Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
["Lovin' U" oleh Devano Danendra diputar]
[bunyi kereta dorong dijalankan]
[bergumam]
- Popok. - Popok?
- Ya. - Siap!
- Ada? - Ada!
Halo, Salma!
[tertawa]
Halo, kau siapa?
Aku pacarnya Nathan.
Kasihan sekali jadi pacar Nathan.
["Lovin' U" oleh Devano Danendra masih diputar]
[bunyi mesin hitung]
- Minyak telon? - Sudah.
- Susu formula? - Sudah.
Harus sampai empat kali bertanyanya?
Kau lupa beli bubur bayi pekan lalu.
Kasihan adikmu.
- Itu salahmu. - Kenapa aku?
Karena kau selalu memenuhi pikiranku.
[berdecak] Nathan, cukup. Malu dilihat orang.
Tapi kau tidak akan malu
saat menjadi ibu dari anak-anak kita?
[berdecak] Nathan, fokus!
[menggerisik]
Ya, fokus. Selama kau di sini, fokusku pasti terjaga.
Tidak mungkin lupa barang belanjaan.
Maaf, kalian belanja untuk balita, 'kan?
Ya. Kenapa?
Ini popok manula.
- Biar kutukar dulu, ya. - Ya.
Maaf.
[berseru]
[berseru]
Bagus! Ayo! Terus! Sedikit lagi!
Tendang! Mundur!
[teriak]
Kau mengagetkan ayah!
Kau ubah pengaturan tuas kontrol ayah?
Aku tahu Ayah akan main sendiri.
Makanya kuubah.
- [berdengus] - [bunyi tuas kontrol]
Tadi kau belanja bersama Salma?
Kenapa mendadak Ayah penasaran?
Kasihan Salma.
Dibohongi, dan digoda oleh buaya.
[menghela napas]
Beginilah ujian jadi orang ganteng.
Salma yang jatuh cinta, tapi aku yang dituduh buaya.
Jangan terlalu bangga. Apa gunanya ganteng?
Kalau ingin bangga, berkomitmenlah. Tepati janjimu.
Baru bisa merasa bangga. Itu yang namanya laki-laki.
Sayang, apa maksudmu menepati janji?
Janjimu bermain dengan Daniel. Sekarang malah main gim.
Lihat, Daniel main sendiri.
[menghela napas]
[menghela napas]
Baiklah.
- Sejak tadi Adik menunggu, ya? - Lihat!
Daniel, ayo main sama ayah. Apa itu?
Ini, Bu. Barang-barang Daniel.
- Terima kasih, Nathan. - Kutaruh di sini.
Jangan seperti anak perempuan. Ayo. Lebih tinggi!
Baiklah, Anak-anak. Untuk hari ini kalian pulang lebih cepat.
Para guru mengadakan rapat untuk membicarakan ujian akhir semester.
Jadi, kalian bisa belajar di rumah.
- Hore! - Ya!
Pagi, Anak-anak.
[Nathan] Salma!
Kau langsung pulang?
Tidak, aku mau berkumpul dengan anak-anak OSIS.
Baiklah, kutunggu di kantin. Semangat!
Di hari berangin begini, enak sekali kalau merokok.
Ide bagus. Kita patungan.
Kita merokok bersama.
Nathan.
Aku sudah berhenti.
[berdesah]
Tapi aku ikut patungan. Ini.
Sepuluh ribu.
Selera Nathan sudah berubah.
Tentu saja, kalau tidak, dia kena masalah dari ibu negara.
Persis.
[tertawa]
Aku heran, Nat. Kenapa kau mau disuruh oleh Salma?
Maksudnya apa disuruh?
Harusnya Salma yang disuruh.
Bukan sebaliknya.
Sudahlah, Dim. Lagi pula, dia ikut patungan.
Kau tahu apa yang dia dapat dari Salma?
[suara letupan]
Seksi goyangannya?
Membuatnya ketagihan…
Aku bercanda, Nathan.
Jaga bicaramu, Berengsek!
Apa-apaan?
[kerumunan] Hajar!
[kerumunan bersorak]
[Kerumunan] Hajar!
[kerumunan bersorak]
[kerumunan bersorak]
Jangan… pernah… merendahkan… perempuan!
[Salma] Kami sudah siapkan tata letaknya, dan…
- Sudah hampir selesai, tapi… - Salma!
Nathan.
- Kenapa? - Ayo!
Sebentar, ya!
Orang tua macam apa yang mengajari anaknya memukul anak lain?
- Maaf? - Orang tua macam apa
yang mengajari anaknya merendahkan perempuan?
- Kau… - Tenang, Bu, Pak.
Jangan diperpanjang. Mari kita berbesar hati.
Nathan, minta maaf, dan semuanya dianggap selesai.
Aku akan minta maaf kalau Dimas minta maaf kepada Salma lebih dahulu.
- Nathan? - Tunggu.
Kita tidak tahu masalahnya. Kita coba tanya Dimas.
- [bunyi entakan ke meja] - Tak perlu bicara panjang lebar.
Ini giliranku bicara, Bu.
Kau bisa membereskan masalah ini, tidak?
Atau perlu kutelepon ayah Dimas untuk membereskan jabatanmu?
Maaf, Bu. Tolong jangan. Nathan, minta maaf.
- Aku takkan minta maaf. - Untuk apa?
Jangan sampai bapak menskorsmu, Nathan.
Bukan salahku. Kalau diskors, lebih baik aku pindah sekolah.
[Nathan] Ayah, apa aku salah?
Tentu saja.
Kau kira ayah suka kau selesaikan masalah dengan kekerasan?
Tidak apa-apa. Lagi pula, ayah tidak suka guru macam itu.
Ada satu hal yang harus kau ingat.
Jangan ulangi ini di sekolah barumu, ya?
- Ya, Ayah. - Tidak apa.
Tidak apa.
- [Salma] Berhenti, Pak. - [sopir bajaj] Turun di sini?
Di sini, ya?
- Ini, Pak. Sama-sama. - Terima kasih.
Kau boleh marah padaku,
tapi setidaknya beri tahu kalau pulang sendirian.
Aku lama menunggu…
- Kau tidak peduli padaku? - [berseru]
Kenapa kau memilih pindah sekolah?
Tidak perlu dibahas, itu tidak penting.
Penting bagiku!
Kenapa? Takut merindukanku?
- Jangan cemas, Sal, aku akan tetap… - Apa sulitnya minta maaf?
Kau mau tahu alasannya?
- Apa pun itu, - Asal…
- berkelahi tak membuatmu dewasa, Nathan! - Dengar...
- Asal kau tahu… - Minta maaf!
Itu akan membuatmu menjadi Nathan yang lebih baik.
Aku selalu salah di matamu, bukan?
Jangan tanya aku jika apa yang kau pikirkan selalu benar.
Jika aku sudah berusaha dan tak bisa jadi yang kau mau, lantas?
Usaha apa, Nathan? Berkelahi?
Aku lelah selalu berusaha memahamimu.
Kapan kau akan berubah?
Kau tidak pernah bisa memahamiku.
Lalu apa gunanya kita bersama?
Maksudmu apa tadi?
Kau mau putus?
Baik.
Kalau itu maumu, aku tidak bisa memaksa.
