Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Akhir abad ke-15 di Semenanjung Melaka…
Saat kesetiaan, kehormatan, dan kedaulatan berlaku.
Melaka, yang terkenal atas kekuatan
dan kejayaannya, dikenal di seluruh dunia.
Di saat itulah, kisah dimulai.
Dua kekasih, dipisahkan jarak dan tempat,
mengucap janji untuk bersama.
Menyeberangi lautan dan gunung,
tercipta sebuah kisah cinta terhebat yang agung.
Saat waktunya tiba, kita akan bersama.
Aku akan anggap itu sebagai janji.
Mimpiku, hidup di Gunung Ledang.
Jika kau tidak kembali, aku yang akan mendatangimu.
Saat waktunya tiba, kita akan bersama.
Aku akan anggap itu sebagai janji.
Aku mencari cinta.
Aku akan mendatangimu.
Aku suka lingkungan yang masih hijau.
Mimpiku, hidup di Gunung Ledang.
Aku bersumpah…
Jika kau tidak kembali, aku yang akan mendatangimu.
Ini pertanda aku harus pergi mendatanginya.
Aku ingin menjadi bagian dari impiannya.
Apa sudah kau pikirkan dengan matang?
Aku sudah ambil keputusan, Mbok.
Besok aku akan mengantarnya ke Melaka, menuju Gunung Ledang.
Ayo! Cepat!
Siapa cepat, dia dapat.
Siapa yang lamban akan menyesal seumur hidup.
Dengarlah! Kalau hati merasa tidak senang,
hidupnya seperti seekor krebau.
Cepat! Siapa cepat, dia dapat. Dan yang lamban akan menyesal.
Hei! Kau! Ikut aku.
Putrinya ini akan dikawinkan dengan pemimpin kami.
Berikan restumu!
Maafkan aku.
Aku tidak bisa menerima ini.
Jangan bawa putriku.
Ambil saja uangmu kembali.
Orang tua bodoh!
Tolong aku.
Kau sudah berjanji!
Berhenti!
Aku akan ikut.
Tidak seorang pun boleh dipaksa menerima yang tidak diinginkan.
Siapa itu?
Siapa yang bicara?
Tugasku adalah membawa gadis ini ke pimpinanku.
Ini bukan urusanmu, Tuan.
Semua yang terjadi di tanah Melaka sudah menjadi urusanku.
Cinta dan restu tidak bisa dipaksakan.
Ini perintah pemimpinku!
Bagaimana jika dari Laksamana Agung?
Kau boleh ikuti perintah, tapi pakai akal.
Kau boleh patuh, tapi tetap bijaksana.
Jika angin Melaka memang bertiup kencang,
kedatangan Tuan Putri akan sampai juga ke telinganya.
Perdana Menteri.
Bagai menatang minyak yang penuh.
Barang-barang dibereskan.
Mbok…
Izinkan aku mengawal Tuan Putri.
Tuan Putri sudah ada yang mengawal.
Ayo, kita kembali ke tanah Jawa.
Yang Mulia Pangeran Ahmad, memasuki istana.
Dengan izin Yang Mulia Baginda Sultan,
penobatan Pangeran Ahmad, putra sulung Yang Mulia,
sebagai Putra Mahkota, pewaris pertama Kerajaan Melaka,
akan segera dimulai.
Seharum dan semurni air mawar serta melati,
begitu juga tanah Melaka di bawah pimpinan Putra Mahkota.
Dengan keris kebesaran Putra Mahkota,
maka telah sah bahwa Raja Ahmad dinobatkan sebagai Putra Mahkota,
pewaris takhta Kesultanan Melaka.
Lima kelopak bunga yang menghiasi kepala Putra Mahkota
melambangkan penobatan yang diberkati dan direstui Sultan.
Ini sepadan dengan pengorbananmu, Yang Mulia.
Kini putramu telah menjadi Putra Mahkota.
Putra Mahkota, di atas…
Di hadapan Yang Mulia Tuan Adipati Handayaningrat,
Pangeran Benowo dari Demak, berkenan menghadap.
