All language subtitles for Posesif

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian Download
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[langkah kaki berderap]

[langkah kaki mendekat]

[peluit berbunyi]

[lagu lembut dimainkan]

[guru] Tidak ada alasan. Ini aturan sekolah.

- Sepatuku lainnya masih dicuci, Pak. - Sudah, jangan beralasan.

Taruh sepatunya, berdiri di sana.

Akhirnya berangkat ke sekolah juga.

Selamat, Lala. Keren! Dapat medali perunggu.

Dapat bonus dari pemerintah?

Kalau mau ditraktir makan, antre dahulu.

[Lala] Bagaimana ceritanya, Rino? Kenapa kau dan Diva tidak jadi berpacaran?

- Ceritakan yang penting saja. - Ini penting.

Rino menolak, padahal Diva sudah mau. Aku yang mengenalkan, jadi tak enak hati.

Rino di sini.

Kau tahu ada murid baru yang ganteng?

- Namanya? - Entahlah, tetapi memang ganteng.

Yudhis, kau tahu kesalahanmu?

Terlambat ke sekolah?

Menyontek saat ulangan?

Warna sepatumu itu.

Saya murid baru, Pak.

[guru] Tidak diberi tahu saat pendaftaran? Baca peraturannya.

- Kau harus disiplin. - Baik, Pak.

Kenapa harus hitam, Pak?

Peraturan tidak menyebut alasannya.

[guru] Begitulah peraturannya.

Kalau tak suka, cari sekolah lain.

Maaf.

Saya yang salah, Pak.

- Assalamualaikum. - Wa'alaikumsalam, Pak.

Ini tugas untuk tambahan nilaimu.

Terima kasih, Pak.

[berbisik] Nomor lima salah. Seharusnya 150.

[guru] Hei!

Apa yang kalian lakukan?

Kalau mau kompak, jangan tanggung.

Jalan 20 putaran.

[peluit berbunyi]

[bel berdering]

[murid] Coba lihat itu!

[para murid tertawa dan bersorak]

Kita pasti bisa.

- Kaki ini dahulu, ya? - Yang ini? Oke.

- Satu. - Dua.

Tiga.

[berirama] Kiri! Kanan!

Lebih lantang!

[para murid berirama] Kiri! Kanan!

[bersorak]

- Kau baik-baik saja? - Ya.

Kalau tadi lebih nekat, kau tak perlu sembunyi terlalu lama.

Bagaimana kalau ternyata aku memang sengaja berlama-lama?

Namamu Lala, bukan?

Bagaimana kau bisa tahu?

Setelah kau menang PON...

temanmu yang kecil itu mengitari lapangan sambil membawa fotomu.

Dia minta diadakan acara menonton bersama saat kau berlomba.

Dasar Ega.

Ayo pergi.

Ke mana?

Ke mal? Tidak, terima kasih.

Ke tempat yang belum pernah kita datangi.

Ayolah. Coba dahulu.

Kau pasti mau.

Ya?

Aku tak terlalu nekat, bukan?

[guru berbicara tak jelas]

Ada apa?

[Lala] Makanan favorit? Cumi-cumi. Kau?

[Yudhis] Ayam. Aku alergi cumi-cumi.

- Film favorit? - [Lala] Drama.

- [Yudhis] Horor. - Aku tak suka dibuat kaget.

Kalau ketinggian?

Tidak, aku tak suka ketinggian.

Tak ada kesamaan di antara kita.

Apa harus ada kesamaan?

Bagaimana, ya?

Aku yakin, di dunia yang besar ini

dengan orang sebanyak ini

saat dua orang bertemu

pasti ada kesamaannya.

Kalau sudah nyaman

bisa dicari kesamaannya.

Hiu paus.

Aku suka paus.

Sayangnya, mereka makan penguin.

Paus itu binatang yang sangat penyayang.

Lembut.

Pasti kau suka.

Nanti kau pasang hiasan paus di gelangmu.

Gelang ini hadiah terakhir ibuku sebelum wafat.

Dia selalu menganggap kami seperti keluarga penguin.

Dia peloncat indah.

Dahulu, sewaktu dia akan meloncat, ayah dan aku menunggunya di tepi kolam.

- Maafkan aku. - Tak apa.

