Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
"MYSORE"
Gendrolelek@gmail.com Selamat Menonton, Jepara 12 April 2020
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
"Lengkapi dengan aturan baru..."
"Demi perbaiki dunia..."
"Siapapun itu, dia 'kan hancurkan..."
"Meskipun Dewa Kematian, dia juga 'kan hancurkan..."
"Tak satupun penghuni bumi bisa menerimanya..."
"Tak ada yang berani bersaing dengannya..."
"Tak ada yang bisa mengalahkannya..."
"Dia lah satu-satunya... Dia lah Sivan..."
"Apa yang ada di sini? Apa keadilan di sini?"
"Apapun ucapan jiwamu itulah keadilan..."
"Iblis... Iblis... Iblis..."
"Dia mencari mangsa dan berburu hari demi hari..."
"Dia hancurkan s'galanya dan setiap manusia..."
Oh!
Apa ini? Atapnya berlubang!
Hei, kotak kita hilang!
Berita utama
Uang bank senilai Rs.5.75 crore yang dibawa dari Mysore dengan kereta api telah dicuri.
Insiden dilubanginya atap kereta untuk mencuri uang tunai...
telah mengejutkan otoritas bank dan masyarakat umum.
Entah siapa yang memberimu informasi begitu cepat,
pahami ini dengan baik,
RBI tidak pernah mengedarkan uang tunai secara langsung.
Uangnya sampai ke masyarakat hanya melalui bank.
Uang yang dicuri adalah uang baru yang dicetak di Mysore.
Mencuri uang RBI adalah pelanggaran pidana berat.
Tentunya kita akan mengambil tindakan hukum atas hal ini.
Hei, Jagan. Semua aman, bukan?
Jika tertangkap atas perbuatanmu...
mereka akan membuatmu babak-belur.
Terlepas dari peringatanku,
Kenapa selalu libatkan aku?
Oke, pergilah.
"KERALA"
- Halo, Pak. - Pak Manika Vasagam.
Kamu dimana? Sedang sibuk?
Bisa aku bicara?
Tidak, Pak. Silahkan.
Surat pengunduran dirimu ada di mejaku.
Aku sementara menahannya dulu.
Pak, boleh tahu alasannya?
Kamu harus selesaikan operasi besar.
Setelah itu baru kuputuskan soal suratmu.
Putriku merasa kesepian tanpa ibunya, Pak.
Aku berhasil meyakinkan dia untuk ikut pindah.
Selesaikan dulu kasusmu, Kamu bisa titipkan putrimu di rumahku.
Aku akan merawatnya seperti cucuku.
Pak...
Kuharap kamu dengarkan aku.
Baik, Pak. Saya akan kesana.
PINJAMAN TERSEDIA BUNGA 10%
Pria ini!
- Entah motor hasil nyuri darimana. - Berikan aku teh panas.
Tehku apa adanya itu.
Lepaskan ubi gorengnya!
- Kenapa? - Masih tanya?
Mana sudi buatkan kamu teh.
Kamu sudah telan 200 biskuit. Minum 201 teh!
Bayar dulu baru sentuh ubi gorengnya!
Ya, 100 gelas aku ludahkan dan 105 biskuit aku kasih anjing.
Aku tidak bicara soal Jagan, bayar dulu hutangmu.
- Baik, aku ambil satu ubi goreng. - Hei, kamu tidak takut sama foto itu.
Masih berani sentuh ubi goreng?
Memangnya kenapa?
Berikan kartu Aadhar-mu dulu.
Kenapa perlu kartu Aadhar?
Kenapa cerewet padaku tapi pada yang lain tidak?
- Berikan - Siapa itu?
- Hentikan! - Aku tahu nilainya.
Ini simpanse, simpan lembaran pink ini.
Siapkan 2 teh, hutang sudah lunas.
Kalau tidak aku ludahkan berarti enak.
Uang hasil malak darimana?
- Dia polisi. - Bisa cepat tidak?
- Punya biskuit? - Nanti aku tanya tukang roti.
- Berisik, cepat bawakan. - Tutup saja tokomu!
- Kenapa bicara ngawur? - Pak, jangan turunkan nilai uang ini.
- Aku berjibaku mendapatkannya. - Jika butuh uang bilang saja padaku.
Aku gajian 2 hari lagi. Dia yang berlebihan.
Kenapa tidak tunggu dia gajian?
Apa kamu mau main film dengan Tamanna dan Hansika?
Jangan bikin tandukku tumbuh, Jagan.
Sudah 3 bulan aku berhutang dengan penata rambutku.
Untuk apa panggil penata rambut kalau cuma cari kutu.
Lihat lagak monyet ini.
Disuruh jual teh malah ngajak ribut.
Untuk mengungkap kasus sensasional pencurian di kereta...
sebuah penyelidikan khusus telah dibentuk dibawah Kombes. Manik Vasagam.
Komisaris Jenderal menyampaikan hal tersebut kepada pers.
Dia berharap kasus pencurian itu akan segera tuntas.
Sakthi, kemari.
Hei, berikan pada mereka.
Cepat, bung.
Saudara, tehnya.
Aku sudah amati sejak masuk kepolisian.
Dia petugas yang jujur dan berdedikasi.
Saat kamu beraksi, hati-hatilah dengannya.
Aku tahu pasti dia ludahkan.
- Kamu sudah ambil uangnya 'kan? - Ya.
Rasanya seperti racun!
Empat orang sudah meminumnya, mereka masih bernafas.
Apa mereka mati habis minum teh?
Lihat wajahnya macam foto kartu Aadhar.
Hei.
Aku ceritakan rahasia penting...
malah nyelonong begitu saja.
Pak!
Ha! Masuklah, Manika Vasagam.
Kenapa gayamu seperti mahasiswa?
Kamu pikir kepolisian sudah menyetujui pengunduran dirimu?
Tidak, Pak.
- Duduklah. - Terimakasih, Pak.
Ini rapat penting, jangan boleh ada yang masuk.
Kamu pasti sudah dengar pencurian di kereta baru-baru ini.
Ya, Pak.
Tadinya kasusnya ditangani RPF, tapi sekarang diserahkan kita.
- Dan kamu yang akan tangani. - Tentu, Pak.
Dan media mengawasi kasusnya.
Selesaikan kasus ini secepatnya.
- Siap, Pak. - Oke, kamu boleh pergi.
Ya, Pak.
- Pamit, Pak. - Semoga berhasil.
Terimakasih, Pak.
Apa tadi?
- Jagan! - Sakthi!
Ada apa? Kamu kenapa?
Tidak apa-apa, Pak.
Hei, kemari...kemari...
Sudah lama nunggu?
Hei, lihat ini.
- Ingin ngebut? - Ya...ya.
Kenapa alarm berbunyi?
Sialan! Mampus kau!
Berani-beraninya mencuri uangku!
Ayo ngebut!
Hei!
Hei!
Kalau jadi sopir ya sopir saja.
Kenapa bocorkan bisnis transfer uang ilegal Jamaludin?
Katakan!
- Ayah! - Apa?
Malik menelfon.
Apa? Sudah sampai batas kota?
Ayah, uangnya dicuri orang.
Kok bisa? Dimana?
Jalan arah Vandalur dari Kelambakkam...
Seharusnya aku bunuh dari bayi, dasar anak tidak berguna!
Bunuh dia!
Aku ingin bertemu semua orang yang bertugas hari itu.
Baik, Pak.
Keretamu kemarin berhenti dimana selain di stasiun?
Tidak ada, Pak. Hanya di stasiun.
Siapa yang buka gerbong barang saat kereta sampai?
Saya, Pak.
Apa pintunya ada bekas pengrusakan?
Tidak, Pak. Gemboknya masih utuh.
Kondisi gembok masih bagus, Pak.
- Kamu temukan kotak uang RBI-nya? - Tidak, Pak.
Kereta berangkat dari Mysore.
Jika ingin melubangi atap saat kereta jalan...
kemungkinan antara Salem-Vridasalam yang tidak ada kabel listriknya.
Tim kami sudah ke sana untuk penyelidikan awal, Pak.
Paket-paket yang lain kemana?
- Sudah dikirim, Pak. - Dikirim? - Ya, Pak.
Apa isi paketan-paket saat dimuat?
Dan bagaimana dengan isinya saat dikirim?
- Kamu punya laporan CSO? - Tidak, Pak.
Pada TKP...
setiap obyek di sekelilingnya...
harus disita sampai penyelidikan level satu selesai...
atau kita harus memiliki laporan lengkap dari daftar objek.
Penjahat dari daerah lain merampok kemari karena manusia macam kalian.
Dasar bodoh!
Aku tidak peduli caranya!
Setiap paket yang dikirim harus ada di sini berikut tanda terimanya untuk penyelidikan berikutnya.
Ini peringatan terakhirku.
Kalian paham? Lakukan segera!
Kamu kenal baik dengannya 'kan? Kenapa berikan tugas itu?
Kapan belajar bisnis jika dia terus berkeliaran seperti sampah!
Aku kira dia bisa belajar.
Tidak berguna! Dasar bodoh!
Fokusmu hilang kemana?
Bagi bisnisku, kepercayaan itu penting.
Aku bisa di posisi ini berdasarkan itu.
Seseorang berusaha merusak reputasiku dan menakutiku..
serta menghancurkan bisnis transfer uang ilegalku.
Aku ingin temukan dan mengubur hidup-hidup pencuri itu.
Aku percayakan ini padamu, Karthik.
Diya, masuklah.
Diya, ini Pak Jamaludin dan Malik putranya.
Klien lamaku.
Dia datang pada kita jika ada masalah.
Sekarang masalahnya besar.
Bang, anggap saja beres. Diya akan tangani kasusnya.
Karthik, saat aku mulai bisnis pasti dia belum lahir.
Dan kamu menyuruhnya menanganinya?
Jangan buat hidupku jadi bahan latihannya.
Dia lebih mampu daripada aku.
Diya otak dibalik agensiku hingga menjadi nomer satu.
