Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
FILM NETFLIX ORIGINAL
KEPRESIDENAN BENGGALA, INDIA
Hei, kenapa kau melepas bunganya? Ayolah.
Bulbbul!
Bulbbul!
Bulbbul!
Bulbbul!
Di mana gadis itu?
Kena kau!
Naik pohon lagi!
Dia siapa, Bibi?
Dia agak berantakan...
tapi akan kami bawa.
Hei!
Dia benar!
Kini aku harus menyiapkanmu lagi.
Bibi, kenapa aku harus memakai cincin jari kaki?
Karena ada saraf di sini...
yang jika tidak ditekan, bisa membuat gadis terbang.
Seperti burung?
Tidak. Ini untuk mengendalikanmu.
Bibi?
Mengendalikan? Apa itu?
Bibi!
Ayah? Bibi!
Kau sedang apa, Sinting?
Dia pasti ketakutan.
Bibi.
Bibi.
Mau mendengar cerita?
Apakah cerita seram?
Ya.
Tentu!
Dahulu kala,
ada seorang penyihir!
Dia tinggal di pepohonan.
Di hutan gelap yang lebat.
Bentuk kakinya terpelintir.
Iblis haus darah itu menunggu...
dan terus menunggu hari...
saat sang putri akhirnya tiba...
agar dia bisa menelannya.
Boneka!
Mahendra!
Aku melarangmu kemari, bukan?
Boneka lucu.
Binodini.
Dia adalah suamimu. Kau tak bisa mengawasinya?
Maafkan aku, Tuan!
Mahendra.
Saudaraku.
Dia masih anak kecil.
Di mana dia?
Siapa?
Suamiku.
Dia adalah aku.
Tidak. Kalian sudah dewasa. Dia masih kecil.
Dia bersamaku di joli.
Dia bercerita kepadaku.
Namanya...
adalah Satya.
Saat kau dewasa, kau akan paham perbedaan
antara suami dan saudara ipar.
20 TAHUN KEMUDIAN
Pelan-pelan!
Maaf, Tuan Satya.
Tempat ini tak aman. Ada ancaman di sini.
Dia tinggal di sini.
Siapa?
Sang penyihir.
Kau sudah bangun?
Tidurlah. Akan kubangunkan begitu tiba di wastu.
Apa Nyonya sudah tidur?
Sudah, Tuan.
- Perlu kusajikan makanan? - Tidak perlu.
Jangan marah, Nyonya.
Sudah terlambat.
Apa reaksi Istri pertamamu?
Mereka akan hidup rukun bersama.
Pergi!
Jika ada masalah, kau akan berurusan denganku.
Tampaknya kau pemimpin bijak.
Satu,
dua,
tiga,
empat,
lima,
enam,
tujuh, delapan,
sembilan,
sepuluh,
sebelas, dua belas...
- Lalu? - Tiga belas...
- Empat belas... - Lalu penyihirnya meniup semua lilin
di kamar putriโฆ
Bodoh!
Lalu?
Dia mendekati ranjang putrinya, dan...
Kenapa kemari?
Aku tahu! Kau datang untuk memeriksa warisanmu, ya?
Kakak Ipar.
Kau menghilang selama lima tahun.
Mustahil mendadak kau rindu aku.
Aku menulis surat kepada Tuan,
dan menanyai kabarmu.
Dia tidak membalasnya.
Aku ingin datang tiga tahun lalu
saat kakak Mahendra
terbunuh.
Mereka bilang...
penyihir membunuhnya.
Kau percaya omong kosong itu?
Tentu tidak.
Binodini yang bilang begitu.
Lima tahun terakhir, banyak hal berubah
Bahkan Tuan meninggalkan rumah.
Apa yang terjadi?
Kau ingin menemui Binodini?
Kakak Ipar Binodini.
Adik Ipar Satya?
Dewi tidak berbuat baik kepadaku.
Kenapa, Kak?
Bagaimana bisa menjadi pendeta, tapi juga mengutuk Tuhan?