Aku saja yang kelepasan bercerita setiap teringat dia.

[Yudhis] Oke, sudah kuputuskan.

Sekarang aku ikut Tim Penguin.

[Lala] Namun, mungkin saja kau benar.

Aku pilih pergi bersamamu dan ternyata aku suka di sini.

Jadi, sekarang kita punya satu kesamaan.

- [Yudhis] Benarkah? - [Lala] Dasar!

Terima kasih, ya.

[terkekeh] Tak mengapa.

Kau selalu berhasil membuat gadis terkesan, ya?

Kau terkesan?

Aku masuk, ya.

[mesin menyala]

- [Ayah] Dari mana saja? - [Lala] Tugas kelompok.

Dasar.

[Ayah] Lala!

Lima menit lagi kita berangkat.

Selamat pagi, Yah. Aku baru saja lari pagi lima kilometer.

Percuma berlatih kalau asupannya tidak bergizi.

Minum ini.

[pelatih] Kita harus fokus kepadanya.

[pria] Beri dia kesempatan.

Dia masih muda.

Punya motivasi yang kuat.

[tidak terdengar]

[tidak terdengar]

Berlatih lagi?

Disuruh ayahmu?

Bukannya kau mau pergi bersama temanmu?

Pergilah dahulu, aku masih lama di sini.

Tidak.

Ada yang lebih penting.

Apa latihannya masih efektif?

Bukannya badanmu sudah capai?

Lala.

Kau lakukan ini karena suka

atau karena disuruh?

Setiap aku meloncat, rasanya Ibu ada bersamaku.

Bagaimana kalau kau lakukan hal yang kau suka dahulu?

Aku akan menemanimu.

- Tunggu, kita loncat bersama, 'kan? - Ya.

- Kau berjanji? - Ya!

Satu, dua, tiga!

[keduanya berteriak]

Aku menang!

[nada pesan berbunyi]

[nada pesan berbunyi]

Belum. Sedang apa kau?

[nada pesan berbunyi]

Sudah mengerti tentang alur seleksi masuk perguruan tinggi?

[gadis] Lala, jadikan dia pacarmu saja.

Loncat 10 meter saja berani, apalagi berpacaran.

Ada apa di belakang?

Ega berisik, Bu.

Dasar menyebalkan!

Lala!

Kau minum saja dahulu.

Kalau aku minum, nanti terkencing.

Aku bisa kencing di celana, serius.

- Kau bisa menahannya lebih baik. - Menurut siapa? Sok tahu!

[wanita berceloteh di radio]

Lala, ada pertanyaan?

Hanya ada sepuluh orang yang masuk dalam Tim SEA Games Indonesia.

Untuk itu, saya minta komitmen kalian.

Keyakinan, keberanian, dan tidak asal loncat.

Standar minimalnya adalah Jihan.

- Jihan, berapa usiamu? - Lima belas tahun, Pak.

- Dengan siapa kau merantau ke Jakarta? - Sendiri.

Apa tujuanmu ke Jakarta?

Dapat medali emas untuk Indonesia di SEA Games.

Sekali lagi, apa tujuanmu ke Jakarta?

Dapat medali emas untuk Indonesia di SEA Games.

Bagus.

[mengetuk pintu]

[mengetuk]

[celoteh tak jelas, tawa]

Lala, terima kasih untuk hari ini.

Aku yang berterima kasih, Rino.

Dah.

[nada pesan berbunyi]

[wanita] Saat membangun rumah ini, Ibu yang mengawasi.

Cuma bahan-bahan terbaik yang dipakai.

Apalagi masa depanmu.

Bu, aku tak punya niat buruk.

Aku cuma mau tinggal di indekos.

Indekos di Bandung?

Ibu tak ikut pindah bersamamu?

Kenapa kau tak mau tinggal bersama Ibu?

Cuma kau yang Ibu punya.

Bu!

Ibu yang mengandungmu.

Ibu yang melahirkanmu.

Ibu juga yang membanting tulang untuk kehidupanmu.

Cuma Ibu yang tahu apa yang terbaik untukmu.

[Yudhis mendesah]

Yudhis, kalau terlambat 10 menit saja,

reputasiku akan buruk di mata ayahku.

