Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Gendrolelek@gmail.com Selamat Menonton, Jepara 8 April 2020
Vikram...
Vikram.
Vikram.
Vikram, tolong Vikram. Aku takut.
–Lepaskan aku! –Sushmi
Vikram...!
Sushmi...!
Vikram, tolong Vikram!
Aku takut.
Lepaskan aku! Kumohon.
Kalian siapa?
Vikram!
Hei, lepaskan dia!
–Sushmi! –Jangan!
Jangan! Kumohon... Kumohon...!
Vikram...!
Aku tidak suka mengatakan ini.
Tapi kamu harus berhenti dari kepolisian, Vikram.
Aku serius dengan ucapanku.
Apa?
Aku tidak mungkin berhenti.
Apa kamu belum paham?
Ini stres pasca trauma klasik.
Dan tahapannya sudah bahayakan organ vitalmu.
Tekanan darahmu tinggi sekali.
–Jika terus begini maka... –Aku tahu.
Cukup berikan saja obatnya.
–Aku tidak bisa berhenti dari kepolisian. –Obat tidak akan membantu, Vikram.
Masalahnya...insiden kecil dalam pekerjaanmu selalu mengingatkan masa lalumu.
Seperti pemicu.
Itu sebabnya kamu alami serangan panik.
Jika organ vitalmu terus terpengaruh, bisa berbahaya buat jantungmu.
Tetap rahasikan ini, Roopa. Terimakasih.
"Luka yang mengejarku..."
"Entah apa dosaku..."
"Berapa jauh ku harus pergi... agar menemukan damai..."
"Duri masa lalu ada di mataku... Jalan di depanku penuh ranjau..."
"Jati diri yang masih dirahasiakan... Menyisakan banyak pertanyaan..."
"Kenangan diam-diam menjadi musuhku"
"Sebuah peperangan yang kulawan sendiri"
"Masa lalu datang menghunus pedangnya... Mimpiku penuh dengan darah..."
"Waktu membentuk badai dalam hatiku..."
"Kekacauan terbuka saat masa lalu membalaskan dendamnya..."
"Biarkan kebencian datang menghampiri... Tapi aku tidak akan kalah..."
"Hidup sudah tak sama lagi... Tapi aku tak bisa berlari..."
"Entah mimpi ataukah ilusi... Aku tak bisa mengingatnya lagi..."
"Entah mimpi ataukah ilusi... Aku tak ada bukti..."
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
Hai, Vikram.
Pagi, Pak.
Bisa hentikan suara bisingnya?
Hei, matikan mesinnya.
Kami dapat informasi bahwa ada mayat di tempat ini.
Sudah kami cari selama 6 jam tapi tanpa hasil.
Area pencarian juga luas.
Pak Vishwa perintahkan kami minta bantuanmu dan tetap komunikasi.
Pak, bukan disitu... Semua orang....
Roni, beri hormat.
Kenapa dia memetik semak liar, Pak?
Lihat saja...
Panggil semua petugas kemari.
Semua ini semak liar.
Jika kalian lihat ketiganya tumbuh di titik yang sama, laporkan aku.
Siap!
Rohit, kamu tangani.
–Bagi dua tim dan berpencar. –Siap!
Kalian kesini dan kalian ke sana.
Siapa namamu?
Seenu.
Kamu tidak sekolah?
Katakan sejujurnya atau aku tangkap.
Tidak.
Panggil majikanmu kemari.
Pak.
Gali ini.
Mana orang dari forensik?
Saya, Pak.
Hei...
Pelan-pelan.
–Anak-anak... –Pak.
–Ambil tandu, cepat! –Siap, Pak.
–Tutup mayatnya dengan baik. –Govind, cepat!
Bawa ke van.
–Tunggu, aku akan kembali. –Kamu baik-baik saja?
–Anak-anak cepat. Terus jalan.... –Ayo pergi!
Tahu dari mana lokasi mayatnya?
Kamu tahu alasan petani menyingkirkan gulma?
Gulma lepaskan biokimia tertentu ke dalam tanah, seperti racun.
Sehingga tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya.
Lalu?
Jika kita gali tempat gulma tumbuh, biokimia dalam tanah terganggu.
Semak lain bisa tumbuh.
Aku hanya identifikasi titik yang digali baru-baru ini.
[Pesan] Kamu sudah sampai?
[Pesan] Akan kuberitahu Abhilash. Tolong jangan saling ribut.
[Pesan] Aku atasanmu! Berhenti gunakan emot dan ketiklah!!
Perintahkan tim forensik untuk mengumpulkan sampel.
–Aku butuh laporannya segera. –Siap, Pak.
Apa yang kalian lakukan disini?
Pak Vishwa yang menyuruh kami.
Aku belum menerima informasinya.
Pak...
Pak...
Tapi saya bisa tangani sendiri.
Siap, Pak.
Dia dan jenggotnya...
Apa dia terlihat seperti seorang polisi?
Bukankah sudah seharusnya, Pak?
Pak, untuk berbaur dengan masyarakat umum...
Maaf, Pak.
Apa yang terjadi?
Jangan sok pintar.
Sudah jelas ini kasus bunuh diri.
Tapi entah kenapa kamu dikirim kemari.
Sudah lihat sendiri 'kan?
Kenapa kalian anggap ini kasus bunuh diri?
Ini....ada bukti videonya.
Kalau dulu ditulis di kertas.
Karena tehnologi sudah maju, mereka sekarang membuat video.
Aku bertanggung jawab atas kematianku sendiri, maafkan aku.
Coba sini...
Apa kamu bodoh? Abhilash....
Terus siapa yang hentikan video setelah kematiannya?
Aku yakin ada orang kedua yang hentikan videonya.
Di ponselnya tidak ada aplikasi untuk hentikan video sendiri.
Dan kamu juga menyentuhnya tanpa sarung tangan.
Apa kalian tidak curiga mencium bau menyengat di ruangan ini?
Kalian tahu apa ini?
Ini disebut tinta pernis.
Benda ini hanya digunakan oleh pelukis, tukang kayu dan pekerja pabrik tinta.
Tidak ada kerusakan di jendela maupun pintu rumah.
Artinya korban sendiri yang membuka pintu dan kenal orangnya.
Tersangka kemudian kabur lewat jendela.
Ada jejak sepatu.
Kotoran di sepatu pasti tercecer saat dia melompat.
Selidiki daftar kontak korban yang berprofesi sebagai pelukis, tukang kayu atau pekerja pabrik tinta.
Itu petunjukmu.
Korban dipaksa bunuh diri.
Hei Abhilash, untuk menangani kasus yang digunakan bukan ini tapi ini.
Lain kali gunakanlah.
* Laboratorium Sains Forensik Daerah Hyderabad, Telangana *
Apa Srinivas menelfonmu?
–Minggu lalu dia hubungi kita. –Kabari aku jika ada masalah.
Aku...
–Hai. –Hai.
Kamu datang terlalu cepat. Aku masih butuh waktu.
–Aku tunggu. –Kamu yakin?
–Hai, Rohit. –Hai, Neha.
Mau kupesankan kopi?
–Tidak usah. –Santai saja.
–Selesaikan pekerjaanmu, kami tunggu. –Oke, nanti aku kembali.
Hai, Dokter. Hasilnya sudah keluar?
Ya, 2 jam lagi.
Akan kami kebut.
Idealnya tehnik pencocokan DNA harus selesai dalam satu jam.
–Kabari aku. –Oke
–Pak Ramana, laporan balistik sudah siap? –Hampir selesai.
Email laporannya ke Pak Venkatesh, oke?
Kabar ibumu bagaimana?
Keadaannya tidak bagus.
Dokter merujuknya ke Mumbai.
Saudaraku yang disana akan membawanya dalam seminggu.
Jangan sungkan jika butuh bantuan.
–Dahulukan orang tuamu. –Tentu saja.
Coba perjelas lagi atau penyidik akan mengirimnya kembali.
Lakukan yang terbaik.
–Swapna bagaimana? –Dia baik.
Kenapa tidak mampir?
–Kamu belum mampir ke rumah baru. –Mungkin minggu depan.
–Hai, Vikram. –Hai, Shinde.
Neha membuatmu menunggu lagi?
Aku sudah mengirim email, periksalah.
–Dia sedang kerjakan kasus... –Maaf, ayo pergi.
–Shinde, ayo ikut. –Tidak...tidak.
Aku hanya menyapa, lanjutkan saja.
–Sampai nanti. –Sampai nanti, Shinde.
Oke Vikram, aku harus pergi. Dia pasti menungguku.
–Ya. –Sampai nanti, Neha.
Jadi?
Bagaimana harimu?
Cukup bagus.
Roopa menelfonku.
Kenapa dia tidak bisa rahasiakan informasi pasien?
Kamu akan menyelidiki kami juga?
Tolong bawa masuk.
Mau minum kopi?
Ya, tentu.
Kenapa Vicky?
Apa salahnya jika berhenti demi kesehatanmu?
Hentikan, Neha.
Kamu kenapa, Rohit?
Kamu mencemaskan ibumu?
Kamu tidak perlu memikirkan itu.
Sudah minum obatmu?
Tolong pikirkan aku, Vicky. Aku tidak mau kehilanganmu.
–Tekanan darahmu terus naik. –Neha, tolong...
Aku tahu kamu bicara untuk kebaikanku. Tapi jika berhenti kerja, aku lebih menderita.
Jelaskan alasannya...
–Kabar Vikram bagaimana? –Dia baik.
Kenapa tidak kamu ajak mampir? Dia belum tahu rumah baru kita.
