All language subtitles for Hujan.Bulan.Juni.2017.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[alunan seruling]

[alunan orkestra]

[Katsuo] Pingkan.

- [bahasa Jepang] Katsuo, lihat. - [bahasa Jepang] Apa?

[tertawa]

[Katsuo] Itu dia.

BUKU-BUKU TENTANG NAGOYA

[alunan gitar]

[Pingkan, bahasa Indonesia] Sar.

Sarwono.

Apa?

Hei.

- Jadi berangkat? - Berangkat ke mana?

- Ke Solo, 'kan? - Ke Jepang.

Terus?

- Terus apa? - Ya, kita?

Kita kenapa?

Aku kok merasa...

sedang menjadi seperti samurai.

Yang ditinggalkan anak buahnya menjadi ronin.

Sar, aku masih ingat sekali

kamu pernah bercerita kepadaku saat kamu baru kembali dari Jepang.

Kamu berkata seperti ini.

"Pingkan, sakura itu

mekar di awal musim semi, kemudian langsung gugur,

seperti ronin yang dipenggal kepalanya oleh samurai yang dikhianatinya."

[keduanya tertawa]

Kamu ingat atau tidak?

Tapi sakura tak pernah berkhianat.

Jadi, aku sakura atau ronin?

Ya sudah, aku mau pergi dulu bertemu sensei. Sudah terlambat.

- Sensei Depok atau sensei Jepang? - [tertawa] Sar!

Kamu itu sudah sekolah tinggi-tinggi,

tapi otak kamu masih saja ketinggalan

di bawah pohon sawo kecik di depan halaman Keraton Solo.

[keduanya terkekeh]

[musik orkestra ceria]

- [tanpa suara] Dah. - Dah.

[Kaprodi] Apa saja yang kurang?

Ini, Pak.

Sudah dulu, ya? Kuperiksa, ya?

"Angin dari bukit masuk lewat jendela matamu,

sehabis mengemas warna dan aroma bunga

di terjal perbukitan sana."

- [bahasa Jepang] Selamat siang. - Katsuo-san!

- Selamat siang. - Selamat siang.

- Silakan duduk. - Ya.

Kami sedang membahas kepergian Pingkan.

Benarkah?

[bahasa Indonesia] Pingkan, Katsuo jauh-jauh datang ke sini

untuk membantu Program Studi kita.

Supaya kuliah master kamu lancar di Jepang.

Kuperiksa dulu, ya?

Kalian bisa mengobrol dulu, nostalgia.

[tertawa]

[bahasa Jepang] Aku berterima kasih kepadamu.

[keduanya tertawa]

[bahasa Indonesia] Ya.

[alunan gitar romantis]

[Pingkan, narasi] Namanya Sarwono.

"Wana" itu artinya hutan.

Aku bilang kalau Sarwono itu artinya "kesasar di hutan",

sementara untuk Sarwono namanya berasal dari kata "Sarwa" dan "Ana",

yang artinya "serba ada".

Itu adalah dialog pertama kami ketika kami pertama berkenalan.

Dialog picisan, tapi aku selalu ingat.

[Pingkan] Sar.

- Pingkan. - Hai.

- [bahasa Jepang] Sampai jumpa nanti. - [bahasa Indonesia] Baiklah.

- [bahasa Inggris] Dah. - [bahasa Inggris] Dah.

[Pingkan, narasi] Dan yang itu Katsuo.

Kedatangannya ke Indonesia sejak seminggu yang lalu

berhasil membuat kampus mengetok palu bagiku untuk berangkat ke Jepang,

yang membuat Sarwono merasa menjadi samurai yang ditinggalkan.

Sar.

- Ayo, pulang. - Sebentar.

Aku masih ada urusan, kamu pulang dulu saja.

- Urusan apa? - Masih dalam rangka ke Jepang.

Ya, sudah. Aku pulang sendiri, ya?

Baiklah. [tertawa]

Tapi sampai rumah kabari aku, ya.

Ya, aku kabari.

Apa?

Dah.

[alunan biola romantis]

[obrolan samar]

- Hai. - Hai.

Duduk, duduk.

[bahasa Jepang] Maaf. Aku akan meneleponmu nanti.

[bahasa Indonesia] Lapar?

[bahasa Jepang] Ya. Sudah pesan makanan?

[bahasa Jepang] Belum. Aku menunggumu.

Ini makan malam terakhir kita di Jakarta.

Selanjutnya, ayo makan malam di Sapporo.

Mau mengantarku ke Bandara?

[Katsuo tertawa]

[bahasa Indonesia] Mbak?

[musik gitar riang]

Zaman Nara terjadi di abad kedelapan.

Kaisar Genmei memindahkan ibu kotanya ke Heijo-kyo.

[semua tertawa geli]

Tadi kamu melakukan apa, Sar? Mengisengiku, ya?

[terkekeh]

Aku ditugaskan oleh Pak Eric.

Eric?

Eric Pattiasina, Kepala Program Studiku.

Ya.

Terus?

Aku ditugaskan ke Universitas Sam Ratulangi.

Untuk mempresentasikan nota kesepahaman Antropologi

UI dengan mereka.

Sam Ratulangi, Manado?

Memang ada Sam Ratulangi di luar Manado?

[tertawa] Menyebalkan.

Terus?

Ya sudah.

Aku minta pemandu selama aku di sana.

Itu kamu.

Dasar modus.

Tidak, itu memang benar.

Anggap saja ini perjalanan perpisahan sebelum kamu berangkat ke Jepang.

Sar, aku ke Jepang hanya dua tahun.

Bukan selamanya.

Pingkan.

Kamu tahu, satu hari saja bisa menjelma menjadi selamanya.

Dasar gombal.

Dasar. Memang benar kok.

[Sarwono tertawa]

Sarwono!

Mas?

Aku disuruh Pak Eric untuk mengurus keberangkatanmu ke Manado.

- Pingkan? - Halo, Mbak Dewi.

Ya. Aku juga disuruh untuk meminta nama lengkapmu.

Untuk memesan tiket ke Manado. Kamu tulis saja di situ.

[musik romantis canggung]

[Pingkan] Ini.

Baiklah. Mas, nanti kalau tiketnya sudah ada

kukirim lewat WA, ya?

Ya, terima kasih.

Kamu takkan kesepian selama aku di Jepang.

Maksudnya?

Ya. 'Kan ada Mbak Dewi?

Eh, dia itu setia.

Tak pernah berhenti menaksirmu.

[tertawa]

Asal bicara kamu.

- Kamu juga. - Juga apa?

[mengesah]

Ada Katsuo.

Dulu kamu pemujanya, 'kan? Sewaktu dia kuliah pascasarjana di sini.

Jadi, mungkin sampai sekarang kamu masih tetap memujanya.

Kamu tak akan kesepian.

[tertawa canggung] Kamu hanya mengarang.

Bagian mana yang mengarang?

Masalah Katsuo?

Atau kesepian?

[Pingkan, narasi] Sarwono tak pernah main-main soal kata kesepian.

