All language subtitles for [Dutafilm]-Raat Akeli Hai (2020)

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish Download
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

INDOXXI Support dengan like & share :)

1 FILM NETFLIX ORIGINAL

LIMA TAHUN KEMUDIAN

Nama lengkapnya Jatil Yadav.

Dia seorang inspektur.

Dia sangat tampan.

Dia berkulit gelap.

- Apa? - Dia berkulit gelap.

Tapi dia baik hati.

Permisi.

Ibu!

Ada apa? Minggir!

Kenapa Ibu tunjukkan fotoku?

Sudah Ibu suruh tersenyum, tapi kau cemberut.

Lihat saja fotomu.

Kubilang jangan.

Ini pernikahan rekanku. Rekan kerjaku di sini.

Ibu ingin melihatmu duduk di pelaminan itu.

Tuan Yadav, Hidup India!

Hidup India, Tn. Mishra. Apa kabar?

- Aku baik-baik saja. - Ini ibuku.

Salam.

Aku Manoj Kumar Mishra.

Kapan putramu akan menikah?

Hanya dia bujangan di kantor.

- Ini istriku. Beri salam. - Salam.

Nantinya, dia juga harus berkeluarga.

Begitu kami menemukan gadis baik dan dia setuju,

kau akan diundang.

Ayo, Bu, kita pulang.

Kenapa buru-buru? Makan malamnya belum dimulai!

Ayo makan chaat.

- Bangun, Sonu. - Ayo.

- Ayo, Sonu. Kau mau chaat? - Ayo.

Ayo.

Dia datang Kekasihku akhirnya datang

Dia datang Kekasihku akhirnya datang

Wahai cintaku, datanglah ke rumahku Dengan tandu

Dia datang Kekasihku akhirnya datang

Gelang-gelangku bertanya padaku Kapan kekasihku akan datang

Aku tak bisa berpikir Rumahku terasa seperti penjara

Ibu tak menghangatkan makananku,

tapi selalu siap melakukan hal untuk mempermalukanku.

Kau menolak makanan pernikahan,

makanan dingin yang kau dapat.

Kenapa Ibu menunjukkan fotoku?

Ibu tak lihat gaunnya?

Ibu pikir dia tipeku?

Kau bodoh.

Aku ingin gadis yang baik.

Berkarakter baik

dan tahu batasannya.

Kau selalu frustrasi.

Kau tak pernah punya gadis.

Sebab itu kau salahkan wanita.

Bagaimana denganmu yang menghabiskan banyak waktu dengan wanita di internet?

Apa aku ada pilihan lain jika keluargaku tak peduli?

Aku mencari wanita untuk dinikahi. Periksa saja.

- Kenapa... - Kuberi kata kuncinya! Cek saja!

Kenapa harus Ibu periksa?

Kau mau yang sempurna.

Gadis yang cantik, rendah hati, religius.

Di mana Ibu bisa menemukannya?

Sopan...

dan tak terlalu cantik.

Aku tak minta banyak.

"Cinta itu jebakan", Nak.

Itu omong kosong.

Pada akhirnya, ini hidupku.

Ibu percaya, istri adalah orang yang kau hidup nyaman dengannya,

yang akur denganmu, bukan yang semua orang suka.

Ibu beri tahu kau, penampilan bisa menipu.

Ya, Pak?

Saya segera ke sana.

Makanlah dahulu.

- Hidup India, Pak. - Makan dahulu.

Itu AKBP. Dia bisa dengar semua.

"Makan dahulu." Aku sedang makan!

Inspektur Jatil Yadav.

Ya, halo. Masuklah.

Apa yang terjadi?

Pemilik rumah ini, Thakur Raghubeer Singh, tewas.

Aku adik iparnya, Ramesh Chauhan.

- Apa ada acara di sini? - Ya.

Hari ini hari pernikahan Raghubeer Singh.

Raghubeer Singh?

Ya, pernikahan kedua.

Kakakku meninggal bertahun-tahun lalu.

Ayo, mayatnya ada di atas.

Kau mau ke mana, Karan? Hei!

Dia Karan, putra Raghubeer Singh. Karuna!

- Karuna! - Ya, Ayah!

Kemarilah. Bawa dia masuk. Inspektur sudah datang.

Karan, masuklah.

Ada apa denganmu?

Kau harus makan.

Acaranya selesai pukul 21.00. Kami makan malam

lalu menemukan mayatnya. Mereka anak mendiang.

Hati-hati pecahan kaca.

Chunni!

Kenapa kotor begini?

Aku menjatuhkan lentera.

Apa kau harus menunda membersihkannya?

Bagaimana jika ada yang terluka?

Aku tadi sudah bersihkan.

Lakukan yang ibuku suruh. Jangan membantah.

Semua sedang sedih.

Ya, bisa kulihat.

Dia polisi.

Inspektur Jatil Yadav.

Dia Vikram Singh, keponakan Raghubeer Singh.

Dia yang menemukan jasadnya.

- Tn. Mishra, bawa dia ke atas. - Naiklah.

Tak ada yang dicuri atau hilang?

Sejauh yang kulihat, semuanya utuh.

Kecuali dia.

Pukul berapa kau kemari?

Pukul 00.00...

Bukan, pukul 00.30.

Mereka harus ke kuil, jadi aku dipanggil.

- Saat kemari, kami menemukannya. - Jadi, tadinya kau tak di sini?

Aku ke MG Road untuk mengantar tunanganku.

Pukul berapa?

Pukul 21.30.

- Kapan kau kemari? - Sekitar pukul 23.00, mungkin 23.15.

Dari MG Road kemari hanya butuh waktu 15-20 menit.

Kenapa lama sekali?

Sekarang sedang musim pernikahan.

Jadi, lalu lintas macet karena prosesinya.

Salah satunya melakukan di jalan.

Pukul berapa itu?

Sekitar pukul 22.00 atau 22:30.

Kurasa mulai sepi sekitar pukul 23.00.

Siapa yang terakhir melihatnya masih hidup?

Aku bicara dengannya lewat telepon.

Sekitar pukul 23.30.

Apa ini ponselnya?

- Tuan Mishra. - Ya, Pak.

Hubungi kantor polisi

dan minta peralatan forensik dari Delhi.

Kita punya, tapi tak tahu cara menggunakannya.

- Panggil ambulans. - Baik, Pak.

- Segel ruangan ini. - Baik, Pak.

Di mana ini disimpan?

Itu miliknya.

Mari kutunjukkan.

Begitu melihatnya, aku tahu itu milik Raghubeer.

Disimpan di kabinet ini.

Ada yang memecahkan kaca dan mengambilnya.

Pasti dirusak dengan ini.

Kenapa kau menyentuhnya? Taruh kembali. Ayo!

Begitu banyak kaca pecah...

Sebuah tembakan...

Namun...

tak ada yang dengar?

Lihat area ini.

Para tamu menembak berkali-kali.

Semua orang bawa senjata.

Bagaimana ada yang tahu sumber suara tembakan?

- Kau adik iparnya, bukan? - Ya.

Adik istri pertamanya?

Ya, juga wali putranya.

Dia di sekolah asrama di Gwalior.

Raghubeer memintaku membawa Karan, jadi kulakukan.

Di sini.

Ayo.

Ini jalan lainnya, Pak.

- Apa tangga ini menuju atap? - Ke tangki air di atas.

