All language subtitles for The.Way.I.Love.You.WEBRip.Netflix.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ini, cobalah. Aku yang buat.

Cobalah!

Ayo makan!

Enak?

- Rasanya memang seperti buatanmu. - Maksudmu?

Enak! Anya, kue mangkuk buatanmu semakin enak setiap tahunnya.

Terima kasih, Sayang! Aku juga mau.

Buatanku sudah pasti enak.

Enak, 'kan?

Terima kasih sudah melahirkan Senja ke dunia ini.

Kami rindu kalian.

Tak terasa sudah enam bulan berlalu.

Pria yang kusuka pacaran!

Lihat, dia bersama seorang gadis!

Nya, ini pria yang mengobrol daring denganmu sejak bulan lalu, 'kan?

Yang setiap hari mengirim emoji ciuman untukku.

Sudahlah, aku muak pada pria. Persetan!

Hei! Beraninya kau!

Hei! Kau bisa mengendarai motor atau tidak?

Bagaimana jika aku tertabrak dan terjadi sesuatu. Kau bisa...

Maaf.

Lain kali jangan jalan sambil lihat ponsel.

Apa? Kau masih tetap salah! Nya, katakan padanya!

Dia malah pergi.

Hei, kalau minta maaf yang ikhlas! Nya!

Nya? Anya!

Ayo bicara! Kenapa hanya menatap?

Dia tampan!

Tadi kau bilang sudah muak pada pria.

Apa? Kau salah orang.

Anya!

Kami sedang mencari panitia pesta dansa Valentine. Silakan daftar.

Dia kelas berapa, ya?

Aku belum pernah melihatnya.

Nya!

Apa kau merasakannya?

Ada benih-benih asmara di antara kami.

Percikan.

Anya!

Kenapa tadi dia tak ada di kantin?

- Aku sangat ingin mengenalnya. - Tak ada topik lain?

Saat jatuh cinta, aku bersungguh-sungguh.

Kenapa? Karena cinta itu sakral.

Semakin total kau berikan hatimu, maka kau semakin bahagia.

Andai saja kau setotal itu saat mengerjakan tugas.

Kenapa ada foto bubur ayam di artikel ini?

Karena judulnya "Sarapan untuk Pikiran?"

Kau hanya baca itu?

Ini salahku. Aku tak memeriksa pekerjaannya.

Seharusnya kalian tahu, malam ini artikel ini harus dicetak.

Anya, jika tak kirimkan foto yang benar, sore ini tamat riwayatmu.

Baiklah.

Hei, Nya! Nya!

Pinjam.

Kenapa tak ikut ekskul?

- Kau mau mengadukanku? - Tidak.

Kau murid baru, ya?

Aku Anya, yang tadi pagi hampir kau tabrak.

Tenang, sudah kumaafkan.

Kau juga suka baca buku?

Kau sama seperti sepupuku.

Sepupuku suka baca buku dan menulis.

Lalu saat di rumah, dia akan...

Kau bisa diam?

Hei, kenapa kalian ada di sana? Kembali ke klub.

- Masuk! Cepat! - Baik.

Kenapa mereka malah kabur?

Kudengar...

kau mau menulis untuk majalah kita?

Aku masih ada tempat untuk edisi bulan depan.

Kuharap kau bisa menulis cerita yang bagus.

Jangan permalukan aku.

Baik.

Apa kabar, Bu?

Masa bodoh jatuh, patah tangan, patah hati. Tetap semangat. Jakarta keras!

Halo, keluargaku tercinta.

Anya, kenapa baru pulang jam segini?

Bu...

Aku baru tahu arti hidup. Jantungku berdegup karena cinta.

Berdegup? Jantung Ibu yang berdegup! Kau tak mengabari Ibu!

- Gantikan Senja menyetrika baju! - Cerewet.

Terima kasih, Senja!

Berkat jurnalmu, aku berhasil berkenalan dengan pria tadi pagi!

Hei, Anya!

- Bagaimana bisa? - Takdir.

Takdir. Dasar kau ini.

Menyetrika saja belum benar, sudah bicarakan takdir?

Belajar menyetrika dulu pada Senja. Ayo.

Belajarlah menyetrika dengan benar.

- Berisik. - Hei, Nya.

- Di mana jurnalku? - Di tasku.

- Kau yakin meletakkannya di sini? - Aku yakin. Memangnya tidak ada?

- Lihatlah sendiri. - Carilah dengan teliti.

Tidak. Aduh.

Ya, ampun.

Astaga!

Di mana, ya?

Astaga, Senja. Maafkan aku, Senja.

Aku janji akan temukan buku itu.

Aku tahu betapa pentingnya jurnal itu untukmu.

Tak apa-apa, Anya.

Itu...

Itu hanya buku.

Bagimu itu bukan hanya buku biasa.

Kau curahkan semua isi hatimu di sana.

Anya?

Nya.

Anya.

Anya, kenapa kau menangis?

Aku yang seharusnya menangis, bukan kau.

Cukup, aku tak mau melihatmu menangis. Sudahlah.

Buku itu masih bisa diganti.

Tapi kau tidak.

Maaf.

- Aku janji akan menemukannya. - Anya.

