Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
SEMUA KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, AGAMA, DAN KEJADIAN
DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI
Astaga.
EPISODE 12
Kau tak apa-apa?
Ya. Tak apa-apa.
Sepertinya tadi aku berhalusinasi.
Lepaskan!
Lepaskan aku, Berengsek!
Lepaskan!
Tidurlah sebentar.
Saat bangun, kau akan lebih baik.
Kau hebat sekali.
Membunuh orang yang mau hidup,
tapi mempertahankanku yang mau mati.
Sepertinya kau
benar-benar akan menjadi Tuhan.
Lepas dia, biar aku saja.
Gantung ini.
Tolong gantung di sana.
Kenapa Pak Yu tak ada? Berisik sekali.
Dia berhenti.
Ada manajer baru.
Bu Baek.
- Dรฉjร vu? - Ya.
Dรฉjร vu muncul
saat frekuensimu sama dengan dirimu di dunia lain
dan kau lihat gambaran sekilas dirimu di sana.
Kau tahu aku dulu di klub radio, 'kan?
Tapi kenapa kau beri tahu ini?
Aku melihat diriku barusan.
Dia sedang bersama orang yang mirip denganmu.
Orang yang mirip aku berambut pendek,
dan yang mirip kau pakai baju pasien.
Baju pasien?
Na-ri!
Aku paham kau terluka
dan bisa saja bicara aneh karena itu.
Aku tanya karena ini sudah kedua kalinya.
Siapa itu Na-ri?
Kenapa banyak yang memanggilku Na-ri?
Myeong Seung-a. Anak baru Pers Istana.
Bicara formal. Pandai bekerja. Pandai bicara.
Kubilang "sembuh",
bukan Na-ri.
Aku mau cepat sembuh.
Itu tujuanku sekarang.
Mau aku beri tahu jalan keluar untuk orang
yang tak bisa bohong sepertimu?
Ini sudah waktunya
meminta nomor ponselku.
010...
Ternyata kau.
Orang yang dia bicarakan.
Matanya sangat cantik.
Apa?
Hei, Anak Baru.
Simpan nomor ponselmu.
Jangan berikan kepada pria lain.
Hampir saja ketahuan.
Dia sangat mirip dengan Na-ri.
Wajah itu tetap cantik walau di dunia yang berbeda.
Na-ri...
Apa kau baik...
Na-ri...
Jo Eun-sup...
aneh akhir-akhir ini.
Apa dia punya cita-cita aneh lagi?
Selamat datang.
Boleh lihat menunya? Aku baru kali pertama ke sini.
Silakan.
Apa ini?
Ini teh susu kami yang paling terkenal.
Di dalamnya ada boba kenyal dan puding.
Itu seperti bahasa asing.
Sepertinya enak. Aku mau itu.
5.800 won.
Ini uangnya.
Tolong tunggu sebentar.
Sudah datang? Tunggu sebentar.
Eun-bi dan Kka-bi belum selesai.
Kenapa datang lebih awal?
Mana japchae-ku?
Japchae itu sudah cerita lama.
Kau bilang mau beri aku japchae. Ayo cepat berikan kepadaku.
Ini minumanmu.
Maaf.
Kami sudah kenal dari kecil.
Ya.
Ini enak.
Silakan datang lagi.
Kau tak lihat ada tamu?
Kenapa kau potong rambut?
Na-ri, pinjam mobilmu. Yang di luar.
Kau bahkan tak punya SIM.
SURAT IZIN MENGEMUDI JO EUN-SUP
Protokol VIP sudah melewati persimpangan Naegok-dong.
Menuju ke markas Badan Intelijen Negara.
Bertahanlah. Tunggu aku, Letnan Jeong Tae-eul.
Aku akan ke sana.
Aku pasti
akan menemukanmu.
Aku ingin semuanya
mencari orang dalam gambar ini menggunakan mahadata.
Kita berpacu dengan waktu.
Ini permintaan tolong,
bukan perintah raja.