Sultan Demak mengajak Tuan Adipati, penguasa Kadipaten,
tanah pertikaian Majapahit
untuk menerima Demak sebagai pelindung yang baru.
Lari!
Tentara Demak menyerang!
Lari!
tapi jika Tuan Adipati memberi izin,
Tuan Putri…
Dasar fondasi
Sebuah pernikahan
Bukanlah soal materi
Atau fisik
Cinta dari hati
Adalah…
Perkara…
Prinsip
Bawahanku sendiri
yang menumpang hidup dalam istanaku, berani menikamku?
Bicara, Perdana Menteri.
Aku hanya…
Wahai jagat raya!
Kau dengar, Perdana Menteri.
Yang Mulia Tuan Adipati.
Tugas dan kewajibanku hanya mengabdi.
Hanya itulah yang kulakukan, Yang Mulia.
Tanyakan, Perdana Menteri.
Kenapa dia memengaruhi Tuan Putri sampai berani meninggalkan Majapahit?
Ampuni aku, Yang Mulia Tuan Adipati.
Atas nama Sang Pencipta,
aku hanya menuruti Tuan Putri yang ingin mencapai kebahagiaannya.
Itulah sumpahku kepada Tuan Putri.
Aku pun sanggup menerima hukuman
karena telah membantu Tuan Putri mengejar cinta dan harapannya,
Yang Mulia Tuan Adipati…
Tuan Adipati dari Majapahit di gerbang istana!
Laksamana Agung.
Panglima Pelabuhan.
Aku bersama Tuan Adipati menunggu kedatanganmu, Yang Mulia.
Ini mengenai sikap Tuan Putri.
Aku penasaran apa masalahnya.
Tuan Adipati.
Kalau bukan karena bagian kesultanan…
Laksamana Agung!
Tuan Adipati…
Yang Mulia, sudah menantimu untuk menemuinya.
Silakan lewat sini.
Menurutku akan lebih bijaksana,
jika Laksamana Agung tidak ikut.
Ampun, Yang Mulia…
Setelah mempertimbangkan penawaran dengan saksama,
Sultan kita yang bijaksana dan dicintai,
setuju untuk memenuhi harapan rakyat Majapahit
untuk menjadikan Tuan Putri Retno Dumilah,
adik dari Tuan Adipati Handaya Ningrat, sebagai ratu Baginda.
- Hidup Sultan! - Hidup Sultan!
Apakah baik keputusan ini, Laksamana Agung?
Ampun, Yang Mulia.
Jika itu keinginan Yang Mulia, aku akan ikut merasa senang.
Ampun, Yang Mulia.
Perdana Menteri.
Mulai siapkan segalanya.
Siap laksanakan, Yang Mulia.
Semoga saja dengan pernikahan ini,
Kerajaan Melaka akan bisa menghentikan serangan Demak, Tuan Adipati.
Selesaikan dahulu urusan Tuah.
Bereskan.
Aku melakukannya hanya demi tugas.
Bukan itu niatmu yang sebenarnya.
Aku sangat mengenalmu.
Bukankah pernikahan kita juga hanya sebuah tugas?
Maafkan aku, wahai kakakku, Tuan Adipati,
apakah adikmu ini sudah tidak dianggap?
Apa salahnya, Kakak?
Untuk sekali ini, aku menuruti kata hati sendiri,
Darahmu pun mengalir dalam diriku, adikku.
Kita semua memiliki mimpi, adikku,
Ingkar, Kakak?
Ingkar apa, Kakak? Jika dari kehidupan yang tidak pernah kuinginkan dan pilih?
Cukup!
Tidak usah bermimpi mengharap cinta.
Terimalah Sultan Melaka, adikku.
Kalau begitu aku akan abdikan diri saja kepada Pangeran Demak
Jika Melaka mengizinkan Tuan Putri,
untuk menikahi Pangeran Demak…
itu sama saja seperti mencoreng arang ke wajah sendiri.
Jika Yang Mulia mengizinkan,
aku dengan rendah hati ingin menawarkan sebuah saran.