Bang, anda akan tahu kecerdasannya ketika dia selesaikan kasusnya.
Oke, silahkan saja.
Ya, Pak.
Dia lemparkan kotak dari kereta berjalan pada jarak 20 meter.
Pasti kotaknya ringan.
lagipula kotaknya juga penyok.
Pasti pencurinya ambil uangnya lalu melempar kotak kosong.
Ya, Pak. Mungkin saja.
Jadi pencurinya sudah melarikan uangnya ke Chinai.
Bisa juga dia pindahkan ke dalam salah satu paket di gerbong yang sama.
Dan telah membawa paketnya ke Chinai.
Hanya ada dua kemungkinan itu.
Dapatkan semua rincian paket di gerbong.
Dan juga orang-orang yang menerimanya.
Baik, Pak. Cerdas sekali, Pak.
Penjelasanmu mengenai tempat terjadinya perkara...
detailnya sudah bagus.
Tapi sulit dipercaya pencurinya ambil uangnya saat mobil melaju.
Aku ingin periksa mobilmu.
Aku dengar bunyi keras dari bagasi.
Sebelum sempat menengok...
dia ambil tasnya lalu kabur.
Tepat disini.
Tanpa goresan apapun dia bisa mencuri uangnya.
- Kerja bagus! - Apa? Kerja bagus?
Aku ini melaporkan pencuri uangku.
Bisa-bisanya kamu bilang kerja bagus.
Aku tidak menyangkal bakat pencurinya.
Untuk membuka bagasi...
dia gunakan bom remote,
dan untuk mencegah alarm berbunyi, dia memasang PC pada kabelnya.
Tapi rencananya gagal.
Jadi putramu akhirnya menyadari terjadinya pencurian itu.
Jika tidak, putramu akan sampai Chinai tanpa mengetahuinya.
Hanya pakar tehnik yang bisa melakukannya.
Atau orang yang memang sudah pengalaman dalam pencurian.
Aku pikir bukan dilakukan pesaingmu.
Karena jika untuk menghabisi bisnismu pasti rencananya berbeda.
Aku rasa dilakukan oleh orang yang tidak mengenalmu.
Dia tidak tinggalkan jejak apapun.
Aku yakin dia pasti akan bikin pusing seluruh departemen.
Aku belum tahu harus melacaknya darimana.
Tapi kita akan meringkusnya.
- Ada apa kemari, Diya? - Urusan kasus.
Benarkah?
Sudah kami periksa semua alamat penerima paket, Pak.
Semuanya benar, kecuali ini.
Alamat palsu.
Cara kabur yang bagus, Pak.
- Periksa rekaman CCTV stasiun Egmore. - Baik, Pak.
Baik, oke.
Tolong perbesar.
Rekaman CCTV menunjukkan kamu yang mengantar paket.
Sebelumnya pernah mengantar paket seperti ini?
Tidak, Pak.
Seperti apa wajahnya?
Dia memakai helm dan wajahnya tidak kelihatan, Pak.
- Pak... - Katakan.
Dari rekaman CCTV,
tersangka menerima paket lalu kabur, Pak.
Plat nomor motornya juga palsu.
Kurirnya juga sudah di interogasi, Pak
Mereka berdua tidak ada hubungan.
- Lacak rute tersangka. - Baik, Pak.
Apa? Mencari uangnya dalam buku?
Atasan sedang keluar, ada perlu apa?
Ada perlu apa?
Apa kita baru bertemu?
Baru kemarin aku memberimu kasus, bahkan make-up mu belum luntur.
Belum ada petunjuk uangnya maupun pencurinya.
Kenapa malah bengong disini?
Menemukan rampok itu tidak mudah.
Anda malah ribut soal make-up.
Anda harusnya terus terang ketika menyerahkan kasusnya.
Terpaksa kami kerjakan informasi yang ada.
Seharusnya aku yang bertanya. Kamu sudah dapat informasi apa?
Apa yang kalian lakukan selama ini?
Jika dua hari lagi kamu tidak temukan pencurinya...
Akan kulakukan sendiri.
Tidak usah ribut soal batas waktu kami.
Anakmu yang kerjanya hanya berdiri dan memandangiku.
Suruh dia bicara yang sebenarnya dulu.
Atau anda juga akan bertemu jalan buntu.
Hei, ceritakan yang sebenarnya!
Harus cerita apa?
Uhh?
Ceritakan kuku siapa yang ada di mobilmu.
Oalah kampret, terciduk!
Ayo...ayo...ayo cepat.
Cepat...cepat...
Kerbau dungu! Jalan oe!
Hai sampah! Buruan!
Ayo cepat!
Beraninya memukul orang di depanku!
Pak, dia berkeliaran di pasar bunga Washermanpet bawa uang palsu.
- Jadi saya seret kemari. - Katakan sebenarnya,
masalahnya akan selesai disini.
Atau kamu akan masuk penjara.
Dia kenapa?
Pak, saya tidak bersalah.
Dia tidak ada masalah, Pak.
Dia mematahkan hidung orang!
Inspektur bilang dia temanmu, makanya aku tidak tulis laporan.
Korban juga punya hasil visum.
Pak, pastikan dia tidak kena masalah.
Kita sudah lakukan yang kita bisa.
Nanti kita bisa dapat masalah.
Nanti kalau inspektur datang, kamu bicara sendiri saja.
Kalau bicara jujur, kamu aman.
Saya sudah jujur, Pak.
Saya tidak tahu soal uang palsu ini.
Aku dapat dari penjul bunga di Washermanpet.
Ada urusan apa kamu sama penjual bunga?
Kamu ngarang cerita ya?
Saya bicara sebenarnya, Pak.
Saya gadaikan rumah Rs. 5 lakh untuk pernikahan putriku.
Saya tertangkap saat membayar uang muka untuk membeli bunga.
Kamu dapat 1 lakh untuk 50000 atau 2 lakhs untuk 1 lakh?
- Berapa uang yang kamu gandakan? - Digandakan?
- Maksudnya apa, Pak? - Bawa dia masuk.
- Jawabanmu dari tadi itu saja. - Pak!
- Ada masalah apa? - Penggandaan uang, Pak.
- Daerah mana? - Pasar bunga Washermanpet, Pak.
Washermanpet? Pasar bunga?
Dasar bodoh!
Itu kerjaan Ramanathan.
Kita tidak sanggup menangkapnya dan menangani masalahnya.
Kamu mau cari keributan dengan menginterogasi orang tua?
Lepaskan dia.
Hei, ikut kami.
- Ada apa, Jagan? - Halo, Pak.
Duduklah.
- Siapa dia? - Teman dekatku, Pak.
Bawa dia keluar kota untuk sementara.
Bikin pusing!
Sopir taksi mengancam bakar diri jika aku tidak menindaknya.
Nasehati dia, pergilah.
- Maaf merepotkan. Terimakasih, Pak. - Oke.
Ya, ini Inspektur Chandru.
"WASHERMANPET"
Hei, apa ini?
Cewek cakep mirip Hansika dan Annachi bisa-bisanya ada di komplek kita.
Hei, bocah. Kemari.
Ada apa, kak? Ada perlu apa?
Butuh bantuan?
- Rumah Navya dimana? - Apa? Navya?
Aku yang ngiler malah cari orang lain.
Abaikan saja, kak. Mari aku antar ke rumah Navya.
"Pasar Bunga WASHERMANPET"
Toko bunga Ramanathan dimana, bu?
- Di sebelah papan itu. - Oke.
Hei, berhenti!
Kamu tidak lihat ada orang? Main terobos saja.
Aku harus bagaimana?
- Mau ketemu siapa? - Pak Ramanathan.
Pak, menurut rekaman CCTV...
tersangka menuju Pudupet setelah mengambil uangnya dari stasiun Egmore.
Motornya tidak keluar lagi dari Pudupet, Pak.
Yang cerita soal aku siapa?
Kamu sudah terkenal, tidak perlu ada yang cerita.
Sama seperti gadis yang kemarin datang karena sudah dengar pelayananku.
Aku tidak melebih-lebihkan.
Banyak pria tidak bisa memuaskannya.
- Kenapa masih disini, Nak? - Aku sudah boleh pergi, kak?
Tunggu.
Belikan minuman dingin untuk kami.
Belilah sesuatu untuk dirimu.
- Tidak usah buru-buru. - Tenang saja, kak.
Aku kembali nanti-nanti saja.
Katakan sekarang.
Kamu cerita soal gadis itu.
Lupakan dia.
Masuklah.
Ini pertama kali bagimu 'kan?
Tapi bagiku bukan pertama kalinya.
Itu kenapa aku bertanya.
Berapa lama kamu kenal Malik?
Minggu lalu kamu bersama Malik 'kan?
Kamu cerita siapa kalau Malik bawa uang di mobil?
Hei, kamu siapa? Keluar!
Berapa kamu dibayar untuk bocorkan uang Malik?
Aku bayar tiga kali lipat, sebutkan namanya.
Memangnya aku apa?
Aku memang pelacur yang setiap hari tidur dengan pria berbeda.
Tapi aku tidak mencuri atau mengkhianati orang demi uang.
Jika masih ragu ikutlah aku seharian, aku mampu dapat uang lebih.
Oke, aku setuju apa katamu.
Boleh kuperiksa ponselmu?
Masi belum percaya ya?
Cari sendiri aku telfonan dengan siapa dan tidur dengan siapa.
Terimakasih.
Aku belum pernah melakukannya.
Caranya pemansan bagaimana? Beritahu aku.
Seksi!
Oh Tidak!
- Siapa yang mengirimmu? - Raja!
Raja? Raja yang mana?
Jika cerita, nanti aku dapat masalah.
Hei, kamu main-main denganku?
Kamu bisa atau aku cari orang lain?
Berapa banyak?
- Hei! - Abang!
Periksa tasnya.
Hei! Kamu siapa, bocah?
- Bang, aku mau tukar dua ribuan. - Dasar bodoh! - Abang!