Tak ada yang lebih penting darimu.

Sahabatku.

- Sedang apa kau? - Ayah.

Tidak ada.

Sedang mengerjakan tugas.

Ayo main basket!

Aku malas.

Bara.

Ayah tunggu di depan. Ayo cepat!

Bagaimana sekolah barumu? Seru? Kau sudah punya teman baru?

Tidak seru. Berbeda dengan Bandung.

Sudah pasti berbeda dengan Bandung. Tak mungkin sama.

Jangan khawatir, carilah teman baru.

Bar.

Kita pindah ke sini untuk memulai sesuatu yang baru.

Ayah yang butuh itu.

- Aku tak butuh. - Bar, ayolah.

Bar, Ayah tahu kehilangan Ibu sangat berat. Berat untuk Ayah dan kau.

Tapi kita harus melangkah. Hidup terus berjalan.

Sudahlah, Yah.

- Permainan berakhir. Ayah menang. - Bar, tunggu. Bar.

Bara!

Bara, tunggu! Bara, tunggu sebentar!

Bar, sekarang hanya tinggal kau dan Ayah. Tak ada orang lain.

Harus saling menguatkan. Kita tak punya orang lain.

Ada. Ada orang-orang yang menguatkanku.

Teman-temanku di Bandung. Mereka selalu menguatkanku.

Mereka yang menguatkan aku saat Ibu pergi. Ayah di mana?

Ayah...

Ayah hanya mengurung diri.

Aku tak pernah merasa Ayah ada.

Sekarang Ayah menjauhkanku dari mereka.

Aneh jika aku marah?

Tadi Ayah pikir kita bisa...

Maafkan Ayah.

Ayah tak menduga dengan pindah ke sini kau malah...

merasa kehilangan.

Ayah juga minta maaf.

Selama satu bulan...

Kau tahu, 'kan?

Ayah bertemu ibumu saat SMA.

Kami satu kampus.

Akhirnya kami menikah.

Tidak satu hari pun...

Ayah pergi tanpa ibumu.

Tidak sehari pun. Kami selalu bersama-sama.

Tapi di hari itu...

dia pergi sendiri.

Untuk selamanya. Jadi Ayah...

Jika kau...

Jika kau mau kembali ke Bandung, tak masalah.

Tak apa-apa, Ayah akan tetap di sini.

Lalu siapa yang main basket dengan Ayah?

Ada satpam kita, Pak Matum dan Bu Ijah.

Dengan begitu Ayah bisa terus menang?

Aku akan coba cari teman di sini.

Sepertinya ada yang mengalami hal yang sama denganku.

Hai.

Maaf aku terlambat.

Kau jahat sekali. Aku membereskan rumah sendirian.

Sebentar lagi kau pasti memaafkanku.

Ta-da!

Mau menyogokku? Nanti kulaporkan ke KPK.

- Berat! - Kau banyak bicara.

- Ayo cepat buka! - Bantu aku.

Wah.

Kau pasti mengerjaiku.

Di dalamnya pasti hanya ada batu dan satu permen, 'kan?

Ya.

Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini.

Itu memang laptop bekas.

Aku tak mampu membelikanmu yang baru.

Kau keterlaluan.

Maksudmu terlalu baik? Memang benar!

Aku tahu sejak jurnalmu hilang kau jadi jarang menulis.

Itu sebabnya aku memberimu cara baru untuk berkarya.

Bukan di lembaran rahasia,

tapi di depan seluruh dunia.

Jadi, semua orang bisa membacanya.

- Tambahkan lagi. - Masukkan tahu.

Tak peduli berapa kali kau terjatuh...

"Kau harus cari lebih banyak cara untuk bangkit lagi.

@caramellatte." Keren!

Bagus sekali!

Tentu saja!

- Minum kopimu. - Tak pakai gula, 'kan?

Tentu tidak.

Jadi, sudah berapa banyak pengikutmu, Caramel?

Hanya beberapa.

Lumayan.

"Selamat datang di kota besar. Selamat sendirian beramai-ramai."

Orang ini serius atau bercanda?

"Tak terasa sudah lama kita berpisah. Aku masih di sini. Kau tidak."

Hai, Caramel Latte.

Kenapa?

"Aku tahu kau sudah baca pesan ini."

Hai...

Bad Boy.

- Balas biasa saja. - Ini sudah biasa. Hanya bilang hai.

Dia membalas!

Semua tulisanmu bagus. Terasa jujur. Aku suka membacanya.

Lihat, dia mengidolakanmu!

- Biar aku yang balas. - Hei!

- Nya, kurasa aku bisa balas sendiri. - Baiklah.

Katakan siapa yang menginspirasi blogmu. Pacarmu?

Itu kode, ya?

Tidak! Astaga.

Aku tak punya pacar.

Sama! Aku juga suka minum kopi tanpa gula.

Karena kau sudah manis?

Aku tak bilang begitu.

Ya, aku yang bilang.

Bagaimana jika itu orangnya?

Yang itu.

Seperti apa wajahku dalam bayanganmu?

Itu yang di belakang.

Di belakang!

Ya, tidak jelek.

Mungkin saja. Dia tampan.

Kau yakin?

Kau belum pernah melihatku.

