Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERSEMBAHAN NETFLIX
Ya, begitu.
Ya!
Elena?
Elena?
Kau tidur?
Elena?
Apa ini lelucon, Elena?
Elena? Bangunlah, Elena.
KAMIS
- Mereka tak akan menjawabnya selarut ini. - Mau taruhan?
Ya, lihat, Ana aktif lima menit lalu.
Sebastián terakhir aktif pukul 20.22.
Berhenti menguntit anak-anak.
Aku tak menguntit mereka.
Terlebih lagi, aku mengirimi Ana foto gaun pengantin
yang sangat cantik dan indah, tapi dia tak membalasnya.
Lihat ini.
- Tidurlah. - Tidak.
- Ya, cukup. - Dasar kau…
Peluk aku, ayo.
Apa? Siapa itu?
Ini dari rumah di Cuernavaca.
Halo?
Batu, kertas, gunting.
Giliranmu.
Halo? Ada apa?
Kau wanita yang sempurna.
Kau cantik dan pintar.
Kau penggemar Cruz Azul.
Dani, kau yakin?
Hubungan kita luar biasa.
Aku mencintaimu.
Aku juga mencintaimu.
Tapi, ya, aku yakin.
Kupikir.
Kau pikir?
Tidak, aku yakin.
Maaf.
Halo?
Halo?
Ada apa?
Halo?
Halo, ada apa?
TANDA TANGAN AHLI WARIS
- Halo. - Itu dia.
Maaf. Ada apa?
- Nenek, bicaralah. - Ya.
Maaf, aku meminta kalian datang tiba-tiba, tapi ini…
Maksudku, hal buruk terjadi kepadaku.
Semalam, aku hampir mati.
- Ada apa, Nenek? - Dia sakit kemarin.
Ibu tak apa-apa?
Dokter bilang dia mengalami cedera otot.
- Kau melakukan apa? - Bercinta, Sayang. Apa lagi?
- Elena, sudahlah. - Julio.
Mereka sudah dewasa. Mereka bisa belajar.
Intinya, aku benar-benar hampir mati dan aku berkata,
"Aku tak mau mengalaminya lagi
sebelum menyelesaikan urusanku."
Jadi, pengacaraku akan datang, dan kita akan membahas wasiatku.
Kita akan menyepakati apa yang akan kalian dapatkan.
Siapa yang mau tequila?
Kau tak pernah mengecewakanku, Jerry!
JUMAT
Dengar aku…
Aku pernah melihat bagaimana warisan bisa menghancurkan keluarga.
Kami tak akan begitu, Ibu.
Tentu, kita selalu menyelesaikan masalah dengan cara beradab.
- Kau tak bercanda. - Aku tak mau…
setelah aku tiada atau meninggal, kalian bertengkar. Aku tak mau itu.
Hentikan, Nek. Kau tak akan meninggal dalam waktu dekat.
- Usiamu masih panjang, Bu. - Ya, kau harus melihat
Anita memakai gaun putih,
berjalan ke altar bersama ayahnya.
Ayah, gaun putih agak berlebihan, 'kan?
- Ya. - Ya, Anita.
Kapan pernikahannya, Pablito?
Aku telah mengirimi mereka foto gereja, tapi mereka tak peduli.
Masalahnya, Juan Pablo tak bisa menikah di gereja.
- Kenapa dia tak bisa? - Benarkah?
Kenapa tidak? Jika Ayah bisa, siapa pun bisa.
Nak. Kenapa tidak?
Karena dia ateis.
- Ateis? - Apa?
- Ateis? - Apa?
- Kami tak tahu itu. - Hei, di mana Julia, Dani?
- Putus? - Di mana?
Tidak, ini sangat mendadak. Dia tak bisa datang.
- Bung, kalian putus! - Tidak. Dia ada urusan.
- Aku sangat menyukai Julia. - Ini biasa terjadi.
- Aku masih bersama Julia. - Kami keluargamu. Kau bisa bercerita.
Pantas kau pucat.
- Ada apa, Dani? - Kami masih bersama.
- Tunggu. - Dia tak bisa datang.
Kalian tahu bagaimana bayi kalian?
- Triplet. - Apa?
- Triplet! - Mustahil. Bagaimana kakakku?
Dia senang sekali.
Sialan!
- Kau mau ke mana, Sepupu? - Belnya bunyi.
- Tunggu, itu tugasku. - Kau benar.
Baiklah, kutemani.
Ingat, kini kau kepala keluarga.
Tugasmu mengurus wanita tua itu.
- Hei. - Maaf.
- Halo. - Selamat siang.
Aku ingin menemui Bu Elena.
Aku…
Eleuterio Riva Palacio de la Sierra.
Pengacara hukum.
Julio…
tukang kebun.
Baiklah, hentikan itu.
Masuklah. Lewat sini.
- Bersulang untuk triplet. - Apa dia masih mengajar di kampus itu?
Ya, dia masih mengajar di sana.
Elenita, Sayang.
- Senang bertemu denganmu! - Tak kusangka kau yang datang.
Tidak, tapi saat kudengar namamu, aku tahu harus datang langsung.
- Sudah bertahun-tahun, Eleuterio. - Sudah bertahun-tahun.
Mungkin terlalu lama, 'kan?
Mari kuperkenalkan. Ini keluargaku.
- Senang bertemu. Halo. - Senang bertemu.
Tapi aku sangat mengenal kalian.
Aku sering membebaskanmu dari penjara, 'kan?
Hari-hari itu telah berlalu.
Kau sungguh sangat cantik.
- Terima kasih. - Kau mengingatkanku pada nenekmu.
Tapi aku cucunya, bukan dia.
Ya, kau…
Kau mengingatkanku pada kakekmu.
- Ayo, mari kita pindah… - Ya.
Setuju? Ayo kita mulai.
- Cahayanya cukup? - Lebih baik di meja itu.
Begini, sebelum mulai,
aku ingin menyampaikan aku menjual rumah di Kota Meksiko.
Mengenai semua uang di rekeningku,
aku ingin menghabiskannya sebelum aku mati.
Bisakan Nenek berhenti mengatakan itu?
Meski begitu, sisanya milik kalian, termasuk rumah ini.
- Silakan mulai. - Baiklah.
- Kalian siap mendengarkan wasiatnya? - Ya.
- Silakan. - Tertulis…
"Kepada cucuku sayang, Daniel,
yang tak pernah beruntung dalam hidupnya,
dan tak bisa menemukan cinta…"
Pacar lamanya menikah dengan kakaknya,
dan pacar barunya mencampakkannya.
- Pak, dia tak mencampakkanku. - Baiklah.
Baiklah.
"Aku mewariskan kepada cucuku, Daniel, koleksi 514 patung Lladró milikku,
agar dia tak merasa kesepian."
Agar dia ingat aku.
"Koleksi majalah Vanidades milikku diberikan kepada…
cucuku Sebastián,
agar dia bisa mendalami teknik literatur
dari penulis terbaik di dunia, Corín Tellado."
Ya, bacalah karya-karyanya dengan saksama
untuk belajar menghasilkan uang sebagai penulis.
Itu akan sangat berguna karena anakmu banyak.
"Alkitab, edisi khusus,
ditandatangani oleh Paus John Paul II diberikan kepada Andrea.
Karena dia telah lupa beberapa ayat."
Ya, misalnya, aku menggarisbawahi beberapa ayat seperti,
"Jangan mengingini istri tetanggamu," dan sebagainya.
"Porselen Bavaria peninggalan nenek buyutku…"
Peninggalan nenek buyutku.
"…diberikan kepada Ana dan Juan Pablo.
Karena akan segera menikah,
mereka harus mulai hidup seperti orang dewasa.
Terima kasih.
"Untuk Natalia, kotak perhiasanku, termasuk perhiasannya.
Untuk Gerardo, buku-buku resep peringatan tahunanku.
Untuk Pablito…
album foto tanpa foto orang-orang yang tak diinginkan.
Untuk putraku, Francisco…
tongkat ortopedi milik Kakek.
"Buku audio Perang dan Damai diberikan kepada Diana."
Astaga, Nenek. Aku memberikannya kepadamu!
Ya, aku tahu, Sayang, tapi tiap kali kudengarkan, aku tertidur.
Itu mungkin bisa menidurkan bayimu.
Tapi bayiku tidur seperti malaikat. Benar, Gerardo?
Benar.
Apa yang kudapatkan?
Buku resep.
- Kita hampir selesai. - "Terakhir,
rumah di Cuernavaca, yang kuwarisi dari kakek kalian, diberikan kepada…
suamiku, Julio.
Sebagai bentuk terima kasih karena memberiku kebahagiaan."
- Kita mendapatkannya, Sepupu. - Sandra! Mereka cucu-cucunya.
- Tapi kau bercinta dengannya… - Maaf, Nenek.
Kurasa seseorang harus mengatakan ini.
Ini rumah keluarga kita.
- Julio… - Apa?
Julio adalah kakek tiri kita. Dia anggota keluarga.
Ya, mungkin ucapanku tidak tepat.
