All language subtitles for Trab Fah Mee Tawan E08

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Subtitle from VIU by Hwang_24]

"My Forever Sunshine"

Kot!

Kamu senang melihatku?

Aku sangat bahagia!

Melihatnya bahagia dengan orang yang dia cintai

juga membuatku bahagia.

Bijak, tapi menyedihkan.

Kamu tidak bisa merayuku, jadi, kamu merayu temanku?

Kamu tidak tahan jika tidak ada pria dalam hidupmu?

Ular!

- Ular! - Paeng.

Karena untuk beberapa hal, jika kamu menunggu terlalu lama,

kamu akan melewatkannya. Kamu mungkin harus menunggu seumur hidup.

Aku tidak mau makan lagi!

Kamu ingin menjadi pemimpin?

Dia memulai komplotan. Aku melihatnya sendiri.

Di mana Paeng?

Salad pepaya dan daging panggang kalian yang terbaik!

Salad pepaya dan daging panggang,

ini semua favoritku!

Terima kasih, Pong.

Beri tahu aku jika kalian mau sesuatu.

Keinginanmu adalah perintahku.

Nona Paeng, boleh aku minta lagi?

Tunggu, Saeb!

Aku pria tua. Aku harus didahulukan.

Kamu bahkan tidak punya gigi. Berikan kepadaku.

Dasar mulut kotor. Letakkan atau aku akan memukulimu.

Tenang. Tidak perlu berdebat.

Semua orang akan dilayani.

Aku akan melakukan yang terbaik untuk memastikan

rasanya sangat lezat hingga kalian tidak ingin pergi.

- Ya! - Hore!

Sayang sekali Artit tidak mengizinkan kita bekerja untuknya.

Atau kita bisa makan seperti ini setiap hari.

Belakangan ini, Thongkhum memasak

hal yang sama setiap hari. Aku tidak tahan lagi.

Benar.

Sungguh,

Artit seharusnya sedikit lebih terbuka.

Entah kenapa dia begitu marah kepada Paeng.

Kini kita juga dalam masalah karena itu.

Salam, Tuan.

Apa, Pong?

Kenapa?

Kamu pikir Artit akan datang ke sini sekarang?

Mustahil. Aku tidak percaya.

- Saeb. - Saeb, Saeb.

Suaranya mirip dengannya.

Itu peniruan yang bagus.

Biarkan aku berbalik dan melihat siapa dia.

Saeb!

Wajah dan suaranya sama.

Kekuatan tendanganku juga sama.

Maafkan aku!

- Maaf, Tuan! - Dia bisa saja menendang wajahmu.

Benar. Kalian memuja dia.

Tapi hati-hati. Kalian bisa diracuni.

Bagaimana kamu tahu aku akan meracuni mereka?

Kamu pintar!

Tidak.

Tapi aku tahu sifat aslimu.

Aku sedang menyindir.

Kamu tertipu?

Kalau begitu, kamu tidak pintar.

Tuan, dia menghinamu karena bersikap bodoh!

Aku tahu itu!

Dari mana kamu dapat pepaya itu?

Dari pohon ini.

- Duang. - Ya?

Buang semuanya.

Baik, Tuan.

Hei! Jangan.

Jangan berani menyentuh salad pepayaku!

Siapa bilang itu milikmu?

Kamu memilih pepaya ini

dari pohon yang tumbuh di perkebunanku.

Jadi, itu artinya mereka milikku.

Terung dan cabainya juga.

Jangan pernah mengambil barang-barangku lagi.

Sikapmu tidak masuk akal.

Kenapa? Ini sifatku.

Jika kamu tidak suka, keluarlah!

Paeng memulai komplotan?

Benar.

Omong kosong.

Bagaimana kamu bisa percaya Duang? Kamu tahu mereka tidak akur.

Tapi aku memercayainya.

Hati-hati. Dia mungkin akan mengambil alih perkebunan kelak.

Dia tidak akan melakukan itu.

Kenapa tidak?

Dia sudah menyuruh anak buah Artit bekerja untuknya.

Untung Artit mengambilnya kembali tepat waktu.

Jadi, tidak ada yang membantunya?

Benar. Tidak ada.

Keputusanku sudah bulat.

Kamu tidak bisa menyentuh apa pun di peternakan ini.

Kamu juga tidak boleh bergaul dengan pegawaiku.

Bagaimana denganku?

Bisakah dia bergaul dengan ayah?

Ini sudah di luar kendali.

Aku ingin mengatakan

kalian boleh membantu Paeng.

Aku mengizinkan.

Ayah,

tapi aku bos mereka.

Jika Ayah melakukan ini, maka Ayah meremehkanku.

Tapi

ayah adalah ayah bos mereka.

Siapa yang lebih berkuasa?

Benar, Pong.

Benar.

Saeb, Aod, Kaew.

Mulai sekarang, jika Paeng butuh bantuan,

segera bantu dia.

Aku mengizinkan kalian. Tidak perlu takut kepada siapa pun.

Ayah!

Katakan yang sebenarnya, Thongkhum.

Berapa hari berturut-turut

kamu membuat sambal dan sayuran rebus dengan telur dadar?

Begini...

Jangan membesar-besarkan masalah ini.

Ini makanan seimbang.

Kurasa para buruh tani hanya menyulitkan.

Kurasa kamu harus membiarkan Thongkhum menjawab.

Bagaimana?

Berapa kali kamu membuatnya?

- Lima. - Lima kali makan?

Lima hari.

- Apa? - Apa?

Lima hari?

Jadi, itu 15 kali makan?

Astaga!

Thongkhum, kamu memasak hidangan lain untuk mereka?

Terkadang aku membuat sup bening.

Astaga.

Kamu juga bosan, bukan?

Aku tidak memakannya.

- Apa? - Apa?

Kamu membuat makananmu berbeda. Pikirkan perasaan mereka.

Benar.

Cobalah tempatkan dirimu di posisi mereka.

Buruh tani bekerja keras. Mereka layak mendapatkan makanan enak.

Pikirkanlah.

Jika kamu makan makanan yang sama setiap hari, bagaimana perasaanmu?

Kamu juga tidak akan menyukainya.

Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.

Kali ini

aku akan membiarkannya.

Lain kali, jangan lakukan itu.

Jangan lakukan itu lagi.

Aku mengerti.

- Kamu boleh pergi sekarang. - Baik, Nyonya.

Bagaimana bisa dia melakukan itu untuk 15 kali makan?

Yang benar saja!

Aku sangat tidak beruntung.

Siapa yang memberi tahu Tuan?

Mungkin seorang buruh tani.

Seorang buruh tani?

Apa mereka berani? Aku memasak untuk mereka setiap hari.

Benarkah?

Siapa yang mau berkelahi dengan juru masak?

Astaga! Bagaimana jika itu Paeng?

Tentu saja.

Hanya dia yang ingin bertengkar dengan kita.

Dia pasti marah karena kita menghinanya,

jadi, dia membalas dendam.

Paeng busuk!

Aku tidak akan membiarkanmu lolos!

Aku juga.

Mata dibalas mata.

Jika tidak, jangan panggil aku Duang.

Itu baru makanan! Daging kering dengan sup Tom-Yum jamur.

Telur dadarnya telah terlahir kembali.

Jangan menghantui kami lagi! Sathu!

Tidak ada lagi hantu sambal dan sayuran rebus.

