Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Terjemahan Yoyong Masamba No Resync
Masamba, 03 Mei 2020
- Kenapa kita harus menikah? - Apa?
Maksudku kitakan sudah bertunangan, jelas kita akan menikah.
Tapi kenapa kita harus melakukannya?
Kau mencintaiku, aku mencintaimu, kita bahagia, mungkin itu alasannya.
Jadi kenapa memutarbalikkan kisah itu? Kenapa?
Kau termasuk yang mana?
Pertama kau yang bertikai di pengadilan.
Kedua kau yang berusaha membuat pernikahanmu berhasil.
Dan yang terakhir kau bersamaku dimobil, berteriak-teriak dijendela mobil.
Dari tiga ini, siapa dirimu yang sebenarnya?
Siapa tahu!
Ketiganya bersatu.
Boss! Dua permen jeruk.
Sandhya-ji!
Foto-foto itu sudah didigitalkan.
Benarkah? Ayo kita lihat.
Kita bisa mewarnainya.
Tidak, biarkan saja hitam-putih.
Lihat foto ini?
Kau ada di dalam mobil...
...bersama dengan bibimu ketika ayahmu memelukku.
Aku tidak pernah bilang apa yang dia katakan hari itu.
Apa dia mengancammu? "Kau sebaiknya menjaga putriku ."
Tidak. Dia menangis dan berkata:
"Jika dia berbuat salah, maafkan dia."
Kau tidak pernah melakukan sesuatu yang salah.
Kecuali merebus teh terlalu lama!
Apa itu?
Gula darahku rendah hari ini.
Mau?
Bu, kau terlalu pilih-pilih. Dia orang baik.
Tentu saja dia orang baik.
Tapi kau tidak menyukainya. Kami sudah memperlihatkan begitu banyak anak laki-laki untukmu.
Anak laki-laki?
OK, seorang pria.
Kau lihat setelah tiga tahun, Aku sudah berusia enam belas tahun.
Sebelum itu aku ingin melihatmu tenang.
Karena kau akan sibuk mencari seorang suami untuk dirimu sendiri.
Tentu saja. Lalu kau akan berakhir sendirian.
Kenapa kau menikah denganku?
Kau tidak pernah berbicara dengan penuh cinta, atau bahkan duduk di dekatku.
Aku mengurus rumahmu, menghadapi amarah ibumu.
Aku memasak untuk orang lain, lalu memasak untukmu.
Kau sering memukulku lalu aku tidur. Bagaimana kita bisa punya anak?
Kau terus mengatakan ibumu koki yang hebat...
..jadi suruh saja dia masak.
Jika kau butuh seorang wanita, pergilah ke rumah bordil.
Turun!
Sekarang pulanglah!
Membuatku pusing dan berteriak.
Aku akan memberimu cinta malam ini.
Kau tidak mencintaiku. Akan kutunjukkan apa itu cinta.
Bodoh!
Mungkin kau tak bisa punya anak.
Waktu kita sudah berakhir.
Momen kita sudah dicuri.
Ini bukan dicuri.
Kita punya hak untuk bahagia.
Apa kita selingkuh?
Tidak tahu.
Kita diperbolehkan sejam untuk bahagia.
Berkeliling kota.
- Makan permen oranye bodohmu. - Jangan menyebutnya bodoh.
Jangan sebut itu momen curian.
Selamat malam.
"Tamparan Itu"
Amu, internetmu tidak bisa.
Semua yang ada di blink jelas milikku.
Duduk yang tegak!
Dua orang di komite menentangku.
Bos telah meminta putrinya, Miranda, ikut.
Aku tidak mengenalnya.
Semuanya tergantung pada presentasi besok.
Amu, printermu rusak lagi.
Kenapa kau tidak memperbaikinya?
Aku tidak tahu tentang presentasimu...
...tapi aku emosional di London.
Aku sibuk mendekorasi rumah dengan pintu biru.
- Biarkan aku fokus. - Amu, kumohon. Printernya.
Ya, pak.
Subodh di sini.
Aku menyuruhnya menelepon, bukan membunyikan bel. Dia akan membangunkan Ibu.
- Halo! - Bagaimana kabarmu, Amrita?
Cantik sekali.
- Kau menghilang kemana? - Tanya Vikram.
- Dia menjadikanku budaknya. - Ini Subodh, Ibu.
Tidurlah. Mereka akan bekerja sepanjang malam.
Inilah sejarah 28 bank pemberi pinjaman, bos. Periksa mereka.
- Printerku sudah bagus sekarang. - Terima kasih.
- Bagaimana dengan Deepika? - Dia baik-baik saja.
Aku akan menikahkan kalian berdua tahun ini.
Kenapa? Kau tidak suka melihatku bahagia?
Kau akan bahagia saat kau menikah.
- Pesan kopi? - Ya. Tolong, dua cangkir.
Amu, bisa kau ambilkan file pink? Di lantai atas.
Pink? Itu mengingatkanku., Pinky Chatterjee menelpon.
Dia akan menikah.
Jadi dia sudah menemukan seseorang?
Aku sudah mengirim salinannya ke email.
Empat malam anna, dua belas hari Anna.
Aku menyimpan semuanya di celengan
Matahari terbit dan terbenam di mataku.
Aku merasakan kecerahan mengelilingiku.
Dalam dunia kecilku, beginilah aku.
Beginilah aku.
Aku hanyalah aku, hanya aku
Selamat pagi.
Pagi. Kau siap!
Lampumu menyala sampai tengah malam.
Aku dapat panggilan Skype ... dari klien internasional pada hari Kamis.
- Aku ada rapat hari ini. - Dengan Sania?
- Apa tariannya sudah siap? - Hampir.
Aku suka menari dengan Sania. Dia benar-benar baik.
Dia mencintaimu.
Kau mengambil darahku setiap hari. Jika aku mati, aku akan mati dalam tidurku.
Kadar gulamu naik.
Kau bertengkar dengan suamimu di telepon.
Ketika aku harus sudah berjuang, aku tidak melakukannya. Tidak ada gunanya sekarang.
Aku sudah mengurus rumah, anak-anak sudah ditangani. Pekerjaanku sudah selesai.
- Apa Vikram sudah tidur? - Ya, ibu mertua.
Selamat pagi.
Selamat pagi.
Bangun.
Aku tahu kau kurang tidur, tapi...
Yah? Apa aku akan membunuhnya?
Ya. Tapi jangan terlihat putus asa.
Jangan buat mereka berpikir kau ingin bekerja di London. Persetan dengan itu!
Selain itu, kau seharusnya tidak terlihat putus asa.
Begitukah?
Ayo, Bangun.
Amu, hidupkan pemanas airnya.
Salam, Sunita.
Nyonya, hidupku hancur.
Apa yang baru terjadi, Sunita?
Namaste, Ibu.
Suamiku membuatku tidak bisa tidur.
Dia terus berjuang denganku.
Dia membawaku ke dokter. dan bertanya padanya:
"Apa yang salah dengan dia ? Kenapa dia tak bisa punya anak?"
Mungkin ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Tapi apa dia pernah memeriksa?
Lalu dia mencampakkanku di tengah jalan.
Begitu aku sampai di rumah, dia mulai memukulku.
Lalu?
Aku berlari keluar rumah dan menguncinya di dalam.
Lalu?
Dia terkunci sepanjang malam.
Saat aku membuka pintu, dia sedang tidur, memegang pantatnya.
- Apa kau menguncinya setiap hari? - Dia laki-laki, dia akan menangkapku.
Ketika dia melakukannya, dia memukulku dengan keras. Tapi aku pintar.
Jika dia menamparku, aku berteriak. Tetangga menghentikannya.
Kau aktris kecil!
Amu, suruh Shivani menghentikan suara itu. Suruh dia menunggu sampai aku pergi.
- Hi, Ma. Selamat pagi. - Ayo, sarapan.
- Ada apa? - Apa itu?
Biarkan dia membuat sarapan.
Mama, tolong, kau yang membuat paratha.
Kenapa mencobanya hari ini?
Aku sedang mencoba membuat paratha seperti ibumu.
Sunita, ambilkan es. Dimana yang sakit?
Halo? Hai, Pak.
Ya, pak. Aku akan ke sana.
- Mereka memintaku datang lebih cepat. - Apa dia yang memutuskan?
Dia pemilik perusahaan. OK. Aku pergi. Sampai jumpa.
- Makanlah sebelum kau pergi. - Tidak ada waktu.
Makanlah sesuatu.
- Ayo makan. - Amu, kumohon. Aku terlambat.
Berkasmu.
- Terima kasih. - Bekal makan siangmu.
Sampai jumpa.
- Satu gigitan lagi. - Cukup.
- Bawalah. - Amu, kumohon. Aku terlambat.
- Ok. Baik. - Bye.
Ibu, aku akan ke Sania untuk latihan menari.
Sunita, hubungi aku jika kau butuh sesuatu.
Ya, Bu.
Aku baru saja bicara dengan Rajhans Jetley.
Miranda telah memilih pria kulit putih.
Jason Burbanks.
Tapi dia senang melihat presentasimu.
Rajhans sialan tertarik sama pria kulit putih juga.
- Minggir. - Tenang, bos.
Mengapa mereka membiarkan perempuan mengemudi?
