Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mana mungkin? Kenapa Lei bisa bersama Shan-cai?
Pasti A Si salah paham pada mereka, marah-marah sembarangan.
Kita semua sahabat baik. Coba ajak Lei keluar dan bercerita.
Tak ada yang tak bisa diselesaikan.
Anak-anak, keluarkan lembar manajemen sumber daya manusia.
Siap-siap mengikuti pelajaran.
Mana Saudara Dao Ming-si?
Dao Ming-si ijin karena tak enak badan.
Lei, ayo kita bicara.
Lei, kamu tahu A Si sangat suka Shan-cai,'kan?
Aku tahu. Tapi menurutku tak ada yang perlu dbicarakan.
Hua Ze-lei, kenapa ini? Kamu sungguh pacaran dengan Shan-cai?
Yang benar, Lei. Kenapa kamu melukai perasaan sahabatmu?
Lei, jangan karena kehilangan Jing lantas kamu juga kehilangan akal sehat.
Kamu boleh cari gadis lain, tapi Shan-cai.../ Xi-men.
A Si.
Lei, dengar baik-baik. Mulai sekarang kamu bukan lagi sahabatku.
A Si, sungguh demi seorang wanita kamu rela merusak hubungan persahabatan kita?
Yang merusak persahabatan bukan aku, melainkan Hua Ze-lei.
A Si, jangan begitu.
Kamu memiliki catatan beberapa hari lalu?/ Ada./ Nanti kupinjam ya untuk lihat.
Beberapa hari lalu aku sibuk kerja paruh waktu./ Baik, tak masalah.
Kenapa dengan Dao Ming-si? Kalian bertengkar?
Ayo.
Mau makan?
Untukmu.
Dao Ming-si.
Apakah mirip dengan mimik A Si? Sekarang harusnya wajahnya seperti ini.
Salah. Aku merasa ada yang kurang.
Kurasa alis matanya harus sekasar cacing tanah.
Dan sekarang dia sedang di puncak amarah. Harus tambahkan lagi beberapa gambar marah.
Gambarnya sangat mirip./ Apa boleh buat.
Aku masih ingat tampang marahnya sampai sekarang.
Maaf./ Buat apa?
Waktu itu kalau aku tidak ke pantai mencarimu, mungkin hal seperti ini takkan terjadi.
Persahabatanmu dengan Dao Ming-si juga takkan retak. Semua ini karena aku.
Itu karena aku ingin menciummu. Dan karena telah menciummu, aku yang bersalah.
Minggu ini ayo kita pergi kencan./ Kencan?
Suamiku, aku sedang bingung sendiri.
Menurutmu aku harus pakai pemutih atau pelembab?
Apa yang perlu dibingungkan?
Siang pakai pemutih, kenyal-kenyal. Malam pakai pelembab untuk hidrasi.
Aku terima saranmu. Aku pakai ini.
Shan-cai, dandannya cantik sekali, mau pergi kencan?
Aku akan keluar sebentar dengan teman kuliah./ Dao Ming-si bukan?/ Bukan.
Lalu siapa? Lelaki atau wanita? Berapa usianya? Satu kampus?
Semester berapa?/ Aku cerita pun kalian tak kenal.
Coba ceritakan. Setelah cerita jadi kenal,'kan./ Ya.
Cepat ikut aku.
Ya...
Kamuโฆ
Paman, Bibi, namaku Hua Ze-lei. Teman kampus Shan-cai.
Anak ini manis sekali. Kulitnya putih. Bermata besar dan berlipit mata, hidung mancung.
Seperti anak blasteran. Bagaimana orang tuamu melahirkanmu?
Tampangnya begitu jelas dan bersih. Sangat mirip dengan saat aku muda.
Sudah siang. Kami harus berangkat./ Paman, Bibi, kami pamit.
Sampai jumpa.
Ayo. Cepat.
Putri kita sungguh mirip denganku. Mesin panen laki-laki unggul.
Satu adalah Dao Ming-si yang angkuh. Satu lagi Hua Ze-lei yang lembut.
Nanti bisa pilih siapa saja./ Benar...
Kamu mesin panen laki-laki unggul makanya memanenku.
Kamu hasil panenku yang paling gagal dalam sejarah.
Maaf, orang tuaku terlalu antusias. Kamu tidak kaget,'kan?
Tidak. Aku merasa mereka sangat lucu.