- Baik, Baginda. - Baik, Baginda.
Bisa beri aku gambarnya, Baginda?
Aku mengambil gambarnya dari CCTV.
Jadi, resolusinya rendah.
Apa bisa dikenali?
Ya, tak masalah.
Tapi mungkin memakan waktu karena kita tak tahu
lokasi spesifik orang yang dilacak.
Aku tunggu.
Baginda, ada telepon.
PEDANG ABADI
Ya, Yeong.
Detektif Kang menelepon dan dia bilang
dia menemukan Luna,
lalu terluka waktu mengejarnya.
Suruh Detektif Kang meneleponku sekarang.
Jangan lupa suara beratmu.
Aku butuh satu laptop dan ruangan yang tenang. Apa bisa?
Ya. Aku akan siapkan, Baginda.
Aku sudah lihat videonya.
Dia ke arah Istana Busan.
Ya. Jika lihat fail ketiga sekitar detik ke-15,
Aku yakin itu Luna.
Ini bukan orang yang kau cari,
tapi terima kasih.
Benar...
Apa?
Semoga cepat sembuh.
Aku akan menghubungimu lagi.
Ini spesifikasi target kita.
Jaket abu-abu, celana olahraga, sepatu putih,
dan rambutnya mungkin diikat.
Telusuri jalan dari Pasar Timur ke arah Istana Utama.
TAE-EUL
SIN-JAE
Jo Eun-sup?
Aku Jo Yeong. Letnan Jeong tak jawab telepon.
Tolong datang ke Yeouido. Aku butuh bantuan.
Kau pegang ponsel Eun-sup?
Ada apa?
Tapi kau akan berutang kepadaku.
Aku tunggu.
Kau juga
boleh istirahat sekarang.
Terima kasih.
Tak masalah.
Sudah kau cari tahu?
Aku harap kau bawa informasi baik.
Aku sudah pastikan alibi dari empat orang yang bekerja bergantian.
Tak ada yang aneh dari Lee Gi-yun, Yun Do-gyeong, dan Kim Su-a.
Jadi,
ada sesuatu dengan Park Suk-jin?
Park Suk-jin keluar dua kali dan pergi ke toko buku di daerah kumuh.
Hari-hari dia keluar sama
dengan hari saat Baginda tak punya jadwal.
Setelah dari toko buku,
dia membakar benda ini.
Dan aku melapor karena toko buku yang sering dia datangi,
adalah markas pelaku pengkhianatan yang Baginda serang.
Apa?
Kenapa orang seperti itu
bisa masuk istana?
Lewat jalur khusus keturunan kontributor negara.
Kakeknya bernama Park Dong-u.
Tapi sebenarnya dia bukan cucu Park Dong-u.
Apa maksudmu?
Park Suk-jin yang asli tinggal dengan nama Min Seon-yeong di Pyongan.
Dan Min Seon-yeong pernah kehilangan anaknya dulu.
Apa?
Min Seon-yeong.
Aku sudah sangat hati-hati dan teliti dalam mempekerjakan pegawai istana,
tapi ternyata kau penyelinapnya.
Siapa nama aslimu?
Apa kau Min Seon-yeong yang pernah kehilangan anakmu?
Tutup mulut kalian.
Jika kejadian ini
diketahui orang di luar istana,
kalian akan kena hukuman tiga turunan sesuai perjanjian kerja istana.
- Baik, Kepala Wanita Istana Noh. - Baik, Kepala Wanita Istana Noh.
Panggil dokter istana,
dan bawa dia ke istana luar.
Dia harus diselamatkan.
Aku harus tahu
siapa yang menutup mulutnya.
Kau!
Menyetir yang benar!
Aku hampir mati.
Kau tak bisa mati di sini,
Perdana Menteri Koo.
Apa mukaku seperti pegawai negeri?
Kau salah orang.
Aku pasti benar.
Aku bilang kau salah orang.
Kenapa kau mengira aku orang lain?
