All language subtitles for Danur.2.Maddah.2018.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian Download
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese) Download
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish Download
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian Download
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[anak kecil menyanyi dalam bahasa Sunda] ♪ Abdi teh ♪

♪ Ayeuna ♪

♪ Gaduh hiji boneka ♪

♪ Teu kinten saena ♪

♪ Sareng lucuna ♪

[pria] Bisa sebut nama Bapak di depan kamera?

Nama saya Ahmad Mufraeni.

Berapa usia Bapak sekarang?

Saya 63 tahun.

Di mana Bapak pertama kali bertemu dia?

[Ahmad] Di paviliun belakang rumah.

[pria] Apa yang kau ingat tentang dia sekarang?

Wajahnya yang cantik,

rambutnya yang bergelombang panjang, dan wangi.

Ketika datang, dia selalu wangi.

Seperti bunga sedap malam.

Ada lagi?

Dia sering memainkan piano.

[nada senandung]

[Risa] Ini adalah kejadian nyata.

Yang dialami oleh Om Ahmad, paman saya.

Tentang kisah cintanya...

dengan dia.

[gemeresik ranting tertiup angin]

[wanita] ♪ Abdi teh ♪

♪ Ayeuna ♪

♪ Gaduh hiji boneka ♪

[terkesiap]

[terengah-engah]

[ketukan di pintu]

[Riri] Teh Risa, nanti kita kesiangan.

Teteh, katanya menyalakan alarm.

[ketukan berlanjut]

Teh, bangun. Riri ada geladi resik.

Nanti kita tidak sempat ke rumah Om Ahmad.

Teteh! Teh Risa, bangun!

Iya, sudah bangun.

[ponsel berdering di kejauhan]

Cepat, Teteh.

Teh Risa, mandi!

[dering berlanjut]

[nada dering berputar]

[dering berhenti]

[suara anak tertawa]

[Tina] Piano itu sengaja Tante bawa kemari dari rumah Nenek.

Supaya kalian sering ke sini.

Pasti sering ke sini, Tante, sudah sama-sama di Bandung.

[bunyi nada dimainkan di piano]

Sa, coba mainkan satu lagu.

Jangan, Kak. Nanti Teh Risa malah main lagu untuk panggil "teman-temannya".

[Risa] Tidak apa-apa. Agar berkenalan sama Riri.

-Riri mau ke mana? -Mau ke atas, Om.

-Main di bawah, yuk. -Baik.

Selama mama kalian menyusul papa, kalian sering-sering kemari.

Iya, nanti Tante masakkan yang enak-enak.

-Ya? -[Riri] Iya.

Di rumah makannya bakso lagi

-bakso lagi. -[semua tertawa]

Bakso Arief ya, Ri? Itu kesukaan Teteh kalau kata Kak Andri.

Bakso Arief itu terbaik se-Bandung.

Papamu bilang kuliahmu sudah mau selesai.

Sudah sampai mana?

Sudah sampai skripsi, Om.

Ri, ayo makannya ditambah.

[berdeham] Baju balet.

[tertawa]

Bercanda. Makan saja. Tidak. [tertawa kecil]

Besok jangan lupa temani kita ziarah ke kuburan Nenek.

-Siap. Risa pamit, ya? Assalamualaikum. -[Riri] Dah, Tante!

Iya. Walaikumassalam. Hati-hati, ya!

Iya.

Ini Risa sudah di tempat geladi resiknya Riri.

Iya, nanti Risa fotokan saat Riri lagi latihan.

Iya. Nanti Risa videokan juga.

Ya sudah. Dah, Ma.

[guru bicara bahasa Inggris] Siap, Anak-anak?

[musik berputar]

Naik!

Tahan!

Satu, dua...

[bunyi klik kamera]

Baik. Bagus!

Siap? Terbang!

Satu, dua...

tiga, empat.

[bahasa Indonesia] Ayunkan.

[bahasa Inggris] Berhenti dan tahan!

Bagus!

Baik. Seperti seorang putri!

Ayo! Seperti malaikat, seperti putri!