Tangga ini untuk tangki air kami.

Kau tetap di sini.

Pak.

Menantu almarhum, Tuan Sisodiya, datang dan membuat keributan.

- Kalian kira ini permainan? - Dengar.

Menurutmu ini lucu?

Kalian diam saja. Kalian akan memohon, paham?

- Kalian akan memohon! - Kakak.

- Masa bodoh dengannya! - Kakak, dengar.

Semua orang tak berani mengusirnya!

- Nak. - Kalian semua hanya diam dan menonton!

- Kakak. - Lepaskan aku!

Lihat saja. Akan kuhancurkan dia!

Hei, minggir! Siapa kau? Minggir!

Minggir! Hei!

- Bisa hentikan? - Tembak dia!

Akan kutembak dia! Beraninya dia menyentuhku?

Tenangkan dia.

- Kakak. - Lepaskan aku.

- Dengar. Ayo masuk. - Berani kau menyentuhku? Enyahlah!

Apa kau akan menyentuhku?

Ayo!

Berhati-hatilah.

Hanya aku ahli waris setelah ayahmu.

Hanya aku.

Kakak!

Ibu.

Biar aku jelaskan.

Aku akan menyelidiki kejahatan ini.

Akan kuputuskan siapa yang ditangkap dan siapa yang tidak.

Jadi, tak ada yang keluar tanpa seizinku, mengerti?

Tak seorang pun!

- Tuan Mishra, kumpulkan identitas semua. - Baik.

Boleh aku masuk?

Chunni, aku tak mau bertemu siapa pun sekarang.

Kita harus bicara.

Di sini atau di kantor polisi.

Baik. Cari polisi wanita, aku akan ikut.

Polisi Kamla Kumari lebih keras dariku.

Lebih baik denganku.

Dari mana asalmu?

Keluargamu tak datang di acara berbahagia ini.

Dia sebatang kara.

Dia tinggal sendiri.

Dia yatim piatu, tak punya keluarga.

Kalian menemukannya di tong sampah?

Dia pasti punya tempat tinggal sebelumnya.

Di mana kau sebelum pernikahan?

Di sini.

Dengan Raghubeer Singh.

Chunni, ambilkan aku air.

- Chunni, tetap di sini. - Pergi!

Teruskan.

Kau dahulu simpanannya.

Kini kau nyonya besar.

Itu menjelaskan keributan di rumah.

Aku tak bisa membantumu.

Aku selalu di lantai bawah.

Ada yang memukul wajahnya.

Kau tak akan mengenalinya.

- Aku di bawah. Aku tak lihat apa pun. - Jaga nada suaramu!

Atau kuseret kau ke kantor sekarang, paham?

Apa maumu?

Aku ingin melihat keadaanmu, Ibu Tua.

Kau tak apa?

Jika kau panggil aku ibu, tua atau muda, kutampar kau, paham?

Baiklah.

Aku akan pergi.

Ingat namaku. Inspektur Jatil Yadav. Sampai jumpa.

Tanda tangan di sini.

Nama dan alamat di sini.

- Kau tinggal di Gwalior? - Ya.

Ayolah, Tuan Mishra.

Pemberontak Chambal.

LIMA TAHUN SEBELUMNYA

Putriku...

melompat?

Ini syalnya.

Gadis itu kabur?

Apa dia selamat?

Lepaskan aku!

Siapa kau? Lepaskan aku!

Dia telah menghancurkan hidupku.

Dia akan turun di stasiun berikutnya begitu aku tidur.

Tidurlah.

Aku di sini.

Aku akan mengawasinya.

Aku polisi.

Sub-inspektur Jatil Yadav.

Dari mana asalmu?

Siapa namamu?

Radha dari Bambore, distrik Morena.

Jadi, kau dari Chambal.

Pemberontak.

Aku polisi, biar kuberi tahu.

Dunia di luar sana kejam.

Jadi, bagaimana, Kakak?

Dia melewati usia pernikahan ideal,

tak ada gadis yang menerima lamarannya.

Aku bahkan siap menerima Manglik.

Hari ini kutunjukkan fotonya ke seorang gadis

dan dia bilang kulitnya gelap.

Ajay Devgn pun berkulit gelap.

Apa dia tak tampak seperti pahlawan?

Saat Jatil keluar dengan seragam dengan kacamata hitamnya,

dia juga mirip Ajay Devgn.

Kami hanya perlu Kajol sekarang.

Hei,

Kapan istri Raghubeer Singh mati?

Lima tahun lalu.

Dia kembali dari Gwalior lewat jalan darat,

dia dan sopirnya tewas dalam perampokan.

Setelah itu, Raghubeer Singh membawa gadis ini entah dari mana.

Apa dia cerita tentang dirinya?

AML?

Munna Raja.

Berkali-kali ikut pemilu berkat bantuan Raghubeer,

tapi kali ini Raghubeer Singh mencalonkan diri sendiri

Aku tahu.

Karena itu dia menikah.

Kau sudah bertemu Tuan Munna?

Katanya dia naik Prayagraj Express ke Delhi di malam yang sama.

Pulang hari ini.

Vikram Singh, keponakan Raghubeer Singh.

Mungkin itu tunangannya.

- Yang ini, ya? - Ya.

Gadis cantik.

Vasudha Singh, adik Vikram Singh.

Ibu mereka, Pramila Singh.

Kudengar dia sudah pindah.

Tunggu! Ini putra Raghubeer Singh, bukan?

Ya, itu dia. Dia ditangkap karena kasus narkoba.

Raghubeer Singh datang ke kantor untuk membebaskannya.

Aku tahu dia.

Ravi Sisodiya.

Dia menantunya.

Thakur tak punya surat wasiat, dia selamat karena istrinya.

Jadi, dia kacau.

- Kini dia mau memenjarakan gadis itu. - Yang mana?

Istri Raghubeer Singh?

Cocok kalau begitu. Pasti dia yang bunuh.

Kenapa kau bersemangat?

Kenapa kau marah?

Lakukan penyelidikan dahulu.

- Itu yang kulakukan. - Silakan.

Teruskan.

Baik.

Akan kubunuh kau! Sumpah!

- Tembak aku! Kau banci! Tembak! - Nandu, ambil pistolku.

Bidik aku! Ayo, Berengsek!

- Angkat senjatamu! Ayo! - Pegang dia. Tenanglah!

Tembak! Tembak aku!

Akan kubunuh semuanya. Jangan menatapku seperti itu!

Semoga kau membusuk di neraka.

- Berengsek! - Masa bodoh! Berengsek!

Diam atau kutembak kau di sini untuk menyadarkanmu.

Hei!

Berani sekali kau!

Haruskah aku diam dan melihatnya menembak orang tak bersalah?

Akan kupenjarakan kalian.

Tak bisa jika kau tak menjabat.

Akan kutelepon Tuan Munna. Aku muak.

- Tenanglah. - Beraninya dia menyentuhnya!

Hubungi siapa pun yang kau mau. Ayo.

- Tunggu saja. - Telepon dia.

Setelah putraku pergi, tak ada lagi pria di rumah ini.

Halo. Ini Ravi Sisodiya.

Ada polisi yang menindas kami di sini sejak pagi.

Ya. Mereka menampar Karan juga.

- Ya. - Dia tak merasa sesak di sana?

Diam. Ayo masuk.

Keberatan jika aku masuk?

Jadi, kau ingat aku?