Berbahaya.
Itu polisi!
Ada yang terluka di sini!
Tadi suara pistol?
Jo Yeong!
Jangan pingsan!
Ini latihan. Kalian boleh pergi.
Ini hanya latihan.
Kau tak ke rumah sakit?
Rumah sakit di Republik Korea terbaik.
Rompi antipeluru Kerajaan Corea terbaik.
Tidak ada patah tulang dan luka dalam,
hanya cedera otot dan ligamen. Aku baik-baik saja.
Di Kerajaan Corea, kau tak ke rumah sakit walau tertembak?
Aku sudah hapus rekaman kamera mobil.
Kembalikan kepada Na-ri.
Dan katakan sejujurnya kepadanya.
Kenapa negaramu semudah itu pakai pistol?
KAU DI MANA?
Jelaskan atau berdalih. Terserah kau.
Jika tidak, kau akan kutangkap.
Ini tak akan terulang lagi.
Aku akan jelaskan saat Baginda datang.
Kapan dia datang?
Aku sudah menyelamatkanmu.
Aku tak punya tenaga. Tolong bukakan itu.
Kau bisa dipenggal jika panggil namanya sembarangan.
Dia rajamu, bukan rajaku.
Tapi kau ingat
bahwa Baginda adalah Raja,
dan ingat tangisannya.
Sejak kapan kau mengawalnya?
Dari umur 4 tahun.
Kau berbohong.
Mulai sekarang, kau adalah Pedang Abadi.
Saat itu dia 8 tahun,
dan aku 4 tahun.
Kami bertemu kali pertama saat dia dinobatkan.
Saat itu aku berpikir
bahwa aku mau dia bahagia.
Kurasa itu takdir.
Aku tak tahu harus bicara apa. Mungkin karena dunia kita beda.
Kalian berpacaran?
Banyak rumor begitu.
Tapi pekerjaanmu dan Letnan Jeong juga mempertaruhkan nyawa
untuk melindungi orang lain, 'kan?
Untukku, itu adalah Baginda.
Kenapa dia menangis saat itu?
Itu tugas pertamanya sebagai raja.
Pemakaman mendiang raja.
Ayahnya sudah tak ada?
Kenapa?
Karena pedang saudaranya.
Dan Baginda melihat itu semua.
Sejak hari itu Baginda
dihantui oleh kematian.
Lindungi dia!
Dia calon ratu Kerajaan Corea!
Istana adalah rumah paling aman,
juga medan perang paling bahaya untuk Baginda.
Sekarang dia akan turun ke medan perang yang baru.
Jika itu takdir Baginda,
aku harus mengikutinya,
ke medan perang apa pun.
Aku akan lewatkan ucapan terima kasih.
Kau melewatkan banyak hal.
Aku sangat merindukanmu.
Aku sangat merindukanmu.
Aku sangat merindukanmu.
Dan pistol itu.
Tersisa dua peluru di dalamnya.
Ayo ke istana.
Jeong Tae-eul.
Wakil Kapten Seok.
Urus semua dan juga Maximus.
Ya, Baginda.
Baginda.
Profesor Hwang sudah tiba, dan kamar tamu sudah disiapkan.
Tidak. Ke kamarku.
Antar Profesor Hwang ke kamar Raja. Sekarang.
Baginda!
Apa yang terjadi?
Darah? Astaga!
Bukan darahku.
Apa?
Kau baik-baik saja?
Semua orang kesayanganku sakit.
Astaga.
Kau terus ada di sini?
Jika begitu, masuk saja.
Kau suruh aku keluar.
Lukanya sudah diobati.
Dehidrasinya juga akan segera hilang.
Dia baru saja tidur. Silakan masuk.
Aku harus menyiapkan makan Profesor Hwang.
Terima kasih.
Terima kasih, Profesor.
Ke arah sini.
Aduh, kepalaku.
Tidur lagi saja.
Kenapa suruh aku tidur?
