Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitle bY NETFLIX Ripped & Resynced == ANANG KASWANDI ==
Telegram >> https://t.me/Anangkaswandisubtitleindo IG >> @Anang2196_sub_indo
Apa hakmu membeberkan semuanya kepada suamiku?
Kau tak punya hak.
Dia memang suamimu,
tapi juga menantuku.
Ji-a juga, dia memang putrimu,
tapi juga satu-satunya cucuku.
Apa ayahku ada dua?
Ayahku hanya satu,
tapi siapa yang membuatku tak bisa menemuinya?
Karena itu…
Aku tak bisa hidup dan bernapas dengan lega di hadapanmu.
Setelah hidup seperti itu,
kau membuatku seperti pembohong di depan suamiku?
Aku tak bisa jelaskan dengan baik.
Kau buat aku menjadi pembohong licik.
- Apa maksudmu… - Kau bilang, hubungan kalian baik.
Lalu Ayah wafat dalam kecelakaan mobil.
Sampai sebelumnya, aku berpura-pura dari keluarga dua orang tua yang bahagia.
Kau tahu sekeras apa aku berusaha agar tak tampak terganggu
meski dibesarkan orang tua tunggal!
Lalu, apa ini? Ibu berulah seakan demi putrimu sendiri.
Membeberkan semua masalah yang bahkan tak bisa aku ceritakan!
Dia pikir kesepian adalah satu-satunya masalahku!
Sebenarnya, kau memang tak punya masalah.
Kau berpikir begitu? Aku terlihat baik-baik saja?
Itu harapanmu, 'kan?
Kau tumbuh dengan baik.
- Kau tak pernah hancurkan hatiku… - Perlu kuulangi?
Baru saja kau bilang kau tak bisa hidup tenang di hadapanku.
Aku tahu
aku ini jahat dan tak normal.
- Tidak… - Dia akan menjauhiku.
Kini dia tahu aku berpura-pura selama sepuluh tahun.
- Yu-sin pasti paham… - Kau bisa baca pikirannya?
Mungkin dia tidak bilang, tapi dia akan merasa begitu.
Tapi kau berbuat banyak untuknya.
Benar.
Aku berusaha menjadi menantu dan istri yang sempurna sampai rasanya ingin mati.
Tapi kenapa rasanya nihil? Kenapa kau ikut campur?
Sampai kapan hidupku berantakan karena Ibu?
"Apa yang bisa dia pelajari dari keluarga yang retak?"
Dia pasti akan berpikir begitu.
Jika aku dia, aku akan begitu.
Selalu berpikir negatif pada pria karena Ayah yang pernah selingkuh.
Aku bisa histeris kepada Ibu hanya karena omelan kecil.
Aku simpan kebencianku, takut orang memandangku begitu.
Apa Ibu pikir aku tak punya kebencian itu?
Ini semua karena suamimu berselingkuh?
Mengakhiri pernikahanmu saja cukup.
Kenapa memisahkanku dan Ayah juga?
Ibu hanya memikirkan diri sendiri.
Karena hanya perasaan yang penting.
Kau tak mempertimbangkan penderitaan orang lain
dan luka putrimu.
- Harusnya kau tahu karena sudah menikah. - Tahu apa?
Begitu menikahi seseorang,
berselingkuh adalah satu-satunya hal yang tak termaafkan.
- Kau masih belum mengerti? - Baik.
Anggap Ayah tak termaafkan.
Tapi apakah itu salahku?
Aku yang memaksa kalian menikah?
Kalian menikah karena saling suka dan melahirkan aku.
Bagaimanapun, dia ayahku.
Kami satu darah.
Meskipun bercerai,
seharusnya jangan pisahkan kami.
Alih-alih,
kau merengek soal kau salah memilih pria
dan itu membuatmu menjanda.
Sungguh memuakkan.
Ayah sangat mencintaiku.
Sangat menyayangiku.
Aku tahu dia berselingkuh,
tapi kenapa tega memisahkan kami?
Kau buat dia tak bisa bertemu putri semata wayangnya.
Ayah juga berhak untuk itu.
Dia bersalah kepadamu, bukan aku.
Tapi kau mengusir dia tanpa apa pun.
Kau tak akan mengerti
karena orang tuamu hidup cukup lama.
Kau tak akan bisa membayangkannya.
Di mataku,
sosok Ayah yang menyambutku dengan tangan terbuka…
Tak akan kulupakan sampai mati.
Nenek yang membelamu pernah bilang,
"Tak bisa makan yang dibenci, tak bisa temui orang yang dibenci."
Kau tak bisa ampuni suami yang berselingkuh dengan sekretarisnya.
Aku bisa memahaminya.
Tapi kau tak bisa pisahkan orang tua dan anak.
Aku makin mengerti setelah melahirkan Ji-a.
Saat temanku pergi dengan ayahnya,
atau dihadiahi produk riasan,
atau pamer makan enak bersama…
Bayangkan perasaanku saat itu.
Jangankan bisa kubanggakan,
Ayah yang tak bisa kutemui selamanya…
Aku menderita saat berpikir
tak bisa menggandeng tangan yang hangat dan kokoh itu…
Ibu pernah meminta maaf kepada Ayah meski dalam hati?
Pernahkah Ibu merasa bersalah?
Maaf karena memberi tahu suamimu,
tapi kau tak akan dikhianati
karena Yu-sin orang yang jujur. Tapi…
Ayah meninggal karena Ibu!
Bukan hanya mengusirnya,
Ibu juga melarangnya bertemu dan berbicara denganku!
Karena itu, Ayah ke sekolahku
dan tewas dalam kecelakaan!
Ibu mau berdalih apa lagi?
Katakan, apa aku bicara omong kosong lagi?
Benar! Semua salahku!
Ayahmu tak bersalah.
Hanya aku yang bersalah!
Tapi hidup dan mati sudah ditakdirkan.
Dia meninggal karena sudah takdirnya.
Aku sudah selesai bicara.
Bencilah Ayah sampai mati.
Ibu sama sekali tak salah.
Ayah ditakdirkan meninggal karena memang pantas dihukum.
Puas?