Kerja bagus.
Hampstead area yang bagus, bibi. Ini mahal.
Mereka akan memilih wilayah mewah.
Kau tahu, Vikram itu paham kuliner.
Aku yakin kau tidak bisa menyewa tukang masak di sana. Pasti sangat mahal.
Tidakkah Ibu terlihat manis?
Apa ini?
Lihat. Cetakanmu sudah siap.
Belum pernah melihat yang satu ini sebelumnya.
- Kau seharusnya tidak berhenti menari. - Sudah waktunya, Papa?
Kau sangat bagus.
Kau akan pergi ke berbagai tempat.
Pergi kemana? Aku akan ke London.
Ibu bicara dengan siapa?
Paman Jalandhar-mu. Menantunya tinggal di London.
Katakan...
...apa ada toko-toko India di London?
Dia menghabiskan hidupnya untuk membuat orang lain bahagia.
Membuat kachori untuk Vikram. Tehri untukku dan pasta untuk Karan.
Dimana Amu?
Amu, Meenu bilang...
...ada tempat di London bernama Southall.
Sebuah gang yang mengarah langsung ke Amritsar.
Kau sangat bodoh, Ibu!
Kalian sudah membuatku bodoh!
Sebagian orang senang membuat orang lain bahagia.
Ibu tidak punya pilihan.
Mereka harus menyimpan kebahagiaannya untuk diri mereka sendiri.
Jika kau tidak bahagia, kau harus berhenti merasa bahagia untuk orang lain.
Kakak! kau tidak memberitahuku kau akan datang.
- Hai. - Bagaimana kabarmu?
- Cantik. Apa kabar? - Baik, baik.
- Bagaimana presentasi Vikram? - Akhirnya berakhir.
Dia akan tahu keputusannya besok.
Aku tahu dia akan berhasil. Dia hebat. Bukankah kau pergi ke Bangalore, Swati?
Aku sudah pergi. Aku sudah kembali.
Semua orang berbicara tanpa henti tentang pernikahan kami. Tanggal, tempat...
- Aku muak dan bosan. - Swati di sini!
Tidak ada yang akan percaya padaku...
...pagi ini masih mengigau, Aku merendam kacang merah buat Swati.
Lalu aku ingat dia ada di Bangalore.
Lihatlah! Intuisi seorang ibu untukmu!
- Lucunya! - Ayo makan. Aku sudah membuat rotis.
Kapan ibumu datang kembali ke sini?
Amu berpikir dia harus tinggal bersama kami...
...sampai rencana kami ke London sudah ditentukan. Jika kau setuju, ayah?
Vikram, kau punya rumah sendiri. dan perusahaanmu sendiri...
..jadi kenapa kau bekerja untuk orang lain dan tinggal di rumah perusahaan?
Kakakmu Viraj ingin kau kembali.
Para investor dan bank tertarik untuk memperluas.
Sudah terlambat.
Apa maksudmu, Vikram?
Kita tidak bisa memperluas sebelumnya tapi sekarang kita sudah bisa.
Apa itu alasan meninggalkan rumah?
Makanannya enak, kakak ipar. Tolong ajari Amu cara memasak.
- Kau lihat jaketnya? - Sudahlah.
Salam, ayah mertua.
- Kudengar presentasinya berjalan lancar. - Ini berjalan sangat baik.
Besok adalah pertemuan terakhir lalu kita akan tahu.
Satu menit, jangan pergi.
Ini kue bebas gula. Sulakshana boleh memakannya.
Ambillah.
Tidak ada yang mempercayaiku...
...kecuali menulis nama anggota dewan di selembar kertas. Simpan di sakumu.
Aku bilang, itu akan berhasil.
- Amu, pastikan kau melakukannya. - Kami pergi dulu, ibu.
Kau sangat lucu.
- Ada apa? - Tidak apa-apa, Papa. Sakit yang sama.
OK. Sampai jumpa.
- Taruh kuenya di kulkas. - Tentu saja.
Aku memulainya dengan mengatakan...
...Aku tidak ingin pekerjaan itu! Pilih saja pria kulit putihmu.
Aku mengejutkan mereka dengan melakukan hal tak terduga. Lalu datanglah presentasiku.
Bahkan Rajhans bertepuk tangan.
Kau seharusnya berada di sana.
Ada apa denganmu, Amu? Tunggu sampai kita pulang.
- Aku merasa mengantuk. - Aku tidak mengantuk sama sekali.
Saat kau bahagia, gula darahmu, normal.
Gula darah ini akan membunuhku suatu hari.
Positif thinking-lah?
Aku akan membuat sarapan hari ini. Katakan saja apa yang harus kulakukan.
Ayo,berdirilah.
Kenapa aku tidak bisa pandai memasak?
Tolong ajari aku. Jika tidak apa yang akan kulakukan di London?
Kau seperti seorang juru masak yang hebat?
Aku sudah menanggung omelan bertahun-tahun.
Terkadang itu suamiku. Atau ibu mertuaku.
Ayah mertuaku tidak pernah mengatakan sepatah kata pun.
Selamat pagi!
Bangun! Cepat.
Kau tidak pernah mendengar alarm. Ayo, Bangun!
Selamat pagi.
- Jam berapa pertemuannya? - 10:30.
- Jam berapa kau akan meneleponku? - 10:45.
Dompet.
- Slip kertas dari Ibu. - Kau gila?
Apa bedanya? Simpan saja.
- Apa Shivani membeli mobil baru? - Ya.
Apa pekerjaannya?
Kerja keras.
Bisakah aku belajar bawa mobil juga?
Pertama buatlah parathas tanpa membakar jari-jarimu.
- Selamat pagi. - Hai.
Pastikan tanganmu seperti ini saat kau memutar. Mulai lagi.
- Ibu-ji, ada panggilan. - Kau saja.
Halo?
Ya?
OK.
Apa itu? Katakan padaku!
Kita akan pergi ke London! Tapi...
Anakmu akan mengadakan pesta malam ini sebanyak 40 tamu.
Tapi kita akan pergi ke London!
Ambilkan aku visa juga.
Selamat! Kau pantas mendapatkannya.
- Selamat. - Terima kasih banyak.
Vikram...
Jetley Rajhans di sini.
Pak.
Ini dia orangnya! Selamat!
Terima kasih banyak. Amu!
- Bagaimana kabarmu? - Semua baik.
Amu...
Istriku, Amrita.
Rajhans, CFO kita. Aku sudah menyebutkan dia kepadamu sebelumnya.
- Apa kau punya sesuatu? - Sebentar lagi.
- Permisi. - Sir, maukah...
Hai, Subodh.
- Aku tidak tahu kau merokok. - Kau tidak seharusnya tahu.
- Apa Karan tahu? - Kadang-kadang kami saling berciuman.
Hai, Pak. Dimana kau?
Tak mudah melakukan ini.
Burbanks telah ditunjuk sebagai kepala London.
Kau akan menjadi kepala CEO, tapi bekerja di bawahnya.
Pak, apa aku harus bekerja di bawah orang baru?
Vikram, kau punya pilihan.
Posisimu akan aman di sini. Tetap di India.
Ini tidak adil, Pak. Ini tidak sesuai dengan diundangan.
Vikram, Ketua merasa kau tidak akan bisa menarik cukup banyak investor.
- Yang lain setuju. - Siapa lagi yang ada di pertemuan itu?
Itu tidak penting.
Pak, apa kau tahu?
Thapar menelepon?
Sudah jelas, bung. Ayo kita minum.
- Apanya yang jelas? - Semua orang tahu, Vikram.
Jika kau cerdas, kau akan mengerti sendiri.
Pak, Aku bukan orang pintar. Kaulah yang pintar. Jadi katakan padaku.
Tenang, Bung! Ini hanya politik perusahaan.
Politik perusahaan?
Aku sedang bicara.
Apakah ini permainanmu? Politik perusahaan?
Mengapa bermain politik perusahaan denganmu?
- Aku pendukungmu, Bung. - Aku bukan orangmu.
Thapar bilang semuanya setuju.
- Siapa di pertemuan itu? - Menurut pendapatku...
Sial!
Ketua meminta putrinya untuk menolak keputusan tersebut.
- Sudah selesai. - Kau memilihku?
Tidakkah kau lihat aku sedang bicara?
Kau memilihku karena kau cemburu.
Aku akan pergi ke London. Kau akan sendiri di sini. Yah?
Kau harus jaga sikapmu.
- Biar kuambilkan minum. - Pergilah!
Kau tidak mengenalku.
- Kau melewati batas. - Batas apa?
Garis sudah dilewati. Amu, satu detik!
Siapa kau? Amu, tunggu.
Siapa kau?
Ketua tidak berpikir kau siap untuk pekerjaan itu. Itulah dirimu!
Aku dengar Vikram menerima panggilan.
- Itu membuatnya sangat marah. Jadi... - Jadi?
Ayo. Ada tamu di luar.
Apa yang akan mereka pikirkan?
Amrita, ini masalah keluarga.
Mereka menipunya, Papa.
Dia membohonginya bahwa dia akan menjadi kepala London.
Thapar memanggilnya selama .. pesta dan meminta maaf.
Kau akan bekerja di bawah orang kulit putih.
