Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.
Kumohon jangan ajari aku.
Ajari apa?
Cara untuk putus.
Kamu boleh ajari apa pun,
tapi kumohon jangan ajari itu.
Bisakah kau…
terus menyukaiku?
Kumohon.
Kumohon, Mi-joo.
Kenapa menangis? Kau membuatku sedih.
Maaf telah membuatmu sedih.
Aku tak percaya kau memohon.
Menangislah. Kau boleh menangis sesukamu.
EPISODE 14
Aku tak menghindarimu.
Aku mau memanggil Su-bin
karena kau sudah menunggu lama.
Aku terus mempermalukan diriku di depanmu.
Bagaimana kau bisa bersama Su-bin?
Su-bin pasti akan memberitahumu, tapi…
Rupanya begitu.
Kerjamu bagus.
Terkadang aku berharap,
ada orang seperti itu di sampingku.
Namun, itu artinya ada yang kurang dalam diriku.
Kurasa aku teringat masa kecilku
dan berharap ada yang orang yang membantu seperti yang Su-bin alami sekarang.
Kuakui mengancam merusak mobilnya bukanlah cara yang tepat.
Padahal kupikir aku sudah dewasa.
Setidaknya aku bisa menahan diri untuk tak melempar batu itu.
Kenapa kau salah paham dan menangis?
Aku takut kehilanganmu selamanya.
Bagaimana tanganmu? Tak apa-apa? Tak parah, bukan?
Ini…
Aku tak boleh minum miras selama seminggu.
- Itu gawat. - Benar, bukan?
Seteguk pun tak boleh?
Kurasa tak boleh.
Izinkanlah aku.
Kurasa tak boleh diizinkan.
Ini kali pertamaku, tapi…
Katanya pasangan memang bertengkar dan berbaikan seperti ini.
Meski canggung, itu hal wajar.
- Jadi, kita… - Kita sudah berbaikan.
Aku akan menyingkirkan semua penghalang
supaya tak ada yang ikut campur masalah kita.
Kau mau menghapus namamu dari kartu keluarga?
- Kurasa itu terlalu berlebihan. - Kenapa begitu?
Itu agak keterlaluan.
Kau tak boleh kecewa karena orang lain.
Kau tahu aku tak mudah kecewa.
Aku akan menemuimu setelah memastikan tak ada orang lain
yang bisa mempersulit hubungan kita.
Apa? Kita tak bisa bertemu sebelum itu?
Selama ini, kita memang jarang bertemu.
Itu karena…
aku cemas ada yang memotret.
"Memotret"?
Aku paham sekarang.
Apalagi jika begitu.
Percuma kita bertemu jika saling tak merasa nyaman.
Lantas, kenapa kau tak mampir untuk makan ramyeon?
Di rumah hanya akan ada kita berdua.
Mendadak begini?
Hal begini memang terjadi secara mendadak.
Aku sudah lama tak berbaring di kasur.
Apa Yeong-hwa membuatmu tidur di lantai?
- Cuaca dingin. Kau bisa sakit. - Aku tidur di sofa.
Seperti saat aku tinggal di sini.
Bisakah kau berhenti menjawab semua perkataanku?
Kau tak akan menjawabku?
Hei?
Katamu tadi aku jangan menjawab.
Kenapa kau langsung mematuhi perkataanku?
Yang benar saja.
Jika dipikirkan lagi,
aku tak pernah mengharapkan ada seseorang di sampingku sebelumnya.
Begitu, ya?
Aku berharap
kau ikut denganku, Mi-joo.
Siapa…
yang menurutmu akan hidup bersamaku selamanya?
Aku?
Bukan begitu maksudku. Lagi-lagi kau terlalu percaya diri.
Bukan itu, tapi diriku sendiri.
- Astaga. - Dirimu sendiri.
Aku tak mengerti karena kau tiba-tiba menanyakannya.
Jadi…
kita harus menjaga diri kita dengan baik,
dan memperbaikinya jika ada masalah.
Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri.
Aku tak ingin terlalu mencintai,
juga menyiksa diriku sendiri.
Menurutku, penting untuk menjaga keseimbangan itu.
Kuharap…
kau lebih mencintai dirimu sendiri.
Dengan begitu, kita bisa menjalani hubungan yang sehat.
Aku akan melakukannya.
Aku akan mencobanya.
Kau selalu bekerja keras.
Bagaimana…
jika kita berciuman
untuk mencairkan suasana?
Hampir lupa.
Kapan kita akan makan ramyeon?
Astaga.
Ada apa denganmu? Kau lapar?
Bukankah kau mengajakku makan ramyeon?
Astaga.
Aku lupa bahwa kau memang seperti ini.
ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MASUK
Apa akan diterima jika aku minta maaf?
Kurasa dia tak akan menerimanya.
Seharusnya aku menuruti perkataannya.
Aku bahkan tak sempat beri hadiah.
Nona Seo, aku sedang melukis dengan sungguh-sungguh.
Memang seharusnya begitu.
Kupikir tak akan dibalas.
Dilarang membicarakan hal lain selain lukisan untuk sementara waktu.
Lihatlah fotoku jika kau merindukanku.
Kau tak pulang semalam.
- Ya. - Di mana…
Seon-gyeom.
Baiklah.
Kau tak akan pulang lagi?
Di mana kau… Seon-gyeom!
Seon-gyeom juga enggan bicara padaku?
