Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Ini sungguh tak terduga.
Mendadak, dia bilang penglihatan periferalnya hilang,
lalu kubawa ke dokter mata.
Aku malah disuruh membawanya ke Bedah Saraf.
So-mi baik-baik saja, Dokter?
Dia belum menstruasi pertama?
Ya. Apa itu jadi masalah?
Ini...
Bila dilihat di sini,
ada benjolan, 'kan?
Menurut hasil tes darah pun, kadar prolaktin tinggi.
Itu disebabkan oleh tumor di kelenjar pituitari.
Tumor itu tumbuh ke atas.
Otak di bagian ini, kiasma optik, adalah titik penyatuan saraf optik,
dan terlihat benjolan itu menekannya
sehingga penglihatan periferalnya rusak.
Mungkin itu alasan dia belum menstruasi.
Kalau begitu,
aku menderita tumor otak?
Menurutku, tumor di kelenjar pituitari.
Diagnosis dapat dipastikan dari hasil biopsi setelah operasi.
Biasanya tumor jinak. Jangan khawatir.
Tidak apa, So-mi. Penyakit ini bisa sembuh.
Pasti bisa diobati. Benar, Dokter?
Tentu.
So-mi, operasi ini tak perlu membuka otak.
Namanya operasi TSA,
yaitu pemasukan endoskop lewat hidung
untuk mengorek tumor.
Kau pasti bisa sembuh setelah operasi
dan makan obat dengan teratur.
- Jangan khawatir. - Dokter.
Kira-kira kapan bisa operasi?
Tak perlu buru-buru karena tidak ada pendarahan,
tetapi tak bisa ditunda juga.
Lebih baik segera dirawat dan operasi.
Mulai rawat inap hari ini,
lalu jalani tes darah, EKG, dan rontgen dada,
untuk memeriksa apa bisa operasi.
Soal operasi, akan kubicarakan dengan dokter THT-KL
untuk tahu kapan bisa dilaksanakan.
Kuusahakan untuk operasi secepatnya.
Terima kasih.
Selama ini So-mi pasti merasakan sakit kepala
dan penglihatan menyempit. Kenapa baru datang sekarang?
Tumornya sudah cukup berkembang.
Dia baru bilang sekarang.
Aku baru tahu sekarang, Dokter. Maaf.
Kenapa kau minta maaf?
Permisi sebentar.
Kenapa? Aku sedang ada pasien.
Jun-wan sudah masuk.
Kurasa dia sulit bertahan.
Tidak dingin?
Kenapa diam di sini, bukan di ruangan?
Pergilah tidur.
agar besok kau bisa merawat pasien.
Aku tidak bisa tidur.
Pulang pun rasanya sulit.
Song-hwa.
Aku tidak tahu pasti.
Soal apa?
Sedih...
atau lega.
Entah bagaimana...
perasaanku.
Ini perasaanku,
tetapi aku belum bisa memutuskannya.
Aku juga tidak tahu...
bagaimana harus berekspresi.
Kalau begitu, diam saja.
Kalian pulang saja. Aku tidak apa.
Astaga.
Kau akan bergadang?
Ada Jun-wan.
Ya. Aku tetap harus bergadang karena pasien lain.
Kau pulang saja.
Segera kuhubungi bila ada masalah.
Benar.
Aku sungguh...
tidak percaya akan takhayul.
Namun, firasatku tidak baik. Rasanya aku tak boleh pergi jauh.
Sepertinya aku harus pakai jas hitam setiap hari.
Astaga, selang sehari selalu harus datang berkabung.
Presdir Yang memang punya penyakit jantung, 'kan?
Menurut Jeong-won, dia menderita angina
dan pernah operasi sekali.
Namun, penyakitnya tidak parah.
Sulit dipercaya dia pergi begitu saja.
Jika akan begini,
dia harusnya perlakukan anak dan istrinya dengan baik.
Nasib perusahaannya bagaimana?
Hampir seluruh saham Taegun Apparel milik Presdir Yang, 'kan?
Aku ragu Ibu Dokter Yang bisa mengelolanya.
- Apa Dokter Yang yang mengelola? - Mana mungkin?
Jong-su.
Meski begitu, dunia ini cukup adil, ya?
- Apa maksudmu? - Wanita simpanan itu.
Kini dia tersingkirkan.
Padahal dia pasti ingin menguasai perusahaan.
Terima kasih sudah datang.
Kalian sudah makan?
Permisi. Boleh minta lauk dan minuman lagi di meja...
Tidak usah. Kami sudah makan banyak.
Kau bisa tidur? Bagaimana teman-temanmu?
Ya, aku sudah tidur sebentar.
Teman-teman sudah kemari tadi siang karena mereka semua
harus mengoperasi di malam hari.
- Direktur Ju, mau bir? - Tidak.
Ibumu bagaimana?
Ibu pulang sesaat lalu.
Aku sudah minta dia istirahat di rumah hari ini dan kemari besok pagi.
Mayoritas karyawan Ayah kemari tadi siang.
Tamu-tamuku kebanyakan burung hantu.
Itu para burung hantu.
Jong-su, mereka sudah datang. Ayo kita pergi.
Baiklah. Ayo!
Kami pergi. Selamat datang.
- Ibu. - Aku pergi.
- Ya. Sampai jumpa, Semua. - Ya.
Pakaian dalam dan alat cukur.
Pakaian dalam masih baru, dan alat cukur kuambil dari ruanganmu.
Terima kasih. Tadinya aku akan minta tolong Ibu.
Koyok. Tempel itu saat tidur.
Saat Ayah meninggal,
lututku yang paling terasa sakit
karena harus sering sujud beri hormat.
- Kalian belum makan malam, 'kan? - Aku lapar.
- Astaga, aku lapar. - Beri aku satu.
Wanita itu kemari? Serius?
Dia berani sekali.
Untung Ibu tidak ada. Jadi, tak ada kericuhan.
Kau maki, lalu usir dia?
Mana mungkin Seok-hyeong begitu? Dia pasti mengusir diam-diam.
Tidak. Dia sempat melayat.
Aku mengizinkannya.
Kau gila?
Sungguh penjelmaan Buddha.
Dia tak bicara sesuatu?
Katanya, "Usia kehamilanku sudah enam bulan."
Siapa peduli?
"Syukurlah dia punya kakak yang baik, walau tidak punya ayah."
Dia mengatakan banyak hal,
tetapi aku hanya mendengarkan saja.
Sungguh tidak tahu malu.
Karena itulah dia bisa jadi simpanan.
- Lantas, nyonya itu... - "Nyonya"? Kau gila?
- Kini dia takkan dapat apa pun, 'kan? - Pasti.
Bila anaknya lahir,
pasti ada semacam hukum hak milik.
Kau mau memberikannya?
Mungkin sulit membuktikan dia anak kandung sebab ayahmu sudah tiada.
Jangan pernah beri sepeser pun!
Aku tidak bisa berbuat apa pun.
Lagi pula, apa salah anak itu?
- Hei! - Hei!
Halo?
Ya, baik.
Permisi. Aku datang untuk rawat inap.
Baik. Silakan kemari.
- Siapa namamu? - Park Byeong-su.
Aku akan menanyakan beberapa hal terlebih dahulu.
Apa ada penyakit yang diderita?
- Aku menderita diabetes. - Diagnosis sejak kapan?
- Sepuluh tahun? - Ya.