Ini enak. Kau mau coba?

Bagaimana jika aku seperti gorila?

Kau kenapa?

- Dia tertawa sendiri. - Mengkhayal.

Dia mengkhayal.

Norak?

Aku suka gorila. Menggemaskan.

Habis.

Sebesar ini. Banyak sekali.

- Kau harus coba ini. - Berikan padaku.

Kau tak makan?

Cobalah.

Itu bisa siapa saja.

- Mungkin perempuan genit seperti mereka. - Dia laki-laki!

- Bisa saja tua. Seperti pak satpam. - Kami seumuran.

Mungkin dia pernah dipenjara! Kau tak pernah tahu itu.

- Anya, kau tahu? - Oper.

Saat kau paranoid, kau tahu kau mirip siapa?

- Ibumu. - Aku...

Bagaimana lagi, aku takut jika dia...

Hai, Kak Bara!

Kak Bara!

Tampannya.

Bara!

Biar Ibu ambil.

Yang lain, letakkan di meja depan.

- Hai, maaf. - Hai.

- Kalian sudah mengerjakan tugas rumah? - Sudah.

- Boleh lihat? - Boleh.

Sebentar.

Bagus. Coba lihat.

- Terima kasih. - Baiklah.

Oke. Terima kasih.

Ya. Sama-sama. Hati-hati, Bara.

Dia tampan sekali!

Ini, kerjakan apa yang aku minta.

- Terima kasih. - Ya, pergilah.

Maaf.

Kau lagi? Menyebalkan. Padahal jalanan ini luas.

- Kau harus menabrakku? - Kalau jalan hati-hati.

Minta maaf saja sudah cukup.

- Dasar perempuan. - Dasar laki-laki.

Kau mau beli makan juga?

Hei, Bara! Kudengar kau bisa main basket.

Gosip.

- Kudengar kau juga pecundang. - Wah.

Baiklah, pecundang sombong. Kau dan aku, satu lawan satu sekarang.

Ayo tonton!

Bara!

Maaf.

Ayo, Bara!

Maaf. Kau baik-baik saja?

Siapa namamu?

Kau lagi. Aku sakit!

Kau sakit? Aku Bara.

Dia melihatku!

Bara!

Baiklah, Kawan. Kau menang. Kau ikut timku.

Bara!

Sakitnya menahan malu.

Menertawakan diri sendiri membuat kita kuat.

Bacalah Love is Universal, karakternya mirip kau.

Mirip bagaimana?

Dia tak mudah menyerah atau merasa malu. Seperti kau.

- Bara keren sekali hari ini! - Dia diajak masuk tim basket!

Orang seperti itu masuk tim basket?

Dia bahkan tak bisa bedakan pinggangku dan keranjang.

Ayolah. Maafkan pacarku. Dia tak sengaja.

- Sejak kapan kau baca buku kisah cinta? - Disuruh Badboy.

Badboy baca buku cinta? Dia pasti perempuan.

Apa? Laki-laki juga boleh baca buku cinta. Agar bisa lebih sensitif dan romantis.

Kau sedang jatuh cinta, Senja?

- Tidak. - Kau jatuh cinta!

- Tak mungkin. - Apa-apaan kau?

Caramel, apa warna favoritmu?

Oranye. Kau?

Ini, bacalah. Baca.

Bacalah. Ya?

Hei, jika kuajak Bara ke pesta dansa, menurutmu dia mau?

Apa dia akan kecewa padaku?

Jika dia kecewa, mentalnya terlalu lemah untuk jadi pacarmu.

Benarkah?

- Lihat, Bara baca majalah kita! - Biasa saja.

Sebentar, Nya. Permisi.

Majalah ini untuk dibaca, bukan untuk dibuang.

Kau yang menulis?

Bukan, tapi aku yang menyunting!

Kau membuang waktumu menyunting majalah penyadur seperti ini.

- Mau saranku? Gantilah ekstrakurikuler. - Kau...

Nya! Anya, ayolah. Kau masih suka laki-laki seperti itu?

Majalah penyadur. Ya. Benar.

Kenapa kau membelanya?

Memangnya aku tak boleh objektif? Apa aku harus benci dia seperti kau?

Terserah kau saja. Aku muak.

- Ya sudah. - Berengsek.

Pernah bertemu orang yang selalu membuatmu kesal? Sebaiknya kuapakan?

Ajak berkelahi!

Maksudmu berkelahi?

Katakan ini dengan lantang: Kau cari masalah denganku?

Kau mau berkelahi? Kau...

Aku ingin diajari langsung.

Boleh. Kapan?

Bagaimana sekolahnya?

Anya?

Senja?

Biasa saja, Ayah. Ada banyak drama yang terjadi.

Marah-marah tak penting karena laki-laki.

Ada yang cinta buta, sampai tak mau mendukung saudarinya.

Satu per satu, Anya.

Maaf, Bu. Aku buta, tak kelihatan.

Kalian bertengkar atau main tebak-tebakan?

Besok ada pertandingan bola basket di sekolah.

- Aku boleh lihat bersama Dina dan Riska? - Senja bagaimana?

Ibu khawatir jika kau pulang malam.