SAAT PEMANDANGAN KAMPUS TERLALU MEMBOSANKAN
Kita memang tak sempat berdiskusi mengenai lukisan waktu itu.
Namun, aku hanya dilarang membicarakan hal personal.
Baguslah.
Ya, ini Seo Dan-ah.
Aku tahu. Aku di depan mesin jual otomat. Mau minum apa?
Tidak.
Kalau begitu, boleh kupotret kau sekali?
Kau tak mau bahas lukisan, tapi aku butuh inspirasi.
Lakukan sesukamu.
Baiklah.
Kalau begitu, bersikaplah natural. Jangan menengok saat kupotret.
Kau merepotkan sekali.
Potretlah yang bagus.
Harusnya kuminta dia melihat kamera.
Ini hari ulang tahun palsu. Dia tak lahir hari ini.
Dan-ah lahir lebih dulu,
tapi ayahku melaporkan kelahirannya
setelah kakak laki-lakiku lahir.
Omong-omong, kenapa dia bisa tahu pesta ulang tahunnya?
Kenapa dia tahu Nona Seo pernah ke kampusku?
Apa karena dia mengikutiku?
Dia tahu hanya karena melihat ini?
Bukan main.
Aku beruntung karena Seo Tae-woong datang.
Aku memang bajingan gila. Tindakanku terlalu impulsif.
Ini harus dihapus.
Aku harus merenungkan kesalahanku di dalam. Di sini terlalu dingin.
Aku tak tahu kau punya janji temu hari ini.
Dia tak jawab teleponku, jadi, aku datang.
Begitu, ya. Anggota Majelis Ki sedang tak ada di tempat.
Kau mau meninggalkan pesan?
Tidak. Aku akan datang lain kali.
Astaga. Kenapa kau datang ke sini?
Maaf. Tolong beri kami privasi.
Ada yang ingin kubicarakan dengannya.
Terima kasih.
Kau terus menggangguku tanpa beri tahu lebih dulu.
Kenapa begitu? Kita ini suami istri.
Anak berandal itu terus bersikap kurang ajar.
Dia membuat keributan saat aku sedang bermain golf.
Itu pertemuan penting bagiku!
Rupanya putraku baik-baik saja. Dia bahkan bisa membuat keributan.
Kau datang untuk mengadu?
Bagaimana caramu mendidik anak?
Kau terlalu sibuk kerja.
Kapan kau akan selesai syuting film?
Jangan terlalu sibuk bekerja!
Mana mungkin kutolak tawaran yang datang?
Aku ingin melakukan semuanya.
Aku sibuk sampai akhir tahun.
Mulai sekarang, ada banyak acara yang harus kau hadiri.
Kita harus menyamakan jadwal kita.
Atur jadwalmu supaya tak bertabrakan dengan jadwal lain.
Kau tak tahu pekerjaanku?
Tak bisa diatur sesukaku.
Kau hanya seorang aktris.
Aku melakukan ini untuk menjadikanmu Ibu Negara!
Hidupku bukan milikmu.
Aku bersusah payah meraih posisi ini.
Aku bekerja keras untuk mempertahankannya.
Hidupku adalah milikku.
Sejak lahir, tak ada yang pernah mengatur hidupku.
Hanya kau yang memperlakukan hidupku seperti propertimu.
Apa kau tahu?
Kenapa hidupmu milikmu?
- Apa? - Kau sungguh tak bertanggung jawab.
Kenapa menikah denganku? Kenapa melahirkan anak-anak?
- Kenapa kita tak bercerai saja? - Dasar…
Hei, Yook Ji-woo.
Kau pikir perceraian bisa dilakukan sesukamu?
Lekaslah sadar, Ji-woo. Kumohon.
Aku ingin bekerja dengan baik.
Aku ingin lakukan hasil yang terbaik.
Aku sudah cukup baik,
tapi kali ini, ingin lebih baik lagi.
Semangat!
"Codename Candy."
Seorang mawar liar, pengedar narkoba.
Dia agen yang menyamar?
Kau mau?
Siapa kau?
Kau berharap aku menjadi siapa?
"Tak peduli siapa pun kau, aku mau mengikutimu.
Mohon bawa aku bersamamu."
Masuk.
Pendatang baru?
Berapa umurmu?
Kau bicara santai tanpa tahu berapa umurku?
Usiaku delapan tahun.
Usiaku tujuh tahun.
Kita bicara santai setelah tahu.
Para malaikat kecilku, saatnya membagikan makan.
Kau bertugas mengajari pendatang baru.
Aku sudah sibuk dengan pekerjaanku.
Aku harus langsung bekerja? Aku baru datang hari ini.
Para malaikat kecilku, patuh sajalah.
Hampir lupa.
- Dia pendatang baru? - Ya.
Beri salam. Mulai hari ini, dia bosmu.
Anthony.
Aku menemukannya hari ini.
Namanya Anthony.
Kau berani tertawa
di depan bosmu?
Baik. Aku tak akan tertawa.
Nama samaran, Anthony.
Itu nama aslinya.
An Son-hwi.
- Mi-joo, buka pintunya. - Apa itu?
Siapa itu?
Aku kedinginan. Cepat buka atau kudobrak.
Bu Seo, dilarang masuk ke rumahku.
Jangan bilang tak pernah ada berkata begitu.
Aku amat frustrasi sampai tak bisa tidur.
- Kau sibuk? - Ya. Aku harus mempelajari naskah.