Maksudku, rumah ini milik keluarga kita.
Aku menyukai Julio. Dia pria baik.
Tapi saat Nenek meninggal…
Bisa kita berhenti mengatakan itu? Ini keterlaluan.
Jangan menatapku seperti itu. Maksudku, saat Nenek meninggal,
kita tak akan bertemu Julio lagi.
Diam, Dani. Hormati Julio.
Ibu, aku putramu tunggalmu.
Ayah mungkin mau kau memberikan rumah ini kepadaku,
bukan kepada suami barumu.
Lagi pula, rumah ini butuh tanggung jawab besar.
Maaf, tapi aku mengurus rumah tangga di sini
selama beberapa tahun terakhir.
Diana, sudah enam bulan kau tak datang ke sini.
- Benar. - Aku punya anak. Apa ini dosa?
Kami akan punya tiga anak, tapi kami sering kemari.
Andrea benar.
Rumah ini dibuat untuk anak-anak dan kami akan punya tiga anak, Diana.
- Nenek, jelas, 'kan? - Andrea tak dihitung.
- Kenapa? - Dia juga bukan keluarga.
Daniel, maaf, maksudmu, aku juga bukan keluarga?
- Bagaimana denganku? - Aku?
Tidak, tunggu. Kalian keluarga. Juan Pablo akan menjadi keluarga.
Maksudku, mereka bahkan tak menikah.
- Mereka juga tidak. - Benar.
- Lihat? - Daniel, kau bahkan tak punya pacar.
Dia tak bisa datang.
Aku sudah mendengar kalian.
Tenang, Julio mendapatkan rumah ini.
Ya, tapi aku yang paling sering datang.
Benar, kau pernah mengencani adik Julio.
Dia masih pacarku, bukan mantan.
Diam!
Kumohon.
Maaf, Elena.
Tapi kau tahu aku menikahimu karena cinta.
Aku sudah bahagia saat bersama nenek kalian.
Jadi, percuma aku memiliki rumah ini tanpa ada dia.
- Apa maksudmu, Julio? - Aku tak mau rumah ini.
Ya. Abaikan saja, dia mabuk.
Dia mau rumah itu.
- Kau yakin? - Nenek, dia bilang tidak mau.
Hentikan. Pertahankan rumah ini dan lupakan omong kosong ini.
Jika Julio tak mau, salah satu dari kalian akan mewarisinya, tapi…
Jangan. Aku tak mau kau khawatir, Elenita.
Dengar, jika kita harus mengubah wasiatmu,
aku bersedia melakukannya.
- Aku bisa di sini selama yang kau mau. - Aku tak mau mengganggumu.
- Tidak bisa… - Kau bisa datang dan pergi.
Rumahmu dekat.
Tidak. Maaf, aku ingin tetap di sini karena…
Entahlah, aku sangat lelah.
Tapi aku tak mau merepotkan.
Kau akan merepotkan. Kami sudah sangat repot.
Sandrita. Jangan bilang begitu.
Kau tak akan merepotkan.
Rumah ini sangat besar. Ada banyak kamar.
Untungnya, aku selalu membawa tas pakaianku.
Selalu siap.
Tentu saja untuk berjaga-jaga.
Jadi, bagaimana dengan rumah ini?
Dani, aku tak bisa menanganinya sekarang.
Akan kupikirkan.
- Kau mau tequila? - Ya.
Tapi hanya jika seseorang menemaniku.
Kurasa aku yang akan menemanimu.
Ayo kita pindah.
Astaga.
Dia bukan cucunya, Sepupu.
Kau sudah bersiap.
- Halo, Jerry. - Hei.
Kurasa tak ada makan malam.
Kurasa begitu.
Selamat atas bayi-bayimu.
Terima kasih.
Menjadi ayah itu seru, 'kan?
Kecuali saat mereka memuntahimu
atau saat kau mengganti popok
dan mereka pipis atau buang air besar.
Bayi buang air besar seperti pria usia 80 tahun.
Saat itulah kau berpikir,
"Kenapa kami ingin punya bayi?
Seharusnya pelihara kura-kura saja."
Ya.
Tapi itu adalah keajaiban dalam hidup.
Dalam kasusmu, keajaiban tiga kali lipat.
- Hai, Gerardo. - Maaf.
Hai, Nak.
- Apa kabar, Ayah? - Ada apa?
Hanya bicara dengan Jerry.
Bicara soal betapa serunya menjadi ayah.
Benar juga. Aku belum mengucapkan selamat.
Kau hebat dalam memiliki bayi.
- Tiga bayi. - Tiga bayi.
Tapi kau hebat, Nak. Selamat.
Tiap kali aku tahu bayi akan lahir,
dan seseorang berkata, "Kau akan menjadi ayah yang hebat."
Panik. Aku panik.
Saat itulah ada suara berbisik kepadaku,
"Pergi, kabur!"
Lalu aku pergi berbulan-bulan.
Tidak. Kau hebat, Nak. Kau melakukannya dengan sangat hebat.
Selamat.
Ada apa, Pirang?
Kenapa kau murung?
Tak ada apa-apa.
Aku memikirkan keputusan Nenek.
Benar!
Aku tahu apa yang terjadi. Julia memberitahuku.
Apa?
Kami sepupu. Kami saling bercerita.
Kau bercanda. Tidak.
- Jangan beri tahu siapa pun. - Tenang, Pirang.
Itu normal. Hal seperti ini biasa terjadi.
Lagi pula, aku sangat tertutup.
Dia harus merahasiakannya.
Dia sangat sedih. Dia harus mencurahkannya.
Dengar, Sandra…
Aku tak bilang bahwa aku suka pria. Dia menyimpulkannya sendiri.
- Gila! Kau suka pria? - Hus, jangan berisik!
Kau bilang dia memberitahumu!
Dia hanya bilang kalian putus dan dia tak mau membahasnya.
Dia sedih dan menutup teleponnya.
Tidak… Sialan.
Baiklah. Jangan beri tahu siapa pun.
Jika mereka tahu, aku akan diusir dari keluarga ini.
Di Camargo, ada orang sepertimu.
- Seperti apa? - Pria gay.
Arturo.
Saat orang-orang memergokinya bersama pria di truk ayahku,
mereka mengusirnya ke bukit.
Sendirian, bersama koyote.
Ayahku, sebagai orang baik, datang mengunjunginya.
Agar Arturo tak takut. Terkadang, ayahku bermalam di sana.
Kau mau kuperkenalkan dengannya?
Tidak.
Baiklah.
- Tak apa, Pirang, cinta tetaplah cinta. - Hus!
Diam.
Terlalu sensitif.
Kau membuatku kesusahan.
Kau seharusnya memberitahuku sebelum membuat keputusan itu.
Kalau begitu, apa serunya?
Kenapa kau melakukan itu, Elena?
Karena kau pantas mendapatkannya, Julio.
Kau lebih sering di sini daripada mereka.
Dengar…
Ini rumah kakek mereka. Mereka adalah cucu-cucumu.
Ini hak mereka.
Ya.
Maafkan aku…
Kini Eleuterio harus bekerja lagi.
Ya, kasihan Eleuterio.
Dia seharusnya tak bekerja pada usianya. Kasihan.
Apa maksudmu "pada usianya"?
Dia empat tahun lebih muda daripada aku. Dia cukup muda.
Aku tak peduli soal rumah ini.
Dia bisa memberikannya kepada siapa pun, bahkan Andrea.
Sebaiknya bukan Andrea, tapi orang lain.
Ana, tapi kau suka rumah ini.
- Kata siapa? - Kau selalu bilang begitu.
Aku mengatakan banyak hal, Juan Pablo.
Aku juga bilang akan menjadi vegan dan membaca satu buku per bulan.
Mereka membuatku kesal.
Entah kenapa kita lakukan ini.
Nenek baik-baik saja.
Kita baik-baik saja.
Kenapa mereka memaksa kita bersikap dewasa
dan memiliki porselen mewah?
Pasti menyenangkan
saat minum kopi dari cangkir porselen, bukan cangkir yang kita curi dari kafe.
Aku akan diam…
Kemarilah.
Ada apa dengan orang-orang di Alkitab?
Mereka lebih buruk daripada aku, tapi tak dikritik.
Lot. Kedua putrinya membuatnya mabuk.
Mereka dihamili oleh ayahnya. Tapi akulah yang bermasalah.
- Ya. - Apa?
Tidak.
- Tidak apa? - Apa?
Tidak, maaf, Sayang. Aku sangat suka ini. Kau tahu?
Nenek benar.
Corín Tellado memang wanita hebat.
Dia menulis ini tiap bulan.
Hei, bukankah menurutmu, entahlah…
kau bisa mendapat lebih banyak inspirasi untuk tulisanmu di rumah ini?
Sayang, aku ingin jujur kepadamu.
Kurasa dia tak akan memberikan rumah ini kepada kita.
Tapi Sebastián, rumah ini luas untuk anak-anak kita.
Mereka bisa bebas berlarian di lingkungan alam.
