Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Terima kasih Tuhan.
Terima kasih.
Bapak saya meninggalkan kami sewaktu saya masih kecil. Saya bangun pada
suatu hari dan dia sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya suaranya.
Sabtu hari nanti, angin akan mempertemukan kita.
Sepanjang yang saya ingat, hanya ada kami berdua.
Ibu dan saya berlian batu yang paling keras.
Ibu selalu tahu saya ada di mana.
Ambil air aja kok telat terus.
Iya, ini juga mau, Bu.
Anak.
Ini sebentar
Di
luar
panas sekali
Sudah berapa kali ibu bilang, jangan ke rumput-rumput itu lagi.
Di sana enggak ada apa-apa kok, Bu.
Aduh, malah di sana.
Atau orang-orang sini anak gadis enggak boleh ke situ.
Pantang!
Ibu selalu ke situ.
Jemur ini.
Anak, ibu mau ke bidang suri sebentar. Minum ini, biar tidurnya enak.
1, 2, 3.
Besok datang ya. Sekarang, Bok. Sekarang. Bok sakit.
Besok datang lagi ya. Jangan, Bok. Harus sekarang.
Ibu. Ibu sudah curiga.
Biar ibu saja besok yang tanam.
Terima kasih.
Semakin banyak.
Bu.
Kenapa sih bu, banyak orang mati?
Karena hujan gak turun-turun.
Emangnya kenapa bu?
Orang tuh kalau kepenasan, gerah, jadinya gampang marah.
Merjain yang enggak-enggak, mikir yang aneh-aneh.
Terima kasih.
Daya semakin besar ya mbak.
Eh, mbak.
Itu loh suaminya. Suaminya kok gak pulang-pulang itu tarik duitnya ke mana.
Jauh katanya.
Jauh. Jauh.
Belum sempat pulang aja mbak.
Tahu-tahu anak istrinya mau jadi apa loh.
Ya,
asalkan jangan seperti sih.
Tanti-tanti, itu saat tambah.
Berulang-ulang Ibu bilang.
Jangan deket-deket perempuan-perempuan itu.
Apalagi bicara-bicara.
Jangan mau diajak ngobrol.
Anak.
Nih.
Sejak kapan kamu gak suka sayur?
Masa mbak lupa?
Dari video itu memang saya gak suka sayur.
Ah, enggak.
Dulu waktu kecil kalau aku sediain, kamu selalu habis kok.
Mbak, di kota sudah banyak orang dibunuh lho.
Di sini juga.
Sudah sampai sini, Mbak?
Sudah.
Saya dengar minggu lalu ada gugup yang dibakar, Mbak.
Iya.
Iban Suri juga bilang tuh.
Banyak orang yang sudah pindah.
Jalan-jalan di sini itu kan sudah bahaya, Mbak.
Katanya yang paling rumah jalan lewat tas kutip.
Banyak juga saatnya Mbak juga pindah.
Untuk apa?
Rumah kami ada di sini.
Rumah mereka itu juga di sini.
Tapi mereka tetap saja pergi.
Tetap saja pindah.
Apa karena mereka pergi kita juga harus pergi?
Aku nggak seperti kamu, yang selalu lari dari masalah.
Mbak, saya ini nggak lari.
Tapi saya pergi, Mbak.
Ibu sedang di warung melihat kita.
Kamu harus menjaga ibu baik-baik.
Ibu.
Ibu menjaga ibu baik-baik. Kamu gak boleh gitu, Daya.
Dia sayang sama kamu.
Kalau yang datang,
Kita akan pergi bersama.
Bersama Angin.
Iya. Tapi kan dia sudah lama sekali pergi.
Kamu masih ingat dengan wajahnya?
Kalau dia datang...
Aku akan tahu.
Aku akan tahu.
apa yang mereka visikan kali ini.
Ada apa sih, Bu?
Bu, kita mau kemana, Bu?
Tempat yang lain.
Tempat lain yang buat yang mana, Bu?
Yang aman.
Boleh tahu kita mau kemana, Bu?
Ayah, tahu juga enggak kita mau kemana, Bu?
Sudah tahu kita mau kemana, Bu?
Bu?
Terus?
Gimana mereka bisa tahu kita ada di mana, Bu?
Tidak akan mencari kita.
Ya, umpari, Bu.
Ya, umpari, Bu.
Jangan minta ribu.
Jangan minta ribu.
Pak, ke Pasir Putih, Pak.
Oh, ke timur.
Di balik ke sana.