Sudah, bilangnya kalau ada waktu.
Aku tidak bisa jelaskan padamu, Neha.
Semua itu berhubungan dengan masa laluku.
–Tepat sekali! Kamu belum... –Aku tahu belum cerita padamu.
Tapi percayalah...
aku bisa gila jika berhenti kerja.
Ada kalanya saat bicara denganmu, kamu terasa asing bagiku.
Kamu siapa, Vikram? Apa yang terjadi dengan hidupmu?
Aku akan cerita, Neha. Tapi tidak sekarang.
Tolong aku, ambil cuti panjang dan pulanglah ke kampung.
Lakukan perawatan sesuai saran Roopa, setelah sembuh baru kembali. Oke?
Belum paham omonganku? Aku tidak bisa.
Roopa tidak memahami masalahku, lagipula dia temanmu 'kan?
Jadi sarannya pasti ikuti kemauanmu.
Jika tidak mau tinggalkan saja aku. Aku tidak menyuruhmu pensiun 'kan?
Dengarkan aku atau mulai besok jangan menemuiku.
Aku hanya ingin membantumu Vikram.
Halo Hyderabad,
Kita melihat angka kejahatan menurun drastis karena upaya keras tim HIT dalam mencegah kejahatan.
Merubah kota ini menjadi tempat nyaman untung ditinggali dengan menangani kasus orang hilang dan penculikan.
Terimakasih kepada polisi kita.
Dan topik hari ini adalah keselamatan wanita. Kita langsung menuju penelepon pertama...
* Departemen Penyidik Kejahatan *
Pagi, Pak.
"Ada yang bisa dibantu?"
Hei, Vishnu...berhenti nonton video!
* Tim Penanganan Pembunuhan *
KASUS PERTAMA
Kamu kepala Tim tapi minta cuti 6 bulan?
Tdak ada pilihan lain, Pak.
Kenapa tiba-tiba?
–Ada urusan pribadi, Pak. –Sudah kamu pikirkan?
Tapi kamu harus siap jika dibutuhkan. Aku menyetujui cutimu. Pergilah!
Terimakasih, Pak.
Pak, aku segera kembali. Maaf...
Apa dia pergi?
Hah? Nanti juga dia pulang.
Hai, Siri.
Hai, Siri.
–Kenapa? –Mobilku mogok, Pak.
–Dimana rumahmu? –Dekat perumahan Raviryal gate.
Ayo, aku antar.
Jangan dengan jip polisi, Pak.
Sudah telfon seseorang?
Ponsel saya ketinggalan.
Saya berniat pulang mengambilnya tapi malah mobilku mogok.
Berikan nomornya.
Ayah, ini ponsel polisi...
Mobilku mogok di ORR.
Ponselku ketinggalan di rumah.
Bisa jemput aku?
Antara pintu tol Raviryal dan Peda Galconda.
Aku di pinggir jalan yang menuju rumah.
Oke, aku pergi.
Kamu tidak apa-apa 'kan?
Tentu, Pak. Terimakasih
Oke.
Pak...!
–Hei, jangan teriak! –Pak.. Pak..
Tersangka apa?
Kejahatan ringan.
Pak, tolong lepaskan saya. Saya tidak tahu apa-apa.
Saya tidak bersalah.
Hei, apa ini berkas yang diminta CI? Kamu bawa berkas apa?
Kenapa?
–Katakan! –Pak.. Pak..
Tunjukkan tanganmu.
Akan kuambil berkasnya.
Tunjukkan tanganmu!
Dia tidak menurut, oleskan bubuk cabai di mulutnya.
Hei, diam!
–Narsimha... –Pak.
Kamu sudah gila?
–Berkas apa yang kamu berikan? –Maaf, Pak.
–Berkasnya sudah benar 'kan? –Ya, Pak.
Kenapa?
Beberapa waktu lalu putriku menelfon dari sini, Pak.
Ya, dia gunakan ponselku. Ada apa?
Benarkah? Dimana putriku, Pak?
Tadi kulihat dia bicara dengan pengemudi sedan biru.
–Kupikir itu kamu, bukan ya? –Bukan, Pak.
Lakshmi, Preeti sudah pulang?
Ada kesalah pahaman. Tutup telfonnya.
Pak, Preeti belum pulang.
Oke, pulanglah. Mungkin dia pulang malam.
Pasti sedang bersama temannya, hubungi aku jika malam belum pulang.
Aku di kantor polisi Golkonda, SI Ibrahim.
Baik, Pak.
Pak, putriku belum pulang.
–Kenapa kemarin tidak menelfonku? –Anda belum paham?
Seharusnya anda kemarin tanggap, anda orang terakhir yang bicara dengannya.
–Kenapa dibiarkan sendirian? –Hei!
Sebentar.
Sudah kutawarkan mengantarnya pulang tapi dia menolak naik jip polisi lalu menelfonmu.
Dan kenapa berteriak padaku, memangnya aku pengawal putrimu?
Isi laporanmu pada petugas disana, Kami akan mencarinya.
Aku bukan pembantumu yang takut teriakanmu, pergilah!
–Pak, tolong... –Pergilah, Bu.
–Hei, Narsimha. –Pak.
Kamu urus.
Mobilnya masih disana atau sudah dibawa pulang?
Kami sibuk mencari putri kami.
Belum sempat mengurusi mobilnya.
–Siapa namamu? –Vasavi, Pak.
Vasavi, ada berapa kamera CCTV?
Adu dua kamera, Pak.
Satunya menghadap jalan, satunya lagi menghadap pintu tol.
Aku butuh rekaman sore kemarin dari jam 5:30 sampai 6:30.
–Baik, Pak. –Rekaman dari kedua kamera.
Baik, Pak.
Kemarin kamu lihat sedan biru sekitar jam 6 menurunkan gadis berusia 20-an?
Tidak, Pak.
Tidak ada sedan biru pada jam yang anda sebutkan, Pak.
–Dari kamera yang menghadap jalan? –Tidak ada, Pak.
Ada yang salah, Narsimha.
Kemarin aku lihat sendiri mobilnya.
Mana mungkin lenyap begitu saja tanpa melewati pintu tol?
–Lakukan satu hal. –Pak.
Pergilah ke pintu tol Pedda Golkonda dan minta rekaman CCTV dari keempat pintu masuk.
Kita akan lihat apa ada sedan biru masuk.
Baik, Pak.
Pak.
Kudengar kamu kemarin bicara ngawur.
–Bukan begitu, Pak. –Diam.
–Kamu berani mendebatku? –Apa salahku, Pak?
Jangan bicara apapun.
Kamu sudah malas kerja?
–Dimana pistolmu? –Di laci meja, Pak.
–Ambil! –Pak.
Kamu kutangguhkan.
Kamu yang terakhir bicara dengannya dan harus datang jika dimintai keterangan.
Jika tidak kooperatif aku akan menguburmu!
Paham?
Pak.
Hei, jika ingin keluar kota kabari Narsimha dulu.
Jangan khawatir Mohan, aku akan tugaskan orang-orang terbaikku.
–Preeti pasti kita temukan. –* DUA BULAN KEMUDIAN *
–Halo... –Ini Shinde dari forensik.
–Ya, bicaralah Shinde. –Vikram, Neha menghilang.
–Apa? –Dia menghilang.
Neha?
–Tidak ada yang tahu keberadaannya. –Neha menghilang?
Vikram.
Halo!
Vikram!
Vikram, halo!
–Pak. –Duduk, Vikram.
Pak, kenapa Neha bisa menghilang?
–Tenanglah, kami akan mengurusnya. –Berikan detailnya, biar saya selidiki.
–Sudah ada yang menangani. –Siapa?
–Pak, serahkan kasusnya padaku. –Itu tidak mungkin.
Dan kuberitahu... Aku sudah bicara dengan, Rohit.
Kudengar kamu bertengkar dengan Neha sebelum pergi.
Sebelumnya kamu belum pernah mengambil cuti panjang dan pulang kampung.
Di kesempatan lain Neha menghilang.
Aku sudah bicara dengan ibu Neha, dia bilang aku harus mengawasimu.
Semua petunjuk ini akan menjadikanmu tersangka, Vikram.
Aku akan memanggilmu untuk penyidikan begitu formalitasnya selesai.
Tapi sebelum itu, jika kamu ikut campur kasusku..
–Aku bersumpah... –Hei!
Maaf, Pak.
–Pak, kenapa tidak memanggilku dulu? –Jika kulakukan pasti kamu rebut kasusnya.
Terus...?
Jika kamu tangani kasus hilangnya pacarmu...
Kamu akan gunakan emosimu bukan kecerdasanmu.
Menjadi terlalu pribadi.
–Pak, anda tidak mengerti... –Dan Abhilash menjadikanmu tersangka.
Jadi kamu tidak boleh terlibat dalam kasus ini.
Bukan karena mencurigaimu tapi untuk menjaga obyektifitas penyidikan ini.
Pak, masalahnya dia tidak akan obyektif dan arahkan penyidikan padaku, aku mengenalnya.
Tenanglah, Vikram.
Abhilash dan aku sendiri yang tangani kasusnya.
Tidak bisa, Pak.
Pak, aku akan mulai selidiki sendiri.
Meski anda suka atau tidak.
Halo Rohit, kamu dimana?
Apa yang terjadi, Rohit?
Aku telfon kantornya dan bukan dia yang menjawab...
lalu Shinde mengatakan hal ini.
Dia menelfonku seperti biasa malam sebelumnya.
Kamu tidak merasakan hal aneh saat bicara dengannya?