Sudah berapa lama?

Apa bedanya?

Bagaimana kau kemari?

Ibuku meninggal, Ayah menjualku.

Pernah ke kantor polisi?

Untuk apa jika polisi mengunjungiku di rumah?

Kau bisa saja melarikan diri.

Pernah sekali.

Aku tak bisa pergi jauh.

Lagipula mau ke mana?

Dunia ini kejam.

Sebagai polisi, kau pasti tahu itu.

Sebagai polisi, kuberi tahu kau.

Jika kau berbuat sesuatu, kini saatnya mengaku.

Jika kau bunuh dia atau menyuruh orang...

kau tak akan lolos.

Aku tak begitu gila sampai membunuhnya dan memperburuk hidupku.

Sebab itu jujurlah dan percaya padaku.

Aku tak pernah percaya ayahku.

Sadari posisimu di sini.

Kau tak akan bisa membantuku, aku juga tak berharap bantuanmu.

Hentikan omong kosongnya.

Katakan jika kau mencurigai seseorang.

Semua orang.

Dia tak menyayangi siapa pun, begitu pun sebaliknya.

Kau pewaris tunggal.

Dia pasti menyayangimu.

Kau tinggal dengannya...

setiap hari.

Dia suka hal-hal tak bernyawa.

Aku terlalu hidup untuk itu.

Kukira aku membantumu malam itu.

Sepertinya aku salah.

Tak akan kubiarkan kau bernasib sama lagi.

Tapi ingat, aku tak akan memaklumi kebohongan apa pun.

Kau bersenang-senang di rumah ini?

Pak, hubungkan aku dengan petugas senior.

Petugas yang bertanggung jawab tak berguna.

Dengar...

Thakur sudah mati,

meninggalkan istrinya sebagai pewaris.

Keluarga kami kehilangan harga diri.

Kau tahu?

Bagi mereka yang menjual gadis....

bicara masalah harga diri tak berarti.

Kau ingin protes ke petugas senior, Tuan Sisodiya...

Aku tak takut siapa pun.

Jika aku marah, aku tak peduli kehilangan jabatanku.

Yakinlah, aku akan mencari kebenarannya.

Aku pamit. Nandu, ambil pernyataannya.

Lihat? Begitulah perilaku dan kesombongannya.

Salam.

Aku hanya butuh pernyataanmu.

Di mana kau kemarin malam? Maksudku, di malam pernikahan, Pak?

Tuan Mishra, sudah bicara dengannya?

Pak, dia orang gila.

Kau tak mau bekerja, 'kan? Kubilang tanyai dia.

Dia bisu, Pak.

- Dia bisu atau gila? - Keduanya, Pak.

Pak, dia pelayan rumah sebelumnya. Cucunya bekerja di sini sekarang.

Aku mencoba mewawancarainya sekali dan dia mengejarku dengan sabit.

Sopir yang kembali dari Gwalior bersama istri Raghiner adalah putranya.

Perkiraan waktu kematian...

antara pukul 22.00 dan 00.00.

Mayatnya ditemukan pukul 00:30.

- Benar? - Ya.

Sejam sebelumnya...

Vikram bicara dengannya.

Lewat telepon.

Artinya dia dibunuh setelah itu.

Pertama, dia ditembak.

Lalu, kepalanya dihantam dengan senjata yang sama berkali-kali.

Di dalam rumah sunyi.

Hanya ada keluarganya.

Tapi tak ada yang dengar apa pun.

Sepertinya seseorang sangat marah pada pria ini.

Bagaimana menurutmu?

Menurutku? Sudah jelas.

Anggota keluarga terlibat.

Tandoori, Manchurian, atau paha ayam.

Kami pesan dua Chow mein.

Aku tak mau mi. Nasi goreng.

- Kau kenapa? Cobalah yang baru. - Nasi goreng.

Kenapa tidak chow mein?

Makan chow mein membuatmu seperti binatang. Lihat dia.

Ambil kesempatan untuk berubah.

Lihat saja aku.

Kau tahu, aku bertemu Pinki sekali saja.

Begitu sederhana dan pemalu, aku tak boleh menyentuh jarinya.

Nandu, maksudku...

kasus ini cukup rumit.

Perhatikan.

Di rumah itu sudah sepi pukul 23.00.

Tak ada tamu. Sepi bagai tak pernah ada acara.

Tanpa musik, hanya beberapa orang, tanpa tamu berisik.

Saat itu, kabinetnya rusak...

tak ada yang mendengar suara tembakan.

Berarti dia dibunuh sebelum itu.

Saat ada suara keras, antara pukul 22.00 dan 23.00.

Tepat.

Hanya itu waktu yang memungkinkan untuk membunuh.

Dan pria itu berkata... Siapa namanya?

- Vikram. - Ya, Vikram Singh.

Katanya dia menelepon Raghubeer Singh pukul 23.30.

Tak masuk akal.

Vikram Singh keponakan Raghubeer Singh. Dia mungkin menipu kita.

Cari detail telepon itu.

Dan cari tahu...

Makanlah.

Ini, Jatil Yadav, persembahan Dewa Siwa.

Sekarang...

Bagaimana penyelidikannya?

Beri tahu aku, Pak.

AML Munna Raja menelepon pagi ini.

Kau kasar padanya.

Dia marah.

Dengar...

Munna Raja memang AML independen,

tapi semua partai memihaknya.

Paham?

Jadi, lain kali, sopanlah.

Aku sudah membujuknya.

Kukatakan Jatil Yadav polisi yang sangat baik.

Dia tulus, pekerja keras.

- Terima kasih, Pak. - Ya.

Karena dia juga ingin kasus ini selesai,

dia tak bertindak.

Tapi lain kali, hati-hati.

Ibu!

Ibu!

Ibu!

- Ibu! - Ya! Ada apa?

Apa ini?

Kau tak tahu?

Sudah kubilang, jangan ganggu barangku. Paham?

Tonton saja televisi.

Bagaimana kasusnya? Sudah kau tangkap pelakunya?

Apa bisa? Baru hari pertama.

Ibu bertanya karena jika kau ada waktu,

kita bisa menemui seorang gadis hari Minggu.

Aku tak mau.

Kenapa? Kau sudah dapat seseorang?

Ini karena Ibu. Ibu akan meminta mahar lagi.

Tak ada yang mau karena kita tak meminta mahar.

"Putramu pasti punya kekurangan, Ny. Sarita. Sebab itu tak ada mahar."

Itu karena Ibu mengganti namaku dari Jatin jadi Jatil

di ijazahku SD-ku.

Sudah Ibu suruh kau mengubahnya kembali.

Kau seperti kaset rusak.

Dengar...

Tonton saja televisi itu.

Pipa air kita rusak, tapi Ibu tak peduli.

Jika itu kabel saluran televisi, Ibu akan marah.

Kenapa kau selalu kesal, Nak?

Kau membawa kekacauan ke rumah.

Jadi, aku harus bagaimana? Pergi jauh?

Kapan Ibu bilang begitu?

Kau tak bisa bicara manis dengan Ibu, ya?

Ayahmu berbeda.

Kata-katanya selalu manis saat berbicara dengan Ibu.

Dia koki.

Bermanis-manis itu tugasnya.

Dia koki kantor polisi, bukan dapur makanan gratis.

Halwa buatannya sangat lezat.

- Petugas akan bilang, "Subedar Yadav... - Subedar Yadav.

