Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitles by VIU // Synced by 308Moune Diterjemahkan Oleh Ari Usman @faridusman94
Blog : subindofaridusman.blogspot.com Facebook : http://www.facebook.com/FU.Indo.Subs
Lepaskan aku!
Kau tidak apa-apa? Kau pasti kaget, ya?
Ya, aku sangat kaget.
(Episode 3)
Terima kasih.
Senyumlah sebagai ucapan selamat tinggal.
Tolong hati-hati mengemudi.
Plat mobil 38 Ra 2344.
Para wanita cenderung melihat ke belakang.
Jangan membalikkan badanmu
Terus lihat dia sampai akhir.
Seperti itulah pria sejati mengakhiri kencan.
Dia tampan sekali.
Tunggu.
Apa yang mendadak terjadi padamu?
Kau sudah menanggalkan hidupmu?
Aku paham bila kau patah hati setelah So Ra memutuskanmu, tapi...
Kenapa dengan jaket besar ini?
Kau akan melawan dengan waktu.
Lihat itu.
Pakaianmu begitu konyol sampai para gadis menatapmu.
Maksudku, kau punya panutan yang hebat.
Kenapa kau tidak mencoba menirunya?
Oppa!
Sudah kubilang aku hanya perlu waktu seminggu.
Jangan cuman cemburu. Kau tuh butuh pelajaran dariku, keparat.
Kebetulan sekali.
Oppa, kau belajar di sini, ya?
Kenapa aku tidak tahu tentangmu sebelumnya?
Dia tidak layak mendapatkan perhatianmu.
Apa tidurmu pulas setelah membuatku pulang sendiri?
Meskipun aku tidak yakin apa yang terjadi di antara kalian,
tapi kau tuh bodoh amat.
Kau malah biarkan gadis cantik seperti ini pulang sendiri?
Sudah gila, ya?
Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman.
Lagian, aku sudah menghafal nomor plat mobilnya.
Kau bahkan tidak tahu nomor teleponnya.
Platnya 38 Ra 2344.
Kami tiba di Cheongdam-dong jam 23.45 malam.
Aku memastikan dirimu pulang dengan selamat.
Sebenarnya, aku bahkan tidak bisa tidur pulas karenamu.
Aku terkejut sekali semalam.
Aku menyesal karena aku tidak menanyakan nomor teleponmu.
Dan juga lihat ini. Kita bertemu lagi!
Oppa, kita pasti ditakdirkan bersama.
Begini, kalau kau meminta nomorku dulu,
- aku akan memberimu nomor... - Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu.
Apa kelasmu sudah selesai?
Kelas itu belakangan.
Aku ada beberapa kelas lagi.
Aku akan menunggumu. Kita ketemuan setelah kelas selesai.
In Sung amat lemah.
Itu hari keberuntungan mereka.
Seandainya aku ada di sana semalam, mereka tidak akan punya peluang.
Hei, harga hamburgernya itu 18,000 Won.
- Apa? - Berapa lotre yang harus kita menangi?
Hamburger buatan di sini enak, kok.
Aku cuma melakukan kewajibanku. Aku tidak butuh sesuatu yang mahal.
Hamburger berasal dari Hamburg, Jerman.
Kalau diingat lagi, 18,000 Won tak ada apa-apanya.
Kau memang amat membosankan.
Kukira asalnya dari Mongolia.
- Mongolia? - Ya.
Jangan konyol.
Tae Yi, maaf.
Dia memang lemah dalam segala hal,
dan terutama dalam pengetahuan umum.
Setahuku, sekitar abad-14,
suku Tatar Mongolia rata-rata nomaden makan bison mentah sebagai bahan pokok makanan.
Untuk melunakkan dagingnya,
mereka menyimpan potongan dagingnya di bawah pelana.
Bila berlarian di padang rumput,
efek dari pelananya-lah yang bisa melunakkan dagingnya.
Mereka akan membumbui daging,
dengan garam, merica, dan sari bawang merah lalu memakannya.
Kemudian, para pedagang dari Hamburg memperkenalkannya ke Eropa,
yang kemudian dikembangkan menjadi hamburger sekarang ini.
Oppa hebat sekali.
Mungkin hanya kebetulan ia ingat sejarah hamburger.
Kau tahu? Biasanya,
akan lebih cepat menanyakan apa yang dia bisa. Itu tidak banyak.
Pengetahuanmu sangat luas, kau petarung yang baik,
sopan, dan punya selera model yang bagus.
Terima kasih buat makanannya, Tae Yi-ssi.
Kenapa denganmu? Tak usah sopan begitu.
Dia terlalu malu di dekat wanita.
Baiklah, Tae Yi. Kapan-kapan aku akan mentraktirmu.
Baiklah.
Hari ini, aku yang traktir.
Aku agak sibuk ini, tapi haruskah aku meluangkan waktuku saja?