Berlari sambil berjinjit, Anak-anak. Di posisi kalian.

[bunyi klik kamera]

Berpose, senyum.

Tahan pose.

Lalu... Baik! Bagus.

[musik memudar]

[guru bicara tak terdengar]

[menjerit]

[terengah-engah]

[Riri bicara bahasa Indonesia] Teteh tahu? Riri malu sekali.

"Kakakmu kenapa, Ri? Tidak waras, ya?"

Teteh tidak bisa jadi orang normal seperti yang lain, ya?

Yang penting saat Riri pentas, Teh Risa tidak usah datang.

[suara pintu berderit]

[menguap]

Pa...

Bangun, Pa.

Iya, ini Teteh sudah selesai, sehabis ini tinggal menjemputmu.

[mesin mobil menyala]

[semua berdoa dalam bahasa Arab] Laa ilaha illallah

Laa ilaha illallah

[bahasa Indonesia] Kata Nenek, menguburkan sore seperti ini, itu pemali.

Nanti rombongannya banyak yang tidak terlihat, banyak yang ikut.

-[berseru] -[terkesiap]

[Risa] Hai, Tante.

-[Tina] Hai, Sayang. -[Riri] Hai, Tante.

Om Ahmad mana, Tante?

Om Ahmad... Coba kau telepon Papa.

[bunyi berdering]

Tidak ada yang angkat.

Tadi Angki kirim pesan juga belum dibaca.

Memangnya Om Ahmad ke mana, Ki?

Tidak tahu. Dari tadi pagi sudah pergi.

Itu Om Ahmad.

[Riri] Hai, Om.

[Ahmad berdeham]

-Dari mana, Om? -Kerja.

-Tadi Risa lihat Om seperti sama... -Om sendiri.

Doa saja, yuk.

[membacakan doa tanpa suara]

[Angki] Amin.

[Riri] Kak, foto yuk, mau kirim ke Mama.

Foto, ya?

[bunyi klik kamera]

Coba bayangkan, Tante.

[gemerincing biji bekel]

Riri lagi geladi resik buat pertunjukan balet.

Terus tiba-tiba, Teh Risa malah teriak-teriak.

Riri jadi malu.

Semua jadi berantakan.

Teh Risa tidak ada niat untuk ganggu pertunjukanmu sebenarnya, bukan?

Namun, tetap saja...

Ini kamar buatmu dan Riri.

Sering-sering menginap ya, Sa.

Sepi tidak ada Kak Andri.

Iya.

Paviliun itu area Papa.

[Angki] Kita ke bawah yuk.

[Risa] Yuk.

-Lihat ini, ada apa. -[Angki] Wah.

[Angki] Ada cilok.

-[Tina] Cilok bumbu spesial. -Ya!

Sayang, duduk di sini.

Risa, boleh minta tolong teleponkan Om Ahmad

-di paviliun, sambungan empat. -Baik.

[dering telepon]

[wanita di telepon] Ya?

[Angki] Pa.

Dicari Riri. Diajak makan cilok.

Sudah makan.

Teh Risa, lihat.

Ini aplikasi hitung umur. Ini perkiraan umur Teh Risa.

Ini Riri, ini Kak Angki.

Ini Tante Tina, ini Om Ahmad.

Terus, yang 113 tahun ini umur siapa ya, Teh?

Kok Teteh juga jadi lebih tua?

Eror mungkin aplikasinya [mengetik]

Kalau salah pun, cuma salah perkiraan umurnya saja.

Bukan orangnya.

[ketikan berhenti]

Salah itu aplikasinya. Percaya, deh.

[lanjut mengetik]

Ma?

Pa?

Ma?

Pa?

[berdoa tidak jelas]

[bunyi denting sendok]

[suara nada piano]

[musik piano dimainkan]

[gemerincing sendok]

[musik berhenti]

[nada dimainkan]

-Hei. -Hei!

Sedang apa?

Habis membuat kopi.

Kenapa malam-malam minum kopi?

Papamu mana?

Tidak tahu. Di paviliun?

Baik.