Terdengar normal-normal saja saat aku bicara dengannya dua hari kemarin
Tapi setelah itu aku merasa ada yang aneh.
Aku harus masuk ke rumah Neha, Rohit.
Kamu yakin?
Jika Abhilash tahu dia pasti akan langsung menangkapmu.
Aku tidak boleh mundur karena dia. Ini Neha, Rohit.
–Kamu menerima telfon? –Baru kemarin.
Ini kasusnya Abhilash 'kan?
Bagaimana perkembangan kasusnya?
Kamu bukan orang yang tepat untuk putriku Vikram, tolong tinggalkan dia.
–Aku akan bicara ke, Abhilash. –Ya, Pak.
Ravi, berikan kuncinya.
Ini...
Semua aman?
Ya, Pak.
Pasti saklarnya kendur.
Rohit, kemari.
Pasti ada yang terjadi malam itu.
Neha pulang dan parkir mobilnya seperti biasa.
Tidak terlihat upaya masuk paksa di rumahnya.
Tapi dia menghilang di malam yang sama.
Dan ada orang yang datang ke rumahnya, Rohit.
Di ruang tamu ada bau parfum yang menyengat...bau parfum.
Bisa saja dari salah satu petugas polisi.
Baiklah, bawakan aku daftar panggilan Neha dari divisi cyber.
Vikram, ibu Neha.
Kepolisian sedang mencarinya, jangan khawatir. Oke?
Bibi, sebentar.
Saya tahu anda tidak menyukaiku.
Tapi percayalah, dimanapun Neha pasti akan saya temukan.
Vikram, ayo kita bicara.
Masuklah.
Katakan, Vikram.
–Aku butuh informasi. –Soal apa?
Aku ingin daftar kasus yang ditangani Neha tiga bulan terakhir.
Ini semua berkas kasus yang Neha tangani.
Berkasnya tidak boleh keluar.
Rohit, lihat kasus ini.
Kasus apa?
Kasus Preeti, gadis 18 tahun yang hilang dua bulan lalu.
Neha menangani kasusnya.
Dia hilang di ORR tanpa jejak.
Pola hilangnya terlihat sama.
Baik peristiwa, gender dan kotanya.
Terlalu banyak kemiripan.
Bisa cari tahu siapa yang tangani kasusnya?
Srinivas dari departemenmu yang selidiki kasusnya.
Tapi apa pentingnya?
Srinivas, kapan kamu terakhir kali bicara dengan Neha?
Dia menelfonku tiga hari lalu.
Apa katanya?
Dia menangani kasus hilangnya Preeti, Vikram
Dia bilang akan segera menemukan terobosan dalam analisanya.
Sebelum sempat dia sampaikan, dia menghilang.
–Kamu punya informasi lain, Vikram? –Punya petunjuk atau bukti dari TkP Preeti?
Ya, sebentar.
Aku temukan kapas ini dalam mobil.
Dan jarum kecil di samping mobil.
Jarumnya sudah kukirim ke forensik.
Tapi tidak ditemukan darah maupun DNA Preeti.
Mungkin tidak berhubungan dengan kasusnya dan TKP-nya tergolong bersih.
Itu semua bukti yang kumiliki.
Uang di dalam mobil masih utuh.
Pak...
Tolong tugaskan saya di kasus hilangnya Preeti, Pak.
Kenapa?
Saya jelaskan nanti. Aku membutuhkannya, Pak.
Dia putri teman keluargaku.
Aku senang kamu mau menangani kasusnya.
Tapi aku sudah serahkan pada Srinivas.
–Saya akan bicara dengan Srinivas. –Silahkan, Vikram.
Vishwa sangat perhatikan kasusnya dan dia menekanku setiap hari.
Aku tidak masalah jika dia tidak keberatan.
–Terimakasih, Pak. –Kenapa tiba-tiba tertarik?
Saya jelaskan nanti, Pak.
Saya membutuhkannya, saya hanya ikuti firasatku.
Vikram.
Pak...
Pres memantau, tangani dengan hati-hati.
Tentu, Pak.
Percayalah, Rohit. firasatku tidak akan bohong.
Aku yakin penculik Preeti datang ke rumah Neha di malam dia menghilang.
Apa maksudnya ini?
Oke, darimana kita mulai?
Berkas kasus Preeti, bukti rekaman CCTV pintu tol...
semua bukti ini dikirim ke forensik dan aku butuh ada di mejaku segera.
Kita pelajari dulu, baru mulai penyelidikan.
Juga hubungi Shinde dan tanyakan soal temuan Neha tentang kasus Preeti.
Rohit, cari tahu apa mereka punya surat ijin pengambilan sampel keluarga dan teman-temannya.
Secepatnya, bro.
Dapatkan data panggilan Neha dan Vikram serta kapan terakhir mereka bertemu.
Besok aku datang menemuimu, Vikram.
Aku sedang tangani kasus penting. Sudah minum obatmu?
Jangan khawatir, Shinde membantuku...
Lacak setiap pergerakannya.
Aku akan menangkapnya.
Krishna, tunggu di mobil.
Baik, Pak.
Maaf, Pak. Aku ingin bicara dengan Ibrahim.
Sebentar.
Kalian siapa?
Namanya Vikram, dia yang tangani kasus Preeti.
Pak...
Pak...
–Sampai nanti. –Nanti kita lanjutkan.
Ibrahim, aku ingin bicara denganmu.
Ayo ke rumahmu.
Tentu, Pak. Silahkan.
Habiskan dulu tehmu.
Mari, Pak.
Pak, skuterku saya betulkan di bengkel.
Tolong mampir sebentar, saya mau mengambilnya.
Tolong...
Rohit.
–Hei, Fahad. Sudah beres? –Ya, Pak.
–Sudah bisa kubawa? –Ya, Pak.
Rohit, ikutlah dengannya.
Ayo pergi.
Ibrahim...pertama, aku tidak menjadikanmu tersangka.
Kamu bisa percaya padaku.
Pak...
Kedua, kasus ini sangat penting bagiku.
Jika ada detail yang kamu lupakan, ingatlah kembali dan ceritakan.
Tidak ada, Pak.
–Boleh aku melihat-lihat? –Pak.
Ibrahim, aku yakin tidak akan mengusikmu lagi.
Tapi kamu harus membantuku jika aku butuhkan.
Oke?
Pak...
–Aku pergi. –Ya, Pak.
Rohit, hentikan mobilnya.
Kamu tadi lihat ada yang janggal?
Tidak ada, tapi...
hanya dia yang melihat sedan biru.
Menurut penyelidikan Srinivas, pengendara di ORR,
operator pintu tol, warga Wonderla, rekaman CCTV...
tidak ada yang melihatnya.
–Dan... Krishna. –Pak.
–Ada sidik jarinya, berhati-hatilah. –Baik, Pak.
Ambil puntung rokok yang dia buang.
Kita bisa dapatkan DNA.
"Kembalikan Preeti, kembalikan Preeti."
"Kembalikan Preeti, kembalikan Preeti."
"Kami menuntut keadilan... Kami menuntut keadilan".
"Kembalikan Preeti, kembalikan Preeti."
"Kembalikan Preeti, kembalikan Preeti."
"Kami menuntut keadilan... Kami menuntut keadilan".
"Kami menuntut keadilan... Kami menuntut keadilan".
"Kembalikan Preeti, kembalikan Preeti."
"Kami menuntut keadilan..."
"Kami menuntut...keadilan".
"Kami menuntut..."
Ajay, berapa lama kamu kenal Preeti?
Preeti teman baikku sejak masuk kuliah.
–Dia juga rekan lab-ku. –Kapan terakhir melihatnya?
Malam sebelum dia menghilang.
Kami nongkrong bersama teman-teman di pub.
Pak, saya sahabat Preeti.
–Saya Sandhya... –Kapan terakhir bertemu Preeti?
Malam sebelum kejadian, Preeti, Ajay dan saya pergi ke pub, Pak.
Besoknya dia juga bicara denganku.
Kamu bicara dengannya di hari kejadian?
–Ya, Pak. –Apa yang kalian bicarakan?
Dia belum bangun sepenuhnya saat bicara.
–Apa dia minum? –Tidak, Pak.
Kamu dimana saat kejadian?
Saya pergi ke rumah ibu, Pak. Di Arutla 40 km dari B.N.Reddy.
–Ajay dan Preeti ada hubungan apa? –Mereka hanya teman, Pak.
–Kamu naik mobil apa motor? –Motor, Pak.
Pernah melihat temanmu atau orang tuanya yang memiliki sedan biru?
Tidak, Pak.
Sejauh yang saya tahu tidak ada.
Adakah yang ingin menyakiti Preeti?
Dia punya hubungan baik dengan semua siwa.
–Tapi... –Tapi apa?
Tapi ada ketegangan antara pak Chandramuli dengannya.
Apa anda pernah lihat pakaian yang dia dan temannya kenakan?
Mereka pakai jeans, rok dan nongkrong dengan anak laki-laki.
Dengan bocah semacam Ajay.
Mereka minum dan menghisap ganja. Saya lihat semuanya, Pak.
Oke...tapi apa masalahmu dengan Preeti, Pak?
Bukankah orang-orang semacam ini yang merusak budaya kita?
Oke.
Kapan terakhir bertemu Preeti?
–Tidak ingat. –Ke kampus naik apa?
–Kenapa? –Jawab.
Naik motor.
–Punya mobil? –Kenapa?
Hei....
Tulis dengan benar.
Tulis dengan benar...
Ya, Pak. Silahkan jawab.
