Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mbak?
Ayo.
Telat loh, ke lokasi.
Ini rumah kenapa enggak enak banget, ya?
Gue enggak pernah ngerasain energi segede ini.
Emang Nunu enggak ngerasain?
Enggak sih, Mbak.
Kayak rumah kosong biasa aja.
- Gue mau lihat. - Mbak, lihat.
Ini rumah ada yang punya.
Kita enggak bisa asal masuk.
Ya udah.
Nunu kontak agensinya, ya?
Oke.
Ayo, Mbak.
Mbak?
Ayo.
Nia…
Nia…
Nia.
Nia.
Kamu lagi ngapain, Sayang?
Bersih-bersih rumah sama Momo.
Habis, Mama 'kan, kemarin enggak sempet nyapu.
Soalnya Mama pulang malam.
Terus hari ini Mama mau berangkat pagi lagi, 'kan?
Tahu aja sih.
Makasih, Anak Baik.
Badan Mama hanget.
Enggak, ini cuma masuk angin biasa. Entar juga sembuh sendiri, ya?
Mama istirahat aja, ya.
Enggak usah kerja.
Masa enggak usah kerja, sih?
Tuh, bunyi apa?
Apa?
Tandanya Mama harus ker…
…ja!
Itu tahu.
- Bau asem. - Enggak.
Ayo, mandi.
- Mandi… Mandi, ayo. - Jangan, enggak mau mandi.
Ni, yuk. Nanti Mama ketinggalan kereta.
Nia, nanti HP-nya Mama ambil. Ayo.
Bentar, Ma, Momo ketinggalan.
Awas.
Hap. Udah.
- Kamu yang ketok, ya? - Oke.
Ketok, ketok…
Udah pasti. Lo lagi.
Maaf ya, Sep, Mbak harus ke kantor hari ini.
Iya.
Buat makan siangnya.
Segini doang, Mbak?
Ini Nia doang yang makan.
Nia makan, saya napas doang?
Cukup enggak?
Nah, kalau gini 'kan kita bisa makan bareng.
Makasih, Mbak.
Sama tadi Nia udah sarapan.
Jadi, makan siangnya jam…
Jam 12.
Jangan makan mie goreng.
Jangan kebanyakan makan gula.
Sama jangan jajan sembarangan.
Ya, makasih.
Sama satu lagi.
Dia baru aja dibeliin HP baru sama papanya.
Tolong dijagain, ya.
Jangan kebanyakan main HP.
Mama cepet pulang, ya.
Biar sakitnya enggak tambah parah.
Iya, Bu Dokter.
Mama udah sembuhan, kok.
- Mama duluan, ya. Dadah. - Dadah.
- Jagain ya, Sep. - Iya, Mbak.
Hati-hati.
Eh, Cil.
Lo lagi libur
bukanya main sama temen-temen lo,
malah ke rumah gue.
Kurang bergaul lo ya bocanya.
Bergaul, Kak.
Cuman enggak ada yang mau temenan aja.
Kak Septi 'kan juga enggak punya temen.
Enak aja.
Punya gue temen banyak.
Ada tujuh.
Di Purbalingga.
Udah, ayo masuk.
Kita nonton videonya Sarah.
Katanya episode baru. Serem.
Pakai HP lo tapi, ya.
Oke.
Kuota gue abis.
Tenang.
Canggih juga HP lo, Cil.
Halo.
Bu, bayaran sisanya belum masuk.
Katanya transfer hari ini.
Oh iya, Pak. Saya siang ini ada transaksi vila.
Nanti kalau bonusnya udah cair, saya langsung transfer.
Saya masih banyak kebutuhan soalnya.
Pokoknya, jangan janji lagi.
Kalau enggak dilunasin, saya enggak akan dampingi Ibu di sidang putusan.
Lo gue pecat.
Bentar, siang ini saya ada transaksi, Pak.
Transaksi yang mana?
Yang kemarin lo enggak deteng?
Pak, saya salah tanggal. Maaf ya, Pak.
- Saya kemarin soalnya… - Apa? Ngurus sidang?
Tar, Performa lo selama enam bulan ini kacau.
Enggak ada penjualan.
Gue enggak bisa pertahani lo lagi.
Maaf, Pak. Saya butuh banget pekerjaan ini.
Saya udah enggak ada simpanan. Semua habis
buat sidang perceraian.
Buat pengacara.
Tar, tugas lo jual rumah,
bukan jual kesedihan.
Pak saya 'kan, dua tahun belakangan
udah ngasilin penghasilan lumayan buat kantor ini.
Saya yakin saya bisa kerja kayak gitu lagi.
Itu kesempatan terakhir.
Pemiliknya klien baru.
Minggu lalu dia dateng ke kita.
