All language subtitles for Run on ep 13 NEXT

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN

DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF.

Aku tak mau begitu.

Apa?

Kecewa.

Lagi pula, ini bukan salahmu.

Aku tak ingin menghujat keluargamu.

Aku hanya…

Hanya…

Apa yang salah denganku?

Padahal aku hidup dengan baik.

Apa kekuranganku?

Diriku adalah…

yang paling berharga bagiku.

Jadi, aku ingin menyerah.

Katamu, aku boleh

melakukan kesalahan.

Kuharap…

orang lain tak ikut campur masalah kita berdua.

Kitalah yang harus menyelesaikannya.

Karena itu masalah kita.

Namun, aku harus mengalah untuk mengatasi masalah di luar hubungan kita,

dan aku enggan mengalah.

Selama ini, aku selalu memutus hubungan

jika hubungan itu bermasalah.

Aku terbiasa kabur dari masalah.

Karena aku enggan terluka.

Itu sebabnya aku tak mau menemuimu.

Aku tahu akan berkata begini karena perasaanku ini.

Kau mau kita putus?

Aku sungguh pengecut, ya?

Karena memaksamu mengatakannya.

Jadi, kau ingin kita putus.

Sopankah ini?

Meski kau pengecut,

tak seharusnya membuatku mengatakannya.

Kesalahanmu hari ini hanyalah membuatku

mengatakannya lebih dahulu.

Kau bisa mengabaikannya.

Kita bisa sementara menjaga jarak.

Setidaknya kau bisa lakukan itu.

Kurasa aku berhak diperlakukan begitu.

Benar, 'kan?

Ya, kau berhak.

Baik.

Baiklah.

Cukup untuk hari ini. Aku pamit.

EPISODE 13

Kurasa ayahku tahu kalian bergandengan tangan.

Saat melihatnya, aku takut dia punya dokumen terpisah mengenaiku.

Aku langsung mencarinya,

tapi tak menemukan apa pun.

Karena kau putrinya.

Seon-gyeom putranya.

Sebenarnya, ada pria yang kucintai.

Dia juga mendapat perlakuan buruk dari ayahku tanpa sepengetahuanku.

Bagaimana dia mengatasinya?

Dia selalu melarikan diri, dan aku selalu mengejarnya.

Aku berhenti menghitung setelah lewat dari lima kali.

Meski dia kabur, aku akan terus mengejarnya sampai ujung dunia.

Entah apa yang akan dilakukan Seon-gyeom jika kau melarikan diri.

Tak ada kemungkinan Seon-gyeom yang melarikan diri?

Dia tak pernah melarikan diri.

Kau pikir…

aku keterlaluan karena mau bersama dengan Seon-gyeom?

Kau sudah menganggapku sebagai ipar kejam?

Jangan anggap aku begitu.

Terkadang aku merasa tak pantas mendapatkan dia.

Saat bersama dia,

sering kali kelemahan dan sisi burukku terlihat lebih dulu,

dan aku tak berkonsentrasi kerja.

Bagiku, percintaan dan pekerjaan harus berjalan selaras.

Percintaan memang penting,

tapi aku tak bisa kehilangan pekerjaanku melebihi apa pun.

Itu sama seperti kehilangan jati diriku.

Kucoba membantu Seon-gyeom sebisaku,

tapi aku sendiri tak begitu baik.

Kupikir lebih baik

memberitahumu lebih dulu sebelum memberi tahu Seon-gyeom.

Kuharap Seon-gyeom tak mengetahui hal ini.

Saat ini, aku ingin menikmati hubungan kami.

Omong-omong, kenapa kau mengejar pria itu?

Aku tahu bahwa dia mencintaiku.

Itu sebabnya dia melarikan diri.

Matikan alarm.

Kuliahku dimulai usai tengah hari. Matikan alarm.

Selamat lari pagi.

Kau tak harus selalu mengatasi segalanya.

Kau bisa istirahat di akhir pekan.

SEO DAN-AH

Kakek, ayah, dan kakak laki-laki.

Semua namanya mengandung "Myeong".

Namun, Nona Seo tidak?

Apa karena terlalu cantik?

Seo Tae-woong tak ada.

Apa mereka sungguh bersaing?

Nona Seo terlalu memikat.

Ulang tahun Nona Seo sebentar lagi.

Ya, baiklah.

Aku harus daftar acara lari amal.

Selesai mendaftar.

Aku sengaja berbicara lantang, tapi kau tak merespons sama sekali.

Ada apa denganmu? Kau bahkan tak lari pagi.

Astaga.

Ceritalah jika kau punya masalah.

Jangan melampiaskannya pada baju. Ini baju yang akan kita pakai.

Dia…

sungguh ingin putus?

Apa dia menderita selama berkencan denganku?

Padahal aku sudah berusaha maksimal.

Apa belum cukup?

Apa hal seperti itu terus dipendam,

dan karena ayahku kali ini, menjadi pemicu dia meledak?

Kini aku paham alasanmu tak melipat baju dengan rapi.

Apa ada yang bisa kubantu?

Setelah minum susu,

bersihkan dulu kotaknya baru dibuang.

Baik.

Kalau begitu, apa aku boleh minta bantuanmu?

Bukan masalah besar.

Baiklah.

Bukankah kau tak mau makan japchae sama sekali?

Aku sudah telanjur beli bahan-bahannya.

Bukan itu. Kau bisa mencari resepnya di internet.

Kenapa meminta bantuanku?

Percuma mencari resep jika tak enak.

Padahal kau pandai mengiris. Jika rasanya tak enak,

- berarti mulutmu bermasalah. - Mulutku selalu bermasalah.

Tak ada yang perlu diiris lagi?