Lalu aku akan digantikan Jihan.

Lala...

yang penting, kau tetap nomor satu di hatiku.

Ya, 'kan?

Yudhis, kumohon.

Terserahlah, Lala.

Dua bulan belakangan ini, pagi dan sore cuma untuk latihan.

Di sekolah,

waktumu untuk Ega dan Rino. Malamnya, kau tidur.

Akhir pekan... kau kelelahan.

Aku ini pacarmu atau supirmu?

Kenapa kau jadi terlalu serius?

Aku rela mengubah jadwal lesku menjadi malam untukmu.

Aku tak pernah memintamu begitu.

Kuberikan semuanya untuk hubungan kita.

Walaupun kau tak begitu.

Yudhis...

kukira kau mengerti keadaanku sekarang.

[air gemercik]

[Ayah] Hei, berhenti!

Lala, berhenti!

Siapa yang menyuruhmu di situ?

Kau terlambat. Mundur!

Tunggu di situ!

Jihan...

kau maju!

Empat-kosong-satu!

[air gemercik]

[air gemercik]

[Ayah] Bagus, Jihan!

Begitu caranya. Coba sekali lagi.

Waktunya tepat.

Sekarang, coba satu-kosong-lima.

Cepat!

[Ayah terkejut]

Jihan!

Jihan... kau tak apa-apa?

Kemarilah.

Ulurkan tanganmu.

Kenapa?

Sinar laser mengenai mataku, Pak.

Sinar laser?

Kau! Turun!

Ya!

Kau mau membunuh anak saya?

- Anak Om? Lala? - Jihan!

Mengapa langsung menuduh Yudhis, Yah?

Kau tak menyinari Jihan, 'kan?

Tidak. Silakan dicek.

Sudah puas, Yah?

- Jihan. - [Jihan] Sumpah, Pak,

sinar laser mengenai mata saya.

Jangan menjelek-jelekkan pacarku!

Pacar?

Dia pacarmu?

Mengapa Ayah tak tahu?

Untuk apa?

Selama ini, yang terpenting cuma perkembangan loncat indahku, 'kan?

Ada banyak hal yang tak Ayah ketahui tentang aku.

Tak perlu lagi bingung siapa yang harus dicoret.

Aku keluar dari tim.

[pintu loker menutup]

Lala!

Lala?

[mengetuk]

[Lala] Kau tahu sendiri, 'kan?

Ayah cuma punya aku, Ibu, dan loncat indah.

Ibu sudah tiada.

Aku keluar dari tim.

Aku cuma terpikirkan bagaimana keadaannya.

[Yudhis] Keluar dari tim adalah keputusan yang berani

dan jujur.

Aku sama sepertimu.

Kita sama-sama diminta untuk menjadi seperti mereka.

Diminta mendengarkan mereka.

Namun, apa mereka pernah mendengarkan kita?

Mendengarkan saja mereka tak mau.

Mungkin mereka tak tahu caranya.

Namun, aku mengerti,

dan aku akan selalu ada untukmu.

Kalau kau mau, aku bisa mendengarkanmu kapan pun.

Karena, menurutku...

kita berdua sudah cukup kuat untuk mengalahkan dunia sebesar ini.

Oke?

Sekarang, aku mau melihatmu mengeluarkan emosi.

[Lala] Satu, dua, tiga.

- Di sini? - Tunggu.

[Yudhis berteriak]

- Bagaimana? - Bagus sekali!

[Lala] Hai, Sayang.

Tidak, cuma para gadis.

Oke, sampai nanti pukul 17.00, ya. Dah.

Kau tahu, semuanya terbalik.

Kau sudah bukan atlet,

tetapi kita malah jarang bertemu.

Begitulah kalau baru berpacaran, Ega.

Bulan depan sudah bosan.

Begitu, ya?

Begitu, Rino!

Lewat.

Aku tahu!

Bukan.

Apa namanya?

[tawa]

Kau pergi dengan siapa? Ada Rino?

Lala?

- Apa? Bukan? - Lagi!

Kau pergi dengan siapa? Ada Rino? Lala?

Lagi!

[tawa]

Lala, Yudhis kirim pesan menanyakan apa kau bersamaku.

Aku jawab ya.