Sudah cukup lama.
Begitu. Apa sebelumnya pernah operasi?
- Belum. Ini pertama. - Baik.
- Kita cek tinggi dan berat badan dahulu. - Baik.
Pasien Kamar Satu segera dioperasi. Pasien sudah siap?
Sebentar.
- Kuberi infus antibiotik. - Baik.
Lee Jang-u sudah selesai operasi.
Tunggu sebentar, Pak.
Halo? Ya. Baik, segera kami siapkan.
- Perawat Song. - Ya?
Pasien Kamar Delapan sudah selesai operasi,
pasien IGD akan naik ke Kamar Tiga.
Aku belum selesai menjelaskan ke pasien rawat inap ini.
- Bawa ke Kamar Delapan, Pak. - Baik.
Tanyakan rekam medis dahulu.
Biar aku cek tanda vital khusus Lee Jang-u, pasien Kamar Delapan,
- dan kesiapan Kamar Tiga. - Terima kasih.
- Kemari, Pak. - Silakan duduk.
Perawat, bagaimana menjelaskan kepada Lee Jae-guk
untuk persetujuan ERCP?
Setelah operasi kolesistektomi, bilirubin totalnya naik.
Dari uji MRCP, ada batu empedu. Jadi, dia harus jalani ERCP.
Baik.
So-mi, aku juga punya hak publikasi.
Seharusnya kau minta izin dahulu.
Khayalanmu luar biasa. Aku bukan merekammu.
Lee Jang-u, kita ke kamar sekarang.
Kau tidak merasa sakit?
Menarik napas dalam bisa membantumu pulih.
Pastikan menjalani rehabilitasi teratur,
dan kita bertemu tiga bulan lagi.
- Baik, terima kasih. - Ya.
Dokter, dislokasi lehermu makin parah akhir-akhir ini.
Sudah makan obat?
Entah apa harus dimakan.
Kini sebutir saja tidak cukup.
- Pasien sisa sedikit, 'kan? - Ya.
- Persilakan masuk. - Baik.
Tunggu sebentar.
- Halo? - Dokter Chae.
Pasien pria 40 tahun.
Dari CT, ada perdarahan intraserebrum di ganglia basal kiri.
Mental stupor dan motorik hemiparesis kanan.
Baik. Aku segera ke sana.
Ada pasien darurat di IGD. Aku harus pergi.
Tolong jelaskan kepada pasien rawat jalan.
Baik.
Hanya sampai tahun ini?
- Ya. - Dokter Ahn, ada masalah?
Itu akan berpengaruh cukup besar terhadap rumah sakit.
Maafkan aku.
Padahal dokter spesialis bedah anak di sini tidak banyak.
- Dikurangi aku. - Bukan "tidak banyak."
Dokter spesialis bedah anak di Korea hanya 48 orang.
Di antara rumah sakit besar hanya kita yang punya dua.
Lebih dari sepuluh rumah sakit tidak punya.
Kau mungkin lebih tahu.
Setiap dokter spesialis bedah anak adalah kekuatan bagi rumah sakit.
Astaga... Aku harus bagaimana?
Satu dokter lain sudah pindah ke rumah sakit cabang di Sokcho,
dan tanpamu, kita harus menutup bagian Bedah Anak.
Maaf.
Baiklah.
Aku akan coba memikirkannya.
Jadi, kau juga tolong pertimbangkan sekali lagi, ya?
Baik.
Pak, coba buka matamu.
Siapa namamu?
Aku akan masukkan kateter setelah lihat monitor.
Jadi, pindai CT dan atur Ruang Operasi.
- Beri tahu jika pasien sudah masuk. - Baik.
Satu sisi tubuh pasien lemah
dan hilang kesadaran karena pendarahan yang disebabkan
oleh pembuluh darah tipis di ganglia basal yang pecah.
Usai memeriksa sistem navigasi monitor
dan masukkan kateter dengan tepat, serta sedot darah,
dia bisa siuman kembali.
Bila pendarahan makin parah, kondisinya bisa semakin buruk.
Astaga.
Apa mungkin terjadi sesuatu saat operasi?
Ya. Namun, jika tak dioperasi,
dia takkan bisa siuman dan akan meninggal karena pendarahan.
Saat ini tiada jalan lain selain operasi.
Pasti ada efek samping karena sudah terjadi cedera otak
begitu pendarahan muncul,
tetapi pendarahan harus dihilangkan semaksimal mungkin melalui operasi
agar kita bisa berharap dia kembali sadar.
Untuk saat ini, aku akan berusaha maksimal melakukan operasi.
Dokter, mohon selamatkan suamiku.
Tak masalah walau tangan dan kakinya lumpuh asal dia selamat.
Mohon selamatkan suamiku.
Aku akan berusaha maksimal.
Ruang Istirahat Operasi.
Ya, ada dua operasi berturutan.
Aku minum kopi usai satu operasi.
- Kau sedang apa? - Menembak.
Jangan bohong.
Kau meremehkanku karena aku dapat dispensasi wamil?
Ada evaluasi menembak
yang diadakan setiap empat bulan sekali.
Kami harus menembak target jarak 25 meter dengan senapan K5,
- dan aku juara satu. - Tak ada hadiah?
Kau pikir festival? Hadiah apa?
Jun-wan, pekan ini biar aku yang ke Seoul.
Aku akan menginap di rumah kakakku. Aku rindu U-ju.
Begitu?
Kalau begitu, aku akan berkunjung ke rumah itu.
Ya.
Alasan bisa dibuat-buat.
Ya.
Jun-wan, pekan ini biar aku yang ke Seoul.
Aku akan menginap di rumah kakakku. Aku rindu U-ju.
Begitu?
Kalau begitu, aku akan berkunjung ke rumah itu.
Ya.
Alasan bisa dibuat-buat.
Ya.
Hari Sabtu?
Makan siang? Baik.
Malamnya?
Baiklah. Alam Semesta yang manis mungkin tidur cepat.
Ya, aku juga. Aku mencintaimu.
Sungguh menyebalkan! Dasar gila!
Aku sungguh ingin memukulimu, tetapi tak bisa! Astaga!
- Kenapa? Aku manis, 'kan? - Kau ini...
"Aku mencintaimu."
Kali ini kau langgeng. Tampaknya dia sangat baik.
Ya.
Ekspresi seriusmu tidak cocok. Jangan begitu.
Hormat! Ada apa, Adikku?
Aku istirahat sebelum operasi transplantasi lever.
Kau ke rumah hari ini?
Tentu aku senang kalau kau menginap. U-ju pasti senang sekali.
Apa? Kau ingin makan apa?
Kepiting salju?
Kau kenapa? Bagaimana cari kepiting salju sekarang?
Apa ini?
Apa lagi? Ini aku, dan ini kepiting salju.
Kenapa mendadak bawa kepiting salju?
U-ju, kau sangat suka kepiting salju, 'kan?
Paman beli yang sangat besar.
- Aku suka? - U-ju, ucapkan terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Tiba-tiba air di rumahmu macet?
Ya, tiba-tiba macet.
Kamar mandimu baru direnovasi, 'kan?
Renovasi payah! Mereka sangat jahat.
Air macet, tetapi kenapa rambutmu rapi sekali?
Rapi? Aku?
Tidak, aku kemari begitu bangun.