"Codename Candy"?
Kau sungguh merepotkan. Masuklah.
Aku melarangnya menghubungiku secara personal,
dan dia malah mengabaikan teleponku.
Kau kesal karena dia mematuhi perkataanmu?
Padahal dulu dia selalu merepotkanku. Kenapa kini mengabaikan?
Kenapa kemari jika kau enggan mendengarkanku?
Aku jauh-jauh kemari, tak bisa pulang begitu saja.
Sepertinya dia tak ada di rumah.
- Kau menyeramkan. - Tenggat lukisan sudah dekat.
Apa dia menyendiri supaya bisa konsentrasi?
Ini sebabnya aku tak suka seniman.
Mereka pikir mereka paham seni.
Memang hanya Yeong-hwa yang belajar seni di antara kita.
Mungkin dia kabur karena masalah pesta ulang tahun.
Tak ada masalah.
Dia hanya kusuruh membersihkan kafe.
Bukan Yeong-hwa yang menyebabkan keributan itu.
Itu salah dia.
Aku sudah melarangnya, tapi dia tak mendengarkanku.
Jadi, tak boleh dilakukan jika kau melarangnya?
Sudah kubilang, aku boleh dan orang lain tidak.
Astaga.
Setelah kudengarkan,
kau juga menganggap Yeong-hwa sebagai benda milikmu.
Kau tak ada bedanya.
Dia memang milikku. Dia bilang ingin menjadi milikku.
Dia lebih payah daripada perkiraanku.
Yeong-hwa…
bukan sekadar benda.
Kau pasti selalu bersikap seperti ini.
Kau harus minta maaf dulu padanya.
Bagaimana caranya?
- Apa? - Minta maaf.
Aku tak pernah minta maaf selama hidupku.
Tak ada yang menyuruhku minta maaf.
Kau menyombongkan diri?
Kurasa kali terakhir aku minta maaf saat berusia tujuh tahun.
Aku merasa darahku mendidih.
Apa karena stres?
Tak sulit untuk mengetahui di mana dia berada.
Bagaimana jika aku menakutinya lagi?
Jangan ditakut-takuti.
Ya, Pak Jeong.
Kau sudah kirim lewat pesan? Baiklah.
Tolong masukkan alamat yang ada di ponselku ke navigasi.
Cepat. Kami masuk ke jalan tol sebentar lagi.
Apa-apaan ini?
Kau masih pengar, ya?
Kita bisa mampir ke area istirahat.
Bukan itu maksudku.
Kau memandikan, memakaikan baju, dan menaikkanku ke mobil saat aku tidur?
Ya. Kenapa? Kau tak melawan.
Kupikir itu karena kau berbaik hati.
Kau sungguh menyeramkan.
Aku cemas dia akan ketakutan jika aku datang sendiri.
Bagaimana dengan pekerjaanku?
Kubawa laptop dan naskah yang kau baca kemarin.
Hei!
Apa…
Ada apa ini?
Bagaimana denganmu? Beraninya kau kabur.
Apa? Aku?
Jika kau kabur, aku harus mematahkan kakimu
karena tanganmu untuk melukis.
Kau perhatian sekali.
Yeong-hwa, dia bilang akan mematahkan kakimu.
Lepaskan.
Di sini?
Pelindung wajah. Wajahmu terhalang.
Baik.
Aku langsung ke sini setelah mendengar ibuku terluka.
Ibuku disengat lebah.
Omong-omong,
bagaimana kau bisa tahu aku di sini?
Bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?
Kau sungguh menyeramkan.
- Kau baru sadar? - Sudah kuduga kau takut.
Itu sebabnya aku datang bersama Mi-joo.
Tetap saja menyeramkan.
Bukankah perjalanan kemari itu membuang waktumu.
Kenapa kau datang ke sini?
Kau ke sini karena merasa bersalah, bukan?
Dia yang bersalah.
Kau tak bisa dihubungi. Apa-apaan ini?
Tunggu sebentar.
Yeong-hwa, cepat kemari!
Ya, Ayah. Aku akan segera ke sana.
Baik.
Aku harus ke peternakan lebah.
Tak apa-apa.
Aku akan menunggumu bersama Mi-joo.
Aku tak mau menunggu.
Jangan ganggu aku bekerja. Kalian bisa habiskan waktu berdua.
Kau boleh ganggu percintaanku, tapi tidak pekerjaanku. Kubunuh kau.
Aku tak pernah diancam.
Lagi-lagi tak pernah. Aku muak.
Kenapa membawaku ke sini?
Karena aku butuh alasan.
Alasan apa?
Kemungkinan ada yang mengikutiku.
Orang-orang di levelku melakukan hal seperti itu.
Aku tak tahu harus menjawab apa jika ditanya soal berpacaran
dengan mahasiswa.
Kau tahu itu memalukan dan tetap berpacaran?
Kau memang cerdik.
Hidupmu sungguh…
Aku terus bersimpati padamu. Menyebalkan.
Kapan kita akan pulang? Kita pulang hari ini, bukan?
Jika tidak, tidur di mana?
Proposal jelek ini harus disingkirkan.
Jangan membuatku kesal. Ada rencana, bukan?
Mi-joo! Nona Seo!
Halo, Yeong-hwa.
Beri tahu jika sudah pasti.
Jika tidak, aku akan jalan kaki ke Seoul.
Cepat pergi.