Jangan harap bisa bertemu Ji-a lagi.
Ibu takkan bertemu dengannya seperti aku dan Ayah!
Dasar tak tahu malu!
Bahkan Tuhan membenci pezina!
Kau tak tahu rasanya dikhianati karena belum mengalaminya.
Rasa dikhianati yang membuatmu geram.
Ibu tak merasa bertanggung jawab?
Tak merasa Ibu penyebabnya?
Aku akui Ayah berkhianat dan melukaimu.
Tapi Ibu tak seutuhnya tak bersalah.
Sepertinya Ayah muak, sama sepertiku.
Apa katamu?
Ibu selalu saja…
bersikap seperti ini.
Tak bisa memikirkan orang lain sedikitpun meski telah berumur.
Kau menikahi seorang pria karena cinta dan menaikkan status sosialnya,
tapi dia berani berselingkuh dengan sekretarisnya.
Tentu karena sangat emosi dan gelap mata.
Tapi pernahkah berpikir bahwa Ibu adalah penyebabnya?
Ibu meremehkan orang lain.
Menganggap diri sendiri segalanya.
- Aku? - Dulu bahkan lebih parah.
Ibu dulu selalu memberi tahu bahwa bantuan takkan disyukuri,
serta mencoba dan melewati batas jika kau terlalu baik pada mereka.
Kau selalu meremehkan orang lain.
Bagaimana Ibu memperlakukan Ayah?
Kau perlakukan dia secara hormat?
Ayah dalam ingatanku…
selalu harus menjaga perasaan Ibu.
Ibu kesal karena masalah sepele.
Dengan hati-hati Ayah membujuk Ibu setiap kali begitu.
Bahkan anak kecil pun tak seharusnya begitu.
Ibu tahu apa kata produser di tempatku?
"Wajah cantik hanya bertahan sebulan. Kebaikan akan bertahan selamanya."
Bayangkan di posisinya.
Di posisi Ayah. Meski Ibu sudah tahu,
Ibu akan memahaminya.
Ibu hanya benci mengakuinya.
Aku pun akan tergoda dengan sekretaris yang manis dan baik
jika punya istri yang menyulitkan.
Itu wajar.
Semua perasaan manusia itu sama.
- Kau sudah selesai bicara? - Coba pikirkan.
Jika kau punya suami yang kasar
dan ada pria muda baik mendekatimu, kau pasti akan tertarik.
Itu wajar.
Sebelum menjadi putri orang kaya,
andai Ibu bersikap hangat pada keluarga sebagai seorang istri,
dengan sifat Ayah seperti itu…
Ayah akan jujur dan perhatian pada Ibu.
Ayah tak akan berpaling.
Meski ada yang mendorongnya untuk berkhianat,
Ayah akan menjaga kepercayaan Ibu.
Karena itu kau mirip denganku?
Karena itu kau bersikap dingin begini?
Sepertinya begitu.
Meski tak tahu perasaan suami,
bagaimana dengan derita anak sendiri?
Cobalah pikirkan.
Jika jadi Ibu, aku akan malu minta bertemu Ji-a.
Aku akan menghilang sampai dicari.
Begitulah seharusnya.
- Jae-yu! - Ada apa?
U-ram, kalau dipikir-pikir…
- kau menabung uang sakumu, 'kan? - Ya.
- Terkumpul berapa? - Aku tak menghitungnya.
- Mungkin sudah ratusan ribu. - Mungkin saja.
Cobalah hadiahkan baju cantik untuk ibumu.
Kau bilang tak suka ibumu menua.
Baju yang terlihat muda.
BAHASA KOREA
Hyang-gi.
Kau mengetuk pintu?
Aku lupa.
Ayo kumpulkan uang untuk hadiah Ibu.
Ulang tahun Ibu masih lama.
Ayah juga akan berikan hadiah pernikahan.
Baju Ibu sedikit. Selalu saja pakai celana.
- Aku juga tak punya banyak baju. - Lalu apa itu semua?
Di lemari juga banyak.
Semuanya aku beli murah di internet.
- Kau punya berapa? - Kau?
Aku yang tanya duluan. Jawablah.
Selamat tidur.
- Selamat tidur, putriku. - Ya.
Padamkan lampu kamarmu. Hari ini jangan baca buku.
Ya. Selamat malam.
Mau segelas lagi?
Tidak.
Aku dengar kau ke rumah Ibuku.
Itu kenangan menyakitkan bagiku,
jadi, aku tak mau menceritakan detail
soal keluargaku.
Aku mengerti.
Aku tahu kau sangat menderita dan terluka.
Kau membenci ayahmu?
Jika dia tak berselingkuh,
dia tak akan tewas dalam kecelakaan.
Alih-alih menyesalinya, aku lebih merasa menyayangkannya.
Cobalah memaafkan ibumu.
Seseorang bisa berbuat salah
dan ibumu hanya tak bisa terima, bukan berbuat salah.
Kau tahu?
Ya?
Aku akan berusaha, tapi…
tolong kau pura-pura tak tahu untuk sementara.
Jangan bawa Ji-a ke sana.
Aku terpaksa bersikap dingin.
Terlebih sekarang ini.
Jika itu keinginanmu.
Baiklah. Perasaanmu adalah prioritasku.
Terima kasih.
Dan maaf.
Benar. Kau seharusnya minta maaf.
Apa benar aku suamimu? Kau tak bisa percaya padaku?
Kau tak boleh merahasiakan sesuatu dariku.
Bukan rahasia…
Aku hanya berat untuk menceritakannya.
Aku tak punya saudara untuk mengisi kekosongan peran ayahku.
Kau punya aku, Sayang.
Menangislah kapan pun kau mau.
Aku akan memelukmu.
Bagaimana jika ingin menangis saat kau tak ada?
Haruskah kutahan?
Datanglah padaku di mana saja.
Hubungi aku kapan pun kau butuh.
Aku sering membutuhkanmu.
Saat bingkai foto waktu itu jatuh.
Saat jaring nyamuk ruang baca terlepas.
Baiklah. Aku adalah budak cintamu.
Orang yang terus bersamamu,
bukanlah ibumu atau Ji-a,
tapi aku.