Seperti kuda, Sayang?
Luar biasa, 'kan?
Berlarian bebas di rumah ini, seperti kuda.
Maksudku, kita berhak mendapatkan rumah ini.
Ya, Sayang.
- Kita akan lebih lama di sini. - Ya.
Maksudku, kita berhak mendapatkan rumah ini.
Jika dimiliki oleh ayahku atau adik-adikku,
rumah ini akan hancur dalam sepekan.
Bayangkan saja, rumput liar akan tumbuh, kolam renang akan kotor…
cetakan es batunya kosong.
Aku yang paling bertanggung jawab, 'kan?
Batu, kertas, gunting.
Halo.
Apa kabar?
Ya, aku paham. Aku juga.
Hei, masalahnya,
aku membutuhkan bantuanmu.
SABTU
- Juan Pablo! - Apa?
Sebentar.
Sebentar.
Sebentar.
- Hai, Nak. Selamat pagi. - Ada apa, Pak?
Aku ingin mencerahkanmu. Aku ingin mengucapkan firman Tuhan.
Tidak, Ayah, terlalu pagi untuk ini, 'kan?
Tak ada yang terlalu pagi untuk Tuhan.
Beri tahu Tuhan setidaknya tunggu setelah sarapan, ya?
Tidak.
Aku berusaha menyelamatkan Juan Pablo.
Dari apa, Ayah? Apa yang salah dengannya?
Aku mencoba menyelamatkan jiwanya. Begitu juga jiwamu.
Baiklah.
Masih ada akhir pekan, jadi, nanti saja.
Ya, nanti saja.
Selamat pagi.
- Dia akhirnya tidur! - Ya, aku tahu.
Ayolah!
Selamat pagi, Anita.
Ibu. Kau sudah memutuskan rumah ini untuk siapa?
Karena kalian semua di sini, akan kugunakan akhir pekan ini
untuk membuat keputusan, jadi, begitulah.
Kita akan menyia-nyiakan…
waktu untuk itu?
Bagaimana jika kau ubah wasiatnya, bagi rata,
- dan selesai. - Tidak.
Aku tahu apa yang akan terjadi jika membaginya.
Kalian hanya akan menjualnya dan mengambil bagian.
Lalu kenapa? Kau pernah ingin menjualnya.
Ya, dahulu, tapi sekarang tidak.
Jadi, kupikir bayi cantik itu harus menikmati rumah ini,
bayi yang cengeng tapi manis.
Begitu juga ketiga anak Toñito dan Sebastián yang belum lahir.
Di sini, mereka bisa tumbuh bersama.
- Ini peninggalan kakekmu. - Baiklah, tapi aku tak mau.
Jangan bilang begitu.
Sungguh. Jika kau berikan kepadaku, akan kujual.
Akan kujadikan tempat parkir.
Maaf, Jerry.
Baiklah, jadi, Ana dicoret, 'kan?
Ibu, jika kau mau, aku rela membiarkan anak-anakku memilikinya.
Lagi pula, rumah ini terlalu besar untuk satu anak, kurasa…
Entahlah, ini cocok untuk…
tiga anak.
Tiga anak akan merusak rumah ini.
Dengan gen itu, mereka mungkin akan berebut pacar.
Apa?
Lebih baik kompetitif daripada cengeng.
Apa pedulimu? Kau tak akan punya anak.
- Apa? - Kau tak punya kekasih.
- Aku punya kekasih! Sungguh… - Hentikan. Cukup.
Maaf, tapi menurut pengalamanku dengan keluarga ini,
kusarankan kau memikirkan siapa yang lebih baik mengurus rumah ini.
Siapa yang paling bertanggung jawab di sini?
Hei, Jerry, maksudmu Diana?
Jika kalian pikir itu yang terbaik, ya.
Ya, baiklah. Sekarang di mana orang paling bertanggung jawab itu?
Bersama Sandra.
Memastikan rumah ini terurus dengan baik…
- dan mengurus pasokan. - Ini yang harus kita tanyakan.
Kepada siapa Tuhan akan memberikan rumah ini?
Sebagai permulaan, seharusnya untuk keluarga, benar, Dani?
Astaga!
- Selamat datang, Julia! - Sayang, aku senang kau datang!
- Sayang. - Ya.
- Hai, Semua. - Lihat? Sudah kubilang.
Kami akan segera berkeluarga.
Keluarga Julio dan keluargaku akan bersatu.
Apa yang lebih praktis?
Aku tak akan memutuskannya sekarang.
Eleuterio, kau membawa baju renang?
- Tentu saja, Elenita. - Ayo ke kolam renang.
- Ayo. - Itu ide bagus bagimu?
- Ya, silakan. - Ayo.
Kau akan lihat airnya sangat bagus. Kau akan suka kolam renangnya.
- Aku tahu kau suka olahraga. - Airnya dingin.
Jangan masuk. Kau bisa sakit.
Halo, Juan Pablo, selamat pagi.
- Selamat pagi. - Jangan bangun.
Boleh kupinjam?
- Aku tak tahu kau bisa memainkannya. - Tidak jago, tapi…
Aku terkadang diminta bermain di gereja, tapi mungkin permainanku salah.
Bisa bantu aku bernyanyi? Sangat mudah. Ikuti melodinya.
Ya, tentu.
Kau berperilaku buruk Dan terserat di kegelapan
Ada seseorang Yang bisa memberimu kesempatan kedua
Kau tahu siapa Hanya orang beriman yang melihatnya
Kau tahu siapa Hanya orang beriman yang melihatnya
Kau mendoktrinku?
Nak, aku khawatir.
Aku ingin menyelamatkan jiwamu.
Ana menungguku. Jadi, sampai nanti, Pak. Hati-hati dengan gitarku.
Ya, aku akan menjaganya, Nak. Terima kasih.
Dia akan jatuh
Domba tersesat itu Akan ada di kandangmu
Dia akan jatuh
Domba tersesat itu Akan ada di kandangmu
- Duduklah. - Terima kasih, Sayang.
Nenek?
Ada apa dengan pengacara itu?
Apa maksudmu?
- Dia menggodamu. - Menggoda? Tidak mungkin.
Nenek.
Kejadiannya sudah lama sekali.
Kami pernah bercinta.
Ceritakan kepadaku.
Sebelum aku bertemu kakekmu…
aku sangat
luar biasa populer.
Itu sebabnya ayahmu mata keranjang.
Nenek.
Kau tak tahu betapa hebatnya Eleuterio.
- Saat menyangkut soal hukum… - Aku bisa membayangkannya.
Tidak. Persidangan lisan adalah keahliannya.
Nenek, terlalu detail.
Jangan munafik, Dianita.
Hei, Nenek…
Aku tak mau bilang ini di depan ayahku atau saudaraku,
tapi kau pasti ingat pernah menjanjikan rumah ini kepadaku, 'kan?
- Sungguh? Kapan? - Aku tak begitu ingat…
April 1990.
Saat ayahku menghilang sepekan, Ana baru saja lahir.
Kita duduk di pinggir kolam renang. Kau dan aku, Nenek.
Lalu kau bilang kepadaku,
"Dianita, bersiaplah, kau akan mengurus rumah ini saat dewasa."
Begitukah?
Hei, bukankah Eleuterio tampak luar biasa untuk usianya?
Lihat bagaimana dia berolahraga.
Aku serius. Terima kasih banyak sudah datang.
Aku sangat senang keluarga…
Tidak.
Maaf, tidak.
Aku sangat bodoh.
- Apa? - Kau hanya memanfaatkanku.
Tidak, tentu tidak, aku tak memanfaatkanmu.
Kemarilah.
Aku tak memanfaatkanmu, sumpah.
Baiklah, ya. Aku…
memanfaatkanmu
sedikit.
Masalahnya, Julia…
Rumah ini
adalah satu-satunya caraku mulai dari awal.
Hanya kau yang tahu segalanya.
Kau dan juga sepupumu.
Siapa sepupuku?
Sandra.
Kenapa kau memberitahunya?
- Dia pengadu. - Aku tahu. Aku tak sengaja.
Masalahnya…
Maksudku, bagaimana menjelaskannya? Di rumah ini, mereka berpikiran sempit.
Misalnya, mereka tak menerima
Ana tak mau menikah di gereja.
Jadi, intinya, bagaimanapun juga, jika rumah ini menjadi milikku,
aku tak akan kehilangan keluargaku.
Kau tahu mereka tak akan menerimaku. Kau tahu itu.
Tolong bantu aku. Kumohon. Ayolah.
Daniel, ini salah.
Ya, aku tahu.
Ya.
Tapi baiklah.
Aku akan membantumu.
Terima kasih.
Ayo lakukan, Tim!
- Bukan itu. - Baiklah.
- Halo, apa kabar? - Apa kabar?
- Apa kabar? - Halo.
Hei, aku dan pacarku sudah bicara.
Kami pikir Sebas harus memberi tahu Nenek bahwa aku berhak atas rumah itu.
Sungguh, Dani?
Kenapa begitu?
