadi, aku pergi ke pameran seni, tapi tak dapat diskon
karena kartu mahasiswaku hilang.
Aku tak jadi masuk.
Aku…
akan membiarkan deritaku apa adanya.
Aku yakin deritanya…
akan hilang suatu saat nanti.
Hubungan ini mungkin berakhir menyedihkan.
Namun, berkat Nona Seo,
aku banyak belajar dan berkembang menjadi lebih baik.
Mungkin itu alasan Nona Seo memanggilku "Nak."
Supaya aku banyak belajar.
Ini saatnya kau membenahi dirimu.
Meski hubungan kalian tak bisa berlanjut,
tapi tanpa Nona Seo,
kau akan terus menjalani hubungan kekanak-kanakan.
Kira-kira begitu.
Suatu hari nanti,
aku mungkin akan melupakannya.
Namun, tak apa-apa.
Semuanya tersimpan di dalam sini.
Kami sudah berusaha keras, tapi tak pernah diundang ke festival film.
Kurasa kau menerjemahkannya dengan baik. Berkatmu, kami diundang
ke Festival Film Internasional Dubai.
Astaga. Aku turut senang mendengarnya.
Selamat. Tak sia-sia aku mengganti terjemahanku berkali-kali.
Ya, benar.
Aku terus menyiksamu. Padahal aku tak bisa bahasa Inggris.
Kau pasti terbebani
karena karyamu diterjemahkan ke bahasa lain. Aku mengerti.
Kau juga sering menyiksaku.
Aku sempat merasa menyesal telah memilihmu.
Pemilihan kata-katamu sungguh sangat menyenangkan.
Kau juga sering marah padaku.
Rasanya seperti baru kemarin
saat kuhubungi kau setelah lihat lowongan kerja sebagai penerjemah.
Kau selalu mengubah topik pembicaraan setiap merasa dipojokkan.
Aku tak sengaja melihatnya dan sangat tertarik.
"Padahal filmu baik, tapi kenapa kau begitu menyebalkan?"
Kau sering mengatai dan memaki-makiku.
Yang benar saja.
Aku sedang berusaha untuk mengakhirinya dengan indah.
Ayolah.
Ini semua berkatmu.
Terima kasih.
Baru sekarang? Sungguh?
Aku juga berusaha untuk mengakhirinya dengan indah.
Astaga.
Aku turut senang.
Terima kasih.
Ada apa ini?
Kenapa kau berpakaian rapi sekali?
Aku mendapat pekerjaan sebagai agen.
Astaga. Aku sangat senang!
Selamat. Kau membuatku bangga.
Mau makan apa? Biar kutraktir.
Apa ada yang ingin kau miliki?
Mau bintang yang ada di langit?
Katakan padaku. Kuberikan semuanya.
Tak perlu.
Baguslah. Aku tak bisa memberikan bintang.
Aku ingin mentraktirmu makan.
- "Saat lapar, dor"? - Karena cuaca dingin,
aku mau makan sup tulang babi.
Sekarang, kau bisa mengatakan keinginanmu.
Aku amat bangga padamu. Kau sudah dewasa.
Lagi-lagi memperlakukanku seperti anak kecil. Kau juga.
Bersikaplah lebih dewasa.
Astaga.
Sekarang, kita bisa saling memahami.
Ada apa ini?
Apa pekerjaanmu?
- Apa kau John Wick? - Siapa itu?
- Kau tak tahu? - Tidak.
Begitu, ya?
Lalu, kenapa aneh?
- Aku? - Bukan.
Aku.
- Apa kau aneh? - Bukan…
Itu terasa seperti kemarin.
Kita saling memahami.
Kau bicara dengan siapa selama ini?
Kau sudah tak membawa pistol lagi?
Aku sudah lama tak lihat.
Kusimpan di tempat rahasia.
Tiba-tiba aku jadi teringat.
Kau sungguh bukan orang aneh?
- Hei. - Kita bicara santai sekarang?
- Haruskah begitu? - Tidak.
Baiklah.
