All language subtitles for Run on ep 15 NEXT

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN

DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.

ACARA LARI MARATON AMAL SEOMYUNG

Aku berlari sampai akhir.

Aku tak sangka bisa berlari sampai akhir.

- Senang sekali. - Aku juga.

- Acaranya sudah selesai? - Ya.

Bagaimana denganmu?

Kau menyelesaikannya dengan cepat?

Astaga. Para panitia sungguh kejam.

Seharusnya mereka menungguku.

Aku menunggumu.

Aku menunggu

sampai bisa melihatmu.

Garis finis pertamaku.

Aku sering membuatmu menunggu,

dan kau selalu menungguku.

Sekarang ini lebih luar biasa.

Karena pilihanku tepat untuk menunggumu.

Aku bersyukur telah menunggumu.

Aku juga berpikir begitu.

Kau pernah menonton E.T.?

- Kau pernah menonton film itu? - Belum pernah.

Baiklah.

Aku banyak berlatih supaya bisa berlari sampai garis finis.

- Aku ingin membuatmu terkejut. - Bohong.

Aku merekam rekorku setiap berlari.

Ada buktinya. Mau kuperlihatkan?

Menyebalkan.

Aku sangat bangga karena bisa berlari secara rutin.

Apa? Kau tak memercayaiku?

Astaga.

Tangkap aku kalau bisa.

Kenapa kau tak mengejarku? Ayolah.

- Apa-apaan… - Tangkap aku.

- Kau harus menangkapku, ya? - Baiklah.

Larilah.

- Tangkap aku kalau bisa. - Aku akan menangkapmu.

- Tangkap aku kalau bisa. - Aku sungguh akan menangkapmu.

Bukankah mau mengantarku pulang?

Kukira hanya kita berdua.

Lantas siapa yang menyetir? Kau tak bisa menyetir.

Aku terlalu lelah untuk menyetir.

Aku pasti akan naik bus jika tahu ada orang lain.

Pak Jeong, berhenti. Dia mau turun.

Kau tak membiarkanku masuk ke bangsal. Aku merasa kikuk saat menunggu di koridor.

Untuk apa masuk?

Kau bukan dokter atau pasien.

Aku ingin berada di sampingmu. Pak Jeong boleh dan aku tidak?

- Mau kuturunkan? - Antar aku sampai rumah.

Berhenti merengek. Kepalaku pusing.

Kau diam-diam memperhatikanku saat tidur,

tapi aku tak boleh.

Aku tak melakukannya secara diam-diam.

Tutup mulutmu.

Bu Seo.

Apa aku terlalu kasar?

Aku akan mengabaikannya.

Jaga kesehatanmu. Aku akan marah jika kau sakit.

Masuklah ke dalam.

Pak Jeong, tolong jaga Nona Seo untukku.

Ada apa dengannya?

- Pak Jeong. - Ya.

Apa yang aku lakukan benar?

- Mengenai apa? - Mengenai ini.

Kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri ini?

Kau baru mulai, kenapa sudah berpikir untuk mengakhirinya?

Apa? Kau mendukungku?

Sebelumnya, kau bilang tak bisa mendukungku.

Kurasa aku harus melakukannya karena kau tak mendukung dirimu sendiri.

Setiap aku menyukai sesuatu, pasti selalu berakhir.

Begitu pula dengan sepak bola.

Percuma jika hanya bisa menyukai sesuatu untuk sesaat.

Jadi, kau takut hubunganmu dengannya akan berakhir

seperti sepak bola?

Aku sedih.

Mari bersulang.

Bersulang. Kau melakukannya dengan baik.

CAMPURAN HIDANGAN LAUT KERING

Menyegarkan. Bir ini enak.

Kau sedang menghafal menu? Cepatlah, atau birnya habis.

Aku tak pandai memesan makanan untuk miras.

- Karena jarang minum miras. - Pilih apa pun.

Jangan itu.

Pollock kering cocok dengan bir dan sup dengan soju.

Pesan pollock kering.

Katamu "pilih apa pun"?

Kau protes?

Apa sebenarnya protes menurutmu?

- Yang kau lakukan barusan. - Itu hanya pertanyaan.

Bu, kami pesan pollack kering satu.

Baik.

Sebenarnya, ada yang mengganggu pikiranku.

Bu, tambah sup jjamppong satu.

- Baik. - Sudah.

Kau sudah siap mendengarkanku?

Kau membuatku takut.

Kucoba untuk tak menakutimu.

Aku sudah bertemu ayahku, dan katanya aku bisa pacaran dengan siapa pun,

tapi harus menikah dengan Dan-ah.

Jadi…

kau bebas pacaran dengan siapa pun, asal menikahi Nona Seo?

Aku tak memahami pemikiran mereka.

- Bu, tambah satu gelas bir lagi. - Baik.

Ayahku pikir dia sedang mengalah padaku.

Apa Nona Seo tahu mengenai hal ini?

Aku baru tahu hari ini, jadi, tak sempat bertanya.

- Dia pasti merasakan hal sama denganku. - Bagaimana jika tidak?

Wanita gila itu tak bisa diprediksi.

Astaga.

Haruskah kita berlutut di hadapannya dan memohon?

Bukankah itu mau ayahmu? Itu tak sulit.

Meski mudah, tetap tak boleh. Kenapa?

Kau tak bersalah.

Kesalahan itu relatif.

Standar tiap orang berbeda.

Mungkin menurut standar ayahmu, aku tak seharusnya pacaran denganmu.

Jangan pernah mengatakan itu lagi.

Aku yang tak suka.

Astaga. Kau blak-blakan sekali.

Terima kasih.

Baiklah. Mari kita hentikan pembicaraan ini.

Kita bicara mengenai kita saja.

Bagaimana pekerjaanmu?

Keadaan Woo-sik semakin membaik.