Setidaknya kau bisa lakukan itu. Kau mencurangiku.
- Apa? - Kau mencuri pacarku.
Tunggu, bukankah kau memaafkan kami?
Ada luka yang tak pernah sembuh.
Tidak, maksudku…
Tidak, lukaku sembuh.
Ini situasi karma.
Dengar, Dani, jika ini membuatmu puas,
lalu kau akan memaafkanku dan melupakannya,
baiklah, akan kulakukan.
Apa? Melakukan apa? Tidak, Sayang, kita sudah membahasnya.
Kita mau rumah ini. Kita membutuhkannya. Akan ada tiga bayi.
Bukankah kita mau anak-anak kita
tumbuh bebas seperti kuda di lingkungan alam?
- Ya, Sayang, tapi Dani adalah adikku. - Ya, Andrea, aku adiknya.
Lalu kenapa?
Dani tak punya tiga anak seperti kita.
Itu benar, Dik.
Siapa tahu? Mungkin bukan tiga sekaligus, tapi satu persatu. Benar?
Sungguh, Julia? Kau ingin punya anak?
Ya.
Banyak anak. Aku dari kota kecil.
Karma. Anggaplah begitu.
Sayang, ayo buat anak pertama dari lima anak.
- Daniel - Aku hanya…
Ya, Sayang, ayo.
- Permisi. - Ya.
Kau seksi sekali.
Perlu bantuan?
Tidak, Diana akan memarahiku.
Semua persoalan wasiat ini gila.
Benar.
Aku menyayangi wanita tua itu,
tapi kenapa dia tak merahasiakan wasiatnya sampai meninggal?
Itu yang orang lakukan.
Ya, tapi setidaknya dia akan tenang jika tahu keputusannya tepat.
Ya.
Diana akan mengurus rumah ini seperti Nenek.
Diana?
- Sudah jelas dia mendapatkannya. - Kenapa?
Karena Ana, Daniel, dan Sebastián adalah pengacau.
Ya, tapi ada Francisco.
Francisco banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir, tapi…
Tapi?
- Kita harus mempertimbangkan masa lalu. - Masa lalu?
Kau tahu dia pernah mengumpulkan penari eksotis di kolam renang?
Lima puluh. Untuk memastikan apakah muat.
- Atau saat dia membeli dua unta… - Tak penting siapa mewarisi rumah ini.
Materi tidaklah penting.
Tapi aku yakin Francisco akan mendapatkan rumah ini.
Ya, Diana juga.
- Atau Francisco. - Atau Diana.
- Atau Francisco. - Atau Diana.
Pantas saja bayimu sering menangis.
Aku pernah melihat Toñito minum air kloset.
- Bersulang, Elenita. - Bersulang.
Sejujurnya, aku telah menikah tiga kali.
- Tiga? - Tiga kali. Tapi aku tak pernah…
Ini. Sudah. Maaf.
Tapi aku tak pernah melupakan cinta pertamaku.
Baguslah kau masih bisa ingat pada usia tua.
Julio.
Aku mulai lapar.
Aku tak keberatan makan buah zaitun.
Sepupu, bawakan zaitun.
- Kau tak mau kubantu di sini? - Tidak?
Kita tak punya zaitun.
Tapi kita punya bawang bombai kecil.
Bawakan apa pun.
Baiklah.
Julio, jangan bicara seperti itu kepada wanita. Dia sangat baik.
Ceroboh, tapi baik.
Elenita.
- Elenita, lagi… - Ayo bersulang lagi.
- Bersulang. - Bersama-sama lagi.
Terima kasih banyak.
Bir?
Jadi, lima anak?
Aku hanya bercanda.
Ayo berlatih.
- Julia… - Daniel.
Julia.
Tidak, jangan.
Hai, Julia!
Apa kabar, Sepupu?
Ada apa?
Hei…
- Pirang bilang dia gay. - Hus.
Seperti Arturo, teman ayahku. Ingat?
- Teman? - Sandra, diamlah.
- Tapi dia sudah tahu. - Baiklah, tapi…
Kau bodoh karena kemari. Gay tak bisa disembuhkan.
Bahkan ayahku tak bisa menyembuhkan Arturo.
Sudahlah, Sandra.
Sayang sekali. Kau sangat cantik dan sempurna.
Banyak pria mengejarmu, ingin memberimu bulan dan bintang,
tapi kau terjebak dengan pria ini.
Hentikan, Sandra, kumohon.
Kita sepakat tak memberi tahu siapa pun.
- Tapi apa? Aku tak mengatakan apa pun. - Kau mengatakannya.
Sudah kuduga.
Apa? Apa maksudmu?
Sebelum Sebas, kita…
Kita tak bercinta lagi.
- Tidak… - Ya. Bisa kita bahas ini nanti?
Jangan hiraukan aku. Aku cukup tertutup.
Kita bicarakan sekarang.
Kau memperlakukanku seperti rekan tim daripada pacar.
Mungkin aku tak begitu menyukaimu.
Kita hanya bercinta di hari Sabtu.
- Tapi kita bercinta. - Hanya saat Cruz Azul bermain.
Kau lebih memperhatikan pemainnya daripada aku.
Andrea, kumohon, mari kita bahas ini nanti.
Kau pernah memanggilku Kikín di ranjang.
Ya, karena aku mencemaskan kariernya. Dia pria baik.
Benar, dia sangat bersemangat.
Dengar, Andrea, bercinta sambil menonton Cruz Azul itu normal.
- Banyak orang begitu. Sandra, hentikan. - Kenapa Julia di sini?
Dia pacarku. Ini reuni keluarga.
- Baiklah, aku mengerti. - Andrea, tidak.
Sandra, hentikan itu! Dia mendengarmu.
- Tidak. Dia tak mendengar apa pun. - Dia dengar.
Begini, aku tak mau kau menyalahkanku atas apa yang terjadi.
Kau berselingkuh dengan kakakku.
- Ya, aku membuat beberapa kesalahan. - Beberapa?
Hentikan itu!
Sudah. Beberapa?
Itu bukan salahku.
Dahulu aku bersedia memberimu bulan, matahari, dan bintang.
Astaga.
Kurasa dia mendengarku, Pirang.
- Kenapa tak terpikirkan olehku? - Francisco.
Antonio tak boleh menonton televisi.
Tentu saja.
Aku tahu cara menyelamatkan jiwa Juan Pablo.
- Fokus. - Merpati, seperti Fransiskus dari Assisi.
Apa?
- Ingin menonton kartun? - Ya.
Sayang, aku tak ingin menekanmu.
Tapi kita harus memiliki rumah ini.
- Kau yakin baik-baik saja, Nek? - Ya, aku hanya
butuh istirahat, aku agak mengantuk.
Nenek. Kau ingat sewaktu aku kecil,
kau bilang rumah ini akan menjadi milikku saat aku dewasa?
- Sungguh? - Kau lupa?
- Tidak. - Ya, Nenek.
Di pertandingan final sepak bola.
- Tentu. - Ingat ayahku datang
dan dia mabuk, jadi…
Dia bercinta dengan istri pelatih dan semuanya kacau.
Aku menangis, dan kau memelukku.
- Itulah yang kau katakan. - Itu bukan ucapan serius.
Nenek…
aku tak mau menekanmu.
Aku tak mau kau merasa berkewajiban,
tapi sebenarnya, aku sangat khawatir.
Aku akan menjadi seorang ayah…
Aku mau anak-anakku tumbuh di rumah seperti ini,
bahagia dan bebas.
Kau tahu bagaimana keadaan di kota.
Kau akan menjadi ayah yang baik, Nak.
Kau telah memikirkan semuanya.
Apa katamu?
Anita, kau mengagetkanku.
- Katakan yang sebenarnya, Nek. - Apa maksudmu?
Apa kata dokter kepadamu?
Tak ada, dia bilang aku sehat.
Dia bahkan bilang aku bagaikan buah segar.
Lalu kenapa kau bersikap menyebalkan soal rumah sialan itu?
Hei, bisakah kau bicara dengan sopan?
Tapi…
aku tak mau kau mati.
Tidak, kemarilah, Sayang.
Tidak, aku tak mau mati dalam waktu dekat.
Lalu kenapa kau melakukan semua omong kosong dengan wasiat itu?
Karena itulah yang orang lakukan pada usiaku, Sayang.
Pembohong, itulah yang orang lakukan saat akan mati.
Tidak, aku berjanji tak akan mati
sampai aku melihatmu berjalan ke altar dengan gaun putih. Aku berjanji.
Itu artinya tak akan pernah mati.
Sebastián, aku menunggumu di lapangan.
- Aku tak tahu kau suka basket. - Sedikit.
Tapi aku ingin menambahkan keseruan pada permainan ini.
- Caranya? - Bagaimana kalau kita bertaruh rumah?
Apa?
Ya, tentu saja, aku bermain untuk Francisco.
Tunggu, Natalia…
Bukan begini cara memutuskan siapa mendapatkan rumah ini.
Kenapa bukan? Ini sikap sportif.
Olahraga adalah yang paling adil di dunia ini.