Ayo pergi.
- Apa kau sibuk besok? - Besok?
Besok, Myeong-min menyuruhku datang ke suatu tempat.
Begitu? Aku juga datang ke rapat umum pemegang saham.
Besok…
jadilah adikku.
Hanya besok?
Apa kau pernah tak menjadi adikku?
Teruslah jadi adikku mulai sekarang.
Dan-ah!
Jangan terlalu agresif.
Kejutan.
Astaga. Apa ini?
Selamat atas perceraian Ibu.
Padahal hidup Ibu sebagai aktris sudah sangat sibuk.
Ibu pasti kewalahan harus berperan sebagai seorang ibu dan istri juga.
Kau melarang ibu menjadi ibumu?
Memangnya Ibu pernah?
Aku memihak Ibu di saat begini.
Astaga, putri ibu.
Kau tumbuh dengan baik tanpa ibu di sampingmu.
Jangan bicara begitu.
Saat kecil,
teman-temanmu diurus dan dibimbing oleh ibunya,
tapi ibu tak bisa.
Mereka juga memanggil ibu mereka dengan sebutan "ibu,"
jadi, kupikir semua ibu begitu. Padahal sebenarnya tidak.
Berkat Ibu, aku menyadari lebih awal bahwa tiap ibu berbeda.
Ibu harus syuting, bukan? Aku pamit dulu.
Kau mau pergi ke mana?
Aku mau menikmati hidupku.
Mungkin pergi ke pantai dan hidup seperti orang biasa dengan tenang.
Satu Amerikano dibawa pulang.
Maaf.
Apa?
Kurasa aku terlalu berlebihan waktu itu.
Seharusnya tak boleh sembarang menanyakan perasaan orang lain.
Kau menyukainya?
Bocah pelukis itu.
Aku memang menyukainya.
Kau yang pertama menanyakannya.
Sebenarnya, aku ingin menjawabnya.
Padahal mengiakannya bukan hal sulit.
Sebenarnya,
aku mengaku lesbian karena enggan menikah.
Padahal itu bisa jadi kecemasan bagi sebagian orang,
tapi malah kujadikan sebagai alasan.
Maaf.
Ini pesananmu.
Apa ini?
Sejak kapan ada alat penyedot debu?
Ya?
Kau datang?
Ada apa? Kau terlihat aneh.
Ada apa ini? Apa yang aneh?
- Kau minum miras lagi? - Tidak.
Aku jarang melihatmu tak mabuk di malam hari.
Aku bertemu Nona Seo tadi.
Apa?
Di mana? Kenapa?
Dia meminta maaf padaku.
Kenapa dia minta maaf padamu? Kenapa hanya padamu?
Dia tak pernah minta maaf padaku.
Mungkin dia tak merasa bersalah padamu.
Kalian sungguh putus?
Aku masih menyukainya. Kenapa?
Sial. Kau memihak siapa?
Kaulah cinta pertamaku.
Apa? Apa maksudmu?
Kurasa sudah kuucapkan.
Ini akhir dari cinta tak terbalasku.
Bagaimana kau tahu sudah selesai?
- Kau tak tahu? - Saat kurasa sudah selesai.
Aku sendiri yang harus mengakhirinya.
Astaga.
Selesai apanya?
Baru selesai jika terbalaskan.
Kenapa menangis? Aku saja tak menangis.
Entahlah, Bodoh.
Kau sungguh kelemahanku.
Aku merasa lega.
Tak sia-sia aku berlatih.
- Halo. - Halo.
Ini Kim Woo-sik, atlet yang kulatih.
Halo, aku Kim Woo-sik.
Aku sering mendengar cerita mengenaimu.
Senang bertemu denganmu. Mari lakukan yang terbaik.
Baik.
Aku juara satu hari ini.
Aku menangis karena bahagia.
Kata penggemarku, air mataku bak mutiara.
Lantas, jual air matamu. Siapa orang di sebelahmu?
Dia Lucian, pemimpin grup kami.
Apa dia menyadapku?
