Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitle bY NETFLIX Ripped & Resynced == ANANG KASWANDI ==
Follow My IG @Anang2196_sub_indo
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF
Tolong apa?
Tolong…
sukai aku.
Aku sudah melakukannya.
EPISODE 7
Dia terlihat seperti bayi.
Selamat pagi. Kali ini benar-benar pagi hari.
Jika sudah bangun, cuci muka, lalu makan.
Ayo makan.
- Pelatih Bang, silakan duduk. - Ya.
- Silakan. - Terima kasih makanannya.
Bukan masalah.
- Makanlah. - Terima kasih.
Terima kasih.
Kau tampak kaget karena rasanya enak.
Ini enak sekali.
Daun lobak kering ini langka.
Astaga. Kau terlalu pilih-pilih makanan.
Kau putra Jeong-do, bukan? Di mana ayahmu?
Pasti sedang memarahi junior.
Hai, siapa namamu?
Namaku Bang Bae-jeong.
Aku Ki Seon-gyeom.
Kau ikut ayahmu untuk melihat-lihat?
Kau sungguh putra kandungnya?
Ya.
Aku kemari untuk memilih cabang olahraga.
Memang begitulah Jeong-do.
Jadi, kau benar-benar ingin berolahraga?
Ya.
Kau… Lepaskan aku!
- Minggir. - Sial.
Kau tak tahu para orang tua murid mengeluh mengenaimu?
Karena kau mudah marah.
Sampai kapan aku harus bersabar?
Aku harus melampiaskan amarahku.
Aku tak peduli jika dipecat.
Dasar biang onar!
Bukan main!
Omong-omong, kenapa kau memukul pelatih itu?
Kau baru bertanya sekarang?
Mustahil semua ucapan orang-orang itu benar.
Memangnya apa kata orang-orang?
Kudengar pelatih itu terus menggodamu,
jadi, kau menghajarnya.
Jadi, mana yang tak benar? Dia menggoda, atau kuhajar dia?
Dasar berandal.
Entahlah. Kau menghilang setelah itu.
Aku dikeluarkan dari bidang yang kucinta dan yakini.
Bajingan itu kini jadi kepala pelatih.
Kasihan sekali para atlet yang dilatihnya.
Kalau begitu, kau saja yang mengajar mereka.
Mengajar apa?
- Pelatihan atlet akan dimulai, 'kan? - Apa?
Ya.
Apa kau mau minum miras bersamaku hari itu?
Anggap saja kau berpiknik.
Aku penasaran apa pria ini mengajar dengan baik atau tidak,
tapi aku tak mengerti apa-apa.
Jika dia klaim dia hebat,
maka aku hanya bisa percaya begitu saja.
Namun, mereka pantas dapat yang lebih baik, 'kan?
Aku sangat payah.
Aku tak berbakat mengajar,
dan malu pada diriku sendiri.
Saat kalian pulang, ambil arah berlawanan.
Lewat sana lebih cepat.
Kau yakin akan berikan miras?
Soju, bir, wiski…
Minum miras harus dari siang. Makgeolli dan daging rebus.
Kau akan datang?
Entahlah. Jika senggang.
Dia pasti datang.
Kalian sudah selesai makan. Pergilah.
Kepalaku sakit.
Beri tahu aku jika merasa mual.
Jangan muntah seperti kemarin…
- Kemarin, aku muntah? - Kepalamu tak apa-apa?
Apa kepalaku terbentur?
Ya.
Aku cuma ingat kau memberiku minum air.
Tolong…
sukai aku.
Hei, aku sungguh muntah?
Kenapa aku tak ingat apa-apa?
Apa aku…
Kau tak ingat.
Mengecewakan.
Maaf soal kemarin.
Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.
Baik.
Terima kasih untuk kemarin, dan hari ini.
Atur jadwal pelatihan para atlet.
Aku telanjur bilang ada pelatihan.
Dia tak berhenti atas kemauannya sendiri,
tapi dikeluarkan.
Melihat kemarahannya kemarin,
pasti banyak orang bertujuan sama mencarinya.
Seperti aku?
Dia pasti sangat kesepian.
Seon-gyeom!
- Teman E.T.? - Kau mau berlibur?
- Tidak. - Lalu, mau ke mana?
- Agensi. - Menemui Nona Seo?
- Ya. - Aku boleh ikut?
- Tidak. - Aku bisa memboncengmu.
Tak ada pilihan lain. Ayo naik mobilmu.
AGENSI DANN
Kau harus mendaftarkan sidik jarimu terlebih dahulu.
- Aku tahu. - Rupanya kau tahu.
Kupikir kau tak tahu.
Kita harus tunggu sampai dibukakan.
- Nona Seo pasti akan datang, bukan? - Tidak.
- Kenapa? - Hari ini akhir pekan.
Akhir pekan?
Benar juga. Aku lupa.
Benar. Ini hari Minggu?
Semuanya, ini akhir pekan.
Tuhan, aku lupa harus mengunjungi-Mu.
Tolong ampuni dosaku,
dan dia…
Kau sedang mempermainkanku?
- Kau kesal karena ini akhir pekan? - Bukankah kau datang menemui Nona Seo?
Kau atlet di agensi ini.
Aku datang menemuinya untuk mengucapkan terima kasih.
Niat kita datang kemari berbeda.
Memangnya apa niatmu?
Aku ingin menjadikanmu alasan.
Aku tak sengaja memberikannya uang,
dan malu memintanya kembali.
Aku mengikutimu untuk memintanya secara santai.
Uang 500 ribu won berarti bagiku.
- Lain kali, beri tahu aku. - Apa gunanya?
Aku bersedia jadi alasan asalkan masuk akal.
Astaga, Seon-gyeom!
Kenapa kau baik sekali? Aku jadi ingin memanfaatkanmu.
Ya?
Astaga.
Aku sudah terbiasa.
Mungkin karena orang-orang begitu menyukaimu.
- Apa begitu? - Ya.
Pasti begitu. Aku juga begitu.
Diabaikan lagi? Kali kedua tak menyenangkan.