Doa-doaku terasa seperti ratapan.
Menghabiskan hidupku terus berdoa...
dan lihat...
apa balasannya.
Aku khusyuk berdoa saat penyihir itu membunuhnya.
Kini, bahkan jika ada yang meninggal karena demam,
orang-orang menyalahkan penyihir.
Hei!
Mahendra sakit demam?
Dia terbaring bersimbah darah.
Kau pun melihatnya.
Kakak Ipar.
Itu seperti serangan hewan.
Kau ingat dahulu kakak Indranil...
sering bercerita soal pemakan manusia.
Ada jejak kaki terpelintir berdarah
di lantai.
Pelakunya penyihir!
Omong kosong itu lagi.
Tidak ada penyihir di kerajaan kita,
Dia mendarat dari mana?
Dari pepohonan.
Hei!
Lalu?
Dia mendekati ranjang putrinya, dan...
Kalian sedang apa dalam gelap?
Astaga, kenapa kau merusak semuanya?
Maafkan aku, Nyonya.
Aku kemari untuk mengatakan bahwa suamimu membutuhkanmu.
Kenapa?
Aku tidak tahu,
padahal aku yang sudah merawatnya,
tapi dia masih menginginkanmu.
Entah kenapa,
dia masih ingin Bulbbul-nya.
Bagaimana cara memberi tahu dia bahwa istrinya hanya menginginkan Satya...
Dia tidur pada siang hari,
dan berburu pada malam hari.
Baiklah.
Aku ikut berburu saat malam.
Kurasa Binodini takkan puas sampai kau memajang kepala penyihirnya
di dinding bersama semua trofi lainnya.
Harimau,
rusa,
penyihir!
Ke mana gadis kecil manis yang kukenal menghilang?
Kau mengapakan dia?
Aku memakannya.
- Di mana Nyonya? - Di bawah. Di beranda.
Kau terobsesi dengan kakiku.
Kau sangat jeli!
Hei, kau sudah bertemu Dokter Sudip?
Dokter?
Kau tak apa-apa?
Ya.
Dia kemari untuk menongkrong.
Aku akan pergi.
Aku harus memeriksanya.
Kapan guru itu mengubah jalannya?
Guru? Siapa?
Guru Dinkar.
Dia pria yang baik.
Tulang istrinya yang patah menceritakan kisah lain.
Dia juga tak membantu. Dia selalu berkata,
"Aku jatuh dari tangga."
Mungkin itu benar.
Hanya satu rumah di tempat ini yang punya tangga.
Nyonya.
Berapa kali kau kularang memanggilku nyonya?
Terserah kau... Nyonya.
Mau ikut berburu dengan Satya?
Aku menyelamatkan nyawa. Aku tak tahu cara merebutnya.
Tuan.
Kenapa kau tampak sangat kesal?
Karena kau bersama pria.
Pergi.
Kau tak terlambat untuk berburu?
Guru Dinkar.
Ya, Tuan.
- Hanya ini yang ikut? - Semua orang takut penyihir...
Hentikan omong kosong itu. Ayo!
Tuan Satya!
Setidaknya kini kau tahu bahwa memang ada penyihir.
Pembunuhnya
bukan makhluk gaib,
tapi pria.
Hubungi polisi bahwa ada yang membunuh Guru Dinkar.
Baik, Tuan.
Aku tinggal dekat sini.
Kita bisa simpan jasadnya di sana.
Kau tinggal dekat hutan.
Kau melihat
atau dengar sesuatu?
Tidak.
Tak ada apa pun.
Baik manusia...
atau hewan.
Tak ada apa pun.
Bagaimana perburuannya?
Guru Dinkar terbunuh
Pelakunya bukan binatang.
Ini ulah seorang pria.
Kenapa?
Kenapa bukan wanita?
Wanita mana yang tega bertindak sejahat ini?
Nyonya.
Rasanya seperti dahulu.
Kalian berdua
sedang mengobrol.
Kenapa kemari?
Satya tak memberitahumu?