Kau akan ke rumah sakit sebentar? Kenapa? Piket? Tak ada panggilan, 'kan?
Aku berniat mempersiapkan presentasi konferensi bulan depan.
Lagi pula ada kau dan Ik-sun.
Sudah lama aku tidak belajar tanpa terganggu.
- Ternyata kau juga belajar? - Ya, kadang.
Menyebalkan.
- Konferensi di mana? - Spanyol. Sekitar sebulan lagi.
U-ju, hari ini mainlah dengan Bibi dan Paman Kepiting Salju.
Ayah ke rumah sakit dahulu sebentar. Ya?
Ayah, kepitingnya sakit.
Bagaimana kalau kaki kepiting itu sakit sekali?
U-ju, kalau begitu, tolong tutup matamu sebentar.
U-ju, lihat bibi.
Membunyikan sendi dengan baik sama sekali tidak sakit.
Hanya bersuara. Tidak sakit sama sekali.
Semua tak terasa sakit jika dibunyikan dengan benar.
U-ju, jangan ikuti Bibi, ya?
Bibi itu Terminator. Jadi, tak merasa sakit.
Dia bukan manusia. Hentikan!
Ayo, lanjut makan. Anak pintar.
Aku pergi! Tolong bacakan buku jika U-ju bangun.
Ada buku favoritnya di atas meja kamar U-ju.
- Baiklah. - Kapan kau pulang?
- Secepatnya. - Santai saja.
Sudah lama kau tak punya waktu sendiri.
Nikmatilah waktumu.
Benar. Kau boleh pulang terlambat. Biar kami yang jaga U-ju.
Baiklah.
Omong-omong, kalian...
Jangan bertengkar.
- Tidak akan. - Untuk apa bertengkar?
Kau ini...
Aku pergi.
Simpan saja. Biar aku yang kerjakan. Aku mahir cuci piring.
Sudah selesai.
Cium.
U-ju.
Tidur di kamar saja.
Kalau U-ju terbangun dan bilang lapar,
di kulkas ada susu cokelat. Beri itu saja.
Telepon aku saat dia bangun.
Kau tertular Jeong-won?
Jangan berlebihan.
Kenapa mengelap satu tempat saja?
Kakakku sungguh banyak berubah setelah menikah.
Ya, Ik-jun berubah drastis.
Benar. Setiap hari dia selalu main di kelab malam
dan pergi berkeliaran seperti anjing.
Kupikir dia akan mati membeku di pinggir jalan atau dipukuli orang.
Namun, dia berubah drastis setelah menikah
dan punya anak.
Dia tak lagi pergi ke kelab dan jarang main gim.
Kau tahu dia mahir poker, 'kan?
Tentu aku tahu.
Dahulu dia begitu, tetapi kini...
Kurasa dia sudah merelakan hidupnya.
Dahulu dia sering bermain,
dan kini hidupnya terpusat pada putranya.
Aku agak sedih melihatnya.
Berarti dia sayang U-ju sebesar itu.
Kurasa aku pun akan begitu jika punya keluarga dan anak.
Itu pun kebahagiaan besar.
Ya, aku baru sampai.
Kenapa kau hanya makan miyeok-guk dan pergi?
Ibu dan ayah jadi sedih.
Maaf. Aku masih punya banyak pekerjaan.
Ya, aku akan sering menelepon.
Terima kasih sudah melahirkanku.
Baik.
Kenapa kau di sini? Ini akhir pekan.
Hai. Kau sungguh pekerja keras.
Ahn Chi-hong temanku, tetapi aku sangat kagum padanya.
Dia rajin dan bijaksana.
Semua orang di akademi berpikir
bahwa Chi-hong akan mendapat pangkat berbintang. Dia sangat berbakat.
- Sudah kuduga. Aku bisa tahu dia rajin. - Ya.
Sejak di Akademi Militer, dia selalu bangun pukul 05.00,
berolahraga sendiri satu jam,
lalu membaca buku dan belajar. Manajemen dirinya luar biasa.
Lantas orang seperti dia sakit dan keluar dari kesatuan.
Kami menangis tersedu-sedu, begitu pula Chi-hong.
Waktu itu amat mengerikan.
Kini dia sukses, 'kan?
Setahun lagi dia pun akan dapat gelar dokter.
Dia harus menjalani masa rekanan beberapa tahun,
tetapi sudah hampir selesai.
Masa sulit hanya tersisa setahun.
Benar. Aku senang melihatnya.
Aku sangat khawatir
saat dia bilang akan masuk bedah saraf Fakultas Kedokteran.
Kau tahu banyak orang aneh di rumah sakit.
Kami yakin dia takkan menyerah karena mentalnya kuat,
tetapi kami takut dia bertemu atasan aneh
dan menderita beban mental.
Kami sungguh bersyukur karena dia bertemu atasan baik di Yulje
dan mampu beradaptasi.
Dia punya Chae Song-hwa.
Atasannya itu Chae Song-hwa, temanku.
Aku pun dewasa setelah bertemu dia.
Ini sungguh berkat Song-hwa.
Dia sungguh baik. Aku senang hanya dengan melihatnya.
Andai kakakku bersama Song-hwa. Dasar bodoh.
Mereka tak ada hubungan apa pun, ya?
Tidak. Tidak sama sekali.
Kau kemari untuk lihat drainase pasien yang operasi kemarin?
Ya, pasien perdarahan intraserebrum
yang dioperasi pemasukan kateter.
Operasi berjalan baik, tetapi drainasenya jauh dari perkiraan.
Dokter Chae Song-hwa khawatir karenanya.
Aku harus merapikan rekam medis juga.
Jadi, aku kemari sekalian memeriksa pasien.
Orang sepertimu sungguh harus menjadi dokter.
Kalau aku, pasti akan tidur 24 jam di rumah saat libur.
Aku banyak tidur di rumah.
- Berapa jam? - Lima jam.
Senangnya kau tidak suka tidur.
Ini karena kebiasaanku sejak di Akademi Militer.
Kau tidak pindah?
Jangan tidur di Ruang Piket terus sebab rumah jauh.
Cari rumah kecil dekat sini.
Kau pasti lebih sibuk bila jadi Kepala. Sampai kapan mau tidur di sana?
Aku memang sedang memikirkannya.
Lantai tujuh Bedah Saraf, 'kan?
Ya. Terima kasih.
Bedah Anak lantai empat?
Bagaimana kau tahu?
Karena kekuatan super.
Kau tak pergi berkemah?
Kenapa kau di sini, Dokter?
Lantas kenapa kau di sini? Ini bukan jadwal piketmu.
Ada sisa pekerjaan.
Kau kemari lihat Im Jang-hun, ya?
Ya.
Aku cemas.
Dokter, bagaimana kalau kita makan malam bersama?
Tidak mau. Aku tidak mau makan hanya berdua denganmu.
Kenapa? Kau tidak nyaman?
Tidak. Aku sama sekali tak merasa begitu.
Aku hanya takut kau membuat suasana kikuk lagi.
Aku takkan begitu.
Aku berjanji.
Baiklah. Ayo makan. Lift datang.
- Bicaralah. - Ayah...
U-ju terbangun?
Sepertinya U-ju mimpi buruk. Dia terus menangis.
Makanya, kenapa kau membunyikan buku jari? Astaga, kau ini!
- Aku ke sana. - Merpatiku pun tak mempan.
Dia terus menangis meski sudah buat sepuluh ekor.