Rupanya ini alasan kau memasak.

Selama memasak,

yang dipikirkan hanyalah ketumpulan pisau,

dan iris atau cincang saja bawangnya.

"Besok, aku harus melamar ke banyak tempat agar sibuk bekerja."

Mirip saat berlari, aku tak memikirkan semua itu.

Ini semacam meditasi.

Itu sebabnya aku memintamu membantuku memasak.

Kau paham niatku sekarang?

Karena itulah kau jadi CEO.

Kau perlu beristirahat supaya bisa terus bekerja.

Bekerja adalah beristirahat bagiku. Kau juga sibuk bekerja.

Aku baru tahu setelah menjadi CEO.

Aku sadar CEO juga menyukai gaji.

Padahal impianku menjadi pegawai yang digaji.

Kenapa aku malah menjadi CEO?

Proyekmu kali ini akan ditayangkan.

Tontonlah bersamanya.

Kalian harus menonton terjemahanmu di layar lebar.

Soal itu…

Sepertimu.

Itu kesanku mengenai film tadi.

Jangan menghilang.

Teruslah berada di sampingku.

Tidak akan.

Malah aku yang melarikan diri.

Apa aku wanita berengsek?

Aku harus jaga ucapanku.

Kau memikirkan apa?

Padahal akhir pekan, tapi aku sendiri tak istirahat.

Ini hari kerja.

Memberi saran untuk orang lain sangat mudah.

Hari ini hari kerja.

BURGER NASI TERNAMA

Valet di mana?

Kenapa tiba-tiba mau balet?

"Balet"?

Valet…

Di mana petugas yang memarkirkan mobil?

Apa ada hal seperti itu di duniamu?

Aku tak tahu ada hal seperti itu.

Kenapa parkir di sini?

- Kalau begitu, parkir di mana? - Tak boleh di sini.

Kenapa bicara tak sopan?

Maaf. Tunggu sebentar.

Tempat ini dekat kampus. Kita bisa memarkir di sana.

Kami pergi. Maaf.

Perjuangan kita pasti sebanding dengan rasa makanannya, bukan?

Kau penasaran apa yang ada di dalamku, bukan?

Biar kutunjukkan sebelum kumasukkan.

Kau pikir aku akan menciummu lagi?

Aku agak mengharapkannya.

Sebelumnya, kau tersinggung.

Ucapanmu itu tak sopan.

Rupanya kau suka menyimpan dendam.

Apa yang membuatmu tersinggung?

Lebih baik dibicarakan sebelum menggugatku.

Menggugatmu? Kenapa?

Kau pikir bisa mengalahkanku jika mengambil jalur hukum?

- Ini demi kebaikanmu. - Kenapa aku harus menggugatmu?

Lagi-lagi bahas menang dan kalah.

- Kau pasti tak punya teman. - Kenapa aku butuh teman?

Berteman bukan karena butuh.

Pertemanan terjadi begitu saja.

Kalau begitu, apa kau mau menjadi temanku?

Kau membuatku tersinggung lagi.

Lagi-lagi, tersinggung. Kenapa tersinggung? Apa penyebabnya?

Kau tak beri tahu ulang tahunmu sebentar lagi.

Apa rencanamu hari itu?

Tidak ada. Begitu juga seterusnya.

Kita akan mengadakan pesta dan kencan?

Tidak.

Apa mereka sedang memanen padi? Kenapa lama sekali?

Kau sungguh tak punya rencana?

- Kapan? - Di hari ulang tahunmu.

Tidak ada.

Mari bertemu.

Jangan bahas itu lagi.

Kenapa harus bertemu di hari ulang tahunku?

Karena itu hari kelahiranmu.

Aku bersyukur kau sudah lahir,

tumbuh besar dengan sehat, dan mengencaniku.

Apa yang kau dapat jika merayakannya?

Perasaan.

Perasaan bisa menghilang.

Justru bertahan lebih lama karena tak terlihat.

Ada perasaan yang menguat seiring waktu berlalu.

Kau akan menyesal telah menyia-nyiakan waktu.

Kenapa harus dipikirkan? Masa depan tak bisa diprediksi.

Luangkan waktumu untukku hari itu.

Biar kuberi tahu masa depanmu.

- Kau semena-mena lagi. - Selain hari itu pun,

kita bisa makan dan jalan-jalan seperti hari ini.

- Tidak mau. - Dilarang menolakku.

- Kau harus mematuhiku. - Laranganmu banyak.

- Tidak mau. - Kau juga sering bilang tak mau.

Dua burger nasi sudah siap.

Hentikan.

Hentikan apa?

Jangan bertengkar di depan makanan.

Lantas, membicarakan apa?

"Ini enak."

Ini enak.

Kenapa tak bertemu di hari ulang tahunmu?

- Kau boleh bicara? - Pasangan habiskan waktu bersama

- di hari penting… - Siapa pasanganmu?

Kau benar-benar membuatku tersinggung.

Kau tersinggung lagi?

Ini jauh menyakitkan daripada perkataanmu sebelumnya.

Siapa aku di matamu?

Mesin jual otomat.

Jika menangis lagi,

maka aku harus memperbaiki mesinku.

Setelah dibelikan kopi, aku melihat-lihat menu mesin jual otomat

dan menyadari menu cokelat panas. Lebih enakkah?

Aku sudah kenyang.

Makanan tak salah. Makanlah.

Aku ingin menyaksikan pertandingan Yeong-il, tapi tak ditayangkan.

Banyak artikel mengenai dia.

Dia memenangkan juara dua di Festival Olahraga Nasional.

Padahal dia di Seoul hanya untuk siap bertanding.

Kurasa dia tak bisa konsentrasi karenaku.