Bertahun-tahun katanya ganti agensi,
tapi rumahnya tetep belum laku.
Ini harusnya dipegang sama agen lain.
Cuma katanya lagi pegang banyak rumah.
Ini harganya setengah harga pasar
Lokasinya strategis
Tanahnya juga luas. Ini beneran, Pak?
Ya bagus, dong.
Makin murah, makin gampang lo jualnya.
Kalau enggak laku, itu berarti keterlaluan.
Kalau lo bisa jual,
gue pertahanin lo.
Sanggup?
Sanggup, Pak.
Sejam lagi ada yang survei rumahnya.
Lo jalan sekarang.
Siap, Pak. Terima kasih ya, Pak.
- Terima kasih, ya. - Iya, Kak, mari.
Ini kamar anak satu.
Ruang tengah, dapur, kamar utama.
Permisi, Mbak. Maaf ngagetin. Tadi pintu depan kebuka.
- Jadinya aku masuk aja. - Dengan Mas Kenny, ya?
- Iya betul. Dengan Mbak Tari? - Tari yang dikirim Mas Lukman.
Oh, iya, benar. Vira. Kenalin, Vira tunangan aku.
- Halo, Vira. - Tari.
Mau muter-muter dulu dari ruang tamu mungkin?
- Iya, boleh. Yuk. - Boleh.
Ini untuk listrik sama airnya masih dirawat sama pemiliknya.
Tapi karena bangunan tua, memang harus dicat ulang.
Sori, Kak, aku rencana juga bakal renovasi total.
- Renov total? - Iya, bener.
Pas sih, soalnya tanahnya luas, lokasi juga strategis, enggak macet.
Sekitar 10 menit ke mal, pintu tol, rumah sakit juga ada.
Iya.
Ke ruang tengah sebelah sini. Ini ruang tengahnya.
Oh ya, Mas nanti bisa dapat
perabotannya, jadi cocok banget kalau Mas suka perabotan vintage.
Iya, pas banget.
Kita ke kamar tidur utama. Sebelah sini.
Sori, aku boleh lihat halaman belakang dulu?
- Oh ya, boleh. - Ya?
- Beb, aku di sini, ya. - Nanti kamu nyusul, ya?
- Sebelah sini halaman belakangnya. - Iya.
Kalau boleh tahu,
mau direnov jadi apa halaman belakangnya?
Aku rencananya buat tempat mengonten tunangan aku.
Jadi, ini kondisi sebelumnya rumah yang aku sama Kenny mau beli.
Ini, ada kamar, Teman-Teman.
Oke, kayaknya kamar anak.
Kayaknya masih banyak yang harus dibenerin.
Itu.
Di situ ada kamar kedua. Kayaknya buat kamar utama, ya.
Baunya masih lumayan pengap.
Tapi enggak apa-apa, harganya murah banget soalnya.
Kenny sama aku juga udah kepikiran mau direnov kayak gimana.
Pasti cakep hasilnya. Lihat, ada meja rias.
Bagus banget.
Kalau sudut ngonten kayak gini…
Ini ya, judulnya tutorial cara menjadi istri
orang yang baik dan benar.
Ken, bentar dong, masih rias.
Apa ini?
Lili!
Jadi, gimana, Mas? Jadi ambil enggak?
Gimana, ya? Kurangin sedikit, Mbak. Saya beli sekarang.
Ayolah, Mbak.
Vira!
Vira!
- Vira, kamu kenapa? - Ken.
- Vira, kenapa? - Ayo masuk, cepatan.
- Kenapa? - Rumahnya serem banget.
Mas!
Tapi tadi hampir kejual, Pak.
Hampir, 'kan?
Berarti enggak jadi beli, dong?
Lo itu udah gue bantuin, masih aja enggak bisa.
Satu minggu.
Lo cuma punya waktu satu minggu
buat bikin rumah kosong itu punya penghuni lagi.
Oke?
Ma, makan malam, yuk.
Ma…
Iya. Nanti Mama masakin, ya.
Sekarang Mama bobo dulu, boleh?
Aku bikinin teh hangat, ya.
Mama!
Mama!
- Nia? Nia! - Mama.
Mama.
Nia!
Ayo, Nak. Ayo, Sayang. Ayo.
Tolong!
Tolong! Kebakaran!
- Tolong! Tolong, kebakaran! - Kebakaran!
Tolong!
- Kebakaran! - Ambil air.
- Ayo! - Sebelah situ, Pak!
- Air! - Awas!
- Air! - Kamu enggak apa-apa?
Ada yang luka enggak?
Ayo, air!
Sebelah situ!
Kamu ngapain?
Kamu jatuh?
Cepat!
Kamu enggak apa-apa, 'kan?
Asap dari mana ini?