- Hari ini minum apa? - Seon-gyeom ada di sekitar sini.
Apa akhirnya kau berhasil?
Bagaimana kau bisa tahu?
Benar? Aku hanya asal bicara karena penasaran.
Kenapa kau penasaran mengenai itu?
Karena aku mencemaskannya.
Tak perlu cemas.
Ada apa dengannya sehingga kau begitu melindunginya?
Aku tak pernah bilang suka dia.
Kalau begitu, aku yang terlalu peka.
Tak perlu peka juga.
Kenapa kau lucu sekali?
Anggaplah aku merasa tersanjung atas ucapanmu.
Hati-hati di jalan.
Manisnya.
Rasanya berbeda dengan kopi instan.
Kasihan sekali dirimu.
Mau kukirim truk kopi saat syuting?
Tidak, terima kasih.
Tak perlu kirim truk kopi.
Nona Oh.
Kau sedang mengerjakan sesuatu?
Tidak. Tak ada proyek yang mendesak.
Tunggu. Kau membuatku gugup.
Aku tak mau berbasa-basi.
Bedebah termuda di tim produksi kami kabur…
Maaf.
- Staf termuda kami kabur usai mengacau. - Astaga.
Tolong bantu aku.
Aku datang menemuimu untuk meminta bantuan.
Membantu tim produksi?
Kau pernah ikut klub produksi film dan bisa menerjemahkan.
Terlebih lagi, kau penganggur
yang sangat mengenal film ini.
- Benar juga. - Tak perlu mencemaskan bayaran.
Aku akan memberikan bayaran yang cukup.
Anggaplah penerjemahan mendesak dan bantulah kami.
Film Blu-ray sudah selesai.
Aku memang menganggur sementara ini.
Kuanggap ini liburan, dan dengan senang hati membantumu.
- Sungguh? Kau serius? - Ya?
Terima kasih banyak!
Tunggu sebentar.
Ini bukan sogokan.
Gone is the Night akan dirilis di bioskop.
- Ini undangan penayangan perdana. - Selamat. Akhirnya dirilis.
Akhirnya, aku bisa menonton film ini di layar lebar.
Meski bukan yang ada takarirku.
- Kau berikan dua tiket? - Ya.
Apa Nona May sangat sibuk belakangan ini?
Begitu, ya?
FORMULIR PROSES TRANSISI
May.
Ada apa?
Aku bawakan camilan untukmu.
Tunggu sebentar. Aku hanya perlu mengirimkan surel ini.
Baik.
Akhirnya selesai.
Kau pasti sangat sibuk.
Kita bahkan tak berpapasan di rumah.
Aku nyaris sekarat. Jadwal distribusi film semakin padat.
- Kenapa kau ke sini? - Benar juga.
Sudah lama tak bersantai bersama. Mau berlibur?
Ide bagus. Mau berlibur di hotel? Kita bisa spa juga.
Hui-jin sedang mencari orang yang bisa berbahasa Inggris.
Pasti ada yang kabur.
- Dia tanya apa kau sibuk. - Kenapa aku bisa berbahasa Inggris?
Juga, kapan kau akan membalas utang masa lalumu?
Hui-jin membelikan camilan…
Baik. Aku akan pergi.
- Kapan? - Pekan depan.
Dia bahkan mengundang kita ke pembukaan Gone is the Night.
Aku sudah menontonnya di festival film.
Aku tak apa menontonnya berkali-kali.
Kesannya selalu berbeda.
Pergilah dengannya.
Kau punya alasan mengajaknya pergi.
Dia tak suka menonton film.
Bagaimana bisa begitu?
Itulah dia. Dia sangat aneh.
Penghargaan apa yang kau dapat?
- Penghargaan di bidang kebudayaan. - Rupanya begitu.
Tahun berapa itu?
Tahun 2010.
- Benar. - Rupanya, tahun 2010.
Dia mendapatkan penghargaan itu di awal kariernya.
- Astaga. - Benar.
Kau sangat hebat di pertandingan terakhirmu.
- Ya. - Cuaca hari ini cerah.
- Ini saatnya pengajaran. - Kau sudah cukup hebat.
Berandalan ini benar-benar…
Jadwalmu akan berakhir setelah rapat mengenai industri konten video,
juga dukungan proyek film pada pukul 15.00.
Besok, ada sarapan dengan delegasi partai.
Aku akan menjemputmu, Pak.
Tak ada kabar dari Grup Seomyung?
Tak ada.
Jika putramu terpilih,
mereka akan menghubungi untuk mengatur perjodohan.
Kurasa harus kubuat sealamiah mungkin.
Alami, katamu?
Kau tak tahu?
Sudah saatnya kau memikirkan dukungan rakyat yang belia.
Lebih aktiflah secara daring.
Aku akan melakukannya jika kau memaksa.
Bagaimana dengan istriku?
Dia sibuk syuting film baru.
Hari Kamis, dia akan menghadiri penayangan perdana film
rekan aktor satu agensi.
Kenapa dia tak memberitahuku?
- Masalah syuting? - Penayangan perdana film.
Pasti menyenangkan jika pasangan dilihat berkencan.
Bukankah laporan sudah selesai?
Kupikir juga begitu, tapi ternyata ada tambahan.
Ada pesan dari Lee Yeong-hwa.
"Pak, tolong sampaikan. Aku…
pesan jjajangmyeon, tapi tak ada sumpit."
Apa maksudnya? Dia minta dibelikan sumpit?
Dia pasti tak suka mengirim pesan melaluiku.
Sumpit memang penting saat makan makanan Tiongkok.
Apa ada lagi?
"Pak, tolong sampaikan. Makan madunya sendiri.
Jangan dibagi dengan yang lain."
Dia pikir siapa dia berani memerintahku?
Madu itu berasal
dari peternak lebah madu terverifikasi di Provinsi Gangwon.
- Selain itu… - Ada lagi?
Anggota Majelis Ki mengundangmu ke tayang perdana film bersama Bu Yook.
Kurasa dia ingin kami bersama.
Mau ditambahkan ke jadwalmu?
Lihat nanti.
Kenapa kau begitu terkesan melihat lukisanmu sendiri, Pak?