Dia memintaku datang.
Katanya kau...
sendirian di sini tak terlindungi, siang dan malam.
Siapa pun bisa kemari dan memanfaatkanmu.
- Jadi... - Bukan!
- Aku... - Aku hanya berpikir...
Ini perayaan meninggalnya Mahendra.
Kita semua akan bersama,
dan kau akan menggelar doa bersama untuknya.
Benar?
Aku akan menemuinya.
Ada aku. Kau tak perlu mengurus ini.
Sebaiknya kita tetap pada posisi kita.
Kau nyonya rumah, bukan tuan rumah.
Bukan begitu?
Maksudku adalah...
kau tak perlu repot mengurus segala hal.
Kau tampak lelah.
Atau mungkin warna abu-abu
tak cocok untukmu.
Semua orang tak seberuntung dirimu,
tetap cantik bahkan dalam pakaian berdukamu.
Astaga
Kau wanita tak tahu malu
Kenapa kau berjalan menyusuri
Jalan di kebun saat kau tahu itu mengarah ke bajingan itu
Nyonya!
Ayo!
Duduklah.
Mari kita minyaki rambutmu.
Nanti saja.
Toko perhiasan mengirim barang baru.
Ayo lihat!
Ini sangat bagus.
Setidaknya pilih perhiasan kecil karena kau tak dapat apa pun dari rumah.
Kau tampak seperti wanita rendahan hanya memakai maskawin.
Bagaimana jika orang bilang
aku yang cocok menjadi nyonya rumah daripada kau.
Aku tak peduli.
Kami tahu. Kau tak peduli pendapat orang-orang.
Setidaknya ambil cincin kaki baru.
Punyamu mulai longgar.
Akan kuambil nanti.
Astaga
Kau wanita tak tahu malu
Kau harus berhati-hati
Sungguh kenapa? Jangan!
Kumohon
- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!
- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!
- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!
Subhashish,
apa gunamu berada di sini?
Ada begitu banyak pembunuhan,
tapi tak ada tersangka?
Hanya kecurigaan saja tidak cukup.
Hukum Inggris membutuhkan bukti.
Ayo, Guru. Ikuti aku.
Pembunuhnya bukan makhluk gaib,
tapi pria.
Kau tinggal dekat hutan.
Kau melihat atau dengar sesuatu?
Mau daun sirih?
Kakak ipar.
Kapan dokter itu tiba di sini?
Dia?
Persis sebelum kakakmu pergi dari rumah.
Apa dia sering...
mengunjungi Nyonya?
Bagaimana aku bisa tahu?
Aku tak tinggal di sini.
Saat kau di sini,
apa dia sering berkunjung?
Kami baru membicarakanmu.
Aku harus pergi.
Harus menemui polisi.
Sampai bertemu saat makan malam.
Dia menanyaiku soal Sudip.
Dokter Sudip adalah...
pria yang baik.
Mungkin itu hanya pertanyaan biasa.
Apa kau menambahkan pendapatmu?
Aku?
Aku tidakโฆ
Kau mengenal aku.
Aku tak berniat buruk atau mengatakan hal yang bisa menimbulkan masalah.
Mau daun sirih?
Buatkan menjadi paan.
Bulbbul!
Jangan...
- Bermain. - Lepaskan...
- Bermain. - Kak, lepaskan...
Mahendra!
Dia merajuk?
Satya!
Kakak!
Kemarilah!
Kau senang?
Aku sudah minta penjaga untuk memetik mangga.
Sekarang, apa kau akan membuatkan saus untukku
atau kau akan memakannya sendiri?
Paan?
Benar juga.
Aku membawakanmu
beberapa parfum.
Kau sudah memikirkan lamaranku?
Lamaran?
Pernikahan untuk Satya.
Sudah kuberi tahu.
Apa pendapatmu, Kakak Ipar?
Kakak Ipar?
Bukan!
Kurasa aku terlalu banyak memakai selai mawar di daun sirih.
Aku salah berbicara.