Aku tidak mau kau terus menangis dan kecewa.
Hanya karena orang berengsek sepertiku.
[deru motor]
Salma, ada apa?
Kau diam dari tadi.
Ada masalah?
Aku putus dari Nathan.
- Sabar, ya. - [terisak-isak]
[Rahma] Salma sebenarnya tidak mau kau pindah.
Sudahlah, tidak usah dibahas. Itu tidak penting.
Nathan, dia hanya sedang emosi.
Dia kira setelah bilang begitu, kau akan minta maaf.
Dia tidak bermaksud putus darimu.
[menghela napas]
Aku tidak memahami perempuan.
Mereka yang meminta putus, malah menangis.
Lalu merasa jadi korban.
Nathan, dia sayang sekali denganmu.
- Dengar, setiap kali kau berkelahi… - Maafkan aku.
Tapi topik ini tidak menarik.
- Robi! - Apa?
Ayo!
- Aku pergi. - Nathan, aku belum selesai. Nathan!
[mengembus napas]
[ketua OSIS] Di lapangan ini, kita pernah merasakan dihukum bersama.
Berlari dua putaran dan melakukan push-up.
Mungkin kalian pernah berpikir, "Kapan masa SMA selesai?"
Kapan kita bebas dari jeratan tugas dan PR yang menumpuk?
Padahal, hidup di luar sana jauh lebih keras dan penuh tekanan.
Jadi, aku berdiri di sini,
mewakili teman-teman sekalian, untuk mengucapkan terima kasih
kepada semua guru yang telah mendidik…
[musik sedih]
[pak guru] Sebenarnya, kulihat beberapa peningkatan dari Nathan.
Sayang sekali dia harus pindah, Pak Ardi.
Aku juga minta maaf atas semua masalah yang ditimbulkan Nathan di sekolah.
Kuharap Nathan akan lebih baik
- di sekolah barunya. - Ya.
- Permisi. - Ya, Pak.
Salma?
Halo.
Ibumu tidak datang mengambil rapor?
Ibu dalam perjalanan.
Baiklah.
Kalau ada kompetisi saling mendiamkan, kita juaranya.
[berseru]
Aku permisi. Ibu menunggu di kelas.
Tunggu, tadi katamu dalam perjalanan?
Maksudku, dalam perjalanan ke kelas.
Begitulah. Permisi!
Baiklah.
[suara jangkrik]
[Ardi] Hei.
Kau dan Salma bertengkar?
Kami sudah putus, Ayah.
Putus?
[Ardi berdengus]
Kau tahu kenapa dulu kita tidak akur?
Karena kita berdua terlalu mementingkan ego
dan lupa soal kerendahan hati.
Pergilah ke rumah Salma secepatnya dan minta maaf.
Aku tidak yakin kalau kami kembali…
Ayah cuma ingin Salma memaafkanmu.
Ya?
[petikan gitar musik latar]
[bunyi ketukan pintu]
Asalamualaikum?
Asalamualaikum?
Hei.
Ada perlu apa?
- Bapak siapa? - Harusnya aku yang tanya.
Siapa kau, dan ada urusan apa?
Aku kemari hampir setiap hari. Aku tahu siapa yang tinggal di sini.
Bapak baru tiba, tapi merasa jadi anggota keluarga ini.
Bapak wiraniaga?
[bunyi pintu dibuka]
Sayang!
- Astaga! - Astaga.
Kenapa tidak bilang kalau sudah sampai?
Kau kurusan?
[berseru kagum] Kau bercukur. Tampan sekali!
[terkesiap]
- Maaf, Nathan. - Ya.
Salma sedang pergi. Perkenalkan, ini ayah Salma.
Baru saja pulang dari Kanada setelah bekerja tiga tahun di sana.
Maaf, Pak.
Bapak berbeda daripada di foto.
- [Ayah Salma] Kau pacar Salma? - Sedang diusahakan.
Maksudmu, mencoba mendekatinya?
Kami baru putus.
Kenapa Salma putus denganmu?
Aku berkelahi di sekolah.
- Berkelahi? Di sekolah? - Ya.
- Kau dihukum? - Aku dipanggil.
Apa kau diskors?
- Tidak. - Kenapa?
Aku memilih pindah sekolah.
Baguslah.
Karena pindah sekolah?
Karena Salma mencampakkanmu.
Bagaimana dengan masa depannya? Bapak tidak suka dia berpacaran.
Apa lagi dengan tukang berkelahi.
- Sebenarnya… - Nathan.
Aku tak suka diam-diam membicarakan orang lain.
Boleh aku terus terang, ya?
Silakan, Pak.
Aku tidak menyetujui hubungan kalian.
[Ayah Salma] Kau tampan. Carilah perempuan lain.
Jangan Salma. Tolong.
Sebaiknya kau pulang dan jangan datang ke sini lagi.
[musik tegang]
Selamat sore, Pak.
Bu.
[musik tegang]
[Ayah Salma] Sejak kapan? Kenapa kau tidak bilang?
Putri kita itu sudah remaja.
- Dia harus belajar memutuskan sendiri. - [bunyi ceklek pintu]
Remaja? Punya keputusan sendiri?
Ayah?
[berdesah, tertawa]
[tertawa]
[tertawa]
Kapan tiba? Kenapa tidak bilang?
- [tertawa] - Baru saja.
Kita harus membicarakan masa depanmu. Terutama ini.
Sekarang sudah semester lima.
Nilaimu harus lebih tinggi daripada semester sebelumnya.
Kau harus lolos SNMPTN.
Ya, Ayah.
Kau harus masuk Universitas Indonesia.
- [bunyi ketukan pintu] - Asalamualaikum.
- Ridho! - Selamat malam, Pak.
Malam, akhirnya kau sampai.
- Tersasar? - Tidak.
- Masuklah. - Baik.
Salma.
Ridho ini teman kecilmu.
- Ingat? - [berdesah]
Astaga, ini Salma?
Sejak dari Kanada, kami sudah satu pesawat.
Orang tuamu juga tinggal di Kanada?
Mereka masih di Maroko.
Aku bertemu Bapak di Kanada setelah ikut olimpiade sains.
Dia dapat juara dua.
[Ayah Salma] Bayangkan, orang tuanya kerja di luar negeri,
dia tinggal sendiri di Jakarta dengan pencapaian sebesar itu!
Waktu SMP kita saingan, ingat?
Tapi kau selalu juara satu. Salma juara dua.
[berdeham] Ya.
Waktu SMP, kau selalu merundungku.
Karena aku jelek dan berjerawat.
Kau hanya mau mengajak yang cantik. Ingat?
Sayang.
Itu sudah berlalu. Tidak usah dibahas lagi, Sayang.
Seringlah datang, Ridho. Kalau mau, setiap hari.
Kau bisa bantu Salma belajar, ya?
Baik, aku akan sering datang.
- Silakan diminum. - Baiklah.
- [Ridho] Bu. - [Ayah Salma] Dia sendiri membuatnya.
[musik sedih]
[musik riang]
[suara bisikan]
[tertawa]
Pegang ini.
Nathan!
Deni! [berseru]
- Kau belum berubah sejak SMP. - [tertawa]
Kenapa kau menggoda gadis-gadis di sekolahku?
