All language subtitles for W.in

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

WIRA - PAHLAWAN Alih bahasa oleh: Why_Hyde IDFL.ME Subscrew

Ayo, ayo!

Mau cetak : Brosur, ID Card, Undangan, Kartu Nama, Nota Continous Form, Buku, Company Profile, Kalender, Stiker, Banner,dll?

Hubungi: TSR DESIGN AND PRINTING - Solusi Cetak Anda! WA: 0857-8256-1215 IG: @tsrdesignandprinting Surel: tsrdesignandprinting@gmail.com

Kota hantu ini...

Tempat terkutuk ini...

tempat di mana aku dibesarkan.

Dulu, orang-orang di sini sangat mengenalku.

Mereka menghormatiku.

Tapi kebanyakan mereka takut padaku

termasuk aku sendiri.

Saat ini,

mereka tampaknya sudah tenang.

Mereka membiarkan kutukan tempat ini berjalan terus.

Tapi itu hanya menunggu waktu saja sampai bencana menghantam mereka.

Karena alasan keluarga, aku memutuskan kembali.

Kalau tidak,

Aku tidak mau buang waktu di tempat ini,

kembali ke masa lalu yang buruk.

Berhenti di situ!

Jangan berbalik!

Anda dari mana, pak?

Machang.

Tunjukan KTP anda.

Keterangan di kartu MyTentera mengatakan tempatnya dekat.

Itu alamat ayahku.

Ada urusan apa anda kembali?

Urusan keluarga.

Baiklah.

Anda boleh berbalik.

Perlahan.

Kau bercanda denganku?

Hassan Munas, kau masih hidup.

Woy! Di sini dilarang merokok.

Tenang, tak ada siapapun dekat kita.

Tenang saja, cuma merokok.

Rokok yang kau hisap rokok illegal.

Kau mau aku borgol di sini?

Karena kau sudah jadi inspektur,

kau tak mau berbagi rokok

dengan prajurit rendahan macam aku.

Prajurit rendahan?

Kau itu pasukan khusus.

Mantan pasukan khusus.

Yang membuatku penasaran.

Bagaimana bisa berandalan macam kau bisa jadi polisi?

Seperti itu.

Sama persis seperti kau mengajak aku dalam masalah.

Itu cara kau melindungi aku.

Bisa dibilang,

kalau bukan karena kau,

aku tidak akan jadi berandalan.

Tapi kalau bukan kau juga

aku tidak akan jadi inspektur.

Akau tidak akan pernah masuk akademi polisi.

Kalaupun kau mau jadi seorang antek,

jadi saja jangan bawa-bawa ayahmu.

Hei, Tn. Inspektur.

Itu tugasmu.

Kenapa harus aku?

Biasanya kalau ada orang yang buat keributan,

kau buat mereka babak belur.

Kau pikir untuk apa aku meninggalkan tempat ini?

Aku ingin sebuah perubahan.

Hei, lakukan sesuatu. Berisik sekali.

Buat apa repot-repot?

Mereka yang ingin ribut, biarkan saja.

Pukul terus sampai habis!

Tugasku jadi mudah.

Ya, ampun.

Hassan, kalau aku melihat mereka.

Aku jadi ingat masa lalumu.

Apa kau tidak merasa aneh duduk di kursi depan mobil polisi.

Kang, Kang Hassan Munas, ya?

Wah, kau terkenal.

Serius?

Hassan Munas Yang Tak Pernah Kalah, itu?

Hassan Munas, Yang Tak Terkalahkan?

Tunggu, Akang kembali ke sini mau naik ring lagi?

Membalaskan dendam adik akang?

Bukan urusan kalian!

Kalian salah orang.

Apa kau yakin, Hassan?

Ini semua gara-gara kalian!

Diam!

Kang Hassan, Akang Hassan Munas!

Kang Hassan?

Boleh minta selfie sekali?

Aku bisa ceritakan semua yang telah terjadi.

Tapi aku rasa, lebih baik kau melihatnya secara langusng.

Lihat apa yang sebenarnya terjadi.

Makasih, Boon.

Alah, soal kecil.

Traktir aku teh tarik.

Bukan begitu.

Terima kasih sudah menjaga mereka

selama aku tidak ada.

Apa gunanya teman?

Sampai jumpa.

Hassan.

Apa adikmu masih single?

Aku hajar kau berani godai adikku!

Rambut jelek begitu, kau mau dengan adikku?

Tak tahu malu!

Dah.

Hei, kampret!

Assalaamu'alaikum.

Wa'alaikum...

Hassan.

Mereka tidak cuma melempat cat.

mereka juga merusak jendela kita.

Kau lihat bunganya atau goloknya?

Dua-duanya.

Kau terlambat, ibumu sangat membenci golok itu.

