Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Berdasarkan kejadian nyata di Kurdistan Irak.
Tanggal 3 Austus 2014, ISIS menyerang Pegunungan Sinjar. Tujuan mereka: Pembinasaan Kelompok Yazidi.
Dalam 24 jam, 500 ribu orang mengungsi. Sisanya dibunuh dan ditangkap.
Perlawanan diorganisir di sekitar Yazidi, oleh gerilyawan Kurdi dan Pasukan Pemerintah.
Nama-nama orang, tempat dan faksi, serta tanggal telah diubah.
Diterjemahkan oleh:
E
EK
EKO
EKO
EKO M
EKO MU
EKO MUL
EKO MULY
EKO MULYO
EKO MULYON
EKO MULYONO
11 November.
Sudah seminggu aku terjebak di Perbatasan Turki.
Penantian membuatku gila.
RUMAH
Setiap misi sama saja.
Kau harus siap untuk pergi dan siap untuk tinggal.
Harus siaga setiap saat.
Sebuah konvoy Jurnalis keluar seminggu yang lalu,
tapi aku telat datang di malam harinya.
Setelah mereka pergi, pintu masuk pun ditutup.
Sebuah helikopter akan pergi esok harinya, tapi terkendali angin kencang.
Tak memungkinkan untuk terbang.
Aku hanya berharap Suku Kurdi
tak akan memulai serangan setibanya aku di sana.
Aku harus keluar dan menemui Osman, Agenku.
Semoga kami bisa pergi pagi ini.
Aku harus...
Banyak hal yang harus aku lakukan.
Aku harus bicara dengan Iris juga.
Seorang Ibu yang tak bisa bicara dengan anak-anaknya.
Seorang Reporter yang tak berada di tempat aksinya.
3 bulan aku tak mampu berada di tempat yang seharusnya.
GIRLS OF THE SUN
CORDUENE Suatu tempat di Utara Kurdistan
Ukhti Berivan.
Senang sekali melihatmu.
Kau menjadi seorang perwira?
Wakil Perwira Angkatan Darat.
Aku senang sekali.
Kalian selalu tergesa-gesa.
Kacau seperti biasanya!
Kami akan menunggu serangan udara, titik.
Jadi kita menunggu ijin?
Kita harus meledakkan mereka!
Kalian belum siap.
Apa yang dia lakukan di sini?
Dia Jurnalis Perancis.
Aku tak butuh Reporter Barat Gila
untuk memberi tahuku apa yang harus dilakukan!
Reporter Gila itu bisa Bahasa Kurdi.
Tiresh, apakah rencanamu bisa dilaksanakan?
Ya, tentu.
Tiresh "Si Kembang Api", terobsesi dengan ledakan!
Selalu berkata, kita ledakkan semua, lalu apa?
Kita akan dibantai!
Sudahlah, Ukhti Berivan. Apa saranmu?
Entahlah. Kita harus memikirkannya masak-masak.
Jendral Zirek!
Mereka menunggu kita di permukaan.
Mereka tak akan mengira kita menggunakan terowongan.
Lihat gedung di sana?
- Tidak. - Ok, tak masalah.
Itu adalah markas mereka.
Ada terowongan yang tersambung ke sana.
Lalu?
Kita gunakan itu untuk mencapai markas mereka.
Pasti ada ranjaunya.
Bahar!
Kita tak akan diam saja tanpa melakukan apa-apa.
Itu bodoh.
Jika kau takut mati, tak usah pergi.
Mati tak membuatku takut. Hanya saja, tak ada keuntungan strategisnya.
Lalu apa yang ada keuntungan strategisnya, jika kau merasa cerdas?
Ya. Kami ingin dengar.
Bukitnya.
Itu mustahil.
Kami kehilangan banyak Pria.
Kami sudah kehilangan banyak Wanita.
Kita akan menunggu Serangan Udara Koalisi.
Bahar benar.
Jalankan rencanamu, dan kalian sendirian.
Itu bukan pertama kalinya.
Sudah cukup.
Kita di sini untuk bekerjasama, bukan untuk berpecah belah!
Jadi apa yang akan kita lakukan?
Kita menunggu.
Itu juga bagian dari perang.
Dia...?
Bahar, Komandan Unit Pejuang Wanita.
Dia yang menjadi rujukanmu.
Ukhti Berivan!
Aku akan datang.