Dia pernah bilang kalau kesepian adalah benang-benang halus ulat sutera,

yang perlahan-lahan, lembar demi lembar, mengurung orang.

Sehingga ulat yang ada di dalamnya ingin melepaskan diri menjadi kupu-kupu.

- MAAF AKU TAK BISA ANTAR KE BANDARA. - TAK APA, AKU TUNGGU PINGKAN DI JEPANG.

[mesin menderu]

- Pak, mau dibawakan? - Maaf, Pak. Sudah ada.

Tidak, Pak. Terima kasih.

- Sar, diangkat? - Belum.

Di mana ya?

Coba sebutkan satu kata tentang Manado.

Hmm.

- Pak Sarwono? - Ya.

Aku bilang apa?

[alunan gitar ceria]

[Pingkan, narasi] Sarwono adalah sahabat Toar, kakakku.

Mereka bersahabat sejak masih sekolah di Solo.

Aku juga lahir lalu tinggal di Solo.

Ayahku Manado dan ibuku asli Solo.

Kalau kata Toar, kami itu "Manadokat". Manado bukan, Jawa juga bukan.

Kalau kata Sarwono, aku dan Toar itu Indonesia Raya.

[Sandra] Selamat pagi.

- Aku Sandra. - Aku Sarwono.

Akhirnya kita bertemu di sini, Pak Sarwono.

Ayo, mari. Sudah disiapkan.

Kue-kue khas Manado.

- Ini siapa? - Pingkan.

Ya, aku Sandra.

Ini koyabu.

Ini enak sekali. Cobalah.

- [Tumbelaka] Ibu panggil aku? - Pasti suka.

Ini Pak Tumbelaka.

Pak Tumbelaka, perkenalkan.

Ini Pak Sarwono, yang dari UI.

Oh.

- Aku Sarwono. - Tumbelaka.

Lalu ini siapa?

Pingkan.

Asistenku selama di Manado, Pak.

Baiklah. [tertawa]

Nanti, setelah ini, Pak Tumbelaka yang akan mengantar Pak Sarwono

untuk berkeliling kampus kami ini.

Baik.

Khusus Fisipol, selain S1 reguler,

ada juga S1 ekstensi.

Jurusannya ada Ilmu Komunikasi,

Administrasi Negara, Administrasi Niaga dan juga...

Ilmu Pemerintahan.

[Sarwono] Kalau Antropologi, Pak?

Kalau Antropologi hanya ada yang reguler.

Ada yang Pingkan mau tanya?

- Bagaimana, Pak? - [bahasa Manado] Ada yang mau ditanyakan?

[bahasa Indonesia] Belum.

Kudengar dari Pak Sarwono, Pingkan orang Manado?

Itu ayahku.

[bahasa Manado] Apa nama keluargamu?

Dondokambey.

[tertawa, bahasa Manado] Ya! Manado sekali! Manado!

Manado, Pak.

[Tumbelaka tertawa]

[bahasa Indonesia] Sekarang kita mau mengenalkan

Pak Sarwono ke dekan kami.

Bagaimana maksudnya, Pak?

Mau dikenalkan ke dekan dulu

atau langsung ke keluarga besar?

[tertawa mengejek]

[tertawa]

Capek?

Menurutmu?

Ya sudah, tidurlah.

[obrolan samar]

[alunan gitar riang]

Sar, tidurlah. Kita tadi pergi dari subuh, 'kan?

Ya, kalau kamu butuh aku, aku di sebelah, ya?

Kalau kamu memang membutuhkanku, aku di sini, ya?

Aku selalu membutuhkanmu, Pingkan.

["Memulai Kembali", Monita Tahalea]

Dasar gombal.

♪ Matahari sudah di penghujung petang ♪

♪ Kulepas hari dan sebuah kisah ♪

♪ Tentang ingat pilu Yang dahulu melingkupi ♪

♪ Sejak saat itu langit senja Tak lagi sama ♪

- Halo? - Pingkan, ini Tante Henny.

- Ya, Tante? - Nanti malam jadi ke rumah, 'kan?

- Jadi, Tante. - Baiklah.

- Kamu bersama siapa? - Bersama Sarwono.

- Sar siapa? - Sarwono.

Siapa itu?

Sarwono, Tante.

Ya, siapa dia?

Kekasih? Teman kerja?

♪ Aku mencari ♪

♪ Aku berjalan ♪

♪ Aku menunggu ♪

♪ Aku melangkah pergi ♪

♪ Kamu tak lagi kembali ♪

[teriakan dan obrolan samar]

Ramai, ya.

Hei, Pingkan datang!

- Om! - [om] Sini, sini! Naiklah.

[Pingkan, narasi] Ayah meninggal waktu aku masih kecil.

Sejak itu, aku sangat jarang bertemu keluarga Ayah.

[mengesah]

Tiba-tiba aku merindukan Ayah.

Ayah yang selalu menolak untuk berbicara dalam Bahasa Jawa.

Karena merasa tidak pas untuk bibirnya.

Aku juga rindu suara Ibu

yang selalu berbicara dalam Bahasa Jawa.

Suaranya seperti sebuah nyanyian purba yang tunggal nadanya.

Henny, Pingkan sudah datang.

- Tante! - Pingkan!

- Bagaimana kabarmu? - Baik, Tante.

- Mama sehat? - Mama sehat. Om, apa kabar?

Pingkan, ini baru memang Putri Minahasa.

- Mari masuk. - Ayo.

Wah, ini banyak sekali.

Semua ini Tante Henny-mu yang menyiapkan.

- Ini semua? - Ya.

Khusus menyambut kedatangan Pingkan.

- Ah, Om. - Ayo.

Aku coba, ya.

Hei, selamat malam semua.

[bahasa Manado] Kenapa kamu baru pulang?

Kamu sudah tahu ada acara. Sini.

[bahasa Indonesia] Ada pertemuan dengan klien, jadi, terlambat.

Pingkan?

Pingkan! Gila, sudah lama sekali.

- Gila. - Benny.

- Apa kabar? - Baik.

Sar. Ben, ini Sarwono.

Ini Benny, sepupuku.

Sarwono.

Namaku Matindas.

[tertawa keras]

Kamu masih ingat dongeng itu?

- Ya. - Dongeng apa?

- Kamu cerita. - Kamu saja yang cerita.

Baiklah, ini dongeng

Putri Pingkan Lumelenoan dan Matindas.

Namaku diambil dari situ.

Dan ini, Si Benny, dari dulu, senang mengaku dirinya sebagai Matindas.

Aku Matindas.

Tapi namamu bukan Matindas, 'kan?

[tawa keras]

Baiklah.

Ini tentang Pingkan dan kebetulan, Pingkan ada.

Bagaimana kalau pendamping wanitanya Pingkan saja?

Pas. Benny 'kan mau menjadi pendamping prianya.

Itu dia, Tante. Sama seperti dulu.

[bahasa Manado] Pingkan dan Benny, tak terpisahkan.

[paman, Bahasa Indonesia] Tunggu dulu.