Memangnya di sekolahmu kurang?
- Cuma bercanda. - Aku tahu gayamu.
Sedang apa kau di sini?
Aku ingin main denganmu. Sekolahku membosankan.
Kau masih menyebalkan, Nathan. Ayo. [tertawa]
[bu guru] Kami sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapimu.
Kasusmu sudah banyak sekali.
Ibumu tidak pernah datang setiap kali dipanggil ke sekolah.
Apa kau sudah beri tahu ibumu soal masalahmu di sekolah?
Rebecca, kau dengar ibu?
Ada apa dengan ibumu? Ada masalah apa?
[Rebecca] Kalau bisa menjawabnya, mungkin aku tidak akan di sini.
Bolos kelas, membawa minuman keras,
nilai jelek, dan berkelahi dengan murid lain.
Jangan ubah topiknya.
Intinya, kenapa ibumu tidak pernah…
Karena aku tidak tahu dia masih menganggap aku anaknya atau tidak!
[musik sedih]
"Selamat pagi, Bu. Aku permisi kembali ke kelas!"
Aku Nathan Januar Prasetyo, baru pindah dari SMA Garuda.
Anak-anak, ada pertanyaan?
[para siswa] Tidak.
Kalian mau nomor ponselku, 'kan?
Tidak!
[siswa bersorak]
Kau murid baru,
tapi sudah menggoda dua murid terbaik di kelas ini.
Mereka memandangiku sejak masuk gerbang, Pak.
[siswa bersorak]
- Tidak, Pak. Tidak, 'kan? - Benar.
Baiklah, jangan terus menatapiku, ya?
[siswa bersorak]
Semuanya tenang. Nathan, duduklah.
Baik. Terima kasih, Pak.
Salma, bagaimana kabar Nathan?
[menghela napas] Entahlah.
Kalian tidak bicara selama liburan?
Kau tidak merindukannya?
[berdecak] Sudah, tidak usah membicarakan dia.
Ini. Kalau kau merindukannya...
dan tidak mau dia tahu.
[menjerit]
[musik jenaka]
[musik tenang]
[dering ponsel]
Halo?
[Nathan] Siapa ini? Kenapa diam saja?
Telepon iseng, ya?
- [musik jenaka] - [mengikik]
Gila.
- [musik jenaka] - [mengikik]
[dering ponsel]
Siapa ini? Deni, kau menyebar nomorku?
Kalau ada yang minta, akan kuberikan. Tapi belum ada.
Mungkin penggemar. Adik kelas.
- Maaf, Mbak. - Ya, bisa kubantu?
Bisa jawab teleponnya? Bilang saja pacarku.
- [terkekeh-kekeh] - [dering ponsel]
[wanita] Halo? Ada apa menelepon pacarku?
- Dia menutup teleponnya. - Ditutup?
Ya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Kau konyol sekali.
Pada 23 Januari 1950,
- Kapten Raymond Westerling memimpin - [bunyi notifikasi ponsel]
Angkatan Perang Ratu Adil, disingkat APRA, di Bandung.
MEMANG BENAR KAU PUNYA PACAR BARU?
KENAPA KAU TANYA?
…tahun 1949, adalah…
SALMA MENELEPONMU DENGAN NOMOR TIDAK DIKENAL,
DIA BILANG KAU PUNYA PACAR BARU
Kelompok ini memberi ultimatum
pada pemerintah Republik Indonesia Serikat
dan Negara Pasundan
agar mereka diakui sebagai tentara Pasundan.
Bu, boleh ke toilet?
- Ya, silakan. - Terima kasih.
- [bunyi pintu terbuka] - [musik jenaka]
[bunyi pintu tertutup]
- [dentingan gembok] - [masih musik jenaka]
[pagar berdencing]
[menghela dan mengembus napas]
[musik jenaka]
[berdengus]
[terengah-engah]
[terisak-isak]
[terisak-isak]
- [terisak-isak] - [musik sedih]
Hei, sedang apa kau?
Apa maumu?
[lantai besi berdentang]
Pikirkan lagi.
Pergi!
Urus masalahmu sendiri. Kubilang, pergi!
- Tunggu… - Pergi!
- Dengar dulu. - Lepaskan!
Satu-satunya alasan aku tidak marah
karena aku tahu kau sedang rapuh.
[terisak-isak]
Awas! Minggir!
[terisak-isak]
[terisak-isak]
[dering bel sekolah]
[Rahma] Aku masih tidak percaya. Nathan punya pacar baru?
Kau menilai dia terlalu tinggi.
Kenapa kau begitu pesimistis?
[mengembus napas] Baiklah.
Mari kita bodohi diri dengan bersikap optimistis.
Kita bayangkan Nathan datang menjemputku lagi,
minta maaf, dan kami kembali bersama.
[Ridho] Salma?
Hai, Ridho.
Biar kuantar pulang.
Tidak, terima kasih. Aku naik kendaraan umum saja.
[dering ponsel]
Halo, Ayah?
[Ayah Salma] Sudah bertemu Ridho?
- Sudah. - Pulanglah bersamanya.
- [Nathan] Di sini saja. - [pengojek] Baik.
[Salma] Sampai jumpa.
- Dah, hati-hati. - Hati-hati.
[musik sedih]
[deru mobil menjauh]
Ikuti mobil itu, tapi pelan-pelan saja.
[musik sedih]
[Nathan] Berhenti.
Pelan-pelan.
["Ini Aku" oleh Devano Danendra diputar]
- [Nathan berdengus] - [bunyi samsak dipukul]
[Salma] Hidup harus mengikuti aturan, Nathan.
Jika membaca buku ini, aku tak akan sempat memikirkanmu.
[berdengus]
["Ini Aku" oleh Devano Danendra diputar]
[Nathan] Di saat semua menatapku sebagai sampah…
kau menatapku sebagai manusia.
["Ini Aku" oleh Devano Danendra masih diputar]
- [Deni] Rebecca memang begitu. - [Nathan] Kasar?
Kalau kau coba bicara padanya, dalam waktu kurang dari semenit...
[menggeram]
semuanya akan kacau.
- Ada yang tahu kenapa dia begitu? - Entahlah.
- [siswa] Bagus. - [Rebecca] Berengsek!
Apa? Apa maumu?
Semuanya, dengar.
Gadis ini mengejek orang-orang di Facebook, dan sekarang...
kau marah kalau ini kupajang di sini?
Agar kalian semua tahu kalau dia ini "pencari perhatian"!
- [kerumunan bersorak] - [teriakan]
[Rebecca berteriak]
- Cukup! - [terengah-engah]
- Siapa kau? - Itu tidak penting.
Yang penting, aku benci melihat gadis dilecehkan.
Sudahlah, Nathan.
Dia Albert, ahli Wing Chun. Dia akan menghajarmu. Minta maaf.
Aku tidak akan pernah minta maaf untuk ini.
Kau punya masalah denganku?
Ikut aku.
Minggir!
Hei, mereka akan berkelahi!
[kerumunan bersorak]
Hei!
- [siswa] Sini! - [Rebecca berteriak]
Hei, hentikan!
[menggeram]
Jangan berkelahi!
Buka! Cukup!
Berhenti, Nathan!
[berdengus]
Hentikan! Buka!
