All language subtitles for Humba.Dreams.2019.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Hodlam] Hei, Martin!

[Martin bahasa Sumba] Hei, Hodlam! Apa kabar?

[Hodlam bahasa Sumba] Katanya kau datang.

Untungnya, aku belum jauh pergi.

[radio mobil] Sakit hatiku bukan karena kau pergi...

[Hodlam bahasa Sumba] Semua orang penasaran

kapan kau pulang. Terutama, sang Dukun.

Dia selalu membicarakanmu dengan tetangga,

mengeluhkan kau tinggal terlalu lama di Jawa.

[Hodlam bercerita dalam bahasa Sumba]

[Hodlam bercerita dalam bahasa Sumba]

Rumput sangat sulit didapat belakangan ini.

Ini musim kemarau yang panjang.

Akan lebih mudah saat hujan turun.

[Hodlam] Ayo.

[radio] Banyak warga, terutama perempuan,

yang kembali itu hanya sebagai korban.

Bahkan sudah ada dalam peti mati.

Ikuti terus siaran Warga Bicara hanya di Radio Max FM.

Tapi sebelumnya, kita dengar dulu satu tembang lagu...

[Hodlam bahasa Sumba] Kita sampai, Martin. Sampai jumpa nanti.

[Martin bahasa Sumba] Sampai nanti.

[warga] Martin!

Hei!

Mama Raja.

Selamat datang.

Bagaimana dengan kuliah kamu di sana?

Saya sebentar lagi selesai ini.

[wanita dalam bahasa Sumba] Akhirnya, Martin pulang!

Lihat betapa tampannya dia.

Kenapa lama sekali?

Sudah kubilang aku sibuk kuliah.

Para gadis pasti menyukainya.

Wanita sekarang mengejar pria tampan.

[orang bercengkerama]

[kuda meringkik]

[Latif di telepon] Ini dia sutradara kita yang hilang!

Ke mana saja kau?

- Teleponku tak diangkat. - [Martin] Aduh!

Maaf, Tif, aku lagi ada di Sumba.

[Latif di telepon] Sumba?

Kau sedang menulis. Kenapa malah pulang ke Sumba?

Kau sudah selesai?

Aku masih buntu. Belum selesai skenarionya.

[Latif di telepon] Lalu kenapa kau ke Sumba?

Ini waktunya sudah mepet sekali.

Kita mundur dua kali karena skenariomu belum selesai.

Minta mundur sedikit lagi.

Aku sudah bilang ke kampus.

Urusan keluarga.

[Latif di telepon] Kukira...

Ini selesai, aku pasti lebih tenang. Menulis juga jadi lebih lancar.

[Latif di telepon] Ini anak-anak sudah gugup.

Kau harus ingat, ini film ujian. Film kelompok. Bukan cuma filmmu.

Ya, aku mengerti, Tif.

[Latif di telepon] Lalu bagaimana?

Beri aku waktu tiga hari. Pasti ini beres.

[Latif di telepon] Ya, sudah. Benar, ya? Kalau tidak, aku pindah kelompok.

Ya, sudah. Terima kasih, Latif.

[Latif di telepon] Baik.

Martin, sebentar dukun datang lagi.

Jadi, jangan pergi ke mana-mana.

Agar urusan cepat selesai. Aku sangat sibuk.

Ya, Mama.

[Mama] Bantu aku mengumpulkan jagung.

Ini untuk acara Mama Raja malam ini.

[pria berbicara]

[Mama] Semoga Martin bisa bekerja di kantor bupati.

Dia bisa memotret atau membuat film.

Benar, 'kan, Martin? Setelah kau lulus sekolah,

- kau ingin menjadi seperti bapakmu. - [Martin] Itu berbeda.

Saya mau menjadi sutradara.

Ini mungkin satu wasiat terakhir sebelum bapakmu dimakamkan.

Ada barang-barang Bapak simpan sudah lama di kamar,

tapi Mama kurang perhatikan.

[Mama] Nggodu pernah bertemu bapakmu di mimpi.

Dia melihat kotak itu.

Nggodu bilang, bapakmu berpesan

agar kotak itu dibuka bersamamu di tanah Humba.

Malam ini kita upacara.

Kau mengerti?