Tampaknya hari ini dandananmu tidak seperti biasanya.
Apakah aneh?/ Tidak. Bagus sekali.
Hari ini aku bangun kesiangan. Jadi asal ambil pakaian dan mengenakannya.
Nanti kamu ingin ke mana?
Apa ada tempat khusus yang ingin kamu datangi?
Aku tak ada ide. Kalau kamu?/ Sama.
Di depan ada sebuah restoran yang sering kukunjungi, kita makan di sana saja.
Baik. Aku tak masalah. Kamu saja yang putuskan.
Gawat. Suasananya sangat kaku.
Hua Ze-lei diam saja. Apakah aku harus cari topik pembicaraan?
Hua Ze-lei, masih ingat tempat itu?
Di sana dulu pernah dipasang poster Kakak Jing.
Kamu menatap Kakak Jing dengan tatapan dalam, kemudian.../ Shan-cai.
Jangan bicarakan Jing lagi.
Maaf... Tidak seharusnya aku bicara tentang dia.
Tak apa. Ayo.
Dong Shan-cai, kamu sungguh bodoh. Dia sedang berusaha melupakan Kakak Jing.
Kamu malah mengungkitnya./ Shan-cai, ini pertama kalinya...
...aku begitu serius kencan dengan seorang gadis.
Jika aku membuatmu merasa amat bosan, aku minta maaf.
Kalau dipikirkan, dari kecil selain A Si dan lainnya,
...aku tak punya sahabat lain. Aku ini termasuk kurang baik dalam bergaul.
Tidak. Menurutku kamu anggota F4 yang memiliki kepribadian terbaik.
Lagipula, Wu Yi Lei Qun (burung yang sejenis akan berkumpul dengan kelompoknya).
Aku yakin asal kamu bersedia, pasti bisa mendapat teman baru.
Sungguh lucu bukan?
Permainan kata. Wu Yi Lei Qun, Hua Ze Lei.
Sudah, leluconku sangat aneh.
Jangan panggil nama lengkapku lagi. Panggil aku Lei saja.
Lei.
Maaf.../ Tak apa.
Kenapa kamu terengah-engah?/ Tak ada apa-apa.
Pedas sekali. Restoran Thai ini makanannya enak dan murah. Terutama Pad Kra Pao ini.
Mau coba?
Kamu tak suka makanan Thai?/ Aku memang kurang suka makanan pedas.
Maaf, aku sungguh kurang cermat. Harusnya kutanya dahulu apa makanan favoritmu.
Tak apa, yang penting kamu suka.
Atau kita pesan lagi masakan lain yang tak pedas.
Tak apa, sebenarnya aku tak begitu lapar.
Sungguh pedas sekali.
Shan-cai, itu dipakai untuk cuci tangan.
Kamu sungguh lucu.
Apakah kamu masih sangat lapar? Ayo... Semua ini untukmu.
Yang benar saja. Kencan kalian selesai begitu saja?
Ya, begitu kulihat jam kerja tiba, aku langsung kemari.
Ya Tuhan, kencan macam apa itu. Terdengar sama sekali tak romantis.
Aku juga tak tahu. Dan entah kenapa rasanya suasana sangat kaku.
Seakan aku akan tegang kalau berada di sisi Hua Ze-lei. Rasanya tak bisa bebas.
Kalau Dao Ming-si?/ Dia?
Dulu bukankah kalian juga pernah kencan?
Saat bersamanya, apa kamu juga merasa tak bebas?/ Itu bukan kencan.
Tapi dari ucapanmu ini, tampaknya aku lebih lepas saat bersama Dao Ming-si.
Tapi itu karena hatiku tidak tergerak oleh Dao Ming-si,
...sehingga kami berdua sering ribut.
Dia suka merasa dirinya benar, dan sering membuat orang kesal.
Itu membuat aku tak ada waktu untuk bersikap cemas, kaku atau bersikap memalukan.
Berarti bersama Hua Ze-lei, kamu merasa kurang bebas.
Itu karena aku ingin memperlihatkan sisi terbaikku di hadapan Hua Ze-lei.
Makanya aku sangat peduli. Makin peduli aku akan makin tegang.
Makin tegang akan makin membuat diriku tak bisa rileks.
Tapi apakah menyukai seseorang harus didasarkan pada hati yang tergerak?
Bukankah bersikap bebas itu lebih penting?