Kamu tidak pikir dulu sebelum menyuruh bocah masuk?
Bang, dia bocah lingkungan sini. Jangan khawatir.
Pamit, Bang.
Sudah benar, Bang.
Taruh belakang dan tukarkan.
Hei, apa tadi?
Hei...
Sambungkan dengan inspektur Pudupet.
Pak!
Siapa yang jalankan bisnis uang ilegal di wilayahmu?
- Ada satu. Kumar, Pak. - Kumar? Siapa dia?
Dia jalankan toko bunga di Washermanpet.
Dia sudah lama jalankan bisnis itu, Pak.
Pasar bunga Washermanpet!
Ayo cepat!
Kita harus tangkap dia.
- Halo, Pak. - Katakan, Diya.
Saya dari tempat Navya.
Memang benar dia sering bertemu dengan Malik...
dan dia juga bersama Malik saat kejadian.
Tapi aku pikir dia tidak ada hubungannya dengan penrampokan itu.
- Kamu yakin? - Ya, Pak.
- Ini, kak. - Berikan padanya.
- Hei, bocah! Kemarilah! - Ada apa, kak?
Darimana kamu dapat uang ini?
Tidak ada kembalian di toko kecil, Kak.
Jadi aku tukarkan di pasar bunga, kak.
Bisa antarkan aku ke tokonya?
Baik, Kak.
Ada apa? Pria yang masuk tadi belum keluar.
- Ayo periksa. - Ayo.
Hei! Panggil orang-orang kita.
Hentikan dan hajar dia.
Bunuh dia, anak-anak!
Kumar punya banyak kasus macet, Pak.
Itu dia, Pak.
Ada apa, Pak? Ada perlu apa?
Mau beli kalung bunga.
Pak, saya tidak mampu melakukannya.
Jika mampu, pasti sudah kulakukan.
Butuh dukungan dari Delhi untuk uang sebesar itu, Pak.
Kami hanya mampu untuk jumlah kecil saja.
Tanya sejarahku dengannya, Pak. Dia lebih tahu.
Tolong ceritakan, Pak.
Berapa lama kita sudah jalan bersama.
Pantas banyak kasus yang macet.
Matamu taruh mana, hah?
Maaf.
Hei!
Kampret!
- Tanyakan ada apa! - Baik, Pak.
Hei, orang tua. Kemari.
Hei, dia lebih tua darimu! Pikiranmu dimana?
Sudah merasa hebat memakai seragam?
Apa begini caramu memanggil ayahmu?
- Pak, tolong kemari. - Ada apa, Pak?
Ada masalah apa?
Beberapa waktu lalu saya mendengar ledakan.
Ada masalah di dalam tapi tidak tahu jelasnya.
Kita jangan lepaskan dia.
Kerahkan anak-anak.
- Paham? - Baik, Bang.
Cepat, anak-anak.
Ada apa, Pak?
- Ada masalah apa ini? - Tidak apa-apa, Pak.
Sepertinya anak-anak menyalakan petasan.
Sepertinya mereka bikin kekacauan dengan petasan yang berbeda.
Katakan yang sebenarnya.
Kak, aku tukarkan disini.
Ikut kataku.
- Ayo ikut - Lepaskan aku, Pak.
Ada apa, Pak?
- Ayo...ayo...lihat muka sialan itu! - Ayo...cepat...
Masuk ke mobil. Hei, masuk!
Suruh mereka tangani kasusnya dengan baik.
Anda kenal gadis itu, Pak?
- Detektif Diya 'kan? - Benar, Pak.
Kenapa dia disini?
Ada apa, Pak? Orang-orang kemari untuk beli bunga 'kan?
- Hei, cepat masuk mobil. - Baik, Pak.
Hati-hati, Emak dan Anak jangan sampai jatuh.
- Banyak yang jatuh karena licin. - Bukankah mirip dia?
Siapa mereka? Kerabat?
Dia seperti kakak bagiku.
Apa? Kakak?
- Lalu kamu pelamar gadis itu. - Ya, muka copet.
Dia satu-satunya gadis di dunia ini yang ingin aku melamarnya.
- Sungguh keajaiban! - Kenapa buang kesempatan emas?
Aku beritahu.
Dia ingin aku menikahinya 20 tahun lalu.
20 tahun lalu?
Kamu pasti naksir ibunya.
Kenapa ngejar putrinya?
Dia bak mentega dan kamu bak serigala.
Kamu bisa masuk berita kriminal.
Maksudku bukan begitu.
Aku coba dekati tante tapi paman masih hidup.
- Karena itu aku gundah gulana. - Yang penting sudah usaha.
Percuma berusaha, Nenek-nenek saja muntah lihat dia.
Kalian ingin minum teh?
Tidak, besok aku ingin tetap hidup.
Tunggu sebentar.
Ambil payungnya, bu.
- Tidak, terimakasih. - Terimakasih, Paman.
Tidak apa-apa, ambil saja.
- Pamit sama paman. - Sampai jumpa.
Hei Sakthi!
Ayo!
Pak!
Dengar, Petugas kita hasilkan lebih banyak uang daripada penyelundup patung.
Media cetak terus menyerang kita.
Ada banyak penjahat diantara kita sendiri.
Hidupkan lampunya!
Aku mencurigai ada petugas terlibat dalam kejadian ini.
Jika tidak, mungkin dia hanya membantu pelakunya.
Boleh tahu kenapa anda bisa berpendapat demikian?
Akan kujelaskan.
Jika kamu teliti pencurian baru-baru ini.
Yang pertama, pencurian di kereta.
Berarti dia tahu tentang pengiriman uangnya.
RBI, Petugas kereta api, Polisi.
Intel dapat kabar ada uang hilang saat pengiriman uang ilegal.
Orang yang tahu hal ini hanya anggota geng dan polisi.
Terakhir, penggandaan!
Orang yang tahu hal ini hanya penjahat dan polisi.
Persamaan dari ketiganya adalah polisi.
Jadi aku yakin ada petugas terlibat dibalik semua ini.
Ada jutaan polisi di depatemen, Pak.
Mungkinkah bisa temukan satu orang, Pak?
Jika berpikir sedikit teliti, hal itu bisa dilakukan.
- Bagaimana Kumaravel? - Pak!
Masih belum paham?
Kita bisa nilai anjing dari caranya menangkap kelinci.
Aku menjadi polisi dengan moto itu, Pak.
Saya dapat promosi dengan menangkap penjahat.
Jadi maksud ucapanmu kita bisa menangkap petugas itu.
Benar 'kan?
Tentu, Pak.
Pencuriannya hanya terjadi di wilayah di Chinai.
Jadi tidak perlu melibatkan seluruh kepolisian negara bagian.
Cukup selidiki...
Divisi kejahatan keuangan dan ekonomi.
Aku mencurigai keterlibatan petugas disitu.
Jadi untuk semua divisi kejahatan di Chinai...
kirim pesan peringatan sesuai saranku.
Ini jebakan selamat datang yang terselubung.
Bu, paket untuk Diya.
Berikan, aku ibunya.
Dia yang harus terima. Peraturan kantor.
Baik, sebentar.
Diya, ada paket.
Aku sudah mengirimnya.
Bagaimana mungkin?
Buktinya harus di mejaku dalam 24 jam, paham?
Bos ikut mendengarkan lewat panggilan konferensi, jangan tunda lagi!
Stabilkan video dari ponsel Navya terlebih dulu, jangan beralasan!
Itu sudah jelas.
Jangan main-main denganku! Cepat selesaikan!
- Apa? - Paket.
Kamu lanjutkan kerja, oke?
Jadi...
Malik menulis namanya di tas dengan bahasa Urdu.
Aku lihat tas yang sama di pasar bunga...
Sial...sial...
Hei...hei...
Hei!
Bocah edan! Keluar rumah cuma pakai handuk!
Biar minggat sekalian!
Hentikan...kamu waras tidak?
Diya!
Hei, kamu!
Bajingan!
Tikus...got!
Sial...sial...
- Dia lolos! - Ayo cepat masuk!
Ayo...masuk dulu. Nanti dipatok ayam!
Kamu permalukan keluargamu! Ayo cepat masuk!
Apa sebenarnya masalahmu?
Kenapa berteriak-teriak seperti orang gila?
Pria barusan...bajingan!
Aku mencarinya untuk kasus pencurian.
Dan dia ada di depan pintu kita...
Aku melepasnya seperti orang bodoh!
Memang kenapa kalau lepas?
Kenapa harus teriak-teriak?
Kamu punya alamat perusahaannya 'kan?
Kenapa tidak cari disana saja?
Ini jasa pengiriman atau apa?
Maksud anda apa? Saya tidak paham.
Apa masalahmu?
Kenapa harus berteriak?
Duduk dan tenang dulu.
Bagaimana bisa tenang?
Paketku tadi kiriman kilat.
Sangat rahasia.
Tapi kamu telah membukanya.
Aku akan menuntutmu.
Untuk apa aku melihat barangmu, aku tidak ada waktu.
Jika bukan kamu pasti anak buahmu.
- Anak buahku rajin ibadah semua. - Halo? Aku harus ketemu anak buahmu!
Ya Tuhan!
Tolong duduk, nona.
- Anda dari daerah mana? - Shanti Nagar.
Shanti Nagar!
Oh Sakthi!
- Hei! - Pak?
Panggil dia kemari secepatnya.
- Mau aku beri tugas. - Baik, Pak.
Tempatmu jadi sarang maling.
Halo, jangan bicara ngawur.
Ini bukan jasa kredit yang banyak maling.
Dia mahasiswa tehnik. Paham?
Hanya pakar tehnik yang bisa melakukannya.
Kenapa tidak suruh mahasiswa tehnik buka penyamarannya?
Setengah dari penjambret Chinai juga mahasiswa.
Berikan nomernya, aku ingin bicara.
Tidak bisa. Tinggalkan saja alamatmu.
Nanti kusuruh menemuimu.
Dia tidak perlu datang, aku yang akan mendatanginya.