Kau yang pertama mengusir…
Diam. Cepat pergi.
Empat tahun lalu, kami menawarkanmu pindah ke tim kami.
Tak disangka bisa bertemu lagi.
Aku ingat.
Karena itu aku ke sini hari ini.
Rekor Atlet Kim Woo-sik cukup bagus.
Masalahnya adalah masa depannya.
Dia mencari tim karena uang?
Aku tahu atlet tanpa rekor selama dua tahun
tak akan ada biaya perekrutan.
Jika kau lihat data pengukuran badan terbarunya…
Lihatlah ini.
Dia bisa kembali pulih seperti dulu.
Ya.
Aku tak akan berbasa-basi.
Salah satu atlet kami pun bermasalah.
Maksudmu, kau butuh kisah atlet lain untuk menutup masalah tersebut?
Juga menambah kekurangan atlet untuk sementara waktu.
Kontroversi lebih cepat diatasi dengan kontroversi.
Jika tujuanmu uang, kami memberikan gaji cukup besar.
Dari sisi lain, ini bisa menguntungkan citra tim.
Kau satu-satunya tim yang bersedia menerima Kim Woo-sik.
Kami akan lebih dikenal sebagai tim yang menerima pelapor.
Sulit untuk melepaskan label yang menempel erat.
Apa kau mengingatku…
sebagai atlet yang lakukan kekerasan?
Tidak. Bukan itu maksudku.
Tak perlu dianggap serius. Aku hanya bertanya.
Aku mengingatmu sebagai pemegang medali perak.
Kau sudah lama menjadi peraih medal.
Kim Woo-sik pun akan diingat seperti itu.
Pelapor hanya bermasalah bagi internal antartim.
Di luar tim, Kim Woo-sik dianggap sebagai korban.
Korban yang dikeluarkan dari tim.
Meski dia diterima hanya untuk menambah jumlah atlet,
aku tak keberatan.
Dia bisa membuktikan kemampuannya melalui rekor dan hasil kompetisi.
Baiklah. Aku akan membicarakannya dengan atasanku.
Terima kasih sudah meluangkan waktu.
Kudengar Anggota Majelis Ki membuat tim lokal.
Tak kau tawarkan ke sana?
Aku ragu dia akan menerima Woo-sik.
Dia pria yang sangat kekeluargaan.
Dia tak pernah lupa bahwa dia mantan atlet.
Dia bahkan sering membantu atlet yang kesulitan.
Aku pamit.
Baik.
- Hati-hati. - Terima kasih.
- Halo, Woo-sik. - Bagaimana dengan pertemuannya?
Pertemuannya berjalan lancar. Mari tunggu respons.
Kita bisa mempertimbangkan tawaran yang ada secara perlahan.
Baik. Kapan kau akan ke sini?
Masih ada satu pertemuan lagi. Aku ke sana setelah selesai.
Baik. Santai saja.
Harus cepat supaya bisa berlatih.
Itu…
Hati-hati di jalan.
Sampai jumpa nanti.
Tolong dibuat lebih jelas.
Ya.
Tolong kirimkan dokumennya lewat surel.
Maaf mengganggu. Kau pasti sibuk.
Aku juga sedang sibuk. Aku tak akan basa-basi.
Tak perlu sungkan.
Mau minum teh?
Tak perlu.
Setelah kupikirkan dari sudut pandang ibu yang membesarkan dua anak,
kurasa kau perlu tahu.
Eun-bi terkena yips.
YIPS, KEHILANGAN KEMAMPUAN MENDADAK PADA ATLET PROFESIONAL
- Benarkah? - Dia menangis,
dan terlihat mengalami banyak tekanan.
Jadi, akan kutanyakan…
kenapa tak bergabung ke agensi kami?
- Aku bukan atlet lagi. - Bukan sebagai atlet, tapi agen.
Perusahaan kami sudah berumur dua tahun.
Kami butuh penanggung jawab atlet.
Aku jadi sedikit terburu-buru setelah melihat keadaan Eun-bi.
Aku ingin kau yang melakukannya.
Perusahaan kami terus berkembang dan merekrut staf baru.
Ini tiba-tiba sekali.
Namun, kau tak terkejut atau merasa muak?
Jika tidak, aku ingin kita bekerja sama.
Bakat alamimu itu harus dimanfaatkan.
Kau tak harus menjawabnya sekarang.
Tolong pikirkan saja baik-baik.
Baik.
Dulu di sana ada swalayan, tapi sekarang sudah tak ada.
Dan rumah itu adalah…
rumah yang dulu ditinggali Ye-jun. Maksudku, Bu Dong.
Aku tinggal di rumah tadi sejak lahir.
Kau tumbuh besar di lingkungan yang cantik dan santai.
Itu alasan aku setampan ini.
Mulutmu juga sangat santai.
Aku sudah dengar dari Seo Tae-woong. Hari itu bukan ulang tahunmu.
Maaf sudah sok tahu.
Ya.
Kumaafkan.
Kapan ulang tahun aslimu? Aku akan beri kejutan di hari itu.
- Kau tak jadi kumaafkan. - Aku tak bisa mengalah kali ini.
Memangnya kau pernah mengalah?
Baik, tak ada pesta. Kita rayakan sendiri diam-diam.
Setuju?
Aku kehabisan kata-kata jika kau langsung mengalah begini.
Ulang tahunku yang sesungguhnya masih lama.
Tak masalah.
Harinya akan makin mendekat.