Aku baru bisa lihat kau sekarang.
Apa aku sangat jelek?
Tak sama sekali.
Kau seperti plester besar.
Tapi plesternya sangat cantik.
Bagaimana
kau bisa menemukanku?
Aku bilang aku hebat di sini.
Aku sedang minum di tempat latihan taekwondo.
Lalu tiba-tiba pingsan.
Kini aku sadar pentingnya mengetes makanan.
Tak perlu ceritakan sekarang.
Nanti saja sesudah sembuh.
Aku mengira itu pertemuan terakhir kita.
Saat kita di hutan bambu.
Akhir-akhir ini
banyak hal terjadi.
Jadi, aku tak bisa pergi.
Syukurlah.
Aku pikir gerbang itu tertutup.
Jangan khawatir.
Jika gerbang itu menutup,
aku akan membuka semua gerbang di semesta.
Lalu
aku akan pergi kepadamu.
Harus.
Tapi...
Eun-sup bagaimana?
Tentang itu.
Eun-sup ada di rumah sakit.
Tapi sudah tak apa-apa.
Itu satu dari banyak hal yang terjadi.
Begitu.
Saat aku bangun,
ayo jenguk Eun-sup.
Aku merindukannya.
Kau bilang rindu kepada pria lain di depanku?
Jo Yeong juga baik-baik saja.
Yeong...
Untukku, kau tetap nomor satu.
Jangan bohong.
Maaf.
Aduh, sakit.
Apa?
Kau bilang "maaf"?
Akhirnya kau buka matamu.
Aku mau melihatmu sekali lagi.
Keluar.
Ini kamarku.
Begitukah?
Besok aku harus lihat isi kamar ini.
Semoga ada banyak logam mulia.
PARTAI JINSUN
Baginda Raja menghebohkan seluruh negara.
Turun tangan menangkap pelaku pengkhianatan sudah membingungkan.
Kini pengumuman Ratu?
Benar-benar tak diduga.
Mengumumkan ratunya sambil berlumuran darah.
Benar-benar aksi yang simbolik.
Kita harus tahu wanita itu berasal dari keluarga apa.
Tapi sampai kapan PM Koo akan istirahat?
Ratu sudah diumumkan, dan tingkat kepuasan rakyat menurun.
Terlalu banyak masalah. Wajar dia sakit.
Menyusahkan jika orang luar punya kekuatan.
PM yang anak pemilik toko ikan saja sudah sangat menyusahkan.
Ayo! Umur, sekolah, keluarga, pekerjaan, apa pun. Cepat cari tahu!
Bergerak!
RIWAYAT PANGGILAN
MERAWAT LILI AJAIB
JANGMI
Kalian mau pesan apa untuk makan siang?
Aku sudah makan makanan rumah.
Aku sup dengkul sapi.
Tae-eul dan Sin-jae?
Aku tahu salah satu dari kalian sudah baca. Beri saja aku titik.
Atau tanda seru.
Tanda tanya juga tak apa-apa.
Wajah sedih...
Kau sudah datang?
Sudah baca pesanku? Aku mau pesan makanan.
Makan duluan saja.
Tae-eul belum datang?
Apa?
Kau tak tahu?
Dia cuti.
Tae-eul cuti?
Ya, 21 hari penuh.
Kenapa kalian berdua begitu kepadaku?
- Hei, ide liarmu... - Aku hanya mau istirahat.
Jangan khawatir.
Tatapan mata kalian tak tenang.
Aku harus apa?
- Tak bisa begini. - Bagaimana ini?
Kita harus bersenang-senang hari ini.
Mau karaoke? Tenang saja.
- Kau di mana? Jawab teleponku. - Semua harus ikut.
Aku mau cabut karena cairannya sudah habis.
Ya,
terima kasih.
Kita bertemu lagi.
Ya.
Baginda suruh aku menemanimu jika sudah bangun.
Baik. Terima kasih.
Di mana dia sekarang?
Apa ada masalah?