Lain kali jika meminjamkan jaketmu padaku setidaknya pilih yang bagus.
Beberapa hari ini suhu turun, cepat pakai.
Tidak... Tenang...
Yang kusukai adalah Hua Ze-lei, bukan Dao Ming-si.
Awas, nek!
Jalan baik-baik, tak lihat sepedaku?
Kamu sungguh keterlaluan.
Kamu yang tidak bisa naik sepeda. Nenek ini ditabrak olehmu hingga jatuh.
Lekas bawa di ke RS./ Memang kamu siapa? Dia sendiri yang tak pakai mata. Apa urusanku!
Berhenti. Antar dia ke RS./ Minggir!
Ribut lagi, awas kuhajar./ Siapa takut!
Semena-mena pada gadis kecil. Kamu lelaki atau bukan?
Cepat minta maaf.
Antar nenek ini ke rumah sakit, dengar?/ Ya... Paham.
Mari, ini salahku. Nenek baik-baik saja? Ayo. Dah...
Kamu baik-baik saja?
Ya, terima kasih, Kak./ Tanganmu terluka masih bilang baik-baik saja.
Ayo ke rumahku berobat./ Tak usah. Nanti kutangani sendiri.
Tidak, ini parah. Ayo ke rumahku.
Sungguh aku baik-baik saja./ Jangan cerewet. Ayo ke rumahku berobat.
Separah ini mau ditangani sendiri.
Kenapa kakak ini membawaku ke rumah Dao Ming-si?
Apa hubungan dia dengan Dao Ming-si?
Gawat jika aku bertemu Dao Ming-si di sini.
Kak, lukaku ini tak masalah. Aku akan pulang untuk berobat.
Tidak. Apanya tak masalah? Lukamu masih berdarah.
Jangan tegang. Anggap saja ini rumahmu sendiri.
Namaku Dao Ming-zhuang. Panggil saja aku Kakak Zhuang.
Dia kakaknya Dao Ming-si?
Kulihat wajahmu makin pucat, harus lekas diobati.
Paman Liu, aku pulang.
A Zhuang, selamat datang.
Saudari Shan-cai.
Kalian kenal?/ Saudari Shan-cai sekampus dengan A Si.
Kebetulan sekali. Berarti lebih tak usah sungkan.
Paman Liu, tolong ambilkan kotak P3K. Sekalian panggilkan A Si layani temannya.
Baik./ Tunggu. Kakak Zhuang, aku mendadak ingat ada urusan penting di rumah.
Kularang kamu pergi. Paman Liu, bawa dia pergi membersihkan tangannya sebentar.
Dasar kamu si gadis kecil, apa tak paham perintah Kakak?
Silakan sebelah sini.
Atau sekarang kabur diam-diam saja.
Dao...Dao Ming-si./ Untuk apa ke rumahku?
Ini kebetulan./ Kebetulan?
Kamu datang untuk memamerkan cinta barumu,'kan?
Tidak. Jangan salah paham.
Jangan pura-pura, Dong Shan-cai.
Kamu kira kamu sangat penting? Aku sama sekali tak sedih.
Hatiku sudah mati total.
Sakit sekali.
Mana boleh bicara seperti itu pada anak gadis? Sungguh memalukan keluarga kita.
Kamu baik-baik saja?/ Ya.
Kakak? Kenapa kamu pulang?
Kenapa? Aku tak boleh pulang?
Sudah lama tak melihat kakakmu, kamu tak kangen padaku?/ Kangen.
Bukannya aku sering video call denganmu?
Hanya membicarakan hal-hal yang tak penting.
Lalu harus membicarakan apa?
Aku bawa si mata besar ini pergi berobat dulu.
Bukan.
Perbananku lumayan,'kan?
Terima kasih, Kakak Zhuang./ Tak apa.
Dulu adikku sering berkelahi dengan orang lain. Sepanjang hari terluka,
...akulah yang membalut lukanya.
Tak heran jika dia suka berkelahi./ Sudah lapar,'kan? Ayo makan malam bersama.
Tak usahโฆ Aku tak mau mengganggu./ Tidak mengganggu.
Kubilang makan bersama ya makan bersama.
Semua anggota keluarga ini otoriter.
Ibarat pabriknya sama, semua produknya tidak ada bedanya.
A Si bilang kampusnya ada kuliah yang amat penting jadi dia keluar dulu.
