Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tania] Jika hidup adalah kertas putih
maka kuas adalah segala tindakan dan perbuatan kita,
sedangkan warna-warni cat
adalah nuansa perasaan yang muncul akibat tindakan kita.
Sedih.
Marah.
Kecewa.
Bahagia.
Dahulu yang kutahu hanya hitam, putih, dan abu-abu.
Hingga akhirnya...
[menghela napas]
...dia datang dan menyelinap masuk ke duniaku.
Teh, mau makan dahulu? Nasi keraknya sudah siap.
[bel sekolah berdering]
[guru] Ada yang tahu apa arti "seni" itu?
Kenapa diam?
[memukul meja] Jawab kalau ditanya!
Seni itu sesuatu yang untuk dinikmati.
Es cendol?
Bakmi ayam juga seni?
Taman depan kelas menurut kamu juga seni?
Dipikir baru dijawab, ya?
Seni juga kali, Bu.
Menurut Ki Hajar Dewantara,
seni adalah "peniruan bentuk alam
dengan kreativitas dan ide pengubahannya
agar tampak jadi lebih indah."
[menguap]
[berteriak] Hei, Tania, kamu merasa sudah seniman?
Gambar seperti ini saja... sombong.
Coba jawab pertanyaan saya, apa arti seni itu?
Sudah saya duga. Kamu tak mungkin bisa menjawab.
Karena murid seperti kamu itu hanya bisa bergaya,
sok asyik, sok gaul, sok pintar, tetapi otaknya kosong.
Menurut Schopenhauer, seni adalah suatu usaha
untuk menciptakan bentuk-bentuk yang indah.
Menurut Thomas Munro, seni adalah alat buatan manusia
untuk menimbulkan efek-efek psikologi
terhadap manusia lain, efek yang berwujud pengamatan,
pengenalan, imajinasi yang rasional maupun emosional.
-Menurut... -[guru] Stop!
Stop. Cukup.
Dan Ibu salah.
Ki Hajar Dewantara mengatakan kalau seni adalah "pembuatan suatu benda
yang karena keindahan bentuknya, orang jadi senang melihat, mendengar,
bahkan melahapnya."
Itu artinya bakmi ayam dan es cendol juga seni.
Tukang taman di depan juga seniman, Bu.
[murid-murid tertawa]
[memukul meja] Diam!
Perbuatan yang dilakukan Tania itu sangat mempermalukan saya.
Di mana harga diri saya sebagai guru di depan murid-murid saya?
Semua mentertawakan saya, Tania tak menghiraukan pertanyaan saya.
Itu gambar orang lagi main bola?
[kepala sekolah bicara perlahan] Saya menyayangkan peristiwa ini.
Ternyata balon. Iya, balon.
[ibu Tania] Saya paham, Pak. Saya minta maaf atas nama Tania.
Sebagai orang tuanya, saya pastikan untuk ke depan Tania akan lebih baik lagi.
[guru] Tetap dihukum, bukan, Pak?
[kepala sekolah] Tentu ada konsekuensi untuk Tania.
Nanti kita bicarakan di rapat guru.
[ibu Tania] Saya mohon agar Tania tak dikeluarkan dari sekolah ini.
Ya, saya berharap Tania masih bisa melanjutkan sekolah di sini,
karena saya yakin anak itu bisa berubah.
[Ananta] Ada masalah apa sampai dipanggil ke ruang kepala sekolah?
-Kelihatannya dia marah sekali, ya, Teh? -"Teh"? Memangnya aku teh celup.
Teh itu berarti Teteh.
Kurang ajar! Jorok sekali. Tidak sopan.
Pakai huruf "H". Tulisannya "Teteh".
Artinya kakak dalam bahasa Sunda.
[ibu Tania] Tania, sini.
Ananta Prahadi. Silakan masuk.
Tania!
[mengetuk pintu] Tania!
[menggerutu]
-Mas, biar sama Bibi. -Tolong, ya, Bi.
Non Tania, ini nasi keraknya.
Benar, bukan?
-Terima kasih, Bi. -Iya, Mas.
Kamu sudah gila, ya? Mama sakit gara-gara memikirkan kamu.
Mau kamu apa?
Lima hari tak sekolah.
Mengurung diri dalam kamar, tak jenguk...
Biru.
Angin.
Burung.
Tania, stop bercanda!
Kalau begini terus, kamu akan menyesal.
Kamu tak cuma mengecewakan Mama, tetapi juga Papa.
[anak laki-laki] Itu si aneh datang.
Hei, Teh Tatan. Ke mana saja selama ini? Saya...
[mengeluh]
Saya tak percaya saat mereka bilang kamu galak seperti macan.
Ternyata benar.
[bel sekolah berdering]
Di sini kita akan mempelajari dua jenis musik.
Yang pertama, musik tradisional dan...
Maaf, Teh. Saya jadi duduk di sini.
Saya sudah keliling, ternyata cuma meja ini yang kosong.
Kalau saya paksa duduk bertiga, nanti dikira naik bajaj.
Jangan sampai lewat.
Alhamdulillah. Terima kasih, Teh Tatan.
Kita belum kenalan. Saya Ananta Prahadi.
Boleh juga dipanggil Anta.
Dengar, ya?
Aku tak mau dipanggil "Teteh", dan jangan panggil aku Tatan.
Jangan banyak omong dan jangan mengobrol denganku.
-Tetapi, Teh... -Diam!
Diam!
Tak ada gerak terbuat.
Sunyi senyap.
Tak ada kata terucap.
Semua mematung.
[murid-murid terkekeh]
Semua diam.
Bersiap mendengar sabda seni budaya.
Sebuah puisi kami persembahkan karya Ananta dan Tania
untuk ibunda guru.
Wow.
Itu sungguh luar biasa. Berikan tepuk tangan buat Ananta.
Itu baru keren.
[murid-murid tertawa]
Mau makan bareng, Teh?
Saya pindah sekolah dari Subang.
Karena mencari pengalaman baru yang lebih menantang di ibu kota.
-Siapa? -Saya, Ananta.
Siapa yang tanya?
Saya mau cerita. Teteh dengarkan saja.