Sudah bertahun-tahun lamanya dia meminta bapak untuk menurunkannya dari dinding.

Tapi tidak Ayah lakukan.

Sampai akhirnya ibumu meninggal baru ayah lakukan.

Lalu...

Ayah jadikan golok itu dekorasi pot bunga ibu?

Menurutmu itu tidak cocok?

Buatku cocok saja.

Ayah, Zain berangkat kerja.

Kau sudah bicara dengannya?

Kau kembali kemari untuk menyelesaikan masalah dia, kan?

Ayah tahu, kan?

Selama dua tahun ini aku di Kamp Machang?

Kau sudah mengunjungi makam nenekmu?

Ayah.

Aku punya sedikit tabungan.

Termasuk dengan uang pensiunan, aku punya rencana membeli rumah.

Sewa rumah di sini mahal, ayah.

Kita beli rumah di sana saja.

Bagus lah, apa yang menurutmu baik.

Ayah, ikut aku juga.

Zain juga.

Ayah, menetap di sana.

Ayah tak perlu bekerja di pabrik lagi.

Kemudian, Zain bisa...

Dia bisa lari dari masalahnya,

seperti dirimu.

Itu yang hendak kau katakan?

Sekarang segalanya berbeda,Hassan.

Raja-lah yang seharusnya pergi dari sini, bukan kita.

Aku kira ayah sangat membenci pabrik itu.

Memaki ibu.

karena ibu tidak mau bekerja di sana.

Orang-orang menghina aku.

Karena aku bekerja kepada Raja.

Sekarang ayah juga.

Kau tidak mengerti.

Memang.

Seperti halnya ibu yang tidak mengerti.

Begitu juga aku.

Tak ada yang mengerti.

Tidak ada yang benar.

Bukan salah ayah, kan?

Tolong ayah pikirkan.

Tadi aku lihat gadis cantik.

Assalaamu'alaikum.

Raja ada?

Aduh, siapa orang ini?

Nazmi.

Akang Hassan.

Jal.

Iya, Bang Nazmi.

Ibumu tahu tidak kau bekerja di sini?

Tentu saja, dia tahu.

Mengikuti langkah idolaku.

Seharusnya kau belajar dari kesalahanku.

Jangan jadi orang bodoh seperti aku.

Hei, urus saja urusanmu sendiri.

Adik pelacurmu pun bahkan lebih buruk.

Adikku pelacur?

Iya lah.

Sangat bodoh kalau dia berurusan dengan Raja.

Nazmi.

Bagaimana dengan kakakmu, Najwa?

Maklum, aku belum lama kembali kemari.

Jadi, aku belum tahu kabarnya.

Tolong jangan marah bila aku bertanya ini:

Apa benar dia meninggal?

Overdosis narkoba?

Benar ternyata, Innalullaahi...

Benar kata orang-orang.

Jangan menjadi pecandu

Jadi mati konyol.

Ifrit.

Lama tak jumpa.

Wow, "Lambor-bikini"!

Aku tidak menyangka abang masih bekerja di sini.

Sudah sangat lama.

Apa Raja tidak memberimu skema pensiun?

Tidak lucu, ya?

Nazmi.

Jika suatu saat akang Hassan menghadapi abang Ifrit di atas ring?

Kira-kira siapa yang menang?

Pertarungan antara seorang Petarung Legendaris.

dengan Pengawal Misterius Tn. Raja.

Siapa yang akan menang?

Hassan.

Hassan?

Ini untuk Ho Chi Minh.

Ini untuk Geylang.

Kau pikir kau bisa ambil uangku, hah?

Tn. Raja.

Hassan Munas.

Kau benar-benar kembali

Sudah lama. Duduklah

Tak perlu tuan, aku tidak akan lama.

Ah, aku lupa. Sekarang kau Letnan Hassan.

Pensiunan letnan, tuan.

Jangan panggil tuan.

Panggil aku Raja saja.

Nah, pensiunan letnan.

Raja.

Saya datang kemari dengan permintaan yang tulus.

Bisakah kalau Raja...

tidak mengganggu adik dan ayah saya?

Ya, soal utang saya memahaminya.

Saya akan mencari cara untuk melunasinya.

Saat ini saya berharap...

Raja bersabar dan...

tidak mengganggu mereka, itu saja.

Hassan.

Duduklah, Hassan.

Tidak Apa.

Hassan! Duduklah.

Pertama-tama, Hassan. Kau tahu peraturannya

Aku tidak akan membiarkan orang...

yang tidak aku percaya masuk.

Dan aku pun kasihan dengan orang

yang menghancurkan kepercayaanku.

Ya, saya mengerti.

Kedua.

Tentang adik dan ayahmu.

Lihatlah.