Kurasa dalam beberapa hal, dia lebih baik daripada sebelumnya.

Jadi, dia bisa kembali berlari lagi?

Kuharap yang terbaik untuknya.

Sekarang, aku sedang mencari tim untuk dia.

Ada tim yang memberi respons positif.

Dia bisa langsung ikut serta dalam kompetisi?

Harus tunggu musim kompetisi mulai di musim semi.

Rupanya ada musimnya.

Tujuan pertamaku adalah membuat Woo-sik kembali ke trek,

dan melihat dia memulai pertandingan.

Setelah itu,

aku akan memikirkan langkah selanjutnya perlahan.

Sepertinya aku mulai paham caramu menjalankan hidup.

Kau bilang,

kau menyusul satu demi satu sampai tak ada siapa pun di depanmu.

Kau hanya melakukan apa yang ada di depanmu selangkah demi selangkah.

Aku baru menyadarinya.

Kau bahkan tersenyum padaku untuk pertama kalinya

di hari kau hampir berlari dalam sembilan detik.

Jika aku mengukur rekorku hari ini,

bisa jadi di kisaran sembilan detik.

Apa kisaran sembilan detik itu bagus?

Itu bagus sekali.

Aku sangat suka senyummu hari itu.

Namun, entah kenapa, aku jadi merasa sedih juga.

Aku hanya merasakannya saja.

Itu kali pertamaku

memberi tahu orang tentang hal itu.

Bagi kami, sembilan detik itu sangat sulit digapai.

Namun, kau ada saat aku mengatakannya.

Dan kau ada saat aku sungguh bisa mengatakannya.

Lantas, kenapa?

Itulah arti kisaran sembilan detik bagiku sekarang.

Astaga, kau membuatku malu.

Aku jadi malu.

Jika kulanjutkan, kau mungkin akan mendekatiku.

Aku akan menahan diri karena kau terlihat mengharapkannya.

Ada apa denganmu?

- Kau kecewa? - Tidak.

Aku tak kecewa sedikit pun.

- Aku kenyang. - Aku juga.

Terima kasih sudah merayakan maraton pertamaku hari ini.

- Jangan sungkan. - Tak sungkan.

Sebenarnya, aku sedang banyak pikiran.

Kau sedang banyak pikiran dan mau menceritakannya padaku?

Kau semakin dewasa.

Aku merasa bangga membesarkanmu.

Aku masih seperti bocah bagimu?

Ya, dan karena itulah

aku harus menjagamu erat di sisiku.

Apa yang kau pikirkan?

Bu Dong menawariku

untuk bergabung bersamanya sebagai agen.

Astaga. Jerry Maguire.

- "Tunjukkan aku uangnya." - Aku Ki Seon-gyeom.

Kalau begitu, "Ki Seon-gyeom."

Aku mabuk.

Aku jadi mudah mabuk karena lama berlari.

Kurasa akan lebih baik bagi Woo-sik

jika ada agensi yang membantunya.

Kuharap kau memikirkan dirimu juga.

Ini hidupmu.

Benar.

Apa tak apa kau bekerja dengan Nona Seo?

Cara pemikiran dan pandangan kalian berbeda.

Pasti akan bertengkar karena masalah yang sama.

Tak semua orang memiliki itu.

Keluargamu berpengaruh, wajahmu tampan,

dan selalu juara dua. Tak semua bisa begitu.

Lihatlah Woo-sik.

Apa kelebihannya?

Tentu saja kemampuannya.

Pada akhirnya, tim menginginkan rekor dan medali.

Jika Dan-ah benar-benar tak tahu,

aku bisa menunjukkannya kemampuan Woo-sik.

Dia lebih mudah diyakinkan dengan hasil.

Tunggu sebentar.

Kebetulan sekali.

NONA SEO DAN-AH

Kenapa dia menelepon malam-malam?

"Dan-ah, pernikahanmu akan disiapkan.

Datang saja saat upacara pernikahan."

Apa-apaan ini? Siapa ini?

Pimpinan, sekaligus ayahku.

Kenapa hanya aku yang tak tahu?

Makanya. Omong kosong macam apa ini?

Kau tahu sesuatu?

Sepertinya ayahmu juga ikut terlibat.

Katanya aku bebas memacari siapa pun asalkan menikah denganmu.

Hanya itu yang kutahu.

Mi-joo, bagaimana menurutmu?

Kau secara tak langsung terlibat

karena memacarinya dan akrab denganku.

Sejak kapan?

Kalian saling bertemu tanpa sepengetahuanku?

Tidak.

Lagi pula, kita harus menikah, bagaimana jika mengiakannya?

- Enyah kau. - Ini kantorku.

Kenapa kita bertiga tak menikah saja? Itu lebih mudah.

Bukan main. Itu pilihan terburuk. Jangan konyol.

Baiklah kalau begitu.

Apa kau punya rencana?

Kau bawa dia karena punya rencana, bukan?

Bukankah kita sama-sama tak menginginkan pernikahan ini?

Sebenarnya aku tak keberatan, tapi Mi-joo tak mau. Jadi, anggaplah aku tak mau.

Aku jadi bersyukur.

Ayahku akan fokus pada pemilu sebentar lagi.

Bukan pernikahan yang penting baginya.

Dia hanya memerlukan bantuan ayahmu.

Kita bisa mengulur waktu dan melawan saat waktunya pas.

Kau membuat rencana yang tampak besar,

sekalipun tidak.

Sering bernegosiasi membuatmu semakin tak tahu malu.

Aku suka karena sederhana dan tak menyita waktuku.

Baiklah.

Kenapa melihatku begitu?

- Aku begitu cantik? - Tidak.

Apa maksudmu? Jadi, aku tak cantik?

Kau ingin bicara, bukan?

Nanti saja. Aku pamit.

Ayo pergi.

Bukankah kau berniat membicarakan tawaran kerja sebagai agen?