- Kau tidak serius. - Aku serius. Mereka sunguh-sungguh...
Mama...
...apa ayah pernah memukulmu?
Tidak.
Ayahmu tidak pernah menyentuhku.
- Kenapa kau menatapku? - Tidak.
- Tidak menatap? - Tidak.
Hanya melihat.
Kau bukan satu-satunya orang yang memukul istrinya. Aku akan mengutukmu tanpa sebab.
Kau mengutukku?
Kenapa kau memukulku?
Kenapa?
Apa aku perlu surat ijin untuk memukulmu?
Sekarang pergilah!
Tn. Rohit! Silakan lewat kesini. Satu foto saja.
Ini pertunjukan yang luar biasa.
Kau tahu ketika aku berumur enam belas tahun...
...Aku biasa pergi dengan ayahku ke acara-acara umum.
Ketika orang-orang memotretnya, aku bertanya-tanya apa yang akan kulakukan di sana.
Orang-orang di sana ingin melihatnya, dan memfotonya.
Kadang-kadang aku bertanya-tanya apa yang akan kulakukan denganmu.
Dengan pengalaman hanya lima tahun', Kau punya kasus-kasus hebat. Kenapa?
Ini hak istimewa.
Karena kau menantu Hakim Jaisingh.
Dan kau istrinya Rohit Jaisingh. Istriku.
Gunakan hak istimewa ini dan kau akan sukses sepertiku.
Netra...
Aku tak tahu kenapa kalian bertengkar.
Halo, Manoj.
Temanku, tidak mungkin aku akan datang hari ini.
Kau tidak tidur?
Kau seharusnya tunggu Sunita.
Apa Vikram tidur nyenyak?
Apa kau sudah bicara dengannya?
Selamat pagi.
Hari ini hari libur. Kenapa kalian tidak pergi dan melihat Maharaj-ji?
Ceritakan padanya tentang London.
Sunita, ambilkan aku obat. Aku demam.
Amu, Thapar menelepon tadi malam.
Mereka ingin aku bekerja di bawah orang kulit putih.
Dan Rajhans Jetley...
Kau sebagai penghalang di antara kami. Kau menarikku pergi.
Makanya kulampiaskan kemarahanku padamu.
Amu...
Amu.
Apa yang akan orang pikirkan tentangku?
Aku sudah berkerja keras selama tiga tahun.
Itu waktu yang panjang.
Lupakan kerja kerasnya. Sebuah investasi yang mengundang emosional juga.
Dulu aku menganggap perusahaan ini seperti milikku.
Lalu aku sadari tak ada yang menghargaiku.
Ini konyol.
Amu, aku berhenti.
Aku tidak bisa bekerja dimana aku tak dihargai.
Haruskah aku meminyaki rambutmu?
Ayok kita nonton "Dance India".
Gadis malang ini tak punya ibu.
Ayahnya mengajarinya menari.
Suamiku memukulku lagi tadi malam.
Tapi aku tidak bisa melarikan diri. Aku berpikir...
...jika dia mengunciku suatu hari, Kemana aku akan pergi?
Mari kita tunggu. Jika kau demam lagi, kita akan melakukan tes darah.
Apa yang bisa dia makan?
Apa saja. Jika ada masalah, hubungi aku.
Salam.
Terima kasih sudah datang.
Aku permisi dulu.
Kenapa kau begitu marah? tanpa sebab?
Dalam pasang pasti akan terjadi sesuatu.
Apa ada hubungannya demam dengan masalah Amu, ma?
Itu cerita lama.
Jika Amu sakit perut, dia akan terkena demam.
Mereka berlebihan.
- Kau mau kemana? - Mau buat teh.
Biar aku saja.
Sudahlah. Kau merebus teh terlalu lama.
Tuhan memberkatimu.
Silakan beristirahat.
Sandhya-ji, tolong telepon Amu.
Sudahlah.
- Bye, Ma. Aku pergi dulu. - Kemana?
Kau tahu, bu. Bersepeda.
Lepaskan ghungroo-mu, kau penari lonceng.
Sampai jumpa, bibi. Bye, Ma.
Dia banyak sepeda hari ini.
Ya, aku pernah melihatnya.
Dia lucu.
Minum tehnya dulu sebelum kau pergi.
Aku sudah membuat pakoras. Mau?
Tidak. Tehnya sudah cukup.
Kenapa kau tidak menikah lagi?
James manja padaku sebelum dia pergi.
Membentuk hubungan sangat mudah...
...mempertahankanya itu yang sangat sulit.
Semuanya tampak mudah baginya.
Aku bisa saja salah...
...tapi semua orang sepertinya perlu berusaha.
Kemarilah. Aku ingin memelukmu.
Demamnya sudah turun. Dimana dia?
Amu menelepon.
Ya, anakku?
Tidak! Mereka hanya panik. Aku tidak demam.
Kita dibuat kuat.
Kau baik-baik saja?
Kau sehat-sehat ya.
Sampai ketemu lagi.
OK, sampai jumpa.
Dia bilang, jangan khawatir.
Bagaimana bisa kita tidak khawatir?
Apa kau tahu dia memukulnya?
Mungkin ini pertama kalinya.
Kau bahkan tidak bisa mengakui kepada dirimu dia memukulnya.
Tapi dia melakukannya.
Bayangkan bagaimana perasaannya.
Yoyong Masamba Luwu Utara
Mereka berdua bijak.
Mereka akan menyelesaikannya.
- Selamat pagi. - Hai. Selamat pagi.
Apakah kita akan makan di luar malam ini?
Pertemuanku akan selesai jam 8. Aku akan menjemputmu pukul 9.
Bye.
Kaulah segalanya bagiku.
Kau kebahagiaanku.
Kau cintaku, kau gairahku.
Thapar tahu aku sedang bicara dengan perusahaan lain...
..jadi dia ingin bertemu.
Amu, aku berkata kepadamu...
...Kau harus singkirkan kakimu yang sakit didalam kehidupan.
Beri kami senyum, Amu.
- Selamat pagi. - Hai. Selamat pagi.
Saat kita berpisah...
..begitu sedikit yang tersisa
Sepotong sinar matahari....
... penuh dengan tetesan embun.
Amu...
Amu!
Apa ini?
Aku akan ke Papa untuk beberapa hari.
Kenapa?
Berapa lama?
Aku akan kembali.
Kau akan kembali? Maksudnya?
Entahlah, Vikram.
Sungguh, wow!
Kau tahu betapa sakitnya yang kurasakan. Kau tahu apa yang kualami.
Hanya beberapa hari saja.
Aku tidak merasa berada di sini.
Merasa benar? Apa yang harus kukatakan pada ibu?
Dia tahu.
Taksiku sudah datang.
Amu, pegang ini. Ini bukan waktunya.
- Lupakan saja. - Aku mengerti, Vikram.
Tapi aku butuh ini.
Baik. Jika kau anggap ini sebuah masalah, pergilah!
- Apa terjadi sesuatu lagi? - Haruskah dia kemari?
Ini rumahnya. Aku ingin tahu kenapa dia di sini.
Ma, aku mau tinggal lebih lama denganmu.
Baiklah, Nak. Tapi...
Kak, pestanya beberapa hari lalu.
Kami pikir kalian berdua sudah baikan sekarang.
Kami sedang mencobanya. Kami sedang berusaha.
- Apa maksudmu? - Aku butuh lebih banyak waktu.
Nak, jangan tinggalkan rumahmu...
Sandhya-ji, kau takkan percaya.
Ketika aku pulang dari perjalananku...
...Aku melihat kari kentang di atas api...
...dan berpikir tidak ada kesempatan lagi. Amu ada di sini, tapi inilah dia!
Naluri seorang ayah untukmu!
Apa yang kau tunggu? Ayo kita makan. Aku lapar.
Saat kita berpisah...
..begitu sedikit yang tersisa
Sebagian sinar matahari...
...dipenuhi dengan tetesan embun.
Kami diikat bersama dengan satu benang....
...yang perlahan-lahan terlepas.
Nama kami tertulis di dinding...
...sekarang tersapu oleh hujan.
Saat kita berpisah...
..begitu sedikit yang tersisa
Sebagian sinar matahari...
...dipenuhi dengan tetesan embun.
Impian yang terkoyak...
...layak-kah untuk hidup?
Apa janji-janji palsu...
...layak diraih?
Aku memutuskan...
..menemukan diriku lagi.
Sekarang aku harus mengikuti kata hatiku.
Jalan yang kita lalui...
...tampaknya begitu sempit sekarang.
Sebagian sinar matahari...
...dipenuhi dengan tetesan embun.
Papa-ji, cobalah buat dia mengerti.
Itu bukanlah masalah besar.
Masalah besar, Vikram?
Kau tahu betapa sedihnya aku.
Lalu separuh para istri di India akan meninggalkan rumah karena hanya masalah sepele.
Separuh? Lebih dari separuhnya.
Apa yang bisa kulakukan, Papa-ji? Itu sudah terjadi.
Sudah selesai?
Vikram, inti pertanyaannya adalah kenapa bisa hal itu terjadi.
Kenapa? Maksudku Thapar menelepon...
Vikram! Kau tidak memberitahu kami kau akan datang.
Makan malamlah sebelum kau pergi.
- Aku akan menyiapkannya. - Jangan repot-repot.