Setelah pertandingan aku langsung pulang. Sebelum Magrib.

Ayah?

Baiklah.

Tapi janji, hubungi ibumu saat berangkat dan pulang.

Baik, Ayah.

Pakailah baju merah dan bawa bunga.

Tapi kuyakin bisa mengenalimu tanpa itu semua.

Aku juga yakin.

Maaf, ini agak aneh. Apakah kita pernah bertemu?

- Mungkin. - Boleh duduk di sini?

Boleh.

Kalau kau bawa bunga.

Pinjam.

Ini. Boleh?

Sudah baca sampai mana?

Kau sering datang ke sini?

Ya, cukup sering. Karena dekat dari rumah.

Jadi jika sedang pusing atau bolos...

aku akan datang ke sini.

Apakah kau...

Badboy?

Aku Senja.

- Rasya. - Akhirnya kita bertemu.

Nya, Bara masih tak menghiraukanmu?

Ayo!

Nya, penggemar Bara sangat banyak. Lihatlah.

Jika kau lambat, kau akan kalah.

Satu sama!

Nya, hari ini kau harus dapat tumpangan dari Bara.

- Ini foto di mana? - Di Rinjani.

- Ini? - Itu... di atas kantor ayahku.

Yang ini?

Kau mau menginterogasiku sampai malam?

Maaf. Aku senang bisa bertanya dan langsung dijawab.

Tidak seperti sebulan lalu. Harus menunggu sampai kau daring.

Baiklah. Mulai hari ini...

kita mengobrol melalui ponsel saja. Agar lebih mudah.

Kau minta nomor ponselku?

Oke, sekarang kita punya nomor masing-masing.

Aku suka gayamu. Tak mudah malu.

Kau sudah pernah mengatakannya.

Baiklah, mulai sekarang...

mari kita tutup blog kita.

- Lalu kita buat proyek baru berdua. - Seperti buku?

Jadi, kau yang menulis, aku yang mengambil foto.

Aku suka ide itu.

Dina! Riska!

Anya!

- Kau baik-baik saja? - Anya, kenapa kau?

- Maaf! - Astaga!

- Kau baik-baik saja? - Berdiri dahulu.

Aduh.

- Maaf! - Anya, apa yang sakit? Biar kulihat.

Bagaimana jika kuantar pulang?

- Apakah boleh? - Boleh.

- Tak apa-apa. - Tak apa-apa, dia sedang sakit.

- Baiklah, aku pulang dengannya, ya? - Ya, pulanglah.

Hati-hati, Kak.

- Maaf, aku tak melihatmu. - Hati-hati. Cepat sembuh.

- Kau bisa? - Ya.

Maaf Paman, Bibi. Aku tak sengaja.

Beraninya kau!

Jual saja motor yang menyerempet anak saya.

Anya, kau kenapa?

- Dari mana kau? Baru pulang sekarang. - Maaf, Bibi.

Anya, mari kubersihkan lukamu.

Tidak usah. Masuklah ke kamarmu.

Masuk!

Baik, Bibi.

Aku sungguh minta maaf.

Aku akan membantu Anya sampai pulih. Aku akan tanggung jawab.

Sebenarnya tidak perlu. Luka Anya tak begitu parah.

Kau sudah mengantarnya pulang dan minta maaf.

- Itu sudah cukup. - Sayang!

- Cukup bagaimana? - Sayang!

Berikan nomor telepon ayahmu. Aku ingin bicara padanya.

Kau benar. Sudah saatnya kita mulai sesuatu yang baru.

Ini terakhir kalinya aku chat. Sampai jumpa.

Anya, itu berbahaya. Kau bisa tertabrak sungguhan. Caramu itu...

Aku salah! Aku tahu.

Tapi Bara itu terlalu keren.

Dia terlalu cuek.

Aku terlalu menyukainya.

Sekarang...

jalan masuk menuju hidup Bara sudah terbuka lebar.

Hanya tinggal jalan masuk ke hatinya. Benar, 'kan?

- Sakit! - Kenapa kau terlalu banyak bergerak?

Kenapa Bar? Harimu buruk?

Parah.

Acara gagal. Pertandingan kalah.

- Juga kecelakaan. - Kecelakaan apa?

Sebentar lagi ada orang tua yang menelepon Ayah.

Mereka akan minta pertanggungjawaban pada Ayah.

Karena aku sudah menyebabkan putrinya kecelakaan.

Astaga. Bara!

Kau tak tahu cara main yang aman? Kau masih SMA!

Jika begini, kau harus menikah.

Kenapa tertawa? Ini masalah serius!

Bar.

Ayah konyol. Wajah Ayah panik.

Kecelakaan apa ini? Kecelakaan hamil?

Bukan.

Aku tak sengaja menyerempet anak perempuan.

- Saat naik motor di sekolah. - Lalu?

Tak apa-apa. Dia baik-baik saja.

Hari Senin aku janji akan mengantarnya ke sekolah.

- Astaga. - Puas?

- Kau puas? - Wajah Ayah sungguh panik.

Semalam aku mimpi kita satu sekolah.

Apakah kau memimpikan aku?

- Aku mimpi dikejar Godzilla. - Godzilla?