Benar. Kuharap menu itu lama menghilang.

Tolong daging ekstra.

Baiklah. Aku menyajikannya untukmu.

Ini. Apa itu cukup?

Maafkan aku

karena membuat kalian makan makanan yang sama berulang kali.

Mulai sekarang, jika kamu ingin makan apa pun,

katakan saja!

- Sangat memuaskan! - Benarkah?

Sungguh.

Kalau begitu, besok aku mau larb yang lezat.

Keinginanmu dikabulkan.

Luar biasa!

Lakukanlah sendiri. Ambil sebanyak yang kamu mau.

Cepat!

Thongkhum, apa yang kamu pikirkan?

Ini enak.

Tapi tidakkah kamu lelah?

Aku lelah,

tapi harus karena aku tidak mau mengulang yang kemarin.

Benar.

Aku dan Thongkhum

tidak mau para buruh tani bermain-main dengan Paeng.

Dia sangat kurang ajar.

Kamu ingat saat dia mencoba menyerang Artit?

- Ya. - Benar.

Setelah melihat pria, dia tidak bisa membiarkan mereka.

Hati-hati dengan suamimu.

Dia tidak akan menginginkan buruh tani sebagai suaminya.

Kamu tidak bisa meremehkannya.

Dia selalu membuat mata itu saat bicara pada buruh tani.

Dia jahat.

Baiklah.

Sudah selesai, Paman.

Hari ini, aku telah memperbaiki dan memfermentasikan tanahnya.

Untuk laboratorium riset produk,

aku hanya menunggu kontraktor

Astaga! Kamu mengerti?

Mereka akan datang besok?

Ya!

Terima kasih.

Paeng,

apakah kontraktornya datang?

Benar. Mereka akan datang mengambil cetak birunya besok.

Luar biasa!

Jadi, mereka akan langsung memulainya?

Aku akan menyuruh mereka untuk segera memulainya.

Jadi, pekerjaannya akan dilakukan dengan cepat

dan aku tidak perlu lagi menjadi kehadiran yang tidak diinginkan.

Aku juga merasa tidak nyaman.

Akan butuh waktu dua tahun.

Dua tahun bisa berlalu dengan cepat.

Tapi juga bisa terasa lama.

Jadi, itu sebabnya kita harus tetap fokus.

Setiap detik waktu kita berharga.

Kita harus melakukan yang terbaik.

Sathu! Kuharap semuanya berjalan lancar!

Wajahmu sudah memerah dan kamu tidak bekerja sekeras itu.

Tapi kamu sangat antusias saat dibayar.

Pekerjaan tidak pernah mudah. Aku juga merasa kepanasan.

- Pong. - Ya, Tuan?

Kenapa kamu sendirian?

Di mana Saeb, Aod, dan Kaew?

Begini...

Begini...

Mereka bertiga bekerja untuk wanita itu, bukan?

Aod, berjuanglah!

Jangan mengecewakan Paeng.

Aku tahu itu!

Bisakah kita segera memulai pembangunan?

Tentu. Rencananya sangat detail.

- Terima kasih banyak. - Sama-sama.

- Aod, Saeb! - Sial!

Ya, Tuan?

Kamu bekerja bermalas-malasan.

Kamu ingin ditegur?

Kami bekerja di sini.

Kamu lupa ayahmu menyuruh kami untuk membantunya?

Kamu dapat izin ayahku

tapi aku tidak menyuruhmu datang dan membantunya.

Ikut aku.

Baik, Tuan.

Tidak, hentikan sekarang.

Apa?

Mereka berdua adalah anak buahku sekarang.

Apa yang kamu ocehkan?

Aku membayar mereka berdua, bukan kamu.

Tapi Paman yang menugaskannya. Kamu mendengarnya.

Ayahku terlalu optimis, karena itulah dia tertipu olehmu.

Ini kehidupan nyata, Wanfahmai. Kita tidak bermain rumah-rumahan.

Aku tidak suka perkebunan dengan tenaga kerja gratis

terutama dengan sesuatu

yang tidak akan pernah berhasil.

Bagaimana kamu tahu ini tidak akan terjadi?

Aku baru saja mulai.

Karena aku cukup mengenalmu.

Ayo. Ikut aku.

Tidak boleh!

Kalian harus tetap bersamaku!

Kita harus bagaimana, Saeb?

Nona Paeng, Tuan Artit.

Haruskah kita mencoba suten?

Siapa pun yang menang...

Astaga.

Kalian harus tetap bersamaku!

Kalian tidak boleh pergi ke tempat lain!

Jika ada masalah, bicaralah sendiri dengan Paman.

Kamu ingat apa yang dia katakan?

Akan kuulangi untukmu.

Paman adalah ayahmu

dan pemilik tempat ini.

Kesimpulannya, pangkatnya lebih tinggi darimu.

Jangan mengancamku dengan ayahku!

Kamu pikir aku takut?

Jika tidak,

mungkin aku sudah keluar dari peternakan ini.

Tapi aku masih di sini.

Baiklah.

Akan kutunjukkan siapa bos di tempat ini.

Hebat!

Kamu bahkan tidak bisa menang berdebat denganku!

Astaga!

Ayo kembali bekerja. Jangan pedulikan dia.

- Baiklah. - Segera.

Silakan lewat sini.

Itu dia!

Nona Paeng! Awas!

- Apa, Saeb? Aku tidak dengar. - Awas!

Nona Paeng! Awas!

Ada apa?

Saeb! Tolong aku!

Saeb!

Lari, Nona Paeng. Lari!

Artit, tenang!

Ayolah!

Artit!

Saeb!

Cepat, Paeng!

Saeb! Tolong aku!

Saeb!

Saeb!

- Ayo! - Ayo, Saeb!

Nona Paeng!

- Nona Paeng! - Kamu baik-baik saja?

Aku baik-baik saja.

Aku tidak terluka.

Aku tidak terluka!

Ayolah.

Pong,

bisakah kita memanen anggur ini sesuai pesanan?

- Baik, Tuan. - Bagaimana dengan kualitasnya?

- Tentunya sesuai standar. - Bagus.

Aku akan menemui klien.

- Tolong urus transportasinya. - Baik, Tuan.

- Apa yang kamu cari? - Ya.

- Pong! - Ya?

Aku bertanya apa yang kamu cari.

Anjing.

Anjing apa?

Pagi ini Nona Paeng digigit anjing.

Anjing yang kejam.

Lututnya tergores.

Anjing ini hanya berlagak tangguh

terhadap anak-anak, wanita, dan orang tua.

Jika aku melihat anjing ini,

aku akan langsung tendang bokongnya.

Anjing nakal!

Aku terbawa suasana.

Bukankah kamu terburu-buru menghadiri pertemuanmu?

Pong,

berhati-hati. Kamu juga bisa digigit.

Kurasa dia juga anjing gila.

- Pong! - Baik, Tuan!

Apa ada di bawah mobil?

Artit!

Artit!

Artit!

Apa lagi sekarang?

Bagaimana kamu bisa pergi?

Bannya kempis.

Astaga!

Sisi satunya juga.

Apa?

Siapa yang berani melakukan ini?

Hanya ada satu orang.

Siapa?

Anjingnya!

Anjing itu lagi!

Tidak hanya menggigit Nona Paeng,

tapi juga mengunyah bannya.