Tak perlu komentar juga tak masalah.
Saya mengekos di sini, biar irit. Saya juga masak sendiri.
Teh Tatan mau coba?
Kenapa, sih?
Karena dapat pahala ketika kita mau berbagi rezeki.
Kenapa orang sepertimu tiba-tiba ada dalam hidupku?
Jodoh, Teh.
Saya percaya tidak ada pertemuan tanpa sebab.
Kita dipertemukan karena ikatan jodoh yang kuat.
Teteh mau ke mana? Ini kangkungnya belum dicoba.
Ada ikan asin. Paling enak dimakan sama nasi kerak.
Apa kau bilang?
"Teteh mau ke mana?
Ada ikan asin dan..."
Bukan itu. Tadi kau bilang ada nasi kerak.
Ada nasi kerak juga.
Nasi kerak sambal kentang.
Dia boleh ikut makan?
Boleh?
[Ananta] Nasi kerak tempe orek cabai hijau.
Nasi kerak bumbu telor asin.
Nasi kerak telor bumbu rendang.
Tania, selamat ulang tahun, ya.
Tania, selamat ulang tahun.
Happy birthday, ya.
-[gadis] Happy birthday. -Sebenarnya aku tidak...
Anta yang bilang ke mereka kalau Teteh berulang tahun.
Selamat ulang tahun, Teh Tatan.
Pagi, Semua.
Aku berangkat dahulu, ya.
Tumben dia semangat ke sekolah.
Anta, kenapa kau baik sekali kepadaku?
[tertawa kecil]
Karena Anta tahu Teh Tatan itu sebenarnya orang yang baik.
Cuma banyak orang yang tak mengerti pikiran Teteh yang agak liar.
Memang kau mengerti?
Mengerti dari mana?
Dari sorot mata. Sorot mata Teh Tatan itu bersinar.
Bening, memancarkan keliaran hati yang...
Hei! Jangan mengaco.
Benar. Mata itu jendela jiwa.
Tahu dari mana hatiku liar?
Ini.
Walaupun Anta tak mengerti soal lukisan,
tetapi lukisan-lukisan Teh Tatan itu menarik.
Misterius, liar, tak tertebak.
Jadi seperti teka-teki berhadiah.
Makanya semua lukisan Teteh itu ada nilainya.
Nilai apa maksudmu?
Kalau dijual akan laku. Ada yang mau beli.
Jadi kau jual?
Ada beberapa yang Anta jual.
Kalau tidak, dari mana biaya membuat nasi kerak?
Aduh, duit kos tak akan cukup.
Cabai mahal. Bawang merah mahal.
Harga beras naik turun.
Apalagi daging untuk buat rendang.
Yah, Teteh jangan marah.
Ya, sudah, silakan kalau mau dipukul.
Silakan, tetapi janji setelah itu jangan marah lagi.
Kau mau lihat lukisanku yang lain?
Sudah boleh buka mata?
Tuh, 'kan. Siapa yang suruh tutup mata?
Biar surprise, Teh. Romantis.
Buka matamu.
Anta, buka matamu atau aku timpuk.
Iya, Teh.
Wow.
[berdecak]
[bahasa Inggris] Fantastis.
[tertawa kecil]
Saya tak mengerti seni.
Tetapi saya tahu setiap lukisan Teteh pasti ada ceritanya.
Seperti yang ini.
Teh Tatan pasti sedang rindu.
Yang ini Teh Tatan pasti sedang gelisah.
Yang ini Teh Tatan sedang takut. Ya, yang ini sedang takut.
Setiap lukisan ada cirinya, ya? Ini maksudnya apa?
-Belum waktunya kau mengerti. -Tanda tangan, ya?
Sudah kubilang belum waktunya kau mengerti!
Jangan menebak-nebak.
Iya, Teh.
Waduh!
[berdecak] Wuh!
-Apa lagi? -Berantakan kamarnya.
Aduh!
Fokus dengan lukisannya.
Fokus bagaimana?
Ada karya seni seperti ini, Teh?
Anta!
Jadi, Mama bisa ikut Tama ke Amerika.
Nanti S2-nya akan selesai dalam dua bulan.
Biar Mama tak terus-menerus stres di sini karena Tania.
Lalu aku bagaimana?
Kamu sudah terlanjur melanjutkan spesialis jantung.
Jadi, kamu yang jaga Tania di sini, ya.
-Bu, Non Tania membawa anak laki-laki. -Anak laki-laki siapa?
Tak tahu, Bu.
Pas saya menguping, maaf, Bu, ada omongan tete dan beha segala.
-Yang benar, Bi? -Benar, Bu.
Bagaimana ini, Tam?
Teh, ini lukisan wajah siapa?
Ganteng.
Yang ini tak dijual.
Berarti selain yang itu bisa dijual? Lumayan.
-Ada syaratnya. -Syarat?
Kau yang bertemu pembeli karena aku tak mau.
Beres.
Jangan tanya aku apa maknanya.
Kalau tak tahu, salahmu sendiri.
Siap.
Jangan bandingkan lukisanku dengan lukisan orang lain.
Itu keterlaluan. Siap, beres, Teh.
[ketukan di pintu]
[Tama] Tania!
Tania, buka. Ini Kakak.
Kakak mau bicara dengan kamu sekarang.
[ketukan di pintu]
[Bi Eha] Neng Tania...
-Anta. -[Bi Eha] Neng...
-[Bi Eha] Neng Tania... -[Tama] Tania!
Sini, aku saja.
Tania, kamu sama laki-laki di dalam?
[ketukan di pintu]
Tania, jangan buat keluarga malu. Zina di rumah sendiri.
Zina? Astagfirullah.
-[Bi Eha] Mengaku saja, Neng. -Anta!
Assalamualaikum.
Aduh. Saya tak melakukan apa-apa dengan Teh Tatan. Sumpah demi Allah.
Saya cuma melihat lukisan Teteh saja.
Saya Ananta Prahadi, teman sekolah Teteh. Anak baik dari Subang.
Taat salat, bisa mengaji.
Mama Tatan, saya mau minta maaf. Maaf, Mama Tatan.