Apa aku salah dengar? Dia tak menemani aku makan malam bersama?
Nanti dia pulang, harus kuhajar dia.
Pergilah.
Ayo, Shan-cai, minum bersama kakak./ Aku...
Baik. Aku minum sedikit saja./ Cukup minum satu gelas ini. Mari.
Kakak Zhuang, ada yang ingin kubicarakan./ Katakanlah.
Sebenarnya beberapa waktu lalu, Dao Ming-si ajak aku ke luar.
Aku melakukan satu hal yang keterlaluan.
Aku membuat hatinya terluka.
Aku juga membuat dia bertengkar dengan Hua Ze-lei.
Jadi wajar dia marah padaku. Semua ini karena salahku.
Jadi aku merasa sangat tidak nyaman duduk di sini.
Hua Ze-lei?
Lebih keras. Aku tak kedengaran.
Aku sungguh tak ingin Dao Ming-si sedih dan sakit hati.
Aku memang bukan orang yang baik.
Gadis bodoh ini! Pengalaman saat mabuk dulu masih tidak cukup.
A Si, ini kekasihmu?
Teman kuliah.
Teman kuliahmu ini istimewa juga. Membela keadilan sama seperti aku.
Di jalan bertemu seorang nenek yang diperlakukan semena-mena.
Dia bersama aku membuat perhitungan dengan pelaku itu.
Jelas dirinya amat lemah, masih mau membantu orang lain.
Siapa yang kamu maksud?/ Tentu maksudku dia.
Kak, tendanganmu sangat sakit./ Kangen tidak hari-hari dihajar Kakak?
Kangen apa?
Tangan Dong Shan-cai kenapa?
Kenapa? Tak tega?/ Mustahil.
Aku sama sekali tak peduli.
A Si, gendong Shan-cai-mu istirahat di kamar tamu.
Tidak. Mengapa harus aku? Jelas-jelas kamu yang bawa dia pulang.
Kusuruh gendong ya gendong. Apa harus aku yang gotong?
Ini perintah.
Kakak.
Rindu padamu yang paling peduli padaku Katakanlah aku yang paling kamu cintai
Setelah kehilanganmu barulah berani mengaku akulah yang paling mencintaimu
Aku memikirkanmu sampai hampir gila
Berat seperti babi.
Apakah kamu juga sedang merindukanku?
Menyebalkan. Begini pun masih bisa tidur pulas.
Saat rindu padamu, senyuman mengiringi nafas membuat sakit
Kehilangan kamu, aku kehilangan semuanya
Begitulah mengenai saudari Shan-cai.
Ternyata begitu. A Si jadi patah hati karena dia.
Anak ini pacaran saja merepotkan orang.
Mari minum sedikit air madu untuk menghilangkan rasa mabuk.
Terima kasih, Kakak Zhuang.
Maaf, minum bir sedikit saja akan membuatku mudah tertidur.
Tak apa, tidurlah kembali./ Tidak...
Shan-cai, kuharap kamu bisa mempertimbangkan A Si kembali.
Kakak Zhuang, kurasa mungkin kamu salah paham./ Aku tahu.
Kamu tahu?
Aku sudah dengar dari Paman Liu. Jadi aku sudah bisa membayangkan hubungan kalian.
Sebenarnya kamu gadis pertama yang dibawa A Si ke rumah.
Jangan kira A Si pria mata keranjang. Sebenarnya dia tipe orang yang cinta mati.
Aku tahu dia terbiasa keras kepala.
Itu karena sejak kecil orang tua kami sibuk mengelola Grup Dao Ming.
Sama sekali tak ada orang yang urus aku dan A Si.
Kami bebas melakukan apa saja.
Saat suasana hati buruk, kami akan sesuka hati melampiaskannya pada orang lain,
...sehingga terbentuk sifat kami yang seperti ini.
Selain Xi-men, Mei-zuo dan Hua Ze-lei yang dikenalnya sejak kecil,
...A Si tak bisa berteman dengan orang lain.
Mainlah denganku, akan kuberikan ini.
Mainlah denganku. Bola-bola ini satu orang satu. Tidak perlu rebutan.
Dao Ming-si, kamu ini bodoh?
Tepatnya dia sama sekali tak tahu cara bergaul dengan orang lain.
Tapi makin orang lain menghindarinya, dia makin kesal ingin melampiaskannya.
Saat itu aku masih terlalu kecil.
