All language subtitles for Fighting.for.the.Motherland.2020

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

SUB BY : DENI AUROR@

Teringat waktu itu,

pasukan yang sangat kuat.

Kekuatannya bergelora, seperti harimau.

Kakekku

sewaktu di Gunung Taishan,

menghadiahkan pedang ini padaku.

Sejak saat itu,

pedang ini terus mendampingiku menaklukkan medan perang,

belum pernah terlepas dari genggamanku.

Kakek berkata,

jika seluruh Tiongkok bisa bersatu,

dan seluruh rakyat berhasil disatukan,

ingatlah untuk datang ke tempat ini lagi.

Sampaikan berita ini kepada beliau.

Pedang ini dinamai

dengan

"Guangfu".

Rebut kembali kampung halaman.

Satukan seluruh negeri.

Fighting For The Motherland

Pada tahun 1162, yaitu tahun ke-32 zaman Shaoxing Dinasti Song Selatan, penguasa Dinasti Jin bernama Wanyan Liang menghimpun pasukan bersiap untuk menyerang Dinasti Song di selatan, menyiapkan strategi memperluas wilayah kekuasaannya di Dataran Tengah.

Rakyat hidup menderita, pasukan sipil di berbagai wilayah mulai bangkit dan melawan...

Pintu Air Sifeng

Shuanghua.

Shuanghua.

Shuanghua.

Langtou.

Ya.

Kakak.

Mana yang lain?

Sudah tewas.

Semuanya sudah tewas.

Mana Shuanghua?

Kak Shuanghua?

Aku tidak tahu.

Bukannya aku minta kamu jaga dia?

Kakak.

Jumlah pasukan Jin terlalu banyak.

Aku tidak sanggup menahannya.

Kamu pergilah.

Aku ingin mengikutimu.

Pergi!

Jangan menangis.

Jangan biarkan mereka menertawai kita.

Kakak.

Kak, aku sangat takut.

Jangan takut

Kakak ada di sampingmu.

Aku mohon, jangan bunuh kakakku.

Aku mohon.

Tunggu.

Jangan bunuh kakakku. Aku mohon.

Siapa namamu?

Kakak!

Liang!

Kakak!

Dasar bajingan!

Kalian semua bajingan!

Kakak!

Kakak!

Kakak!

Kakak!

Kakak!

Bajingan!

Kalian semua bajingan!

Kakak!

Bajingan!.

Kita lawan mereka mati-matian.

Shuanghua tidak apa-apa?

Selamatkan orang.

Xin Qiji.

Hu Erba.

Liang!

Kakak!

Cepat sembunyi.

Kakak!

Liang!

Liang!

Liang!

Aku mau pulang.

Liang!

Liang!

Liang!

Liang.

Kamu tenang saja.

Kakak akan balaskan dendammu.

Kakak.

Sekarang rumah kita pun hilang.

Setelah usir gerombolan Jin ini,

baru bangun lagi rumah baru.

Kakak.

Selanjutnya kita pergi ke mana?

Tai 'an.

Kita pergi ke kota Tai'an.

Aku, Xin Qiji bersumpah,

aku harus berjuang membela dinasti Song.

Langtou.

Kita sekelompok orang ini

terus bekerja tanpa henti tiap hari,

benar-benar sudah tidak sanggup bekerja lagi.

Aku tidak peduli soal ini.

Pokoknya gerombolan Jin bisa datang sewaktu-waktu.

Tiba saatnya nanti,

kalau komandan hanya menemukan dinding roboh,

aku pasti dihukum habis-habisan.

Tou.

Barangnya sudah siap?

Sudah siap.

Amati baik-baik ya.

Siap.

Kota Tai'an

Sudah matang?

Sudah matang.

Lapor!

Ada apa?

Dari luar kota, ada sekelompok pasukan berkuda.

Sudah tiba di kota Tai'an.

Kalian tunggu aku di sini.

Kakak.

Orang-orang di sini

sepertinya tidak menyambut kedatangan kita.

Aku temani kamu ke sana.

Ini pasukan kawan, bukan pasukan Jin.

Buat apa takut?

Kamu harus hati-hati.

Tenang saja.

Hei, kami tidak menampung pengungsi.

Pergilah.

Kami pasukan kawan dari Pintu Air Sifeng.

Bukan pengungsi.

Tidak menerima siapa pun.

Kalau tidak pergi,

panah selanjutnya kena di kepalamu.

Mohon Jenderal laporkan.

Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?

Pergi!

Panah ini terlalu lunak.

Tidak akan bisa menembakku.

Mau mati ya?

Waspada!

Jenderal, tidak usah cemas.

Kami datang untuk mencari orang.

Tidak bisa.

Kali ini, apa pun omongan kamu,

aku tetap akan berperang.

Lihatlah orang-orang di kota ini, tua maupun muda,

Mereka sudah kelaparan.

Kalau kita biarkan kelompok angkutan makanan pasukan Jin lewat,

bagaimana pertanggungjawaban aku terhadap saudara-saudara sekalian?

Aku tidak bilang kamu tidak boleh berperang.

Tetapi bagaimana cara berperang,

kamu harus pertimbangkan baik-baik.

Kelompok angkutan makanan pasukan Jin setidaknya ada 5.000 orang.

Kalau dipaksakan bertarung,

menurutku, kamu hanya mengorbankan nyawa saudara-saudara kita

untuk ditukar dengan persediaan makanan.

Omong kosong!

Jia Rui, dasar cendekiawan busuk.

Aku bilang padamu.

Kamu takut pada orang Jin.

Aku Geng Jing tidak takut.

Geng Jing, aku juga bilang padamu.

Aku tidak mau dengar.

Berperang itu bukan bercocok tanam.

Aku memang petani.

Pokoknya asalkan ada aku di sini,

kamu jangan harap bisa pergi ke mana-mana.

Hari ini siapa pun juga tidak bisa menghalangi aku.

Geng.

Pergi!

Cendekiawan Jia.

Tidak apa-apa 'kan?

Lapor!

Ada apa?

Pasukan Jin menyerang?

Bukan, bukan.

Ada orang bernama Xin Qiji yang bawa kelompoknya masuk ke kota.

Katanya dia kawan Wakil Komandan Jia.

Tidak usah ditemui.

Tidak usah ditemui.

Wakil Komandan Jia menyuruhku menyampaikan pada kalian.

Beliau tidak mau bertemu.

Selain itu...

Persediaan makanan ini untuk kalian.

Apa maksudnya?

Anggap kami pengemis ya?

Apa jeleknya jadi pengemis?

Situasi saat ini kacau-balau.

Kalau ada makanan, sudah lumayan.

Aku hancurkan mulut busukmu itu.

Makanan ini tidak bisa kami terima.

Kamu kembali, sampaikan pada Jia Rui.

Aku menunggunya di luar kota.

Kalau dia tidak datang menemui aku,

aku tidak akan pergi.

Langtou.

Terima makanan.

Terima makanan.

Dasar pengemis.

Masih keras kepala.

Bos.

Dagingmu sudah terlalu matang.

Minggir.

Langtou, makan kue.

You'an.

Dasar.

Aku sangat kesal.

Ambil kue itu.

Kakak!

Kakak.

Kita jauh-jauh datang ke sini

hanya buat makan kue dari dia ya?

Aku tidak mau makan.

Langtou.

Aku juga tidak mau makan.

Aku juga tidak mau makan.

Apa yang kalian lakukan?

Semuanya kembali.

Shuanghua.

Sudah menyusahkanmu,

Tidak susah.

Situasi saat ini kacau balau.

Ada sesuap makanan, rasanya sudah puas.

Kota Tai'an adalah markas pasukan kawan terbesar di sini.

Wanyan Liang berkali-kali utus pasukan menyerang kota, tetapi selalu kembali dengan kegagalan.

Kalau ingin menghadapi orang Jin,

harus manfaatkan kekuatan mereka.

You'an.

Dinasti Song yang kamu maksud ini,

sebenarnya seperti apa?

Dinasti Song.

Pasar malam dibuka sampai tengah malam,

sampai subuh juga kiosnya masih dibuka.

Kalau mau jalan-jalan,

tidak ada habis-habisnya.

Satu Catatan Pemandangan Dongjing,

Satu Gambar Sungai Musim Semi,

Dinasti Song

sangat indah.