Bahar di sana.
Oh ya, aku akan menemuinya.
Mathilde!
Kau di sini?
Bagaimana denganmu? Kami akan pergi!
Senang sekali melihatmu.
- Kukira kau tak di sini untuk menemuiku? - Tidak.
Helikopternya menunggu, ayo!
Kau tahu, ada alasannya kenapa kita pergi sekarang!
Kau meminum semua birnya.
Kau tak berubah sedikitpun.
Ya, aku ketagihan pada kasus yang hilang.
Helikopter yang membawamu adalah yang terakhir keluar.
Mereka menutup transportasi udara.
Setidaknya sampai Suku Kurdi menghancurkan pengepungan.
- Aku tahu. - Ada pilihan lain.
Kau suka mendaki? Di Utara sana.
Berjalan 40 km ke lokasi Kurdi berikutnya,
melalui wilayah berbahaya...
Lagipula, di mana kesenangannya?
Jadi kau mau meninggalkanku di gunung?
Bagaimana aku sanggup?
Kau pikir itu lucu?
Maksudnya, dia tetap di sini.
Mathilde, kami semua menyayangimu.
Berhati-hatilah.
Kami mendengar tentang kematian David.
Dia seorang Jurnalis hebat. Aku turut menyesal.
Maafkan aku, Mathilde.
Kami harus segera pergi.
Pelukan sayang?
Ya, pelukan sayang.
Halo!
Aku Mathilde.
Aku beritahu Berivan untuk menugaskanmu pada orang lain.
Maaf.
Kau bisa bahasa Perancis?
Aku belajar di Perancis.
Apa yang terjadi?
Akibat pecahan granat. Di Homs (Suriah).
Setidaknya aku bisa tidur di mana saja sekarang. Aku berguling ke samping dan...
gelap.
Tato apa itu?
Nama anak dan suamiku.
Jadi orang akan mengenalku jika aku mati.
Saat bertempur?
Saat ditawan.
Unitku tidak seperti yang lain.
Gadis-gadis itu semuanya bekas tawanan.
Ya, aku diberitahu bahwa kau selamat dari pembantaian Corduene.
Aku mewawancarai seorang yang selamat. Maaf.
Apa yang kau pelajari?
Aku seorang pengacara.
Mantan pengacara.
Kau merindukannya?
Bukan itu yang aku rindukan.
Aku harap kau memiliki cukup selimut. Malam hari akan terasa dingin.
Makan malam sejam lagi.
Aku tak keberatan tidur dengan kalian semua.
Tidak, kami harus menunjukkan keramahan padamu.
Tapi... ada terowongan yang melewati pintu ini.
Mereka bisa masuk kapan saja.
Kami akan melakukan patroli, dan tidur dengan senjata.
Aku bukan Pejuang.
Aku juga bukan Pejuang.
Aku cuma bercanda.
Kami sudah menutupnya.
Ada banyak terowongan di bangunan lain, jadi kau tak akan tahu.
Tetaplah waspada.
Sampai jumpa lagi.
Sampai jumpa.
Hemin, sayang.
Kau tak nakal pada Nenek, kan?
Dia selalu bilang,
Aku harus sering bermain dengan anak-anak lain.
Dia tak suka aku membaca buku.
Halo?
Shanoz?
Shanoz?
Ini aku!
Ini aku.
Kau juga mendengarnya?
Tadi itu apa?
Entahlah.
Aku tak bisa tidur jadi aku keluar dan mendengar suara.
Ikut aku.
Kau bisa tidur, kalau mau.
Aku terlelap selama 4 jam, jadi aku bisa berjaga sampai subuh.
Tidak, sudah lama aku berhenti tidur. Aku mengantuk, tapi tak bisa tidur.
Seperti apa rasanya saat di Homs?
Apa kau tak merasa takut?
Aku takut.
Tapi aku dan fotograferku
memberanikan diri di tengah pembantaian Assad.
Berminggu-minggu warga sipil dibantai.
Penting bagi kami untuk pergi ke sana.
Peristiwa itu begitu sadis.
Dalam 20 tahun masa perang, aku tak pernah melihat penembakan tanpa henti.
Sungguh mengerikan.
Setelah 10 hari, Assad mengirimi kami sebuah pesan.
Dia menarget media center.
Saat itulah aku mencoba melarikan diri.
