All language subtitles for Bulbbul (2020) twitter@ham_hez tumblr@hezbollahhamasaxis

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

FILM NETFLIX ORIGINAL

KEPRESIDENAN BENGGALA, INDIA

Hei, kenapa kau melepas bunganya? Ayolah.

Bulbbul!

Bulbbul!

Bulbbul!

Bulbbul!

Di mana gadis itu?

Kena kau!

Naik pohon lagi!

Dia siapa, Bibi?

Dia agak berantakan...

tapi akan kami bawa.

Hei!

Dia benar!

Kini aku harus menyiapkanmu lagi.

Bibi, kenapa aku harus memakai cincin jari kaki?

Karena ada saraf di sini...

yang jika tidak ditekan, bisa membuat gadis terbang.

Seperti burung?

Tidak. Ini untuk mengendalikanmu.

Bibi?

Mengendalikan? Apa itu?

Bibi!

Ayah? Bibi!

Kau sedang apa, Sinting?

Dia pasti ketakutan.

Bibi.

Bibi.

Mau mendengar cerita?

Apakah cerita seram?

Ya.

Tentu!

Dahulu kala,

ada seorang penyihir!

Dia tinggal di pepohonan.

Di hutan gelap yang lebat.

Bentuk kakinya terpelintir.

Iblis haus darah itu menunggu...

dan terus menunggu hari...

saat sang putri akhirnya tiba...

agar dia bisa menelannya.

Boneka!

Mahendra!

Aku melarangmu kemari, bukan?

Boneka lucu.

Binodini.

Dia adalah suamimu. Kau tak bisa mengawasinya?

Maafkan aku, Tuan!

Mahendra.

Saudaraku.

Dia masih anak kecil.

Di mana dia?

Siapa?

Suamiku.

Dia adalah aku.

Tidak. Kalian sudah dewasa. Dia masih kecil.

Dia bersamaku di joli.

Dia bercerita kepadaku.

Namanya...

adalah Satya.

Saat kau dewasa, kau akan paham perbedaan

antara suami dan saudara ipar.

20 TAHUN KEMUDIAN

Pelan-pelan!

Maaf, Tuan Satya.

Tempat ini tak aman. Ada ancaman di sini.

Dia tinggal di sini.

Siapa?

Sang penyihir.

Kau sudah bangun?

Tidurlah. Akan kubangunkan begitu tiba di wastu.

Apa Nyonya sudah tidur?

Sudah, Tuan.

- Perlu kusajikan makanan? - Tidak perlu.

Jangan marah, Nyonya.

Sudah terlambat.

Apa reaksi Istri pertamamu?

Mereka akan hidup rukun bersama.

Pergi!

Jika ada masalah, kau akan berurusan denganku.

Tampaknya kau pemimpin bijak.

Satu,

dua,

tiga,

empat,

lima,

enam,

tujuh, delapan,

sembilan,

sepuluh,

sebelas, dua belas...

- Lalu? - Tiga belas...

- Empat belas... - Lalu penyihirnya meniup semua lilin

di kamar putriโ€ฆ

Bodoh!

Lalu?

Dia mendekati ranjang putrinya, dan...

Kenapa kemari?

Aku tahu! Kau datang untuk memeriksa warisanmu, ya?

Kakak Ipar.

Kau menghilang selama lima tahun.

Mustahil mendadak kau rindu aku.

Aku menulis surat kepada Tuan,

dan menanyai kabarmu.

Dia tidak membalasnya.

Aku ingin datang tiga tahun lalu

saat kakak Mahendra

terbunuh.

Mereka bilang...

penyihir membunuhnya.

Kau percaya omong kosong itu?

Tentu tidak.

Binodini yang bilang begitu.

Lima tahun terakhir, banyak hal berubah

Bahkan Tuan meninggalkan rumah.

Apa yang terjadi?

Kau ingin menemui Binodini?

Kakak Ipar Binodini.

Adik Ipar Satya?

Dewi tidak berbuat baik kepadaku.

Kenapa, Kak?