Merpati? Astaga!
Kau diam saja. Jangan lakukan apa pun.
Ada toserba di depan rumah.
Di sana ada es krim kesukaan U-ju.
Hiburlah dengan itu dahulu. Aku segera ke sana.
Ya.
- Basemen lantai satu. - Baik.
Dokter, kau ingat saat itu?
Kapan?
Hari pertama aku magang.
Aku melihatmu saat hari pertama masuk kerja.
Sungguh? Di mana?
- Halo. - Hai.
Kau tak berkemah? Kenapa di sini?
Tak bisa pergi.
Kau kenapa kemari?
Menyiapkan karya ilmiah untuk konferensi bulan depan.
Kalian mau ke mana?
- Makan malam. - Begitu.
Kau tak makan malam?
Nanti di rumah. U-ju menungguku.
Baiklah.
- Aku parkir di lantai satu. Sampai jumpa. - Ya.
Persiapanmu banyak?
- Tidak. - Kini hanya sisa sebulan.
Aku tak menyangka akan berpacaran jarak jauh di umur sebegini.
Maaf, Jun-wan.
Jangan minta maaf. Tidak apa. Itu kesempatan bagus.
Omong-omong, tiga tahun lagi umurmu 43 tahun.
Apa bedanya 40 dan 43 tahun?
Perbedaan waktu delapan jam pasti tidak mudah.
Kita pasti akan saling salah paham dan bertengkar. Ya, 'kan?
Ya. Kita pasti akan saling salah paham dan bertengkar.
"Kau yang kemari. Aku yang ke sana.
Kenapa kali ini tinggal sebentar sekali? Kenapa tak terima telepon?
Ponselku pakai mode getar." Kita mungkin bertengkar begitu.
Setelah itu, kita pun putus.
Kau bahkan belum pergi.
Kenapa mencemaskan hal yang belum terjadi?
Kau ingin menikah dan punya anak. 'kan?
Bagaimana jika tiga tahunmu sia-sia karenaku?
Aku tidak suka itu.
Tidak.
Kalau kau mau, aku bisa terus begini lima atau sepuluh tahun lagi.
Aku tidak apa-apa.
Yang kuinginkan bukan menikah,
melainkan kita selalu bersama.
Tentu aku ingin menikahimu.
Namun, tidak perlu jika kau tak ingin.
Saat ini pun aku bahagia.
Ik-sun.
Tiga tahun cepat berlalu.
Empat puluh tahun pun cepat.
Ulurkan tanganmu. Kuberi sesuatu.
Jangan.
Aku sudah bilang tidak mau.
Saat awal berpacaran,
aku sudah jelas bilang jangan lakukan apa pun untukku.
Aku tidak suka cincin, kalung, hadiah, dan semacamnya.
Aku bukan mau memberi hal macam itu.
- Kau pasti malu? - Berikan padaku.
Aku takkan melakukan apa pun yang tak kau suka.
Aku pacar yang baik.
Terdengar?
Tidak.
Terdengar.
Aku suka.
Aku sangat suka lagu ini.
Judulnya apa, ya?
- IGD. - Bukan.
Benar, IGD. "Emergency Room".
Lagu yang paling dibenci staf medis.
Kenapa benci? Aku suka sekali.
Sangat tepat untuk musim ini.
Aku suka sekali.
Akhir pekan kau tidur di rumah sakit?
Biar kuantar sampai rumah.
Tak apa. Aku nyaman tidur di sana.
Lekas pindah ke dekat rumah sakit.
Kita juga butuh istirahat dengan baik.
Baik.
Aku sedang menyetir.
Di samping ada Chi-hong dan kupakai pengeras suara.
Tutup jika ingin mengomong kosong.
Kau mengantar Dokter Ahn Chi-hong?
Ya. Kenapa? Ada apa?
Hanya ingin tanya sedang apa.
Baiklah. Selamat mengantar Chi-hong. Kita bicara lagi nanti.
Baiklah.
Dah! Sampai jumpa hari Senin.
Baik. Terima kasih.
- Dokter Chae. - Ya?
Hari ini aku ulang tahun.
Sungguh? Kenapa baru bilang sekarang?
Kau tak butuh sesuatu?
Hei, kau ulang tahun, tetapi datang ke rumah sakit?
Ada apa denganmu?
- Kau tak punya teman? - Temanku banyak.
Kemarin aku sudah berpesta dengan teman-teman
dan makan malam dengan staf rumah sakit.
Operasimu selesai larut malam. Jadi, aku tidak sempat bilang.
Hari ini belum berakhir. Kau ingin hadiah apa?
Akan kubelikan. Katakanlah.
Aku ingin menerima sebuah hadiah.
Apa?
Apa aku boleh bicara santai?
Aku takkan melewati batas.
Silakan.
Hati-hati di jalan, Song-hwa.
Sampai bertemu Senin.
PUSAT MEDIS YULJE
Seok-hyeong mulai masuk hari ini?
Besok. Dia akan menelepon setibanya di Seoul malam ini.
Mestinya dia istirahat lebih lama di Pulau Jeju.
Dia kembali terlalu cepat.
Dia istirahat sepekan lebih. Sudah saatnya kembali bekerja.
Ik-jun di mana? Aku lapar.
Ik-jun datang!
- Apa itu? - Itu apa?
Samgyeopsal.
- Luar biasa! - Luar biasa!
Kita panggil mereka di luar?
Makan ini.
Tunggu sebentar.
Enak sekali.
- Panggil mereka. - Apa? Sebentar.
Baiklah.
Kau tahu ini kimchi panggang?
Ada yang dipanggang? Coba minta.
Hei, coba makan dengan daun lokio.
Ini lebih enak.
Kalian rakus sekali. Sangat cocok.
Imut-imut sekali.
Tetaplah berteman. Jangan saling menikah,
- dan bertemu saat makan saja. - Benar.
Bagaimana bisa mereka saling melihat saat makan seperti ini sebagai pasangan?
Kimchi ini enak sekali!
Sungguh lezat!
- Halo? - Dokter Ahn, pasien sudah mulai anestesi.
Baiklah. Silakan bersiap.
Baik.
Operasi darurat? Hari ini kau tak ada jadwal operasi, 'kan?
Ada, anak tujuh tahun. Bedah kista urachal.
Suaranya seperti Gyeo-ul.
Benar. Hari ini dia jadi dokter utama.
Dokter utama? Berarti ini operasi pertama Gyeo-ul?
Kumakan bila tak kau makan.
- Campur dengan ini. Campur! - Tidak mau.
Aku ingin makan dengan nasi.
Dokter Jang, pimpinlah operasi hari ini.
Biar aku yang jadi asisten.
Selamat, Dokter Jang Gyeo-ul. Ini operasi pertamamu.
Dia jarang izinkan dokter lain pimpin bedah anak.
Kau harus melakukannya dengan baik.
Terima kasih, Dokter.
Ya.
Kita mulai.
Minta forsep.
Kurasa harus dipindahkan lebih ke kanan.
Baik. Pembuluh darah akan kuikat lebih dahulu.
- Ya, bagus. - Minta mixter.
Apa benar benda yang terlihat itu kista?
Benar. Itu harus diangkat,
tetapi jalur atas dan bawah harus ditahan dahulu.
Baik. Forsep right-angle.
- Pengikatan dimulai. - Ya, bagus.