Jangan lupa salat Isya, ya.

[meludah]

[wanita tertawa]

Peter, William, Janshen!

[menghela napas]

Sudah aku bilang berapa kali, kalau main harus langsung dirapikan.

[berdecak, menghela napas]

[anak-anak menyanyi dalam bahasa Sunda] ♪ Abdi teh ayeuna ♪

♪ Gaduh hiji boneka ♪

-Halo, aku Hendrick. -Aku Hans.

[keduanya] Kami temannya Peter.

Boleh kami jadi temanmu, Risa?

-[Riri] Kak Risa. -[terkesiap]

[ponsel berdering]

Ini Kak Angki menelepon tidak diangkat?

Begini, Sa. Kau menginap saja. Aku ceritakan semuanya.

Ya.

Yang penting kau menginap, ya?

Baik, dah.

[bunyi bip telepon]

-Siapa, Ki? -Risa, Ma.

Jadi ke sini, bukan?

Ya, katanya sehabis Riri pulang sekolah, mau menginap.

Nanti Mama masak, deh.

Iya.

Kenapa, Ki?

Itu Papa sedang apa, Ma?

Papa itu aneh sekali.

Kenapa memasang bunga sedap malam di depan paviliun?

Setahu Angki itu, kalau rumah bau bunga,

-berarti ada hantu perempuannya. -[berdecak]

Kalau bicara jangan sembarangan, pemali.

[kaca pecah]

[menghela napas]

Teh Risa, ayo!

Riri sudah buru-buru ini pulang sekolahnya.

Ayo berangkat!

[Riri] Ini rumah aku.

Kalian kalau mau bawa teman, tetap harus izin dahulu.

Selama aku pergi, jangan mengacak-acak rumah, ya?

[Riri] Teh Risa?

Ayo, Teh. Nanti kesorean.

[Risa] Iya.

Jangan ke sana, Risa.

Kenapa?

Jadi semalam itu, aku dengar piano di bawah berbunyi sendiri, Sa.

Dua kali.

Terus tadi pagi di kamar mandi, di cermin aku lihat perempuan seram sekali.

Kau yakin belum merasakan apa-apa di rumah ini?

Di setiap rumah sudah pasti ada penunggunya, Ki.

Namun, aku belum lihat apa-apa ya di sini.

Kau tahu? Sekarang Papa jadi aneh.

Di mana-mana dia taruh bunga sedap malam.

[Risa] Maaf, Ki. Aku belum bisa cerita.

Sepertinya ayahmu selingkuh.

-Tidak boleh, Tante. -Masa?

-Masa tidak boleh? -Tidak boleh.

Kalah kalau begitu.

[tertawa kecil]

Sudah jamnya, Tante masak dahulu.

-Baik. -Kau main sendiri saja, ya?

[terkesiap]

-Ma. -[Tina] Ya?

-Kita makan dahulu saja, ya? -Tunggu Papa.

Tadi Mama sudah telepon mau makan bersama.

Nanti, ya.

Makin malam makin bau bunga ya, Tante.

Namanya juga bunga sedap malam.

Dia mekarnya malam hari,

jadi wanginya lebih menyengat saat malam hari. Begitu.

Kenapa, Sa?

Baunya tidak enak, ya?

Ini bukan bau bunga.

Ini bau...

Nah, sudah lengkap. Yuk makan.

[Risa terkesiap]

[ketakutan]

[pintu berderit]

-[Riri] Teh. -[terkesiap]

Teteh merasa di rumah ini ada yang tidak beres, ya?

[membuang napas]

Kau kenapa?

Tadi saat Riri mau ambil bola bekel di kolong kursi,

seperti ada yang pegang tangan Riri.

Kita berdoa saja ya, Ri.

Teh, kok itu seperti kuburan, ya?

[terkesiap]

Teh, lihat apa?

Riri tidak lihat?

Benar ya, Teh? Di rumah ini ada penunggunya?