Aku...
Maksudku, Nyonya.
Jadi, katakan, Nyonya.
Haruskah Satya kita nikahkan?
Kenapa kau menanyai dia?
Hei!
Dia sangat dekat dengan Satya.
Bukankah perlu tanya dia sebelum dijodohkan ke orang lain?
Apa kita perlu menanyakan Satya?
Apa?
Soal lamaran yang disebutkan Binodini... kepada dia.
Kau tak menyukainya, ya?
Aku menulis ceritaku dengan alur yang jelas,
tapi kau ubah menjadi seram.
Dari mana hantu wanita ini muncul?
Kau menulis ini, maka jelaskan kepadaku.
Kakak Ipar.
Bukankah rumah masa kecilmu berwarna biru?
Bagaimana kalau tempat ini dicat biru?
Ini tampak sudah lusuh.
Dengan begitu, kau takkan merindukan rumah orang tuamu.
Kenapa perlu kita cat?
- Ini masih bagus. - Hei!
Kita berdua menulis di sini. Bukankah di sini harus bagus?
Kapan kau sempat menulis saat sudah menikah?
Menikah?
Binodini punya lamaran untukmu.
Aku takkan menikah.
Semua orang menikah.
Pendeta tidak.
Pujangga tidak.
Burung hantu pun tidak.
Jika kalian semua memaksaku,
aku akan kabur dengan kaum gipsi, dan menyanyikan lagu jelek.
Itu bukan salahnya.
Itu karena usianya.
Dia selalu menghabiskan waktu bersamanya.
Ini pasti akan terjadi.
Kenapa tak memakai sepatu?
Kau sulit sekali belajar.
Aku akan mengatur agar kau pergi ke London.
Sungguh?
Binodini sudah kuberi tahu,
kau bisa menikah nanti saja.
- Selesaikan studimu dahulu. - London?
Kau tak ingat? Aku sudah bilang
Satya akan pergi ke London untuk belajar hukum.
Jangan hanya belajar.
Bertamasyalah.
Bersenang-senang.
Kirim surat panjang tentang itu kepadaku.
Aku akan menulis tiap pekan.
Sekarang juga?
- Dia harus pergi sekarang? - Tidak.
Setelah festival.
Kita harus menjahitkan baju hangat untukmu.
Kudengar di sana dingin.
Bersalju juga.
Tapi festival itu... hanya tiga bulan lagi.
Apa bisa mengatur semuanya?
- Cepat sekali... - Kau tak perlu melakukan apa pun.
Kenapa kau tak ikut juga, Kakak?
Jangan sekarang. Mungkin nanti.
Hanya tiga bulan lagi.
Aku sudah menulis bagianku.
Kau harus menyelesaikannya.
Bagaimana kita bisa selesaikan ini?
Masih ada waktu.
Bagaimana dengan rumah di dekat hutan?
Kau bilang akan mengecatnya.
Akan kulakukan sebelum pergi.
Lalu, kau bisa menulis di sana.
Aku takut sendirian di sana.
Aku takut sendirian di sini.
Kini aku akan mengobrol dengan siapa? Siapa yang akan...
Aku akan sering bersurat.
Aku akan cepat pulang.
Jika tidak?
Setidaknya nyalakan lampu.
Menyembunyikan apa?
Bukan apa-apa.
Lalu, kenapa tampak bersalah?
Tidak.
Ini hanyalah...
urusan pribadiku.
Satu-satunya hal pribadi dalam hidup istri adalah suaminya.
Aku akan ke Kolkata...
bersama Satya.
Kenapa?
Kenapa kau mengajak Satya?
Dia... harus menandatangani dokumen perjalanannya.
Satu,
dua,
tiga,
empat,
lima,
enam,
tujuh, delapan,
sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas...
Siap atau tidak, aku datang!
Siap atau tidak, aku datang!
Kau sudah kembali, Tuan.
Satya?
Sudah berangkat ke London.
TUAN SATYAJEET NYONYA BULBBUL CHAUDHARY
Tidak!