Itu!
Saya lupa matiin kompor tadi.
Yah, teledor banget, sih.
Entar kalau nyebar ke rusun kita gimana?
Pada ngosong kita.
Udah padam.
Gimana sih, lo, Tar?
Lo mau buat kita semua jadi gembel?
- Iya? - Gimana sih, Tari?
Kalau yang sewa tempat saya bikin masalah,
saya juga bisa kena amuk.
Mendingan kamu pergi aja, deh.
Cabut lo!
Pergi dari sini.
Saya 'kan, udah bayar tiga bulan ke depan,
saya minta duit saya balik, ya?
Duit kamu buat betulin kamarku yang hangus.
Lunas kita!
Besok pagi kamu pergi.
Pak.
Aku yang salah.
Aku yang bikin apinya ke mana-mana.
Bukan Mama.
Enggak, saya bukan salah kamu, ya.
Iya, Cil. Bukan salah lo.
Mama lo yang salah.
Teledor banget jadi orang tua.
Bego banget sih, lo, Tar.
Udah, bubar!
Maaf, ya.
Gimana, sih?
Dasar.
Kamu beneran enggak apa-apa?
Maafin Mama, ya.
Kamu enggak apa-apa? Bener? Enggak ada yang luka?
Mama.
Maaf, Ma.
Enggak apa-apa. Bukan salah kamu.
Terus kita sekarang gimana?
- Makasih, ya. - Iya, makasih, Mbak.
Tunggu sebentar, ya.
Yuk, masuk.
Ma, ini rumah siapa?
Jadi, Mama diminta sama kantor buat jual rumah ini.
Nanti kalau rumahnya udah kejual, Mama bisa dapat uang,
terus kita bisa tinggal di rumah sendiri, deh.
Tapi, untuk sementara waktu, kita tinggal di sini dulu, ya.
Enggak apa-apa, 'kan?
Kalau gitu, aku boleh bantu Mama juga, ya.
Beneran?
Makasih. Yuk.
Aku mau lihat dalamnya.
Ruang tengahnya gede. Lihat, deh.
Ma, aku lanjut sapuin dapurnya, ya, Ma.
Iya, Sayang.
Nia.
Tolong cariin kantong plastik dong, di dapur.
Mama pengen buang sampah.
Nia.
"Tante!"
"Tante!"
"Tante!"
Halo, Nia.
Mama, ini telepon-teleponan, ya?
Halo, Mama.
Sini, Mama punya kejutan.
Kejutan apa?
Sini.
Kamu sih,
main HP melulu.
Tadi Mama bilang,
kejutan apa?
Sini, ikut Mama.
- Sebentar, ya. - Asyik.
Masuk pelan-pelan.
Pelan-pelan. Maju.
Stop.
Tara!
Kamar kamu sendiri.
Kamu 'kan pernah bilang,
kalau kita punya rumah yang gede,
kamu pengen kamar sendiri.
Mumpung kita di sini,
ini bisa jadi kamar kamu.
Gimana?
Mau enggak?
Enggak deh, Ma.
Aku mau tidur sama Mama dulu aja.
Yakin?
Iya.
Doaku sekarang,
biar bisa sama Mama terus.
Aduh, ini siapa sih,
yang ngajarin? Manis banget.
Ya udah.
Tapi kamarnya tetap diberesin, ya.
Mau bantuin? Yuk.
Keluarin dulu, deh.
Mau dibawa ke mana?
Mau dikeluarin, biar nyapunya enak.
Aku aja yang bawa,
enggak apa-apa.
Beneran?
Kamu bisa?
Ya udah.
Makasih, ya.
Hati-hati.
Kamu duduk di sini dulu, ya.
Sambil nunggu.
Sampai ada daun-daunnya.
Kita bersihin dulu.
Nah, habis itu,
belakangnya.
Kotor-kotor banget.
Ini juga.
Sini juga.
Sedikit lagi mau selesai, lho.
Biar kita bisa duduk.
Nah, selesai, deh.
Terus kita duduk.
Seru banget ya, Momo.
Iya.
Tidur dulu, ya, Momo.
Capek.
Abis itu, bobok siang lagi, ya.
Abis itu, mandi, deh.
Abis itu, aku sisirin,
pake parfum.
Abis itu, makan.
Abis itu, dibersihin dulu mukanya,
biar bersih.
Abis itu, bobok, deh.
Cantik banget, sih.
Lili…
Kamu siapa?
Nama aku Nia.
Aku Lila.
Wah!
Ayo lebih kenceng lagi.
Seru banget.
Yang mana?
Ini minumnya.
Kayaknya gue enggak gitu.
Lisa?
Ngobrol ke dalam bentar, yuk.
Teman-Teman.
- Bentar, ya. - Oh, iya.