–Saya tidak bisa mengemudi. –Krishna akan ambil sampelmu.
Sampel apa? Kenapa?
Sampel DNA? Anda punya surat pengadilan?
Selain alasan surat izin, apa alasanmu menolak pengambilan sampel?
Alasan apalagi?
Saya tahu hakku sebagai warga.
Tunjukkan suratnya...
Pak, berapa umurmu?
59.
Masihkah anda hidup 10 tahun ke depan?
Karena hanya anda penyelamat kebudayaan dan masyarakat.
Lakukanlah.
Apa pendapatmu, Rohit?
Tentu saja, Ibrahim.
Ajay dan Chandramouli?
Hapus saja Chandramouli.
Kenapa dihapus? Dia menolak beri sampel dan punya motif.
Dia hanya bajingan.
Dia pahlawan yang lahir untuk selamatkan budaya kita.
Banyak yang seperti dia berkeliaran. Tetap simpan Sandhya di daftar.
Umumnya gadis seumuran mereka tidak suka membantu, dan mereka juga ada di pub malam sebelumnya.
Kita harus tahu yang terjadi di pub malam itu, suruh orang mengikuti Sandhya dan Ajay.
Sudah tanya Shinde apa Neha bicara sesuatu tentang kasus Preeti?
Tidak ada.
Sial.
Kenapa, Abhilash?
Kenapa buang waktumu, bung?
Kenapa kalian tiba-tiba tertarik dengan kasus Preeti?
Bukan urusanmu.
Akan kupastikan kamu segera menjawab semuanya.
Pergilah...
Bisa ceritakan yang terjadi di hari sebelum Preethi menghilang?
Seperti biasa, dia berangkat kuliah pagi dan pulang sore hari.
Setelah itu dia bersiap pergi ke pesta dengan teman-temannya.
Dengan siapa?
Teman-teman kuliahnya.
Apa yang terjadi besok paginya?
Dia bangun agak terlambat paginya.
Dia sarapan dan nonton TV sebentar.
Sorenya dia ke panti asuhan Saraswati.
Apa ini panti asuhan?
Permisi...
–Siapa? –Tadi kami hubungi anda soal Preeti.
–Ya, silahkan... –Preeti gadis seperti apa?
Preeti gadis yang menyenangkan. Seharusnya ini tidak terjadi.
Saya sering komunikasi dengan Mohan dan Lakshmi.
Tolong kembalikan dia dengan selamat.
Dia yang mengurusi panti asuhan.
–Sejak orang tuanya meninggal... –Tunggu...
–Kalian bukan orang tuanya? –Bukan, Pak.
Tidak ada yang tahu siapa orang tua kandung Preeti.
Adikku Shiva dan Priya istrinya mengadopsinya dan membawanya ke AS.
Malangnya, mereka meninggal dalam kecelakaan mobil.
Sejak saat itu Preeti hidup dengan kami.
Adikku dulu sering mengirim uang untuk pemeliharaan panti asuhan.
Kami teruskan tanggung jawab itu setelah kematiannya.
Beberapa bulan terakhir Preeti meneruskannya.
–Benarkah Preeti memberi uang tiap bulan? –Benar.
Sebagian besar pemeliharaan panti asuhan menggunakan uangnya.
–Anda beritahu Preeti penggunaannya? –Tidak, Pak.
Preeti percaya sepenuhnya seperti ketika saya merawatnya.
Bahkan proses adopsi Preeti oleh Shiva dan Priya terjadi di bawah pengawasan saya.
Tolong lihat kenapa gadis itu menangis.
Dia menangis karena hari ini akan di adopsi.
Hei.
Kemarilah.
Setelah itu dia istirahat di kamarnya sebentar lalu berdandan dan bilang akan keluar bersama teman-temannya.
Dia menelfonku dari ponsel Ibrahim mengatakan jika mobilnya mogok dan memintaku menjemputnya.
Itu terakhir kalinya...
Hubungannya dengan tetangga bagaimana?
Sheila tetangga kami..
Preeti dan Sheila teman dekat.
Permisi.
Dia teman dekatku, Pak.
Kami berdua menjalankan blog makanan online.
–Hanya dia yang mau bicara denganku. –Kenapa?
Saya janda, Pak.
–Sudah jadi stigma dalam masyarakat. –Kapan terakhir kali bertemu Preeti?
Terkadang dia mengundangku berpesta dengan teman-temannya.
Saya pikir sehari sebelumnya, dia menelfon dan mengundangku ke pesta.
–Tapi kepalaku sakit dan tidur di rumah, Pak. –Di hari Preeti menghilang kamu dimana?
Hari itu jadwalku mengunjungi putriku, Pak. Mantan suamiku membawanya ke taman Krishnakanth.
Bisa kami menelfon suamimu?
–Mantan suami, Pak. –Ya, bisa kami hubungi?
–Bisa, tapi... –Jangan tegang karena ini hal umum.
Jika terbukti anda punya alibi maka kami dapat melakukan penyelidikan dengan benar.
–Maksudnya begitu. –Baik, Pak.
Pak, anda bilang adikmu dan istrinya meninggal dalam kecelakaan mobil 'kan?
Benar.
Lalu soal properti dan uang yang diperoleh di AS bagaimana?
Sebelum Preeti 18 tahun, saya yang pegang.
Baru beberapa bulan lalu sudah ditransfer atas namanya.
Baik.
Rohit...
Orang tua Preeti 'kan?
Sudah aku masukkan daftar tersangka.
Jadi ini satu-satunya rute Preeti untuk masuki ORR.
Benar.
Pola ban ini dan yang disana tidak sama, Rohit.
Tanyakan pemilik tanah apa ada truk lain yang kemari.
Oke.
Preeti gadis pada umumnya yang hidup bahagia, Kenapa ada yang ingin menyakitinya?
Meskipun awalnya aku ambil alih kasusnya demi Neha, tapi makin kesini terasa makin pribadi.
Semakin aku tahu tentang Preeti semakin aku terlibat secara emosional, Rohit.
Kita harus kembalikan Preeti dan Neha dengan selamat.
–Terimakasih, Krishna. –Ya, Pak.
Daftar tersangka ada di catatan Rohit.
Baik, Pak.
Oke Vikram, aku juga pamit. Mobilku disana.
Rohit...
Malam ini kita keluar menyelidiki Pub yang didatangi Preeti.
Kita ke sana malam ini.
–Ajaklah Swapna agar kita bisa berbaur. –Baik.
–Aku ingin bertanya padamu. –Ya, apa?
Kamu pernah bayangkan menciumku sebelum melamarku?
Katakan sebenarnya.
Diamlah.
Baiklah, tapi kamu katakan dulu...
Kamu ingat waktu aku datang untuk kasus tabrak lari Moosapet?
Hei, diamlah. Tolong...
Aku mencintaimu saat itu juga.
Setelah pulang ke rumah aku mengingat momen melihat gambar denganmu.
–Pertama kali lihat bibirmu, aku tidak tahan. –Hei, kita sebelumnya tidak akrab.
Semua pria sama saja, mulai berpikiran kotor saat menyukai seseorang.
–Ceritakan tentang dirimu. –Neha.
Oh sial...! Vikram...
Vikram, cepat.
Cepat kemari.
Vikram, ambilkan air.
Kenapa berdiri saja?
Cepat!
Hai...
Aku turut menyesal dengan yang terjadi.
Kamu mau minum?
Aku baru minum obat.
Rohit...kemari.
Pengunjung, bartender, staf kebersihan... amati semua dengan seksama.
Jika menemukan petunjuk, segera kabari.
Kamu temukan kamera CCTV di dalam?
Akan aku periksa.
Kumpulkan semua rekaman mulai Preeti masuk pub hingga dia keluar.
Dan tadi kulihat ada kamera di valet parkir.
Dapatkan rekamannya juga.
–Oke. –Ayo pergi.
Sebentar.
Pak...
–Kesana, aku ingin bicara denganmu. –Baik, Pak.
Ada apa, Pak?
Aku dari kepolisian. Aku ingin menanyakan...
Apa Preeti...
Hei Rohit, Rohit...
Hei...
Hei...
–Ambil pistol? –Jangan.
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
Abang... Abang...
Hei, kalian siapa?
Kemari...
Dimana...?
Katakan dimana...?
Dimana?
–Di sakuku, Pak. –Saku?
Saku apa?
Di saku celanaku.
–Sialan! –Pak...
Kamu kenal gadis ini?
Tidak, Pak.
Lihat yang benar...kenal gadis ini?
Dia sering ke pub, Pak.
Bersama grup Ajay.
Tapi saya tidak mengenalnya.
Kami tidak sengaja menangkap bandar obat di kota tua.
Datanglah dan tangani.
Sudah kubilang tidak sengaja 'kan? Jika tidak tertarik aku akan melepasnya.
–Pak... –Hei, tiarap... tiarap.
Datanglah dan temui Rohit.
Rohit, urus dia.
Pak, lakukan satu hal.
Adakan pemujaan di rumahmu.
Untuk apa, Pak?
Agar putrimu kembali dengan selamat, adakan pemujaan seperti itu.
Apa ini, Pak?
Pak, percayalah. Lakukan jika ingin putrimu selamat.
Undang semuanya, teman-teman anda, kerabat dan teman-teman Preeti.
Berikan daftar undangan pada Rohit dan yang terpenting harus diadakan besok.
Jangan menundanya. Uruslah, Rohit!
Untuk apa ritual ini, Vikram?
Rohit, kamu pikir penculik Preeti bakal menghadiri ritual di rumahnya?