Seperti jarak kita sekarang.
Aku harus tidur di mana malam ini?
Apa maksudmu?
Kira-kira apa maksudku?
Maksudnya, kau tak punya tempat untuk tidur?
Haruskah aku menyewa kamar?
Astaga…
Kenapa kau tak cari tempat menginap sebelum ke sini?
Kau membuatku gila!
Apa?
Tak ada waktu untuk mencarinya.
Tolong carikan tempat menginap.
Apa?
Kau sedang bercanda?
Ya. Kau tak perlu menggila.
Biarkan aku menggila.
Aku ingin merasakan ini lebih lama.
Sudah cari tahu?
Dia di rumah seorang wanita?
Siapa wanita itu?
Dia cantik?
Bagaimana mereka terlihat?
Mencurigakan?
Baiklah. Terus awasi dia.
Ya.
Ayah!
Kau sibuk. Kenapa kemari?
Jangan bicara seperti itu.
Keluarga jauh lebih penting.
Belakangan ini…
kesehatan Ayah memburuk?
Ayah jadi sering sakit.
Ayah tak mungkin mati.
Meski begitu, Ayah harus melihat Dan-ah menikah dulu.
Jangan bergurau.
Ayah serius.
Astaga.
Ayah harus berumur panjang.
Ayah!
Anak bungsu ayah datang meski sibuk.
Aku mengosongkan jadwalku hari ini.
Aku akan menemani Ayah.
Ayah pasti kesepian jika sendiri.
Baiklah. Ayah bisa kesepian.
Kau baik sekali.
BANGSAL VIP
Apa Dan-ah juga tahu?
Pak?
Untuk apa dia tahu?
Lebih baik dia tak tahu.
Kenapa tak boleh tahu?
Pak?
Apa kau tak mengerti bahasa Korea?
Lupakan.
Kudengar dia pacaran dengan anak muda belakangan ini.
- Kau tahu, bukan? - Tidak, Pak.
Aku tak tahu.
Pak.
Pilih salah satu! Mau bicara dengan sopan atau santai.
Kau suruh aku bicara dengan sopan,
Pak.
Astaga.
Jaga Ayah dengan benar.
Aku harus kembali kerja.
Acara lari amal sungguh menyebalkan.
Seharusnya diselesaikan sebelum dioper padaku.
Dia malah menambah pekerjaan.
Hampir lupa.
Meski tak pintar,
kuyakin kau tahu dengan jelas.
Menurutmu, siapa yang memiliki sahammu?
Aku?
Soal itu…
Saat kau mengeklaimnya,
fakta bahwa kau anak haram akan langsung terungkap.
Bukankah kau suka menjadi bintang idola?
Aku tak mau merusak masa depan adikku.
Lagi pula, itu bukan urusanku.
Aku tak akan melakukan apa pun.
Di sini…
Ingat baik-baik milik siapa saham itu.
Mengerti?
Baiklah.
Aku berusaha keras untuk menyewa ini.
Kau tak boleh mengeluh.
Tak perlu khawatir.
Aku bisa menyerangmu, tapi kau tak boleh menyerangku.
Untuk apa kulakukan itu?
Kau tak boleh menyerangku. Ada Mi-joo di lantai atas.
- Kita akan tidur bersama? - Ya, bersama.
Ya. Ibu, izinkanlah aku.
Sekali ini saja. Ya?
Izinkan aku tidur di rumah temanku.
Temanku bukan hanya Ye-jun.
Ibu tak perlu membayarku untuk pekerjaan hari ini.
Aku hanya bisa melakukannya hari ini.
Tolong izinkan aku sekali ini saja.
Aku tahu dia gila,
tapi tak segila ini.
Dia membuatku merinding.
Kuharap kau bisa mencari udara segar selagi di sana.
Aku harus bekerja.
Cuacanya terlalu dingin untuk jalan-jalan sendiri.
Aku merindukanmu.
Aku juga. Mau bagaimana lagi?
Aku sangat merindukanmu.
Apa yang harus kulakukan?
Kenapa masih tanya?
Kirimkan swafotomu jika tak bisa kemari.
- Begitu? - Cepat kirimkan padaku.
Apa ini?
Siapa ini?
Cantik, bukan? Gunakan fotoku sebagai contoh dan foto ulang.
Wajahmu harus terlihat jelas.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
"Bahkan jika kesepian dan sedih…"
"Aku tak akan menangis."
Rupanya kau selamat, Candy.
Bagaimana situasinya?
Tak begitu bagus. Kurasa Anthony menyadarinya.
Dia sangat peka.
Kita dalam masalah.
Terius, kau berkeringat padahal cuaca dingin?
Hiperhidrosis?
Aku belum pernah merencanakan hal seperti ini.
- Aku gugup. - Rupanya begitu.
Itu disebut hiperhidrosis.
Mengenai tawaran iklan Eun-bi.
Tolak iklan kosmetik dan perhiasan.
- Kecuali kita terima rancangan baru… - Hanya berdua?
Aku tahu ini hari liburmu.
Aku benar-benar menggila.
Kau sedang berkencan? Lantas?
Kau mau berhenti bekerja?
Jangan konyol. Dah.
- Nona Seo. - Aku sibuk.
Ayo keluar dan jalan-jalan sebentar.
Aku lelah melihatmu terus bekerja.
Jangan dilihat.
Pantai di dekat sini sangat indah.
Ketampananmu kalah?