Saya menyesal tak bilang dahulu mau ke sini.
Main langsung masuk ke kamar Teteh.
Sok tahu. Ini Bi Eha, bukan Mama-ku.
Salah, ya? Maaf, Bi.
Bibi cantik seperti Teh Tatan.
Bisa saja. [tertawa]
[Ananta] Hei.
Terima kasih saya sudah diajak melihat lukisan Teteh. [tertawa perlahan]
Saya terharu. Saya merasa...
Anta. Ini ajakan profesional. Jangan berlebihan perasaanmu.
Iya, Teh, dalam rangka bisnis lukisan.
[tertawa kecil]
Ayo bersalaman biar sah.
Kenapa kau suka sekali bersalaman? Tak usah. Sudah, sana pulang.
Ya, sudah. Permisi, Teh. Galak sekali.
[Tiara] Tunggu!
Ananta, kamu diajak makan malam sekalian oleh Mama.
Tak usah. Dia tak suka makan malam di rumah orang.
Suka, kok! [tertawa kecil] Kak Tiara, terima kasih sudah diajak.
-Lumayan bisa mengirit... -Anta.
Sudah, tak usah. Aku saja tak pernah makan malam dengan keluargaku.
Sana pulang.
Tania, Mama mau kenal dengan Ananta.
Tuh? Saya juga mau kenal dengan Mama.
Tidak, tak perlu.
Nanti malah ribet. Sana pulang, Anta!
Kak Tiara, bagaimana kalau saya saja yang memasak?
Saya bisa memasak menu kesukaan Teh Tatan. Nasi kerak, rendang telur.
-Boleh? -[Tiara] Ya, boleh.
Kamu pacarnya Non Tania, ya?
[tertawa kecil]
Bibi menghina. Mana mungkin Teh Tatan mau dengan saya?
Saya hanya laki-laki udik yang cuma bisa masak nasi kerak.
Alhamdulillah! Berarti benar tebakanku. Tak mungkin kau pacar Non Tania.
Non Tania cantik, walau kadang sering aneh.
Tetapi meski aneh, tak sembarangan
memilih laki-laki yang beda.
[Ananta] Maksudnya saya jelek?
Bukan jelek, sih. [tertawa] Hanya pas-pasan.
Sama saja.
Tetapi saya bahagia melihat kalian berdua akrab.
Semua orang di sini takut kepada Non Tania.
Cuma aku sendiri yang berani dekat dengannya.
Wah.
Berarti kita punya misi yang penting di dunia ini.
-Misi apa? -Melestarikan makhluk Tuhan yang langka.
Yaitu Teh Tatan. Di dunia ini hanya ada satu jenis yang seperti dia.
Makanya harus kita jaga baik-baik, biar tak musnah.
[tertawa]
-Bisa saja. Memang dinosaurus. [tertawa] -[tertawa kecil]
[Ananta] Silakan. Nasi kerak, rendang telur.
Silakan dicicipi.
-[ibu Tania] Enak juga, ya. -[Tiara] Enak, Ma.
-[Tama] Boleh tambah lagi? -[Ananta] Silakan.
Sudah habis.
-Sudah, tak apa. Nanti Anta buatkan lagi. -[Tama] Thank you.
[ibu Tania] Tania, sebentar lagi kamu lulus.
[bersiul]
[ibu Tania] Rencana kamu mau apa?
[Tania] Mama, tak usah ditanya.
Almarhum Papa sudah pesan dia harus kuliah.
Saat di sekolah, dia akan masuk akademi seni.
Terima kasih, Bi Eha.
-Silakan buahnya. -Terima kasih.
Kalau kamu, Anta? Apa rencana setelah lulus?
Kalau saya...
-Dia bekerja denganku. -Apa?
Jadi makelar lukisanku.
Anta akan tinggal di paviliun bawah. Daripada kosong,
lebih baik diisi oleh orang udik ini.
Tetapi kau tak bisa memaksakan keinginanmu untuk orang lain.
Aku tak memaksa. Dia mau, kok.
-Kau mau, bukan? -Ya, Tante. Mau.
Tetapi tetap tak bisa. Apa kata orang kalau ada laki-laki asing di dalam rumah?
Aku bisa buktikan hubungan aku dengan Anta
sebatas pekerjaan. Profesional.
Oke. Kita buat surat perjanjian.
Tania, itu punyaku.
"Surat perjanjian kerja...
Tania dan Ananta.
Hubungan kami cuma sebatas...
bos dan anak buah."
Tandatangani.
Di sini ya, Teh?
Kak Tama, Kak Tiara, Mama, semuanya tanda tangan.
Tak sekalian pakai meterai?
[ibu Tania] Tama.
Tania.
-Apa-apaan, sih? -Teh, jangan.
Kau mau apa? Tania! Apa-apaan kamu ini?
Puas?
Apa yang kamu lakukan, Tania?
Anta...
Ananta.
Tania!
[burung berkicau]
GALERI TANIA
-Pak. -Sudah rapi?
Oke.
-Terima kasih. -Terima kasih, Pak.
Sama-sama.
[berdeham]
Mbak Tania ada?
-Ananta. -Julia.
Saya ke sini karena ingin tahu filosofi lukisannya seperti apa.
Filosofi lukisannya adalah...
kalau suka, boleh dibeli.
Kalau tak suka, tak apa-apa. Silakan dilihat-lihat dahulu.
Oke.
[berdeham]
[Ananta] Ada yang bisa dibantu?
Lukisan-lukisan di sini bagus. Kenalkan.
Saya Andri.
Kolektor lukisan mahal.
[berdecak] Ananta.
Saya memiliki jaringan buyer sampai keluar negeri.
Saya mau menawarkan lukisan-lukisan ini kepada klien saya.
Boleh, Pak.
Boleh bertemu dengan pelukisnya?
Anta!
Aku butuh sketchbook baru dan cat biru. Nanti belikan, ya?
-Ya, Teh. -Pasti ini pelukisnya, ya?
Kenalkan.
Tania.
[Andri tertawa kecil]
-Pantas saja. -Apa yang pantas?