Aku harus mengikuti aturan.

Aku akan mendaftar setelah ada lowongan.

Rupanya begitu.

Tak sia-sia menulis buku harian.

Itu berguna saat menulis surat lamaran pekerjaan.

- Kau tahu surat lamaran pekerjaan, bukan? - Ya.

Kau mau ke mana? Apa harus pulang karena harus bekerja?

Pergilah. Aku harus bicara dengan Nona Seo.

Aku tak tahu apa yang harus dibicarakan, tapi kau tak boleh memukulnya.

- Akan kucoba. - Jangan terlalu galak.

Baiklah.

- Aku pergi. - Hati-hati.

Kau masih menyangkal hubungan kita?

Aku merasa terganggu, tapi menahannya. Karena tak mau terlihat picik.

Kenapa mengatakan itu waktu itu?

Dia membuatku cemas. Karena sudah lama dia tak menyukai seseorang.

Bagaimana kau bisa tahu?

Karena aku yang terakhir disukainya.

Kau memprovokasiku waktu itu.

Mi-joo.

Itu sudah lama berlalu. Kau masih…

Karena aku pecundang. Lantas?

Aku hanya mengatakan fakta. Aku tak tahu cara memprovokasi.

Begitu, ya? Rupanya Nyonya memang terlahir seperti ini.

"Nyonya"? Apa-apaan itu?

Kau tak tahu Nyonya Hideko di film The Handmaiden?

Dialog "Nyonya akhirnya akan mencintainya"?

Aku tak tahu semuanya.

Maksudku,

kau bicara seolah Seon-gyeom menyukaimu.

Meski hanya atlet lari,

pasti banyak agensi yang menginginkannya.

Namun, dia lebih menyukai agensiku dibandingkan agensi lain.

Itu maksudku.

Kenapa kau membuatku salah paham?

Seharusnya dengarkan sampai akhir.

Kau yang berasumsi ada sesuatu di antara kami.

Waktu dan cara penyampaianmu yang kurang tepat.

Wajar jika aku salah paham.

Ini bukan salahku, tapi kau tetap mengomeliku.

Apa pun itu,

kau berperan penting dalam hubungan kami.

Kau bak dewi cinta.

Tak perlu berterima kasih.

Seharusnya Yeong-hwa ikut hadir membicarakan

masalah pernikahan ini.

Dia dilarang menghubungiku secara personal.

Kau bisa meneleponnya.

Benar juga. Kenapa baru beri tahu sekarang?

Karena baru terpikir sekarang.

Dan satu lagi.

Dilarang menghubungi Seon-gyeom malam-malam.

Aku pamit.

Seriuskah?

Moral cerita ini,

jangan memercayai orang,

tapi percayailah keadaan.

Keadaan.

Maukah kau bekerja bersamaku?

Kenapa kau gemetaran?

Kau berkeringat juga.

Kau menderita hiperhidrosis?

- Hei. - Ya?

Aku polisi.

Jadi…

jangan memercayai orang,

tapi percayailah keadaan.

Aku menderita hiperhidrosis.

Meski begitu, kau tetap polisi.

Polisi yang menderita hiperhidrosis.

Di mana aku menyimpan pistolku?

Tamatlah riwayatku.

"Nama, tanggal lahir,

pengalaman kerja…"

Pengalaman kerja?

Kenapa kau begitu serius?

- Ini resumeku. - Begitu, ya.

Namun, pengalaman kerjaku…

Karena aku hanya berolahraga, tak banyak yang bisa ditulis.

Aku hanya pernah menjadi atlet nasional.

Menyebalkan.

Kau hanya perlu menempelkan fotomu yang berukuran besar.

Ukuran fotonya harus mengikuti standar.

Aku tak sebodoh itu.

Kau sungguh tak tahu apa-apa.

Wajahmu

harus berukuran besar. Aku sudah memberi saran.

Ingat baik-baik. Jangan sampai lupa.

Seon-gyeom, fotomu harus berukuran besar!

Aku pergi!

Ikuti perkataanku.

Apa aku terlihat begitu menyedihkan karena memenangkan juara dua?

Karena kasihan, kau mentraktirku?

Kau tak menyedihkan. Kenapa aku harus mengasihanimu?

Lantas, kenapa tiba-tiba begini?

Aku berhasil menjual barang bekas untuk pertama kalinya.

Kujual dengan harga sangat murah.

Percuma disimpan jika tak dipakai. Aku lega sekarang.

Apa yang kau jual?

Materi dan contoh soal untuk ujian pegawai negeri.

Kau pernah belajar itu?

Ya. Aku bahkan ikut kelas di tempat kursus milik Seong-geun.

Aku tak akan pernah juara dua lagi.

- Apa kau bisa menjamin itu? - Itu tekadku.

Kau juga harus bertekad mengalahkanku.

Baiklah.

Jangan bayar makanan ini.

Berani-beraninya kau mentraktir seniormu.

Kutraktir. Makan yang banyak.

Aku boleh pesan lagi? Piza?

- Permisi! - Hei.

Kita harus bicara.

Berani-beraninya kau ke sini. Kau sudah gila?

Tak ada yang perlu dibicarakan.

Hei.

Kenapa kau terus menghindariku?

- Hentikan. - Ye-jun.

Siapa kau?

Apa putraku membuat kesalahan?

Tidak.

- Hei. - Ibu.

- Ibu, begini… - Tak usah menjelaskan.

Mulai pekan ini, kau ikut ke gereja bersama ibu.

- Ibu. - Jangan!

Aku menyukai pria.

Tidak. Ini tak benar.

Meski Ibu menyangkalnya, beginilah diriku.

Menjadi seorang ibu sungguh…

Aku terlalu sibuk mengurus anak lain,

dan tak tahu apa pun mengenai anakku.

Kau menangis?