Tidak seperti dirimu.

Kau mengerti aku.

Kau melayaniku dengan baik.

Dan kita berdua banyak menghasilkan uang.

Ketika kau di atas Ring.

Kau seperti ibumu.

Kalian berdua bisa melihat kesempatan yang aku berikan kepada masyarakat.

Tapi Zain, dia lebih seperti ayah kalian.

Keras kapala.

Tak bersyukur!

Dia pertaruhkan uang

yang dia sama sekali tak punya.

Dia menantang Vee

Dia buat pengumuman kepada semua oang kalau dia akan mempermalukan Vee.

Dan dia berkata, "Anak haram Raja yang tidak bermoral."

Jadi, jika Zain yang memintamu datang kemari...

Tidak, dia tidak meminta.

Aku tak habis pikir!

Kalau Zain yang memintamu datang, tanyakan padanya...

Di mana keberanian dan keangkuhan dia dulu.

Senang berjumpa denganmu, Hassan

Tapi urusanku bukan denganmu.

Jadi kalau Zain mau membicarakannya.

Suruh dia sendiri datang ke sini.

Terima kasih, Raja.

Ifrit.

Stop, maaf sebelah sana jalan masuk.

Jalan keluar sebelah sana.

Tunggu.

Sebelum Nazmi memberi isyarat kepada kalian untuk menghajarku.

Dengarkan aku dulu.

Mi, maafkan aku, Mi.

Seharusnya tadi aku tidak berkata seperti itu tentang kakakmu.

Aku pikir lebih baik jika kau menghentikan rencana untuk menghajarku.

Ngomong apa kau, kampret?

Isyarat apa yang kau bicarakan?

Kuau tahu, isyarat shooting film seperti, "Action! Cut!"

Atau mungkin teriakan, "Go, go, go"?

Aku tahu kau akan berteriak, "Attack!", benar kan?

Sudah!

Tutup mulutmu dan terus jalan keluar.

Atau kau akan berteriak "Serang!"?

Seperti film perang. Aku hanya bercanda.

Serang!!

Kejar dia!

Kejar dia!

- Hey, kejar dia! -Kejar dia!

Aku sungguh-sungguh minta maaf soal kakakmu.

Seharusnya tadi aku tidak berkata begitu. Dia juga sama-sama korban.

Jangan jadi seperti kami. Kamu masih bisa pergi dari tempat ini.

Aku sungguh-sungguh minta maaf.

Assalaamu'alaikum.

Listrik mati pun gara-gara mereka juga ,kah?

Di mana Ayah?

Zain!

Aku tahu kau marah padaku, tapi kau tidak harus...

Kau tidak marah lagi padaku kan, Zain?

Sudah hampir delapan tahun.

Tadi kau pergi menemui Raja, kan?

Sudah aku duga.

Tidak ada orang yang keluar dari tempat Raja

tanpa memar-memar.

Ini bukan karena Raja.

Anak buahnya yang tak puas denganku.

-Ya, benar! -Neng, tunggu!

Sakit, kampret!

-Benar, kan? -Aku jitak kau nanti.

Coba saja!

Bisa-bisanya lututmu menyerang aku?

Aku sudah lama menantikannya.

Siapa yang mengajarkanmu

untuk menendang orang seperti itu?

Yang pasti bukan kau. Kau kemari bukan untuk mengajarku.

Aku tahu kau marah padaku.

Aku pun tak menyangka akan pergi selama itu.

Dan tiba-tiba, aku berkahir di Kamp Sungai Udang.

Aku menjadi pasukan khusus.

Zain.

Aku rasa kita masih ada kesempatan untuk berunding dengan si Raja.

Besok ikutlah denganku untuk menemuinya.

Setelah semua ini selesai, aku ingin kau dan ayah

ikut bersamaku ke Machang.

Aku ingin kami melarikan diri?

Au menyaksikan dengan mataku sendiri.

Apa bagusnya tempat ini?

Dunia luar sana lebih baik daripada tempat ini.

Aku hanya minta satu hal.

Bisakah kalian mengesampingkan ego? Cuma itu yang aku minta.

Hei, ini tak ada kaitannya dengan ego.

Apa? Kau pikir kau bisa keluar dari sini

dan membawa kami pergi denganmu lalu semua masalah akan hilang?

Kau dengar du...

Aku tak percaya kalau kau sudah berubah

semenjak kau jadi tentara.

Sang pelindung negara.

Kau bahkan tak mampu melindungi keluargamu sendiri.

Kau pikir apa yang sedang aku lakukan sekarang?

Kau pikir rencanamu itu melindungi??

Apa yang aku dengar dari recanamu hanyalah selalu melarikan diri dari masalah.

Hanya itu yang kau tahu!

Dik!

Kampret!