[bahasa Manado] Ibu-ibu semua seharusnya bertanya ke Pingkan.

Pingkan mau atau tidak?

[alunan gitar ceria]

Putri Pingkan yang cantik.

[bahasa Manado] Tante, kamu tampak lebih muda.

Aku keliru.

[tertawa bersama]

[bahasa Indonesia] Tante.

Putri Pingkan yang cantik.

Sudikah kamu menjadi pasanganku?

[bahasa Manado] Putri Pingkan yang cantik.

Maukah kamu menjadi kekasihku?

[semua tertawa]

Memang kapan acaranya?

[menyanyikan "Apitoria"] ♪ Hari ini hari gembira ♪

♪ Ence rewe rewer bom bom ♪

♪ Mari bernyanyi bersuka ria ♪

♪ Ya hura hura apitoria nona ♪

♪ Apitoria apitoria ♪

♪ Ence rewe rewer bombom ♪

Ini fotoku dengan Pingkan.

[bahasa Manado] Sejak masih kecil, aku dan Pingkan sudah dekat sekali.

[bahasa Indonesia] Aku diangkat anak oleh Ibu sejak usia enam tahun.

Dari kecil atau cuma waktu kecil?

Hei, kalian membicarakan apa?

- Tidak. - Kamu.

Aku?

Aku, Ben?

- ♪Bom bom ♪ - Apa sih?

- ♪ Apitoria ♪ - Apa?

♪ Apitoria ♪

♪ Ence rewe rewer bom bom ♪

♪ Ular hitam naik di batu ♪

♪ Ence rewe rewer bom bom ♪

[Sarwono] Selamat pagi, semuanya.

Bisa dilihat, ini adalah hasil revisi draf dua

bentuk kerja sama Antropologi UI dengan Unsrat.

Dalam ruang lingkup kerja sama,

kita akan memusatkan pikiran pada efek psikologis dan sosial.

[Tumbelaka] Mbak Pingkan.

[lirih] Mbak Pingkan, mau tambah teh?

Tehmu sudah habis. Sini.

Pak Tumbelaka.

Masih ada, Pak.

[Sarwono] Bagi anak-anak bekas konflik.

Bagaimana perkembangan generasi penerus...

Lihat. Sudah habis.

Di saat mereka hidup dalam konflik.

Bagaimana perkembangan generasi penerus

di saat terjadi konflik suku dan agama.

Ya, bisa dilihat di halaman dua, pasal tiga.

- Ini adalah... - Pak Tumbelaka!

CARA TERBAIK MENEMUKAN JATI DIRI ADALAH MENGHILANGKAN DIRI SENDIRI UNTUK MELAYANI

- Ayo. - Kok lama?

Masa sih?

Mereka menunggu di depan.

Katanya mau mengajak makan siang, lalu melihat patung.

Patung apa?

- Aku tak tahu. - Pak Tumbelaka ikut atau tidak?

[tertawa mengejek]

Apa maksudmu? Kenapa mengejek, Sar?

Siapa tahu dia bisa melayanimu terus.

Kenapa kamu tak cemburu?

Untuk apa?

Pak Tumbelaka nanti malam mengajakku makan malam. Berdua.

Nanti sore, kita ke Gorontalo.

Gorontalo?

Universitas Negeri Gorontalo baru membuka program studi baru.

Mereka juga tertarik bekerja sama dengan UI.

Mumpung aku di sini, ya sudah, aku saja yang berangkat.

Kenapa aku baru mengetahuinya?

[alunan gitar ceria]

Sama, aku juga baru tahu.

- Sewaktu kamu buang air kecil lama tadi. - Menyebalkan.

[bahasa Inggris] Hore!

[alunan gitar ceria berlanjut]

Ayo kita berfoto.

Sini, foto.

- Tak usah. - Sebentar saja. Swafoto.

Tak usah, Pingkan.

Kenapa?

Karena ini Yesus?

[tertawa]

- Ya bukan. - Lalu kenapa?

Ya, karena itu patung.

Simpan senyum terbaikmu

untuk berfoto dengan Yesus yang sebenarnya.

[tertawa]

Jadi, menurutmu, aku masih terpikir melakukan swafoto

kalau benar-benar bertemu Dia?

Kamu mengarang.

[batuk]

Sar, kamu yakin mau menyewa mobil tanpa sopir?

- Yang menyewakan mobil yakin. - Sar, maksudku kamu.

Kamu yakin atau tidak bisa mengemudikan sendiri?

Sarwono, kita dalam kondisi yang kurang bugar.

Aku sudah lupa rasanya 100 persen bugar.

Kamu tak boleh bilang begitu.

Hei! Sarwono!

Selamat sore!

- Benny! - Ayo kita berangkat.

Ini.

[Pingkan] Kamu tadi menjawab di Whatsapp seperti itu.

- Tapi kamu bisa. - [bahasa Manado] Bisa.

[bahasa Indonesia] Sebentar.

Sarwono ini lemah. Angkat!

- Bisa atau tidak? - Bisa!

Tapi, aku pulangnya naik pesawat.

- Menghemat waktu. - Baiklah.

Sarwono.

Kau tampak letih.

Mana kuncinya? Cepat.

Sini. Sini.

[Pingkan] Ayo!

[alunan gitar penuh semangat]

[suara azan dari ponsel]

SAATNYA SALAT MAGHRIB KOTA MANADO

Aku salat dulu, ya.

Kapan? Sekarang?

Yes, Benny. Ini memang sudah Maghrib.

[Benny] Ya, Bu. Kami baik-baik saja. Semua baik-baik saja.

- Sarwono salat. - Benny, sini.

Ibu, sudah dulu, ya. Nanti telepon lagi.

Tante Henny bilang apa?

Ibuku bilang,

aku harus mengondisikan antara kamu dan Sarwono.

Maksudnya mengondisikan bagaimana?

Sayur.

Ibuku bilang, aku harus mengondisikan,

artinya menjagamu dan Sarwono sampai ke tujuan.

- Sarwono mana? - Itu.

Salat lima waktu.

Kamu apa lagi? Mau ini?

Hei, aku ingin bicara. Kemarilah.

- Tapi ini sambil dimakan. - Ya.

Dia cemburu atau tidak kalau aku ikut?

Jujurlah.

Mudah-mudahan.

[alunan musik lucu]

Sar! Sarwono, makan.

- Salatlah lagi. - Hei.

Ayo, makan. Sini.

Duduklah. Ayo makan.

Kamu mau ikan?

- [bahasa Manado] Hei, beri aku. - [bahasa Indonesia] Ini masih banyak.

Sayur, ya.

- Enak atau tidak? - Enak.

Aku merasa seperti bulan Ramadan.

Terus, aku sedang berbuka bersama istri.

Maksudmu istri yang kurang soleha ya? Aku 'kan tidak memakai jilbab.

- Makan, Ben. - Ya.

Sayur.

[alunan gitar ceria]

Tak ada jaz.

Ben, Sarwono ini bapak setan jaz Indonesia.

Ya, 'kan, Sar?

