Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Terima kasih.
Dapat berapa, Dik?
Ya, lumayan, Mas.
Dik,
ini
untuk kamu jajan.
Dik sih.
Dik.
Kamu masuk angin?
Enggak, Mas.
Lah terus masuk apa?
Tak kerau iyo.
Nanti.
Kamu hamil?
Sudah tiga bulan, Mas.
Tiga bulan?
Aku jadi bapak?
Kayu jati dikawir lincah.
Jambu klutuh dikawir rujak.
Olah ropane jati bakba.
Diparingi kusti.
Ngomongan anak.
Aku jadi bapak nih. Pak, Pak. Aku jadi bapak, Pak.
Aku jadi bapak.
Aku jadi bapak. Aku jadi bapak. Aku jadi bapak. Aku jadi bapak.
Dixie, sebaiknya itu kamu pulang kampung duluan.
Lagi pula kan lahiran di kampung lebih murah.
Mas Darso?
Ya aku di sini, ngamen. Kumpulin duit. Nih, sama ini.
Aku gak mau kalau pisah sama kamu.
Yaudah, kita pulang sama-sama.
Kamu nggak boleh kecapean.
Mas, jangan,
Mas. Nanti jatuh, Mas.
Mas,
jangan, Mas. Nanti jatuh, Mas.
hehehe malam-malam gendong-gendongan
Jangan! Jangan!
Balik, no!
Balik, no!
Terima kasih.
Tolong istri saya!
Tolong! Hei!
Hei! Hei!
Hei!
Kepalikan istri saya!
Lepaskan! Kepalikan istri saya!
Terima kasih.
Cak Daso.
Cak, Cak, Cak.
Cak Daso kan?
Ya, apa kabarnya, Cak?
Hai.
Lupa ya sama saya.
Saya ingat kok.
Jamil? Iya.
Mana Yudharsi?
Lagi jenguk saudaranya sakit.
Kamu hebat.
Sekarang udah jadi...
Mbak Binca, jangan lupa ngapa bilang sama aku ya.
Darso!
Darso!
Masih kismin. So, kalau kamu masih kismin, melu karnaval, ya?
Wis, ini loh, ini karnaval. Jangan, Mas. Mas,
alon-alon, Mas. Kamu ikut karnaval, kamu nanti dapat saweran, banyak duit. Beli
sabun sama sampo, mandi, bau muntuh kayak...
Masih aja mereka ngelola perusahaan.
Pak, tapi kita gak bisa datang begini dan menghentikan upacara adat mereka,
Pak. Kenapa enggak?
Lahan udah kita beli kok.
Mereka tuh gak punya hak atas semua hasil panen. Tapi kita juga harus
melihat kalau warga sudah bekerja sendiri. Ingat ya, lo tuh disini untuk
ngejalanin perintah perusahaan. Bukan ngajarin gue.
Petani sudah mengelola lahan mereka sebelum kita beli, Pak.
Dan kita masih membutuhkan mereka untuk mengelola lahan ke depannya.
Rick,
berhenti tuh upacara konyol.
Saya juga bertanggung jawab untuk menjaga perusahaan agar tidak melanggar
hukum.
Perintah dari PT AN.
Apa-apaan ini?
Semua kegiatan pada ini harus ditinggalkan. Kamu antek pengusaha.
Semua tenang dulu, tenang dulu. Tidak tahu kenapa saya.
Bu, kenapa bisa jadi begini?
Datang ke desa kami.
Dan berani mengganggu upacara sakral kami. Ini perintah perusahaan. Siapa
berani melawan itu berarti menantang kami. Siapa suruh berhenti?
Tabuhan, main.
Jangan ada yang maju.
Kalau kalian maju, akan ada yang jadi korban. Benar!
Kurang ajar.
Berani menentangku berarti berani menghadapi maut.
Jadi bersiaplah kalian menerima akibat dari perbuatanmu.
Tenang, tenang, tenang.
Inilah perusahaan. Kami berhak melindunginya.
Kau ibut, lebur, lebur, tampo dati.
Terima kasih.
Sekuat!
hai hai hai hai hai
Gak ada jalan lain?
Gak ada, Bos.
Ini satu-satunya jalan keluar masuk desa.
Hari ini di mana?