Kau sungguh menangis?

Aku juga menyukai pria.

Apa?

Apa spesialnya menyukai pria?

Aku ingin mengakuinya sendiri,

bukan tertangkap basah seperti ini.

- Kenapa kau membawa ini? - Ada di sakuku.

Kurasa aku membuang ingus dengan itu.

Dingin sekali. Ayo pergi.

Aku akan membelamu jika kau dimarahi Ibu.

Kenapa kau baik sekali padaku?

Aku ikut terganggu jika kau uring-uringan.

Mau disalahkan jika aku tak lulus?

- Tidak. - Makanya. Ayo pulang. Dingin sekali.

Dasar pecundang.

ALASAN MELAMAR KERJA

Apa tahun ini aku tak bisa melakukannya lagi?

Tolong tanya harga kompor gas.

Seon-gyeom.

Seon-gyeom!

Kompor gas. Tolong tanya harga kompor gas.

Sudah kubilang, pikiranmu mudah terbaca.

Aku jadi mencari perhatian karena kau mengabaikanku.

Berapa harga kompor gas?

Yang bagus kisaran 50.000 won sampai 100.000 won.

Uangku selalu habis untuk uang sewa dan keperluan sehari-hari.

Namun, kau bisa beli miras. Kenapa tiba-tiba membutuhkannya?

Menyenangkan jika bisa memanggang samgyeopsal di atap.

Mi-joo mungkin memilikinya. Aku akan merayunya agar dipinjamkan.

Kenapa kau merayunya?

Jangan meneleponnya. Biar aku saja.

- Apa kau sibuk? - Ya, aku sedang bekerja.

Apa kau punya kompor gas?

Kompor gas? Kurasa ada.

Memangnya kenapa?

Yeong-hwa mau memanggang samgyeopsal di atap.

Apa? Luar biasa.

Kupinjamkan, tapi aku harus ikut.

Baik.

- Ayo masuk. - Selamat datang!

- Biar kubawakan. - Permisi.

Astaga. Tanganmu membeku.

Ini bukan apa-apa. Samgyeopsal dan kau menungguku.

- Tak perlu sebegitunya. - Ayolah.

Tanganmu satu lagi.

- Ini juga membeku. - Tanganmu hangat.

Aku ingin mengundang Nona Seo juga.

Ini rumahmu, lakukan sesukamu.

Aku hanya diperbolehkan membicarakan lukisan.

Aneh sekali.

Bagaimana dengan kejadian di kampung halamanmu?

Aku masih tak boleh meneleponnya.

Kenapa tak membicarakan lukisan saja?

- Biar kuperlihatkan rumah ini. - Kau sungguh genius.

- Ini tempat tidur. - Kau tidur di sini?

Aku tidur di sofa dan Yeong-hwa tidur di sana.

- Kau tak kedinginan? - Tidak.

Nona Seo.

Sebentar. Jangan dimatikan!

- Dia melukisnya. - Jangan langsung ditutup.

- Aku tak pernah lihat hal begini. - Ini soal lukisan.

- Dia pandai melukis. - Lukisan sudah selesai.

Datanglah ke rumahku.

- Sekarang juga. Baik. - Apa ini? Menarik sekali.

Lukisan ini sudah selesai?

Belum.

Jadi, kau membohonginya?

Hampir selesai. Aku hanya tak mengatakan "hampir".

Jika sengaja tak dikatakan, artinya kau berbohong.

Kapan kita makan daging? Biar aku yang panggang.

Aku pernah bekerja di restoran barbeku.

Kita bertiga harus pergi membeli bahan-bahannya sekarang.

Kau seharusnya memanggilku jika sudah siap.

Kalian berdua saja yang pergi.

Aku sudah jauh-jauh ke sini.

Istirahatlah. Di sana hangat.

- Dah. - Baiklah. Aku akan menunggu di sana.

Kau tak bisa minum miras, tapi kenapa ambil banyak?

Aku tak pernah membeli satuan.

Apa soju tak dijual per kotak di sini?

Per kotak? Satu kotak?

Siapa yang minum semua itu?

Jika ada pasti akan habis diminum.

Hei. Hentikan.

Seon-gyeom, jangan. Kau bercanda?

Berapa banyak daging yang mau kau beli?

Kita berempat.

Ini terlalu banyak untuk berempat.

Jika ada pasti akan habis dimakan.

Siapa yang dari tadi kau bicarakan?

- Rekan-rekanku. - Rekan-rekanmu?

Maksudmu, rekan-rekan atlet?

Para atlet.

Mereka pasti banyak makan.

Aku sama sekali tak keberatan.

Ini leher babi…

Ini cukup, bukan?

- Kurasa cukup. - Baiklah.

Nona Seo sampai!

- Apa-apaan ini? - Halo.

Kenapa masih tanya? Kami sedang memanggang daging.

Mana lukisanku?

Satu, dua…

Kejutan.

Bagaimana? Bagus bak lukisan, bukan?

Ini acara barbeku. Mana lukisanku?

Dalam hatiku.

Kalau begitu, keluarkan dari dalam hatimu.

Hanya ada ini di dalam hatiku.

Yeong-hwa, hentikan.

- Aku akan menahan Dan-ah jika diperlukan. - Lukisannya hampir selesai.

Aku ingin kau makan samgyeopsal…

Gugat aku, dan kuberi uang kompensasi.

- Astaga. - Berapa banyak?

- Sebesar besar derita yang kau rasakan? - Nona Seo.

Tenangkan dirimu. Tanganmu bisa terluka.

Bukan itu yang penting.

Kalau begitu…

Kudorong saja.

Anggap dia jatuh terpeleset. Setuju, Seon-gyeom?

Apa bisa semudah itu?

Bagaimana jika sungguh dilakukan?

Jika terjatuh dari sini dan tanganku patah,

- aku tak bisa melukis lagi. - Hanya tangan?