Bagaimana bisa menjadi pendeta, tapi juga mengutuk Tuhan?

Doa-doaku terasa seperti ratapan.

Menghabiskan hidupku terus berdoa...

dan lihat...

apa balasannya.

Aku khusyuk berdoa saat penyihir itu membunuhnya.

Kini, bahkan jika ada yang meninggal karena demam,

orang-orang menyalahkan penyihir.

Hei!

Mahendra sakit demam?

Dia terbaring bersimbah darah.

Kau pun melihatnya.

Kakak Ipar.

Itu seperti serangan hewan.

Kau ingat dahulu kakak Indranil...

sering bercerita soal pemakan manusia.

Ada jejak kaki terpelintir berdarah

di lantai.

Pelakunya penyihir!

Omong kosong itu lagi.

Tidak ada penyihir di kerajaan kita,

Dia mendarat dari mana?

Dari pepohonan.

Hei!

Lalu?

Dia mendekati ranjang putrinya, dan...

Kalian sedang apa dalam gelap?

Astaga, kenapa kau merusak semuanya?

Maafkan aku, Nyonya.

Aku kemari untuk mengatakan bahwa suamimu membutuhkanmu.

Kenapa?

Aku tidak tahu,

padahal aku yang sudah merawatnya,

tapi dia masih menginginkanmu.

Entah kenapa,

dia masih ingin Bulbbul-nya.

Bagaimana cara memberi tahu dia bahwa istrinya hanya menginginkan Satya...

Dia tidur pada siang hari,

dan berburu pada malam hari.

Baiklah.

Aku ikut berburu saat malam.

Kurasa Binodini takkan puas sampai kau memajang kepala penyihirnya

di dinding bersama semua trofi lainnya.

Harimau,

rusa,

penyihir!

Ke mana gadis kecil manis yang kukenal menghilang?

Kau mengapakan dia?

Aku memakannya.

- Di mana Nyonya? - Di bawah. Di beranda.

Kau terobsesi dengan kakiku.

Kau sangat jeli!

Hei, kau sudah bertemu Dokter Sudip?

Dokter?

Kau tak apa-apa?

Ya.

Dia kemari untuk menongkrong.

Aku akan pergi.

Aku harus memeriksanya.

Kapan guru itu mengubah jalannya?

Guru? Siapa?

Guru Dinkar.

Dia pria yang baik.

Tulang istrinya yang patah menceritakan kisah lain.

Dia juga tak membantu. Dia selalu berkata,

"Aku jatuh dari tangga."

Mungkin itu benar.

Hanya satu rumah di tempat ini yang punya tangga.

Nyonya.

Berapa kali kau kularang memanggilku nyonya?

Terserah kau... Nyonya.

Mau ikut berburu dengan Satya?

Aku menyelamatkan nyawa. Aku tak tahu cara merebutnya.

Tuan.

Kenapa kau tampak sangat kesal?

Karena kau bersama pria.

Pergi.

Kau tak terlambat untuk berburu?

Guru Dinkar.

Ya, Tuan.

- Hanya ini yang ikut? - Semua orang takut penyihir...

Hentikan omong kosong itu. Ayo!

Tuan Satya!

Setidaknya kini kau tahu bahwa memang ada penyihir.

Pembunuhnya

bukan makhluk gaib,

tapi pria.

Hubungi polisi bahwa ada yang membunuh Guru Dinkar.

Baik, Tuan.

Aku tinggal dekat sini.

Kita bisa simpan jasadnya di sana.

Kau tinggal dekat hutan.

Kau melihat

atau dengar sesuatu?

Tidak.

Tak ada apa pun.

Baik manusia...

atau hewan.

Tak ada apa pun.

Bagaimana perburuannya?

Guru Dinkar terbunuh

Pelakunya bukan binatang.

Ini ulah seorang pria.

Kenapa?

Kenapa bukan wanita?

Wanita mana yang tega bertindak sejahat ini?

Nyonya.

Rasanya seperti dahulu.

Kalian berdua

sedang mengobrol.

Kenapa kemari?