Semoga kami tidak bertemu. Aku akan menendang kaki belakangnya.

- Pong. - Dia bahkan mengunyah bannya.

Berikan kunci mobilmu.

Kamu terburu-buru menghadiri rapat?

Ganti bannya juga.

Baik, Tuan.

Baiklah.

Kita harus memancingnya keluar.

Astaga, Nona Paeng!

Balas dendam seperti itu, tidakkah kamu takut?

Kamu tahu bagaimana aku.

Jika kulepaskan, dia akan berpikir aku takut.

Dan kita akan selalu dirundung.

Tapi tidakkah kamu takut dia akan membalasmu?

Aku tidak takut.

Astaga!

Jika tidak, datanglah kemari!

- Tuan Artit! - Lepaskan aku!

- Nona Paeng! - Artit!

- Aueng, tolong aku! - Nona Paeng!

Astaga!

- Nona Paeng! - Tolong aku!

Kamu menusuk banku, bukan?

Masuk!

- Nona Paeng! - Masuk!

Nona Paeng!

- Nona Paeng! - Aueng!

Lepaskan Nona Paeng!

Jangan bergerak!

Jangan bergerak!

Apa yang akan kamu lakukan padanya?

Jika ayahku mendengar soal ini,

bosmu akan kehilangan anggota tubuhnya saat dia kembali.

Baiklah.

Nona Paeng!

Artit!

Kukira kamu tidak takut?

Baiklah.

Artit!

Baiklah.

Kamu masih berani melawanku?

Kamu tidak menyesal, bukan?

Baiklah!

Hei!

Tunggu!

Buka!

Belum!

Turun!

Kamu siap untuk melanjutkannya?

Kita mau ke mana?

Pembunuhanmu di hutan.

Kukira kamu tidak takut.

Matamu bengkak.

Aku tidak takut. Kematian adalah kematian.

Jika kamu ingin aku mati, aku tidak keberatan.

Apa kamu bersikap kurang ajar?

Tapi kuharap kamu bisa lolos dari polisi.

Kamu masih berani mengancamku?

Aku tidak mengancammu. Kamu akan dipenjara atas tindakanmu.

Bagaimana denganmu?

Mungkin wanita yang memerkosa pria tidak perlu dipenjara?

Artit, kamu sudah keterlaluan. Aku tidak berniat memerkosamu.

Itu pemerkosaan.

Saat itu, aku...

Apa?

Apa?

Kamu bahkan tidak bisa mengatakannya?

Aku masih kecil!

Jadi, karena itu kamu tidak perlu dipenjara?

Hubungi polisi agar mereka bisa memenjarakanku.

Berapa kali kamu akan terus menghinaku untuk itu?

Dengan kulitmu yang tebal, aku yakin kamu tidak merasakan apa pun.

Tikam saja aku jika kamu akan sekejam itu.

- Baiklah. - Artit!

- Jangan! - Lepaskan!

Tidak!

Lepaskan!

Jika kamu tidak mau mati prematur,

jangan pernah menyentuhku lagi!

- Masuk! - Apa?

Aku ingin festival anggur tahun ini menjadi ekstra spesial.

Akan ada acara mencicipi anggur.

Jadi, pencinta anggur bisa mencicipi anggur terbaru kami.

Apa yang lebih istimewa,

mereka akan bisa mencampur rasa anggur sesuai keinginan mereka.

Itu ide bagus.

Ini akan menarik wisatawan kelas atas.

Jika pelanggan puas atau ingin memesan lagi,

kami juga akan menawarkan layanan pesan antar.

Bagus sekali. Cara ini nyaman.

Benar.

Dan ini...

Hei.

Kamu mau ke mana?

Kemarilah.

Hei!

Artit, lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri.

Tidak, atau kamu akan kabur lagi.

Kamu lapar, bukan?

Tidak.

- Permisi. - Ya.

Aku pesan daging renyah dan sosis.

Ini dia.

Hebat!

Lezat sekali!

Enak!

Aku kenyang sekali.

Artit...

Banyak sekali sisanya.

Ini.

Ini, untukmu.

Makanlah.

Makan yang banyak, anjing.

Kamu manis sekali.

Pelayan, ini bayaran untuk makanannya.

Kamu mau ke mobil? Atau kamu akan berjalan pulang?

Kenapa kamu masuk ke lubang?

Aku tidak melihatnya.

Bahkan aku melihatnya! Apa kamu bodoh?

Apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Keluar!

Jika ya, bagaimana caraku kembali?

Siapa yang menyuruhmu kembali?

Kamu akan mendorong.

Apa?

Keluar!

Ayo!

- Siap? - Siap!

Dorong lebih kuat!

Hanya ini kemampuanmu?

Cari sesuatu untuk mengangkat rodanya.

Cepat!

Ya!

Duduklah di belakang.

Kamu kotor.

Ayo!

Artit,

aku tidak memberi tahu siapa pun.

Di mana kamu meninggalkan Paeng?

Apa?

Turunlah.

Nona Paeng!

Kamu masih hidup!

Tapi bagaimana kamu bisa berakhir seperti itu?

Membalas dendam itu menyenangkan.

Pikirkan

tentang bagaimana kamu akan membalasku.

Karena aku akan memikirkan

bagaimana aku akan membalasmu.

Hati-hati.

Psikopat!

Aku mengembalikan dengan semua anggota tubuh utuh,

sesuai janjiku.

Baik, Tuan.

Tunggu aku, Nona Paeng.

Dia bahkan tidak membiarkanmu makan?

Ini.

Dia tidak hanya tidak mengizinkanku makan,

tapi dia juga memberi makan anjing di depanku.

Astaga.

Apa yang kamu lakukan kepadanya?

Sudah kuperingatkan, tapi kamu tidak mendengarkan.

Rasakan!

Kamu melihatnya.

Dia yang lebih dahulu menyakitiku.

Apakah sepadan untuk terus saling membalas?

Kapan Artit akan memaafkanmu?

Aueng!

Tolong berhenti menyebutkan nama itu! Aku stres!

Sangat stres!

Minumlah.

Sudahlah. Mnum air.

Kenapa aku membukanya?

Lagi pula, aku tidak tahu cara memperbaikinya.

Benar.

Kemari.

Biar kuantar kamu.

Tidak apa-apa.

Aku bisa menelepon Artit.

Aku tepat di depanmu

tapi kamu bahkan tidak membiarkanku membantu.

Kamu sungguh membenciku?

Tidak, Non. Aku tidak pernah membencimu.

Kalau begitu, masuk ke mobilku. Aku akan mengantarmu.

- Tidak apa-apa. - Ling,

jangan menolak kebaikan teman.

Jangan terlalu memikirkannya.

Ikuti aku.

Apel itu tampak lezat.

Kamu tidak boleh memakannya. Ini untuk Artit.

Apa ini? Apa?

Kamu memberikannya kepada Artit lagi?

Dia punya banyak di kebunnya.

Punyaku lebih enak.

Aku akan memikat hatinya dengan keramahanku.

Hei,

Artit sudah punya pacar.

Berhentilah bermain-main dengannya. Itu tampak buruk.

Dia masih bisa putus dengannya. Dia bahkan belum menikah.

Tapi meskipun begitu, dia masih bisa bercerai.

Hei, berikan kepadaku.

Kamu sudah keterlaluan. Siapa yang mengajarimu ini?