Terima kasih, Pak.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya dari perwakilan PT Argun Nusantara
yakin bahwa perusahaan tidak akan pernah membeli lahan kebun.
tanpa memperhatikan nasib para petani.
Terus, kenapa melarang kami memanen tebu?
Itu kerja keras kami. Apakah kalian bertingkat memaksa upacara mantan tebu?
Dasar nggak tahu ajat. Mbak, gara-gara perusahaan sampean, akses keluar masuk
desa kami terputus, mbak. Benar. Pak Kades, Brono, kemarin itu, ya, kita mau
jadi tos sama muridnya. Oh, sampe ini apa? Pak Kades, apa iso?
Perusahaan beli lahan kebun kita dari pemerintah.
Bisa. Bisa.
Bisa. Karena lahan yang dibeli itu adalah...
Sebentar,
sebentar, sebentar.
Di mana Sukmo yang kemarin nusuk ke Kamboja?
Sementara sudah kami amankan.
Kemarin sudah ditanya-tanya, tapi dia nggak ingat apa-apa.
Mungkin masih dalam pengaruh mantra ke Kamboja.
Menurutku, nggak mungkin murid nyakiti gurunya.
Tidak peduli dia sedang jadi atau kesurupan.
Bencana alam kemarin adalah kutukan yang dilepas oleh Kikamboja.
Entah apa yang sudah dibangkitkan oleh Kikamboja.
Tunggu-tunggu.
Jadi bagaimana dengan hasil tanen-tanam tebu kita, Mas Emil? Boyo sama batu,
Mas? Iya, Mas. Di batu pokok. Saya akan mencari tahu kan yang sebenarnya.
Dan bagaimana... Kalau bagaimana?
Mau diantam dan dipukuli lagi?
Bapak bisa lihat saya datang sendiri kan hari ini?
Tolong berikan saya kesempatan.
Pak Ades, kenapa di maja?
Gimana ini, Pak?
Pak Ades itu lho.
Mangan! Cok air!
Kosok lah, usah cocok. Ayo ngomong!
Cok! Garcok!
Eh!
Iya, Cak.
Kamu tuh mau ke mana, ya?
Yang ramai tuh di Balai Desa. Kamu ngamen di sana.
Tadi baru dari sana.
Takut ganggu, ya. Aku ganggu.
Ya terus ini mau ke mana?
Mau ke Warung Mulek Badrun.
Tantriin. Udah gak usah, Cak.
Gak apa-apa.
Kamu itu sudah kismin.
Jangan sombong. Hei,
itu baju badut.
Bisa dilepas dulu enggak?
repot ya cak eh sok kamu
udah aku anteriin ya gak gratis ini ya cak
nanti kamu tuh mesti bantuin aku cari uang bayar
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.
Iya, Pak.
Ada apa?
Ada warga yang menemukan Abdul, Pak.
Abdul mati?
Layarnya patah.
So, kau sudah menangis.
Ngomong apa kau?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masuk gailing belas. Jok gulion, so.
Betul, Pak.
Saya... Eh.
Betul, Pak.
Saya itu cuma inget.
Saya diajak bonceng.
Di situ ya, saya tiduran.
Kalau dari jejak ban motor, motornya oleng sebelum nabrak pohon.
Abdul bohonya kenceng, Cak.
Pak,
sebelum jalur desa kembali kita buka, kita belum bisa minta bantuan dari
Polsek di kecamatan.
Nisi, apa kami sudah boleh pulang?
Boleh, tapi kita bikin laporan sebentar ya, Cak. Habis itu, Cak Darso boleh
pulang. Oh, iya.
Eh, mau ngapain malam-malam kesini, ya?
Mau maling tebu lagi, ya? Enggak, Pak.
Eh, ayo ngaku. Mana temen kamu yang lain?
Saya sendiri, Pak. Alah, bohong!
Bawa dia ke Bauri.
Enggak, Pak. Saya cuma mau lupang lewat, Pak.
Saya cuma mau lupang lewat, Pak.
Saya mau lupang lewat, Pak.
Udah ketahuanmu maling, masih aja berani kabur.
Orang ini memang mesti kita kasih pelajaran.
Tapi jangan bikin dia mati.
Kalau cacat, gimana, Bang?
Jangan, Pak. Cacat.