Terlihat dalam lukisan kamu masih
mencari filsafat, terlihat sekali dalam style kamu.
-Kenapa style lukisan saya? -Tak apa.
Cuma saya jadi ingat beberapa pelukis lain yang ada di Meksiko, dan di Jepang.
-Bahkan ada seorang pelukis... -Maksud Anda saya meniru?
Saya tak bilang begitu.
Maklum saja. Kamu masih muda, jadi masih mencari inspirasi.
Itu sama saja Anda menuduh saya plagiat.
-Teh, sabar. -Anda sebenarnya siapa?
Beraninya menghina dan menuduh saya sembarangan?
Sabar, Teh.
Anda ini pelukis yang tak profesional.
Baru dikritik saja, sudah mengamuk.
[mencemooh] Tak normal.
Pergi! Anda pergi dari sini sekarang!
Dasar amatir.
-Teh... -Kau yang amatir!
Sembarangan menuduhku! Kau kira kau siapa?
Kenapa kenalkan aku ke dia? Dia menuduhku amatir, Anta!
Aduh.
-[Tania kesal] -[Bunyi gedebuk]
Teh Tatan.
[mendengus]
Teh...
Teh Tatan!
Sayang lukisannya dibuang begini.
[mendengus]
Teh Tatan, sudah.
[terengah-engah]
[ayah Tania] Anak kita tak aneh, Ma.
[ibu Tania] Ya aneh, dong. Makannya saja nasi kerak.
[ibu Tania] Tania, hei!
Jangan dicoret-coret, dong. Pa, lihat ini.
Kemarin dia coret-coret tembok, sekarang malah kaca.
Sini, Mama mau bicara dengan kamu.
Kamu kenapa tak mau mendengarkan kata-kata Mama?
Ini bukan coretan biasa. Tetapi luar biasa.
[terengah-engah]
Ayo, duduk di sini, Sayang.
Di sini kalau kamu mau coret-coret apa saja, boleh.
[tertawa]
Kamu bukan anak yang aneh, Sayang.
Kamu adalah anak yang istimewa.
[terisak-isak]
Sudah jangan sedih, Teh.
Cuma Papa yang mengerti aku.
Banyak yang mengerti Teteh.
Buktinya banyak yang beli.
[terisak-isak]
Beratnya tak ada Papa dalam hidupku.
Ada Anta, Teh.
Bagi Anta, Teteh bukan cuma normal...
Teteh istimewa.
-Buktinya Anta betah tinggal di sini. -Tak usah menghiburku.
Aku tahu aku menyusahkan hidupmu.
Sama sekali tidak, sumpah.
Cuma dengan Teh Tatan, Anta bisa melihat dunia yang lain.
Lukisan-lukisan Teteh...
mengajak Anta bertualang.
Ke gunung.
Ke pantai.
Ke dasar laut.
Bahkan ke antariksa.
Pokoknya Teteh tak boleh berhenti melukis.
Kalau Teteh berhenti melukis, apa jadinya hidup Anta?
Apa jadinya hidupku tanpa orang udik sepertimu?
[terisak, tersedu-sedu]
[musik menyenangkan berputar]
♪ Bila ada yang tanya ♪
♪ Siapakah aku ♪
♪ Sejujurnya tak kau ♪
♪ ceritakanku ♪
♪ Jangan bilang jangan katakan ♪
♪ Ku penantianmu ♪
♪ Tunggu saja waktunya nanti ♪
♪ Bicara ♪
♪ Biarkanlah cinta ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua kita dalam ♪
♪ Perasaan sama ♪
♪ Kau berlari ♪
♪ Kuikuti ♪
♪ Aku pergi kamu mencari ♪
♪ Biarkanlah cinta kita ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Bila ada yang larang ♪
♪ Dekati aku ♪
Jangan pernah tinggalkan aku, Anta.
Kau asisten dalam hidupku.
♪ Biarkanlah cinta ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua... ♪
-Non, sudah atau belum? -Belum!
Aku masih banyak setrikaan.
Kalau bisa yang lama, Bi.
Anta, cat biruku habis!
Anta, cat biruku habis!
Ke mana si Anta?
Anta!
Anta!
Anta, cat biruku habis!
Anta!
Anta!
Anta!
Anta!
Non Tania.
Anta...
-Mas Anta pergi, Non. -Ke mana, Bi?
Saya kira Non Tania tahu.
Kalau tahu, aku tak akan pusing seperti ini.
Bibi cuma tahu mas Anta pergi naik taksi tadi malam.
-Ke mana? -Bibi tak tanya.
[mencemooh]
Berengsek anak itu. Main pergi saja.
-HP aku mana, Bi? -Non Tania tak pernah mau punya HP.
Kalau begitu HP Bibi.
Tak ada pulsa, Non.
[Tania mendengus]
Kok marah, bukan diisi?
-Apa kabar Mama? -Pinjam HP-nya, Kak.
Aku bicara dengan Mama!
Ma, lanjut nanti teleponnya. Tania mau cari Anta.
Ke mana anak itu? Menyebalkan sekali!
[Tania menghela napas]
Mungkin kabur.
Sudah capek diperbudak oleh kamu.
-Tidak. Dia tak pernah merasa begitu. -Dia tak mungkin bilang ke kamu.
Anta tak mungkin pergi karena itu. Aku kenal dia.
Buktinya dia tak ada, bukan?
Bisa saja mungkin karena dia sakit!
Atau mungkin Anta kecelakaan.
Tak mungkin dia kabur.
Tak mungkin dia kabur.
[menarik napas dalam]
[menghela napas]
[Bi Eha] Non.
[berdecak]
Makan dahulu, Non.
Sudah tiga hari perutnya tak diisi. Nanti sakit.
Anta tak akan kembali, ya, Bi?
Pasti kembali, Non.
Mungkin dia ada urusan penting.
-Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? -Jangan bicara yang jelek-jelek dahulu.
Yang penting Non jaga kesehatan.
[menarik perhatian]
Tuhan menciptakan Anta buat aku, Bi.
Kalau tak ada Anta, aku tak tahu harus bagaimana.
-Jangan bicara begitu. -Cuma Anta yang mengerti aku.