Jika kau beri halwa ke musuh, mereka akan mengalah.

Tepat sekali. Dia selalu dipuji.

Tapi setidaknya dia bicara dengan Ibu, bukannya marah tiap saat.

Ibu merindukannya.

Dengan siapa Ibu bicara kini?

Ibu sangat merindukannya.

- Ibu... - Hentikan!

Ya, Nandu?

Ya, kami sudah verifikasi. Raghubeer Singh memang menelepon.

Pukul 23.30?

- Ya, tapi ada hal lain. - Apa?

Sebelum telepon itu,

Vikram Singh menerima banyak telepon dari nomor lain.

Sepuluh siang, 12 malam.

Nomor siapa?

Nomor Raghubeer Singh.

Nomornya yang lain.

Kirimkan nomor itu.

Antar aku ke kantor polisi.

Halo.

Ya?

Kau menceritakan kisah tragis tempo hari.

Berapa lama kau berhubungan dengan Vikram Singh?

Apa dia juga memaksamu?

Dia tak memaksaku.

Aku menemuinya dengan sukarela.

Aku dahulu mencintainya.

Tapi cinta abadi ini akan berakhir.

Dia akan menikahi gadis dari status yang sama.

Butuh keberanian untuk mencintaiku, bukan status.

Dia tak punya itu.

Aku sudah periksa riwayat teleponmu dan Vikram Singh.

Kalian mungkin berkomplot membunuh Thakur.

Tapi hanya kau yang akan dipenjara.

Sebab itu aku mau penyelidikan yang adil.

- Keadilan ditegakkan. - Dengar, Pak.

Aku tak meminta keadilan padamu.

Sudah tugasmu menyelidiki dengan adil.

Kau bukan membantuku.

Jadi, berhenti diam-diam mengikutiku dan mengasihani aku.

Aku tak akan membiarkan orang sepertimu di dekatku.

Aku merasa kasihan padamu dan ingin membantu. Mengerti?

Dengan kebencian dan ketidakpercayaan sebesar itu kau mau membantuku?

Kebencian?

Bagaimana tidak?

Kau tidur dengan dua pria dari keluarga yang sama.

Aku lebih suka dimanfaatkan daripada dibantu.

Kau tunjukkan lukamu dan tahu cara bicara.

Kau di luar kemampuanku.

Masuklah.

Kenapa?

Aku sudah memberitahunya semuanya.

Ayo, lakukan sesuatu.

Sudah kuberi tahu semua.

Sekarang selidikilah dengan adil.

Cepat.

Ayo.

Ibu.

- Bawa dia. - Kau bawa ke mana dia?

Kau bawa kakakku ke mana?

- Kau bawa ke mana putraku? - Hentikan. Begini caramu menyelidiki?

Vikram, berhenti. Mereka tak bisa membawamu begini.

- Ke mana kau membawanya? - Ke mana?

- Diam dan kembali. - Masuklah, kalian berdua!

- Ayo, masuk. - Berhenti, Vikram.

Aku akan kembali.

Vikram, keluar dari sana. Vikram!

Pengantin pamanmu yang seperti ayahmu

terus meneleponmu sepanjang hari

saat kau berada di rumah yang sama.

Dia gila.

Dia kira aku mau kawin lari dengannya.

Tapi kau menidurinya.

Dia yang datang padaku.

"Ini menyiksaku.

Aku tercekik."

Di rumah itu dan di hadapanmu,

dia dilecehkan secara seksual.

Dia menangis dan dipukuli.

Tapi, alih-alih membantunya,

kau menjadikannya kambing hitam?

- Aku tak bilang Radha pelakunya. - Kau pelakunya.

Dia pasti kaki tanganmu.

Jika mau membunuhnya,

kenapa setelah mereka menikah,

bukan sebelumnya?

Mungkin korban tahu tentang kau dan Radha.

Properti, tanah, bagianmu.

- Kau bisa kehilangan semua. - Omong kosong.

Dia memberiku lebih banyak dari putranya.

- Daripada putra kandungnya. - Orang berbuat salah.

Lupakan.

Aku tahu kau di mana antara pukul 23.00 dan 00.00.

Sebelum itu?

MG Road.

GPS ponselmu berkata sebaliknya.

Belaghat, lokasi pembunuhan.

GPS ponsel itu indikatif, Inspektur.

Tidak tepat.

Kereta lalu lalang di rel kereta api.

Aku tertahan.

Kau tahu semuanya, bukan?

Bagaimana kau bertemu Radha?

Setiap hari di rumah yang sama?

Harus kukatakan?

Kau menggunakan tangga belakang.

Malam itu juga, ya?

Mungkin kau ketahuan.

Setelah membunuhnya, kemudian...

kau masuk dari pintu depan dan mengantar orang-orang ke kuil.

Ya.

Lalu hantunya menelepon ponselku.

Cari buktinya.

Jika mereka berselingkuh...

kenapa kau tak bawa gadis itu?

Vikram akan bebas jika kubawa.

Radha tak akan bebas.

Gadis malang.

Dia tak bersalah.

Hanya meniduri paman dan keponakannya.

Aku paham betapa jahatnya dia.

Tapi kita menyelidiki pembunuhan, bukan sifatnya.

Dia memikatmu.

Tidak.

Melihatku saja tak mau, apalagi memikatku.

Begitulah cara mereka melakukannya.

Abaikan pria agar dia mengejar mereka.

Kau akan tertarik padanya.

Sekarang wanita itu tak memedulikanmu.

Lalu apa?

Kau kesal, bukan?

Begitulah cara kerjanya.

Misalnya, istriku.

Selama tiga hari dia menolak...

Sudah cek berkas sidik jari?

Sudah kubilang, tak ada sidik jari di senapan.

Bukan senapannya.

Maksudku ponsel Raghubeer.

- Ada sidik jari siapa? - Tak ada.

Jika Raghubeer menelepon Vikram, di mana sidik jarinya?

- Di mana? - Beri tahu aku.

Aku lewat sini, jadi, aku ingin bertanya.

- Soal apa, Pak? - Boleh aku minta air?

Kau informanku.

Hanya kau yang bisa beri informasi.

Orang kaya tak sejalan dengan kita.

Aku tak tahu apa-apa, Pak.

Setidaknya ceritakan bagaimana nyonya barumu.

Kau melayaninya dengan baik.

Kira-kira dia seusiaku saat dibawa kemari.

Dia menangis tiap hari.

Kini dia mengurung diri di sana.

Nyonya apanya!

Dia tak punya pria lagi sekarang.

Entah bagaimana dia akan bertahan.

Bagaimana kau bertahan?

Kau hidup sendiri.

Kau bekerja seharian mencari nafkah.

Nenekku di sini, melindungiku dengan sabitnya.

Chunni, siapa yang membunuh Thakur?

Pak...

Malam itu kau menelepon Vikram dari ponsel Raghubeer.

Tidak, Pak.

Aku melihatmu.

Di kamera pengawas.

Saat lampu padam, kau naik dengan lentera.

Ya, Pak, benar.

Kenapa tak beri tahu?

Aku lupa, Pak.

Kau lihat apa di atas?

Harus kuingatkan juga?

Tuan Thakur menelepon.

Aku menaruh lentera di kamar, lalu ke bawah.

Mayatnya ditemukan saat Vikram tiba di sana.

Bohong.