Tetapi ada beberapa hal yang belum aku pahami.

Bukankah Jia Rui pernah belajar bersamamu?

Kenapa sekarang dia bahkan tidak ingin bertemu dengan kita?

Waktu itu, Jia Rui ingin agar aku bersama dia

mengabdi pada Dinasti Jin.

Aku tidak ingin menjadi pejahat dengan bergabung di Dinasti Jin.

Lalu aku menolak undangan dia.

Bukan hanya begitu,

aku juga traktir dia minum arak.

Tiga hari.

Dia tidur sepuasnya sampai tiga hari.

Kalau begitu, dia pasti sangat benci padamu.

Tidak heran kita tidak diizinkan masuk ke kota.

Shuanghua.

Jia Rui ini sangat berbakat.

Waktu itu, aku melakukannya

juga karena tidak ingin dia jadi pejabat di Dinasti Jin.

Siapa?

Kak, ini aku.

Aku datang ambil kue buat dimakan.

Terlalu pamer kemampuan, sudah lapar.

Sudah, makanlah.

Jenderal Hu Erba!

Jenderal Hu Erba!

Jenderal Hu Erba!

Cepat.

Bawa aku temui Adipati.

Siap!

Markas Pasukan Jin

Suruh kamu bawa 2.000 pasukan ke Pintu Air Sifeng untuk merekrut prajurit baru.

Kamu malah kembali seorang diri.

Menurutmu, bagaimana seharusnya aku menghukummu?

Hu Erba siap mati sebagai hukuman.

Tetapi aku mohon pada Adipati.

Sebelum aku, Hu Erba mati,

aku ingin bunuh Xin Qiji dengan tanganku sendiri.

Maksudnya Xin Qiji, cucu dari Xin Zan?

Itu dia.

Waktu itu, aku bawa pasukan untuk menaklukkan Pintu Air Sifeng.

Malah disergap oleh Xin Qiji.

Adipati.

Kalau aku tidak bisa membunuh Xin Qiji sendiri,

aku tidak bisa mati dengan tenang.

Baiklah, obati lukamu dulu,

Adipati, aku...

Pergi.

Chengmei.

Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Chengmei pernah dengar tentang orang ini.

Xin Qiji menguasai sastra dan silat.

Cukup terkenal.

Tetapi dia tidak hanya tidak sudi mengabdi pada Dinasti Jin,

dia malah membentuk pasukan pemberontak untuk melawan kita.

Ayahanda.

Bagaimana kalau saya yang turun tangan saja

untuk menghabisi orang ini?

Tidak.

Masih ada waktu satu bulan.

Kita akan bergabung dengan pasukan penakluk selatan.

Sebelum itu,

temukan orang itu.

Siap!

Ingat.

Tanpa perintah aku,

jangan ambil tindakan sendiri.

Saya mengerti.

Ini sudah tiga hari.

Menurutku, mereka juga tidak buru-buru.

Omong kosong.

Wakil Komandan Jia memberikan satu gerobak makanan untuk mereka.

Itu persediaan makanan satu bulan.

Baru tiga hari, mana mungkin buru-buru?

Ramai sekali, aku jadi ingin ke sana.

Sudah.

Kamu jangan ejek aku lagi.

Aku coba ke sana dulu, bicara dengan mereka.

Sudah seharusnya begini sejak dulu.

Pergilah.

Kalau begitu, aku pergi ya.

Tunggu apa lagi? Pergilah.

Sebelah sini.

Jangan lari.

Ke sini.

Akhirnya menampakkan diri.

Istirahat sebentar.

Kak Jia, lama tidak bertemu.

Bua tapa kamu mencariku?

Pintu Air Sifeng sudah hancur.

Aku ajak mereka bergabung dengan pasukanmu.

Kakekmu pejabat Dinasti Jin.

Kalau mau, seharusnya bergabung dengan pasukan Dinasti Jin.

Aku sudah berikan persediaan makanan untuk kalian.

Kalau tidak cukup, aku berikan satu gerobak lagi.

Bertahun-tahun sudah berlalu.

Sepertinya kamu masih ingat pada kejadian itu.

Kamu tenang saja.

Aku datang ke kota Tai'an, hanya untuk melawan pasukan Jin.

Aku tahu kamu ingin jadi pejabat.

Aku tidak akan berebut posisi Wakil Komandan darimu.

Xin Qiji.

Ambilkan busur aku.

Baik.

Lindungi Wakil Komandan.

Bukankah kamu mau masuk ke kota?

Boleh.

Sekarang ada pasukan Jin sebanyak 5.000 orang.

Mereka sedang menuju ke kota Tai'an.

Aku kasih kamu 800 orang.

Kalau menang perang,

aku izinkan kamu masuk ke kota.

Bagaimana?

Takut ya?

Kalau takut, pergi jauh-jauh.

500...

Aku hanya perlu 500 orang.

Jia Rui.

Sampai jumpa di kota Tai'an.

Kak, sudah saatnya menyerang.

Tunggu lagi.

Kalau tidak turun tangan, nanti tidak sempat.

Jangan buru-buru.

Mulai.

Blokade!

Siapkan formasi!

Serang!

Serang!

Ambil senjata.

Bentuk pertahanan ulang.

Tembakkan panah!

Jenderal, di sana masih ada orang kita.

Aku suruh kamu tembakkan panah, dengar tidak?

Ya, siap!

Tembak!

Tembak!

Tidak apa-apa 'kan?

Tidak apa-apa.

Hanya luka lecet.

Langtou!

Ada di sini.

Buka jalan.

Saudaraku! Serbu!

Semuanya serbu!

Serang!

Langtou.

Jenderal utama sudah tewas!

You'an.

Kita menang perang.

Apa sudah boleh masuk ke kota?

Jangan bergerak.

Setelah masuk ke kota,

aku minta Jia Rui ambilkan obat buatmu.

Ini tidak ada apa-apanya.

Kamu tidak tahu.

Dulu waktu aku ajak Liang

berburu di hutan,

lukanya jauh lebih parah daripada ini.

Masih keras kepala.

Tapi ini sungguhan.

Kelak kamu jangan ikut dalam urusan ini lagi.

Kamu takut aku menyusahkanmu ya?

Bukan.

Ada perasaan tidak tenang.

Kakak! Kakak!

Kakak!

Langtou!

Sebelah sini.

Kakak.

Kak Xin.

Orang ini ingin menemuimu.

Saudaraku.

Ada apa mencariku?

Kak Xin.

Pisau ini aku temukan dari tubuh Jenderal Jin.

Untukmu.

Untukku?

Kenapa?

Berperang bersamamu, sangat memuaskan.

Kami semua sangat kagum padamu.

Kamu ambil saja.

Baiklah.

Kalau begitu, aku terima.

Baiklah.

Langtou, kembali ke Tai'an.

Saudara-saudaraku! Kita menang.

Dasar orang licik yang sombong.

Wakil Komandan, langsung membiarkan mereka masuk?

Lalu bagaimana?

Mereka diusir, makanan juga tidak mau?

Mau.

Simpan persediaan makanan, usir mereka, beres 'kan?

Jadi sebenarnya siapa yang licik?

Kak.

Persediaan makanan yang kita rampas dengan susah payah,

langsung biarkan mereka bagi-bagi ya?

Bukankah kamu kesal?

Jia Rui berikan kita gerobak makanan,

kita kembalikan 100 kali lipat.

Kamu tidak rela?

Kalau begitu, aku rela.

Kita kembalikan 100 kali lipat.

Bagus.

Letakkan!

Jangan bagi lagi.

Kalian jangan bagi lagi.

Semuanya letakkan.

Xin Qiji.

Siapa yang suruh kamu bagi makanan di sini?

Kami yang rebut persediaan makanan ini,

kami ingin bagi, jadi kami langsung bagi.

Bukan urusanmu.

Tanpa perintah Komandan,

membagikan makanan di markas militer sesuka hati,

mengacaukan semangat pasukan.

Pengawal! Tangkap!

Siapa yang berani bertindak?

Dasar anak ingusan, apa ini?

Kakak.

Mereka membagikan makanan tanpa izin.

Aduh.

Saudara Xin dan Wakil Komandan Jia itu kawan belajar.