Itu...
Baginda
sedang mencuci beras dengan memakai seragam.
Apa?
Kau sudah bangun? Cepat ke sini.
Aku sedang cuci sekarung beras.
Kau mau ke mana?
Aku begini agar kau lihat. Kenapa kau pergi?
Jangan pergi!
Tanganku mati rasa.
Tae-eul.
- Baik. Coba cepat siapkan. - Bagaimana ini?
Katamu kau hanya hidup untuk hari ini.
Jadi, aku mau membuatmu tertawa. Walaupun aku tertawa lebih kencang.
Aku tak bisa pergi jauh karena lapar.
Kenapa kau selalu semaumu?
Maka itu, aku cocok jadi raja.
Jika aku ikut tes kepribadian, hasilnya adalah K-I-N-G. "The King".
Aku bilang aku sensitif jika belum makan.
Ya. Silakan makan.
Tapi bisa saja itu bukan aku kemarin.
Bisa saja hanya orang yang mirip denganku.
Aku
sedang berpacaran dengan seseorang dari dunia lain.
Orang itu selalu ikat rambutnya di saat penting,
tapi anak rambutnya selalu bersisa.
Tapi dia tak tahu karena tak bisa lihat itu.
Apa lagi?
Dia lebih suka bir daripada teh saat mengobrol.
Dia suka mencampur alkohol.
Dia mencampur alkohol dengan serius,
memutar gelas dengan senang, lalu meminumnya cepat.
Tapi
saat keberanian dibutuhkan,
dia menjadi pejuang.
Begitulah dia.
Ayo jenguk Eun-sup sesudah makan.
Tapi, walaupun sudah dimasakkan dan diberikan pengakuan cinta,
dia hanya bicara hal yang mau dia bicarakan.
Tapi bajuku di mana?
Di kamar tak ada. Dicuci?
Sudah disiapkan sesuai gaya yang biasa kau pakai.
Pilih yang kau mau.
Kenapa hanya gaya yang biasa aku pakai?
Harusnya siapkan yang lain juga.
Tak ada gaun?
Gaun di sebelah sana.
Aku hanya bercanda.
Ini saja.
Aku sudah tahu, hanya mau pamer.
Aku punya banyak gaun cantik.
Baju apa itu?
Dipakai kapan?
Pada saat yang terhormat.
Contohnya saat sedang memegang bunga.
Kau suka bunga apa?
Ternyata
aku tak pernah memberimu bunga.
Jadi,
aku menyeberangi semesta untuk berikan ini.
Aku tak suka bunga.
Ayo pergi.
Aku rindu Eun-sup.
Baik.
Antar dia ke ruang ganti.
Ya, Baginda.
Sebelah sini.
Baginda mau kau pakai semua yang dia berikan.
Semuanya.
Tak ada sesuatu di dalam bajumu?
Misalnya kotak.
Bunga plum, 'kan?
Itu sangat cantik.
Karena sangat cantik,
aku juga mau memakainya di waktu terhormat.
Saat lukaku hilang nanti.
Tapi bagaimana kau tahu aku akan pilih baju ini?
Aku tahu segalanya.
Ayo pergi. Eun-sup menunggu kita.
Kapten Jo.
Baginda akan segera sampai.
Dia sedang di lift.
Baik.
Aku yang akan periksa.
Yeong melakukannya seperti ini.
Eun-sup!
Apa ini?
Suara ini...
Tae-eul!
Apa ini? Apa ini mimpi?
Ini sungguh kau?
Kau baik-baik saja?
Katanya kau sangat berani.
Dengarkan aku.
Seseorang mau menembak Baginda, dan peluru itu terlihat olehku.
Jadi, aku langsung...
Tapi kenapa wajahmu begini?
Kau datang dengan terluka?
Ada sesuatu terjadi.
Jo Eun-sup, kau bisa dapat promosi besar di sini.
Jika aku berniat,
aku bisa berpangkat tinggi dengan mudah.