Tidak juga.
Akhirnya kau melihatku.
Sebentar lagi telingamu akan terangkat seperti anjing.
Aku mau jalan-jalan. Guk.
Sudah lama tak ke pantai.
Jika aku melukis isi hatiku,
apa yang akan terjadi pada kita?
Lukisanmu akan selesai.
Jika itu terjadi,
apa kau bisa memberikan apa yang ada di dalammu?
Apa yang ada di dalamku?
Perasaanmu.
Itu tak berbentuk dan tak berguna.
Lagi pula, tak bisa dikeluarkan. Kenapa menginginkannya?
Baiklah.
Biar aku yang mengambil hatimu.
Bagaimana caranya?
Kurasa aku tahu tempat untuk hatimu.
Aku sendiri tak tahu. Bagaimana kau tahu?
Kau terus meluangkan waktumu untukku.
Itu karena kau…
tak bisa mengendalikan perasaanmu.
Perasaan memang begitu.
Yeong-hwa.
Aku sudah mewujudkan tujuanmu.
Apa mimpimu?
Tak berpisah denganmu.
Aku akan mewujudkan mimpi itu.
Kau harus membantuku mewujudkannya.
Kau tidur?
Akan kuterkam kau.
Dia benar-benar tidur.
Kenapa kau tak tidur?
Aku tak mau menyia-nyiakan waktu ini.
Tidurlah, Sayang
Di puncak pohon
Tempat angin berembus
Buaian akan terayun
Hati-hati di jalan.
Kau tak ikut?
Bagaimana dengan kuliahmu?
Tidakkah terlambat untuk menanyakannya?
Benar. Untuk apa ke kampus di akhir pekan?
Dia tak ke sini selama akhir pekan.
Aku kemari hari Jumat. Tak ada mata kuliah.
Aku akan kembali besok. Harus kuliah dan jadi sukarelawan.
- Sampai bertemu nanti. - Kau mendaftarkan diri?
Baiklah.
- Ada apa ini? - Kenapa?
Kau cemburu?
Berikan sehelai rambutmu.
Aku tak mau yang ada di bahumu.
- Itu aneh sekali. - Untuk apa?
Siapa tahu kita berhubungan darah.
Itu terlalu tragis.
Aku akan melakukan tes DNA.
Anggota Majelis Ki tak ada di tempat.
Kapan bisa kutemui? Saat itu pun dia tak ada.
Ada yang ingin kubicarakan.
Dia tak bisa ditemui untuk sementara waktu.
Dia tak ingin melihatmu.
Aku akan kemari lain kali.
Seon-gyeom.
Minta maaflah sekali saja.
Bersama wanita itu. Sekali saja.
Situasi ini…
terjadi karena kami menolak bertekuk lutut. Begitu?
Jika melakukannya, dia pasti akan membiarkan kalian untuk saat ini.
Namun, kalian tak melakukannya.
Ini ulah kalian sendiri.
SAAT LAPAR, DOR
TOLONG BERI TAHU AKU FILM YANG MEMBUAT MENGANTUK
Bisa tolong beri tahu aku film yang membuatku mengantuk?
Bukankah seharusnya kau menanyakan keberadaanku?
Aku disandera sejak kemarin.
Bu Seo memang suka menyandera.
Apa ini?
Kau kirim pesan untuk memihak dia?
Aku tak mau beri tahu film yang membuatmu tidur.
Aku akan mencoba tidur sendiri.
Sampai jumpa di mimpimu.
Itu mimpimu, lakukan sesukamu. Menyebalkan.
HASIL TES DNA
KECOCOKAN DNA: 0,001
Bagus.
Setidaknya kami tak berkerabat.
ANAK HARAM IDOLA
ATOZ
JADAH 2
Bisakah tak meneleponku?
Ada berita mengenaiku,
"Seorang anggota grup idola adalah anak haram seorang konglomerat."
Maksudmu, ini…
Kenapa terjadi saat Pimpinan sedang perjalanan bisnis?
Namun, orang lain yang dicurigai.
Mungkin kasusnya sama denganku.
Baik. Biar aku urus.
Masuklah.
- Berita di internet… - Aku sudah tahu.
Apa isi beritanya? Hanya cerita mengenai Tae-woong?
Isinya hanya spekulasi. Tak ada pembahasan mengenai Pak Seo.
Hanya aku yang gelisah, ya?
Jika terungkap bahwa semua anak Pimpinan terlahir dari ibu yang berbeda,
citra Seomyung akan rusak.
Jika Seomyung diwarisi padaku, aku yang harus menanggungnya.
Minta kantor pusat siapkan siaran pers untuk jaga-jaga.
Cukup satu orang yang terungkap.
Padahal dia suka menjadi idola.
Apa? Kau harus menyiapkan rapat sore.
Baik.
Apa harus begini?
Ya. Sampai kau masuk kuliah.
Bukankah Ibu sibuk? Lagi pula, ruang olahraga masih tutup.
Ini semua karena ulahmu.
Bukannya belajar, malah bertinju.
Dan kenapa harus tinju?
Ibu pasti melarangku melakukan olahraga apa pun.
- Lakukan nanti setelah masuk kuliah. - Aku maunya sekarang.
Ibu pasti bilang nanti dan nanti terus.
Ibu menolong orang lain berolahraga, tapi aku tidak?
Itu namanya standar ganda.
Kau tahu apa artinya standar ganda?