- Kau gila? - Apa?
Aku ikut.
- Bagus. - Diana tak akan mengizinkanmu, Jerry.
Aku tak akan meminta izinnya.
Tapi jika dia bertanya, ini ide kalian.
- Kalau begitu, mari kita selesaikan. - Tunggu.
Kau yakin?
Bagaimana aturannya?
Orang pertama yang memasukkan tiga kali mendapatkan rumah itu
dan yang lainnya gugur.
- Setuju? - Setuju.
- Setuju. - Setuju.
Aku tahu alasanmu kemari.
Alasannya sama denganmu.
Dengar, aku tahu segalanya.
Sepertimu,
aku mau Daniel baik-baik saja.
Jadi, bantu aku mendapatkan rumah untuk Sebastián
atau semua orang akan tahu. Sudah jelas?
Aku tak akan membantumu.
Katakan kepada semuanya soal apa yang menurutmu benar.
Jalang.
Pikirkan ini.
Kasihan Dani.
Tapi baiklah.
Bagaimana rasanya mengisap ganja saat hamil?
Atau kau sudah berhenti?
Aku juga tahu segalanya.
Tapi apa Nenek tahu?
Haruskah kutanya dia?
Sudah bertahun-tahun aku tak mengisap ganja.
Jalang.
- Tidak! Kau memegangku. - Apa-apaan ini?
- Pelanggaran. Apa-apaan? - Aku kosong. Aku melindungimu.
Berhenti memegangku.
Hentikan dia, Jerry!
- Jaga dia. - Keranjangnya bengkok.
Bengkok? Dia mencetak skor.
- Karena lemparannya bengkok. - Ya.
- Terlambat. - Tidak!
- Ambil. - Biarkan aku mencetak skor.
- Maaf. - Cengeng.
Apa? Ada apa denganmu?
- Natalia. - Maju.
Aku merebutnya dari Jerry, dan aku mencetak skor!
Maju!
Teruskan!
Bung!
- Kenapa kau tak menjaganya? - Tenang.
- Operanku. Setengah angka. - Tidak.
- Terima kasih. - Kuberikan kepadamu!
- Pelanggaran! - Itu serangan.
- Apa-apaan? - Jangan sampai dia melempar.
- Pelanggaran! - Kau tak menjaganya!
Tetap fokus!
- Kau cengeng. - Tidak.
- Aku bukan… - Benar, kau bukan siapa-siapa.
Serang!
- Ayo. - Lempar!
- Pelanggaran. - Apa salahnya?
- Ada apa? - Kau memukul hidungku!
Hidungmu dekat sikuku.
- Tidak, itu pelanggaran. - Bukan, ayolah!
Ayolah, tenang. Tunggu.
Berapa skornya?
- Dua. - Dua.
- Satu. - Nol!
Hei, kau hebat.
Ya, aku bermain di tim utama sejak kecil.
- Terima kasih! - Hei!
- Tidak, itu tidak sah! - Tidak sah.
Rasakan! Rumah ini milikku.
Terima kasih. Permainan bagus, Natalia. Jerry…
Permainan bagus. Kau tinggi, tapi kurang hebat.
Apa?
Diana.
Bagaimana kalian bisa punya ide konyol ini?
Sudah kubilang dia tak akan suka.
Ya, tapi terserah. Ayolah.
- Kami… - Tidak, duduklah, Daniel.
Baiklah. Ya, maaf.
Kami sepakat bermain untuk rumah. Aku menang.
Permainannya adil, rumah ini milikku, titik.
- Permainan bagus, Dani. - Omong kosong.
- Nati. - Kurasa permainan itu tidak sah.
Tidak.
- Ya. Tidak sah, Dani. - Tapi kenapa tidak?
- Turuti. - Aku menang.
- Ya, kau menang, tapi… - Tidak sah.
Baiklah…
- Aku… - Duduk!
Aku tak mau begini, tapi Nenek menjanjikan rumah ini untukku.
- Apa? - Bagaimana?
Suatu hari, Ayah mabuk
- dan memukuli badut ulang tahunku. - Aku?
Ya. Lalu, Nenek mendatangiku dan berkata,
"Tenang, Dani. Jangan menangis. Rumah ini akan menjadi milikmu."
Jadi, kau punya ingatan bagus untuk itu.
Tapi kau tak ingat ulang tahunku
atau meneleponku sesekali, 'kan?
- Kau menjanjikan rumah ini untukku. - Tidak. Kau menjanjikannya untukku.
Tidak, Ibu, ingat.
Aku mabuk dan mungkin tak ingat jelas,
tapi kau bilang rumah ini untukku.
Terdengar sangat meyakinkan.
- Kenapa? - Apa maksudmu?
- Alkohol memengaruhi ingatan. - Hentikan.
- Ini bukan cara membuat keputusan. - Lalu bagaimana?
Dengan tak melibatkan keturunan.
- Rumah ini bukan untuk orang kasar. - Tidak.
- Tapi untuk tukang selingkuh? - Ya.
- Ini hanya soal keturunan. - Bagus, Julia.
Tenang.
Aku akan memutuskannya malam ini.
Tapi sudah cukup.
Aku bingung harus bagaimana, Julio.
Dengarkan hatimu, Elena.
Aku sangat menyayangi mereka, tapi mereka sangat aneh.
Entah dari siapa sifat mereka.
Bagaimana kalau kau berhenti memikirkannya sejenak?
Mungkin nanti kau bisa berpikir jernih.
- Begitukah? - Ya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan
- agar aku berhenti memikirkannya? - Entahlah.
Aku tak tahu.
Inilah yang kubutuhkan.
Aku mengenalmu.
Maaf, boleh aku bergabung?
Ya, tapi tutup pintunya agar uapnya tak keluar.
Masuklah, Eleuterio.
Bagaimana, Elenita? Apa kau sudah memutuskannya?
Tidak, belum.
Dengar, saat aku harus membuat keputusan,
aku melakukan riset yang panjang dan menyeluruh.
Bagaimanapun juga, aku mencoba membongkar semuanya.
Aku bisa tahu.
Tapi kenapa begitu serius, Julio? Ada apa?
Kau kepanasan atau tegang? Ada apa?
Kau mau keluar, Sayang?
Tidak. Tak apa-apa.
Masalahnya, anak muda tak bisa menghadapi apa pun, bahkan panas.
Eleuterio…
Sudah, terima kasih.
- Kenapa? - Sudah jelas. Apa katamu?
Mau sopes?
- Ya, terima kasih. - Makan sebanyak yang kau mau.
Jangan serakah. Masing-masing satu. Nanti mereka tak kebagian.
- Maaf. - Tenang, Sandrita.
Ada banyak. Ambil lagi.
Ada cukup untuk dibagikan. Jangan khawatir.
Ambil sebanyak yang kau mau. Ada banyak untuk semuanya.
Astaga.
Apa kalian semua bersenang-senang? Ya?
- Ya. - Air kolam renangnya hangat, 'kan?
- Ya. - Nenek.
Jangan bertele-tele. Apa yang akan terjadi?
- Soal apa, Sayang? - Soal rumah ini.
Diana, sungguh?
Aku akan mengikuti nasihat Eleuterio
dan aku akan mewawancarai kalian semua
agar bisa memilih kandidat terbaik untuk rumah ini, mengerti?
- Wawancara? - Ya.
Tidak, Nenek, itu keterlaluan.
Aku tak keberatan, Nenek. Apa pun yang kau butuhkan.
Yang penting adalah membuat pilihan tepat.
Ya, aku akan memberi kalian poin berdasarkan wawancara
dan menambahkannya ke evaluasi perilaku kalian
- selama beberapa tahun terakhir. - Berapa tahun?
Sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Apa?
Beberapa hal telah dibicarakan, telah dimaafkan.
- Sebastián dicoret. - Hei!
Masa kini juga sangat relevan, bukan begitu, Daniel?
Kami tak punya penyesalan.
Francisco punya banyak dosa, tapi dia bertobat.
Kini dia baik.
Kau sebaiknya juga.
Bertobat dan tinggalkan sifat buruk.
- Pikirkan bayi-bayinya. - Omong-omong, di mana putraku?
Entahlah, tapi poinnya harus dikurangi karena terlambat makan malam.
Dia menidurkan Toñito selayaknya ayah yang baik.
Apa syarat untuk wawancara?
Memiliki akta kelahiran,
sertifikat vaksinasi?
Bawa sertifikat vaksinasimu. Kau tampak kurang imun.
Bayiku sudah diberi vaksinasi.
Begitu juga Toñito.
Cukup, tenanglah. Semuanya tolong tenang.
Aku berjanji akan objektif dan adil.
Nenek…
Terima kasih banyak.
Ini omong kosong, Nenek.
- Tidak. - Tenang, Bu. Akan kubawa dia kembali.
Terima kasih, Pablito, seperti biasa.
Kau akan mengurangi poinnya, 'kan?
Dia tahu aku akan mengurangi poinnya untuk mulut kotornya.
Francisco!