Lo tuh lagi kenapa sih, Lis?
Lo masih sedih…
soal Nyokap, ya?
Makasih, Sar.
Udah hampir setahun Nyokap pergi, Sar.
Tapi gue belum bisa lupa.
Lo enggak bisa larut dalam kesedihan terus, Lis.
Gimana, ya?
Susah, Sar.
Susah banget.
Bahkan kadang
gue ngerasa kayak
gue bisa lihat nyokap gue, Sar.
Dan gue enggak bisa cerita ke orang-orang
karena gue enggak mau mereka khawatir.
Gue jadi enggak fokus
dan hidup gue berantakan, Sar.
Gue boleh bantu lo?
Bantu gimana?
Lo percaya 'kan, sama gue?
Lisa sayang, Ibu enggak bisa pergi dengan tenang,
kalau kamu kaya gini terus.
Ibu.
Ikhlasin Ibu ya, Lisa.
Ibu.
Maafin Lisa.
Maafin Lisa.
Lisa nyesal, Bu.
Di saat-saat terakhir Ibu,
Lisa cuman sibuk sama kerjaan Lisa aja.
Ikhlas, Nak.
Ikhlas.
Lisa, ikhlas, Bu.
Makasih, ya, Sar.
Terus gimana
gue bisa bales kebaikan lo ini, Sar?
Enggak usah.
Ingat memori baik tentang Nyokap.
Kirim doa.
Iya.
- Dah. - Makasih ya, Sar.
- Dah. - Hati-hati, ya.
- Dadah. - Dah.
Dah.
- Halo. - Halo.
Wisnu.
Rumah yang waktu itu gimana, ya?
Nomor yang ada di pagar itu ternyata nomor agensi lama, Mbak.
Mereka udah enggak ngurus lagi.
Tapi tenang aja,
ini sambil cari nomor agensi barunya.
Emang Mbak sepenasaran itu, ya?
Mbak cuma khawatir, Nu.
Kalau ada orang yang nempatin rumah itu,
energi jahat di sana bisa bikin mereka celaka.
Keberatan, Yang Mulia.
Silakan.
Terima kasih, Yang Mulia.
Dari hasil laporan yang kami terima,
penghasilan tergugat itu tidak stabil, Yang Mulia.
Gaji pokoknya juga kecil.
Jumlahnya juga tidak menentu, Yang Mulia.
Tergugat juga sering meninggalkan
anak yang harus dijaga
untuk pergi ke kantor, Yang Mulia.
Izin, Yang Mulia.
Enggak sering.
Lagi pula, saya sering titip ke orang yang saya percaya…
Lalu, info dari RT setempat, Yang Mulia.
Dari rumah tinggal rusun yang ditinggali oleh tergugat,
itu banyak bekas narapidana yang tinggal di situ, Yang Mulia.
Apakah tergugat bisa menghadirkan bukti-bukti
yang dipertanyakan oleh penggugat tadi?
Waktunya satu minggu.
Lalu pembacaan keputusan.
Sanggup? Bisa?
Sanggup.
Sanggup, Yang Mulia.
Ibu tahu 'kan, risikonya kalau enggak ada kuasa hukum?
Bayar saya satu hari sebelum sidang.
Kalau enggak, saya akan mundur.
Lo udah gue bantuin, masih aja enggak bisa.
Satu minggu. Lo cuma punya waktu satu minggu
buat bikin rumah kosong itu punya penghuni lagi.
- Mama! - Ya?
Mama!
- Sejak penggugat dan tergugat… - Dan sampai sekarang…
- …kamu tidak menerima… - …tiga bulan lalu…
- …tergugat pernah… - Ini jelas-jelas
- lingkungan yang tidak aman. - …marah
- Tabungan… - Dan tidak ada…
- Terima kasih. - Begitu pula
kebutuhan harian
sampai tempat tinggal…
Mama kenapa?
Enggak apa-apa.
Tidur, yuk
Yuk, bobo.
Satu, dua, tiga.
PENJAHIT RAHMA
Pak, ini nanti sekalian ditata, ya.
Ini sama itu nanti kumpulin dulu aja, Mas.
Baik, Pak.
Ini nanti kalau kamu enggak suka warnanya, kamu mau ganti, terserah.
Kenapa?
'Kan kamu mau jadi penjahit.
Atau kamu mau apa lagi? Bilang.
Aku mau…
Nikah!
Aku enggak punya siapa-siapa lagi.
Aku cuma punya kamu.
Bukan rumah ini yang aku mau.
Aku mau kamu
dan yang ada di sini
jadi rumah buat aku.
Udah berapa lama?
Sebulan.
Kamu cinta 'kan, sama aku?
- Cinta. - Lalu apa yang ditunggu?