- [berdengus] - [meja berderit]
Sudah cukup!
[terengah-engah]
- Nathan! - Buka pintunya! Berhenti!
- [Deni] Nathan! Hentikan! - [Rebecca] Hentikan!
[Deni] Nathan!
[Rebecca] Buka!
[menggeram]
[mengerang]
[mengerang]
- [terengah-engah] - [kerumunan bersorak]
Kapan kau akan berubah? Dari dulu terus berkelahi.
Daripada bicara, belikan saja es teh dari kantin.
[berdengus, berdecak]
Kenapa kau membelaku?
Dirimu yang sekarang…
adalah aku yang dulu.
Bedanya, aku tidak pernah berpikir untuk bunuh diri.
[musik lembut]
Masuklah.
Asalamualaikum.
[Ibu Nathan] Wa alaikum salam.
Hai, Bu.
Daniel, tos!
Astaga, kau berkelahi lagi?
- Ya. - [Ardi] Berkelahi lagi?
Benar?
Ya.
Pastikan saja kau tidak harus pindah lagi.
Tentu saja, Ayah. Aku tidak dipanggil.
- Siapa ini? - Ini Rebecca.
- Hai, aku Rebecca. - Halo.
Halo, Bu.
Kenapa kau berkelahi?
[menghela napas] Maaf, Pak.
Nathan…
berkelahi karena membelaku.
[Ardi] Berdasarkan ceritamu...
aku paham
kenapa Nathan sangat protektif terhadapmu.
Kita akan mengalami banyak benturan dalam hidup.
Pada saat menghadapinya,
kita akan melalui lima fase.
Pertama?
Mengeyel.
Kita menolak percaya kenyataan bahwa semua sudah terjadi.
Suka atau tidak, hidup kita akan berubah.
Lalu, kita merasa?
Marah.
Kita marah akan situasinya. Marah pada semua orang.
Kita jadikan semua orang kambing hitam, termasuk diri sendiri.
Lalu kita masuk…
ke proses tawar-menawar
Kita coba lakukan apa pun untuk kembali ke kondisi yang dulu.
Meski itu harus melukai diri, tidak masalah.
Fase depresi.
Semua terasa kosong.
Semua terasa hampa, serasa tidak ada artinya.
Itu karena kita serasa kehilangan tujuan hidup.
Lalu, kita masuk ke fase terakhir.
Ikhlas.
Di sini kita terima kenyataan.
Kita terima bahwa hidup belum berhenti, dan waktu terus berjalan…
Kita temukan kebahagiaan lagi.
Kedewasaan adalah bagaimana kemampuan kita mengatur semua ini,
memutar semuanya begitu cepat.
Sampai ke titik ikhlas.
Inilah warna hidup kita.
Jangan terlalu lama terjebak di satu warna.
Paham?
[musik mengharukan]
[bunyi ceklek pintu]
Masuk.
Gila.
Antik sekali.
Boleh?
Pemutar kasetnya rusak.
Semua ini punyamu?
Punya ayahku.
Ayahmu?
Bisa kenalkan aku padanya?
Pasti dia menyenangkan.
[bersiul]
[kotak kaset berderak]
Ini tempat ayahku gantung diri.
Usai sidang perceraiannya dengan ibuku.
[musik sedih]
[menghela napas]
Kau…
tinggal sendiri?
Ibumu di mana?
[menghela napas, terisak]
Aku belum siap…
tinggal bersama suami barunya.
Aku mengerti.
Mulai sekarang…
kau tidak akan merasa kesepian lagi.
Akan kubantu kau melewati ini semua.
Ya?
[musik mengharukan]
Terima kasih, Nathan.
Sama-sama.
[suara obrolan]
Re!
- Ikut aku. - Ke mana?
Pulang.
[bunyi pintu terbuka menghantam dinding]
[Rebecca menghela napas]
Bisa buatkan aku minum? Es teh manis.
Apa?
Es teh manis.
Kau mau es teh manis? Aku tak punya es. Lihat.
Kulkasnya rusak.
Teh hangat juga boleh.
Aku ganti baju dulu.
Siap, Bos.
[musik bersemangat]
- Nathan! Jangan! - Tenang.
- Sedang apa kau? - Tenang.
Ini milik ayahku! Nanti makin rusak!
- Tenang! - Dasar usil!
Lihat dulu, ya? Tenang.
[menghela napas]
Apa yang kau lakukan, Nathan?
Bersiaplah.
Momen kebenaran.
[musik dari pemutar kaset]
Ya!
Ya!
Ya!
["Kehidupan" oleh God Bless diputar] ♪Cepat lari♪
♪Tak dapatkah sejenak♪
♪Hentikan ambisimu♪
♪Lihatlah peluhku♪
♪Tengoklah hatiku♪
♪Oh… pikirkan♪
♪Renungkan♪
♪Pikirkan♪
♪Bilakah mereka semua kau pikirkan♪
[tertawa]
[musik dimatikan]
Kenapa…
Apa aku terlalu bersemangat?
Kapan terakhir kalinya kau tertawa selepas itu?
[bergumam]
Biar kutuangkan teh lagi.
Cangkirnya masih penuh.
Tidak… Jadi…
Maksudku agar tehmu makin banyak.
Kenapa gugup sekali?
Aku tidak gugup.
Aku cuma mau mengisi gelasmu lagi.
[terkekeh]
Ikut aku.
- Ayo. - Ke mana? Nathan, ke mana?
Nathan.
Ta-da! [tertawa]
Bagaimana menurutmu?
Bagus?
Kenapa kita baru kenal sekarang?
- Dasar genit. - [tertawa]
- Baguskah? - Kau tidak terlihat emo lagi.
[tertawa]
["Kehidupan" oleh God Bless diputar]
["Kehidupan" oleh God Bless berhenti diputar]
Apa?
Ayah yang ingin aku masuk UI.
Ya, tapi sastra?
Yang benar saja?
- Memang ada apa dengan sastra? - Nilai sainsmu tinggi, Salma.
Kenapa tidak coba kedokteran?
Kita bisa belajar bersama.
Ridho membaca pikiran ayah.
- Tapi Ayah... - Cukup.
Ubahlah.
Ayah yakin, suatu hari nanti kau akan berterima kasih.
[Rebecca] Kau sungguh ingin masuk Trisakti?
[Nathan] Aku ingin masuk jurusan teknik mesin.
Sepertinya aku tidak bisa masuk ke Universitas Indonesia.
[dentingan wajan]
Bagaimana denganmu?
Kurasa teknik mesin juga.
Apa maksudmu "kurasa"? Kau tertarik bidang apa?
Aku?
Aku ikut ke mana pun kau pergi.
Sampai kapan mengikutiku, Re?
Kelak, kita akan jalani hidup masing-masing.
Kau tidak mau bersamaku, Nathan?
Kurasa selama ini kau salah paham soal hubungan kita.
Bagimu aku ini apa, Nathan?
Teman.
[musik sedih]
Re, aku mengerti.
Ini salahku, tapi kau harus dengar.
Re!
Ini bukan salahmu, Nathan.
Ini salahku karena terlalu berharap.
Dan kini aku benci diriku sendiri.
Rebecca!
[musik sedih]
[menghela napas]
[Rebecca] Terima kasih.