Mari menua dengan anggun bersama.
Aku
siapkan bak mandi dulu.
- Ya? - Apanya?
Sudah lama kita tak saling menggosok punggung.
Aku malu.
Tunggu, Nona, kita ini suami dan istri.
Kenapa harus malu?
Menunda terus.
- Aku harus buat daftar putar lagu. - Kau berdalih.
Tidak, aku sungguhan. Lihat saja halaman resmi kami.
Sayang!
Aku konyol sekali.
Aku beli kue jeruk kesukaanmu, tapi lupa membawanya masuk.
Di kursi penumpang.
Baiklah.
Bagus.
TERIMA KASIH
Hari ini juga aku mencintaimu, Suamimu yang Setia, Yu-sin.
Lagu yang indah.
Bisakah aku minta anggur?
Kau yang terbaik.
Jantungku berdebar.
Jangan diminum.
Tidak, bukan karena anggur.
Karena melihatmu seperti ini.
Kau ingat saat kali pertama kucium keningmu?
Tak dingin? Masuklah.
Tidak dingin. Kenapa kedinginan di kamar mandi?
Masuklah ke bak mandi, wahai Sa Pi-young sayang!
Nama pemberian ayahmu terkesan…
Romantis? Sepertinya dia punya selera.
Tapi untuk wajah, aku lebih baik daripada ayahmu, 'kan?
Kenapa tak menjawab?
Masuklah. Sudah terlanjur basah.
Tutup matamu.
Mau menuang anggur?
Tidak.
Jangan berani-berani mengecewakanku.
Lepas. Nanti anggurnya tumpah.
Kenapa dilepas? Aku bukan orang lain.
Masuklah, Sa Pi-young!
Astaga!
Jangan menungguku. Aku banyak pekerjaan.
ALARM, 06.30
Roti lapis yang ini.
Aku tak bisa tidur, cemas kau lapar.
- Besok kerja pukul berapa? - Hanya ada siaran rutin.
Korea mungkin satu-satunya negara dengan kafe yang buka 24 jam.
Benar.
- Makan malam apa tadi? - Nasi dan sup.
Kasihan sekali, pengacaraku.
Aku makan nanti setelah selesai.
Kau tak senang melihatku?
Tentu saja senang.
Tapi kelihatannya tidak.
Apa mulutmu akan gatal jika tak merengek setiap hari?
Ya, gatal.
Kau bisa kerja di rumah.
Aku tak bisa fokus dan ini harus diperbaiki.
Di luar ada sofa?
Cepat pulanglah. Aku selesaikan ini.
Kulitmu bisa rusak kalau tak tidur, 'kan?
Makanlah ini.
Pil herbal.
Bentuknya jelek seperti kata Ji-a.
Apa maksudmu?
Apa kata orang lain jika tahu aku minum obat tradisional.
Puluhan tahun aku menjadi dokter.
Ini obat peningkat daya tubuh.
Kunyah yang lama.
Bagaimana jika aku hidup lama karena memakan ini?
Kau harus hidup lama.
Aku hanya punya kau.
Kenapa? Ada Yu-sin,
juga ibunya Ji-a…
Tentu saja,
semua anggota keluarga itu penting.
Tapi kau lebih dari keluarga.
Teman-temanku
hanya tinggal separuh yang masih hidup.
Tapi katanya aku penyelamat negara di kehidupan sebelumnya.
Bukankah Pak Hwang menikah lagi dengan wanita 42 tahun?
Siapa yang peduli jika dia berumur 30 atau 40 tahun?
Apa ada wanita sepertimu?
Dong-mi.
Ya?
Kau yakin tak akan membenciku karena hidup panjang umur?
Justru aku akan marah jika kau pergi lebih dulu.
Aku tak akan biarkan kau pergi.
Baiklah.
Belakangan ini, aku merasa bisa hidup hingga 100 tahun.
Benarkah?
Ya. Kondisiku bagus berkat kau.
Aku saja.
Tapi badanku tak sakit.
Diam saja. Badanmu akan terasa segar.
Kebaikan harus dibalas kebaikan.
Kau penuh cinta dan kebaikan, Dokter.
Apa kau tak bisa berhenti memanggilku "Dokter"?
Aku ingin hidup dan mati seperti ini.
Mau kupanaskan susu?
Bisa kau katakan pada anak-anak?
Atau aku saja?
Kau bersungguh-sungguh?
Kau sakit parah, 'kan?
Jujurlah. Aku bukan orang lain untukmu.
Aku bilang bukan.
Kau kena masalah?
Tak sengaja kontak fisik saat makan malam bersama
dan ada yang lapor pelecehan?
Atau kena tipu uang?
Ada yang memuat berita buruk di media massa?
Bukan semua.
Sudah kubilang, kita sudah terlalu lama menikah. Sudah cukup.
"Sudah cukup"?
"Terlalu lama"?
Lalu pasangan tua lain?
Kau sungguh ingin mengakhiri ini?
Aku yang akan beri tahu anak-anak dan mengurus berkasnya.
Berkas perceraian?
Aku mengabdikan diriku untuk ini?
Setelah pernikahan berat itu,
pada akhirnya aku dibuang.
Kau tak berpikir anak-anak akan terluka?
Kita pisah rumah sementara.
Jangan urus berkas itu.
Si-eun, kau tak seperti dirimu.
Kau orang yang tenang.
Aku bersikap tenang jika itu masalah kita.
Tapi anak-anak tak boleh terguncang. Ini masa sensitif mereka.
Di luar negeri…
dan di negara kita, ada dua jenis keluarga bercerai.
Sebagian besar anak-anak yang tumbuh bermasalah dengan orang tua tunggal.
Ada juga yang baik-baik saja di keluarga tak utuh.
Ada wanita lain?
Kau tak mungkin seperti ini.
- Bukan begitu. - Buat aku mengerti.
Aku turuti jika kau bisa buat aku mengerti.
Tak apa jika aku jujur?
Aku benci bau koyokmu.
Aku tak mau menciumnya lagi.
Puluhan tahun bekerja dengan komputer, pekerjaan rumah tangga tanpa asisten.