Hei.

Non,

berhentilah bersikap seperti kakek tua. Menyebalkan.

Kamu adikku.

Artit dan Ling adalah teman-temanku.

Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini.

Kamu lebih mengkhawatirkan orang lain daripada adikmu sendiri?

Sebenarnya aku mencemaskanmu.

Orang lain mungkin akan menganggapmu buruk.

Aku tidak peduli.

Aku berhak memilih, begitu pula Artit.

Ini kebebasan hati.

Kamu mengerti?

Tapi kebebasan

juga harus berdasarkan moralnya. Kamu mengerti?

Aku di sini! Non! Nang!

Kalian berdua, momen indah apa yang kalian alami?

- Apa? - Non, ini kebahagiaanku.

Jangan egois.

Kamu terbawa suasana. Aku harus menghentikanmu jika kamu salah.

Lalu kenapa? Ini urusanku. Mengerti?

Dan bagaimana aku egois?

Semuanya.

- Lepaskan aku. - Kamu tidak boleh pergi.

- Tidak ada yang mendengarkanku. - Masih belum melepasku?

- Astaga. Aku mungkin... - Tidak!

Kesempatan ini ada di dalam jangkauanku.

- Apa yang aku... - Ini tampak lezat!

Dia bisa menjaga dirinya sendiri

Segar sekali!

Kot!

- Apa? - Aku harus membuatnya lagi!

- Kenapa? - Kot, Berengsek!

Apa salahku?

- Tidak. Kamu baik-baik saja. - Benar, bukan?

Pasta udang, gula, gula halus.

Paeng bilang beli camilan untuk buruh tani.

Lalu...

Barang rumah tangga.

Itu saja.

Ayo.

Hei!

Dasar anak nakal! Hei!

Hei! Dasar anak nakal!

Hei! Berhenti!

Saeb, tangkap anak itu!

Kamu mau ke mana?

Jangan biarkan dia lolos!

- Astaga! - Tangkap dia!

Berhenti, Madeaw!

Madeaw,

kamu tahu mencuri itu buruk?

Aku tahu!

Lalu akan kamu apakan uang itu?

Membeli mainan.

Kenapa kamu tidak meminta kepada ibumu?

Sudah. Ibu tidak mau memberiku apa pun.

Jadi, kamu mencuri?

Madeaw, ini uangku.

Jika kamu ambil, bagaimana aku bisa membeli barang yang kubutuhkan?

Jika seseorang mencuri uangmu,

bagaimana perasaanmu?

Aku tidak punya masalah sejak awal.

Yang benar saja!

Jangan membuang waktu. Dia nakal.

- Lagi pula, dia tidak mendengarkan. - Benar.

Kamu harus mencambuknya.

Tapi jika kamu tidak mau, beri tahu ibunya.

Tidak!

Kamu takut kepada ibumu?

Baguslah kalau begitu.

Ayo pergi dan beri tahu ibumu! Dia akan memukulmu jika tahu.

Tidak! Jangan pergi!

Tidak!

Jangan pergi! Jangan beri tahu Ibu!

Sekarang kamu tidak berdaya.

Madeaw, jangan menangis lagi.

Jika kamu mau uang, aku akan memberimu uang.

Nona Paeng!

Kamu tahu ada banyak cara untuk mendapatkan uang?

Jika kamu bekerja dan tidak mencuri,

kamu tidak akan dihukum atau dimarahi.

Ingat, lain kali jika kamu ingin uang,

kamu harus datang dan memberitahuku.

Janji.

Kamu manis sekali, Nona Paeng!

Paeng!

Madeaw!

Kenapa kamu mencuri?

Aku tidak punya uang.

Sudah berapa kali kamu melakukan ini?

Ini kali pertama.

Bagaimana dengan uang yang kuberikan? Di mana?

Aku memberikan semuanya kepada ibuku.

Kamu tidak takut ibu dan nenekmu akan sedih jika mereka tahu?

Nenek sakit

jadi, aku memberikan uangnya kepada Ibu.

Aku ingin Nenek cepat sembuh.

Kenapa kamu tidak memberitahuku?

Hei,

aku akan membawa ibumu ke dokter.

Jangan khawatir, ya?

Benarkah?

Sungguh.

Aku akan berusaha keras memotret untukmu, Artit!

Jangan terlalu keras. Seseorang bisa mendengar kita.

Mengerti?

Aku membuatkanmu makan siang.

Terima kasih, Ling.

Aku merasa sangat bersalah.

Tidak perlu.

Cobalah.

Kalau begitu, aku akan makan.

Hebat!

Apa yang kamu rencanakan?

Aku ingin menjadikannya pusat untuk semua hal terkait mawar.

Tidak hanya menanamnya di sini,

tapi aku akan memproduksi hal-hal yang terbuat dari mawar.

Paman memercayaiku.

Jadi, aku ingin berusaha maksimal. Aku tidak ingin mengecewakannya.

Kamu sudah banyak berubah.

Kamu sudah dewasa dan lebih terampil.

Bagaimana kamu tahu?

Melihat dari caramu mengajari Madeaw.

Kamu juga sudah dewasa dan jauh lebih cantik.

Non dan Kot juga jauh lebih tampan.

Semua orang sudah berubah menjadi lebih baik.

Kecuali Artit.

Benar. Dia banyak berubah.

Wajahnya sudah menua.

Tapi bagaimana dia akan menghentikan itu?

Dia terus mengerutkan wajah dan menarik wajahnya seharian.

Tolong ingatkan dia agar tidak terlalu banyak mengamuk.

Dia bisa meninggal prematur karena kanker.

Kamu bisa mati prematur dengan terlalu banyak gosip.

Artit.

Ling, jika kamu ingin beramal, katakan saja.

Aku akan mengajakmu memberi makan anjing.

Mereka lebih bersyukur daripada manusia.

Mulut kotor!

Ayolah, Artit.

Kenapa kamu tidak kembali bekerja?

Aku merindukanmu.

Aku kenyang sekarang.

Tunggu. Bagaimana kamu bisa kenyang?

Kamu hanya makan beberapa suap.

Biarkan saja dia.

Kamu terlalu baik.

Kamu tidak bisa mengharapkan balasan dari orang tertentu.

Begitu kamu menyerah dan mulai mengasihani mereka,

mereka akan menusukmu dari belakang.

Itu pernah terjadi padaku. Aku memperingatkanmu karena cemas.

Kamu sudah keterlaluan, Artit.

Kurasa tidak.

Dia pantas mendapatkannya. Dia pergi.

Ini tampak lezat.

Boleh aku minta? Biarkan aku makan juga.

Aku membuat ini untuk Paeng, bukan untukmu.

Aku lapar. Aku sudah bekerja sangat keras.

Berengsek.

Kamu terus mengikutiku.

Kamu membuatnya sendiri?

Kamu senang, bukan?

Tersenyum lebar.

Kamu mau makan denganku?

Enak sekali.

Sangat bahagia.

Enak!

Aku membuat ini untuk Paeng.

Dia berjalan menjauh. Jadi, ini untukku sekarang.

Aku mengusirnya karena ini.

Cheep,

ada yang ingin kubicarakan denganmu.

Begitu kamu mulai bersiap,

tambahkan lebih banyak makanan dan minuman keras

karena mungkin akan ada lebih banyak tamu hari itu.