–Tentu saja tidak. –Bagus, itu tujuanku.
Buatlah daftar orang yang tidak hadir.
–Jika penculiknya hadir? –Tidak masalah.
Dia pasti akan tinggalkan petunjuk.
Dalam kasus seperti ini, pelaku biasanya masih dalam lingkaran keluarga.
Ritual ini peluang bagus bagi kita...
untuk mengamati tersangka atau menambah daftarnya.
Sampai jumpa besok.
Rohit, bagaimana dengan daftar panggilan Neha?
Sore ini kita dapatkan.
Rekaman CCTV pub?
Sudah aku dapatkan dari manajernya.
–Oke, siapkan daftarnya. –Oke.
Pak Mohan..
Pak, tolong ikut aku.
–Ada apa? –Pak, ikut aku.
Apa yang terjadi?
Cepat ikut saya.
Tolong ikut.
Pak, surat... ada disana...
Saat saya mau keluar....sudah disini.
–Nama anda tertulis disitu. –"MAYAT ADA DI DEPAN WISMA RAJU, VIKRAM"
Mayat?
Mayat siapa?
Apa Preeti kita?
Aku pikir bukan Preeti. Tertulis nama Vikram disitu.
Kamu sudah makan?
Oe, Hero.
Kamu mau makan?
–Sushmi, mau makan omelet? –Ya.
Pagi ini mereka datang lagi.
Mereka mengawasiku dari sana setelah kamu berangkat tadi pagi.
Ramesh...
–Ramesh... –Ya, Pak.
Kamu lihat ada orang yang mengintai rumah?
Tidak, Pak.
–Kalau sore tadi? –Tidak ada, Pak.
Sushmi, sudah minum obatmu?
Ini bukan soal obat, Vikram.
Minum obatmu dulu.
Kamu tidak mengerti bahwa ini bukan soal obatku.
Dimana?
Jangan sekarang, tolong mengerti.
Kamu harus ikut aku ke kantor, Vikram.
Sudah lama aku menunggu momen ini.
Hei tolol, kamu bawa kasusnya ke alamat yang salah.
Neha itu kekasihku.
Otakmu ditaruh mana?
Hei, lepaskan tanganmu.
Tinggalkan aku.
Dasar tolol!
–Pak, orang ini... –Abhilash...
Ini bukan caranya menginterogasi Vikram, apa dia kabur meninggalkan kota?
Vikram, keluarlah.
Vikram...
Rohit memimpin pencarian di depan Wisma Raju.
–Pergi bantu dia. –Terimakasih, Pak.
–Ini tidak benar, Pak. –Diam, Abhilash.
Aku lakukan kesalahan dengan menyerahkan kasus Neha padamu.
Kamu lebih fokus ke Vikram daripada Neha.
Hei, Vikram...
Kamu bisa atasi?
Ya, tentu.
Sudah minum obatmu?
Tidak, membuatku mati rasa.
Pak, saya yakin Vikram terlibat dengan hilangnya Neha.
Mulai sekarang Vikram menangani kasusnya Preeti dan Neha.
Rohit sudah jelaskan semua. Kamu berhenti dari kasus Neha.
–Pak... –Kamu selesai.
–Sudah temukan sesuatu? –Belum, anjing pelacak juga sama.
Sudah lima jam sejak aku di rumah sakit. Apa saja yang kalian kerjakan, bung?
–Aku berusaha, Vikram. –Berusaha?
Kita belum tahu yang kita cari ini mayat Preeti ataukah Neha.
Hanya berusaha tidak akan berhasil. Tekan mereka.
Aku akan ke forensik. Selesaikan ini dan datanglah ke sana.
Oke.
Dan Rohit, bandingkan sampel lumpur dari ban mobil, ban motor...
sepatu dari para tersangka kita dengan lumpur dari tempat ini.
Jika ada kecocokan kabari aku.
Dan jika ponsel mereka ada riwayat lokasi ke tempat ini beritahu aku.
Baik.
Vikram, ini Anirudh. Dia analis tulisan tangan.
Anirudh katakan satu hal...
Bisakah kita bandingkan tulisan ini dengan tulisan tangan para tersangka dan mengetahui siapa penulisnya?
Siapapun penulisnya sengaja menulis dengan goresan kecil.
–Ini bukan tulisan tangan alami. –Ini catatan yang sangat aneh Vikram.
–Kamu temukan sidik jari pada catatan? –Laporannya sudah kukirim lewat email.
Sidik jari Sheila dan Ayah Preeti terdeteksi karena mereka memegangnya di TKP.
Sidik jarimu juga ada, pasti kamu pegang tanpa sarung tangan.
Tidak ada sidik jari yang tidak dikenal. Siapapun pelakunya, dia sangat cermat.
Ini daftar panggilan Neha.
Kamu punya informasi dari pengendara di ORR?
Aku sudah bicara dengan 50 pengendara waktu itu.
Beberapa bilang melihat Mini Cooper tapi tidak ada yang lihat sedan biru.
Bagaimana dengan bekas ban kemarin?
Aku sudah bertanya ke pemilik tanah.
Mereka bilang itu jejak truk tanki yang sering datang untuk menyiram batu bata.
Tidak ada hal mencurigakan.
Sheila, bisa jelaskan bagaimana kamu temukan catatan itu?
Aku melihatnya di depan pintu saat ingin menghadiri ritual di rumah Preeti.
Tadinya saya mengira pamflet yang ditinggalkan sales.
Tapi karena catatan putih dan bersih jadi saya cermati.
Lalu saya mengambilnya, Pak.
Saya ketakutan setelah membacanya.
Kemudian berlari memanggil Pak Mohan ayah Preeti untuk menyampaikan.
Kamu yang melukisnya , Sheila?
Ya, Pak.
Bagus, boleh aku memotretnya?
Ya, tentu.
Bisa bandingkan goresan lukisan ini dengan catatan dan memastikan jika penulisnya sama?
–Saya bisa, tapi... –Tapi apa?
Jika ada lukisan aslinya, saya bisa pastikan, Pak.
Aku tidak bisa dapatkan aslinya, Anirudh. Beritahu saja yang kamu dapat dari ini.
Tentu, Pak.
Yang saya katakan belum tentu konkret, sekilas goresannya terlihat berbeda.
Tapi jika sama maka dipastikan penulisnya orang yang sama.
Oke... setidaknya kita dapat mengesampingkan Sheila.
Pak, positif.
Catatan ini ditulis oleh Sheila.
Ini catatan yang anda berikan...
dan ini foto lukisan Sheila.
Perbedaan kedua sampel ini sangat sedikit, Pak.
Silahkan amati panjang setiap goresan dan jaraknya.
Terlalu banyak kemiripan.
Berarti Sheila pelakunya.
–Tapi tidak bisa kita yakini 100%, Vikram. –Ya.
–Tapi ada peluang bagus. –Haruskah aku minta surat penggeledahan?
Kita akan dapat petunjuk di rumahnya jika memang dia pelakunya.
Pak, kenapa menggeledah rumah saya?
Preeti sering main di rumahmu 'kan?
Jadi mungkin kami bisa temukan bukti atau petunjuk untuk bantu penyelidikan.
Tidak usah khawatir.
Vikram..
Sheila, kamu harus datang ke kantor kami karena masih ada beberapa pertanyaan.
Dan...ambilkan kunci mobilmu.
Baik, Pak.
Rohit akan beritahu waktu pastinya.
–Kalau bisa datanglah secepatnya. –Baik, Pak.
–Ini mobil siapa? –Punya saya, Pak.
Tapi sebelumnya aku tidak lihat.
Saya mengirimnya untuk di servis.
Rohit, buka penutupnya.
Ambilkan juga kunci mobil ini.
Baik, Pak...
Catatan untuk latihan...
Tangkap dia.
Pak, saya akan ceritakan.
Pak, tolong, pak Pak, tolong ...
Pak, saya akan ceritakan.
Pak, tolong, Pak.
Katakan Sheila...apa yang sudah kamu lakukan pada Preeti dan Neha?
Neha siapa, Pak? Saya tidak mengenalnya.
Aku tidak akan mengulangi lagi. Siapa yang kamu bunuh?
Dan mayatnya kamu apakan?
Pak, saya takut sekali...
Pak, saya akui menulisnya...
tapi tidak ada hubungannya dengan hilangnya Preeti.
Dan Neha itu siapa?
Percayalah, Pak.
Lalu kenapa menulisnya?
Pak, saya bercerai...
Kecuali Preeti, tidak ada seorangpun yang mau berbicara denganku.
Saya kesepian setelah Preeti hilang, Pak.
Saya tahu anda menyelidiki kasusnya.
Saya pikir akan mendapat perhatian dari warga jika memberikan petunjuk.
–Sebab itu saya menulisnya. –Omong kosong!
–Saya jujur, sir. –Diam, Sheila!
Kamu tahu betapa tidak masuk akalnya itu?
Pak, saya bicara jujur.
Saya tidak tahu yang terjadi pada Preeti dan saya tidak kenal Neha.
Tahan dulu.
Vikram bukan orang baik.
Perlakuannya sangat buruk.
Perlakuan tingkat ketiga sangat menyakitkan, Sheila.
Percayalah, oke?
Jika ingin katakan sesuatu, bicaralah. Aku akan mengurusnya.
Yang ingin kami tahu, "Apa yang terjadi?" Hanya itu.
Pak...
Sumpah, saya tidak tahu.
Saya bicara sebenarnya.
Percayalah, Pak.
Dia mau bicara?
Tidak.
Apa yang harus kita lakukan?
Aku yakin dia berbohong, Rohit.