Pemilihan suara calon presiden dari Partai Kebahagiaan dan Kebebasan
dilangsungkan hari ini
dengan selisih tipis dari Anggota Majelis Ki Jeong-do
berada di bawah Anggota Majelis No.
Anggota Majelis Ki mengundurkan diri, disertai dengan kekalahannya.
Sementara itu, terkait perselingkuhannya,
Anggota Majelis No mengeluarkan
pernyataan sanggahan atas tuduhan dan meminta maaf pada pihak yang terlibat.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Kau beli laptop?
Selama ini, kau selalu meminjam punyaku.
Kurasa aku harus memilikinya.
Jadi, kubeli satu supaya lebih produktif.
Apa ini bagus?
Aku tak paham hal seperti ini, jadi, kubeli yang terbaru.
Warnanya terlihat sangat mewah. Cocok denganmu.
Semangat untuk pekerjaan barumu.
Semangat untuk semester baru.
Aku punya tugas menggambar.
Bisakah kau menjadi modelku?
Aku tak punya waktu.
Bukankah kita saling mendukung?
Aku tak pernah menggambar model yang dinamis.
Kau pilihan tepat karena kau atlet.
Aku bukan atlet lagi. Kau punya waktu?
Ikut denganku. Kutunjukkan olahraga sesungguhnya.
Kau sudah pemanasan?
- Kemari. - Halo.
Ini Kim Woo-sik.
Dia akan jadi model dinamismu.
Halo. Aku Lee Yeong-hwa.
"Yeong-hwa" seperti di film?
Keren sekali. Aku sangat suka menonton film.
- Sungguh? - Ya.
Aku sering mendengar itu.
Dia ingin menggambarmu saat berlari.
- Kau seorang pelukis? - Bukan. Aku mahasiswa.
Aku akan menjadi…
pelukis setelah lulus.
Aku tak pernah bicara dengan pelukis.
Lain kali, kau harus menggambar mural di tembok sekolah.
Kenapa begitu?
Aku sudah mengenalkanmu pada atlet.
Baiklah. Temboknya sebesar apa?
Tak bisa sendiri jika terlalu besar.
Bersama anak-anak klub trek dan lapangan.
Mereka hanya berolahraga, jadi, aku ingin mereka mencoba hal lain.
- Baik. - Yeong-il!
Halo.
Kau…
tak berlatih dengan timmu?
Cara bicaramu lembut, tapi menusuk.
Siapa ini?
Halo, aku Lee Yeong-hwa. Aku teman serumah Seon-gyeom.
Kau tinggal dengan dia?
Bagaimana bisa?
Entahlah.
Begitu, ya?
Namaku Kwon Yeong-il.
Aku temannya Seon-gyeom.
Kau berteman dengan dia?
Bagaimana bisa?
Hentikanlah.
Kau tak membawa helm hari ini. Kau taruh di motor?
Aku menjual motorku.
Aku datang untuk memberikan ini.
"Mempelai pria, Kwon Yeong-il"?
- Kau akan menikah? - Ya.
- Selamat. - Terima kasih.
- Aku hanya bawa dua undangan. - Tak apa-apa.
Akhirnya menikah juga. Selamat.
Terima kasih.
Kenapa? Ada apa?
Mereka sering bertengkar.
- Benarkah? - Kau punya pacar?
- Selama sepuluh tahun. - Kau jadi modelku.
Apa ada pose yang kau suka?
- Pose? - Sepuluh tahun?
Aku harus melukis gerakan dinamis.
- Aku berlari? - Ya, berlari.
Apa kita sungguh hanya berkemah?
Kita tak bisa datang karena ujianmu.
Aku sering berkemah dengan Ibu,
tapi hari ini ada kau juga.
Benar juga.
Karena sudah cukup umur, Ye-chan boleh minum anggur.
Ini kali pertamaku minum miras.
Ye-jun, tuangkan adikmu miras.
Saat berumur delapan tahun, kau pernah tanya pada ibu,
"Apa Ibu menyesal sudah melahirkanku?"
Aku tak ingat.