Tempat ini panas seperti neraka.

Kau mau ruangan ber-AC, Alvin?

Kipas angin itu umurnya hampir sama dengan anakku.

Sudah jelek.

Kampret.

Kita bisa laporkan ke Disnaker nih.

Disnaker GAK GUNA!

Hei!

Hei, kenapa?

Tak perlu berkata kasar?

Kenapa kau bakar?

Kalian kerjanya mengamuk saja.

Hei, kalian pikir Raja akan percaya pada kami atau pada kalian?

Hei, Bang! Tak usah meladeni mereka.

Kau tahu siapa yang mengirim mereka, kan?

Hei, kampret!

Ini akan dipotong dari gajimu!

Hei, anak gadismu semakin seksi saja!

SAYA TELAH DILINDUNGI PERLINDUNGAN MEDIA

Aku sudah menemukannya.

Pak Hamid.

Hoy.

Rokok sebungkus.

Hassan!

Boon!

Tanganmu keren juga. Itu tato baru?

Seperti David Beckham.

Tato, kepalamu.

Kau tahu? Semalam, adikku menyerang mukaku dengan lututnya.

Aku kira kita ini teman. Seharusnya kau ajak aku.

Aku pun ingin menjebloskan Raja ke dalam penjara

Kau ke sana sendirian, keluar dari sana sudah pasti babak belur.

Aku tak bilang akan menjebloskan Raja ke dalam penjara.

Kenapa? Cemas dengan apa yang mereka pikirkan tentang kau?

Kau lihat, kan?

Aku bukan satu-satunya orang yang mendengar tentang agenda kecilmu kemarin.

Pagi ini, mereka melihat kau mengobrol dengan polisi pula.

Bagaimana mungkin mereka tidak terganggu?

Bagaimana mereka tidak terganggu, mereka bahkan tidak menyukaimu.

Itulah yang aku tidak mengerti.

Aku hanya ingin membantu mereka.

Kalian seharusnya senang jika aku menangkap Raja.

Borokokok!

Mungkin mereka terlalu lama hidup di bawah Raja.

sampai takut hidup tanpa dia.

Jadi mereka pun menutupi kerja kotor dia.

Kerja sapu-sapu sampahku jadi makin sulit saja.

Semoga berhasil "sapu-sapu sampah" nya.

Hassan, jangan jadi seperti mereka.

Kita kerja sama. Tujuan kita sama.

Bagaimana hasil negosiasi dengan "Raja Perampok" itu?

Ayah masih bisa tertawa? Dia boss ayah juga.

Inilah akibatnya kalau ayah masih bersikukuh tinggal di sini.

Kau ini, tak berubah.

Ayah, tolong ayah bujuk Neng.

agar dia pergi bersamaku menemui Raja malam ini?

Kita minta maaf pada Raja.

Siapa tahu Raja mau mengurangi beban utang Neng?

Setelah itu, kita tinggal tempat ini.

Kita?

Maksudmu kita semua?

Kita semua ada di tempat ini karena Raja telah menghancurkan rumah kita.

Kita tinggal di daerah kumuh dan di atas tanah sengketa!

Tanah yang dia beli.

Dia menghadiahkan kita rusun ini dan pekerjaan untuk kita, ayah.

Kau pikir pekerjaan terkutuk di pabrik seperti neraka itu sebuah hadiah?

Bekerja dua puluh jam sehari, tujuh hari dalam sepekan!

Gaji tidak seberapa kau katakan itu hadiah?

Raja menyudutkan kami dan kami tak ada pilihan.

Kalau ayah pintar, kenapa ayah mau menerimanya?

Langkahi mayat aku dulu!

Tempat ini sudah menghancurkan aku delapan tahun lalu, ayah.

Lalu semalam?

Besok? Zain juga?

Kau ini.

Perkataanmu seperti mendiang ibumu saja.

Kau ingat kan?

Ingat?

-Saat dia membantah aku-- -Aku ingat!

Sangat!

Itulah sebabnya ibu tidak tahan tinggal lebih lama dengan ayah.

Tapi bukan karena tempat ini.

Beruntung ibu sudah meninggal.

Kalau tidak, ibu pasti murka,

melihat betapa keras kepalanya ayah hingga menghancurkan putrinya.

KAMPRET!

Akang.

Zain, cepatlah!

Diam!

Aku ikut dengan kau karena permintaan ayah.

Santai saja!

Setelah ini, kita tidak perlu menghadapi Raja lagi.

Menurutmu Raja mau mendengarkanmu?

Kita bisa keluar dari sana hidup-hidup pun sudah beruntung.

Apa kau tahu Raja pernah hendak membunuh kita?

Mana aku tahu? Dia kan mantan boss-mu!

Dik.