- Mandi, pakai parfum, bersiap. - Untuk apa?
Wawancara untuk mewarisi rumah ini akan dimulai.
- Tapi… - Kita pasti bisa.
Akan kucari tahu keinginannya.
- Apa? - Mandi!
Baiklah. Tapi untuk apa?
Baiklah, Francisco. Kenapa kau merasa berhak atas rumah ini?
Hei, Ibu, kenapa tidak?
Sepanjang hidupku, aku lebih sering di sini.
Tidak sesering kau, tapi hampir.
- Banyak momen bahagiaku di sini. - Ya, sering mabuk di malam hari.
Kurasa aku harus mewarisi rumah ini,
karena tiap kami datang, akulah yang mengurus semuanya.
Itu sebelumnya, 'kan?
- Tapi sejak bayimu lahir… - Kenapa bayiku?
- Dia sering menangis, 'kan? - Tidak.
Perilakunya sangat baik, Nenek.
Nenek, sebelum kita mulai, aku ingin mengatakan
aku memenangkan rumah ini secara adil.
Bukan dengan cara yang kau mau.
Tapi bagaimanapun juga, aku siap bermain di sini.
Tanya aku apa saja. Aku mudah dipahami.
Apa kau tahu bagaimana kau akan menafkahi banyak anak?
- Dengan bekerja, Nenek. - Melakukan apa?
Kau penulis, Nak. Kau bukan Corín Tellado.
Anita, kenapa kau ingin mewarisi rumah ini?
Kubilang aku tak mau.
Lalu kenapa kau di sini?
Karena Juan Pablo menyuruhku.
- Aku melihat anak-anakku tumbuh di sini. - Selagi aku mengurus mereka.
Ya, tapi mereka tumbuh di sini, 'kan?
Aku lewat dan tak sengaja mendengar.
Kita harus mengakui bahwa…
Francisco sudah lama menjadi sangat bijak.
- Kau menjadi sangat bijak. - Ya…
Satu bayi sangat mahal, Nak. Sekarang kalikan tiga.
Cobalah hitung. Bertemu dokter dikali tiga,
dan uang sekolah dikali tiga.
Sejak bayimu lahir, kau berbeda.
- Kau selalu lelah. - Tidak.
Tidak, semuanya sama. Kau bisa memercayaiku, Nenek.
Sebastián memecahkan vas porselen peninggalan nenek buyut.
Daniel menyimpan hamster, yang hilang itu, di lemarimu.
Ana mencuri handuk dari kamar mandi.
Kau sudah tahu keburukan Ayah.
Pesta ulang tahun, hadiah Natal,
liburan, semuanya dikali tiga, bayangkan saja.
Kau membayangkan itu?
Kami menamai salah satu anak kami Eleno.
Dari namamu.
- Itu luar biasa, Eleno. - Apa?
Nak, gunakan kesempatan ini untuk kau…
jujur kepadaku.
Aku mengetahui sesuatu hari ini. Aku sangat terkejut.
Apa maksudmu?
Menurutmu, apa maksudku?
Jadi, tentang…
- Tentang… - Tentang…?
Tentang…
Tentang hamster!
- Ya. - Kau memasukkannya ke lemariku.
- Ya. - Kau tak mengeluarkannya.
Mungkin masih di sana.
Kurasa tidak. Ia pasti sudah keluar dari lemari.
Ini omong kosong bagiku, Nenek.
Kami mengurangi poin karena bahasa kasarmu.
Entah kenapa kau melakukan ini. Kau tak sekarat.
Anita, semua orang pasti mati.
Itu tidak benar.
Lihat Chabelo. Dia masih hidup dan sehat.
Atau Ratu Inggris.
Dia sudah tua dan tak memberikan kastelnya kepada siapa pun.
- Baiklah. - Ana.
- Bayangkan itu! - Aku tak perlu menghampirinya, 'kan?
Mungkin kita harus tetap di sini semalaman.
Ini bukan yang pertama kali, 'kan?
Eleuterio, kau tak tahu malu.
Sudah cukup.
Julio, tenang.
Eleuterio bercanda.
Ada apa? Anak muda ini tak suka lelucon?
Dengar, cinta kami sudah lama berlalu, tapi tentu saja,
itu seperti baru kemarin.
Elena dan kau?
Itu baru lelucon.
Dahulu kau mungkin penggemar Cepillín. Bagus!
Bagus!
Dengar…
Jika dia tahu siapa Cepillín, dia tak semuda yang dia katakan.
- Kau sangat konyol. - Apa?
- Gendong dia. Aku mau kencing. - Aku juga.
Tidak, tunggu aku.
Tak apa-apa, Sayang. Jangan menangis.
Ana.
- Jaga dia. Aku harus kencing. - Tidak.
- Aku tak mau. - Ayolah.
Temani keponakanmu. Ini latihan yang bagus.
Astaga, latihan apa? Aku hanya ingin punya anjing.
Juan Pablo.
Pak?
- Selamat malam, Pak. - Halo, Nak.
- Semua baik-baik saja? - Ya. Begini…
aku ingin meminta maaf.
Begini, aku mendapakan wahyu.
Seolah-olah Tuhan bicara kepadaku.
Baiklah.
Tebak apa yang Dia katakan?
"Francisco,
kau harus menghormati keyakinan atau kurangnya keyakinan Juan Pablo.
Aku hanya ingin
mengantar Ana berjalan ke pelaminan.
Dia yang paling sering kutinggalkan.
Aku tak datang saat dia dibaptis.
Aku tak ada di komuninya, bahkan saat dia gagal di SMA.
Tidak.
Tapi bagaimanapun juga, aku harus menghormati keyakinan orang lain.
Keyakinanmu dan…
Semoga kau memaafkanku.
Tentu saja. Aku memaafkanmu, Pak.
Terima kasih, Nak.
Silakan tutup pintunya. Terima kasih banyak.
- Sama-sama, Pak. - Selamat malam, Nak.
Diamlah, Rosemary's Baby.
Diamlah sebentar saja!
Natalia.
- Gerardo menitipkannya kepadamu. - Gerardo?
Ya.
- Kepadaku? - Ya.
Dia bilang kaulah yang harus menjaganya.
- Ya, dia bilang ini keahlianmu. - Ya, aku sangat ahli.
- Ya. - Baiklah.
Kemarilah. Anak manis.
Kemarilah bersama Nenek Nati.
Kemarilah.
Ini. Kau lihat? Dia sangat…
Aku merasa diabaikan.
- Ya, tapi bersabarlah. - Selamat malam.
Di mana Elena?
Dia mau air putih,
dan tentu saja, aku mengambilnya untuk dia.
Dengan segala hormat, hentikan ini.
Nak, kau tak lihat?
Tak ada yang bisa menghentikan daya tarik antara Elena dan aku.
Katakan sesuatu. Jangan biarkan dia menang.
Ada apa antara kau dan istriku?
Dengar, aku bertemu dia lebih dahulu.
Ini masalahnya.
Aku bertemu dia bahkan sebelum kau lahir.
Aku akan mengabaikan ucapanmu, tapi kumohon,
tidurlah. Ini sudah larut untuk orang seusiamu.
Sungguh?
Dengar.
Kita akan menyelesaikan ini…
- secara jantan. - Tidak.
Ini bukan solusinya. Aku tak mau melawanmu.
Dia memukulmu, Sepupu. Balas dia.
Tidak akan. Dia pria tua.
Kau sebut aku apa? Pria tua?
Apa? Dasar bodoh. Kau tak tahu orang usia 80-an saat ini seperti 60-an?
- Eleuterio, hentikan. - Aku tak mau berhenti.
Aku akan menghajarmu sampai babak belur.
- Kau akan ingat ini seumur hidupmu. - Kau bisa terluka, Bung.
- Pria tua itu patah. - Kau tak apa-apa?
Aduh… Maksudku…
Sakit.
- Ada apa? - Dudukkan dia di kursi.
Ada apa, Julio?
- Eleuterio, ada apa? - Tidak.
- Ada apa dengannya? - Tak ada apa-apa.
Tidak, ini hanya panggulku.
Tapi Julio tak sengaja melakukannya.
Ini urusan laki-laki.
Tapi aku tak menyentuhnya.
Tenanglah.
Akan segera kupanggilkan dokter. Semua akan baik-baik saja.
Semua ini sepadan karena aku bisa di sini…
bersamamu.
Kabur!
Pergi, kabur.
Pergi.
Astaga!
Listriknya padam.
Aku harus memeriksanya, 'kan? Aku segera kembali.
Aku mencarimu.
Aku ketiduran di kamar mandi.
- Anak kita? - Kutitipkan kepada Ana.
Dengar.
Apa?
Tak ada suara.
Dia tak menangis.
Hei.
Kau mau ke mana?
Ke apotek.
Ke…?
Ke apotek? Sebastián!
Temanku yang lesbian menikah dengan seorang pria.
Aku mengatakannya karena mungkin ini hanya fase.
Kurasa tidak, Julia.
Itu hanya sedang trendi saat ini.
- Sebastián pergi ke apotek! - Ke…?