Kali ini, kurestui, Nona Seo.

Padahal aku enggan begitu.

Kemari dan makan daging ini. Sia-sia kalau hangus.

- Kemari dan bantulah Mi-joo. - Cepat kemari.

Tanganmu pasti dingin.

Pilih salah satu mau minum soju atau bir. Kenapa dicampur?

Temperamenku semakin membaik.

Jangan mengacau. Duduklah.

Kau pikir ini pesta berdiri?

- Dengarkanlah perkataan Mi-joo. - Ya.

Tak ada kursi yang layak diduduki.

- Dagingnya enak. - Kau pikir kami mengapung?

Jika diberi tahu, aku akan bawa miras dan gelasku sendiri.

Apa kau memberitahuku saat membawaku ke Laut Timur?

Pergilah jika kau hanya mengomel.

Mi-joo, jangan berkata seperti itu pada Nona Seo. Dia jauh-jauh ke sini.

Kenapa kau berteriak pada Mi-joo? Apa salah dia?

Benar. Perlakukan aku dengan baik.

Jika hanya aku yang keberatan,

biar aku yang mengalah.

Ini kali pertamaku mencoba perut babi.

Hei, Kawan.

Bukankah kau memanggil Nona Seo untuk makan bersama?

Lantas, kenapa kau hanya makan sendiri?

Ssam harus buat sendiri. Selera orang berbeda.

Astaga. Tahan emosimu.

Sayang mirasnya.

Biar aku yang minum.

Atletku, tolong buatkan ssam.

Beraninya kau menyuruh dia.

Berhenti merendahkannya.

Dia bukan atletmu lagi.

Kau tak ingat namanya?

- Konyol sekali. - Kau tak ingat? Siapa namanya?

Aku benar-benar tak ingat.

Tunggu. Aku tahu.

Jangan bercanda.

Aku cari di Internet dulu.

Kau butuh kata kunci untuk bisa mencarinya.

Karena margamu Ki, pasti keluar sesuatu

jika mencari "Ki".

Kau tahu namaku?

Aku jadi ingin memastikannya.

Mesin jual otomat.

- Kau tahu namaku? - Oh Mi-joo.

Hatiku jadi berdebar.

Sial. Kenapa aku jadi kesal?

Atlet nasional trek dan lapangan.

- Ki Seon-gyeom! - Nona Seo, makan ini.

- Tak perlu. - Ayolah.

Ada apa dengannya?

- Kau suka samgyeopsal? - Kenakan baju yang tebal.

- Tak terlalu dingin. - Kita makan-makan lagi nanti.

Ya.

- May, kau sedang apa di sini? - Halo, Mi-joo.

Kalian semua ada saat keributan di kafe itu.

Halo.

Sudah lama tak bertemu.

- Kau sendirian? - Tidak, aku bersama…

Ke mana dia?

Ji-hyun.

Jeong Ji-hyun.

"Jeong Ji-hyun"? Aku kenal nama ini.

Itu nama Pak Jeong.

Kau tak tahu karena selalu memanggil marganya.

- Begitu, ya. - Apa…

Ji-hyun?

Kenapa Pak Jeong ada di atas?

Begini…

Aku ingin kencan pertamaku

di tempat bermain yang ada perosotannya.

Setahuku kau tak punya jadwal ke sekitar sini hari ini, Bu Seo.

Dia atasanmu? Yang menelepon waktu itu?

Bos kejammu?

"Kejam"?

May, kapan pernah kukatakan itu?

Apa?

Nona Seo, aku akan…

Aku akan menjelaskannya.

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

Di saat itu,

aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Jika mengingat kejadian itu…

Jangan diingat.

Aku sangat terkejut karenamu di hari itu.

Ini yang disebut perjodohan alami.

Karena mereka bertemu secara alami?

Setidaknya ada yang romantis di antara kita.

Aku berniat kembali ke kantor, tapi dia mengikutiku.

Permisi.

Ini.

Namaku Jeong Ji-hyun.

Ya?

Maaf mengganggu. Apa…

Apa…

Apa…

Apa kau sudah punya pacar?

Apa?

Apa kau sudah menikah?

Apa?

Aku harus menanyakan ini terlebih dulu.

Apa kau menyukai pria?

Apa?

Waktu itu, kau memberitahuku bahwa kau aseksual.

Bukan berarti aku tak romantis.

Ruang lingkupku luas.

- Maksudnya, bukan berarti tak berkencan. - Rupanya begitu.

Aku mengatakan itu sebelum bertemu denganmu, Ji-hyun.

Ada banyak orang di sini. Aku jadi malu.

Aku tak akan mengganggumu di akhir pekan.

Privasimu harus kuhormati.

Kumohon begitu.

Dia tak bisa menolak karena terlalu baik.

Apa?

Citra apa yang dibuatnya?

Bukan urusanmu.

Jika kau menipuku lagi,

aku akan menggantungmu di atap.

Candaanmu terdengar seperti sungguhan.

Kau pikir aku bercanda?

Maksudmu, kau akan ke sini lagi?

Mungkin aku akan pindah ke sini.

Tak bisa di rumahku karena ada Seon-gyeom.

Sebenarnya,

aku mau memberikan ini.

Hidungmu akan memanjang jika terus berbohong.

Aku juga akan memberikan hadiah di saat ulang tahunmu yang sesungguhnya.

Aku mendukung impianmu yang hilang.

Kalau begitu, apa hadiah selanjutnya bola sepak?

Itu…

Tolong pura-pura tak tahu saat menerimanya.

Kau harus terkejut saat menerimanya.

Berjanjilah padaku.

Kenapa melihatku begitu?

Apa aku begitu cantik?

Ini pemandangan yang tak terduga.

Kau di bawah sorot lampu jalan.

Siapa kau menilaiku begitu?