- Minta gunting mosquito. - Minta satu lagi.
Minta metzenbaum.
- Bagus. - Terima kasih.
- Bagusnya dipotong sembari ditempel. - Baik.
Kapan dia bilang?
Beberapa waktu lalu.
Aku tak yakin apa tepat
beri tahu kalian karena ini masalah rumah sakit.
Itu alasanku awalnya tak bilang.
Omong-omong...
Dokter Ahn ada masalah?
Jong-su, Ruang Merokok di mana?
Ayo kita keluar!
Kau mengalami sirosis lever.
Juga terlihat adanya tumor kanker sekitar empat sentimeter.
Dalam kasus ini,
cara penyembuhan terbaik adalah transplantasi.
Kita masukkan kau ke daftar transplantasi.
Meski begitu, kanker bisa bertambah parah selama menunggu.
Jalan tercepat dan terbaik adalah
transplantasi donor hidup.
Transplantasi donor hidup?
Soal itu, aku tidak setuju.
Aku tidak ingin membebani keluarga.
Chang-hak, apa maksudmu?
"Membebani"? Jangan bilang begitu. Kita keluarga.
Benar. Kami akan mendiskusikannya dengan baik.
Kau tak perlu khawatir.
Dokter Lee, jika dia mau didaftarkan, ada beberapa pemeriksaan lagi.
Kurasa dia harus tes sekarang.
Baik.
Nak,
bagaimana kalau kau yang jadi donor?
Kau masih muda.
Donor yang tepat adalah kau.
Benar. Kau istrinya.
Baik.
Tentu. Kau harus menyelamatkan suamimu.
Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan suamimu.
Maaf, Nak. Kami berdua sudah tua,
sedangkan dia lemah sejak kecil.
Menurutku, kau adalah pilihan terbaik.
Baik.
Aku bersedia, Dokter.
Kalau begitu, kapan tes dimulai, Dokter?
Semakin cepat tes, semakin cepat dioperasi.
Mohon percepat tesnya, Dokter.
Baik. Bila pendonor sudah diputuskan,
aku akan usahakan agar bisa segera tes.
Dia harus didaftarkan untuk tes.
Bisa tolong lakukan pembayaran dahulu di lantai satu?
Baik.
Kondisi putra kalian kurang baik.
Kurasa lebih baik bila ada yang menemaninya saat tes.
- Baik. - Baik.
Menyumbang organ adalah pertaruhan hidup dan mati.
Aku paham itu tak mudah.
Terlebih lagi jika ada keluarga yang harus dirawat. Aku amat paham.
Tak satu pun bisa mengecammu bila kau menolak.
Jujurlah kepadaku bila kau tidak bersedia.
Aku bisa bilang bahwa kau tidak bisa.
Dokter.
Setelah menjalani tes...
dan setelah hasilnya keluar,
kumohon beri tahu mereka bahwa aku tidak cocok.
Maafkan aku.
Aku sungguh minta maaf.
Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku akan bicara pada mereka.
Maafkan aku.
Rosa.
Sulit membujuk Jeong-won mengubah pikiran.
Aku juga tahu.
Berhenti membuat Jeong-won sengsara,
dan biarkan dia lakukan apa yang dia mau.
Kau bisa bercengkerama denganku.
Kenapa? Tidak mau?
Taman tengah di mana?
- Kenapa? - Aku janji bertemu Jeong-won di sana.
Dia mengajak bertemu di sana selesai operasi.
Biar kuantar. Di depan sana.
Astaga.
Astaga.
Apa boleh buat? Dia sudah dewasa.
Perkataan kita sudah tak mempan.
Urungkan niatmu. Menyerahlah sepenuhnya.
Ayo!
- Itu dia! - Sudah kubilang.
Sebentar. Tunggu sebentar, Jong-su.
Kenapa?
Dokter, aku tidak memotong terlalu panjang?
Tidak. Itu cukup.
Jahitanku juga bagus, 'kan?
Bagus.
Ini kali pertamamu. Bisa selesai dalam 30 menit itu bagus.
Dia akan segera pulih, 'kan?
Sesaat lagi dia ke kamar. Kita lihat bersama.
- Mulai besok perhatikan perbannya. - Baik.
Ya...
Jong-su.
Aku ada ide.
- Ide apa? - Jalan terakhir...
agar Jeong-won bisa hidup sebagai putraku, bukan pastor.
Ini sebuah taruhan,
tetapi aku harus mencobanya.
Coba apa?
Ayo! Aku ingin makan jjamppong.
- Kau tak bertemu Jeong-won? - Tidak. Ikut aku!
Namanya Chae-yun.
Kondisinya buruk karena pekan lalu mengalami emboli mikro di otak.
Dokter Kim pun jadi terusik karenanya.
"Emboli mikro" itu penyumbatan kecil?
Kau harus masuk Bedah Torakoplastik.
Benar.
Chae-yun mendapat diagnosis Sindrom Hipoplasia Jantung Kiri
sebelum lahir,
dan lahir prematur di pekan ke-34 dengan berat 1,6 kg.
Ventrikel kiri belum terbentuk dan butuh
beberapa tahap operasi agar bisa hidup hanya dengan ventrikel kanan.
Hingga kini, sudah dua kali dioperasi sejak lahir
dan dipulangkan 100 hari setelah lahir.
Operasi berikutnya dijadwalkan setelah umur enam bulan.
Namun,
dua bulan lalu dia dibawa ke IGD karena kondisi tiba-tiba memburuk.
Dia sudah pakai paru-paru buatan selama dua bulan,
tetapi tidak ada cara lain selain transplantasi.
Tidak ada donor?
Donor jantung bayi sangat jarang.
Transplantasi jantung bayi
tidak sampai tiga kali per tahun secara nasional.
Dokter Do Jae-hak, tolong panggilkan ibu Chae-yun.
Baik.
Kelumpuhan yang disebabkan oleh emboli mikro
sudah sedikit membaik setelah diberi antikoagulan,
tetapi jujur saja, kondisinya amat buruk.
Entah apa boleh aku berkata begini,
tetapi kuharap donor segera muncul. Saat ini...
itu satu-satunya cara.
Dokter.
Selama lima bulan
dari tujuh bulan umur Chae-yun dihabiskan di rumah sakit.
Meski sering ada masa kritis,
kami dapat melaluinya berkat kau.
Kini,
dia bisa bernapas dan bergerak.
Dia masih hidup.
Dokter, Chae-yun pasti selamat.
Donor akan segera muncul
dan pasti bisa operasi.
Oleh karena itu, kumohon jangan menyerah, Dokter.
Tentu. Aku takkan menyerah.
Jangan khawatir. Aku akan berusaha maksimal.
Terima kasih.
Terima kasih.
Dokter Yang.
Dokter Yang.
Dokter Yang.
Dokter Yang, kau sudah makan?
Dokter Yang, kau sudah makan?
Bagaimana kondisi ibumu?
Bagaimana kalau kita makan bersama?
Bagaimana ini? Dia janji makan malam dengan kami.
Selamat malam. Sampai jumpa.
Bukan ke sana. Sampai jumpa.
Astaga, matilah aku!
Kau datang lebih cepat.
Aku melihat rekam medis karena besok banyak pasien.
- Song-hwa mana? - Makan-makan tim Bedah Saraf.
Dia akan bergabung nanti.