Anta.
Aku hampir rata seperti peyek, Non.
Anta.
Teh Tatan? Lebih bagus yang mana?
Teh.
Teh Tatan! [berseru]
Tunggu, Teh!
Anta, coba bilang sekarang padaku kalau kau merasa diperbudak
dan tak tahan lagi jadi asistenku.
Tidak. Anta tak pernah merasa seperti itu. Tak ada masalah...
Bilang kalau mau pergi dari sini supaya aku bisa mengusirmu sekarang.
Sumpah demi Allah, tidak, Teh.
Kemarin Anta diam-diam ke Yogyakarta untuk bertemu pemilik galeri.
Dia tertarik dengan lukisan Teteh. Mau bertemu langsung dengan Teteh.
Tidak! Aku tak mau bertemu dengan siapa-siapa lagi!
Sudah terlambat, Teh.
-Kak. -Hai.
Saya Pierre. Pemilik Galeri Harsono di Yogyakarta.
[bahasa Inggris] Senang akhirnya bisa bertemu.
[bahasa Indonesia] Bukan cuma galeri lukisan saja, di sana ada...
-Pembuatan keramik. -Pembuatan keramik.
-Bagus-bagus karyanya. -Beberapa karyanya sudah kamu pecahkan.
[bahasa Inggris] Kau sedang memegang karya favoritku. Boleh untukmu.
[bahasa Indonesia] Tidak, tak tertarik.
[tertawa kecil]
Kak Pierre, ini koleksi khusus
yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Suruh jangan lama-lama. Mau atau tidak?
Sabar, Teh.
Ternyata ucapan Ananta mengenai lukisan kamu memang benar.
Si Udik ini bicara apa saja?
-Anta... -Tidak.
Dia bilang saya akan menyukai lukisan kamu.
Yang dia lupa bilang, selain berbakat,
kamu juga cantik.
Boleh lukisan kamu aku pamerkan di Galeri Harsono?
Aku janji akan menjaga lukisanmu dengan baik.
[bahasa Inggris] Boleh?
[bahasa Indonesia] Iya?
Oke. Untuk ini menjadi pameran tunggal,
saya butuh kamu melukis dua lukisan lagi.
Tidak. Aku bukan pelukis pesanan.
Teh...
Tania, maksud saya, untuk pameran tunggal, minimal harus...
Terserah! Aku tak butuh galeri lukisan kamu.
Teh, maksudnya adalah...
Tidak, Anta. Aku tak mau melukis kalau disuruh-suruh.
Suruh dia pergi. Waktunya sudah habis, dan aku tak mau lagi bertemu dia.
[bahasa Inggris] Tak apa-apa.
[bahasa Indonesia] Aduh, bagaimana ini, Teh?
Dia datang jauh-jauh dari Yogya, masa diperlakukan begitu?
Kasihan dia. Teh?
[bersiul]
Non.
Mas ganteng datang. Mau ajak piknik.
Piknik ke mana sih?
[berdecak, mendengus]
Selamat pagi, Teh Tatan.
Selamat pagi, Teh Tatan.
Teh?
Piknik, yuk?
Piknik apa? Kalian norak. Memangnya aku anak kecil.
Tania. Nasi kerak buatan Ananta ini enak sekali. Kau harus coba.
[bahasa Inggris] Enak sekali. Ayo.
[bahasa Indonesia] Teh, mau ke mana?
Mandi.
Mandi.
Ayo.
Soal kemarin, aku salah. Aku jadi tak enak. Maaf, ya.
Ananta bilang setiap melihat lukisanmu,
dia merasa seperti ditarik ke dalam imajinasi kamu.
Awalnya aku tak percaya.
Sampai aku melihat sendiri lukisan kamu, dan ternyata Ananta benar.
Terutama lukisan kamu mengenai hutan dan sungai.
-Ananta, sedang apa kalian? -Kak Tiara.
Sedang piknik.
-Mau bergabung? -Aneh sekali.
Piknik itu seharusnya ke air terjun, ke puncak.
Masa di sini?
Ada air terjun di sebelah sana. Di balik bukit.
Di balik bukit? Tak ada.
Itu namanya kekuatan imajinasi.
Yang harus Kak Tiara lakukan adalah membayangkan.
Coba tutup mata. Ayo.
Bayangkan ada sungai...
ada bebatuan...
suara gemuruh riak-riak air jernih.
Imajinasi yang kamu tuangkan ke lukisan kamu itu luar biasa, Tania.
Ini buat kamu.
Ini apa?
Apa saja yang ada dalam pikiran kamu.
Ikan?
Dahulu ayahku sering mengajak aku ke sungai seperti ini
untuk menangkap dan melepas ikannya lagi.
[bahasa Inggris] Bye.
[bahasa Indonesia] Terima kasih sudah biarkan aku masuk ke imajinasimu.
Aku ingin lebih banyak orang bahagia karena melihat lukisan kamu.
[bahasa Inggris] Jadi, kalau kamu bilang enam lukisan sudah cukup...
[bahasa Indonesia] aku tak masalah.
Sudah! Ini bodoh.
Kalian tak bisa hidup yang realistis saja?
Kak...
Teh Tatan mau ke mana? Pikniknya belum selesai!
Dapat inspirasi, ya? Buat Kak Pierre?
Kalau nanti dia masih butuh, kasih saja.
Pasti butuh. Kak Pierre pasti senang.
Minum dahulu, Teh.
-Ini kau yang lukis? -Iya, Teh.
-Kau bisa melukis juga? -Karena sering melihat Teteh melukis.
Jadi, matahari ini adalah Teh Tatan.
-Lalu, kau bulannya? -Bukan, bulannya Kak Pierre.
Lalu kau apa?
Anta adalah gelasnya.
Jadi sekarang, Teh Tatan dan Kak Pierre ada di kehidupan Anta.
Bagi Anta, kalian seperti matahari dan bulan.
Yang selalu menyinari.
[tertawa lembut]
Ayo minum, Teh.
[mendengkur]
Anta, bangun!
Anta, bangun!
Teh Tatan.
Teh, jangan. Belum waktunya.