- Tolong tangani ini untukku. - Baiklah.

Halo.

Halo, Non.

Kamu datang untuk menemui ayahku?

Dia tidak datang hari ini. Dia ada rapat di suatu tempat.

Aku datang untuk menemuimu.

Kamu akan berbagi festival dengan perkebunanku tahun ini?

Benar. Aku mendiskusikannya dengan Artit.

Tapi untuk detailnya, aku masih harus menemui banyak orang.

Paeng juga bilang kamu membantu

memeriksa rencana pembangunan kebun mawar, bukan?

Benar. Tapi rencana Paeng sudah bagus.

Aku hanya memberinya nasihat.

Aku tidak punya banyak waktu.

Jika kamu bisa,

tolong bantu aku menjaganya.

Jangan khawatir.

Lagi pula, aku akan berusaha keras untuk membantunya.

Aku akan mengajakmu melihat-lihat ruang festival.

Silakan, lewat sini.

Jook.

Halo, Tuan Artit.

Di mana ibumu?

Dia di dalam.

Bawa aku kepadanya.

Baik, Tuan.

Halo.

Bagaimana kabarmu?

Aku jauh lebih baik sekarang.

Jook, dia sudah membaik?

Dia jauh lebih buruk dua hari lalu.

Asmanya kambuh dan dia tidak bisa tidur.

Jadi, aku membelikannya obat.

Obat apa?

- Begini... - Dan

kenapa belum ada yang memberitahuku?

Dia melarangku.

Kenapa tidak?

Kamu sudah banyak membantu kami.

Aku merasa sungkan.

Kamu dalam pengawasanku. Aku harus menjagamu.

Kenapa kamu harus sungkan?

Aku tidak bekerja kurang lebih setahun.

Itu tidak berkaitan.

Dahulu kamu bekerja untuk kami.

Kamu tidak pernah meninggalkan kami, bahkan saat kami kesulitan.

Aku menganggapnya sebagai utang karena kamu sudah membantu.

Hari ini,

kamu sakit dan butuh perawatan.

Jika tidak mengurusmu, bagaimana bisa kuanggap diriku manusia?

Kamu tidak memberitahuku.

Jika kondisimu memburuk,

aku akan lebih khawatir.

Lain kali, beri tahu aku jika ada yang kamu butuhkan.

Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi.

Aku tidak tahu kamu dalam masalah.

Aku lupa Jook bekerja sendirian.

Mulai sekarang, aku akan memberimu gaji.

Jook, datanglah dan ambil dariku.

Baik, Tuan.

Aku tidak bisa menerimanya.

Jika orang lain tahu,

mereka akan menghinamu.

Aku sangat transparan dalam memperlakukan pegawaiku.

Jangan khawatir.

Jook,

di mana kamu membeli obat itu?

Dari pasar, Tuan.

Bawakan aku obatnya

dan bantu aku membawa ibumu ke mobilku.

Aku akan membawanya ke dokter.

Terima kasih!

Sama-sama.

Berikutnya, ambil bayaranmu.

Gaji kita di sini!

Hei, siapa yang tertarik ke kota dan makan Mala denganku?

Saeb,

kamu berani makan anjing Mahler sekarang?

Bukan anjing Mahler!

Mala! Ini Mala, makanan Tiongkok.

Aku ikut.

Tapi pertama-tama,

aku harus membeli baju baru.

Aku tidak ikut.

Aku ada kencan. Kami akan menonton film.

Kalian langsung menghabiskan gaji kalian

dan tidak menyimpan apa pun.

Kapan kalian akan menjadi kaya?

Kamu tidak ikut?

Kamu akan tetap di rumah dan memenuhi celengan?

Tentu saja.

Tapi aku tidak akan makan Mahler apa pun itu.

Aku akan makan hamburger.

Hamburger?

Untukmu, roti untuk ikan di kuil dianggap mewah.

Aku bukan ikan lele. Aku manusia.

- Yang benar saja! - Pong, giliranmu.

Ini gajimu.

- Dengan senang hati, Tuan. - Itu dia.

Ini dia.

Menerima sebelum tanda tangan.

Amplopnya?

Di mana milikku, Tuan?

- Aku juga. - Juga milikku.

Kemaslah.

- Bagaimana dengan Mala? - Mala?

- Mala? - Mala?

Aku bahkan tidak dibayar!

- Artit! - Tuan!

Saeb, Aod, Kaew.

Kukira kalian bilang akan pergi ke kota?

Apa?

Ada apa? Kenapa kalian menangis?

Tenang, Paeng!

Artit!

- Artit! - Paeng!

Artit! Keluar dan bicaralah denganku!

- Artit! - Tenang, Paeng!

Artit!

Ada apa?

Kenapa kamu tidak membayar gaji mereka?

Itu melanggar UU Tenaga Kerja.

Selain mempelajari pertanian,

kamu juga mempelajari hukum?

Aku tidak akan membayar.

Karena mereka bertiga bukan pegawaiku lagi.

Bahkan jika mereka bekerja untukku,

mereka tetap pegawai perkebunan.

Jika mereka tidak bekerja untukku,

maka jangan harap aku yang membayar.

Kalian semua yang memintanya.

Semuanya,

anggap ini sebagai contoh.

Jika ingin bekerja untukku, jangan khianati aku seperti mereka.

Kamu akan bermain seperti ini?

Namun,

ini kesalahan pertama kalian,

aku akan memaafkan kalian.

Kalian akan kembali dan bekerja untukku?

Kita harus bagaimana, Saeb?

Saeb,

berapa gajimu?

Aku dapat 3.000 baht.

Aku akan memberimu 3.500 baht.

Astaga!

Kamu tidak perlu ke mana-mana.

Tetaplah bersamaku.

Aku akan menjagamu.

- Terima kasih, Nona Paeng. - Terima kasih.

- Aku kaya! - Benar!

Bekerja untuk Nona Paeng itu mudah!

Yang terpenting, ini tidak terlalu melelahkan dibanding bertani.

Penghasilanku lebih besar. Itu jelas sepadan.

Kita tidak perlu absen. Juga bisa selesaikan pekerjaan kapan saja.

Benar. Nona Paeng juga murah hati.

Dia selalu membawakan kita makanan.

Nona Paeng, kamu malaikat pelindungku!

Kamu makan apa?

Berbagi denganku.

Nona Paeng,

kamu mengambil pegawai Tuan Artit.

Itu sebabnya dia marah.

Tentu saja.

Aku melihat alisnya berkedut seperti ini.

- Seperti ini? - Dia yang mengajakku bertengkar.

Bagaimana jika Tuan Artit marah

dan membalas dendam kepadamu lagi?

Jika ini soal pekerjaan,

aku bisa menerimanya.

Tapi jika dia merundungku,

aku akan melawannya.

Mulai hari ini, aku siap untuk apa pun!

Ayo maju!

Nona Paeng, gerombolan apa itu?

- Nona Paeng! - Cepat!

- Nona Paeng! - Berhenti!

Nona Paeng, aku juga mau 3.500 baht.

Aku tidak mau bekerja untuk Artit. Aku ingin bekerja untukmu.

- Nona Paeng! - Tidak.

Tenanglah!

Sudah kuperingatkan, tapi tidak ada yang mendengarkan.

Bagus, Pong.

Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita itu.

Tuan Artit!

Tuan Artit!