Aku tak pernah membayangkannya.

Meski pernah membayangkannya,

apa pun yang kubayangkan…

tak akan mungkin seindah kenyataannya.

Aku senang karena jadi kenyataan.

Aku juga.

Aku…

punya tujuan baru.

Aku harus membantumu lagi?

Kau tak perlu melakukan apa pun.

Aku akan menjaga jarak

supaya bisa melihatmu di mana pun.

Jika terlalu jauh, tak terlihat.

Jika terlalu dekat,

penglihatanku akan terhalangi.

Aku harus membantumu.

Kenapa tak dijawab?

Jawablah.

Kau ada di mana?

Aku? Aku sedang kerja di rumah.

Kau tahu ada siapa di sini?

Codename Candy.

Cepat ke sini.

Astaga. Tolong tunggu sebentar saja.

Ini salahku yang tiba-tiba datang.

Apa aku boleh duduk?

Aku terlalu terkejut sampai lupa mempersilakanmu duduk.

- Silakan duduk di sini. - Baik.

Terima kasih untuk camilannya.

Jika kau bosan menunggu,

boleh minta tanganmu di poster?

Tentu saja. Seratus lembar pun boleh.

Terima kasih.

Kau datang seperti ini?

Aku tak sempat berias.

- Apa aneh? - Sangat mencurigakan.

Kau seperti habis dioperasi lasik kemarin.

Benar, atau bilang aku habis operasi mata?

Pilih mau pakai kacamata atau topi.

Tak bisa. Aku belum keramas.

Kau penggemarnya. Kau pasti terlihat cantik di matanya.

Cepat pergi.

Setelah aku ingat-ingat…

kau yang bilang "seputih susu," benar? Dari festival film saat itu.

Benar. Itu aku. Aku tak percaya ini.

Bukan main. Kau mengingatnya. Kulitmu sungguh seputih susu.

Aku sangat senang saat memikirkannya.

Aku jadi malu.

Kupikir kau akan membicarakan hal lain.

Aku sangat gugup.

Tak perlu gugup berbicara denganku.

Aku membuatmu gugup?

Ya. Itu juga.

Kupikir kau sudah tahu segalanya.

Aku sudah tahu.

Tae-ri bilang, berkat film Sutradara Han

dan terjemahanmu, dia bisa sering naik pesawat

dan menginjak karpet merah.

Choi Tae-ri sungguh berhati mulia.

Dia satu agensi denganku.

Aku lebih akrab dengannya daripada dengan keluargaku.

Rupanya begitu.

Kapan kau akan mengirimkan truk kopi?

Aku boleh mengirimkannya?

Tentu saja. Kau dan Seon-gyeom.

Karena Seon-gyeom penganggur, aku ragu dia bisa ikut patungan.

Seon-gyeom bukan penganggur.

Lantas?

Kau tak tahu?

Tidak.

Dia…

Aku terlalu gugup, jadi, lupa istilahnya.

Itu… Pekerjaan yang dilakukan Jerry Maguire.

Tunggu. Aku benar-benar lupa. Astaga.

Itu…

Aku ingat. Dia jadi agen.

Aku sungguh bodoh.

UNTUK OH MI-JOO SEHAT SELALU

Aku bisa melihat ini seharian.

Aku senang sekali.

Apa katanya?

Nona Yook Ji-woo tak memintamu putus dengan dia, bukan?

Tidak. Dia minta Candy diterjemahkan sebaik mungkin.

Katanya dia suka naik pesawat.

Kami hanya berbincang sebentar,

tapi sudah pasti mereka sungguh ibu dan anak.

Kau tak tahu?

Tidak.

Aku bisa merasakan aura Seon-gyeom saat berbicara dengan Ji-woo.

Efisiensimu pasti meningkat karena sudah bertemu Candy.

Tentu saja. Ayo bersulang.

Aku mendukung hubunganmu. Bersulang.

Sudah lama kau tak pacaran.

Aku tak pacaran.

Ji-hyun yang terus mengejarku.

Pak Jeong? Kenapa?

Kau tak tahu alasannya?

Tidak.

Kau masih tak tahu? Kita putus saja.

Tak mau.

Hentikan.

Sayang.

Berhenti bertingkah lucu.

Semuanya kabur.

Apa yang akan kau lakukan?

Aku tak tahu.

Aku senang tinggal di sini. Setidaknya mereka memberi kita makan.

Kau senang? Kita diperlakukan seperti gelandangan.

Kita memang gelandangan.

Benar.

Kau tahu cara membunuh orang?

Sepertinya dia membunuh banyak orang.

Nyawaku terancam, jadi, kubunuh sebelum mereka membunuhku.

Apa yang akan kalian lakukan sekarang?

Melakukan hal serupa di tempat serupa, atau mati kelaparan di jalanan.

Lagi pula, tak ada tempat yang menginginkan kami.

Kalau begitu, mau ikut denganku?

Aku akan memberikan semua hal

yang tak bisa kalian miliki.

- Contohnya? - Contohnya?

Itu…

Dia belum sempat memikirkannya.

- Penipu biasanya begitu. - Benar.

Karena ada dua orang,

aku akan menjadi ibu kalian.

Pasti akan ada sekuelnya.

Akhirnya menggantung.

Kau bergadang?

May, kurasa Codename Candy akan dibuatkan sekuel.

Ada anak-anak yang harus dijaga Candy di akhir cerita.

Kenapa kau membocorkannya? Mau kubunuh?

Maaf.

Sekuelnya harus menceritakan perjuangan Candy

menjaga semua yang berharga baginya.

Sekuelnya wajib dibuat.

Jangan beberkan film yang belum dirilis. Menyebalkan!

Maaf.

Kau sudah baca berita?

- Apa? - Kau pasti tak tahu.

SKANDAL PERSELINGKUHAN KI EUN-BI DAN ANGGOTA MAJELIS NO

- Astaga. - Benarkah ini?