Ampun, Yang Mulia.
Laksamana Agung, Yang Mulia, adalah satu-satunya harapan kita.
Asalamualaikum.
Wa'alaikumsalam.
Atas titah Yang Mulia,
mewakili Yang Mulia Sri Sultan Mahmud dari Melaka,
mengundang Pangeran Benowo dari Demak
untuk menghadiri pernikahan Baginda
dengan Tuan Putri Retno Dumilah,
Putri Majapahit.
Menurut kabar yang aku dengar, tidak seperti itu.
Keris Taming Sari ini adalah bukti undangan yang kubawa, Pangeran.
Aku terima undangannya,
karena pembawa pesannya Laksamana Agung dari Kerajaan Melaka.
Tapi kalau ternyata kabar yang kudengar itu benar,
dengan izin Allah,
Demak pasti menyerang Majapahit.
Apa mungkin seorang wanita sepertiku ini
bisa melukai Laksamana Melaka yang terhormat?
Atau jiwamu gentar saat disentuh olehku?
Tindakanku tidak dibuat dengan tergesa-gesa.
Semua sudah diatur
untuk mencegah masalah yang tidak diinginkan.
Tuanku, aku akan lakukan yang terbaik.
Tugasku adalah menenangkan semua hati rakyat Melaka.
Apa semuanya sudah siap, Tuan Setia?
Sudah, Pak.
Semuanya tujuh nampan.
Kapan rombongan pengantin kita akan berangkat, Perdana Menteri?
Setelah salat subuh besok, Yang Mulia.
Tun Mamat akan memimpin rombongan.
Aku akan senang jika Laksamana Agung yang memimpin rombongan.
Ampun, Yang Mulia.
Mungkin yang terbaik dalam situasi ini, Yang Mulia,
Laksamana Agung tetap bersamaku.
Pernikahanku dengan Tuan Putri tidak bisa ditunda lagi.
Aku sudah berjanji pada tanah Jawa.
Baiklah, jika itu diinginkan Yang Mulia.
Laksamana Agung?
Aku siap melayani dan mengikuti perintah, Yang Mulia.
Kesetiaan Laksamana Agung pada Melaka…
memang tidak diragukan lagi.
Sultan Yang Mulia akan melepas keberangkatan rombongan pernikahan
yang membawa Panji Kesultanan.
Tuah tidak mungkin akan rela aku menikahi Sultan-nya.
Ataukah mungkin?
Ada apa, Laksamana Agung?
Siapa kau sebenarnya? Dan juga…
apa yang kau lakukan sendirian di hutan ini?
Namaku Tun Mamat.
Apa kau pernah melihat Tuan Putri?
Kapan? Di mana?
Di air terjun, sebelah timur.
Setiap aku ke sana,
Putri pasti ada di sana.
Sebenarnya kami bermaksud untuk melamar Tuan Putri yang ada di puncak gunung ini.
Namaku Tuan Setia.
Lamaran pernikahan siapa?
Baginda Sultan Melaka, Sultan Mahmud.
Berhati-hatilah saat menyeberangi lautan
agar airnya tidak menjadi api.
Kami sedang melaksanakan perintah Baginda Sultan.
Kesetiaanmu tidak terbatas… Tanpa akhir.
Sayangku.
Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, Sayang.
Apa kau tidak ingin lagi bertemu denganku?
Rasakan kemarahan dari parang yang terbang.
Kurasa lebih baik kita pindah ke tempat yang lebih aman.
Kau benar.
Dengar, semuanya!
Kita harus bergerak sekarang.
Kumpulkan barang-barang dan bergegaslah.
Kita sudah saling terikat dengan ritual mencuci kaki ini.
Tiap satu langkah menjauh…
maka dua langkah rinduku kepadamu.
Aku bersumpah…
jika kau tidak kembali,
aku yang akan mendatangimu.
Berjalan di tanah yang sama.
Bernapas pada udara yang sama.
Berlayar dalam badai besar.
Di tempat tenang, jangkar dilempar.
Hati yang menunggu pasti berduka.