Satya tak memberitahumu?

Dia memintaku datang.

Katanya kau...

sendirian di sini tak terlindungi, siang dan malam.

Siapa pun bisa kemari dan memanfaatkanmu.

- Jadi... - Bukan!

- Aku... - Aku hanya berpikir...

Ini perayaan meninggalnya Mahendra.

Kita semua akan bersama,

dan kau akan menggelar doa bersama untuknya.

Benar?

Aku akan menemuinya.

Ada aku. Kau tak perlu mengurus ini.

Sebaiknya kita tetap pada posisi kita.

Kau nyonya rumah, bukan tuan rumah.

Bukan begitu?

Maksudku adalah...

kau tak perlu repot mengurus segala hal.

Kau tampak lelah.

Atau mungkin warna abu-abu

tak cocok untukmu.

Semua orang tak seberuntung dirimu,

tetap cantik bahkan dalam pakaian berdukamu.

Astaga

Kau wanita tak tahu malu

Kenapa kau berjalan menyusuri

Jalan di kebun saat kau tahu itu mengarah ke bajingan itu

Nyonya!

Ayo!

Duduklah.

Mari kita minyaki rambutmu.

Nanti saja.

Toko perhiasan mengirim barang baru.

Ayo lihat!

Ini sangat bagus.

Setidaknya pilih perhiasan kecil karena kau tak dapat apa pun dari rumah.

Kau tampak seperti wanita rendahan hanya memakai maskawin.

Bagaimana jika orang bilang

aku yang cocok menjadi nyonya rumah daripada kau.

Aku tak peduli.

Kami tahu. Kau tak peduli pendapat orang-orang.

Setidaknya ambil cincin kaki baru.

Punyamu mulai longgar.

Akan kuambil nanti.

Astaga

Kau wanita tak tahu malu

Kau harus berhati-hati

Sungguh kenapa? Jangan!

Kumohon

- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!

- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!

- Istirahatlah dengan tenang! - Istirahatlah dengan tenang!

Subhashish,

apa gunamu berada di sini?

Ada begitu banyak pembunuhan,

tapi tak ada tersangka?

Hanya kecurigaan saja tidak cukup.

Hukum Inggris membutuhkan bukti.

Ayo, Guru. Ikuti aku.

Pembunuhnya bukan makhluk gaib,

tapi pria.

Kau tinggal dekat hutan.

Kau melihat atau dengar sesuatu?

Mau daun sirih?

Kakak ipar.

Kapan dokter itu tiba di sini?

Dia?

Persis sebelum kakakmu pergi dari rumah.

Apa dia sering...

mengunjungi Nyonya?

Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tak tinggal di sini.

Saat kau di sini,

apa dia sering berkunjung?

Kami baru membicarakanmu.

Aku harus pergi.

Harus menemui polisi.

Sampai bertemu saat makan malam.

Dia menanyaiku soal Sudip.

Dokter Sudip adalah...

pria yang baik.

Mungkin itu hanya pertanyaan biasa.

Apa kau menambahkan pendapatmu?

Aku?

Aku tidakโ€ฆ

Kau mengenal aku.

Aku tak berniat buruk atau mengatakan hal yang bisa menimbulkan masalah.

Mau daun sirih?

Buatkan menjadi paan.

Bulbbul!

Jangan...

- Bermain. - Lepaskan...

- Bermain. - Kak, lepaskan...

Mahendra!

Dia merajuk?

Satya!

Kakak!

Kemarilah!

Kau senang?

Aku sudah minta penjaga untuk memetik mangga.

Sekarang, apa kau akan membuatkan saus untukku

atau kau akan memakannya sendiri?

Paan?

Benar juga.

Aku membawakanmu

beberapa parfum.

Kau sudah memikirkan lamaranku?

Lamaran?

Pernikahan untuk Satya.

Sudah kuberi tahu.

Apa pendapatmu, Kakak Ipar?

Kakak Ipar?

Bukan!

Kurasa aku terlalu banyak memakai selai mawar di daun sirih.

Aku salah berbicara.