- Perhatian sekali, beda dengan Rino. - Apa Rino punya pacar?

Jahat.

- Benarkah? - [tak jelas]

[nada panggil berdering]

Karena aku tahu kau akan marah kalau ada Rino di sana.

[telepon seluler bergetar]

[nada pesan berbunyi]

Rino itu sahabatku.

Teman SD dan sekarang teman sebangku.

Cobalah mengenalnya. Dan Ega juga.

[telepon seluler bergetar]

[masih bergetar]

Angkatlah.

Tidak.

Angkat.

Sahabat, 'kan? Teman SD. Ayolah.

- Tidak, aku tak mau mengangkatnya. - Angkatlah.

- Tidak, aku tak mau! - Angkat!

Minta antarkan.

[Rino di telepon] Halo, Lala?

Tolong antarkan.

[telepon seluler dimatikan]

[mesin mobil menyala]

[nada sambung berdering]

[nada sambung memanggil]

[Lala] Ega, kau telepon Rino sekarang. Katakan jangan ke rumahku.

[Ega di telepon] Telepon saja sendiri. Kenapa?

Tidak mungkin. Besok akan kuceritakan.

Lala?

Lala?

Lala?

[telepon seluler berdering]

[Rino] Halo, Ega?

Aku di depan rumah Lala.

Baik.

Yudhis?

Lala, maafkan aku.

Aku tak sengaja. Maaf.

Aku tak mungkin menyakitimu.

Tidak.

Jangan kau putuskan aku.

Aku serius denganmu.

Maaf, Lala.

Maaf.

- Maaf! - Hentikan!

[Lala merengek]

Akan kubuktikan aku pantas kau maafkan.

[mesin mobil menyala]

[nada pesan berbunyi]

Lala, kenapa kau? Apa kau bertengkar dengan Yudhis?

Aku baik-baik saja. Cuma salah paham.

[celotehan tak jelas]

- Boleh duduk? - Duduklah.

- Ada apa? - Yah...

Sebenarnya, kemarin aku mau meneleponmu.

[Lala] Apa dia cerita masalah sebenarnya?

Apa serius?

Katanya cuma salah paham.

Saat kutanya mengapa, dia tak mau jawab.

Begini, ya...

Kita, yang sudah bersahabat dari SD,

masih sering bertengkar.

Apalagi kau yang baru saja berpacaran.

Kata orang yang belum pernah berpacaran.

Memang, tetapi aku sudah sering menjodohkan banyak orang.

Kau beruntung mendapatkan Yudhis.

Belum tentu kau punya pacar seperti dia lagi.

Sudahlah, percaya kepadaku.

Ini masalah sepele.

Banyak yang bercerita kepadaku.

Berlagak sekali.

Aku berkata apa adanya.

Lala.

Duduk dahulu.

- Bagaimana sekolahmu? - Baik.

Bagus. Sudah pilih kuliah di mana?

Hubungan Internasional, Universitas Indonesia.

Kalau begitu, kau harus tetap masuk tim.

Menurutku, yang diutamakan pasti atlet.

Jadi, menurutmu aku tak bisa lolos kalau aku bukan atlet?

Bukan begitu.

Itu juga demi dirimu. Kalau kau mundur, kariermu tamat.

Lalu kenapa?

Jadi, kau tak memperlakukanku seperti anak jika aku bukan atlet?

[menghela napas]

Karirmu itu hasil kerja keras keluarga.

Itu warisan ibumu. Ayah harap, kau bisa lebih...

Bisa apa, Yah?

Lebih hebat dari Ibu?

[menghela napas]

Satu-satunya yang percuma adalah harapan Ayah terhadapku.

Aku tak akan bisa sehebat Ibu.

[lagu tarian dimainkan]

[tidak terdengar]

[tidak terdengar]

[tidak terdengar]

Hati-hati, Rino!

[nada pesan berbunyi]

[nada pesan berbunyi]

Aku ada kalau kau bermasalah dengan Yudhis.

[musik cepat dimainkan]

[logam berbenturan]

Ada apa, Sayang?

Tak apa. Tidurlah kembali.

Aku mencintaimu.

[Ega] Sudah kukatakan, naik taksi bersamaku.

Jangan naik sepeda motor sendirian. Beginilah akibatnya.