Hati yang pergi pasti tidak bahagia.
Namun, saat waktunya tiba,
kita akan bersama.
Semua sudah siap, Tuan Setia?
Sudah, Laksamana Agung.
Baiklah. Kalau begitu…
Tunggu sebentar, Laksamana Agung.
Perdana Menteri memerintahkanku menemui Tuan Putri sendirian saja.
Tapi kenapa?
Perintahku langsung dari Sultan.
Perdana Menteri hanya memintaku menyampaikan pesan ini.
Semua yang dilakukan demi kepentingan Baginda Sultan
dan juga demi kebaikan Laksamana Agung.
Tapi Sultan Yang Mulia memintaku untuk menemuinya,
dan aku akan mematuhi perintahnya.
Kau sudah menunggu lama?
Ya, Sayang.
Akhirnya kau menginjak juga di tanah tempatku hidup.
Apa sayap patah Rajawali yang membawamu kemari?
Demi cinta, tidak ada gunung yang terlalu tinggi.
Kini kita berada di puncaknya bersama.
Rasanya seperti mimpi mendengarmu mengucapkan kata-kata cinta kepadaku.
Suaramu membebaskan kerinduan di hatiku.
Aku merasakan embusan angin menusuk dadaku.
Kenapa cintaku diuji seberat ini?
Aku lupa betapa megahnya cintamu.
Dan cintamu, Sayang, bukankah tidak ada batasnya?
Masih tidak sebanding dengan cintamu, Sayang.
Tapi akhirnya kau di sini.
Seperti manusia yang kehausan,
menemukan telaga air.
Kau sudah menepati janjimu.
Sayang…
Aku datang
dengan harapan yang sangat besar.
Harapan yang kuharap bisa kau mengerti.
Sayang…
jangan bilang kau kemari hanya karena perintah Sultan.
Cintaku…
Tidak ada cinta lain dihatiku selain dirimu, Sayang.
Cintaku lebih tinggi dari Gunung Ledang,
dan lebih berharga daripada nyawaku.
Cintamu lebih berharga daripada nyawamu?
Tinggi di langit?
Tapi apa daya…
Tanganku terikat di langit…
Kakiku terpaku di Bumi.
Kenyataan tidak seindah harapan.
Aku tetap bahagia meskipun hanya hidup dengan harapan.
Sayang, jangan lakukan perintah itu.
Cintamulah yang aku inginkan, bukan dari orang lain.
Tahukah kau betapa bahagianya aku saat tahu akan bertemu denganmu?
Sepertinya waktu telah membuat hatimu mati rasa.
Kau datang menemuiku dengan niat untuk pergi.
Tuan Putri Yang Mulia.
Aku pelayanmu, Tun Mamat, datang bersama Laksamana Agung
sangat berharap Tuan Putri bersedia menerima lamaran dari Baginda.
Hancurlah hati kami jika kembali menghadap Sultan Melaka yang tercinta,
tanpamu, Tuan Putri, sebagai ratunya.
Apakah itu benar, Laksamana Agung?
Apakah diamnya Laksamana Agung artinya setuju?
Apa kalian tidak tahu bahwa aku memutuskan untuk menerima lamaran Pangeran Demak?
Tuan Putri…
Keputusan itu sudah tidak ada maknanya bagi Demak,
karena Laksamana Agung Hang Tuah sendiri yang pergi ke tanah Jawa
untuk memberi tahu Pangeran Demak tentang niat Sultan melamar Tuan Putri.
Walaupun seribu tahun air menetes di atas batu,
Tuah tidak akan pernah berubah.
Baiklah.
Jika itu yang diinginkan Tuan…
Aku terima.
Aku terima lamaran itu…
asalkan kalian bisa memenuhi permintaanku.
Apa arti kata-kata dalam bahasa Jawa ini?
Masih belum ada kabar dari Melaka, Yang Mulia.
Menurutmu Perdana Menteri,
Maksudmu Tuah?
Serahkan segalanya kepada Tuhan, Yang Mulia.