Rebecca!
Apa aku harus memaksa diri mencintaimu?
Aku peduli padamu, Rebecca.
Dulu, jika tidak ada yang membantuku melalui depresi…
aku tidak akan di sini sekarang.
Aku hanya ingin melakukan hal yang sama padamu.
Aku ingin ada untukmu.
Sampai kapan?
Sampai kau mengerti.
Bahwa di dunia ini, kau tidak sendirian.
[terisak-isak]
Tapi jika kehadiranku hanya menjadi beban untukmu…
aku akan pergi.
Tapi berjanjilah.
Kau tidak akan kembali jadi Rebecca yang dulu. Ya?
[terisak-isak]
[terisak-isak]
[terisak-isak]
[terisak-isak]
Aku tidak akan pergi.
[terisak-isak]
Sampai kau merasa tidak sendirian lagi.
[terisak-isak]
[Nathan] Ya?
[terisak-isak]
Sekarang kita fokus belajar.
Sebentar lagi ada ujian.
Ya?
[terisak-isak]
[Nathan] Senyum. Ayo, senyum.
[musik riang]
[kepala sekolah 1] Kalian baru saja menempuh ujian nasional.
Pengumuman kelulusan kalian akan dibagikan lewat amplop-amplop
yang dipegang oleh wali kelas masing-masing.
[kepala sekolah 2] Nilai tertinggi
di SMA Garuda tahun ini
diraih oleh…
Salma Alvira!
[kerumunan bersorak]
Salma?
Di mana Salma?
Ada yang lihat Salma?
[musik sedih]
[terisak-isak]
Aku tidak peduli peringkatku.
Aku tidak masuk UI.
Masih ada ujian masuk mandiri, 'kan?
Kau pasti bisa!
[para siswa menjerit]
[bersorak]
[bersorak]
- Satu, dua, tiga! - Dua, tiga!
[menjerit]
Aku lulus!
["Menyimpan Rasa" oleh Devano Danendra diputar]
Kita lulus!
Kita lulus!
Kita lulus!
["Menyimpan Rasa" oleh Devano Danendra masih diputar]
Selamat hari kelulusan, Salma.
["Menyimpan Rasa" oleh Devano Danendra masih diputar]
[dering ponsel]
[dering ponsel]
Benar ini rumah Rebecca? Bersih sekali.
[tertawa]
Aku tahu. Dia ingin rumah ini jadi rumah keluarga barunya.
[tertawa]
Maksudmu, ada yang melamarmu?
Astaga. Baru kutinggal sebentar dan sudah ada yang melamarmu.
- Apa ini? - Ta-da!
Ini komunitas Love Yourself.
Sesuatu yang kubuat.
Keluarga yang aku tunggu.
Aku ingin membantu orang yang hilang harapan segera menemui titik ikhlas.
Untuk menemukan hidup, dan tidak berpikir untuk bunuh diri.
Aku ingin rumah ini menjadi tempat mereka bisa bercerita, menangis,
dan bahagia lagi.
Kuliahmu bagaimana?
Aku ingin fokus pada ini dulu.
Tahun depan, aku ingin masuk jurusan psikologi. Janji kau akan membantuku?
Siap, Bos.
- Kapan kita mulai? - Secepatnya.
- Baiklah. - [tertawa]
[bunyi meniup]
Aku tahu kenapa kau menghindar, Salma.
[terisak-isak]
[terisak-isak] Aku tertinggal jauh dari kalian.
Salma, jangan bilang begitu.
Jangan pernah berpatokan pada orang lain.
[terisak-isak] Kau bisa bilang begitu karena tidak di posisiku.
Semua akan baik-baik saja.
Sudah kuduga kau akan bilang begitu.
Tidak apa-apa. Yang terpenting…
aku ingin kita bersenang-senang. Ya?
[musik ceria]
Ayo. [bersorak]
Ayo.
Ini baru benar!
Meski kau menangis, masih tampak cantik!
[bergumam]
[wanita 1] Kenapa kau sibuk sekali?
[wanita 2] Apa itu?
- [Nathan] Halo! Apa kabar? - [Rebecca] Ini komunitas Love Yourself.
- Ini untuk kalian. - Jika ada yang punya masalah…
dan butuh orang untuk diajak bicara, bergabunglah dengan komunitas ini.
[Nathan] Ini komunitas Love Yourself.
- Jika punya masalah… - Baik!
soal keluarga, sekolah, apa saja,
kami di sini untuk kalian.
Kalau tertarik, hubungi aku di nomor itu.
- Baik. Terima kasih. - Terima kasih!
Salma tidak butuh ini.
[berdeham]
Dia hanya butuh Nathan, benar?
[berdecak] Rahma.
[berdecak]
Salma, percayalah.
Tahun depan, kita bertemu di UI.
Kau akan sangat bangga menjadi mahasiswi kedokteran.
Hari ini kita bersenang-senang.
[bersorak] Hore! Salma sudah pulih!
[musik tenang]
[Salma] Asalamualaikum.
Tunggu sebentar.
- Hai! - Hai.
Salma, benar?
- Ya. - Silakan masuk!
[berdeham]
[bergumam]
Kini hari-hariku dipenuhi dengan bimbel,
belajar, bimbel, belajar.
Hanya itu. Bahkan datang kemari pun…
aku harus membohongi orang tuaku.
[menghela napas]
Kalian tahu?
Apa yang paling membuat frustrasi?
Kadang aku merasa… [menghela napas]
tidak bisa memahami diriku sendiri.
[terisak-isak]
Aku tidak memahami diriku.
[terisak-isak]
Kita semua di sini tak punya solusi untuk satu sama lain.
Tapi kami di sini untukmu.
[terisak-isak]
Terima kasih. [terisak-isak]
Ini lebih daripada cukup.
- Sampai besok! - [pria] Terima kasih!
Rebecca?
Aku sangat bersyukur bisa tahu soal ini.
Setidaknya sekarang aku tahu…
ada orang yang jauh lebih tidak beruntung daripadaku.
Kemari, Sal.
Duduklah.
Ada seorang pria yang menemaniku saat menjalani masa-masa kelamku.
Sampai aku bisa menemukan diriku lagi.
Sejak itu, aku berjanji pada diriku untuk melakukan hal sama pada orang lain.
Love Yourself ada
agar semua orang tidak berpikir bahwa mereka sendirian.
Pasti dia pacarmu, ya?
[bergumam]
Sulit dikatakan. Tapi kalau kau mau berkenalan dengannya,
datanglah ke acara kami pekan depan. Kau juga bisa membantu.
Kau mau?
- Tentu. - Ya!
[musik riang]
[bercakap-cakap]
[musik riang]
[Rebecca] Pasti menyenangkan. Kalian bisa berbagi cerita.
Misalnya, jika punya masalah dengan hubunganmu…
Nathan.
Salma.
Sebentar.
Hai, Nathan!
Akhirnya kau datang. Aku merindukanmu! [menghela napas]
Salma, inilah pria yang kubicarakan.
Ya, aku kenal dia.
[bergumam] Dia Nathan, kami…
Satu SMA.
Benar.
Ternyata teman.
Ya. Teman.
Hei.
Salma, beraninya kau?