Jalannya ke mana, Pak?
Jalan. Di sini tidak ada jalan.
Tidak ada, tidak ada jalan.
Dulu pernah ada jalan, sekarang sudah ditutup.
Siapa?
Ditutup oleh pasir.
Sebentar.
Ini ada bekal untuk kalian.
Terima kasih, Pak.
Terima kasih.
Bu. Mau hujan, Bu.
Di sini enggak ada hujan.
Mau badai hujan.
Itu bukan hujan, itu pasir.
Rupanya kita tidak sendirian.
Kalian mau kemana?
Hari ini tidak baik jalan sendirian tanpa ditemani seorang laki-laki.
Arahnya kemana?
Pasir Butih.
Tempat pelarian.
Pasir putih di sebelah sana.
Ini untuk kamu, Nonamanit.
Kamu pasti memerlukannya.
Rupanya kamu belum tahu sejarah tempat ini.
Dulunya ada kerajaan di permukaan pasir ini.
Tapi karena raja dan putra-putranya berlaku tidak adil dan kejam terhadap
penduduk, maka dewa-dewa yang di langit sana berkata, beri pelajaran mereka.
Dan akhirnya dengan sekali gerakan dan busan angin yang dasyat, perbaliklah
kerajaan itu masuk ke dalam tanah gelap tanpa cahaya.
Makanya kamu harus hati-hati.
Ini bukan topeng biasa.
Kau harus menggunakannya di belakang kepala.
Agar hantu-hantu gurun tidak bisa membawamu ke kerajaan mereka di bawah
tanah.
Kalau ibu?
Ibu kan juga perlu topeng. Jangan khawatir.
Ibumu tidak perlu topeng.
Ibumu punya mata di belakang kepalanya.
Selamat tinggal.
Angin Kelak akan mempertemukan kita lagi.
Ibu dengar.
Apa?
Hantu-hantu gurun.
Anak, untuk apa kamu pakai topeng itu kalau terus-menerus lihat ke belakang?
Gubuk ini kosong? Iya.
Gubuk kecil itu memang aneh sendiri.
Arahnya menghadap angin.
Seakan-akan menantang.
Setiap pagi ditimbun pasir.
Dulu katanya warung. Jadi orang lewat situ selalu istirahat makan dan minum.
Tidak ada yang lama tunggal di sini.
Anak!
Anak!
Dua-duanya.
Pak, ini berapa?
Ambil aja, ambil.
Karena itu pergi sebentar, hati-hati.
Lagu apa itu?
Lagu yang sering dinyanyikan sama nenekku.
Nama kamu aneh.
Pokoknya kamu tahu namaku.
Aku tahu nama kamu.
Anak.
Namaku Daya.
Kamu kenapa ibu panggilmu anak?
Kamu tahu namaku.
Tapi aku nggak tahu nama kamu.
Namaku Sukma.
Aku tinggal di sini dengan kakekku.
Dekat tengah tempat tinggal kamu.
Kakekku...
Dia suka mengajar beberapa anak-anak dari daerah sini.
Aduh, kalau begitu ibuku nggak boleh sampai tahu.
Kenapa? Nanti pasti aku disuruh ke situ terus.
Kita selalu tahu kalau ada orang baru datang.
Oh ya?
Dari mana taunya?
Dari Bupasir.
Mereka selalu bawa pasir baru
Seperti
apa baunya?
Ya gak ada baunya Cep, gak ada baunya
Bagi-bagi mau kemana?
Hampir.
Mana airnya?
Apa kakinya?
Lino-lino.
Apa ya obatnya?
Ini bisa. Mau.
Ini namanya tepung otot.
Kalau ke seleo atau linu-linu ke sini saja.
Nanti saja kalau boleh ditukar sama gula.
Ya, terima kasih.
Kalau mbak mau tukar atau jual beli apa-apa, saya juga bisa lah, Denny.
Iya, saya tahu.
Nanti saya mampir. Kalau perlu jamu, jangan segan-segan ke sini.
Katanya orang yang suka membantu orang-orang di desa ini.
Titip anak saya, biar bisa ikut belajar di sini.
Oh ya, boleh.
Biar nanti bareng-bareng sama Sukma.
Terima kasih. Pamit. Moga-moga.
Sekarang berhitung.
Sembilan dibagi tiga.
Berapa? Siapa tau?
Hah?
Bagaimana tuh kayaan ini?
Mikirnya kok pelan sekali.
Kayak kakek ini loh.
Sembilan bagi tiga.