Seluruh harapanku kau hancurkan dengan kepalamu
Perkataanmu yang kasar dan tajam itu
tidak menunjukkan kebangsawananmu.
Kau berengsek, Tuah!
Kalian jangan ikut campur.
Siaplah menghadapi kematianmu!
Tidak…
Kematianmu tidak akan menenteramkan jiwaku.
Beri tahu Baginda Sultan…
aku telah gagal melaksanakan perintahnya…
Aku juga sangat malu untuk muncul di hadapannya walau sejenak.
Aku bersumpah…
Selama keris Taming Sari tenggelam di dasar sungai ini,
aku tidak akan kembali.
Maafkan aku, Perdana Menteri.
Aku sadar semuanya karena kegagalanku menghentikan Laksamana Agung…
Terima kasih.
Aku yakin kau merasa sangat lelah.
Mungkin sebaiknya kau pulang ke rumah lebih dahulu.
Hanya karena keadaan ini…
Tuah merasa telah gagal melaksanakan perintahku?
Tuah.
Loyalitas Tuah tidak ada tandingannya.
Kepergiannya membuktikan itu.
Perdana Menteri.
Ampun, Yang Mulia.
Aku perintahkan kau untuk mencari dan membujuk Tuah untuk kembali ke Melaka.
Aku akan laksanakan perintahmu,
Yang Mulia.
Untuk urusan syarat melamar,
kumpulkan semua ahli syair dari Melaka.
Syarat-syarat melamar agar diterima,
semuanya ada tujuh poin.
Kau tidak akan pernah berubah, Tuah.
Pertama, air mata dara yang tidak berdarah.
Tujuh tempayan jumlahnya.
Jawabannya…
tujuh tempayan air mata gadis perawan.
Kedua.
Pinang.
Bukan kawin karena tidak tua, merah darahnya.
Tujuh tempayan jumlahnya.
Jawabannya adalah tujuh tempayan air pinang muda.
Ketiga.
Merangkak bebas di dataran, darah juga kehendaknya,
sifatnya.
Tujuh nampan jumlahnya.
Jawabannya adalah tujuh nampan penuh dengan hati rayap.
Keempat, terbang bebas di udara,
darah juga kehendaknya,
sifatnya.
Tujuh nampan semuanya.
Jawabannya adalah tujuh nampan hati nyamuk.
Kelima.
Darah putih rakyat untuk menambat darah kuning
dari tapak ke takhta.
Jawabannya adalah jembatan perak dari Melaka ke puncak Gunung Ledang.
Keenam.
Darah merah rakyat untuk menambat darah kuning
dari tapak ke takhta.
Jawabannya adalah…
jembatan emas dari Melaka ke puncak Gunung Ledang.
Ketujuh.
Darah seguntang tetap mengalir,
badan bersilih menanti,
sebatil.
Jawabannya adalah…
Darah putraku.
Ampun, Yang Mulia. Aku memohon diberi ampun sebelumnya.
Kesemua permintaan ini sangat kecil
berbanding kebesaranmu, Yang Mulia.
Dan kebesaran Yang Mulia itu lebih hebat
daripada semua permintaan sulit itu.
Apa artinya nyawa Putra Mahkota kita
dibandingkan ribuan nyawa rakyat Jawa?
Meskipun begitu, apa artinya ribuan nyawa rakyat Jawa
yang bukan di bawah kekuasaan Melaka?
Itu pun hanya untuk memenuhi syarat pernikahanmu, Yang Mulia.
Ampun, Yang Mulia. Ampuni aku.
Biar semua orang tahu…
tanggung jawabku bukan hanya memberi perintah.
Putraku?
Atau…
Tanah Jawa?
Ini semua terlalu pahit. Seperti menelan empedu.
Seperti racun menusuk kalbu.
Tapi, itu tidak akan menghentikanku!
Ampun, Yang Mulia.
Berkorban demi cinta adalah indah…
dan pengorbanan demi negara sungguh mulia.
Tapi apalah artinya berkorban dengan tangan berlumur darah
manusia yang tidak berdosa?
Apa Yang Mulia sanggup melakukannya?