Amit-amit!
Untung batal jadi ayam potong.
Cukup! Kamu minum terlalu banyak!
Kamu bisa kembung.
Untuk kampanye India yang bersih, kita dilarang mencemari sungai Gangga.
Suruh saja mereka kuras airnya di ganti aliran wishki.
Sudah habis setengah botol tapi kepalaku belum joget.
Mana mungkin bisa joget?
Helo, aku bicara dengan pemilik katanya tidak mengenalmu.
Orang pakai dhoti dilarang masuk. Silahkan keluar.
Ketidakadilan apa ini?
Dhoti pakaian tradisional kita.
Dia melarang orang pakai dhoti.
Tidak ada yang peduli padanya, semua orang menertawakan.
Bangsa ini melarang Gandhi masuk karena tidak mengenakan kemeja.
Kamu hanya bisa menonton. Kenapa tidak kamu hentikan?
Oh tidak, hei...aku tidak sengaja.
Aku tahu nyalimu.
Duduklah dengan tenang. Ayo.
Kawan, sudah relakan saja.
Itu sudah aturan umum bar dan hotel.
Bisa kita pasang banner untuk memprotes bar?
Jika kuhentikan mereka akan lempar kita keluar.
Beraninya kamu menyentuhku.
- Maju sini! - Kamu itu polisi...tapi tidak berguna.
Publik lebih berkuasa, kamu tahu 'kan?
Untuk apa cari masalah.
Bicara soal polisi, aku jadi ingat...
Manika Vasagam bekerja melebihi gajinya.
Untuk menangkapmu, dia mengirim pesan peringatan palsu.
Dia sebarkan berita tentang uang besar di bank.
Dia pikir kalau dengar uang besar, kamu akan datang mencurinya.
Dia menyangka kamu pencuri profesional.
- Dia akan menunggumu di bank. - Oh!
Aku mirip James Bond 'kan? Tahu segalanya.
- Kalian sangat mirip. - Maksudmu kecerdasannya?
Terimakasih, kawan.
- Kalian berdua dasar... - Hei...oh tidak!
Anda berpikir pencurinya akan datang, Pak?
Pasti!
Ambilkan kotak biji asamku.
Mau kubaca telapak tanganmu, Pak?
Ayo...ternyata kamu.
- Musim kawin usai? - Ya, Pak.
Aku sudah bilang jangan percaya tivi.
- Tidak usah cari masalah, Pak? - Ada masalah apa?
Tunjukkan telapak tanganmu, akan kukatakan seluruh hidupmu, Pak.
Tidak usah bayar, Pak.
Aku juga tidak akan membayarmu.
Aku hanya bisa berikan segelas kopi.
- Pak, ada banyak keriput di wajahmu. - Apa?
Di wajahku?
- Periksa apa aku punya jodoh. - Biar kulihat.
Kamu akan temukan istri, Pak.
- Untuk tanganmu... - Nak, bawakan kursi.
Ya.
- Tangan ini apes sekali. - Kenapa?
- Ada kendaraan dari barat daya. - Apa? Truk pasir?
Kamu apes karena mulut ember-mu.
Dengar baik-baik.
Ada bidadari dengan gaya berbeda naik kendaraan.
- Bidadari? - Bidadari akan datang ke tokomu.
Dia akan kemari.
Hidupmu akan benar-benar terbalik.
Benarkah akan terjadi?
Pasti terjadi, lihatlah ke atas. Nanti tampak wajahnya.
Cuma lihat punggungnya. Wajahnya tak nampak.
Apa kamu hanya lihat masa lalu? Kamu juga perlu lihat masa depan.
Meskipun kita melangkah maju tapi perlu menengok ke belakang juga 'kan?
Makanya aku bilang begitu, bagaimana?
Sakthi, dia meramal dengan tepat.
Cari tahu masa depanmu dari dia.
- Aku tidak butuh. - Taruh korannya.
Tunjukkan telapak tanganmu, Sakthi. Akan kukatakan beberapa hal.
Sudah cukup!
Aku akan ambil uang dari penonton.
Memangnya aku topeng monyet?
Kamu bilang dapat uang dari penonton.
- Aku tidak ngomong begitu. - Oke.
Periksa telapak tangannya.
Tunjukkan telapak tanganmu, Sakhti.
Sakthi, namamu sangat kuat.
Telapak tanganmu menunjukkan kamu seorang ahli.
Kamu belum lihat tanganku.
Lihat tangannya, bung.
- Tangan ini akan pegang uang jutaan! - Bohong! Minum teh saja ngutang.
- Gadis impian selalu tersenyum padamu. - Kupikir begitu.
Eh?
Lakshmi Menon akan bersamanya.
Pemerintah akan menawarkan pekerjaan untukmu.
Hari ini hari mujur Akshaya Tritiya, anda akan dapat rejeki banyak.
Apapun yang nasib baik berikan padamu, nasib buruk akan merenggutnya.
Meskipun kamu terlihat baik tapi banyak yang kamu rahasiakan.
Aku benar 'kan?
- Ya Tuhan! - Minggir, bung.
Pergilah, bung.
Kenapa dia marah? Kenapa memukulku?
Jika kamu banyak omong, dia pasti menendangmu.
Dia sebarkan berita palsu tentang uang besar di bank.
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
Hei!
Matamu dimana?
Sudahlah.
- Saya ingin menarik tunai. - Silahkan tunggu 2 menit.
Maaf, Pak.
- Mau kemana? - Cari lift.
Bukan disini, Pak.
Ini area terlarang.
Lift ada di dekat tangga, Pak.
- Oh! - Silahkan, Pak.
Oke.
Silahkan ambil uangnya.
Pak!
- Melubangi tembok! - Ya, juga merusak loker.
Oh sialan!
- Hei, Jagan! - Ada apa?
- Kamu tadi ke rumah? - Tidak, aku sedang tugas. Kenapa?
- Pintunya terbuka, makanya aku tanya. - Pintunya terbuka? Apa katamu?
- Periksa pintu kamarmu. - Tidak apa-apa.
Periksa dulu semuanya.
Kenapa bikin aku khawatir?
Kawan, lebih baik waspada daripada menyesal.
- Demi Tuhan, tolong... - Oke, tunggu.
Hei, Sakthi!
Tolong jawab aku.
Hei!
- Hei, jawab aku. - Tenang saja...
Aku telah kirim alamat, suruh Jamaluddin kemari.
Sakthi...Sakthi...
Sakthi...Sakthi...kamu kenapa?
Kenapa dia bisa terluka?
Dia pantas mati untuk kejahatannya.
Apa masalahmu dengannya? Kenapa dia bisa terluka?
Hei, jangan teriak.
Aku memukulnya.
Apa kamu akan menahanku? Atau aku sendiri yang panggil polisi?
Aku juga polisi, kamu mengancamku?
Ya, tentu saja.
Kamu polisi tapi jadi kaki tangan begal.
Kamu pasti...
Apa kamu ibu Teresa?
Kamu dan bosmu adalah penjahat.
Kamu penuhi kamar dengan uang curian lalu pura-pura tidak berdosa.
Lalu kami di cap penjahat?
Katakan, seberapa besar jaringanmu?
Kalian bekerja untuk siapa?
Apa setiap pencuri mesti penjahat?
Terus apa? Mau jadi Robin Hood?
Atau membayar pendidikan anak miskin?
Apa yang kamu lakukan?
Kami akan bayar 6000 rupee untuk setiap pemilih.
Banyak omong.
Dia bahkan tidak minum teh dengan uang yang dicurinya.
Kamu punya alasan menumpuk uang di tempat ini 'kan?
Ceritakan, akan kudengarkan.
Tolong, mungkin bagi yang lain Sakthi adalah pencuri.
Tapi bukan itu kebenarannya, Diya.
Sakthi kehilangan ayahnya sebelum lahir.
Dia mulai suka dengan uang dari kecil.
Ketika para pemuja menaruh sumbangan di piring pendeta setelah berdoa.
Dia senang sekali mengambil uangnya.
Tadinya tidak ada yang tahu bahwa ini bukan perilaku wajar.
Masalah Sakthi bertambah besar seiring umurnya.
Bahkan di sekolah dia juga sulit mengendalikan dirinya.
Lalu mencuri uang saku teman-temannya.
Fokus pikirannya hanya pada uang.
Suatu malam tikus memakan uang yang disembunyikan Sakthi.
Kejadian ini akhirnya membuat ibunya tahu.
- Kenapa mencuri uang? - Aku tidak tahu, ibu.
- Kamu akan ulangi lagi? - Tidak. Aku tidak tahu, ibu.
Ini salah, Sakthi.
Jika ingin sesuatu minta padaku. Ibu akan belikan, Nak.
Uang itu kamu curi dari mereka yang sudah bekerja keras.
Sampai sekarang kamu tidak sadari perbuatanmu.
Jangan kamu ulangi lagi.
Kamu menurut sama ibu 'kan?
Akan aku lakukan apa katamu, ibu.
Tapi hasrat mencuri uang tidak biarkan Sakthi tetap damai.
Hasrat mencuri dan nasihat ibunya bentrok dalam pikirannya.
Hasrat mencuri menang atas dirinya!
Anakmu mencuri untuk bayar sekolahnya.
Tidak ada gunanya punya anak...
jika tidak tahu cara besarkan anak.
Daripada dapat penghasilan dari anak seperti dia, lebih baik lakukan hal lain untuk cari nafkah.
Anak seperti dia akan jadi penjahat, pemerkosa dan akan menyulitkan polisi.
Bawa anak ini ke pengadilan.
Sakthi!
Dimanapun kamu berada aku akan selalu mengingatmu, nak.
Kesedihan karena anaknya jadi pencuri,
cara masyarakat perlakukan mereka...
mendorong ibu Sakthi lakukan hal nekat.
Anda ibunya masih hidup mungkin hidup Sakthi bisa berbeda.
Sakthi yang malang!
Aku masuk untuk kejahatan yang kusadari...