[batuk]

- Dari teleponku saja langsung, ya? - Ya.

["Buaian Asmara", oleh Bubi Chen]

- Ini siapa ya? - Ini Bubi Chen, Pingkan.

Bubi Chen sudah belajar piano dari umur lima tahun.

Waktu itu dia diajari oleh Di Lucia, pianis Italia.

Waktu itu, dia belum bisa membaca not balok.

Tapi, di umur 12 tahun,

dia sudah bisa mengaransemen karya-karya Beethoven,

Mozart, dan Chopin, semuanya dibuat menjadi jaz.

Tahun 1960-an, ada kritikus jaz ternama dari Amerika.

Namanya Willis Conover.

Dia menyebut kalau Bubi Chen ini adalah

[bahasa Inggris] "Pianis Terbaik Asia".

[bahasa Indonesia] Sombong.

Sarwono, orang Manado juga mendengarkan Chopin,

Mozart, Debussy, dan Bach.

[bahasa Manado] Telinga orang Manado tak pernah salah memilih musik.

[Pingkan, narasi] Kalau sudah berbicara tentang musik favorit,

mata Sarwono akan seperti memandang langit,

yang kata puisi tidak ada batasnya.

Yang hobinya bercermin pada laut.

[mengesah]

Apa dosa dan salahku, maka telah mencintai

pria Jawa yang pemikirannya sering ketinggalan zaman ini?

SUDAH SAMPAI DI MANADO?

[Benny] Sar, tidurlah.

Dari pada kamu bingung mencari bahan pembicaraan denganku.

Atau, kamu mau tahu asal-usul nama Pingkan?

Untuk apa?

Biar kamu yakin seyakin-yakinnya

kalau Pingkan bukan Jawa, dia Manado.

Ben, dongeng memang jawaban paling jitu

bagi pertanyaan yang diajukan oleh suatu kaum

tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya.

Bahasamu tinggi sekali.

Kamu dosen?

- Atau, daya tangkapmu... - Aku mau buang air kecil!

[alunan biola bersemangat]

[Benny, bahasa Manado] Pingkan, Sar, ayo!

Kenapa kalian mengobrol?

[bahasa Indonesia] Siapa yang mengobrol? Kami sedang melamun.

- Ayo. - Aku mendengar kamu bilang apa.

Walaupun kamu tak bicara.

Kenapa kamu membela Benny?

Aku duduk depan biar kamu bisa tidur.

Bagus. Tidur.

Kamu betul-betul berpacaran dengan dia?

Kamu berani menikah dengannya?

Berani bagaimana maksudmu?

Kalau kamu disuruh memakai jilbab...

Sst.

- [berbisik] Mau? - Ben.

Memangnya kalau aku memakai jilbab kenapa?

Terus anak-anak bagaimana? Anak-anak nanti bagaimana?

- Mau ikut siapa? - Ikut...

orang tuanya.

[batuk]

[alunan piano lembut]

[alunan paduan suara megah]

[alunan orkestra sayu]

[alunan paduan suara teduh]

SUDAH, MAAF BARU ADA SINYAL.

[alunan orkestra sayu]

Kau bisa atau tidak?

- Selamat pagi, Pak Sarwono. - Pak Ahmad.

Pak, ini Pingkan.

Lebih tepatnya Profesor Ahmad.

Dia lulusan UI juga.

Kebetulan, aku perwakilan dari Universitas Negeri Gorontalo.

Baru sampai, kami disambut oleh profesor.

Mana sini. Lambat sekali.

- Ini... - Sopir, Pak.

Sepupuku, Pak.

Benny.

Ya, mari silakan.

- Perlu dibantu atau tidak? - Tidak. Sudah.

- Ayo. - Sudah diangkat.

Mau memesan yang dua ranjang kecil atau satu ranjang besar?

Tapi, aku pesan kemarin hanya satu kamar.

Bukannya tadi ditawari dua tipe kamar, ya?

[alunan biola ceria]

Kenapa kamu harus sebegitunya menolak satu kamar?

Karena ada Benny?

Takut dia cemburu?

Atau takut dia bilang sama keluarga besarmu?

Karena kamu mendengkur, Sar.

Kamu terganggu kalau aku mendengkur, ya?

Makanya, berhentilah merokok.

Aku sudah berhenti.

Kamu berhenti kalau di depanku saja. Memang aku tak tahu?

Aku berhenti merokok karenamu.

Bukan berarti kalau aku tak bersamamu aku masih merokok.

Kalau kamu tak percaya, berarti kita tak boleh berpisah.

[tertawa] Itu 'kan maumu. Dasar.

Sepupumu tercinta tidur di mana?

Benny menginap di tempat temannya.

Lagi pula, dia harus mengejar pesawat nanti sore untuk ke Manado.

Dia baik, ya? Mau mengantar kita.

Sarwono, Benny itu sepupuku.

Tapi tak sedarah.

Dia bilang kepadaku kalau dia anak angkat.

Jadi, kemungkinan itu selalu ada.

Kemungkinan apa?

[mendengkur]

[alunan biola romantis]

[Pingkan, narasi] "Bagaimana mungkin seseorang

memiliki keinginan untuk mengurai kembali,

benang yang tak terkirakan jumlahnya,

dalam selembar sapu tangan yang ditenunnya sendiri?"

[suara disunyikan, tertutupi alunan biola romantis]

[alunan biola melirih]

[bahasa Jawa] Ada apa?

[bahasa Indonesia] Entah bagaimana...

dosen yang bernama Pak Tumbelaka itu

bisa menemukan jejak keluarga Dondokambey sampai ke Tante Henny.

Dia mau menikahiku, Sar.

Hidupku akan jelas setelah menikah dengannya.

Setelah menikah, aku akan mengajar di Unsrat.

Tante Henny juga memintaku untuk pulang ke rumahnya...

setelah perjalanan dari Gorontalo ini untuk membahas hal tersebut.

Aku tak takut sama Pak Tumbelaka.

Yang aku takuti itu...

Katsuo.

Orang yang akan menghabiskan waktunya dua tahun sama kamu.

Kamu tinggal melarangku untuk pergi ke Jepang.

Jangan.

Kamu mau melihat sakura, 'kan?

[bahasa Gorontalo] Pak Sarwono, rapatnya sudah mau mulai.

- [bahasa Indonesia] Sekarang, Pak? - Ya, sekarang.

Baik, Pak. Aku tinggal ya.

[Pingkan, narasi] Bagaimana mungkin seseorang

bisa mendadak terbebaskan dari jalinan benang?

Yang susun-bersusun, silang-menyilang.

Timpa-menimpa dengan rapi.

Di selembar sapu tangan yang sudah lama ditenun dengan sabar.

Oleh jari-jarinya sendiri, oleh kesunyiannya sendiri.

Oleh ketabahannya sendiri.

Oleh tarikan dan embusan napasnya sendiri.

Oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri.

Oleh kerinduannya sendiri. Oleh penghayatannya sendiri.

Tentang hubungan-hubungan pelik antara wanita dan pria

yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin?