Mungkin masih kurang jelas bagi Yang Mulia bahwa permintaanku sebenarnya…
sebuah penolakan?
Apa ini semacam permainan?
Aku siap berkorban demi rakyatmu,
dan kau merendahkan upayaku itu?
Beraninya kau mempermainkanku…
Mempermainkanku yang bersedia melindungi kedaulatan kerajaanmu.
Niatmu sungguh mulia, Yang Mulia.
Tapi apakah niat itu berasal dari hati?
Aku sudah memutuskan kembali ke tanah Jawa untuk bersama Pangeran Demak.
Namun, kenapa keinginanku itu juga dihalangi Yang Mulia?
Kau sadar sedang bicara dengan siapa?
Aku bukan rakyatmu yang rendahan
yang bisa kau perlakukan seenaknya.
Rakyatku yang rendahan?
Demi rakyatku yang rendahan itu, hingga Yang Mulia
rela mengorbankan Putra Mahkota?
Bukan untuk merendahkan kebesaran Melaka.
Jika benar kebesaran Melaka berada di tanganmu, Yang Mulia,
kenapa kau butuh pernikahan ini untuk menyelamatkan negaraku?
Kau bicara tanpa alasan.
Kau lupa bahwa tanah Melaka ini berdaulat.
Luka sekecil apa pun yang aku rasakan di atas tanah yang kau pijak ini,
sakitnya dirasakan oleh seluruh Melaka.
Aku merasa sedih mendengar perkataanmu tadi.
Aku hanya ingin
tinggal di puncak Gunung Ledang
agar tidak melukai hati siapa pun.
Izinkan aku, Yang Mulia.
Aku kabulkan keinginanmu.
Namun…
tindakanmu tidak termaafkan.
Dan sesungguhnya, tanah Melaka ini tanah berdaulat!
Kau harus tetap sendirian di puncak Gunung Ledang,
tidak pernah terlihat oleh siapa pun setelah dini hari.
Bagi siapa pun yang melihatmu, aku bersumpah,
dia akan mati bersimbah darah!
Kedaulatan Melaka memang hebat…
Tapi sayang sekali, Yang Mulia menyalahgunakan itu.
Hidup Yang Mulia!
Semoga Yang Mulia berkuasa sampai akhir zaman.
Pengorbanan cinta itu indah?
Saat fajar tiba, siapa pun yang melihatnya
akan mati bersimbah darah.
Kurasa Laksamana Agung, lebih tahu bagaimana gigihnya upayaku
untuk mencoba mencegah semua ini.
Tapi semua akhirnya mengingatkan kita bahwa kita hanya bisa berencana,
tapi takdir kita…
bukan berada di tangan kita.
Apa alasan semua pengorbanan ini, Tuah?
Cinta yang begitu indah…
terpaksa dikorbankan.
Pergi.
Pergilah sekarang.
sebelum terlambat.
Ayo. Mari kita kembali ke istana.
Tunjukkanlah dirimu, Sayang!
Tunjukkan dirimu!
Aku rela bersimbah darah daripada hidup tanpamu.
Demi semua pengorbanan yang kau lalui,
demi semua penderitaan yang kau alami,
dan demi semua kemungkinan yang seharusnya kulakukan,
aku meminta maaf.
Aku buta, Sayang!
Kumohon, Sayang.
Kumohon.
Maafkan aku, Sayang.
Jika kau mengizinkanku berpijak di tanah ini
dan menghirup udara yang sama dengan setiap detak jantungmu…
beri aku pertanda.
Berilah aku pertanda.
Sungguh…
Aku mencintaimu.
Cinta agung yang tidak bersemi
tapi tetap abadi.
Seperti rindu bulan mengelilingi Bumi,
menyinari kegelapan di malam hari.
Sejak itu, tidak ada kabar berita
tentang kedua insan yang jatuh cinta.
Tapi Gunung Ledang menjadi tanda,
keagungan dan keluhuran cinta mereka.
Pengorbanan cinta itu indah.
Terjemahan subtitle oleh Wafi Wifqatillah
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.