Sedangkan Sakthi masuk untuk kesalahan yang tidak dia sadari.
Kami bertemu di rumah tahanan remaja.
Dia tertutup pada siapapun tapi berteman denganku.
Dia bicara, tertawa dan menangis bersamaku.
Dia menceritakan semuanya.
Persahabatan kami tumbuh kuat demi bertahan hidup.
Tapi kebuasan dalam diri Sakthi tidak membiarkannya hidup damai.
Kenapa tidak menjawabku?
Kamu kenapa, Sakthi?
- Sakthi...Sakthi... - Ya Tuhan!
Kamu kenapa, Sakthi? Kamu kenapa?
Ya Tuhan!
Hei, Sakthi! Apa yang kamu lakukan?
- Siapa yang mencuri uang? - Sakthi, Pak.
Kenapa memukulku, Pak?
Jangan pukul aku. Kumohon, Pak. Jangan pukul aku.
Sakthi, istirahatlah.
Ini terlalu kejam, Rajendran.
Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?
Anak-anak dikirim kemari agar mereka dapat kesempatan untuk berubah.
Anda kemari hanya jika ada yana terluka 'kan?
Kemarilah setiap hari, anda akan tahu yang aku alami dengan mereka.
Dia mencuri uang dari ruanganku lalu tidur tanpa rasa bersalah...
dan aku harus diam saja?
Logika yang bagus, Pak.
Lupakan logika kami, Pak.
Tangani dengan hati-hati jika menyangkut Sakhti.
Saat bicara dengannya, aku sadari tidak ada tujuan di balik perbuatannya.
Dia buka lemarimu untuk mencuri uang...
tapi tidak menyentuh arloji emas, kalung atau cincin emas.
Ini juga tergolong penyakit.
Dia seorang pencuri psiko?
Tidak ada kata seperti itu dalam terminologi medis.
Jika ada kejadian seperti ini lagi, tolong jangan pukul dia.
Bisa mendorongnya jadi penjahat yang lebih berbahaya.
Terlebih lagi ketika anda melakukan kekerasan fisik selama fase ini,
ada kemungkinan bisa merenggut nyawanya.
Aku paham masalahnya Sakhti.
Aku putuskan untuk menjaganya selamanya.
Pencuriannya meningkat seiring bertambahnya usia.
Dia menumpuk uang di kamar untuk dilihat dan dinikmati.
Baginya, uang adalah permaisuri.
Dia akan menjaganya dengan hati-hati.
Tidak boleh ada yang menyentuh uangnya termasuk aku.
Aku masuk kepolisian, bertugas di divisi kejahatan demi dirinya.
Saran dokter di tahanan remaja meninggalkan dampak besar bagiku.
Kapanpun pikirannya terpicu untuk mencuri uang...
Dia di bawah kendaliku...
lalu mengirimnya ke tempat-tempat dimana uang ilegal disimpan.
Tapi terkadang dia diluar kendaliku dan mencuri uang dari tempat-tempat berisiko.
Kamu mengenal Sakthi hanya sebagai pencuri.
Tapi tidak tahu perjuangannya untuk mengendalikan dirinya atau rasa sakitku untuk mengendalikannya.
Kamu biarkan dia jadi pencuri dan sekarang mengarang cerita?
Apa kamu tidak malu?
Tidak perlu alasan demi persahabatan, Diya.
Uang adalah penyakitnya dan mencuri adalah obatnya.
Yang kamu lakukan salah, itu tidak benar.
Dengar, Sakthi adalah temanku. Aku akan berjuang demi hidupnya.
Mungkin bagimu aku penjahat, tapi aku tidak peduli.
Aku juga tidak hutang penjelasan padamu.
Diam dan keluarlah!
Oh sialan!
Oh tidak!
- Sakthi! - Jagan!
Bawa dia pergi dari sini.
Jika tetap disini, nyawa kalian akan terancam.
Apa katamu? Apa yang terjadi?
Aku tidak punya waktu untuk jelaskan.
Kamu bilang lakukan ini untuk menjaga hidupnya 'kan?
Aku menyuruhmu dengan alasan yang sama.
Ikuti saja kata-kataku.
Siapa orangnya? Siapa dia?
Akan kuhancurkan kepalanya. Dimana dia?
Anjing sialan! Berani-beraninya mencuri uangku.
Uangnya banyak banget!
Aku sudah berusaha tapi dia bisa lolos.
Aku temukan uangmu. Aku akan segera menangkapnya.
Saat temukan tempatnya, seharusnya kamu bilang padaku 'kan?
Bukankah aku sudah bilang?
Kenapa kamu ingin menangkapnya?
Dia benar-benar kabur atau kamu melepaskannya demi uangnya?
Aku tidak setuju dia menugaskanmu, apa dia dengarkan?
Baik, aku akan mengurusmu nanti.
- Nak! - Ayah. - Siapkan tasnya.
Hei.
Aku suruh angkut uangnya, kamu lihat apa?
Anak-anak, masukkan uangnya ke dalam tas.
Hei...hei...
Apa yang kalian lakukan?
Suruh mereka ambil uangmu saja.
Tugasmu sudah selesai.
Sekarang aku ambil alih. Kamu boleh pergi.
Malik, muat semua uangnya ke mobil.
Awas jika kamu mengambil uang lebih.
Brengsek!
Apa? Kamu mau apa?
Enyahlah atau aku bunuh!
Lagaknya sok suci!
Hei, muat semuanya. Jangan ada yang tertinggal.
Ambil setiap lembarnya.
Kalau ada yang terlewat, kubunuh kalian!
Cepat, masukkan semuanya!
Masukkan tas dan ikat kuat.
Hei bajingan! Lakukan cepat. Ikat itu!
Muat di mobil.
Ayo cepat, anak-anak. Cepat...cepat...
Aku sudah bilang sebelumnya.
Akan kutemukan anjing yang halangi jalanku lalu membunuhnya.
Cepat...cepat...muat. Muat.
hati-hati...
- Hei! - Ya, bang?
- Kembali ke gudang. - Baik.
Setelah pesan peringatan,
sudah kamu lacak daftar panggilan dari petugas divisi terkait?
Ya, Pak.
Jika mereka dari kantor kita, lacak riwayat operasi mereka.
- Jangan tunda. - Saya sudah lacak panggilannya, Pak
Sore ini kita akan dapat informasinya, Pak.
Bagus.
- Halo! - Halo! - Ya, Manik.
Aku Markandeyan, ada informasi penting.
Polisi korup yang kamu cari...
ada dalam mobil TN-76-A-5000 di jalan Tambaran.
Kamu dapat menangkapnya dan menyita uangnya jika bergegas.
Paham?
Siapa kamu?
Kamu polisi pertama yang bertanya siapa aku.
Aku Dinakaran dari Digital India.
Pak, informasinya benar.
Ayo, cepat!
- Ayah! Polisi! - Jangan berhenti, terus saja.
Hei, itu Manika Vasagam!
Jika kita tertangkap, dia pasti bunuh kita.
Hei, jangan turun.
- Akan kuhabisi dia. - Dengarkan aku, Nak.
Malik, kemari.
Malik!
Pak!
Simpan uangnya ke tempat yang aku tunjukkan.
Baik, Pak.
Hei! Sabar, bro!
He, Sakthi!
Siapa yang ambil? Dimana uangnya?
Dimana uangnya? Jawab!
Aku ingin uangku! Jawab!
Saat kamu di rumah sakit aku cerita soal detektif Diya 'kan?
Dia yang menyuruh kita pergi.
Kita harus dapat informasi darinya.
- Bro, sabar. - Siapa dia?
- Hei, tak ada ampun baginya. - Hei, tenanglah.
Hei, Sakthi!
Aku langsung paham modus pencurian di kereta begitu melihatnya.
Pasti kerjaan orang masih muda.
Bukan hanya itu,
caranya menghajar preman pasar bunga untuk mencuri uang...
cara cerdiknya dalam merampok bank...
fakta ini sangat jelas.
Tapi tidak berguna jika hanya tahu usia pencurinya.
Malik masih muda 'kan? Kenapa tidak bisa jadi pencurinya?
Dia orang tidak berguna!
Tidak bisa menuduh hanya karena uangnya ada padanya.
Dia hanya pintar mengejar wanita.
Cari tahu darimana mereka dapat uangnya.
Setelah menangkap Jamaludin kita baru bisa temukan pencuri sebenarnya.
Ya, Pak.
- Stalin! - Pak.
Ada yang bocorkan soal Jamaludin dan malik yang sedang bawa uang.
- Sudah lacak nomornya? - Sudah, Pak.
Aku paham situasimu, bang.
Tapi aku tidak tahu cara membantumu.
Sudah kamu lakukan. Memangnya mau apa lagi?
Kamu bukan Karthik yang dulu.
Kamu jadi tamak.
- Jamal, jangan bicara omong-kosong. - Kamu harus dengar!
Kamu harus dengar apa kataku!
Aku kehilangan putraku dan harus sembunyi gara-gara kamu.
Malik ditembak Polisi, marahi saja mereka.
Polisi apanya? Mereka hanya pistol!
Kamu pelurunya!
Mereka datang!
- Pesan teh. - Baik, Pak.
- Terus? - Terus apanya?
Buatkan dua teh.
Anda akan bayar?
- Nanti aku minta uangnya. - Dari siapa?
Buatkan teh dan minta uangnya pada atasanku.
Siapa dia? Sepertinya orang baru.
Ini ambil.
Berikan padanya, tidak usah takut.
Dia dapat apa dari merokok?
Ini, Pak.
Tehnya tidak gratis, Pak.
- Suresh, bayar dia. - Keren, Pak. - Baik, Pak.
Pasti dia pindahan dari Andhra.
Dia jujur. Berhenti, bung!
Kamu pikir aku tidak mengenalimu?
Hutang teh sama ubi goreng sudah setahun belum kamu bayar.
Siapa yang akan bayar? Ayahmu? Bayar sekarang!