Pak, berhenti di sini aja.
Pak, beli krupuk, dong.
Oh ya, boleh, Mbak. Yang mana?
- Yang mana, ya? Iya, itu aja. - Ini?
- Makasih. - Makasih.
Permisi, Pak.
- Oh iya, Mbak. - Numpang tanya.
Iya, boleh.
Kalau alamat Jalan Astri Nomor 9.
Rumahnya Pak Bimo.
Oh.
Mbaknya tinggal belok ke kanan,
nanti rumah paling pojok.
Belok kanan, rumah paling pojok.
- Makasih. - Iya. Hati-hati, Mbak.
Pak.
Iya.
Bapak.
Tas kamu ketinggalan lagi.
Makasih ya, Bu.
- Iya. - Kebiasaan.
Aku langsung jalan, ya.
Masih ya bu.
- Udah siap? - Udah.
Kinan.
- Kinan. - Bapak.
Sini, Sayang.
- Bapak berangkat dulu, ya. - Iya.
Yang pinter sama Ibu.
Aduh.
- Makin berat kamu. - Aku langsung berangkat.
- Hati-hati ya, Pak. - Dah.
- Dadah. - Dadah, Bapak.
Dadah.
Mama!
Mama kenapa?
Mama juga enggak tahu.
Jangan, jangan.
Biar Mama beresin dulu, ya.
Di sini aja.
Halo, Sayang. Nia lagi ngapain?
Lagi main aja, Pa.
Oh, lagi main anak Papa?
'Kan nanti aku pindah sekolah, Pa.
Pindah sekolah?
Coba kasih HP-nya ke Mama.
Ma!
Papa mau ngomong!
Makasih, ya.
Ya, kenapa?
Nia mau pindah sekolah? Kenapa?
Biar lebih murah?
Kalau lo enggak gengsi nerima uang bulanan dari gue buat Nia,
pasti Nia masih bisa sekolah di tempat lama.
Gue ibunya, ya.
Gue yang ngerti kebutuhan dia kayak gimana.
Lagian selama ini yang fokus ngurusin dia 'kan gue, bukan lo.
Fokus apaan?
Mana bukti asuransi kesehatan sama bukti
asuransi tabungan pendidikan yang diminta pengadilan?
Mana?
Ya enggak semuanya tentang duit, ya.
Lagian, siapa yang namenin Nia selama ini?
Yang tidurin dia setiap malem?
Yang ngurusin dia pas dia sakit?
Gue, 'kan? Bukan lo.
Maksud lo, gue enggak ada buat Nia?
Emang kayak gitu kenyataannya.
Lo sibuk sama selingkuhan lo.
Enggak pernah ngurusin Nia.
Giliran udah pisah aja
baru ingat soal hak asuh Nia.
Tar.
Gue kenal banget lo.
Gue yakin lo enggak bisa jadi ibu yang baik.
Hai, Nia.
Namaku Momo.
Hai, Momo.
Namaku Nia.
Salam kenal, ya.
"Terima kasih sudah menonton."
Dibalas sama Kak Sara, Mo.
Yey!
Lili, kamu di mana?
Lili?
Lili, kamu di mana?
Lili?
Lila, kamu kenapa nangis?
Aku biasanya kalau lagi sedih, meluk Momo.
- Lili. - Lili itu siapa?
Kenapa masih diam?
Kita ke kamar aja, yuk. Di sini banyak debunya.
Cari siapa, ya, Pak?
Jadi, kalian itu kembar?
Besok kita cari lagi, deh.
Pasti ketemu kok dia sembunyi di mana.
Nia?
Kamu ngomong sama siapa?
Aku mau tidur di sini, Ma.
Boleh, enggak?
Tidur sendirian?
Enggak.
'Kan sama Momo juga.
Kemarin 'kan, Mama juga yang nyaranin.
Kamu kemarin enggak mau tidur sendirian.
Sekarang tiba-tiba mau.
Aku kangen
rasain punya kamar sendiri lagi kayak dulu
pas kita masih tinggal sama Papa.
Beneran berani tidur sendiri?
Ya udah, Mama ambil seprai, ya.
Kalau ada apa-apa, teriak, ya.
- Oke. - Oke. Sebentar.
Kamu kenapa, Nia?
Aku tahu kamu apa.
Terus, kamu enggak takut sama aku?
Ka Sara bilang di video, kalau enggak semua hantu jahat.
Ada juga yang baik.
Kamu yang mana?
Enggak mungkin dong aku jahatin teman aku sendiri.
Aku cuma mau kamu bantuin aku cari Lili.
Lili, Cepat sembuh ya, Nak.
Makan dulu, ya.
Angkat kepalanya.
Enggak mau.
Kalau kamu enggak makan, gimana panas kamu bisa turun?
