Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik]
[tertawa]
Aku bakal lebih muda, lebih sehat, dan
lebih segar. [tertawa]
Dukun keparat.
[menangis]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Lurah perempuan itu harus kita
singkirkan.
Kau Banjar.
dan Kohar. Kalian bertiga adalah
orang-orangku yang akan menjadi
pelaksananya. Andai kata usaha ini
berhasil, kita pasti akan hidup senang.
[tertawa]
Kenapa tidak?
Ini angkin tali Wongso dan bedak mangir
yang harus dilulurkan pada lurah
perempuan itu.
Apa khasiatnya itu, Ki?
Jasadnya akan dijangkiti penyakit.
Setiap tahun kalian harus kemari.
Untuk apa, Ki?
Bawa Perawan Baru kalau kalian ingin
hidup langgeng.
Baiklah, Ki.
[musik]
Pembuatan tambak ikan milik koperasi
desa ini harus selesai tepat pada
waktunya.
Apa perlu kita minta bantuan dana pada
kecamatan atau kabupaten, Bu?
Untuk apa? Maaf, Bu. Bukankah biayanya
cukup besar?
Pemerintah tidak usah diganggu. Saya
yakin berkat swadaya masyarakat di sini,
usaha ini pasti selesai dan sukses.
Insyaallah keberhasilan desa kita ini
akan menjadi contoh bagi desa-desa lain.
[musik]
Simpati masyarakat desa terhadap lurah
perempuan itu harus segera dihentikan.
Eh, Mbok Reso ya?
Iya, Den.
Mau ke mana?
Mau ke rumah anak Lestari.
Oh, ke Bu Lurah sana ya?
Iya.
Mari saya antar,
Mbok. Kerjanya bukan cuma ngurus saja
kan? Wah, macam-macam, Den.
Ini saya bawa parem dan mangir
pesanannya.
Oh, iya, Mbok. Bagaimana kalau
barang-barang ini? Biar kami saja yang
bawa.
Mbok enggak usah capek-capek ke sana.
Lantas yang melulurnya siapa?
Gampang. Saya sendiri juga bisa.
Wah, jangan, Den. Nanti saya tidak enak
sama Bu Lurah.
Seret yang sawah.
Terima kasih ya, Sugeng. Besok jemputnya
jangan terlambat ya.
Giih bareng.
Monggo.
Mbak, kok pulangnya terlambat sih, Mbak?
Loh, kan ada kerja bakti. Hm.
Yang lain malah pulangnya nanti sore.
Hari ini saya masak sayur lodeh kesukaan
Mbak.
Pasti keasinan deh.
Uh, masa kok keasinan terus?
Kalau keasinan lagi itu tandanya kau
minta cepat-cepat dikawinin.
Loh, kok Yati Mbak itu? Loh, sudah
berapa banyak pemuda-pemuda ganteng?
kaya dan punya kedudukan yang melamar
Mbak. Enggak seorang pun yang Mbak
terima. Kenapa sih, Mbak?
Yati,
Mbak sudah janji kepada mendiang kedua
orang tua kita. Mbak akan menikah kalau
kau benar-benar sudah dewasa.
Tamat SMA dan bisa mandiri.
Selamat siang.
Cari siapa, Mbak? Bu Lurah. Ada,
Mbak. Ada tamu. [musik]
Selamat siang, Bu. Silakan. [musik]
Saya cucunya Mbok Reso,
tukang pijit lang kanan Ibu.
Saya justru mengantarkan bedak mangir
yang Ibu pesan ini.
Sekarang Mbok Resonya di mana?
Di rumah. Sakit.
Oh,
kecapekan barangkali.
Sudah ya, Bu. Permisi.
Eh, maaf.
Adik ini namanya siapa?
Marni.
Marni. Kok simbok tidak pernah cerita
punya cucu? Mungkin simbok lupa. Maklum
sudah sepuh.
Saya memang jarang datang ke desa ini.
Sudah ya, Bu. Permisi.
Mari.
Mbok pakai sakit-sakitan segala.
Lama-lama aku bisa keterusan jadi tukang
urut Mbak. Aduh, Suyati baru sekali
dimintain tolong sudah ngedumel.