Artinya aku harus memilih standarku.
Ini alasan ibu menyuruhmu belajar.
Cepat naik. Kita terlambat.
Aku kaget saat melihatnya.
Jadi, mereka mau membuat skandal perselingkuhan dengan foto ini?
Mereka berjanji akan merahasiakannya sampai kita memeriksa kebenarannya.
Bagaimana ini?
Kita tak bisa tanya langsung kepada orangnya.
Kenapa tak bisa? Biar aku yang tanya.
Tak boleh!
Pertemanan kita berakhir jika kau melakukannya.
Kita memang tak berteman.
Keadaan Eun-bi tak begitu baik belakangan ini. Jangan tanya.
Aku tanya Seon-gyeom.
Apa kau senang jika aku menanyakan skandal kakakmu kepadamu?
Aku tak peduli siapa pun yang ditemui Myeong-min.
Apa ini alasan Eun-bi marah waktu itu?
Rumor anak haram, perselingkuhan, dan atlet yang lakukan kekerasan.
Apa harus lakukan ritual pengusiran?
- Ide bagus. - Kurasa itu bukan ide bagus.
Pak Jeong, carikan perusahaan yang bisa mengadakan ritual.
Apa Seon-gyeom sudah menyingkirkan penghalang?
Dia tak akan dipukul, bukan?
Dia tak mungkin dipukul.
Kapan kau akan mengirim swafotomu?
Apa bisa kulihat secara langsung besok?
Apa bisa bertemu?
Larilah dengan baik besok. Aku juga akan lari dengan baik.
Semangat, Mi-joo.
Ya, Pak.
Anggota Majelis Ki mau bertemu besok.
Besok?
Pukul berapa?
Aku harus mendampingi tim trek dan lapangan besok siang.
Ada yang akan menggantikanmu.
Mungkin tak ada kesempatan selain besok.
ACARA LARI MARATON AMAL SEOMYUNG
Kau ikut lari juga?
Aku senang karena acaranya dimulai siang hari.
Waktunya ditentukan dengan sangat baik.
Kau sedih karena tak bisa lari bersama Seon-gyeom?
Sudah kubilang, aku ikut acara ini bukan karena Seon-gyeom.
Dia bukan atletmu lagi, jadi, jangan sok akrab.
Mau dengar lagu? Kau terlihat santai sekali.
Ada orang yang ikut berlari denganku.
Kau lari sambil menelepon dia?
- Benar-benar aneh. - Halo, Nona Seo.
- Halo. - Hai.
- Sampai jumpa nanti. - Ya.
- Katanya kau terus mencari ayah? - Ya.
Ada yang ingin kubicarakan.
Pak Seo Myeong-pil akan datang untuk minum teh.
Aku akan pergi sebelum dia datang.
Tetap di sini sampai dia datang.
Waktu itu, kau menggali kuburmu sendiri
karena Kim Woo-sik, bukan?
- Kenapa kau tak berlari? - Karena tak bisa.
Aku melakukan kekerasan…
pada juniorku.
Apa itu begitu penting?
Tentu saja.
Karena kau menolong orang yang sudah merusak hidupmu.
Awalnya mau dibiarkan, tapi tak bisa.
Ayah akan merekrut Kim Woo-sik ke tim trek dan lapangan
milik Ayah dengan ketentuan yang jauh lebih bagus daripada tim lain.
Kau juga harus bergabung sebagai agen.
Bukankah itu yang kau lakukan sekarang?
Kenapa Ayah menawarkan itu?
Dia harus sukses karena dilatih oleh putraku.
Tak mungkin cuma-cuma, bukan?
Minta maaflah pada Pak Seo Myeong-pil.
Hanya itu.
Ayah bisa menjanjikan itu?
Titik poin kilometer kedua!
- Mi-joo. Di mana Seon-gyeom? - Apa?
Entahlah. Mungkin ada di depan.
- Mau minum air? - Tidak.
ACARA LARI MARATON AMAL SEOMYUNG
Mi-joo, kau baru sampai sini?
Kau lihat tak banyak orang di sini.
Artinya kau berada di peringkat bawah. Semangat.
Hampir sampai. Ambil ini.
Semangat. Ambil ini
- Terima kasih. - Semangat.
Ayo. Sisa sedikit lagi.
Semangat.
Semangat.
Nona Seo!
Bagaimana dia bisa tahu aku di sini?
Aku sudah tak kaget lagi.
Apa? Nona Seo…
Nona Seo, kau tak apa-apa?
Nona Seo!
Jangan digoyangkan. Kepalaku pusing.
Apa aku…
Kau ambruk. Aku harus menelepon 119.
- Aku harus menelepon 119. - Jangan.
- Aku… - Kalau begitu, kita ke stan medis.
- Biar kugendong. - Mukaku.
- Apa? - Tutupi mukaku.
Mukamu? Astaga. Pegang leherku.
Tak ada yang lihat, bukan?
Ponselku?
Kau tak mau diinfus dan ke rumah sakit.
Kau malah mencari ponselmu.
Ini hanya takikardia.
Hei.
Benar begitu?
Aku tak boleh asal diinfus.
Di mana ponselku? Aku harus menghubungi Pak Jeong…
Biar aku yang menghubunginya. Berbaringlah.
Jangan beri tahu siapa pun.
- Jika aku dipermalukan… - Kenapa malu?
Kau hanya sakit. Tak perlu malu.