Apa itu? Punyaku?
Bolu gulung yang kau mau.
Aku ke Toko Roti Kerajaan dan minta dibuatkan ini.
Terima kasih.
Coba potongkan yang besar.
Untuk itu, lakukan sendiri.
Tapi aku bisa belikan kau toko roti ini.
Benarkah? Benar, ya. Siap!
Terakhir kali, aku melewatkan kesempatan memiliki perusahaan persik kalengan.
Sayang sekali.
Jika begitu, lain kali minta dia bukakan pintu mobil.
Astaga, aku tak terpikir itu.
Astaga.
Bagaimana bisa seenak ini?
Jika ada adik-adikku, mereka pasti suka.
Eun-bi dan Kka-bi makan dengan baik,
selalu masuk sekolah, dan pintar.
Jo Yeong hampir ketahuan Eun-bi.
Aku sudah suruh dia hati-hati.
Tak tanya tentang Na-ri?
Na-ri?
Na-ri?
Soal Na-ri. Aku tak pikirkan dia sama sekali...
- Aku tak rin... - Dia
- dan Jo Yeong tak akrab. - Apa?
Katanya dia menjadi jelek.
Aku sudah bilang.
Aku tahu gaya seperti ini tak bagus.
Pak, tolong buka pintu kamar mandi.
Kenapa lukaku jadi sakit?
Rumah sakit ini sangat besar.
Apa? Jangan!
Apa ini?
Kenapa dia begitu?
Yang bawa aku ke sini
pasti Lee Lim, 'kan?
Kira-kira apa alasannya?
Kau lihat payung
yang dia bawa?
Payung?
Aku tak lihat Lee Lim. Hanya anak buahnya.
Aku pernah bilang
bahwa kami masing-masing memiliki separuh barang yang kami inginkan.
Dia menyembunyikannya di payung,
dan aku...
Kau menyembunyikannya
di pecutmu.
Mungkin dia sekarang sudah tahu di mana aku sembunyikan itu.
Maka itu dia bawa aku ke sini.
Untuk membuat kesepakatan.
Jadi, jika kau kalah, gerbang itu menutup.
Ya.
Jadi, ini pertarungan tentang siapa yang ambil duluan?
Bukan. Tapi tentang melindungi barang itu.
Pertarungan antara keutuhannya, atau tak sama sekali.
Tapi kau dirugikan
dalam pertarungan ini.
Karena kau harus bawa itu
jika mau mengunjungiku.
Itu sebabnya
kau tak boleh jahati aku.
Jangan khawatir.
Tak ada apa pun milikku yang bisa diambil.
Jika kau masih khawatir,
haruskah kita pergi berdoa?
Mari berdoa agar kita
mendapat berkah dari Tuhan.
Aku pernah cari gereja ini di duniamu.
Gereja ini satu-satunya tempat yang sama di dua dunia.
Benarkah?
Tapi kenapa kau cari tempat ini?
Ini tempat orang tuaku menikah.
Ayahku jatuh cinta pada pandangan pertama pada ibuku yang sedang membawakan seminar.
Diadakan oleh Akademi Sains Dunia.
Ibuku adalah ilmuwan.
Ternyata kau mirip ibumu.
Ya.
Ayahku melamar ibuku, tapi ibuku beragama Katolik.
Jadi, ayahku
mempelajari itu selama enam bulan.
Setiap pekan di tempat ini. Tak pernah tak hadir.
Astaga.
Lalu mereka menikah, dan melahirkan aku.
Ibuku
meninggal tiga tahun setelahnya.
Konon tubuhnya memang lemah.
Aku tak ingat apa-apa,
tapi semua orang tahu, dan baru kali ini kuceritakan ini ke orang lain.
Aku sangat senang karena kau mendengarkan ceritaku.
Kau tumbuh dengan baik, Lee Gon.
Kita benar-benar lewati banyak hal.
Waktu aku berumur lima tahun,
ayah dan ibuku mengurus tempat latihan taekwondo.