Jika dia tak bisa konsentrasi karena itu, tak mungkin terus juara pertama.

Apa yang bisa aku lakukan tanpamu?

Kau pasti terus menjadi juara pertama.

Mungkin karenamulah aku selalu juara pertama.

Kurasa dia sedang terpuruk.

Akankah dia datang membantuku berlatih?

- Pasti banyak yang dipikirkan. - Itu dia datang.

Bersedia.

Siap.

Ya.

Santailah. Kau tak akan berkompetisi dalam waktu dekat.

Musim kompetisi sudah berakhir.

Kau akan terus mengendarai motor?

Aku naik mobil hari ini.

Lantas, kenapa bawa helm?

Itu hanya aksesori.

Itukah citramu?

Bagaimana kau bisa tahu?

Mustahil aku tak suka bermotor. Aku suka segala hal yang cepat.

Aku tak tahan jika ada yang mengalahkan kecepatanku.

Kalian tahu aku juara kedua di Festival Olahraga Nasional, bukan?

Tak ada yang bisa menyusulku selama ini,

tapi kemarin ada.

Bagaimana perasaanmu?

Ternyata melihat orang lain menyusulku…

tak begitu buruk.

Tadi, kau bilang tak tahan jika ada yang mengalahkan kecepatanmu?

Aku harus menahannya. Mau bagaimana lagi?

- Aku pergi beli minum dulu. - Biar aku saja.

- Biar aku yang beli. - Kakimu…

Tak apa-apa.

Saat diwawancara, pemenang juara pertama bilang,

tujuannya adalah mengalahkan rekorku.

Jika rekorku kemarin sepuluh detik,

dia bisa berlari dalam sembilan detik.

Jika aku berlari lebih cepat, yang ingin mengalahkanku juga berlari lebih cepat.

Aku senang melihat para junior bisa berlari cepat.

Ya. Itu yang kusayangkan.

Itulah arti sembilan detik bagiku.

Atlet lain mungkin akan berpikir aku kesal

karena mereka lebih cepat.

- Apa itu? - Penghiburan.

- Jangan lakukan itu lagi. - Maka, menanglah.

Hentikanlah.

Bu Seo, anggap kau punya anak,

dan dia sudah besar.

Bagaimana bisa begitu? Aku tak punya anak.

Kau tak suka karena dia pacaran dengan orang biasa.

Kau bahkan menyogok orang itu dan menyuruhnya tak mendekat.

Bahkan mendatangi rumahnya dan mengatainya.

Bagaimana jika mereka tetap pacaran?

Orang tuanya pasti senggang.

Pak Jeong, kenapa terus membiarkan orang masuk?

Mau minum apa? Teh atau kopi?

Aku mau air dingin. Terima kasih.

Pak Jeong!

Kenapa menanyakan itu padaku?

Karena kau setara dengan Anggota Majelis Ki.

Tunggu sebentar.

Kau menyetarakanku dengan dia?

Kau yang begitu. Kau yang bilang aku orang desa.

Karena masalah lain, dia tak akan punya waktu untuk itu.

- Diamlah. Tak perlu cemas. - Masalah lain apa?

Kau tak suka baca berita?

Sore ini, Komite persiapan pemilu Partai Kebebasan Korea,

telah menetapkan peraturan untuk para kandidat mereka.

Setelah gagal koalisi,

Anggota Majelis Ki dan No

- berniat mencalonkan diri… - Entah siapa akan menjadi calon presiden?

Keduanya diprediksi akan bersaing ketat.

- Aku tak peduli - Perolehan suara Anggota Majelis No

terus mendekati perolehan suara Anggota Majelis Ki

yang selalu menang dalam prediksi hasil pemilu.

Meski partainya menang pemilu, tak mungkin jadi presiden.

Pasti ada yang memilihnya.

- Siapa? - Orang sepertimu.

Aku tak begitu.

Kau masih menang di prediksi hasil pemilu,

tapi Anggota Majelis No lebih populer di kalangan anggota partai biasa.

Rupanya dia menghalangi jalanku.

Survei perolehan suaranya terus meningkat.

Ini bukti publik mencari wajah baru.

Persiapkan rencana cadangan

agar bisa kukacaukan dia saat dibutuhkan.

Baik.

Apa aku harus terus mengawasi Seon-gyeom?

Tak ada gunanya. Biarkan saja.

Biar kuatasi sekaligus jika tak sesuai rencana.

Aduh. Ini sungguh melelahkan.

Apa kau harus menjadi Ibu Negara?

Aku kehilangan pekerjaan jika kau tak menjadi aktris.

Kata siapa aku akan jadi Ibu Negara?

Aku selalu memikirkan masa depanmu.

Karena itu berkaitan dengan masa depanku.

Kupilih karier ini daripada menjadi ibu agar filmografiku berkesan.

Aku tak bisa mengorbankan diriku untuk karier dia.

Aku lebih ingin menjalani peranku sebagai aktris,

bukan peranku sebagai istri.

HIdupku adalah milikku.

Hei, Sutradara Lee terus melirik ke arah kita.

Tak bisa begini.

Berhenti beristirahat. Aku harus mulai menyayat lagi.

Mi-joo. Aku juga ingin menanyakan sesuatu.

Kenapa orang harus bertemu saat ulang tahun?

Karena itu hari ulang tahun.

Dia sepertinya merencanakan sesuatu,

tapi ulang tahunku tak pantas dirayakan.

Berbeda jika dia yang berulang tahun.

Kau boleh, tapi orang lain tak boleh?

Memang seharusnya begitu.

Kukira masih mempermasalahkan lukisan. Rupanya sudah berbaikan.

Ini kali pertama ada yang mengajakku kencan.

Banyak sekali hal yang belum pernah kau alami.