Kau hanya perlu istirahat jika sakit.
Diam. Kau berisik.
Suaraku tak begitu lantang.
- Keluarlah. - Tak mau.
Pak Jeong, Nona Seo ambruk.
Ya. Kami ada di stan medis.
Hidup seperti apa yang sedang kau jalani?
Hari itu sungguh sangat sulit dilupakan.
Maafkan aku karena tak sopan hari itu.
Pria harus memiliki keberanian sebesar itu.
Kudengar kau sedang melatih atlet.
Dia juniorku di tim nasional.
Meski masih dalam proses pemulihan karena cedera, dia sangat menjanjikan.
Jika tim sudah terbentuk, dia akan bergabung bersama Seon-gyeom.
Aku senang melihat hubungan kalian akrab.
Pekerjaan yang dilakukan Seon-gyeom dan Nona Seo serupa.
Sepertinya ini takdir.
Agensi hanya sampingan bagi Dan-ah.
Meski begitu, Nona Seo melakukannya dengan sangat baik.
Kuakui sayang jika dibuang begitu saja.
Setelah menikah, Dan-ah pindah ke kantor pusat,
dan Seon-gyeom bisa meneruskan agensi Dan-ah.
Dia pasti akan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
- Hati-hati di jalan. - Baik.
Bukankah hanya perlu minta maaf?
Ayah tak menyuruhmu hal lain.
Kenapa membahas pernikahan?
Kau bisa pacaran dengan siapa pun.
Ayah tak punya waktu untuk memperhatikan hal lain.
Maksud Ayah, jika menikah, aku bisa pacaran dengan siapa pun?
Lari harus jadi satu hal tak berguna dalam hidupmu.
Jangan sia-siakan kesempatan. Jika melewati kesempatan ini,
kau tak bisa menikah dengan Nona Seo.
- Ayah… - Kau pikir akan mencintai dia selamanya?
Hubungan kalian pasti akan berakhir. Ayah sudah memberimu waktu.
Ayah. Kumohon hentikan semua ini.
Kurasa Kim Woo-sik harus berlatih sendiri tanpa tim.
Perlahan dia akan menghilang berkatmu.
Ayah sudah terlalu sering mengalah. Ini kesempatan terakhirmu.
Pilih cinta dan mengorbankan segalanya,
atau berpisah dan mempertahankan semuanya.
Astaga.
Aku ingin berhenti. Aku tak kuat lagi.
Kau melakukannya dengan cukup baik.
Kau bisa maju selangkah lagi.
Berlarilah.
Lupakan semuanya dan fokus berlari.
Kau berlari dengan baik waktu itu.
Apa karena kau dirampok saat itu?
Saat berlari, menjaga kecepatan adalah yang paling penting.
Kau bisa lari perlahan jika lelah.
Jangan menyerah. Karena sudah dewasa, kau pasti bisa melakukannya.
Pesan satu botol soju lagi.
Tolong satu gelas bir.
Baik.
- Tolong satu botol soju. - Baik.
Saat berlari, ayunan tangan adalah yang paling penting.
Empaskan tangan ke belakang untuk menjaga momentum.
Itu akan memudahkannya.
Lemaskan pundakmu.
- Aku mau bayar. - Ya.
Maaf.
- Apa kau perlu tas? - Ya.
Apa yang terjadi? Coba katakan.
Kenapa memukulinya begitu?
Bersyukurlah orang tuanya memaafkanmu.
Jika tidak, kau bisa dikeluarkan dari sekolah!
Kenapa kau melakukannya?
Apa alasannya?
Kekerasan dilarang di sekolah!
Aku senang bisa berlari bersamamu.
Jika dipikirkan lagi,
aku tak pernah mengharapkan ada seseorang di sampingku sebelumnya.
Begitu, ya?
Aku berharap
kau ikut denganku, Mi-joo.
Kau berlari dengan baik waktu itu.
Apa karena kau dirampok saat itu?
Tidak.
Aku berlari agar tak dirampok.
ACARA LARI MARATON AMAL SEOMYUNG
Aku berlari sampai akhir.
Aku tak sangka bisa berlari sampai akhir.
Senang sekali.
Aku juga.
Acaranya sudah selesai?
Ya.
Bagaimana denganmu? Kau menyelesaikannya dengan cepat?
Astaga.
Para panitia sungguh kejam.
Seharusnya mereka menungguku.
Aku menunggumu.
Aku menunggu
sampai bisa melihatmu.
Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Ini kali pertamaku mencoba perut babi.
- Kali ini, kurestui, Nona Seo. - "Seputih susu," benar?
Dari festival film saat itu.
Nona Yook Ji-woo tak memintamu putus dengan dia, bukan?
Katanya aku bebas memacari siapa pun asalkan menikah denganmu.
Kenapa hanya aku yang tak tahu?
Kenapa kita bertiga tak menikah saja? Itu lebih mudah.
Bukan main.
Aku tak memahami pemikiran mereka.
Haruskah kita berlutut di hadapannya dan memohon?
Kenapa? Kau tak bersalah.
Astaga, kau membuatku malu.
- Benarkah ini? - Astaga.
Beraninya mereka bilang atletku mata duitan.
Kami menghimpun unggahan berbahaya. Kami akan lakukan segalanya
- untuk memastikan mereka dihukum. - May.
Ini hanya teriakan, "Aku mencintaimu."
Aku mencintaimu, Nona Seo.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.