Terima kasih.
Ini untukmu.
Ibumu mengirimkan madu lagi?
- Aku tak pengar kemarin. - Hari ini pasti pengar.
- Kau sudah makan? - Ya. Makan jjajangmyeon.
PAK, TOLONG SAMPAIKAN. MAKAN MADUNYA SENDIRI. JANGAN DIBAGI DENGAN YANG LAIN
Apa itu? Kau sedang dekat dengan karyawan?
Aku diminta mengerjakan sesuatu,
tapi harus menghubunginya lewat dia.
Kenapa harus lewat perantara? Dia yang minta lukisan ini.
Tidakkah ini aneh?
Makanya kau kirim pesan aneh?
Kupikir dia akan memintaku menghubunginya langsung jika begini.
Adakalanya kita pun dengar pesan profesor melalui asisten.
Jika harus melalui asisten pribadinya, dia pasti enggan
dihubungi langsung.
Ada dua kemungkinan.
Dia sangat berkuasa, atau sok berkuasa.
Namun, preferensi klien itu penting bagi karyaku.
Kenapa media sosialku banyak dikomentari?
Apa ini? Semuanya orang asing.
Apa-apaan?
- Aku pergi. - Ya. Hati-hati.
- Kau mau pergi? - Ya.
Mau pergi ke mana?
Ambil baju ke rumah orang tuaku.
Kau juga mau pergi?
Ya. Aku punya janji.
Kalau begitu, hati-hati.
Kau tak mau tahu aku menemui siapa?
- Kau akan menemui siapa? - Jangan lupa kunci mobil.
Mobilku ada di bengkel karena berbunyi aneh.
- Begitu, ya? - Kau tak menjawab pertanyaanku?
Manusia sungguh aneh.
Karena kau bertanya, aku jadi tak mau beri tahu.
Kim Bulu? Kau datang lebih awal.
- Benar, bukan? - Bagaimana kau…
Kau terlihat lebih baik. Kupikir aku sampai lebih dahulu.
Aku datang lebih awal karena harus membeli sesuatu.
Silakan pelanggan selanjutnya.
Berikan padaku. Biar aku yang bayar.
UJIAN PEGAWAI NEGERI TINGKAT 9 PERTANYAAN CONTOH
Astaga. Padahal aku ingin membelikanmu kopi.
Kau sudah membelikanku buku.
Terima kasih. Aku akan rajin belajar.
Sedang mempersiapkan ujian?
Aku tak sengaja lihat kau membeli buku ujian PNS.
Terkadang ada beberapa atlet senior…
yang sudah pensiun dan menetap di Noryangjin.
Karena mempersiapkan ujian?
Tidak. Mengajar akademi persiapan ujian PNS.
Rupanya begitu.
Omong-omong, apa Seon-gyeom tahu bahwa kau adalah Kim Bulu?
Tak mungkin tahu. Ada banyak sekali yang dia tak tahu.
Bagaimana kau bisa tahu?
Aku?
Aku coba mencari tahu identitas Kim Bulu.
Aku lumayan pandai menggunakan Internet.
Kau sedang mempersiapkan diri menjadi polisi?
Kopi gratis ini enak sekali. Terima kasih.
Kau menerjemahkan perkataanku ke dalam bahasa Inggris,
dan menerjemahkannya lagi ke bahasa Korea.
Aku tahu karena isi artikelnya sama persis.
Terima kasih banyak.
Aku hanya mempercepat penyebaran artikel itu.
Kenapa? Apa karena Seon-gyeom?
Karena aku yang bisa menerjemahkan dengan tepat.
Kau sangat keren.
Juga, karena Seon-gyeom.
Dia orang baik.
Ya. Aku yakin dia orang baik.
Apa aku salah bicara?
Tidak. Bukan apa-apa.
Aku bisa mengerti semua perkataanmu,
tapi entah kenapa
aku sering kali kesulitan memahami ucapan Seon-gyeom
daripada menerjemahkan film asing berdurasi dua jam.
Aku jadi ingin lebih memahaminya
dan mengetahui lebih banyak tentangnya.
Padahal aku sudah sibuk bekerja.
Menyegarkan sekali.
Kau akan kembali berolahraga setelah diskors enam bulan.
- Ingatlah itu. - Aku tak berminat.
Begitu, ya?
Kalau begitu, menikahlah dengan putri Pimpinan Seo.
Rupanya aku benar.
Dikirim jadi menantu keluarga yang bisa bantu karier politik Ayah?
- Ayah ingin menjodohkanku. - Menikahlah selama dua tahun.
Aku tak mau. Apa ada hal lain?
Kau sungguh…
- Apa masalahmu? - Aku tak punya masalah.
Ayahlah masalahnya.
Ayah tak menyuruhmu mendapatkan medali,
atau memecahkan rekor baru.
Ayah hanya menyuruhmu hidup tenang.
Kau boleh bercerai atau pensiun setelah dua tahun berlalu.
Kau bisa berbuat sesukamu, jadi…
Ini hidupku, Ayah.
Kau…
Kau merusak banyak rencana ayah tahun ini.
Harusnya kau merasa bersalah.
Apa? Hidupmu?
Kenapa hidupmu milikmu?
Siapa yang memberikannya?
Orang tuamu yang memberikannya. Sadarlah!
Bagi Ayah, aku dan keluarga ini adalah alat
yang digunakan untuk keuntungan Ayah.
Aku tahu keluarga ini dibuat untuk itu.
Namun, aku tak bisa melakukannya lagi.
Seon-gyeom.
Kau tahu kenapa kami mendukung impianmu?
Karena kami ingin berbagi.
Berbagi apa? Memang Ayah tahu apa impianku?
Apa Ayah penasaran dengan impianku?
Medali, dan juara pertama.
Bukan itu?
Berhenti memanfaatkan aku untuk mewujudkan impian Ayah.
Ayah.
Setidaknya aku ingin mempertahankan hubunganku dengan Ayah.
Seon-gyeom.
Ada penayangan perdana film.
Ibumu juga akan hadir, jadi, datanglah.