Mereka juga berhasil rebut begitu banyak makanan.

Saudara Xin, pertempuran ini

sangat bagus.

Komandan Geng terlalu memuji.

Pertempuran ini pasti sudah termasuk bagian dari rencana Jia Rui.

Kalau dia yang maju,

juga sama.

Pokoknya bagaimanapun,

otak kalian para cendekiawan ini

memang cerdas.

Komandan Geng.

Kami sudah bertempur,

juga sudah kembalikan makanan.

Jia Rui masih belum menampakkan diri sekarang.

Jangan-jangan dia mau ingkar janji.

Adik ipar.

Jangan bicara begini.

Sekarang aku buat pernyataan.

Mulai hari ini,

kita sekeluarga.

Saudara-saudaraku!

Malam ini jangan segan.

Makan daging.

Minum arak.

Makan daging! Minum arak!

Makan daging! Minum arak!

Makan daging! Minum arak!

Makan daging! Minum arak!

Makan dan minum sepuasnya.

Kak Langtou.

Hari ini kamu sangat hebat.

Aku juga merasa aku hebat.

Malam ini aku masih ingin menunjukkan kehebatanku.

Kalian semua pasti mabuk dulu.

Bersulang!

Dasar Langtou bodoh.

Kamu omong kosong lagi ya?

Kak Shuanghua, aku bukan omong kosong.

Hari ini aku senang, tidak akan mabuk.

Kak Shuanghua, aku bersulang padamu.

Baiklah. Buat apa bersulang padaku?

Aku doakan Kak Shuanghua dan Kak Xin

bisa segera menikah.

Sampai penuh.

Ayo, bersulang!

Bersulang!

Semuanya.

Aku Zhang Anguo,

mewakili saudara-saudara kita di kota Tai'an,

dan saudara-saudara yang gugur dalam pertempuran,

bersulang kepada kalian.

Adik Xin.

Jujur saja.

Kamu bisa bergabung dengan kami di Tai'an,

aku sangat senang.

Komandan terlalu sungkan.

Aku dengar waktu Komandan baru memulai perjalanan ini,

hanya ada belasan prajurit pemberani yang mendampingi.

Hanya dalam waktu 3 tahun yang singkat, bisa mencapai skala sebesar ini.

Aku sangat kagum.

Sudah dengar apa kata Adik Xin?

Kelak jangan membantahku terus.

Xin Qiji.

Ada apa, katakan saja.

Aku tidak percaya kedatanganmu ke Tai'an

hanya untuk bergabung dengan pasukan kami.

Sebulan yang lalu,

Hu Erba membawa pasukan, membunuh semua warga Pintu Air Sifeng.

Sisa warga yang masih hidup, sudah aku bawa ke sini.

Hu Erba ini.

Hu Erba.

Dia jenderal kaki tangan Wanyan Basu, Adipati Dinasti Jin.

Kamu ingin kami balaskan dendammu?

Jangan harap.

Bisa, kenapa tidak bisa?

Aku tidak peduli siapa dia.

Adik Xin.

Aku akan bantu kamu balaskan dendam kepada Hu Erba.

Aku pasti akan mencabut nyawa Hu Erba.

Tetapi ada satu hal lagi yang lebih penting.

Aku harap Komandan bisa membantuku.

Adik Xin, ada apa lagi

yang lebih penting dari balas dendam?

Gabungkan semua pasukan kawan.

Inisiatif lancarkan serangan.

Usir semua pasukan Jin dari Shandong, kembalikan negeri kita.

Mimpi saja!

Komandan!

Sampai...

Sampai...

Sampai berkelahi, kamu cepat lihat.

Semuanya berhenti!

Apa yang terjadi?

Kak.

Mereka memaki kita pengemis.

Aku baru turun tangan melawan.

Omong kosong.

Apa yang kamu lakukan?

Lepaskan.

Aku pasti bunuh dia.

Minum terlalu banyak arak?

Minta maaf.

Dia yang menghina, jelas dia yang salah.

Minta maaf.

Kakak, benar-benar...

Diam.

Gerombolan pengemis.

Bajingan!

Kamu tidak usah bicara apa-apa lagi.

Sekarang aku berkemas, aku pergi.

Mulai saat ini, kelak aku hidup atau mati,

tidak ada hubungannya denganmu.

Kak, ini aku.

Kak Xin melakukannya,

dia sendiri juga merasa sangat tidak nyaman.

Dia sudah tidak peduli padaku lagi.

Di dalam hatinya hanya ada Dinasti Song.

Mana ada tempat buatku lagi?

Kak, Kak.

Kakak salah paham pada Kak Xin.

Waktu berada di Pintu Air Sifeng,

kakak bangkit dari tumpukan orang mati,

nama pertama yang dia panggil adalah namamu.

Benarkah?

Tentu saja.

Kakak juga bilang,

setelah dia membunuh Hu Erba,

setelah kembali ke Dinasti Song,

dia akan menikahimu.

Kakak.

Shuanghua.

Pemimpin pasukan yang merebut persediaan makanan kali ini

adalah Xin Qiji dari Ji'nan.

Tentu saja aku sudah mendengarnya.

Aku juga dengar.

Xin Qiji terbang sambil memenggal kepala jenderal

di tengah pasukan.

Kalian berdua.

Persediaan makanan hari ini sudah habis, kalian pergi saja.

Jenderal, kenapa?

Kenapa?

Di dunia ini, mana ada orang yang bisa terbang?

Pergi!

Zhang Anguo.

Apa yang kamu lakukan?

Wakil Komandan, aku bagi makanan.

Kalau bagi makanan, lakukan dengan benar.

Kalau kesal, tahan saja.

Kamu cari aku?

Ya.

Aku sudah memutuskan.

Utus pasukan, serang pasukan Jin.

Kamu gila ya?

Kamu benar-benar mau korbankan nyawa semua saudara kita di kota ini,

untuk balaskan dendam Xin Qiji sendiri?

Kamu salah paham.

Adik Xin sudah pertimbangkan buat kita.

Coba kamu lihat.

Kita berada di Tai'an, di sini.

Di sekeliling kita ada musuh.

Yanzhou.

Ini Ji'nan.

Ini Zichuan.

Kamu salah tunjuk.

Ini kita, Tai'an.

Tidak bisa, tidak bisa.

Aku masih tidak bisa mengatakannya dengan baik.

Adik Xin, kamu yang sampaikan saja.

Baik.

Kalian lihat.

Meskipun Tai'an berada di dekat gunung Taishan,

di selatan terhalang oleh Sungai Wenshui.

Kelihatan seperti lokasi strategis yang gampang bertahan dan sulit diserang.

Tetapi posisinya ada di pusat,

lalu lintasnya banyak sekali..

Benar-benar bisa dibilang berada di ujung tanduk.

Perkataanmu benar.

Tetapi saat ini

semua pasukan Jin di Shandong

sudah dikumpulkan oleh Wanyan Basu

untuk bergabung dengan Wanyan Liang di selatan.

Itulah kesempatan bagus bagi kita

untuk rebut kembali wilayah kita.

Tetapi apakah kamu pernah memikirkan?

Kalau mereka kembali bergabung dengan pasukan utara?

Bergabung dengan Yanzhou, Ji'nan, Sihui, Zichuan.

Gabungan empat pasukan besar, mengepung Tai'an,

apa yang akan terjadi?

Tentu saja hanya ada jalan mati.

Betul.

Jadi

kita harus hancurkan rencana mereka lebih awal.

Selagi pasukan Jin di Shandong masih lemah,

kita lancarkan serangan, rebut 4 kota.

Dengan demikian, seluruh Shandong

bisa kita kuasai dalam genggaman kita.

Bagus.

Apa kamu paham?

Tentu saja aku paham.

Kita kuasai 4 kota.

Shandong jadi wilayah kekuasaan kita.

Kalau kita tidak menguasai 4 kota ini,

kita akan mengalami kondisi seperti Pintu Air Sifeng.

Aku tidak setuju.

Kenapa kamu tidak setuju lagi?

Tadi bukannya sudah disampaikan dengan baik?

Apa gunanya punya rencana yang bagus?

Berperang tidak hanya mengandalkan mulut.

Harus mengandalkan pasukan.

Apa kita punya pasukan sekarang?