Aku...

Maksudku, Nyonya.

Jadi, katakan, Nyonya.

Haruskah Satya kita nikahkan?

Kenapa kau menanyai dia?

Hei!

Dia sangat dekat dengan Satya.

Bukankah perlu tanya dia sebelum dijodohkan ke orang lain?

Apa kita perlu menanyakan Satya?

Apa?

Soal lamaran yang disebutkan Binodini... kepada dia.

Kau tak menyukainya, ya?

Aku menulis ceritaku dengan alur yang jelas,

tapi kau ubah menjadi seram.

Dari mana hantu wanita ini muncul?

Kau menulis ini, maka jelaskan kepadaku.

Kakak Ipar.

Bukankah rumah masa kecilmu berwarna biru?

Bagaimana kalau tempat ini dicat biru?

Ini tampak sudah lusuh.

Dengan begitu, kau takkan merindukan rumah orang tuamu.

Kenapa perlu kita cat?

- Ini masih bagus. - Hei!

Kita berdua menulis di sini. Bukankah di sini harus bagus?

Kapan kau sempat menulis saat sudah menikah?

Menikah?

Binodini punya lamaran untukmu.

Aku takkan menikah.

Semua orang menikah.

Pendeta tidak.

Pujangga tidak.

Burung hantu pun tidak.

Jika kalian semua memaksaku,

aku akan kabur dengan kaum gipsi, dan menyanyikan lagu jelek.

Itu bukan salahnya.

Itu karena usianya.

Dia selalu menghabiskan waktu bersamanya.

Ini pasti akan terjadi.

Kenapa tak memakai sepatu?

Kau sulit sekali belajar.

Aku akan mengatur agar kau pergi ke London.

Sungguh?

Binodini sudah kuberi tahu,

kau bisa menikah nanti saja.

- Selesaikan studimu dahulu. - London?

Kau tak ingat? Aku sudah bilang

Satya akan pergi ke London untuk belajar hukum.

Jangan hanya belajar.

Bertamasyalah.

Bersenang-senang.

Kirim surat panjang tentang itu kepadaku.

Aku akan menulis tiap pekan.

Sekarang juga?

- Dia harus pergi sekarang? - Tidak.

Setelah festival.

Kita harus menjahitkan baju hangat untukmu.

Kudengar di sana dingin.

Bersalju juga.

Tapi festival itu... hanya tiga bulan lagi.

Apa bisa mengatur semuanya?

- Cepat sekali... - Kau tak perlu melakukan apa pun.

Kenapa kau tak ikut juga, Kakak?

Jangan sekarang. Mungkin nanti.

Hanya tiga bulan lagi.

Aku sudah menulis bagianku.

Kau harus menyelesaikannya.

Bagaimana kita bisa selesaikan ini?

Masih ada waktu.

Bagaimana dengan rumah di dekat hutan?

Kau bilang akan mengecatnya.

Akan kulakukan sebelum pergi.

Lalu, kau bisa menulis di sana.

Aku takut sendirian di sana.

Aku takut sendirian di sini.

Kini aku akan mengobrol dengan siapa? Siapa yang akan...

Aku akan sering bersurat.

Aku akan cepat pulang.

Jika tidak?

Setidaknya nyalakan lampu.

Menyembunyikan apa?

Bukan apa-apa.

Lalu, kenapa tampak bersalah?

Tidak.

Ini hanyalah...

urusan pribadiku.

Satu-satunya hal pribadi dalam hidup istri adalah suaminya.

Aku akan ke Kolkata...

bersama Satya.

Kenapa?

Kenapa kau mengajak Satya?

Dia... harus menandatangani dokumen perjalanannya.

Satu,

dua,

tiga,

empat,

lima,

enam,

tujuh, delapan,

sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas...

Siap atau tidak, aku datang!

Siap atau tidak, aku datang!

Kau sudah kembali, Tuan.

Satya?

Sudah berangkat ke London.

TUAN SATYAJEET NYONYA BULBBUL CHAUDHARY

Tidak!