Para pekerja tidak mau mendengarkan.

Bisakah kamu datang dan mengambilnya kembali?

Aku tidak mau pergi.

Artit, aku minta maaf atas nama Nona Paeng.

Atasanmu tangguh, bukan?

Biarkan dia mengurusnya sendiri.

Tuan Artit!

Apa yang terjadi?

Tuan Krongprateep!

Semuanya, tenang.

Aku tidak bisa mempekerjakan kalian semua.

Kamu bisa mempekerjakan sebagian saja.

Tolong pekerjakan aku. Aku pekerja keras.

Aku pekerja keras.

Apa yang harus kita lakukan?

Aku juga tidak tahu.

Tapi jika aku mempekerjakan mereka semua, aku akan bangkrut.

Semuanya,

silakan pergi. Kami bertiga sudah cukup untuknya.

- Tidak ada lowongan. - Benar.

Saeb, dasar egois!

Begini...

Semuanya, tenang! Tolong jangan bertengkar!

Tolong kembali. Kumohon.

Tidak.

- Tolong pekerjakan kami. - Kumohon, Nona Paeng.

- Tolong kembali. - Semuanya, berhenti!

- Tuan datang. - Paman?

Nona Paeng!

Saeb, Aod,

kembalikan uangnya kepada Paeng.

- Apa? - Apa?

- Kenapa kita harus melakukan itu? - Benar.

Karena kalian pegawaiku.

Kalian pekerja di perkebunan ini.

Kalian bekerja sama rata. Kalian dibayar dengan adil.

Ayo. Kembalilah bekerja.

Tapi Tuan Artit bilang...

Taman mawar ini juga milik perkebunan.

Paeng membantuku.

Seharusnya aku yang membayarnya.

Karena itu, kalian tidak berhak meminta bayaran darinya.

Paman, tolong jangan memarahi Saeb dan yang lainnya.

Mereka tidak memulainya.

Aku tahu.

Jangan sampai salah paham seperti ini terjadi lagi.

Bisakah kalian kembali bekerja sekarang?

Baik, Tuan.

Ayolah. Cepat.

Cepat.

Kini tidak ada kenaikan gaji.

Ayah mohon.

Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.

Ayolah, Ayah.

Kenapa Ayah menyalahkanku?

Kamu bisa mengurusnya

tapi kamu tidak mau.

Jika Ayah ingin aku mengurusnya,

maka keponakan Ayah harus bekerja di bawahku secara langsung.

Tunggu.

Maksudmu aku harus menjadi bawahanmu?

Ayah sudah membiarkanku mengurus semuanya menggantikan Ayah.

Jika Paeng bekerja untuk Ayah,

berarti dia bawahanku.

Benar, bukan?

Benar, bukan, Ayah?

Ya, benar.

Apa ini?

Jadwal kerjamu.

Kamu pekerja perkebunan.

Kamu juga harus melakukan sesuatu untuk perkebunan.

Tapi aku sudah mengerjakan kebun mawar untuk Paman.

Kebun mawar?

Kamu bahkan tidak tahu apa itu akan berhasil.

Aku tidak menganggap itu sebagai pekerjaan.

Mulai sekarang, pagimu akan dihabiskan untuk bertani.

Kamu bisa mengerjakan kebun mawar di sore hari.

Memanen hasil kebun,

memberi makan anak sapi,

mencatat produksi harian.

Kenapa aku harus melakukan ini?

Karena itu perintah bos.

Apa pun yang terjadi, kamu harus melakukannya.

Kamu anggap ini kesempatan untuk memberiku masalah, bukan?

Paeng!

Kot?

Paeng, Sayang!

Ada barang yang akan kuperkenalkan kepadamu.

Cepat masuk! Kamu bisa melihat lebih dekat.

Ini kotak hidroponik otomatis.

Kamu, kamu, kamu, dan kamu

tidak perlu membungkuk dan menggali tanah lagi.

Kamu hanya perlu memasukkan biji sayuran

ke semua lubang ini,

lalu kamu pasang saja.

Sederhana. Kamu bisa mengendalikan suhu dan cahaya.

Lalu, kamu bisa berbaring dan menunggu.

Sekarang kamu akan punya sayuran aman, bersih,

dan tidak beracun.

Ini sangat cocok dengan pekerjaanmu, Paeng.

Kot, ini bagus!

Jika ini bagus, kenapa kalian tidak mendekat?

Mendekatlah

dan ambil brosur ini. Kami masih banyak inovasi lain.

Semuanya aman. Ini. Silakan.

- Kamu bisa makan seperti ini? - Tentu. Kami sudah mengujinya.

Benar. Ada banyak rak. Ada lima!

Cobalah.

- Bagus sekali! - Sangat bersih dan tidak beracun.

Ulangi permukaan tanahnya.

- Lalu kamu bisa mulai menanam. - Baik, Tuan.

Baiklah.

Tuan Artit, tunggu!

Dengar. Ini sangat menarik!

Kotak hidroponik otomatis?

Omong kosong.

Sama sekali tidak, Tuan.

Jika kamu punya satu gedung untuk mereka,

aku menjamin ini akan berhasil.

Benar, Tuan. Ini benar-benar bisa digunakan untuk menanam sayuran.

Aku tahu itu bisa.

Tapi itu tidak cocok untuk perkebunan kita.

Kamu tidak mau mencobanya, Tuan?

Aku sudah melihat kotaknya beraksi.

Di mana kamu melihatnya?

Nona Paeng, dia membelinya.

Bukan hanya itu, dia membeli banyak barang.

Ini sangat kukuh. Kamu akan bilang "hebat" saat melihatnya.

Apa lagi sekarang?

Luar biasa!

Keren sekali!

Di sana!

Astaga!

Itu juga bisa menyiram air!

Sekarang hanya air.

Tapi kita akan menggunakannya untuk pupuk.

Ini keren sekali.

Lebih mudah daripada hanya berjalan dan menyemprotkan pupuk.

Selain itu, kulit cantikku juga tidak akan terkena pupuk.

Sudah jalan!

Nona Paeng.

Hubungan karmamu datang.

Cepat!

Maafkan aku.

Wanita yang putus asa!

Bagaimana aku bisa putus asa?

Kamu bahkan tidak tahu cara menggunakan otakmu.

Drone dan kotak hidroponik

itu sia-sia.

Kamu yang tidak menggunakan otakmu.

Semua yang kubeli akan membantu mengurangi tenaga kerja.

Kita bisa bekerja lebih cepat dengan mereka.

Drone bisa mencakup area tiga hektare dalam satu jam.

Itu akan menghemat tenaga dan waktu.

Kalian setuju?

Setuju!

Tapi kita harus memberikan hati kepada perkebunan.

Bukan hanya selesai dalam satu jam.

Setiap anggur dan hasil bumi kita membutuhkan perhatian.

Bukan hanya bertujuan menyelesaikan pekerjaan untuk hari ini.

Kalian setuju?

Setuju!

Kalau begitu, kita simpan saja kotak hidroponiknya.

- Tidak. - Kamu berhati jahat!

Siapa yang kamu sebut berhati jahat?

Bukankah itu benar?

Kenapa tidak kamu pertimbangkan dari sudut pandang pegawai?

Buruk bagi kesehatan jika kita bekerja terlalu keras.