[babi menguik]

[babi menguik]

[Mama] Uang pensiun bapakmu sudah lama tidak diambil.

Bisa kau ambil besok?

Ya, Mama.

[anak-anak tertawa]

[ayam berkokok]

[Nggodu] Yang sudah kita tunggu-tunggu telah datang.

Biarkan dia menerima apa yang telah ditinggalkan ayahnya.

Mama, Bapak sudah hampir tiga tahun.

Kapan Bapak dikubur?

Masih mengumpulkan uang.

[bahasa Sumba] Kau bisa ambil kotaknya.

Martin, masuklah.

[ayam berkokok]

[ayam mencicit]

Tanda bagus.

Sangat bagus.

Putramu, Martin yang telah ditunggu,

telah pulang dari Jawa

untuk akhirnya menerima wasiatmu.

[Jean Luc] Jadi, berapa lama putrimu menghilang?

[Suami] Lebih dari empat tahun.

Namanya Maria.

Rambutnya panjang dan lurus.

Dia pergi saat berusia 16 tahun, empat tahun lalu.

Dia masih anak-anak, jadi, tak punya KTP.

Tidak ada identitas lain?

[Suami] Tidak punya.

[Wanita] Mereka penganut Marapu.

Pernikahan mereka tidak tercatat di Kantor Urusan Agama.

Jadi, anak seperti Maria tak punya akta kelahiran.

Saat mereka mencari kerja, agen ilegal membuatkan mereka dokumen palsu.

[wanita] Mengharapkan gaji tinggi di Malaysia.

[Jean Luc] Ini Maria?

- Hei, Bung. - Hei.

[Jean Luc] Kami akan unggah foto di Instagram dan Facebook kami.

Mungkin para pendengar punya informasi.

Silakan, Pak, Bu.

[wanita] Terima kasih banyak, Jean Luc.

Kami tunggu informasinya.

- Tolong kami, ya? - Baik.

- Terima kasih. - Hati-hati.

Terima kasih.

[Martin] Jean Luc.

[Jean Luc] Hei, Martin, kemari kau! Sini kau kucium.

Apa kabar?

[Martin] Baik.

Jadi, LSM kau tutup?

Aku lagi istirahat.

Sekarang cari dana itu susah.

Kau tahu otak itu paling susah kalau harus ketik proposal.

Saya sekarang lagi fokus di radio saja.

Di sini, semua persoalan masyarakat

dibicarakan dan disebarluaskan lewat radio.

Di sini saya juga bisa putar lagu-lagu yang saya senang.

Musik itu penting, Kawan! Duduk dulu.

Mar, saya dengar di Jakarta kau sudah mau jadi sutradara film.

Kenapa kau pulang?

Sebentar saja.

Kau tahu Nggodu?

Dia bilang dia dapat kabar dari bapak saya.

Karena itu saya ada di sini.

Kau dapat warisan itu, Kawan!

Martin, rol film ini?

[Martin] Ya, film.

Kau tahu, tiga tahun lalu ada yang bikin film aksi di sini.

Itu waktu pemutaran di depan kantor bupati pakai layar tancap...

Manusia penuh ribuan orang.

Ini posternya, Kawan. Luar biasa, ya?

[Martin] Saya tahu itu.

Tapi sebelum kita bicara warisan dengan masa remaja kita.

- Kita minum peci dulu. - [Martin] Aduh, peci.

- Ayo, Kawan. - Jean Luc.

Ini kantor, 'kan?

Ya sudah, teras belakang. Di sana aman. Ayo.

[Martin terkejut]

[Jean Luc bersenandung]

[Jean Luc] Martin, cepat!

Saya kembalikan besok malam. Terima kasih, Pak.

[pria] Salam untuk Mamamu, ya?

[papan ketik ATM ditekan]

Ayo, Charles.

Coba nyalakan.

[orang-orang berseru]

[orang-orang mengobrol]

[film diputar]

[bahasa Sumba] Tanya Martin cara menonton filmnya.

[bahasa Sumba] Biar aku tanya Martin, ya?

[bahasa Indonesia] Kau membawakan film supaya kami dapat lihat, 'kan?

Saya bawa pulang ke Jakarta.

Mungkin ada teman bisa bantu di sana.