Berhenti saling menyindir.

Kau yang mendatangiku hari ini.

Kau mau pulang?

Biar kuantar. Kita searah.

Aku belum minum kopi hari ini.

Tidak mau.

Kau juga tak boleh menolakku.

Tidak mau.

- Dah. Selamat kerja. - Ya.

- Hati-hati. - Ya.

Seharusnya aku pindah kerja.

Selamat datang.

Satu amerikano untuk dibawa pulang.

Ada pencuri.

Pencuri itu mencuci piring supaya bisa dicuri dengan bersih.

Apa ini? Kau sudah datang? Kau mabuk.

Hei. Ada pencuri.

Pencuri?

Aku bukan pencuri. Namaku Ki Seon-gyeom.

Serius? Dia memang suka mencuri.

- Aku mencuri apa? - Perasaan.

Dia teman serumahku. Kau pernah melihatnya saat dia tidur.

Orang ini adalah sobatku.

Kau tahu "sobat", bukan? Sahabat.

Aku Ko…

Maksudku, teman Lee Yeong-hwa.

- Aku ke kamar mandi dulu. - Ya.

Kau tak enak badan? Mau air madu?

Kau menyukainya?

Bocah pelukis itu.

Kau senang mempermainkannya?

Dia bilang, aku mempermainkannya?

Terlihat jelas.

Begitukah?

Sejelas apa? Sejelas ukuran kopiku?

Kau asal pilih subjek permainanmu?

Entah siapa yang mempermainkan siapa.

Putri pimpinan perusahaan mengencani mahasiswa biasa?

Kuberi petunjuk karena kau terlihat tak tahu.

Kulihat kau menilai orang secara subjektif.

Begitu juga kau.

Perilakumu mendukung kecurigaanku.

Itu berarti aku perlu keunggulan lain.

Meski memiliki segalanya,

kau lebih memiliki keuntungan sebagai temannya.

Jika dipaksa memilih, dia pasti melepaskanku

dan mempertahankan pertemanannya.

Kenapa aku harus memaksanya?

Ini pesananmu.

Apa mahasiswa zaman sekarang suka mengabaikan orang?

Jawaban yang kau pesan tak ada di menu.

Apa yang harus aku lakukan?

Aku tak merasa…

Kau mual? Minumlah air.

Kau mau muntah?

Ada apa denganmu? Ada masalah?

Kau…

Kau mempersiapkan TOEIC dengan baik, bukan?

- Ujiannya sebentar lagi. - Apa?

Aku khawatir tak bisa pergi ke Amerika bersamamu.

Apa? Kau tak perlu mengkhawatirkannya.

Aku mempersiapkannya dengan baik. Jangan khawatir.

Baik.

Kau mau pergi?

Bisa pulang sendiri? Biar kuantar.

Tak perlu. Aku bisa sendiri.

Pesanan untuk film Yook Ji-woo datang. Ini untuk festival film.

Tak ada kontakmu di riwayat hidup,

jadi, mereka menghubungi kami.

Kau pasti lupa mencantumkannya.

Film yang masih dalam proses syuting? Hari Pembunuhan?

Bukankah masih lama rampung?

Bukan itu. Film sebelumnya. Candy.

Astaga.

Dia menjadi dealer narkoba bernama Candy di film itu.

Luar biasa.

Kau akan baik-baik saja?

Dia ibunya, dan istrinya Anggota Majelis Ki.

Bagiku, dia Aktris Yook Ji-woo.

Ini kesempatan langka, aku tak bisa menolak.

Kau sudah lihat hubungannya dengan putranya.

Aku cemas hal yang sama akan terjadi dengan istrinya.

Astaga. Ini cuma pekerjaan.

Jangan menjadikannya masalah pribadi.

Hei, Mi-joo.

Yang benar saja!

Maaf, May. Aku terlalu emosional tadi.

Dulu kau lebih parah.

Benar. Aku memang keterlaluan.

Apa kau juga langsung minta maaf kepada Seon-gyeom?

- Dia berbeda denganmu. - Apa bedanya?

Untuk menjaga hubungan kita,

aku harus langsung minta maaf dan menyelesaikan masalah.

Kau sering memaklumiku saat aku emosional.

Padahal kau cukup stabil di saat seperti ini.

Kau mengakui kesalahanmu dan langsung minta maaf.

Namun, apa?

Aku jadi suka menghindar saat pacaran?

Itu karena aku tak tahu cara pacaran yang benar.

Aku ingin langsung menyelesaikan konflik,

tapi selalu putus keesokannya.

Kau dan mantan-mantan payahmu itu.

"Kali ini pun pasti begitu. Aku harus memutuskannya lebih dulu."

Itu yang terpikirkan olehku.

Benar.

Aku serasa sudah dibuang sejak lahir.

- Aku benci perasaan dibuang. - Benar.

Dia meminta waktu berpikir.

- Aku jadi terpikir kemungkinan terburuk. - Benar.

Namun, kau tahu dia berbeda daripada para mantan berengsekmu, bukan?

Aku tahu.

Kau tahu apa yang kupikirkan sejauh ini?

"Aku tak cukup menyukainya untuk memiliki keberanian

menghadapi konflik ini.

Aku tak bisa mengorbankan diriku

untuk tetap mencintainya."

- Jangan begitu. - Ya.

Mencintai itu harus berjuang bersama untuk mempertahankan hubungan.

Benar.

Astaga. Berhenti berpikir terlalu jauh.

Bukan ini tujuan kalian menjaga jarak.

Benar. Lagi-lagi aku menghindar.

- Mata kanan. - Ini.

- Mau ke mana kau berpakaian rapi begitu? - Apa? Rapi?