Ya, Cerewet. Kau terdengar seperti ibuku.

Selalu saja membantah.

Beruntung kita masih bertemu di kelas,

bukan dipendam dalam tanah.

Kenapa? Takut kalau aku bergentayangan?

Kalau kau jadi hantu, tak ada yang takut.

SIM-mu seharusnya dicabut.

Janganlah.

Berkendara sambil kirim pesan teks.

Pesan apa?

Ini.

Aku tak ingat apa pun.

Apa ya?

[kunci mobil berbunyi]

- Ini mobil ibuku. - Kenapa dengan mobilmu?

- Penyok. - Penyok kenapa?

Tak biasanya kau perhatian dengan mobilku.

[Ayah berdeham]

Ulang tahunku masih besok, Yah.

Maaf, besok Ayah tak bisa di rumah.

Lagi pula, seharusnya kita merayakan ulang tahunmu di mes atlet.

Besok pergi bersama Ega dan Rino, 'kan?

Aku pergi bersama Yudhis, Yah.

Selama Ayah pergi, jangan menerima tamu pria di rumah.

Tentu tidak, Yah.

Bagaimanapun, kau harus membatasi hubunganmu.

Hidupmu bukan cuma untuknya.

Kau masih muda. Umurmu masih...

Tujuh belas tahun?

Usia yang sama saat Ayah bertemu Ibu, 'kan?

[Ayah] Zaman sekarang sudah berbeda.

Siang sudah bertemu, malam masih berhubungan juga.

Ayah mendengar panggilan videomu dengannya malam hari.

Yudhis itu pria baik, Yah. Ayah saja yang belum mengenalnya.

Pertemuan pertama juga tak mengenakkan.

Seharusnya Ibu yang bicara denganmu.

Sekarang kita hanya berdua.

Ayah harap kau paham maksud Ayah.

Kalau Ibu masih hidup, dia pasti ingin mengenal Yudhis.

Jagalah kepercayaan Ayah kepadamu, ya?

[musik instrumental lambat dimainkan]

[terkesiap]

Selamat ulang tahun, Sayang.

[Lala meniup, tertawa]

Sayang, masuk lewat mana?

[Yudhis terkekeh]

Pakai ini.

- Kemarikan. - Tidak mau.

Kalau aku rindu, bagaimana?

Kalau tetangga tahu, bagaimana?

Tak akan. Aku bisa menghilang.

Kemarikan!

Tidak mau.

[keduanya terkekeh]

- [Yudhis] Yang penting kau bahagia. - [Lala] Omong kosong.

Kau sudah isi formulir untuk masuk ke universitas?

Belum. Masih verifikasi nilai.

Jadi masuk UI?

Aku pilih ITB.

Ibu juga sudah setuju.

Dia mau tinggal di sana juga. Bahkan sudah beli rumah di sana.

Benarkah?

Di Bandung, jurusan Hubungan Internasional juga bagus.

Ada UNPAD. Kau bisa daftar di sana.

Sayang, kau tak meminta pelayan bernyanyi lagu ulang tahun untukku, 'kan?

Isi penuh.

- Aku ke toilet sebentar, ya? - Ya.

[telepon seluler bergetar]

[mengetuk jendela]

Pakai nota?

Boleh, Mas.

Kenapa, Lala?

Tadi ada yang menelepon.

Siapa?

Ada masalah?

[mesin mobil menyala]

Lupakan sajalah.

Kenapa? Katakan saja.

Lala.

Sebenarnya, apa kau ada hubungannya dengan kecelakaan Rino?

Mobilmu penyok kenapa?

Kau menuduhku?

Bukan itu maksudku.

Sebentar. Aku tak mengerti.

Kau yang memintaku mengenal mereka.

Sudah kulakukan.

Aku mengajak mereka bergaul, kupelajari siapa mereka.

Itu semua kulakukan untukmu.

Lalu kenapa sekarang aku yang dituduh?

Ya sudah, terserah kau saja.

Percuma juga melanjutkan hubungan kalau kau tak percaya kepadaku.

Ini seharusnya sederhana.

Percaya atau tidak.

[Lala] Kau benar-benar tak ingat siapa yang menabrakmu?

Bukan Yudhis.

Lagi pula, kita pulang beda arah.