Negara kita ada undang-undang.

Kita tahu perangain Raja seperti apa, jadi jangan memancing dia.

Aku pun tidak mau memancing dia.

Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku saja.

Kita lihat apa yang dia katakan. Aku mengerti.

Boss.

Raja.

Harus aku akui, aku terkesan, Hassan.

Aku tak menyangka kau bisa meyakinkan dia untuk datang.

Tidak.

Jadi?

Jadi?

Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?

Iya, ada.

Aku...

"Saya".

Saya...

Saya minta maaf.

Atas kata-kata saya,

dan kelakuan saya, oke?

Saya minta maaf karena selama ini saya tidak bersyukur

atas semua yang telah Raja berikan kepada kami.

Itu saja.

Aku hargai permintaan maafmu.

Sementara itu, aku harap ayah kalian tahu bahwa aku hanya berusaha membantu.

Tapi itu tidaklah cukup.

Aku dihina.

Aku dan keluargaku.

Jadi aku yang akan menentukan

bagaimana caranya agar menjadi seri!

Apa yang kau katakan?

Berlutut.

Makan.

Lakukan!

Kau mau membiarkan ini terjadi?

Aku hanya ini semua ini berakhir, dik.

Kampret.

Itu dia.

Sesuai denganmu.

Nikmati.

Oke, cukup.

Pulang dari sini bantu aku mensucikan ini.

Tak kusangka kau sanggup melakukannya.

Itu baru menutupi 40% dari utangmu kepadaku.

Empat puluh persen?

Cuma segitu?

Titip salam untuk ayah kalian.

Aku ingin bertarung dengan mereka.

Hassan, Zain.

Bagaimana kalau kalian punya kesempatanuntuk membersihkan

100% utang kalian

di atas Ring?

Raja, sebenar...

Ayo!

Entahlah, dik.

Aku pikir kita tidak harus bertarung.

Kau biar aku kunyah,

telan makanan anjing.

Sekarang giliran aku yang memintamu.

Kita masih punya kesempatan, untuk membatalkan pertarungan ini.

Bukannya kau yang mau semua ini berakhir?!

Kau yang mau aku dan ayah ikut bersamamu ke Machang, kan?

Kang, kalau kita bisa menang, kita bisa tinggalkan rusun itu.

Kita bisa benar-benar bebas.

Jadi kau setuju ikut denganku?

Kalau kita menang, biar aku yang membujuk ayah.

Kalau kita kalah?

Aku pernah melihat adik si Vee itu bertarung.

Dia memang kuat, tapi dia sering kali ragu.

Tapi kalau kau adalah kakak yang dulu aku kenal.

kau tak perlu cemas.

Bagaimana dengan Vee?

Vee? Dia bagianku.

Biar aku yang beri si kampret itu pelajaran.

Ayo!

Bersedia!

Itu dia. Sesuai dengan kau!

Cukup! Cukup!

Sudah!

Hore! Siapa yang berani menantang kakak beradik ini, hah?

Ayolah, akang!

Bisakah kau sedikit bersemangat.

Jadi, kau setuju ikut denganku ke Machang?

Oke-oke. Soal ayah biar aku yang urus.

Dia pasti mendengarkan aku.

Kau sudah tak marah denganku kan, dik?

Kau tahu tidak betapa senangnya aku melihat kau kembali ke atas ring?

Waktu aku kecil, tiap kali kau bertarung,

Aku pasti diam-diam keluar rumah untuk melihatmu bertarung.

Aku tak pernah melewatkannya.

Aku selalu meneriakan namamu seperti orang gila.

Aku tahu.

Di atas ring, kau sangat berbeda. Kau kuat.

Tak takut apapun.

Aku ingin seperti kau.

Tapi sekarang sepertinya, kau malah lebih berani daripada aku.

Bukan itu intinya, akang.

Oke, intinya apa?

Terus terang saja.

Dulu kalau di rumah...

melihat ibu dan ayah berdebat.

kau suruh aku sembunyi.

Kalau ketahuan nakal, kau pastikan kau duluan yang kena.

asalkan aku selamat.

tapi suatu hari, kau tidak ada di sana.

Kau hilang. tinggalkan aku begitu saja.

Kehidupanku menjadi hancur.

Buruk.

Lalu aku mulai bertarung di atas ring.

Aku kira aku bisa menjadi seperti kau.

Jujur aku katakan, dik.

Saat aku pergi, aku benci diriku sendiri.

Dulu, yang aku tahu hanyalah bertarung. Hanya itu yang aku bisa, dik.

Kalau aku pulang ke rumah,

Ibu dan ayah selalu bertengkar. Aku bingung.

Aku orangnya emosional.

Aku takut tiba-tiba menyakiti mereka.

Aku bisa menyakitimu juga.