Apa masalahnya?
Aku sama sekali tak berubah.
Mungki Seon-gyeom yang berubah.
Ki Seon-gyeom yang pensiun.
Kau dipanggil Ayah juga?
Kakak atlet yang pensiun.
Kenapa kau dipanggil Ayah?
Aku tak memperbarui kontrak, dan meneken kontrak dengan Dan-ah.
Aku ingin masuk menggunakan penyumbat telinga.
Jangan dimakan!
Astaga.
Kau tak memperbarui kontrak bukan karenaku, bukan?
Kau terlalu sadar diri.
Daripada memperbarui kontrak,
lebih baik aku berkhianat dan meneken kontrak dengan Dan-ah.
Pasti akan lebih dibicarakan,
dan ini benar-benar terjadi.
Namun, bukan karenamu.
Aku lebih terkenal. Mau bagaimana lagi?
Kenapa mengorbankan dirimu demi aku?
Karena kau adikku.
Aku masuk.
Tunggu. Itu…
Ryan masih hidup?
- Mungkin. - Kau pergi ke penayangan perdana film?
Film Ibu akan dirilis?
Setahuku masih syuting. Film apa?
Entahlah. Aku tak tahu penayangan perdana film apa.
Pak, tolong turunkan aku di depan sana.
Kenapa mengikutiku?
Astaga, Oh Mi-joo. Kenapa kau ada di sini?
Aku dalam perjalanan menuju rumahku.
Aku juga sedang berjalan pulang.
Kau tinggal di daerah sini?
Kalau begitu, biar aku antar.
Kau ceria sekali.
Kau sudah membawa baju tambahan?
Aku berpapasan dengan ayahku saat akan keluar.
Kuharap kau tak seperti kabur dari rumah.
Kau dimarahi karena pergi dari rumah?
Aku dimarahi karena pensiun. Katanya tak boleh.
Ayahmu pasti kesal
karena kariermu sebagai atlet sudah cukup sukses.
Sebenarnya tak masalah jika tak ada penyesalan,
tapi kuyakin pasti ada.
Aku memang memikirkan dan mengenang karierku sebagai atlet.
Apa yang dilakukan atlet trek dan lapangan setelah pensiun?
Jika disamakan dengan karyawan,
kau bak berhenti di masa mudamu.
Karena pekerjaan ini bergantung pada kebugaran badan.
Ada yang menjadi instruktur di pusat kebugaran
karena atlet tahu dasar kebugaran.
Ada yang membuka tempat kursus,
atau menjadi pelatih.
Ada juga yang berganti bidang,
atau menghilang begitu saja.
Lantas, kau? Sudah memikirkan pilihan tadi?
Entahlah.
Aku yakin kelak bisa menjadi sesuatu.
Ada yang ingin kau lakukan?
Aku mungkin tak begitu tahu
karena tak pernah gunakan penyesalan sebagai motivasi.
Namun, kurasa kau bisa melakukannya.
Membuat penyesalan terhadap masa jayamu
menjadi berguna.
Apa yang memotivasimu?
Rasa takut dan obsesi.
Jadi, berusahalah maksimal dan beri aku pengaruh positif.
- Apa ini? - Astaga!
Aku hampir kena serangan jantung.
Jantung ini sangat berharga.
Maaf.
Aku tak mengira kau akan sekaget itu.
Kau bawa obatmu?
Tak seburuk itu.
- Sejak kapan kau di sini? - Sejak awal.
Patuhi peraturan. Tak boleh berbahasa Inggris.
Baik.
"Aku tak suka ke dokter gigi." Apa ini?
- Kenapa kau tak datang? - Aku tidur.
Kau tak mengikuti anggota tim.
Siapa yang kau ikuti ini?
Apa maksudmu? Aku tak mengikuti siapa pun.
MENGIKUTI
CINE._1EE LEE YEONG-HWA
LEE YEONG-HWA
Bajingan ini.
Apa ini? Kenapa tak ada foto diri?
Tak percaya diri?
Apa? Bajingan yang tak percaya diri itu.
Ambil ini.
Mau batal ikuti? Bukankah kau yang ikuti dia lebih dahulu?
Sial. Harga diriku tercoreng.
Ini semua karena bajingan itu!
- Jaga perkataanmu. - Berisik!
Bajingan "cukup tua" itu.
Yeong-hwa!
Ya. Ada apa?
- Kau mengenal Seo Tae-woong? - Bagaimana bisa kenal?
"Seo Tae-woong"?
Aku Seo Tae-woong.
Apa? Itu benar-benar nama aslinya?
Bagaimana kalian kenal dia?
Mana mungkin tak kenal? Dia itu pesohor.
Bagaimana kau bisa tahu?
Kau pernah bertemu secara pribadi?
Hei, tenanglah. Kalian sedang menginterogasiku?
Kau harus diinterogasi. Dia mengikutimu di media sosial.
Internet sedang heboh.
Lihat ini.
Astaga. Dia pesohor, tapi tak menjaga citranya.
Kau dekat dengannya?
- Aku angkatan kedua Alfabet. - Aku angkatan pertama.
Kau bisa dapat tanda tangannya?
Kenapa alfabet?
Karena AtoZ berarti A sampai Z,
penggemarnya disebut Alfabet.
Kami memang norak.
Aku tak pernah bilang begitu.
Tunggu sebentar.
Seo Tae-woong, Seo Dan-ah…
Apa mereka keluarga?
Mereka tak mirip.
Kau keluarga Seo Tae-woong?
- Kuharap begitu. - Semacam kerabat jauh?
- Aku tak mau tambah pesaing. - Luar biasa. Aku iri.
Aku juga ingin jadi keluarganya.
Aku iri denganmu.
PRESDIR SEO DAN-AH
PEMBIAKAN LEBAH GUNUNG CHILAN
Dan-ah.
- Cepat bicara. Aku sibuk. - Kau sedang melamun.
Makanya sibuk. Ini waktu rehatku.
Siapa Lee Yeong-hwa?
Atlet baru, atau kau mengencani mahasiswa?
- Siapa Lee Yeong-hwa? - Aku yang bertanya padamu.