Bagaimana kalau guru tahu kau bolos?
Apa-apaan, Ridho?
Kuantar ke bimbel.
Hei.
Cukup, Ridho.
Aku harus pergi! Ridho!
Kurasa kini aku tahu kenapa kau menolakku, Nathan.
Dia depresi.
Dia membutuhkanmu.
[dering ponsel]
PACARMU MASIH SAMA?
PACAR? KENAPA TANYA SOAL PACAR?
JADI, DIA PACARMU ATAU BUKAN?
[tertawa]
Kenapa tertawa?
Memangnya aku harus lapor semua hal kepadamu?
- Aku mau lihat. - Apa-apaan, Ridho?
- Ridho! - Salma!
Jangan! Kembalikan!
[dering ponsel]
[Ridho] Kau ini siapa?
- [Salma] Ridho! Itu ponselku! - Tidak!
Aku hanya ingin tahu apa maunya!
- Berengsek! - [Salma] Hei, Ridho!
Berengsek? Dengar...
[nada panggilan terputus]
Dengar, ya.
Hanya karena ayahku suka padamu, bukan berarti aku akan menyukaimu.
- Salma, maafkan aku… - Ridho, aku tak pernah menyukaimu!
Mulai sekarang, jauhi aku.
[teriak frustrasi, menghela napas]
[bunyi tikan laptop]
[deru motor mendekat]
[bunyi ketukan di jendela]
[Nathan] Salma!
- Nathan? - Buka!
- Apa? - Buka jendelanya.
- Buka? - Ya.
Nathan, sedang apa kau?
Kau tidak apa-apa?
Ya. Ada apa?
Kau mematikan ponselmu, aku cemas.
Apa pacarmu menyakitimu?
Dia bukan pacarku.
Serius?
[Ayah Salma] Salma?
[bunyi ketukan pintu]
Gawat! Kau bisa ketahuan!
Bagaimana ini?
Salma?
- Jangan di sana! - Lalu di mana?
[Ayah Salma] Salma?
[pintu berderit]
Ada yang perlu kita bicarakan.
Ayah tahu semuanya.
[musik tegang]
Ridho menelepon ayah, dan ibumu menyuruh ayah kemari.
Untuk bicara denganmu.
Mungkin Ridho melakukan sesuatu padamu.
Ada yang ingin kau katakan?
Benar, jadi…
Ridho memainkan ponselku, aku marah.
Kubilang aku tidak mau menemuinya lagi.
Hanya itu.
[mengembus napas]
[bunyi pintu membuka dan menutup]
Nathan!
[bunyi kepala Nathan terbentur]
Kau tidak apa-apa?
[mengaduh]
- Kau tidak apa-apa? - Ya.
Entah soal ranjangnya.
[berdecak] Berhenti bercanda!
[bunyi ketukan pintu]
[Ibu Salma] Salma?
- Di bawah ranjang lagi? - Ya, cepat.
- [menghela napas] - [bunyi ketukan pintu]
- Sayang! - Ya.
Ibu? Ada apa?
Sayang.
Ayahmu menyuruh ibu kemari untuk bicara denganmu.
Tapi ibu mengantuk sekali.
Tidak apa-apa.
- Kita bisa bicara besok. - Bisakah kita tidur?
Di sini?
Ya. Ibu sudah mengantuk sekali.
[Ibu Salma menguap]
[pintu terceklek menutup]
[suara dengkuran]
[berseru]
Salma.
Kau dengar bunyi itu?
Tidak ada apa-apa.
[terkesiap]
Salma?
Ibu, tidak ada apa-apa. Ibu bermimpi.
- [suara dengkuran] - Ada suara?
[suara dengkuran]
Hantu!
Hantu! [menjerit]
[bunyi pintu menutup]
[musik jenaka]
Nathan!
Nathan!
- [bunyi benturan] - Aduh!
Keluar! Cepat!
Cepatlah!
[musik jenaka]
Tutup!
[bunyi alat pencari hantu]
[bunyi alat pencari hantu]
[bunyi alat pencari hantu]
Ada sesuatu?
Ada hantunya?
- Semalam ada di sini. - [terkesiap]
Dan sangat tampan.
Bajaj! [tertawa]
- [tertawa] - [Nathan] Butuh tumpangan?
Naiklah.
[Salma tertawa]
- Pegangan. - [Salma tertawa]
- [Nathan] Jakarta macet sekali. - [Salma] Tidak apa-apa.
- [Salma] Selama aku bersamamu. - [Nathan] Astaga.
Kau lebih suka aku atau Nathan?
[berseru gemas]
Entahlah.
[berdua tertawa]
Bisa temani aku cari buku?
Kau masih memikirkan soal belajar.
Kau bilang begitu karena tidak menganggur setahun, 'kan?
Salma, kau tahu
kenapa aku tidak mau jadi terlalu pintar?
Karena melelahkan, mengarah ke kehidupan ambisius.
Kalau selalu ingin di depan,
kau akan melewatkan keajaiban-keajaiban yang ada di sekitarmu.
- Misalnya, pria di sampingmu. - "Misalnya, pria di sampingmu."
Kata-kata rayuanmu mulai kuno.
Tidak juga.
Tapi kaulah yang masih belum bisa melupakan mantanmu ini.
[berdecak] Terserah.
[musik riang]
[penjual] Permisi.
Silakan.
- [Nathan] Terima kasih. - Nathan.
Porsinya besar sekali.
Semuanya untukku?
Salma?
Kau butuh banyak protein dan karbohidrat.
Agar punya banyak energi.
Pura-pura melupakan mantan pacarmu butuh banyak energi.
[tersedak]
DAFTAR KEINGINANKU
4. SERTAI TIM PEMANDU SORAK
Jadi, namaku ada di situ?
Jangan…
Jangan dibaca kalau kau hanya mau menggodaku.
Baiklah, tidak akan. Aku cuma mau melihat.
HAL YANG INGIN KULAKUKAN 1. JALAN-JALAN DENGAN TEMAN WANITA
3. LARI 5 KM 4. BERHENTI MAKAN ES KRIM
Tapi kenapa "kita pacaran lagi" tak masuk dalam daftar?
[berdecak] Sudah. Kembalikan.
[dentingan wajan]
[menghela napas]
[menghela napas]
Mantan itu…
manis di ingatan.
Makanya tidak ada dalam daftarmu.
Dia selalu di hatimu.
[berdecak] Hentikan, Nathan!
Tapi benarkah…
aku masih di hatimu?
Yakin mau kau lepas?
Terakhir kali kugenggam tanganmu…
setahun yang lalu.
Kini kesempatan kita melakukannya lagi.
[musik romantis]
[bunyi klik kamera ponsel]
- Turun! - Ayah.
Ayah, cukup.
Kata-kataku kurang jelas?
- Cukup. - Jangan menghalangi.
Ayah…
- Ayah, cukup! - Aku bilang apa padamu?
Ayah, cukup! Ayah!
Ayah!
Ayah, ini salahku.
Ibu!
Biar kujelaskan. Aku…
Sayang.
- [Salma terisak-isak] - Aku katakan untuk terakhir kalinya.
Aku tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Salma. Ingat itu!
[terisak-isak] Ibu, Ayah tak bisa begitu.
Ya, bisa.