Hei, bagaimana?

Ini perlu dicuci.

Saya pulang besok lusa. Nanti saya telepon Mama isinya apa.

Mama telepon suruh kamu pulang saja susah sekali.

Apalagi kalau kamu pulang ke Jakarta, lupa semua.

Ini perlu orang khusus yang mengerjakan. Tidak mungkin saya sendiri.

Kamu mau sekolah film.

Sana, tanya di Pasar Waingapu sana,

bahan apa yang bisa cuci supaya kita bisa lihat.

Ini gambar film bapakmu yang buat, dia ingin kita lihat.

[Mama] Jangan kau coba-coba kembali ke Jakarta.

Paham kamu?

[pintu diketuk]

[Mama bahasa Sumba] Martin! Jangan tidur terus!

[pintu diketuk]

Kamu harus cari cara untuk menonton filmnya.

[penyiar radio bicara]

Halo.

[penyiar radio bicara]

[penyiar radio] Untuk informasi bahwa Anda bisa menggunakan jalur ini...

Hei, Jean Luc.

- Password? - JEANLUC2017

[penyiar radio] Baik, Sobat. Untuk mengawali jumpa kita...

Sobat, untuk informasi awal Anda...

...di sekitaran dermaga, ada...

Apa?

Oh...

Di sini memang agak sedikit lama, Kawan.

Cobalah di tempatnya Lusi, PC Corner.

Bisa duduk, Nona?

[bahasa Sumba] Kami sedang renovasi.

[pria] Adik.

Ini ada kain, selendang, manik-manik.

Tidak, terima kasih, Pak.

Di mana saya bisa mendapatkan Internet?

Internet?

Mungkin di daerah Kanatang. ada rumah inap punya Ibu Linda.

Bisa Adik coba.

Permisi.

Mau tanya. Kau tahu rumahnya Bapak Paul, tidak?

Di sana?

[pria bahasa Inggris] Lihatlah...

Tanamannya menjulang.

Ya, lihatlah.

Selamat siang.

Ada yang bisa saya bantu?

Maaf, Bu. Permisi.

Saya Martin.

Mahasiswa dari Jakarta.

Tapi saya orang Prailiu.

Begini, Bu. Saya ada satu keperluan.

Biasanya di sini Internet paling cepat.

Kamu santai saja sampai selesai.

Tapi tolong jangan berisik, saya ada tamu di situ.

Saya ada di rumah belakang kalau kamu perlu sesuatu.

Terima kasih, Bu.

PROSES FILM 16MM

[bahasa Inggris] Hai.

Siapa namamu tadi?

[bahasa Inggris] Nama saya Martin.

Apa yang kau pelajari?

[Martin] Aku mempelajari film.

Aku ingin menjadi sutradara film.

Sementara kau di sini, anggap saja rumah sendiri.

Ada buku, musik.

Ada makanan dan minuman juga.

Santai saja.

Silakan ambil sendiri.

Terima kasih.

♪ Menanti ♪

♪ Di bawah pohon kamboja ♪

Makanlah dulu.

♪ Kekasih yang kucinta ♪

["Menanti" oleh Nien Lesmana]

[orang bercengkerama]

Sudah habis.

[klakson]

Kiri! Terus!

Ini susah, Kakak.

Dulu pernah masuk Waingapu, tapi sekarang sudah susah.

Kami makin sering ditanyai polisi karena ini bahan sensitif.

Katanya bisa untuk terorisme.

Mungkin Kakak bisa cari di Waikabubak.

Terorisme?

[bergumam] Saya bisa minta alamat toko yang di Waikabubak?

[bergumam] Tunggu saya tanyakan Bos dulu.

[berbisik] Waikabubak.

[bahasa Sumba] Kudengar Martin belum menemukan solusinya.

Tapi bagaimana bisa? Dia sudah tidur sepanjang hari.

Dia membuat kita cemas saja.

Kapan kita bisa melihat pesan ayahnya?

[Wanita 1 bahasa Sumba] Kita masih belum bisa melihat wasiat di dalam rol film itu.

[Wanita 2 bahasa Sumba] Kita harus sabar.

Anak-anak sekarang

- tidak menganggapnya serius. - [Wanita 1 bergumam]

[Wanita 1] Ini yang bernama Pak Daniel dari Rimbagading.