Sikat. Ampun, Pak. Ampun. Ampun, Pak.
Ampun, ampun.
Selamat malam, Mas.
Mau apa lagi kalian kemari?
Belum cukup semua bencana yang udah perusahaan kalian lakukan.
Justru saya datang kemari untuk memastikan keadaan Kikamboja.
Gak perlu.
Perusahaan tidak menginginkan semua ini, Mas, terjadi.
Apa ya?
Kok saya gak percaya ya?
Saya yakin gak ada yang mau bencana seperti kemarin terjadi.
Mereka datang menghentikan paksa upacara dat kita yang sakral.
Yono ditembak.
Keadaan di Kamboja terluka parah.
Pikir pakai otak, Jamil.
Jangan karena perempuan cakep, kau mempercayai KB.
Baik.
Saya pamit.
Sebentar.
Saya tetap harus cari tahu keadaan di Kamboja.
Karena semua warga sudah khawatir dan memang tugas saya untuk tahu keadaan
semua warga.
Termasuk di Kamboja.
Ini kondisi Kikamboja masih dibawa ke rumah sakit. Diam kamu.
Keadaannya gak bisa ditanganin kayak gini.
Sombong. Di desa ini tuh ada banyak adat dan budaya yang kamu gak tahu.
Kikamboja ini guru kami.
Tanggung jawab kami.
Bukan urusan kalian.
Terima kasih ya. Sama-sama.
Besok jadi, Bu. Silahkan rame ke warga sekitar.
Kenapa Ibu Harini peduli dengan warga di sini?
Panggil Harini saja.
So so so so
Tidak! Tidak!
Tidak!
Tidak!
Terima kasih, Mbak Sungun.
Biasanya bayar utang. Terima kasih, Mbak Sungun.
Terima kasih, Mbak Sungun.
Nanti sore balik sini ya. Bantu aku ngupas kelopo.
Nanti tak kasih duit banyak.
Nanti tak kasih duit banyak. Ya, Lek.
Salam, Mbak Darcy.
Ya, Lek.
Kepala keamanan dan dua petugas lainnya yang jaga semalam.
Mereka belum balik, Pak.
Kemana? Saya tidak tahu, Pak.
Tapi, Pak, ada beberapa warga yang lolos, Pak. Mereka masuk ke dalam kebun.
Oblong ngapain di sini?
Semua rusak mukanya.
Mas Jaso!
Kebetulan. Bantu aku, Mas.
Iya, yuk.
Tolong, Mas.
Yu Darsiyo, apa kabar mas?
Baik, Yu.
Lagi njenguk, saudaranya sakit. Oh, di mana?
Di kampung sebelah. Eh, kampung saudaranya.
Mas Darsoye, sudah lama nggak balik, masih lucu, wae.
Permisi. Siapa lagi?
Mas. Mas. Mas Derso. Mas Derso.
Mas Derso. Mas Derso. Mas Derso.
Mas
Derso.
Dia itu kan memang orangnya serba bisa.
Baik lagi.
Apa perusahaan itu benar peduli sama nasib kami?
Saya memang baru bekerja di PT Argo Nusantara dan langsung ditugaskan
kemari, Bu.
Tapi yang saya pahami, setiap pengambilan lahan tidur, perusahaan
pasti akan memberikan ganti ruginya.
Berapa ganti ruginya?
Semua itu tergantung dari luas lahan dan kesepakatan harga tanah dengan
perwakilan desa.
Siapa wakil desanya?
Pak Kades yuk.
Malah ya bubar semua.
Mas Jamil, Mas Jamil. Kenapa mas? Ada mayat mas.
Nanti anak kita kalau sudah besar.
Kira jadi apa ya mas?
Jadi apa aja.
Yang penting hidupnya senang.
Dan jadi orang hebat.
Biar gak kayak bapaknya ini.
Kamu juga hebat kok mas.
Tapi kan anak kita harus lebih hebat.
Ada empat mayat di kebun tebu. Siapa?
Kayaknya dari keamanan pabrik.
Ada yang mas kenal?
Mukanya hancur.
Kucun aku takuti.
Ngomongin bener.
Mau jadi apa dia nanti.
Yang penting.
Kita mesti selalu sama-sama mas.
Ingat. Aku gak pernah mau kita pisah.
Jadi.