Aku harus terlihat bisa diandalkan.

- Kedipkan matamu. - Apa?

Lakukan itu jika orang itu tak memercayaimu.

- Seperti ini? - Ya.

Matamu lembap. Jadi, gunakan itu.

Baiklah.

"Halo."

Halo. Aku perwakilan Kim Woo-sik.

BALAI KOTA SEJEONG TIM TREK DAN LAPANGAN

Maaf sudah menunggu lama.

Pelatih pergi ke pelatihan di luar kota.

Tidak apa-apa.

Kalau begitu…

Ini riwayat hidup Kim Woo-sik.

Tolong disampaikan dan diperiksa dengan saksama.

- Baik. - Terima kasih.

Halo. Aku perwakilan Kim Woo-sik.

Silakan masuk.

Halo.

Astaga, Seon-gyeom. Lama tak bertemu.

Aku manajer Tim Trek dan Lapangan Jieum Construction.

- Silakan duduk. - Baik.

Terima kasih telah meluangkan waktu untukku.

Kudengar kau menjadi manajer Kim Woo-sik.

Ya.

Bagaimana kabar ayahmu?

Dia baik.

Hari ini, aku datang mewakili Kim Woo-sik,

- bukan sebagai putra ayahku. - Aku hanya basa-basi.

Bagaimana kabar Kim Woo-sik?

Dia dalam proses pemulihan.

Ini riwayat hidup Kim Woo-sik.

Dokumen ini sudah termasuk

data pemeriksaan fisik terbaru.

Rupanya benar.

Kau sungguh mewakilinya?

Ada rumor mengatakan bahwa kau menganggur sekarang.

Kenapa kau mendukung seorang pelapor

dengan sumber daya yang kau punya?

Aku frustrasi melihatmu.

Kim Woo-sik tak bisa kembali seperti dulu.

Aku tak paham maksudmu.

Jika kau memberikan riwayat hidupmu, kami bisa menerimamu,

dan mempertimbangkan Kim Woo-sik sebagai pilihan kedua.

Aku tak berniat menyinggungmu.

- Kau tersinggung? - Tidak. Aku tak apa-apa.

- Terima kasih sudah meluangkan waktu. - Ya.

Aku merindukannya.

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

Senangnya bisa menghabiskan waktu bersama lagi.

Sudah saatnya kita tak begini lagi.

Kata Bu Kim, kita seperti pasangan tua.

Kau mau menonton film sambil minum satu GB?

GB? Galon bir?

Gentong bir?

Kau konyol.

Maksudnya, satu gelas bir.

Mana mungkin cukup?

- Benarkah? - Tak mungkin hanya segelas.

- Bagaimana kalau 12 gelas? - Yang benar saja.

Dia baik-baik saja.

Syukurlah.

Baguslah.

Tidakkah kau merasa aman

saat duduk di bioskop yang gelap?

Karena itu aku suka bioskop.

TERJEMAHAN: OH MI-JOO

TERJEMAHAN: JANG BYEONG-WOOK

Jika aku mengukur rekorku hari ini,

bisa jadi di kisaran sembilan detik.

Apa kisaran sembilan detik itu bagus?

Itu bagus sekali.

Kau datang untuk menonton film denganku, bukan?

Sepertinya aku terlalu lama

memainkan gim video kemarin.

Sejak kapan begini?

Apa maksudmu?

Kau terkena yips?

YIPS, KEHILANGAN KEMAMPUAN MENDADAK PADA ATLET PROFESIONAL

Entahlah.

Sudahkah kau berhenti menyia-nyiakan waktumu untuk orang lain?

Ya, berkat ada yang mengadu.

Kau selalu juara pertama, kenapa terkena yips setelah teken kontrak denganku?

Aku terkena yips mungkin karena…

Aku harus melaporkannya.

Apa mengadu adalah moto perusahaan ini?

Kau benar-benar sedang diet?

Aku tak perlu diet untuk pemotretan pakaianmu? Tak begitu, bukan?

Kami tak menerapkan standar ganda seperti itu.

Kau atlet, bukan model.

Pekerjaan utamamu tak boleh terganggu.

Bagaimana kau tahu itu penyebabnya?

Itu tugas kami.

Kami mempertimbangkan semuanya.

Bukankah lebih baik jika hasil pemotretan bagus?

Iklan ini akan disebar ke seluruh dunia.

Kau dikenal karena kemampuanmu, bukan tubuhmu.

Lantas, apa maumu?

Kenapa semua orang hanya mengusikku?

Kau mau aku bagaimana?

Aku harus bagaimana?

Apa ada masalah belakangan ini?

Kami…

hanya ingin kau berlatih dengan nyaman.

Kenapa semua orang menangis di depanku?

Aku sedang banyak pikiran.

Jangan ganggu aku.

- Kau sakit. Ayo ke rumah sakit. - Nona Seo, tolong…

hati-hati dalam berucap.

Percuma dikatakan baik-baik. Intinya tetap sama.

Orang sakit harus diobati.

Eun-bi, kau tak perlu khawatir.

Jangan terlalu didengarkan.

Ini semua demi dia.

Katakan jika tak bisa. Sudah 15 menit berlalu.

Aku harus selesai sebelum Ye-jun datang.

Aku sedang berpikir.

Kurasa bisa menyelesaikannya.

Kalau begitu, tulislah sesuatu.

Jangan hanya melihatnya.

Sketsa sudah dikonfirmasi. Mulailah mewarnai.

Ada pesan dari Nona Seo.

- Kubalas… - Jangan balas pesan ini.

Dia melarangku membalas pesannya.

Aku tak pernah merasa senang saat dilarang.

- Kenapa wajahmu begitu? - Apa wajahku tampan?