Aku hanya bisa mendidiknya dengan cara memukul, memarahi secara keras.
Shan-cai, sebenarnya A Si berhati baik. Dia bukan orang jahat.
Hanya saja dia tak tahu cara menyampaikan perasaan dirinya.
Sebenarnya dia seorang lelaki yang haus akan perhatian saja.
Cinta yang kumau, akan memanjakanku
Seperti seorang anak kecil Hanya tahu untuk berada di pelukanmu
Aku tidak memaksamu harus bersama A Si.
Tapi aku bisa melihat hatimu bukan sama sekali tak peduli padanya.
Jadi kuharap kamu bisa pertimbangkan baik-baik.
Lei.
Siapa yang mau bicara dengannya?/ A Si, mau bersikeras sampai kapan?
Ya, A Si, sudahlah. Apakah kelak F4 tak ada lagi?
Shan-cai...
Shan-cai, aku bawa pisang dari kampungku untukmu.
Kalian kenapa? Aku tak menyiapkan bagian kalian.
Siapa bilang F4 akan hilang?
Mulai sekarang dia adalah anggota F4.
Apa?
Shan...Shan-cai, kamu dengar tadi apa yang dikatakan Dao Ming-si?
Aku masuk F4./ Dan mulai sekarang kularang kamu bicara dengan mereka.
Mana boleh? Shan-cai teman terbaikku juga teman F4.
A Si, apa harus sekejam ini?
Bagaimana? Aku justru berusaha keras untuk membuat mereka menderita.
Siapa suruh mereka mengkhianati aku?
A Si, jika begitu persahabatan kita tak bisa dipertahankan lagi.
Aku tak masalah. Sahabat apa?
Karena semuanya pada tak peduli, lebih baik bubar saja.
A Si, sudah cukup. Kamu sungguh membuatku kecewa.
Kalianlah yang mengecewakan.
Cukup. Persahabatan kita lebih berharga dari apapun.
Mengapa bisa jadi demikian?/ Mengapa? Karena akukah?
Karena kamu, Hua Ze-lei.
A Si, kalau ada masalah, cari aku saja.
Bagus sekali. Akan aku lakukan.
Tunggu.
Aku hanya mengatakan dua patah kata, setelah itu aku akan pergi.
Tinggal satu patah kata.
Masalah ini berasal dari kesalahanku.
Kamu maafkan atau tidak, aku tetap akan minta maaf padamu.
Aku bersedia menanggung semua akibatnya tapi kalian adalah sahabat baik dari kecil.
Mohon kamu jangan melupakan persahabatan kalian karena aku.
Sebelumnya ada banyak yang menindasmu, kamu tak pernah tunduk.
Sekarang demi dia, kamu minta maaf padaku.
Kamu begitu takut dia dilukai?
Baik, kamu ingin tanggung semua akibatnya, bukan?
Benar. Asalkan kamu lepaskan Hua Ze-lei.
Dao Ming-si, yang perlu menanggung semua akibatnya itu aku.
Hua Ze-lei.
Jika begitu, akan kukabulkan kalian.
Buatlah taruhan yang adil denganku.
Jangan duduk di sana.
Tak apa. Duduk./ Itu tempat duduk Lei.
Lei sudah bukan F4. Tempat duduk ini akan jadi milikmu. Duduk.
A Si, sudah cukup./ Bisakah bersikap dewasa dan bicarakan baik-baik?
Bicarakan apa?/ Bicara tentang kenapa kamu begitu marah pada Hua Ze-lei.
Bukankah kalian teman baik?/ Justru karena itu makanya aku tak bisa memaafkannya.
Menurut kalian, apa Hua Ze-lei sungguh menyukai Shan-cai?
Yang dia sukai hanya Teng Tang-jing seorang.
Tapi Jing akan segera menikah. Dia ingin memanfaatkan Shan-cai untuk melupakan Jing.
Hanya saja gadis bodoh itu yang belum tahu jelas masalahnya.
Jadi apa kalian masih akan membela si egois itu?
Maksud kalian Hua Ze-lei sedang mempermainkan Shan-cai?
Apa begitu?
Apa begitu?
Dengar, Dong Shan-cai itu sungguh menyebalkan.
Tiap hari dia.../ Dia berdiri di sana. Kamu tak lihat tampangnya.
Shan-cai.