Ambil baik.
Ambil bayinya, Mas.
Ambil bayinya.
Ambil bayinya.
Ambil bayinya. Ambil bayinya.
Yuk, baiknya kami pamit. Nanti kami balik lagi. Iya, iya. Terima kasih, Bu.
Pamit yuk.
Mas Daso.
Kok ditinggal?
Di mana jenazah korban itu sekarang?
Semua dibawa ke pabrik, Mbah.
Katanya akan dikuburkan, tapi belum tahu di mana.
Ini perbuatan siapa, Mbah?
Apa mungkin ini ulah binatang?
Ini bukan perbuatan binatang. Kita semua tahu itu.
Menurutku...
Semua ini akibat kemarahan kuasa jahat yang dibangkitkan di Kampoja.
Kalian tahu, Sukmo yang kemarin menusuk gurunya sendiri, ini juga enggak
wajar.
Saya jadi kepikiran.
Bagaimana keluarga emas Sukmo?
Saya tahu di mana rumah Sukmo.
Pagi, manding sih.
Ini Indri.
Ini Rara.
Mau enggak?
Tenang, bos.
Semua penjagaan sudah saya tingkatkan.
Kita ini lagi kejebak di kampung yang ada orang gilanya.
Yang hobinya ngulitin muka orang.
Tenang.
Begini, bos.
Nanti kita tanya Arini.
Mudah-mudahan ada kabar soal... Perempuan yang hanya mikirin idealisme
buat saya hari ini, cuma nambahin masalah gua.
Soal pengamen badut gendong itu.
Udah tahu tinggal di mana?
Sudah, bos.
Tapi kayaknya sih gak mungkin seorang pengamen kayak Darso itu bisa ngebunuh
empat orang keamanan kita.
Ada yang aneh sama pengamen itu.
Lek, udah selesai?
Bayarannya gimana?
Nah, itu masih banyak.
Cara aja kalian.
Lek,
saya udah lama lo ngerjainnya. Dan tadi kan, Lek, Bardun bilang mau bayar
setelah kerja.
Kamu buat apa sih?
Ya miskin sombong.
Masuk, Mo.
Mas Syamyul.
Jadi saya gimana, Mas?
Masuk, Mo.
Indri sama Rara nanyain bapaknya.
Mereka kangen.
Rara?
Rara masih sakit.
Dia masih butuh diobatin.
Tapi Indri sama Rara lebih butuh bapaknya pulang.
Biar bisa sama-sama lagi.
Sampai jumpa.
Ngoh, antar so.
Lo, kaya kostum badut ngono lo.
Paling nanggol ini warung hitam badut nih, ngopi goyoi.
Gitu aneh ngono.
Saat ini wajah ngopi pembangunan gadisan ini.
Ayo, tak inget ngopi sih ya. Ayo.
Setengah mulus ini.
Gak ada yang mulus. Oleh rezeki, lo kaya mulus bareng sih.
Secepatnya setelah selesai saya jemput. Saya jemput.
Lho, so, ngeketi nahi, kon.
Lho, ngopo, kon, tepung ini, ha?
Pasti diorang seneng, kon, lho.
Ulang kagok-kagok bayaran, iya, ta?
Iya, ta? Hah?
Sudah dibilang, ya.
Kalau besok, iya, besok masih banyak itu lho pekerjaan lain.
Lho, pekisi, so. Buka-buka tutup ini.
So? So, so, opo ini.
So, jika...
Kenapa anak ibu?
Baus ya?
Terima kasih.
Betul-betul mengerikan.
Saya tadi, saya ngeliat darso, Pak.
Betul, Pak.
Betul.
Dik!
Apa yang sudah kamu lakukan?
Apa yang sudah aku lakukan?
Harini, buka pintunya.
Harini!
Udah beres-beres aja.
Mau kemana lo?
Hah? Eh jawab.
Enggak, mau kemana?
Mana sekarang?
Udah datangkan kardes di surat pernyataan pengambilan lahan.
Bayar aja saya.
Harini, inget ya, lo tuh dibayar. Saya mengundurkan diri.
Surat pengunduran diri akan saya sampaikan langsung ke perusahaan.
Harini?
Harini!
Seberapa besar billing perusahaan untuk law firm lo?
It's huge!