Mahendra sudah tidur?
Ya.
Bagaimana kabar Nyonya?
Bodohnya aku.
Hatinya pasti sedang hancur...
karena kesedihan.
SATYA BULBBUL
Kau harus pergi?
Tak ada apa pun di sini untukku.
Jangan cemas.
Aku akan terus kirim uang.
Dia masih belum sadar.
Aku sudah mengurus yang diperlukan, tapi...
- kakinya... - Dia terjatuh dari tangga.
Dia terjatuh dari tangga?
Bayar dokternya,
dan beri tambahan untuk jasanya.
Maaf harus mengganggumu sepagi ini, tapi terjadi pembunuhan lagi.
Ada seorang saksi, gadis kecil.
Dia tampaknya syok.
Kasihan sekali.
Dia bilang...
Apa?
Bahwa Dewi membunuhnya.
Aku ingin bicara dengannya.
Dia sedang dibius.
Dokter memberinya pil.
Siapa?
Dokter Sudip.
Untungnya dia ada di dekat sana.
Pencuri.
Tak apa-apa.
Kau berhari-hari tidak menemuiku.
Kukira karena Satya ada di sini,
maka kau akan sibuk.
Dia yang sibuk.
Kini dia punya hobi baru.
Apa kisah yang dulu kau bacakan? Soal detektif?
Itu... Sherlock!
Benar.
Belakangan ini Satya bermain menjadi Sherlock,
Aku tak bercanda.
Dia mencurigaimu.
Itu bahkan sama sekali tidak benar, jadi, tak perlu takut.
Tergantung apa yang dia curigai.
Aku tak berharap besar.
Aku tahu.
Kau jauh di atasku.
Itu sebabnya aku membuat batasan
agar diriku tetap aman.
Pengecut!
Benar,
- Semua laporan kriminal ada di sini? - Ya, Tuan Satya!
- Tanda tangan siapa? - Tanda tangan Dokter Sudip.
Dia datang memeriksa jasadnya.
TANDA TANGAN DOKTER SUDIP
Ini semua dokumen apa?
Sebuah cerita.
Cerita seram.
Kau mau dengar?
Seorang pria datang ke kota,
dan mendadak orang-orang
mulai terbunuh.
Namun, ini bukan bagian seramnya.
Seorang gadis masuk perangkapnya.
Dia melupakan siapa dirinya.
Dia melupakan mana hal yang benar dan salah.
Dia meninggalkan semua rasa malu, semua hal...
yang baik tentang dirinya.
Juga suaminya.
Sesuatu yang buruk lalu terjadi.
Suaminya lalu meninggalkan dia...
Kisah yang bagus.
Kakak Ipar.
Cukup!
Kau membuat kesalahan.
Satu-satunya alasan yang ada
adalah kau sendirian,
bodoh,
dan Sudip memanfaatkanmu.
Langsung katakan saja. Kau cemburu kepada Sudip.
Berhenti bilang namanya.
Sudip.
Kakak Ipar...
Sudip.
Kau sudah berubah.
Aku sudah bersurat ke suamimu...
untuk meminta nasihatnya.
Kurasa dia takkan menerimamu kembali.
Kami mungkin harus memintamu pergi dari sini.
Kalian semua sama saja.
Tuan, apa itu kau?
Boneka!
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Bermain!
Tidak!
Bermain!
Bermain!
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Kau sudah menikah ke dalam keluarga kerajaan.
Kenapa menangis?
Tetap diam.
Dia...
agak gila.
Tapi, dia akan baik-baik saja setelah menikah.
Dia agak gila.
Tapi...
dia bangsawan.
Tetap diam.
Dia agak gila,
tapi kau akan memperoleh banyak perhiasan.
Dia agak gila, tapi...
kau akan memakai kain sutra.
Kau akan dihormati.
Tetap diam.
Dia agak gila, tapi...
jika bukan dia, maka saudaranya...
akan merawatmu.
Kita adalah penjaga rahasia di rumah.