[guntur bergemuruh]

[pintu berderak]

[bunyi derak berlanjut]

[terkesiap]

[bunyi derak berlanjut]

[pintu menutup]

[guntur bergemuruh]

[petir menggelegar]

[terkesiap]

[pintu berderak]

[bunyi derak berhenti]

[guntur bergemuruh]

[guntur bergemuruh]

[petir menggelegar]

[suara musik piano]

[musik berhenti]

[musik berlanjut]

[musik berhenti]

[musik berlanjut]

[Risa] Kau siapa?

[tertawa terbahak-bahak]

Pergi!

[terengah-engah] Astagfirullahaladzim.

Elizabeth?

[Tina menjerit]

-[Angki] Ma! -[jeritan berlanjut]

[Tina merintih ketakutan]

-Mama! -[Risa] Tante Tina.

-Ma, ini Angki, Ma. -Tante, ini Risa.

[suara doa di kejauhan]

[Angki] Tidak ada yang bahaya bukan, Dok?

Semua hasil tes Mamamu bagus, hasil rontgen-nya juga baik.

Tidak ada yang fatal dengan kondisi fisiknya.

Jadi Mama saya kenapa, Dok?

[dokter] Mungkin ada masalah yang mengganggu psikisnya.

Namun, Mamamu bisa pulang hari ini. Dijaga terus mamanya, ya.

[Risa] Subuh dahulu yuk, Ki.

Riri, pegang sebentar ya.

Om.

Salat subuh sama kita yuk, Om.

Pa. Salat yuk, Pa.

Pa!

Yuk, salat.

Ayo, salat.

Ki.

Ayo, Pa. Wudu.

Ki, sudah. Bawa masuk saja dahulu.

Yuk.

[berdoa dalam bahasa Arab]

[doa berlanjut]

[berdoa tanpa suara]

[terus berdoa]

[Angki terus berdoa di kejauhan]

[terus berdoa]

[bahasa Indonesia] Risa, Papa mana?

[ponsel berdering]

-[Angki] Aku cari Papa ya. -Iya.

Halo, Ma?

Kata dokter baik-baik saja, Ma.

Iya, ini Risa sama Riri di rumah Tante Tina.

Om Ahmad baik-baik juga.

Iya. Tenang saja ya, Ma.

Iya. Baik, yuk.

-[ponsel berdering] -[bunyi bip]

Halo, Ki?

Kau sudah bertemu Om Ahmad?

Ya sudah, aku ke sana ya. Yuk.

Ini di mana ya?

[wanita bersenandung]

[senandung berlanjut]

[wanita] Ini bau danur.

Namun sepertinya...

kau sudah tidak asing lagi.

Saya mencium bau danur

hampir setiap hari.

Bunga itu ampuh untuk mengelabui bau danur.

Bu.

Sebenarnya saya biasa melihat mereka.

Namun, apa bisa mereka tidak terlihat?

Walaupun saya mencium bau danur.

Mereka bisa memilih ingin menampakkan diri atau tidak.

Yang tidak kelihatan, bukan berarti tidak ada.

Pergi!

[menjerit]

[terkesiap]

Maddah artinya dibaca lebih dalam.

Kau kali ini harus melihatnya lebih dalam.

Makan dahulu ya, Tan.

Sedikit saja, Tante.

Ma...

Mama harus makan, Ma.

Mama itu sebenarnya kenapa? Kenapa bisa seperti ini?

Semalam ada apa, Ma?

Tolong jawab, Ma.

Stop, Ki.

Ri, tolong suapi Tante Tina ya. Kalau sudah, minumkan obatnya.

[pintu membuka]

[pintu menutup]

Tante, cepat sembuh ya.

Sa, kita harus bagaimana sekarang?

Aku sudah tahu ada yang tak beres dengan rumah ini.

Mama itu diganggu setan, bukan?

Ini semua pasti ada hubungannya sama paviliun itu.

Kau tahu sendiri, bukan?

Papa sikapnya jadi aneh sejak dia sering ke situ.

Aku semalam ke paviliun, Ki.

Lalu, kutemukan ini.

Siapa tahu ada di sini jawabannya.

[Angki] "Untukmu, Elizabeth."

Elizabeth?