Aku bertarung di atas ring agar emosiku tersalurkan.

Tapi malah semakin buruk..

Sampai akhirnya aku jadi tentara. Mereka mengajarkan aku disiplin.

Karena itulah aku menjadi orang yang lebih baik.

Aku mengerti.

Yang aku tidak mengerti adalah kenapa kau memutuskan

meninggalkan aku menghadapi semua ini seorang diri.

Aku berjanji, tidak akan meninggalkan kau sendiri lagi.

Tapi sampai kau menikah, tentu saja. Lalu kau pergi mengikuti suamimu.

Kau bukan masalahku lagi.

Kita pergi ke Kelantan.

Kau pikir ada pria yang mau dengan wanita seperti aku ini?

Mana ada.

Wajahmu mirip Ariel Peterpan

Kurang ajar kau?

Kau pikir aku tak akan laku?

Kampret!

Dik. Arah jam enam, ada yeng mengkuti kita.

Jangan dilihat!

Jangan dilihat.

Teman kau bukan?

Bukan.

Lari.

Akang!

Jangan seperti ini, Vee!

Kita sudah ada kesepakatan dengan ayahmu.

Tidak ada kaitannya dengan ayah kami.

Neng!

Adik!

Adik!

Adik!

Akang, bangun!

Akang, bangun, kang?

Bangun!

Bangun, kang!

Bangun!

Bangun!

Berdiri, kang!

Kita harus pergi!

Ayo!

Ke sini.

Boss, anak-anak Munas tidak ada di dalam bis.

Bawa dia keluar!

Beritahu orang-orang kita di rusun.

Kita cari Munas.

Baik, boss.

Semuanya bergerak ke rusun Raja Merah sekarang, cepat!

Sini.

Ayah tidak angkat telponnya.

Cepat, dik!

Diam di sini.

Hei! Bergerak!

Ini!

Cepat!

Nazmi, ayo bergerak!

Iya

Ayah!

Ayah, keluar dari rumah.

Sesuatu yang buruk telah terjadi!

Raja pasti telah mengirim antek-anteknya untuk mencari kami di sana.

Dia datang sendiri.

Ayah, pergi dari sana! Masih sempat!

Walaupun sempat, ke mana aku harus pergi?

Ayah!

Orangtua kepala batu!

Tunggu di sini.

Halo, Munas.

Wa'alaikumussalaam.

Aku harap kau tidak keberatan

kalau aku masuk.

Kau tak pernah bertanya waktu menghancurkan rumahku, dulu

Masih tentang masalah itu?

Di mana anak-anakmu?

Entahlah, aku sudah mengusir mereka.

Mereka tidak akan kembali ke sini.

Tepat!

Kita sepatutnya lindungi anak-anak kita.

Aku dengan cara aku.

Kau dengan cara kau.

Tapi malam ini...

karena kau sudah mengajari anak-anakmu dengan baik.

aku gagal melindungi anak-anak aku.

Jadi,

semua ini salahmu.

Tapi memang selalu salahmu.

Karena kau akan segera mati, baiknya aku beritahu kau sekarang.

Meskipun kita bermusuhan,

aku selalu menghormatimu.

Raja.

Kau bisa saja terus menyiksa orang-orang tak berdosa di sini.

Tapi ketika mereka punya sudah kekuatan, sudah cukup harinya

mereka akan melawanmu.

Dan ketika hari itu datang,

kau akan menyesal sudah melakukan semua kekacauan ini.

[Nazmi] Halo

Saya hendak melaporkan situasi gawat. [Nazmi] Halo

Saya hendak melaporkan situasi gawat.

Sebab, ketika orang teraniaya mulai bangkit,

akibatnya hanya tuhanlah yang tahu.

Seharusnya aku menghabisimu sejak dulu.

Itu satu-satunya kesalahan aku.

Masuk!

Allahu Akbar!!

Ayah!

Minggir!

Neng!

Akang!

-Apinya terlalu besar! -Ayah!

Sudah terlambat!

-Ayah! -Bahaya! Kau tahu bahaya tidak?

Sudah!

Zain!

Ayah!

Cukup!

Zain, dengarkan aku!

Ayah sudah meninggal, Neng.

Neng!

Kau tak pantas memegang golok ayahku!

Woy! Mereka sudah kembali!

Masuk! Serang!

Serang!

Cepat!

Neng! Neng, mau ke mana?

Aku akan cari Raja, dan akan aku habisi dia.

Walau aku sampai harus mati bersamanya. Aku tak peduli!

-Tolong jangan bertindak bodoh! -Aku bodoh? kau yang bodoh!

Ini semua gara-gara kau. Kau tak pernah peduli dengan kami!

Kau yang tak pulang ketika ibu meninggal.