Ibuku pelatih terkenal, tapi meninggal
karena kanker.
Aku masih pakai
sabuk hitam ibuku.
Kau tumbuh dengan baik,
Jeong Tae-eul.
Baginda?
Selamat malam.
Aku tak tahu kau akan datang.
Bukan kunjungan khusus.
Aku hanya mampir.
Apa kau
bisa menyimpan rahasia?
Apa?
Tuhan menyuruhku menjaga mulutku
dan mengawasi bibirku.
Bisa kau fotokan kami?
Aku mau
foto kami bersama.
Aku akan foto.
Tiga, dua...
Kenapa kau seperti itu?
Kau duduk sendirian di tepi sungai.
Ketika tanaman hijau mulai bermunculan,
ketika air bergerak tenang karena angin musim semi,
kau berjanji bahkan jika kau pergi, kau tak pergi selamanya.
Itu yang kau janjikan.
Setiap hari aku duduk di tepi sungai,
memikirkan sesuatu tanpa ada akhirnya.
Saat kau berjanji bahkan jika kau pergi, kau tak pergi selamanya,
apa kau memintaku untuk tak melupakanmu?
Sudah selesai.
Obatnya untuk tiga hari,
dan kau tak boleh minum alkohol karena ada antibiotik.
Dia bertanya tadi.
Alkohol?
Aku mau minum segelas
agar cepat sembuh.
Aliran darahku harus bagus agar bisa sembuh.
Tiba-tiba aku lelah.
Pergi sana. Aku mau tidur.
Aku sudah bilang ini kamarku.
Benar.
Jadi, selama ini kau tidur di mana?
Di sini.
Di sini?
Bagaimana?
Di sebelahmu.
Kasurnya lebar.
Kau gila?
Pantas saja semua orang melihatku begitu.
Jangan manja. Aku tak pukul kencang.
Bahuku sakit dan panas
seperti kena api.
Luka yang Yeong bilang waktu itu.
Kau serius? Biar aku lihat. Mana?
Kenapa ini?
Sepertinya ini efek samping setelah melewati jalan petir dan kilat.
Kau tak apa-apa? Tak sakit?
Ya, aku baik-baik saja.
Coba kau lihat. Aku juga ada?
Kau mengagetkanku.
Kau bisa lihat ini saat musim panas.
Lihat yang benar.
Dasar wanita ini.
Ini lebih menyakitkan.
Tak ada.
Tak ada?
Apa mungkin acak?
Mungkin saja.
Ini berarti aturan melewati dua dunia telah dilanggar.
Apa mungkin ini?
Ada kalimat yang biasa ditujukan untuk orang jahat.
"Kau memang pantas tersambar petir."
Aku baru mau hilangkan penggal.
Coba saja.
Kau!
Siapa pun
yang berkata sembarangan kepadaku harus dipenggal.
Jangan main-main.
Hari yang sial.
Maafkan aku.
Tak apa-apa. Aku tak lihat kau tadi.
Kenapa?
Sebenarnya kenapa?
Kenapa luka ini muncul di mana-mana?
Kenapa?
Bunuh aku.
Bunuh saja aku!
Aku tak menyelamatkanmu
untuk membunuhmu begini.
Kau hanya umpan.
Itu satu-satunya alasanku menyelamatkanmu.
Jika anakmu masih hidup,
apa dia akan tumbuh sepertinya?
Kau memiliki wajah
ibu dari keponakanku.
Selamat datang.
Silakan duduk di sana.
Tak bisa di dalam?
Di dalam ada PM Koo sedang makan.
Seo-ryeong?
Tanpa penjaga?
Aku mau kalguksu.
Lama tak bertemu. Mereka bilang kau sendiri.
Boleh duduk, 'kan?
Terserah.
Katanya kau sakit?
Ya.
Ini makan pertamaku hari ini.
Jadi, jangan berbicara. Aku tak mau makananku dingin.