Ayo, Oppa.
Rock and roll, baby.
Salahku. Maaf yah, Oppa.
Tak apa, kok. 'Kan aku bisa mengulanginya.
Oppa, aku ada permintaan.
(Eyes, Nose, Lips)
Tae Yi, tutuplah telingamu.
Baiklah, kau sudah banyak mentraktir kami hari ini.
Aku akan mengantarmu....
Kau akan mengantarku pulang, 'kan?
Aku memang ingin mengantarmu pulang,
tapi aku harus belajar.
In Sung-lah yang akan mengantarmu.
Terima kasih.
Oke. Kami akan pergi.
Baiklah.
Tidak mungkin.
Sungguh ada yang tidak beres.
Kita sudah sampai. Sayang sekali.
Kau tinggal di sini?
Ya.
Baiklah. Masuklah sekarang.
Oppa.
Ada yang ingin kukatakan padamu.
Apa itu?
Aku bukan perempuan gampangan.
Aku tak pernah gampangan suka sama seseorang.
Aku,
suka padamu.
Bagaimana pendapatmu,
tentangku?
Begini...
Kau boleh tersenyum sebagai jawabannya.
Dengan kata lain, bersikap jual mahal.
Baiklah. Aku tidak akan memaksamu.
Pikirkan saja, oke?
Aku kaget.
Kau sedang apa di situ?
Ternyata aku,
diduakan oleh cinta dan sahabat.
Tapi aku malah pilih temanku.
- Apa maksudmu? - Aku paham kok akan perasaanmu.
Jangan minta maaf.
Kau malah membuatku semakin sedih.
Aku mungkin akan patah hati selama sekitar satu hari,
tapi esoknya aku baikan kembali.
Aku tidak rela melepaskannya untuk orang lain.
Tapi ternyata kau.
Aku lebih menghargai persahabatan kita ketimbang seorang gadis.
Seperti itulah aku.
Hei, Ji Seob.
Efek samping hari ketiga.
Aku lari 100 meter dalam waktu 11 detik.
Aku bisa beraktraksi di tiang.
Yang paling penting adalah aku tidak pernah lelah,
walau aku banyak olahraga.
Bukan hanya itu saja.
Aku bisa melihat semua hal sejauh apa pun itu,
dan mendengar semua hal sejauh apa pun itu.
Hanya dengan membalik buku, aku bisa mengingat semuanya.
Aku memang sudah gila.
(Catatan efek samping)
Wang So Ra, gimanalah nasibmu sekarang?
Kau menyesal telah memutuskanku.
So Ra-ku, semangat!
Nilai akademiknya menurun.
Seperti yang kubilang, dia harusnya berhenti belajar piano untuk sementara.
Terima kasih atas usahamu.
Ya.
Aku sering memberikan les privat.
Lebih cepat, lebih baik. Aku bahkan bisa mulai besok.
Aku jurusan piano di Universitas Miseong.
IPK-ku?
Anda bahkan ingin tahu tentang IPK-ku?
Agak sedikit di bawah 3,
tapi aku mendapat nilai A di hampir semua ujian praktik.
Ya.
Ya, aku mengerti.
Harap telepon aku kembali. Ya.
(Ibu)
Apa lagi?
Aku sudah makan. Kenapa?
Aku hanya lelah saja. Kenapa lagi?
Ya, aku masih mimisan.
Sudahlah. Jangan bertingkah seolah-olah Ibu khawatir padaku.
Sejak kapan Ibu peduli padaku?
Harusnya Ibu yang bayar uang kuliahku,
bukannya membuatku bekerja keras sampai tidak bisa mengejar impian.
Ya, semua salah Ibu!
Halo.
Dasar.
Kenapa kau tidak makan?
Tidak apa kok memakannya beberapa hari setelah tanggal kedaluwarsa.
Hari itu,
memang amat melelahkan.
Tidak ada lagi,
alasan yang lain.
Ayo kita putus.
Apa?
Ayo kita putus.
- Aku sudah muak. - So Ra.
- So Ra. - Aish!
Dasar pecundang.
So Ra!
So Ra!
So Ra!
Aku memang menyedihkan.
Bukan In Sung,
tapi karena aku, yang hidup seperti ini.
Aku merasa seolah-olah hidupku yang memuakkan ini takkan pernah berakhir,
jadi aku ingin,
mengakhirinya dengan caraku.
(Dicari Pekerja Paruh Waktu)
Ya. Selamat datang.
Aku akan beli yang kubutuhkan lalu pergi.
Memang si kampret itu menang lotre?
(Beli 1 gratis 1)
Belikan aku ini. Aku ingin menjadi beli satu gratis satu-mu.
Ya.
- Kau sudah memikirkannya? - Apa?
Oh, itu?
Kau ingin susu pisang?