Sekarang rasakan olehmu sendiri!

Sana kau kubur ayah sendiri!

Tapi ini bukan saatnya kita berdua pergi menghadapi Raja, faham?

Hoy, mereka di sini! Cepat-cepat!

Kampret!

-Berhenti! -Hei!

Hassan, jatuhkan golokmu.

Mereka membakar ayahku hidup-hidup.

Oke, Hassan. Jatuhkan golokmu dulu.

Hassan, aku mohon!

Peristiwa ini

bukan kesalahan siapa-siapa.

tapi kesalahan kalian.

Semuanya karena kalian...

Karena kalian, kalian semua!

Kalian senang hidup menjadi budak, kan?

Inilah yang terjadi dengan budak!

Hari ini Munas yang mati!

Besok siapa lagi?

Hassan, coba kau katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi

Kami menemukan sebuah bis. Kecelakaan.

Katanya mayat anak Raja ada di dalam bis itu.

Tapi ketika aku sampai di TKP, aku tidak menemukan mayatnya.

Kau tahu sesuatu tentang itu??

Kau tak mengerti.

Aku tak mengerti?

Aku tak mengerti?!

Kau lah yang tak mengerti, Hassan.

Kau tahu tidak?

Aku sama sepertimu!

Aku ingin pergi dari tempat ini, kau tahu?

Kedua orang tuaku meninggal, karena terlalu lelah bekerja.

Kau tahu yang kemduan terjadi?

Setelah itu, aku kerja siang dan malam untuk menangkap penjahat itu.

Kau tahu kenapa sampai sekarang aku tidak mau menyerah?

Itu karena...

saat aku melihat keluargamu, sama dengan keluarga-keluarga lainnya

yang terperangkap di rusun itu.

Aku melihat mereka sedang menunggu nasib yang sama dengan orang tuaku.

Kau benar, Boon.

Tujuan kita sama.

Kali ini aku tak akan menghindar.

Yang aku inginkan saat ini adalah menghabisi Raja.

Aku rasa Zain sekarang sedang mencari Raja.

Kau cari dia dan suruh dia pulang.

Lalu, kau buat kekacauan di pabrik itu.

Kami tahu di pabrik itu dia tidak hanya memproduksi kondom saja.

Oke, dengarkan aku.

Di dalam ruang pencelupan.

Ada sebuah ruangan di sisi kanan ujung aula.

Ruangan itu dijaga oleh pengawal pribadi Raja.

Kau beri kami kesempatan untuk bisa masuk ke ruangan itu.

Tunggu. Dari mana kau tahu semua informasi itu?

Menurutmu dari siapa?

Aku tak tahu.

Tahu?

Pukul aku!

Apa?

Pukul aku!

Pukul batang hidungku, sampai berdarah.

Beneran?

Beneran. Ayo!

Maaf, Boon.

Ah, tak usah lah.

Cepat!

Aduh! Kenapa kau pukul aku juga?

Cepat, pergi sana!

Berhenti, woy!

Jalan-jalan-jalan!.

Semuanya lancar hari ini? Apa ada masalah?

-Kau sudah mengeceknya? -Iya.

Baik.

Hei!

Apa yang lakukan di sini?

Hei! Kalian mau ke mana?

Kembali bekerja!

Hei!

Ini anak Munas yang kau bilang seksi itu?

Tidak tahu.

Hei, pergi sana.

Dia cuma perempuan, bantet pula.

Kau duluan.

Sana! Badanmu lebih besar.

Yah, jatuh!

Ah, bang maaf!

Yah!

Neng!

Akang.

Hei, kau baik-baik saja?

Baik-baik saja.

Hei, minggir-minggir.

Bagaimana? Masih berani?

Ayo!

Telepon siapa itu yang bunyi?

Cepat angkat! Nada dering memalukan!

Iya! Telepon siapa itu?

Memalukan!

Halo, bang Nazmi.

Faizal!

Cepat pulang. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu.

Hei, sampai kapan kau mau membela si Raja

mati-matian, hah??

Sudah cukup, kamu pulang sekarang juga!

Abang, pulang sekarang ya. Raja telah membunuh Munas.

Kita harus memikirkan anak-anak kita.

Angel! Kau di mana?

Aku merindukan mu.

Hei!

Saya dapat lima kali panggilan tak terjawab.

Dari Papa dan Mama.

Bawakan kepala mereka.

Dengan senang hati, boss

ikut aku!

Kau mau bawa aku ke mana?

Aku tak akan kabur!

Aku juga.

Hei, keluar dari sini!

Hei!

Pergi!

Pergi!

DILARANG MEROKOK

Akang, apa ini?

Keluar!

Keluar!

Ini shabu.

Sudah aku duga.