- Ik-jun? - Makan-makan tim Bedah Saraf.
Ik-jun sungguh sangat suka bergaul.
- Hei! - Kau mudah mabuk.
Kau terlihat cemas.
Kau yakin takkan apa-apa?
Permainan ini masih populer?
Belum pernah kumainkan sejak 20 tahun lalu.
Di umur mereka pasti saling ingin tahu.
Menurutku lucu.
Kenapa tak tanya lewat pesan teks?
Diam. Sudah bagus kita diajak.
Cepat putar.
Bagus.
- Astaga. - Hore!
Bagus!
Terima kasih. Kau tak punya pertanyaan, 'kan?
- Lewat. - Dokter Yong.
Bagaimana pendapatmu tentang Dokter Heo Seon-bin?
Hei, sudah kubilang tak ada apa-apa.
Sudah berapa kali kubilang?
Hei, diam kau.
Minum saja kalau kau sulit menjawab.
Astaga.
Berhenti.
Begini agar dia jawab.
Kalian anak bau kencur? Ayolah.
Jawablah, Seok-min.
Menurutku,
dia rekan yang baik.
- Membosankan. - Membosankan.
- Aku sudah jawab. - Pertanyaan kalian salah.
Tentu dia jawab begitu jika itu pertanyaannya.
Kalian sungguh tak tahu caranya bermain.
- Lalu bagaimana? - Kau suka Heo Seon-bin, 'kan?
Jawablah, Seok-min.
Astaga, itu hanya contoh.
Lihat? Dia resah, 'kan?
Reaksinya harus seperti itu. Paham?
Kalian harus bertanya begitu.
Sungguh pembelajaran yang baik.
Aku?
Silakan tanya apa saja. Kujawab semua.
Apa hubunganmu dengan Dokter Chae Song-hwa?
Apa hubunganmu dengan Dokter Chae Song-hwa?
Bukan. Kuulang.
- Hei! - Maaf, Dokter Chae.
Dokter Lee.
Apa kau pernah merasa tertarik
kepada Dokter Chae Song-hwa sebagai lawan jenis, meski hanya sekali?
- Bagus. - Pertanyaan bagus.
Heo Seon-bin memang cepat belajar.
Kalian sungguh penasaran?
- Ya. - Ya.
Sangat ingin tahu!
Kami sungguh teman.
Baik, Dokter. Ini permainan.
Aku...
Lekas! Katanya kau jawab semua?
Aku...
Aku tak ingin jawab.
"Tak ingin jawab"? Ini jelas "ya".
"Ya"? Hei!
Heo Seon-bin, beraninya kau bicara santai?
Pangkatku lebih tinggi daripadamu.
Astaga, aku terdengar seperti pria tua, ya?
Maaf. Aku menyesal.
Aku sungguh menyesal.
Baiklah. Selanjutnya.
Aku lagi?
Aku sungguh beruntung.
Aku terus terpilih.
Aku akan beli banyak lotre saat pulang.
- Dokter Lee. - Heo Seon-bin lagi!
Cinta pertama.
Siapa dan kapan cinta pertamamu?
Sial.
Hei!
Apa-apaan kau?
Kau sukarelawan?
Kenapa pria membantu pria?
Kini sudah kuminum. Jadi, aku boleh minta sesuatu, 'kan?
Tentu.
Baiklah.
Tolong jawab pertanyaan tadi, Dokter.
Kau pernah tertarik kepada Dokter Chae sebagai lawan jenis, 'kan?
Ya, pernah.
Tentu pernah.
Kau sungguh ingin tahu soal itu?
Luar biasa!
Kalian belum pulang?
Kami di karaoke!
Lekas ke karaoke!
Kukirim alamatnya.
Karaoke? Sudahlah.
- Ik-jun mabuk. - Suruh mereka cepat!
Tidak.
- Aku tak mabuk. - Cepat!
- Aku kanguru. - Suruh kemari sekarang!
Kami juga mabuk berat.
Seok-hyeong minum banyak.
- Diamlah! - Suruh dia diam!
Pokoknya kemari sebentar!
Kapan mereka kemari?
Nomor tiga!
Mereka datang.
- Waktunya pulang! - Apa?
- Kapan kau datang? - Cepat pulang!
- Hei. - Kubilang, pulang!
Hei, sisa semenit! Lagu terakhir.
Aku akan nyanyi lagu terakhir.
"Goodbye Now" di mana?
Tadi sudah kau nyanyikan.
- Istirahatlah. - Satu, lima,
- Kenapa? - delapan, lima, empat.
Di hari pertama aku melihatmu lewat foto
31 Januari 1999
- Sejak hari itu sampai kini - Ik-jun ada masalah?
Kau
Dia pasti ada masalah.
Hanya menungguku
Ada apa?
Kali ini pun kau menerima panggilanku
Yang sudah menjadi kebiasaan
Aku sangat mencintai dirimu
Yang membuat aku
Menjadi orang paling bahagia di dunia
Sudah kuduga aku akan jatuh cinta kepadamu
Di hari pertama kita bertemu
Meski kau goyah karena cinta kita
Yang menjadi tidak jelas seiring waktu
Aku akan menangkapmu Sebagaimana kau menangkapku
Bagaimana dengan ini?
Yang lebih sederhana.
Kurasa ini lebih cocok.
- Yang di depan? - Ya.
Sebentar.
Pacarku tipe yang rapi dan imut.
Kau yang juga menunggu
Perasaanku yang buruk
Sudah kuduga aku akan jatuh cinta kepadamu
Di hari pertama kita bertemu
Meski kau goyah karena cinta kita
Yang menjadi tidak jelas seiring waktu
Aku akan menangkapmu Sebagaimana kau menangkapku
Sungguh?
Di Hawaii? Apa kau gila?
Sepertinya aku gila waktu itu.
Hanya kau dan Jeong-won yang tahu soal ini.
Ini rahasia besar.
Terutama kakakmu. Dia tidak boleh tahu.
- Dia bisa jaga rahasia. - Aku tahu.
Namun, suka mengejek.
Dia terbaik soal mengejek orang.
Kau bagaimana?
Aku tidak ingin menceritakannya.
Namun, aku harus cerita kepadamu karena kita janji cerita segala hal.
Kau pacaran dengan lelaki macam itu?
Jangan khawatir. Aku tidak berbohong.
Hal itu takkan terjadi.
Jun-wan...
Bila suatu saat hubungan kita menjauh sedikit demi sedikit
dan kita sudah tidak berdebar karena senang seperti sekarang,
tolong katakan padaku lebih dahulu
bahwa kau ingin putus.
Hei.
Aku amat menyukaimu
sampai lupa mantan pacarku yang gila
dan mulai berpacaran denganmu.
Kau menangis Namun, aku berbalik dan pergi
Maka aku hanya ingin mengenang masa indah.
Kau yang juga menunggu
Perasaanku yang buruk
Sudah kuduga aku akan jatuh cinta kepadamu
Di hari pertama kita bertemu
Meski kau goyah karena cinta kita
Yang menjadi tidak jelas seiring waktu
Aku akan menangkapmu Sebagaimana kau menangkapku
Kau pasti menderita
Kau bahkan memeluk hangat Air mata bodohku ini
Sudah kuduga aku akan jatuh cinta kepadamu
Di hari pertama kita bertemu
Meski kau goyah karena cinta kita
Yang menjadi tidak jelas seiring waktu
Aku akan menangkapmu
Jangan khawatir
Genggam tanganku
Seperti hari pertama
Kita bertemu
Tolong lantai tujuh.