LEE YEONG-HWA
Mahasiswa yang melukis untukku.
Kenapa kau bisa kenal dia?
Berkat kau.
Kau tak tahu menguntit itu ilegal saat kau tinggal di luar negeri?
Mungkin tidak karena kau selalu di rumah sakit?
Kau bisa melakukannya karena belum disahkan di Korea.
Dia melihatmu secara lucu
seperti saat penggemarku menatapku.
Kenapa menyuruh amatiran melukis untukmu?
Apa dia penerima beasiswa?
Dia lebih muda daripadaku.
Apa kau…
masih menginginkan museum seni?
Hei. Sepertinya kau salah paham.
Aku memang menginginkan museum seni.
Namun, tak berarti aku membencimu karena kau yang dapat.
- Kau mengerti? - Kau bahkan enggan menemuiku.
Siapa dia? Kenapa kau terus menemui dia?
Tak peduli siapa yang melukis untukku, itu bukan urusanmu.
Puas? Pergilah. Aku sibuk.
Aku juga sibuk.
LEE YEONG-HWA
Ya?
Pelatih Bang menghubungiku.
Dia akan menghadiri pelatihan? Baguslah.
Dia akan berubah pikiran jika melihat anak-anak itu.
Kau akan ikut denganku, bukan?
- Katamu ingin lihat kemampuanku? - Tentu saja.
Hampir lupa. Pekan depan, aku ke luar kota karena pekerjaan.
Kau sibuk. Karena pekerjaan dan aku.
Ada produser yang meminta bantuan karena hal mendesak.
Aku pergi selama sepuluh hari, jadi, harus mulai berkemas.
Bagaimana teman serumahmu?
Aku tahu kau cemas, tapi dia ikut denganku.
Anggap saja rumah sendiri selama kami tak ada.
Bagaimana bisa begitu…
di rumah tak bertuan.
Apa ini?
Kenapa aku merasa tersindir?
Aku membuatmu kesal?
Aku pergi cari udara segar.
Apa-apaan? Hei!
Ada apa ini?
JANGAN MENYAMPAH
Kenapa dia duduk melamun di sana?
Aku jadi penasaran.
Seon-gyeom.
Hei, Kawan E.T.
Benar.
Kau ternyata cukup luar biasa.
Aku tak pernah bertemu atlet nasional.
Ditambah lagi, kau putra Ratu Cannes.
Aku mencari tahu di Internet.
Kenapa tak bilang?
Aku beri tahu namaku, bukan?
Aku bukan atlet nasional lagi.
- Lalu, putra Ratu Cannes? - Itu benar.
Jika kau putra ratu,
artinya kau pangeran.
Apa kegiatanmu belakangan ini?
Kau mencari pekerjaan?
Itu artinya kau penganggur.
Aku tak sepenuhnya menganggur.
Aku hanya akan menganggur untuk sementara waktu.
Kau itu hebat. Kenapa hanya duduk di sini?
Aku tak punya tempat tujuan.
Lalu, kenapa kau di luar jika tak ada tujuan?
Kurasa sudah saatnya aku pergi.
Aku ingin berlatih.
Mau minum?
Kenapa berlaku ramah?
Mungkin ada yang kumau darimu.
Bersulang.
PAK, APA HUBUNGAN NONA SEO DENGAN SEO TAE-WOONG?
Seon-gyeom.
Sebenarnya apa hubunganmu dengan Seo Dan-ah?
Selain masalah pekerjaan.
Keluarga kami saling mengenal.
Antara keluarga kalian?
Itu terdengar asing.
Aku tak bisa memahaminya.
Menjadi tak asing tak selalu berarti bisa memahami.
Dia memilihku dan menginginkanku.
Kupikir kami seperti itu.
Aku merasa gelisah jika orang akrab denganku.
Mau minum miras?
Apa?
Bukankah kita sedang minum?
Ini bukan miras. Ini hanya minuman kaleng.
Kau lucu juga.
Ayo pergi.
Cepat.
Kau mencampur bir dan madu?
Bir madu. Kau tak tahu?
Karena di rumahku ada banyak madu.
Ini untukmu.
Ayo bersulang.
Kau tinggal di tempat lain, tapi kenapa selalu ada di sekitar sini?
Tak akan begitu lagi.
Apa? Mulai kapan?
Mulai pekan depan.
Kenapa?
Karena aku tak ingin sendirian.
Jika kau tak ingin sendirian,
artinya kau sedang bersama seseorang?
Ya.
Rupanya begitu.
Kau pasti sangat kesepian.
Di sana terasa seperti rumah,
dan dipenuhi kebisingan setiap orang.
Aku sangat menyukainya.
Lagi-lagi kau salah masuk rumah setelah minum miras.
Benar juga.
Siapa itu?
Apa?
Dia… temanku.
Begitu, ya?
Aku pamit.
Hei, kau akan jadi anak tak berbakti jika pulang setelah minum miras.
Sudah telanjur.
Jadilah anak berbakti.
Aku akan tidur di lantai.
Kau bisa tidur di sofa.
Tidak.
Aku mau pulang.
Apa?
Aku pemilik rumah, tapi kenapa tidur di lantai?
Astaga.
Bagaimana bisa orang masuk sana?
Tak bisa? Kulkas sebesar ini?
Maksudku orang yang kau cari tak ada di sana.
Aku berniat minum bir.
- Tak ada kabar setelah dia pergi? - Ya. Makanya aku kirim pesan,
tapi dia tak membalas. Aku tak tahu kenapa dia kesal.
Apa jari jemarinya patah?
Haruskah kulaporkan orang hilang?
Tak bisa karena belum 24 jam.
Bagaimana jika setelahnya sudah terlambat?
Terlambat apanya?
Dia sehat lahir batin dan sudah dewasa.
Kau tak mencemaskannya, ya?
Kenapa harus? Aku mencemaskanmu.
Aku juga mencemaskan diriku.
Mungkinkah dia menginap di tempat lain?
Di tempatnya?
Sialan.
Astaga, apa…
Ini.
- Ini madu. - Astaga.