Lemari ini tidak terbuka, Bisa kau bantu? Ayo.
- Berikan padaku. - Aku bisa sendiri.
Kau tampak cantik.
Ini.
Aku datang membawamu pulang.
Belum, Vikram.
Amu, ini keterlaluan!
Kenapa kau begitu marah?
- Mari kita akhiri! - Apa yang harus aku akhiri?
Pertengkaran ini. Mari kita pulang.
Kita tidak bertengkar.
Bukankah kau meninggalkan rumah?
Apa yang harus kukatakan pada tetangga? Atau kerabat kita?
Istriku meninggalkanku dan kabur.
- Kenapa istrimu kabur? - Tidak lagi!
Sudah kubilang. Aku mabuk, emosi, frustasi.
Jika kau tidak mengerti masalahku, siapa lagi?
Siapa yang akan mengerti masalahku?
- Untuk siapa semua ini? - Untuk siapa aku melakukan semua ini?
Kau meninggalkan rumahmu...
...dan mulai marah. Apa ini yang kau lakukan?
- Apakah itu semua yang sudah kulakukan? - Apakah aku memintamu sesuatu?
Apa aku memaksakan sesuatu padamu?
Sebelum kita menikah, kau bilang kau tidak tahu memasak.
Aku? Seorang kuliner! Apa aku mengeluh?
Bagaimana jika aku mengatakan, aku akan mencintaimu tapi aku tidak tahu bagaimana mencari nafkah.
Apa kau mau menikahiku?
Dan jika aku berkata, Aku akan mencari uang, apa kau baru mau belajar masak.
- Maukah kau menikah denganku? - Itu hanya sesaat.
Itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Siapa yang tahu? Itu terjadi sekali.
Dan jika aku tidak bisa melupakannya?
Amu, apa yang kau...
Apa yang kau inginkan?
Begini saja. Pukul aku. Cobalah.
Kenapa kau tidak menamparku? jadi kita impas? lakukan.
Hal itu terlintas di pikiranku ingin melakukannya.
Tapi aku tidak bisa melakukannya.
Orang tuaku tidak membesarkanku seperti itu.
Apa lagi ini? Sekarang kau ingin mengajari kami?
Amu, itu sangat jauh.
Orang tuaku tidak meminta tanganmu.
Kehormatan keluarga penting bagi kami. Istri tidak meninggalkan suaminya seperti ini.
Kita tahu bagaimana menjaga keluarga kita bersama-sama.
Dan aku akan melakukan apa pun untuk melakukannya.
Apa Vikram sudah pergi?
Amu...
Hati-hati.
Ini adalah kemenangan sejarah dalam kasus pelecehan seksual...
...untuk pengacara tak kenal takut Ntra Jisingh, seorang pengacara hebat untuk hak-hak perempuan.
Biarkan aku membaca seluruh penilaiannya. Terima kasih.
Chef, ini gorengannya. Piringnya. Ada panggilan.
Hai. Apa kau melihatku?
Ya. Tentu saja aku melihatnya.
Langsung di TV.
Aku sangat bangga padamu.
Kau tahu itu benar-benar terpuji caramu menanganinya sendiri.
Ketika kau melangkah keluar, Aku bisa melihat kepercayaan dirimu dalam jalanmu.
Kemenangan dalam senyummu.
Aku turut bahagia untukmu.
Kau tahu aku merasa begitu baik.
Bahkan di tengah kekacauan itu Aku bisa merasakan angin di wajahku...
..seolah - olah aku melihat keluar dari jendela mobil...
...dan terbang.
Terima kasih..
Kapan saja. Berbahagialah. Terus terbang.
Hai. Selamat pagi.
Kapoors akan disidangkan jam 5 sore. Petisi Raghuvanshi telah diajukan.
Amrita, Netra. Netra, Amrita.
Hi, Amrita. Beri aku lima menit.
Negara bagian India vs. Shagun Verma.
Aku menang!
Semua orang mengatakan menantumu adalah junior kebanggaanmu.
Terima kasih, ayah mertua.
Sektor 9. Restitusi dari hak conjugal.
Pemberitahuan resmi yang memerintahkanmu pulang.
Aku tidak mau.
Kenapa tidak?
Tidak suka?
Sayangnya, alasan tidak menyukainya lagi tidak akan berhasil di pengadilan.
Satu tamparan tidak bisa menjadi satu-satunya alasan. Apa cerita sebenarnya? Keluarganya?
Tidak.
Apa dia berselingkuh?
Tidak.
- Kau berselingkuh? - Tidak.
Seksual?
Tidak.
Jadi, hanya satu tamparan saja?
Itu aneh, Amrita. Orang mungkin berpikir kau tidak masuk akal.
Tidakkah orang-orang berpikir menampar itu tidak masuk akal?
Mungkin. Tapi reaksimu bisa tampak tidak masuk akal.
Aku tidak bisa menghormati diriku lagi.
Aku memilih menjadi ibu rumah tangga, tak ada yang memaksaku.
Aku tidak mengeluh.
Aku senang menjadi bagian dari mimpinya dan hidupnya.
Tapi, di sepanjang jalan...
...Aku mungkin menjadi type orang yang suka ditampar.
Bukankah itu tidak masuk akal?
Dia tidak bisa memukulku.
Hanya tamparan? Dia tidak bisa menamparku.
Apa yang kau inginkan?
Aku ingin bahagia.
Jadi ketika aku bilang aku bahagia, aku tidak akan berbohong.
Kau punya tiga pilihan.
Yang pertama dan termudah, kembali. Buat itu bekerja. Itu akan menjadi saranku.
Atau kau punya pilihan hukum. Pemisahan peradilan.
Kau akan tetap istrinya, tapi kau tidak akan tinggal bersamanya.
Atau perceraian.
Tetapi pilihan hukum bisa sangat berantakan, Amrita.
Jadi kita berbohong pada diri kita sendiri dan mengatakan kita bahagia.
Aku tidak ingin berbohong.
Baginya atau pada diriku sendiri.
Pikirkan lagi.
Hal-hal ini tidak seperti apa yang tampak.
Hubungan ini sulit untuk dipertahankan.
Semoga tidak ada yang menghancurkan hatiku.
Semoga tidak ada yang berpaling dariku.
Semoga tidak ada yang meninggalkan aku.
Hidup itu panjang.
Hidup itu sulit.
Waktu tidak akan berlalu tanpa kekasihku.
Ya Tuhan, hatiku tak mengenal kedamaian.
Tanpa kekasihku...
...semua adalah kegelapan.
Ya Tuhan, hatiku tak mengenal kedamaian.
Kau seharusnya tidak mengenalkan Amu pada bosmu, Netra.
Karan, dia menerima surat hukum.
Mereka baik-baik saja.
Kehidupan yang indah, rumah yang nyaman.
Swati, ini hanya sebuah episode kecil.
Aku tahu itu seharusnya tidak terjadi tapi ini konyol.
Itu pertama kalinya.
Benar.
Katakan sesuatu, Karan...
...jika aku berselingkuh untuk pertama kalinya...
...bisakah kau melupakannya?
- Atau jika kau berselingkuh? - Kau berlebihan.
- Selingkuh sama sekali tidak bermoral. - Betul sekali.
Haruskah kita membuat daftar apa yang tidak bermoral dan apa yang tidak?
Aku tidak pernah berpikir kita akan melihat suatu hari seorang putri kita akan bercerai.
Dimana letak kesalahan kita?
Kita membesarkannya, mendidiknya...
...menikahinya menjadi keluarga yang sakinah.
Sekarang itu tanggung jawabnya. Itu rumahnya. Jadi jagalah.
Perempuan harus belajar toleransi untuk menjaga keluarga tetap bersama.
- Seseorang harus menekan perasaannya. - Tidak perlu.
Pernahkah kau melakukannya?
Tentu saja.
Bukankah aku punya keinginan?
Aku ingin Amu menjadi penari seperti Sitara Devi.
Ayahku ingin aku bernyanyi di semua radio India.
Tapi aku harus mengkompromikannya.
Haruskah aku menjaga rumah dan anak-anak? Atau menyanyikan lagu?
Sandhya-ji...
...apa aku pernah menghentikanmu?
Memangnya kenapa kalau tidak? Apa aku tidak punya pikiran sendiri?
Bukankah aku tahu apa yang penting?
Siapa yang bilang apa yang penting?
Ibuku berkata rumah lebih penting.
Ibunya mengajarinya rumah adalah penting.
Apa kau tidak tahu?
Apakah kau pernah bertanya, Sandhya, mengapa kau tidak bernyanyi lagi?
Kau tahu orang-orang akan bergosip...
..jika aku bernyanyi setelah menikah.
Aku tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi kau membiarkannya berlalu begitu saja.
Aku sangat tertekan.
Dia memang salah telah menamparmu, tapi dia tidak bisa menariknya kembali.
Jadi, bagaimana menurutmu, apa aku harus melakukannya?
Kau harus memberinya kesempatan.
Bayangkan betapa malunya dia, di rumah dan di kantor.
Masalah semua orang sangat penting kecuali masalah Amu.
Amu akan lebih banyak kehilangan.
Pria bisa menikah lagi dengan mudah.
Tapi dia akan tetap memiliki tanda perceraian.