Jika kita bisa mengurangi tenaga kerja,

para buruh tani akan punya lebih banyak waktu luang.

Dengan begitu, mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Mereka akan harmonis dan anak-anak tidak merasa terabaikan, bukan?

Benar! Ayo!

Artit, kotak hidroponik sangat bagus.

Mereka akan membantu meningkatkan perkebunan kita.

Kotak hidroponik. Bukankah sudah jelas?

Kamu tidak bisa menanam anggur, melon, atau murbei.

Lihatlah, di perkebunan ini

tanah, air, dan sinar matahari bagus.

Kotak itu harus dicolokkan dan diatur suhunya.

Buang-buang listrik.

Kalian setuju, bukan?

Setuju.

Benda itu seharusnya digunakan di kota

di mana ruangnya terbatas.

Kamu hanya punya uang dan tidak punya otak.

Saeb!

Nona Paeng,

Tuan Artit ada benarnya.

Aku akan menunjukkan bahwa yang kubeli berguna di peternakan ini.

Itu juga akan memberi pekerja lebih banyak waktu beristirahat.

Jika semua ini tidak bagus,

kenapa aku harus membelinya untuk diuji?

Kalian setuju, bukan?

Benar.

Ayo! Kemarilah!

Kesimpulannya,

kalian semua setuju bahwa kita harus membeli ini.

Benar.

Baiklah.

Aku akan membiarkanmu membelinya.

Terima kasih, Tuan!

Tapi aku akan memecat semua orang!

Karena aku tidak akan membutuhkan tenaga manusia lagi.

Kalau begitu, sepakat?

Apa yang harus kita lakukan?

Semua orang akan kehilangan pekerjaan.

Tuan!

Cepat!

Tuan!

Tuan!

Tenang, Tuan!

Tenang, Tuan!

Tuan!

Tuan, tolong jangan pecat kami!

Jika kamu melakukannya, kami tidak akan bisa mencari makan.

Jadi, kalian mau membelinya atau tidak?

Tidak!

Bagus.

Kembalilah bekerja!

Terima kasih banyak, Artit!

- Pong. - Tuan?

Kenapa kamu berdiri di sana, tua dan layu? Kembali bekerja!

Nona Paeng, ayo kembali bekerja.

Jangan pergi dahulu.

Bosmu ingin bertemu denganmu.

Ayolah. Bicara saja dengannya.

Kamu lupa bahwa kamu pegawai dan aku bosnya?

Kamu tidak berhak melakukan apa pun yang kamu inginkan.

Kamu harus berkonsultasi denganku dahulu

dan bukan hanya menggunakan uangmu.

Para pekerja mungkin melewati batas dan mulai menentang otoritas.

Panjang sekali. Lubang apa yang kamu pakai untuk bernapas?

Aku bisa bernapas dari apa pun yang kuinginkan.

Ingat, Wanfahmai.

Mulai sekarang,

kamu akan menerima gaji bulanan dariku.

Baiklah. Aku bisa pergi sekarang, bukan?

Tunggu.

Berikan ATM dan kartu kreditmu sekarang.

Kamu tidak perlu semenjijikkan itu.

Berikan kepadaku!

Serahkan.

Tidak akan. Ini milikku.

Berarti orang sepertimu

hanya bagus karena memiliki uang.

Tidak bisa berkata-kata?

Baiklah. Ambillah.

Aku akan menunjukkan bahwa aku bisa bertahan tanpa uang,

Kembalilah bekerja.

Kot!

Astaga!

Ya, Tuan Piya.

Aku ingin memesan lima kotak hidroponik

dan lima drone pupuk. Kapan mereka akan siap?

Terima kasih banyak. Tolong percepat untukku.

Sampai jumpa.

Siapa yang pesan sebanyak ini?

Ini Paeng.

Kenapa kamu memukulku?

Berapa kamu menipunya?

Hei, Ling.

Menipu? Jika barangnya bagus, aku harus memberi tahu orang lain.

Paeng pintar dengan pembeliannya.

Tidak sepertimu, kamu tidak pernah membeli apa pun meski kuyakinkan.

Itu disebut kikir.

Itu disebut pintar dengan pembelianku.

Kamu membuatnya terdengar sangat bagus.

Paeng.

Tepat waktu. Aku baru mau menelepon.

Kamu akan mendapat pesananmu dalam tiga hari.

- Kot - Terlalu lama? Akan kuminta cepat.

- Tuan Piya, barang yang kupesan... - Aku ingin membatalkannya.

Aku ingin membatalkannya.

Tunggu sebentar, Tuan Piya.

Bagaimana bisa?

Aku ingin membatalkan pesanan, Kot.

- Begini... - Karena?

Artit tidak menyetujuinya.

Itu dia. Sudah berakhir.

Semua sudah berakhir.

Artit! Dasar perusak kesenangan!

Kot, aku harus minta maaf kepadamu.

Aku tidak mau membatalkan pesanan.

Tapi Artit adalah bosku.

Aku sungguh tidak ingin menentangnya.

Apa itu kerugian besar bagimu?

Tidak apa-apa, Paeng.

Tapi

barang-barang yang kamu pesan sebelumnya

tidak bisa dibatalkan. Kamu masih harus membayar.

Kukira aku masih bisa kembalikan jika membayar angsuran pertama.

Kamu tidak bisa untuk pesanan itu.

Ada apa?

Ini Artit.

Terima kasih.

Ini.

Terima kasih.

Ini kue wortel kesukaanmu.

Aku menyimpannya untukmu.

Waktu yang tepat. Aku lapar.

Astaga.

Kamu mengambil ATM dan kartu kredit Paeng, bukan?

Dasar pengadu.

Dia bukan pengadu.

Aku terus bertanya kepadanya sampai dia akhirnya memberitahuku.

Lalu?

Apa dia memintamu datang dan meminta kartunya kembali?

Tidak. Aku kemari sendiri.

Dia tidak tahu soal ini.

Jadi, jangan memarahinya.

Ling, kamu tidak lihat dia belum berubah?

Dia memakai uang untuk memecahkan masalah seperti anak manja.

Dia manja,

jadi, aku harus memberinya pelajaran.

Aku akan melihat apa dia bisa melewati ini seperti katanya.

Bagaimana jika dia bisa? Apa yang akan kamu lakukan?

Aku tidak perlu melakukan apa pun.

Ini tidak adil.

Kamu terus mengawasi apakah dia akan membuat kesalahan

agar dia tidak bisa tinggal di sini.

Jika dia membuktikan dirinya, bahwa dia benar-benar berubah,

kamu harus memberinya kesempatan.

Bukan hanya mengatakan kamu tidak perlu melakukan apa pun.

Pikirkan perkataanku baik-baik.

Ling gadis yang manis.

Harganya 50.000 untuk kotak hidroponik.

Lalu 70.000 atau lebih untuk drone.

Bagaimana aku akan membayar cicilannya?

Apa? Nona Paeng?

Kenapa kamu belum tidur?

Kamu harus pergi ke kuil besok pagi.

Baiklah, Aueng.

Sekarang waktunya tidur.

Bos?

Hei,

kenapa kamu memotret saat aku bersamanya?

Kamu menyuruhku selalu memotret.

Aku menuruti perintahmu.

Lain kali foto Paeng saja. Mengerti?

Baik, Tuan.

Apa aku mempekerjakan orang yang tepat?

Potong semua ranting.