Iya, Yati kan ingin buru-buru nunjukin
model baju tari ini pada teman-teman.
Baru 0.30
Hm.
Leksono juga belum datang. Ojo kesusu,
Nduk. Nduk, tak bilangin ya, model
pakaianmu itu mbok yang sopan toh. Semua
serba sempit, serba terbuka.
Memangnya kenapa sih, Mbak? Loh,
Mbak Yumu kan lurah di desa ini, Cahayu.
Kita harus memberikan contoh yang baik
pada masyarakat.
Lama-lama kamu jadi guncingan orang loh.
Walah, kalau dengerin omongannya orang
kampung, Mbak, enggak bakalan maju.
Biarin aja.
Waduh, Hati disuruh ngelulur malah
mecahin piring segala.
Maaf Nyati enggak sengaja, Mbak kerja
kalau pikirannya ngelantur ya gitu.
Badah,
Mbak. Mas Lono datang
pada.
Eh, malam Ti.
Selamat malam.
Sudah beres?
Lihat aja sendiri. Cantik kan?
Penampilan yang bisa membuat mata lelaki
pada melotot.
Wus bisa. [tertawa]
Eh, D Leksono.
Malam, Mbak.
Selamat malam. Ah, ini dipakai supaya
enggak kedinginan. [tertawa]
Terima kasih, Mbak.
Heeh.
Hati-hati di jalan, ya.
I, permisi, Mbak.
Ayo, Mbak. Yuk,
pulangnya jangan malam-malam, ya.
Beres, Mbak. Paling-paling juga sampai
pagi. W pites loh
si Mbak.
Bu, Bu Lurah.
Bu Lurah. Bu, Bu Lurah. Bu,
Bu. Bu Lurah. Iya,
Mbok Reso tewas.
Hah? Mbok Ro tukang pijit itu? Hah?
Tadi mayatnya ditemukan di tengah sawah.
Ya sudah, cepat kamu ke sana. Saya ganti
baju dulu, ya.
Iya, ya. Ya.
Heeh.
[musik]
Kepada katal ya. Gatal semua.
Eh, aduh
aduh
eh eh.
Biar aku lihat dulu, Mas.
Ini pasti perbuatan orang-orang iseng.
[musik]
[musik]
hah
[musik]
Masuk.
Eh, [musik]
hei, jangan lari
kau. Jaga dia.
[musik]
[musik]
Ke mana itu perempuan?
Kang Banjar. H. Kau ke sana, aku kemari.
I
[musik]
hei, Koher, itu dia.
Mana dia?
Jangan jangan berkosa saya jangan
katanmu.
Begitu selesai berita aku. H
[musik]
[musik]
[musik]
Ah.
[musik]
[musik]
[musik]
Gandian
sudah, Pak. Sudahkan
Ayah
[musik]
Sekarang giliranmu nih.
Enggak, aku gak minat,
Kang. Kalau begitu kau bantu Toha
mengangkat laki-laki itu, ya.
Ayo, Kang. Angkat.
Tinggalkan tempat ini. Ayo kita melapor.
Tunggu apaagi? Kumpulkan penduduk dan
laksanakan seperti rencana. Kerjakan.
Baik, Pak.
[tertawa]
Mas,
jantung saya dari tadi kok deg-degan
terus. Ada apa, ya? [tertawa]
Kalian tenang-tenang saja. Sebentar lagi
orang-orang akan memanggilmu. Pulurah.
[tertawa]
Harta peninggalan almarhum suami saya
habis. Asal Mas Angkoro benar-benar bisa
menjadi kepala desa ini. [tertawa]
Terima kasih istriku.
Segalanya pasti akan kanti.
Sekarang tidurlah yang nyenyak.
Yuk. Selamat malam, Pak. He
saya telah hancur, Mas.
Saya sudah tidak punya masa depan lagi.
Sebaiknya saya bunuh diri saja.
Tidak, kau tidak boleh melakukan itu,
Yati.
Cobaan ini terlalu berat.
Apa kata Mbak Lestari dan apa kata
orang-orang kampung seandainya saya
hamil?
Kau tidak usah cemas, adikku.
Aku rela mengawinimu.