Lentera itu tak ada di kamar Thakur, tapi hancur di tangga.

Bagaimana?

Kau naik ke atas dengan lentera.

Kau melihat mayat Thakur.

Kau bergegas ke bawah...

lalu menjatuhkan lentera.

Ada siapa di atas?

Vikram Singh?

Baik, silakan, bantu Vikram.

Kau dan gadis bodoh itu akan terkena masalah besar.

Aku tak akan selamat.

Jika beri tahu, aku akan dibunuh.

Kau tak akan celaka.

Tapi aku hanya bisa membantu jika kau jujur.

Kau tak bisa membantuku.

Mereka mengambil ayahku.

Ayahmu dibunuh dalam perampokan, bukan?

Bersama istri Thakur.

Ayahku meneleponku.

Katanya akan kembali dalam dua jam.

Dia pergi dari Gwalior di malam hari.

Kenapa ada yang mau bunuh ayahmu?

Bagaimana bisa kuberi tahu?

Aku mungkin tahu jika FIR-ku diproses.

Tapi polisi senior memihak mereka dan menutup kasus ini.

Kau sadar ucapanmu?

Lihat nenekku.

Dia menjadi gila karena mencoba membuat polisi bertindak.

Dia tak pernah melihat mayat ayahku, dia menolak percaya.

KEBENARAN KESENDIRIAN KEMENANGAN

Segera kirimkan. Aku akan membukanya lagi.

Ini FIR, laporan Ramdeen yang hilang.

- Siapa? - Ayah Chunni, sopir Ramdeen.

Dia menelepon Chunni dan bilang akan kembali dalam dua jam. Lihat.

Jadi, dia di dekat Kanpur.

Aku memeriksa semua kantor polisi dua jam dari sini.

Mobil yang sama dilaporkan hilang di kantor Akbarpur

keesokan harinya.

Akbarpur ada di antara Gwalior dan Kanpur.

AKBP LAJI

Ya, Pak.

Kau harus pergi ke rumah Munna Raja besok.

Minta maaf atas perbuatanmu pada Vikram Singh.

Katakan, "Pak...

Aku salah. Maafkan aku."

Dengan tulus.

Pak, kau menyuruhku bekerja dengan pikiran terbuka. Itu yang kulakukan.

Kau bekerja dengan gegabah.

Kau pelayan pemerintah.

Dia pemerintahnya.

Kau bertindak impulsif tanpa penyelidikan atau bukti.

Pak, lokasi di ponsel Vikram Singh menunjukkan di Belaghat,

tapi katanya dia di MG Road.

Itu melibatkan masalah properti juga.

- Tak cukup. Cari yang lagi. - Gadis itu, Chunni...

Dia tahu sesuatu.

Pelayan, mereka melihat segalanya.

Dia akan bicara.

Silakan.

Pak...

Apa?

Kasus istri Raghubeer Singh dan sopirnya...

apa itu sungguh perampokan?

Apa maksudmu?

Mayat dan mobil seharusnya ada di lokasi perampokan,

tapi tak ada apa pun di kasus ini, bahkan laporan.

Mungkin kita melewatkan sesuatu.

KANTOR POLISI AKBARPUR

Ini semua ditemukan di lokasi kecelakaan yang sama.

Tampaknya bukan pecahan mobil.

Sepertinya truk.

Ya. Itu kasus tabrak lari. Pecahan kendaraan lain juga ada di sini.

JAJMAU - KANPUR

PENYAMAKAN JAHANGIR

Kau mau apa?

Bosmu, pemilik tempat ini.

Bos kami. Dia tinggal di ujung jalan.

Di toko jagalnya, di belakang Masjid Jinnato.

Aku bertanya alamat bosmu, bukan toko jagalnya.

Ini dimiliki oleh AML.

Siapa yang mau dikaitkan dengan tempat penyamakan?

Ada apa, Pak?

MASJID JINNATO

- Tahu rumah pemilik Penyamakan Jahangir? - Di sudut jalan.

Kau pemilik Penyamakan Jahangir?

Kudengar itu milik AML.

Siapa namamu?

Suruh pemiliknya datang ke Kantor Polisi Belaghat besok.

MUNNA RAJA

Seperti susu mengandung air, air mengandung bakteri,

dan tubuh kita juga mengandung bakteri.

Teroris dan komunitasnya berbaur dalam masyarakat...

dari masyarakat ke jalanan, lalu ke rumah kita.

Hubungan homoseksual melanggar hukum alam.

Dalam 20 tahun ke depan, akan ada banyak orang homo.

Pak, seniorku menyuruhku kemari untuk menemuimu.

Vikram Singh adalah calon menantumu, jadi...

Maafkanlah dia.

Kapan kau menangkap wanita itu?

Tegas padanya, dia akan mengaku.

Ya, Pak. Kau benar.

Tapi yang akan dia katakan mungkin...

akan merusak martabat keluarga.

Kau harus berlatih lagi.

Aku telepon nanti.

Baiklah.

Yang tadi bagus.

Pak, apa kau tahu soal Vikram Singh dan...

Apa kau tahu...

sulitnya berubah dari wanita simpanan menjadi nyonya?

Dia sangat memahami pria.

Entah Vikram Singh atau siapa pun.

Kudengar kau ke Jajmau kemarin.

Ya, Pak.

Apa yang kau tanyakan di Penyamakan Jahangir?

Aku hanya ingin menanyakan soal Raghubeer Singh.

Mungkin informasi yang kudapat keliru.

Kudengar kau juga punya informan di rumah itu.

Harapan AKBP besar padamu.

Cobalah lebih keras.

- Paham? - Ya, Pak.

Ini kasus sederhana. Seorang pria dibunuh oleh istri dan kekasihnya.

Tapi kita malah mencari yang tak ada.

Kau hanya tahu dua tersangka, bukan?

Apa kau tahu Munna Raja terlibat kasus pembunuhan istri Raghubeer Singh?

- Munna Raja? - Ya.

Itu kasus tabrak lari, bukan perampokan.

Kau ingin aku menelantarkan investigasi,

memenjarakan gadis itu dan melupakannya?

Aku tak tahu apa pun tentang korban.

Orang macam apa dia? Mengapa dia dibunuh?

Ayahmu orang seperti apa? Bisa deskripsikan?

Dia sering membawa gadis kemari.

Menurutmu orang seperti apa dia?

Itu tak mengganggumu?

Dia tak pernah peduli apa kata orang.

Dia sombong. Tak ada yang berani menghentikannya.

Dan ibumu?

Dia takut.

Dia takut padanya.

Tetap saja, tinggal dengan wanita itu di keluarga...

Tak ada keluarga. Karan disekolahkan asrama sejak kecil.

Lalu, setelah pernikahanku...

hanya ayah dan nenekku...

yang tersisa.

Bagaimana dengan keluarga adiknya? Maksudku, sepupumu...

Vasudha dan siapa namanya?

- Vikram. - Ya, Vikram.

Mereka pindah beberapa tahun lalu.

Karan dan Vasudha di sekolah asrama.

Mereka berkunjung saat liburan, tapi tidak setiap tahun.

Artinya...

kalian bertemu di pesta pernikahan setelah sekian lama?

Menurutmu?

Siapa yang membunuhnya?

Vikram yang paling perhatian dengan Ayah.

Bisnis, properti...

dan hal lain yang sudah kau tahu.

Boleh minta air?