Kasian Lila udah pengen main sama kamu.
Sedikit aja, ya?
Enggak mau.
Ya udah, kalau gitu, langsung minum obat aja, ya.
Bu, ada telepon.
Halo?
Halo Mbak, ini saya Bu Tati. Gimana jahitannya?
Oh, iya, Bu.
Jahitannya sudah selesai.
Nanti biar saya yang antar sekalian saya mau ke apotek.
Ya sudah, kalau gitu, saya tunggu, ya.
Iya, baik, Bu.
Terima kasih.
Lila!
Kenapa dirusak?
Ibu dapetin uang dari bikin baju ini!
Kamu tuh bikin masalah terus!
Tiap hari beban Ibu bertambah, tahu enggak?
Maaf, Bu.
Ibu capek, Lila!
Ibu begadang harus bikin baju ini!
Ibu begadang harus jagain Lili!
Halo, sama siapa?
Li… Li…
Lili!
Lili…
Ibu, obatnya Lili belum dibeli, ya?
Muntahnya Lili makin banyak.
Bu.
Ibu kapan beli obatnya?
Ibu.
Uangnya belum cukup.
Permisi.
Permisi.
Ya, Bu. Apa ada yang tertinggal?
Saya tadi udah cek.
Masa banyak benang jahitannya yang enggak rapi?
Nih, lihat!
- Ini bisa saya perbaiki seberapa… - Enggak usah!
Saya mau duit saya itu dibalikin.
- Sebentar aja, Bu. - Udah, cepetan! Balikin!
Lama banget, sih.
Cepetan!
Udah, cepetan!
Jadi penjahit itu yang bener.
Jangan ngecewain pelanggan!
Ibu, Lili muntah lagi, Bu.
Ibu, ini gimana?
Lili, kamu enggak apa-apa, 'kan?
Ibu. Bu.
Ini gimana, Bu?
Lili, mana yang sakit?
Enggak apa-apa.
Ibu! Bu.
Tolong, Lili muntah lagi, Bu.
Ibu!
Ibu…
Ibu… Jangan gini, Bu.
Ibu… Jangan gini.
Ibu.
Ibu! Ibu, sakit…
- Lila… - Ibu, sakit!
Ibu, sakit! Ibu!
Sakit, Bu!
- Lila… - Ibu, sakit!
Ibu!
Ibu!
Ibu, sakit!
Ibu, sakit!
Ibu!
Ibu!
Kamu
sama adik kamu
cuma bawa masalah!
Cuma bawa penyakit!
Kalian berdua harusnya enggak pernah lahir!
- Ibu… - Aku
harusnya enggak pernah jadi ibu kalian!
Enggak pernah!
Enggak pernah!
Aku minta kamu tidur sendiri karena Mama kamu ada yang gangguin.
Ayo, bantu aku tolongin Mama.
Nia, jangan.
Mama…
Mama…
Mama, bangun.
Mama… Bangun! Mama!
Mama, bangun! Mama!
"Kak Sara,
ini Mama
aku kenapa, ya?
Apa digangguin hantu?"
Halo, Pak.
Lo itu gue suruh jual rumahnya, bukan buat ditinggalin.
Pak, saya…
Enggak usah ngeles.
Pemiliknya ngelapor sama gue.
Lo itu udah ngelanggar aturan kantor.
Gue enggak mau tahu, lo mesti cabut sekarang.
Pak, di rumah ini ada kejadian bunuh diri, ya?
Dari kemarin saya mimpi.
Mau ada bunuh diri,
gantung diri atau apa pun,
itu bukan urusan kita.
Mal-mal, perumahan di Jakarta juga banyak bekas tanah kuburan.
Yang lo harus pikirin itu gimana bikin rumah itu laku.
Enggak, tapi, Pak…
Gue enggak mau tahu, lo cabut sekarang.
Pemiliknya sebentar lagi mau datang ambil kunci.
Lo jangan tanya macem-macem. Jangan bikin malu.
Pak, Halo. Pak.
Ma.
Nia, bentar, ya.
Ma.
Bentar, Nia. Mama lagi pusing.
- Iya, tapi, Ma… - Nia!
Ada tamu, Ma.
Siapa, sih?
Bapak yang kemarin ke sini, ya?
Iya.
Saya Bimo.
Pemilik rumah ini.
Pak, saya minta maaf, ya.
Saya enggak izin numpang di sini.
Tapi saya enggak macem-macem.
Rumah Bapak saya beresin,
bersihin, biar cepet kejual.
Barang-barang Bapak juga masih lengkap.
- Silakan kalau mau dicek, Pak. - Enggak.
Saya buru-buru.
Saya ke sini cuma mau ambil kunci.