Aku tidak mengerti dirimu.
Aku di pihaknya.
Bantu aku Swati, tolong jangan terlibat.
Pernikahan adikku akan hancur.
Jadi siapa yang akan memperbaikinya? Amu? Dia akan mengirim pemberitahuan ke penasihat hukumnya.
Sepertinya saja aku sedang berbicara dengan orang asing.
Aku akan pergi sekarang.
Kau tahu apa? Itu ide bagus. Kau harus pergi.
Hidupnya dipertaruhkan. Dan kau dan Netramu berjuang untuk kasus ini. Silakan pergi.
- Silakan pergi. - Cukup, Karan!
Lepaskan.
Keluar. Minta maaf padanya.
Minta maaflah, atau tinggalkan rumah ini sekarang. Pergi!
Swati, aku benar-benar minta maaf.
Selamat malam, ibu.
Papa, aku tidak...
Ini bukan tentangku. Ini untuk kebaikan semua orang.
Aku mengatakan ini demi Amu.
Bu, aku bersumpah...
Bicaralah dengan Swati, jangan kepadaku.
Mereka buta.
Ketika aku menontonmu di TV, Kupikir pembebasan ini telah kehilangan tujuan.
Pembebasan yang sangat berlebihan.
Aku bangga padamu.
Kau terlihat cantik.
Ketika aku melihatmu di TV, Aku teringat ayah.
Setiap kali ia memenangkan kasus besar...
...dia akan melihat ke bawah dan berjalan pergi...
..seolah-olah itu bukan masalah besar.
Pria hebat.
Lihat jalanmu. Senyummu.
Ada kemenangan di matamu.
Tidak apa-apa.
Keberhasilan melakukan hal yang berbeda untuk orang yang berbeda
Kemarilah.
Ayo.
Aku akan membuatnya sendiri.
Mari kita rayakan.
Rohit, kau mabuk dan aku lelah.
Kumohon.
Kau sangat cantik.
Kau bahkan tak pernah berterima kasih padaku.
Ingat siapa yang mengenalkanmu pada Shagun Verma?
Akan kukirim SMS padamu secepatnya begitu aku masuk ke mobil.
SMS?
Siapa yang berterima kasih lewat SMS? Hanya orang asing yang melakukan itu.
Tapi sekarang aku di sini...
- ...kau bisa berterima kasih padaku. - Rohit, aku tidak bisa.
Begini saja...
...Kau hanya berdiri di sini. Tenanglah.
Biarkan aku menikmati rasa terima kasihmu.
Apa kau tuli? Kau tak lihat aku sedang makan?
Tuli idiot! Apakah telingamu perlu makan?
Aku sedang menonton TV. Jadi diamlah.
Biarkan dia pulang. Dia akan mengobatimu!
- Apa kau tuli? - Tidak, kau yang tuli.
Kau mau nonton TV? Tuli idiot!
Sunita!
Sunita.
- Ibu. - Ya?
Kenapa kau membuat teh? Dimana Sunita?
Suaminya memukulinya habis-habisan, dia tidak masuk kerja hari ini.
Bukankah ini waktumu berdoa?
- Biar kubuatkan teh. - Tidak, aku saja!
- Biarkan aku. - Aku akan melakukannya.
Ibu, di mana daun tehnya?
Sudah habis. Kau harus membuka yang baru.
- Ketemu? - Ya.
Tindakan darurat akan membuat konsekuensi pemanasan global dapat dikelola.
Yang dipertaruhkan adalah separuh dari ekosistem, satwa liar...
...dan yang terpenting, dunia yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita.
Ayah mertua, cepat sembuh.
Aku perlu bicara denganmu.
Kita akan mengajukan gugatan cerai...
...atas dasar perbedaan yang tidak bia didamaikan.
Amrita, aku pengacara. tapi aku juga seorang wanita.
Apa kau yakin tentang hal ini?
Mengambil jalan ini bisa sangat sulit bagimu.
Pikirkan lagi.
Setiap hubungan yang rusak, kita harus memperbaikinya.
Jika kau harus memperbaikinya, itu artinya rusak.
Apa yang harus kulakukan? Berpura-pura?
Berapa lama?
Aku mulai marah dan mulai membencinya.
Netra, aku mencintainya begitu lama.
Ini bukan sepenuhnya kesalahannya, ini salahku juga.
Aku membiarkan hal itu terjadi.
Ini juga kesalahan ibuku...
...dengan membawaku dengan cara ini.
Ibu Vikram juga yang harus disalahkan.
Apa yang akan kau lakukan jika kau di posisiku?
Aku akan memaafkannya.
Jadi aku salah?
Tidak.
Apakah dia betul-betul punya kasus perceraian?
Ketika kau benar-benar jatuh cinta, maksudku benar-benar jatuh cinta ...
...sedikit agresif, itu adalah ekspresi cinta.
Dia menamparnya sekali dan ingin bercerai.
Tidak ada apa-apa di sini, Viraj.
Tidak ada klaim, tidak ada tuduhan.
Dia ingin bercerai dengan persetujuan bersama, atas dasar perbedaan yang tidak dapat didamaikan.
Jika kalian berdua ingin bercerai, maka surat ini cukup.
Tetapi jika kalian tidak ingin bercerai...
..sebagai pengacara, saranku adalah jangan pergi ke pengadilan.
Coba dan selesaikan sendiri.
Jika tidak, itu bisa berkelanjutan lama.
Syukurlah tidak ada lagi yang menyebutkan kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga, pak?
Aku ada di sana. Dia yang menariknya.
Cobalah mengerti apa yang kukatakan.
Aku mencoba menjelaskan.
Jika dia memutuskan untuk mengajukan tuntutan kekerasan dalam rumah tangga,...
..ini menjadi kasus polisi.
Maka bisa menjadi rumit. Prosesnya lama.
Bicaralah padanya.
Bujuk dia. Ancam dia. Bicaralah padanya.
Apa yang terjadi di pengadilan? Kamilah yang bicara...
...atas namamu.
Segalanya bisa menjadi buruk di pengadilan.
Jadi bicaralah padanya, ok?
Viraj, bagaimana kabarnya Netra?
Dia tampaknya punya koneksi dengan Asisten Netra.
OK.
Jadi kita harus bersiap-siap.
Dalam kasus ini jika dia mengajukan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga...
...Kau akan memerlukan saksi yang akan memberikan kesaksian tidak ada yang terjadi di pesta itu.
- Belilah. - Ok.
Juga, polisi akan punya kuasa untuk menangkap Vikram.
Jangan khawatir. Aku di sana.
Salam, Ibu.
Aku di sini.
Ibu, kau mau makan di kamarmu? atau di luar sini?
Ibu-ji, kenapa kau tidak menjawab?
Ibu-ji.
Ibu-ji ada di atas. Aku akan membersihkan kamar Pak Vikram.
Bu Amu akan memarahiku.
Ibu-ji!
Bu, ini aku. Pulanglah.
Gula darahnya turun.
Untungnya Amrita sudah memanggilku walaupun itu sudah sepuluh menit berlalu...
Kau tahu apa itu koma, Sabharwal?
Apa itu yang kau inginkan?
Amrita, kau harus tegas.
OK?
Aku sudah menulis resepnya. Tolong ambilkan obatnya.
Dia baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Terima kasih.
Aku ada di luar.
Apa yang kau lakukan, ma?
Aku akan bicara dengannya.
Pergi dan bicaralah dengannya.
Pulanglah bersamaku.
Aku tak akan meninggalkan Vikram sendirian disini.
Tidak ada bedanya jika aku mati.
- Apa yang kau katakan? - Apa aku salah?
Apa akan berubah untukmu?
Golf pagi? Selamat malam billiards?
Sekarang para pelayan memasakkan makananmu.
Aku akan datang setiap hari sampai dia sembuh.
Aku akan tinggal sampai kau kembali dari kerja.
Bisa kita pergi?
Tuhan memberkatimu.
Kau menceraikanku?
Amu, ini belum terlambat.
Kembalilah ke rumah.
Luar biasa! Kau pikir semuanya baik-baik saja.
Kurasa semuanya mengerikan.
Jelas kita melihat kehidupan ini sangat berbeda.
S * * * terjadi, Amu.
Itu sudah berlalu.
Orang-orang harus melanjutkan hidupnya.
Kau begitu emosional akan investasi perusahaanmu, kau tidak bisa melanjutkannya.
Aku menginvestasikan seluruh hidupku untukmu.
Bagaimana aku bisa melupakannya?
Aku tidak bisa melakukannya.
Aku tidak mencintaimu.
Dia menolak persetujuan bersama.
Kita harus pergi ke pengadilan.
Baca detail petisi itu. Lalu kita akan menyiapkannya.
Netra, ini semua salah.
Pemeliharaan? 50% dari properti? Aku tidak mau apa-apa.
- Ini semua miliknya. - Benarkah, Amu?
Siapa yang menjaga rumah? Siapa yang menjaganya?
Mulai dari teh pagi sampai makan malam?
Apa dia dalam suasana hati yang baik atau sedang kesal?
Biarkan dia tidur. Dia aka datang lebih awal.
Siapa yang melakukan semua itu?
Hidupmu diinvestasikan dalam semua yang dia miliki.