Ya, tentu saja. Ambil air.

Pramila selalu mengawasiku.

Dia akan melakukan apa pun demi putranya. Aku ragu...

Sudah kubilang, jaga dirimu.

- Ayo, duduklah. - Aku mau mengambilnya.

Kenyataannya tidak.

Kau bicara dengannya entah berapa lama.

Kenapa, Sayang? Tak ada pria di rumah sekarang.

Kau mengizinkannya masuk tanpa meminta izinku?

Saat mereka kembali dari Upacara Pelepasan Abu,

aku harus beri tahu Ravi...

soal perbuatanmu.

Tunggu, Nenek.

Bicaralah dengannya juga.

Atau aku akan kira Nenek menyembunyikan sesuatu.

Ibu tinggal di sini demi kalian.

- Dia berkorban banyak, tapi... - Kami tak memintanya datang.

Aku muak dengan ibumu dan kau.

- Kau hanya iri! - Vasudha!

Jadi, beri tahu aku...

kapan dan kenapa kau pindah? Kau dulu tinggal di sini, bukan?

Kau begini tak akan lama.

Munna memperalatmu. Mengerti?

Ya.

Atau mungkin dia ingin tahu siapa yang membunuh temannya.

Atau...

orang yang begitu membencinya hingga pada malam pernikahannya...

Mereka yang punya rumah besar, status, gengsi, kekayaan dan lainnya...

orang tak membenci mereka.

Mereka iri. Kau tak akan mengerti.

- Kau dulu tinggal di sini, bukan? - Ya.

Kau tak sedih atas kematiannya?

Masalahnya, aku tak melakukan melodrama.

Aku selalu tinggal di asrama atau rumahku.

Aku tak begitu mengenalnya.

Aku sudah memeriksa FIR-mu dan memulai penyelidikan.

Aku akan segera menarik kesimpulan.

Tapi agar terwujud...

kau harus membantuku juga.

Jadi, dia Kamla Kumari?

Tampak cukup keras.

Tapi aku juga bermuka tebal.

- Kau tak mau menahanku? - Jika kasusnya lebih lama...

itu harus kulakukan. Tenang.

Sudah kuberi tahu semua yang terjadi malam itu.

Kau tahu sisa ceritanya.

Pernahkah Raghubeer Singh mencurigai hubunganmu dengan Vikram Singh?

Tampaknya kau yakin sekali soal itu.

Jika dia curiga, kau akan menemukan mayatku di kamar itu, bukan mayatnya.

Siapa yang mau membunuhnya selain kalian berdua?

Bisa siapa saja.

Orang yang lebih berani dariku…

lebih tersiksa dariku.

Tapi tak ada orang yang begitu.

Ambil mobil.

Silakan pergi.

PANTI JOMPO SHARMA

Tempo hari...

kenapa kau tak menahanku?

Aku menahan komplotanmu. Munna Raja membebaskannya.

Jika hanya melibatkanmu...

itu menurunkan harga diriku.

Halo.

Apa?

Dua jari ini tampak luka.

Lihat lehernya.

Bekas cekikan.

Dia dicekik sampai mati.

Ini pembunuhan.

Chunni!

Chunni! Anakku!

Chunni!

Chunni! Ke mana kau membawanya?

Anakku!

Chunni! Lepaskan aku!

Chunni!

AMBULANS

Chunni!

Astaga! Chunni!

Chunni-ku! Chunni-ku tak ada lagi!

- Bu, lepaskan dia. - Chunni-ku tak ada lagi!

Chunni-ku tak ada lagi!

Nandu.

Antek Munna Raja dari Jajmau itu...

Tangkap dia.

Buat dia mengaku.

- Kenapa? Motornya rusak? - Tidak, kau yang rusak.

Kau tak lihat yang ada di depanmu!

Omong kosong.

Sudah jelas gadis itu menyuruh kekasihnya membunuh.

Tapi alih-alih menangkapnya, kau menyuruhku menjalankan tugas bodoh.

Kau melibatkan emosi, bukan logika.

Wanita itu memenuhi kepalamu dengan sampah.

Kau mengaku sebagai polisi...

tapi tak bisa menyelidiki apa pun. Kau bodoh! Bodoh!

Baik. Tapi walau bodoh, aku jauh lebih baik darimu.

Aku menikahi gadis baik, tak sepertimu yang bercinta dengan pelacur.

Enyahlah!

Kalian...

bertengkar di tengah jalan.

Jadi, tak ada lagi penjahat di kota untuk ditangkap polisi.

Itu bukan salahku. Dia memprovokasiku.

- Dengar... - Dia mengataiku bodoh. Tanya dia.

- Dia menghinaku. - Narendra Singh...

- Kendalikan dirimu. - Pak...

Aku tak mau kerja dengannya.

Narendra Singh, keluarlah.

Jatil Yadav.

Kau akan mengajukan penjelasan mendetail untuk tindakan ini.

Lalu kau bisa ambil cuti atau aku menskorsmu. Pilih yang mana?

Aku tahu hari ini akan tiba, Pak.

Aku tak akan ke mana-mana.

Seorang anak dibunuh. Aku tak akan membiarkannya.

Kini aku akan menggali semuanya.

Hidup India, Pak.

Kubilang jangan ganggu aku.

Nandu, aku diserang.

Mereka mengikutiku dari markas, menembakiku.

Lalu kau terluka? Berdarah banyak?

- Perlu kupanggil ambulans? - Nandu.

Ya, aku bodoh memercayai ucapanmu.

Aku akan percaya kau diserang. Begitu, 'kan?

- Dengarkan aku. - Dengar, aku akan menahannya besok.

- Dia akan mengakui semuanya. - Ini salah.

Ravi Sisodiya sedang membicarakannya dengan AKBP sekarang.

Dia tak punya banyak waktu.

Halo.

Berhenti, Jalang!

Kau mau berbagi properti?

- Berhenti. Buka pintunya! - Ada apa?

Masa bodoh dengannya! Akan kubunuh dia!

Hei, ada apa?

- Minggir! - Kau sudah gila? Apa yang terjadi?

- Buka pintunya! - Kau akan membunuhnya?

Minggir! Sial! Akan kubunuh dia hari ini!

Kau mencarinya, bukan?

Aku akan mengulitimu hidup-hidup dan menguburmu bersamanya.

Dengar?

Bangun

Bangun

Bangun

Bangun

Bangun

Ada pembobolan Di kota malam

Ini aku.

Bangun, ada pembobolan

Masuk.

Di kota malam

Bangun

Fajar yang ajaib telah datang

Dia dahulu menahanku di sini...

tiap dia mengunjungi Gwalior.

Keluarganya pasti tahu tempat ini.

Tidak.

Mereka tak pernah kemari.

Hanya Karan yang berkunjung sekali.

Bagaimana...

Bagaimana dengan mereka?

Mereka disewa untuk menjaga rumah dan aku.

Kisah mereka sama denganku.

Mereka akan tutup mulut.

Istirahatlah.

Kau bisa saja kabur.

Untuk sesaat kupikir...

kau meninggalkanku.

Seharusnya begitu.

- Kau tak menghormatiku. - Aku menghormatimu.

Untuk keberanian dan kejujuranmu.

Kejujuran apa?

Aku pelacur.

Pembunuh.

Kenapa?

Benar.

Aku tak memenuhi standarmu.

Hatiku dingin.