- Apa jawaban Ibu? - Ibu tak bisa menjawabnya.
Ibu merasa seperti tertangkap basah pernah menyesal
telah mengandungmu saat berumur 21 tahun.
Ibu berusaha mengganti rasa bersalah itu menjadi kasih sayang,
tapi tak bisa melakukannya.
Kenapa Ibu merasa bersalah?
Karena sibuk mengurus orang lain,
ibu tak bisa memperhatikanmu.
Ibu juga terlalu cepat bercerai.
Semua orang…
berbeda.
- Benar. - Menjadi berbeda
bukan berarti salah.
Benar.
Kau sudah dewasa, Ye-jun.
Pameran seni akan berlangsung selama dua pekan.
Baik.
Aku bisa merasakan auranya. Lukisan apa ini?
Yeong-il akan menikah.
Selama ini, dia punya pacar…
- Seon-gyeom! Ini aku. - Ya.
Ayo masuk dan istirahat sebentar.
Kenapa tiba-tiba memelukku?
- Ada yang terjadi? - Ya, ada sesuatu.
- Ada apa? - Ingat aku pernah menerjemahkan
film pendek Korea, bukan?
Film yang kau sangat suka itu?
Ya. Responsnya tak bagus di Korea, tapi sangat bagus di luar negeri.
Sutradara film itu sedang menghadiri festival film di luar negeri.
Lihat ini.
"Oh Mi-joo, kau juga hadir di tempat ini."
Aku tak pernah menerima hal seperti ini.
Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk semua proyek yang kuterima.
- Aku jadi ahli andai fokus. - Benar, kau hebat.
Aku sangat suka pesan moral film ini.
"Kuharap orang berhati hangat dan lemah lembut hidup bahagia.
Kuharap orang yang ramah tak dianggap bodoh."
Tampaknya itu pesan filmnya.
Kini aku paham alasanmu menyukai film.
- Baru sadar sekarang? - Ya.
Hampir lupa. Ada yang harus kulakukan.
Berikan buku harianmu padaku.
Katamu buku harian hanya untuk diri sendiri?
Aku tak akan membacanya. Cepat ambil.
Ini buku harianku.
Tak akan kubaca. Janji.
Jangan cemas. Tak akan kubaca.
Ini.
KAU MELAKUKANNYA DENGAN BAIK
"Kau melakukannya dengan baik"? Apa ini?
"Kau melakukannya dengan baik."
Aku memberimu cap.
Biasanya guru memberi cap saat memeriksa buku harian.
Lagi-lagi diperlakukan seperti anak kecil.
Kau melakukannya dengan baik, Nak.
Anak kecil harus sering-sering dipuji.
Benar.
- Kau bangga, bukan? - Bangga sekali.
Selamat, Wakil Presdir.
Tambahkan kata "termuda".
Ini mendebarkan karena terasa tak nyata.
Kita berhasil, Pak Jeong. Kita wujudkan khayalan kita.
Bisa berhasil karena kita yang melakukannya.
Benar.
MUSEUM SENI SEOMYUNG
Kualitas pameran karya pelukis baru kali ini sangat bagus.
Kuharap kau menyukainya.
Bukan aku yang harus menyukainya,
tapi para pengunjung pameran.
Silakan kembali bekerja. Aku tak mau mengganggumu.
Baik.
Aku juga.
Aku juga merindukanmu.
Sepatunya terlihat bagus.
Sepatu dan lukisanku terlihat bagus.
Karena ini milikmu.
Kau tak mau berpendapat
soal lukisanku?
Kenapa bisa melukis seperti itu?
Apa yang kau makan dan lihat…
Apa yang ada di dalammu? Kenapa bisa melukis seperti itu?
Aku sering makan burger nasi.
Aku sering lihat pameran dan film.
Aku juga tak tahu apa yang ada di dalamku.
- Karena aku tak bisa melihatnya. - Aku tak tahu ada apa,
tapi lukisanmu suram dan meresahkan.
Aku telah lama berada di dalam hatimu,
dan begitu bersinar.