Tapi jika benar, ada kemungkinan Preeti dan Neha masih hidup.
Jadi kita harus tahu dia bohong atau bicara fakta.
Aturlah tes Poligraf.
Kita butuh persetujuannya, Vikram. Kalau tidak akan menyalahi prosedur.
Aku akan bohongi Sheila.
Aku yakin dia akan bersedia untuk tes Poligraf.
Kami telah cocokkan sampel lumpur dari wisma Raju dengan yang ada pada para tersangka.
Tidak ada kecocokan.
Data riwayat lokasi ponsel juga sama.
Sheila sebelumnya tidak masuk daftar tersangka 'kan?
Tidak.
Ambil sampel dari sepatu Sheila dan kedua ban mobilnya dan kita lihat apa ada kecocokan.
Panggil juga forensik agar menyisir mobilnya untuk dapatkan bukti.
Kita mungkin temukan bukti tentang Preeti.
Tanyakan Ibrahim apa benar itu mobilnya.
Oke, akan aku tanyakan
–Apa dia mengaku? –Akan kulakukan tes Poligraf.
–Persetujuan dia bagaimana? –Akan dia berikan...
Oke, bagus.
–Kabari perkembangannya. –Ya, Pak.
Aku tidak mau ada masalah.
–Lakukan sesuai prosedur. –Ya, Pak.
Sheila, ini adalah Poligraf. Alat pendeteksi kebohongan.
Jika ingin kami percaya maka kamu harus lakukan tes ini.
Kamu setuju?
Jika kamu menolak, kecurigaanku akan bertambah.
Aku tetap akan dapat izin untuk lakukan tes itu.
Apa kamu bersedia?
Ya, Pak.
Suruh dia tanda tangani suratnya dan segera mulai prosesnya.
Dia sudah cemas, suruh dia untuk tenang.
Sheila, jika kamu tegang maka hasilnya tidak akurat.
Ambil nafas dan santailah.
Berikan jawaban yang sejujurnya.
Baik, Pak.
Apa namamu Sheila?
Ya, Pak.
–Umurmu 30 tahun?? –Ya, Pak.
Apa Vijay mantan suamimu?
Ya, Pak.
Sheila, kamu kenal Preeti?
Ya, Pak.
Sheila, apa kamu menculik Preeti?
Sheila, aku bertanya.... Apa kamu menculik Preeti?
Aku bertanya padamu.
Tidak, Pak.
Sheila, kamu kenal siapa Neha?
Tidak, Pak.
–Sheila, apa Neha masih hidup? –Saya tidak kenal Neha.
Dia tidak berbohong, Pak.
Jelas-jelas tadi grafik jantungnya meningkat saat ditanya tentang Neha dan Preeti.
Itu normal, Pak.
Karena dia tahu pertanyaan tentang Preeti dan Neha sangat penting dalam tes Poligraf ini.
Saat menjawab denyut nadinya normal, begitu juga dengan GSR dan nafasnya.
Menurut pengalamanku, dia bicara jujur.
Bagiku tampak dia ingin menipu tes Poligraf.
Pak?
Beberapa orang mampu mengendalikan pernapasan dan detak jantung mereka untuk menipu tes Poligraf.
Bagiku kelihatannya seperti itu. Selain itu, aku tidak bisa ambil risiko.
–Jika ada tes ulang aku akan memanggilmu. –Tentu, Pak.
Terimakasih.
Rohit...
–Atur tes Narco. –Kamu serius?
Ya.
Butuh waktu lama untuk dapat izinnya dan prosesnya rumit.
Jelaskan ke hakim Lakshman Rao ini mengenai kasus Preeti dan bilang aku memintanya secara pribadi.
Oke.
Dan Rohit...
Pergi ke rumah Sheila lalu kumpulkan sampel tanah dari mobilnya dan bandingkan dengan tanah di wisma Raju.
Aku minta maaf.
Vikram....
Dia melawannya.
Sheila, jangan melawannya.
Biarkan...
Sheila...
Sheila, bisa mendengarku?
Guncang dia...
Sheila...
Sheila...
Apa kamu menculik Preeti?
Aku bisa mendengarmu.
Guncang sekali lagi.
Sheila...
Sheila...
Aku bisa mendengarmu.
Sheila, apa kamu menculik Preeti?
Sedih.....Preeti....
–Periksa organ vitalnya... –Ya, Pak.
Sedih.....Preeti....
Kupikir dosisnya terlalu tinggi baginya, dia mungkin tidak merespon.
Neha...
Sheila... Sheila... Sheila...bagaimana Neha?
Vikram!
Bagaimana Neha?
Vikram!
Katakan, katakan.....bagaimana Neha?
Vikram, hentikan.
Bagaimana Neha?
Vikram, hentikan. Keluar dulu...
Keluar dulu!
Biarkan aku bertanya padanya!
Vikram, kamu kenapa?
Ini diluar kendali, Rohit.
Kamu dengar tadi? Dia sebut Neha meski tidak ditanya.
Aku yakin dia terlibat.
Kamu kemarin bertanya tentang Neha mungkin alam bawah sadarnya mengingatnya.
Bisa saja 'kan?
Lain kali jangan memanggilku untuk tes narco lagi.
Apa kamu tidak tahu bisa tamat karirku jika hal buruk menimpanya?
Dasar bodoh!
Kamu lakukan tes narco?
Ikut ke kantorku.
Dengar...
Aku menyukai kecerdasanmu.
Tapi jangan gunakan itu semaumu.
Jika lakukan hal ini lagi tanpa sepengetahuanku, aku akan menguburmu!
Paham?
Keluar...
Pesankan teh untukku.
Ibrahim...
Halo...
Katakan, Ibrahim.
Saya datang melihat mobil biru Sheila.
Tapi sedan biru yang saya lihat di ORR beda dengan mobil ini, Pak.
Tadi ada kabar dari forensik...
tidak ditemukan bukti yang berhubungan dengan Preeti di mobil Sheila.
Halo...
Bicaralah...
Apa?
Vikram, mereka temukan mayat membusuk di depan wisma Raju.
Dalam kondisi tidak dapat diidentifikasi.
Kamu baik-baik saja?
Vikram...Vikram...
Sushmi...
Sushmi...
Hei, jangan....
Sushmi...
Hei, jangan....
Aku takut, Vikram
Hei, jangan....
Neha...apa sudah...
Rohit...
mayat itu...
Kirim ke forensik dan cari tahu apakah itu Preeti atau Neha.
Katakan.
Baik.
Baik.
Vikram...
Sampel lumpur dari mobil Sheila cocok dengan sampel lumpur di sini.
Jadi dia pernah kemari.
Katakan mayat siapa itu?
Pak...
Apa dia Preeti?
Atau Neha?
Mayat apa, Pak?
Diam.
Jangan bikin jengkel!
Kami temukan mayat di lokasi itu!
–Kenapa lakukan semua ini? –Pak...
Sheila, katakan!
Saya tidak tahu, Pak.
Percayalah, Pak. Saya tidak tahu, Pak...
Konstabel!
Konstabel...
Pak...
Lakukan "Tingkat Ketiga".
Pak, saya tidak tahu.
Halo, Rohit...
Forensik menelfon...
Itu Preeti!
Dia baru berumur 18 tahun!
Kenapa kamu tega membunuhnya?
Pak, saya tidak membunuhnya.
Percayalah, Pak.
Saya benar-benar tidak tahu, Pak.
Ini bisa dihentikan.
Jika kamu beritahu dimana Neha.
Pak, saya tidak tahu dimana Neha.
Saya bersumpah tidak tahu Neha dimana.
Konstabel...
Pak, tolong...
Pak, jangan...
Pak, jangan...
Tolong jangan.
Vikram, ada telfon dari forensik.
Helo, katakan Shinde.
Vikram...
Kami menganalisa mayat Preeti untuk temukan bukti.
Kami menemukan DNA dari kuku jarinya.
Apakah Sheila?
Tidak.
Itu Ajay!
Apa?
DNA Ajay di mayat Preeti?
Pasti ada yang salah.
–Segera tangkap Ajay. –Oke.
Hei, tenang.
Apa yang kamu dan Ajay lakukan pada Preeti?
Ajay kenapa, Pak?
Sudah lama saya tidak bertemu Ajay.
Jangan libatkan saya.
Saya benar-benar tidak tahu.
Ajay menghilang.
Sudah kubilang untuk mengawasinya.
Kenapa kamu teledor?
Ada informan yang melacaknya.
Ponselnya juga dimatikan.
Aku mengiriminya pesan.
Dia pasti segera membalasnya.
Jangan stres.
Halo, ini siapa?
Aku sedang sibuk.
Ada apa, Shinde?
Kami temukan DNA lain pada gigi Preeti.
Punya siapa?
Itu DNA Ayah Preeti.
Dan satu lagi...kami temukan rambut abu-abu di paha Preeti.
Setelah kami analisa DNA-nya cocok dengan Sarawati.
DNA Mohan ditemukan di gigi Preeti...
dan rambut Sarawati di tubuhnya.
Sepertinya...
Sepertinya mereka bersekongkol membunuhnya.
Panggil mereka semua.
Panggil semuanya dan katakan ini penyelidikan umum.
Ajay sudah ketemu?
Aku belum menerima pesan.
Kirimkan para petugas.
Dia bilang rumahnya di Arutla, kirimkan para petugas ke sana.
Dan bawa dia kemari.
Vikram...
Mohan, Lakshmi dan Sarawati dalam penahanan kita.
–Apa mereka melawan? –Tidak.