Mereka gak akan terima surat... Mereka akan terima, Bapak.
Karena ini sudah masuk kasus tindak pidana.
Saya tahu Bapak membayar Sukmo untuk menu suki Kamboja.
Saya akan lapor.
Kalau Bapak berusaha...
Mereka yang gak setuju soal pengambil aliran lahan dan melenyapkan mereka yang
gak bisa dibeli.
Terus apa?
Lo pikir perusahaan akan ngebelah lo?
Aduh, hebatnya dan baiknya Arini yang cantik.
Gue harus kasih tepuk tangan dan hadiah untuk semua, semua laporan lo tentang
kejadian di sini.
Ingat ya, Arini.
Gue kerja dibayar mahal sama perusahaan.
Gue lakuin itu semua yang lo bilang tadi.
Karena perintah dan kuasa dari perusahaan yang terhormat.
Gak mungkin.
Coba aja lah, Pa.
Atau gimana kalau kita taruhan?
Kalau gue kalah, lo mau gue mati juga?
Gue bunuh diri deh.
Tapi kalau lo kalah, lo tidur aja sama gue.
Kenapa tegang?
Keadaan desa sudah kacau banyak orang yang meninggal di sini. Sekarang!
Berserah sekarang!
Yang gue suruh itu cuma sukmo untuk nusuk si duduk kuntua itu.
Yang sampai sekarang juga gak mati-mati. Yang lain bukan gue.
Justru kita perusahaan ini akan menuntut desa ini.
Rakyat karyawan keamanan kita mati secara gak wajar.
Terima kasih.
Jangan!
Luar biasa!
Lo masih percaya Gembel ini orang baik, hah?
Berarti benar, Gembel ini yang bunuh anak buah gue!
Anjir!
Riki, Riki, tangkap Riki!
Eh, eh, lepas!
Sinti.
Mahakarya.
Ini nih, ini.
Lo masih pikir Gembel ini baik, hah? Iya?
Tegang ngelakuin ini hari ini.
Jawab!
Jawab hari ini.
Kau yang gila.
Gue ini profesional yang dibayar mahal.
Tapi kalau gembel ini.
Gembel ini.
Jangan lu seniman hebat.
Jangan! Jangan! Kasih gue! Jangan!
Jangan!
Buka siapa itu?
Siapa lagi yang udah lo bunuh? Jangan!
Wajah!
Terus, Bapak, terus.
Kicar ini, kicar.
Aduh, ini.
Aduh, ini.
Cak, ada arso.
Laku, kan?
Cak!
Cak!
Gih!
Luar biasa.
Lu memang istimewa.
Sitar!
Mas! Mas! Mas Dejo! Mas! Mas!
Mana?
Mas!
Terima kasih.
Kenapa ada dibuat gendong, Cak?
Mas Terso kenapa membunuh, Mas?
Karena kalian pantas mati.
Kalian buat kami menderita.
Kamu itu... Mas Iqtismin!
Jangan sombong, bau-mu itu kayak mayat!
Cukup! Cukup! Cukup!
Kalian tertawa dan memainkan hidup dan mati kami.
Mau maling tebu lagi, yo? Enggak, Pak.
Abut!
Abut, Pak!
Kalian injak harga diri kami.
Kamu buat apa sih? Makan.
Oh,
makan. Kalian rampas semua yang berharga bagi kami.
Apa dosa Yuti ini, Cak?
Jangan!
Jangan, Mas!
Jangan!
Dia ambil bayiku.
Petri, saya bukan bayi kamu!
Terima kasih.
Terima kasih.
Untuk ini, Mas.
Demi mereka, Mas minta aku berhenti membunuh.
Sebelum mereka merasakan semua penderitaan kita.
Aku gak akan pernah rela.
Sejak bos mati ditabrak kereta.
Kangen buah.
Tempat ini sepi.
Serem. Nggak ada lagi yang bisa kita ganggu.
Wah, gue nggak kangen bos.
Gue kangen tangan buah.
Hei, apa itu? Cewek!
Cewek!
Hei, tunggu!
Terima kasih.
Saat deraian hujan
Turun tak
kesudahan
Dalam
sungguh
Sisi.
Terima kasih.
Kau menari di
benakku, rindu
mencandu dalam setiap
sisa waktu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.