[Risa] "Aku bisa melihat wajahmu yang cantik.

Dengan gaun, kau berjalan seperti seorang putri.

Tempat ini akan menjadi saksi

bagaimana kau membuatku jatuh cinta, El.

Kau bilang kepadaku...

aku serupa dengan kekasihmu puluhan tahun lalu.

Aku tidak peduli, El. Aku jatuh cinta padamu.

Yang selalu harum semerbak, bak bunga yang kutanam untuk mengenangmu."

[Halaman dibalik]

"Besok Kamis hari kelahiranmu.

Katamu dahulu setelah Kamis,

kekasihmu pergi karenamu.

Aku sudah berjanji untuk ikut denganmu selamanya bukan, El?"

"Kamis, 29 Maret. Elizabeth Verjaardag."

Verjaardag. Bahasa apa?

Bahasa Belanda.

Ulang tahun ke-23 Elizabeth?

[Risa] Riri tidak lihat?

Benar ya, Teh? Di rumah ini ada penunggunya?

Kau siapa?

[tertawa terbahak-bahak]

Kenapa, Sa?

[Risa] Ki, kau lihat ini.

Ada perkiraan umur 113 tahun di sebelah Om Ahmad.

[embusan napas] Kalau dihitung mundur...

berarti dia lahir di tahun 1905.

Berarti benar. Di tahun 1928, itu ulang tahun dia yang ke-23.

[wanita di telepon] Ya?

[Angki] Jadi selama ini, si Elizabeth itu...

[Risa] Aku kira Om Ahmad selingkuh, Ki.

Ternyata aku salah.

Maksudnya Papa itu jatuh cinta sama hantu?

"Besok Kamis hari kelahiranmu.

Katamu dahulu setelah Kamis, kekasihmu pergi karenamu.

Aku juga akan pergi untukmu, El.

Aku sudah berjanji..."

Maksudnya Papa mau pergi ikut El, apa?

Aku harus tanya sama temanku, Ki.

[Risa] ♪ Abdi teh ♪

♪ Ayeuna ♪

♪ Gaduh hiji boneka ♪

♪ Teu kinten saena ♪

♪ Sareng lucuna ♪

[Angki] Risa.

[listrik bergeretak]

[wanita dan Risa] ♪ Ku abdi di erokan ♪

♪ Erokna sae pisan ♪

♪ Cing mangga tingali ♪

♪ Boneka abdi ♪

[mengembuskan napas tak menentu]

[terkekeh-kekeh]

[tertawa terbahak-bahak]

Elizabeth?

[tertawa berhenti]

[menggeram]

[tertawa]

Saya tahu kau Elizabeth.

Mau apa kau dengan keluarga kami?

[suara wanita] Dia akan mati.

Ayahmu akan mati.

Ikut dengannya.

[tertawa]

Mau apa kau dengan ayah saya?

Dia tampan.

Mirip dengan adik kesayangan saya.

[tertawa]

[tertawa berhenti]

[menjerit]

[terisak-isak]

Dimas namanya.

Dia mati dibunuh!

Dia akan membunuhnya malam ini.

[berteriak]

Risa!

Risa!

[terus berteriak]

[Angki] Risa.

[Risa] Ki, pergi!

-[Angki] Tidak. -[Risa] Pergi, Ki!

[terus berteriak]

[teriakan berhenti]

Risa?

Risa...

Risa.

[Riri] Teh Risa kenapa?

Kau di sini jaga Riri dan Tante Tina.

Aku harus tolong Om Ahmad.

Risa!

Jangan!

Risa, jangan ke sana!

Dia akan mati...

malam ini.

[langkah kaki di luar]

[bunyi berderit]

Om Ahmad?

Elizabeth.

[Iblis berbisik]

[Risa merintih]

[pintu berderak]

[merintih ketakutan]

Om, ini Risa.

[batuk-batuk]

[tersedak]

Om...

[Risa mengerang]

[berbicara tak jelas]

[tersedak]

[Ahmad mengerang]

[berbicara tak jelas]

[mengerang]

[Risa berbicara tak jelas]

[berteriak]

[berteriak]

[menjerit]

[merintih]

[menjerit]

[terengah-engah]

Om Ahmad!