Amitabha.

Soal ini, aku bisa membantu.

Siapa kamu?

Siapa yang membiarkan biksu ini masuk?

Biksu ini bilang dia teman Kak Xin.

Yiduan.

You'an.

Lama tidak bertemu.

Namanya Yiduan.

Dia sahabatku.

Kedua tuan ini.

Andaikan aku bisa mendatangkan sebuah pasukan bantuan.

Apakah rencana Saudara Xin

bisa kalian setujui?

Saudaraku.

Berapa banyak pasukan yang bisa kamu datangkan?

5.000 orang.

Hebat.

Jia.

Jangan tunda-tunda lagi.

Kalau strategi ini berhasil dijalankan,

kehidupan saudara kita akan lebih baik.

Kamu harus laksanakan.

Harus laksanakan.

Baiklah, kalau begitu, laksanakan.

Tetapi aku punya syarat.

Sebelum bertemu pasukan itu,

kamu tidak boleh meninggalkan Tai'an.

Kalau begitu, mohon kedua tuan kirimkan utusan pengantar surat.

Bantu aku pergi ke sana.

Kamu sudah baca isi surat?

Sudah baca.

Sepertinya tidak ada masalah.

Bagus kalau begitu.

Biksu ini tiba-tiba muncul,

sepertinya agak aneh.

Suruh Zhang Anguo awasi dia.

Menurutku, Geng.

Soal ini,

bukankah kamu sangat yakin?

Aku memang yakin pada Adik Xin.

Aku memang tidak berpendidikan.

Aku orang kasar, tetapi aku tidak bodoh.

Ayo, minum arak.

Ayo.

Kak Yiduan.

Bukankah kamu sudah jadi biksu?

Kenapa masih minum arak?

Juga masih makan daging.

Kalau dibilang, memang agak memalukan.

Sebagai biksu, seharusnya aku membaca paritta dan bersemedi.

Tetapi situasi saat ini sedang kacau-balau.

Melihat rakyat dalam penderitaan,

aku benar-benar tidak bisa berpangku tangan,

jadi aku turun gunung.

Aku bergabung dengan pasukan di utara.

Tetapi kalah perang, jadi tawanan pasukan Jin.

Sekarang baru bertemu denganmu.

Kalau begitu, aku sudah mengerti.

Kak Yiduan kabur dari pasukan Jin.

Langtou.

Bukankah kamu mau belajar ilmu pedang?

Kak Yiduan ini ahli pedang.

Kamu harus manfaatkan kesempatan ini,

minta petunjuk dari Kak Yiduan.

Kalau begitu, aku harus belajar beberapa jurus.

Kak Yiduan.

Langtou tidak pintar bicara.

Jangan masukkan ke dalam hati.

Tidak apa-apa.

Anggap saja kali ini kita bisa bertemu karena pasukan Jin.

Setelah berpisah di Ji'nan,

dalam sekejap sudah 3 tahun berlalu.

Cepat sekali.

Masa muda sebagai awal.

Penuh kesulitan.

Membaca himne sambil minum arak.

Kak.

Jurus pedang yang kamu ajarkan ini kurang bagus.

Kak Yiduan.

Sebaiknya Kakak saja.

Kak Shuanghua hanya suka melihatmu.

Apa katamu?

Melihat jurus pedang kakak.

You'an.

Aku juga sudah lama tidak menyaksikan jurus pedangmu.

Baiklah, aku perlihatkan beberapa jurus.

Pemuda membawa tombak,

gagah perkasa.

Arak dan puisi.

Awal perkenalan, hanya mengamati.

Hanya dua atau tiga, sesekali saja.

Perubahan terjadi dalam sekejap.

Burung camar di cermin batu.

Burung murai di pangkal jembatan.

Hancur di musim gugur.

Batu giok sebagai penjerat jari.

Yiduan sudah berhasil.

Kali ini dia akan sambut kita di Tai'an.

Senjata penyerang kota,

persediaan makanan, kereta kuda, tidak usah dibawa.

Cukup siapkan persediaan makanan pasukan selama 3 hari.

Sampaikan perintah.

800 pasukan Elang Terbang ikut aku serang Tai'an di malam hari.

Tuan Putri.

Apakah serangan ini tidak terlalu berisiko?

Kata orang Song,

kalau ingin tangkap anak harimau, harus masuk ke kandang harimau.

Sampaikan perintah.

Siap!

Tuan Putri.

Xin Qiji sudah ditemukan.

Kenapa kamu berada di sini?

Kak, kemarin kita...

Aku tidak tahu.

Cepat pergi.

Pergi.

Kenapa kalian berdua cemas?

Kemarin kalian minum banyak arak,

lalu tidur di tempatku.

Oh ya.

Kita lihat kondisi Kak Yiduan.

Kemarin dia juga minum banyak arak.

Ya.

Apa maksudnya?

Komandan.

Apa maksudmu?

Kamu jangan pura-pura bodoh.

Biksu Yidian mencuri stempel komandan.

Dia juga melukaiku.

Bagaimana penjelasanmu?

Hei, Zhang.

Jangan terus memfitnah orang.

Semalam kami minum arak sampai pagi.

Mana bisa Kak Yiduan mencuri stempel komandan?

Kak, dia sengaja cari masalah.

Aku yang meminta Zhang Anguo mengawasai Yiduan.

Dia mencuri stempel komandan.

Pasti dia ingin membuat perintah palsu,

membuat kekacauan,

jadi mata-mata musuh,

menyerahkan Tai'an ke tangan pihak Jin.

Adik Xin.

Aku yakin kamu juga sudah dibohongo Yiduan.

Shuanghua.

Kamu dan Langtou tunggu aku di sini.

Aku akan dapatkan kembali stempel komandan.

Kak.

Kalau aku tidak kembali malam ini,

jangan persulit saudara-saudaraku.

Baik.

Aku janji padamu.

Asalkan kamu ambil kembali stempel komandan,

penyerangan ke utara,

akan aku laksanakan.

Xin Qiji.

Yiduan

pergi ke arah hutan.

Tuan Putri.

100 km lagi, akan tiba di kota Tai'an.

Maju dengan kekuatan penuh.

Maju dengan kekuatan penuh.

Ikut aku pulang.

Jangan bodoh lagi.

Kota Tai'an sudah tidak bisa dipertahankan.

Kita pernah bersumpah akan mengembalikan keutuhan negeri ini.

Yiduan, jangan-jangan kamu sudah lupa ya?

Orang pintar mampu membaca situasi.

Kekuatan Dinasti Song sudah melemah.

Dunia ini sudah dikuasai Dinasti Jin.

Rakyat tetap bisa hidup tenteram.

Aku tanyakan sekali lagi padamu.

Apa kamu akan kembali bersamaku?

Hidup penuh penderitaan, segera bertobat.

Kalau kamu bersikeras berkhianat, memihak pada Dinasti Jin,

mulai hari ini,

kita sudah putus hubungan.

Semuanya berakhir di sini.

Ayo.

Malam ini pasukan Jin akan tiba.

You'an.

Wujudkan impianmu.

Sepertinya dia sudah berhasil.

Sebagian pasukan tetap berada di sini.

Kita berangkat.

Yiduan.

Sang penguasa menghunuskan pedang.

Menghapus debu sungai tawanan perang.

Hu Erba.

Kau masih ingat padaku?

Siapa itu?

Kenapa buang air kecil juga ada yang intip?

Aku datang untuk mencabut nyawamu.

Kirim sinyal.

Tidak usah kirim lagi, orangnya sudah aku bunuh.

Bersiap.

Aku Wanyan Chengmei, Tuan Putri Dinasti Jin.

Hari ini kalau aku mati di sini,

pasukan Jin akan menghancurkan Tai'an

dengan segala upaya.

Ternyata seorang ketua.

Saudara-saudaraku.

Jangan sampai melukai Tuan Putri ya.

Aku sudah melajang belasan tahun.

Kebetulan ingin cari istri.

Geng Jing.

Kalian kirim pasukan, karena tidak ingin berperang 'kan?

Hari ini, sebagai ketua Jin,

aku berjanji padamu.

Asalkan kamu menyerah,

kamu pasti dapat jabatan tinggi, dan kekayaan berlimpah.