Tangkap laki-laki dan perempuan yang
telah berbuat zina di kampung kita ini.
Ayo bangunang.
Jangan.
Tidak. Kami tidak melakukan apa-apa.
Saya dipukul dan dia diperkosa oleh
orang-orang berkhong.
Kalian tidak usah mungkir. Ngapain
berduaan di sini kalau tidak berbuat
besum?
Tidak.
Saya telah dicemari dan kami tidak
berbuat apa-apa.
Percayakah kalian
dengan ucapan adik lurah yang selalu
berpakaian seksi ini?
Tidak. Mereka harus ditangkap dan
diadili di muka kakaknya sendiri.
Jangan, jangan lakukan itu.
Ya, kasihannyaalah dia. Berlakulah adil
terhadap kami.
Kita tidak usah buang-buang waktu.
Gunduli mereka
dan kita arah ke liling desa.
Jangan
tolong jangan.
Aduh.
Bu Lurah,
kau dan adikmu Yati
telah menjadi korban perbuatan Angkoro.
Apa maksudmu?
Dan siapa kau sebenarnya?
calon istri Angkoro
yang sebentar lagi akan menggantikan
kedudukanmu sebagai lurah di desa ini.
Kau dengar itu
saja.
Tolong, Mbak, kami tidak berbuat zina.
Kami dituduh yang bukan-bukan.
Tolong saya, Mbak.
Hukum dia.
Kami difitnah, Mbak.
Sebagai,
kau harus bertanggung jawab atas
perbuatan busuk adikmu.
Karena itu kau pun harus dipecat dari
kedudukanmu yang sekarang.
Lurah telah gagal. Keluarganya sendiri
pun telah mencemarkan baik desa.
Bagaimana saudara-saudara? Pecat dia.
Ganti saja dengan lulah yang baru.
Setuju? Setuju.
Ketahuilah saudara-saudara,
apapun tuduhan itu, dia sudah tidak
sanggup untuk menjawabnya lagi. Kenapa?
Dia harus bicara jujur. Dia harus dapat
mempertanggungjawabkan aib ini. Buka
kerudungmu.
Bicaralah.
Mbak,
[menangis]
Mbak,
dia telah kena kutub.
Jasadnya telah dijangkit penyakit kotor
yang menular.
Sebaiknya perempuan itu cepat-cepat
diusir
sebelum desa kita terkena wabahnya.
Beri dia jalan.
Hati-hati Nak.
Jangan lihat
[musik]
bau. Ih,
Mas. Bukankah tadi pagi kita masih kerja
bakti membuat kolam bersamanya?
Iya, ini pasti ada yang tidak beres.
Nah, Saudara-saudara.
sebagai penggantinya. Bagaimana kalau
Pak Angkoro kita angkat jadi lurah di
desa ini.
Setuju?
Setuju?
Setuju.
Terima kasih. Terima kasih.
Dan tugas pertama yang akan saya
instruksikan pada masyarakat adalah
usir pemuda-pemudi jadah itu keluar dari
desa ini. Bila perlu siksa dia. Iya.
Ayo, ayo
cepat
[musik]
eh tunggu mas
aku letih. Eh,
tidak. Kita harus terus. Ayo.
Yati, kenapa kau?
Tinggalkan saja [musik] saya di sini,
Mas.
Saya sudah tidak kuat lagi.
Pergilah, Mas.
Tidak, kau harus tetap bersamaku.
[menangis]
Kebenaranmu semakin parah.
Biar aku gendong saja.
Mm.
kita ikutin terus
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Ki Jag satru, kau kuperintahkan untuk
menolong seorang wanita yang bernama
Lestari.
Apa yang harus hamba lakukan, Ibu Ratu?
Sembuhkan dia dan bantulah usahanya.
Segala titah ibu ratu siap hamba
laksanakan.
Han
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Ya Allah, ya Tuhanku,
kupasrahkan hidup ini kepada aku.
Bunuh diri adalah perbuatan yang
sia-sia.
Anda ini siapa dan kenapa saya ini
ditolong? Biarkan saya mati.
Ibu Ratu Nyi Roro Kidul telah mengutusku
untuk menolongmu,
Ibu Ratu.