Bagaimana kau tahu tempat ini?

Ayah.

Ayo kita bakar.

Kita bakar semua!

Neng!

Kang!

Neng! Larilah! Bahaya!

Cepat-cepat!

BAHAYA! JANGAN MASUK HANYA PERSONEL YANG BERWENANG.

Kenapa?

Boon akan mengurus semua ini.

Kalau kita mengejar Raja, kita harus bergegas.

Ayo!

Akang!

Neng!

Bangsat!

Yang itu tajam.

Neng.

Kau baik-baik saja?

Kau tunggu di luar, Neng.

Gundulmu, kita pergi sama-sama!

Tunggu di sini!

-Akang! -Bisa tidak kau turuti aku?

Mereka yang melatih aku.

Aku tahu bagaimana menghadapinya.

Aku cuma punya kau.

Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan kau

Jadi, kau tunggu aku di luar.

Mengerti?

Anakmu sudah mati.

Untuk apa kau masih ingin hidup?

Mereka sudah membuat pilihan.

Sama seperti ayahmu.

Kau dan semua orang harusnya mengerti.

Apa yang aku bangun di sini.

bukan untuk aku saja.

Aku rela.

Aku ingin membantu masyarakat.

Dan siapa dari masyarakat, yang pantas berbagi semua ini denganku, Hassan?

Siapa lagi? Kalau bukan kau.

Persetan.

Kau ular dan kau berbahaya! Kau Raja Penipu!

Dan yang paling buruk!

Kau bunuh ayahku, Raja!

Kau tahu?

Aku lebih layak menjadi ayah bagimu

dibanding dia selama ini.

Hanya aku yang mampu mengeluarkan potensi besarmu.

Selama kau masih hidup, selama itu pula orang-orang akan tunduk padamu.

Bayangkan,

apa yang bisa kita lakukan bersama.

Sepertinya kau tidak cukup mengenal aku.

Akang!

Seharusnya sedari awal kami mendengarkan permintaanmu.

Ketika kau mengajak kami pulang ke Machang.

Kalau saja kami menuruti perkataanmu, semua ini tak akan terjadi.

Neng.

Kau benar, neng.

Semua ini salahku.

Polisi akan menyerbu tempat ini, karena pabriknya terbakar.

Kemudian, Raja aka dijebloskan ke dalam penjara dan semua orang akan bebas darinya.

Lalu bagaimana dengan kau?

Sudah lama ditunggu,

Seseorang yang berdiri melawan Raja dan menyeret dia ke pengadilan.

Jika ada yang masuk penjara karena semua itu,

hanya aku yang bisa, Neng.

Hanya aku, tidak dengan kau.

Kalau kau sampai masuk penjara bersama aku,

sia-sia aku kembali kemari untuk menyelamatkan keluargaku, Neng.

Sia-sia.

Jaga dirimu, Neng.

- Garis polisi. - Siap.

Paramedik.

Apa dia mati?

Kalau dia mati, buat apa aku susah payah menyeretnya?

Kau benar!

Hei, Boon, apapun yang mereka katakan.

Adikku tak ada hubungannya dengan semua ini.

-Janji? -Janji!

Nah, borgol aku!

Kenapa? Kau mau ke mana?

Gedung ini akan meledak, cepat.

Hassan!

-Hassan! -Pahlawan!

-Hassan! -Pahlawan!

-Hassan! -Pahlawan!

-Hassan! -Pahlawan!

Kenapa kau tersenyum?

Senang kau jadi pahlawan?

Tidak.

Aku hanya berharap semoga ayah bangga padaku.

-Hassan! -Pahlawan!

-Hassan! -Pahlawan!

Zain.

Tentaralah yang mengajarkan aku disiplin. Dan membuatku menjadi orang yang lebih baik.

Jaga diri, Neng.

...di Astro Awani dan astroawani.com

SPC Oil Power Plant melanjutkan operasinya

satu tahun setelah tragedi dimana 62 pegawainya

dijadikan sandera bajak laut.

Mereka berhasil ditumpas oleh pasukan PASKAL.

Dalam upaya mereka membajak kilang minyak

dipimpin oleh Rudy Pajor yang ditembak mati.

saat dia mencoba melarikan diri kelautan.

Alih bahasa oleh: Why_Hyde IDFL.ME Subscrew Cikarang Selatan, 23 Juni 2020 - 01:38 AM.

Mau cetak : Brosur, ID Card, Undangan, Kartu Nama, Nota Continous Form, Buku, Company Profile, Kalender, Stiker, Banner,dll?

Hubungi: TSR DESIGN AND PRINTING - Solusi Cetak Anda! WA: 0857-8256-1215 IG: @tsrdesignandprinting Surel: tsrdesignandprinting@gmail.com

TAMAT

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.