- Bentuknya hilang. - Di sini?

Benar. Di bagian bawah juga.

Krongprateep, kamu mau ke mana?

Ke kuil untuk beramal.

Hari ini peringatan kematian Therathep dan Pimnapa.

Kamu mau ikut?

Hanya kita berdua atau bersama Paeng?

Tubtim.

Jika bersamanya, aku tidak akan pergi.

Jika tidak, aku akan melakukan dosa, alih-alih amal.

Bisakah kamu membiarkannya sehari saja?

Jangan terlalu membesar-besarkan beramal untuk mereka.

Ini sesuatu yang harus kita lakukan.

Aku tidak meributkan hal itu.

Tapi aku meributkan Paeng.

Ayah! Ibu!

Selamat pagi.

Ayah mau ke kota sekarang?

Bukankah seminar dimulai pukul 10.00? Kenapa terburu-buru?

Apa? Kamu harus bekerja.

Bagaimana kamu bisa pergi dan beramal dengan Paeng?

Biarkan dia pergi sendiri.

Kita lakukan nanti saja. Mengerti?

Akankah aku tepat waktu jika pergi ke kuil lebih dahulu?

Apa kamu gila? Bagaimana bisa?

Aku sudah berjanji kepada Paeng.

Bersiaplah untuk mendedikasikan amalmu.

Biksu yang baik, aku ingin menanyakan sesuatu.

Ada apa?

Amal yang kami buat untuk orang mati ini,

mereka akan menerimanya, bukan?

Tentu saja.

Fokuskan pikiranmu

dan amalmu akan mencapai penerima.

Jika penerima melakukan dosa besar,

amal ini bisa membantu mereka, bukan?

Itu akan membantu sebagian,

tapi tidak sepenuhnya.

Semua orang terlahir dengan karma mereka sendiri.

Anggap saja seperti menanam pohon.

Pohon apa pun yang kamu tanam,

kamu akan mendapatkan buah yang sama.

- Biksu yang baik. - Apa?

Selain orang mati,

bisakah kami juga beramal untuk yang masih hidup?

Tentu saja bisa.

Seperti orang sakit

atau hubungan karma dengan yang masih hidup.

Itu bagus.

Aku juga harus melakukannya. Agar akhirnya aku bisa menghapus karmaku.

Dedikasi amal

adalah perbuatan baik.

Satu-satunya syarat adalah memiliki hati yang murni,

saling mengampuni,

dan tidak saling mendoakan hal-hal buruk.

Apa yang akan terjadi jika mengharapkan hal-hal buruk?

Itu justru akan menghampirimu.

Mari kita mulai.

Biksu yang baik, kamu punya satu lagi?

Kenapa kamu banyak bertanya?

Kamu sangat menuntut. Itu membuang-buang waktu.

Tuang air upacara dan terima berkat.

"Sama seperti sungai-sungai"

"Penuh air"

"Memenuhi lautan"

"Meski begitu"

"Apa yang diberikan kepada orang mati"

- Di sana juga. - Ukurannya besar, Aueng.

Kamu sudah selesai?

Kenapa kamu melakukan banyak hal?

Silakan saja kalau kamu mau.

Bagaimana bisa? Aku ikut denganmu.

Entahlah.

Nona Paeng,

kenapa kamu menanyakan pertanyaan itu kepada biksu itu?

Dosa besar?

Apa itu?

Apa yang kamu cemaskan?

Ayo pulang, Aueng.

Baiklah.

Nona Paeng!

Nona Paeng!

- Ada apa? - Nona Paeng!

- Nona Paeng! - Paeng!

Mari pindahkan dia ke sana.

Nona Paeng!

Nona Paeng!

- Nona Paeng! - Paeng!

Aku akan mencari obat hirup.

Paeng?

Paeng?

Paeng?

Ayah!

Ayah!

Paeng?

Ini obat hirupnya!

- Paeng! - Biar aku saja.

Paeng?

Paeng?

Nona Paeng?

Nona Paeng?

Kamu pingsan.

Jangan menatapku seperti itu. Ambillah.

Ayo pergi sekarang.

Nona Paeng, bisa berdiri?

Aku akan membantumu.

Jalan perlahan.

Kamu baik-baik saja?

Kamu bisa istirahat jika perlu.

Aku baik-baik saja sekarang.

- Hei, Nona Paeng kembali! - Nona Paeng!

- Ayo! - Nona Paeng!

- Tunggu. - Kamu dapat, Nona Paeng?

Apa?

Nomor lotre pemenang.

Apa yang biksu itu katakan di kuil?

- Apa? - Kamu membawa air suci?

- Tetesan lilin juga boleh. - Atau abu dupa.

Tenang, Semuanya.

Aku pergi untuk beramal. Bukan untuk memenangkan lotre.

Nona Paeng!

Kami tidak bisa berharap banyak padamu, bukan?

- Benar. - Tidak ada nomor. Mengecewakan.

Tidak ada yang kecewa

karena ada di sini.

Itu dia!

Delapan-lima!

Enam-tiga!

Kapan kamu mengambilnya?

Hal sepenting ini?

Aku tidak akan melewatkannya.

Kamu bisa beli? Berapa angkanya?

- Dua, delapan, lima! - Di bawah enam-tiga!

- Kebalikannya juga! - Benar. Balik.

Kenapa kamu membeli ini? Peluang menangnya sangat kecil.

Lagi pula, kebanyakan orang selalu kalah.

Simpan uangmu untuk saat kamu membutuhkannya.

Beli kebutuhan.

Nona Paeng, kamu tidak mengerti.

Lotre adalah harapan rakyat miskin.

Benar.

Setidaknya kami bisa membeli impian.

Tiap kali membeli tiket, kami punya mimpi indah selama 15 hari!

Sebaiknya jangan.

Kita harus menabung dan berinvestasi pada sesuatu.

Uang akan tumbuh dari investasi kita,

lalu kita akan kaya.

Setelah kita kaya, ini bukan sekadar mimpi lagi.

Ini terlalu sulit.

Kami akan mati sebelum kaya. Kami bisa hemat 10-20 baht sehari.

- Lebih baik bermain lotre. - Benar.

Tolong berikan kepadaku.

Ini. Yang ini.

Lima-tujuh. Lima, tujuh, tiga!

Balik juga!

Artit!

Kamu selamat?

Apa Paeng melakukan sesuatu kepadamu lagi?

Ibu harus menungguku pulang?

Ibu khawatir.

Kamu seharusnya tidak menawarkan kepada Ayah.

Seharusnya ibu pergi sendiri dengannya.

- Omong-omong, Bu. - Apa?

Begini...

Apa yang termasuk dosa besar?

Kenapa kamu menanyakan itu?

Aku mendengar di kuil, jadi, aku penasaran.

Ibu tidak terlalu tahu soal ini.

Dosa besar

dilakukan dengan membunuh seseorang

atau bunuh diri.

Nona Paeng!

Hadiah pertama

untuk 17 Januari.

Kalian semua kalah!

Ini disebut jalan pria. Ini soal harga diri.

Aku tidak menjalin hubungan dengan Ling.

- Artit! - Hei!

Aku akan mengungkap perasaanmu yang sebenarnya.

Itu pasti Tuan Artit.

Hanya ada satu orang

yang berani mengisengiku seperti ini.

Aku adalah dalang di balik semua ini.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.