Aku tak berhasil sampai ke pintu keluar. Sepotong pecahan peluru...
mengenai mataku.
Putriku masih merasakan trauma itu.
Kau punya seorang Putri?
Bagaimana kau keluar dari kota itu?
Sekelompok pemberontak menolong kami.
Mereka datang dengan sepeda motor dan mengikatku ke pengemudi.
Mereka menyelamatkan kami.
Apa?
Kami butuh makan.
Kau mau makan?
Makan saja anakmu!
Itu berlaku untuk kalian semua!
Kembali ke sana!
Bangun!
Semua anak kecil, keluar!
Ikut aku!
Cepat!
Bawa dia.
Bawa mereka keluar!
Ayo, ayo, ayo...
Apa yang kita punya di sini?
Dia gila!
Aku juga gila! Cocok sekali!
Dia gila! Jangan bawa anakku!
Dia gila!
Hemin!
Aku akan membangunkan para gadis.
12 November
Iris?
Kau mendengarku?
Ini Ibu.
Hai, Ibu.
Kau masih memiliki gelang Ibu?
Ya.
Bagaimana keadaan di rumah Nenek?
Mereka baik.
Kapan Ibu pulang?
Aku kangen Ibu. Dan juga Ayah.
Ibu juga merindukannya.
Kau tahu Ibu sayang kau, kan?
Matahari sudah terbit.
Bangunlah.
Selamat pagi, sayang.
Bangun.
Sayang...
Selamat pagi.
Selamat pagi, Ukhti.
Ukhti Amal.
Ukhti Amal...
Angelina!
Bangun, gadis muda.
Waktunya bangun.
Gadis ini yang paling unik.
Dia makan,
lalu tidur,
lalu makan lagi
dan tidur lagi.
Dia tak mau bangun juga.
Biarkan aku, aku ngantuk.
Ukhti Amal?
Mau aku buatkan teh?
Kau mau melakukan itu untukku, Ukhti Bahar?
Bahar!
Jangan adikku!
Bawa aku saja!
Bawa aku saja!
Jangan adikku!
Suzan!
Suzan, aku di sini!
Adikku...
Aku di sini!
Aku di sini!
Kau dengar itu?
Apa?
Tembakan senjata berhenti sejam yang lalu.
- Apa kalian memperhatikan? - Apa?
Keheningan ini bukan pertanda baik.
Sama sekali.
Ukhti Ararat, apa yang kau lihat?
Tak ada, Ukhti Bahar.
Tak ada pergerakan.
Jadi apa yang kita lakukan?
Menunggu.
♪ Inilah kami, para wanita ♪
♪ Inilah kami ♪ ♪ Di gerbang kota ♪
♪ Inilah kami, ♪ ♪ siap menyerang ♪
♪ Kami memiliki keyakinan ♪ ♪ Kami akan memusnahkan mereka semua ♪
♪ Ini akan menjadi era baru ♪
♪ bagi Wanita, Kehidupan, Kebebasan ♪
♪ Ini akan menjadi era baru ♪
♪ bagi Wanita, Kehidupan, Kebebasan ♪
♪ Itu adalah tujuan kami ♪ ♪ Peluru terakhir kami ♪
♪ Granat terakhir kami ♪
♪ Tubuh kami dan darah kami ♪ ♪ Akan memberi makan tanah ♪
♪ dan anak cucu kami ♪
♪ Susu kami akan berwarna merah ♪
♪ Dari kematian kami ♪ ♪ akan muncul kehidupan ♪
♪ Inilah kami, ♪ ♪ Gadis-gadis Corduene ♪
♪ Inilah kami ♪ ♪ Di gerbang kota ♪
♪ Inilah kami, ♪ ♪ siap menyerang ♪
♪ Kami memiliki keyakinan ♪ ♪ Hari baru telah menyingsing ♪
♪ Ini akan menjadi era baru ♪
♪ bagi Wanita, Kehidupan ♪
♪ dan Kebebasan ♪
Kita butuh bantuan.
Terowongan.
Nofa!
Bahar!
Nofa!
Jangan tembak, Tiresh!
Perlihatkan tubuhmu!
Lepas pakaian!
ALLAHU AKBAR!
Ampuni aku!
Kau tak mati sekarang, bodoh!
Murtad!
Apa? Aku Muslim!
Siapa ini? Di mana saudaraku?
Dia mati.