Iya, sekarang kau ikut aku.
Tunggu, Bu. Tunggu Bu.
Sabar, sabar, [menghela napas]
sabar.
Masa aku mau ketemu lurah sama suamiku
sendiri susah.
Iya, tapi beliau masih tamu.
Nama saya Sumi, Pak. Umur 16 tahun,
janda dan punya tiga anak.
Kamu
Dasih, Pak.
Dase Handiani
dari Kampung Jero bilang
kalau kamu itu sudah lima kali janda.
Iya, Pak. Laki saya enggak ada yang
kuat. Semua anunya pada soak.
Kamu
saya, Pak.
Duduk.
Kamu cantik, kenapa bercerai?
Dia kawin lagi, Pak.
Sabar, Bu Marni, sabar. Pak Lurah masih
ada tamu.
Tu, tamu siapa sih? Sampai kapan saya
harus nunggu? Sudah 2 jam saya di sini.
Oh, rupanya ini yang membuat kakak tidak
boleh diganggu. Hm. Semua pergi,
tinggalkan tempat ini.
Marni,
bisakah persoalanmu diselesaikan setelah
ini? Tidak. Aku sudah tidak tahan untuk
mengatakan bahwa kau adalah seorang
penipu.
Tutup mulut kamu,
Banjar
Kohar,
ajak mereka keluar dulu.
Ayo, ayo, ayo.
Sekarang katakan apa maum?
Kapan aku kau nikahi?
Rumah bekas lurah itu telah aku sita
untukmu.
Tentunya kau tidak perlu lagi menuntut
jadi Nyonya Angkoro, bukan?
Kau bukan lurah pilihan warga. Akulah
yang mempengaruhi mereka agar
menunjukmu. Inikah balasanmu setelah kau
jadi lurah?
Hm.
Tidak ada seorang pun yang berjasa dalam
hidup ini
kecuali diriku sendiri.
Laknat, kau benar-benar manusia tidak
berbudi. Saat ini juga aku akan buka
rahasia busukmu pada masyarakat.
Umar ini naunya gede.
Sial. Hm.
Banjar kohar.
Ya.
Ya.
Perempuan itu mulai berbahaya.
Heeh.
Singkirkan.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Ah.
Koher, kenapa kau berada di kamarku? Pak
Angkoro ingin ketemu. Aku disuruh
menjemputmu.
Kenapa bukan Pak Angkoro sendiri yang
datang kemari?
Dia menunggu di bangunan tua
malam-malam begini.
I
untuk apa?
Kau jangan banyak [musik] bertanya.
Ayo cepat.
Aku ganti pakaian dulu.
Tidak. Kita sudah terlambat. Ayo.
Ah. Ah.
Mana dia kangkoro?
Aku di sini. Cepatlah kemari.
Itu bukan suara Kang Angkoro.
Lepaskan
bandingan.
Lepaskan.
Kurang ajar. Kau telah berani menginap
calon istri majikanmu sendiri.
Justru Angkorolah yang menyuruh kami
untuk menutup matamu yang kotor dan
membungkamkan mulutmu yang busuk.
Sial.
Mana dia si Angkuro?
Biar persoalan ini aku selesaikan
sendiri.
Tidak.
Persoalanmu telah ia limpahkan pada
kami.
Mau lari ke Mana kau manis?
[musik]
Tarik [musik] dan lemparkan dia.
Lepaskan. Lepaskan.
Lepaskan.
[berteriak] Ah ah. Ah.
[musik]
[musik]
Tanggalkan bajumu dan berendamlah.
atas nama kesembuhan
lakukan bukan
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Lestari,
berdirilah.
[musik]
[musik]
Teluki Brojo telah kutaklukkan.
Terima kasih, Ki. Terima kasih.
[musik]
Tahan.
[musik]
Biar ular itu tetap di dalam jasadmu
sebagai pamungkas.
[musik]
Kenakan kainmu.
Bagaimana? Ha.
Aman, Pak.
Enggak
usah malu-malu.
Ayo masuk saja. Ayo.
Hah.
Pak Anggoro sudah menunggu di dalam.