Dan dia justru mengingatkanku.

Kau yakin?

Aku yakin.

Lagi pula, yang paling penting,

kalau kau ada masalah dengan Yudhis, aku ada...

jangan khawatir.

Terima kasih, Rino.

Kejutan.

Kau tunggu di kafe sebentar, ya?

[wanita] Siapa, Yudhis?

Siang, Tante.

Siang.

Kau siapa, ya?

Aku Lala. Temannya Yudhis.

Teman atau "teman"?

Mengapa Ibu tak pernah dikenalkan?

Kau yang mau berkuliah di Bandung, ya?

Mau tinggal di indekos juga, 'kan?

Ya?

[pria] Permisi.

Halo, Bapak.

- Masih ingat, 'kan? - Masih.

- Sudah kenal dengan Amel? - Halo, apa kabar?

Bagaimana perjalanannya ke sini?

Ini masih kita bahas nanti.

Apa kau jadi masuk Unpad?

Aku belum bicara dengan ayahku.

Aku tak mungkin batal masuk ITB.

Ibuku bisa marah kepadaku.

Kenapa ITB?

Kapan aku bisa bertemu dengan ayahmu?

Bandung?

Kau tak jadi masuk UI?

Begini, Yah, maksudku...

Begini, Om.

ITB itu tradisi keluarga saya.

Jadi, saya harus berkuliah di sana.

Selama kuliah di sana,

Lala bisa masuk Unpad.

Ya, 'kan, Lala?

Lala ini anak tunggal.

[terkekeh]

Tak terbayangkan kalau dia jauh dari saya.

Saya mengerti, Om.

Namun, saya serius dengan Lala.

Saya yang akan menjaganya di sana.

Saya hargai kejujuranmu,

tetapi...

setia kepada satu orang adalah keputusan besar.

Ada baiknya kau bicara dengan ayahmu dahulu.

Nanti kau paham.

Tidak bisa, Om.

Ayah saya meninggalkan ibu saya dan saya sejak kecil.

Ini enak. Silakan ditambah.

[perkakas makan berdenting]

Ayah cuma mengingatkan, masa depanmu milikmu sendiri.

Bukan orang lain.

Aku tahu, Yah. Makanya serahkan keputusan ini kepadaku.

Ayah tak perlu takut.

Kenapa harus takut?

Ayah biarkan anak gadis Ayah loncat dari ketinggian 10 meter.

Aku yang naik ke menara itu. Aku juga yang loncat.

Aku yang dinilai oleh juri. Dan aku menang, 'kan?

Ya, benar.

Namun, kau selalu loncat dalam keraguan.

Kalau kau sudah yakin dengan keputusanmu, lakukan saja.

Kenapa harus membawanya kemari?

Jadi, siapa yang butuh diyakinkan?

Ayah atau kau?

[Ega] Aku lolos!

Lala, kau diterima juga, 'kan?

Kau lolos?

[bersorak]

Masuk Unpad?

Alasan apa lagi?

Masih berkata kita serius?

Ibuku pasti tak mau aku meninggalkan Ayah sendiri di sini.

Pikirkan, Lala!

Kau sudah lama meninggalkan ayahmu.

Ayahmu sudah tak menganggapmu ada.

Ayahmu cuma menganggapmu atlet.

Aku yang selalu ada untukmu.

Maaf, Yudhis.

Batalkan UI, ya?

Ke Bandung bersamaku?

Tak mungkin.

Aku tak mungkin meninggalkan ayahku sendiri di sini.

Kau memutuskan aku?

Maaf, Yudhis.

Sudah berapa orang yang menggaulimu?

Begitu mudahnya kau tinggalkan orang.

Berapa banyak?

Egois sekali kau!

Kenapa bukan kau yang ikut ke UI?

Ini tentang ibuku, Lala.

Berhenti menggunakannya sebagai alasan.

Kau dan ayahmu sama-sama pengecut!

[gedebuk]

[dentang keras]

[para murid bicara tak jelas]

Yudhis, pergilah. Pergi!

Ampun, Lala.

Aku tak mungkin menyakitimu.

[gemeretak]

Lala, ingat semua yang sudah kita lakukan.

Aku tak peduli! Meski semua orang tahu yang pernah kita lakukan.