–Bagaimana Ajay? –Informanku belum bisa di hubungi.
Ada sesuatu yang salah, Rohit.
Ajay di Vikarabad.
–Informanmu masih di sana? –Ya, sendirian.
Jangan lepaskan bajingan itu.
Kapan dia kemari?
Hari ini, naik motor.
Aku susah payah buntuti dia, Rohit.
Dia datang sendiri?
Sendiri.
Kita harus masuk ke gubuk itu, Rohit.
Kita bisa masuk lewat belakang.
Kita harus masuk sebelum dia habiskan rokoknya.
Rohit...
Pak... Pak, ada apa?
Apa yang kalian lakukan disini?
–Arvind, pergilah. –Ajay, ada apa?
Pergilah, pergi!
Tangkap dia!
Pergilah.
Apa yang kalian lakukan disini?
Pak...
Kesabaranku sudah habis, Ajay.
Jadi katakan apa yang kalian lakukan disini?
Maaf saya bohong, Pak. Preeti pacarku.
Karena dia tidak dapat ditemukan, saya berpikir jika...
Buka bajumu.
Pak?
Buka bajumu.
Kenapa, Pak?
Pak...
Buka cepat!
Pak.
Pak.
Balik badan.
Apa ini?
–Pak...saya terluka waktu kecil –Apa?
Rohit...
Preeti sudah mati.
Lakshmi...
Kami temukan DNA-mu di gigi Preeti.
Anda bicara apa?
Anda menuduh saya membunuh putriku?
Apa ini Rohit?
Aku tidak bisa menemukan motif dari semua tersangka.
Kita menemukan begitu banyak bukti.
Tapi kita tidak bisa dapatkan satu terobosan kuat dalam kasus ini.
–Halo. –Pak.
Ini Pak Vikram?
Siapa ini?
Namaku Lata, Pak.
Teruskan...
Saya berkendara di ORR dan menepi ketika mendapat telfon.
Tiba-tiba mobil lain berhenti di samping mobil saya.
Dia mengisyaratkan saya untuk menurunkan kaca mobil.
Saya baca di koran bahwa seorang gadis telah diculik di daerah ini.
Saya ketakutan dan mulai mengemudi.
Dia mengikuti saya, Pak.
Saya ke kantor polisi di pintu keluar berikutnya dan mereka memberiku nomor anda.
Sekarang kamu dimana?
Dekat pintu keluar Raviryal di depan Wonderla.
Kamu lihat warung kecil di depan Wonderla?
Tunggu disitu. Aku akan kesana.
Baik, Pak.
Halo, Rohit.
–Apa warna mobilnya? –Mobil Ambassador warna putih.
Tampangnya bagaimana?
Dia lumayan tapi tidak bisa menilai tinggi badannya karena dia di dalam mobil.
Dia memakai kacamata hitam dan topi hitam.
Dia menyuruhku menurunkan kaca mobil.
Tapi tidak saya lakukan.
Setelah itu dia mulai meneriaki saya.
"Turun, aku ingin bicara denganmu", dia mengatakan sesuatu seperti itu.
Dia mengikuti saya.
Tapi ketika saya melaju lebih cepat dan melihat ke belakang setelah semenit, dia tidak terlihat.
Bisa ke kantor kami dan jelaskan ciri-cirinya pada artis sketsa kami?
Baik, Pak.
Berikan kuncimu pada Rohit.
Rohit, kamu bawa mobilnya biar Lata pergi bersamaku.
Lata, tunggu disini sebentar. Aku akan ambil rekaman dari pintu tol.
Baik, Pak.
–Hei, siapa namamu? –Yadagiri.
–Aku butuh rekaman CCTV pagi ini. –Anda siapa?
Dari kepolisian.
Baik, Pak.
–Rekaman jam berapa, Pak. –Rekaman pagi ini.
Yang ini.
Kalian lanjutkan. Aku akan kembali.
Rohit, hubungkan Hard disk ini.
Buka rekaman sekitar jam 8:30 pagi.
Lata menelfonku jam 9:30 pagi.
Jadi putar rekamannya mulai jam 8:30 pagi dan hentikan jika lihat mobil Ambassador putih.
Karena dia mengikutinya...
dia pasti melalui tol yang sama atau melanjutkan di jalan yang sama.
Aku yakin kamu akan temukan di salah satu rekaman itu.
Lata, kamu yakin lihat mobil Ambassador putih?
Ya, Pak.
Ambassador putih.
Pak.
Bukan, Pak.
Kecuali topi dan kacamata hitam, yang lainnya tidak cocok.
Kamu bisa disini untuk 2 jam lagi?
Akan kucari artis sketsa yang bagus.
Sudah larut, Pak. Ibu sudah menelfonku tiga kali.
Raghu...
Pak...
Antarkan nyonya ke rumahnya.
Dan jangan minta ongkos pulang.
Baik, Pak.
Kamu bisa kemari besok pagi.
–Silakan duduk di sisi yang lain. –Baik, Nyonya.
Ada yang salah, Rohit.
Ada mobil mengikutinya.
Mobilnya tidak keluar tol atau lewat ORR? Kemana mobil itu hilang?
Terus putar rekamannya.
Tahan, tahan.
Mundurkan sedikit.
Berhenti.
Putar...
Putar rekaman di hari penculikan Preeti.
Berhenti.
Menurut laporan, kapan Ibrahim melihat Preeti terakhir kali?
Jam 6 sore.
Lihat truk ini, keluar tepat setelah setengah jam.
Dan Lata menelfonku jam 9:30 pagi dan tepat setelah setengah jam truk ini keluar.
Meskipun plat nomornya berbeda, truk dan supirnya sama.
Memakai topi hitam dan kacamata.
Hubungi RTA.
Jadi kedua plat nomornya palsu.
Jadi "Sai Kiran Couriers" pasti juga palsu.
Ini pria yang kita cari.
Perbesar...
Fotonya pecah-pecah.
Telfon Shinde dan minta dia perjelas fotonya.
Dan kirim fotonya ke ponselku.
Maaf, Vikram.
Dia memakai topi di kedua gambar sehingga wajahnya ada di area yang kurang terang.
Tidak mungkin bisa diperjelas.
Kamu buntu?
Ini pria yang kita cari, Pak.
Banyak hal di luar kendali dan saya tidak berdaya.
Pak...saya khawatir tidak bisa selamatkan Neha juga.
Kamu sudah pernah menghadapi situasi yang sama dan kehilangan orang yang kamu sayangi.
Dan kamu berdiri menghadapi situasi yang sama lagi.
Aku tahu kamu bisa melakukannya.
Karena kamu punya kemauan yang paling aku kagumi.
Pergi dan tangkap bajingan itu!
Halo, Rohit...
Segera datang ke kantor polisi Pedda Golconda.
Petugas...
Pak...
Aku butuh profil semua pelaku kriminal daerah sini.
Hei, apa yang dia inginkan?
Dia menginginkan daftar kriminal, Pak.
Atasanmu itu pasti ada dalam daftar itu.
Tidak ada yang mau mendengarku.
Apa?
Akan kuhancurkan hidupmu, bung!
Hei! Kamu tamat, Vikram.
Aku akan melaporkan ini.
Aku akan menelfon Pak Vishwa.
Mampus kamu, bung!
Kamu tidak akan bisa lari. Aku akan perpanjang masalah ini.
Dimana Pak Vishwa, di kantor apa di rumah?
Aku ingin bicara dengannya.
Kabari aku.
Aku tunggu.
Temukan segera.
Ya, ini sangat penting.
Dia tidak angkat telfonku.
Itu alasanku menelfonmu, hubungkan aku dengannya.
Pergilah ke neraka!
Aku akan kirim pesan suara.
Hei, kirim saja!
Aku tidak bicara denganmu.
Pak, sudah dari tadi saya berusaha menelfonmu.
Aku mengirim pesan suara padanya.
Segera kirim petugas ke rumahnya. Aku segera kesana.
Halo, permisi!
–Ada apa? –Dimana montir itu?
Saya tidak tahu.
–Tahu dimana rumahnya? –Saya tidak tahu.
Ibrahim ada?
–Tunggu sebentar. –Panggil dia.
Ada apa, Pak?
Kamu kenal montir yang perbaiki skutermu?
Ya, Fahad. Saya mengenalnya.
Tahu dimana rumahnya?
Dia tinggal di pinggiran kota. Apa yang terjadi, Pak?
Ikutlah denganku.
Saya ganti baju dulu.
Cepatlah...
Baik.
–Ayo pergi, Pak. –Ayo cepat!
Pak, lihat bohlam-nya.
Itu tempat dia tinggal.
Ibrahim, bukankah ini mobilnya?
Benar, Pak. Ini mobilnya.
Diterjemahkan oleh: Gendrol89 https://subscene.com/u/1278503
Hei...
Sialan!
Hei, berhenti...
Berhenti!
Berhenti!
Katakan! Dimana Neha?
Kamu mau lari kemana?
Dimana Neha?
Berhenti!
Berhenti!
Berhenti goblok!
Fahad berhenti!
Dimana Neha?
Katakan!
Katakan!
Diamana gadis itu?
Dimana?
Apa yang terjadi, Pak?
Ibrahim!
Ibrahim!
Ibrahim!
Hei, dimana Neha?
Dimana?
Bukan saya pelakunya, Pak.
Katakan!
Saya disewa.
Oleh siapa?
Saya akan antar ke sana.
Ayo.
Disini, Pak.
Vikram, aku ikut denganmu.
Panggil bantuan.
Suruh mereka datang tanpa sirine.