Aku nganggur, bang. Aku sedang cari kerja, bang.
Mencari kerja? Jadi apa? Menteri?
Banyak yang beralasan semacam itu.
Kamu bayar atau aku nikahi kakakmu!
Aku punya kartu ATM, Aku akan ke ATM...
Gayamu bicara soal ATM, Ikut aku!
Aku perlihatkan siapa penemunya!
Masih berani menipuku setelah lihat wajah mereka?
Orang macam kalian menipuku, lihat ini.
Mesin gesek, Paytm, Net bangking, aku punya semuanya.
Masukkan kartunya! Beraninya menipu Dinakaran Digital India.
- Kamu siapa? - Dinakaran dari Digital India.
- Masukkan kartunya. - Kartunya di rumah.
Suruh antarkan kakakmu. Telfon dia!
Pak, teh anda 20 rupee.
- Siapa tadi namamu? - Dinakaran Digital India, kenapa?
- Dia rubah pentungan jadi sapu. - Katakan, Dinakaran Digital India.
Kamu yang memberi informasi pada polisi 'kan?
Polisi?
Aku hanya buatkan teh, Pak. Itupun tidak dibayar.
- Bagaimana bisa kenal Jamaludin? - Dia anak siapa, Pak?
Aasif Biryani pemilik toko?
- Hei, jangan uji kesabaranku. - Kapan?
Bagaimana bisa kenal Jamaludin? Aliran uangnya kemana saja?
Bagaimana kamu bisa terhubung dengannya?
Sumpah, saya tidak kenal.
Ada peramal datang ke tokoku.
Dia bilang hidupku akan terbalik.
Lalu anda menggantungku dan menghajarku.
- Kamu bicara apa? - Soal anda yang menghajarku.
Percayalah, saya tidak kenal dengannya.
Suatu hari...
Saya sedang di toko.
Seorang gadis datang naik motor.
"Aku berdiri di depannya..." "Aku terpesona olehnya..."
"Aku terjebak dengan rela..." "Aku akan mengejarnya..."
"Aku sekarat di depannya..."
"Aku berdiri di depannya..." "Aku terpesona olehnya..."
"Aku terjebak dengan rela..." "Aku akan mengejarnya..."
"Aku sekarat di depannya..."
"Meskipun ada banyak gadis di kota..."
"Kau gadis paling beruntung di kota..."
"Aku terjebak dengan rela..." "Aku tergagap karenamu..."
Kenapa dia datang ke tokoku?
Hai, sayang.
- Aku? - Ya, sayang.
Wajahku berantakan tapi dia memanggilku sayang?
Hei, kalian minggir semua!
Lalu...
"Sekarang aku di usia pernikahan..."
"Bolehkah aku menunggumu?"
"Bolehkah aku ngobrol denganmu?"
"Aku berharap hidup denganmu..."
Kamu nakal sekali.
Apa hubungan kita bisa ngebut ke pernikahan?
Ayo, sayang.
Wanita dulu.
- Sayang. - Ada apa?
Kamu bisa menelfon untukku?
Aku sanggup bunuh orang demi kamu, apalagi hanya menelfon.
Terimakasih, sayang.
Ulangi saja kata-kataku, oke?
Sekarang?
- Oke. - Aku akan gunakan suara Rajendran.
Halo, saya Markandeyan.
Pak, dia memberiku nomor.
Lalu menyuruhku bicara.
Dan saya lakukan.
Saya tidak tahu bicara dengan siapa dan apa alasannya.
Saya bersumpah demi ibumu, Pak.
Darimana saya tahu kalau gadis itu membuatku kena masalah?
Wajahnya bagaimana? Kamu bisa mengenalinya?
Wajah gadis itu seperti bulan.
Susah menjelaskannya, Pak.
Orang asing berkeliaran dengan kemeja terbuka 'kan?
Dia berkeliaran seperti itu, Pak.
Dia naik motor Commando.
Pak, tolong minta minum. Saya haus.
Baru pernah ditangkap, Pak.
Buka status Whatsapp Diya.
Cepat buka! Lakukan!
- Apa ini gadisnya? - Coba angkat.
Pak, ini dia! Ini gadisnya.
Tangkap dia, Pak.
Kenapa malah bengong disana?
Kenapa Diya bocorkan info tentang Jamaludin?
Anda polisi 'kan? Temukan sendiri.
- Aku sumbat mulutmu! - Jangan berisik.
Saya bicara sebenarnya.
Aku juga berpikir begitu.
Jika dugaanku benar...
Aku yakin dia punya hubungan dengan pengkhianat di departemen kita.
- Maheswari! - Sana! Kamu dipanggil.
Pak.
- Suruh dia pulang. - Baik, Pak.
- Dia harus datang jika dipanggil. - Baik, Pak.
Pak, aku pulang nanti malam saja.
Beritahu nomor keluargamu agar bisa aku hubungi.
- Bu! - Eh?
Saya sebatang kara, bu.
Saya yatim piatu.
Belikan aku setengah botol.
Buat bekal tidur di trotoar.
Agar tidak kedinginan, bu. Tolong...
Minum kopi? Silahkan lanjutkan.
Nikmati rasa dan aromanya.
Itu akan jadi kopi terakhirmu.
Apa? Baru belajar mengancam?
Aku tidak gampang takut.
Aku tahu kamu gadis pemberani. Aku tahu itu.
Terbukti setelah mengkhianatiku...
kamu duduk santai di hotel memesan makanan.
Kenapa? Aku harus puasa untuk kematian putramu?
Kamu sombong seperti bosmu.
Kamu akan berakhir seperti dirinya.
Oke.
Lepaskan aku!
Lepaskan!
Saya dari kafe Newton, Pak.
Tangkap dia!
Hei, lepaskan aku!
Hei, lepaskan dia.
Jangan berpikir menolongnya atau aku cincang kalian!
Kamu juga ingin membunuhnya?
Sepertinya kamu berjodoh dengan penjahat.
Di tangan siapa kamu ingin mati?
Aku atau dia?
Katakan!
Dimana uangku yang kamu curi?
Jawab dia! Dia bertanya padamu 'kan?
Apa? Kamu yang mencuri dari rumahnya.
Jadi kamu iblis yang mencuri uangku?
Aku juga sedang mencarimu. Aku yang ambil uangmu.
Tapi dia membuatku ditangkap polisi untuk melindungimu.
Kamulah yang bertanggung jawab untuk semua kekacauan ini.
Aku akan membunuhmu dulu.
Ayo...maju!
Aku juga mencarimu.
Lepaskan dia. Bunuh dia dulu.
Sakthi! Ayo pergi!
- Dia kabur. - Ayo pergi!
Kenapa kamu bicara seperti orang gila?
Diya bukanlah Jagan, kasihan dia.
Kasus ini buruk untuknya dan masa depannya.
Dia mendapat masalah karena kamu.
Dia menebus kesalahannya.
Dia dapat masalah bukan karena membantuku.
Jika dia hanya peduli pekerjaannya...
kita tidak akan bisa berdiri disini.
Setelah dengar kisahmu, dia salahkan aku karena menjadikanmu pencuri.
Tapi kamu...
Baiklah, kawan.
Aku disini bukan untuk membelanya.
Aku hanya bicara apa adanya, semua terserah kamu.
Oke?
Kamu ingin membunuhku?
Awas kalau berani!
- Maaf dan terimakasih. - Apa?
Maaf karena ingin membunuhmu.
Terimakasih karena selamatkan aku.
Aku tidak akan mengusikmu lagi.
Halo!
Bisa kita minum kopi?
Kenapa kamu selamatkan aku setelah tahu masa laluku?
Belum ada pria yang membuatku terkesan, termasuk juga ayahku.
Seperti di film-film, setelah dengar kisah mengharukan...
lalu meneteskan air mata...
kemudian jatuh cinta, ini bukan hal bodoh seperti itu.
Sebagai detektif aku harus pelajari banyak karakter.
Laba-laba beracun menggigit manusia merubahnya jadi Spiderman.
Radiasi nuklir merubah manusia menjadi X-Man.
Itu cerita Hollywood.
Tapi kamu...kamu karakter nyata yang menarik.
Dalam filsafat, ada penyakit di belakang setiap pahlawan super.
Ada kesedihan!
Kamu sama seperti itu.
Aku tidak melihatmu sebagai penjahat.
Aku melihatmu sebagai pasien.
Aku bayangkan apa yang bisa kamu capai dengan bakatmu seandainya tidak terpengaruh penyakit ini.
Mungkin itu alasanku.
Ya Tuhan!
Baru sekali bertemu sudah bisa menganalisa sebanyak itu?
Kamu benar-benar detektif hebat.
Terimakasih.
"Gadis penjahat berbahaya ada di depanku..."
"Dia mencariku tanpa tidur untuk menjadi temanku..."
"Memuji bakatku, menyukai kesendirianku..."
"Dia masuk ke dalam hidupku karena kesalahan..."
"Aku arus deras tanpa bendungan..."
"Aku berhenti sejenak melihatmu tanpa pelukan..."
"Aku seorang wanita yang suka membantah..."
"Aku bagaikan jin Alladin yang memenuhi keinginan..."
"Hidup dalam kesedihan karena kesalahan, hal itu akan segera kamu tinggalkan..."
"Bisakah matamu tidur melupakan diri sendiri?"
"Cukup dengan neraka yang sudah kau lalui..."
"Masa depan adalah harapan cerah..."
"Kau akan keluar dari kegelapan menuju cahaya terang... "
Kalau aku mengajakmu ke suatu tempat. kamu mau datang, Sakhti?
Ya! Kemana?
Umumnya disebut Kleptomania.
Tetapi masing-masing punya masalah yang berbeda.
Mayoritas dari mereka hanya tertarik pada beberapa hal.
Selain benda-benda bernilai atau uang, mereka bisa juga tertarik hal lainnya.
Yang unik adalah mereka hanya mengambil benda yang mereka sukai.
Mereka akan berusaha dapatkan dengan resiko apapun.