Ya, baik.
Terima kasih.
Maaf...
Lantai enam, 'kan?
Sudah kutekan.
Terima kasih.
Hati-hati. Permisi.
Permisi. Terima kasih.
Maaf.
Sudah kutekan lantai lima.
Semoga persalinanmu lancar.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Permisi...
kau mau ke Bedah Saraf?
Aku? Ya.
Apa kau dokter magang?
Ini hari pertamaku magang. Aku hanya ingin tahu apa kau juga.
Apa aku tampak seperti dokter magang?
Malang sekali, giliran pertama kalian Bedah Saraf.
Kalian satu angkatan di Kedokteran?
Tidak. Kami baru bertemu hari ini.
Selamat pagi, Dokter Chae.
Hai.
Dokter Chae, mereka dokter magang baru.
Begitu? Senang bertemu kalian.
Perkenalkan, dia dokter spesialis bedah saraf, Chae Song-hwa.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Mohon bantuan kalian.
Semoga tahun depan kita bertemu lagi di Bedah Saraf.
Aku salah dengar? Tolong ulang lagi.
Kita dapat donor, Dokter Kim.
- Umurnya? - Empat tahun, perempuan,
18 kg, golongan darah O,
- korban kecelakaan. - Astaga.
Rapat pemutusan mati otak akan segera dimulai.
Akan kuhubungi lagi jika hasil sudah keluar.
Baik. Terima kasih.
Jangan bilang kau sudah memberi tahu ibu Chae-yun ada donor?
Sulit dipercaya.
Kau anggap aku apa, Dokter Kim?
Aku belum bilang.
Dia pasti kecewa berat jika ternyata tidak bisa operasi.
Aku juga punya akal sehat.
Aku hanya waswas.
- Bagaimana? - Dokter Kim.
Rapat pemutusan sudah selesai,
dan keputusannya pasien mati otak.
Donor akan masuk Ruang Operasi besok pukul 09.00.
Terima kasih.
Chae-yun dapat donor.
Terima kasih, Dokter. Terima kasih.
Jangan berterima kasih kepadaku, melainkan keluarga donor.
Benar, kita patut bersyukur dan merasa lega
akan munculnya donor di saat seperti ini.
Namun, walaupun jantung Chae-yun membengkak,
kemungkinan jantung donor terlalu besar baginya
sebab berat badan donor
lebih dari tiga kali lipat berat badan Chae-yun.
Namun, ini bukan saatnya kita mempermasalahkan hal itu.
Chae-yun tak punya banyak waktu.
Mari lakukan operasinya.
Baik.
Mereka akan dapatkan jantung donor besok pagi
dan kami akan membedahnya di Ruang Operasi.
Kami akan berusaha maksimal...
meski situasi tidak mudah.
Dokter Kim, mau aku bangunkan besok pagi?
Jae-hak, rasanya aku demam. Coba sentuh.
Hanya demam ringan sedikit.
Aku tak boleh demam. Besok harus operasi.
Kau ini...
- Bagaimana? - Jantungnya baik, Dokter.
Operasi bisa berjalan.
Baik.
- Perawat. - Ya?
Daerah operasiku sakit sekali,
perut kembung, dan tidak nyaman.
Begitu? Saat baru selesai operasi adalah yang tersulit.
Namun, operasinya lancar.
Kau akan merasa jauh lebih sehat setelah melewati di masa ini.
Meski sulit, gas akan segera keluar
jika kau banyak berjalan.
Baik, terima kasih.
Cobalah berjalan.
Baik.
Kalian lihat apa?
So-mi baru mengunggah video lagi.
- Astaga. - Aku juga mengikuti kanalnya.
Perawat Song, So-mi pandai menyunting. Dia berbakat.
Siapa ini? Ada Hong-do di cuplikannya.
Benar.
Aku pergi.
Apa ini? Bukan Hong-do.
Ini Perawat Song.
Perawat Song, So-mi mengunggah videomu.
Apa?
Jae-hwan, lebih baik pisahkan injeksi intravena dan intramuskular.
- Baik. - Apa ini?
Dokter magang!
Pasien ini harus turun untuk tes. Tolong temani dia.
Kau hanya perlu memantau apa saturasi oksigennya turun.
Astaga, kita apakan semua ini?
So-mi.
Sayang sekali makanan tersisa.
Makanlah sesuap lagi dicampur sup.
Beratku 43 kilo. Aku tidak mau makan.
Kau baru selesai operasi! Untuk apa diet?
Taruh ponselmu.
Jadi, besok aku harus datang pukul berapa?
Kenapa penjelasannya tidak tuntas?
Nona Yoo Sang-eun jadi yang pertama dioperasi besok pagi,
dan akan masuk Ruang Operasi pukul 07.30.
Kau bisa datang pukul 07.00.
Durasi operasi sekitar dua jam,
tetapi bisa lebih karena proses anestesi.
Operasi besok pasti lancar. Istirahatlah. Jangan khawatir.
Baik. Terima kasih.
Ya.
Kau sedang apa?
Ayo makan.
Simpan ponselmu, So-mi.
Makanlah sesuap lagi. Ya?
Biar aku cek tanda vital khusus Lee Jang-u, pasien Kamar Delapan,
dan kesiapan Kamar Tiga.
Perawat, bagaimana menjelaskan kepada Lee Jae-guk
untuk persetujuan ERCP?
Setelah operasi kolesistektomi, bilirubin totalnya naik.
Dari uji MRCP, ada batu empedu. Jadi, dia harus jalani ERCP.
So-mi, aku juga punya hak publikasi.
Seharusnya kau minta izin dahulu.
Khayalanmu luar biasa. Aku bukan merekammu.
Astaga.
Aku jadi ingin punya putri.
Anak putra pun sama saja.
Aku tahu. Aku hanya iri kepada Perawat Song Su-bin.
Dia... Hei!
Padahal kami bertengkar pagi ini.
Astaga, aku tak bisa tahu pemikiran anak ini.
Astaga.
Ini hari kesepuluh usai operasi Im Jang-hun.
Menurut hasil CT, perdarahan sudah hampir melebur.
Motoriknya pun mulai pulih dan akan ditransfer ke Rehabilitasi Medis.
Syukurlah. Tadinya aku begitu risau.
Pak, coba angkat kaki kananmu.
Coba angkat lutut kanan.
Pemulihan kakinya jauh lebih baik.
Benar, Dokter. Kakinya masih agak lemah,
tetapi kini cukup bereaksi.
Syukurlah.
Kurasa kakinya bisa lebih baik setelah rehabilitasi.
Itu tak ada gunanya.
Tanganku tak bergerak.
Apa maksudmu, Sayang?
Tanganmu juga pasti segera pulih.
Tidak mungkin.
Sepuluh hari lebih...
tanganku mati rasa.
Dokter, tanganku tidak bisa digunakan lagi, 'kan?
Tangan kananku takkan bergerak...
selamanya, 'kan?
Tangan dan kakimu terasa lemah
sebab lokasi pendarahan berada di bagian penggeraknya.
Kami belum tahu apa tanganmu akan kembali pulih
karena saraf sudah rusak sejak sebelum operasi.
Kakimu sudah jelas membaik,
tetapi kurasa tanganmu butuh waktu lebih.