Tidak, dia di Surga.
Tidak, dia di hadapanku, terbujur mati.
Dan dibunuh oleh wanita.
Mau menyusulnya?
Mereka berpendapat mereka takkan ke surga jika seorang wanita membunuh mereka.
Sayang sekali.
Kami diserang, kami menangkap seorang tahanan
dan kau tak datang?
Aku kehilangan seorang gadis hari ini!
Ok, ok. Kau di sini sekarang.
Apakah kau ingin makan? Teh?
Apakah anak buahmu akan berperang atau pergi lagi?
Kita seharusnya menyerang hari ini.
Aku mengagumi keberanianmu, tapi hati-hatilah berbicara.
Aku tak harus membenarkan diri.
Aku seharian menelepon
berusaha membawa serangan udara koalisi lebih cepat.
Apa dia punya sesuatu untuk dikatakan?
Bicaralah!
Ayo! Beritahu mereka apa yang kau katakan padaku.
Mereka sudah meninggalkan wilayah selatan markas,
kecuali beberapa orang yang siap mati.
Lalu?
Tiga blok dari markas, ada sekolah.
Sekolah Dasar Azadi, di mana aku sekolah dulu.
Sebagian anak-anak sudah pergi,
kecuali sekitar 20 orang, dan beberapa pria dalam misi bunuh diri.
Bawa dia keluar.
Zirek, kita harus menyerang.
Kita harus ambil alih bukit itu.
Bahar, aku tak sesemangat dirimu.
Kau sudah lama di sini. Kau lebih mengenal daerah itu.
Jika mereka menyerang malam ini?
Tidak pernah.
Apa?
Apa mereka seperti pekerja harian? Mereka pernah menyerang kami malam hari!
Kami sudah memperingatkan penduduk, tapi orang-orangmu tak mau mendengar.
Dan aku sudah bosan mendengar tentang itu!
Ayahku tak punya senjata!
Serangan udara akan dimulai besok.
Lalu apa?
Lalu apa?
Kita mungkin memenangkan perang ini, tapi kita akan lemah.
Penangkapan Corduene hanya simbol.
Kita ambil kembali Corduene dengan cepat, memotong jalan yang mereka gunakan untuk mengisi bahan bakar
dan mengacaukannya.
Kita hanya memerlukan koalisi sebagai bantuan.
Kemenangan akan dimulai di sini... dan kau akan menuai penghargaan.
Ya.
Aku mendapat bagian itu.
Tapi itu mustahil.
Terowongannya.
Terowongan?
Mereka menggunakannya untuk ke sini, kita bisa melakukan hal yang sama.
Tapi ranjaunya?
Ibrahim dan anak buahnya yang menanamnya, dia akan tahu di mana ranjau-ranjau itu.
Kita akan mendarat langsung di markas mereka.
Kau pikir dia akan memberitahumu?
Jika dia menunjukkan jalannya, dia akan memberitahuku.
- Mereka pelaku bom bunuh diri. - Dia tidak!
Dia tak seperti yang lain!
Ok, Bahar.
Kau dan pimpinan unitmu, amankan markas mereka.
Tiresh akan ikut denganmu.
Lalu, kami akan mengirimkan bantuan.
Berati-hatilah.
Ok?
Aku tak akan mengecewakanmu.
Aku tak akan mengecewakanmu.
Mathilde!
Apa kau Klaustrofobia? (=fobia ruang sempit)
Tidak.
Kau mau ikut kami melalui terowongan ke sisi lain?
- Ke sisi lain? - Ke markas musuh.
Aku butuh seseorang untuk melaporkan apa yang kami lakukan.
Ada sebuah Sekolah...
yang berisi anak-anak.
Anakku mungkin ada di sana.
Kau tahu tentang sekolah anak singa?
Di situlah mereka mengajarkan anak-anak untuk membunuh.
Aku akan membebaskannya.
Kudengar dia mungkin dikirim ke sana,
tapi aku tak yakin sekolah itu masih beroperasi.
Sekarang aku yakin.
Sekolah berjarak 3 blok dari markas. Di kaki bukit.
Pilihan kita hanya mati atau bertempur.
Kita masing-masing harus bertanya pada diri kita:
"Berapa lama aku bisa memutuskan?
Jika musuh datang, apa aku bisa menarik pelatuknya?"
Jawabannya adalah ya.
Kau mampu melakukan apa saja.