Apa-apaan, sih? Dengarkan dahulu.
Entah kenapa, Anta. Isi kepalaku aneh sekali.
Perutku rasanya tak enak, dan jantungku deg-degan.
-Aku kenapa? -Teteh sakit? Coba lihat.
[berdecak] Tidak. Perasaanku saja tak enak, aku gelisah.
Iya, Teteh tak demam.
-[terengah-engah] -Tenang, tarik napas.
Bagaimana mau tenang? Aku gelisah, tak bisa tidur.
Berarti Teteh sedang banyak pikiran.
Sedang memikirkan apa, Teh?
Pierre.
Entah kenapa wajah Pierre terus ada di kepalaku.
Saat dia tersenyum atau tertawa.
Aku kenapa? Aku tak gila, bukan? Kenapa begini, ya?
[Ananta tertawa]
Tak ada yang lucu.
-Itu Teh Tatan sedang jatuh cinta. -Dengan Pierre?
[Ananta] Dengan Anta.
Tentu saja dengan Pierre.
[tertawa kecil]
Ternyata Teh Tatan wanita seutuhnya.
Anta pikir selama ini Teteh wanita yang alergi sama cinta.
[tertawa kecil]
-Cie... -Kalau begitu aku harus bertemu Pierre.
Besok saja. Sudah malam. Ayo tidur.
Anta, aku harus bertemu Pierre sekarang! Ayo!
-Ayo! -Teh Tatan.
Anta, ayo cepat!
Teteh mau pakai baju itu ketemu Kak Pierre?
Kalian cari siapa?
Permisi, Mbak, Mas. Maksudku, Mas.
Maaf, kami sepertinya salah kamar. Permisi.
Tunggu. Kalian teman Pierre?
Iya. Tahu kamarnya yang mana?
Soalnya waktu kami telepon, nomornya tak aktif.
Benar, ini kamar Pierre. Tetapi dia sedang tidur.
Kelelahan. Mau aku bangunkan?
Teh, mau dibangunkan atau tidak?
Aku bangunkan saja, ya.
Pierre.
Pierre.
Hei.
Teh.
[bahasa Inggris] Pierre, bangun.
[bahasa Indonesia] Teh, tunggu.
Teh, tak mau mengobrol dahulu?
Anta siap mendengarkan.
Teh Tatan jangan berbuat hal aneh di dalam.
Teh Tatan harus ingat. Dunia tak sebesar daun kelor. Dunia sangat luas.
Artinya, laki-laki yang setampan Kak Pierre,
yang menyukai perempuan masih banyak. Nanti Anta carikan lagi yang baru.
Teh Tatan?
Kenapa dia tak bilang dari awal karena ternyata dia homo?
Hei, Anta.
Ini. Berikan dua lukisan yang dia butuh.
Setelah ini, aku tak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.
Dan jangan sebut namanya di depanku.
Tetapi, Teh...
Anta. Hei. Ini lukisan Tania?
-Iya. -Hebat.
Maaf, saya mau tanya dahulu sebelumnya.
Oke.
Kak Pierre tak pernah punya rasa bersalah dalam hidup?
Kadang-kadang. Kenapa?
Kau tahu Teh Tatan menyukaimu.
Sama. Saya juga.
[tertawa kecil]
-Sama apanya? Jangan ketawa dahulu. -Ya, aku juga menyukainya.
-Tak bisa begitu. -Kenapa?
-Jangan serakah. -Kenapa?
Kalau pisang suka sama pisang,
silakan saja.
Tetapi jangan suka lagi sama apel. Tak bisa dua-duanya.
-Maksudnya? -Saya dan Teh Tatan sudah tahu
yang sebenarnya tentang Kak Pierre.
Saya tak bermasalah.
Bisa jelaskan dengan simpel? Jangan berbelit-belit. Sebenarnya kenapa?
-Pierre, kamu sudah pesan makanan? -Sudah.
Sori. Anta, ini Jack. Jack, Anta.
Hai.
-Bi, dia tak makan lagi? -Sejak kemarin tak makan.
Melukis pun tidak. Hanya melamun di dalam.
Kasihan, Non Tania, patah hati.
Dia melakukan apa?
[suara gelas pecah]
Kau tahu sendiri.
[suara gelas pecah]
Siap?
[suara gelas pecah]
Teh Tatan?
Aduh.
Minta izin mau bicara soal Kak Pierre.
Aduh!
[Tania] Jangan sebut namanya!
[Ananta] Menyerah, Teh.
[Jack dalam bahasa Inggris] Stop! Cukup!
Cukup!
Cukup!
[bahasa Indonesia] Kamu salah paham.
Ternyata, Kak Pierre dan Jack bukan pasangan.
-Kak Pierre masih menyukai wanita. -Aku juga suka.
Jack ini sepupunya Kak Pierre.
Lalu, kenapa kau kemari?
Kenapa bukan Pierre yang datang menjelaskan?
Begini. Kak Pierre harus kembali ke Yogya hari ini.
Untuk mengurus persiapan pameran besok.
Jack datang ke sini untuk mengurus tiket keberangkatan Teteh ke Yogya.
Tidak! Aku tak mau pergi!
Kasihan Kak Pierre, Teh.
Teteh harus pergi.
Pierre sudah menunggu kamu di sana, Tan.
IMPIAN & KERINDUAN SENI KARYA TANIA
Tunggu. Boleh dinaikkan?
Diturunkan lagi sedikit.
[bahasa Inggris] Kau tak apa-apa?
[bahasa Indonesia] Pak Bambang, Bu Melly. Selamat datang kembali. Silakan.
[bahasa Inggris] Para tamu yang terhormat, kami, Galeri Harsono,
senang menyambut Anda malam ini
di pameran solo Tania dengan tema "Impian dan Kerinduan".
Hadirin sekalian,
mari kita sambut pelukis berbakat kita, Tania!
[orang bersorak dan bertepuk tangan]
[memberi tanda] Love.
[Pierre] Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.
Mungkin kamu bisa melukis di situ.
Kamu tahu... waktu orang tuaku bercerai,
papaku langsung pindah ke Prancis.