Terima kasih, Pak.

- Ini sudah menjadi peraturan hotel kami. - Benny?

Pingkan! Sarwono juga.

[bahasa Manado] Aku tadi meneleponmu, tapi teleponmu mati.

[bahasa Indonesia] Bukannya tadi sore kamu seharusnya kembali ke Manado.

Semua urusan sudah kutunda sampai lusa. Tak masalah.

Sudah makan malam?

[Benny] Ini untuk Putri Pingkan.

Ini untuk...

Raden Sarwono.

[Benny tertawa]

Aku di sini mengganggu kalian tidak?

Hmm?

- Tidak. - Ya.

Tidak, 'kan?

Enak,

ada menyetirkan. Ya, 'kan?

Aku sudah. Cuci tangan. Sebentar, ya?

Ya, ya.

Kami akan menikah, Ben.

[bahasa Manado] Apa maksudmu?

[bahasa Indonesia] Sebesar apa pun orang lain berusaha memisahkan kami,

kami akan tetap menikah.

Bahasaku tak terlalu tinggi, 'kan?

Tidak, tidak.

[mengesah]

- Pingkan. - Apa?

Em.

Aku jadi naik pesawat besok pagi.

- Kenapa? - Tak apa-apa.

Ibuku bilang,

besok, kau tetap harus menginap di rumah ibuku, ya?

["Perdamaian", oleh Nasida Ria] ♪ Bingung-bingung kumemikirnya ♪

♪ Perdamaian, perdamaian Perdamaian, perdamaian ♪

Sar, panas sekali, ya?

Namanya juga bulan Juni.

Ya, pasti panas.

Kamu sedang apa, Sar?

Sedang menulis puisi.

Tentang bulan Juni.

Sar, kamu kenapa tak pernah mengirim puisi-puisimu ke koran?

Puisiku itu hanya untukmu.

Bilang saja kamu tak berani.

Aku takut kalau orang lain takkan mengerti membaca puisiku.

Aku saja sering tak mengerti membaca tulisanmu.

Sudah atau belum?

Kalau pun sudah, kamu menjadi pembaca kedua.

Terus pembaca pertama siapa?

Ya, aku.

[Pingkan] Menyebalkan.

[alunan gitar romantis]

Ini tanah airmu, ya?

- Ini Indonesia, Sar. - Kupikir Wonderland.

- Negeri peri? - Ya, kamu Alice.

Tidak, aku tak mau menjadi Alice.

Terus maunya menjadi siapa?

Aurora, putri tidur.

Baiklah. Berarti, aku Shrek, ya?

Shrek itu pacarnya Putri Fiona, bukan Aurora.

[batuk]

Lihat. Shrek itu tak pernah batuk, Sarwono.

Tak ada noda di paru-parunya.

Dasar.

Ayo, Shrek. Mendayunglah yang benar.

Tidak, tak jadi. Aku tak mau menjadi Shrek.

Lalu, maunya menjadi apa?

Aku musafir, yang sedang mencari air.

Kamu sungai, yang melata di bawah padang pasir.

[alunan orkestra ceria]

Sar?

- Sar? - Apa?

[Sarwono] Bensinnya habis.

Sarwono, Sarwono.

Terus bagaimana?

Sebentar lagi bensinnya juga lewat.

Apa maksudnya? Aneh.

Kutelepon Benny sebentar, ya?

Buat apa?

[tertawa]

Astaga. Kamu masih jengkel?

Sar, aku hanya ingin bertanya, patokan ke Pantai Lumintang itu di mana?

Kamu tak perlu bertanya ke Benny.

Aku tahu jalan ke sana.

Masa?

Kamu benar-benar tahu tidak?

Jangan telepon Benny, ya.

Telepon, ah. [tertawa]

Kutelepon, ya?

Tidak. Aku tidak menelepon.

Sar?

- Ya? - Bunganya bagus.

- Ya. - Cantik, ya?

[alunan paduan suara romantis]

[suara kaki kuda mendekat]

Pak! Pingkan!

Bensinnya sudah datang. Ayo.

Ayo.

[alunan orkestra romantis]

Sar, kalau kita ke pantainya naik ini bagaimana?

- Kamu konyol. - Memang kenapa tak bisa?

Jauh, 'kan?

Puisiku sudah jadi.

Aku tak mau membacanya.

Kenapa?

Aku mau kamu yang membacakan langsung untukku.

[alunan piano lembut]

"Tak ada yang lebih tabah...

dari hujan bulan Juni.

Dirahasiakannya rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak...

dari hujan bulan Juni.

Dihapusnya jejak kakinya yang ragu-ragu, di jalan itu.

[alunan orkestra romantis]

Tak ada yang lebih arif...

dari hujan bulan Juni.

Dibiarkannya yang tak terucapkan...

diserap akar pohon bunga itu."

[musik romantis mengeras]

Tapi 'kan...

bulan Juni tidak bisa dipisahkan dengan panasnya yang minta ampun itu.

[alunan musik romantis meluruh]

Puisiku punya dunianya sendiri, Pingkan.

[alunan orkestra romantis berlanjut]

[Pingkan, narasi] Sebuah perjalanan bisa mengubah seseorang

yang tadinya memiliki kebebasan mutlak seorang lajang...

menjadi sosok yang merupakan bagian dari sepasang burung merpati,

yang sudah ditakdirkan berada dalam satu sangkar.

Walaupun keduanya berasal dari hutan yang berlainan.

Hei, pria ketinggalan zaman.

Jangan-jangan, Matindas itu kamu.

Tidak, aku tak mau.

Matindas itu 'kan sepupumu yang ganteng itu.

Kamu menyebalkan.

Tapi, sebenarnya, siapa Matindas?

[alunan musik romantis]

Matindas adalah sosok panglima perang.

Yang mengukir patung menyerupai kecantikan Putri Pingkan

yang sangat dia cintai...

agar dia bisa membawa patung itu ke manapun dia pergi.

Patung itu mengukir perasaan Matindas.

Yang merekam juga kecantikan dan juga kebaikan hati Putri Pingkan.

"Ciumlah aku jika kamu merindukanku."

Kata Putri Pingkan ke Matindas.

Ya, terus?

Putri Pingkan dan Matindas itu hubungannya apa?

[musik romantis memudar]

[alunan gitar ceria]

Jadi, sebelum kamu berangkat ke Jepang,

kamu mau memberiku patung?

Ya?

[alunan orkestra romantis]

Ibu?

Air mineralnya dua, ya.

[ayam berkokok]

[nada dering pesan]

[Pingkan, narasi] "Pada suatu hari nanti, jasadku takkan ada lagi.

Tapi dalam bait-bait sajak ini, kamu takkan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti, suaraku tak terdengar lagi.

Tapi di antara larik-larik sajak ini, kau akan tetap kusiasati."

[sapi melenguh]

"Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi.

Namun di sela-sela huruf sajak ini, kamu takkan letih-letihnya kucari."

[alunan biola romantis]

Sarwono.

Seharusnya kamu, Sar...

yang membuatkanku patung.