Bahkan Godzilla mengejarmu. Pasti banyak yang menyukaimu.

Sendirian saja, Bu Senja?

Selamat pagi!

Kita sedang berada di mimpimu, ya?

Kalau di mimpimu pasti menakutkan.

- Terima kasih, Kak Bara. - Sama-sama.

Siapa dia? Kau tak perkenalkan kami?

Rasya, perkenalkan. Dia yang membuatku memulai blog.

- Anya. - Badboy.

Omong-omong, aku izin. Nanti aku akan menculiknya.

- Aku akan mengajaknya kencan. - Boleh!

Sopan sekali kau meminta izin.

Dia anak baik. Anak baik.

- Apa-apaan kau? - Sakit!

Baiklah, aku masuk dahulu. Aku tak mau ganggu kalian.

- Permisi. - Dah.

- Ini. - Yang ini?

Terima kasih!

Menggemaskan!

Berarti kita bisa beli tiket untuk pesta dansa Valentine.

- Ayo. - Ayo!

Permisi, aku ingin beli empat tiket!

Masing-masing kita dapat dua tiket!

Asyik. Kak Bara!

Ini untukmu.

Oke.

Nya!

Aku sangat senang!

Ini kebodohanku yang paling sepadan.

Jangan bertingkah bodoh di pesta dansa, Nya.

Tentu saja tidak.

Ayo.

TIKET DANSA VALENTINE

Untuk pekan depan. Bisa datang, 'kan?

- Kau tahu apa artinya ini? - Apa?

Artinya...

kau mau jadi Valentine aku.

Bibiku menungguku di dalam.

Hei, kau ke mana saja?

Kenapa kau biarkan orang sakit menyapu?

- Kau kenapa? - Nya.

Sepertinya Rasya hampir menciumku.

Hampir? Senja!

- Kapan? Kau serius? - Aku tak suka.

- Apa? - Apa kenapa?

Senja, tolong bantu Bibi ambil makanan lain.

Jika Anya yang ambil, setengahnya dia makan.

Apa?

Baik, Bibi.

- Bibi. - Bu.

Boleh aku datang ke pesta dansa Valentine sekolah?

- Aku akan datang bersama Bara. - Apa?

Kalau baju kalian seperti ini, tidak boleh naik motor.

- Kenapa Ayah? - Bagaimana jika kalian masuk angin?

- Atau roknya tersangkut di roda? - Lalu kami harus bagaimana?

Ingat, kalau sudah selesai...

langsung pulang.

Tidak boleh bersentuhan.

Tidak boleh minum minuman keras.

Tak boleh lakukan hal aneh. Terutama berpegangan.

- Baik, Ayah. - Baik, Paman.

- Baik, Paman. - Bagus.

Ayah, tolong nyalakan radio.

Paman, lihat ke kanan!

Dah!

- Keluarga yang aneh. - Hei, beraninya kau!

Keluarga kami spesial! Jangan asal bicara.

- Maaf. - Ayo, Bara.

Ayo kita berbaur.

Ayo, Bara.

Di sini?

- Terima kasih. Ini! - Oke.

- Hei, Bara, ayo masuk! - Baik. Astaga.

Hei, Bara!

Baik, apa kabar?

Ini pertama kalimu berdansa pelan?

Baiklah. Tutup matamu.

Ikuti arahanku.

Tunggu di sini.

Tolong ganti lagunya.

Lucu sekali!

Kenapa kita hanya menonton, Kak?

Kau tak mau berdansa?

Aku ingin ke toilet.

Aku tak sangka kau bisa berdansa seperti tadi.

Terlalu manis. Sya, kurasa kau takkan suka.

Tunggu sebentar.

- Kenal Rasya di mana? - Kau tak dansa bersama Anya?

Aku tak bisa dansa.

Kami bertemu daring.

Love is Universal?

Apa?

Aku pernah lihat kau membawa buku itu.

- Kau suka? - Lumayan.

Kau juga suka baca buku kisah cinta?

Hanya satu buku itu.

Alasannya karena...

itu buku kesukaan ibuku.

Beberapa bulan lalu dia meninggal.

Maaf.

Aku mengerti perasaanmu.

Bara.

Tolong ajak Anya berdansa.

- Kumohon. - Kau...

- Pernah menulis? - Anya!

- Mau dansa? - Hei!

Hei.

Ayo jalan-jalan. Melihat-lihat sekolahmu.

Ayo.

Ayo.

Ayo.

Omong-omong aku baru tahu kau suka dansa.

Kupikir hobimu hanya berkendara motor dan baca buku.

Tentu tidak.

Kau baru tahu sebagian dari hidupku.

Sama seperti pelangi yang baru muncul setelah hujan reda.

- Aku sebenarnya pemalu. - Lebih tepatnya pembohong.

Sebentar.

Aku ingin bantu melepas sepatumu.

Sepertinya kau pegal.

- Terima kasih. - Senja.

Aku belum pernah merasa seperti ini bersama orang lain.

Rasya. Rasya, kurasa kita...

Maaf...

Aku tak merasa nyaman.

- Maaf. Kupikir, aku... - Tak apa-apa.

Aku hanya memberitahumu sekarang.

Agar batasan kita jelas.