Saudara-saudaramu yang mengikutimu ini

juga pasti bisa menjalani kehidupan yang baik.

Adik Xin, aku sudah bicara dengannya, dia tidak mengerti.

Kamu yang bicara dengannya saja.

Wanyan Chengmei.

Tidak usah banyak omong kosong.

Letakkan senjata, aku bisa ampuni kamu.

Kalian kembali ke markas pasukan Jin,

sampaikan kepada Wanyan Basu.

Wanyan Basu pasti tidak akan berpangku tangan.

Setiap jengkal tanah yang direbut oleh pasukan Jin,

pasti akan kami rebut kembali.

Strategi penyerangan 4 kota mungkin akan terpengaruh.

Kamu sudah setuju dengan strategi penyerangan 4 kota?

Kamu sangat licik.

Xin Qiji.

Kita masih akan bertemu lagi.

Ayo.

Tunggu.

Dia harus tetap berada di sini.

Tuan Putri.

Yang aku tunggu adalah hari ini.

Hu Erba.

Hari ini aku akan cabut nyawamu

sebagai persembahan untuk saudara-saudaraku yang terkorban di Pintu Air Sifeng.

Aku sudah kalah, bunuh aku.

Yang akan membunuhmu bukan aku.

Liang, Kakak sudah balaskan dendammu.

Beristirahatlah dengan tenang.

Dendam saudara-saudara di Pintu Air Sifeng

sudah dibalaskan oleh Kak Xin.

Kita tidak hanya membunuh Hu Erba,

Besok

Kak Xin akan menjadi panitera di kota Tai'an.

Langtou juga mau ikut Kak Xin.

Hajar semua pasukan Jin.

Shuanghua.

Lepaskan.

Shuanghua, dengarkan aku.

Ini satu-satunya kesempatan untuk mengalahkan pasukan Jin.

Asalkan bisa mengusir pasukan Jin.

Bisakah tidak usah berperang lagi?

Tunggu sampai masalah ini selesai,

selama sisa hidupku nanti,

aku tidak akan melakukan apa-apa.

Aku akan terus mendampingi di sisimu.

Bagaimana?

Mulai hari ini,

Adik Xin adalah panitera di pasukan kita.

Bagus.

Kakak.

Saudara-saudara kita yang bertempur.

Kenapa dia yang jadi panitera?

Zhang Anguo, kamu omong kosong lagi ya.

Kita melawan pasukan Jin, kalau bukan Kak Xin yang sebagai salah satu pimpinan,

jangan-jangan kamu yang memimpin?

Tidak usah banyak omong kosong. Tuangkan arak.

Aku tahu, aku menduduki posisi panitera,

banyak orang yang merasa tidak senang.

Dilihat dari kualifikasi,

aku masih di bawah kalian semua.

Dilihat dari pencapaian,

kalian sudah memenangkan ratusan pertempuran,

aku juga masih di bawah kalian semua.

Bagaimanapun, jabatan panitera ini

tidak pantas aku duduki.

Tetapi aku ingin bertanya kepada semua,

mengapa kalian berjuang?

Agar bisa makan dengan kenyang, mengenakan pakaian hangat.

Menikah dengan istri kesayangan.

Makanan, pakaian, istri.

Aku juga punya pemikiran yang sama dengan kalian,

tetapi pasukan Jin tidak bisa memberikan semua itu.

Kalau ingin mengalahkan pasukan Jin, ada 2 hal yang harus kita lakukan.

Pertama.

Bersatu.

Mulai hari ini.

Pasukan dari Pintu Air Sifeng dan Kota Tai'an

harus berjuang sehidup semati, tanpa dibeda-bedakan.

Kedua.

Tetap bersatu.

Seluruh pasukan kita

harus berdisiplin tinggi.

Hanya dengan kekuatan persatuan rakyat

baru bisa mengusir semua pasukan Jin

dari negeri Song.

Bersama rekan seperjuangan.

Usir penjajah dari luar. Tak takut hidup atau mati.

Usir penjajah dari luar. Tak takut hidup atau mati.

Bersulang!

Bersulang!

Jangan kabur.

Hei, jangan kejar lagi.

Coba lihat di dalam.

Hitung.

Jangan berdesakan.

Semuanya kebagian. Ayo.

Semuanya kebagian.

Jadi prajurit. Aku sudah jadi prajurit.

Aku benar-benar tidak menyangka.

Makin lama berperang,

pasukan kita malah jadi makin banyak.

Inilah arah dari kekuatan besar.

Pertama, kita rebut kembali Kota Zichuan.

Di Dataran Tengah, pasukan kita

akan memiliki posisi yang kuat.

Aku sudah bisa melihatnya.

Asalkan ada Adik Xin,

kehidupan pasukan kita pasti jadi makin baik.

You'an, aku temukan sebuah buku untukmu.

Geng, coba kamu lihat.

Ayo, kita lihat di sana.

Minggir.

Semuanya hentikan.

Langtou.

Hentikan.

Langtou, apa yang kamu lakukan?

Langtou.

Apa yang terjadi?

Belum puas berperang ya?

Komandan.

Dia yang mengikat Xiao Heizi dulu.

Aku baru melawannya.

Langtou.

Kamu mau ikat siapa?

Bawa orangnya ke sini.

Lepaskan aku!

Jalan.

Berlutut.

Kakak.

Orang ini

merebut makanan rakyat.

Dia juga pakai kekerasan.

Mana orangnya?

Orangnya sudah kabur karena ketakutan.

Dia yang bunuh kambing ini.

Xiao Heizi.

Apa kamu yang melakukannya?

Orangnya...

Aku yang melukai orangnya, aku yang rebut makanannya.

Tetapi mereka rakyat Jin.

Tetapi mereka rakyat biasa.

Langtou.

Hukum pakai cara militer.

Kakak.

Ini terlalu berlebihan.

Penggal!

Siapa yang berani?

Kamu berani?

Komandan.

Xin Qiji bahkan melepaskan Tuan Putri dari Jin.

Kenapa tidak bisa mengampuni Xiao Heizi kali ini?

Menurut aku,

dia punya maksud lain.

Jangan omong kosong.

Minggir.

Adik Xin.

Dalam hal ini, Xiao Heizi melakukan kesalahan.

Aku ganti rugi 20 ekor kambing buat rakyat.

Tidak, 30 ekor.

Lalu hukum Xiao Heizi 40 pukulan tongkat militer.

Menurutmu, bagaimana?

Komandan.

Setelah masuk ke kota, kita tidak boleh mengganggu rakyat.

Ini aturan yang kita buat.

Aturan militer memang sadis.

Dia sudah melakukannya, dia harus mengakui.

Baiklah kalau begitu.

Begini saja.

Mulai hari ini,

jika ada yang melakukan kesalahan ini lagi, akan dihukum penggal.

Bisa tidak?

Waktu itu,

aku mengikuti kakek bepergian ke mana-mana.

Aku melihat para pejabat Jin itu

sama sekali tidak menganggap rakyat sebagai manusia.

Mereka rebut uang,

rebut makanan,

rebut orang.

Kalau tidak dikasih, mereka dipukul sampai mati.

Kalau masih tidak dikasih,

mereka dibunuh.

Bunuh satu orang tidak cukup.

Mereka bunuh seluruh penduduk desa.

Pintu Air Sifeng

dihancurkan oleh mereka seperti itu.

Jadi

sejak aku mengajak pasukan untuk melawan,

aku membuat sebuah keputusan.

Jika pada suatu hari nanti,

Dinasti Song bisa mendapatkan kembali wilayah kekuasaan,

aku tidak akan membiarkan rakyat seorang pun

mengalami penderitaan seperti ini,

mengalami siksaan seperti ini,

di wilayah kekuasaan Dinasti Song.

Lakukan!

Siapa yang berani ganggu anak buah aku?

Jia Rui, apa yang kamu lakukan?

Kakak.

Panitera.

Aku tahu aku bersalah.

Sebenarnya dalam hal ini, aku...

Zhang Anguo!

Aku bunuh kau.

Tangkap dia.

Semuanya kembali.

Mati satu belum cukup ya?

Orang yang di depan, minggir.

Minggir, minggir.

Wakil Komandan Jia.

Kamu cari aku?

Chengmei.

Sudah giliran kamu.