Jangan menyerah karena kau masih muda.
Ada orang yang kondisinya membaik setelah rehabilitasi teratur.
Lantas, kenapa selamatkan aku?
Kau gila?
Serius, kenapa kau begini?
Itu pilihan terbaik.
Operasi lancar, dan darah sudah berkurang.
Kita tunggu pemulihan tanganmu sambil menjalani rehabilitasi.
Bagaimana aku bisa hidup begini?
Sebelah tanganku tak bisa digunakan!
Astaga, yang benar saja.
Aku tak ingin hidup.
Hidupku berakhir.
Ada adhesi karena pemakaian paru-paru buatan berbulan-bulan.
Dalam kasus seperti ini, hal terpenting adalah
transplantasi berjalan tanpa hambatan saat membuka dada.
Syukurnya, proses transplantasi lancar tanpa hambatan.
- Terima kasih banyak, Dokter. - Terima kasih, Dokter.
Kami butuh waktu lebih saat membuka dada,
dan kini jantung donor berdegup dengan baik.
Dada sulit ditutup dan dibiarkan terbuka sebab jantung agak besar
dan bengkak, sesuai kekhawatiran kami.
Kami akan coba tutup dada
setelah tak bengkak dalam beberapa hari.
Intinya, operasi berakhir lancar.
- Syukurlah. Terima kasih. - Terima kasih, Dokter.
Terima kasih banyak.
Tunggu di luar, dan nanti kalian bisa lihat Chae-yun.
Sekarang sedang merapikan selang.
Kalian bisa bertemu sekitar satu jam lagi.
- Baik. Terima kasih, Dokter. - Terima kasih.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Terima kasih.
Pasti aman, 'kan?
Dokter Kim, kau sudah sering melakukan operasi ini. Ada apa denganmu?
Operasi tadi lancar, 'kan?
Kau...
Buat konsumsi dan ekskresi negatif, serta hilangkan bengkak.
Kita tutup dada dalam beberapa hari.
Cek apa terjadi pendarahan,
dan buang air kecil lancar. Paham?
Paham?
Paham?
Ukuran levernya...
tidak memungkinkan.
Sisa lever harus melebihi
30 persen dari keseluruhan agar transplantasi aman,
tetapi istrimu hanya 25 persen.
Kurasa butuh donor lain.
Astaga...
Syukurlah, Dokter.
Syukurlah, Sayang.
Meski levermu cocok,
aku takkan menerimanya.
Aku sakit begini.
Aku akan lebih sakit...
bila kau juga sakit.
Bagaimana nasib Dong-ju juga?
Ayahnya sakit.
Ibunya harus sehat.
Aku sungguh tidak apa.
Ibu.
Jangan buat istriku resah lagi karena masalah ini.
Ini masalah keluarga kami.
Biar kami yang urus.
Terima kasih.
Cuaca dingin.
Ya.
Aku merasa dia keterlaluan.
Padahal kau sudah menyelamatkan Im Jang-hun.
- Chi-hong. - Ya?
Bisa kau temui wali Im Jang-hun?
Istrinya juga pasti amat stres.
Tolong bilang bahwa aku banyak waktu. Jadi, dia bisa telepon aku
kapan saja jika ingin bertanya tentang pasien atau rehabilitasi.
Dia mungkin tidak nyaman bila aku bilang sendiri.
Tolong kau beri tahu dia.
Apa?
Aku sudah bicara dengan Kepala Rumah Sakit.
Aku akan pindah ke cabang Sokcho selama setahun.
Kenapa tiba-tiba?
Kenapa tiba-tiba ke sana?
Leherku sakit parah.
Aku ingin istirahat.
Operasi di sana pasti sedikit.
Aku ingin istirahat sambil mengobati dislokasi
dan belajar yang selama ini tak bisa.
Aku akan sering ke Seoul.
Aku juga akan melakukan operasi VIP jika jadwalnya keluar lebih awal.
Pekerjaan itu pun bisa kulakukan di sana.
Kenapa kau memutuskan hal itu sendiri tanpa berkonsultasi?
Song-hwa pasti bisa memutuskan sendiri.
Jangan menggebu-gebu.
Tanpa dia...
bagaimana nasib band kita?
Aku akan ke Seoul di akhir pekan.
Perjalanan dari Sokcho hanya dua jam. Tidak lama.
Benar. Kau bisa pulang dan pergi antara Seoul dan Sokcho.
Obatilah lehermu dahulu.
Omong-omong, Seok-hyeong.
Ibumu bagaimana?
Dia harus hati-hati karena ada darah tinggi.
Khawatirkan dirimu saja sendiri.
Ibuku lebih sehat daripadamu.
Dia dirawat karena belakangan staminanya berkurang.
Bukan masalah besar.
Bu, Pengacara Pyeon datang.
Kenapa dia kemari?
Apa kabar, Pengacara Pyeon?
Ada perlu apa kau kemari?
Beberapa saat lalu aku dihubungi oleh pengacara Presdir Yang.
Beberapa saat lalu aku dihubungi oleh pengacara Presdir Yang.
Katanya, Presdir Yang Tae-yang meninggalkan surat wasiat.
Pengacara dan Kepala Sekretaris Presdir Yang
ingin bertatap muka dan membicarakan surat wasiat itu.
Mereka sedang menuju kemari.
Aku?
Aku bukan siapa-siapa...
bagi Dokter Ahn Jeong-won.
Aku ibunya.
Aku paham putraku.
Aku pernah melihat kalian berbincang.
Aku langsung tahu begitu lihat tatapan Jeong-won.
Aku sadar...
putraku sangat menyukai
dan menyayangimu.
Putraku selalu berkata suka bila suka, dan tidak suka bila tidak.
Ekspresinya tak dapat disembunyikan.
Tak seharusnya aku ikut campur dan mungkin firasatku salah.
Namun, ini harapan terakhirku. Meski sulit,
aku ingin...
meminta bantuanmu.
Tolong minta kepadanya.
Tolong minta kepada Jeong-won
agar tidak menjadi pastor
dan tetap bekerja di rumah sakit.
Aku mohon minta padanya.
Aku mohon.
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Musim dingin tiba.
Dokter, pasien hari ini banyak sekali.
Hari ini malam Natal.
Kau sedang gelisah, ya? Katakanlah.
Ke depannya, aku harus sering mengambil keputusan.
Bagaimana jika keputusanku salah?
Dokter Kim.
Apa malam ini kau ada janji?
Dokter Chu menyatakan cinta kepadamu?
Bagus.
Kau ada masalah lagi?
Kapan dia menulis surat wasiat ini?
Tak ada hal lain di surat wasiat?
Dasar serangga egois! Hanya memikirkan diri sendiri!
Kau tidak ke bandara besok?
Besok Ik-sun pergi.
Apa aku terlalu memaksanya?
Apa boleh kukirim ini?
Kau takkan bekerja saja di sana, 'kan?
Tahan sepuluh hari saja, meski kau rindu ayah.
Nanti kutraktir makan jika operasi berakhir lancar
dan bayi pulih.
Kudengar kau pindah ke rumah sakit di Sokcho?
Bagaimana kau tahu?
- Siapa? - Gyeo-ul.
Tolong titip Dokter Jang Gyeo-ul.
Hei.
Terjemahan subtitle oleh Listya Ayunita Wardadie
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.