Keberadaanmu sendiri adalah kemenangan.
Tindakan menolak penindasan adalah kemenangan.
Berjuang adalah kemenangan.
Kini saatnya musuh takut pada kita
sebab kita tak takut pada siapa pun!
Saat mereka mendengar suara kita, mereka gemetar ketakutan.
Kita telah melalui yang terburuk. Apa lagi yang lebih buruk dari itu?
Yang mereka bunuh adalah ketakutan kita.
Pada setiap saudari yang ditangkap, terlahir seorang pejuang.
Dan mereka tak akan pernah mengerti itu,
semangat kita untuk hidup.
- Apa yang akan kita lakukan hari ini? - Bertarung!
- Apa yang akan kita lakukan hari ini? - Bertarung!
Menang atau menang!
Menang atau menang!
Siapa yang akan memimpin?
Kami!
Bersama-sama kita akan lebih kuat dari rasa takut!
Wanita, Kehidupan, Kebebasan!
Wanita, Kehidupan, Kebebasan!
Ukhti Amal.
Lamia.
Ukhti Ararat.
Amal.
Guli.
Ukhti Rojin.
Mathilde, ikut aku.
Tetap di belakang kami.
Jangan jauh-jauh.
Periksa apakah dia masih hidup.
Kau tak apa.
Kau tak apa.
Lihat aku. Amal!
Lihat aku.
Lihat mataku.
Bertahanlah.
Menyanyilah denganku.
Menyanyilah di pikiranmu.
Jangan bergerak!
Jangan bergerak!
Ayo pergi!
Ayo maju!
Jayalah Kurdistan merdeka!
Mereka cantik.
Sangat cantik.
Boleh aku lihat fotonya, Mathilde?
Dia satu-satunya yang akan memimpin kami menuju kemenangan.
Ya, mungkin saja.
Kau meragukannya.
Kau pikir ada pilihan lain?
Bahar, kau sudah cerita kenapa anakku dinamai Bahar?
Ayo, ceritalah.
Setelah ditangkap, aku dijual 4 kali.
Mereka cepat bosan. Setelah 2 atau 3 minggu
mereka menjualnya lagi.
Seringnya pada orang asing.
Ini adalah bisnis global.
Apapun kewarganegaraan mereka, mereka memperlakukanmu dengan cara yang sama.
Dan aku terlalu tua untuk selera mereka.
Mereka membayar mahal untuk anak perempuan usia 9-10 tahun.
Aku pernah mencoba melarikan diri.
Mereka menangkapku, mencambukku,
lalu menjualku di pasar budak.
Aku berakhir di rumah kepala persenjataan di Ninawa.
Anda terlihat kelelahan.
Apa Anda bisa tidur?
Dari 7.000 wanita dan anak-anak yang diculik,
setidaknya setengah dari mereka masih ditahan.
Bagaimana saya bisa tidur?
Saya tak akan menyerah sampai mereka semua dibebaskan.
Kami menciptakan jaringan pelarian...
Itu Dahlia Saeed.
...dengan laki-laki di setiap kota.
Ketika kita tak bisa melarikannya, kami beli para wanita itu kembali.
Bukankah Anda justru membiayai terorisme dengan melakukan itu?
Apakah Anda lebih suka
membiarkan gadis-gadis berusia 10 tahun diperkosa siang dan malam?
Tentu saja tidak. Tapi ini benar-benar dilema.
Apa Anda tak takut pada tindakan balasan?
Ancaman?
Saya menerima ancaman kematian setiap hari.
Kau kenal dengan Deputi itu?
Kami bertemu di Universitas.
Dia adalah profesorku.
Para wanita yang saya selamatkan
mengirimi saya ucapan terima kasih setiap hari.
Kematian itu biasa, selama saya mati dalam keadaan terhormat,
Saya dibilang sudah gila
karena hadir di televisi,
memberikan nomor telepon saya
dan melakukan wawancara.
Saya harus menyampaikan pesan ini kepada para wanita di luar sana.
Sangat penting bagi seseorang untuk melakukannya.
Mereka membutuhkan kita.
Dimanapun kalian berada, kami akan membantu Anda.
Kami akan menemukan Anda, kami akan datang dan membantu Anda melarikan diri.
Tidak ada kata terlambat.
Nomor teleponku adalah:
555...
750...
301...
2325.