Yang bisa merekam dan membaca ulang semua puisi kamu.

Kenapa rasanya...

lebih cocok aku yang menjadi Matindas?

Matindas yang mau berangkat berperang.

Perang ke mana?

Jepang.

Jangan-jangan dugaanku benar, ya?

Apa?

Dari awal kamu tahu, Pingkan.

Aku tak pernah takut sama Benny.

Benny yang takut kepadaku.

Jadi, sekarang tugasmu untuk membuat Katsuo takut.

Itu bukan tugasku.

Itu tugasmu.

[alunan piano romantis]

[Sarwono] Mau kutemani sampai ke dalam?

Tak usah. Aku sendiri saja, ya?

Kamu yakin mau menginap di wisma Unsrat, bukan di hotel saja?

Kamu yakin mau menginap di rumah Tante Henny,

bukan di hotel saja?

[tertawa]

[bahasa Manado] Tante masih belum mengerti hubunganmu dengan Sarwono.

Hubungan kalian tak memiliki kejelasan.

Apa kata ibumu?

[tertawa]

[bahasa Manado] Aku lupa.

Ibumu sama seperti Sarwono.

Sampai sekarang Ibu masih sama seperti Sarwono.

Jawa dan Solo.

[batuk]

Omong-omong...

...kenapa Pak Tumbelaka bisa menghubungi Tante Henny?

Dia saudaranya teman.

Teman dari sahabatnya Om Eddy.

Om Eddy adalah sepupu Om. Ya, 'kan?

Baiklah.

Pingkan, di mana pun kita berada,

hubungan kekerabatan antarsesama orang Manado

harus terjaga.

Ya.

Jadi, jika kelak terjadi sesuatu kepadamu,

[bahasa Manado] misalnya, kamu bercerai dengan suamimu,

kamu tak sendirian.

Ada yang membelamu. Ya?

[bahasa Indonesia] Jadi kalau kelak, terjadi sesuatu denganku,

Om dan Tante akan diam saja, karena aku menikah dengan Sarwono

yang bukan Manado?

Jadi, benar?

[bahasa Manado] Kamu ingin menikah dengan Sarwono?

[meletakkan sendok]

[bahasa Indonesia] Yang pasti bukan dengan Pak Tumbelaka.

[bahasa Manado] Jika kamu tak mau dengan Pak Tumbelaka...

[bahasa Indonesia] masih ada Benny!

[bahasa Manado] Benny baru saja putus dari kekasihnya.

- [bahasa Indonesia] Ya, 'kan, Ben? - Ya. Dia tak baik untukku.

- Ben! - Apa?

Kamu seharusnya membelaku. Kenapa diam saja?

Kamu mau aku bilang apa?

Kamu mau dijodohkan seperti ini?

[bahasa Manado] Pingkan, selama calonku dari Manado,

dan seiman, aku tak masalah.

- Itu betul. - [bahasa Indonesia] Kita berjodoh.

Kamu cantik, aku gagah.

Ya, benar.

[Pingkan, narasi] Benny memang ganteng.

Benny lebih mendekati gambaran Matindas yang ksatria.

KANGEN.

[alunan romantis lembut]

Begitu juga Katsuo.

Katsuo bahkan bisa dibilang sempurna untuk menjadi Matindas.

Tapi Katsuo bukan Sarwono.

Benny bukan Sarwono.

Bahkan Matindas bukan Sarwono.

Cuma ada satu Sarwono di dunia ini.

AKU JUGA KANGEN.

CIE.

[Sarwono] Ini Jepang?

Sakuranya mana?

Belum, Sar.

Sebentar lagi.

Pingkan, kita 'kan ke sini cuma mau melihat sakura.

Sakura yang mekar hanya di awal musim semi,

dan langsung gugur seperti ronin yang kepalanya dipenggal

oleh samurai yang dikhianatinya.

Sakura tak pernah berkhianat kepada siapa pun, Sarwono.

[lonceng berdentang]

[suara weker ponsel]

[alunan orkestra ringan]

[Benny, bahasa Manado] Jadi, dia itu siapamu? Sarwono?

Kamu sudah...

berciuman dengannya?

[berbisik] Ben!

[Teriak, bahasa Manado] Pernah tidur dengannya?

[Benny tertawa]

[berbisik] Benny, kamu kalau bicara jangan asal.

[Benny berbisik, bahasa Manado] Hanya bertanya, sudah atau belum?

[nada normal] Bagaimana kamu tahu kalau...

dia benar-benar sayang kepadamu?

[bahasa Indonesia] Sarwono itu sering menulis puisi untukku.

Puisi itu abu-abu.

[bahasa Manado] Bagaimana bisa kamu percaya dengan itu?

[bahasa Indonesia] Puisi Sarwono itu tak pernah abu-abu, Benny.

Hah?

[berbisik, bahasa Manado] Dia sudah datang.

[bahasa Indonesia] Maaf, ya, Bu.

- Sar. - Halo.

[mengesah] Pingkan.

[bahasa Manado] Aku boleh bicara dengan Sarwono sebentar?

[berbisik, Bahasa Indonesia] Untuk apa? Tak usah saja.

[berbisik, bahasa Manado] Sebentar saja.

[bahasa Indonesia] Ayo.

Pingkan itu orangnya keras kepala.

Betul.

Tapi kepala memang diciptakan Tuhan menjadi bagian tubuh yang paling keras.

Sarwono, aku serius.

Kamu pikir aku bercanda?

Sarwono, sampai kapan pun,

dia tetap menjadi Putri Pingkan-ku.

Aku tak mau dia salah pilih.

Di kerajaanmu itu tak ada bandara, Ben.

Maksudmu apa?

Ini masa kini. Ini bukan saatnya Putri Pingkan hidup.

Ini nyata, Ben.

Dan di sini ada aku.

[nada dering pesan]

DI SINI DINGIN, MAU KUBELIKAN JAKET?

Kamu juga keras kepala ya?

Jelas.

Cuma di saat aku dipaksa melepaskan Pingkan.

Aku tak memaksa. Tidak.

Dari awal kamu sudah melakukannya, Ben.

AKU SUDAH MEMBELINYA. TERIMA KASIH.

[pengumuman di pengeras suara bandara]

Terima kasih, ya.

- Sar, sudah? - Ya.

Ben, aku pergi, ya.

Ya.

["Hujan Bulan Juni", oleh Ghaitsa Kenang] ♪ Lebih tabah ♪

♪ Dari hujan bulan Juni ♪

Satu kata tentang Manado. Waktu itu kamu belum menjawabnya.

Sar.

Apa?

Teduh.

♪ Yang tak terucapkan ♪ ♪ Diserap akar ♪

♪ Pohon bunga itu ♪

[Pingkan, narasi] Perjalananku dan Sarwono dengan cepat menjadi bagian dari kemarin.

Kami kembali berada di sini.

SAMPAI JUMPA, IBU PINGKAN

Di tempat yang mendadak terasa kecil karena tak cukup menampung semua rasa.