Amu, kau bisa saja memiliki karirmu sendiri.
Mungkin bernilai lebih dari 50%. Apa kau tidak menyerah?
- Swati, itu pilihanku. - Kau tidak punya investasi.
Apakah kau akan mulai lagi dari awal?
Itu bukan kesepakatan, Netra. Ini tentang cinta.
Semua pernikahan adalah perjanjian, Amrita.
Sebuah kontrak antara dua orang.
Cinta tidak wajib dalam pernikahan.
Kau bisa mencintai tanpa menikah.
Apa kau berpikir semua pernikahan berjalan pada cinta?
Ini kesepakatan yang tidak adil. Kau harus mendapatkan rasa martabat dan keamanan.
Itu sebabnya kau di sini.
Izinkan aku mendapatkanmu kesepakatan yang adil, untuk membantumu.
Kami memiliki kesepakatan yang adil. Dia mendapatkan uang dan aku menjaga rumah.
Yang tidak adil adalah tamparannya.
Apa yang tidak adil adalah harapan bahwa aku harus melanjutkannya.
Apa yang tidak adil adalah semua pilihanku berantakan dan tidak menyenangkan.
Apa yang tidak adil itu kau menyarankan padaku untuk menerima ketidak adilan.
Mungkin karena kau belum mengalami yang tidak adil.
Semua orang mengatakan, itu hanya tamparan. Tahu apa tamparan itu?
Tiba-tiba aku menyadari dari semua hal yang tidak adil...
...Aku telah belajar untuk menerimanya.
Apa yang diharapkan dariku adalah Aku beralih dari ketidak adilan.
Tamparan itu membawaku kembali Amrita ke masa kuliah.
Amrita yang hanya ingin dua hal dalam hidup ini...
...dihormati dan bahagia.
Kau tahu apa?
Hanya itu yang diinginkan Amrita.
- Apa Kabar, Shankar? - Semua baik.
Ini sudah rutinitasku. Sama baginya.
- Nemra, ini jam 5 pagi. - Maaf, aku membangunkanmu begitu cepat.
- Harus istimewa? - Benar.
Aku merasa seperti melihat kembali masa laluku.
Masa lalu tampaknya begitu jauh sekarang.
Ini tempat nongkrong saat masih kuliah.
Kami membuat begitu banyak rencana di sini.
Tak ada kata terlambat.
Siapa yang tahu kenapa aku mengatakan ini padamu?
Aku tahu kenapa.
Aku mengingatkanmu tentang Rohit.
Rohit yang kamu cintai.
Jika kau menemukan Rohit itu lagi Aku akan keluar dari hidupmu.
Dan aku boleh memainkan peran itu selama yang kau inginkan.
Terima kasih sudah menemuiku.
Lupakan saja, nak.
Wanita harus belajar bersikap toleran.
Apakah kau senang...
...bersikap toleran?
Demi anak-anakku bahagia.
Begitu juga suamiku.
Kami wanita tidak penting. Kebahagiaan kita adalah kebahagiaan mereka.
Papa, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan segera bergabung denganmu.
Sampai Jumpa di kantor Gujral.
Haruskah aku menjemputmu?
Aku butuh sesuatu dari lemari. Bolehkah?
Aku akan meneleponmu dalam lima menit.
Ayo.
Apa itu?
Aku butuh sesuatu dari lemari.
Apa yang kau butuhkan?
Kau mau semua ini?
Itu milikmu.
Semua pakaian ini milikmu.
Ini semua milikmu.
Apa yang bukan milikmu?
Ayo, katakan padaku.
Ini file-filemu.
Pengacaramu mengirimiku surat.
Surat manis. Kau menginginkannya? Atau haruskah aku menyimpannya?
Apa yang harus kulakukan? Aku akan menyimpannya.
Jam alarm milikmu.
Ambillah.
Aku sudah terlambat bekerja. Aku pergi.
Bye. Terima kasih.
Omong-omong, drama apa yang kau ciptakan ini?
Kau ingin membuktikan pada semua orang betapa manisnya dan tanggung jawabmu.
Tapi kau tidak semanis itu.
Kau sudah membodohi dunia.
Kau ingin bercerai., Aku akan memberimu perceraian.
Amrita, kau telah mengubah hidupku berantakan.
Aku akan menceraiankanmu.
Vikram sudah menjawab.
Aku sudah kirim email padamu. Bisa kau baca sekarang? Kan kutunggu.
Tentu. Papa, Boleh aku menggunakan komputermu?
Apa kau membacanya?
Ya.
Mereka bilang kau ingin bercerai karena Vikram tidak ke London.
Dan kau membuat tamparan itu sebagai alasan.
Rupanya ketika dia meninggalkan rumah ayahnya dan bisnisnya...
...kau menyiksanya.
Kau ingin membagi kekayaannya.
Dia bilang kau menikahinya karena kau mengincar kekayaan keluarganya.
Kau secara fisik melakukan kekerasan di pesta itu
Kau mabuk dan menyeretnya ke kamar tidur.
Vikram bilang ia mencoba membebaskan tangannya, saat itulah kau dtampar.
Semua orang melihat hal itu terjadi.
Amu, rekening bankmu dibekukan.
Bahkan kartu kreditmu diblokir.
Amrita, aku berasumsi pernyataan mereka semuanya bohong, kan?
Dan kau ingin bermain adil.
Sekarang kau lihat betapa rendahnya mereka.
Dia akan memaksa saksi agar mengatakan dia tidak menamparmu.
Mereka akan bilang kau mabuk dan kau bertingkah aneh malam itu.
Kau mengalami tekanan jiwa, dan kadang-kadang di luar kendali, dll.
Sudah kubilang ini takkan mudah.
Jika semudah itu, separuh pernikahan akan berakhir dengan perceraian.
Kau masih ingin bermain adil?
Ya.
Ini bukan tentang mereka. Ini tentang aku.
Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Aku akan melakukan apa yang aku yakini benar.
Meskipun itu akan bermasalah.
Melakukan kesalahan siap menghadapi konsekuensinya.
Dia sudah menamparku.
Untuk pertama kalinya. Tapi dia tidak bisa melakukannya kembali.
Dia tidak bisa memukuliku sekalipun.
Akhir cerita.
Itulah tentang petisiku.
Vikram, dengar...
Mereka takut.
Mereka sedang rapat dewan.
Jangan tanya siapa yang memberitahuku.
Tapi semua orang tahu kau berencana berhenti.
Thapar Bilang Pada Miranda, kita tak bisa melepaskan Vikram. Dia sangat diperlukan.
Dan kau tidak akan percaya, bahkan Rajhans berjuang untukmu.
Dia berkata: Vikram layak mendapatkan pekerjaan di London.
Saudara! Miranda akan menghubungimu.
- Sekarang berbahagialah. - Aku bahagia.
London!
Kau sudah kembali?
Apakah Amu di sini? Aku mendengar suaranya.
Mungkin dia di kamar mandi.
Aku akan kembali satu jam lagi.
Kita akan bicara nanti.
Tuhan memberkatimu, nak.
Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja. Apa kabar?
Baik sekali.
- Apa Vikram ada? - Di lantai atas. Dia baru saja pulang.
Vikram.
Aku sudah melakukan tes kehamilan di rumah.
Sudah dua bulan.
Aku hamil.
Kau...
...hamil?
Dengan begitu banyak yang terjadi, aku tidak menyadarinya...
Dimana senyummu?
Kita akan punya bayi!
Ini adalah hari yang paling indah. Aku baru saja berhenti merokok.
Miranda telah menyetujui semua persyaratanku. Kita akan ke London.
Aku akan menjadi bos seperti yang selalu kuinginkan.
Ini sempurna! Semuanya berjalan dengan baik. Ingat ini?
Aku menulis tujuan hidupku di buku harianku.
2020, kami pergi ke Inggris. 2020, Ayah.
2022, ayah lagi.
2025, kita berangkat ke Amerika.
Amu.
Amu, setidaknya pikirkan tentang bayinya.
Kau tidak bisa melakukan ini.
Aku tidak melakukan ini.
Apa kau akan merusak kehidupan anakmu karena keras kepalamu?
Jika aku tinggal, aku akan menghancurkan tiga nyawa. Perusahaan, kau dan anak ini.
Satu-satunya alasan aku tinggal jika aku mencintaimu.
Sudah kubilang.
Anak ini milikmu dan milikku. Itulah yang akan terjadi.
Kau tak bisa memutuskan sendiri.
Kau memutuskan apa yang harus kau lakukan.
Pergilah kemanapun kau mau. Pergi.
Tapi aku tidak akan membiarkanmu membawa anakku bersamamu
Mengerti? Aku janji.
Tidak harus seperti ini.
Sandhya-ji...
...kau tahu putri kita akan menjadi seorang ibu.
Kabar gembira! Kau akan menjadi nenek.
Bagaimana aku bisa bahagia? Ini bukan berita gembira.
Mungkin situasinya menyedihkan. Tapi tidak bisakah kita merayakannya?
Ketika kau membawa Amu, ibuku berkata:
Buat Sandhya bahagia.
Jika ibunya senang, anak itu akan lahir bahagia.
Selama sembilan bulan Aku tidak pernah berdebat denganmu sekalipun.
Selamat malam.