Ayahanda.

Mereka sudah menguasai 3 kota berturut-turut.

Kita hanya duduk diam seperti ini?

Kenapa? Kamu tidak senang

karena kalah pada Xin Qiji?

Saya masuk dalam jebakan dia

karena ceroboh sesaat.

Kamu yang bertindak gegabah.

Ayo.

Wakil Komandan Jia.

Jangan.

Jangan panggil aku Wakil Komandan Jia.

Kita sudah bertahun belajar bersama.

Panggil aku Jia Rui saja.

Ayo.

Ayo.

You'an.

Dulu aku salah paham padamu.

Sampai hari ini,

akhirnya aku benar-benar paham

apa yang dimaksud cita-cita mulia.

Aku bersulang sekali lagi sebagai tanda hormat padamu.

Kak Jia.

Aku juga ingin menyampaikan sesuatu.

Saat ini, termasuk Tai'an,

kita sudah menguasai 4 kota.

Ditambah lagi dengan Zichuan,

seluruh Shandong akan berada dalam kekuasaan kita.

Meskipun Zichuan sulit ditembus,

tetapi sepanjang jalan ini, aku juga menyadari

Wanyan Basu menarik seluruh

pasukan utama miliknya.

Kita menyerang 3 kota yang dikuasai olehnya,

dia malah sama sekali tidak mengirim pasukan bantuan.

Sepertinya dia pasti akan menyerang ke selatan.

Jadi

ada beberapa hal yang sepertinya harus dilakukan lebih awal.

Soal apa?

Bergabung dengan pasukan Song.

Kepung markas Wanyan Basu.

Tidak mudah.

Kita tidak usah bahas dulu apakah Kaisar Song

menyetujui strateginya.

Meskipun sudah setuju,

saat ini kita memiliki

3 pasukan besar yang akan bergabung di selatan.

Setelah kekuatan berhasil digabungkan,

Dinasti Jin kita

akan memiliki jutaan pasukan untuk menyerang Song.

Tiba saatnya nanti, kekuatan pasukan mereka

yang kecil itu, akan menjadi makin sepele.

Coba kamu lihat.

Kita menguasai Tai'an,

Sishui,

Yanzhou,

Ji'nan,

ditambah Zichuan.

Sama saja berarti menjebak mereka

dalam perjalanan Wanyan Basu kembali ke utara.

Asalkan pasukan Song yang menyerang utara

bisa mendesak mereka menyerang tempat ini,

kekuatan kita di 5 kota dikerahkan bersamaan,

ditambah pasukan utara,

maka Wanyan Basu

bisa dihancurkan sepenuhnya di serangan ini.

Dengan demikian,

Serangan Wanyan Liang ke selatan

akan gagal tanpa perlu dihadang.

Aku sudah paham.

Xin Qiji sengaja menyampaikan rencananya kepada kita,

agar jadwal serangan kita ke selatan ditunda.

Xin Qiji memang sangat berbakat.

Dengan pandangan dan pemikirannya,

jika dia berada di pasukan Song,

kita tetap akan mengalami kesulitan.

Jadi Ayahanda Raja, apakah rencana serangan ke selatan perlu dimajukan?

Tidak perlu.

Meskipun Xin Qiji tidak mudah dihadapi,

tetapi pasukan pemberontak itu juga tidak kaku.

Seperti yang disebut taktik adalah rencana tingkat atas.

Chengmei harus belajar cara membunuh dengan memanfaatkan orang lain.

Tetapi Kaisar Song

tidak bisa ditemui sesuka hati.

Soal ini, kamu tidak usah khawatir.

Aku punya sahabat di Lin'an.

Dia bisa bantu aku urus masalah ini.

Kak Jia.

Zichuan diserahkan padamu.

Baiklah, kamu tenang saja.

Aku pasti tidak akan mengecewakan.

Bersulang!

Bersulang!

Saya sudah paham.

Kalau begitu, saya akan sebarkan pengumuman.

Barang siapa yang menyerahkan diri, tidak akan dihukum.

Akan diberi jabatan sesuai dengan jasanya.

Kamu memang cerdas, cepat laksanakan.

Siap!

Pasukan suku Hu menyerang dengan panah baik dan kuda hebat,

300.000 prajurit Han

Jenderal pemimpin yang gagah

Komandan Geng.

Komandan mencariku tengah malam.

Apa ada yang ingin dibahas?

3 tahun yang lalu, aku memimpin sekelompok orang untuk memberontak.

Tujuannya untuk mendapatkan makanan.

Meskipun kekuatan kita sekarang sudah besar,

tetapi aku tidak melupakan niat awal kami.

Apa maksud perkataan Komandan?

Saudaraku.

Aku tidak ingin berperang lagi.

Kamu mau bunuh Xiao Heizi.

Aku paham.

Kamu dan Jia Rui ingin kita bergabung dengan Song,

aku juga paham.

Tetapi nyawa saudara-saudaraku ini ada di tanganku.

Aku

harus bertanggung jawab atas hidup mereka.

Jadi kamu ingin angkat diri sendiri sebagai raja?

Betul.

Meskipun sekarang aku tidak menyerang Zichuan,

pasukan Jin juga tidak bisa berbuat apa-apa pada kita.

Aku ingin agar saudara-saudaraku

memiliki kehidupan yang baik bersamaku.

Kehidupan yang baik.

Kehidupan yang baik.

Geng Jing.

Apa kamu tahu kehidupan yang baik itu seperti apa?

Apa kamu pernah menyaksikan betapa indahnya

pemandangannya di bawah kekuasaan Dinasti Song?

Sekarang kamu buka mata, lihatlah.

Lihatlah tempat ini sudah bobrok jadi seperti apa.

Apakah kehidupan yang baik itu?

Ada daging yang bisa dimakan?

Ada arak yang bisa diminum?

Bahkan rumah pun sudah hilang.

Mana ada kehidupan yang baik?

Komandan.

Aku belum pernah punya keinginan berperang.

Aku sama sekali tidak ingin.

Tetapi ada beberapa hal

yang harus aku lakukan.

Kalau aku masih hidup besok,

aku pasti pergi ke Lin'an.

Kalau kamu ingin bunuh aku,

tidak perlu mereka yang turun tangan.

Pegang ini.

Nyawaku

ada di tanganmu.

300 keresidenan.

300 keresidenan.

Kakak.

Setelah kita pergi ke Song, apakah kita akan kembali lagi?

Pasti akan kembali lagi.

Pasti akan kembali lagi.

You'an.

You'an.

You'an.

Kak Jia.

Kenapa kamu bisa datang ke sini?

Ini.

Komandan memintaku menyerahkan padamu.

Komandan bilang,

setelah kamu kembali,

kita bersama

serang kota Zichuan.

Bagus.

Komandan, tunggu aku kembali.

Saudaraku, semoga lancar di perjalanan.

Kakak.

Aku bersalah.

Ayo, kita kembali ke kota Tai'an.

Kota Lin'an

Di sini sudah tertulis dengan sangat jelas.

Seluruh menteri.

Sehubungan dengan penyerangan ke utara kali ini,

bagaimana pendapat kalian?

Lapor, Yang Mulia.

Penyerangan ke utara menyangkut kepentingan seluruh negeri ini.

Menurut Hamba, kita tidak boleh bersikap gegabah.

Lagipula.

Meskipun kelompok Xin Qiji dan Geng Jing berhasil menguasai kota,

tetapi mereka hanya orang biasa.

Lapor, Yang Mulia.

Perkataan Tuan Lu agak kurang baik.

Meskipun Hamba hanya orang militer,

tetapi juga sudah membaca tulisan Xin Qiji dari Ji'nan.

Orang ini memang punya pengetahuan

tentang strategi militer.

Lagipula

hamba dengar di Shandong, Xin Qiji

menerobos Pintu Air Sifeng,

menyelamatkan Tai'an yang terkepung, dan menaklukkan 3 kota berturut-turut.

Dia meraih kemenangan besar dengan pasukan kecil.

Yang terdengar belum tentu benar.

Yang terlihat baru benar-benar nyata.

Hamba juga pernah dengar Xin Qiji ini

bisa terbang di angkasa, bisa menahan pot raksasa.

Yang terdengar

belum tentu bisa dipercaya.