Sudah siap pergi sekarang, 'kan?
Tapi siang ini saya ada janji sama calon pembeli.
Saya yakin rumahnya akan kejual, Pak.
Tolong kasih saya satu hari lagi, ya.
Begitu beres, saya langsung pergi dari sini.
Tapi waktumu cuma sehari.
Nanti malam saya ke sini lagi untuk ambil kunci.
Siap, Pak. Terima kasih, ya.
Udah, enggak apa-apa. Biar saya aja, Pak.
Enggak, ini cuma…
Lili!
Lili!
Lili!
Lili!
- Lili! - Lili!
- Lili! - Lili!
Lili!
Lili, kamu di mana? Lili!
Nia! Mama 'kan bilang, kalau main di halaman belakang aja.
Maaf, Ma.
Mama mau ada tamu. Udah, ke belakang.
- Selamat siang, Pak. Saya Tari. - Siang.
- Johan. - Selamat datang.
Makasih.
Habis dari mana, Pak?
- Dari kantor. - Dari kantor.
Iya. Ya, jadi ini rumahnya untuk investasi oke banget.
Soalnya sekitaran sini rumahnya udah tiga kali lipat, harganya naik.
Sama untuk listrik dan air masih dirawat sama pemiliknya.
Dan kalau beli rumah ini, dapat perabotan vintage juga.
- Wah, ini termasuk? - Iya, termasuk.
Ini ruang tamu. Ini langsung aja ke ruang tengah.
Ini berantakan banget, Mbak.
Mbak enggak hargain saya, ya?
Maaf, Pak, ini saya bisa beresin langsung, kok.
Sebentar aja, saya langsung rapiin, ya?
Niat jualan enggak, Mbak?
Pak, ini sebentar, kok. Bisa langsung saya bersihin.
Pak?
Pak.
Pak!
Nia!
Nia, Mama udah bilang, kalau main di halaman belakang!
Nia!
Mama kenapa?
Kamu beresin bareng-bareng kamu.
Kita pergi sekarang, ya?
Ayo. Ayo, Sayang.
Jadi, gimana, Pak?
Waduh, Mas.
Maaf, nanti agen-agen saya jadi susah jual rumahnya.
Apalagi, buat konten horror.
Enggak, Pak.
Ini bukan buat konten.
Jadi, Mbak saya itu cuma pengen lihat rumahnya aja sebentar.
- Maaf ya, Mas. - Halo.
Nu, lihat, deh.
Ini rumah yang waktu itu.
Kondisi sebelum rumah yang aku sama Kenny mau beli.
Ini lagi proses.
- Agak PR agensinya. - Enggak.
Lihat deh, yang ini juga.
Mama, bangun.
Ini rumah yang sama.
Mama! Mama, bangun!
Mama!
Iya, saya sama anak saya mau langsung pindahan malam ini.
Tapi di Kosan Jingga uang mukanya bisa akhir bulan enggak?
Iya, tapi Kos Saraya bisa bayar uang mukanya akhir bulan enggak?
Pasti saya bayar, kok.
Iya, maaf, Pak.
Tapi malam ini saya sama anak saya butuh tempat tinggal.
Mbak, ini kosan,
bukan penabungan Tuna Wisma.
Cari yang lain aja.
Ma.
Kita minta tolong Papa aja gimana?
Apa?
Minta tolong Papa?
Iya.
Kamu mau pisah sama Mama?
Enggak kok, Ma.
Kamu sekarang lebih pilih papa ketimbang Mama, iya?
Terus ngapain ide kayak gitu?
Sini HP-nya!
- Jangan, Ma. - Sini!
Jangan.
- Sini HP-nya. - Jangan.
Sini.
Mama!
Jangan Nia!
Mama?
Semua gara-gara kamu, kamu cuma bawa masalah ke hidupku.
Penyakit. Harusnya kamu enggak pernah lahir.
Aku harusnya enggak jadi ibu kamu.
Aku harusnya enggak pernah jadi ibu kamu.
Nia…
Nia….
Nia…
Nia…
Nia…
Nia…
- Jangan, Ma! - Nia…
Mama!
- Mama! - Nia…
- Mama! Jangan… - Nia…
Mama!
- Mama! - Kasih cium Mama.
Mama!
Tari!
Tari!
Rahma…
Aku…
minta maaf.
Aku…
Minta maaf…
Aku…
meninggalkanmu.
Pengecut.
Belakang.
Malam.
Iya?
Katanya rumah ini di jual, ya?
Enggak.
Boleh saya lihat?
Rumahnya enggak dijual.
Silakan pergi.
Awas, Mbak!
Mbak, pergi!
Ambil tali, Mbak.
Di mana talinya?
Kak Sara.
Keluar!
Ini, Mbak.