Aku tak peduli!

Kita putus!

[mesin mobil menyala]

[pintu terbuka]

[tersedu]

Kenapa?

[tersedu] Yudhis, Yah.

Kita ke kantor polisi sekarang.

Ayah saja tak pernah memukulmu.

Aku berjanji kami tak akan bertemu lagi.

Aku bersumpah.

[terisak]

Apa yang sudah kau lakukan dengan Yudhis?

Yah, aku bersalah. Aku minta maaf.

Bukan cuma melakukan kesalahan. Melainkan sudah mempermalukan keluarga.

Lupakan dia, Lala.

Yudhis butuh aku.

Dia bukan orang jahat.

Dia cuma...

rumit.

Tak semua persoalan bisa dipecahkan.

Namun, cuma aku yang bisa membuatnya berubah.

Kalau begitu, aku yang bersalah.

Aku yang menjodohkan kau dan Yudhis.

Aku juga yang memaksamu memperbaiki hubunganmu dengan Yudhis.

Bukan begitu.

Seharusnya aku lebih sabar menghadapinya.

Kalau sudah sabar, lalu bagaimana?

Bukan tanggung jawabmu dia berubah atau tidak.

[musik instrumental lambat dimainkan]

[nada pesan berbunyi]

- Lala. - Yudhis, kita perlu bicara.

Seharusnya kita bisa perbaiki ini.

[mobil mendekat]

Mengapa kau belum berkemas?

[kesal]

Kumohon, Bu.

Aku mau di sini. Aku tak mau pindah.

Aku mau bersama Lala.

Katakan sekali lagi.

Aku mau bersama Lala.

Aku bahagia di sini.

Cuma karena Lala?

Apa bisa kau bersamanya selamanya?

Lala mencintaiku, Bu.

Yang mencintaimu cuma Ibu.

- Ada. - Ya. Cuma Ibu yang mencintaimu.

[terkekeh]

Sekarang aku mengerti mengapa Ayah meninggalkan kita.

[marah]

- Kemari. - [terengah]

Jangan sebut nama orang itu!

Kau tak tahu apa yang sudah dilakukannya kepada kita.

Jangan sok tahu!

[Yudhis mengerang]

Berdiri!

Yudhis, kau tahu...

Yang mencintaimu cuma Ibu.

Berkemas!

[mengembuskan napas]

[pintu terbuka]

[pintu tertutup]

[Yudhis terisak]

[musik piano lambat dimainkan]

[terisak]

Sayang, kita pergi, ya.

Kita pergi dari sini.

Tidak, tak apa.

Nanti Ibu pasti minta maaf.

Aku tak apa.

Kata maaf sudah tak ada artinya lagi.

[Yudhis terisak]

Kau tak akan menjadi baik kalau tinggal di sini.

Tidak. Di sinilah kehidupanmu.

Tak mungkin.

Ada yang lebih penting dari itu.

Kau.

Kita.

Lala.

Lala!

♪ Dan... ♪

♪ Dan bila esok datang kembali ♪

♪ Seperti sedia kala di mana ♪

♪ Kau bisa bercanda ♪

♪ Dan... ♪

♪ Perlahan kau pun lupakan aku ♪

♪ Mimpi burukmu ♪

♪ Di mana telah kutancapkan derita ♪

♪ Dan kau pun menangis ♪

♪ Menangis sedih ♪

♪ Maafkan aku ♪

♪ Dan... ♪

♪ Bukan maksudku ♪

♪ Bukan inginku ♪

♪ Melukaimu sadarkah kau Di sini aku pun terluka ♪

♪ Melupakanmu ♪

♪ Menepikanmu ♪

♪ Maafkan aku ♪

♪ Lupakanlah saja diriku ♪

[keduanya bernyanyi bersama] ♪ Bila itu bisa membuatmu ♪

♪ Kembali bersinar Dan berpijar seperti dahulu kala ♪

♪ Caci maki saja diriku ♪

♪ Bila itu bisa membuatmu ♪

♪ Kembali bersinar Dan berpijar seperti dahulu kala ♪

♪ Lupakanlah saja diriku ♪

♪ Bila itu bisa membuatmu ♪

♪ Kembali bersinar Dan berpijar seperti dahulu kala ♪

♪ Caci maki saja diriku ♪

♪ Bila itu bisa membuatmu ♪

♪ Kembali bersinar Dan berpijar seperti dahulu kala ♪

Sok jual mahal? Jadi perawan tua nanti. [terkekeh]

Kenapa?