Mahendra sudah tidur?

Ya.

Bagaimana kabar Nyonya?

Bodohnya aku.

Hatinya pasti sedang hancur...

karena kesedihan.

SATYA BULBBUL

Kau harus pergi?

Tak ada apa pun di sini untukku.

Jangan cemas.

Aku akan terus kirim uang.

Dia masih belum sadar.

Aku sudah mengurus yang diperlukan, tapi...

- kakinya... - Dia terjatuh dari tangga.

Dia terjatuh dari tangga?

Bayar dokternya,

dan beri tambahan untuk jasanya.

Maaf harus mengganggumu sepagi ini, tapi terjadi pembunuhan lagi.

Ada seorang saksi, gadis kecil.

Dia tampaknya syok.

Kasihan sekali.

Dia bilang...

Apa?

Bahwa Dewi membunuhnya.

Aku ingin bicara dengannya.

Dia sedang dibius.

Dokter memberinya pil.

Siapa?

Dokter Sudip.

Untungnya dia ada di dekat sana.

Pencuri.

Tak apa-apa.

Kau berhari-hari tidak menemuiku.

Kukira karena Satya ada di sini,

maka kau akan sibuk.

Dia yang sibuk.

Kini dia punya hobi baru.

Apa kisah yang dulu kau bacakan? Soal detektif?

Itu... Sherlock!

Benar.

Belakangan ini Satya bermain menjadi Sherlock,

Aku tak bercanda.

Dia mencurigaimu.

Itu bahkan sama sekali tidak benar, jadi, tak perlu takut.

Tergantung apa yang dia curigai.

Aku tak berharap besar.

Aku tahu.

Kau jauh di atasku.

Itu sebabnya aku membuat batasan

agar diriku tetap aman.

Pengecut!

Benar,

- Semua laporan kriminal ada di sini? - Ya, Tuan Satya!

- Tanda tangan siapa? - Tanda tangan Dokter Sudip.

Dia datang memeriksa jasadnya.

TANDA TANGAN DOKTER SUDIP

Ini semua dokumen apa?

Sebuah cerita.

Cerita seram.

Kau mau dengar?

Seorang pria datang ke kota,

dan mendadak orang-orang

mulai terbunuh.

Namun, ini bukan bagian seramnya.

Seorang gadis masuk perangkapnya.

Dia melupakan siapa dirinya.

Dia melupakan mana hal yang benar dan salah.

Dia meninggalkan semua rasa malu, semua hal...

yang baik tentang dirinya.

Juga suaminya.

Sesuatu yang buruk lalu terjadi.

Suaminya lalu meninggalkan dia...

Kisah yang bagus.

Kakak Ipar.

Cukup!

Kau membuat kesalahan.

Satu-satunya alasan yang ada

adalah kau sendirian,

bodoh,

dan Sudip memanfaatkanmu.

Langsung katakan saja. Kau cemburu kepada Sudip.

Berhenti bilang namanya.

Sudip.

Kakak Ipar...

Sudip.

Kau sudah berubah.

Aku sudah bersurat ke suamimu...

untuk meminta nasihatnya.

Kurasa dia takkan menerimamu kembali.

Kami mungkin harus memintamu pergi dari sini.

Kalian semua sama saja.

Tuan, apa itu kau?

Boneka!

Bangun!

Bangun!

Bangun!

Bermain!

Tidak!

Bermain!

Bermain!

Bangun!

Bangun!

Bangun!

Bangun!

Bangun!

Kau sudah menikah ke dalam keluarga kerajaan.

Kenapa menangis?

Tetap diam.

Dia...

agak gila.

Tapi, dia akan baik-baik saja setelah menikah.

Dia agak gila.

Tapi...

dia bangsawan.

Tetap diam.

Dia agak gila,

tapi kau akan memperoleh banyak perhiasan.

Dia agak gila, tapi...

kau akan memakai kain sutra.

Kau akan dihormati.

Tetap diam.

Dia agak gila, tapi...

jika bukan dia, maka saudaranya...

akan merawatmu.