Jika hal buruk terjadi, bunuh idiot ini!
Jangan bergerak.
Vikram, apa yang terjadi denganmu?
Kenapa tubuhmu penuh luka?
Hei, Rohit. Duduklah disitu.
Duduk disitu.
Rohit, ini perbuatanmu?
Dimana Neha?
–Aku sudah coba... –Hei, jangan bergerak.
Tenang, tidak apa-apa.
–Rohit... –Aku tahu sudah berakhir.
Aku coba berkali-kali untuk menjelaskan ini Vikram.
–Tapi aku tahu kamu tidak akan mendengar. –Rohit, jangan bergerak.
Rohit...
Rohit...
Rohit...
Rohit, apa yang terjadi denganmu?
Rohit...
Rohit, bicaralah.
Rohit...
Rohit...
Rohit...
Rohit...
Rohit...apa yang terjadi?
Dimana Neha, Swapna?
Kenapa dia lakukan semua ini?
Bukan Rohit di balik semuanya.
Tapi aku.
Akulah yang berbuat.
Semuanya berawal di panti asuhan Saraswati.
Preeti, adikku Alikha dan aku. Kami bertiga tinggal di panti asuhan.
Kemudian Shiva adik Mohan dan istrinya Priya datang dari AS untuk mengadopsi anak gadis.
Diantara semua, anak-anak gadis ini yang sesuai dengan kriteria dan situasi.
Kalian boleh memilih yang kalian suka.
Aku harap kalian ingat apa yang sudah kukatakan.
Siapapun yang kalian pilih dan anaknya setuju maka kalian boleh adopsi.
Tentu saja, Bu.
Kami tidak masalah dengan salah satu dari mereka.
Aku tidak bisa ceritakan betapa indah rasanya pelukan mereka.
Aku butuh kasih sayang seperti itu juga.
Tapi adikku lebih membutuhkan kasih sayang itu daripada aku.
Alikha punya gangguan jantung.
Dokter meyakinkan bahwa jantungnya akan pulih dalam dua sampai tiga tahun.
Tapi jika tidak ingin mengadopsi dia, kalian boleh pilih diantara keduanya.
Bukan seperti itu, Bu.
Yang mana saja tidak masalah.
Baiklah, mari lakukan satu hal.
Preeti, kamu tahu jika adikku punya gangguan jantung.
Jika pergi dengan mereka, dia akan punya kesempatan untuk hidup sejahtera.
Jadi jika mereka memilihmu, bilang saja kamu tidak tertarik.
Baik, Kakak.
Preeti...
Ya, Bu.
Beberapa bulan kemudian adikku meninggal pada hari ulang tahunnya.
Perlahan-lahan aku mulai bisa menerima bahwa adikku sudah tidak ada lagi.
Tapi tanpa kusadari aku menyimpan dendam pada Preeti.
Aku bertemu Rohit setelah keluar dari panti asuhan.
Tidak peduli seberapa baik dia merawatku, aku tetap tidak bisa melupakan adikku.
Suatu hari Rohit mengajakku ke pub.
Disana aku bertemu Preeti.
Aku melihatnya bahagia menari dengan teman-temannya.
Siapa?
Preeti...
–Ayo ikut. Ayo! –Ayo..ayo...
Dan saat melihat Preeti bahagia, kesedihan aneh melandaku.
Aku berpikir seharusnya adikku yang ada di tempatnya.
Aku lalu mengalami depresi.
Rohit berusaha keras merawatku.
Tapi pikiranku dalam keadaan tidak peduli dengan perhatiannya.
Perlahan-lahan kesedihanku berubah jadi amarah.
Suatu hari amarahku itu mendorongku untuk membunuhnya.
Aku mengetahui tentang Fahad.
Lalu menyewanya untuk menculik Preeti.
Bicaralah goblok!
Dia bilang akan memberiku uang banyak, Pak.
Ya Tuhan!
Swapna...
Swapna...
Apa yang terjadi?
Aku membunuh Preeti di hari ulang tahun adikku.
Swapna, apa ini?
Rohit,
Preeti...
Rohit, Preeti...
Aku tidak sengaja membunuhnya.
Aku tidak sengaja membunuhnya.
Itu terjadi begitu saja.
Rohit tidak pernah mengira aku bisa lakukan hal semacam itu.
Tapi setelah mendengar penderitaanku, dia memilihku daripada tugasnya.
Rohit, Preeti...
Kasus Preeti kemudian diserahkan ke HIT dan Neha mulai menganalisa setiap bukti.
Suatu hari Neha menelfon Srinivas tapi tidak tersambung.
Lalu dia menelfon Rohit.
Halo.
Aku temukan informasi penting mengenai kasus Preeti.
Sidik jari parsial telah terdeteksi dari jarum yang ditemukan di TKP.
Kabar bagus.
DNA Preeti maupun darahnya tidak ditemukan disini.
Saat mencari sidik jari, aku hanya temukan sidik jari parsial.
Mari jalankan analisa cepat.
Ini hasilnya.
Karena ini sidik jari parsial maka kita perlu cocokkan dengan data Biro.
Karena informasi ini tidak boleh sampai ke Srinivas...
Rohit pergi ke rumah Neha malam itu juga.
Kami menyekap Neha di rumah kami.
Vikram, ide kami bukan membunuh Neha.
Kami berniat kabur ke luar negeri dengan cara ilegal.
Rohit mengatur semuanya dengan bantuan teman-temannya.
Tapi kami tetap menunggu sampai ibu Rohit dibawa abangnya.
Rencana kami hanya membius Neha lalu kabur.
Mereka ingin lepaskan dia lalu kabur, Pak.
Tapi jika dia selamat, bukankah aku yang nantinya tertangkap?
Aku berniat pergi membunuhnya saat bapak ini menghentikanku.
Saat Sheila menulis catatan bahwa mayat dapat ditemukan di wisma Raju...
Rohit menggali mayat Preeti lagi.
Tapi Rohit pria yang baik.
Dia tidak ingin Sheila dihukum karena aku.
Jadi dia menemui beberapa tersangka tanpa sepengetahuanmu.
Dia kumpulkan sampel DNA mereka tanpa sepengetahuan mereka.
Dia lalu menanamkan samua sampel pada mayat Preeti.
Lalu mengubur mayatnya di tempat yang Sheila tulis di catatan.
Dia juga menaruh sampel lumpur pada ban mobil dan sepatu Sheila.
Rohit tidak ingin menjebak siapapun
Tujuan kami hanya ingin kabur setelah kasusnya dingin.
Rohit seharusnya tidak mati seperti ini.
Soal, Lata?
Aku tidak kenal Lata, Vikram.
Semua karena uang, Pak.
Begitu tahu rasanya memegang banyak uang, saya jadi rakus dan menginginkan lagi.
Jadi saya mencoba menculik Lata.
Maaf, Pak.
Untuk apa, Vikram?
Aku tidak bisa selamatkan putrimu.
Tidak, Vikram...
Seharusnya aku yang berterima kasih
Jika bukan karena kamu, kami akan menderita seumur hidup tanpa tahu tentang Preeti.
Kamu memberikan kami kepastian.
Terimakasih banyak, Vikram.
Apa yang kamu lakukan sangat baik.
Apa?
Kudengar kamu mengambil tanggung jawab untuk menjadi donatur panti asuhan.
Aku sepenuhnya mencintaimu Vicky.
Bagaimana caramu mengatasinya?
Kepada Vikram...
Aku tahu bahwa kamu akan memecahkan kasus ini.
Aku tahu bahwa kamu akan datang padaku.
Dan saat kamu datang padaku, aku akan menembakmu dengan pistolku.
Tapi pistol itu akan tanpa peluru, Vikram.
Hanya pelurumu yang bisa memberiku akhir yang terhormat.
Senang mengenalmu.
Temanmu selamanya.
Rohit.
Aku bertanya berulang kali tapi kamu tidak mau bicara.
Kenapa kamu kena serangan panik ini?
Kenapa kamu tidak cerita masa lalumu?
Ceritakan, Vicky.
Tidak sekarang.
Akan aku ceritakan lain waktu Neha.
Ayo pergi.
Sialan!
Vikram!
"Aku tak tahu gelombang pasang mana yang menusuk jalanku..."
"Haruskah aku menjadi angin untuk mengalihkan ke jalan lain..."
"Bahkan jika waktu hentikan nafasku dan melemparku ke neraka..."
"Dengan sayap terbuka lebar aku telah mengatasi masa laluku..."
"Ini pertempuran..."
"Tak peduli seberapa besar musuh, aku tidak akan menyerah."
"Ini pertempuran..."
"Oh...setiap detik adalah tantangan! Aku siap!"
"Aku takkan pernah mundur dan bertempur tak peduli apapun."
"Kematian yang mengikuti takkan menyerah meski aku terus berlari"
"Haruskah aku mengambil taringnya dan menulis ulang takdir..."
"Pekatnya kegelapan tidak membutakan kekejaman, meski dalam kebingungan."
"Bukankah taring-taring akan mundur ketika fajar datang..."
"Ada dunia tersembunyi di dalam diriku..."
"Bertanya padaku jikalau ada jalan keluar..."
"Biarkan aku menjadi jarum jam yang terus berdetak"
"Dan hentikan waktu 'tuk tahu siapa yang jalankan."
"Ini pertempuran..."
"Tak peduli seberapa besar musuh, aku tidak akan menyerah."
"Ini pertempuran..."
"Oh...setiap detik adalah tantangan! Aku siap!"
"Aku takkan pernah mundur dan bertempur tak peduli apapun."
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.