Carilah telepon, baterai, sebisa mungkin,
lalu hubungi saya.
Siang dan malam, saya akan siap menjawab panggilan Anda.
Semoga Tuhan melindungi kalian.
Ahmed, apa kau mengambil charger-ku?
Entahlah. Coba periksa di meja.
Kau tahu apa yang kami lakukan pada pencuri di sini?
Saya adalah tahanan, Saya melihat Anda di TV, bantu kami. Bahar.
Bantuan akan datang.
Kirim apa pun yang Anda tahu tentang lokasi Anda,
jumlah pria, kebiasaan mereka, jadwal...
Harus bergerak sekarang jika Lamia akan melahirkan.
Hari ini, saat sholat Dhuhur. Waktumu 10 menit.
Ikuti instruksinya.
Kita tak akan bisa melewati pintu.
Mereka tak pernah menguncinya.
Mereka tahu kota ini sendiri adalah penjara.
Jika mereka menangkap kita, mereka akan membunuh kita.
Mereka tetap akan membunuh kita.
Jika kita tinggal, mereka akan membunuh kita.
Jika kita pergi, mereka akan membunuh kita.
Setidaknya, kita sudah berusaha.
Jika mereka membunuh kita saat kabur, itu lebih baik.
- Apa? - Sekarang saatnya.
Sekarang apa?
Kita akan menunggu keadaan tenang.
Abu Mohammad.
Jangan bersuara.
Beberapa pelacur kafir melarikan diri. Apakah kau melihat sesuatu?
Tidak. Aku akan memberitahumu jika melihat sesuatu.
Mereka pergi.
Kita akan tidur di lantai bawah malam ini.
Bahar.
Ada apa?
Ketubannya pecah.
- Kau mengalami kontraksi? - Ya.
Kita tak bisa pergi setelah bayinya lahir.
Akan sangat berbahaya.
Dia harus menunggu sampai besok, begitu kau keluar dari Ninawa.
Coba kau jelaskan itu kepada si bayi.
Jangan bangun.
Tetap berbaring.
Aku akan menelepon Dahlia.
Ini di luar rencana.
5.000.
Tambah 5.000
atau mereka tetap di sini.
Kau berjalanlah ke tentara.
Mereka sudah diberitahu akan kedatanganmu.
Bilang ke mereka kalau Abu Hassan mengirim salam.
Hassan dan Dahlia
akan menjemputmu di sisi lain.
Salam.
KTP.
Terimakasih, Abu Mohammad.
Tak usah berterimakasih.
Lamia, ini adalah perjalanan terpenting dalam hidupmu.
Aku harus mendorongnya!
Jika kau dorong sekarang, kita mati.
Bertahanlah.
20 langkah lagi.
Kita akan hitung sama-sama.
Ini adalah 20 langkah antara kau dan kebebasan.
Fokus pada suaraku.
Satu,
dua,
tiga...
Abu Hassan mengirim salam.
Selamat datang, saudari.
Aku di sini, kalian bersama kami.
Perempuan!
Selamat malam, Ukhti.
Selamat malam.
Aku bangga pada kalian.
Sangat bangga.
Besok adalah hari Kemenangan.
Amerika!
Mengapa kau memutuskan untuk mendaftar?
Aku punya kontak di Departemen Agama.
Mereka memiliki sebuah video.
Mereka meminta konfirmasi apakah itu adalah anakku.
Hemin teridentifikasi di sekolah anak singa di Corduene.
Hari berikutnya, aku melihat Lamia di wanita center.
Dia bilang padaku bahwa dia tak ingin seperti korban,
dia ingin pergi untuk berperang.
Mereka baru saja membentuk unit bekas tawanan.
Itu satu-satunya kesempatanku untuk menemukan Hemin.
Apa kau pernah berpikir untuk menjadi seorang prajurit?
Kau selalu di depan mengambil risiko.
Aku tak punya keberanian untuk itu.
Menjadi saksi adalah tugasku.
Aku tak tertarik untuk memegang senjata. Itu bukan peranku.
Walaupun saat melaporkan semua kengerian ini
seperti sesuatu yang sia-sia.
Bagaimana bisa kau mengatakan itu?
Masyarakat perlu mengetahui kebenaran.
Dampak kebenaran terhadap Masyarakat...
adalah mereka tak peduli lagi akan kebenaran itu.