Di rentang waktu yang mendadak singkat karena tak cukup menggemakan semua kisah.

Sebuah tempat persinggahan sebelum kami melanjutkan perjalanan berbeda arah.

["Hujan Bulan Juni", oleh Ghaitsa Kenang]

[Sarwono] Aku ditugaskan ke bagian timur.

Indonesia timur?

Memantau perkembangan masyarakat dari bagian bekas konflik.

- Delapan sampai sepuluh bulan. - Itu lama sekali.

Ya, tak apa-apa. Lumayan.

Bisa menjadi isu pengalihan rindu.

[tertawa]

Ibu!

- Pingkan! - Astaga, Ibu.

[Pingkan] Kupikir masih nanti malam.

- Sarwono! - Sar.

Sar.

- Selamat datang, Ibu Dondokambey. - Terima kasih, Sarwono.

[Pingkan, narasi] Dan hari ini pun tiba.

Hari aku memulai sebuah perjalanan baru

ke negeri di mana aku belum tahu

apakah aku akan menjadi ronin atau sakura.

Hei.

Aku berangkat, ya.

[pengumuman dari pengeras suara bandara]

Aku kenapa berharap...

waktu tiba-tiba berhenti, ya?

Di sini?

Jangan, Sar. Ini terlalu ramai.

[alunan musik romantis]

Sarwono.

Jangan bosan, ya?

Bosan apa?

Bosan dengan rasa rindu.

Kamu juga, ya?

[alunan orkestra lembut]

[Pingkan, narasi] "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api

yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada."

[Pingkan] Tempat ini sering didatangi turis.

[Sarwono] Dia sering menjadi tontonan, ya?

[Pingkan] Aku bukan turis, Sar.

Ini rumahku.

Aku sedang tidak menonton-Nya.

Lalu kamu sedang apa?

Dia sedang berbicara denganku.

Apa kata-Nya?

Sst.

"Aku bersamamu.

Aku akan selalu bersamamu.

Meski kamu sering meninggalkan-Ku

karena terlalu sibuk menaklukkan dunia."

[musik tegang]

[suara weker ponsel]

[alunan sitar lembut]

[alunan musik ceria]

[bahasa Jepang] Katsuo, kuil apa ini?

[bahasa Jepang] Cabang dari Kuil Hokkaido. Ayo.

Tunggu sebentar. Aku mau berdoa.

[lonceng kuil berdenting]

[tertawa]

[bahasa Jepang] Kenapa tak minta orang memotretkan?

Maaf.

Baiklah.

Katakan "cheese".

RUMAH DEWA

[nada dering pesan]

KALAU FOTOMU TAK DISUNTING, SIAPA DI SAMPINGMU?

TANGANNYA MASIH TERLIHAT.

[bahasa Indonesia] Di sana bagaimana? Makanannya enak atau tidak?

Ya enak. Di sini yang tak enak cuma satu.

Sinyalnya. Jadi, nanti kalau tiba-tiba mati...

[telepon berdering]

- Siapa? - Katsuo.

Kenapa tak diangkat?

Paling dia mau mengingatkanku, sebentar lagi aku ada kelas.

Dia mengingatkanmu setiap hari?

[telepon berdering]

Sudah. Sana diangkat.

Sekarang, lebih baik kamu menjawab pertanyaanku yang tadi.

Apa itu cinta?

Cinta...

Sar?

[alunan pop ceria]

- Hai. - Hai.

[tertawa] Hai.

[bahasa Jepang] Maaf membuatmu menunggu.

[bahasa Indonesia] Tak apa-apa.

- [bahasa Jepang] Ini sashimi. - Ya?

Ini yukke.

[telepon berdering]

- Ini... - [bahasa Indonesia] Sebentar.

- Sar? - [Sarwono]Aku tak bisa lama-lama.

"Cinta itu menembus apa pun yang tak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan.

Cinta adalah sebuah ruang kedap suara.

Cinta tak bisa disidik dengan kata.

Sekalipun berupa sabda, cinta beriman pada senyap."

[telepon terputus]

[berbicara pelan] Sar?

[alunan orkestra sendu]

STASIUN SAPPORO

[alunan musik sendu berlanjut]

[alunan sendu memudar]

[alunan orkestra lembut]

SAR, SAKURANYA MULAI MUNCUL

[suara kamera memotret]

AKU LAGI DI TOBELO, DI RUMAH TOAR.

TAK MENYAMBUNG. SEDANG MEMBAHAS SAKURA. AKU MAU KAMU DI SINI.

AKU SELALU DI SITU.

[alunan biola sedih]

[bahasa Jepang] Kamu tahu aku bisa bermain biola?

[bahasa Inggris] Aku bisa bermain biola.

[bahasa Indonesia] Aku bisa bermain biola.

[bahasa Indonesia] Ya, aku mengerti. Kamu tak perlu memakai tiga bahasa.

[bahasa Jepang] Permisi. Boleh meminjamnya sebentar?

[memainkan melodi penuh perasaan]

[nada dering pesan]

APA ANGIN SUDAH SAMPAI KE SITU? TADI AKU TITIP PESAN LEWAT DIA UNTUKMU.

[nada dering pesan]

SEPERTINYA ANGIN LUPA BILANG KEPADAMU,

DAN SEPERTINYA KAMU TAK INGIN MENGETAHUI APA PESANKU.

[bahasa Jepang] Itu bagus. Hebat.

[bahasa Jepang] Permisi. Terima kasih.

Ayo.

[alunan orkestra sendu]

[Katsuo] Pingkan.

[Katsuo tertawa]

[bahasa Jepang] Cantik, 'kan?

[bahasa Indonesia] Terima kasih.

[alunan piano lembut]

[Katsuo tertawa, Bahasa Jepang] Kamu senang sekali melihat bunga sakura.

[bahasa Jepang] Aku ingin mengirim semua foto sakura ini ke Sarwono.

Bukankah orang Jepang juga senang saat melihat sakura mekar?

[alunan orkestra sendu]

[bahasa Indonesia] Sakura akan segera berubah menjadi sebuah benda mati.

Ketika waktu itu datang,

maka tidak pernah ada kebahagiaan yang abadi.

[bahasa Jepang] Ayo, sebentar lagi gelap.

Katsuo!

[bahasa Indonesia] Apa itu cinta?

Aku tidak tahu.

Tiba-tiba tidak penting juga buatku saat ini.

[Pingkan, narasi] Samurai yang kamu takuti telah kalah, Sar.

Tanpa pertempuran.

Dia kalah justru karena ketidakhadiranmu.

Ketiadaanmu di sini.

Dia kalah oleh kerinduanku kepadamu.

Di bawah pohon sakura yang bermekaran.

[alunan seruling sendu]

Halo?

Serius? Tiga-tiganya?

Pak, terima kasih. Ya, Pak.

[Pingkan, narasi] Dunia memasuki bulan Juni lagi.

Juni kini sudah memutuskan kontraknya dengan panas.

Juni kali ini hujan, seperti puisi Sarwono.

[bahasa Jawa] Sial.