Pergelanganmu melemah.
Setiap kali aku melihatmu pakai koyok di tangan dan jari,
bahkan mencium baunya di kasur…
membuatku berpikir, aku menyedihkan dan tak berdaya.
Andai kau tak mengenalku dan bersamaku,
kau akan menua dengan cantik.
Aku terlambat menyesal.
Pikiranku telah menjadikanmu buruk,
membuatku ingin berhenti merasa berdosa.
Orang tak berguna sepertiku
hanya bisa melakukan ini.
Aku tak ingin mengatakan ini.
Aku tahu kau akan sangat tersakiti.
Aku tak akan membawa apa pun.
Ini rumah yang didapat dari kerja kerasmu.
Gajiku hanya bisa membayar sekolah anak-anak.
Kau juga tahu, aku tak bisa beli tas bermerek seperti orang lain.
Apa aku pernah iri tentang itu?
Kau hanya mengenakan baju murah dari pinggir jalan dan bekerja keras.
Karena itu kita punya rumah layak di pusat kota Gangnam.
Aku manusia, juga pria.
Tapi hidup dengan rasa bersalah dan tak tahu malu,
ada kalanya menjadi di luar kendali dan aku ingin menghindar.
Ini berat untukku.
Baru sekarang aku mengatakannya. Kau juga wanita.
Kau pasti ingin pakai baju bagus dan sepatu yang nyaman.
Tubuhmu lelah,
rumah dipenuhi naskah,
dan entah kapan kali terakhir kau tertawa lepas.
Kau hanya senyum pada anak-anak.
Ini bukan dendam.
Kecuali aku menang lotre,
aku tak punya apa pun untuk diberikan kepadamu.
Maaf.
Maafkan aku.
Baiklah.
Siapkan berkasnya.
Aku yang akan beri tahu anak-anak.
Selamat pagi, putraku.
Aku boleh keramas?
Ya.
Jika Hyang-gi bangun minta dia pakai kamar mandi utama.
Ya.
- Di mana Si-eun? - Aku kira bersamamu.
Dia menghilang setelah selesai siaran.
- Coba aku telepon. - Takkan dijawab.
- Apa teleponnya terhubung? - Ya.
Tak mungkin dia tak pamit.
Hari ini dia terlihat lebih lesu.
- Kemarin belum berbaikan? - Kelihatannya begitu.
Lantai satu. Pintu menutup.
Lift akan turun.
Badan suamimu masih bagus? Tanpa perut buncit?
- Ya. - Seharusnya kau tak tenang.
Dia sangat tampan.
Pasien dan suster mungkin akan menggodanya.
Suamiku…
Lanjutkan.
Di rumah, dia mesra denganku dan Ji-a.
Tapi di rumah sakit, katanya seperti harimau.
Kau pasti senang.
Suamimu juga begitu, 'kan?
Suamiku sangat lembut.
Baik dan hatinya lembut.
Itu yang membuatku ingin menikahinya,
tapi ada yang aku sayangkan setelah hidup bersamanya.
Apa itu?
- Aku harap… - Lantai satu.
Aku harap dia lebih maskulin.
Kenapa belum pulang?
- Kau tak lihat Si-eun? - Tidak.
PUSAT MEDIS SENTRAL SIN
Terima kasih.
Ya?
Tak bisa hari ini. Ada janji.
Ya.
Halo?
Mau ke mana?
Bagaimana demammu?
Makan apa?
Jangan makan. Biarkan kau berkeringat.
Nanti aku mampir.
Ya.
Baiklah.
Bu!
Hari ini tak beli buah bit?
- Kejutan! - Astaga!
Sedang apa di sini?
Aku ingin makan salad buah bit buatan Sa Pi-young.
- Baiklah. - Benarkah?
Kau bisa mengirim pesan.
- Kau ke sini untuk membeli bahannya? - Ya.
Jujur saja, ada apa ini?
Sudah lama kita tak berbelanja bersama
dan aku tahu kau belanja di sini.
Bagaimana jika tak bertemu?
Aku percaya firasatku.
Aku yakin kita akan bertemu.
Kau tak suka?
Tentu saja suka.
Aku hampir tak kemari karena kau ada janji.
- Dibatalkan? - Tidak.
Ini janji dengan diriku sendiri.
- Sudah semua? - Kurang daging.
Daging kesukaan putrimu atau kesukaan suamimu?
Daging kesukaan suamiku?
Ayo!
Selamat datang.
Daging steik dan daging panggang masing-masing satu kilogram.
Baik. Tapi mungkin sekitar 20 menit lagi karena daging baru dipotong.
Silakan berbelanja sambil menunggu.
Ya.
Tak bisakah kau belikan suamimu ini tteokbokki?
Ada di sana, kelihatannya enak.
Enak.
- Enak, 'kan? - Ya.
Lebih enak karena makan bersama suamimu.
Itu maksudku.
- Bagaimana jika kencan kilat? - Aku selalu ingin lakukan itu.
Tapi suamiku selalu sibuk.
Akan aku usahakan.
Minumlah kuahnya.
Ini dia.
Ini.
- Bukankah ini kebahagiaan? - Lebih dari itu.
Jarang ada suami sepertiku.
Aku tahu.
Dan tak ada istri sepertimu
di dunia ini.
Kau serius?
Serius.
Aku mencintaimu.
Orang-orang melihat kita.
Memang kenapa? Anak muda lakukan lebih dari itu. Tapi kita juga masih muda.
Baiklah.
- Sampai nanti. - Ya.
- Selamat malam. - Dah!
- Dah. - Kerja bagus.
- Dah. - Sampai jumpa.
Sampai besok, U-ram.
- Hei. - Ada apa?
Ibu menyuruhku menculikmu.
SUAMI
Maaf. Aku dapat kabar ayah temanku wafat hari ini.
Aku akan mampir sebentar.
Baiklah.
Sisakan aku daging makan malam.
Tentu saja.
Kapan Ibu datang?
Sekitar sepuluh menit lalu.
- Kalian lapar, 'kan? - Ya.
Kenapa kau tak sopan begitu? Nanti menjadi kebiasaan.