Yang terlihat baru benar-benar nyata, bagus.

Lapor, Yang Mulia.

Saat ini Xin Qiji sedang menunggu di luar.

Bagaimana kalau Yang Mulia temui langsung?

Benar atau tidak benar, akan langsung diketahui.

Diizinkan masuk.

Sampaikan. Yang Mulia ingin bertemu Xin Qiji.

Hamba Xin Qiji

memberi hormat kepada Yang Mulia.

Berdiri.

Terima kasih, Yang Mulia.

Kamu Xin Qiji.

Dibandingkan rupa yang jelek dalam rumornya,

sepertinya tampangmu kelihatan lebih baik.

Lapor, Yang Mulia.

Hamba tidak bisa terbang, juga tidak bisa berjalan di atas dinding,

juga tidak mampu menahan pot raksasa.

Hamba hanya seorang rakyat biasa yang mengabdi kepada Song.

Rakyat Song yang baik.

Kalau semua rakyat Song bisa seperti kamu,

aku tidak perlu khawatir tentang pemulihan kekuasaan Song.

Lapor, Yang Mulia.

Di wilayah Shandong

ada banyak rakyat yang seperti aku.

Mereka mengorbankan nyawa di medan perang,

bertempur mati-matian dengan pasukan Jin

sampai titik darah penghabisan.

Saat ini mereka sudah menguasai Tai'an,

Sishui, Yanzhou, Ji'nan, keempat kota ini.

Pada saat pasukan menyerang ke utara,

pasti menaklukkan Zichuan mati-matian.

Bersama pasukan utara

menghancurkan Wanyan Basu sampai ke akarnya.

Xin Qiji.

Hanya dengan kata-kata,

kamu ingin Yang Mulia mengutusan puluhan ribu pasukan.

Jika serangan ke utara gagal, kematianmu pun tidak cukup untuk menggantikan kerugian negara.

Aku tidak takut mati.

Apakah Anda tahu?

Ada berapa banyak rakyat di Dataran Tengah

yang kehilangan tempat tinggalnya?

Apakah Anda tahu?

Ada berapa banyak orang yang mengorbankan nyawa demi membela Song?

Apakah Anda tahu?

Pasukan pembela ini

seharusnya menjalani kehidupan yang baik seperti rakyat Lin'an.

Kehidupan yang tenang dan bahagia.

Mereka juga ingin menjalani kehidupan yang baik.

Kalau Hamba

bisa menyaksikan seluruh negeri ini bersatu,

meskipun harus mati ratusan ribuan kali,

tidak ada yang perlu ditakutkan.

Hamba

rela mengorbankan segalanya.

Bagus.

Seluruh negeri bersatu.

Dengan berpegang pada kata-kata ini,

aku

mengizinkan.

Xin Qiji.

Terima kasih kepada Yang Mulia.

Semoga Yang Mulia panjang umur.

Xihu

Tetua Fangweng.

You'an, jangan panggil aku tetua.

Kita memiliki tujuan yang sama.

Negeri aman dan tenteram.

Yang Mulia sudah memberi izin untuk keinginan You'an.

Terima kasih atas bantuan Tetua.

Kalian memang orang pahlawan.

Huo Qubing juga begini.

You'an, kamu juga.

Langtou, kembali ke Tai'an.

Kembali ke Tai'an.

Kembali ke Tai'an.

Saudara-saudaraku, buka gerbang.

Kami sudah kembali.

Saudara-saudaraku, panitera sudah kembali.

Kakak, aku turun dulu, minta mereka buka gerbang.

Baik.

Saudara-saudaraku, buka gerbang kota, kami sudah kembali.

Saudara-saudaraku, panitera sudah kembali.

Panitera.

Panitera.

Panitera sudah kembali.

Panitera sudah kembali.

Panitera.

Panitera, kamu sudah kembali.

Minggir.

Sudah kembali?

Ah, sudah kembali.

Sekalian antar Komandan menuju peristirahatan terakhir.

Ayahanda.

Ada laporan dari mata-mata, Geng Jing sudah tewas.

Zhang Anguo.

Kali ini kamu sudah berjasa besar.

Apa hadiah yang kamu inginkan? Katakan saja.

Hamba tidak menginginkan apa-apa.

Hamba hanya ingin mengabdi kepada Yang Mulia Raja.

Baiklah.

Seperti kata orang, orang pintar mampu membaca situasi.

Aku akan serahkan Yanzhou padamu.

Besok aku akan mengadakan upacara pengangkatanmu.

Terima kasih kepada Yang Mulia Raja.

Hamba akan ingat untuk selamanya.

Kamu boleh pergi.

Siap.

Tunggu.

Pelayan ini juga jadi milikmu.

Terima kasih, Yang Mulia Raja.

Ayahanda.

Kota Yanzhou diserahkan kepada orang itu, apa Ayahanda tidak khawatir?

Dia bahkan berani membunuh Geng Jing.

Apakah kesetiaannya bisa dipercaya?

Hanya sebuah bidak catur.

Tidak usah diperhitungkan.

Aku hanya ingin menyampaikan kepada pasukan pemberontak itu melalui dia,

hanya dengan mengabdi pada pasukan Jin, inilah satu-satunya jalan.

Kak Shuanghua.

Kak.

Menurutmu, kakak sudah mengurung diri seharian di dalam ruangan,

apakah tidak apa-apa?

Dia sedang bersedih.

Biarkan dia menenangkan diri sendirian.

Hari itu.

Komandan sangat senang.

Dia mengeluarkan semua arak di kota Tai'an.

Semuanya minum terlalu banyak.

Komandan juga minum banyak arak.

Dia berkata,

setelah kita menyerang Zichuan kali ini,

kita tidak usah berperang lagi.

Tidak disangka.

Zhang Anguo langsung turun tangan ketika Komandan sedang mabuk.

Kak Jia, apakah aku salah?

Ketika aku baru tiba di Tai'an,

aku merasa seumur hidupku ini sudah tidak berguna.

Tetapi setelah bertemu denganmu,

sepertinya aku jadi hidup kembali.

Komandan juga pernah berkata.

Seumur hidup ini, orang harus punya harapan.

Kamu

yang membuat kami melihat harapan.

Tetapi aku justru membuatnya kehilangan nyawa.

Xiao Heizi.

Liang.

Saudara-saudara di Pintu Air Sifeng dan Kota Tai'an.

Mereka hanya ingin menjalani hidup dengan baik.

Ada makanan yang bisa disantap.

Hidup di tengah dunia yang bergejolak,

memang tidak mudah untuk menjalani hidup dengan baik.

Komandan sudah tiada.

Saudara-saudara di kota Tai'an juga bubar.

Setelah pemakaman selesai,

aku akan ajak saudara-saudara yang tersisa kembali ke Song.

Anggap saja sebagai tanggung jawab kepada Komandan.

You'an.

Asalkan ada harapan,

kita

pasti bisa rebut kembali wilayah kita.

Aku menunggumu di Lin'an.

Xin Qiji.

Kamu berencana pergi begitu saja?

Shuanghua.

Dasar brengsek.

Zhang Anguo membunuh Kak Geng.

Aku harus pergi ke markas pasukan Jin,

tangkap dia kembali ke Lin'an.

Hanya dengan cara membiarkan semua orang tahu apa akibat menjadi pengkhianat,

pasukan baru tidak akan bubar.

Juga hanya dengan cara ini,

aku baru bisa bertanggung jawab kepada Kak Geng.

Seumur hidup ini,

tidak peduli kamu pergi ke mana,

ke sudut mana pun dari dunia ini,

jangan harap bisa meninggalkan aku.

Jangan harap kamu bisa melakukannya seumur hidup ini.

Kakak.

Aku berutang nyawa padamu.

Kalau mau bunuh musuh,

aku mana boleh tidak ikut?

Zhang Anguo itu bajingan.

Sejak awal aku sudah benci melihatnya.

Untuk membalaskan dendam Kak Geng,

aku harus ikut.

Aku harus ikut.

Aku, Xin Qiji,

telah mengikuti kakek pergi ke berbagai tempat.

Berbangga dengan pencapaian diri.

Bertekad mengembalikan kekuasaan.

Saudara-saudaraku.