Rukia, keberadaanmu di sini masih dalam
keadaan uji coba. Mengerti
maksud Bapak?
untuk mengetahui sejauh mana kehebatanmu
melayani aku.
juga.
Hm.
[musik]
kau Akan kujadikan salah satu selirku.
Andai kata lulus, kau berhak tinggal di
rumah ini. Kau akan kupelihara. Mau kan?
Bagaimana kalau Ibu tahu, Pak?
Ah, itu bukan urusanmu.
Sekarang [musik] kau mandi dulu. Aku
tunggu kau di tempat tidur. Hm.
[tertawa]
Pak,
Pak Jaya cepat keluar.
Saya, Den. Saya
kenapa belum pindah juga?
Habis mau pindah ke mana, Den? Uang
ganti ruginya aja ngespadan.
Mana cukup untuk beli tanah lagi. Semua
orang sudah pada pindah. Cuma kamu
sendiri yang belum. Kamu tahu resiko
orang yang bandel.
Kami orang kecil, Den. Kasihanilah kami.
Ah, peduli setan. Tanah ini harus jadi
milik Pangkoro, lurah desa ini. Kami
cuma melaksanakan tugas.
Ampun, Den. Ampun.
Kasihanilah kami, Den. Kami rakyat
kecil. Ampun.
Ayo bangun.
Ampun, Pak.
Kurang ajar.
Aduh. Aduh.
Jangan deh. Jangan dipukulin. Jangan
deh. Jangan dipukulin. Jangan.
Ampun saya. [berteriak]
[menangis]
Pak bangun Pak. Karena kita masih kecil.
[menangis]
Kalau besok masih di sini
nyawa kalian akan kami habisi semua.
Kau benar-benar mabuk kekuasaan, Mas.
Berapa banyak selir yang akan kupelihara
di rumah itu?
[tertawa]
[menghela napas]
Aku tidak mengerti maksudmu, Bu.
Kau tidak usah mungkir.
Mata kepalaku sendiri melihat
perbuatanmu yang najis itu.
Lantas apa maumu?
Ceraikan aku dan kembalikan seluruh
harta peninggalan suamiku yang telah kau
pinjam sekarang juga.
Ingat Ratu,
kau dan aku adalah sama-sama
pembunuhnya.
Itu berarti warisannya bukan milikmu
sendiri.
juga milikku
manusia rakus.
Kau yang rakus serong. Bisa-bisa kau pun
buunuh.
[musik]
[musik]
H
Loh,
kok Kakang Banjar sudah pulang?
Eh,
Kakang lagi enggak enak badan.
Kakakmu mana?
Urusan koperasi di rumah Pak RT.
Eh,
eh, Sung, Kakang capek. Pijitin, ya.
Loh, enggak ah. Minta pijitin saja sama
kakakku. Dia kan istrimu.
Ini uang jajan untuk kamu,
Kakak ngerayu ya.
Terimalah. Tapi kapan-kapan kamu harus
mau menjidin aku.
Nanti ku beliin baju baru.
Wah, Gombal enggak usah.
Dasar tua-tua kelapa.
Awas ya, kapan-kapan kamu pasti tak
Haji Bakri baru jual tanah. Bereskan.
[musik]
Pak, Pak. Kata rumah kita ada yang
memecahkan.
[musik]
Angkat.
[tertawa]
Di mana uang itu kau simpan?
Uang apa?
Kami tidak punya uang.
Kami orang miskin.
Uang penjualan tanahmu. Hah?
Sumpah, Pak. Benar, Pak. Benar.
Pak kalau tidak istrinya itu berkosa.
Tolong Pak.
Baik baik
bebaskan istri saya.
Kami jangan kalian bunuh
[musik] ini, Pak.
[tertawa]
Lepas
kurang ajar,
Pak.
Istri saya itu diapakan?
Tolong, Pak.
Bu, Bu, Bu.
Dapat Bu, C berhasil. Ayo,
Mbak.
Balik garik.
Nama asliku Indra Laksana.
Semenjak Ibu Ratu mengangkat aku jadi
danyangnya di kawasan ini,
beliau memberi nama Ki Jaga Satru.
Sebenarnya Ki itu siapa dan dari mana?
Desaku adalah desamu juga.