- Kau juga kadang bicara informal. - Jangan tak tahu malu.
- Bersikaplah seperti jentelmen. - Apa itu?
Bersikap sopan dan serius.
Boleh pesan semua yang aku mau?
Ya.
Ayah terlambat datang.
Hari ini, kita bertiga saja.
Hari ini luar biasa.
- Ini, Ibu. - Bagi tiga sama rata.
Nanti jelek.
Kalian makanlah berdua.
Ini enak.
Ibu cobalah sesuap.
Wanita pasti suka hidangan penutup.
MAKAN DI RESTORAN BERSAMA IBU DAN U-RAM AYAH LAIN KALI IKUT, YA!
Ayah belum melihat fotonya.
Ayah pasti sibuk.
Dengarlah sambil makan.
Ayahmu dan ibu…
sudah terlalu lama bersama, jadi, kami memutuskan hidup terpisah.
Kami kenal sejak 3 SMA.
Sudah 31 tahun.
Hidup bersama selama tiga dekade
sudah jarang terjadi belakangan ini.
Kami hanya hidup terpisah dan sesekali bertemu.
Pada akhir pekan,
kita bisa bertemu seperti ini.
Apa maksudnya?
Seperti kata ibu.
Ibu tak akan merepotkan Ayah yang pergi.
Tapi tak ada yang tahu.
Kami mungkin kembali bersama tahun depan.
Bagaimanapun, itu keputusan kami sekarang.
Jadi, tolong pengertian kalian.
Manusia akan mati,
juga ada yang terluka parah setelah pergi dalam keadaan baik.
Ini masih lebih baik dibandingkan itu, 'kan?
Justru kalau berjauhan,
akan makin rindu dan tahu pentingnya keluarga.
Juga makin mesra.
Sepertinya Ayah sangat menderita.
Kita biarkan dia istirahat.
Ayah menderita hidup dengan kita?
Pasti lelah dengan pekerjaannya.
Ayah tak hanya mengajar murid-murid saja, 'kan?
Dia juga lakukan pekerjaan lain.
Tapi Ibu lebih menderita daripada Ayah.
Ibu hanya pekerja lepas, tak seperti ayahmu.
Tapi Ayah juga tak lakukan pekerjaan rumah.
Ada banyak cara hidup.
Sama seperti kau, Hyang-gi, kau mengambil ujian CSAT lagi
meskipun telah diterima di jurusan Teater dan Film.
Kami juga menghormati keinginanmu.
Ibu pikir sama dengan masalahku?
Kalian tidak akan bercerai, 'kan?
Sungguh?
Hanya secara tertulis.
Mustahil.
Hidup orang dewasa itu tak mudah.
Sampai saat ini, kami juga terkadang merasa berat karena kalian.
Benar, 'kan?
Sekarang giliran kalian.
Mungkin kalian pikir
ayahmu dan ibu sedikit membuat kalian kesal.
Ibu tak bersalah.
Ini bukan persoalan salah atau tidak.
Hidup bersama terlalu lama,
bukankah itu membuatmu bosan?
Kalian juga tahu, kami sangat jarang bertengkar.
Kami ingin hidup berbeda dari yang sekarang.
Aku tak enak menanyakan ini di depan U-ram.
Ayah punya wanita lain?
Tidak, itu tak mungkin.
Ibu tahu benar itu.
Sama seperti menopause pada wanita,
bisa dibilang para pria punya masa puber lagi.
Karena itu, tolong mengerti kami.
Dia ayah kalian yang selamanya hidup demi keluarga.
Ayo makan.
Sepertinya ibu lebih lega
kalau mengurus kalian berdua.
Ibu serius tentang hal itu?
Tentu.
Ibu merasa agak bersalah bilang begini,
tapi ibu merasa lega.
IBU MERTUA
Ya, Ibu.
Kau di mana? Di rumah?
Tidak, belum pulang.
Aku dari pertemuan alumni.
- Kali ini acaranya di Seoul? - Ya.
Dia selalu pulang terlambat?
Harusnya lebih santai karena di kantor seniornya.
Dia berolahraga dulu. Perutnya mulai buncit.
Buncit, apanya? Dia keren pakai baju setelan.
Kalau tak dari sekarang, tak lama lagi akan menjadi buncit.
Pekerjaannya tak harus bertemu orang, 'kan?
Kau yang menyuruhnya?
Tentu saja. Ini demi kesehatan putra bungsu Ibu.
Lebih baik tidur beberapa jam lebih lama.
Dia terus bekerja di firma hukum yang lama.
Karena itu, belakangan ini kondisinya bagus karena olahraga.
Omong-omong,
kenapa kalian tak memikirkannya lagi?
Lakukanlah dua kali saat kondisi prima…
Tidak, sekali saja.
Tak lama lagi kau 40 tahun.
Sudah terlambat jika berubah pikiran pada usia itu. Kini yang tepat.
Ibu tahu kami pendapat kami. Kami sudah memutuskannya sebelum menikah.
Bukankah kau yang memutuskannya?
Anakku tak pernah berpikir tak menginginkan anak.
Mungkin saat SMP?
Dia ingin dua putra dan dua putri.
Tak boleh begitu pada anak sendiri.
Apa? Ini juga bukan hal yang tak bisa kau lakukan.
Ada yang bilang,
kemampuan informasi ibu, sikap tak acuh ayah,
lalu keuangan kakek adalah syarat masuk kuliah.
Kau cerdas, suamimu tak banyak bicara,
lalu keuangan kakek. Kau punya semuanya.
Kau cukup berubah pikiran.
Entah anak perempuan atau laki-laki, tapi aku lebih suka anak laki-laki.
Lantas, kuwariskan kepada siapa lapangan golf itu?
Byeol-hui dan Hae-ri bisa mengurusnya.
Apa kau tak punya ambisi?
Kalau mereka menikah,
ayah mertuamu akan selamanya ikut campur rumah tangga orang lain.
Makanlah.
Coba pikirkan dan jangan dengarkan saja.
Biarkan ayah mertuamu bernapas lega.
Khususnya karena suamimu anak bungsu.
Dia pasti sangat senang kalau kalian punya satu anak.