Aku marah sekali.
Ini tempat yang bisa membuat perasaan aku tenang.
Aku juga rindu dia, Pierre.
Anta?
Rindu papaku.
Kamu tahu, lukisan-lukisanku itu
adalah ungkapan rasa rinduku pada papaku.
Jadi setiap simbol dalam lukisan kamu itu adalah...
Pondok kecil tempat istimewa kami berdua.
Pohonnya, sungainya, ikannya.
Tempat itu sekaligus tempat terakhir sebelum papaku meninggal.
Dan aku...
Sampai sekarang aku tak punya keberanian untuk kembali ke sana.
Aku akan bawa kamu ke sana.
Aku janji.
Anta?
Anta cinta dengan Teh Tatan.
Anta tak mau kehilangan Teteh.
Dan...
Aku mau seumur hidup sama kamu.
[menghela napas]
Anta!
Teteh sudah pulang?
Teteh kenapa?
Kak Pierre jahat kepada Teteh?
Tidak. Dia tak jahat. Justru dia baik sekali.
Tetapi saat aku bersama Pierre, aku sadar akan satu hal...
Sebenarnya aku...
Dia siapa, Ta?
Ini Sukma.
Calon istri Anta.
Calon istri?
Kok bisa?
Anta memang sudah ingin menjelaskan ini sebelumnya.
Tunggu.
Aku bosmu.
Seharusnya kau minta izin dahulu kalau mau menikah.
Iya, Anta minta maaf.
Jadi waktu Anta pulang ke Subang, Ibu ingin Anta segera menikah.
Kau bisa bilang tidak!
Anta tak bisa menolak. Mungkin ini jadi keinginan terakhir Ibu sebelum dia...
Terserah! Aku tak mau dengar apa-apa lagi.
Kau kelewatan!
-Pergi kau. -[Ananta] Teteh...
Teh Tatan...
Teh Tatan...
Pergi kau dari sini sekarang, Anta! Pergi!
-Teh, tenang. -Tak perlu lagi kerja denganku.
Kau sudah bebas! Pergi!
-Dengarkan dahulu. -Tak ada yang perlu didengarkan!
Dengarkan dahulu, Teh.
Hubungan kita cukup sampai di sini.
[terisak]
Ta...
Ini kau.
[menghela napas]
[pintu dibuka dan ditutup]
[terengah-engah]
-[terengah-engah] -[pintu dibuka]
Tania.
Mama. Sudah pulang.
[menghela napas]
Ananta sudah pergi?
Dia tidak akan kembali, ya?
Perasaan kehilangan itu normal.
Sama seperti Mama kehilangan papamu.
Sama normalnya ketika kita merasa rindu...
dan berharap yang sudah pergi akan kembali lagi.
Lalu kita kecewa...
karena pada kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi.
[menangis]
Kangen papa kamu, ya?
Iya, Anta.
Anta?
-Memang aku bilang apa tadi? -Kau memanggilku Anta.
Sori, Pierre. Kebiasaan lama.
[bahasa Inggris] Tak apa-apa.
[bahasa Indonesia] Hei, undangan kita sudah jadi.
[bahasa Inggris] Mau lihat?
[bahasa Indonesia] Pierre... Sebelum kita menikah,
aku mau kau temani aku ke tempat ini.
-Sayang. -Aku berangkat ya, Ma.
-Kamu hati-hati, ya. -Perginya jangan lama-lama.
Masih banyak persiapan pernikahan yang harus kalian siapkan.
[bahasa Inggris] Baik.
[bahasa Indonesia] Ayo.
-Bye, Kak. -Hati-hati.
Bye.
[Bi Eha] Non Tania.
Bibi bawakan nasi kerak. Soalnya nasi kerak susah dicari.
-Terima kasih. -Kompornya belum dimatikan.
[Pierre tertawa]
Bibi kebiasaan.
Pierre memang cocok untuk Tania, Ma.
Dia banyak membawa perubahan besar dalam hidup Tania.
Bukan Pierre.
Tetapi Ananta Prahadi.
[bahasa Inggris] Ini dia.
[Tania menghela napas]
[bahasa Indonesia] Dahulu pondok ini sering dipakai beristirahat oleh Papa.
Yuk.
[kenop pintu dibuka]
Ini piala-piala kamu?
[Tania] Iya.
Ini Anta atau bukan?
Anta?
Kok mirip Anta?
Bagaimana mungkin dia bisa kenal Papa?
[ketukan di pintu]
Kamu sedang apa di sini?
Kamu bersama Anta?
Anta...
mau menitipkan surat ini untuk Teh Tania.
Kalian sebenarnya kenapa?
Kalau Anta sudah pergi, kenapa kamu masih ada di sini?
Bukannya kamu tunangan tercintanya? Atau sudah jadi istrinya?
Teh, surat ini akan menjelaskan semuanya.
[menghela napas]
[menghela napas]
Tugas saya di sini sudah selesai.
Saya permisi.
[pintu ditutup]
[Ananta] "Kepada Teh Tatan yang paling cantik di dunia.
Pertama-tama, Anta mohon Teteh jangan marah.
Jangan mengamuk.
Kasihan Kak Pierre.
Dia laki-laki baik yang bisa menuntun hidup Teh Tatan nantinya.
Anta adalah anak kampung yang tinggal tak jauh dari pondok ini."
[Ayah Tania] Ta...
Kamu belum pulang?
Mumpung tak hujan, Pak...
-Sudah minum kopi? -Belum.
Ya, sudah. Sebentar, Pak.
Terima kasih, ya.
[Ananta] "Anta diminta untuk menjaga pondok sambil menemani papa Teteh
setiap dia datang ke sini."
Terima kasih. Duduklah.
Lukisan Teh Tania memang bagus. Seperti hidup.
Anak saya ini unik. Istimewa.
Cantik juga, Pak.
[tertawa]
Bakat melukisnya benar-benar luar biasa.
Imajinasinya liar.
Karena imajinasinya yang sangat liar ini...
dia mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan siapa saja.
Untung ayahnya bisa mengerti.
Sayangnya, kesibukan saya banyak menyita waktu saya untuk tetap di sini.