Sandhya-ji...
...kita harus membuat putri kita bahagia.
Ayahmu tidak selalu seperti ini.
Ketika aku baru menikah...
...dia akan bercerita puisi revolusioner kepadaku.
Bulan madu kami di Mussoorie dihabiskan dengan mendengarkan...
...syair penyair Ramdhari Singh Dinkar yang revolusioner..
Mengingatkanku.
Pertempuran belum berakhir, pemburu sendiri tidak bisa disalahkan.
Mereka yang berdiri dan menonton ...
Kejahatan dari pengamat akan diingat oleh sejarah.
Saat aku mengandungmu, perasaannya berubah.
Dia berubah dari seorang revolusioner menjadi romantis sejati.
Sayang...
...jika ibunya senang, anak itu akan lahir bahagia.
- Sandhya-ji, tehmu mulai dingin. - Berikan padaku.
Papa...
Apa aku membuat kesalahan?
Kita hanya melakukan apa yang kita anggap benar. Kau akan tahu nanti jika kau salah.
Ini bukan main-main, kan?
Inikah yang benar-benar kau inginkan?
Yakin?
Pikirikan saja baik-baik?
Maka kau melakukan hal yang benar.
Melakukan hal yang benar tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan.
OK?
Minum tehmu.
Diterjemahkan oleh Yoyong Masamba
Ayo, nyonya.
Kau sudah melakukan apa yang harus kau lakukan.
Sekarang dia akan menangani sisanya.
Kau ingin menempuh secara hukum?
Apa maksudmu?
Dia akan mengambil anakku.
Kau yang berangkat ke London. Bukan dia.
Dia tidak akan rugi. Kau harus melakukannya.
- Apakah kau menginginkannya? - Jadi, apa yang harus kulakukan?
Tinggalkan anakku dan pergi?
Hanya karena aku menamparnya sekali.
Tenang. Tenang, saudara.
Ini sudah berlebihan. Lakukan sebisamu.
Dia tidak mampu melawan kasus ini. Aku tahu keluarganya. Jadilah agresif.
Bawa mereka ke meja perundingan dan tawari mereka kesepakatan.
Tak ada anak dalam keluarga kita yang akan menjadi yatim piatu.
Tinggalkan dia. Dia akan menyesal.
- Sunita. - Ya, pak.
Upahmu.
Pak, kau sudah memberiku terlalu banyak.
Itu upahmu mulai sekarang.
Simpanlah.
Bersihkan mejanya.
Beritahu aku jika telepon dari nyonya berdering.
Aku benar-benar tidak melihat apa-apa.
Sayangnya Sania yang melakukannya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Aku melakukan semua yang aku bisa untuk mendapatkannya kembali, Shivani.
Aku mungkin butuh bantuanmu.
Aku tahu aku banyak meminta tapi...
...Aku perlu kau katakan...
...tak ada yang terjadi di pesta itu.
Kau tahu, Vikram?
Aku menikah dengan pria yang luar biasa.
Aku ingin percaya seorang laki-laki adalah orang-orang yang luar biasa.
Jadi aku lebih suka berpura-pura aku tidak mendengar apa yang baru saja kau katakan.
Netra, klienku setuju bercerai.
Dia menawarkan untuk memberikan apartemen Noida-nya kepada klienmu.
Kami juga siap membahas tunjangan cerai.
Tapi klienku punya hak asuh anak yang penuh dan lengkap.
Selama hamil dia harus tinggal di rumah ayah mertuanya.
Lagipula, ini anak pertama Vikram.
Entah kau lupa atau salah paham, tapi ini bukan perebutan hak asuh.
Klienku mencari perceraian dari klienmu atas dasar persetujuan bersama.
Tuduhan kekerasan dalam rumah tangga belum diajukan atau disebutkan.
Netra, aku menawarkan kesepakatan ini padamu...
...karena tak satupun dari kita ingin pergi ke pengadilan.
Kau dan aku tahu betapa jeleknya hal ini di sidangkan di pengadilan.
Kami tidak menginginkan hal itu.
Kami punya saksi mata. Seseorang akan bersedia bersaksi...
...tidak ada kekerasan yang terjadi di pesta itu.
Kita bisa pergi ke pengadilan, tapi kami tidak menginginkannya.
Kau tahu bagaimana inflasi petisi-petisi yang bisa diambil.
Seolah-olah kau anggap ini hal biasa saja.
Lihat dia. Pernahkah dia menyiksa ibumu?
Aku bersikeras kau tidak berbicara dengan klienku secara langsung, Netra.
Bisakah klienmu melihat klienku dan memberitahuku...
...kketika dia sedang bekerja, bukankah dia, dari pagi hingga malam...
...mengurus semuanya??
Bukankah dia yang mengelola rumah? Rumah yang atas namanya sendiri.
Kau ingin menyelamatkan pernikahanmu? Tapi dalam petisi-nya...
...dia mengatakan ibunya hampir mengalami koma karena kelalaiannya.
Aku peringatkan kau. Aku akan mengakhiri sidang ini.
Apa dia tahu perbedaan antara gula puasa dan gula PP?
Tahu seberapa banyak kadar gula darah berfluktuasi?
Kamu tidak berkewajiban menanggapi hal ini.
Tidak, tentu saja tidak. Pria memang jarang seperti itu, kan?
Kau menyerang klienku. Tolong hentikan ini.
Tidak, Tn. Gujral, kau yang menyerang klienku.
Aku sudah selesai sekarang dan kau juga.
Kau akan mendengar dari kami.
Sabharwal Nyonya...
...Kau suah membaca petisi kami dan kami sudah membaca petisimu.
Ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
Vikram cukup berbaik hati membahas penyelesaian ini.
Kau bisa memiliki apa yang kau inginkan dan begitu juga kami. Itu saja.
Amrita, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun.
Aku minta maaf untuk mengatakan ini, tapi kau perlu penasihat hukum yang lebih baik.
Dia tidak tahu kapan dia beralih dari pengacara menjadi aktivis.
Dia tidak akan beralih dari pengacara menjadi aktivis...
...dia akan berubah dari pengacara menjadi seorang wanita. Tentu saja, itu tidak benar.
Sekarang?
Sekarang tidak ada.
Dengar, dia tidak akan pernah menerima kesepakatan ini.
Tapi sekarang dia tahu perceraian itu tidak mudah.
Dia akan kembali. Tunggu dan lihatlah.
Mereka tidak akan setuju.
Netra, aku tidak bisa berbohong.
Dia menamparmu. Apa itu bohong?
Hal ini tidak benar, bukan?
Biar kutuntut dia atas kekerasan rumah tangga.
Atau mereka akan mengatakanmu mengalami tekanan jiwa, pemabuk dan gila. Mereka akan membuktikan semuanya.
Kau akan berjuang melawan kasus ini seumur hidupmu.
Terima kasih, Tn. Gujral. Terima kasih banyak.
Kau serius ingin melakukan ini?
Ibu telah mengatur pertemuan doa untuk bayi kita.
Dia berdoa dia akan terus menggendong cucunya.
Dia menunggumu.
Untuk cucunya.
Kita masih bisa pindah ke London ke Hampstead.
Rumah dengan pintu biru. Semuanya akan baik-baik saja.
Benarkah?
Kau benar-benar berpikir semuanya akan baik-baik saja?
Jika aku pernah melihat dirimu seperti ini sebelumnya, aku tidak akan pernah mencintaimu.
Tapi terima kasih sudah meyakinkanku.
Aku tidak punya rencana menolak ibumu dari cucunya.
Netra dan aku bahkan tidak menyarankan itu.
Meskipun kau menyarankan membeli anak ini dariku.
Tapi aku minta maaf. Ini tidak untuk dijual.
Sangat menyesal.
Dan katakan pada Ibu-Ji, Aku akan berada di pertemuan doa.
Dan dalam petisimu berikutnya kau bisa mengatakan aku mabuk dan mengalami depresi.
Permohonanmu belum lengkap.
Kau bisa melakukannya lebih baik.
Aku tidak mendengar kata-kata terakhirmu padanya.
Sisanya sangat sempurna!
- Vikram, masuklah. - Pak.
- Senang? - Inilah yang kuinginkan.
Pak, aku ingin mengucapkan terima kasih.
Subodh memberitahuku betapa kerasnya kau berjuang untukku.
Kau pikir aku melawanmu.
Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Pak, aku...
- Aku minta maaf tentang pesta malam itu. - Tidak apa-apa.
Subodh menyuruhku masuk. Maaf mendengar tentang bagian depan rumah.
Duduklah.
- Bolehkan aku mengatakan sesuatu? Jangan pedulikan. - Tidak, pak.
Itu salahmu, Vikram.
Kau tidak memukul istrimu. Ini belum selesai.
Kau marah padaku dan dengan Thapar.
Tapi apa kau akan memukul kami?
Dan untuk apa pun itu, sepadan...
Kurasa kau harus sudah memberiknya lebih banyak waktu.
Dia pasti terluka.
Kenapa kau tidak menunggu beberapa hari?
Kau dan aku menjalankan semacam perlombaan aneh.
Kita harus menang. Tingkatkan waktu kita.
Lalu pecahkan rekor dunia.
Tapi keluarga kita tidak ikut dalam perlombaan ini.