[bahasa Jawa] Maaf. Aku ditunggu istriku, Mas.

- Maaf, ya? - Sial.

[alunan musik lembut]

[suara jalan di kejauhan]

[Sarwono batuk]

[Ayah Sarwono, Bahasa Jawa] Sar, ini koran apa?

[bahasa Indonesia] Koran untuk Pingkan, Ayah.

Dasar konyol. Untuk Pingkan?

- Ya. - [bahasa Jawa] Pingkan sudah pulang?

[bahasa Indonesia] Masih di Jepang, Pak.

Pingkan di sana tidak begini-begitu, 'kan, Sar?

Maksudnya apa, Ayah?

[bahasa Jawa] Maksud Ayah, tidak berbuat yang tidak-tidak.

- [bahasa Jawa] Tidak, Ayah. - Syukurlah.

[bahasa Indonesia] Awas, hati-hati, nanti hurufnya rontok semua.

Ayah, Ayah.

[batuk]

[Pingkan, narasi] Dan di Juni yang mendung ini,

setahun setelah Juni milikku dan Sarwono,

aku pulang.

Sebuah kepulangan sejenak.

Ada apa, Pingkan?

[bahasa Jepang] Aku harus menemui Sarwono dulu.

[Pingkan, narasi, Bahasa Indonesia] Sarwono tak kuberi tahu

karena aku tak ingin dia mempersiapkan apa-apa.

Dia selalu bisa merangkai kata-kata saat itu juga dan menjadi puisi.

Bukan sekadar kalimat tak berarti.

[alunan orkestra rindu]

Dia selalu bisa membuat pertemuan tanpa rencana menjadi kenangan.

Bukan sekadar ingatan, yang setiap detik bisa berganti.

Kamu di mana, Sar?

Kerinduanku sudah tak sabar ingin bercakap-cakap dengan kerinduanmu.

[telepon berdering]

[alunan biola tragis]

Sarwono sendiri yang minta Ibu supaya tak mengabarimu dulu.

Aku juga tak mengabarinya tentang kepulanganku.

Tadinya mau memberi kejutan.

[Pingkan] Sar! Apa yang kamu lakukan di sini?

Aku mendapat tugas. Tugas untuk menciummu.

Tidak. Aku tak mau.

Kalau kamu tak mau kucium,

kamu selamanya terpenjara di dunia ini.

Kucium, ya?

Biar tugasku tuntas.

Lebih baik kamu yang mengikutiku.

Biar noda di paru-parumu hilang.

Dasar konyol.

Sar! Sakura, Sar!

[alunan orkestra megah]

Sar?

Bangun, Nak. Kita sudah sampai.

Bapak, Ibu.

Ibu.

Sarwono bilang, kamu masih di Jepang.

Aku baru saja sampai tadi siang.

[Ibu Pingkan] Bagaimana perkembangan Sarwono, Bu?

Bu, aku boleh ketemu Sarwono?

Kutanyakan dulu ke dalam.

Ping, Sarwono minta

supaya Bapak memberikan koran ini untuk Pingkan.

[alunan piano lembut]

- Permisi. - Ya.

[Sarwono, narasi] "Bayang-bayang hanya berhak setia menyusur partitur ganjil.

Suaranya angin tumbang.

Agar bisa berpisah, tubuh ke tanah.

Jiwa ke angkasa. Bayang-bayang ke sebermula.

Suaramu lorong kosong.

Sepanjang kenanganku, sepi itu, mata air itu.

Diammu ruang lapang.

Seluas angan-anganku, luka itu, muara itu.

Di jantungku, sayup terdengar debarmu hening.

Di langit-langit tempurung kepalaku, terbit silau cahaya.

Dalam intiku, kamu terbenam.

Kita tak akan pernah bertemu. Aku dalam dirimu.

Tiadakah pilihan kecuali di situ?

Kamu terpencil dalam diriku."

Sar?

Kamu sedang ada di mana?

[terisak]

Jangan lama-lama perginya, ya, Sar.

Aku baru saja kembali ke sini.

[terisak]

Di tempat kita yang kedap suara.

[terisak]

[alunan suara lembut]

[monitor detak jantung merata]

[alunan suara lembut berlanjut]

Ini saatnya aku mengerjakan tugasku, Pingkan.

Tugas apa?

Menciumku?

Membebaskanmu, Sayang.

[suara terhenti di bawah alinan orkestra sedih]

[alunan musik sedih memudar]

[burung berkicau]

- Hei. - Hei.

Sebentar.

[bahasa Jepang] Buku-buku ini sangat indah.

[bahasa Jepang] Mana yang kamu baca?

[tertawa]

Seluruh puisi Sarwono telah menemukan takdirnya.

Itu adalah kamu.

[bahasa Indonesia] Ayo.

[bahasa Jepang] Aku masih ingin di sini sebentar.

Sampai jumpa di kelas.

Dah.

[alunan orkestra mendamba]

Kenapa kamu cuma bisa sebentar di sini?

Kenapa kamu harus lebih lama di sini?

Aku tak suka perpisahan, Sarwono.

Pingkan.

Tak ada yang suka perpisahan.

Dasar kuno!

[Pingkan, narasi] Semua puisi dalam buku Sarwono sudah habis kubaca berulang kali.

Berulang kali juga aku ingin tinggal dan menetap di antara huruf-hurufnya.

Karena di situlah ada ruang kedap suara yang penghuninya hanya kami berdua.

Dan di dalam ruang kedap suara itu, kami abadi.

"Mencintai angin, kita harus menjadi siut.

Mencintai air, harus menjadi ricik.

Mencintai gunung, harus menjadi terjal.

Mencintai api, harus menjadi jilat.

Mencintai cakrawala, harus menebas jarak.

Mencintaimu, harus menjelma aku."

["Memulai Kembali", oleh Monita Tahalea] ♪ Dan kabut sendu pun berganti ♪

♪ Menjadi rindu ♪

♪ Aku mencari ♪

♪ Aku berjalan ♪

♪ Aku menunggu ♪

♪ Aku melangkah pergi ♪

♪ Kau pun tak lagi kembali ♪

["Hujan Bulan Juni", oleh Ghaitsa Kenang] ♪ Tak ada yang lebih tabah ♪

♪ Dari hujan bulan Juni ♪

♪ Dirahasiakannya rintik rindunya ♪

♪ Kepada pohon berbunga itu ♪

♪ Tak ada yang lebih bijak ♪

♪ Dari hujan bulan Juni ♪

♪ Dihapusnya jejak-jejak kakinya ♪

♪ Yang ragu-ragu di jalan itu ♪

♪ Tak ada yang lebih arif ♪

♪ Dari hujan bulan Juni ♪

♪ Dibiarkannya yang tak terucapkan ♪

♪ Diserap akar pohon bunga itu ♪

♪ Tak ada yang lebih bijak ♪

♪ Dari hujan bulan Juni ♪

♪ Dihapusnya jejak-jejak kakinya ♪

♪ Yang ragu-ragu di jalan itu ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.