Tania sering kali marah kalau saya tak ada di sampingnya.
-Yang saya takutkan... -[ponsel berdering]
Sebentar, ya. Siapa ini?
Halo, Gus. Apa?
Oke, saya segera ke sana.
Ta, ada karyawan yang terkena longsor di Posko B.
-Kamu tahu jalan pintas ke sana? -Tahu, Pak.
Ayo antar saya. Yuk.
-Tolong panggil bantuan. -[pria] Ya.
Pak Dirga. Bangun, Pak.
Tania.
Tania?
[dengan lemah] Jaga Tania. Janji.
[Ananta tersedu]
Pak Dirga.
[menarik napas terakhir]
Bangun, Pak! Pak Dirga!
Pak Dirga!
Tolong!
"Anta memenuhi janji kepada papa Teh Tatan."
Permisi, Pak. Saya ada janji dengan kepala sekolah.
[Ananta] "Anta mencari Teteh di sekolah.
Anta juga berusaha memahami keunikan dan keistimewaan Teh Tatan.
Berusaha jadi teman terbaik yang pernah ada dalam hidup Teteh."
[bersin]
Ada ikan asin. Paling enak dimakan sama nasi kerak.
[Ananta] "Anta akui...
bahwa lama-kelamaan,
memang tumbuh rasa sayang pada Teh Tatan."
[tertawa kecil]
[Ananta] "Mungkin juga cinta.
Tetapi Anta tahu bahwa hal itu tak mungkin terjadi..."
-Teh, jangan. -Tania.
[Ananta] "...karena Teteh sudah membuat perjanjian dengan darah
bahwa hubungan Anta dan Teteh hanya sebatas hubungan kerja.
Tetapi Anta tetap bahagia.
Karena Anta bisa terus bersama Teteh.
Mewujudkan apa yang diinginkan Teh Tatan.
Dan berharap kita akan bisa bersama selamanya.
Namun ternyata, pendarahan di kepala Anta akibat kecelakaan itu
berefek panjang.
Ada pembekuan darah di otak Anta.
Dokter bilang...
hidup Anta tak akan lama.
Anta harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum Anta pergi.
Anta harus menemukan orang yang tepat
untuk menggantikan Anta dalam hidup Teteh."
Halo? Ini galeri Pierre Harsono?
Ya, betul.
[Ananta] "Anta menemukan Kak Pierre.
Laki-laki baik dan mengerti dunia Teh Tatan.
Tugas Anta adalah mempertemukan kalian berdua
dan membuat kalian saling jatuh cinta.
Kak Pierre tak tahu sama sekali mengenai rencana di balik semua ini.
Seperti Anta bilang, Kak Pierre baik,
dan dia memang sungguh-sungguh jatuh cinta dengan Teh Tatan.
Tetapi Anta tahu, Teh Tatan tak mudah jatuh cinta begitu saja.
Teh Tatan sudah lama bersama Anta.
Teh Tatan tak akan mudah begitu saja melepas rasa aman bersama Anta.
Itu sebabnya Anta mengajak perawat Anta,
Sukma, untuk ikut dalam rencana ini.
Anta harus membuat Teh Tatan percaya
bahwa Anta tak akan selamanya ada dalam hidup Teh Tatan.
Anta akan menjadi milik orang lain.
Walaupun sedih dan sakit
karena harus membohongi Teh Tatan dengan cara seperti ini.
Tetapi Anta harus kuat.
Karena ini yang terbaik untuk hidup Teh Tatan.
Anta ucapkan selamat atas kembalinya Teteh ke tempat ini
bersama laki-laki yang Teteh percaya
akan menjaga Teteh selamanya.
Semoga kita masih bisa bertemu
dan Anta bisa mengucapkan selamat tinggal pada Teh Tatan.
Salam sayang selalu, Ananta Prahadi."
[menangis]
Anta...
Anta!
Anta, di mana kau?
Anta!
Anta!
Anta...
Anta!
[menangis]
Aku jahat sekali kepada Anta!
Maafkan aku, Anta.
Maafkan aku.
[Tania] Jika hidup adalah kertas putih
maka kuas adalah segala tindakan dan perbuatan kita,
sedangkan warna-warni cat
adalah nuansa perasaan yang muncul akibat tindakan kita.
Sedih.
Marah.
Kecewa.
Bahagia.
Dahulu yang kutahu hanya hitam, putih, dan abu-abu.
Hingga akhirnya...
[menghela napas]
dia datang dan menyelinap masuk ke duniaku.
Sudah selesai?
Sudah.
[bahasa Inggris] Ini akan jadi mahakaryamu.
♪ Bila ada yang tanya ♪
♪ Siapakah aku ♪
♪ Sejujurnya tak kau ♪
♪ ceritakanku ♪
♪ Jangan bilang jangan katakan ♪
♪ Tunggu saja waktunya nanti ♪
♪ Bicara ♪
♪ Biarkanlah cinta ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua kita dalam ♪
♪ Perasaan sama ♪
♪ Kau berlari, kuikuti ♪
♪ Aku pergi kamu mencari ♪
♪ Biarkanlah cinta kita ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Bila ada yang larang ♪
♪ Dekati aku ♪
♪ Kuatkah kau bertahan ♪
♪ Di sisiku? ♪
♪ Biarkanlah cinta ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua kita dalam ♪
♪ Perasaan sama ♪
♪ Kau berlari, kuikuti ♪
♪ Aku pergi kamu mencari ♪
♪ Biarkanlah cinta kita ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Jangan bilang jangan katakan ♪
♪ Ku penantianmu ♪
♪ Tunggu saja waktunya nanti ♪
♪ Bicara ♪
♪ Bicara ♪
♪ Biarkanlah cinta ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua kita dalam ♪
♪ Perasaan sama ♪
♪ Biarkanlah cinta kita ♪
♪ Begini adanya ♪
♪ Berdua kita dalam ♪
♪ Perasaan sama ♪
♪ Kau berlari, kuikuti ♪
♪ Aku pergi kamu mencari ♪
♪ Biarkanlah cinta kita ♪
♪ Begini adanya ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.