Ini tidak baik.
Persis seperti yang kutakutkan.
Mereka sudah mengajukan 498A dan bagian 354 di pengadilan hakim.
Maksudnya?
Kekerasan dalam rumah tangga dan melakukan kekerasan fisik terhadap wanita.
Ini kasus polisi. Mereka bisa menangkapmu.
- Tapi aku tidak marah... - Ya. Kau!
Ambillah. Amrita telah mengirim MoU.
Setuju bercerai dengan persetujuan bersama, maka mereka akan menarik kasusnya di polisi.
Dia tidak ingin apa-apa. Hanya hak asuh bersama anak.
Jadi terserah pilih yang ini, atau pengadilan.
Maaf membuatmu menunggu.
Semua sudah ditandatangani dan siap berangkat?
Dimana Amrita? Aku mau berbicara dengannya.
Dia akan berada di pertemuan doa.
Jika aku bisa berbicara dengan klienmu secara langsung?
Tanda tangan ini. Ini kesepakatan terbaik.
Mengancamku?
Tidak. Sebagai Penasihat hukum.
Kau butuh penasihat hukum yang lebih baik.
Tuhan memberkatimu.
Jangan makan yang manis-manis.
Beritahu seseorang untuk memeriksa gula darahmu setiap hari.
Kau tidak setua itu. Kau punya banyak hal untuk dijalani.
Jaga dirimu.
Kau membuat makanan yang lezat.
Mulai belajar memasak. Ada banyak orang sepertiku yang tidak bisa memasak.
Kau akan sibuk.
Ajari semua orang...
...jalan menuju ke hati pria adalah melalui perutnya!
Kau sudah mengatur pernikahan yang megah untuk kami.
Ketika aku bermain di taman terdekat, Aku menatap Vikram dari jauh.
Aku tidak pernah berpikir aku akan menikah dengan keluarga kaya.
Bahkan, aku tidak pernah berpikir aku akan menikah.
Semua orang menanyakanku ingin menjadi apa ketika dewasa.
Aku tidak ingat bilang Aku ingin menjadi ibu rumah tangga.
Aku tidak tahu bagaimana ibuku datang kepadaku dengan lamaran pernikahan.
Dan bagaimana Vikram setuju.
Aku juga tidak tahu bagaimana cara membuat parathas.
Aku tidak tahu mengapa Vikram menerimanya.
Lalu aku pikir aku mungkin bukan penari terbaik...
...tapi aku bisa menjadi ibu rumah tangga terbaik di dunia.
Aku berusaha sangat keras. Aku janji.
Aku sangat sibuk membuat Vikram senang...
...Aku bahkan lupa biru bukan warna kesukaanku.
Warna favoritku adalah kuning. Benarkan, Papa?
Kau menghujaniku dengan kasih sayang.
Tapi dimalam pesta itu, aku menyadari kau mencintai Vikram....
...,bukan aku.
Setelah malam itu tak satu pun dari kalian datang menemuiku.
Tak ada yang memberitahu Vikram ini kesalahan-nya.
Semua orang berpikir apa yang dilakukan Vikram betul adanya.
Dan jika itu tidak baik-baik saja, Amu harus kita lupakan saja.
Dia harus bangkit.
Aku tidak bisa memaafkanmu untuk itu.
Dalam situasi ini, aku tidak bisa hidup dengan Vikram atau kalian semua.
Vikram dan aku telah berjuang...
...dan kami akan terus berjuang.
Tapi itulah cinta dan perjuangan kami.
Kami akan mencintai anak kami.
Aku akan mencintai bayinya...
...dan Vikram akan lebih menyukainya.
Kau akan lihat.
Aku akan pergi sekarang. Aku akan selalu datang menemuimu.
Ini bukan salahmu.
Ini kesalahan kami seorang ibu.
Dan seorang ayah.
Kami tidak pernah mengajarkan kepada anak-anak kami, mereka tidak boleh menampar seorang wanita.
Ini juga salah ibumu.
Dia hanya menyuruhmu diam.
Kami tidak punya hak memintamu tinggal.
Pergilah.
Berbahagialah.
Seringlah datang berkunjung
Swati, aku hanya...
Kau layak mendapatkan yang lebih baik.
Aku tidak tahu seberapa sering Aku sudah mengecewakanmu.
Aku minta maaf juga...
...tapi itu tidak ada artinya.
Aku tidak mau mendengar apa yang diinginkan kakakku Amu.
Dan aku bersikap sama sepertimu.
Kau ada di sana untuknya saat aku tak ada.
Dan untuk itu aku...
..sangat, sangat menyesal.
Maaf mengecewakanmu.
Aku perlu memulainya kembali, kau tahu.
Aku harus menjadi seseorang yang lebih baik. Seseorang yang pantas untukmu.
Karan, aku tidak akan Kembali dari Bangalore.
Tapi aku tidak akan pergi ke mana pun sekarang.
Aku akan di sini bersamamu. Kita akan memulainya kembali bersama.
Aku meninggalkan perusahaan ayahmu, Rohit.
Aku membuka sebuah firma hukum baru.
Tidak ada lagi bantuan darimu.
Tidak ada lagi hak istimewa menjadi istrimu. atau menantunya.
Aku akan pergi, Rohit.
Aku akan datang dan melihat ayahmu sekali-kali, jika itu tidak apa-apa?
Priyan...
...Aku tidak akan melihatmu lagi.
Ada apa, Netra?
Kau benar.
Ini adalah momen yang dicuri.
Waktu yang kita habiskan bersama.
Aku akan memulai dari awal.
Aku tidak ingin kau membuat keputusan hidupmu untukku.
Aku tak mau itu.
Aku hanya ingin bahagia dalam semua yang aku lakukan sekarang.
Itu saja.
Berbahagialah.
Baik-baiklah.
OK?
Aku tidak akan pergi bekerja. Aku akan menjaga rumah.
Kau ingin menjadi seorang pria? Aku ingin menjadi seorang wanita.
Kita atur penghasilanmu. Aku akan berhenti bekerja.
Jangan pukuli aku.
Jangan pukul aku.
Kalau begitu silahkan, bunuh aku.
Silahkan, bunuh aku.
Jika tidak, aku akan menggorok lehermu saat kau tidur.
Bunuh aku!
Bunuh aku!
Kau pikir kau pria sejati.
Sampai jumpa.
Halo.
Aku sudah berhenti mencari suami sepertimu. Itu sangat sulit.
Rencana yang bagus.
Tapi aku sudah menemukan anak laki-laki untukmu.
Aku akan menjaganya. Dia baik.
Kumohon, Bu.
Sayangku.
Aku bahagia menjadi diriku.
Maaf, Papa. Aku sudah memesan sofa.
Tapi mereka terus menunda pengirimannya.
Tidak ada tanda-tanda mereka.
Hati-hati.
Aku sedang membacakan puisi baru di kampus tempat dimana aku mengajar.
Kami membicarakannya saat kudengar kau lahir.
Apakah kau tahu judul puisiku?
Amrita . Itu sebabnya kami memanggilmu Amrita.
Ya, aku mengubah kerudungku ke langit.
Jika jalanku menyimpang dari keinginanku.
Jika dadaku terasa sesak.
Aku harus memiliki langit untuk menjadi milikku.
Aku ingin menyebar diriku ke segala arah.
Aku ingin kau memanggilku ke segala arah.
Jika kau menemukanku, peganglah erat-erat.
Tapi lipat langitku dan kembalikan padaku.
Jadi kau ingin punya langit sendiri.
Dan aku punya langit sendiri.
Hai.
Hanya saja semuanya sudah diatur.
Hai.
Boleh aku bicara denganmu?
Aku tidak pernah membayangkan kita akan berakhir di pengadilan.
Aku mengacau, Amu.
Tidak... Aku tidak akan meminta apa pun darimu.
Aku tidak punya hak.
Aku tidak punya hak untuk menamparmu.
Kenapa kupikir aku punya hak itu?
Tidak ada yang memiliki hak itu.
Dan aku tak pernah minta maaf padamu.
Aku tak pernah minta maaf.
Ketika aku berkata: Aku mencintaimu, Kurasa itu sudah cukup.
Entah apa yang kutulis dalam petisi-petisi itu.
Aku minta maaf untuk itu semua, Amu.
Sungguh.
Ketika aku memasuki rumah Hampstead dengan pintu birunya...
...rasanya tidak seperti di rumah.
Kau rumahku.
Jadi aku berhenti dari pekerjaanku.
Rumah itu, Hampstead, pekerjaan, semuanya.
Aku akan mulai dari nol.
Lain kali aku akan pantas untukmu.
Sering-seringlah melihatku, temanku.
Saat kita berpisah...
..begitu sedikit yang tersisa
Sebagian sinar matahari...
...dipenuhi dengan tetesan embun.
Impian yang terkoyak ...
...layak-kah untuk hidup?
Apa janji-janji palsu...
...layak diraih?
Aku memutuskan...
..menemukan diriku lagi
Sekarang aku harus mengikuti kata hatiku.
Jalan yang kita lalui...
...tampaknya begitu sempit sekarang
Sebagian sinar matahari...
...dipenuhi dengan tetesan embun.
Terima kasih telah menggunakan subtitle ini. Yoyong Masamba
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.