Tidak.
Hei, tidak!
- Minggir! - Tidak.
- Jangan pergi! - Kenapa?
- Apa pedulimu? - Kau punya anak, Bodoh.
Bukan, Bodoh, aku punya tiga anak.
Kau tak lihat? Tiga. Minggir.
- Terserah, bukan salahmu. Tetap di sini. - Terserah?
- Karena kau tak punya anak. - Aku bisa, dan tak pergi.
- Kau tak punya anak. - Aku bisa.
- Tapi tak punya. - Tapi aku bisa.
Diam! Cukup, kalian kekanak-kanakan.
- Kau di sini sampai tenang. - Tidak.
Ya. Kau urus Andrea agar dia tak tahu.
- Tidak, kau saja. - Dengar, Sebastián.
Aku tak suka Andrea, tapi dia tak pantas menerima ini.
Sialan! Bawa dia, nanti kita bertemu.
Ya, ayo.
Tidak.
- Lepaskan aku! - Aku ikut.
Panggulku!
Nenek, dokternya datang.
Bagus, syukurlah!
Elenita.
Selamat malam, Elenita.
- Kau menemukan mereka? - Tidak.
Toñito. Kemarilah, Sayang.
Kita pergi bersama Ibu Natalia?
Ke Ibu Natalia, Sayang.
- Ayo, Sayang. - Dan Ayah Francisco.
Benar, kemarilah, Sayang.
Kemarilah. Anak pintar.
Ini akan membuatmu lebih baik.
- Terima kasih. - Terima kasih, Mauricio.
Kau tak mau menginap? Ini sudah larut.
Aku ingat terakhir kali kau mengatakan itu kepadaku.
Mauricio.
Hei, Ana, kurasa aku akan menjadi religius.
Kenapa?
Ini penting untuk ayahmu.
Kenapa? Di mana kesalahanku?
Hei!
Cinta itu indah, bukan begitu, Sepupu?
Sayangku.
Dia bersembunyi dari Francisco.
Apa itu?
Ini bayimu.
- Ya, kami tahu. - Ana menitipkannya padaku.
- Dia tak menangis. - Dia sangat tenang.
Terima kasih. Kami akan membawanya.
Tapi kenapa terburu-buru, Gerardo?
Pengkhianat.
Selamat malam.
Selamat malam.
Dani, bisa kau pergi?
Aku tak akan bertindak bodoh.
Dahulu Ayah bilang begitu.
Andrea akan khawatir. Kuperingatkan kau.
Julia bersamanya. Tenanglah.
Halo.
Aku takut menjadi seperti dia.
Seperti Ayah?
Ya.
Tak akan seperti dia.
Bagaimana kau tahu?
Aku percaya kepadamu.
Bagaimanapun juga, aku memercayaimu.
Kau yakin?
Ya.
Aku menyayangimu.
Sangat.
Kau menyayangiku?
Ya.
Tidak, tunggu. Kau mau ke mana?
Ke kamarmu.
- Tidak, tunggu. - Kau memercayaiku, 'kan?
- Minggir. - Tidak.
- Minggir. - Ayo bicara.
Dani, minggir. Jangan dorong aku.
- Tenang. - Lagi?
Tenang!
- Hentikan. - Tenang.
- Minggir! - Tenang!
Sialan!
Baiklah. Kau, Sandra.
Awasi mereka. Aku harus bicara dengan Ayah.
Tentu, Nona, akan kulakukan.
Gunakan kekerasan jika perlu.
Baiklah, akan kulakukan.
Nona bilang aku boleh memakai kekerasan.
Berhenti menyebutku "Nona".
Hei!
Aku menghormatimu.
- Nona muda? - Hei!
Maaf.
Aku segera kembali.
Ayo!
- Ke mana? - Sialan.
Lalu apa?
- Bertiga? - Apa?
Kau punya tiga bayi, 'kan?
Kau bilang apa kepada Juan Pablo?
Kalian mengagetkanku!
Apa yang kau katakan? Dia ingin menjadi religius.
Selamat, Nak.
Tuhan mendengarkan doaku.
Tidak. Jangan sebut dia "Nak", Ayah.
Kau harus menghormati keyakinan orang lain.
Jika Juan Pablo ingin percaya kepada cumi-cumi raksasa, Tuhan,
atau energi kristal, itu urusannya.
- Sayangilah dia apa adanya. - Baiklah, Sayang, kau benar.
Aku hanya ingin menyelamatkan jiwanya.
Menyelamatkannya dari apa? Dia orang paling baik di rumah ini.
Satu-satunya yang tak akan masuk neraka.
Maaf, aku sungguh tak mau ini terjadi.
- Terima kasih, Nak. - Jangan khawatir.
Terima kasih.
Tuhan, kau mendengarkan doaku.
Baiklah, seseorang bicaralah.
Tak ada topik pembicaraan? Kalian saudara.
Ini waktu yang tepat untuk memberitahunya.
Memberitahuku apa?
- Tak ada. - Tak ada.
Apa?
Dahulu di Camargo…
Saat ayahku bercerita kepada pamanku soal Arturo…
pamanku salah paham.
Jadi, ayahku naik truknya
dan dia menabrak pamanku sampai mati.
Siapa Arturo?
Seorang pria, teman kami. Benar, Pirang?
Kalian punya teman yang sama? Dari mana?
Intinya, ayahku selalu mengatakan,
"Aku menyesal membunuhnya, tapi tak pernah menyesal memberitahunya."
Memberi tahu apa?
Tentang Arturo menyukai pria.
Terlepas dari itu semua,
ayahku tak pernah meninggalkan Arturo.
Kau tahu kenapa?
Kau tahu kenapa?
- Kenapa? - Kenapa?
Karena kita semua butuh teman bicara.
Siapa teman yang lebih baik daripada saudaramu?
Listriknya menyala.
- Beri tahu dia. - Tidak.
Entah apa yang kau bicarakan. Diamlah.
Jangan biarkan dia pergi. Jaga dia di sini…
- Ada apa dengannya? - Kau tahu dia.
Dia akan baik-baik saja.
- Hei, kau mau ke mana? - Apa?
Sandra bersama Sebastián. Jangan khawatir, mengerti?
Sialan.
Dani, aku hanya bertanya.
- Temui Sebastián. Nanti kususul. - Ya, tentu.
Sialan!
Hei.
Hei.
- Ada apa? - Tak ada apa-apa.
Apa yang kau lakukan?
Tampaknya aku akan tidur di sini.
Sedang apa kau?
Tak ada. Mau ke mana kau?
Aku mau mengisap ganja Nenek.
- Ayo bicara. - Apa?
Begini…
Aku ingin menanyakan hal penting kepadamu.
Aku gay.
Baiklah.
Julia?
Dia tahu.
Kenapa dia di sini?
Untuk mendukungku.
- Mendukungmu? - Ya.
Kau tahu keluarga kita.
Jika mereka tahu, aku hancur.
Mulai dari Ayah dan keyakinannya, serta Nenek.
Kau bodoh.
Meski menyukai wanita atau pria,
kau tetap bagian dari keluarga ini.
Kami akan selalu menyayangimu, Dani.
Terima kasih, tapi…
kau tak bisa memberi tahu siapa pun.
Tentu aku bisa. Mereka bukan orang berengsek.
Bukan sepenuhnya orang berengsek.
Aku ingin sendirian sebentar.
Masalahnya, aku ingin…
Aku ingin bertanya apakah menurutmu Daniel…
- Kau menjadikannya gay. - Apa?
Aku mengatakannya bukan karena kau kuat atau besar.
Kau sering ke pusat kebugaran? Di mana tempatnya?
Kau berengsek.
Apa kabar?
Sedang apa kau?
Kau seharusnya tidur, 'kan? Karena beban itu.
- Jangan sebut mereka begitu. Permisi. - Ke mana?
Aku mau membuat quesadilla. Permisi.
Baiklah, kami ikut denganmu.
Quesadilla buatanku enak.
Aku kelaparan.
- Siapa yang akan mendapat rumah ini? - Aku tak peduli.
Kau tak peduli?
Jika aku mendapatkannya, kau tak peduli?
Kenapa kau tak peduli jika aku…
Maksudku, kenapa kau bilang…
Baiklah.
Kau pembohong. Kenapa kau tak peduli? Kau benci aku.
Tentu tidak.
Lagi pula, kenapa jika aku peduli? Itu tak penting.
Apa maksudmu? Aku tak paham.
Maksudku, entah aku membencimu atau tidak…
Itu tak penting, kau bagian dari keluarga.
Itu ucapan terbaikmu kepadaku.
Jangan terbiasa dengan itu.
- Mau satu? - Ya.
- Sial. - Apa ini?
- Masin panas? - Tidak.
Tapi…
salsanya terasa seperti yang ada di restoran quesadilla favoritku.
Di restoran Qué Camargo?
- Bagaimana kau tahu? - Aku pernah bekerja di sana.
Kalau begitu, kita harus berteman.
Kalian sudah bersaudari karena berbagi pria.