Yang ngerasukin ibunya Nia.
Sama ini.
Arwah anak kecil itu.
Itu Lila.
Teman aku.
Lila?
Aku Sarah,
temannya Nia.
Bantu Nia sama ibunya, ya.
Bisa kasih lihat yang kamu tahu?
Lila masih takut.
Mbak mau bicara sama dia.
Mbak…
Udah, Mbak. Lepas.
Lepas, Mbak.
Lepas!
Mbak.
Mbak…
Ada yang menghalangi.
Energi jahat.
Ini bukan arwah manusia.
Bantu aku.
Jangan, Bu!
Kamu
sama adik kamu
cuma bawa masalah!
Ibu! Berhenti!
Ibu! Berhenti!
Lila!
Lila!
Temuin aku sama Ibu…
Aku mau kamu
dan yang ada di sini
jadi rumah buat aku.
Ibu!
Ibu!
Ibu…
Ibu!
Mbak!
Mama!
Mbak, udah!
- Mbak! - Mama!
Mbak, udah!
- Mama! - Mbak!
- Mbak, udah! - Mama!
Mbak!
Mama, balik, Ma.
Udah, Mbak!
Ibu!
Ibu, aku udah maafin Ibu!
Aku udah maafin Ibu!
Ibu, sakit!
Ibu!
Lila udah tidur.
Sekarang giliran kamu.
Aku pengen kita sama-sama lagi, Bu.
Mbak?
Mama?
Nia…
Mbak.
Mbak?
Lila.
Anak Ibu.
Lila!
Lila?
Lili?
Sini, aku kangen!
Lili?
Sini.
Ibu, ayo kita ke Lili.
Ibu enggak bisa, Nak.
Enggak, Ibu harus ikut.
Ibu enggak bisa.
Udah, dengerin kata-kata Ibu.
Lila aja yang pergi.
Jagain Lili buat Ibu.
Dari dulu, Lila yang bisa jagain Lili.
Ya?
Ibu minta maaf.
Waktu Ibu masih hidup,
Ibu enggak bisa jagain kamu.
Jagain Lili buat Ibu, ya.
Ibu.
Ibu.
Nia?
Nia?
Aku pergi ke Lili dulu, ya.
Makasih, Nia.
Bahagia di sana, ya,
sama Lili.
Dadah, Nia.
Lila!
Sini, aku kangen.
Sini.
Lila.
Lili.
Mbak.
Minum.
Tari.
Diminum, Mbak.
Makasih, Nu.
Tadi Lila ke mana?
Ke Cahaya.
Dia selama ini ngira Lili masih ada di rumah ini.
Rasa penasarannya yang bikin dia terus cari Lili.
Kamu enggak apa-apa?
Mbak.
Kenapa dia masih di sini?
Bunuh diri, Nu.
Makanya dia masih terikat di sini.
Selama ini, dia enggak pernah bisa melihat anak-anaknya.
Kasihan ya, Mbak.
Kita doain aja.
Sekarang yang penting
- Tari sama Nia udah enggak apa-apa. - Iya.
Makasih, ya.
Maaf, ya.
Maaf ya, Mama belum sempurna.
Nanti Nia juga bakal ngerti, kok.
Kasih Mama waktu, ya.
Buat kamu…
Masa depan kamu.
- Gimana, Pak, Bu, jadi ambil? - Ambil dong.
Beneran?
- Iya, kita ambil. - Beneran?
- Terima kasih banyak. - Makasih.
- Terima kasih. Saya doain… - Sama-sama.
Makasih ya, Pak. Hati-hati.
Arwah yang tersesat seperti Rahma,
yang larut dalam dendamnya bisa dikuasai energi jahat, Nu.
Memengaruhi orang-orang seperti Tari untuk melakukan hal buruk yang sama.
Minta tolong Papa? Sini HP-nya!
Sini!
- Ibu! - Mau pisah sama Mama?
Ibu begadang harus bikin baju ini!
Ibu begadang harus jagain Lili! Ibu capek, Lila!
Mama!
Bawa masalah.
Aku harusnya enggak pernah jadi ibu kalian.
Tujuannya buat apa ya Mbak?
Mengambil jiwanya.
Mbak, energi jahat itu 'kan, bukan arwah manusia, ya?
Itu apa, ya?
Entitas lain.
Maksud Mbak?
Iblis.
Gambar yang kemarin udah jadi, Nu?
Udah, Mbak, sesuai deskripsi.
Mau lihat dong.
Yuk, Nu.
Yuk, jalan.
Yuk, biar enggak kepagian pulangnya.
- Udah, entar aja. - Oke.
- Masih lurus di depan, ya? - Di depan.
- Emang udah pada nyampe? - Udah dari tadi, Mbak.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.