Mungkin juga akan berikan kalian segalanya tanpa pikir panjang.
- Kau tahu sifatnya, 'kan? - Ya.
Tak ada salahnya dengar ucapan orang tua.
Apa yang dimimpikan Ayah?
Halo?
- Ini ibu. - Ya, Ibu.
Ibu mampir, tapi tak bertemu denganmu.
Dongmi, ini.
Dongmi!
Aku penasaran
bagaimana kabar Dong-mi yang asli.
Dong-mi!
- Dong-mi? - Ya!
Sudah lama kita tak berdansa.
Mau berpesiar?
Kemampuan dansa kita belum menurun.
Boleh saja.
Tapi apa berpesiar tak melelahkan?
Tak akan.
Baiklah.
Bukankah lebih bagus
pergi bersama Yu-sin dan keluarganya juga?
Yu-sin bisa luangkan waktu,
tapi Pi-young sulit untuk mengambil cuti.
Kalau begitu, ajak Ji-a dan Yu-sin saja.
Aku sudah bicara pada anak-anak.
Hyang-gi bilang apa?
Tak banyak.
Pekan ini aku akan berkemas.
Apa kau sangat ingin pergi dariku dan anak-anak?
Tidak.
Lantas?
Selama ini perasaanku tak menentu.
Aku bisa masak telur seperti Ibu saat besar nanti, 'kan?
Mungkin kau akan lebih jago daripada ibu.
- Sepertinya aku sudah tua. - Kenapa?
Aku mulai suka dedaunan ini.
Bukan kau yang menua.
Tapi keahlian ibumu memang luar biasa.
- Ayah juga tak suka makan salad di luar. - Mulai dari sausnya!
- Ya, 'kan? - Ya.
Pagi-pagi perasaanku sudah senang berkat kalian.
Aku menjadi bersemangat karena sarapan bersama Ayah.
Ayah, hari ini aku mulai les bahasa Inggris lagi.
- Pengajarnya wanita atau laki-laki? - Wanita.
Hari ini mungkin perkenalan diri.
Jangan gemetar.
Tidak akan.
- Rating kita naik - Berkatmu.
Tidak, berkat kemampuanmu dan Bu Lee.
Kali ini kalian kompak.
Nona Boo juga lumayan menonjol.
Bu Lee penulis veteran di industri ini.
Karena itu semua orang ingin bekerja dengannya.
- Kalian sudah bekerja keras. - Terima kasih.
- Kalian sudah kerja keras. - Terima kasih.
Sudah lepas semua jepit ramput?
- Ya. - Tak pakai gigi palsu, 'kan?
Pindah dari A pindah ke B.
BACA DUA ATAU TIGA KISAH (ULASAN SEDERHANA) DAN KIRIM VOUCER KOPI
Bu Lee, apakah saranku berguna?
Ada yang ketinggalan?
- Di studio? - Ya.
Konyol sekali dia.
"Sepertinya ada yang jatuh."
"Apa yang jatuh?" "Kecantikanmu."
- Dari Choi Min? - Ya.
Dia sudah gila.
Kenapa menggodamu? Dia pasti tahu kau sudah menikah.
- Kalian tak akrab, 'kan? - Kau benar.
Dia anggap aku ini apa?
Sepertinya dia tak peduli statusmu karena cantik.
Itu kalau secantik kau.
CHOI MIN
- Katanya pengilap bibirku tertinggal. - Sudah kuduga.
Salah-salah bisa menjadi pelecehan.
Kau sudah berbaikan dengan suamimu?
Dia minta cerai.
Aku setuju.
Jadi, keluargaku ada tiga orang.
Aku, ibuku, dan ayahku.
Jadi, haruskah kuceritakan tentang keluargaku?
Tentu. Lanjutkan.
Baik. Jadi, ibuku pandai memasak,
jadi, aku sangat suka masakannya.
Ibu bekerja sebagai produser siaran,
mengatur acara musik.
Ayahku seorang dokter. Dia menyembuhkan banyak orang.
Terima kasih.
Kau ingin menjadi apa saat dewasa nanti?
Orang yang menepati janji.
Bukan pengkhianat.
Bukan kepribadian, tapi pekerjaan.
- Ji-a. - Ya?
Meski aku menjadi anak yang malang atau susah,
kau masih mau berteman denganku?
Sekali berteman, tetap berteman selamanya.
Selama kita tidak bertengkar.
Bertengkar pun tetap berteman.
Aku tak bisa pukul dengan benar karena pikiranku kacau.
- Aku juga. - Ini mustahil, 'kan?
Profesor Park masih prima.
Mungkinkah ada mahasiswi yang bergantung padanya?
Banyak wanita suka pada dosennya.
Cinta pertamaku juga guru bahasa Inggris.
Pasti sudah ketahuan.
Mana mungkin tak ketahuan bila sudah serumah.
Wanita bisa sangat peka.
Si-eun pasti telah kehilangan daya tariknya.
Sampai tak ingin hidup bersama lagi?
Sudah sering aku suruh dia berdandan.
Benar. Ini obrolan di antara kita berdua, tapi keterlaluan untuknya.
Apa kau tak bisa bertemu dan bicara pada suaminya?
Kau bilang sering makan bersamanya.
Bukan keluarga, mana berani ikut campur.
Umurnya juga lebih tua.
Padahal Si-eun hidup baik lebih dari siapa pun.
Bahkan tak pernah habiskan uang untuk dirinya.
Tak harus punya uang agar bisa tampil keren.
Kau tak berhak bicara begitu.
Aku juga punya banyak baju murah. Dari Rodeo Drive.
Rodeo kau bilang murah?
Aku tak akan diam saja jika menjadi Hyang-gi.
Putranya juga baik seperti ibunya.
Profesor Park juga seorang jentelmen.
Jentelmen mana yang bersikap begitu?
Seharusnya dia tak membuang istri yang telah bersamanya.
Berkunjung ke mana?
Gedung 105, Unit 501.
Aku neneknya Ji-a.
Rumah Dokter Shin?
Ya.
Bolehkah aku masuk?
Suamimu belum pulang?