Aku tetapkan hari ini
sebagai hari ulang tahunku.
Selamat ulang tahun, Nona Seo.
- Bagaimana jika kita istirahat sebentar? - Nanti.
Istirahat di sini.
Padahal kita baru mulai.
Kita tak akan mungkin bisa saling memahami selamanya.
Benar.
Karena kita berbeda.
Kau dan duniamu, aku dan duniaku.
Meski dunia kita berbeda, kita tetap bisa bersama, bukan?
Jadi, jangan terlalu kecewa, walau tak bisa saling memahami.
Itu hal yang mustahil.
Kita hanya perlu melakukan hal yang bisa kita lakukan.
Apa aku…
pernah mengatakan aku mencintaimu?
Kurasa ini saatnya.
Saat untuk mengatakannya?
Aku mencintaimu.
Waktu istirahat selesai.
Apa?
Kukira kau mencintaiku?
Apa kau mau menonton filmku nanti?
Kau bisa melihatku menonton film.
Kau menyukaiku, bukan?
Aku tak mengatakan apa pun.
Aku bisa memahamimu sekarang karena aku mencintaimu.
Katakanlah sesuatu.
Padahal aku sudah sangat senang. Kenapa merusak suasana?
Apa itu akhir bahagia? Bagaimana kesanmu?
Semua film selalu berakhir bahagia.
Lihatlah The Sound of Music.
Apa itu?
Lagu yang selalu diputar saat kelas seni musik.
Zamanku Secret yang selalu diputar.
Zaman sekarang pasti La La Land.
Menurut pendapatku, yang sangat sering menonton film,
akhir bahagia hanya ilusi dan fantasi
yang dibuat-buat.
Itu tak nyata. Bagaimana bisa ada?
Kau pesimis.
Bagaimana kau menggambarkannya?
Hidup bahagia selamanya?
Kau lahir sendiri dan mati sendirian di dunia ini.
Anggaplah kau berpasangan.
Akhirnya tetap berpisah setelah mati.
Cinta abadi hanyalah ilusi.
Bisa saja bertemu di surga setelah mati.
Hanya Keanu Reeves yang bisa melakukan itu.
Siapa itu?
- John Wick. - John Wick?
John Wick tak akan bisa masuk surga. Dia seorang pembunuh, bukan?
Kau percaya ada dunia akhirat?
Bukankah peran Keanu Reeves yang bisa ke surga adalah Constantine?
Benar juga. Ingatanku jadi tercampur.
Tunggu. Bagaimana kau bisa tahu John Wick adalah pembunuh?
- Aku cari di Internet. - Begitu, ya?
Bagiku, hidup bersama orang yang kucintai dan melahirkan anak-anak
- adalah kebahagiaan. - Bagaimana caramu melahirkan?
Bisa saja jika sains berkembang.
Bukan itu maksudnya.
Hiduplah yang lama sampai bisa melahirkan.
Bagaimana denganmu? Apa standar kebahagiaanmu?
Samakan denganku. Kita akan mencintai selamanya.
Aku mengaku lesbian pada keluargaku karena tak mau menikah.
Apa pembahasan ini tak membuang waktu?
Mari minum miras saja.
Benar. Aku tak tahu banyak mengenai film.
- Mari bersulang. - Baiklah.
Kita harus bersulang demi sesuatu.
Apa, ya?
Keberhasilanku menyelesaikan maraton. Kita bersulang untuk itu.
- Kita bersulang untukku. - Baiklah.
- Ide bagus, bukan? - Ya.
- Untuk keberhasilan… - Bersulang…
- Ayo ikut bersulang. - Nona Seo!
- Aku harus bagaimana? - Tos saja.
Satu, dua, tiga.
- Maraton selesai! - Maraton selesai!
SEMANGAT, SEMUANYA! DARI MI-JOO, SEON-GYEOM
AKU SANGAT MENCINTAIMU, JI-WOO
Hei.
Halo.
Seon-gyeom. Mi-joo.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
KILLING DAY
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.