Jadi, tetap diam.
- Bagaimana kondisinya? - Sudah sadar.
Bagus.
Aku sudah bilang tak ada yang boleh menyentuh kakimu.
Hati-hati.
Jahitannya terbuka lagi.
Siapa pelakunya?
Nyonya, percayalah, aku doktermu.
Maka lakukan tugasmu dan pergi.
Nyonya.
Semuanya siap untuk doa bersama.
Doa bersama?
Doa peringatan kematian Mahendra.
Kenapa aku lupa?
Hari yang berkesan untuk kita.
Kau mau pergi?
Jangan cemas.
Aku takkan main hakim sendiri.
Hari pertama kita bertemu,
entah kenapa, tapi aku ingin membunuhmu.
Kini aku paham.
Pengadilan di Kolkata yang akan menghakimimuโฆ
Ayahku mengusir ibu dari rumah semalam.
Istri baru dia memaksanya.
Kini lihat apa perbuatan ibuku.
Di mana ayahmu?
Dia membawa Satya.
Ke mana?
Kau masih tidak takut.
Soal apa?
Kau melakukan kejahatan.
Tak takut akibatnya?
Kau pikir kau akan bebas.
Jika tergantung hukum, maka tentu.
- Aku mencurigaimu... - Atas hal yang sangat berbeda.
Tapi kau ingin menghukumku atas kejahatan lain.
Tapi, ada satu cara...
untuk membuktikan bahwa kau tak bersalah.
Jika penyihir memang ada dan dia tiba sekarang.
Kusir!
Kusir!
Jangan bergerak atau kutembak.
Kusir!
Kau tertidur?
Luruskan kakimu.
Bagaimana kau akan sembuh?
Aku sudah sembuh.
Nyonya.
Dokter!
Itu...
Itu dia!
Penyihirnya ada.
Kita harus menemukannya.
- Ayo! - Pulanglah.
Apa?
Kembalilah ke rumahmu.
Kenapa?
Aku tak takut kepadanya.
Jika kau takut, silakan pergi.
Kini kita tahu...
kau tak bersalah.
Kau bisa pergi.
- Apa yang kau lakukan? - Akan kuburu dia.
Hentikan!
Kenapa kau menghalangiku?
Kenapa kau melindungi dia? Siapa dia bagimu?
Dia hanya teman, tapi bukankah dia segalanya bagimu? Ka...
Kenapa kau sangat menyukai iblis?
Dia bukan iblis,
dia Dewi.
Ada seorang saksi,
gadis kecil.
Dia bilang bahwa Dewi membunuhnya.
Guru Dinkar? Dia pria yang baik.
Tulang istrinya yang patah menceritakan kisah lain.
Dewi tidak berbuat baik kepadaku.
Aku khusyuk berdoa saat penyihir itu membunuhnya.
Nyonya!
Nyonya!
Nyonya!
Nyonya.
Apa yang telah kau lakukan?
Kenapa kau melindungi dia?
Siapa dia bagimu?
Dia hanya teman, tapi bukankah dia segalanya bagimu? Kakak Iparmu?
Pelakunya bukan binatang.
- Itu ulah seorang pria. - Kenapa? Kenapa bukan wanita?
Satu,
dua,
tiga,
empat,
lima, enam,
tujuh, delapan,
sembilan, sepuluh,
sebelas, dua belas,
tiga belas, empat belas...
SATU TAHUN KEMUDIAN
Kakakku.
Saat tumbuh besar, aku selalu ingin menjadi sepertimu,
tapi aku akan meninggalkan rumah ini selamanya.
Karena aku takutโฆ
itu mungkin menjadi kenyataan.
Karena aku takut
itu mungkin
sudah menjadi kenyataan.
Kini kita sungguh saudara sedarah.
Kedua tangan kita ternodai oleh darah mereka.
Kita berdua ternyata sama saja.
Tuan!
Tuan!
Bulbbul?
Terjemahan subtitle oleh Ryan Setiawan
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.