Cuma satu klik, para tiran tetap berkuasa.
Masyarakat dibuai janji-janji,
angan-angan.
Mereka melakukan apa saja agar tak melihat semua ini.
Bukan berarti kebenaran tak layak dicari dan disampaikan.
Mungkin sulit dipahami.
Sekarang aku melakukan ini untuk diri sendiri
dan orang-orang yang jalannya aku lintasi.
Karena ini rasanya benar.
Karena ini sudah cukup.
Karena itu menginspirasiku.
Itulah pedomanku. Itulah yang membuatku terus maju.
Apakah orang yang kau cintai yang membuatmu terus maju?
Pria yang kucintai meledak di sebuah tambang di Libya 3 bulan lalu.
Terkadang menjadi seorang reporter tidak lebih baik dari seorang prajurit.
Dan Putriku...
Tapi, ya, tentu saja...
Dialah yang membuatku terus maju.
Aku tak akan bertahan seminggu tanpa dia.
13 November
Satu, dua, tiga, empat.
Aman!
Aman!
Aman!
Jangan menembak, masih ada anak-anak!
Tunggu!
Lamia sudah mati.
Ibu.
Ibu.
"Kalian mendengarnya, Saudari?"
"Apa?"
"Keheningan."
Komandan Bahar menutup matanya,
fokus dalam sepi, meredam keheningan kabut.
Syal marun dengan bunga merah muda memahkotai rambutnya.
Terlepas dari egonya.
Terlepas dari apapun,
dia tampak seperti seorang ratu dari masa lampau.
Di luar hampir beku.
Awan tanpa lelah merangkul puncak pohon,
menari bersama gunung,
bercumbu dengan Bumi.
Seolah keindahan itu dapat menghapus kengerian yang mereka lihat.
Dan para wanita ini berdiri.
Tegak di atas angin.
Tegak tak terpengaruh apapun.
Mereka melalui hal-hal di luar nalar.
Dalam satu malam saja,
lebih dari 7.000 perempuan ditangkap
dan dijadikan budak seks.
Dan saat aku mengatakan "perempuan,"
aku sedang menyangkal kebenaran yang tak tertahankan.
Ada juga anak-anak.
Tepatnya, gadis-gadis kecil.
Makhluk tak berdaya yang identitasnya tiba-tiba dimusnahkan.
Diperkosa.
Djual.
Disiksa.
Lebih dari setengahnya kembali pulang
dengan melarikan diri atau dibeli kembali.
Dan beberapa dari mereka bahkan menemukan keberanian untuk berperang.
Para pejuang wanita mulai bernyanyi.
"Tubuh kami dan darah kami Akan memberi makan tanah
anak cucu kami
Susu kami akan menjadi merah
Dari kematian kami akan muncul kehidupan
Kami punya keyakinan
Hari baru akan menyingsing
Ini akan menjadi era baru Wanita, Kehidupan, Kebebasan.
Aku sudah melihat banyak perang.
Aku sudah melihat banyak pejuang.
Tetapi alu tak pernah ditugaskan ke batalion wanita
dan aku mendapati diriku bergetar dari ujung rambut ke ujung kaki,
memunculkan kembali kerapuhan yang kukira sudah lama hilang.
Kau pikir kau sudah melihat semuanya. Kau pikir kau sudah berpengalaman.
Kau pikir kau sudah bosan,
dan tiba-tiba,
kau ingat akan alasanmu memilih profesi ini.
Kekuatan mereka yang bertahan tiba-tiba saja memenuhimu,
dengan kekuatan hayati yang nyata.
Bahar memintaku untuk menulis kebenaran saat kami berpisah.
Satu-satunya yang melekat di pikiranku adalah wanita buruan,
yang mengangkat kepala dan bangkit.
Jika mereka gugur, yang lain mengambil alih.
Sedangkan aku, Mathilde H., koresponden perang,
aku gemetar mendengar suara mereka.
Nyanyian semangat, nyanyian kekuatan.
Nyanyian leluhur.
Nyanyian yang mendorong kita untuk bangkit.
Sebuah harapan yang menentang keadaan manusia.
Subs by: EKO MULYONO Cirebon, 4 Desember 2019
Film ini didedikasikan untuk semua wanita yang berjuang,
untuk mereka yang bersaksi,
untuk mereka yang dilupakan Sejarah, dan mereka yang membentuknya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.