Kurasa tidak. Seingatku pacar Eun-bi lebih muda daripadanya.

Komentarnya bukan main. Bagaimana ini?

Kenapa kau begitu peduli?

Ini masalah perusahaan Ji-hyun.

Bukankah Eun-bi atlet mereka?

Benar juga.

Kau amat perhatian.

Aku bahkan baru ingat bahwa dia kakaknya Seon-gyeom.

Terlebih lagi, karena kau menodai putraku,

putriku juga ikut tercoreng.

Jangan-jangan…

Pasti tak begitu.

Ji-hyun pasti akan lembur hari ini.

Aku harus membatalkan kencan kami.

Seon-gyeom, kau di mana?

Setelah selesai, kau bisa datang ke rumahku?

Baiklah. Dah.

Astaga.

Kuharap dia tak merasa sungkan padaku.

Eun-bi, ini aku Mi-joo.

Kau bisa datang ke rumahku kapan pun kau membutuhkan teman.

Biasanya lebih sulit cerita pada orang terdekat.

Baik. Aku akan menghubungimu lagi.

Sudah kubilang, kita harus menanyakannya pada Eun-bi.

Ya, Pak Jeong. Kau menemukan Eun-bi?

Dia tak ada di hotel.

Aku sedang menuju ke rumahnya.

Baiklah.

Untuk sekarang, bilang saja kita sedang mengecek fakta dengan Eun-bi.

Jika masih tak ada kabar,

kita keluarkan berita bantahan.

Aku akan melakukan ritual tahun ini.

Aku harus buang sial.

- Ya, Ibu. - Kau sudah lihat berita mengenai Eun-bi?

Berita apa?

Jangan tanya apa pun.

Hibur saja Eun-bi.

Ibu sedang syuting di luar kota.

Jika tak di luar kota, Ibu akan menemui Eun-bi?

Kau amat pandai membuat ibu merasa bersalah.

Meski di Seoul, tetap tak bisa menemui Eun-bi.

Ibu harus syuting film,

dan menghafal naskah berbahasa Inggris untuk audisi film Hollywood.

Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan.

Jadwal Ibu terlalu sibuk.

Apa ibu terlalu egois?

Eun-bi pasti sangat sedih,

tapi ibu tak bisa meninggalkan pekerjaan dan pergi menghiburnya.

Jika Ibu meninggalkan pekerjaan,

penggemar Ibu yang akan sedih.

PRESDIR SEO DAN-AH

Maaf. Aku sibuk mengatasi beberapa masalah.

Kau tak perlu mengkhawatirkannya.

Kau sibuk karena masalah Eun-bi?

Rupanya kau sudah tahu.

Kau tak perlu khawatir. Itu pekerjaan kami.

Bagaimana ini ? Nona Seo sedang berapat di luar.

Kurasa baru selesai sore.

Aku datang bukan untuk menemuinya.

Lantas, kenapa kau ada di sini?

Begitu selesai menyapa, kau menyuruhku ke sini.

Astaga. Aku tak menyadarinya.

Kupikir kau ke sini untuk menemui Nona Seo.

Kondisimu tak terlihat begitu baik. Kau tak apa-apa?

Masalah datang bertubi-tubi.

Kalau begitu, kenapa kemari?

Aku datang untuk melamar kerja.

Kurasa aku harus memberikan ini kepadamu secara langsung.

Dokumenmu cukup tebal.

- Surat lamaranmu pasti panjang. - Ya. Aku menulisnya dengan serius.

Aku akan memeriksanya.

Silakan kembali bekerja. Aku pamit.

Kuharap kita bisa bertemu lagi saat wawancara kerja.

Halo?

Tentu saja rumor itu tak benar.

Kau sudah lihat berita?

Aku melihatnya tadi.

Aku juga tak bisa menghubungi Eun-bi.

Mengenai foto yang pernah kubahas…

Sebenarnya, kakakmu yang memberitahuku.

Kau bertemu dengan Eun-bi?

Dia mendatangiku.

Dia menyuruhku untuk berhati-hati.

Sepertinya dia sangat menyukaimu.

Aku merasa terhormat.

Berdasarkan ucapannya kepadaku,

ayahmu mengawasi gerak-gerik semua anggota keluarga,

bahkan ada dokumen dirimu.

Apa benar begitu?

Bisa jadi begitu.

Aku tak tahu ini benar atau tidak.

Bisa jadi dia mengatakannya karena sedang emosi.

Namun, perkataannya di hari itu terus mengganggu pikiranku.

Sepertinya itu dia.

Siapa?

Kuharap kalian bisa berbicara tanpa diawasi.

Ryan tak menjawab teleponku.

Kau selalu bisa menemukannya.

Aku bukan takut dia kabur, tapi minta putus.

- Mau minum air lagi? - Ya.

Terima kasih sudah menghubungiku.

Aku tak tahu harus bicara dengan siapa. Aku tak punya teman.

Aku langsung ke sini begitu menerima pesanmu.

- Mau minum miras? - Aku tak minum miras.

Aku tak bisa mengendalikan diri jika minum miras.

Aku memang minum teh bersama anggota majelis itu.

Namun, itu karena sedang menunggu ayahku.

Apa aku juga bersalah?

Apa dia akan memercayaiku?

Aku tak bisa hidup tanpa dia.

- Kau hidup dengan baik tanpa dia. - Tidak.

Memangnya kau hidup dengan Ryan sejak berumur satu tahun?

Kau harus berterus terang padanya.

Dia pasti merasakan hal yang sama sepertimu.

Dia tak menjawab teleponku. Bagaimana bisa memberitahunya?

Kau bisa kirim pesan atau surel.

Itu tak terpikirkan.

Tak terpikir sama sekali.

Bagaimana jika pemilu Ayah terkena dampaknya?