Oke. Mau kau beli apa saja, asal aku suka.
Ya.
Ini.
- Tapi, kau sungguh suka padaku, ya? - Ya.
Apa yang kau suka dariku?
Aku suka semuanya.
Mana mungkin.
Oke. Ayo kita pacaran.
Sungguh? Sungguh, sungguh?
Ya. Aku juga menyukaimu.
- Kau serius, 'kan? - Ya.
- Apa ini hari pertama kita sebagai pasangan? - Ya.
Hari pertama.
Aku senang sekali.
- Apa enak? - Ya.
Aku juga.
Aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu,
tapi aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman.
Aku serius.
Dan tidak seperti cewek kebanyakan, kau imut....
dan juga cantik.
Kau amat manis.
Suara tawaku keren?
Woah.
Bagaimana bisa suara ketawaku keren?
Kenapa kau malah memintaku tertawa?
Si gila itu maunya apa, sih?
Tidaklah. Apa?
- Dasar kau... - Aku juga.
Hei!
Hei.
Ya. Ya. Oke.
Ya.
- Apa? - Kau ini kenapa, sih?
- Apanya? - Memangnya kau ini homo atau gigolo?
Apa karena itu kau datang ke kamarku?
Bukan. Bukan begitu.
Kau tuh terlalu berisik!
Suaraku kenapa?
Hei. Mikirin dong tentang tetanggamu.
Jangan terlalu egois gitu.
Aku ini egois?
Bukannya yang egois itu kau?
- Kenapa denganku? Apa? - Di hari aku tidak lulus ujian,
kau malah mencampakkanku.
Kau bahkan tidak sedikit pun memikirkanku.
Karena kau ini orang yang begitu egois,
aku tidak tahan lagi.
Tahu apa kau?
- Apa yang aku tidak ketahui? - Itu ribut-ribut apaan, sih?
Hei, hei.
Kenapa kalian berisik sekali?
Kalau ingin bertengkar di luar saja, oke?
Aku tidak ingin dipecat di sini.
Kau akan menyesal karena mencampakkanku!
Pelankan suaramu.
Wang So Ra. Jangan bilang kau sudah menyesal.
Tidak, itu tak mungkin.
Ular berhati dingin sepertimu tidak mungkin bisa menyesal.
- In Sung, tolong pelankan suaramu. - Ya.
Kembali ke kamar kalian.
Masuklah. Masuklah.
Sekarang jam 7.59 pagi.
Dan 57 detik. 58 detik. 59 detik. Tepat jam 8 pagi.
Semua indra perasa telah terbangun.
Aku bisa tahu waktu tanpa pasang lagi alarm.
Ini dia.
Ini.
Daebak.
Aku tidak bisa membawanya.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Seandainya aku tahu para gadis menyukai hal sederhana seperti ini,
hidupku mungkin akan berbeda.
- Kau keren sekali. - Hidupku sudah berubah.
Aku telah berubah dari pacar amatir yang sukanya bimbang,
menjadi ahli hubungan yang percaya diri.
Maaf.
Dasar...
(Lulus)
(Lulus)
(Lulus)
Dasar kau...
Maaf.
Hai, Tae Yi.
Hari ini kita akan pergi ke Sindang-dong, bukan?
Mau sesuatu yang lebih enak dari tteokbokki?
Di mana, Oppa?
Sesuatu yang sangat mewah dan enak.
Oppa, tempat ini bagus sekali.
Alunan pianonya juga bagus.
Apa ada masalah dengan makanan Anda?
Sama sekali tidak.
Makanannya enak, kok.
Tapi bukankah menurutmu makanan ini dan juga alunan musik itu,
tidak selaras?
Apa ada lagu yang ingin kau dengar?
Mungkin sebaiknya aku memberi saran.
Ada lagu yang ditulis oleh komposer Rusia Mily Balakirev.
Terinspirasi dari perjalanannya di Caucasus.
(Lagu paling sulit)
Kau tahu lagu,
dari perjalanan ke Caucasus oleh Bala... atau semacamnya?
- Tidak. - Kau tak tahu?
Kupikir dirimu hebat.
Maafkan saya,
tapi pianis kami belum berlatih dengan lagu itu.
Kalau begitu, bagaimana dengan "Gaspard de la nuit, Trois poemes pour piano",
berdasarkan tiga puisi dari Aloysius Bertrand.
Sesuatu mengenai tiga piano, gas,
dan puisi mengenai asparagus atau semacamnya.
Kau sedang apa?
Si brengsek itu.
Aku kesal sekali.
Dasar.
Dia menyebalkan sekali.
Oppa.
Hai.
Aku ketahuan.
Subtitles by VIU Diterjemahkan Oleh Ari Usman @faridusman94
Blog : subindofaridusman.blogspot.com Facebook : http://www.facebook.com/FU.Indo.Subs
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.