Angkorolah yang membuat hancurnya
kehidupan kami.
Angkoro, orang yang memusuhi saya.
Istriku berbuat serong dengannya.
Bahkan mereka berdualah yang membunuhku.
Maukah Ki menceritakan?
Tadinya aku adalah seorang pedagang
yang acap ke luar desa.
[musik]
Hidup kami sangat bahagia.
Terlebih-lebih setelah kami dikaruniai
[musik] seorang putri bernama Darmi.
Namun malam itu terjadi peristiwa yang
tak disangka-sangka.
Bu,
Ibu kok kelihatan gelisah?
Ayah kapan pulang sih, Bu?
Kau tidak usah memikirkan ayahmu.
Pulang boleh enggak? Ya enggak apa-apa.
Loh, Ibu kok gitu?
Mentang-mentang ayah jarang di rumah,
tapi dia kan cari uang buat kita.
Hei, [musik] Darmi, hidup ini bukan
sekedar untuk uang, tapi ada hal-hal
lain yang belum terpikirkan olehmu.
Apa sih, Bu?
Ah, sudah. Kau tidak [musik] perlu tahu.
Sudah malam, tidur sana. Besok pagi kau
harus sekolah. Malam, Bu.
Siapa sih?
Masango ya? [tertawa]
Melamun ya?
Kok lama sih, Mas datangnya?
Anakmu saja baru tidur. Sudah enggak
sabar ya?
Nih sayain
[musik]
ah
[musik]
lampunya.
Iya.
Mas, [berdehem]
sampai kapan perbuatan seperti ini akan
berakhir?
Sampai kau puas,
Mas Indra Laksana hanya mementingkan
dagangannya.
Aku rela dicerai [musik] dan kawin
denganmu, Mas.
Kau sungguh-sungguh, Ratmi.
Heeh.
Saat-saat seperti inilah yang selalu aku
intikan bila bersamamu, Mas
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Hah
[musik]
sudah pulang? Apa yang kalian lakukan di
tempat ini?
Kau curang rapi.
Hei laki-laki jahanam, kemari kau.
[musik]
Kau telah merusak keutuhan keluarga
kami.
Ah.
[musik]
Untuk menghilangkan jejak,
jasadku telah dicincang,
lalu dibawa dan dilempar ke laut kidul
ini.
Lalu ibu ratu menolong Anda.
Iya,
Ki punya kekuatan. Kenapa tidak membalas
dendam?
Meskipun berwujud,
sesungguhnya diriku tidaklah berjasad.
Ibu Ratu melarangku berbuat demikian.
Aku cuma bisa mengabdi padanya.
Sementara aku yang masih hidup ingin
mengabdi dan membebaskan desaku dari
penindasan.
Jadi kau ingin pulang? Iya, Ki.
Untuk melengkapi ajian, kau akan
kusembadani.
Bila aku sirna, berarti ilmumu telah
penuh.
Diriku ada dalam jasadmu.
Bila tugasmu selesai, kembalilah ke Laut
Kidul dan taburkan bunga tujuh rupa di
pantainya. Apa
maksudnya itu, Ki?
Artinya ragaku yang kau pinjam telah
dikembalikan ke tempatnya lagi.
Mengerti, Gi?
Lakukan Oke.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Allah
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
e
Eh
[musik]
[berdehem]
Eh, Kang Banjar
Sumi.
Dari tadi kambing kita ngbek terus. Coba
lihat.
Baik, Kang.
Lapar ya?
Kok ngembek terus nih? Makan biar
kenyang.
Sumi Cahayu,
maaf kupinjam ragamu.
e
[musik]
Kang, Kang Banjar,
sini, Kang.
Ayo, Kang.
[menghela napas]
Ayo, Kang. Tunggu apaagi?
Cepat, Kang.
[menghela napas]
[musik]
Sekali ini benar-benar kau beri
kesempatan padaku.
Iya, sepuasmu.
Kau tidak takut kakakmu,
Kang. Kang Banjar.
Ke mana sih,
Kang?
[musik]
[musik]
Ayo, Kang, cepat.
Aku sudah tidak tahan lagi.
Tunggu, aku buka celana dulu.
Tamat sudah riwayatmu. [musik]
Mata keranjang.