Ingat, jangan terlalu lembek terhadap ayahnya Gara.

- Bara. - Kau harus garang!

- Agar ayah Gara mau ganti rugi. - Bara, Sayang. Bara.

- Gara itu temannya Naruto. - Terserah.

Gara, Bara, Sara, yang penting putri kita dianggap serius.

Sayang, ini bukan perang!

Bara sudah baik pada Anya. Menemani dan menjaganya.

Apa lagi yang kita mau?

Kau juga lihat seperti apa motornya, 'kan?

Bara bukan anak orang kaya.

Rumahnya bagus sekali!

- Bapak Hadi dan Ibu Astini? - Ya, benar.

Pak Herman sudah menunggu di dalam. Mari saya antar.

Baik.

Tunggu, aku sedang berfoto.

- Silakan. - Ya.

Mari ikut saya.

- Silakan duduk. - Terima kasih.

Tunggu sebentar. Aku panggil Bapak dulu.

Baik.

Ini rumah atau hotel?

Orang tua Anya?

Halo, aku Herman.

- Herman. - Halo.

Maaf, baru bisa bertemu sekarang.

Aku harus bolak-balik ke luar kota.

- Maaf. Silakan duduk. - Terima kasih.

Aku juga ingin minta maaf atas perilaku Bara.

Saat di jalan dia kurang peka dengan keadaan sekitarnya.

Tidak apa-apa. Ya, Sayang?

Bara anak yang sangat baik.

Dia menjemput Anya setiap hari. Dia sangat sopan.

Jika tak keberatan, aku ingin undang kalian makan malam di kafe kami.

Biar Bara dan Anya yang putuskan solusi terbaiknya.

Jadi, Bapak dan Ibu juga punya usaha keluarga?

Ya, aku dan almarhumah istriku.

Kafe yang di Jakarta adalah ide Bara.

Sungguh? Bara juga pandai berbisnis?

- Hebat sekali. - Sedang kuajarkan pelan-pelan.

Jika berkenan, kita bisa makan malam bersama, dan...

Anak-anak bisa saling mengenal.

- Mereka bisa selesaikan masalah mereka. - Lalu saling mengenal!

- Benar, Sayang? - Benar. Ya.

Masih kurang tepat, Senja.

Oh, ya. Siapa pria yang kau bawa ke pesta dansa?

Teman daring. Bagaimana dengan tulisanku?

Persahabatan daring atau percintaan daring?

- Apa? - Baik.

Aku ingin kau menulis mengenai hubungan daringmu.

Lupakan yang ini.

- Sampah. - Hei!

Sumpah!

Bagaimana bisa menukar pekerjaan belasan hari menjadi sehari?

Memangnya aku pesulap?

Kau bicara dengan siapa?

Bukan denganmu.

Kau yakin? Tak ada orang lain di sini.

Aku hanya ingin mengikuti saranmu.

- Saran apa? - Mengganti ekstrakurikuler.

Hei, tim redaksiku menyebalkan, dan kau hanya bisa tertawa?

Maaf.

Memangnya apa yang kau tulis?

- Lihat. - Tidak boleh.

Nanti kau buang ke tong sampah lagi.

Tidak akan. Tak ada tong sampah di sini.

Tetap saja, aku mengenalmu.

Pernah ada orang yang bilang...

"Tak peduli berapa kali kita terjatuh,

kita harus mencari lebih banyak cara untuk bangkit lagi."

Siapa yang bilang?

Entahlah. Aku baca itu di buku.

Coba kulihat.

Cintaku, dengarkanlah hatiku, jangan ragukan cintaku.

Dengarkan bisikan hatiku, seperti aku yang takkan meragukanmu.

- Kau... - Apa?

Kau mau mengejekku apa lagi?

Lama sekali, biar aku yang baca.

"Ceritaku adalah tentang dia yang rasanya sehati di layar.

Tapi saat bertemu dia, aku tak merasa terhubung.

Namanya Badboy.

- Dia memanggilku... - Caramel.

- Apa? - Caramel Latte.

Dari mana kau tahu?

Ada apa ini?

Kalian bolos ekskul? Ayo!

Bara, ini sudah berapa kali?

Ikut Ibu. Ayo.

Ayo!

Tidak mungkin.

Tidak.

Senja!

Bu. Bu, aku harus...

Kau harus duduk di sana sampai jam pulang sekolah.

- Tulis yang benar. - Baik.

Hei. Bara!

Bahkan tidak pamit. Dasar!

Senja!

Rasya?

Kau... Sedang apa kau di sini?

Menjemputmu. Ayo.

- Aku... - Ayolah.

- Rasya, aku tak bisa pergi, Sya. - Ayo.

Senja, kau lapar?

Ayo kita makan dulu.

Sya, sepertinya aku tak bisa. Bibi menungguku di rumah.

Tak apa-apa. Aku yang tanggung jawab.

Anya!

- Hai, Kak Bara. Ayo! - Aku minta nomor ponsel Senja.

- Ada apa? - Tolong, aku butuh nomor ponselnya.

Tunggu sebentar.

Ini.

Kak Bara!

Kenapa aku ditinggalkan?

Kopi.

Rasya.

- Aku ingin tanya hal penting. - Apa itu?