Tiga tuh.
Wah.
Biar kakek sudah tua begini Jalan memikirnya cepat
Dulu kakek ini zaman Jepang ya Sudah menjadi
asistennya Jenderal
Jepang Pembantu, pembantu Kakek waktu itu bekas pembantu
Jenderal Jepang Bang, ayah kan kek? Iya, iya. Memang asisten tuh pembantu
sebenarnya. Tapi pembantu siapa?
Kendral Mayor.
Kamu lagi apa?
Sini.
Kamu tadi diajarin apa?
Lagu Jepang.
Lagu Jepang?
Bukannya kamu lagi belajar membaca?
Iya, Bu.
Sekarang musim apa, Bu?
Musim panas.
Sampai kapan, Bu?
Sampai kapan pun.
Tapi, mesti ada musim hujannya, Bu.
Dari mana, nak?
Dari mana-mana.
Kalian pasti dari batu-batuan itu lagi.
Tenang, Andi.
Serta kakek Tukma pasti gak mau belajar hitung-hitungan ya?
Coba, Ibu ingin tahu.
9 dikali 1, 9.
9 dikali 2, 18.
9 x 9 200 9 x 100
22 9 x 5
Kayaknya disini juga ada ukiran-ukiran.
Coba.
Seperti ukiran gunung?
Ini gambar saya.
Aduh, ayu gue.
Makasih ya bule.
Terima kasih.
Sudah sana kamu tidur dulu.
Besok ke siangan lagi.
Aku tidur di warung.
Aku boleh ikut lihat bule besok malam.
Lebih baik nggak usah, Gaya.
Tapi kan bule sebentar lagi pergi.
Dan daya belum pernah lihat bule nari.
Iya.
Tapi pasti kamu itu gak dikasih izin libu kamu kalau pergi sampai malam
-malam. Iya dong?
Emangnya gak boleh.
Aku ingin cepat-cepat buat ayah datang dan membawaku pergi.
Bule, cerita lagi tentang ayah, bule.
Kayak apa orangnya?
Dia pasti pemberani.
Kemana ya dia bertualang?
Anna! Anna!
Anna!
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima.
Masuk.
Nama kudaya, Bu.
Bukan anak.
Anak.
Masuk.
Bukan anak, Bu.
Nama kudaya.
Aku juga punya nama.
Kenapa ibu tidak pernah memanggilku dengan nama itu?
Kalau mbak begini terus, mbak akan kehilangan dia.
Mbak akan kehilangan lagi.
Seperti mbak kehilangan ibu, bapak dan saya.
Mbak akan kehilangan dia, mbak.
Mungkin.
Tapi tidak hari ini.
Bule, aku ikut Bule.
Wah, aku pergi tolong Bule.
Bu, di luar sudah makin dingin, Bu.
Tidak.
Aku sudah tidak tahu mau kemana lagi.
Seharusnya itu sudah kamu pikirkan waktu kamu pergi.
Itu dulu.
Itu sudah lama sekali.
Iya.
Dan sekarang aku sudah tidak butuh kamu lagi.
Anak, kenapa?
Satu hari nanti, ayah akan bawa kamu ke kota.
Di kota, kamu bisa melihat kehidupan yang sebenarnya.
Semuanya serba cepat.
Semuanya serba bisa.
Tapi, di sini juga enak.
Di kota itu, kamu bisa lihat macam-macam.
Bisa beli macam-macam.
Nanti kita beli baju.
Buat kamu, buat ibumu.
Kebaya merah? Apa? Kebaya merah.
Dengar ya, tapi jangan bilang itu kamu ya.
Satu hari nanti, ayah ini akan jadi orang
terkenal.
Andai kata saat itu datang, ayah akan beli semua.
Ayah akan beli semua untuk kamu.
Ayah ingin beli semua untuk ibumu.
Tapi pasti ada caranya.
Kamu lihat aja nanti.
Makanan gak akan datang sendiri.
Harus ada yang ngupas, yang motong, yang masak.
Hampir habis.
Kamu tahu, Dayang.
Ini namanya tembako semuda.
Saking istimewanya.
Kamu tahu, monyet semuda.
Makan, nih. Makan tembako, nih.
Iya. Dikunyah.
Anak, minum air.
Kaput dah mulai turun.
Mungkin cerita lagi ya.
Ya, ya, ya.
Saudara-saudara,
bahasa
Indonesia sehat lahir...
Dan batin itu sejatinya hidup.
Tapi karena saya ini sering berkelana.