Shan-cai, apa yang terjadi antara kamu dengan Dao Ming-si?
Ini salahku. Apa yang mereka katakan itu benar.
Hubungan Dao Ming-si dan Hua Ze-lei retak karena aku.
Shan-cai, sebenarnya aku tak paham.
Dao Ming-si begitu baik padamu, mengapa kamu pilih Hua Ze-lei?
Aku juga tak tahu.
Jika kamu dan Hua Ze-lei menang, kamu akan mengeluarkan taruhan apa?
Aku...hanya berharap persahabatan mereka jangan retak.
Tapi persahabatan tak bisa dipulihkan dengan taruhan.
Kalau begitu kuharap setidaknya Dao Ming-si bisa memaafkan aku.
Waktu liburan, jelas-jelas kita semua masih bersama dengan gembira.
Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?
Saudari Shan-cai, A Si masih belum pulang.
Apa Kakak Zhuang ada?/ Ada.
Kakak Zhuang, tolong kamu harus carikan akal.
Ini teh merah, merupakan teh bagus dari gunung Wu Yi.
Aku khusus membelinya dari keluarga Xi-men.
Jika kamu suka, akan kuminta Paman Liu antarkan beberapa untukmu.
Juga cicipilah manisan ini. Aku seorang diri tak bisa menghabiskannya.
Kakak Zhuang, sebenarnya kamu mendengarkanku tidak?
Ya. Katamu A Si membagikan kartu Joker padamu.
Hua Ze-lei juga telah menerimanya.
Jadi kamu harus cari akal untuk menasehatinya.
Mengapa A Si dan Hua Ze-lei bisa ribut sampai seperti ini?
Karena aku./ Lalu apa gunanya aku yang menasehati?
Kamu kakaknya. Dia pasti menuruti ucapanmu.
Hal ini ditimbulkan olehmu. Tentu kamu yang harus menyelesaikannya.
Maksudmu jika aku yang pergi meninggalkan, Hua Ze-lei akan baik-baik saja?
Kamu gadis sebesar ini masih saja tidak bisa berpikir.
Maksudku, hanya kamu yang bisa mengubah A Si.
Hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalah ini. Paham?
Hanya aku yang bisa mengubah?
Maksudmu aku bermain Bridge dengan Dao Ming-si saja? Lalu mengalahkannya?
Mustahil.
Bukan.
Tapi pakai ini.
Pakai hati.
Hua Ze-lei, ajarilah aku bermain kartu Brigde. Aku akan belajar dengan serius.
Dao Ming-si, kuingatkan. Jangan kira aku takut padamu.
Aku datang ke rumahmu bukan untuk menyerah.
Sudah aku pikirkan baik-baik.
Aku dan Hua Ze-lei akan bersatu melawanmu bermain kartu bridge.
Kendati sekarang aku belum bisa tapi mungkin saja setelah latihan...
...aku akan berubah jadi pemain handal.
Lagipula kata Kakak Zhuang, jika aku sepenuh hati maka kemungkinan akan berhasil.
Kamu... Apa maksudmu bersikap diam? Jangan kira...
Asalkan kamu bilang kamu suka padaku, aku segera membatalkan taruhannya.
Satu kata saja. Katakanlah.
Sakit sekali. Lepaskan aku./ Katakanlah kamu suka padaku.
Kamu...jangan begitu.
Apa kamu begitu membenciku?
Mengapa kamu menanyakan hal yang tak bisa kujawab?
Mengapa kamu harus memilih Hua Ze-lei? Mengapa harus sahabatku?
Aku sungguh bodoh. Mengapa aku suka padamu?
Sudah kampungan, jelek, berwajah lebar, berpinggang lebar, bodoh.
Kamu yakin akan bersama Lei melawanku bermain kartu Bridge?
Ya. Aku juga bersedia menerima taruhan.
Jika kamu kalah?/ Aku akan belajar dengan serius. Takkan kalah.
Kalau begitu nanti kamu jangan menangis sambil menyesal.
Dan, dalam pertandingan nanti aku takkan bermurah hati.
Persiapkan mentalmu.
Dao Ming-si.
Aku takkan mengalah. Aku juga takkan menyesal.
Ini baru Dong Shan-cai yang kukenal.
Mungkin suatu hari di masa mendatang aku akan menyesali keputusan hari ini.
Tapi aku berharap Hua Ze Lei tidak sendiri menghadapi semua ini.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.