Hah. Lestari.
[musik]
[musik]
[berteriak]
Suara.
Ayo.
Ah, Kang. Kang Banjar.
Mbah Sumi. Kang Banjar.
[terkesiap]
Mustahil
apa? Iya, Kang Banjar tewas di patuk
ular.
Begitulah laporan istri dan adiknya
barusan.
Dan anehnya, ular itu berada di atas
kepala seorang perempuan.
Hah? Perempuan?
[menghela napas][terkesiap]
Jangan-jangan ini utusannya Kiibrojo.
Ki Brojo, apa maksudmu?
Tidakkah perjanjian kita dengan dukun
itu telah lewat satu minggu?
Justru itu, aku telah menyuruh Toha
mencari gadis untuk tumbal, tapi belum
ada kabarnya.
Bagaimana kalau besok malam aku ikut
cari?
Bagus.
Ini kutitipkan sedikit uang.
Kekurangannya menyusul.
Baik, Bang. Permisi,
ya.
Siapa
saya, Pak? Banjar.
Banjar.
[tertawa]
Mau apa kau kemari?
Setan
baik-baik di rumah ya.
Iya, Mas.
[musik]
Mana bisa, Pak. Sekarang kan perawan
susah.
[musik]
Mana waktunya minta buru-buru lagi.
Ini baru perkotnya. Iya. Iya.
Berapa saja kau minta pasti aku bayar.
Tapi stoknya terbatas. Saya mesti cari
dulu ke desa-desa.
Berapa [musik] lama itu?
Seminggu lah. Paling cepat.
Baik, ambillah.
Aid. Tapi [musik] aku minta komisi.
Baik.
Kau boleh tidur dengan anak buahku
gratis.
[musik]
Saya.
Iya. Oke,
kau layani Om ini baik-baik. Beres, Mi.
Selamat malam, Om.
Malam. [musik]
Apa istimewa permainanmu?
Terserah, Pak.
69.
Ayam panggang, [musik]
mandi kucing, eh monyet gendong
atau [musik]
babi kecap. [tertawa]
Model baru ya, Om?
Ya, bergumul bersama dalam bakman.
Selamat mendarat. [tertawa]
Eh, Dek Toha.
Malam, Mbak.
Malam,
Mas Kada. Belum pulang.
Oh,
mari masuk. Silakan.
Permisi, Mbak.
Biar saya buatkan kopi dulu, ya.
Enggak usah repot-repot, Mbak.
Uang cuma kopi aja kok. Apa repotnya?
Sebentar ya.
Iya, Mbak.
Sugeng dalu,
Karsih. Bantu aku ya,
Bu Lektari.
Betul. Ha, tolong bantuin saya.
Ada apa, Mbak? Let's go. Dek
[musik]
sini.
Eh, kenapa nih, Mbak?
Ayo satu pada saya.
Ah,
jangan, Mbak.
Ayo deh. Kenapa?
Takut.
Jangan, Mbak. Aduh, Mbak.
Ayo. Enggak.
Sudah lama saya nak kamu. Kamu tahu
enggak? Ah, lakukan. Tapi bagaimana
dengan Mas Pahar?
Dia sahabatku.
Dia kan tidak ada di rumah. Lakukanlah
sesuatu pada saya. Ayo,
ayo, Dek. Ayo. Kenapa kamu takut?
Jangan, Mbak.
Tidak apa-apa kok.
Jangan.
Ayo, ayo, Dek.
Jangan, Mbak.
Dek, T, jangan pergi. Layani aku.
Jangan.
Ayo, Dek. Ayo. Lakukanlah.
Jangan, Mbak.
Lakukan.
Sudah, Mbak. Ayo, tidak apa
layani aku. Ayo, Dek, lakukanlah. Kenapa
kamu takut? Ah, baik. Aku siap
melayanimu.
Tapi jangan di sini. Di mana?
Malam, Bu. Bapak ada?
Belum pulang. Mungkin di rumah
selir-selirnya.
Loh, siapa yang Ibu maksud? Hei, Dek
Kohar. Memangnya selir Bapak itu ada
berapa dan disimpan di mana saja?