Kita adalah penjaga rahasia di rumah.

Jadi, tetap diam.

- Bagaimana kondisinya? - Sudah sadar.

Bagus.

Aku sudah bilang tak ada yang boleh menyentuh kakimu.

Hati-hati.

Jahitannya terbuka lagi.

Siapa pelakunya?

Nyonya, percayalah, aku doktermu.

Maka lakukan tugasmu dan pergi.

Nyonya.

Semuanya siap untuk doa bersama.

Doa bersama?

Doa peringatan kematian Mahendra.

Kenapa aku lupa?

Hari yang berkesan untuk kita.

Kau mau pergi?

Jangan cemas.

Aku takkan main hakim sendiri.

Hari pertama kita bertemu,

entah kenapa, tapi aku ingin membunuhmu.

Kini aku paham.

Pengadilan di Kolkata yang akan menghakimimuโ€ฆ

Ayahku mengusir ibu dari rumah semalam.

Istri baru dia memaksanya.

Kini lihat apa perbuatan ibuku.

Di mana ayahmu?

Dia membawa Satya.

Ke mana?

Kau masih tidak takut.

Soal apa?

Kau melakukan kejahatan.

Tak takut akibatnya?

Kau pikir kau akan bebas.

Jika tergantung hukum, maka tentu.

- Aku mencurigaimu... - Atas hal yang sangat berbeda.

Tapi kau ingin menghukumku atas kejahatan lain.

Tapi, ada satu cara...

untuk membuktikan bahwa kau tak bersalah.

Jika penyihir memang ada dan dia tiba sekarang.

Kusir!

Kusir!

Jangan bergerak atau kutembak.

Kusir!

Kau tertidur?

Luruskan kakimu.

Bagaimana kau akan sembuh?

Aku sudah sembuh.

Nyonya.

Dokter!

Itu...

Itu dia!

Penyihirnya ada.

Kita harus menemukannya.

- Ayo! - Pulanglah.

Apa?

Kembalilah ke rumahmu.

Kenapa?

Aku tak takut kepadanya.

Jika kau takut, silakan pergi.

Kini kita tahu...

kau tak bersalah.

Kau bisa pergi.

- Apa yang kau lakukan? - Akan kuburu dia.

Hentikan!

Kenapa kau menghalangiku?

Kenapa kau melindungi dia? Siapa dia bagimu?

Dia hanya teman, tapi bukankah dia segalanya bagimu? Ka...

Kenapa kau sangat menyukai iblis?

Dia bukan iblis,

dia Dewi.

Ada seorang saksi,

gadis kecil.

Dia bilang bahwa Dewi membunuhnya.

Guru Dinkar? Dia pria yang baik.

Tulang istrinya yang patah menceritakan kisah lain.

Dewi tidak berbuat baik kepadaku.

Aku khusyuk berdoa saat penyihir itu membunuhnya.

Nyonya!

Nyonya!

Nyonya!

Nyonya.

Apa yang telah kau lakukan?

Kenapa kau melindungi dia?

Siapa dia bagimu?

Dia hanya teman, tapi bukankah dia segalanya bagimu? Kakak Iparmu?

Pelakunya bukan binatang.

- Itu ulah seorang pria. - Kenapa? Kenapa bukan wanita?

Satu,

dua,

tiga,

empat,

lima, enam,

tujuh, delapan,

sembilan, sepuluh,

sebelas, dua belas,

tiga belas, empat belas...

SATU TAHUN KEMUDIAN

Kakakku.

Saat tumbuh besar, aku selalu ingin menjadi sepertimu,

tapi aku akan meninggalkan rumah ini selamanya.

Karena aku takutโ€ฆ

itu mungkin menjadi kenyataan.

Karena aku takut

itu mungkin

sudah menjadi kenyataan.

Kini kita sungguh saudara sedarah.

Kedua tangan kita ternodai oleh darah mereka.

Kita berdua ternyata sama saja.

Tuan!

Tuan!

Bulbbul?

Terjemahan subtitle oleh Ryan Setiawan

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.