Saya sudah lihat banyak kasus di klinik Anda.
Tapi belum pernah lihat kasus seperti dia.
Jika tubuh punya ratusan penyakit, maka pikiran punya ribuan.
Penyebab masalah Sakthi adalah karena kesulitan hidup...
yang dialami pada masa kecilnya serta kehidupannya dalam penjara.
Ada banyak hal yang mempengaruhinya secara psikologi.
Bisa juga disebabkan cacat genetik.
Bukannya dihabiskan atau diberikan orang, uangnya malah ditimbun di kamar.
Apa alasannya?
Pertanyaan itu tidak akan pernah terlintas dalam benaknya.
Di Rusia ada pria yang seperti dia.
Ivan Luciv, seorang jutawan.
Dia mencuri emas, timah dan besi lalu ditimbun di rumahnya.
Ketika ditanya polisi apa alasannya, dia tidak bisa menjawabnya.
Kasus Sakhti juga sama.
Saat hasrat mencurinya muncul, dia akan seperti gajah liar.
Tidak ada yang bisa kendalikan dia.
Dia menjadi normal hanya setelah mencuri.
Sakthi!
Anda bisa menjadikan dia normal atau tidak?
Kenapa tidak? Bisa disembuhkan 90%.
Kamu ingin mempelajari karakter 'kan?
Kamu punya bahan sempurna.
Nanti aku berikan saran untukmu.
Dekati dia dan pelajari dengan baik.
Sudah 15 hari Sakthi tidak muncul gejala.
Solusinya adalah mengalihkan pikirannya pada hal lain.
Alihkan pikirannya dari uang.
"Aku petualangan tanpa kesenangan..."
"Aku temukan harapan baru dalam hubungan ini, sayang..."
"Aku awan cerah tanpa badai..."
"Sayang, aku melebur dalam kehangatanmu..."
"Dalam kesendirianku... dalam hatiku yang terluka..."
- Mau ikuti saranku? - Apa?
Berhentilah merokok.
"Pertama kali kurasakan perubahan hidup..."
"Awan yang lewat turun ke bumi..."
"Kaulah bumi yang bawa dia ke dalam pelukan..."
"Gadis penjahat berbahaya ada di depanku..."
"Dia mencariku tanpa tidur untuk menjadi temanku..."
"Dia berpikir aku seorang pencuri..."
Hei, jika kalian menikah. Biarkan aku gendong anakmu.
"Aku membaca hatimu... Aku menyukai kesepianmu..."
"Aku bawakan hadiah untukmu..."
Pastikan laporan ini sampai kantor secepatnya.
- Baik, Pak. - Oke? - Tentu.
Pak!
Anda butuh orang yang bisa melacak kartu Aadhar 'kan?
- Dia orangnya. - Ya, Pak.
Ada seseorang yang diduga terlibat tiga pencurian baru-baru ini.
Tapi tidak ada bukti.
Melalui laporan forensik dari 3 kejadian...
temukan jika ada kesamaan sidik jari.
Kalau sudah ketemu lalu cocokkan dengan kartu Aadhar.
Dapatkan semua detail pemiliknya.
Berikan bir saja untuk Justin.
Dia sedang tidak ingin mabuk.
Kawan!
Aku pikir kamu satu-satunya orang di bumi yang gila dengan uang.
Lihat dia, lebih parah darimu.
Lihat dia!
Adopsi saja bocah itu.
Kamu tertarik?
Lift ada di dekat tangga, Pak.
Bagaimana? Keren 'kan?
Berikan, jangan lihat video selanjutnya.
Nanti kamu ngamuk.
Bisa ribet!
Maaf, Pak. Tidak ada kecocokan.
- Elango! - Pak!
Aku perintahkan kamu periksa nomor ponsel petugas kita dengan ponsel Diya.
- Sudah kamu periksa? - Sudah siap, Pak.
Semua nomor ini milik petugas yang sering komunikasi dengan Diya.
Baik.
Ini mengerikan, Pak.
Sepertinya petugas kita mendekati gadis manapun.
Begitu banyak petugas kita yang berhubungan dengannya.
- Periksa siapa yang paling sering telfon. - Baik, Pak.
Pak, kita tahan saja mereka dan gunakan interogasi level tiga.
Maksudmu bagaimana?
Mereka semua polisi.
Mari kita lihat sinkronisasi menara menggunakan parameter lokasi.
Aku tidak mengerti.
Tidak bisa dipastikan nomor mana yang hanya sebatas menelfon Diya.
Dengan sinkronisasi menara kita bisa temukan nomor mana yang sering menemuinya...
dan ada peluang dapat petunjuk, Pak.
Ya, lanjutkan.
Halo...halo...ruang kontrol?
Ya, ruang kontrol. Silahkan.
Saya menelfon dari bar dekat jembatan baru Maduroyal.
Saya satpam bank IDCI.
Saat penyelidikan saya sudah jelaskan tentang tersangka, Pak.
Sekarang dia ada di bar, Pak. Cepat datang, Pak.
Pak!
Sakthi!
Hei, Sakthi!
Kamu kenapa?
Bisa mendengarku?
Hei, Sakthi!
Sakthi, kendalikan dirimu.
Hei, Sakthi!
Kawan!
Hei...hei...
Kita di tempat umum, dengarkan aku.
Sakthi, tolong. Ingatlah nasihat dokter!
Kendalikan dirimu!
Hei...hei...
Jangan!
Hei!
Sakthi!
Hei, dia mengambil uang!
Hei, tutup pintunya!
Diya susah payah merawatmu agar sembuh.
Sekarang sudah kambuh lagi.
Kalau dia tahu tentang ini, dia bisa ngamuk.
Entah apa yang akan dia lakukan.
Aku sudah peringatkan, terserah kamu.
Halo!
Katakan, Diya.
Ada apa? Kenapa tidak menjawab telfonku?
Kenapa suaramu berbeda? Ada masalah apa?
Halo...
Hei...halo...
Tidak apa-apa.
Tidak, kamu agak aneh.
Kamu sembunyikan sesuatu dariku.
Aku yakin.
Kalian tadi kemana saja hah?
Ada orang bebas merampok di tempat umum.
Kalian mundur saja dari kepolisian!
- Jika media tahu hal ini... - Pak!
Lihat kemari, Pak.
- Ini satpam-nya. - Baik, Pak.
Ceritakan yang kamu lihat.
Kamu lihat wajahnya 'kan? Jelaskan, biar di gambar.
Ukuran matanya lebih kecil, Pak.
- Seperti ini? - Bukan, Pak.
Ganti.
Bulat, Pak.
- Seperti ini? - Bukan.
Bukan seperti itu, Pak.
Jenggotnya tipis.
Rambutnya di sisir ke belakang.
- Seperti ini? - Ya, Pak.
Kamu kenapa?
Kamu tidak akan pergi dariku 'kan, Diya?
Kenapa pergi darimu?
Aku tidak mengerti.
Ibuku sering menasihatiku tapi aku tidak bisa berhenti merampok.
Aku merampok tanpa peduli nasihatnya.
Lalu aku kehilangan dia.
Meskipun kita tidak punya hubungan apa-apa...
kamu mau membantuku.
Aku tidak percaya dengan diriku.
Aku tidak mampu hentikan kebiasaanku.
Aku takut kehilanganmu seperti saat kehilangan ibuku.
Kalau menurutmu Diya bagian hidupmu...
maka kamu tidak akan mencuri lagi.
Kapanpun hasrat itu muncul, ingatlah aku.
Pak, selamat pagi.
Pelacakan nomor Diya kemarin berhasil temukan mata-matanya, Pak.
Pak, saya mengenalnya.
Dia bertugas di divisi kejahatan keuangan.
Semua perampokan terjadi atas informasi darinya, Pak.
Pak...kita langsung tahan dia?
Jangan, tetap jaga informasinya dulu.
Kenapa, Pak?
Ikuti saja perintahku.
- Halo, bicaralah. - Salam, Pak.
Kami selesai membuat sketsa tersangka berdasarkan keterangan satpam.
Saya sudah kirim ke WhatsApp. Silahkan periksa.
Oke, akan kulihat.
Sakthi, aku pikir Manika Vasagam berhasil melacak kita.
Kamu bilang apa?
Jangan menoleh. Kamu diam saja.
Dia mengikuti kita.
Dengarkan aku baik-baik.
Aku akan turunkan kamu di pasar.
Larilah ke dalam kerumunan, oke?
Jangan pulang ke rumah dulu.
Kamu ingin aku kabur dan meninggalkan kamu?
Apa aku sehina itu? Jalan saja.
Tidak. Aku juga polisi. Dia tidak akan menyakitiku.
Ya sudah, jalan saja.
Ambil kiri...kiri...
Langsung belok kiri.
Sialan! Kita tertangkap, kawan.
Hei, Turun!
Turun!
Diya!
Keluar!
- Ada apa? - Keluar!
- Ada apa? - Aku bilang keluar!
Kenapa kamu marah?
Ya, aku marah karena ingin merubahmu jadi manusia.
Tinggalkan aku, Sakthi.
Demi Tuhan, tinggalkan aku!
Aku tidak akan mengusik hidupmu lagi.
Kamu bisa hidup sesukamu.
Tolong jangan temui aku lagi.
Apa aku pura-pura?
Kenapa kamu tiba-tiba marah? Alasannya apa?
Kamu tidak bersalah. Aku yang bersalah 'kan?
Aku merawatmu agar hidupmu berubah.
Aku berusaha membawamu keluar dari kejahatan yang kamu lakukan.
Aku yang salah.
Aku sangat marah.
Terus apa?
Aku belum pernah punya perasaan terhadap seseorang sebelumnya.
Aku kira kamu sudah sembuh dari kebiasaanmu.
Aku berikan hidupku untukmu.
Untuk pertama kalinya aku menyadari diriku wanita karena kamu.
Aku punya harapan besar untuk hidup denganmu setelah kamu berubah.
Tapi kamu hancurkan begitu saja.