Wah, soal itu saya tidak tahu. Kalau
Bapak pulang, tolong sampaikan
pesanannya. Minggu depan baru ada.
Permisi.
Uh, kaki tangannya. Mana ada yang mau
ngomong.
[tertawa]
[tertawa]
di sini saja, Do. H
ayo Mbak masuk
cepat itu.
Iya, Mbak. Sabar.
Nafsunya besar sekali, Mbak. [musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Ah. [berteriak]
Kang Gohar,
Kang Gohar,
binatang. Kalian berdua benar-benar
manusia terkutuk.
Maafkan saya.
Jangan [tertawa]
istri jahanam.
Maafkan. Saya betul-betul tidak sadar,
Mas. Istri Mas Kor
[berteriak]
[terengah-engah]
Hah. Sekarang kau pun harus kubuh.
Istrimu tidak bersalah, Kohar. Aku hanya
meminjam raganya.
[musik]
Apa
[musik]
yang telah kalian lakukan terhadap
adikku di tempat ini?
Jati maksudmu.
H. [tertawa]
Aku dan Banjar telah memperkosanya di
sana.
Kemudian
kami menggantungnya di hutan bersama
Laksono.
Siapa yang menyuruh kalian?
Angkoro.
[musik]
[musik]
Perbuatan kalian benar-benar tidak bisa
kumaafkan.
[musik]
[berteriak]
[berteriak]
Jadi semua ini perbuatan lestari.
Saya kira dia bukan manusia biasa lagi,
Pak.
Keparat perempuan itu. Kalau begitu dia
sudah menjadi wanita sakti,
satu-satunya makhluk hidup yang bisa
menolongku. Cuma Kibrojo.
Tapi
mana Darmi?
Darmi?
Darmi
ada apa dengan Darmi, Mas? Ada apa?
Darmi,
Mas.
Darmi bangun.
Ada apa, ya?
Gak usah banyak tanya. Ayo, ikut. Ikut.
Mau ke mana? Mau ke mana? Jangan
jangan bawa dia. Dia anakku tidak
anakaskan ayah.
Dia akan bisa tumbang. Ibu. [tertawa]
Ibu lepaskan. Lepaskan
Ibu lepaskan.
Naik.
Lepaskan. Tidak mau. [tertawa]
Ibu
ibu. [terkesiap]
Ibu
Darmi mau dibawa ke mana? Diam kamu.
[musik]
[musik]
Turun. Saya tidak mau ya.
Ayo turun.
Ayo Dut
ikut. Ayo
kami mau dibawa ke mana, ya? NMI takut.
Ayo
N ke mana? Nm takut.
Nm takut. Sayang. Nm takut. Ayo.
[musik]
[menangis]
Tidak, Ki.
Bebaskan saya.
Saya mau pulang.
[tertawa]
Ayahmu telah menyerahkan dirimu sebagai
persembahan.
Tidak, Ki. Saya takut.
Saya tidak mau mati.
Darah gadismu akan menyegarkan [musik]
dan menambah kesaktianku.
[musik]
Darmi
Darmi
keluar kau.
Bebaskan anakku
keluar.
Bebaskan.
Tidak dia telah kujadikan korban. Hah?
Keluar kau. Kau
apakan anakku? [tertawa]
Keluar.
Siapa yang menyuruh kau kemari?
Wah, hadam.
Hah?
Ibu,
keluar atau kuuduh kau.
Jangan
bu
[musik]
kau benar-benar laki biadab.
Darmi
[musik]
brojo,
manusia binatang.
[berdehem]
Ular ini datang mencari tuannya.
[musik]
Ah. [berteriak][erangan]
[musik]
[musik]
[musik]
Angkoro, mau lari ke mana kamu?
Dukun [musik] andalanmu sudah kuhabisi.
Sekarang giliranmu.
[musik]
Perempuan kepalat. Perlihatkan dirimu.
[musik]
[musik]
Angkoro yang serakah dan rakus. Kamu
harus cepat-cepat dimusnahkan.
[berteriak]
W.
Kamu tentu masih [musik] ingat aku.
Indra Laksana,
orang yang pernah kau bunuh.
Ah.
Penguasa desa yang batil telah berakhir.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.