Ya. Orang bodoh tertampan di dunia.

Orang bodoh ini sedang jatuh cinta. Iri, ya?

- Rupanya jadi bodoh tak buruk. - Tidak.

- Aku tak iri sama sekali. - Bohong.

- Tak begitu. - Ya, tidak.

Untuk apa balon ini?

Kau baru tanya setelah semua selesai ditiup?

Mengadakan pesta untuk Nona Seo.

Hadiah pun sudah dibeli.

Kau berhasil naik ke kastel?

Kastel?

Maksudmu, Rapunzel?

Kau tahu akhir dari dongeng itu?

Saat naik ke atas kastel,

pangeran dibutakan

karena mendekati Rapunzel.

Yang dilihatnya bukan Rapunzel, tapi penyihir.

Bukan begitu. Karena dia melihat Rapunzel,

maka penyihir membutakannya.

Ketahuilah sebab akibatnya.

Padahal bukan melakukan ini mauku.

Kurasa aku tak berdaya saat denganmu.

Minggir.

Aku sudah memesan kue di kafe tempatmu bekerja.

Kuminta dibuat dengan indah.

Percuma jika tak enak.

Aku bahkan meminjam mobil teman serumahku.

Kusimpan balon ini di bagasi supaya beterbangan saat dibuka.

Kau tahu, bukan?

Perlu helium agar terbang.

Kenapa baru beri tahu?

Kau baru mengatakannya.

Benar. Aku harus beli helium.

Pasti kempis jika dimasukkan hari ini.

Kali ini, kuberi tahu lebih awal.

Kenapa diberi tahu? Padahal kau bisa menggagalkannya.

Apa? Kenapa mau ini gagal?

Jangan melantur. Jangan digagalkan.

- Akan kugagalkan! - Jangan!

- Aku mau! - Jangan!

Pasti kugagalkan!

Malah membantu percintaan orang lain. Uruslah percintaanmu.

Apa kau bodoh?

Siapa? Aku?

Apa ini semacam kasih tanpa pamrih?

Kupikir kau sudah tak ke gereja. Sungguh pria bijak.

Itu ajaran Konfusius.

Baguslah.

Kenapa tak menjadi Yesus saja?

Kenapa sensitif sekali?

Anak kelas tiga SMA menyeramkan.

Hei, Ye-chan.

Kenapa kau marah-marah terus?

Karena aku kelas tiga SMA. Kenapa?

Aku belajar mati-matian demi masuk universitas.

Aku kesal melihat kalian yang sudah jadi mahasiswa.

Kau menyukai Yeong-hwa?

Langkahi mayatku.

Standarku tinggi. Tidak, terima kasih.

Cepat belikan hotteok.

Baik. Kubelikan.

Halo.

- Ini untukmu. - Terima kasih.

Kenapa tiba-tiba datang ke sini?

Aku kurang memperhatikan Ye-chan belakangan ini.

Dia terlihat menyembunyikan sesuatu.

Aku takut jadi masalah jika dibiarkan.

Kudengar kekerasan di sekolah cukup parah.

Mustahil Ye-chan melakukan hal itu.

Bukan itu maksudku. Aku takut dia jadi korban.

Aku sering lihat memar di tubuhnya.

Kurasa dia memar karena ikut klub tinju.

Kemampuan bergaul Ye-chan sangat baik.

Apa?

Memar karena apa?

Jadwal kita selalu sama belakangan ini.

Sepertinya kita berdua akan debut.

Itu tren sekarang.

Hei, Tae-woong.

Jelaskan komentar di media sosialmu.

Apa?

Kita sudah lama putus.

Kenapa masih mengikutiku, Sayang?

Berhentilah memikirkanku.

Sialan.

Bajingan gila!

Sayang, apanya? Dia sudah gila.

Cepat hapus sebelum para penggemar ribut.

Syukurlah ini terjadi usai acara radio.

Sial.

Kau bersyukur karena para penggemar tak menghujani komentar langsungnya?

Kau sungguh pemimpin sejati.

Itu fakta.

Sialan.

Aku akan menyiapkan mobil. Ayo cepat.

Bajingan "cukup tua" ini sungguh menyebalkan.

- Penggemarku jadi kecewa. - Nomor yang Anda tuju…

Dia tak menjawabnya.

Aku sudah menghapus komentarmu, berhenti mengikutimu, dan memblokirmu.

Jangan mengunggah komentar di fotoku lagi.

Kenapa meneleponku?

Mau kupukul?

Tidak.

Itu bukan pertanyaan yang harus dijawab.

Aku sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun.

Kuharap ini percakapan terakhir kita. Paham, Sayang?

Aku tak peduli kau mengadakan pesta atau tidak.

Pak Jeong, ini aku.

Apa jadwal Dan-ah hari ini?

Baiklah.

Mau ke mana?

Ke suatu tempat.

- Pihak perusahaan ingin bicara pada kita. - Kenapa? Itu tak benar.

Itu bukan salahku.

Bukan salahku juga. Kita tetap harus menghadap.

Karena aku pemimpin grup.

Sial.

Hei, Sayang. Sebelah sini!

Aku senang tak perlu les,

tapi kau tampak menyedihkan.

- Ya, wajahmu juga. - Bicaralah sendiri.

SEDANG ISTIRAHAT

Tidak boleh! Apa kau sudah gila?

Kau merayakan ulang tahun kakakku?

- Seo Tae-woong? - Apa ini? Kenapa kemari?

Tunggu. Kau bilang apa tadi?

Apa kau sudah gila?

Jangan rusak hari kakakku. Cepat batalkan.

Ucapanmu sebelumnya.

Apa?

"Kakakku"?

Jangan sok akrab. Aku saja masih memanggilnya dengan sopan.