- Ambil ini. - Astaga.
Ada banyak madu di rumahku.
Aku tak punya apa-apa untuk diberikan.
Tak perlu. Kau sudah menemaniku minum.
Itu cukup.
Itu lebih dari cukup.
Tak bisa begini. Astaga.
Tunggu sebentar.
Ini.
Ini untukmu.
Apa ini?
Pasti kau akan duduk bersebelahan
dengan Seo Dan-ah.
Rupanya tak patah.
Bahkan kau bawa sesuatu.
- Kau tidur di luar. - Ya.
Setelah pergi begitu saja kemarin,
kau tidur di luar. Begitu?
Aku tertidur saat minum miras.
Dengan siapa?
Kau pasti tak akan tahu.
Benar.
Aku pasti tak tahu.
Baiklah.
Kenapa bawa madu? Dia pikir dia Winnie the Pooh?
Hei, Nona Oh Mi-joo. Aku masak untuk makan bersamamu.
Kau tak akan makan?
Apa kau…
ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MASUK
Mi-joo.
Mi-joo, mari kita bicara.
Mi-joo.
Mi-joo.
Ada masalah apa?
Tak ada masalah apa-apa.
Berhenti mengetuk.
Aku mau tidur.
Kau tidur di siang hari lagi?
Sudah berubah, tapi diubah lagi.
Ada apa?
Besok Pelatih Bang akan datang.
Mau berangkat pukul berapa?
Tak perlu cemas. Aku akan menepati janji.
Beri tahu pukul keberangkatan lewat pesan.
Kalian bertengkar?
Tidak. Sepertinya aku membuat dia marah,
tapi dia tak mau dengar.
Sepertinya kau baru saja kehilangan kesempatanmu.
- Mi-joo, kau marah? - Keluar!
Baik.
Dia marah besar.
Lebih cepat!
Sayang sekali. Kerja bagus.
Jangan terlalu memikirkan ayunan kakimu.
Tendang kakimu ke belakang dan bergerak maju.
Akan lebih mudah jika membuat badan kita menjadi seperti pegas.
Kerja bagus.
Aku pasti akan mengacaukan pertandingan kali ini.
Jangan terlalu memikirkan rekormu saat ini.
Boleh jatuh atau buat kesalahan.
Kesempatanmu ada banyak. Yang penting tak terluka. Kerja bagus.
Selanjutnya… Yun-ho.
Pinggangmu tak bergerak mengikuti.
Tak boleh begitu.
Hei, lihat ini.
Lihat bola ini.
- Memantul, bukan? - Ya.
Kau harus membuat badanmu seperti ini.
Kau mengerti? Bola ini memantul ke atas dan bawah,
sedangkan badan kita didorong ke depan.
Kau mengerti, bukan?
Aku takut karena ini pertandingan pertamaku.
Maaf. Tunggu sebentar.
Ya, pasti sangat takut.
Namun, seorang atlet mencetak rekor baru
di pertandingan pertamanya.
Dia sama seperti kalian.
Sungguh? Siapa?
- Kim Woo-sik. - Kim…
Dia atlet termuda di tim nasional.
Itu artinya,
kalian bisa melakukannya.
Semua bisa melakukannya.
- Mengerti, bukan? - "Itu artinya,
kalian bisa melakukannya."
- Ayo bersiap. - Baik.
- Bersiap! - Kalian bertengkar?
Tidak.
Kurasa itu hanya aku lagi yang marah.
Apa dia tahu kenapa aku marah?
Aku yakin dia mengesalkanmu
dengan memasang muka tak tahu apa-apa.
Aku senang kau bisa mengerti perasaanku.
Aku juga terpaksa ke sini karena dia. Menyebalkan sekali.
Benar. Dia menyebalkan.
- Mi-joo. - Ya.
Aku boleh memanggilmu saat ingin minum miras?
Tentu saja.
Kenapa tiba-tiba bertanya?
Jika mau berteman denganku,
aku berniat lebih sering datang ke Seoul.
Dia menyebalkan. Aku lebih suka kau.
Kau sepemikiran denganku. Aku juga lebih suka diriku.
Hei.
Ada apa dengan pergelangan kakimu? Coba duduk.
Pergelangan kakimu bengkak.
Tak bisa dilanjutkan. Jangan berlari hari ini.
- Kompreslah. - Apa? Kenapa?
Turuti perkataanku.
Kau, kemari.
Lihat ini. Kenapa pakai sepatu sebesar ini?
Karena ingin cepat besar.
Kata siapa akan cepat besar jika pakai sepatu berukuran besar?
Kau?
Kau harus memakai sepatu yang pas. Ganti.
Baik.
Kau tak mengomentari hal seperti ini?
Kau belum siap menjadi pelatih.
Maaf.
Hei, kau yang dikucir.
- Min-ju. - Aku?
Ya. Coba lari ke arah sini.
Benar. Kau berusaha membesarkan langkahmu,
jadi, badanmu condong ke belakang dan gerakan kaki melambat.
Kali ini perkecil langkah kakimu.
Lari.
Siapa kau?
Aku?
Anggaplah aku petapa yang tak sengaja lewat.
Tercium bau miras darimu.
Ini adalah bau seorang master.
Hei, kaburlah.
Hei!
Lari!
Sampai kapan kau akan begini?
Kau bisa menyuruhku minta maaf atau melampiaskan emosimu.
Katakan sesuatu.
Aku sudah mengatakannya.
Kau juga sudah membalas perkataanku.
Aku tak tahu kau menungguku semalaman.
Aku lihat pesanmu di pagi hari.
Seharusnya kau mengabariku setelah bangun.
Bisa begitu, bukan?
Tak ada yang berubah meski aku mengabari di pagi hari.
Aku kehabisan kata-kata jika kau bicara seperti itu.
Jangan tersinggung. Aku tak berniat membuatmu kesal.
Kau membuatku tersinggung.
Apa jarimu patah jika membalas pesan?
Kau tak meneleponku sama sekali.
Padahal kau bisa meneleponku.
Anggap saja aku meneleponmu.
Apa aku punya hak untuk bertanya mengenai kehidupan pribadimu?