Kita memulai perlawanan di Pintu Air Sifeng,

masuk ke kota Tai'an,

hancurkan penjahat Jin.

Yang Mulia memberikan gelar "Pasukan Perdamaian" kepada kita.

Komandan Geng diangkat sebagai Ketua Utusan.

Tetapi saat ini,

Zhang Anguo berkhianat kepada pasukan.

Dia juga membunuh Komandan Geng.

Kalau orang ini tidak dibunuh,

aku, Xin Qiji,

hidup sia-sia sebagai rakyat Song.

Pasukan Perdamaian, siap terima perintah.

Siap!

Ikut aku, hancurkan markas pasukan Jin.

Bunuh pengkhianat, Zhang Anguo.

Ayahanda, pasukan utama sudah menuju selatan.

Sisa pasukan sudah berkumpul semua.

Urusan di sini sudah selesai.

Sudah saatnya kita berangkat.

Para kesatria Jin.

Kalian akan ikuti aku

dalam perjalanan menaklukkan selatan.

Kita harus menaklukkan seluruh rakyat Song

yang lemah dan tak berdaya itu.

Kibarkan bendera kejayaan Jin

di setiap jengkal tanah.

Aku, Wanyan Basu, akan bersama kalian

menyaksikan kejayaan ini.

Dinasti Jin!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Berjaya untuk selamanya!

Chengmei.

Panggilkan jenderal yang menyerah, Zhang Anguo.

Hamba Zhang Anguo

bersedia mengabdi kepada Dinasti Jin.

Bersumpah setia untuk selamanya.

Upacara pemakaian Kulit Kambing (upacara kepada penyerah) kepada Zhang Anguo .

Upacara pemakaian Kulit Kambing kepada Zhang Anguo.

Dinasti Jin berjaya untuk selamanya!

Zhang Anguo, mulai saat ini,

kamu adalah menteri Dinasti Jin.

Stempel pejabat ini

diserahkan padamu.

Hamba berterima kasih kepada Yang Mulia Raja.

Kelak

kamu harus mengabdi kepada Dinasti Jin.

Ingatlah.

Ini ditukar dengan nyawa kakakmu.

Hamba mengerti.

Hamba mengerti.

Serbu!

Pasukan musuh menyerang!

Pasukan musuh menyerang!

Pasukan musuh menyerang!

Saudara-saudaraku!

Mundur!

Zhang Anguo!

Biarkan dia hidup-hidup.

Siap!

Jangan sampai Zhang Anguo kabur.

Hati-hati.

Ya.

Orang Jin.

Orang Jin yang menyuruhku melakukannya.

Panitera.

Berikan aku satu kali kesempatan lagi.

Kita berdua serbu bersama.

Bunuh semua pasukan Jin ini.

Xin Qiji, kamu jangan keterlaluan.

Zhang Anguo, pada saat kamu membunuh Kak Geng,

apakah kamu pernah membayangkan situasi hari ini?

Dia pantas mati.

Aku sudah mengikutinya bertahun-tahun,

mempertaruhkan nyawa untuknya,

bertarung dalam ratusan perang.

Sampai kedatanganmu, aku baru mengerti.

Di matanya, aku hanya seekor anjing.

Dia yang pantas mati.

Kalian semua pantas mati.

Ingkar janji, berkhianat, membunuh Kak Geng.

Pantas dibunuh.

Kau tergiur dengan kekayaan dan kedudukan, memihak pada pasukan Jin.

Pantas dibunuh.

Rencana serangan ke utara

gagal hanya karena nafsumu.

Zhang Anguo, dasar binatang!

Tidak setia, tidak bisa dipercaya!

Cepat pergi.

Adipati, tolong saya.

Demi orang ini,

apakah sepadan?

Xin Qiji.

Aku dan kakekmu

juga termasuk sahabat.

Hari ini aku berikan satu lagi kesempatan padamu.

Asalkan kamu bersedia menyerah,

aku akan ampuni nyawamu.

Aku, Wanyan Basu,

bisa menjamin masa depan kamu yang gemilang.

Masa depan yang gemilang.

Wanyan Basu.

Aku juga berikan kamu satu kesempatan.

Asalkan kamu bawa semua pasukan Jin

pergi dari wilayah kekuasaan Dinasti Song,

aku, Xin Qiji, akan mengampuni nyawamu.

Pergi!

Pergi!

Dasar bocah ingusan!

Shuanghua.

Menikahlah denganku.

Ya.

Kak Shuanghua.

You'an.

Aku ada di sini.

Aku ada di sini.

Aku ada di sini.

Shuanghua.

You'an.

Shuanghua.

Wanyan Basu!

Hadang dia!

Cepat!

Kakak.

Naiklah.

Kakak!

Di kehidupan yang akan datang,

aku akan tetap jadi saudaramu.

Xin Qiji menangkap Zhang Anguo si pemberontak menuju Lin'an untuk dihukum penggal sebagai persembahan terhadap Geng Jing, Li Shuanghua, Langtou dan prajurit-prajurit lainnya yang telah gugur.

Mengenang kembali,

orang itu justru berada

di tengah cahaya redup.

Mengenang kembali,

orang itu justru berada

di tengah cahaya redup.

Film ini dipersembahkan kepada para pahlawan yang telah berkorban untuk memperjuangkan keutuhan negeri, dengan penuh semangat membela negara!

Teringat saat itu, penghargaannya di gunung Langjuxu.

Bercita-cita besar untuk negara, sukses berperang di mana pun.

Mohon bunuh lawan ke medan perang, pahlawan pun menyeka air mata.

Tombak belum patah, pimpin pasukan ke medan perang.

Citaku yang besar itu, kekuatannya bergelora.

Cita-cita belum terwujud, sudah banyak tahu pergi.

Dalam mimpiku setelah mabuk, menatap pedang di bawah cahaya lentera.

Siapa yang memahami aku, sang pemberani berhati lembut?

Negeri yang abadi, strategi militer kuno.

Pria berhati baja untuk selamanya.

Jalan yang biasa, tempat hiburan.

Masalah di dunia, kapan penyelesaiannya?

Banyak perang kemudian, negara direbut.

Wajah sudah berkerut, rambut pun putih, masih tunggu keputusan.

Guntur menyambar, cahaya pedang begitu dingin.

Bangun dari mimpi setelah mabuk, puisi disebar sampai ribuan tahun kemudian.

Kuda berlari cepat,

busur ditarik seolah guntur menyambar.

Mengatasi masalah demi sang raja dunia,

meraih kemenangan dan nama besar.

Teringat saat itu, penghargaannya di gunung Langjuxu.

Bercita-cita besar untuk negara, sukses berperang di mana pun.

Mohon bunuh lawan ke medan perang, pahlawan pun menyeka air mata.

Tombak belum patah, pimpin pasukan ke medan perang.

Citaku yang besar itu, kekuatannya bergelora.

Cita-cita belum terwujud, sudah banyak tahu pergi.

menatap pedang di bawah cahaya lentera.

Siapa yang memahami aku, sang pemberani berhati lembut?

Negeri yang abadi, strategi militer kuno.

Pria berhati baja untuk selamanya.

Jalan yang biasa, tempat hiburan.

Masalah di dunia, kapan penyelesaiannya?

Banyak perang kemudian, negara direbut.

Wajah sudah berkerut, rambut pun putih, masih tunggu keputusan.

Guntur menyambar, cahaya pedang begitu dingin.

Bangun dari mimpi setelah mabuk, puisi disebar sampai ribuan tahun kemudian.

Namun rencana perdalamain dalam ribuan huruf

ditukar dengan buku pertanian keluarga.

Meski dapat beli karangan Sima Xiangru dengan harga tinggi,

dapat curahkan perasaan ini kepada siapa?

Negeri yang abadi, strategi militer kuno.

Pria berhati baja untuk selamanya.

Jalan yang biasa, tembat hiburan.

Masalah di dunia, kapan penyelesaiannya?

Banyak perang kemudian, negara direbut.

Wajah sudah berkerut, rambut pun putih, masih tunggu keputusan.

Guntur menyambar, cahaya pedang begitu dingin.

Bangun dari mimpi setelah mabuk, puisi disebar sampai ribuan tahun kemudian.

Bangun dari mimpi setelah mabuk, puisi disebar sampai ribuan tahun kemudian.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.