Lantas panggil apa? Dia memang kakakku.

Dan-ah adalah kakakku!

Apa?

Kau dulu adiknya?

Kami masih adik kakak!

Siapa kau merayakan ulang tahun kakakku?

Aku?

Aku mesin jual otomatnya! Lantas?

Apa maksudmu?

Hei, apa yang kau lakukan?

Astaga. Kau sedang apa? Kau tak tahu dia siapa?

- Dasar gila. - Siapa dia?

Ye-jun! Berani-beraninya kau mendorong temanku!

- Dasar… - Ye-jun!

- Ye-jun! - Kemari!

- Ye-jun! - Dasar bocah cantik!

- Berengsek! - Berhenti!

Siapa kau sebenarnya?

- Astaga. - Mari bicara baik-baik.

- Sebentar. - Siapa kau?

- Gawat. - Kemari!

Kenapa kau terlambat datang? Aku kalah.

Aku memarkir. Yeong-hwa, tunggu.

Jangan lakukan itu! Tidak!

- Tunggu! - Astaga!

- Dasar… - Hei, Kalian!

- Kemari! - Ayolah!

Rambutku! Berhenti!

- Hei, Kau! - Berkelahi di luar!

- Keluar! - Keluar!

Lepaskan!

Mi-joo. Seon-gyeom. Kalian sudah datang.

Ya.

- Bagaimana kabarmu? - Kabarku selalu baik.

- Lepaskan. - Kau dulu yang lepaskan.

Goh Ye-chan!

- Ibu? - Bu Dong.

Halo, Bu Dong.

- Siapa wanita ini? - Ibunya.

Apa? Tinju?

Serius? Tinju?

- Kau tahu atau tidak? - Tak tahu.

- Kau juga merahasiakannya? - Tidak.

Pak Jeong. Kau juga tahu?

Soal itu…

Kalian sedang apa?

Ada pertemuan hari ini?

- Nona Seo! - Dan-ah!

- Ada apa dengan kalian? - Biar kujelaskan.

Hei, Mi-joo!

SELAMAT ULANG TAHUN

Kita bicara di rumah. Ikut ibu.

- Tunggu. - Bu Seo, aku cuti setengah hari.

- Ibu, lepaskan. - Ikut ibu!

- Tolong bawakan tasku, Ye-jun! - Apa kafe di Seoul hanya ada di sini?

Kenapa kalian membuat keributan di sini?

Kenapa?

Kenapa tanganmu?

Aku mau ke rumah sakit setelah ini.

Kurasa ini karena pekerjaan.

Konfeti yang kubeli terlalu besar.

Banyak sekali kertasnya.

Kenapa kau datang ke sini?

Aku diundang beberapa hari lalu.

Aku juga berutang pada Nona Seo, jadi…

Kau tetap akan datang jika tahu aku datang?

Sial. Sudah kubilang jangan melakukan ini.

Ini semua karena kau.

Kalian diamlah.

Suaraku tak lantang.

Suaramu sangat berisik.

Aku merasa semua orang mengucilkanku.

Kalian kejam.

Bersihkan tempat ini dan pergilah.

Berhenti mengganggu bisnis orang lain.

Omong-omong,

kenapa Nona Seo adalah kakakmu?

Tak ada namamu di daftar keluarga.

Aku anak haram.

Haram?

Tak ada yang tahu, jangan disebarkan.

Apa?

Baik.

Dan…

hari ini bukan hari ulang tahun Dan-ah.

Ini hari ulang tahun palsu. Dia tak lahir hari ini.

Dan-ah lahir lebih dulu,

tapi ayahku melaporkan kelahirannya setelah kakak laki-lakiku lahir.

Aku tak ingin memberitahumu,

tapi aku takut kau mengusik Dan-ah lagi.

Ini akan segera selesai.

Astaga. Kapan akan selesai bersih-bersih?

- Tak apa. Pergilah lebih dulu. - Ya.

Halo, Bu.

- Sekarang? - Ya.

Aku tak bisa menghubungi Pelatih Bang.

Dia pasti tak mendapatkan sinyal.

Baiklah.

Kenapa kerjamu seperti ini?

Bagaimana bisa memercayakan anak-anak padanya?

Maafkan aku.

Ada masalah apa?

Seon-gyeom, Su-bin bertengkar dengan murid dari kelas lain.

- Dia mewakili Pelatih Bang… - Bagaimana kau mendidik anak-anak?

Mana orang tua anak ini?

Ini atlet yang melakukan kekerasan itu.

Rupanya kau atlet itu.

Kau yang melatih anak-anak sebelum skandal kekerasan itu.

Kami sudah ajukan keluhan. Aku tak bisa memercayakan anakku kepadamu.

Berani-beraninya dia melatih.

Cukup. Mana kepala pelatih? Aku ingin bertemu dia.

Aku kesulitan mengatasi segalanya.

Maaf. Aku tak layak menjadi guru penasihat.

Jangan begitu.

Apa Su-bin ada di kelas?

Dia tak ada di sekolah.

Dia diskors mulai hari ini.

Orang tua murid korban ingin orang tua Su-bin minta maaf,

tapi dia… Kau tahu dia.

Jangan meminta maaf

sebelum mendengar kedua belah pihak.

Jika Su-bin memang bersalah setelah mendengar ceritanya,

biar aku yang meminta maaf.

Kau tak boleh minum miras saat makan antibiotik

Tak boleh minum miras seminggu? Antibiotik ini untuk seminggu.

Pakai plester antiair saat mandi.

Aku benar-benar tak boleh minum miras seteguk pun?

Kau sudah tahu jawabanku.

Halo. Ini resep obatnya.

Baik. Tunggu sebentar.