Apa yang sudah aku lakukan?
Aku masih Sakthi-mu yang kemarin.
Kamu..? Kamu Sakthi-ku?
Kamu lakukan perampokan untuk Manika Vasagam lalu kemari.
Apa kamu masih Sakthi-ku?
Siapa yang bilang? Jagan?
Tidak perlu diberitahu siapapun.
Pikirmu aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi?
Kamu penipu!
Kamu penipu!
Aku belum pernah menangis.
Tapi sekarang...
Aku percaya kamu sepenuhnya, aku tertipu dan menangis.
Itu kekonyolanmu karena menangis tanpa tahu kebenarannya.
Aku akan ceritakan yang terjadi.
Terserah, percaya atau tidak!
Kenapa bawa kami ke tempat sepi?
Perampok Sakthi yang terlibat dalam semua perampokan besar...
bersama temannya Jagan tertembak mati di dekat kolam!
Itu berita utama surat kabar besok!
Apa yang kamu lihat?
Kami pertaruhkan nyawa menangkap penjahat.
Kami bawa ke pengadilan.
Lalu mereka bawa pengacara dari Delhi dan bebas dengan mudah.
Nongkrong tanpa dosa, makan biryani sambil bercanda, benar 'kan?
Dan kami hanya bisa membisu.
Setelah para penjahat lihat mayat kalian, mereka tidak akan berani merampok.
Cepat katakan!
Apa?
Kenapa kalian masih jadi polisi?
Kenapa tidak melacur saja di rumah bordil?
Waduh!
Orang macam kalian bisa ditembak dengan mudah.
Tapi aku tidak tahu cara menindak mereka.
Temui saja mereka lalu kesini lagi, kami bisa tunggu, Pak.
Hei!
Memangnya ada masalah di kepolisian?
Ini soal menteri.
Bersama dengan gubernur bank sentral, dia melakukan kejahatan perbankan.
Dia mencuri beberapa sen dari semua rekening bank dan berhasil mengumpulkan uang trilyunan...
lalu di investasikan di pasar saham melalui perusahaan proxy seperti pabrik bir dan saluran TV.
Sekarang dia ingin menjadi CM dan sudah menyiapkan uang ratusan milyar untuk membeli suara dari para MLA.
Satu-satunya cara untuk hentikan penipu itu adalah menyita semua uangnya agar tidak bisa membeli suara para MLA.
Aku sudah menyusun rencana untuk itu, tapi beberapa polisi berkhianat dan membocorkannya pada menteri.
Mereka halangi langkahku selanjutnya, dasar polisi murahan!
Biar aku selamatkan uang rakyat itu.
Apa?
Kamu selamatkan?
Ya.
Akan kubawa kembali uang yang gagal diselamatkan oleh kepolisian.
Kenapa cari masalah yang tidak perlu?
Rencana baru agar bisa kabur dariku?
Jika punya rencana seperti itu, cara pendekatanku akan berbeda.
Bukan hanya itu, aku melakukannya tidak dengan cuma-cuma.
Lalu?
Kamu akan dapat uangnya setelah menyetujui persyaratanku.
Apa yang kamu inginkan?
Kami pertaruhkan hidup demi uang rakyat,
kamu yang akan menerima promosi dan menikmati biryani-mu.
Aku suka serangan balikmu. Sebutkan perjanjiannya.
Aku, Jagan dan Diya!
Bersihkan nama kami dari catatan kepolisian.
Jika menerima syarat ini...
uangnya akan sampai di tanganmu.
Aku terima syaratmu.
Jika kamu berusaha kabur... Pergilah!
Tidak perlu khawatir soal itu.
Berikan detail orang itu.
Aku akan kembalikan uangnya.
Renungkan alasanku melakukannya.
Bukan lagi soal hasrat mencuriku.
Aku juga ingin merubah hidupku sesuai harapanmu.
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
Peringatan keamanan!
- Abang! - Apa yang kalian lakukan disana?
Seseorang membuka kunci kincir angin, apa yang kalian lakukan disana?
Siapapun orangnya, cepat habisi dia.
Pekerjaanmu selesai.
Kamu benar-benar profesional.
Kamu lakukan sesuai janjimu.
Tangkap mereka!
Banci sialan! Dimana kalian sembunyi? Keluarlah!
Pencuri busuk!
Seharusnya aku bunuh kamu bersama putramu.
Tapi kamu kabur!
Kamu pintar sekali!
Apa yang aku katakan tentang Menteri memang benar.
Tapi rencana berubah.
Uangnya tidak akan kembali ke pemerintah.
Tapi kepadaku.
Miras oplosan, jambret kalung, suap lampu merah,
kamu sudah tahu kadang petugas menerima suap recehan.
Kamu pasti belum pernah melihat perwira tinggi bermain uang trilyunan.
Aku salah satunya.
Kamu angsa emas.
Aku ingin tetap menjaga perampok brilian sepertimu di bawah kendaliku.
Tapi mereka bilang matikan api sepenuhnya.
Jadi, tidak mungkin!
Pak, saya baru akan menelfon anda.
Tapi anda sudah kemari.
Saya sudah menangkap tersangka dan menyita uangnya.
Tutup mulutmu!
Uang curian dari kereta, transfer uang ilegal dan uang pasar bunga.
Kami tahu seluruh uang itu ada padamu.
Manika Vasagam bukan polisi jujur seperti yang kamu pikirkan.
Apa kamu bilang?
Setiap kali menangkap penjahat, dia menyita uangnya.
Lalu dia akan membunuhnya dengan alasan melawan.
Aku tahu ini dari kasus Jamaludin.
Lalu bagaimana dengan uangku?
Uangmu juga ada pada Manika Vasagam.
Dia menembak mati Malik dan menyita uangnya.
Dia tidak serahkan uangnya pada kepolisian.
Dia menipu asistennya Kumaravel,
dia sembunyikan fakta tentang uang Malik darinya.
Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?
Kalau aku cerita, kamu juga akan merampoknya.
Aku tidak mau melihatmu jadi perampok lagi.
Dia berencana menggunakan kamu untuk merampok uang Menteri.
Manika Vasagam pikir aku juga penjahat seperti dia.
Aku seorang pasien tapi tidak bodoh.
Lihat saja apa yang akan kulakukan padanya.
Kamu ingin nyawaku atau uang 500 milyar?
Mari buat kesepakatan.
Datanglah ke tempat yang aku tunjukkan, kamu akan dapat 500 milyar.
Ambil semua dan lepaskan kami.
Tidak hanya 500 milyar!
Manika Vasagam juga akan berada disana sendirian.
Pikirkan lalu putuskan.
Pak, Komisaris kemari setelah melihat siarang langsung anda yang membunuh Jamaludin demi uang.
Pak, terdapat juga uang cetakan Mysore yang dicuri dari kereta.
Akan kudapatkan semua uang dari tempat yang ditunjukkan Manika Vasagam.
Kalian bawa juga uang yang disitanya.
Dengan menggunakan semua bukti itu, baru kita bisa menjebaknya.
Kami akan mengurusnya.
Tidak diragukan lagi, Pak.
Ini uang yang dicetak di divisi Mysore.
Aku sangat percaya padamu.
Dasar manusia rendah!
Polisi berjuang untuk mendapatkan nama baik di depan masyarakat umum.
Jika berita ini bocor, mereka akan bilang bahwa mengurus copet saja polisi tidak becus.
Media terlanjur tahu tentang penyitaan uang.
Lakukan satu hal.
Pilih salah satu tahanan kita, tutupi wajahnya dan...
- tunjukkan ke media sebagai tersangka. - Baik, Pak.
Kasus Manika Vasagam jangan sampai bocor ke media.
- Kamu paham? - Ya, Pak.
Sekarang tangkap dia!
Sebelum dan sesudah perampokan RBI,
banyak perampokan serupa terjadi di Chinai.
Banyak tim dibentuk untuk menangkap pelaku dan mengerjakan kasusnya berbulan-bulan.
Karena tim kepolisian terus aktif bergerak...
kami berhasil temukan seluruh uang yang dicuri beserta pelakunya.
Sorotan kasus ini adalah...
dua orang yang memberi kami informasi penting tentang kasus ini.
Sakthi dan Diya!
Mewakili kepolisian saya mengucapkan terimakasih atas bantuan mereka.
- Kerja bagus, Kumar. - Terimakasih, Pak.
Lupakan soal kerja, Pak.
Apa yang akan kita lakukan dengan uang yang disita, Pak?
Apa saranmu?
Jika kita menyetor 15 lakh ke rekening setiap petani di negara bagian.
- Mereka akan bisa bayar pinjaman. - Kenapa 15 lakh?
Hitungannya memang seperti itu, Pak.
- Baik. - Pertanian akan makmur.
Sakthi, perjuanganmu berakhir dengan kesuksesan.
Mulailah hidup baru.
- Terimakasih. - Aku akan merindukanmu.
- Hei, jaga dirimu. - Sampai jumpa.
Ya, tentu.
Hai, halo! Anda sedang mendengarkan 106.4 FM, saya RJ Anda...
Aku tidak pernah mengira akan masuki kehidupan keluarga.
Sulit dipercaya.
Seperti kata Jagan, hidup kita akan seperti naik roller coaster.
Pasti!
Seorang pengusaha kabur ke luar negeri setelah mencuri 10 trilyun dari berbagai bank.
Jika punya uang sebanyak itu, apa yang akan anda rencanakan?
Ini adalah topik kita selanjutnya.
Buat rencana dan teruslah berencana.
Saya akan kembali setelah istirahat sejenak untuk mendengar rencana anda.
Yang harus anda curi hanya 10 trilyun saja!
Ini 106.4 FM kita!
Sakthi, kamu tidak apa-apa?
Ya...ya..aku baik.
Kenakan sabuk pengamanmu.
"Iblis...Iblis...Iblis..."
"Dia mencari mangsa dan berburu hari demi hari..."
"Dia hancurkan s'galanya dan setiap manusia..."
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.