Di mana Ji-a?
Bisa kau panggilkan?
Aku bawa beberapa hadiah dari Filipina.
- Ji-a? - Dia pergi berenang dengan ayahnya.
Ibu, meski bisa perbaiki barang, bukan berarti bisa perbaiki seseorang.
Sepertinya Ibu tak dengar ucapanku kemarin.
Aku tak tahu…
bisa hidup berapa lama lagi.
Aku tahu perasaanmu.
Tapi Ji-a pasti terkadang rindu neneknya.
Perasaan macam apa itu?
Seperti katamu, aku pergi atau tidak,
tali darah tetap terhubung.
Sudah seharusnya kakek dan nenek menyayanginya.
Sebenarnya…
aku tidak bisa menjadi nenek kandungnya.
Kau menyayanginya meski tak terhubung darah setetes pun.
Temanku ada yang bercerai, karena perselingkuhan.
Saat dia ingin pisahkan putranya hanya untuk balas dendam,
aku larang dia memutus hubungan kasih sayang.
Ibu takkan bisa gantikan peran ayah.
Ada hubungan spesial antara seorang anak dan ibunya.
Itu berbeda dengan ikatan mereka dengan ayahnya.
Ibu tak tahu itu?
Aku pikir aku beruntung
terlahir di negara ini.
Orang tua tidur bersama anaknya yang baru lahir.
Setelah berada di perut ibunya yang hangat,
bayi itu terlahir ke dunia yang dingin.
Bayangkan bayi yang baru lahir tidur sendiri di kamar kosong
tanpa kehangatan atau cinta.
Bagaimana perasaannya?
Mungkin saja dia panik.
Orang dewasa juga terkadang bergejolak karena kesepian.
Apa yang harus dilakukan anak yang rindu sentuhan seseorang?
Itu yang aku pikirkan saat merindukan Ayah.
Aku mungkin terdengar sudah mengatasinya, tapi belum.
Aku akan merindukannya sampai mati.
Aku menyayangkannya.
Anak perempuan akan mencontoh perlakuan ibu pada ayahnya,
dan belajar cara menjadi istri, serta apa yang harus dicari pada pria.
Anak laki-laki akan mencontoh ayahnya dan menjadi pria sejati.
Apa yang memberi Ibu hak
untuk hanya memikirkan dendammu dan menelantarkan anakmu?
Manusia butuh dua makanan.
Makanan yang mengenyangkan
dan cinta yang mengisi jiwa.
Harusnya aku cukup menerima cinta.
Tapi Ibu mengambil satu makananku.
Kau mengabaikan pendapat dan kebutuhanku.
Makanan yang Ibu rebut itu, melukaiku lebih dari yang bisa Ibu bayangkan.
Ibu bahagia melepas Ayah pergi?
Jangan coba bernapas lega di hadapanku jika Ibu bahagia.
Seharusnya Ibu tidak bahagia sedikit pun.
Rasa kehilangan Ibu karena tak ada suami.
Rasa kehilanganku karena tak ada Ayah.
Ayah tak mungkin minta cerai. Dia tak akan mau.
Karena dia harus turun dari jabatan CEO.
Dengan pendidikannya, dia akan dengan mudah dapat pekerjaan baru.
Ibu orang yang takkan berubah.
Ayah memintaku sebagai syarat cerai.
Tapi mengalah karena keegoisan Ibu
dan minta bertemu denganku dua pekan sekali.
Aku dengar semuanya di ruang keluarga.
Sebulan sekali tak Ibu kabulkan.
Setahun beberapa kali tak Ibu kabulkan.
Ayah menangis.
Kalau aku, pasti kuizinkan.
Dia bukannya membunuh orang tuamu.
Dalam beberapa hal,
dia sama kejamnya dengan pembunuh.
Mungkin lebih dari itu.
Kau tak tahu karena tak mengalaminya.
Ibu ingin aku mengalaminya?
Agar aku
bisa memahamimu…
Jangan konyol!
Kau ingin dihormati
oleh menantumu yang sukses?
Aku teringat Ibu setiap kali Ji-a bersikap baik.
Alangkah baiknya Ibu menutup mata
dan mau memaafkan Ayah.
Saat aku menikah,
seharusnya aku masuk dengan menggandeng tangan Ayah.
Melihat Ji-a tumbuh akan membuatku
lebih bahagia.
Kesenjangan generasi kalian sangat jauh,
tapi kau masih merindukan cucumu.
Apalagi ayah dan anak?
Apa yang akan Ayah lakukan?
Apa pernah Ibu pikirkan?
Ibu pasti tak akan membela Ayah.
Atau sebagai gantinya, aku yang beradu menggantikan Ayah setelah besar?
Karena kesalahan Ayah,
aku harus hidup menebus dosa pada Ibu?
Keluarga kita hanya menyisakan kesedihan.
Ibu juga tak bertemu pria baru.
Jangan urung menikah lagi hanya karena dan demi aku.
Aku tahu Ibu berkencan dengan pelatih golf.
Aku tahu kau juga membayarnya.
Meski kebahagiaan menghampiriku,
aku tak bisa sepenuhnya menikmatinya.
Yu-sin bilang aku terkadang tampak sedih.
Aku hanya membantahnya,
berkata aku bahagia.
Ibu tak pernah menyesal?
Kau tak pernah tahu
betapa aku sangat mencintai ayahmu.
Karena itu, aku lebih tak bisa memaafkannya.
Sampai sekarang?
Ya.
Setiap kali aku merindukan Ji-a,
setiap mencemaskanmu dan ingin tahu kabarmu,
aku makin membencinya.
Permainanmu bagus sekali hari ini. Kau dapat hole-in-one.
Kuandalkan kau untuk dapat hole-in-one hari ini.
- Apa itu? - Kau lihat?
- Kemari. - Tujuh puluh tiga meter.
- Kau lihat? - Mustahil.
Sudah.
Aku yakin itu bolamu.
Kau bercanda? Kenapa aku sejago ini?
- Mustahil aku bisa. - Kau berbakat dalam olahraga.
Tidak mungkin. Aku tak pernah dikenal sebagai jago olahraga.