Di saat seperti ini…

pikirkan keadaanmu sendiri.

Kita harus sedikit lebih egois.

Kau banyak berubah.

Lebih baik jika aku menemui Ayah dan menyangkalnya, bukan?

Astaga.

Mau kutemani?

Kau mau membuat suasana semakin keruh?

Terima kasih untuk airnya.

Jangan terlalu khawatir.

Kau bisa datang ke sini kapan pun.

Aku selalu ada di rumah.

Terima kasih.

Rumor itu tak benar.

Aku tak mungkin menyelingkuhi pacarku. Apalagi dengan pria beristri.

Tentu saja.

Jika Ayah saja tak percaya, bagaimana orang lain?

Kau beratus-ratus kali lebih terkenal daripada anggota majelis sialan itu.

Dia pasti memanfaatkan ini untuk tujuan pemilu.

Percayalah pada ayah. Ayah akan mengatasi semuanya.

Baik.

Benar. Aku harus pergi ke agensi.

Mereka pasti kewalahan.

Baiklah.

Kau harus fokus berlatih. Ini masa-masa penting bagimu.

Baiklah. Maafkan ayah.

Ini semua salah ayah.

Jangan bicara begitu.

Terima kasih sudah memercayaiku.

Eun-bi bisa dihubungi?

Kami sudah membuat pernyataan.

Kita harus membuat klarifikasi setelah keadaan tenang.

Beraninya mereka bilang atletku mata duitan.

Bagaimana bisa orang-orang mengatai Eun-bi seperti itu?

Kami menghimpun unggahan berbahaya. Kami akan lakukan segalanya

untuk memastikan mereka dihukum.

Eun-bi pasti sangat terguncang. Kita tunggu sampai besok.

Hubungi Seon-gyeom untuk berjaga-jaga.

Sebagai adiknya, dia pasti dapat menghubungi Eun-bi.

Aku juga akan coba mencarinya.

Baik.

Kuharap kau tak terlalu memaksakan diri.

Kau menyakiti diri sendiri.

Ini nasibku. Mau bagaimana lagi?

Tak peduli besar atau kecil,

aku harus melakukan yang terbaik untuk semua hal.

Haruskah aku mengurangi jadwal kerjamu?

Kau hampir tak tidur.

Katakan itu, jika aku punya waktu untuk tidur.

Adakalanya…

ini terasa sungguh melelahkan.

Aku harus selalu tersenyum.

Badanku sangat lelah.

Pukulan bagus.

Bagaimana bisa tahu aku di sini?

Meski kelelahan, kau pasti tetap berlatih.

Apa skandal itu benar?

Menurutmu?

Meski akhirnya terkuak, kami pernah menahan skandal ini sebelumnya.

Ayahku menyuruh untuk bersabar.

Dia pasti akan mengatasinya.

Agensi ada untuk mengatasi masalah.

Apa ayahmu adalah seorang agen?

Aku sudah cukup lega melihatmu baik-baik saja.

Jangan bilang

kau datang karena mencemaskanku?

Aku datang untuk main golf.

Eun-bi sama sekali tak mau mengalah.

Dia tega sekali pada orang biasa.

Kau yakin dia tak mengalah?

Apa?

Lukisanmu sudah selesai. Datanglah ke sini.

Kali ini, sungguh sudah selesai.

Rambutku berantakan karena memakai topi.

Apa aku tetap terlihat cantik?

Biar kubawakan alat penata rambutmu yang ada di mobil.

Jika dia berbohong lagi,

aku tak akan membiarkannya hidup.

Apa kubawa ini untuk berjaga-jaga?

Apa sakit dipukul dengan ini?

Apa itu? Kau bawa apa?

- Untuk berjaga-jaga. - Begitu, ya?

Akhirnya lukisan ini selesai.

Aku akan menunjukkannya.

Satu, dua,

tiga. Lihatlah.

Lukisannya…

berisik sekali.

Kau mendengar suara?

Apa teknologi sudah secanggih itu?

Kau tak bisa menyembunyikannya karena masih muda.

Mahasiswa sering merefleksikan

perasaan atau wataknya ke dalam lukisan secara gamblang.

Kau banyak bertemu mahasiswa?

Teorinya seperti itu.

Ini hanya teriakan, "Aku mencintaimu."

Aku mencintaimu, Nona Seo.

Benar. Aku menyelesaikan karya ini dengan perasaan itu.

"Karya"?

Bukankah biasanya disebut "lukisan"?

Aku ingin menyebutnya karya.

Kuakui baru bisa tahu apa layak dikatakan sebagai karya setelah mati.

Sebelum itu, masih disebut lukisan.

Aku penasaran dengan karyamu.

Kau tak akan menyempurnakannya dengan kematianku, bukan?

Kau harus berumur panjang. Jangan mengatakan hal konyol seperti itu.

Kau benar-benar keterlaluan.

Bagaimana bisa lukisan ini digantung di museum seni? Kau membuatku malu.

Terpaksa harus disimpan untuk koleksi pribadi.

- Aku jawab telepon dulu. - Ya.

Ya, Pak Jeong.

Apa?

Apa katamu?

Tunggu sebentar.

Sungguh?

Baiklah. Aku akan ke sana.

Ada apa?

Ada masalah di kantor?

Atau kau merasa pusing lagi?

- Nona Seo. - Ya?

Ada masalah di kantor.

Aku harus pergi.

Kau bisa menyetir sendiri?

Ya. Mau siapa lagi yang menyetir?

Masuklah. Di luar dingin.

Kau akan…

menghubungiku, bukan?

Tak semua orang sedih…

mendengar orang tuanya meninggal.

Tak semua orang tua…

mencintai anak tanpa pamrih.

Yeong-hwa.

Ya.

Kau harus berumur panjang.

Kebanyakan genius berumur pendek.

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.