"Di mana? Sedang apa? Kenapa tak pulang? Tak akan pulang?" Begitu?
Kenapa butuh hak untuk bertanya?
Ada beberapa orang yang lebih lega jika haknya diakui.
Apa tak bisa menggunakan istilah lain selain hak?
Karena istilah hak…
tak nyaman didengar.
Kenapa tanya padaku?
Cari sendiri jika kau tak nyaman.
Aku tak pernah terpikir untuk mengabari
karena selama ini tinggal sendiri.
Apa harus dipikir baru tahu?
Kau tak menganggap kami sebagai teman serumah?
Tak begitu.
Aku mencemaskanmu.
Kurasa lebih baik berdua daripada sendiri,
makanya aku membiarkanmu tinggal di rumahku.
Bukankah seharusnya kau menjaga etika?
Kau bisa jaga jarak saat kesal, tapi tak bisa jaga etika?
Aku jaga jarak?
Kau masuk rumah kami tanpa keraguan,
tapi kau menjaga jarak denganku.
Ditanya minum miras dengan siapa,
dan apa jawabanmu? Aku tak akan tahu?
Menyebalkan.
Kenapa membuatku mengatakan ini? Benar-benar menyebalkan.
Kalau begitu, jangan melewati batas yang sudah aku buat.
Kau menyelinap masuk serasa tak ada garis pembatas.
Mi-joo.
- Bagaimana kau pulang? - Jangan ikuti aku.
Aku bisa pergi sendiri.
Ada banyak bus dan taksi.
Bu Seo, ada yang ingin aku sampaikan…
Mahasiswa itu lagi? Waktu dia sungguh banyak.
Bacakan.
Dia mau tahu hubunganmu dengan Seo Tae-woong dari AtoZ.
Beraninya mencampuri kehidupan pribadiku.
Aku mau pulang. Kau boleh pulang.
Kenapa diam saja? Aku tak punya waktu.
Jadi, apa hubunganmu dengan Seo Tae-woong?
Hubungan asmara kusut yang menggila.
- Itukah keinginanmu? - Kau datang untuk mengatakan itu?
Aku bahkan menunggumu.
Aku sudah minta Pak Jeong untuk beri tahu nomor teleponku.
Berhenti mengganggu orangku. Kirim pesan langsung padaku.
- Aku akan mengabaikannya. - "Orangku"?
Pria yang terlihat seperti gangster?
"Gangster"? Dia lulusan hukum.
Kenapa dia orangmu?
Aku lupa mengatakan ini karena terlalu kesal.
Jangan keterlaluan.
- Tak mau. - Apa?
Namun, kau menemuiku karena aku keterlaluan.
Kurasa kau tahu alasanmu datang ke sini.
Kau sudah buat sketsa?
Sketsa.
Kau sedang bercanda?
Apa sketsa sepenting itu?
- Aku bisa tak mengikuti sketsa. - Jangan membantah.
Banyak sekali larangannya.
Mobilnya keren.
Interiornya menarik perhatian.
Tutup pintunya. Aku mau jalan sebentar.
- Pepet dia. - Cepat lari.
Ayo!
Tendang!
Sebelah sini!
Kopi dari mesin jual otomatis.
Kau tak pernah minum…
Mungkin itulah masalah orang kaya.
Aku tak makan makanan yang tak diketahui asal-usulnya.
Astaga. Tak menghargai ketulusan pemberi.
Apa hubunganmu dengan Haengun-dong?
Rumah orang tuaku di sana.
Kenapa bisa tahu aku berkaitan dengan Haengun-dong?
Saat mencari tahu asal-usul madu.
Tolong sampaikan… Tendang!
- Sebelah sini! - Pertahanan bagus.
Sampaikan rasa terima kasihku pada orang tuamu.
Aku akan minum kopi ini.
Jangan buang madu itu. Minum saat mau yang manis.
Tak dibuang. Makanan tak berdosa.
Terdengar serasa aku yang berdosa.
- Tolong tendang bolanya. - Ya.
Biar aku yang tendang. Tanganmu sibuk.
- Kakiku tidak. - Masa bodoh.
Terima kasih.
Sebelah sini!
Tendangan bagus.
Aku memang mahir menendang.
Kau suka sepak bola?
Aku pernah di klub sepak bola. Lalu berhenti karena putra ayahku mengadu.
Impianku dahulu menjadi pemain sepak bola.
Ternyata impian tak bisa jadi kenyataan.
Impianku hanya sebatas itu.
Aku senang jika bisa menendang bola meski hanya sesekali.
Padahal kukira aku akan punya kesempatan daripada hanya begini.
Itu sebabnya kau selalu pakai sepatu olahraga?
Kita tak pernah tahu kapan kesempatan akan datang. Seperti tadi.
Senangnya…
kau bercerita mengenai dirimu.
Jangan tanya impianku.
Aku tak punya impian.
Apa itu masuk akal?
Aku terlalu sibuk melakukan yang ada di hadapanku.
Ya. Aku punya satu impian baru-baru ini.
Berdiskusi langsung mengenai lukisan denganmu.
Tanpa perantara.
Bukan impian, tapi tujuan.
Karena katamu impian tak bisa jadi kenyataan.
Kenapa tujuanmu begitu? Kau masih muda. Masa depanmu cerah.
Orang akan kagum jika aku punya tujuan seperti itu.
Berapa usiamu?
Dua puluh empat tahun.
Masa yang indah.
Tentu.
Kau di mana? Jika terlambat, aku masuk lebih dahulu.
Sebentar lagi sampai.
Kenapa aku akan terlambat?
Baik. Cepatlah.
Apa itu?
Dia pasti sudah datang.
Aku tak suka menonton film yang sama dua kali, jadi, kuberi padanya.
Selamat menikmati.
Kau datang ke sini?
Meski aku buat keributan tadi siang, kau tetap datang?
Mau nonton film, lalu minum miras.
Kau tak suka menonton film dan minum miras.
Aku melewatkan kesempatan waktu itu.
Kesempatan apa?
Kau tahu disebut apa jika minum miras setelah menonton film?