Kau harus cemas.
- Apa? - Banyak yang menggodaku.
Bagaimana bisa?
Ada yang mengirimiku pesan.
Apa katanya?
Mereka bilang tertarik kepadaku.
Kau senang?
Hanya bilang begitu? Kau tak cemburu?
Aku bisa cemburu kalau tahu orangnya. Siapa?
Ini tidak serius.
Aku mengabaikannya.
Berisik.
Tahu penulis di tempatku yang sudah berumur?
Dia akan bercerai.
- Kenapa? - Fokuslah dengar ucapanku.
Suaminya yang dosen meminta cerai.
Bukan karena selingkuh, tapi karena terlalu lama hidup bersama.
Bagaimana menurutmu?
Entahlah.
- Kau bisa mengerti sesama pria? - Harus dengar pihak satunya lagi.
Secara pribadi, aku lihat masalahnya ada di Si-eun.
Sifatnya?
Bukan, gairah seksual.
Apa?
Aku bercanda.
Bekerja keras itu bagus, tapi seharusnya berdandan sedikit.
Dia sibuk.
Memangnya aku tak sibuk? Aku pegang acara belanja rumah.
Lalu iklan. Kadang mengisi suara juga.
Apa aku pakai sembarang baju walau sangat sibuk?
Di rumah kau pakai baju nyaman.
Itu mungkin benar, tapi aku tidak memakai
celana pria atau kaus usang seperti banyak wanita lakukan.
Aku juga masih muda. Didandani apa pun tetap cantik.
Tapi dia sudah 50 tahun.
Dia wanita berusia 50 tahun tapi tak berdandan.
Selalu tanpa riasan.
Bajunya selalu sama.
Wajar jika suaminya bosan, 'kan?
- Aku kasihan pada anak-anaknya. - Anaknya ada dua, 'kan?
Ya, mereka pasti sangat terluka.
Anak bungsunya kelas 5 SD dan sekelas dengan anak produserku.
Seorang dosen seharusnya menjelaskan permasalahan secara logis.
Hidup bersama sampai sekarang, lalu bercerai.
Apa guna hidup istrinya?
Ibu?
IBU
- Ibu. - Kuharap aku tak membangunkanmu.
Aku takkan tidur seawal ini. Di sini baru pukul 22.00.
Ibu kena flu?
Tidak, suara ibu serak karena masih pagi.
Menantu ibu sehat?
Sehat. Istrinya bahkan memperhatikan kulitnya.
Ya, Ibu. Jaga dirimu.
PANGGILAN TERAKHIR
ISTRIKU, JAKSA KIM, KAKAK
Ibu.
Aku akan bercerai.
Bicara apa kau?
- Tolong bujuk Ayah. - Apa kau gila?
Mereka sudah pergi sejak pagi.
Ke lapangan golf?
Bukan, ke Busan.
Mereka harus menghadiri pernikahan.
Begitu.
Kau tak meneleponnya dulu?
Aku kira di rumah karena akhir pekan.
- Datang sendirian? - Ya.
Kau Nam Ga-bin, 'kan?
Astaga. Aku penggemarmu!
Boleh minta tanda tangan?
- Siapa namamu? - Jung Su-gil.
NAM GA-BIN SEMOGA SEHAT SELALU!
Boleh berfoto bersama?
- Maaf tidak bisa. - Tapi aku penggemarmu.
Aku tak pakai riasan dan tak mau terlihat seperti ini.
Hari ini juga keren.
Maaf.
Ayolah.
Baiklah. Satu, dua…
Sombong sekali.
Apa susahnya berfoto sekali saja.
Orang-orang bisa mengenali.
Apa masalahnya?
Kau bukan bintang besar. Bersyukurlah aku mengenalimu.
Jangan memaksa jika dia tak mau.
- Jangan ikut campur. - Memang kau siapa?
Aktor musikal juga manusia.
Dia juga punya privasi.
Kau minta diberi pelajaran?
Beraninya kau?
Pergilah.
Siapa tahu ada yang merekam.
Astaga, hari yang buruk.
Anggap saja aku kini pembencimu!
Terima kasih.
Tidak masalah.
Terkadang ada orang seperti itu.
Aku juga menonton Natasha.
Ya.
Di sini cukup ramai.
Kalian tak mau ke tempat lain? Aku yang traktir.
- Tak masalah siapa yang bayar. - Aku merasa terhormat.
Kalian bawa mobil?
- Ya. - Ya.
Tiba-tiba aku ingin makan daging, tapi di sana porsi personal.
Benar, aku juga sedang ingin makan daging.
Aku juga.
Aku tak mengenalimu karena lama tinggal di luar negeri.
Terima kasih tak mengenaliku di luar panggung.
Khususnya saat seperti ini?
Tapi kau keren.
Penggemar aneh tadi punya mata yang bagus.
Terima kasih atas bantuan kalian hari ini.
Sudah seharusnya.
Sekarang ini, banyak yang tak ingin ikut campur.
Lebih individualis dibandingkan dulu, 'kan?
Kau bilang pulang telat.
Apa ini?
Subtitle bY NETFLIX Ripped & Resynced == ANANG KASWANDI ==
Telegram >> https://t.me/Anangkaswandisubtitleindo IG >> @Anang2196_sub_indo
Love (ft. Marriage And Divorce)
Dia datang karena rindu makananku.
- Tahu dari mana? - Mau bertaruh?
Jangan berharap apa pun dari anakmu.
Tak semua anak seperti itu.
- Apa kau mencintainya? - Ya.
Berhenti bicara omong kosong!
Ibu sangat bergaya.
Apa kau Kim Dong-mi?
- Dong-mi? - Dengan satu syarat.
Aku mau menemuinya langsung.
- Namaku Nam Ga-bin. - Aku A-mi.
- Aku Song Won. - Nama kalian cantik.
Sekalipun kita jatuh miskin dan harus kelaparan,
kami tak akan pernah meninggalkanmu.
- Kau warnai rambutmu, 'kan? - Aku belikan dia wig.
- Sudah kuduga. - Kalian pernah berpacaran?
Terjemahan subtitle oleh Widya Shiwie
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.