Ya.

Mi-joo.

- Apa? - Halo.

Aku tak sangka akan bertemu kau di sini.

Kukumu cantik sekali. Kau melakukannya sendiri?

Ini hobiku.

Kau tak perlu bicara formal padaku.

- Benarkah? - Ya.

Kau habis dari rumah sakit?

Jari-jari tanganku meradang.

Aku jatuh dari tangga.

Biasanya aku selalu bisa menghindar,

tapi hari itu tidak.

Kenapa? Ada yang merundungmu di sekolah?

Dia menghinaku karena aku dilatih

oleh orang yang suka memukul.

Apa Seon-gyeom tahu?

Aku tak bisa berbohong jika bertemu dengannya,

jadi, aku terus menghindar.

Aku takut dia tersinggung.

Katanya klub trek dan lapangan bisa dibubarkan karenaku.

Kenapa itu jadi salahmu?

Apa kau sehebat itu?

Aku tak seharusnya tertawa,

tapi itu lucu sekali.

Aku memang jenaka.

Jika aku bicara jujur dan berdamai,

apa bisa berakhir dengan baik?

Mau kutemani? Aku punya banyak waktu.

Ini masalahku.

Meski aku kabur…

- Maksudku, jika aku kabur… - Kita bisa makan tteokbokki.

Aku tahu tempat enak.

Bu Oh Mi-joo dan Nona Lee Su-bin, obat kalian sudah siap.

- Ya. - Ya.

Halo.

Namaku Lee Su-bin.

Ada yang ingin kusampaikan.

Rupanya kau.

Aku mau bicara dengan orang tuamu.

Aku tinggal bersama bibiku,

dan dia sangat sibuk.

Aku ingin minta maaf.

Aku tak seharusnya diskors.

Pantas kau kurang ajar.

Chang-seop yang mulai. Aku berusaha menghentikannya, dan…

Hei. Berani-beraninya menyalahkan putraku.

Aku mau bicara dengan bibimu, atau siapa pun selain kau.

Anak yang tak memiliki orang tua sungguh bermasalah.

Hei! Apa-apaan ini?

Siapa kau? Kau sudah gila?

Sedikit.

Hei!

Dasar wanita gila!

- Benar. - Benar?

Aku memang gila. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan.

Perlakukan dia lagi seperti tadi jika kau penasaran.

Kulempar ini sebagai gantinya.

Siapa kau? Kenapa membuat keributan ini?

Aku? Kakaknya.

Kau pikir mempunyai orang tua adalah segalanya?

Ayo makan tteokbokki.

Su-bin!

Kau menangis? Ibuku mengganggumu?

- Lepaskan! - Hei!

Kenapa kau mendekati dia?

Ibu membuat Su-bin menangis?

Memangnya kenapa!

Kenapa kau mau ikut klub trek dan lapangan?

Kenapa mau ikut klub trek dan lapangan?

Bukankah kau tak suka Seon-gyeom?

Lepaskan aku!

Karena kau terlalu menyukai dia.

Aku melakukannya karena cemburu.

Kenapa kau cemburu?

Karena aku menyukaimu!

Aku jadi cemburu.

Apa?

Astaga. Dasar anak bodoh!

Bukannya belajar, malah mau ikut klub…

Jangan mengganggu Su-bin. Aku akan melindunginya.

Kenapa kau melindunginya? Kemari kau.

Astaga, semangat remaja sungguh membara.

- Su-bin! - Berhenti memanggilnya.

Ayo pergi.

Apa pendapatmu mengenai dia?

- Itu… - Sakit.

Su-bin.

Kenapa baru pulang? Kau sudah makan?

- Halo. - Halo.

Siapa ini?

Kakak yang kusuka.

- Begitu, ya. - Halo.

Kami makan malam dulu tadi.

Kau pasti menunggu lama.

Tidak.

Pelatihmu datang lagi hari ini.

Dia menunggumu.

Sepertinya dia sudah pergi.

Rupanya dia datang lagi hari ini. Padahal cuaca sedang dingin.

Kau bisa menceritakannya nanti. Masalahnya sudah selesai.

Terima kasih untuk hari ini.

- Tak perlu. Pergilah. - Dah.

- Dah. - Dah.

Ayo.

Kau baik-baik saja?

- Seon-gyeom… - Jangan pergi.

Aku tak akan pergi. Lepaskanlah.

Kau pasti akan pergi.

Lepaskan. Kita bicara.

Sebentar. Sebentar saja seperti ini.

Aku…

tak pernah memohon,

jadi, tak tahu cara melakukannya.

Kumohon jangan ajari aku.

Ajari apa?

Cara untuk putus.

Kau boleh ajari apa pun,

tapi kumohon jangan ajari itu.

Bisakah kau…

terus menyukaiku?

Kumohon.

Kumohon, Mi-joo.

Sub by Netflix & Synced by skysoultan ♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔

Tangkap aku kalau bisa.

Aku masih seperti bocah bagimu?

Ya, dan karena itulah

aku harus menjagamu erat di sisiku.

Kau tak pulang semalam.

- Ya. - Kau tak akan pulang lagi?

Aku amat frustrasi sampai tak bisa tidur.

Tak sulit untuk mengetahui di mana dia berada.

Bagaimana denganmu?

- Beraninya kau kabur. - Apa? Aku?

Aku tahu dia gila, tapi tak segila ini.

Aku harus tidur di mana malam ini?

Akan kuterkam kau.

- Aku merindukanmu. - Kenapa tak bergabung ke agensi kami?

Aku ingin kita bekerja sama.

Kerjamu bagus.

Lantas, kenapa kau tak mampir untuk makan ramyeon?

Di rumah hanya akan ada kita berdua.

Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.