- Kencan. - Bukan.
Kesempatan minum miras setelah menonton film.
Jamuan makan malam bisnis?
Siapa yang mau minum bersama?
Setidaknya menonton film bersama.
Aku akan menonton film.
- Jadi, kita berbaikan? - Tak berbaikan.
- Begitu? - Aku hanya menjaga etika.
Karena gratis, orang lain bisa membuang tiket ini jika kesal.
Namun, ini peluangku menontonnya di bioskop,
dan ini pemberian orang.
Jadi, aku harus menontonnya.
Kita cari tahu terlebih dahulu masalah kita,
lalu selesaikan.
Aku juga tak tahu apa masalahnya.
Meski tahu, aku tak mau mengatakannya.
Apa kau keberatan?
Harus jawab tidak, bukan?
Tidak.
Ayo.
Aku langsung tahu saat lihat Tae-ri
untuk kali pertama.
Kau memiliki karunia untuk menilai orang.
Benar, bukan? Aku cukup pandai menilai orang.
Benar. Aku mengakuinya.
- Ya. - Sayang.
Astaga. Aku sedikit terlambat.
Karena beli bunga dahulu.
Kenapa bawa bunga?
Aku teringat kau saat melihat bunga.
Wangi sekali.
Sesuai rumor, kalian sungguh harmonis.
Kalian terlihat serasi.
Aku masih mengejarnya.
Dia masih saja mengagetkanku.
- Bisakah kita bicara berdua, Sayang? - Tentu.
Aku permisi.
- Baik - Terima kasih.
Buang ini.
Ji-woo.
Kenapa kau muncul di sini tanpa pemberitahuan?
Anggap saja ini acara spesial.
Acara spesial harus ada hal baik.
Kita bukan orang asing.
Dengan begini, aku terlihat sangat kekeluargaan.
Maaf. Bisakah aku berfoto denganmu?
Ya.
Tentu saja. Silakan berdiri di sini.
Mari berfoto.
Satu, dua, tiga.
- Hasilnya bagus - Terima kasih.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Terima kasih.
Tadi itu penggemarku dan meminta berfoto denganku.
Kau sudah dengar?
Seon-gyeom kusuruh kembali berolahraga, tapi malah mau pensiun.
Dasar berandal.
Apa dia ingin melakukan sesuatu?
Kudengar dia tak mau mewarisi hotel.
Kenapa tak mau?
Dia harus mau jika disuruh ayahmu.
Apa tak ada uang untuk bayar pajak hibah?
Berandalan itu…
Apa dia berencana mendonasikannya?
Astaga. Kenapa bisa begitu murah hati, mirip dengan siapa?
Apa mirip denganku?
Kenapa celingak-celinguk? Mengganggu sekali.
Kenapa tak terlihat?
Siapa? Pacarmu?
Hanya kau yang aku miliki.
Astaga. Aku mual.
Coba bantu cari dia.
Anak kedua Grup Seomyung.
Aku ingin Nona Seo menikah dengan Seon-gyeom.
Jadi, ini langkahmu berikutnya.
Mau memanfaatkan hubungan bisnis untuk karier politikmu?
Kau tak ingin menjadi Ibu Negara, Bu Yook?
Suami dan anak-anakku sudah cukup sempurna.
Aku bisa dihukum Tuhan jika menjadi Ibu Negara.
Aku haus.
Akan kubelikan kopi.
Aduh, kepalaku.
Astaga.
Bukankah itu Kak Ji-woo?
"Kak"? Kalian saling mengenal?
Aku tahu dia. Semua orang tahu Ji-woo.
Namun, dia tak akan mengenalku. Astaga.
Hei, Nak.
Ini penayangan film Ibu?
Bukan.
Siapa ini? Kau tak akan memperkenalkannya?
- Penggemar Ibu. - Aku penggemarmu.
Halo, aku Yook Ji-woo.
Ya, aku tahu. Aku bisa menggila.
Sayang, aku belikan kopi.
Kenapa penerjemah ini masih bersama putraku?
Penerjemahnya Seon-gyeom?
Ya. Selama satu pekan.
Sudah kubilang, jangan lakukan hal yang tak perlu.
Kenapa masih mengikuti putraku?
Kami jadi semakin dekat karena kau memberikan uang kepadaku.
Kau tahu ini acara apa? Beraninya kau mengintil sampai sini.
Ayah menyuruhku datang untuk menonton film bersama Seo Dan-ah.
Perjodohan alami. Bukan begitu?
Kau mengerti?
Jangan mengganggu. Ketahuilah tempatmu.
Ayah.
Diam.
Ada banyak orang di sini.
Baik.
Aku akan mencari tempatku dengan baik.
Kau harus begitu.
Selamat menonton.
Tak ikut?
Aku pandai mencari tempat.
Karena sering menonton di bioskop ini.
Kau datang untuk menonton film denganku, bukan?
Subtitle bY NETFLIX Ripped & Resynced == ANANG KASWANDI ==
Follow My IG @Anang2196_sub_indo
RUN ON
Kita harus berbaikan.
Kau tak tahu apa ini?
Takdir pasti mempertemukan kita. Mau menikahiku?
Aku tak bercanda.
- Wanita aneh. - Bukankah kalian berkencan?
- Pergilah jika kau tahu. - Menggemaskan.
- Kau simpan nomorku? - Sudah kubilang, berhenti lakukan itu.
Aku tersenyum karena senang. Siapa kau mau menghentikanku?
Betapa egoisnya aku. Aku akan dihukum karena ini.
Kenapa toiletnya terlihat bak film noir?
Mereka enggan memberiku waktu menerjemahkan.
- Cukup sudah bekerja percuma. - Benar.
Dia akan terus menunggu kecuali kau meminta untuk menemuinya dahulu.
Dia akan selalu begitu bebal.
Lukisanmu bersinar bahkan dalam kegelapan.
Jangan memanggilku begitu.
- Lantas, kupanggil apa, Nak? - "Yeong-hwa."
Aku tak mengucapkannya karena membencimu.
Jadi, jangan membenciku karenanya.
Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.