Mungkin ini lebih jelas wajahnya.

[Pria] Selain ini, ada fotokopi KTP?

- Atau kartu keluarga? - KTP sudah tidak ada

Kartu keluarga juga sudah tidak ada.

- Fotokopi juga tidak ada? - Tidak ada.

- [bergumam] - Bapak ini sebenarnya hilangnya di mana?

[Wanita 2 bergumam]

[Pria 1] Ya, bisa saja.

- Tapi yang ini nanti juga masuk. - [Pria 2] Ya.

[Wanita menghela napas]

Tidak usah, saya hanya mau sebesar ini saja.

Ya, nanti gambar ini semuanya juga harus masuk.

[berseru]

- Ingin bagian ini saja yang dicetak? - [Wanita] Ya, Bapak.

Bisa. Besarnya seperti ini?

[Wanita] Ya.

Ini nanti diperbesar, lalu dicetak ukuran 10R.

Terima kasih, Bapak.

[turis bicara bahasa Jerman]

[turis bicara bahasa Jerman]

[Latif di telepon] Halo?

Latif.

Bagaimana?

Ini jadi mengesalkan.

Maksudnya?

Jadi melar urusannya.

Kau gila, Tin.

Ini urusan keluarga apa?

Kali ini agak rumit, Tif.

Ada pesan datang dari ayahku.

Ayahmu bukannya sudah lama meninggal?

Pesan datang bagaimana?

Halo, Tin?

Pesannya datang lewat penghubung.

Kami sebutnya Nggodu. Semacam dukun.

- Memang agak tak masuk akal. - Jelas.

Aku jadi susah menghindarnya.

Intinya, aku juga ingin cepat balik.

Sabarlah sedikit lagi.

Payah kau!

[kuda meringkik]

[kuda mendengus]

[kuda mendengus]

[Martin menenangkan kuda]

[anjing menggonggong]

[anjing menggonggong]

[pintu berderik dibuka]

Permisi, Papa.

[lagu tradisional Sumba]

[mesin motor menderu]

[motor distarter]

[motor diengkol]

[motor diengkol]

PASAR

Permisi.

Bu? Pak?

Permisi?

[ayam berkokok]

Bu?

Pak?

[sapi melenguh]

[petikan ukulele mengalun]

♪ Dengarkan ayah dan ibumu ♪

♪ Supaya kita bahagia dan diberkati ♪

♪ Jangan lupa nasihat mereka ♪

- Hai, Bapak. - [Pria] Hei.

Saya di rumah sendirian.

Ada yang menggembala. Yang lain mengurus ternak di sawah.

Saya tak begitu ahli apa-apa. Hanya bisa bernyanyi.

Kamu bisa ambil bensin untuk motormu.

- Terima kasih, Pak. - Sama-sama.

Jauh sekali saya jalan kaki.

Rumah saya juga masih jauh di Praeliu.

Motor bapak saya. Sudah tua, tapi masih bagus.

[motor diengkol]

[tertawa]

[motor diengkol]

[Pria] Hei, Martin!

[kunci motor distarter]

[motor menyala]

[gitar melankolis]

Terima kasih, Pak Purnama.

[gitar melankolis]

[Ana] Saya sudah dua tahun bekerja di sini.

Saya bantu-bantu Ibu Linda bersihkan rumah.

Saya Ana.

Siapa kau?

Apa kerjamu?

Nama saya Martin. Mahasiswa.

Saya tinggal di Jakarta.

Kuliah film di sana.

Film?

[Ana] Seorang perempuan pernah datang dan tinggal di sini untuk menulis.

Dia meninggalkan banyak buku.

Mungkin yang ini cocok untuk kau.

Bacalah.

[orang bercengkerama]

[orang bercengkerama]

WAIKABUBAK HUMBA BARAT, 60 KM DARI WAINGAPU

[orang bercengkerama]

[kuda meringkik]

[Ana mendesah]

[Ana mendesah]

[musik tradisional]

Hei!

["Menanti" oleh Nien Lesmana]

♪ Bila kasih tak ingat padaku ♪

[orang bercengkerama]

Ana sedang menunggu kabar dari suaminya.