Kau boleh duduk
karena anakmu harus makan.
Sepertinya dia laki-laki. Aku makan terus.
Aku belum cek jenis kelaminnya.
Anakmu perempuan.
Apa?
Kau sudah pesan?
Ya, sudah.
Kudengar kau akan ikut kunjungan ke Timur Tengah dengan suamiku.
Pak Yoon sangat kekeluargaan.
Dia cerita pekerjaan kepadamu.
Dia buang-buang waktu.
Bukannya kau yang buang-buang waktu?
Sayang sekali usaha empat tahunmu.
Kau tak bisa jadi Ratu.
Apa maksudmu?
Kau tak tahu?
Kau benar-benar sakit?
Baginda sudah mengumumkan calon ratu.
Aku pinjam ponselmu.
Kau tak bawa ponsel?
RAJA UMUMKAN CALON RATU
Sepertinya kau harus mencalonkan diri lagi.
Jika tak begitu,
kau hanyalah anak tukang ikan.
Semoga persalinanmu lancar.
Dan semoga kau bersalin di Kerajaan Corea.
Apa maksudnya? Menyebalkan.
Ya, baik.
Diamkan si Berengsek itu.
Baginda, Lee Sang-do sedang kesakitan.
Kesakitan?
Ya. Katanya dia merasa terbakar setiap hujan.
Baginda.
Barusan PM Koo tiba di istana tanpa pemberitahuan.
Akhirnya dia sembuh.
Di mana dia?
Kau sakit dalam waktu lama.
Kau baik-baik saja?
Ya, Baginda.
Berita mengagetkan membangunkanku dari sakit.
Biarkan aku duluan yang bicara.
PM Koo.
Akhirnya kau menarik tali kendali.
Apa alasanmu
membuatku tak bisa bergerak?
Jika aku tak begitu,
apa yang akan kau lakukan?
Melamar seseorang?
Baiklah.
Kita mulai dari hal itu.
Jika tidak, kita tak bisa bicara.
Semua berita itu...
benar.
Dia
wanita yang aku cintai.
Wanita yang bisa membuatku melangkah dan melalui waktu.
Kau selalu jujur, Baginda.
Di sini sering hujan karena tepi pantai.
Hanya itu satu kekurangannya.
Silakan diminum.
Kau pasti kesal denganku selama ini.
Tugasku melindungi Baginda. Aku harap kau mengerti.
Tak apa-apa.
Aku akan bertanya sesuatu kepadamu.
Tapi bisakah kau hanya jawab
tanpa bertanya balik?
Dan jangan beri tahu ini kepada siapa pun.
Aku akan memercayaimu
karena kau bekerja untuk negara.
Silakan katakan.
Namaku Noh Ok-nam.
Ayahku Noh Gi-seop, ibuku Shin Jeong-ae,
dan adikku Noh Yeong-nam.
Aku lahir di Pyoksong, Provinsi Hwanghae, pada tahun 1932.
Aku pergi saat berusia 17 tahun,
dan tak dengar kabar kampung halaman
selama 67 tahun.
Karena itu aku mau tanya.
Bagaimana akhir perang itu?
Perang yang terjadi bulan Juni tahun 1950 itu.
Baginda dan Letnan Jeong...
Dua dunia terlalu jauh.
Apa yang akan kau lakukan? Kau akan jawab pertanyaanku?
Apa ada cara untuk kita?
Berhentilah berlagak dan minggir.
Hentikan, PM Koo.
Dan jika aku menghentikanmu,
- Tae-eul. - kau tetap di sini?
Haruskah aku katakan rahasia sebelum mati?
- Kurasa aku... - Mereka siapa?
akan menemukan hutan bambu Lee Lim.
Luka ini...
Orang yang sama denganku. Kau bertemu dia?
Haruskah aku di sini hari ini?
Kita harus saling bertemu.
Jika kau menemuiku, kau mati.
Terjemahan subtitle oleh Deaz Putri
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.