Saat kita bertemu di kafe...

kenapa kau tak membawa bunga?

Tunggu sebentar!

- Hai, Bara! - Hai, Bi.

- Senja ada? - Senja? Dia belum pulang.

- Kau tak bersama Anya? - Tidak.

Baiklah, aku permisi. Terima kasih.

Bara, nanti malam kita jadi bertemu, 'kan?

Kalau aku beli bunga, aku takut terlambat.

Lalu kau akan pulang.

Senja, nanti malam kau mau ke mana?

Aku ingin ajak kau makan malam. Untuk merayakan ulang tahunku.

Kau bisa bertemu teman-temanku.

- Juga orang tuaku. - Orang tua?

Ya, ayah dan ibuku.

Ibu?

Jika kau belum mau kenalan...

tak apa-apa. Tak masalah.

Rasya.

Apa warna kesukaanmu?

Putih.

- Kau kenapa? - Lepaskan aku. Aku tak kenal kau.

Aku Badboy.

Warna kesukaannya merah, dia tak suka minum manis, ibunya sudah meninggal.

Kau bukan Badboy!

Ya, ampun.

Kenapa aku tak sadar selama ini kau berbohong?

Badboy, Rasya, siapa pun nama kau!

- Bisa kujelaskan. - Pikirmu perasaanku hanya main-main?

Kau pikir ini hanya lelucon?

Hanya sosiopat yang bisa begini!

Senja!

Aku terlambat. Tadi kau di mana?

Caramel, balas aku. Tolong.

Caramel, jika kau lihat ini...

Namaku Bara. Siapa namamu?

Bara...

Selera anak Ayah bagus juga.

Jangan ganggu aku, Yah.

Bar, bangun. Kenapa tidur di sini?

Kau masih pakai sepatu.

Sekarang pukul 10:30.

Pukul 10:30?

Aku terlambat.

- Mau ke mana? Kau mau ke mana? - Aku ada janji dengan teman!

Aku pergi dulu!

- Bar, jangan pakai motor Ayah! - Ya!

Kenapa? Kau kenal dia?

Itu laki-laki menyebalkan yang kuceritakan padamu.

Kau mau aku mengajaknya berkelahi?

Tidak usah.

Ajak saja aku pergi dari sini.

Ya, Ayah?

Hari ini makan malam dengan keluarga Anya. Berpakaianlah yang rapi.

- Di mana? - Di kafe.

Jangan terlambat.

Oke.

Senja! Ayo pergi!

Ke mana?

Kita diundang makan malam di restoran ayahnya Bara!

Aku senang sekali.

Dengar, aku janji.

Bara adalah laki-laki pertama yang membuatku setia.

Cepatlah ganti baju. Kutunggu kau.

Ada apa?

Nya, memangnya aku harus ikut?

Harus. Ayo, Sayang.

Aku ingin berani hadapi apa pun. Saat jatuh, patah tangan, patah hati.

Terus semangat. Jakarta itu keras!

Jakarta itu keras.

Ini kafe Bara?

- Pak Hadi? - Ya, Pak.

- Apa kabar? Bu Astini. - Selamat malam.

Selamat malam. Ini pasti Anya.

- Selamat malam, Paman. - Selamat malam. Lalu ini?

- Aku Senja. - Halo.

Mari ke atas.

Lewat sini.

Aku tak mengerti

Apa yang telah terjadi

Kau tak lagi sama

Kau bukan dirimu

Sebenarnya aku sering datang ke sini. Aku baru tahu ada bagian atapnya.

Ya, area ini hanya dibuka untuk acara khusus.

Di mana Bara?

Di perjalanan. Dia akan segera sampai.

- Silakan pesan. - Ya, terima kasih.

Lihat!

Aku izin ke toilet dulu. Permisi.

- Ya. - Ya.

Sepanjang waktu

Biarkan aku mencintaimu dengan caraku

Aku tak mengerti

Bara tak mungkin Badboy.

- Bara tak mungkin Badboy. - Hei, ada apa?

Aku sedang mempersiapkan diri.

Untuk apa?

Untuk masa depanmu.

Senja, kau memang yang terbaik.

Aku sangat menyayangimu!

- Aku sayang kau. - Aku tahu.

- Sedang apa kalian? - Ada apa, Bu?

- Bara datang. Ayo! - Astaga! Doakan aku!

Biarkan aku mencintaimu

Dengan caraku

Aku tak suka bila...

Senja!

Ternyata kau sungguh ulang tahun?

Ya.

Mari temui teman-temanku.

Rasya!

Senja, maafkan aku. Aku tahu sudah menyakitimu.

Sudah merusak kepercayaanmu padaku. Tapi aku serius denganmu.

- Mereka... - Orang tuamu?

- Kau memang pandai bicara. - Senja.

Aku tak mau ini menjadi saat terakhir kita bertemu.

Satu atau dua bulan lagi...

mungkin saja kita menertawakan konyolnya cara kita bertemu.

Caramel.

Badboy?

- Ini bohong, 'kan? - Senja, aku Badboy-mu.

- Dasar pembohong. - Bara!

Bara!

Bara! Hei!

Hentikan! Hentikan, Bara! Hentikan!