RUMAH SAKIT LALA LAJPAT RAI "TAMAN" KANPUR

- Tuan Joshi. - Ya?

Katamu ada kulit mati yang ditemukan di kuku Chunni.

Ya, kulit mati.

Di kuku ini.

Apa maksudmu?

Kulit pembunuhnya terluka, Narendra Singh.

Kami menemukan lapisan epidermis pembunuh di kukunya.

Kau lihat,

dia pasti mencakar pembunuhnya saat melawan.

Hidup India. Ajay, apa ketua di dalam?

Dia sedang rapat. Tunggu.

Aku kemari untuk menyelidiki yang terjadi pada cucumu, Chunni.

Lihat ini.

Ini Munna Raja.

Ini anak buahnya, di belakangnya.

Kau kenal dia?

Kau pernah lihat dia?

Apa mereka punya urusan denganmu atau cucumu?

Bu!

Kau di sana malam itu?

Apa-apaan ini? Lepaskan aku!

Kau dan Vikram membunuhnya, bukan?

Kau menyeret Chunni juga. Karena itu dia dibunuh.

Benar, 'kan?

Aku terus melindungimu...

terus memercayaimu, tapi kau...

Kau terus berbohong kepadaku.

Ya, aku bohong.

Aku harus bagaimana?

Dulu kukira...

Vikram tak berani melakukan apa pun.

Ternyata...

dia tak pernah berniat begitu.

Kutelepon nanti.

Kubilang nanti kutelepon.

Hari ini hari terbaik. Kenapa harus besok?

- Akan kuberi tahu dia semuanya. - Radha, dengar.

Radha!

- Radha, tunggu. Dengarkan aku. - Mendengarmu?

Bukankah kita akan kawin lari hari ini? Bukankah kau menyuruhku bersiap?

Itu tak mungkin. Kita harus ke mana?

Jadi, kau selama ini membohongiku? Kau memanfaatkanku.

Yang lalu biarlah berlalu.

Tetaplah di sini!

Aku akan menjagamu.

Kau baik sekali. Tapi hatiku tak sebesar hatimu!

Kau tak seharusnya membawa tunanganmu kemari.

Kakak ipar. Ya, aku ke sana.

Ya, uruslah. Aku akan segera ke sana.

Ini akan makan waktu.

Radha!

- Maafkan aku. Aku salah. - Paman! Biar kujelaskan.

Pergi!

Pergi!

Vikram menyuruhku ke bawah.

Setelah aku turun,

aku tak tahu

ucapannya pada Chunni,

Tapi dia tak bilang pada siapa pun.

Entah di mana Vikram berada.

Hati-hati!

Apa yang kau lakukan? Bersihkan ini.

Kekasihku mulai menggodaku Apa yang harus kulakukan

Usiaku 12 tahun saat aku menikah

Usiaku 12 tahun saat aku menikah

Kekasihku mulai menggodaku Apa yang harus kulakukan

Setelah beberapa lama, Vikram datang dari pintu depan

dan mengantar semua orang ke kuil.

Kita pergi?

Aku harus bilang apa?

Kepada siapa?

Siapa yang akan percaya?

- Nandu. - Kau benar.

Anak buah Munna Raja yang membunuh Chunni.

Laporan autopsi menyatakan ada kulit mati di kukunya.

Di tangan pria itu ada bekas cakaran.

Aku melihatnya sendiri.

Dia membunuhnya demi menyelamatkan Vikram Singh.

Tepat sekali.

Chunni masih kecil.

Halo?

Aku di Kantor Polisi Murar, Gwalior.

Aku sudah mendaftarkan tersangka. Kau bisa menangkapnya.

Si...

Jatil Yadav menyerahkan gadis itu.

Dia tak berguna sekarang.

Lelah, tapi mencari

Lelah, tapi mencari

Mengikat dan melepas simpul dalam kabut

Memotong tali kepedihan

Halo?

Halo?

Halo, siapa ini?

Jatil?

Berputarlah sambil menyihir

Berputarlah di bawah langit yang rendah

Berputar Dengan irama jantung yang tak beraturan

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

PANTI JOMPO SHARMA

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Kau?

Ini tagihan klinik.

Dari klinik tempat kakakmu dirawat sehari sebelum kematiannya.

Klinik aborsi.

Tidak.

Omong kosong.

Kakakku kemari demi Karan.

Bagaimana dengan laporan dan tagihan ini?

Dengar...

Karan menderita malaria tahun itu.

Dia liburan sekolah kemari. Kakakku juga di sini.

Kau bisa pastikan ke sekolahnya.

Aku tak bohong.

Kau belum pernah mabuk?

Kakakmu...

kenapa dia meninggalkan Kanpur malam hari?

Seseorang meneleponnya malam itu.

Dia pergi. Saat dia tak kembali setelah beberapa jam, aku meneleponnya.

Dia terdengar tegang.

Katanya, "Aku ke Kanpur. Kutelepon begitu sampai."

Setelah itu...

Kau tak tanya dia?

Kenapa dia tiba-tiba pergi?

Kutanyakan.

Dia tak menjawabku.

Dia di stasiun kereta.

Ada suara kereta api dan suara lainnya,

aku tak begitu mendengarnya.

Kenapa dia di stasiun?

Dia balik arah dengan mobilnya.

Kurasa dia ke stasiun dahulu.

Aku mendengar suara kereta.

Saat kutanya dia di mana, dia menutup telepon.

Kakak iparku menyuruhku...

untuk memberitahunya...

jika Thakur membawa wanita.

Siapa yang dia bawa?

Bagaimana aku tahu namanya?

Tapi, dia sering menginap di sini.

Buka bungalonya.

Dengan ilusi Dan dengan ilusi

Kau menenun kesengsaraan

Dengan ilusi Dan dengan ilusi

Kau menenun kesengsaraan

Selimut takdir Punya rangkaian cara

Rangkaian itu dibasahi air mata

Merangkak

Lelah, tapi mencari

Merangkak, Membara

Merangkak, tidur dan bangun

Merangkak, tidur dan bangun

Kau terus mencari jawaban

Melewati batas

Berputar Seperti kebiasaan keras kepala lama

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Emosi membuatmu kewalahan

Nandu, bukan itu. Ambil FIR yang diajukan Chunni.

Beri tahu tanggalnya.

Emosi membuatmu kewalahan

Seperti pakaian menelan tubuh

Mereka akan bersamamu, penderitaan

Teriakan, isakan Kemarahan, gairah yang menggebu

Mendidih, melintasi rintangan

Lalu merenungkan hidupnya

Terkurung di tubuhnya sendiri

Berputar Seperti kebiasaan keras kepala lama

AKBP meneleponku.

Dia menyuruhku membawa tersangka ke bawah jembatan Jajmau.

Berputar seperti roda

Ikuti perintahnya.

Berputar seperti roda

Berputar seperti roda

Tenang.

Kau baik saja.

Pelurunya tidak tembus.

Hanya menyerempet.

Tidak!

Datanglah ke Festival Holi besok.

Kita akan bersekutu selagi merayakan.

Jangan sekarang. Aku sedang bersama keluargaku.

Ayo bertemu dan bicara besok.

Ya. Sampai jumpa.

Selamat untukmu juga. Sampai jumpa.

- Paman. - Ya?

Tungku yang kau punya di Belaghat...

Buka pintunya.

Kenapa?

Maksudku...

beri juga padaku.