Sekali lagi kau ulangi,
- aku akan panggil polisi. - Pak…
[terengah-engah]
Aku serius dengan Salma.
Jika serius mencintai Salma,
kau harus tinggalkan dia.
Karena jika kau terus muncul dalam hidupnya,
aku akan memaksanya memilih antara kau atau aku.
[Salma terisak-isak]
- [terkesiap] - Masuk!
[terisak-isak] Nathan!
[musik sedih]
- Keluar. - Sedang apa kau di sini? Hei!
- [mengerang] - [mengaduh]
- [mengerang] - [mengaduh]
- [mengerang] - [mengaduh]
[bunyi pukulan]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
Jangan campuri urusanku. Berengsek!
[mengaduh]
[Ayah Salma] Ayah harus bagaimana lagi?
Letakkan ponselmu di meja. Ayo.
Laptopmu juga.
Jangan. Aku membutuhkannya.
Untuk apa?
- Menulis sampah seperti ini? - [buku berdebuk]
[Salma terisak-isak]
Salma, ayah belum selesai. Tunggu! Salma!
Cukup! Kau sudah ambil seluruh hidupnya.
Biarkan dia marah.
Hanya itu yang dia miliki.
[mengerang]
[Nathan] Menurut Ayah, aku harus bagaimana?
Maju,
atau mundur?
Keduanya punya risiko, Nathan.
- Itu bukan jawaban, Ayah. - [tertawa]
Jawaban itu untuk anak-anak.
Yang menjadikan kita orang dewasa…
adalah pertanyaan.
Lagi pula, ayah tidak punya semua jawaban.
Jika punya, dulu hubungan kita tidak akan buruk.
Kau harus berani mengambil keputusan.
Kau harus mengambil risiko, kau harus siap.
Bagaimana jika keputusanku salah?
Yang penting adalah kau memutuskan.
Sekarang, ayah ingin tanya.
[menghela napas] Menurutmu…
apa yang paling berharga…
bagi semua orang?
[musik sedih]
[terisak-isak]
[Ardi] Bagimu, bagi Salma.
Bagi semua orang.
[terisak-isak]
Keluarga.
Kalau sudah memutuskan…
maka kau harus siap.
Jangan pernah menoleh ke belakang.
Ya?
- [musik sedih] - [terisak-isak]
[musik sedih]
[Nathan] Menurutku, semua harus berakhir, Ayah.
[bunyi ketukan pintu]
[Salma] Rebecca?
Salma?
Ini pukul 01.00, Salma.
Boleh…
Boleh aku menginap di rumahmu?
Aku akan pergi besok pagi.
Baik, masuklah.
Ayo.
[dering ponsel]
- [dering ponsel] - [terengah-engah]
[terengah-engah]
- Halo, Rebecca? - [Rebecca] Nathan, ini soal Salma.
Sejak semalam dia di rumahku.
Sayang?
[Salma] Kepada Ayah dan Ibu.
Jangan repot mencariku.
Aku butuh waktu menyendiri.
Aku akan pulang nanti.
Salam sayang, Salma.
[musik sedih]
Sudah memutuskan?
Kenapa lama sekali?
Sebentar.
Sebentar.
Mau beristikharah dulu?
[menghela napas]
Berikan sayur dan ayam saja, Bu.
Kenapa kau harus kabur dari rumah?
Ini bukan gayamu.
Harusnya kau tidak kemari, Nathan.
Aku tidak mau jadi bebanmu.
Kalau begitu, jangan membuatku khawatir.
- Pulanglah, Salma. - Nathan, ini urusanku.
Tidak.
- Aku tidak mau terjadi apa pun padamu. - Aku sudah dewasa.
Aku bisa jaga diri.
Lagi pula…
- Sekarang kita… - Terserah.
Terserah kalau kau pikir bisa menjaga diri.
Aku tidak mau menyalahkan diri dan merasa bersalah
jika terjadi sesuatu padamu, Salma.
Aku tidak punya fitur Ctrl+Z.
Aku tak bisa mengulang semua.
Kalau kau ingin kabur…
aku ikut.
[musik riang]
[Salma] Nathan.
Apa kau dendam padaku?
Kenapa kau tanya?
Waktu itu, aku mendadak memutuskanmu.
Aku tidak bisa lama marah padamu, Salma.
Apa lagi mendendam.
[debur ombak]
Jadi, setelah kita putus…
kau tidak punya pacar?
Tidak berlebihan, 'kan?
Kalau kubilang aku pria yang tidak akan bisa kau lupakan?
[berdecak] Kau narsistik sekali.
Karena setelah ini…
kau benar-benar harus belajar untuk melupakanku.
[deburan ombak]
Ini kenyataan yang harus kita hadapi.
Kita bicara hal lain saja, Nathan.
Tidak. Salma.
Aku tidak mau kita lari dari masalah seperti ini.
Aku…
Aku tidak rela…
kau kehilangan hubungan baik dengan orang-orang yang mencintaimu.
Aku lebih rela kau pulang…
bertengkar dengan ayahmu…
daripada kabur seperti ini.
[terisak-isak]
Salma.
Hubungan kita harus berakhir di sini.
[terisak-isak]
Itu kenyataannya.
- [terisak-isak] - [musik sedih]
Kita harus melewati kesedihan ini.
Kita harus kuat, ya?
[terisak-isak]
Karena akan ada banyak hal berharga yang tersia-siakan jika kita…
terjebak dalam amarah.
- Sekarang, kita akhiri dengan senyuman. - [terisak-isak]
Ayo pulang…
dan simpan kisah ini di hati kita.
Ya?
[Salma terisak-isak]
Ya?
- [terisak-isak] - [musik sedih]
- [terisak-isak] - [musik sedih]
- [terisak-isak] - [musik sedih]
Terima kasih.
Nathan, apa yang kau lakukan?
Aku ingin jelaskan pada ayahmu. Aku tidak mau ada salah paham.
Tidak usah, Nathan.
- Itu dia. - Pak, aku…
- Nathan! - [polisi 1] Ikut kami.
- [Salma] Nathan! - [polisi 2] Jelaskan di kantor polisi.
Dia mau dibawa ke mana?
Nathan! Lepas…
- Sudah ayah bilang… - Lepaskan Salma, Ayah!
[Salma meratap]
Nathan boleh pulang. Ini hanya kenakalan remaja.
- Lain kali jangan diulang. - Baik, Pak.
- Terima kasih. - Sama-sama. Selamat jalan.
- Selamat sore, Pak. - Sore.
Kau tidak apa-apa?
Ya, Ayah. [tertawa]
Apa yang terjadi, Nathan?
[menghela napas]
Ini pelajaran untuk kita semua.
Wajah yang terlalu tampan bisa membuatmu masuk penjara.
Aku serius. Apa yang terjadi?
- Nanti kuceritakan. - Ayo makan.
Ayo.
Nathan, sudah jelaskan semuanya pada ayah Salma?
Belum sempat, aku langsung ditahan.
Terima kasih, Pak.
Semalam, mereka menginterogasiku.
Mereka tidak punya bukti bahwa aku bersalah.
Pria ini keterlaluan. Apa dia minta maaf padamu?
[berdeham]
Setelah makan, kita ke rumah Salma.