Dia hidup dalam buku itu.

[Tina menjerit]

[Tina merintih ketakutan]

[Elizabeth] Dimas...

Saya bukan Dimas!

[menjerit]

Nama saya Ahmad.

Saya tidak mencintaimu!

Saya tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu!

[terus menjerit]

-[jeritan memudar] -[terengah-engah]

Maafkan aku, Tina.

Maafkan Om ya.

Angki, maafkan Papa.

Terima kasih, Peter, William,

Janshen, Hendrick, Hans.

Nama dia Ivana.

[Ivana] Elizabeth adalah sahabatku.

Dia mencintai Dimas, adikku.

[tak terdengar]

[Ivana] Ayah Elizabeth tidak menyetujui hubungan mereka.

[tak terdengar]

[bunyi tembakan]

[jeritan]

[tak terdengar]

[Ivana] Aku tidak lagi bersahabat dengan El.

Pamanmu menyerupai Dimas.

El ingin pamanmu ikut dengannya.

Terima kasih, Ivana.

[pria] Permisi, Om.

Mas, Mbak, mohon maaf, ini kursi lima untuk teman-teman saya.

Oh, ya.

-Maaf ya. -[pria] Iya, tidak apa-apa.

Selanjutnya, kita saksikan penampilan balerina muda,

cantik, kebanggaan kita semua.

Riana Rizki!

[wanita] ♪ Abdi teh ♪

♪ Ayeuna ♪

♪ Gaduh hiji ♪

♪ Boneka ♪

♪ Teu kinten ♪

♪ Saena ♪

♪ Sareng lucuna ♪

Namaku Canting.

[wanita menyuarakan]

♪ Ivana... ♪

♪ Sendiri dalam murung ♪

♪ Dunia terhalang terpuruk ♪

♪ Dunia lirih menyesak ♪

♪ Sandiwara tanpa jejak ♪

♪ Ooh ♪

♪ Ooh ♪

♪ Ooh ♪

♪ Hai para suara Ke mana pergi ♪

♪ Hai yang di sana Sembunyi di mana ♪

♪ Ku memanggilmu lewat lagu kita ♪

♪ Hadirlah sekarang Aku membutuhkan ♪

♪ Dinginnya kini menusuk ketulang ♪

♪ Dan ku tahu ini pertanda hadirmu ♪

♪ Kupejamkan mataku dan kubuka ♪

♪ Memastikan ini bukanlah mimpi ♪

♪ Dalam nafas kuselipkan harapanku ♪

♪ Cahaya selalu berpendar untukmu ♪

♪ Untuk teman-teman kecilku ♪

♪ Abdi teh ayeuna Gaduh hiji boneka ♪

♪ Hai para suara Ke mana pergi ♪

♪ Hai yang di sana Sembunyi di mana ♪

♪ Ku memanggilmu lewat lagu kita ♪

♪ Hadirlah sekarang Aku membutuhkan ♪

♪ Dinginnya kini menusuk ketulang ♪

♪ Dan ku tahu ini pertanda hadirmu ♪

♪ Kupejamkan mataku dan kubuka ♪

♪ Memastikan ini bukanlah mimpi ♪

♪ Dalam nafas kuselipkan harapanku ♪

♪ Cahaya selalu berpendar untukmu ♪

♪ Untuk teman-teman kecilku ♪

♪ Abdi teh ayeuna Gaduh hiji boneka ♪

♪ Oh ♪

♪ Bisakah kau dengar gaduh jiwaku ♪

♪ Selalu berharap kau baik baik saja ♪

♪ Ku bernyanyi memainkan melodiku ♪

♪ Memanggilmu dan hanya untukmu ♪

♪ Untuk teman-teman kecilku ♪

♪ Untuk teman-teman kecilku ♪

♪ Untuk teman-teman kecilku ♪

[anak-anak tertawa]

Terjemahan subtitle oleh Ellen Tjandra

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.