- Beri apa? - Bagian, apa lagi?

Aku melayanimu dengan baik.

Dewasalah. Dia ingin bagian!

Siapa yang datang?

Kenapa kau izinkan dia masuk?

Aku tinggal di sini sekarang.

- Lakukan sesukamu. - Begitu?

Dia meninggalkanmu? Yang kabur denganmu?

- Ke mana kau pergi? - Gwalior.

Tempat kau pergi tiap bulan untuk memberi kakak iparmu obat.

Hei!

Ravi Sisodiya ketahuan memberi narkoba kepadanya.

Sekolah juga bilang ke ayahmu begitu.

Pergi dari sini!

Apa yang kau lakukan, Ravi?

Keserakahan akan properti melingkupimu?

- Apa kau membunuh Raghubeer Singh? - Tidak.

Dia tak melakukannya.

Itu karena alasan lain.

Kau sangat tahu itu, Pak.

Anak buahmu mungkin sudah ditangkap.

Perobohan penyamakanmu akan dimulai besok.

Di sanalah...

kau membuang jasad Ny. Raghubeer Singh dan sopirnya, bukan?

Omong kosong apa itu?

Ibumu dan sopirnya...

- dikubur di penyamakannya. - Ini omong kosong.

Vikram. Ambilkan mobil.

Aku akan mengurusnya.

Vikram, kau tak dengar ucapan pamanmu?

Aku mau mendengar semuanya.

Munna Raja dalang pembunuhan Ny. Raghubeer Singh.

Anak buahnya mengaku.

Kau bohong.

Motifnya?

Ny. Raghubeer Singh ke rumah pertanian suaminya malam itu.

Dia curiga.

Ternyata benar.

Pengurusnya meneleponnya.

Dia melihat Raghubeer Singh dengan adikmu.

Vasudha Singh membunuh pamanmu.

Dia masih kecil saat itu.

Dia sering disiksa.

Ini bisa jadi kasus pembelaan diri...

tapi kau harus memberi pernyataan.

Dia juga melakukan aborsi.

Kepala Sekolah menskorsnya dan memberi tahu walinya.

Walinya adalah Raghubeer Singh.

Itu cerita yang kau karang.

Aborsi atas nama Ny. Raghubeer Singh pada tanggal 14 Maret

di panti jompo Sharma, di Gwalior.

Tanggal 15 Maret, saudarimu, Vasudha Singh,

dikeluarkan dari sekolah, malam itu juga,

Ny. Raghubeer Singh dan sopirnya hilang.

Chunni mengajukan FIR besoknya,

tanggal 16 Maret dan tak pernah diselidiki.

Jadi?

Apa artinya?

Vasudha Singh dikeluarkan karena melakukan aborsi.

Ada pernyataan kepala sekolah,

tagihan klinik, dan pengurusnya yang mengenalinya.

Dan yang paling penting...

dupatta-nya bersimbah darah Raghubeer Singh

dan dia sembunyikan di tas Radha.

Sampai pukul 22.00, kau masih pakai dupatta itu

yang ada darah Raghubeer Singh.

Di waktu kematiannya,

hanya kau yang tak ada di video pernikahan.

Saat kau kembali,

kau memakai dupatta berbeda.

Vasudha?

Vasudha...

Aku telah bicara dengan hakim.

Jika kau ikut denganku di pagi hari...

Dia tak akan ke mana-mana. Dia tak bersalah.

Jangan takut padanya. Kau yang akan memenjarakannya.

Dia juga bertanggung jawab atas pemerkosaan putrimu.

Dia menutupi kejahatan

dan memastikan korban tak dapat bantuan.

Tunggu saja. Aku akan memecatmu besok pagi.

- Ayo, Nak. - Kau mau ke mana?

Biarkan dia.

Kami memutuskan hubungan dengan keluargamu.

Vikram!

Adik, aku akan bicara dengannya.

Pasti.

Siapa menurutmu...

yang ditelepon Ny. Raghubeer Singh malam itu?

Halo. Kakak Ipar.

Dia ingin kembali ke kakaknya.

- Tapi ibumu... - Adik!

- ...memohon agar dia kembali ke Kanpur. - Adik!

Saat dia meninggalkan Gwalior…

saat itulah keluargamu yang bermartabat hancur.

Jadi, sekarang...

harus bilang apa pada Raghubeer?

Kakak ipar itu...

Kakak ipar itu meninggalkan Gwalior.

Sekarang...

kau telah meyakinkanku.

Kalau begitu...

uruslah kakak iparku sesukamu.

Kau pikir kau layak...

menjadi pewaris Raghubeer Singh?

Dia memaafkan penyiksa putrinya.

Dan membuatku...

berkomplot dengannya untuk menyelamatkan putrinya.

Kau senang?

Dia bohong.

Itu bohong.

Itu tak benar, Vikram.

Vasudha...

Sayang...

Jangan cemas.

- Akan aku jelaskan semuanya. - Ayo, Sayang.

Kau dengar aku?

Sudah kubilang...

aku akan mengetahui kebenarannya.

Dengar...

waktumu tak banyak.

Hei, kau sudah gila?

Karuna...

Sayangku...

Kau melihat Nenek...

mengurus kalian semua.

Seumur hidup Nenek,

di rumah ini.

Nenek tak punya hak apa pun.

Lagipula...

Nenek takut, Sayang.

Nenek takut.

Nenek ingin menyelamatkan masa depan putra Nenek.

Sebab itu Nenek begitu.

Nenek bisa apa lagi?

Katakan. Nenek bisa apa?

Masa depan putramu?

Lalu masa depanku?

Masa depan putrimu?

Jangan maafkan dia, Vasudha.

Vikram.

- Antar aku pulang. - Pergilah!

Ke mana pun Ibu mau.

Pergilah.

Vikram!

Vikram!

Vikram?

Ini aku, Bu.

Selamat atas pernikahanmu!

Mimpi keluarga besar bahagia ini...

tak akan terwujud.

Jika kau tahu malu,

kau sudah bunuh diri bertahun lalu.

Kau tak akan menatapku...

tanpa rasa malu.

Vasudha!

Vasudha!

Kasus pembunuhan Raghubeer Singh selesai.

Tertulis Pramila Singh berencana

membunuh Thakur Raghubeer Singh.

Baca semua.

Dia bersekongkol dengan Munna Raja

dan bunuh diri karena takut ditangkap.

Dia juga terlibat dalam pembunuhan pembantu rumah tangga.

Dalam kasus ini...

AKBP Lal Shukla...

AKBP Lal Shukla juga akan menghadapi penyelidikan khusus.

Baiklah.

- Apa yang Ibu pikirkan? - Tak ada.

Bukan berpikir, Ibu hanya penasaran...

Ke mana gadis itu?

Pramila Singh bunuh diri setelah mengaku.

Nama Vasudha Singh dibersihkan.

Bukan dia, yang satunya.

Yang dulu kau temui setiap hari.

Dia dapat bagiannya. Kini dia akan pergi dan menetap entah di mana.

Baiklah.

Bagus.

Tak ada apa pun di sini untuknya.

Dia sudah pergi?

Dia pergi hari ini.

Dengan?

Chapra Express.

Kau akan ke sana?

Ya.

Aku pergi membeli air.

Dunia di luar sana kejam.

Aku tak bisa sendirian.

Terjemahan subtitle oleh Nurul Permata Sari

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.