Lala?

Kenapa, Lala?

Itu pria-pria di dalam. Berengsek!

Apa yang dilakukannya kepadamu?

Mereka mau berkenalan, minta nomor telepon.

Aku tak mau, mereka memaksa.

Bokongku dipegang.

Yudhis!

Sudahlah!

Yudhis!

Jangan kasar kau!

Sudah. Hentikan!

[pria mengerang]

Ayo pergi dari sini!

Lala...

[Yudhis] Kita pulang.

Aku tak bisa melihatmu terus begini.

[Lala] Tidak, aku tak mau pulang.

Lihat kondisimu sekarang.

Ini kesalahanku.

Seharusnya aku tak mengatakannya kepadamu.

Aku bisa menjagamu.

Kalau kau menjagaku, siapa yang menjagamu dari diriku?

Ya sudah. Kita pergi sekarang, ya.

Yudhis, ayolah.

Jihan benar.

Aku yang mengarahkan sinar laser.

Aku yang menabrak Rino.

Semua itu bisa terjadi kembali.

Aku bisa menyakiti siapa saja yang dekat denganmu.

Dan aku mengerti alasannya, Yudhis.

Ini bukan salahmu.

- Aku mengerti kenapa... - Pulang sana!

Sayang, kita akan punya kehidupan baru di Bali.

Aku bisa melatih loncat indah. Uangnya untuk kuliahmu.

Kita menabung. Nanti kita menikah dan beli rumah di sana.

Aku membutuhkanmu. Aku tak bisa tinggal di sana sendirian.

[membentak]

Tak mungkin, Lala.

Mengendalikan emosiku saja tak bisa, apalagi membuatmu bahagia?

Sekarang pun tak tahu apa aku jujur kepadamu.

Bisa jadi aku memanipulasimu.

Oke.

Aku terima kalau kau memutuskanku.

Kau berhak meninggalkanku selamanya.

Itu hakmu.

Namun, ingatlah satu hal.

Ke mana pun kau pergi,

aku akan selalu mencarimu.

♪ Kita teralih ♪

♪ Terlalu tinggi ♪

♪ Terbuai 'kan mentari ♪

♪ Tak mau kembali ♪

♪ Kita melayang ♪

♪ Terlalu lama ♪

♪ Menghangatkan seluruh dingin dunia ♪

Kita bersihkan diri dahulu.

Lalu kita sarapan.

♪ Kita teralih ♪

♪ Kita teralih ♪

♪ Tibalah malam ♪

♪ Herannya lelah ♪

♪ Tak kunjung datang jua ♪

♪ Kita teralih ♪

♪ Kita teralih ♪

♪ Kita teralih ♪

♪ Kita teralih ♪

[air gemercik]

[musik instrumental lambat dimainkan]

[telepon seluler bergetar]

[mesin meraung]

[Lala terisak]

[tersedu-sedu]

Maafkan aku, Yah.

[terisak]

Maafkan Ayah juga.

♪ Badai, Tuan ♪

♪ Telah berlalu ♪

♪ Salahkah aku menuntut mesra ♪

♪ Tiap pagi menjelang ♪

♪ Kau di sampingku ♪

♪ Aku aman ada bersamamu ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Sampai kita tua ♪

♪ Sampai jadi debu ♪

♪ Aku di liang yang satu ♪

♪ Aku di sebelahmu ♪

♪ Badai, Puan ♪

♪ Telah berlalu ♪

♪ Salahkah aku menuntut mesra ♪

♪ Tiap topan menyerang ♪

♪ Kau di sampingku ♪

♪ Kau aman ada bersamaku ♪

♪ Selamanya ♪

♪ Sampai kita tua ♪

♪ Sampai jadi debu ♪

♪ Aku di liang yang satu ♪

♪ Aku di sebelahmu ♪

[langkah kaki mendekat]

[introduksi lagu dimainkan]

Terjemahan subtitle oleh Kiki Alek

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.