Kau juga.

Apa-apaan kalian? Bukan di sini tempatnya.

Keluar. Kau juga keluar.

Keluar.

Kau juga.

Ayah percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini dengan dewasa dan bijaksana.

Buktikan pada Ayah.

Hentikan!

Rasya! Bara!

Dari mana kau dapatkan ini?

- Kutemukan itu di sekolah. - Kenapa kau tak kembalikan?

- Jawab! - Karena aku baca tulisanmu, Senja!

Aku merasa ada yang mengerti isi pikiranku.

Ada yang mengerti sakit yang kurasakan.

- Aku tak mau dengar omong kosong ini. - Tutup mulutmu!

Aku mengambil foto ini sebelum kita bertemu.

Bagus.

Sedikit lagi saja.

Kita bukan sahabat lagi.

Anya!

Senja.

Sekarang aku tahu betapa sulitnya menemukan jalan untuk mencintai.

Karena kebenaran itu...

tersembunyi dalam kegelapan.

Anya!

Nya.

Selama ini kau bertingkah paling suci, paling benar dan paling lugu.

Padahal kau permainkan dua laki-laki sekaligus.

Itu tidak benar.

Kau pasti menertawakanku setiap malam.

Karena aku mengharapkan laki-laki yang mencintaimu.

Aku pasti sudah gila menganggapmu sahabat selama ini.

Kau salah, Nya.

- Aku salah sangka. - Siapa yang salah? Aku atau kau?

Kau tak bisa jawab itu.

- Anya, tolong dengarkan aku. - Aku tak mau dengar apa pun darimu.

Aku tak mau dengar!

Kau sudah sungguh menyakitiku, Senja.

Nya!

Anya!

Anya.

Anya.

Anya.

Anya.

Anya, dengarkan aku.

Anya.

Anya.

Anya, tolong buka pintunya.

Anya, tolong dengarkan aku.

Anya.

Anya, tolong maafkan aku.

Anya.

Aku ingin memberitahumu.

Aku sudah suka Senja sejak pertama kali membaca unggahan blognya.

Berbulan-bulan aku tak tahu namanya.

Aku tak tahu siapa dia. Sampai kemarin.

Nya, aku tahu Senja sangat menyayangimu.

Dia tak akan menerimaku demi menjaga perasaanmu.

Tapi tolong, aku mohon.

Tolong beri kesempatan padanya untuk mengikuti perasaannya.

Kau bicara pada orang yang salah.

Dia yang seharusnya memilih, bukan aku.

Terserah dia ingin memilih siapa.

- Dia harus tahu konsekuensinya. - Bahwa kau kehilangan dia sebagai teman,

atau melihatnya patah hati.

Itu yang kau mau?

Jadi kau mengorbankan aku demi Senja?

Seperti yang dia lakukan untukmu sekarang.

Jangan kau lemah

Jangan bersedih

Hadapi rintangan

Dengan senyuman

Kita bersama

Hadapi dunia

Menemukan jalan

Untuk keluar

Karena kita

Satu cinta

Satu, dua, tiga, empat!

Masa bodoh terjatuh

Patah tangan

Patah hati

Patah apa lagi?

Biarkan saja

Kita semangat

Jakarta keras!

Ternyata kau di sini.

Kupikir...

kau tak mau bicara denganku.

Kau tahu...

Bara laki-laki pertama yang sungguh aku suka.

Kau juga tahu...

persahabatan kita lebih penting dari laki-laki mana pun.

Ya.

Tapi apa kau tahu...

apa yang ada di atas persahabatan kita?

Kau.

Kebahagiaanmu.

Ada di atas apa pun juga.

Itu sebabnya sekarang...

aku ingin kau jujur pada Bara mengenai perasaanmu.

Tidak.

Aku tak bisa.

Karena aku akan sedih?

Sudahlah. Kau tidak tahu.

Pesanku penuh dengan laki-laki yang mengajakku kencan.

Kau hanya punya satu.

Aku merasa diejek.

Kau ingat janji kita?

Masa bodoh terjatuh, patah tangan, patah hati. Tetap semangat!

Jakarta keras!

Sekarang saatnya kau semangat.

Kau keterlaluan.

Kau keterlaluan, Nya.

Maksudmu terlalu baik? Memang benar.

Berhentilah menangis. Ayo. Kita kejar Bara. Ayo!

Ayo. Tanya dia.

- Hei, kau lihat Bara? - Bara?

Bara baru saja pergi.

Ke mana?

Kau tahu Bara di mana?

Pikirkanlah, ini kesempatanmu.

Di mana dia?

Senja, cepat!

Senja, di mana dia?

Ayo, pikirkanlah. Di mana Bara?

Aku tahu di mana dia.

Sudah berapa kali baca buku itu?

Setiap kali aku rindu ibuku.

Jadi, setiap hari?

Sekarang sudah jarang.

Sejak aku kenal Caramel Latte.

Kopi?

- Tanpa gula. - Binatang?

- Gorila. - Warna kesukaan?

Senja.

Warna kesukaan, waktu kesukaan, perempuan, dan penulis yang kusuka.

Senja.

Akhirnya cinta menemukan jalannya sendiri.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.