Dan saya bertemu dengan orang-orang antara lain.
Teman saya super kedutaan.
Sehat walafiat lahir batin itu artinya mensana enkorporisano.
Itu masalah ilmu mas.
Jadi sehat itu mas. Itu penting.
Obat saya ini.
Dikasih anak kecil.
Tiga hari bisa baca.
Dikasih remaja.
Dua bulan minta kawin.
Dikasih bapak-bapak. Nah ini penting bu.
Ini penting buat ibu ibu.
Daya. Begitu caranya menarik perhatian orang.
Pusatkan perhatian ke satu titik.
Agus, ayah daya.
Terima kasih.
Dukma! Dukma!
Dukma, tangkatmu ketinggalan ini!
Baiklah, ini dia.
Ya sudah aman.
Ya gak usah mikirin panas kayak gini.
Gak usah mikirin kita besok makan apa.
Jalan-jalan semua ya.
Tunggu.
Kenapa? Rumah paman sempit ya?
Pindahannya kecepatan.
Eh, mau permain?
Terima kasih.
Pasiennya berbisik, Bu.
Seperti yang diketahui kita dulu.
Anak.
Anak.
Ayo, pulang.
di bawah situ ya.
Sambah sempit ya.
Situasi seperti sekarang ini banyak orang perlu uang.
Jadi mereka titipkan barang-barangnya di sini.
Kalau mereka belum bisa bayar ya, barang-barangnya tetap di sini.
Eh, mau rokokan?
Di luar saja?
Iya, iya, iya. Ini, ini.
Aku punya rokok dari Amerika.
Aku tak ngobrol-ngobrol sama anakmu dulu ya.
Iya, iya, iya.
Silahkan, silahkan.
Kamu disini aja deh ya.
Jangan malu-malu ya.
Pak Swito mau ngobrol sama kamu.
Ayah mau merokok juga.
Kelihatan kok dari sini.
Ayah kamu tuh orang pinter.
Paman pernah coba minyak gosoknya. Enak?
Enak. Ayah kamu tuh sayang sama ibu dan kamu.
Dia ingin membahagiakan kalian berdua.
Nah.
Sayang sama ayah kamu.
Ngerti kan kamu, Daya?
Banyak bantu orang.
Coba tanya sama orang sini.
Dia orang baik kan?
Di kota, rumahnya itu besar.
Ayo dong, jalannya cepat.
Tapi dia terlalu banyak ngomong.
Ngomongnya banyak memang.
Panas ya?
Panas enggak?
Itu dikeluarkan sedikit bajunya.
Nah, lebih enakan.
Kamu ingat apa kata Paman yang kemarin ya?
Mau bantu ayah kamu.
Kamu juga.
Harus nurut. Omongan paman.
Ya.
Ini.
Masukkan.
Tangan kamu ke dalam baju kamu.
Ya.
Ya.
Kamu anak baik ya.
Kamu sayang sama... Bapak kamu ya? Iya kan?
Iya?
Nah... Sekarang... Seperti apa yang Paman...
Katakan kemarin... Seperti apa
yang... Kamu lakukan kemarin... Dipegang putingnya...
Ya... Yang kiri...
Iya. Iya. Yang kiri ya.
Gosok pelan-pelan.
Iya. Gosok.
Gosok.
Iya.
Itu tangan kamu yang satu.
Taruh di atas paha.
Iya. Nah.
Lebih tinggi sedikit.
Masukkan ke dalam rok.
Iya. Nah.
baru saja melirik ke sini.
Dia ingin tahu apakah anaknya sayang atau tidak sama dia.
Ayahmu orang baik.
Segalanya hanya untuk kalian berdua.
Sekarang gosok pelan-pelan puting kamu.
Pelan. Pelan.
Tangan kamu yang satu lagi.
Masukkan ke dalam.
Iya.
Terus gosok pelan-pelan.
Iya. Gosok pelan-pelan. Masukkan lebih dalam lagi.
Terus. Terus ya.
Ya.
Pelan-pelan gosoknya.
Terima kasih.
Terima kasih.
biar hangat
Terima kasih.
Biarkan saya tetap di sini, Bu.
Biarkan saya tetap tinggal bersama Ibu.
Saya akan selalu bersama Ibu.
Pergilah, Wana.
Tidak ada lagi yang baik tertinggal di sini.
Di sini tidak ada apa-apa lagi untuk kamu, Dayah.
1, 2, 3,
4, 5,
6, 7, 8, 9,
10.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.