Apa?
Apa aku keliru?
Itu menjijikkan.
MINGGU
Baiklah.
Baiklah, setelah menilai semua variabel…
Seperti yang kami lakukan.
Serta melakukan perhitungan tepat… Kami bekerja keras untuk ini.
- Benar. - Aku akhirnya tahu siapa di antara kalian
yang paling cocok untuk mewarisi rumah ini.
- Daniel. - Apa?
Sungguh? Luar biasa!
Keadilan terjadi! Ya!
Kalian adalah keluarga Cruz Azul. Rasakan!
- Selamat. - Terima kasih!
Tidak, tunggu. Eleuterio mengingatkanku
kami mengurangi sepuluh poin karena kau tak memberiku kado ulang tahun.
- Sudah kuduga. - Tidak, tunggu.
- Aku memberimu hadiah ulang tahun. - Enam tahun lalu.
Baiklah, sekarang…
pemenangnya adalah…
Akan kutunggu kau mengatakannya, Nek.
- Juan Pablo. - Tidak.
Kau bahkan tak mewawancarainya.
Tidak perlu. Dia pria baik dan dia menyelamatkan hidupku.
- Permisi… - Nenek, dia bahkan bukan keluarga.
- Benar. - Benar.
Perhitunganmu salah. Aku bisa bantu.
Tak ada peluang bagi ayahku. Tapi aku bisa bantu menghitung.
- Hitungannya pasti salah. - Apa maksudmu tak ada peluang? Kenapa?
- Karena wanita Rusia dan Ukrania. - Jangan ikut campur, Jerry.
Lagi pula, itu sudah lama.
Ya, seperti kado ulang tahun.
Begini saja. Aku akan memberimu dua kado dan semua beres.
Dani, kau kalah, seperti Cruz Azul.
Hati-hati dengan Sang Mesin.
Ya, jangan ganggu Pirang. Dia sangat sensitif.
- Diam! - Francisco berhak mewarisinya.
Ini milik orang yang mengurusnya, yaitu aku.
Maka, rumah ini milikku. Kau bahkan tak tahu di mana tatakan gelas.
Diam!
Cobalah perhatian. Aku punya tiga anak.
Kami tak muat di apartemen. Kami butuh rumah seperti ini.
Maka mulailah bekerja. Jangan malas.
- Apa katamu? - Jangan bicara begitu kepadanya.
Aku melakukan ini untuk kalian. Tak ada yang menghargai…
- Ayah, aku menang dua kali! - Itu artinya kau kalah dua kali.
Jangan bicara seperti itu kepadanya.
Hentikan! Kalian memperebutkan rumah yang masih dihuni Nenek.
Bagaimana jika dia meninggal? Astaga!
Keluargaku, tolong tenanglah!
Hentikan, Nenek tidak sehat!
- Elena. - Elena, apa?
Elena…
- Juan Pablo. - Jangan sekarang, Ayah…
Tak apa-apa, Sayang.
Aku tak peduli kau percaya Tuhan atau tidak.
Jika putriku bahagia, aku bahagia.
Aku sangat bahagia, Ayah.
Aku sangat bahagia, 'kan?
Kalian anak-anak baik.
Sayang.
Aku hendak pergi ke apotek kemarin.
Kau sakit?
Apotek…
di Kuba.
- Sebastián. - Tidak, Sayang, maaf.
Maaf, tapi aku sangat ketakutan.
Bayangkan jika aku menjadi seperti ayahku.
Jangan khawatir.
Jika kau menjadi seperti ayahmu, anak-anak bersamaku.
Baiklah.
Tapi jika kau berani berniat pergi ke apotek lagi…
aku akan membunuhmu.
Sayang, aku terharu sekarang.
Jangan tatap aku begitu. Kau tahu aku takut.
Maaf.
Aku lepas kendali.
Kita semua lepas kendali.
Toñito adalah anak hebat.
Kau…
Hanya kau yang bisa menidurkan anak cengeng itu.
Aku butuh bantuanmu.
Tentu, apa pun yang kau butuhkan. Kita keluarga.
Baiklah, bisakah kau menjaganya sekali sepekan
agar aku bisa pergi bersama Diana?
Ya.
Atau dua kali, untuk menonton film?
Serta Sabtu malam, seandainya ada sesuatu?
Ya.
Kita tak perlu bersaing.
Keluarga ini harus kompak.
Ya.
Aku seharusnya tak bilang soal hamster Dani.
- Sayang. - Aku merasa bersalah.
Hei.
Aku ingin minta maaf.
Aku merusak hubungan kita.
Aku terkadang lebih mencemaskan Cruz Azul daripada kau.
Aku mengerti sebabnya.
Aku mengurangi masalahmu.
Bisa kau bayangkan jika kita masih bersama?
Kurasa…
keadaan terjadi sesuai takdir.
Aku berharap ini akan berbeda, tapi…
semua sudah berlalu.
Kita tak bisa mengubahnya.
Benar.
Dani, aku pergi.
- Kau baik-baik saja? - Tidak.
Tapi aku akan baik-baik saja.
Kau lebih kuat daripada aku.
Aku tahu.
Beri tahu mereka.
Tak perlu kau sembunyikan.
Jika aku menerimanya, mereka pasti juga menerimanya.
Maksudku, kau tak tidur dengan mereka.
- Atau sebaliknya? - Tidak.
Terima kasih, Julia.
Sampai jumpa.
- Aku menyayangimu. - Aku juga.
Bagaimana keadaanmu?
Baik.
Rasa sakitnya hampir hilang.
Aku hanya bisa memikirkan Elena.
Kau?
Entahlah.
Dengar…
Aku berjanji kepadamu.
Jika Elena selamat,
aku akan pergi.
Kau bukan ancaman bagiku.
Entahlah.
Entahlah.
Tidak, tapi dengarlah, aku selalu menepati janjiku.
Itu menenangkan pikiranku.
Bagaimana, Dokter?
Elena masih sakit parah.
Dia ingin menyampaikan kepada kalian kata-kata terakhirnya.
- Kalau begitu, baiklah, Dokter. - Mari.
Terima kasih.
- Tunggu aku? - Tentu.
Nenek?
Kami di sini sekarang.
Katakan keinginanmu, Ibu. Apa pun yang kau butuhkan.
Aku ingin meminta maaf atas segalanya.
Tidak, Nenek, ini bukan salahmu.
Mungkin salahmu sedikit, tapi tak apa-apa.
Lalu siapa yang mendapatkan rumahnya? Aku harus tahu.
Begini, Ibu…
Serahkan itu kepada anak-anakku.
Ya. Serahkan kepada adik-adikku, itu akan mengajari mereka tanggung jawab.
Sebastián lebih membutuhkannya untuk ketiga anaknya.
Tidak, aku tak mau.
Tidak, Ana harus memilikinya.
Semalam, dia mencegahku merusak hidupku. Dia pantas menerimanya.
- Itu bukan hal besar. - Itu hal besar.
Ya, Ana juga selalu mengatakan hal yang perlu kita dengar. Benar?
Dia selalu tahu cara mengatasi masalah.
Andrea bilang kau baik kepadanya. Itu artinya kau berubah.
- Itu bukan hal besar. - Apa kau tahu?
Ya, kalian benar.
Ana adalah yang paling dewasa dan perhatian di antara kita.
Baiklah, cukup. Akan kuterima rumah itu jika kalian mau.
Tapi ingatlah, aku tak menginginkannya.
Baiklah, aku bisa…
pergi dengan tenang.
- Tidak, Bu. - Jangan tinggalkan kami.
Tidak, waktumu belum…
Elena, apa yang kau lakukan? Jangan.
- Nenek… - Apa? Tidak.
- Nenek. - Jangan lepaskan itu.
Kenapa? Aku lapar. Aku mau minum tequila.
- Bagaimana bisa? - Nenek?
Lihatlah yang kualami untuk membuat kalian sepakat.
Semuanya lancar, Elena?
Semuanya lancar, Mauricio, terima kasih.
Dokter…
Maaf. Aku tak bisa menolak keinginannya.
Dia…
Dia adalah cintaku.
Nenek, benarkah?
Kau memang jalang!
Tidak, kau curang.
Eleuterio, dokter, siapa lagi?
Apa lagi sekarang?
Berapa banyak mantan pacarmu?
Sayangku.
Siapa peduli soal jumlah mantan pacarku?
Yang penting adalah kau bisa menjadi…
yang terakhir.
Elena?
Elena?
Kau tak bercanda, 'kan?
Elena!
Tidak.
Elena, kumohon jangan pergi.
Tidak, Elena, kumohon jangan!
ENAM BULAN KEMUDIAN
Nak, gunakan kesempatan ini untuk kau…
jujur kepadaku.
Aku mengetahui sesuatu hari ini. Aku sangat terkejut.
Astaga!
Dani.
Kenapa kau tak memberitahuku bahwa kau gay?
- Itu seharusnya membuatku bahagia. - Tidak!
SEGERA HADIR HANTU NENEK
RIP subtitle oleh Putra
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.