Suaminya bekerja berpindah-pindah tempat di Malaysia.

Sebulan lalu, ada kabar suaminya kecelakaan.

Tapi itu belum pasti.

Beberapa hari lalu Ana pergi ke bandara saat petugas tenaga kerja tiba.

Dia menanyakan suaminya.

Bung...

Apakah Ana masih menginginkan suaminya?

♪ Berjumpa ♪

♪ Menanti ♪

♪ Di bawah pohon kamboja ♪

♪ Datangmu ♪

Mau apa kau?

Ana,

saya masih harus mencari bahan kimia untuk mencuci film.

Sudah sampai ke Waikabubak, tapi belum dapat.

Hei.

Ana.

Sampai kapan kau akan menunggu suamimu?

Saya hanya menunggu kabar pasti saja.

Kalau memang dia sudah mati, sudahlah.

Buat saya, dia sudah mati terlalu lama.

[pintu tertutup]

Kalau memang gambar film harus dicetak seperti gambar foto,

kenapa tidak tanya Pak Purnama?

[orang bercengkerama]

[Pak Purnama] Dulu saat kami mencuci film, tiap film waktunya berbeda-beda.

Tergantung dari jenis film yang diproses.

Asam sulfat. Kami bisa membuatnya.

Biasanya kami pakai standar, waktunya 20 menit.

Lalu kami lihat hasilnya bagaimana.

Misalnya jika hasilnya agak pucat, kami tambah waktunya.

[Pak Purnama] Jika hasilnya gelap, kami kurangi waktunya.

Tidak ada gambar.

Ini rusak.

Yang satu juga sama.

[Pak Purnama] Coba lagi.

[radio] Malam ini di Max FM

akan berkumpul masyarakat yang ingin menceritakan kisah keluarga mereka

terkait krisis buruh migran.

Mari kita bersama berkumpul untuk berbagi cerita tentang suami

tentang anak, atau tentang orang-orang yang mungkin bapak dan ibu kenal

yang mungkin sampai sekarang belum kembali.

[orang bercengkerama]

[pria] Sebentar, Bu.

Selesai?

Ada gambar, Pak.

[sirene mobil polisi]

[wanita meraung]

[wanita meraung]

[wanita berdoa bahasa Sumba]

[wanita berdoa bahasa Sumba]

[wanita meraung]

[wanita meraung]

[melanjutkan doa bahasa Sumba]

[wanita meraung]

[melanjutkan doa bahasa Sumba]

[orang bercengkerama]

[orang tertawa]

[orang bercengkerama]

Hei.

[orang bercengkerama]

[pria asing] Aku ikut berbelasungkawa.

Jasad suami Ana

sudah diidentifikasikan beberapa hari yang lalu

di Basabani.

Ana memutuskan hari ini akan kembali untuk bersama keluarganya.

[orang bercengkerama]

[wanita tertawa]

[orang bercengkerama]

[orang bercengkerama]

[pria dalam bahasa Sumba] Permisi, Mama Raja.

[film diputar]

TAK TERUNGKAP

[pria dalam bahasa Sumba] Kuberi tahu, ini disebut Kambata, kepala.

Itu disebut Kiku, bagian belakang.

Tapi pada dasarnya disebut Prailiu.

[Latif di telepon] Hei, Martin, sudah di Jakarta?

Bagaimana ini?

Kita sudah lewat jadwal kemarin.

Aku bingung menjelaskan ke kampus.

Ini kacau, Martin.

Halo, Martin!

[lagu tradisional Sumba]

[orang berseru]

♪ Hanya kau, Istriku sayang ♪

♪ Hanya padamu kupercayakan tradisi ♪

♪ Saat anak kita dewasa ♪

[melanjutkan menyanyi lagu Sumba]

[Martin] Permisi.

["Menanti" oleh Nien Lesmana] ♪ Menanti ♪

♪ Di bawah pohon kamboja ♪

♪ Datangmu ♪

♪ Kekasih yang kucinta ♪

♪ Janganlah ♪

♪ Sekalipun melalaikan ♪

♪ Janjimu ♪

♪ Yang telah kau ucapkan

♪ Bila kasih tak ingat padaku ♪

♪ Lihatlah sekuntum kamboja ♪

♪ Di sana kita... ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.