- Untuk apa? - Ini soal harga diri antara seorang ayah.
Panjang urusannya kalau melibatkan harga diri.
Begini…
Ayah, aku mengerti.
Tapi lupakan saja.
Jika aku melihat apa pun yang mengingatkanku akan Salma…
makin sulit bagiku melupakannya.
Sekarang…
Kita lupakan saja masalah ini.
Kita lanjutkan hidup, ya?
Terserah kau saja.
Baiklah.
Tapi tersenyum dulu?
[tertawa]
[bunyi pintu diketuk]
- Selamat siang, Pak. - Selamat siang.
[Ayah Salma] Kau kemari untuk jadi juru bicara Nathan?
Ini bukan soal Nathan. Ini soal Salma.
Jadi, kau pikir lebih mengenal Salma?
Lebih baik daripadaku, ayahnya?
Tunggu sebentar.
Lihat, namanya Indira, mahasiswi semester dua.
Dia sangat berprestasi sejak SD.
Dia bunuh diri di usia 18 tahun.
Karena IPK-nya di bawah 2. Dia takut pada orang tuanya.
Apa yang membuatmu berpikir akan berhasil mengintimidasiku?
Aku kemari karena merasa harus memberi tahu Bapak soal ini.
Hampir lupa.
Bapak lihat ini?
Satu-satunya alasan Salma bergabung dengan komunitas kami…
karena dia punya banyak masalah dan tidak ada yang bisa diajak bicara.
Aku bersyukur Salma mau menangis dan menceritakan kisahnya.
Karena jika dia menangis dan bicara pada orang yang salah?
Bukan tidak mungkin segalanya akan lebih buruk.
Aku tidak bisa mengubah hati Bapak.
Aku juga tidak bisa mengubah takdir Salma.
Tapi aku tahu betul bila Bapak tidak mengubah sikap…
bukan mustahil Salma akan menyusul Indira.
Terima kasih atas waktunya.
Aku permisi.
Satu hal lagi, agar Bapak tahu.
Aku juga nyaris bunuh diri.
Nathan-lah yang menyelamatkanku.
Dia ada di sana saat aku tidak punya siapa pun.
- Selamat siang, Pak. - Siang.
[musik sedih]
[musik sedih]
[menghela napas]
[menghela napas]
[Ayah Salma] Sayang kakekmu sudah tiada.
Kalau masih hidup, kau pasti jadi cucu kesayangannya.
Kau tahu
di mana kakekmu meninggal?
Di depan resepsionis rumah sakit.
Beliau tidak bisa dirawat…
karena tidak punya uang.
[menghela napas]
Ayah marah sekali.
[menghela napas]
Ayah berjanji…
akan menjadi dokter.
Ayah berusaha masuk jurusan kedokteran.
[terisak-isak]
Tapi ayah gagal dapat beasiswa.
[menghela napas] Setelah setahun menikah dengan ibumu…
nenekmu memberikan semua tabungannya pada ayah.
Belakangan, baru ayah tahu…
kalau nenek mengidap kanker.
[terisak-isak]
Dia tidak bilang pada siapa pun.
Karena tidak mau jadi beban.
[terisak-isak]
Karena ibumu dan ayah…
tidak punya cukup uang untuk merawatnya.
[terisak-isak]
[menghela napas]
[menghela napas] Ayah menurunkan…
semua impian ayah padamu,
alih-alih pada diri sendiri.
[terisak-isak]
Ayah terlalu keras padamu.
[terisak-isak] Maafkan aku, Ayah.
[terisak-isak] Maaf.
[terisak-isak]
Maafkan aku. [terisak-isak]
[terisak-isak]
Kita juga akan mengalami hal yang sama.
- Ya. - Asalamualaikum!
Ya.
- Wa alaikum salam. - Wa alaikum salam.
Nathan, kemari.
[Ayah Salma menghela napas dan berdeham]
[Ayah Salma] Nathan.
[Ayah Salma tertawa]
- Pak. - Hai.
Apa Salma kabur lagi?
[menghela napas]
Sebaiknya kalian berdua bicara.
- Benar, terima kasih. - Sama-sama.
[Ayah Salma menghela napas, berdecak]
Jawab aku dengan jujur.
Kau masih mencintai Salma?
Apa ini pertanyaan jebakan?
Memangnya sulit dijawab?
[berdengus] Tentu saja.
Terutama, situasi terakhir kali kita bertemu agak kurang nyaman.
Kalau dalam situasi sekarang?
Seberapa besar kau mencintai Salma?
Cinta bila tidak direstui tidak ada artinya.
Begini.
Jika aku mengorbankan diri
agar Salma tidak kehilangan hal berharga dalam hidupnya…
itu juga cinta, bukan?
Apa maksudmu hal berharga?
[menghela napas] Keluarga.
[menghela napas]
[berdeham]
[menghela napas]
Sekarang pukul berapa?
Nathan ada kuliah.
Jangan khawatir, aku tidak ada kelas hari ini.
Baguslah. Tolong tunggu dia di bimbel.
Bimbel atau fakultas sastra, Pak?
Nathan, antar saja aku ke bimbel.
Apa kau benar ingin menjadi dokter?
[menghela napas] Anak kita ingin jadi penulis, Sayang.
Benarkah, Salma?
[bergumam]
[berdecak]
[tertawa]
Baiklah. Ajak dia melihat-lihat fakultas sastra.
Siap, Pak.
Ayah serius?
[menjerit senang]
Ayah, terima kasih.
Berjanjilah kau akan jadi penulis hebat.
Janji! [tertawa]
Aku pergi dulu.
- Hati-hati. - Baiklah.
Ayo, Nathan!
Hei, jangan bergandengan sampai kalian menikah!
Haruskah kita menikah?
[berdecak] Berhenti bercanda.
["Lovin' U" oleh Devano Danendra diputar]
[bunyi percikan air]
[bunyi percikan air]
[bunyi percikan air]
- Set 185, adegan tiga, take keempat. - Take.
Aku lama menunggu. Apa kau tidak peduli…
[menceracau]
Kau tidak kasihan pada penggemarku yang…
[menceracau]
Tak perlu dibahas, itu tak penting.
[berdecak] Penting bagiku!
Maaf, kurang bagus.
- Baik. - [benturan]
[mengikik]
[tertawa]
- Aku takkan minta maaf. - Untuk apa?
Hei?
Aku lupa dialogku.
[semua tertawa]
Katakan.
Apa kayang… [tertawa]
Kayang!
Action!
…keajaiban-keajaiban yang ada di sekitarmu.
- Misalnya, pria di sampingmu. - Contohnya, pria di sampingmu.
[entakan]
[terisak-isak] Air mataku tidak mau keluar. Tunggu.
Hei, Ridho! Tunggu, apa?
Panjang urusannya kalau melibatkan…
[menceracau, tertawa]
- Cut! - Sial!
Apa kau dendam padaku?
- Maaf, nirkabelnya lepas. - Baiklah.
- Tolong tunggu dia di bimbel. - [Salma cegukan]
Dan tolong…
[semua tertawa]
- Dia cegukan. - Cut.
[tertawa]
[bersorak]
["Ini Aku" Oleh Devano Danendra diputar]
[bunyi gitar listrik]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.